PENGANTAR
HEI
BIDANG HUKUM PALING PROGRESSIF
GLOBALISASI EKONOMI
KEMAJUAN TEKNOLOGI DAN KOMUNIKASI
Faktor Pendukung Berkembangnya HEI
PELUNAKAN
TEORI KEDAULATAN NEGARA
INPRES NO. 2 TAHUN 1996 TENTANG MOBIL NASIONAL MENINGKATNYA
INTERDEPENDENSI EKONOMI
Kerjasama Utara-Selatan Kerjasama Selatan-Selatan
HUBUNGAN EKONOMI INTERNASIONAL
• Pergerakan internasional barang-barang (international
movement of goods);
• Pergerakan internasional jasa-jasa (biasanya disebut
sebagai perdagangan jasa (invisible trade) melalui
transaksi-transaksi yang melintasi batas-batas negara
(the cross-border supply of service);
• Pergerakan orang-orang yang melintasi batas-batas
negara (international movement of persons);
• Pergerakan internasional modal yang mensyaratkan
investor-investor asing untuk dapat mengawasi secara langsung modalnya (penanaman modal asing, misalnya mendirikan perusahaan); dan
Carreau, Julliand dan Flory
•
The law of legal entity establishment;
Hukum pendirian badan hukum
•
The law of investment
Hukum Penanaman Modal
•
The law of economic institutions
Hukum institusi ekonomi
•
The law of economic relations
DEFINISI HEI
John H. Jackson
“International economic law could be
defined as including all legal subjects
which have both an international and
economic component.”
Huala Adolf
DEFINISI HEI
Verloren van Themaat
“International economic law can be described in
overall terms as the total range of norms
(directly or indirectly based on treaties) of public
international law with regard to transnational
economic relations.”
Hukum Ekonomi Internasional dapat
diartikan sebagai sederetan norma yang
baik secara langsung maupun tidak
DEFINISI HEI
Schwarzenberger
“The branch of International public law which is
concerned with an ownership and exploitation of national resources, production and distribution of goods, invisible international transactions of an economic and financial character, currency and finance, related services and organization of the entities in such activities.”
Cabang Hukum Ekonomi Internasional
publik yang berkaitan dengan kepemilikan
dan eksploitasi sumberdaya alam nasional,
produksi dan distribusi barang,
Kritik Verloren van Themaat
•
Definisi ini terlalu luas
•
Hub. EI diatur oleh hk kontrak dan perdata
bahkan oleh hk nas. Publik.
•
Hub. EI perlu pula diatur dg hk int’l.
•
Hk. Nas. Publik mempunyai peranan yg
SEBELUM PD II
•
Sejak Abad ke 15, masy. Int’l telah mengenal
klausul “most favoured nations (MFN) treatment
dan resiprositas (timbal balik) spt yg termuat
dlm suatu perjanjian atr Inggris dan Burgundy
pd th.1417.
•
Prinsip dlm hk laut juga memberi kontribusi
• Abad ke 19 mrpkan kulminasi perkembangan klausul
most favoured nations dg masuknya klausul itu
kedalam Hukum Komersial negara-negara Eropah.
• Pd Abad ke 19 ini, klausul MFN diinkorporasikan ke
dlm bbrp perjanjian int’l, spt European Convention of the Danube (1855), Rhine Navigation of Liberty and Artistic Works (1886), dan the Brussels Union for the Publication of Customs Tariffs (1890).
• Tahun 1914, campur tangan negara dlm hub. EI. Ps.
23 (e) Piagam LBB mengharuskan “equitable treatment for the commerce of all members.”
• 1923-1936 LBB mengadakan studi ttg formalitas
PASCA PD II
•
Bretton Woods System (1944) melahirkan
International Monetary Fund dan the
International Bank for Reconstruction and
Development;
•
Setelah lahirnya PBB (1945) ada upaya untuk
mendirikan the International Trade Organization
melalui Piagam Havana (1948), namun ITO
gagal berdiri;
•
GATT menjadi organisasi int’l melalui Protocol of
GATT
•
Tdk memenuhi persyaratan sbg organisasi int’l
krn tdk memiliki anggaran dasar dan struktur
organisasi;
•
Tdk memiliki ketentuan mengenai hukum acara
sbg suatu organisasi;
•
Tdk memiliki ketentuan yg jalas dan
komprehensif ttg penyelesaian sengketa; dan
•
Protocol of Provisional Application mengizinkan
•
1960 OECD Eropah Barat, AS,
Kanada, Australia dan Selandia Baru;
•
1960 the United Nations Conference on
Trade and Development (UNCTAD) utk
melindungi kepentingan ekonomi negara
berkembang
•
New International Economic Order (NIEO)
PASCA PERANG DINGIN
•
Pasar terbuka dan kompetitif;
•
Semakin berperannya GATT (yg dilebur menjadi
WTO) dan UNCTAD dlm membuat aturan-aturan
dan pedoman aspek perdagangan int’l dlm
bentuk perjj. Int’l.;
– GATS (General Agreement on Trade and Services; – TRIMS (Trade Related Investment Measures);
– TRIPS (Trade Related Aspects of Intelectual Property
Rights);
– The Understanding on Rules and Procedures
SUMBER HUKUM INT’L
1. Treaties
2. International Customary Law 3. Principles of International Law 4. Decisions and Doctrines
TREATIES/TRAKTAT
•
Konvensi Wina 1969
•
The International Telegraph Convention of
1865
•
International Convention on the
Settlement of Investment Disputes
International Treaties ?
ANNEXES
HUKUM KEBIASAAN INTERNATIONAL
PACTA SUNT SERVANDA FREEDOM OF COMMERCE FREEDOM OF NAVIGATION Norms deriving from general
practices of states accepted as opinio juris
Norms deriving from international Conferences
PRINSIP HUKUM UMUM
Interpretation of legal rules at all levels of governance, from the global
to the municipal
Good Faith
JUDICIAL DECISIONS AND DOCTRINES
Subsidiary Means For Determining Rules of Law
Kartika Candra Hotel Vs. Amco Doktrin Equal Treatment
SUBJEK HUKUM
•
“A subject of the law is an entity capable of
possessing international rights and duties
and having the capacity to maintain its
rights by bringing international claims.
•
Doktrin ini menganggap bahwa individu
bukan subjek hukum.
