Jurnal SOSOQ VOLUME 8 Nomor 2 Agustus 2020
70 ANALISIS TINGKAT KESEHATAN BANK MEGA, Tbk
Maria J.F Esomar [email protected]
Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Pattimura
Lilian Sonya Loppies
Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Pattimura Abstract
This study aims to determine the level of health at PT. Bank Mega, Tbk during 2014-2017 using the RGEC method. The RGEC method is an analytical tool that makes it easy to assess the soundness of a bank because it provides an open assessment of important factors in the banking business. The factors that are considered important include: risk profile assessment, assessment of good corporate governance (GC), assessment of profitability (earning) and assessment of capital (capital).
This study uses secondary data. Secondary data used are financial reports published in 2014-2017. From the financial report data, the ratios associated with the factors considered in the RGEC method are calculated. The results of these ratios are then used in assessing the soundness of the bank or examined in order to obtain a predicate or rating in the eyes of Indonesian banks, namely very healthy, healthy, fairly healthy, unhealthy, or unhealthy. The results of this research, it was found that with the RGEC Method PT Bank Mega, Tbk was in the healthy criteria.
Keywords: Bank Soundness Level, PT. Bank Permata, Tbk, RGEC Method. PENDAHULUAN
Peristiwa krisis moneter 1997 mempengaruhi perbankan secara luas, dimana enam belas bank swasta dicabut izin usahanya serta adanya pengambil alihan kepengurusan bank karena besarnya BLBI yang sudah melebihi 200 % oleh Menteri Keuangan. Krisis perbankan kembali terjadi di Indonesia pada tahun 2008 yang berdampak sistemik terhadap sektor perbankan. Krisis yang terjadi mengganggu kegiatan intermediasi keuangan perbankan dan meningkatnya persaingan antar bank termasuk dalam upaya untuk meningkatkan minat masyarakat dalam hal menabung dan meminjam dana di bank.
Dalam perkembangan era digital, perbankan menghadapi berbagai tantangan, antara lain berkembangnya teknologi finansial (Fintech) yang memberikan pelayanan pendanaan dan pembayaran dan perubahan perilaku konsumen yang
mengingnkan pelayanan keuangan yang cepat dan mudah, dan juga meningkatnya penyalahgunaan data nasabah. Manajemen Bank perlu membuat strategi pelayanan yang berbasis digital, peningkatan manajemen risiko,dan edukasi kepada masyarakat dan nasabah.
Dari banyaknya jenis bank yang berkembang di Indonesia, Bank Swasta Nasional Devisa adalah jenis bank milik swasta yang dalam pengoperasian usaha
perbankannya mendapatkan surat
penunjukan Bank Indonesia. Bank devisa adalah bank yang dapat melaksanakan transaksi keluar negeri atau yang berhubungan dengan mata uang asing secara keseluruhan. Bank milik swasta adalah Bank yang sahamnya dimiliki seluruhnya maupun sebagian dimiliki pihak swasta.(Hallak, 2013)
Kesehatan suatu bank sangat penting untuk membentuk kepercayaan dalam dunia perbankan. Loyalitas dan
Jurnal SOSOQ VOLUME 8 Nomor 2 Agustus 2020
71
kepercayaan nasabah merupakan salah satu faktor yang dapat membantu manajemen bank menyusun strategi bisnis. Oleh karena itu bank dituntut untuk bisa mencapai dan mempertahankan tingkat kinerja yang baik dan optimal untuk dapat meningkatkan kepercayaan dan loyalitas nasabah maupun masyarakat luas dalam menggunakan produk dan jasa dari bank tersebut(Köster & Pelster, 2017).
Aturan kesehatan Bank diterapkan oleh Bank Indonesia, aturan kesehatan bank diberlakukan untuk tidak merugikan masyarakat yang berkepentingan dengan perbankan. Kesehatan Bank diartikan sebagai kemampuan bank melaksanakan aktivitas operasional bank, memenuhi kewajiba sesuai dengan aturan yang berlaku.(Thalassinos & Liapis, 2011)
Di Indonesia kesehatan Bank umum
menggunakan menggunakan sistem
penilaian yang diatur dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/10/PBI/2004 yang dikenal dengan metode CAMELS yang terdiri atas Capital¸Asset Quality¸Management, Earnings, Liquidity & Sensitivity to market risk. Penilaian kesehatan Bank menggunakan pendekatan Resiko (Risk-Based Bank Rating) baik secara individual maupun secara konsolidasi, dengan cakupan penilaian meliputi factor-faktor sebagai berikut : Profil Resiko (Risk Profile), Good Corporate Governance (GCG), Rentabilitas (Earnings); dan Permodalan (Capital) atau yang disingkat menjadi metode RGEC yang belum banyak digunakan.
