• Tidak ada hasil yang ditemukan

BHN AJAR HK EKONOMI INTERNASIONAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "BHN AJAR HK EKONOMI INTERNASIONAL"

Copied!
158
0
0

Teks penuh

(1)

PENGANTAR

HEI

BIDANG HUKUM PALING PROGRESSIF

GLOBALISASI EKONOMI

KEMAJUAN TEKNOLOGI DAN KOMUNIKASI

(2)

Faktor Pendukung Berkembangnya HEI

PELUNAKAN

TEORI KEDAULATAN NEGARA

INPRES NO. 2 TAHUN 1996 TENTANG MOBIL NASIONAL MENINGKATNYA

INTERDEPENDENSI EKONOMI

Kerjasama Utara-Selatan Kerjasama Selatan-Selatan

(3)

HUBUNGAN EKONOMI INTERNASIONAL

Pergerakan internasional barang-barang (international

movement of goods);

Pergerakan internasional jasa-jasa (biasanya disebut

sebagai perdagangan jasa (invisible trade) melalui

transaksi-transaksi yang melintasi batas-batas negara

(the cross-border supply of service);

Pergerakan orang-orang yang melintasi batas-batas

negara (international movement of persons);

Pergerakan internasional modal yang mensyaratkan

investor-investor asing untuk dapat mengawasi secara langsung modalnya (penanaman modal asing, misalnya mendirikan perusahaan); dan

(4)

Carreau, Julliand dan Flory

The law of legal entity establishment;

Hukum pendirian badan hukum

The law of investment

Hukum Penanaman Modal

The law of economic institutions

Hukum institusi ekonomi

The law of economic relations

(5)

DEFINISI HEI

John H. Jackson

“International economic law could be

defined as including all legal subjects

which have both an international and

economic component.”

Huala Adolf

(6)

DEFINISI HEI

Verloren van Themaat

“International economic law can be described in

overall terms as the total range of norms

(directly or indirectly based on treaties) of public

international law with regard to transnational

economic relations.”

Hukum Ekonomi Internasional dapat

diartikan sebagai sederetan norma yang

baik secara langsung maupun tidak

(7)

DEFINISI HEI

Schwarzenberger

“The branch of International public law which is

concerned with an ownership and exploitation of national resources, production and distribution of goods, invisible international transactions of an economic and financial character, currency and finance, related services and organization of the entities in such activities.”

Cabang Hukum Ekonomi Internasional

publik yang berkaitan dengan kepemilikan

dan eksploitasi sumberdaya alam nasional,

produksi dan distribusi barang,

(8)

Kritik Verloren van Themaat

Definisi ini terlalu luas

Hub. EI diatur oleh hk kontrak dan perdata

bahkan oleh hk nas. Publik.

Hub. EI perlu pula diatur dg hk int’l.

Hk. Nas. Publik mempunyai peranan yg

(9)
(10)

SEBELUM PD II

Sejak Abad ke 15, masy. Int’l telah mengenal

klausul “most favoured nations (MFN) treatment

dan resiprositas (timbal balik) spt yg termuat

dlm suatu perjanjian atr Inggris dan Burgundy

pd th.1417.

Prinsip dlm hk laut juga memberi kontribusi

(11)

Abad ke 19 mrpkan kulminasi perkembangan klausul

most favoured nations dg masuknya klausul itu

kedalam Hukum Komersial negara-negara Eropah.

Pd Abad ke 19 ini, klausul MFN diinkorporasikan ke

dlm bbrp perjanjian int’l, spt European Convention of the Danube (1855), Rhine Navigation of Liberty and Artistic Works (1886), dan the Brussels Union for the Publication of Customs Tariffs (1890).

Tahun 1914, campur tangan negara dlm hub. EI. Ps.

23 (e) Piagam LBB mengharuskan “equitable treatment for the commerce of all members.”

1923-1936 LBB mengadakan studi ttg formalitas

(12)

PASCA PD II

Bretton Woods System (1944) melahirkan

International Monetary Fund dan the

International Bank for Reconstruction and

Development;

Setelah lahirnya PBB (1945) ada upaya untuk

mendirikan the International Trade Organization

melalui Piagam Havana (1948), namun ITO

gagal berdiri;

GATT menjadi organisasi int’l melalui Protocol of

(13)

GATT

Tdk memenuhi persyaratan sbg organisasi int’l

krn tdk memiliki anggaran dasar dan struktur

organisasi;

Tdk memiliki ketentuan mengenai hukum acara

sbg suatu organisasi;

Tdk memiliki ketentuan yg jalas dan

komprehensif ttg penyelesaian sengketa; dan

Protocol of Provisional Application mengizinkan

(14)

1960 OECD Eropah Barat, AS,

Kanada, Australia dan Selandia Baru;

1960 the United Nations Conference on

Trade and Development (UNCTAD) utk

melindungi kepentingan ekonomi negara

berkembang

New International Economic Order (NIEO)

(15)

PASCA PERANG DINGIN

Pasar terbuka dan kompetitif;

Semakin berperannya GATT (yg dilebur menjadi

WTO) dan UNCTAD dlm membuat aturan-aturan

dan pedoman aspek perdagangan int’l dlm

bentuk perjj. Int’l.;

GATS (General Agreement on Trade and Services;TRIMS (Trade Related Investment Measures);

TRIPS (Trade Related Aspects of Intelectual Property

Rights);

The Understanding on Rules and Procedures

(16)
(17)

SUMBER HUKUM INT’L

1. Treaties

2. International Customary Law 3. Principles of International Law 4. Decisions and Doctrines

(18)

TREATIES/TRAKTAT

Konvensi Wina 1969

The International Telegraph Convention of

1865

International Convention on the

Settlement of Investment Disputes

(19)

International Treaties ?

ANNEXES

(20)

HUKUM KEBIASAAN INTERNATIONAL

PACTA SUNT SERVANDA FREEDOM OF COMMERCE FREEDOM OF NAVIGATION Norms deriving from general

practices of states accepted as opinio juris

Norms deriving from international Conferences

(21)

PRINSIP HUKUM UMUM

Interpretation of legal rules at all levels of governance, from the global

to the municipal

Good Faith

(22)

JUDICIAL DECISIONS AND DOCTRINES

Subsidiary Means For Determining Rules of Law

Kartika Candra Hotel Vs. Amco Doktrin Equal Treatment

(23)
(24)

SUBJEK HUKUM

“A subject of the law is an entity capable of

possessing international rights and duties

and having the capacity to maintain its

rights by bringing international claims.

