ARTICLE IN PRESS
Vol. 1, No. 1, 2020, hlm. 227-242 DOI:10.17977/um020v1i12020p227
Shilvi Khusna Dilla Agatta & Ari Sapto | 227 ISSN - 2086-133
J
URNAL
D
IMENSI
S
EJARAH
Journal homepage: www.jurnaldimensisejarahum.com
PERKEMBANGAN NGANJUK SEBAGAI PUSAT
PEMERINTAHAN BARU: PEMINDAHAN IBUKOTA DARI
BERBEK KE NGANJUK, 1880-1909
Shilvi Khusna Dilla Agatta, Ari Sapto
[email protected], [email protected] Abstract
The history of Nganjuk cannot be separated from the role of the Berbek sub-district. The relocation of the city center from Berbek to Nganjuk due to the less strategic location of Berbek is used for the development of a city. The purpose of writing this work is for readers to know the history of Nganjuk during colonialism. In writing this work, the writer uses files and secondary sources. The results of this study were obtained if the city center from Berbek to Nganjuk could not be separated from the role of the Regent of Sosro Koesomo III with the approval of the Dutch East Indies government. After moving the government center, Nganjuk developed into a big city from before.
Keywords
Nganjuk, Berbek, colonialism, Sosro Koesomo III.
Abstrak
Sejarah Nganjuk tidak lepas dari perananan kecamatan Berbek. Pemindahan pusat kota dari Berbek ke Nganjuk dilatar belakangi oleh letak Berbek yang kurang strategis sehingga kurang cocok untuk dijadikan perkembangan sebuah kota. Tujuan ditulisnya karya ini agar pembaca dapat mengetahui perkembangan Nganjuk setelah dilakukannya pemindahan pusat pemerintahan pada 1801. Dalam menulis karya ini, penulis menggunakan sumber sekunder. Hasil dari penulisan didapatkan jika pusat kota dari Berbek ke Nganjuk tidak lepas dari perananan Bupati Sosro Koesomo III serta persetujuan pemerintah Hindia-Belanda. Setelah dilakukan pemindahan pusat pemerintahan, Nganjuk berkembang menjadi kota besar dari sebelumnya.
Kata kunci
Nganjuk, Berbek, kolonialisme, Sosro Koesomo III.
*Received: 11 January 2020 *Revised: 28 March 2020
ARTICLE IN PRESS
Vol. 1, No. 1, 2020, hlm. 227-242 DOI:10.17977/um020v1i12020p227
Shilvi Khusna Dilla Agatta & Ari Sapto | 228
Pendahuluan
Indonesia merupakan salah satu negara di Asia Tenggara yang tergolong strategis. Letaknya yang berada diantara dua samudera yakni Hindia dan Pasifik serta dua benua yaitu Asia dan Australia membuatnya banyak dikunjungi oleh berbagai negara bahkan sejak beberapa ratus tahun yang lalu. Salah satu periode zaman yang membuat nama Indonesia semakin dikenal oleh banyak orang terjadi pada masa kolonialisme, dimana banyak negara luar yang datang ke Indonesia untuk mencari rempah-rempah. Awalnya alasan mereka hanya mencari rempah dan menyalurkan jiwa penjelajah yang dimiliki, akan tetapi lambat laun tujuan itu berubah menjadi memonopoli perdagangan adalah menyebarkan agama dan mencari kekayaan sebanyak-banyaknya. Kedatangan bangsa asing ke Indonesia menggunakan teknologi kapal layar dengan memanfaatkan keberadan angin muson.
Dalam kehidupan sosial-ekonomi kehidupan masyarakat pesisir lebih banyak dilirik karena dekat dengan pelabuhan dan dalam perkembangannya mereka banyak berinteraksi dengan orang asing sehingga penduduk yang menempati kawasan itu lebih heterogen dibandingkan kawasan pedalaman. Pada masa itu, pelabuhan memiliki fungsi vital dalam kehidupan ekonomi masyarakat karena berhubungan dengan kegiatan ekspor hasil perkebunan (Sapto, 2018). Maka tidak heran jika kerajaan-kerajaan yang tergolong maju pada saat itu merupakan kerajaan yang memanfaatkan daerah pesisir dengan baik. Lambat laun, kehidupan ekonomi tidak hanya berada di wilayah pesisir saja, namun juga pedalaman. Hal ini dikarenakan kontur tanah yang dimiliki Indonesia tergolong tanah subur yang cocok ditanami jenis tumbuhan baik pertanian maupun perkebunan. Bahkan Kerajaan Majapahit merupakan salah satu kerjaan terbesar mengandalkan komoditas beras untuk menunjang kehidupan ekonomi. Begitupula pada masa kolonial, tanah jajahan dianggap sebagai sumber kekayaan bagi para penjajah karena banyak tersedia tanah dan tenaga kerja yang murah, karena itulah mereka banyak melakukan eksploitasi produksi pertanian dan perkebunan.
Adanya sistem perkebunan di Indonesia, diawali dengan adanya penanaman modal dan pemanfaaatan teknologi yang lebih maju. Pada 1830, Van Den Bosh menerapkan kebijakan baru
yang dikenal degan Culturrstelsel atau tanam paksa. Kebijakan tanam paksa ini memiliki
ketentuan diantaranya wajib menyediakan 1/5 tanahnya untuk ditanami, tanah yang disediakan untuk tanaman dagangan dibebaskan dari pajak tanah, tanaman dagangan wajib diserahkan kepada pemerintah kolonial Hindia-Belanda, wajib tanam dapat digantikan dengan penyerahan tenaga kerja untuk pengangkutan ke pabrik, dan penggarapan tanah diawasi langsung oleh kepala pribumi (Ahmadin, 2001:32) dalam (Ahmadin, 2007).
Seiring berjalannya waktu dan meningkatnya kebutuhan dari negeri jajahan, serta munculnya beberapa tokoh penganut paham kebebasan dimana petani juga berhak mendapatkannya dalam hal menanam ataupun menikmati hasil tanamannya tersebut. Memasuki tahun 1870, pemerintah mulai menerapkan Undang-Undang Agraria untuk mengatur segala aktifitas yang ada di perkebunan serta mencegah perilaku preventif timbulnya kekuasaan merampas hak milik atas tanah secara sewenang-wenang (Ahmadin, 2007). Kemudian setelah diberlakukannya Undang-Undang Agraria mampu membuka kesempatan bagi investor asing untuk menanamkan modalnya di Hindia Belanda. Undang-Undang Agraria dibentuk pada 1870 yang memberikan kemungkinan jika para penyewa tanah akan tinggal di daerah pedalaman yang nantinya akan melahirkan pertumbuhan kota besar. Salah satu wilayah
ARTICLE IN PRESS
Vol. 1, No. 1, 2020, hlm. 227-242 DOI:10.17977/um020v1i12020p227
Shilvi Khusna Dilla Agatta & Ari Sapto | 229 pedalaman yang dimanfaatkan oleh pemerintah kolonial Hindia-Belanda pada masa itu adalah Nganjuk.
