PROFESIONALISME KEPERAWATAN DALAM LINGKUP KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH YANG
DISELENGGARAKAN DI RUMAH SAKIT
Rosita Saragih, SKM Dosen Tetap FIK Darma Agung
ABSTRACT
In accordance with respective treatment for the patient in the hospital, especially in case of medical surgeon nursery, in which patient should have adequate service. However, in the real scene of the services given by hospital, there are still many claim of unfulfilled demand from the society about professional medical services, especially those related with human resources. The above situation makes the writer interested to write the article on how should professionalism on nurseries, especially for the guarantee of quality of nursing services for the society. They all done by intensive input of nurseries knowledge as well as some clinical skills, the application of standard nursery practicum, and finally legal and ethical aspect in medical services.
Keywords : Nursery Professionalism, Human Resources, Medical Surgeon Nursery.
PENDAHULUAN
Pelayanan keperawatan merupakan bagian integral dari sistem pelayanan kesehatan yang diselenggarakan di rumah sakit. Pelayanan keperawatan yang diberikan tersebut haruslah mampu memenuhi kebutuhan dan tuntutan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang professional. Pada saat ini secara umum pelayanan keperawatan (asuhan keperawatan) yang diselenggarakan oleh rumah sakit masih belum terstandarisasi. Hal ini berkaitan keperawatan, sitem pengelolaan pelayanan/asuhan kepera-watan serta belum terciptanya sistem pembinaan kehidupan professional dalam profesi keperawatan. Hal tersebut merupakan tantangan bagi profesi keperawatan dalam mewujudkan asuhan keperawatan professional, seperti yang menjadi tuntutan masyarakat saat ini.
Profesionalisme dalam keperawa-tan bertujuan untuk menjamin kualitas asuhan keperawatan yang diberikan kepada masyarakat. Pada hakekatnya profesionalisme dalam keperawatan didasarkan pada pemahaman adanya suatu landasan ilmiah yang spesifik dan menjadi
yang diberikannya tersebut (Jhonstone, 1998). Berkaitan dengan profesionalisme tenaga keperawatan, pemerintah melalui kepmenkes No. 1239/Menkes/SK/XI/2001 tentang praktek keperawatan dan registrasi keperawatan menggariskan ketentuan – ketentuan yang harus diikuti perawat dalam menjalankan praktek keperawatan.
Profesionalisme tenaga keperawa-tan harus dikembangkan sesuai dengan kaidah – kaidah profesi, yaitu melalui profesionalisme tenaga keperawatan yang berada di lingkungan rumah sakit. Peningkatan profesionalisme tersebut dapat diupayakan melalui : peningkatan pengetahuan dan keterampilan klinis dari tenaga keperawatan; dan penerapan standar praktek keperawatan serta aspek legal dan etikal dalam pelayanan keperawatan.
a. Pengetahuan dan Keterampilan Klinis dari Tenaga Keperawatan
Pengetahuan ilmiah dan ketrampilan professional keperawatan yang dimiliki oleh SDM keperawatan akan menentukan kualitas dari asuhan keperawatan yang diberikan kepada kloien dan keluarganya. Suatu penelitian yang dilakukan oleh Institude For Clinical Evaluation Service (ICES) di Ontario AS di 75 acute care hospital antara April 1988-April 1999 membuktikan bahwa : peningkatan 10 % Register Nurse (RN), berkaitan dengan penurunan 5 kematian setiap 1000 pasien (Medical Post, 2002). Selanjutnya penelitian terseebut juga membuktikan bahwa mortalilty dari pasien tidfak hanya sensitive terhadap medical care tapi juga sensitive terhadap nursing care . Hal penelitian yang dilakukan oleh ICES, telah menunjukkan bahwa profesionalisme tenaga keperawatan, berkaitan erat dengan kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan oleh rumah sakit kepada masyarakat.
Upaya peningkatan profesional keperawatan bertujuan untuk meningkatkan pelayanan keperawatan
yang diberikan kepada masyarakat. Upaya ini diantaranya meliputi diterapkannya : standar pendidikan keperawatan bagi SDM keperawatan yang berada di rumah sakit yang bersangkutan, dan standar praktek keperawatan dalam pemberian asuhan keperawatan kepada klien.
Saat ini di Indonesia, pendidikan keperawatan untuk mempersiapkan perawat professional (dan professional pemula) telah bergesar ke pendidikan tinggi, baik itu D-III keperawatan atau program S-I keperawatan yang berlokasi di Universitas. Basis pendidikan tinggi bagi calon perawat professional meletakkan pengetahuan dasar ilmiah dan pengetahuan ilmiah keperawatan yang kuat disamping memberikan kemampuan keterampilan klinik. Hal tersebut dituntut untuk accountable terhadap semua tindakan yang dilakukannya. Selain melalui pendidikan yang sifatnya formal, pendidikan dilanjutkan yang mencakup peningkatan pengetahuan ilmiah keperawatan dan keterampilan professional yang spesifik sesuai dengan bidangnya perlu dikembangkan, untuk meningkatkan kualitas sumber daya kerperawatan yang ada dilingkungan Rumah Sakit tersebut.
b. Penerapan Standar Praktek Keperawatan
diterapkan terhadap seluruh perawat yang melaksanakan praktek keperawatan. Standard of Clinical nursing practice (Standart Praktek Keperawatan) terdiri dari standard of care (Standar Praktek professional) dan standard of professional performance (Standar kinerja professional). Standard of care (Standar Praktik Profesional) menjelaskan bahwa pelayanan keperawatan yang kompeten didemonstrasikan dengan penerapan proses keperawatan yang meliputi : pengkajian, diagnosis, identifikasi tujuan, perencanaan, implementasi dan evaluasi (ANA, 1998, PPNI, 2001). Disamping memberi penekanan pada diterapkannya proses dalam pemberian asuhan keperawatan kepada klien, standard of care (international) juga memberikan lingkungan yang aman, pemberian informal yang adekuat dan komunikasi yang adekuat.