•
Doktrin ini menganggap bahwa subjek
SUBJEK HUKUM “MODERN”
•
Negara
•
Individu
•
Perusahaan Transnasional
NEGARA
Konvensi Montevideo 1933
–
Negara protektorat
–
Negara boneka
–
Negara koloni Bukan Subjek
–
Negara sangat miskin
INDIVIDU
•
Individu dan badan hukum sbg subjek
hukum terbatas;
•
ICSID (International Convention on the
Settlement of Investment Disputes
PERUSAHAAN TRANSNASIONAL
•
Perusahaan transnasional memperoleh status
sebagai subjek hukum ekonomi internasional
sejak 1960-an dengan munculnya perusahaan
transnasional modern seperti Exxon
Corporation, Texaco Inc, British Petroleum.
•
Tujuan memberikan status subjek hukum untuk
ORGANISASI EKONOMI INTERNASIONAL
•
Org. EI mendapat pengakun pertama sbg subjek
hukum dlm Advisory Opinion MI dlm Reparation
for Injuries Case (Pangeran Bernadotte dr
Swedia)
•
Bank Dunia
•
Dana Moneter Internasional
•
ICSID
•
MIGA
KAIDAH DASAR (FUNDAMENTAL) HEI
FREEDOM OF COMMERCE &
FREEDOM OF TRADE FREEDOM OF COMMUNICATION
KAIDAH DASAR (FUNDAMENTAL) HEI
1. Minimum (Minimum Standards).
2. Perlakuan Sama (Identical Treatment).
3. Perlakuan Nasional (National Treatment).
4. Klausul Atau Kewajiban “Most-Favoured-Nation
(MFN)”.
5. Kewajiban Menahan Diri Untuk Tidak Merugikan
Negara Lain.
6. Tindakan Pengamanan: Klausul Penyelamat
(
Safeguards and Escape Clause
).
Kaidah Dasar Standar Minimum
(Minimum Standards)
Kewajiban negara untuk sedikitnya
memberikan jaminan kepada pedagang
atau pengusaha asing dan harta miliknya
Perlakuan Sama (Identical Treatment)
•
Prinsip ini didasarkan pada prinsip
resiprositas dalam hukum diplomatik;
•
Prinsip ini dilandaskan pada perlakuan
yang sama atau identik
Misalnya, Kalau pengusaha A dari negara
X dikenakan bea masuk sebesar 5% di
Perlakuan Nasional (National Treatment)
•
Prinsip ini mengharuskan suatu negara
memperlakukan barang-barang dan jasa atau
modal yang memasuki pasar dalam negerinya
dengan cara yang sama sebagaimana negara
tersebut memperlakukan produk-produk
tersebut ketiaka dibuat, dimiliki atau diawasi
oleh warga negaranya;
Kewajiban “Most-Favoured-Nation (MFN)”
•
Klausul MFN berasal dr the Bretton Woods
System;
•
Klausul MFN merupakan prinsip yang
menharuskan negara untuk memberikan
perlakuan yang sama terhadap negara lainnya
sebagaimana perlakuan terhadap negara
ketiga;
•
Klausul MFN terdiri dr Conditional dan
Kewajiban Utk Tdk Merugikan Negara Lain
•
Kewajiban negara utk tidak menimbulkan
beban-beban ekonomi kepada negara lain krn adanya
kebijaksanaan ekonomi domestik negara yang
bersangkutan;
•
Kewajiban negara utk tdk memberikan subsidi
tanpa konsultasi sehingga memberikan proteksi
pd produk dalam negeri; dan
•
Kewajiban negara untuk tidak melakukan
Tindakan Pengamanan: Klausul Penyelamat
(
Safeguards and Escape Clause
)
•
Klausul penyelamat memungkinkan suatu
negara, terutama nagara berkembang/ miskin,
untuk melakukan tindakan pengamanan
ekonomi domestik dengan jalan menunda
berlakunya suatu kewajiban yang bersumber dr
perjanjian internasional;
•
Penangguhan hanya diperbolehkan dlm hal
keadaan perdagangan internasional
Preferensi Negara Sedang berkembang
• Kaidah yang mensyaratkan perlunya suatu kelonggaran
atas aturan-aturan hukum bagi negara
berkembang/miskin, misalnya berupa pengurangan bea masuk produk-produk mereka ke pasar negara maju;
• Kaidah ini diterapkan dalam pemberian GSP
(Generalized System of Preferences), yaitu sistem preferensi umum negara maju kepada negara
berkembang/miskin.
• Kaidah ini memungkinkan penyimpangan terhadap
Penyelesaian Sengketa Secara Damai
•
Prinsip ini mengharuskan penyelesaian
sengketa secara damai, seperti negosiasi
atau konsultasi dan bila gagal sengketa
diselesaikan melalui forum arbitrase;
•
Prinsip ini juga memungkinkan negara
menggunakan WTO (Dispute Settlement
Body) untuk menyelesaikan sengketa
Aturan-Aturan Hukum Ekonomi Internasional
by
Pengantar
GATT (1947)
WTO (1994)
GATSTRIMs
TRIPs
Antar Negara
Tujuan GATT
1. Meningkatkan taraf hidup umat manusia; 2. Meningkatkan kesempatan kerja;
3. Meningkatkan pemanfaatan kekayaan alam dunia; dan 4. Meningkatkan produksi dan tukar menukar barang
Fungsi GATT
Wadah Perangkat Aturan (The Rules of Road For Trade)
Forum Penyelesaian Sengketa Perdagangan Internasional
Keberhasilan Putaran Tokyo
1. Subsidi & tindakan balasan ( subsidiesand countervalling
measures),yakni kesepakatan yang menafsir pasal VI,XVI dan XXIII GATT;
2. Rintangan-rintangan teknik terhadap perdagangan (technical
barrier to trade), yang kadangkala disebut pula sebagai ‘Standard Code’);
3. Prosedur lisensi impor
4. kesepakatan mengenai pengadaan barang dan jasa pemerintah (government procurement)
5. Penaksiran bea cukai (customs valuation) yang menaksirkan pasal VII GATT;
6. Antidumping, yang menafsirkan pasal VI dan mengantikan the Kennedy Round Antidumping Code;
Prinsip-Prinsip GATT
1. Most Favoured Nation
2. National Treatment
3. Larangan Restriksi (Pembatasan)
Kuantitatif
4. Perlindungan Melalui Tarif
5. Resiprositas
Prinsip Most Favoured Nation (MFN)
•
Diatur dalam Pasal 1 GATT, Pasal 4 TRIPs, dan
Pasal 2 GATS.