Nganjuk merupakan salah satu kabupaten di Jawa Timur yang berada pada koordinat 111o 5’-112o 13’ BT dan 7o 20’-7o 50’LS. Wilayah ini memiliki luas 1.224.331 km. Selain itu, Nganjuk
juga dikenal sebagai kota angin karena memiliki intensitas udara yang tinggi. Letaknya yang berada dataran rendah dan diantara dua pegunungan yakni Wilis dan Pandaan serta dilalui oleh Sungai Widas dan Brantas membuat tanah di sini cocok ditanami berbagai jenis tumbuhan baik untuk pertanian maupun perkebunan. Berdasarkan hal ini dapat diketahui jika kondisi geografis suatu wilayah dapat mempengaruhi kehidupan sosial-ekonomi serta politik, sebab tanah yang menjadi tempat untung melangsungkan kegiatan manusia serta sumber penghidupan manusia. Sejarah Nganjuk sendiri tidak terlepas dari adanya Prasasti Anjuk Ladang yang menjadi penanda berdirinya wilayah ini. Dalam prasasti Anjuk Ladang dijelaskan jika pada masa itu Mpu Sindok sedang berperang dengan kerajaan Melayu, dan berkat bantuan masyarakat Anjuk Ladang beliau berhasil memenangkan peperangan tersebut (Prasetiyo, 2017). Selanjutnya sejak tahun 1745 pusat pemerintahan Nganjuk berada di wilayah Berbek dan disebut sebagai wilayah kadipaten yang berada di bawah kepemimpinan Raden Sosro Koesomo I. Berbek merupakan salah satu wilayah yang termasuk dalam Karisedenan Kediri. Sumber Anri, Besluit No.1. Semarang, 31 Agustus 1830 dalam Siswanto (Siswanto, 2018) dijelaskan bahwa berdirinya Afdeeling Berbek berdampingan dengan Afdeeling Kertosono, Nganjuk, Ngrowo, dan Kalangbret. Pada 1831, Berbek berada di bawah administrasi Karisedenan Kediri dengan Sosro Koesoemo I sebagai bupatinya. Akan tetapi pada 1880 pusat pemerintahan Nganjuk dipindahkan dari Berbek ke Nganjuk. Alasan pemindahan pusat pemerintahan ini karena Berbek kurang mendukung dalam segi ekonomi dan letaknya yang terisolasi, karena itulah Sosro Koesomo III selaku bupati Nganjuk pada masa itu dengan dukungan penuh dari pemerintah kolonial Belanda memindahkan lokasi ibukota ke tempat yang lebih strategis dan menguntungkan.
Setelah dilakukan pemindahan ibukota, terjadi banyak perubahan, sebab pemerintah kolonial menata kembali segala infrastruktur yang ada. Hasilnya Nganjuk berkembang sebagai kota yang lebih besar daripada sebelumnya. Keadaan ini juga turut merubah kehidupan sosial-ekonomi masyarakat. Perubahan ini mencakup segala aspek seperti perkembangan kereta api dan pabrik gula. Tidak hanya itu saja, beberapa penduduk yang awalnya tinggal di Berbek mulai bermigrasi ke Nganjuk karena lebih menguntungkan dalam bidang ekonomi.
Berdasarkan pemaparan diatas, penulis merumuskan masalah diantaranya: 1) Apa latar
belakang pemindahan pusat ibkota dari Berbek ke Nganjuk? 2) Apa pertimbangan yang digunakan untuk memindahkan pusat pemerintahan dari Berbek ke Nganjuk?; 3) Bagaimana keadaan sosial-ekonomi masyarakat setelah terjadi pemindahan pusat pemerintahan dari Berbek ke Nganjuk? Berdasarkan rumusan masalah tersebut dapat diketahui tujuan ditulisnya artikel ini diantaranya: 1)Memberitahu pembaca mengenai latar belakang pemindahan pusat
ibukota dari Berbek ke Nganjuk; 2) Memberitahu pembaca pertimbangan pemindahan pusat
pemerintahan dari Berbek ke Nganjuk; 3) Memberikan pemahaman menngenai kehidupan
sosial-ekonomi masyarakat Nganjuk setelah pemindahan pusat pemerintahan. Adapun alasan penulis mengangkat topik ini adalah ingin masyarakat luas mengetahui sejarah Nganjuk secara
ARTICLE IN PRESS
Vol. 1, No. 1, 2020, hlm. 227-242 DOI:10.17977/um020v1i12020p227
Shilvi Khusna Dilla Agatta & Ari Sapto | 230
lebih dalamkarena masih banyak yang belum mengetahui jika Berbek pernah menjadi salah
satu ibukota Nganjuk.
Berisi latar belakang, urgensi dan tujuan penelitian/pembahasan. Di dalam latar belakang juga harus berisi kajian kepustakaan atau kajian tentang penelitian terdahulu. Penggunaan konsep dan teori juga dijelaskan di sini. Metode penelitian (jika ada) juga dimasukkan di pendahuluan. Hal terpenting adalah novelty atau kebaruan dari tulisan yang dihasilkan. Berisi latar belakang, urgensi dan tujuan penelitian/pembahasan. Di dalam latar belakang juga harus berisi kajian kepustakaan atau kajian tentang penelitian terdahulu. Penggunaan konsep dan teori juga dijelaskan di sini. Metode penelitian (jika ada) juga dimasukkan di pendahuluan. Hal terpenting adalah novelty atau kebaruan dari tulisan yang dihasilkan
METODE
Penulisan artikel ini menggunakan metode sejarah melalui studi pustaka. Menurut (Kuntowijoyo, 2013, p. 69) terdapat lima tahapan dalam penelitian sejarah yaitu pemilihan topik, heuristik, kritik, interprestasi, dan historiografi. Pertama yakni pemilihan topik yang
mengangkat mengenai perpindahan ibukota Nganjuk dari Berbek ke Nganjuk. Kedua adalah
kritik yakni dengan cara mencari sumber-sumber yang sesuai dengan terkait dengan isi
tulisan. Ketiga adalah analitik yang bertujuan untuk menguji keabsahan sumber sehingga
dapat menemukan fakta sejarah. Keempat adalah heuristikyakni memilah sumber data yang
diperlukan. Kelima adalah interpretasi dengan menghubungkan berbagai fakta yang
diperoleh dari sumber, dalam tahap ini penafsiran fakta harus dinilai secara obyektif. Selain
itu dalam artikel ini juga menggunakan metods library research yakni mencari sumber
rujukan secara online di internet.
PEMBAHASAN
A. Latar Belakang Pemindahan Pusat Ibukota dari Berbek ke Nganjuk
Cikal bakal Nganjuk sebagai pusat pemerintahan tidak lepas dari perjalanan sejarah
Berbek. Berbek merupakan Afdeeling atau bagian dari Karisidenan Kediri, setingkat dengan
kabupaten yang dijadikan sebagai pusat pemerintahan Nganjuk yang saat ini dikenal sebagai Desa Kacangan, Kecamatan Berbek, Kabupaten Nganjuk (Siswanto, 2018). Encylopaedie van Nedelandsh Indie (1919: 274) dalam Siswanto (2018) menyebutkan jika:
Berbek: daerah kabupaten dari Residen Kediri, luas: 1103 km2 dan dibagi dalam 5 distrik
dengan nama Nganjoek, Berbek, Lengkong, dan Waroedjajeng, dimana dua yang disebut pertama merupakan daerah pengawasan Ngandjoek dan yang tiga disebut belakangan daerah pengawasan Kertosono. Daerah ini merupakan bagian utara Residen Kediri, dengan Residen Rembang dipisah dengan Pegunungan Kendeng, sebagian besar dari panjangnya dari barat ke timur ditembus oleh Widas, yang bersumber dari wilis, dan bermuara di Kali Brantas dimana kali ini merupakan batas daerah ini dengan daerah Djombang dan Residen Soerabaja.