Doktrin ini menganggap bahwa individu

bukan subjek hukum.

Doktrin ini menganggap bahwa subjek

(25)

SUBJEK HUKUM “MODERN”

Negara

Individu

Perusahaan Transnasional

(26)

NEGARA

Konvensi Montevideo 1933

Negara protektorat

Negara boneka

Negara koloni Bukan Subjek

Negara sangat miskin

(27)

INDIVIDU

Individu dan badan hukum sbg subjek

hukum terbatas;

ICSID (International Convention on the

Settlement of Investment Disputes

(28)

PERUSAHAAN TRANSNASIONAL

Perusahaan transnasional memperoleh status

sebagai subjek hukum ekonomi internasional

sejak 1960-an dengan munculnya perusahaan

transnasional modern seperti Exxon

Corporation, Texaco Inc, British Petroleum.

Tujuan memberikan status subjek hukum untuk

(29)

ORGANISASI EKONOMI INTERNASIONAL

Org. EI mendapat pengakun pertama sbg subjek

hukum dlm Advisory Opinion MI dlm Reparation

for Injuries Case (Pangeran Bernadotte dr

Swedia)

Bank Dunia

Dana Moneter Internasional

ICSID

MIGA

(30)
(31)

KAIDAH DASAR (FUNDAMENTAL) HEI

FREEDOM OF COMMERCE &

FREEDOM OF TRADE FREEDOM OF COMMUNICATION

(32)

KAIDAH DASAR (FUNDAMENTAL) HEI

1. Minimum (Minimum Standards).

2. Perlakuan Sama (Identical Treatment).

3. Perlakuan Nasional (National Treatment).

4. Klausul Atau Kewajiban “Most-Favoured-Nation

(MFN)”.

5. Kewajiban Menahan Diri Untuk Tidak Merugikan

Negara Lain.

6. Tindakan Pengamanan: Klausul Penyelamat

(

Safeguards and Escape Clause

).

(33)

Kaidah Dasar Standar Minimum

(Minimum Standards)

Kewajiban negara untuk sedikitnya

memberikan jaminan kepada pedagang

atau pengusaha asing dan harta miliknya

(34)

Perlakuan Sama (Identical Treatment)

Prinsip ini didasarkan pada prinsip

resiprositas dalam hukum diplomatik;

Prinsip ini dilandaskan pada perlakuan

yang sama atau identik

Misalnya, Kalau pengusaha A dari negara

X dikenakan bea masuk sebesar 5% di

(35)

Perlakuan Nasional (National Treatment)

Prinsip ini mengharuskan suatu negara

memperlakukan barang-barang dan jasa atau

modal yang memasuki pasar dalam negerinya

dengan cara yang sama sebagaimana negara

tersebut memperlakukan produk-produk

tersebut ketiaka dibuat, dimiliki atau diawasi

oleh warga negaranya;

(36)

Kewajiban “Most-Favoured-Nation (MFN)”

Klausul MFN berasal dr the Bretton Woods

System;

Klausul MFN merupakan prinsip yang

menharuskan negara untuk memberikan

perlakuan yang sama terhadap negara lainnya

sebagaimana perlakuan terhadap negara

ketiga;

Klausul MFN terdiri dr Conditional dan

(37)

Kewajiban Utk Tdk Merugikan Negara Lain

Kewajiban negara utk tidak menimbulkan

beban-beban ekonomi kepada negara lain krn adanya

kebijaksanaan ekonomi domestik negara yang

bersangkutan;

Kewajiban negara utk tdk memberikan subsidi

tanpa konsultasi sehingga memberikan proteksi

pd produk dalam negeri; dan

Kewajiban negara untuk tidak melakukan

(38)

Tindakan Pengamanan: Klausul Penyelamat

(

Safeguards and Escape Clause

)

Klausul penyelamat memungkinkan suatu

negara, terutama nagara berkembang/ miskin,

untuk melakukan tindakan pengamanan

ekonomi domestik dengan jalan menunda

berlakunya suatu kewajiban yang bersumber dr

perjanjian internasional;

Penangguhan hanya diperbolehkan dlm hal

keadaan perdagangan internasional

(39)

Preferensi Negara Sedang berkembang

Kaidah yang mensyaratkan perlunya suatu kelonggaran

atas aturan-aturan hukum bagi negara

berkembang/miskin, misalnya berupa pengurangan bea masuk produk-produk mereka ke pasar negara maju;

Kaidah ini diterapkan dalam pemberian GSP

(Generalized System of Preferences), yaitu sistem preferensi umum negara maju kepada negara

berkembang/miskin.

Kaidah ini memungkinkan penyimpangan terhadap

(40)

Penyelesaian Sengketa Secara Damai

Prinsip ini mengharuskan penyelesaian

sengketa secara damai, seperti negosiasi

atau konsultasi dan bila gagal sengketa

diselesaikan melalui forum arbitrase;

Prinsip ini juga memungkinkan negara

menggunakan WTO (Dispute Settlement

Body) untuk menyelesaikan sengketa

(41)

Aturan-Aturan Hukum Ekonomi Internasional

by

(42)

Pengantar

GATT (1947)

WTO (1994)

GATS

TRIMs

TRIPs

Antar Negara

(43)

Tujuan GATT

1. Meningkatkan taraf hidup umat manusia; 2. Meningkatkan kesempatan kerja;

3. Meningkatkan pemanfaatan kekayaan alam dunia; dan 4. Meningkatkan produksi dan tukar menukar barang

(44)

Fungsi GATT

Wadah Perangkat Aturan (The Rules of Road For Trade)

Forum Penyelesaian Sengketa Perdagangan Internasional

(45)
(46)

Keberhasilan Putaran Tokyo

1. Subsidi & tindakan balasan ( subsidiesand countervalling

measures),yakni kesepakatan yang menafsir pasal VI,XVI dan XXIII GATT;

2. Rintangan-rintangan teknik terhadap perdagangan (technical

barrier to trade), yang kadangkala disebut pula sebagai ‘Standard Code’);

3. Prosedur lisensi impor

4. kesepakatan mengenai pengadaan barang dan jasa pemerintah (government procurement)

5. Penaksiran bea cukai (customs valuation) yang menaksirkan pasal VII GATT;

6. Antidumping, yang menafsirkan pasal VI dan mengantikan the Kennedy Round Antidumping Code;

(47)

Prinsip-Prinsip GATT

1. Most Favoured Nation

2. National Treatment

3. Larangan Restriksi (Pembatasan)

Kuantitatif

4. Perlindungan Melalui Tarif

5. Resiprositas

(48)

Prinsip Most Favoured Nation (MFN)

Diatur dalam Pasal 1 GATT, Pasal 4 TRIPs, dan

Pasal 2 GATS.