Krisis keuangan global yang terjadi memyebabkan bank menyadari pentingnya penerapan manajemen risiko yang memadai, karena itu pendekatan RGEC yang memperhitungkan aspek risiko dan pengelolaan perusahaan menjadi satu pendekatan penting untuk menilai kesehatan bank. Penelitian tentang
pengaruh RGEC terhadap nilai perusahaan menunjukkan hasil yang tidak konsisten, dalam penelitian (Rezeki, Swandari, & Hadi, 2017) profil risiko berpengaruh terhadap nilai perusahaan, dan penelitian (Sasongko & Susilawati, 2017) profil risiko, capital dan return on asset tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
Kesehatan suatu bank adalah kemampuan suatu bank untuk melakukan kegiatan operasional perbankan secara normal dan mampu memenuhi semua kewajibannya dengan baik dengan cara-cara yang sesuai dengan peraturan perbankan yang berlaku. Berdasarkan laporan keuangan yang ada dapat dianalisis dengan menggunakan metode RGEC yaitu Capital (Permodalan), Asset (Aktiva), Management (Manajemen), Earning (Rentabilitas), Liquidity (Likuiditas). Bank
Mega berusahan menjaga dan
meningkatkan kinerja keuangannya walaupun kredit bermasalah yang tercermin dalam rasio NPL netto cenderung berflkutuasi, dimana Dari sisi dana pihak ketiga (DPK) Bank Mega kelebihan likuiditas. Tercermin dari rasio
loan to deposit ratio (LDR) yang masih di kisaran 85%.
Rumusan masalah penelitian ini adalah : (1) Bagaimana penilaian tingkat kesehatan bank pada PT.Bank Mega Tbk ditinjau dari Risk Profile pada tahun 2015-2017? (2) Bagaimana penilaian tingkat kesehatan bank pada PT.Bank Mega Tbk ditinjau dari Good Corporate Governance
pada tahun 2015-2017? (3) Bagaimana penilaian tingkat kesehatan bank pada PT.Bank Mega Tbk ditinjau dari Earning
pada tahun 2015-2017? (4) Bagaimana penilaian tingkat kesehatan bank pada PT.Bank Mega Tbk ditinjau dari Capital
pada tahun 2015-2017? (5) Bagaimana penilaian tingkat kesehatan bank pada PT.Bank Mega Tbk ditinjau dari aspek RGEC pada tahun 2015-2017?