Berdirinya wilayah Berbek tidak lepas dari pengaruh Kerajaan Mataram pada abad ke-17. Sebelum VOC menguasai wilayah Mataram sampai abad ke-17, seluruh wilayah Mataram dibagi menjadi kesatuan besar dengan keraton sebagai pusat ibukotanya (Poesponegoro & Notosusanto, 2010a, p. 55). Adapun urutan pembagian wilayah dimulai
ARTICLE IN PRESS
Vol. 1, No. 1, 2020, hlm. 227-242 DOI:10.17977/um020v1i12020p227
Shilvi Khusna Dilla Agatta & Ari Sapto | 231
dari Kutanegara atau Kutagara yakni kerajaan yang menjadi pusat negara yang terletak di
ibukota negara. Selanjutnya adalah Negara Agung yakni wilayah yang mengelilingi Kuatanegara. Wilayah Negara Agung ini dibagi menjadi empat wilayah diantaranya Kedu, Siti Ageng atau Bumi Gede, Bagelen, dan Pajang. Wilayah yang berada di luar Negara Agung
tidak termasuk daerah pantai disebut sebagai Mancanegara. Wilayah ini meliputi Jawa
Tengah dan Jawa Timur yang dibagi menjadi dua bagian yakni Mancanegara Wetan dan
Mancanegara Kilen. Adapun wilayah Kerajaan yang terletak di sepanjang Pantai Utara Jawa
disebut daerah pesirian yang juga dibgai menjadi dua wilayah yakni Pasisiran Wetan dan
Pasisiran Kilen. Batasa dari kedua daerah ini adalah Sungai Tadunan dan Serang yang mengalir antara Demak dan Japara (Poesponegoro & Notosusanto, 2010a, pp. 55–56).
Berdasarkan struktur tersebut Berbek tergolong daerah Mancanegara Wetan yang memiliki
status kadipaten (Damayanti, 2005) (Prasetiyo, 2017). Dalam menjalankan administrasi pemerintahan, setiap wilayah dipimpin oleh pejabat tinggi. Para bupati di wilayah mancanegara berada di bawah pengawasan seorang wedana bupati yang bertugas untuk mengkoordinasi bupati-bupati kepala daerah (Sapto, 2017). Moertono (1985:120) dalam Sapto (2017) menjelaskan mengenai tugas bupati dianatarnya adalah memungut pajak yang dibayarkan setiap tahun, mengerahkan tenaga untuk perang, mengerjakan proyek pekerjaan umum (seperti jalan dan saluran), serta menyelenggarakan peradilan di tingkat bawah.
Seiring berjalannya waktu, keterikatan Berbek tidak hanya kepada Kerajaan Mataram saja, melainkan pada kekuasaan asing yakni pemerintahan kolonial seperti Belanda. Setelah terjadinya Perang Diponegoro pada 1830, baik Yogyakarta maupun Surakarta wilayah kekuasaan yang dimiliki menjadi sempt dan kehilangan kekuasannya atas daerah Mancanegara (Poseponegoro & Notosusanto, 2009: 58). Dikuasainya daerah Mancanegara ini digunakan untuk menstabilkan kondisi keuangan pemerintah kolonial Hindia-Belanda karena Perang Diponegoro menelan biaya yang cukup banyak. Hal inilah yang menyebabakan terjadinya kemerosotan kekuasaan elite Jawa yang disebabkan oleh pemerintah kolonial menanggap jika Jawa harus menghasilkan keuntungan (B.J.O Schrieke, 1974 dalam (Sapto, 2017). Dengan ditandatanganinya kontrak atau surat perjanjian politik pada 27 September 1830 antara pemerintah kolonial Hindia Belanda dan Kasultanan Mataram mengenai pembagian wilayah administratif Jawa, menyebabkan terjadinya implikasi perubahan pemerintahan Berbek yang semula tradisional menjadi lebih modern (Prasetiyo, 2017).
Hal yang menguntungkan di wilayah pedalaman adalah pengoptimalan pemanfaatan lahan kosong baik untuk pertanian maupun perkebunan. Dalam meningkatkan sektor pertanian masyarakat Berbek yang berada di wilayah pegunungan,
pemerintah kolonial menerapkan sistem feodal (Prasetiyo, 2017). Adanya ikatan feodal
antara bupati dengan rakyat merupakan hal yang penting dalam jaringan pemerintah kolonial, karena pejabat kolonial tidak memiliki kewenangan terhadap rakyat, sedangkan bupati memiliki ikatan khusus dengan rakyatnya (Sofiani, 2019). Dalam (Poesponegoro & Notosusanto, 2010a, p. 349) dijelaskan jika kebiasaan tradisional menghormati pemimpin yang diberikan oleh rakyat tidak dapat hilang begitu saja walaupun dalam kekuasaan politik pemimpin mereka adalah orang asing. Untuk menjalankan kebijakan ini, ketaatan pemimpin
ARTICLE IN PRESS
Vol. 1, No. 1, 2020, hlm. 227-242 DOI:10.17977/um020v1i12020p227
Shilvi Khusna Dilla Agatta & Ari Sapto | 232 rakyat harus dipelihara dan demi keamanan pemerintah kolonial, hubungan pemerintah dengan rakyat dikurangi (Sapto, 2017). Peran bupati kemudian berubah tidak hanya menjadi pemimpin bagi rakyatnya namun juga sebagai tangan kanan pemerintah kolonial dalam memobilisasi rakyat menjalankan kebijakan yang ditetapkan. Kepemilikan tanah pada masa
itu juga memiliki beberapa kategori, pertama adalah tanah yang dapat ditanami (arable
land) dan pemilikinya jelas diketahui. Kedua, adalah tanah yang dapat ditanami yaitu sawah
(paddy fields) dan lading (dry fields). Kehidupan ekonomi masyarakat Berbek berpusat pada sektor pertanian, hal ini tentu tidak lepas dari kondisi geografis Nganjuk yang merupakan wilayah dataran rendah dan dikelilingi oleh pegunungan. Jenis tanaman yang ditanam pada masa itu merupakan jenis tanaman pertanian seperti jagung dan padi serta tanaman perkebunan seperti tebu (Prayogi & Mastuti Purwaningsih, 2020).
Semakin lama kondisi wilayah Berbek mulai tidak menguntungkan bagi pemerintah kolonial. Hal ini dikarenakan Berbek terisolasi dan tidak memiliki potensi tinggi untuk dikembangkan menjadi pusat pemerintahan kadipaten. Keadaan ini tentu menyulitkan dilakukannya pengembangan suatu daerah. Letak Berbek yang berada di lereng gunung Wilis serta keadaan tanahnya yang berbatu membuat pemerintah pemindahan pusat pemerintahan Kadipaten Nganjuk dari Berbek ke Nganjuk dengan tujuan dapat membangun pertumbuhan kota yang lebih menguntungkan (Siswanto & Lestari, 2018).
Perpindahan pusat pemerintahan dari Afdeeling Berbek ke Nganjuk didasarkan pada
beberapa alasan, diantaranya sebagai berikut.
1. Faktor geografis
Berbek dikelilingi oleh gunung tidak aktif seperti Gunung Pandan, Kendeng, dan Wilis dengan jenis tanah latosol dan gromsol. Selain itu wilayah Berbek juga dikelilingi oleh Sungai seperti Sungai Widas, Kuncir, Cangkul, Gondang, dan Munding. Keadaan ini membuat perkembangan suatu kota menjadi kurang berpotensi untuk menjadi maju.
2. Faktor kebersihan
Kurang terjaganya kebersihan tempat tinggal bupati merupakan alasan fiktif. Pemukiman yang ada di wilayah ini juga tergolong kumuh, karena itulah banyak penduduknya yang menderita sakit. Hal inilah yang kemudian dipercayai sebagai suatu hal yang dianggap sakral oleh masyarakat pada masa itu.
3. Pembuktian kepemimpinan
Dalam menjalani pemerintahan Bupati memiliki fungsi ganda, yakni sebagai kepala daerah dan pemimpin tradisional. Walaupun dalam memimpin berada di bawah pengaruh atau kewewenangan pemerintah kolonial, rakyat harus tetap menjadi prioritasnya. Selain itu, setiap pemimpin pasti memiliki visi-misi serta tujuan yang berbeda-beda. Pemindahan pusat ibukota Nganjuk juga dipengaruhi oleh adanya suksesi dalam pemerintahan dalam pengambilan keputusan. Hal ini dilakukan karena bupati ingin menunjukkan jika dirinya lebih hebat daripada bupati sebelumnya (Siswanto, 2018).