Perdagangan harus dilaksanakan atas dasar

non-diskriminatif

Semua negara harus memberlakukan perlakuan

yang sama pada semua negara dlm

melaksanakan kebijakan impor dan ekspor

Perlakuan yang sama harus segera dijalankan

dan tanpa syarat

(49)

Penanggalan (Waiver) Prinsip MFN

1. Perlakuan preferensi di wilayah tertentu yang

sudah ada (French dan Banelux Economic

Union) tetap boleh dilaksanakan namun batas

preferensinya tdk boleh dinaikkan.

2. Anggota GATT yg membentuk Customs Union

dan Free Trade Area yang sesuai dg Pasal XXIV

tdk harus memberikan perlakuan yang sama

kepada negara anggota lainnya.

(50)

Penanggalan (Waiver) Prinsip MFN

4. Pemberian preferensi tarif oleh negara maju

kepada produk impor negara berkembang atau

negara kurang beruntung melalui fasilitas

Generalized System of Preference (Sistem

Preferensi Umum).

5. Negara yang tidak punya jalan lain untuk

melindungi atau memproteksi untuk sementara

waktu industri dalam negerinya (

safeguard

rule

).

(51)

Prinsip National Treatment

Diatur dalam Pasal III GATT dan Pasal 3 TRIPS

Produk suatu negara yang diimpor ke satu negara lain

harus diperlakukan sama seperti halnya produk dalam negeri.

Prinsip ini berlaku untuk semua macam pajak dan

pungutan lainnya.

Prinsip ini juga berlaku pada perundang-undangan yang

mengatur persyaratan penjulan,pembelian,

pengangkutan, distribusi atau penggunaan produk dimaksud

(52)

Prinsip Larangan Restriksi (Pembatasan) Kuantitatif

Diatur dalam Pasal IX GATT

Restriksi kuantitatif terhadap ekspor atau impor

merupakan perbuatan terlarang.

Tujuannya adalah

1. Mencegah terkurasnya produk essensial di negara pengekspor;

2. Melindungi pasar dalam negeri, terutama mengenai produk pertanian dan perikanan 3. Mengamankan neraca pembayaran

(53)

Prinsip Perlindungan Melalui Tarif

GATT hanya memperkenankan tindakan proteksi

terhadap industri domestik melalui tarif (dengan

meningkatkan tarif bea masuk) dan tidak melalui upaya perdagangan lainnya (non-tariff commercial measures

Penggunaan tarif masih dibolehkan tetapi tetap tunduk

kepada ketentuan GATT, misalnya tidak diskriminatif dan tunduk pada komitmen tarifnya kepada GATT/WTO.

Penaikan tarif harus mendapat persetujuan WTO terlebih

dahulu.

Tarif terendah saat ini dalam kerangka GATT/WTO adalh

4 %.

(54)

Prinsip Resiprositas

Diatur dalam Paragraf 3 Preambul

Prinsip fundamental dalam GATT

Diberlakukan dalam perundingan dan

(55)

Perlakuan Khusus Bagi Negara Berkembang

Diatur dalah pasal XXXVI – XXXVIII

Ini diberlakukan karena dua pertiga dari negara anggota

adalah negara berkembang

Negara berkembang diberikan prioritas untuk

memperoleh akses pasar yang lebih menguntungkan (Bagian IV)

Negara maju dilarang membuat rintangan (barrier) baru

terhadap ekspor negara berkembang

Negara maju tidak boleh menuntut resiprositas dalam

penurunan tarif bagi negara berkembang

(56)
(57)

ARTICLE 1

General Most-Favoured-Nation Treatment

1. With respect to customs duties and charges of any kind imposed on or in connection with importation or

exportation or imposed on the international transfer of payments for imports or exports, and with respect to the method of levying such duties and charges, and with

respect to all rules and formalities in connection with importation and exportation, and with respect to all

matters referred to in paragraphs 2 and 4 of Article III,* any advantage, favour, privilege or immunity granted by any contracting party to any product originating in or

(58)

ARTICLE 1

General Most-Favoured-Nation Treatment

1. Prinsip ini menharuskan negara untuk

memberikan perlakuan yang sama tentang

pengenaan pajak ekspor atau impor terhadap

semua negara anggota. Jika suatu negara

ingin memberikan keuntungan, favour,

kekhususan dan kekebalan atas pajak

barang-barang yang berasal dari negara tertentu harus

sesegera mungkin diperjanjikan dan

(59)

Article III

National Treatment on Internal Taxation and Regulation

1. “The contracting parties recognize that internal taxes and other internal charges, and laws, regulations and requirements affecting the internal sale, offering for sale, purchase, transportation,

distribution or use of products, and internal quantitative

regulations requiring the mixture, processing or use of products in specified amounts or proportions, should not be applied to

imported or domestic products so as to afford protection to domestic production.”

2. “The products of the territory of any contracting party imported into the territory of any other contracting party shall not be

subject, directly or indirectly, to internal taxes or other internal charges of any kind in excess of those applied, directly or

indirectly, to like domestic products. Moreover, no contracting

(60)

Pasal IV

Pasal ini membolehkan suatu negara untuk

menetapkan kuota terhadap film-film melalui

peraturan tentang pembatasan film. Tapi,

pembatasan-pembatasan atau kuota ini

harus tetap tunduk kepada negosiasi

(61)

Pasal V

Pasal ini mengakui adanya kebebasan transit

barang-barang, termasuk perahu dan sarana

angkutan lainnya melalui wilayah suatu negara

anggota dengan menggunakan rute-rute yang

digunakan untuk transit internasional guna

melakukan transit ke atau dari wilayah negara

anggota GATT lainnya.