•
Perdagangan harus dilaksanakan atas dasar
non-diskriminatif
•
Semua negara harus memberlakukan perlakuan
yang sama pada semua negara dlm
melaksanakan kebijakan impor dan ekspor
•
Perlakuan yang sama harus segera dijalankan
dan tanpa syarat
Penanggalan (Waiver) Prinsip MFN
1. Perlakuan preferensi di wilayah tertentu yang
sudah ada (French dan Banelux Economic
Union) tetap boleh dilaksanakan namun batas
preferensinya tdk boleh dinaikkan.
2. Anggota GATT yg membentuk Customs Union
dan Free Trade Area yang sesuai dg Pasal XXIV
tdk harus memberikan perlakuan yang sama
kepada negara anggota lainnya.
Penanggalan (Waiver) Prinsip MFN
4. Pemberian preferensi tarif oleh negara maju
kepada produk impor negara berkembang atau
negara kurang beruntung melalui fasilitas
Generalized System of Preference (Sistem
Preferensi Umum).
5. Negara yang tidak punya jalan lain untuk
melindungi atau memproteksi untuk sementara
waktu industri dalam negerinya (
safeguard
rule
).
Prinsip National Treatment
• Diatur dalam Pasal III GATT dan Pasal 3 TRIPS
• Produk suatu negara yang diimpor ke satu negara lain
harus diperlakukan sama seperti halnya produk dalam negeri.
• Prinsip ini berlaku untuk semua macam pajak dan
pungutan lainnya.
• Prinsip ini juga berlaku pada perundang-undangan yang
mengatur persyaratan penjulan,pembelian,
pengangkutan, distribusi atau penggunaan produk dimaksud
Prinsip Larangan Restriksi (Pembatasan) Kuantitatif
• Diatur dalam Pasal IX GATT
• Restriksi kuantitatif terhadap ekspor atau impor
merupakan perbuatan terlarang.
• Tujuannya adalah
1. Mencegah terkurasnya produk essensial di negara pengekspor;
2. Melindungi pasar dalam negeri, terutama mengenai produk pertanian dan perikanan 3. Mengamankan neraca pembayaran
Prinsip Perlindungan Melalui Tarif
• GATT hanya memperkenankan tindakan proteksi
terhadap industri domestik melalui tarif (dengan
meningkatkan tarif bea masuk) dan tidak melalui upaya perdagangan lainnya (non-tariff commercial measures
• Penggunaan tarif masih dibolehkan tetapi tetap tunduk
kepada ketentuan GATT, misalnya tidak diskriminatif dan tunduk pada komitmen tarifnya kepada GATT/WTO.
• Penaikan tarif harus mendapat persetujuan WTO terlebih
dahulu.
• Tarif terendah saat ini dalam kerangka GATT/WTO adalh
4 %.
Prinsip Resiprositas
•
Diatur dalam Paragraf 3 Preambul
•
Prinsip fundamental dalam GATT
•
Diberlakukan dalam perundingan dan
Perlakuan Khusus Bagi Negara Berkembang
• Diatur dalah pasal XXXVI – XXXVIII
• Ini diberlakukan karena dua pertiga dari negara anggota
adalah negara berkembang
• Negara berkembang diberikan prioritas untuk
memperoleh akses pasar yang lebih menguntungkan (Bagian IV)
• Negara maju dilarang membuat rintangan (barrier) baru
terhadap ekspor negara berkembang
• Negara maju tidak boleh menuntut resiprositas dalam
penurunan tarif bagi negara berkembang
ARTICLE 1
General Most-Favoured-Nation Treatment
1. With respect to customs duties and charges of any kind imposed on or in connection with importation or
exportation or imposed on the international transfer of payments for imports or exports, and with respect to the method of levying such duties and charges, and with
respect to all rules and formalities in connection with importation and exportation, and with respect to all
matters referred to in paragraphs 2 and 4 of Article III,* any advantage, favour, privilege or immunity granted by any contracting party to any product originating in or
ARTICLE 1
General Most-Favoured-Nation Treatment
1. Prinsip ini menharuskan negara untuk
memberikan perlakuan yang sama tentang
pengenaan pajak ekspor atau impor terhadap
semua negara anggota. Jika suatu negara
ingin memberikan keuntungan, favour,
kekhususan dan kekebalan atas pajak
barang-barang yang berasal dari negara tertentu harus
sesegera mungkin diperjanjikan dan
Article III
National Treatment on Internal Taxation and Regulation
1. “The contracting parties recognize that internal taxes and other internal charges, and laws, regulations and requirements affecting the internal sale, offering for sale, purchase, transportation,
distribution or use of products, and internal quantitative
regulations requiring the mixture, processing or use of products in specified amounts or proportions, should not be applied to
imported or domestic products so as to afford protection to domestic production.”
2. “The products of the territory of any contracting party imported into the territory of any other contracting party shall not be
subject, directly or indirectly, to internal taxes or other internal charges of any kind in excess of those applied, directly or
indirectly, to like domestic products. Moreover, no contracting
Pasal IV
Pasal ini membolehkan suatu negara untuk
menetapkan kuota terhadap film-film melalui
peraturan tentang pembatasan film. Tapi,
pembatasan-pembatasan atau kuota ini
harus tetap tunduk kepada negosiasi
Pasal V
Pasal ini mengakui adanya kebebasan transit
barang-barang, termasuk perahu dan sarana
angkutan lainnya melalui wilayah suatu negara
anggota dengan menggunakan rute-rute yang
digunakan untuk transit internasional guna
melakukan transit ke atau dari wilayah negara
anggota GATT lainnya.