Perdagangan di wilayah Berbek semakin lama tidak menunjukkan adanya perubahan secara signifikan juga menjadi pertimbangan dipindahkannya pusat pemerintahan. Penyebab perdagangan di wilayah ini tidak mengalami kemajuan karena
ARTICLE IN PRESS
Vol. 1, No. 1, 2020, hlm. 227-242 DOI:10.17977/um020v1i12020p227
Shilvi Khusna Dilla Agatta & Ari Sapto | 233 petani merasa tertekan dengan pemberian upah kecil oleh Pemerintah kolonial. Keadaan ini tentu berbanding terbalik dengan pendapatan yang didapatkan pemerintah kolonial dari hasil menjual komoditas tebu yang harganya mahal di Pasar Eropa. Tidak hanya itu saja, pada masa itu petani juga banyak menagalami gagal panen kaena penerapan sistem pengairan yang diterapkan adalah tadah hujan. Sistem ini tidak efektif diterapkan di Berbek karena kondisi cuaca yang tidak menentu. Adanya hama penyakit yang menyerang tanaman tebu juga mempengaruhi pendapatan yang diperoleh penduduk (Prasetiyo, 2017).
B. Pemilihan Nganjuk sebagai Pusat Pemerintahan Baru
Kondisi perekonomian Berbek yang semakin lama semakin terpuruk membuat Sosro Koesoemo III memilih distrik Nganjuk sebagai pusat pemerintahan baru, karena dianggap strategis karena kondisi geografis yang cocok digunakan untuk membangun pemerintahan ibukota dengan baik (Prasetiyo, 2017) (Siswanto & Lestari, 2018). Hal ini dikarenakan kondisi geografis Nganjuk yang terletak di kawasan dataran rendah sehingga memudahkan mobilisasi serta pembangunan infrastruktur yang diperlukan untuk pertumbuhan sebuah kota. Dengan kondisi geografis yang merupakan dataran rendah, membuat Nganjuk cocok ditanami berbagai jenis tanaman pertanian, sehingga perekonomian masyarakatnya bisa meningkat. Adanya pemikiran tersebut membuat Sosro Koesomo III dianggap sebagai pemimpin yang revolusioner, sebab beliau memikirkan kebaikan Nganjuk untuk kedepannya baik dari pemerintahan maupun kesejahteraan masyarakatnya.
Pertimbangan lain yang dijadikan acuan oleh Sosro Koesomo III ialah adanya pembangunan jalur kereta api yang menghubungkan Nganjuk dengan Solo (Siswanto & Lestari, 2018). Pembangunan ini tentu akan memudahkan Nganjuk untuk berhubungan dengan daerah luar. Selain itu, pembangunan jalur kereta api di Nganjuk juga memudahkan pengangkutan hasil perkebunan dari yang sebelumnya menggunakan cara tradisional (tenaga hewan) menjadi lebih modern (mesin), sehingga perekonomian masyarakat dapat meningkat (Fitroh & Trilaksana, 2015). Tidak hanya itu saja, infrastrutktur yang ada di distrik Nganjuk seperti jalan utama yang menghubungkan Surabaya-Nganjuk-Madiun-Solo. Adapun pertimbangan lain yang digunakan oleh Sosro Koesomo III adalah sejarah beridirinya kota Nganjuk.
Awal mula nama Nganjuk adalah Anjuk Ladang yang memiliki arti kemenangan dalam bahasa Jawa Kuna. Pemberian nama ini didasarkan oleh adanya pertempuran Nganjuk terjadi pertempuran anatara Mpu Sindok dan tentara Kerajaan Sriwijaya pada 929 M. Kemenagangan yang didapat pada saat itu dipengaruhi oleh dukungan penuh rakyat sima Anjuk Ladang dan desa sekitarnya. Delapan tahun kemudian pada 937 M, Mpu Sindok mendirikan tugu kemenangan untuk menghormati jasa masyarakat Anjuk (Prasetiyo, 2017). Menurut J.G de Casparis dalam Pustaka Jawa Timuran (2012:1) yang termuat di tulisan BPCB Jatim (2019), Anjukladang memiliki makna tempat tinggi yang mendapat kemenangan gemilang. Lambat laun perubahan nama Anjuk ini berubah menjadi Nganjuk melalui proses perubahan morfologi penambahan huruf konsonan “Ng.” Dalam (Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur, 2019) disebutkan bahwa perubahan kata dalam bahasa Jawa terjadi
ARTICLE IN PRESS
Vol. 1, No. 1, 2020, hlm. 227-242 DOI:10.17977/um020v1i12020p227
Shilvi Khusna Dilla Agatta & Ari Sapto | 234 dengan suara vocal yang menunjuukan tempat. Hal inilah yang kemudian merubah nama Anjuk menjadi Nganjuk. Selain itu, secara eksplisit Kabupaten Nganjuk mulai dikenal pada pertengahan abad X berdasarkan temuan tiga prasasti sebagai berikut (BPCB Jatim).
1. Prasasti Kinawe
Prasasti Kinawe berangka tahun 849 Caka atau 927 Masehi dan ditemukan di Desa Tanjungkalang, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk. Prasasti Kinawe dikeluarkan oleh Rake Gunungan Dyah Mauatan bersama Dyah Bingah yang terdiri dari 13 baris tulisan. Prasasti ini diresmikan desa Kinawe watek Kadangan sebagai desa yang dibebaskan dari pembayaran pajak kepada raja (Sima). Selain itu dalam prasasti ini juga menyebutkan Raja Wawa beserta Rakryan Mahapatih Mpu Sindok Isana Wikrama.
2. Prasasti Hering
Prasasti Hering berangka tahun 856 Caka atau 934 Masehi yang ditemukan di Desa Kojon Manis, Kecamatan Nganjuk. Adapun isi prasasti ini menjelaskan mengenai jual beli tanah dan sawah yang luas. dalam prasasti ini juga disebutkan nama tempat seperti Hering, Marganung, dan Hujung. Selain itu, dalam prasasti ini juga disebutkan nama-nama raja yang memerintah.
3. Prasasti Anjuk Ladang
Prasasti Anjuk Ladang berangka tahun 859 Caka atau 937 Masehi. Dalam prasasti ini disebutkan jika Raja Pu Sindok telah memerintahkan bahwa
Anjukladang dijadikan Sima yang disembahkan kepada bhatara di Sang Hyang
Parsada Kabhaktan di Sri Jayamerta, dharma ini juga merupakan anugrah bagi penduduk desa Anjukladang (Pustaka Jawa Timuran, 20212:1-2; Poesponegoro, 1992:160-161 dalam (Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur, 2019).
Sebelum pusat pemerintahan dipindahkan, Sosro Kosoemo III meminta izin kepada Pemerintah kolonial terlebih dahulu, sebab wialayh Berbek berada pada pengawasan Belanda. Berdasarkan pertimbangan yang telah dipikirkan secara matang oleh Sosro
Koesumo III, Belanda menyetujuinya. Dalam (Prasetiyo, 2017) disebutkan alasan Belanda
menyetujui Nganjuk sebagai pusat pemerintahan baru diantaranya sebagai berikut.
1. Letaknya yang berada di tengah-tengah kabupaten.
2. Terletak pada silang jalur Residen Madiun di sebelah timur, Jombang dan
Surabaya di sebelah barat, Kediri di sebelah utara, dan Bojonegoro sebelah selatan.
3. Dekat dengan jalur transportasi yang menghubungkan dengan Surabaya dan
Yogyakarta.
4. Memiliki hasil komoditas perkebunan yang memiliki nilai jual tinggi seperti
tembakau dan tebu.