Negara anggota dapat mengenakan bea-bea dan

peraturan terhadap transit secara wajar dan

(62)

Pasal VI

Anti-dumping and Countervailing Duties

1. The contracting parties recognize that dumping, by which

products of one country are introduced into the commerce of another country at less than the normal value of the

products, is to be condemned if it causes or threatens

material injury to an established industry in the territory of a contracting party or materially retards the establishment of a domestic industry. For the purposes of this Article, a product is to be considered as being introduced into the commerce of an importing country at less than its normal value, if the price of the product exported from one country to another 2. In order to offset or prevent dumping, a contracting party

(63)

Pasal VI

Anti-dumping and Countervailing Duties

1. Pasal ini melarang negara anggota untuk

mempraktekan dumping harga produk, yakni

menjual produk di bawah harga normal.

Pengertian harga di bawah harga normal ialah:

lebih rendah dari harga produk di negara dimana

produk itu dibuat.

(64)

Pasal VII

Pasal ini menetapkan kriteria mengenai

penilaian atas barang impor oleh

pejabat-pejabat Bea Cukai dari negara anggota

GATT.

Pasal ini juga mensyaratkan bahwa nilai

barang-barang impor untuk maksud

kepabeanan harus didasarkan pada nilai

nyata barang (

actual value of the imported

(65)

Pasal VIII

Pasal ini mensyaratkan bahwa semua biaya dan

pungutan (selain daripada bea masuk impor dan ekspor serta pajak yang diatur dalam Pasal III) yang dikenakan atas atau dalam hubungannya dengan impor atau

ekspor harus dibatasi.

Pasal ini juga mensyaratkan bahwa pungutan seperti itu

tidak boleh dijadikan sebagai proteksi tidak langsung terhadap produk domestik.

Pasal ini juga meminta negara anggota untuk

(66)

Pasal IX

Pasal ini mensyaratkan agar semua negara anggota

harus memberikan perlakuan yang sama (no less

favourable treatment) berkaitan dengan persyaratan asal barang terhadap semua produk dari negara anggota

seperti halnya perlakuan terhadap produk serupa dari negara ketiga.

Pasal ini juga mensyaratkan agar negara anggota harus

bekerjasama dalam mencegah penggunaan nama

(67)

Pasal X

Pasal ini menegaskan bahwa undang-undang,

peraturan-peraturan, putusan-putusan pengadilan

dan administrasi mengenai klasifikasi dan

penilaian produk untuk tujuan kepabeanan, pajak,

pungutan, atau segala persyaratan yang

mempengaruhi penjualan, distribusi, transportasi,

asuransi, inspeksi pemrosesan, penggunaan, dan

lain-lain, harus dipublikasikan secara wajar

(68)

Pasal XI

Negara anggota dilarang mempraktekkan

restriksi kuantitatif seperti pengenaan kuota,

lisensi impor atau ekspor atau upaya-upaya

lainnya disamping bea masuk, pajak dan

(69)

Pasal XII

Pasal ini membolehkan suatu negara untuk

menerapkan pembatasan masuknya produk

impor demi untuk mengamankan neraca

pembayarannya (

restriction to safeguard the

(70)

Pasal XIII

Pasal ini mensyaratkan bahwa penerapan

restriksi kuantitatif harus dilaksanakan tanpa

diskriminasi. Jadi, misalnya suatu negara

membatasi masuknya suatu produk dari

negara B. Pembatasan terhadap produk

negara B ini juga harus diberlakukan

(71)

Hak-Hak dan Kewajib

(72)

HONESTE VIVERE

NEMINEM LEDERE

(73)

PENGANTAR

HUKUM EKONOMI INTERNASIONAL Luis Echeverria Alvarez (1971)

(74)

NEGARA-NEGARA KELOMPOK 77

UNCTAD

RESOLUSI 45 (III) 18 Mei 1972

(75)

KRISIS MINYAK DUNIA 1973

MAJELIS UMUM PBB (1974)

1. The Resolution on the Establishment of a New International Economic Order (Resolusi 3201 (S-VI) 1 Mei 1974); dan

(76)

PIAGAM PBB TENTANG PRINSIP-PRINSIP HUKUM EKONOMI INTERNASIONAL

1. Mukadimah

2. Prinsip-Prinsip Fundamental Mengenai

Hubungan Ekonomi Internasional

3. Hak-Hak dan Kewajiban-Kewajiban

Ekonomi Negara-Negara

(77)

MUKADIMAH

1. Menciptakan kemakmuran yang lebih luas di antara semua

negara dan standar hidup yang lebih tinggi bagi semua bangsa; 2. Memajukan ekonomi dan sosial semua bangsa, khususnya

negara sedang berkembang oleh segenap masyarakat

internasional, memajukan kerjasama atas dasar keuntungan dan manfaat timbal balik bagi semua negara pencinta damai yang bersedia melaksanakan ketentuan-ketentuan Piagam di bidang ekonomi, perdagangan, ilmu pengetahuan dan teknik tanpa memandang sistem politik, ekonomi dan sosial;

3. Menanggulangi rintangan-rintangan utama bagi pembangunan ekonomi negara-negara berkembang;

4. Memajukan perkembangan ekonomi negara-negara berkembang untuk mengurangi jurang pemisah antara negara berkembang dengan negara maju; dan

(78)

Prinsip-Prinsip Fundamental Hubungan Ekonomi Internasional

1. Kedaulatan, integritas wilayah dan kemerdekaan politik negara-negara;

2. Persamaan kedaulatan semua negara; 3. Non-Agresi;

4. Non-intervensi;

5. Saling memberi manfaat dan adil; 6. Koeksistensi damai;

7. Hak-Hak sama dan penentuan nasib sendiri bagi rakyat;

8. Penyelesaian sengketa secara damai;

(79)

Prinsip-Prinsip Fundamental Hubungan Ekonomi Internasional

10. Melaksanakan kewajiban-kewajiban internasional dengan ihtikad baik;

11. Menghormati Hak Azasi Manusia dan kebebasan fundamenal;

12. Tidak mencari hegemoni dan pengaruh kekuasaan; 13. Memajukan keadilan sosial internasional;

14. Kerjasama internasional untuk pembangunan; dan

15. Akses bebas ke dan dari laut oleh negara-negara yang dikelilingi oleh darat dalam ruang lingkup

(80)
(81)

Kadaulatan Negara

Full Sovereignty Shared Sovereignty

Pasal 2 Pasal 3

Every State has and shall freely exercise full and permanent sovereignty, … over all its wealth, natural resources and economic activities.

(82)

Full Sovereignty

Prinsip Iktikad Baik

Waiver of Sovereignty

PMA

Non-Diskriminasi Perlakuan Sama

Hukum Nasional Hukum Internasional

Pendirian Nasionalisasi

(83)
(84)

Pasal 4

Hak setiap negara untuk melakukan perdagangan

internasional dan bentuk-bentuk kerjasama

ekonomi lainnya tanpa memandang

perbedaan-perbedaan sistem politik, ekonomi dan sosial.