Negara anggota dapat mengenakan bea-bea dan
peraturan terhadap transit secara wajar dan
Pasal VI
Anti-dumping and Countervailing Duties
1. The contracting parties recognize that dumping, by which
products of one country are introduced into the commerce of another country at less than the normal value of the
products, is to be condemned if it causes or threatens
material injury to an established industry in the territory of a contracting party or materially retards the establishment of a domestic industry. For the purposes of this Article, a product is to be considered as being introduced into the commerce of an importing country at less than its normal value, if the price of the product exported from one country to another 2. In order to offset or prevent dumping, a contracting party
Pasal VI
Anti-dumping and Countervailing Duties
1. Pasal ini melarang negara anggota untuk
mempraktekan dumping harga produk, yakni
menjual produk di bawah harga normal.
Pengertian harga di bawah harga normal ialah:
lebih rendah dari harga produk di negara dimana
produk itu dibuat.
Pasal VII
Pasal ini menetapkan kriteria mengenai
penilaian atas barang impor oleh
pejabat-pejabat Bea Cukai dari negara anggota
GATT.
Pasal ini juga mensyaratkan bahwa nilai
barang-barang impor untuk maksud
kepabeanan harus didasarkan pada nilai
nyata barang (
actual value of the imported
Pasal VIII
• Pasal ini mensyaratkan bahwa semua biaya dan
pungutan (selain daripada bea masuk impor dan ekspor serta pajak yang diatur dalam Pasal III) yang dikenakan atas atau dalam hubungannya dengan impor atau
ekspor harus dibatasi.
• Pasal ini juga mensyaratkan bahwa pungutan seperti itu
tidak boleh dijadikan sebagai proteksi tidak langsung terhadap produk domestik.
• Pasal ini juga meminta negara anggota untuk
Pasal IX
• Pasal ini mensyaratkan agar semua negara anggota
harus memberikan perlakuan yang sama (no less
favourable treatment) berkaitan dengan persyaratan asal barang terhadap semua produk dari negara anggota
seperti halnya perlakuan terhadap produk serupa dari negara ketiga.
• Pasal ini juga mensyaratkan agar negara anggota harus
bekerjasama dalam mencegah penggunaan nama
Pasal X
Pasal ini menegaskan bahwa undang-undang,
peraturan-peraturan, putusan-putusan pengadilan
dan administrasi mengenai klasifikasi dan
penilaian produk untuk tujuan kepabeanan, pajak,
pungutan, atau segala persyaratan yang
mempengaruhi penjualan, distribusi, transportasi,
asuransi, inspeksi pemrosesan, penggunaan, dan
lain-lain, harus dipublikasikan secara wajar
Pasal XI
Negara anggota dilarang mempraktekkan
restriksi kuantitatif seperti pengenaan kuota,
lisensi impor atau ekspor atau upaya-upaya
lainnya disamping bea masuk, pajak dan
Pasal XII
Pasal ini membolehkan suatu negara untuk
menerapkan pembatasan masuknya produk
impor demi untuk mengamankan neraca
pembayarannya (
restriction to safeguard the
Pasal XIII
Pasal ini mensyaratkan bahwa penerapan
restriksi kuantitatif harus dilaksanakan tanpa
diskriminasi. Jadi, misalnya suatu negara
membatasi masuknya suatu produk dari
negara B. Pembatasan terhadap produk
negara B ini juga harus diberlakukan
Hak-Hak dan Kewajib
•
HONESTE VIVERE
•
NEMINEM LEDERE
PENGANTAR
HUKUM EKONOMI INTERNASIONAL Luis Echeverria Alvarez (1971)
NEGARA-NEGARA KELOMPOK 77
UNCTAD
RESOLUSI 45 (III) 18 Mei 1972
KRISIS MINYAK DUNIA 1973
MAJELIS UMUM PBB (1974)
1. The Resolution on the Establishment of a New International Economic Order (Resolusi 3201 (S-VI) 1 Mei 1974); dan
PIAGAM PBB TENTANG PRINSIP-PRINSIP HUKUM EKONOMI INTERNASIONAL
1. Mukadimah
2. Prinsip-Prinsip Fundamental Mengenai
Hubungan Ekonomi Internasional
3. Hak-Hak dan Kewajiban-Kewajiban
Ekonomi Negara-Negara
MUKADIMAH
1. Menciptakan kemakmuran yang lebih luas di antara semua
negara dan standar hidup yang lebih tinggi bagi semua bangsa; 2. Memajukan ekonomi dan sosial semua bangsa, khususnya
negara sedang berkembang oleh segenap masyarakat
internasional, memajukan kerjasama atas dasar keuntungan dan manfaat timbal balik bagi semua negara pencinta damai yang bersedia melaksanakan ketentuan-ketentuan Piagam di bidang ekonomi, perdagangan, ilmu pengetahuan dan teknik tanpa memandang sistem politik, ekonomi dan sosial;
3. Menanggulangi rintangan-rintangan utama bagi pembangunan ekonomi negara-negara berkembang;
4. Memajukan perkembangan ekonomi negara-negara berkembang untuk mengurangi jurang pemisah antara negara berkembang dengan negara maju; dan
Prinsip-Prinsip Fundamental Hubungan Ekonomi Internasional
1. Kedaulatan, integritas wilayah dan kemerdekaan politik negara-negara;
2. Persamaan kedaulatan semua negara; 3. Non-Agresi;
4. Non-intervensi;
5. Saling memberi manfaat dan adil; 6. Koeksistensi damai;
7. Hak-Hak sama dan penentuan nasib sendiri bagi rakyat;
8. Penyelesaian sengketa secara damai;
Prinsip-Prinsip Fundamental Hubungan Ekonomi Internasional
10. Melaksanakan kewajiban-kewajiban internasional dengan ihtikad baik;
11. Menghormati Hak Azasi Manusia dan kebebasan fundamenal;
12. Tidak mencari hegemoni dan pengaruh kekuasaan; 13. Memajukan keadilan sosial internasional;
14. Kerjasama internasional untuk pembangunan; dan
15. Akses bebas ke dan dari laut oleh negara-negara yang dikelilingi oleh darat dalam ruang lingkup
Kadaulatan Negara
Full Sovereignty Shared Sovereignty
Pasal 2 Pasal 3
Every State has and shall freely exercise full and permanent sovereignty, … over all its wealth, natural resources and economic activities.
Full Sovereignty
Prinsip Iktikad Baik
Waiver of Sovereignty
PMA
Non-Diskriminasi Perlakuan Sama
Hukum Nasional Hukum Internasional
Pendirian Nasionalisasi
Pasal 4
Hak setiap negara untuk melakukan perdagangan
internasional dan bentuk-bentuk kerjasama
ekonomi lainnya tanpa memandang
perbedaan-perbedaan sistem politik, ekonomi dan sosial.