Jurnal SOSOQ VOLUME 8 Nomor 2 Agustus 2020
72 METODE
Tingkat Kesehatan Bank adalah hasil penilaian kondisi bank yang dilakukan berdasarkan risiko termasuk risiko terkait penerapan prinsip syariah dan kinerja bank atau disebut dengan Risk-Based Bank Rating. Bank wajib memelihara dan atau meningkatkan tingkat kesehatan bank dengan menerapkan prinsip kehati-hatian
dan manajemen risiko dalam
melaksanakan kegiatan usaha. Dalam rangka melaksanakan tanggung jawab atas kelangsungan usaha bank, Direksi dan Dewan Komisaris bertanggung jawab untuk memelihara dan memantau tingkat kesehatan bank serta mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memelihara dan atau meningkatkan tingkat kesehatan bank. Penilaian tingkat kesehatan bank ini juga dikenal dengan metode RGEC. Cakupan penilaian yang digunakan dalam metode ini adalah penilaian terhadap faktor-faktor : Profil risiko (RiskProfile), Good Corporate Governance (GCG), Earnings (Rentabilitas), dan Capital
(Permodalan). Penjelasan faktor penilaian dalam RGEC adalah sebagai berikut: 1. Risk Profile (Profil Risiko)
a.) Risiko Kredit Risiko kredit adalah risiko akibat kegagalan debitur dan/atau pihak lain dalam memenuhi kewajiban kepada Bank. Risiko kredit pada umumnya terdapat pada seluruh aktivitas Bank yang kinerjanya bergantung pada kinerja pihak lawan (counterparty), penerbit (issuer), atau kinerja peminjam peminjam dana (borrower). Risiko kredit juga dapat diakibatkan oleh terkonsentrasinya penyediaan dana pada debitur, wilayah geografis, produk, jenis pembiayaan, atau lapangan usaha tertentu. Risiko kredit dengan menggunakan Rasio Non Performing Loan :
𝑁𝑃𝐿 =𝐾𝑟𝑒𝑑𝑖𝑡 𝑏𝑒𝑟𝑚𝑎𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ
Total Kredit 𝑥 100%
Sumber: Lampiran SE BI No. 13/24/DPNP/2011
Tabel 1
Kriteria Penetapan Peringkat Non Performance Loan
Peringkat Keterangan Kriteria
1 Sangat Sehat 0 % < NPL > 2 %
2 Sehat 2 % ≤ NPL < 5 %
3 Cukup Sehat 5 % ≤ NPL < 8 %
4 Kurang Sehat 8 % < NPL ≤ 11 %
5 Tidak Sehat NPL > 11 %
b.)Risiko Likuitditas; Risiko likuiditas adalah risiko akibat ketidakmampuan Bank untuk memenuhi kewajiban yang jatuh tempo dari sumber pendanaan arus kas, dan/atau dari aset likuid berkualitas tinggi yang dapat diagunkan, tanpa mengganggu aktivitas dan kondisi keuangan Bank. Risiko ini disebut juga risiko likuiditas pendanaan (funding liquidity risk).
Risiko likuiditas juga dapat disebabkan
oleh ketidakmampuan bank
melikuidasi aset tanpa terkena diskon yang material karena tidak adanya pasar aktif atau adanya gangguan pasar (market disruption) yang parah. Risiko ini disebut sebagai risiko likuiditas pasar (market liquidity risk).
Jurnal SOSOQ VOLUME 8 Nomor 2 Agustus 2020
73
Risiko likuiditas dengan menghitung rasio Loan to Deposit Ratio:
𝐿𝐷𝑅 = 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐾𝑟𝑒𝑑𝑖𝑡
Dana pihak ketiga 𝑥 100%
Sumber: Lampiran SE BI No. 3/24/DPNP/2011
Tabel 2
Kriteria Penetapan Peringkat Loan to Deposit Ratio (LDR)
Peringkat Keterangan Kriteria
1 Sangat sehat 50% < LDR ≤ 75%
2 Sehat 75% < LDR ≤ 85%
3 Cukup sehat 85% < LDR ≤ 100% 4 Kurang sehat 100% < LDR ≤ 120%
5 Tidak sehat LDR > 120%
Sumber: Kodifikasi Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Tahun 2012 2. GCG (Good Corporate Governance)
Penilaian faktor GCG merupakan penilaian terhadap kualitas manajemen Bank atas pelaksanaan prinsip-prinsip GCG. Prinsip-prinsip GCG dan fokus penilaian terhadap pelaksanaan prinsip-prinsip GCG berpedoman pada ketentuan Bank Indonesia mengenai Pelaksanaan GCG bagi Bank Umum dengan memperhatikan karakteristik dan kompleksitas usaha Bank.
Penilain pelaksanakan GCG bank mempertimbangkan faktor-faktor penilaian GCG secara komprehensif dan terstruktur, mencakup governance structur, governance process, dan
governance outcome. Berdasarkan SE BI No. 15/15/DPNP Tahun 2013 bank diharuskan melakukan penilan sendiri (self assessment) terhadap pelaksanaan GCG. Nilai komposit GCG membantu peneliti dalam melihat keadaan GCG masing masing bank.
Tabel 3.