(85)

Pasal 14

Setiap negara berkewajiban untuk bekerjasama dalam memajukan perluasan dan liberalisasi perdagangan dunia dan meningkatkan kesejahteraan dan standar kehidupan semua rakyatnya, khususnya bagi negara-negara berkembang.

PRINSIP LIBERALISASI EKONOMI

(86)

non-Pasal 28

Negara-negara maju harus memberikan

pertimbangan-pertimbangan serius untuk

mengambil upaya-upaya lainnya yang layak dan

memungkinkan guna memenuhi

(87)

Pasal 21

Untuk memajukan perluasan perdagangan, negara-negara berkembang harus berusaha untuk memberikan

(88)

Pasal 26

International trade should be conducted without

prejudice to generalized non-discriminatory and

non-reciprocal preferences in favour of developing

nations, on the basis of mutual advantage,

(89)

Pasal 28

Semua negara wajib bekerjasama dalam mencapai

penyesuaian-penyesuaian harga ekspor negara-negara

berkembang dalam kaitannya dengan harga impor mereka. Hal ini dilakukan guna memajukan

(90)
(91)

Pasal 19

Untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi

negara-negara berkembang dan memperkecil

jurang ekonomi negara-negara berkembang dan

negara maju, maka negara maju harus

memberikan preferensi umum, prinsip non-pamrih

(non-reciprocal), dan non-diskriminatif kepada

(92)

Pasal 25

Negara-negara harus meperhatikan

kebutuhan-kebutuhan dan masalah-masalah khusus negara

miskin diantara negara-negara berkembang dan

negara-negara kepulauan yang sedang

berkembang dengan tujuan membantu

negara-negara tersebut untuk menanggulangi

kesulitan-kesulitan khusus mereka dan karena itu

(93)
(94)

Pasal 10

(95)

Pasal 11

Semua negara harus bekerjasama untuk

memperkuat dan meningkatkan effisiensi

organisasi internasional guna

merealisasi-kan upaya-upaya meningkatmerealisasi-kan

pertumbuh-an ekonomi semua negara khususnya

(96)

Kelompok-Kelompok

(97)

Pasal 12

Negara-negara memiliki hak untuk bergabung dalam

kelompok-kelompok kerja sama subregional, regional dan interregional dalam upayanya mengejar pembangunan ekonomi dan sosialnya.

(98)
(99)

Pasal 13: 1

Setiap negara berhak untuk memdapatkan

manfaat dari kemajuan dan perkembangan

ilmu pengetahuan dan teknologi untuk

meningkatkan pembangunan sosial dan

ekonominya

Semua negara berkewajiban untuk

memajukan kerjasama ilmu pengetahuan dan

teknologi dan alih teknologi antar negara

dengan memperhatikan semua kepentingan

yang sah, termasuk, antara lain, hak dan

(100)

Pasal 13: 2, 3 dan 4

2. Negara-negara harus memberi kesempatan kepada negara berkembang untuk mendapatkan teknologi dan pembentukan teknologi dasar bagi kepentingan

ekonomi dan kebutuhan negara berkembang;

3. Negara-negara maju harus bekerjasama dengan negara-negara berkembang dalam membentuk, memperkuat dan membangun infrastruktur dan penelitian ilmu pengetahuan guna membantu perluasan dan peningkatan ekonomi negara berkembang;

4. Semua negara harus bekerjasama dalam bidang

penelitian guna mengembangkan pedoman-pedoman atau pengaturan-pengaturan yang diterima secara

(101)

Kewajiban-Kewajiban Umum Untuk

(102)

Pasal 7

Setiap negara memiliki tanggungjawab

utama untuk memajukan pertumbuhan

ekonomi sosial dan budaya rakyatnya;

Setiap negara secara individu maupun

kolektif diwajibkan untuk bekerjasama

dalam menghapuskan rintangan-rintangan

yang menghambat mobilisasi dan

(103)

Pasal 8

Setiap negara harus:

1. bekerjasama dalam memperlancar

hubungan ekonomi internasional yang

lebih rasional dan adil; dan

2. menggalakkan perubahan-perubahan

struktural dalam perekonomian dunia

yang harmonis sesuai dengan

(104)

Pasal 9

Semua negara memiliki tanggungjawab

untuk bekerjasama di dalam lapangan

ekonomi, sosial dan budaya, ilmu

pengetahuan dan teknologi untuk

memajukan tingkat ekonomi dan sosial di

seluruh dunia, khususnya negara

(105)
(106)

Tanggung Jawab Bersama

Common Responsibility towards

the International Commodity

Common Responsibility To Protect

the Environment

(107)

PENNYELESAIAN

SENGKETA

EKONOMI

(108)

Macam-Macam Sengketa

Ekonomi Internasional

Sengketa antara Pedagang dengan Pedagang

Sengketa antara Pedagang Dengan Negara Asing

(109)

Prinsip Prinsip

Penyelesaian Sengketa

KESEPAKATAN PARA PIHAK

KEBEBASAN MEMILIH

CARA-CARA PENYELESAIAN SENGKETA

KEBEBASAN MEMILIH HUKUM

IHTIKAT BAIK (GOOD FAITH)

EXHAUSTION OF LOCAL

(110)
(111)

Pasal 33 Piagam PBB

“The parties to any dispute … shall … seek a solution by negotiation, inquiry, mediation, conciliation, arbitration, judicial

settlement … or other peaceful means of their own choice

1. Negoisiasi 2. Mediasi

3. Penyelidikan

1. Pengadilan Internasional 2. WTO

(112)

Penyelesaian Sengketa

Adjudicative/ Judicial Way

NEGOSIASI MEDIASI ARBITRASI

Amicable Way/

Alternative Dispute Resolution

(113)

Negosiasi

Negotiation is an efficacious means of

settling disputes relating to an agreement

because they enable parties to arrive at

conclusions being regard to the wishes of

all disputants.”