Pasal 14
Setiap negara berkewajiban untuk bekerjasama dalam memajukan perluasan dan liberalisasi perdagangan dunia dan meningkatkan kesejahteraan dan standar kehidupan semua rakyatnya, khususnya bagi negara-negara berkembang.
PRINSIP LIBERALISASI EKONOMI
non-Pasal 28
Negara-negara maju harus memberikan
pertimbangan-pertimbangan serius untuk
mengambil upaya-upaya lainnya yang layak dan
memungkinkan guna memenuhi
Pasal 21
Untuk memajukan perluasan perdagangan, negara-negara berkembang harus berusaha untuk memberikan
Pasal 26
International trade should be conducted without
prejudice to generalized non-discriminatory and
non-reciprocal preferences in favour of developing
nations, on the basis of mutual advantage,
Pasal 28
Semua negara wajib bekerjasama dalam mencapai
penyesuaian-penyesuaian harga ekspor negara-negara
berkembang dalam kaitannya dengan harga impor mereka. Hal ini dilakukan guna memajukan
Pasal 19
Untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi
negara-negara berkembang dan memperkecil
jurang ekonomi negara-negara berkembang dan
negara maju, maka negara maju harus
memberikan preferensi umum, prinsip non-pamrih
(non-reciprocal), dan non-diskriminatif kepada
Pasal 25
Negara-negara harus meperhatikan
kebutuhan-kebutuhan dan masalah-masalah khusus negara
miskin diantara negara-negara berkembang dan
negara-negara kepulauan yang sedang
berkembang dengan tujuan membantu
negara-negara tersebut untuk menanggulangi
kesulitan-kesulitan khusus mereka dan karena itu
Pasal 10
Pasal 11
Semua negara harus bekerjasama untuk
memperkuat dan meningkatkan effisiensi
organisasi internasional guna
merealisasi-kan upaya-upaya meningkatmerealisasi-kan
pertumbuh-an ekonomi semua negara khususnya
Kelompok-Kelompok
Pasal 12
Negara-negara memiliki hak untuk bergabung dalam
kelompok-kelompok kerja sama subregional, regional dan interregional dalam upayanya mengejar pembangunan ekonomi dan sosialnya.
Pasal 13: 1
•
Setiap negara berhak untuk memdapatkan
manfaat dari kemajuan dan perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi untuk
meningkatkan pembangunan sosial dan
ekonominya
•
Semua negara berkewajiban untuk
memajukan kerjasama ilmu pengetahuan dan
teknologi dan alih teknologi antar negara
dengan memperhatikan semua kepentingan
yang sah, termasuk, antara lain, hak dan
Pasal 13: 2, 3 dan 4
2. Negara-negara harus memberi kesempatan kepada negara berkembang untuk mendapatkan teknologi dan pembentukan teknologi dasar bagi kepentingan
ekonomi dan kebutuhan negara berkembang;
3. Negara-negara maju harus bekerjasama dengan negara-negara berkembang dalam membentuk, memperkuat dan membangun infrastruktur dan penelitian ilmu pengetahuan guna membantu perluasan dan peningkatan ekonomi negara berkembang;
4. Semua negara harus bekerjasama dalam bidang
penelitian guna mengembangkan pedoman-pedoman atau pengaturan-pengaturan yang diterima secara
Kewajiban-Kewajiban Umum Untuk
Pasal 7
•
Setiap negara memiliki tanggungjawab
utama untuk memajukan pertumbuhan
ekonomi sosial dan budaya rakyatnya;
•
Setiap negara secara individu maupun
kolektif diwajibkan untuk bekerjasama
dalam menghapuskan rintangan-rintangan
yang menghambat mobilisasi dan
Pasal 8
Setiap negara harus:
1. bekerjasama dalam memperlancar
hubungan ekonomi internasional yang
lebih rasional dan adil; dan
2. menggalakkan perubahan-perubahan
struktural dalam perekonomian dunia
yang harmonis sesuai dengan
Pasal 9
Semua negara memiliki tanggungjawab
untuk bekerjasama di dalam lapangan
ekonomi, sosial dan budaya, ilmu
pengetahuan dan teknologi untuk
memajukan tingkat ekonomi dan sosial di
seluruh dunia, khususnya negara
Tanggung Jawab Bersama
Common Responsibility towards
the International Commodity
Common Responsibility To Protect
the Environment
PENNYELESAIAN
SENGKETA
EKONOMI
Macam-Macam Sengketa
Ekonomi Internasional
Sengketa antara Pedagang dengan Pedagang
Sengketa antara Pedagang Dengan Negara Asing
Prinsip Prinsip
Penyelesaian Sengketa
•
KESEPAKATAN PARA PIHAK
•
KEBEBASAN MEMILIH
CARA-CARA PENYELESAIAN SENGKETA
•
KEBEBASAN MEMILIH HUKUM
•
IHTIKAT BAIK (GOOD FAITH)
•
EXHAUSTION OF LOCAL
Pasal 33 Piagam PBB
“The parties to any dispute … shall … seek a solution by negotiation, inquiry, mediation, conciliation, arbitration, judicial
settlement … or other peaceful means of their own choice
1. Negoisiasi 2. Mediasi
3. Penyelidikan
1. Pengadilan Internasional 2. WTO
Penyelesaian Sengketa
Adjudicative/ Judicial Way
NEGOSIASI MEDIASI ARBITRASI
Amicable Way/
Alternative Dispute Resolution
Negosiasi
•
Negotiation is an efficacious means of
settling disputes relating to an agreement
because they enable parties to arrive at
conclusions being regard to the wishes of
all disputants.”