Kriteria Penetapan Peringkat Good Corporate Governance
Peringkat Keterangan Kriteria
1 Sangat sehat Memiliki NK < 1,5
2 Sehat Memiliki NK 1,5≤ NK
<2,5
3 Cukup sehat Memiliki NK 2,5≤ NK <3,5
4 Kurang sehat Memiliki NK 3,5≤ NK <4,5
5 Tidak sehat Memiliki NK 4,5≤ NK <5 Sumber: Surat Edaran Bank Indonesia No. 9/12/DPNP/2007 3. Earnings (Rentabilitas)
Penilaian faktor rentabilitas meliputi evaluasi terhadap kinerja rentabilitas, sumber-sumber rentabilitas, kesinambung-an (sustainability) rentabilitas, dan mana-jemen rentabilitas. Penilaian dilakukan dengan mempertimbangkan tingkat, trend, struktur, stabilitas rentabilitas bank, dan perbandingan kinerja bank dengan ki-nerja peer group¸ baik melalui analisis aspek kuantitatif maupun kualitatif.
Penilaian terhadap faktor earnings
didasarkan pada dua rasio yaitu : a.)Return On Aset (ROA)
ROA =𝐿𝑎𝑏𝑎 𝑆𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚 𝑃𝑎𝑗𝑎𝑘
Rata − Rata total aset 𝑥 100% b.)Net Interest Margin (NIM)
𝑁𝐼𝑀 =𝑃𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑏𝑢𝑛𝑔𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ
Rata − Rata aset Produktif 𝑥 100% Sumber: Lampiran SE BI No. 13/24/DPNP/2011
Jurnal SOSOQ VOLUME 8 Nomor 2 Agustus 2020
74 Tabel 4.
Kriteria Penetapan Peringkat Return On Asset (ROA)
Peringkat Keterangan Kriteria
1 Sangat sehat ROA > 1,5%
2 Sehat 1,25% < ROA ≤ 1,5%
3 Cukup sehat 0,5% < ROA ≤ 1,25% 4 Kurang sehat 0% < ROA ≤ 0,5%
5 Tidak sehat ROA ≤ 0%
Sumber: Kodifikasi Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Tahun 2012
Tabel 5.
Matriks Kreiteria Penetapan Peringkat NetInterest Margin (NIM)
Peringkat Keterangan Kriteria
1 Sangat sehat 3% < NIM
2 Sehat 2% < NIM ≤ 3%
3 Cukup sehat 1,5% < NIM ≤ 2% 4 Kurang sehat 1% < NIM ≤ 1,5%
5 Tidak sehat NIM ≤ 1%
Sumber: Kodifikasi Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Tahun 2012 4. Capital (Permodalan) Penilaian atas
faktor permodalan meliputi evaluasi terhadap kecukupan permodalan dan kecukupan pengelolaan permodalan.
Dalam melakukan perhitungan
permodalan, bank wajib mengacu pada ketentuan Bank Indonesia yang
mengatur mengenai kewajiban
penyediaan modal minimum bagi bank umum. Selain itu, dalam melakukan penilaian kecukupan permodalan, bank
juga harus mengaitkan kecukupan modal dengan profil risiko bank. Semakin tinggi risiko bank, semakin besar modal
yang harus disediakan untuk
mengantisipasi risiko tersebut.
Rasio Kecukupan Modal dengan menghitung
Rasio Capital Adequacy Ratio (CAR): 𝐶𝐴𝑅 = Modal Bank
Jumlah ATMR 𝑥 100%
Sumber: Lampiran SE BI 13/24/DPNP/2011 Tabel 6.
Kriteria Penetapan Peringkat Capital Adequacy Ratio (CAR)
Peringkat Keterangan Kriteria
1 Sangat sehat CAR ≥ 11%
2 Sehat 9,5% ≤ CAR < 11%
3 Cukup sehat 8% ≤ CAR < 9,5% 4 Kurang sehat 6,5% ≤ CAR < 8% 5 Tidak sehat CAR < 6,5% Sumber: Kodifikasi Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Tahun 2012
METODE
Subjek penelitian ini adalah Bank Umum Swasta Nasional Devisa yang tercatat di Bursa Efek Indonesia periode 2016-2018. Sedangkan Objek penelitian ini adalah penilaian tingkat kesehatan bank pada PT. Bank Mega Tbk dengan cakupan penilaian meliputi faktor-faktor
sebagai berikut: Profil risiko (Risk profile), Good Corporate Governance
(GCG), Rentabilitas (Earnings) dan Permodalan (Capital).
