• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 52 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN PENANGANAN PASCAPANEN KOPI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 52 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN PENANGANAN PASCAPANEN KOPI"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

Gambar

Gambar 4. Tahapan proses kopi secara semi-basah (3.5.1 Pengupasan kulit buah (pulping) Semi-Washed)
Tabel 3 Syarat Mutu Khusus Kopi Robusta Dengan Cara Basah
Tabel 5.   Syarat Penggolongan Mutu Kopi
Gambar 5.  Mesin sortasi biji kopi.

Referensi

Dokumen terkait

Cara panen dengan pemetikan bertahap berdasarkan tingkat kemasakan daun juga memberikan keuntungan lain yaitu merupakan langkah awal proses grading, hal ini karena

menghasilkan kakao dengan mutu sesuai persyaratan Standar Nasional Indonesia (SNI), perlu menetapkan Pedoman Penanganan Pascapanen Kakao dengan Peraturan

sehingga jaraknya sekitar 1 meter di atas tanah untuk menghindarkan cemaran dari kotoran hewan maupun debu. Pada keadaan cuaca yang kurang baik, pengeringan akan

Dibandingkan dengan penyulingan air, metode penyulingan ini lebih unggul karena proses dekomposisi minyak (hidrolisa ester, polimerisasi, dan resinifikasi) lebih

Guna menghasilkan mesin pengupas kulit tanduk biji kopi sesuai dengan tujuan penelitian ini, maka untuk mencapai tujuan yang dimaksudkan dilakukan 4 tahap yaitu:

1) Biji lada putih yang telah kering, harus dihembus, dipilih dan dibersihkan untuk memisahkan kulit, tangkai buah atau benda asing lainnya. 2) Waktu membersihkan

Proses pengolahan basah atau semi- basah diawali dengan pengupasan kulit buah dengan mesin pengupas pulper tipe silinder untuk kemudian menghasilkan kopi HS, yaitu biji kopi yang masih

Bagan pengolahan basah Buah kopi Kopi gelondong Sortasi gelondong Pengolahan basah Petik hijau dan racutan Pengeringan Pengupasan kulit tanduk Hulling Sortasi