5. Memiliki hasil tambang berupa batu kapur, pasir, batu kapur, dan tanah liat.
6. Cocok dikembangakan sebagai pembanguanan jalur darat.
Berdasarkan pertimbangan diatas akhirnya pada 6 Juni 1880 pusat pemerintahan Nganjuk secara resmi berpindah dari Berbek ke Nganjuk (Siswanto & Lestari, 2018).
Pemindahan pusat pemerintahan ini oleh dikenal dengan istilah boyongan. Walaupun pusat
ARTICLE IN PRESS
Vol. 1, No. 1, 2020, hlm. 227-242 DOI:10.17977/um020v1i12020p227
Shilvi Khusna Dilla Agatta & Ari Sapto | 235 Pemindahan pusat pemerintahan dari Berbek ke Nganjuk dilakukan pada 6 Juni 1880 dilakukan sesuai upacara adat Jawa. Terdapat dua skema jalur pemindahan pusat pemerintahan Nganjuk ini. Adapun jalur pada skema pertama yang digunakan pada saat memindahkan pusat pemerintahan menurut Siswanto (2018) adalah sebagai berikut.
Berdasakan pertimbangan skema (efektif&efisien) serta skema keuda (dilakukannya upacara dan tradisi Jawa pada saat pemindahan) maka peneliti dengan berani memberikan versi jalur pemindahan Berbek pada Minggu, 6 Juni 1880 sebagai berikut: Tempat Dinas Sosro Koesomo (III) (keluar ke selatan)- ke arah Timur- pertigaan pertama, masuk ke utara (Dusun Betek)- Dusun Barong, Mungkung- ke utara hingga Cangkringan- belok ke Timur (kanan) ke Jl. Dr. Soetomo- belok ke utara (kiri), lurus hingga masuk Jl. Ahmad Yani- belok ke utara hingga Alun-Alun Nganjuk- belok ke Timur (kanan) di Jl. Merdeka- belok ke utara pada Jl. Basuki Rahmad- Pendopo.
Adapun jalur skema kedua pemindahan pusat pemerintahan ini dinamakan sebagai Jalur Empat Anak Tangga karena mirip anak tangga yang jumlahnya empat. Berdasarkan Siswanto (2018), jalur kedua pemindahan pusat kota ini dijabarkan sebagai berikut.
Kembali dengan pendekatan Jawa (skema kedua), masalah angsara: pati lara, urip, slamet, maka jalur Empat Anak Tangga versi peneliti sebagai beriku: keluar dari tempat dinas Sosro Koesomo III, slamet (selamat)- belok ke timur sampai pertigaan pertama urip (hidup)- belok ke utara lara (sakit) dari dusun Betek hingga Mungkung, sampai dengan Cangkringan- Belok ke kanan/ Timur, Jl. Dr. Sutomo, urip (hidup), - lurus hingga Jl. A. Yani- belok kiri (utara) hingga Alun-alun Nganjuk, lara (sakit)- belok ke kanan, hingga Jl. Merdeka, urip (hidup), belok ke utara, Jl. Basuki Rahmad lara (sakit)- dan berakhir masuk Pendopo, belok ke timur, urip (hidup).
C. Kehidupan Sosial-Ekonomi Masyarakat Nganjuk Pasca Pemindahan Pusat Ibukota
Dinamika perekonomian Hindia Belanda dapat dilihat dari keadaan dan perkembangan masyarakat berdasarkan daerah tempat tinggalnya (Poesponegoro & Notosusanto, 2010b, p. 233). Hal ini dikarenakan potensi masing-masing daerah berbeda-beda, dan tiap daerah itu pasti memiliki ibukota yang menjadi pusat pemerintahan maupun ekonomi. Menurut Yunus (2000) dalam Parestiyo (2017) dijelaskan jika Ibukota merupakan bentuk pemukiman penduduk yang berfungsi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dan pelayanan sosial. Menurut Sarundjang (1997) dalam (Prasetiyo, 2017), pembangunan
Ibukota dalam kabupaten memiliki beberapa fungsi. Pertama, pendorong ekonomi daerah
yang dapat memberikan kontribusi bagi perekonomian nasional dan regional. Kedua,
sebagai penyangga yang mampu mengurangi arus migrasi langsung ke kota-kota besar,
metropolitan, megapolitan. Ketiga, sebagai pusat pertumbuhan yang berfungsi untuk
merangsang perkembangan pedesaan. Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui jika fungsi utama ibukota ialah untuk memberikan pelayanan kepada wilayah yang berada di bawahya (Prasetiyo, 2017).
Perpindahan pasti membawa sebuah perubahan karena dalam proses pemindahannya didasarkan pada berbagai pertimbangan yang menyangkut kepentingan orang banyak. Begitupula dengan pemindahan pusat pemerintahan dari Berbek ke Nganjuk juga membawa perubahan kepada perkembangan Nganjuk sebagai sebuah kota termasuk perkembangan kehidupan sosial-ekonomi masyarakatnya. Penetapan Nganjuk sebagai
pusat pemerintahan baru dikeluarkan surat keputusan pada 1885 yakni Staatsblad No. 107.
ARTICLE IN PRESS
Vol. 1, No. 1, 2020, hlm. 227-242 DOI:10.17977/um020v1i12020p227
Shilvi Khusna Dilla Agatta & Ari Sapto | 236 2018). Sumber inilah yang kemudian menjadi bukti adanya pemindahan pusat pemerintahan Kabupaten Nganjuk. Dalam (Prasetiyo, 2017) disebutkan jika pemindahan pusat pemerintahan ini dilakukan untuk meingkatkan dan memberikan pembaharuan sebuah
wilayah khusunya Kabupaten Nganjuk agar lebih maju daripada Afdeeling Berbek.
Terjadinya perpindahan pusat pemerintahan dari Berbek ke Nganjuk membuat Gouverment Nederlandsh Indie melakukan penataan wilayah Mancanegara Wetan khususnya yang berada di bawah pengawasan Karisidenan Kediri. Tujuan dilakukannya penataan ulang itu adalah untuk memudahkan kontrol pengawasan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial (Prasetiyo, 2017). Pasca dilakukannya pemindahan pusat pemerintahan, Nganjuk berubah menjadi kota yang lebih besar daripada sebelumnya karena mengalami perkembangan yang cukup pesat terutama pembangunan dalam bidang transportasi maupun infrastruktur. Menurut Supardi (1994) dalam (Prasetiyo, 2017), pembangunan merupakan suatu proses sosial yang bersifat integral dan menyeluruh, baik berupa pertumbuhan ekonomi maupun perubahan sosial demi terwujudnya masyarakat yang lebih makmur. Dengan adanya pembangunan secara berkelanjutan, maka keadaan suatu wilayah akan menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Adanya pembangunan infrasturktur dapat mendukung kegiatan sosial-ekonomi masyarakat suatu wilayah, karena ketersediaan infrastruktur dapat menentukan tingkat efisiensi dan efektivitas kegiatan ekonomi. Menurut Grigg (1988) dalam (Prasetiyo, 2017), infrastruktur merupakan sistem fisik yang menyediakan transportasi, pengairan, drainase, bangunan gedung, dan fasilitas publik lainnya yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia baik kebutuhan sosial maupun kebutuhan ekonomi. Selain itu adanya infrastruktur juga memegang peranan positif terhadap pertumbuhan ekonomi dengan jangka pendek yakni menciptakan lapangan pekerjaan sektor kontruksi dan jangka panjang seperti meningkatkan efisiensi serta produktivitas sektor-sektor terkait (J’afar, 2007 dalam (Prasetiyo, 2017)). Dalam hal pembangunan ekonomi juga memiliki tujuan untuk meningkatkan jumlah dan jenis peluang kerja untuk masyarakat daerah. Oleh karena itulah, pemerintah daerah dan masyarakat harus bekerjasama untuk melakukan pembangunan daerah. Hal inilah yang dilakukan oleh Sosro Koesomo III dalam mensejahterakan rakyatnya yakni memindahkan ibukota dan melakukan pembangunan baik dalam infrastruktur maupun ekonomi.