•
Negotiations tend to be success because
Kelemahan Negosiasi
•
Kedudukan para pihak tidak selalu
seimbang. Akibatnya sering terjadi
penekanan oleh pihak yang kuat terhadap
pihak yang lemah;
•
Prosesnya sangat lambat dan memakan
banyak sumberdaya finansial;
Mediasi
•
Penyelesaian sengketa dg
mempergunakan jasa pihak ketiga;
•
Mediator berupaya mencarikan saran
penyelesaian sengketa;
•
Pihak yang bersengketa dapat menolak
Penyelidikan (Inquiry)
•
Konsiliator berusaha menemukan
fakta-fakta yang berkaitan dengan sengketa;
•
Berdasarkan fakta-fakta tersebut
Jasa Baik (Good Offices)
•
Jasa baik merupakan upaya pihak ketiga
untuk menggiring pihak bersengketa ke
meja perundingan;
•
Keikutan pihak ketiga da am perundingan
Arbitrasi
•
Penyelesaian sengketa oleh pihak ketiga
yang disebut arbiter;
•
Arbitrase menyelesaikan sengketa
dengan membuat keputusan yang bersifat
final and binding;
•
Penyerahan sengketa ke arbitrase harus
Article XXIII
Dispute Settlement and Enforcement
1. If any Member should consider that any other Member fails to carry out its obligations or specific commitments under this Agreement, it may with a view to reaching a mutually satisfactory resolution of the matter have
recourse to the DSU.
2. If the DSB considers that the circumstances are serious enough to justify such action, it may authorize a Member or Members to suspend the application to any other
Member or Members of obligations and specific
3.If any Member considers that any benefit it could
reasonably have expected to accrue to it under a
specific commitment of another Member under
Part III of this Agreement is being nullified or
impaired as a result of the application of any
measure which does not conflict with the
provisions of this Agreement, it may have recourse
to the DSU. If the measure is determined by the
DSB to have nullified or impaired such a benefit,
the Member affected shall be entitled to a mutually
satisfactory adjustment on the basis of
BENTUK ARBITRASE
AD-HOC INSTITUSIONAL
Insidentil Aturan Khusus
Permanen & melembaga
Peraturan para pihak
1. UU No. 30/1999 + BANI
2. DSB/DSU
LEMBAGA PENYELESAIAN
SENGKETA
Sengketa antara Negara Sengketa antara Investor
Dengan Negara Asing
Partij Otonomie
Choice of Forum Forum Non Conveniens
DISPUTE SETTLEMENT BODY
The rules and procedures of this Understanding shall apply to disputes brought pursuant to the consultation and dispute settlement provisions of the agreements listed in Appendix 1
to this Understanding (referred to in this Understanding as the "covered agreements"). The rules and procedures of this Understanding shall also apply to consultations and the
settlement of disputes between Members concerning their rights and obligations under the provisions of the Agreement Establishing the World Trade Organization (referred to in this
APPENDIX 1
1. Multilateral Agreements on Trade in
Goods
2. General Agreement on Trade in Services
3. Agreement on Trade-Related Aspects of
ARTICLE 2
. . .the DSB shall have the authority to
establish panels, adopt panel and
Appellate Body reports
, maintain
surveillance of implementation of
rulings and recommendations, and
authorize suspension of concessions
ARTICLE 3 (2)
The dispute settlement system of the WTO is
a central element in providing security and
predictability to the multilateral trading
system. The Members recognize that
it
serves to preserve the rights and
obligations of Members under the covered
agreements, and to clarify the existing
provisions of those agreements in
accordance with customary rules of
ARTICLE 3 (3)
The prompt settlement of situations in
which a Member considers that
any
benefits accruing to it directly or
indirectly under the covered
agreements are being impaired by
measures taken by another Member
ARTICLE 3 (7)
The aim of the dispute settlement
mechanism is to secure a positive solution to
a dispute. A solution mutually acceptable to
the parties to a dispute and consistent with
the covered agreements is clearly to be
preferred. In the absence of a mutually
agreed solution, the first objective of the
dispute settlement mechanism is usually to
secure the withdrawal of the measures
ARTICLE 6
If the complaining party so requests, a
panel shall be established at the latest
at the DSB meeting following that at
which the request first appears as an
item on the DSB's agenda, unless at
that meeting the DSB decides by
ARTICLE 7
If the complaining party so requests, a
panel shall be established at the latest
at the DSB meeting following that at
which the request first appears as an
item on the DSB's agenda, unless at
that meeting the DSB decides by
ARTICLE 11
The function of panels is to assist the DSB in discharging its responsibilities under this
Understanding and the covered agreements. Accordingly, a panel should make an objective assessment of the matter before it, including an
objective assessment of the facts of the case and the applicability of and conformity with the relevant
covered agreements, and make such other findings as will assist the DSB in making the
ARTICLE 21 (3)
. . . . If it is impracticable to comply immediately with the recommendations and rulings, the Member concerned shall have a reasonable period of time in which to do so. The reasonable period of time shall be:
(a) the period of time proposed by the Member concerned, provided that such period is approved by the DSB; or, in the absence of such approval,
(b) a period of time mutually agreed by the parties to the dispute within 45 days after the date of adoption of the recommendations and rulings; or, in the absence of such agreement,
(c) a period of time determined through binding arbitration within 90 days after the date of adoption of the
The Tuna-Dolphin Case
1. Amerika Serikat melakukan embargo terhadap produk ikan tuna yang berasal dari Mexico karena berdasarkan putusan pengadilan dalam perkara Earth Island Institute v. Mosbacher, Pemerintah
Amerika Serikat harus melaksanakan embargo atas ikan tuna yang berasal dari Meksiko karena dalam melakukan penangkapan ikan tuna, Meksiko menggunakan net atau jala yang dapat membunuh ikan lumba-lumba yang populasinya makin berkurang.
2. Petisi ini dilakukan oleh Earth Island Institute atas dasar
keberadaan sebuang undang-undang federal, the Marine Mamal Protection Act (MMPA) 1972. Tujuan diundangkannya MMPA adalah untuk mengurangi jumlah lumba-lumba yang mati akibat penggunaan purse seine nets.
Tuna-Dolphin Case (Cont.)
4. Tindakan pemerintah Amerika Serikat melakukan embargo tersebut menuai protes dari Meksiko.
5. Meksiko beranggapan bahwa perbuatan pemerintah
Amerika Serikat tersebut bertentangan atau berlawanan dengan Klausul most-favoured nations sebagaimana
diatur dalam Pasal 1 GATT.
6. Amerika Serikat membela diri dengan mengatakan bahwa tindakannya tersebut adalah benar dan
mempunyai dasar hukum. Tindakannya dikatakan
Tuna-Dolphin Case (Cont.)