Negotiations tend to be success because

(114)

Kelemahan Negosiasi

Kedudukan para pihak tidak selalu

seimbang. Akibatnya sering terjadi

penekanan oleh pihak yang kuat terhadap

pihak yang lemah;

Prosesnya sangat lambat dan memakan

banyak sumberdaya finansial;

(115)

Mediasi

Penyelesaian sengketa dg

mempergunakan jasa pihak ketiga;

Mediator berupaya mencarikan saran

penyelesaian sengketa;

Pihak yang bersengketa dapat menolak

(116)

Penyelidikan (Inquiry)

Konsiliator berusaha menemukan

fakta-fakta yang berkaitan dengan sengketa;

Berdasarkan fakta-fakta tersebut

(117)

Jasa Baik (Good Offices)

Jasa baik merupakan upaya pihak ketiga

untuk menggiring pihak bersengketa ke

meja perundingan;

Keikutan pihak ketiga da am perundingan

(118)

Arbitrasi

Penyelesaian sengketa oleh pihak ketiga

yang disebut arbiter;

Arbitrase menyelesaikan sengketa

dengan membuat keputusan yang bersifat

final and binding;

Penyerahan sengketa ke arbitrase harus

(119)

Article XXIII

Dispute Settlement and Enforcement

1. If any Member should consider that any other Member fails to carry out its obligations or specific commitments under this Agreement, it may with a view to reaching a mutually satisfactory resolution of the matter have

recourse to the DSU.

2. If the DSB considers that the circumstances are serious enough to justify such action, it may authorize a Member or Members to suspend the application to any other

Member or Members of obligations and specific

(120)

3.If any Member considers that any benefit it could

reasonably have expected to accrue to it under a

specific commitment of another Member under

Part III of this Agreement is being nullified or

impaired as a result of the application of any

measure which does not conflict with the

provisions of this Agreement, it may have recourse

to the DSU. If the measure is determined by the

DSB to have nullified or impaired such a benefit,

the Member affected shall be entitled to a mutually

satisfactory adjustment on the basis of

(121)

BENTUK ARBITRASE

AD-HOC INSTITUSIONAL

Insidentil Aturan Khusus

Permanen & melembaga

Peraturan para pihak

1. UU No. 30/1999 + BANI

2. DSB/DSU

(122)

LEMBAGA PENYELESAIAN

SENGKETA

Sengketa antara Negara Sengketa antara Investor

Dengan Negara Asing

(123)

Partij Otonomie

Choice of Forum Forum Non Conveniens

(124)

DISPUTE SETTLEMENT BODY

The rules and procedures of this Understanding shall apply to disputes brought pursuant to the consultation and dispute settlement provisions of the agreements listed in Appendix 1

to this Understanding (referred to in this Understanding as the "covered agreements"). The rules and procedures of this Understanding shall also apply to consultations and the

settlement of disputes between Members concerning their rights and obligations under the provisions of the Agreement Establishing the World Trade Organization (referred to in this

(125)

APPENDIX 1

1. Multilateral Agreements on Trade in

Goods

2. General Agreement on Trade in Services

3. Agreement on Trade-Related Aspects of

(126)

ARTICLE 2

. . .the DSB shall have the authority to

establish panels, adopt panel and

Appellate Body reports

, maintain

surveillance of implementation of

rulings and recommendations, and

authorize suspension of concessions

(127)

ARTICLE 3 (2)

The dispute settlement system of the WTO is

a central element in providing security and

predictability to the multilateral trading

system. The Members recognize that

it

serves to preserve the rights and

obligations of Members under the covered

agreements, and to clarify the existing

provisions of those agreements in

accordance with customary rules of

(128)

ARTICLE 3 (3)

The prompt settlement of situations in

which a Member considers that

any

benefits accruing to it directly or

indirectly under the covered

agreements are being impaired by

measures taken by another Member

(129)

ARTICLE 3 (7)

The aim of the dispute settlement

mechanism is to secure a positive solution to

a dispute. A solution mutually acceptable to

the parties to a dispute and consistent with

the covered agreements is clearly to be

preferred. In the absence of a mutually

agreed solution, the first objective of the

dispute settlement mechanism is usually to

secure the withdrawal of the measures

(130)

ARTICLE 6

If the complaining party so requests, a

panel shall be established at the latest

at the DSB meeting following that at

which the request first appears as an

item on the DSB's agenda, unless at

that meeting the DSB decides by

(131)

ARTICLE 7

If the complaining party so requests, a

panel shall be established at the latest

at the DSB meeting following that at

which the request first appears as an

item on the DSB's agenda, unless at

that meeting the DSB decides by

(132)

ARTICLE 11

The function of panels is to assist the DSB in discharging its responsibilities under this

Understanding and the covered agreements. Accordingly, a panel should make an objective assessment of the matter before it, including an

objective assessment of the facts of the case and the applicability of and conformity with the relevant

covered agreements, and make such other findings as will assist the DSB in making the

(133)

ARTICLE 21 (3)

. . . . If it is impracticable to comply immediately with the recommendations and rulings, the Member concerned shall have a reasonable period of time in which to do so. The reasonable period of time shall be:

(a) the period of time proposed by the Member concerned, provided that such period is approved by the DSB; or, in the absence of such approval,

(b) a period of time mutually agreed by the parties to the dispute within 45 days after the date of adoption of the recommendations and rulings; or, in the absence of such agreement,

(c) a period of time determined through binding arbitration within 90 days after the date of adoption of the

(134)

The Tuna-Dolphin Case

1. Amerika Serikat melakukan embargo terhadap produk ikan tuna yang berasal dari Mexico karena berdasarkan putusan pengadilan dalam perkara Earth Island Institute v. Mosbacher, Pemerintah

Amerika Serikat harus melaksanakan embargo atas ikan tuna yang berasal dari Meksiko karena dalam melakukan penangkapan ikan tuna, Meksiko menggunakan net atau jala yang dapat membunuh ikan lumba-lumba yang populasinya makin berkurang.

2. Petisi ini dilakukan oleh Earth Island Institute atas dasar

keberadaan sebuang undang-undang federal, the Marine Mamal Protection Act (MMPA) 1972. Tujuan diundangkannya MMPA adalah untuk mengurangi jumlah lumba-lumba yang mati akibat penggunaan purse seine nets.

(135)

Tuna-Dolphin Case (Cont.)

4. Tindakan pemerintah Amerika Serikat melakukan embargo tersebut menuai protes dari Meksiko.

5. Meksiko beranggapan bahwa perbuatan pemerintah

Amerika Serikat tersebut bertentangan atau berlawanan dengan Klausul most-favoured nations sebagaimana

diatur dalam Pasal 1 GATT.