Setelah dilakukannya pemindahan ibukota, pemerintah mulai menata ulang tata letak kota dengan mendirikan banyak bangunan. Perubahan Nganjuk sebagai ibukota tentu mempengaruhi pertumbuhan sosial-ekonomi serta pertumbuhan penduduk yang menyebabkan perubahan pola masyarakat. Menurut Poeponegoro & Notosusanto (2010: 10), lokasi pemerintah menempatkan kantor-kantor dan tempat kediamannya sudah barang tentu menjadi kota yang banyak menarik penduduk dari desauntuk mencari pekerjaan. Hal inilah yang membuat terjadinya proses migrasi terlebih etnis Cina dan Eropa yang melakukan migrasi dari Berbek ke Nganjuk. Tidak heran di Nganjuk terdapat kampung Pecinan, Kauman, Payaman, dan Mangundikaran (Prasetiyo, 2017). Adanya masyarakat Cina ini tentu menguntungkan sebab mereka memainkan pernanan penting dalam kehidupan sosial-ekonomi khususnya dalam bidang perdagangan (Putra, 2017). Berikut merupakan
ARTICLE IN PRESS
Vol. 1, No. 1, 2020, hlm. 227-242 DOI:10.17977/um020v1i12020p227
Shilvi Khusna Dilla Agatta & Ari Sapto | 237
1. Penataan Wilayah dan Tata Ruang Kota
Pengembangan perencanaan suatu wilayah memerlukan pemahaman bangunan dan perencanaan wilayah secara matang. Menurut Jayadinata (1999) dalam (Prasetiyo, 2017), kontribusi yang paling penting dari perencanaan pengembangan wilayah atau ruang adalah adanya permasalahan ekonomi dan lingkungan yang berhubungan dalam kawasan perkotaan dan pedesaan yang mempengaruhi pemanfaatan lahan. Pasca pemindahan pusat pemerintahan baru, kebijakan awal yang diambil oleh pemerintah kolonial ialah penataan wilayah Berbek. Hal ini bertujuan untuk memudahkan pengawasan. Selanjutnya, tahap awal dalam membangun tata ruang kota adalah mendirikan masjid Baitussalam sebagai tempat beribadah umat muslim. Proses pembangunan masjid ini terjadi sebelum terjadinya boyongan pusat pemerintahan dari Berbek ke Nganjuk. Masjid ini terletak di sebelah barat Alun-Alun Nganjuk. Adapun konsep yang diusung
menggunakan asas macopat. Asas ini menjelaskan bahwa disekeliling alun-alun
didirkan bangunan pendopo, masjid, pasar, dan rumah penjara (Prasetiyo, 2017).
2. Jalur Kereta Api
Pelaksanaan sistem tanam paksa dalam mengangkut komoditi pada awalnya menggunakan alat angkut tradisional menggunakan kuda atau sapi serta perahu kecil untuk membawanya ke pelabuhan yang ada di Surabaya. Berkembangnya kapitalisme pada abad ke-19 di Belanda turut mempengaruhi keadaan di Indonesia. Terlebih setelah dikeluarkannya Undang-Undang Agraria pada 1870 yang mempengaruhi kegiatan ekonomi khusunya dalam bidang perkebunan. Usaha yang dilakukan pemerintah kolonial dalam mengimbangi kemajuan ini adalah membangun jaringan kereta api (Kartodirdjo, 1870:360 dalam Ratnawati, (2015). Tidak hanya itu saja. pembangunan jalur kereta api pada masa kolonial bertujuan untuk mempercepat mobilitas penduduk di suatu wilayah. (Ratnawati, 2015)r. Perkembangan kereta api di Jawa Timur terjadi pada November 1871, diawali oleh pengajuan rencana lintas jalur kereta api namun ditolak oleh Pemerinth Belanda. Selanjutnya pada 6 April 1875, pemerintah mengambil keputusan membangun jalur kereta api Surabaya-Pasuruan-Malang secara bertahap yang selesai pada 20 Juli 1879 (Fitroh & Trilaksana, 2015). Lambat laun, pemerintah kolonial mulai membangun jalur kereta api di wilayah lain di Jawa Timur guna meningkatkan hasil ekspor salah satunya adalah Nganjuk. Perkembangan kereta api di Nganjuk dipengaruhi oleh pembangunan rel kereta api Surabaya-Solo. Hal ini tidak terlepas dari kebutuhan sarana transportasi untuk mengangkut hasil perkebunan dalam jumlah besar (Siswanto & Lestari, 2018). (Prasetiyo, 2017) dalam (Siswanto & Lestari, 2018) mengungkapkan jika:
Demikian pula yang terjadi pada yang terjadi pada perkebunan tebu di Berbek dengan kondisi geografis yag kurang strategis untuk mengangkut tebu dari perkebunan ke pabrik, sehingga perbaikan dan perkembangan trasportasi mulai dibangun di Nganjuk, tujuannya untuk menciptakan sarana pengangkutan yang memadai untuk memudahkan proses pengangkutan serta meningkatkan hasil perkebunan.
ARTICLE IN PRESS
Vol. 1, No. 1, 2020, hlm. 227-242 DOI:10.17977/um020v1i12020p227
Shilvi Khusna Dilla Agatta & Ari Sapto | 238
Pembangunan jalur kereta api di Nganjuk melewati Afdeeling Kertosono dan
Distrik Baron. Peresmian pembangunan ini terjadi secara berkala. Pada 25 Juni 1881 diresmikan jalur Sembung-Kertosono, 13 Oktober 1881 diresmikan jalur Kertosono-Kediri, 1 Oktober 1881 diresmikan jalur Kertosono-Nganjuk dan 1 Juni 1882 diresmikan jalur Nganjuk-Madiun (Harimintadji, (2002) dalam Siswanto & Lestari, (2018). Dibukanya jalur kereta api ini membuat Nganjuk semakin ramai dikunjungi oleh masyarakat luar.
3. Masjid Baitul Salam
Masjid ini dibangun oleh Raden Sosro Koesomo III yang proses pengerjaannya dimulai pada 1880 sebelum terjadinya peristiwa pemindahan pusat kota Nganjuk dan selesai pada 1884. Masjid ini terletak di sebelah barat Alun-Alun Nganjuk. Masjid ini dibangun diatas tanah seluas 2.424 bau dengan luas bangunan 1.124 bau. Di sebelah barat masjid ini terdapat mihrab bermotif daun dan mimbar yang dibuat dengan bahan dasar kayu jati bertuliskan arab pegon sebagai tanda pembuatan masjid.
4. Kantor Pos
Dibukanya jalur kereta api di Nganjuk semakin memudahkan tiap daerah untuk melakukan komunikasi. Surat-menyurat merupakan cara yang paling efektif untuk bertukar informasi. Hal inilah yang kemudian mendorong pemerintah untuk memberikan fasilitas untuk mengirim surat. Sehingga, pada 1881 mulai dibangun kantor pos pembantu di beberapa distrik. Pembangunan kantor pos pembantu pertama berada di Nganjuk yang didirikan pada 31 Januari 1881. Selanjutnya pada 25 Juni 1882 dibangun kantor pos kuda yang menghubungkan Nganjuk-Kediri. Terakhir adalah kantor pos di Kertosono yang resmi dimanfaatkan pada 1883 (Siswanto & Lestari, 2018).