5. Meksiko membawa sengketa ini ke GATT Dispute Panel. Panel memutuskan bahwa embargo A.S. atas produk tuna Meksiko merupakan perbuatan yang tidak konsisten
dengan kewajiban perdagangan internasional A.S. dengan tiga alasan :
1. “A nation can protect life and health within its own territory, but it should not affect the conduct of foreign procedures outside
domestic jurisdiction in respect of animals also outside jurisdiction;
2. Trade measures could only be used where they were necessary; not if they were uncertain or arbitrary;
3. The embargo discriminated against Mexican tuna products although there was no intrinsic difference between the tuna
Tuna-Dolphin Case (Cont.)
Berdasarkan pertimbangan di atas dapat disimpulkan: (1) bahwa suatu negara boleh membuat hukum untuk
melindungi kehidupan dan kesehatan manusia termasuk binatang di teritorialnya, tapi peraturan itu tidak dapat
diberlakukan di luar yurisdiksinya;
(2) bahwa pembatasan perdagangan hanya dapat digunakan bila diperlukan dan tidak boleh digunakan bila tidak pasti dan semena-mena; dan
(3) bahwa embargo dimaksud merupakan perbuatan
What do you think?
1. Produk mebel Indonesia pernah ditolak di pasar
Eropah;
2. Alasannya adalah karena mebel Indonesia dibuat
dari hasil
illegal logging
dan merusak hutan tropis
sebagai paru-paru dunia; yang paling penting
adalah karena Indonesia melanggar norma
hukum internasional.
3. Apakah Indonesia bisa mengajukan protes/
gugatan ke DSB WTO?
NORMA HI YG MELARANG
ILLEGAL LOGGING
•
1994 International Tropical Timber
Agreement (ITTA) – sustainable forest
management
•
Maximum Sustainable Yield
•
UU NO. 41/1999 TTG KEHUTANAN
•
DATA WWF: JLH IZIN HPH, HPHTI, IPK,
Sengketa Mobnas Indonesia
• 23 Juli 1998, Dispute Settlement Body (DSB) WTO mengadopsi the
Panel Report ttg Indonesia – Certain Measures Affecting the Automobile Industry.
• Berkaitan dengan Program Pemerintah tahun 1993, Panel
berpendapat bahwa persyaratan bahan/komponen lokal, yang terkait dengan keuntungan pajak penjualan dan cukai tertentu melanggar ketentuan Article 2 the Agreement on Trade-Related Investment Measures (the "TRIMs Agreement") dan bahwa aspek diskriminasi pajak penjualan melanggar Article III:2 GATT 1994.
• Berkaitan dengan Program Mobil Nasional 1996, Panel berpendapat,
inter alia, bahwa Indonesia telah bertindak secara inkonsisten dengan Article 2 of the TRIMs Agreement dan Articles I dan III:2 GATT 1994,
• The EC telah mendemonstrasikan bahwa Indonesia telah menyebabkan prejudice yang serius terhadap kepentingan EC dalam artian Article 5(c) the Agreement on Subsidies and Countervailing Measures.
Award Sengketa Mobnas
• Article 21.1 DSU menyebutkan prinsip umum bahwa “pencepatan
kepatuhan terhadap rekomendasi dan keputusan DSB adalah esensial agar dapat menjamin penyelesaian sengketa efektif untuk keuntungan semua Negara Anggota.”
• Sehubungan dengan Article 21.3 DSU: "jika ini tidak praktis untuk segera mentaati rekomendasi dan keputusan, Negara Anggota bersangkutan harus mempunyai periode waktu yang pantas untuk melakukan itu." Bila periode waktu yang pantas ditetapkan melalui arbitrase mengikat sesuai dengan Article 21.3(c), ketentuan mana mengatur bahwa:
... a guideline for the arbitrator should be that the reasonable period of time to implement panel or Appellate Body recommendations should not exceed 15 months from the date of adoption of a panel or Appellate Body report.
Award Sengketa Mobnas
• Indonesia telah menunjukan, baik secara tertulis maupun
secara lisan yang dibuat dalam persidangan lisan, bahwa dia berniat untuk tidak begitu saja mencabut peraturan-peraturan yang ada sekarang yang membentuk Program 1993 yang telah terbukti oleh Panel tidak konsisten dengan kewajiban-kewajiban sebagaimana diatur dalam WTO
Agreement, tapi juga merancang peraturan-peraturan baru yang konsisten dengan kewajiban-kewajiban dalam
WTO Agreement.
• Indonesia bermaksud untuk mengerjakan ini dengan
Award Sengketa Mobnas
•
Indonesia telah menunjukan bahwa dia memohon
waktu 6 bulan semenjak tanggal dikeluarkannya
Laporan Panel untuk melaksanakan proses
pembuatan hukum domestik yang diperlukan
untuk mengimplementasikan rekomendasi dan
keputusan DSB dalam kasus ini.
•
Saya setuju dengan Keputusan Arbitrator dalam
European Communities – Hormones
bahwa:
periode waktu yang pantas, sebagaimana diatur
dalam Article 21.3(c), haruslah periode waktu
Award Sengketa Mobnas
• Dalam pandangan saya, 6 bulan merupakan waktu terpendek yang mungkin
bagi Indonesia untuk menyempurnakan proses pembuatan hukum domestic agar dapat mengimplementasikan rekomendasi dan keputusan DSB.
• Indonesia juga memohon periode waktu transisional 6 bulan setelah
dikeluarkannya peraturan pelaksanaan (yaitu, sampai tanggal 23 Oktober 1999) sebagai periode waktu transisi yang memungkinkan perusahaan/industri yang terimbas dampak untuk melakukan penyesuaian struktural.
• Saya tidak menganggap perubahan struktural industri Indonesia yang terimbas
Award Sengketa Mobnas
• Di sisi lain, Indonesia merupakan Negara berkembang. Dalam konteks ini, saya berpendapat bahwa Article 21.2 DSU mensyaratkan
bahwa:Perhatian khusus harus diberikan kepada masalah-masalah yang mempengaruhi kepentingan Anggota negara berkembang
sekaitan dengan peraturan tarif yang telah tunduk kepada penyelesaian sengketa.