Standard of professional performance (standar kinerja professional) menguraikan perilaku professional yang kompeten yang meliputi :
Quality of care : perawat secara sistematis melakukan evaluasi mutu dan efektivitas praktek keperawatan yang diberikannya.
Performance Appraisal : perawat melakukan evaluasi terhadap praktek keperawatan yang dilaksanakannya berdasarkan standar praktek professional dan ketentuan lainnya. Education : perawat bertanggung jawab
untuk selalu memperoleh pengetahuan yang mutakhir dalm keperawatan serta untuk selalu berpartisipasi dalam kegiatan pendidikan/pendidikan tambahan dan latihan bagi tenaga keperawatan.
Collegiality : perawat berkontribusi dalam mengembangkan professionalism dari sejawat keperawatan.
Ethics : perawat menerapkan Kode Etik Keperawatan dalam melaksanakan praktek keperawatan. Keputusan dan tindakan perawat harus etis sesuai dengan nilai dan prinsip – prinsip moral
keperawatan, norma dan nilai budaya yang ada pada klien.
Collaboration : perawat berkolaborasi dengan klien dan keluarganya, dengan tim kesehatan lain dalam pemberian asuhan keperawatan kepada klien. Research : perawat melaksanakan
riset/berpartisipasi dalam riset dan menggunakan hasil riset dlam praktek keperawatan.
Dengan demikian, standar praktek keperawatan memberikan penekanan pada tanggung jawab professional dari tenaga keperawatan (RN) dalam melaksanakan praktek keperawatan. Pelayanan keperawatan/asuhan keperawatan yang diselenggkarakan oleh tenaga keperawatan di suatu RS dikategorikan berkualitas jika asuhan keperawatan yang diberikan sudah sesuai dengan standar asuhan keperawatan yang ada.
c. Aspek Legal dalam Keperawatan professional dalam keperawatan menurut tenaga keperawatan tidak saja menerapkan standar keperawatan, namun juga dalam melaksanakan asuhan keperawatan kepada pasien, perawat perlu mengikuti ketentuan – ketentuan/aturan – aturan yang ada.
KEPMENKES RI No.
1239/Menkes/SK/IX/2001 tentang registrasi dan praktik keperawatan menyatakan bahwa : asuhan keperawatan harus dilaksanakan sesuai dengan standar asuhan keperawatan yang telah ditetapkan oleh organisasi profesi. Di samping itu menghargai hak pasien, merujuk kasus yang tidak dapat ditangani, confidentiality, memberikan informasi, informed concent dan melakukan pencatatan asuhan keperawatan dengan baik, merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh perawat dalam melaksanakan praktek keperawatan.
Personaliability (Kewajiban Personal) Perawat professional (secara legal) selalu bertanggung jawab terhadap semua tindakan yang dilakukannya. Supervisor Liability
Head nurse, supervisor menempati suatu posisi dimana dia berpotensi untuk bertanggung jawab terhadap tindakan yang dilakukan oleh perawat lain yang berada di bawah pengawasannya.
Duty to record or seek medical care for the patient
Dalam memberikan asuhan keperawa-tan kepada pasien perawat mempunyai kewajiban untuk menjamin agar pasien mendapatkan yang aman dan kompeten. Kewajiban ini menuntut perawat menerapkan standard of care dan memberikan pelaporan yang tepat dari konsisi pasien, pada saat pasien membutuhkan pertolongan medis. Malpractice (Malpraktek)
Malpraktek terjadi jika tenaga professional dalam melaksanakan tugasnya gagal dalam melakukan kewajiban profesioanl (Brent NJ, 2001). Malpraktek mempunyai 4 elemen esensial sebagai berikut :
Harm to an individual
Duty of a professional toward an individual
Breach of duty by professional
Breach of duty of the cause of harm … … … (Beauchamp & Childress, 1995)
Dalam praktek keperawatan professional, malpraktek dapat terjadi jika perawat professional tidak mengikuti standard of care yang telah ditetapkan dalam melaksanakan praktek keperawatannya tersebut (Branf NJ, 2001). (akhir bagian 1)
REFERENSI
American Nurses Association, 1998. Standards of Clinical Practice. 2nd Edition. Washington.
Australian Nursing Council, Inc. (ANCI), 1998. ANCI National Competency Standards for The Register Nurse, Dikson : ANCI.
Beauchamp, TL and Children, JF. 1994. Principle of Biomedical Ethics. 4th Edition. Oxford : Oxford University Press Inc.
Brent, NJ. 2001. Nurse and The Law. A Guide to Principle and Application. 2nd Edition. Philadelphia, WB. Sounders Company.
Elis & Hartley, 1998. Nursing in Today’s World. Challenges, Issues, and Trends. 6th Edition. Philadelphia, Lippicott.
Hodges, D. 2002. Better Nurses, Fewer Death. The Medical Post Canadian Medical Association.
Jhonstone, Megan. 1998. Determining and Responding Effectively to Ethical Professional Misconduct in Nursing. A Report to The Nurses Board of Victoria. Melbourne : RMIT University.
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No .1239 /Menkes /SK/XI/2001 tentang Registrasi dan