6. Amerika Serikat membela diri dengan mengatakan bahwa tindakannya tersebut adalah benar dan

mempunyai dasar hukum. Tindakannya dikatakan

(136)

Tuna-Dolphin Case (Cont.)

5. Meksiko membawa sengketa ini ke GATT Dispute Panel. Panel memutuskan bahwa embargo A.S. atas produk tuna Meksiko merupakan perbuatan yang tidak konsisten

dengan kewajiban perdagangan internasional A.S. dengan tiga alasan :

1. “A nation can protect life and health within its own territory, but it should not affect the conduct of foreign procedures outside

domestic jurisdiction in respect of animals also outside jurisdiction;

2. Trade measures could only be used where they were necessary; not if they were uncertain or arbitrary;

3. The embargo discriminated against Mexican tuna products although there was no intrinsic difference between the tuna

(137)

Tuna-Dolphin Case (Cont.)

Berdasarkan pertimbangan di atas dapat disimpulkan: (1) bahwa suatu negara boleh membuat hukum untuk

melindungi kehidupan dan kesehatan manusia termasuk binatang di teritorialnya, tapi peraturan itu tidak dapat

diberlakukan di luar yurisdiksinya;

(2) bahwa pembatasan perdagangan hanya dapat digunakan bila diperlukan dan tidak boleh digunakan bila tidak pasti dan semena-mena; dan

(3) bahwa embargo dimaksud merupakan perbuatan

(138)

What do you think?

1. Produk mebel Indonesia pernah ditolak di pasar

Eropah;

2. Alasannya adalah karena mebel Indonesia dibuat

dari hasil

illegal logging

dan merusak hutan tropis

sebagai paru-paru dunia; yang paling penting

adalah karena Indonesia melanggar norma

hukum internasional.

3. Apakah Indonesia bisa mengajukan protes/

gugatan ke DSB WTO?

(139)

NORMA HI YG MELARANG

ILLEGAL LOGGING

1994 International Tropical Timber

Agreement (ITTA) – sustainable forest

management

Maximum Sustainable Yield

UU NO. 41/1999 TTG KEHUTANAN

DATA WWF: JLH IZIN HPH, HPHTI, IPK,

(140)

Sengketa Mobnas Indonesia

23 Juli 1998, Dispute Settlement Body (DSB) WTO mengadopsi the

Panel Report ttg Indonesia – Certain Measures Affecting the Automobile Industry.

Berkaitan dengan Program Pemerintah tahun 1993, Panel

berpendapat bahwa persyaratan bahan/komponen lokal, yang terkait dengan keuntungan pajak penjualan dan cukai tertentu melanggar ketentuan Article 2 the Agreement on Trade-Related Investment Measures (the "TRIMs Agreement") dan bahwa aspek diskriminasi pajak penjualan melanggar Article III:2 GATT 1994.

Berkaitan dengan Program Mobil Nasional 1996, Panel berpendapat,

inter alia, bahwa Indonesia telah bertindak secara inkonsisten dengan Article 2 of the TRIMs Agreement dan Articles I dan III:2 GATT 1994,

The EC telah mendemonstrasikan bahwa Indonesia telah menyebabkan prejudice yang serius terhadap kepentingan EC dalam artian Article 5(c) the Agreement on Subsidies and Countervailing Measures.

(141)

Award Sengketa Mobnas

Article 21.1 DSU menyebutkan prinsip umum bahwa “pencepatan

kepatuhan terhadap rekomendasi dan keputusan DSB adalah esensial agar dapat menjamin penyelesaian sengketa efektif untuk keuntungan semua Negara Anggota.”

• Sehubungan dengan Article 21.3 DSU: "jika ini tidak praktis untuk segera mentaati rekomendasi dan keputusan, Negara Anggota bersangkutan harus mempunyai periode waktu yang pantas untuk melakukan itu." Bila periode waktu yang pantas ditetapkan melalui arbitrase mengikat sesuai dengan Article 21.3(c), ketentuan mana mengatur bahwa:

... a guideline for the arbitrator should be that the reasonable period of time to implement panel or Appellate Body recommendations should not exceed 15 months from the date of adoption of a panel or Appellate Body report.

(142)

Award Sengketa Mobnas

Indonesia telah menunjukan, baik secara tertulis maupun

secara lisan yang dibuat dalam persidangan lisan, bahwa dia berniat untuk tidak begitu saja mencabut peraturan-peraturan yang ada sekarang yang membentuk Program 1993 yang telah terbukti oleh Panel tidak konsisten dengan kewajiban-kewajiban sebagaimana diatur dalam WTO

Agreement, tapi juga merancang peraturan-peraturan baru yang konsisten dengan kewajiban-kewajiban dalam

WTO Agreement.

Indonesia bermaksud untuk mengerjakan ini dengan

(143)

Award Sengketa Mobnas

Indonesia telah menunjukan bahwa dia memohon

waktu 6 bulan semenjak tanggal dikeluarkannya

Laporan Panel untuk melaksanakan proses

pembuatan hukum domestik yang diperlukan

untuk mengimplementasikan rekomendasi dan

keputusan DSB dalam kasus ini.

Saya setuju dengan Keputusan Arbitrator dalam

European Communities – Hormones

bahwa:

periode waktu yang pantas, sebagaimana diatur

dalam Article 21.3(c), haruslah periode waktu

(144)

Award Sengketa Mobnas

Dalam pandangan saya, 6 bulan merupakan waktu terpendek yang mungkin

bagi Indonesia untuk menyempurnakan proses pembuatan hukum domestic agar dapat mengimplementasikan rekomendasi dan keputusan DSB.

Indonesia juga memohon periode waktu transisional 6 bulan setelah

dikeluarkannya peraturan pelaksanaan (yaitu, sampai tanggal 23 Oktober 1999) sebagai periode waktu transisi yang memungkinkan perusahaan/industri yang terimbas dampak untuk melakukan penyesuaian struktural.

Saya tidak menganggap perubahan struktural industri Indonesia yang terimbas

(145)

Award Sengketa Mobnas

Di sisi lain, Indonesia merupakan Negara berkembang. Dalam konteks ini, saya berpendapat bahwa Article 21.2 DSU mensyaratkan

bahwa:Perhatian khusus harus diberikan kepada masalah-masalah yang mempengaruhi kepentingan Anggota negara berkembang

sekaitan dengan peraturan tarif yang telah tunduk kepada penyelesaian sengketa.