• Walaupun bahas ketentuan ini agak umum dan tidak mengatur banyak hal tentang arahan, tapi dia merupakan ketentuan yang membentuk bagian dari pengertian Article 21.3(c) DSU dan yang Saya anggap penting untuk diperhitungkan disini. Indonesia telah menunjukan
Award Sengketa Mobnas
• Dalam keadaan yang sangat khusus ini, Saya menganggap pantas untuk memberi perhatian penuh terhadap masalah-masalah yang mempengaruhi kepentingan Indonesia sebagai negara berkembang sesuai dengan ketentuan Article 21.2 DSU. Oleh karena itu, Saya menyimpulkan bahwa tambahan waktu enam bulan di atas periode waktu enam bulan yang diharuskan untuk melengkapi proses
pembuatan peraturan domestik merupakan periode waktu yang pantas untuk mengimplementasikan rekomendasi dan keputusan DSB dalam kasus ini.
• Sehubungan dengan pertimbangan-pertimbangan di atas, dan sesuai dengan ketentuan Article 21.3(c) DSU, Saya menetapkan bahwa
periode waktu yang pantas bagi Indonesia untuk mengimplementasikan rekomendasi dan keputusan DSB dalam kasus ini adalah dua belas
bulan terhitung sejak tanggal dikeluarkannya Keputusan Laporan Panel (the Panel Report) oleh DSB, yaitu, dua belas bulan dihitung dari
Filipina v. Brasil
Desiccated Coconut Case
•
Dalam kasus ini Filipina dan Brasil mengajukan
banding tentang masalah-masalah hukum dan
interpretasi hukum tertentu dalam Laporan
Panel.
•
Panel ini dibuat untuk mempertimbangkan
Filipina v. Brasil (Cont.)
Desiccated Coconut Case
• Panel berkesimpulan bahwa:
• Article VI GATT 1994 bukan merupakan hukum yang
dapat diterapkan dalam sengketa ini. Konsekwensinya, muatan gugatan Filipina berdasarkan Article VI dan
berdasarkan I dan II, yang berasal dari gugatan inkonsistensi dengan Article VI, tidak bisa
dipertimbangkan oleh Panel.
• Perjanjian tentang Pertanian bukan merupakan hukum
yang dapat diterapkan pada sengketa ini. Oleh karena itu, gugatan yang berdasarkan Perjanjian itu tidak dapat dipertimbangkan oleh Panel.
• Gugatan Filipina sehubungan dengan kegagalan Brasil
What do you think?
•
Pakaian jadi (garmen) RRC memasuki pasar
Indonesia dengan harga yang sangat murah dan
mengalahkan harga produk dalam negeri.
•
Bisakah Indonesia menerapkan
anti-dumping
duty
terhadap produk garmen RRC?
•
Kalau anda jadi arbitratornya, apakah keputusan
anda tentang tindakan Indonesia yang
KASUS PENYELUDUPAN
ORANG UTAN INDONESIA KE THAILAND
•
Jim and Alison Cronan dari
Monkey World
menyampaikan hasil investigasinya tentang
keberadaan Orangutan Indonesia di Thailand.
•
Orangutan tersebut diduga diselundupkan dari
Indonesia melalui Kapal Kayu, Kapal Kargo dan
Kapal Ikan melalui Pelabuhan Samut Parakan
dan Samut Sakorn.
•
Orangutan dimanfaatkan untuk “Orangutan
KASUS PENYELUDUPAN
ORANG UTAN INDONESIA KE THAILAND
• Kepolisian Kehutanan Thailand telah melakukan tindakan
operasi Orangutan, dalam bulan Oktober dan November 2003.
• Salah satu sasaran operasi adalah Safari World, salah
satu Kebun Binatang terkenal di Thailand, ternyata ditemukan 115 Orangutan.
• Bahkan dari investigasinya di Thailand masih ditemukan
lebih banyak lagi jumlah Orangutan di berbagai kebun binatang meskipun belum diketahui jumlah pastinya.
• Hasil temuan investigasi juga menyatakan bahwa dilihat
KASUS PENYELUDUPAN
ORANG UTAN INDONESIA KE THAILAND
•
Pemerintah Indonesia mengirimkan surat ke Mr.
Somchai Piensstarporn, Direktur Jendral
Departement Taman Nasional dan Hidupan Liar
dari Kementerian Sumberdaya Alam dan
Lingkungan Kerajaan Thailand pada tanggal 29
Juni 2004.
•
28 Juli 2004 Pemerintah Thailand memberikan
KASUS PENYELUDUPAN
ORANG UTAN INDONESIA KE THAILAND
• Dalam penyelesain masalah tersebut telah dilakukan
operasi bersama antara Polisi Kehutanan Thailand
dengan Tim Indonesia dan ditemukan ratusan satwa di beberapa kebun binatang Thailand.
• Namun dalam proses pengidentifikasian masih ada
permasalahan karena perbedaan pendapat antara kedua belah pihak. Tim Indonesia mengusulkan untuk
melakukan tes DNA bagi Orangutan yang ditemukan dalam operasi yang digelar.
• Namun Pemerintah Thailand belum bisa mengijinkan Tim
Indonesia membawa pulang Orangutan yang telah disita termasuk rambut Orangutan sebagai bahan uji DNA.
NORMA HI
•
CITES; PI yg melarang perdagangan
internasional ttg tumbuhan dan satwa
langka, DHI, IND mendaftarkan orang
hutan dalam Daftar Annex I.
PERTANYAAN
1. Apakah tindakan Pemerintah Thailand dalam
kasus ini bertentangan dengan hukum ekonomi
Internasional?
2. Tindakan hukum apa yang harus dilakukan
Pemerintah Thailand berdasarkan norma hukum
ekonomi internasional?
3. Apakah Safari World dapat dituntut di DSB WTO?
4. Menurut anda berapa besar kemungkinan
JAPAN – TAXES ON ALCOHOLIC BEVERAGES
•
Jepang melalui Law No. 6, 1953 telah
mengenakan pajak yang lebih tinggi
terhadap produk brown spirits (whisky)
buatan Amerika Serikat, Eropah Bersatu
dan Canada.
•
Tarif pajak brown spirits (whisky) lebih
tinggi dari brown spirits (whisky) Jepang –
Shocu A dan Shocu B.
•
Alasan Jepang melakukan itu untuk
KEPUTUSAN DSB
Tentang JAPAN – TAXES ON ALCOHOLIC BEVERAGES