5. Pabrik Gula
Kondisi geografi Nganjuk yang berada pada dataran rendah dan diapit dua pegunungan serta berada pada dua aliran sungai besar membuatnya cocok untuk
menanam tanaman pertanian maupun perkebunan. Pada masa culture stelsel atau
tanam paksa, tebu menjadi salah satu tanaman primadona karena meningkatkan kas negara. Di Nganjuk, tebu menjadi tanaman yang memiliki sejarah panjang pada masa tanam paksa. Dalam Siswanto & Lestari (2018), dijelaskan jika luas areal tanam wajib di Karisedenan Kediri pada 1833 seluas 642 bau mengalami peningkatan pada 1860 menjadi 1900. Hingga pafa 1901 jumlah lahan perkebunan meninkat pesat sehingga luasnya mencapai 20.000 bau. Berbeda halnya dengan Berbek, luas area tanam paksa hingga 1890 tidak mengalami perubahan karena sulitnya mengangkut hasil komoditas sebab berada di lereng pegunungan.
Adanya penanamn tebu pada masa itu mendorong pendirian pabrik-pabrik untuk membuat gula, dimana kedua hal ini kemudian menjadi motor penggerak perekonomian Hindia-Belanda di Pulau Jawa (Poesponegoro & Notosusanto, 2010a, p. 184). Pembangunan pabrik gula didirikan dekat aliran sungai Brantas dan jalur yang dilewati kereta api. Pabrik gula yang berdiri di Nganjuk merupakan milik swasta. Salah satunya adalah Pabrik Gula Lestari yang berada di Kecamatan
ARTICLE IN PRESS
Vol. 1, No. 1, 2020, hlm. 227-242 DOI:10.17977/um020v1i12020p227
Shilvi Khusna Dilla Agatta & Ari Sapto | 239 Patianrowo. Pabrik Gula Lestari berdiri pada 1909 dibawah naungan CV. Cultural Maatchappy Pandji/Tanjungsari yang berkedudukan di Amsterdam, akan tetapi
dalam kepengurusan serta tata usahanya diserahkan kepada Tiedeman On Van
Kerchem Indonesia Surabaya (Rahayu S, 2015). Di sekitar pabrik gula dibangun kantor atau benteng kompeni (loji) untuk direksi beserta pegawainya, sedangkan membentuk komuitas terpisah dari loji dan masyarakat sekitar (Retha, 2019). Perkembangan industri memberikan keuntungan pada pribumi yakni dikenalnya alat pembayaran yang sah dalam bentuk uang. Menurut Poseponegoro & Notosusanto (2010:185), dijelaskan jika arti penting dan sumbangsih perkebunan dan pabrik gula adalah memberikan contoh tentang organisasi, kekuatan keuangan, kemajuan teknik, efisiensi dan laba yang melahirkan kemajuan pesat dalam pertanian terhadap bidang usaha lainnya yang kemudian berkembang pesat hingga melampaui perkembangan industri gula. Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui jika munculnya industri membawa terjadinya perubahan sosial dalam masyarakat, sebab sudah dapat dikatakan sebagai salah satu ciri masyarakat modern. Selain itu, dengan dibangunnya pabrik gula pada masa itu tentu membantu menambah perekonomian masyarakat serta mengurangi jumlah pengangguran.
6. Handels Vereeniging Amsterdam (HVA)
Kesehatan menjadi salah satu poin penting dalam kehidupan manusia, sebab jika seseorang dinyatakan sehat dia dapat melakukan berbagai jenis pekerjaan baik ringan maupun berat. Begitupula yang dipikirkan oleh Sosro Koesomo III dalam meingkatkan kesehatan masyarakat Nganjuk. Setelah dipindahkannya pusat pemerintahan tidak hanya pada bidang ekonomi yang dibangun namun juga dalam
bidang kesehatan yakni dibangun Handels Vereeniging Amsterdam (HVA) sebagai
lembaga kesehatan yang berfungsi untuk standarisasi pekerjaan. Perusahaan ini merupakan bagian dari perusahaan di bidang perkebunan industri gula yang digunakan untuk klinik maupun rumah sakit (Sabatini et al., 2013). Sebelum didirikannya HVA di Nganjuk, masyarakat mengandalkan dokter yang ada di wilayah Kediri. Atas dasar inilah Bupati Sosro Koesoemo III mendirikan HVA pada 1890-1895 untuk mempermudah masyarakat dalam berobat. Minimnya fasilitas kesehatan yang ada di Nganjuk serta memfasilitasi pelayanan kesehatan karyawan pabrik gula juga menjadi salah satu alasan dibangunnya HVA. Hal ini tentu membuka peluang kepada masyarakat untuk bekerja sebagai perawat maupun tenaga pembantu untuk mengurus administrasi dan kebersihan rumah sakit.
7. Proyek Lain
Setelah dilakukannya pemindahan pusat pemerintahan hingga tahun 1901, Sosro Koesomo III selain membangun proyek seperti infrastruktur jalan, masjid, pasar, pengadilan dan kantor pos beliau juga membangun bendungan atau waduk, kanalisasi, dan sanitasi saluran air. Dengan adanya bendungan tentu membuat sistem irigasi menjadi lebih mudah ketika musim kemarau. Pembangunan sanitasi air ini dilakukan karena banyak penduduk yang menderita sakit demam, kolera, dan cacar, penyakit ini muncul akibat pembangunan jalur kereta api yang
ARTICLE IN PRESS
Vol. 1, No. 1, 2020, hlm. 227-242 DOI:10.17977/um020v1i12020p227
Shilvi Khusna Dilla Agatta & Ari Sapto | 240 meninggalkan banyak kubangan. Dari kubangan air yang tidak diperhatikan itulah memunculkan adanya bibit penyakit dan membuat lingkungan menjadi tidak sehat. Pembangunan sanitasi merupakan salah satu upaya kesehatan untuk mengurangi atau menghilangkan faktor-faktor yang menjadi penyebab terjadinya pencemaran terhadap air minum dan sarana pengolahan, penyimpanan, dan pembagian air minum (Mirza, 2014). Sebagai Bupati, Sosro Koesomo III tentu ingin mewujudkan masyarakatnya terbebas dari penyakit dengan cara menciptakan lingkungan sehat serta bersih, karena itulah pada 4 Juni 1894 beliau menajukan permohonan kepada pihak pemerintah kolonial untuk memperbaiki kubangan air yang ada di sekitar jalur rel kereta api (Prasetiyo, 2017). Dengan demikian masyarakat dapat terhindar dari resiko penyakit yang dapat ditularkan melalui air.
PENUTUP Simpulan
Cikal bakal Nganjuk sebagai pusat pemerintahan tidak lepas dari perjalanan sejarah
Berbek. Berbek merupakan Afdeeling atau bagian dari Karisidenan Kediri dan menjadi
ibukota Nganjuk pada 1745. Berdirinya wilayah Berbek tidak lepas dari pengaruh Kerajaan Mataram pada abad ke-17. Seiring berjalannya waktu, keterikatan Berbek berpindah ke tangan pemerintah kolonial sesuai dengan adanya perjanjian Giyanti yang mengatur jika
wilayah Mancanegara berada di bawah kendali pemerintah kolonial. Dibawah penguasaan
pemerintah Kolonial Belanda inilah pada 1880 ibukota Nganjuk dipindahkan dari Berbek ke Nganjuk karena letaknya lebih menguntungkan. Tidak hanya itu saja, kondisi geografis Berbek yang terisolasi karena terletak di lereng pegunungan dan kontur tanah yang tidak stabil juga menjadi pertimbangan Sosro Koesomo III. Kondisi Berbek yang semakin lama semakin mundur membuat Sosro Koesomo III memikirkan ibukota baru.akhirnya dengan berbagai pertimbangan dipilihlah Nganjuk sebagai pusat pemerintahan baru
Sebelum benar-benar memindahkan pusat Ibukota dari Berbek ke Nganjuk, Sosro Koesomo III meminta izin kepada pemerintah kolonial Hindia Belanda terlebih dahulu. Pemerintah Hindia Belanda akhirnya mengizinkan karena mempertimbangkan wilayah Nganjuk yang berada di tengah-tengah kabupaten; letaknya yang strategis karena berada pada jalur Residen Madiun, Jombang, Surabaya, Kediri, dan Bojonegoro. Selain itu wilayah Nganjuk yang dekat dengan jalur transportasi yang menghubungkan Surabaya dan
Yogyakarta. Hingga pada akhirnya pada 6 Juni 1880 dilakukan boyongan dari Berbek ke
Nganjuk. Dalam pelaksanaan prosesi boyongan dilakukan sesuai upacara adat Jawa. Selain
itu, pemilihan tanggal tersebut didasarkan pada prasasti Anjuk Ladang yang menceritakan kemenangan Mpu Sindok dan masyarakat Nganjuk dalam melawan Kerajaan Sriwajaya.