Walaupun bahas ketentuan ini agak umum dan tidak mengatur banyak hal tentang arahan, tapi dia merupakan ketentuan yang membentuk bagian dari pengertian Article 21.3(c) DSU dan yang Saya anggap penting untuk diperhitungkan disini. Indonesia telah menunjukan

(146)

Award Sengketa Mobnas

Dalam keadaan yang sangat khusus ini, Saya menganggap pantas untuk memberi perhatian penuh terhadap masalah-masalah yang mempengaruhi kepentingan Indonesia sebagai negara berkembang sesuai dengan ketentuan Article 21.2 DSU. Oleh karena itu, Saya menyimpulkan bahwa tambahan waktu enam bulan di atas periode waktu enam bulan yang diharuskan untuk melengkapi proses

pembuatan peraturan domestik merupakan periode waktu yang pantas untuk mengimplementasikan rekomendasi dan keputusan DSB dalam kasus ini.

Sehubungan dengan pertimbangan-pertimbangan di atas, dan sesuai dengan ketentuan Article 21.3(c) DSU, Saya menetapkan bahwa

periode waktu yang pantas bagi Indonesia untuk mengimplementasikan rekomendasi dan keputusan DSB dalam kasus ini adalah dua belas

bulan terhitung sejak tanggal dikeluarkannya Keputusan Laporan Panel (the Panel Report) oleh DSB, yaitu, dua belas bulan dihitung dari

(147)

Filipina v. Brasil

Desiccated Coconut Case

Dalam kasus ini Filipina dan Brasil mengajukan

banding tentang masalah-masalah hukum dan

interpretasi hukum tertentu dalam Laporan

Panel.

Panel ini dibuat untuk mempertimbangkan

(148)

Filipina v. Brasil (Cont.)

Desiccated Coconut Case

Panel berkesimpulan bahwa:

Article VI GATT 1994 bukan merupakan hukum yang

dapat diterapkan dalam sengketa ini. Konsekwensinya, muatan gugatan Filipina berdasarkan Article VI dan

berdasarkan I dan II, yang berasal dari gugatan inkonsistensi dengan Article VI, tidak bisa

dipertimbangkan oleh Panel.

Perjanjian tentang Pertanian bukan merupakan hukum

yang dapat diterapkan pada sengketa ini. Oleh karena itu, gugatan yang berdasarkan Perjanjian itu tidak dapat dipertimbangkan oleh Panel.

Gugatan Filipina sehubungan dengan kegagalan Brasil

(149)

What do you think?

Pakaian jadi (garmen) RRC memasuki pasar

Indonesia dengan harga yang sangat murah dan

mengalahkan harga produk dalam negeri.

Bisakah Indonesia menerapkan

anti-dumping

duty

terhadap produk garmen RRC?

Kalau anda jadi arbitratornya, apakah keputusan

anda tentang tindakan Indonesia yang

(150)

KASUS PENYELUDUPAN

ORANG UTAN INDONESIA KE THAILAND

Jim and Alison Cronan dari

Monkey World

menyampaikan hasil investigasinya tentang

keberadaan Orangutan Indonesia di Thailand.

Orangutan tersebut diduga diselundupkan dari

Indonesia melalui Kapal Kayu, Kapal Kargo dan

Kapal Ikan melalui Pelabuhan Samut Parakan

dan Samut Sakorn.

Orangutan dimanfaatkan untuk “Orangutan

(151)

KASUS PENYELUDUPAN

ORANG UTAN INDONESIA KE THAILAND

Kepolisian Kehutanan Thailand telah melakukan tindakan

operasi Orangutan, dalam bulan Oktober dan November 2003.

Salah satu sasaran operasi adalah Safari World, salah

satu Kebun Binatang terkenal di Thailand, ternyata ditemukan 115 Orangutan.

Bahkan dari investigasinya di Thailand masih ditemukan

lebih banyak lagi jumlah Orangutan di berbagai kebun binatang meskipun belum diketahui jumlah pastinya.

Hasil temuan investigasi juga menyatakan bahwa dilihat

(152)

KASUS PENYELUDUPAN

ORANG UTAN INDONESIA KE THAILAND

Pemerintah Indonesia mengirimkan surat ke Mr.

Somchai Piensstarporn, Direktur Jendral

Departement Taman Nasional dan Hidupan Liar

dari Kementerian Sumberdaya Alam dan

Lingkungan Kerajaan Thailand pada tanggal 29

Juni 2004.

28 Juli 2004 Pemerintah Thailand memberikan

(153)

KASUS PENYELUDUPAN

ORANG UTAN INDONESIA KE THAILAND

Dalam penyelesain masalah tersebut telah dilakukan

operasi bersama antara Polisi Kehutanan Thailand

dengan Tim Indonesia dan ditemukan ratusan satwa di beberapa kebun binatang Thailand.

Namun dalam proses pengidentifikasian masih ada

permasalahan karena perbedaan pendapat antara kedua belah pihak. Tim Indonesia mengusulkan untuk

melakukan tes DNA bagi Orangutan yang ditemukan dalam operasi yang digelar.

Namun Pemerintah Thailand belum bisa mengijinkan Tim

Indonesia membawa pulang Orangutan yang telah disita termasuk rambut Orangutan sebagai bahan uji DNA.

(154)

NORMA HI

CITES; PI yg melarang perdagangan

internasional ttg tumbuhan dan satwa

langka, DHI, IND mendaftarkan orang

hutan dalam Daftar Annex I.

(155)

PERTANYAAN

1. Apakah tindakan Pemerintah Thailand dalam

kasus ini bertentangan dengan hukum ekonomi

Internasional?

2. Tindakan hukum apa yang harus dilakukan

Pemerintah Thailand berdasarkan norma hukum

ekonomi internasional?

3. Apakah Safari World dapat dituntut di DSB WTO?

4. Menurut anda berapa besar kemungkinan

(156)

JAPAN – TAXES ON ALCOHOLIC BEVERAGES

Jepang melalui Law No. 6, 1953 telah

mengenakan pajak yang lebih tinggi

terhadap produk brown spirits (whisky)

buatan Amerika Serikat, Eropah Bersatu

dan Canada.

Tarif pajak brown spirits (whisky) lebih

tinggi dari brown spirits (whisky) Jepang –

Shocu A dan Shocu B.

Alasan Jepang melakukan itu untuk

(157)

KEPUTUSAN DSB

Tentang JAPAN – TAXES ON ALCOHOLIC BEVERAGES

(158)

Terimakasih

atas

Referensi

Dokumen terkait