Pemindahan pusat ibukota Nganjuk pada saat itu seolah membawa angin segar dan merupakan salah satu peristiwa besar yang terjadi di Nganjuk. Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui jika Ibukota menjadi penentu kesejahteraan masyarakat yang tinggal di sekitarnya, karena itulah tidak heran jika penduduk yang bermukim di wilayah Ibukota semakin bertambah setiap tahunnya. Hal ini tentu berimbas pada kehidupan sosial-ekonomi masyarakat Nganjuk. Meningkatknya kehidupan sosial-ekonomi masyarakat dapat dilihat dari pembangunan infrastruktur yang dilakukan oleh pemerintah. Keadaan itu yang
ARTICLE IN PRESS
Vol. 1, No. 1, 2020, hlm. 227-242 DOI:10.17977/um020v1i12020p227
Shilvi Khusna Dilla Agatta & Ari Sapto | 241 dimanfaatkan masyarakat untuk terus mengembangkan potensi daerahnya. Dengan pembangunan jalur kereta api tentu memudahkan petani dalam mengangkut hasil bumi untuk dibawa ke wilayah pelabuhan yang terletak di Surabaya. Kehidupan sosial-ekonomi masyarakat Nganjuk setelah dilakukannya pemindahan berkembang pesat. Adanya perkebunan gula yang mendorong pembangunan industri pabrik membuat mereka mengenal pembayaran yang sah berupa uang dan memberikan lapangan pekerjaan lebih luas. Pembangunan pabrik gula diiringi dengan pembangunan HVA yang digunakan untuk menjamin kesehatan pegawainya. Selain itu adanya pembangunan infrastruktur yang dilakukan oleh pemerintah seperti pembangunan jalur kereta api, pabrik gula, dan HVA. Pembangunan jalur kereta api membuat Nganjuk semakin banyak dikunjungi orang, selain itu memudahkan petani dalam mengangkut hasil perkebunan untuk dibawa ke Surabaya.
Daftar Rujukan
Ahmadin, A. (2007). Masalah Agraria di Indonesia Masa Kolonial. Attoriolog, 4(1). http://dx.doi.org/10.1007/s13197-012-0819-4
Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur. (2019). Tiga Prasasti Cikal Bakal Kabupaten Nganjuk. Indonesiana: Platform Kebudayaan.
https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbjatim/tiga-prasasti-cikal-bakal-kabupaten-nganjuk/
Damayanti, R. (2005). Kawasan “Pusat Kota” Dalam Perkembangan Sejarah Perkotaan di Jawa. DIMENSI (Jurnal Teknik Arsitektur), 33(1). https://doi.org/10.9744/dimensi.33.1 Fitroh, N., & Trilaksana, A. (2015). PERANAN KERETA API DI JAWA TIMUR DALAM
PENGANGKUTAN HASIL PERKEBUNAN KE SURABAYA TAHUN 1878-1930. AVATARA, e-Journal Pendidikan Sejarah, 3(3).
Kuntowijoyo. (2013). Pengantar Ilmu Sejarah. Tiara Wacana.
Mirza, M. N. (2014). HYGIENE SANITASI DAN JUMLAH COLIFORM AIR MINUM. KESMAS - Jurnal Kesehatan Masyarakat, 9(2), 167–173. https://doi.org/10.15294/kemas.v9i2.2845 Poesponegoro, M. D., & Notosusanto, N. (2010a). Sejarah Nasional Indonesia: Kemunculan
Penjajahan di Indonesia (±1700-1900) (Volume IV). Balai Pustaka.
Poesponegoro, M. D., & Notosusanto, N. (2010b). Sejarah Nasional Indonesia: Zaman Kebangkitan Nasional dan Masa Hindia Belanda (Volume V). Balai Pustaka.
Prasetiyo, A. (2017). Perubahan Sosial Ekonomi Masyarakat pada Pembangunan Infrastruktur Ibukota Kabupaten Madiun di Kecamatan Mejayan (Studi pada Masyarakat
Kecamatan Mejayan Kabupaten Madiun). Universitas Jember.
Prayogi, D., & Mastuti Purwaningsih, S. R. I. (2020). FAKTOR KETERLIBATAN PARTISIPAN PADA KERUSUHAN DERMODJOJO DI AFDEELING BERBEK 1907: TINJAUAN PERILAKU
KOLEKTIF. Avatara, 9(1).
Putra, A. P. (2017). Perubahan Persepsi Masyarakat Jawa Terhadap Masyarakat Cina Tahun 1812. Sejarah Dan Budaya : Jurnal Sejarah, Budaya, Dan Pengajarannya, 9(1), 1–7. Rahayu S, W. (2015). Analisis Perlakuan Akuntansi Atas Biaya Pengolahan Limbah Pabrik Gula
Lestari Nganjuk PT. Perkebunan Nusantara X. Universitas Negeri Jakarta. Ratnawati, Y. (2015). PERKEMBANGAN PERKERETAAPIAN PADA MASA KOLONIAL DI
SEMARANG TAHUN 1867-1901. Universitas Negeri Semarang.
Retha, N. K. M. D. (2019). Tugas Perekonomian Indonesia kelompok: IX kp: C. OSF Preprints. Sabatini, O., Antariksa, & Suryasari, N. (2013). PELESTARIAN BANGUNAN RS. HVA
ARTICLE IN PRESS
Vol. 1, No. 1, 2020, hlm. 227-242 DOI:10.17977/um020v1i12020p227
Shilvi Khusna Dilla Agatta & Ari Sapto | 242 Sapto, A. (2017). Pelestarian Kekuasaan Pada Masa Mataram Islam: Sebha Jaminan Loyalitas
Daerah Terhadap Pusat 1. Sejarah Dan Budaya : Jurnal Sejarah, Budaya, Dan
Pengajarannya, 9(2), 153–161.
Sapto, A. (2018). Republik dalam Pusaran Elite Sipil dan Militer. Matapadi.
Siswanto, D. T. B. (2018). KAJIAN HISTORIS PEMINDAHAN PUSAT PEMERINTAHAN AFDEELING BERBEK KE NGANJUK 1880 M. Simki-Pedagogia, 2(5).
Siswanto, D. T. B., & Lestari, S. N. (2018). Afdeeling Berbek Pasca Pemindahan Ibukota: Tinjauan Historis Perkembangan Nganjuk sebagai Pusat Pemerintahan Baru, 1880-1901. MUKADIMAH: Jurnal Pendidikan, Sejarah, Dan Ilmu-Ilmu Sosial, 2(1), 1–10. https://doi.org/10.30743/mkd.v2i1.656
Sofiani, Y. (2019). Perubahan Kedudukan dan Kekuasaan Bupati di Priangan Pada Tahun 1800-1916. Bihari: Jurnal Pendidikan Sejarah Dan Ilmu Sejarah, 1(1).