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder meliputi data laporan keuangan tahunan yang telah diaudit, Laporan GCG dan data
Jurnal SOSOQ VOLUME 8 Nomor 2 Agustus 2020
75
penunjang lain. Data tersebut didapatkan dari Otoritas Jasa Keuangan, Bursa Efek Indonesia, dan website resmi Bank.
Definisi dan pengukuran Variabel dalam penelitian ini adalah :
1) Variabel dependen (Nilai Perusahaan) Nilai Perusahaan diukur dengan PBV dengan membandingkan harga saham yang diperdagangkan dengan nilai buku saham perusahaan.
2) Variabel Independen
1. Profil Resiko (Risk Profile) Penelitian ini mengukur factor profil resiko dengan menggunakan 2 indikator yaitu factor resiko kredit dengan menggu-nakan rumus NPL dan resiko likuiditas dengan rumus LDR
2. Penilaian Good Corporate Governance
(GCG)Penilaian factor GCG meru-pakan penilaian terhadap kualitas manajemen bank atas pelaksanaan prinsip-prinsip GCG. Prinsip-prinsip GCG dan focus penilaian terhadap pelaksanaan prinsip-prinsip berpedom-an pada ketentuberpedom-an Bberpedom-ank Indonesia mengenai pelaksanaan GCG bagi bank umum dengan memperhatikan karak-teristik dan kompleksitas usaha bank. 3. Penilaian Rentabilitas (Earnings) Penilaian ini didasarkan pada dua rasio
yaitu : ROA dan NIM
4. Penilaian Permodalan (Capital) Rasio
kecukupan modal mengan
menggunakan Capital Adequacy Ratio
(CAR)
Penelitian ini merupakan peneli-tian kualitatif yang diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan keadaan subjek atau objek dalam penelitian dapat berupa orang, lembaga, masyarakat dan lainnya pada masa sekarang berdasarkan realita yang terjadi.
Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah PT Bank MNC Internasional. Objek Penelitian ini adalah laporan Keuangan publikasi PT Bank Mega Periode 2014-2017.
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
menggunakan metode RGEC. Adapun tolak ukur untuk menentukan tingkat kesehatan suatu bank setelah dilakukan penilaian terhadap masingmasing variabel, yaitu dengan menentukan hasil penelitian yang digolongkan menjadi peringkat kesehatan bank. Cakupan penilaian metode RGEC meliputi faktor-faktor sebagai berikut: Risk Profile (Profil
Risiko), GCG (Good Corporate
Governance), Earnings (Rentabilitas) dan Capital (Permodalan).
Untuk faktor profil resiko pada penelitian ini yang digunakan adalah resiko kredit dengan menghitung NPL (Non Performing Loan) dan resiko likuiditas yaitu dengan menghitung LDR (Loan to Deposit Ratio). Untuk factor GCG diambil dari buku tahunan (Annual Report) masing masing bank yang melakukan Self assessment terhadap pelaksanaan GCG. Sedangkan untuk faktor Rentabilitas penilaian yang digunakan adalah Rasio ROA (Return on Asset), NIM (Net Interest Margin), untuk factor permodalan digunakan CAR (Capital Adequacy Ratio).
HASIL DAN PEMBAHASAN Profil Risiko (Risk Profile)
Rasio keuangan yang digunakan dalam menilai tingkat kesehatan bank, PT. Bank Mega, Tbk dari aspek risk profile pada penelitian ini dengan menggunakan dua indikator yaitu faktor risiko kredit dengan
menggunakan rumus NPL dan
risikolikuiditas dengan rumus LDR.
a. NPL (Non Performing Loan)
Rasio NPL dapat menunjukkan
kemampuan bank dalam mengelola kredit bermasalah dari keseluruhan kredit yang diberikan oleh bank. Rasio NPL diperoleh dari kredit bermasalah yaitu merupakan kredit kepada pihak ketiga bukan bank yang tergolong kurang lancar, diragukan dan macet dibagi dengan total kredit kepada pihak ketiga bukan bank.
Berikut hasil perhitungan rasio NPL pada PT. Bank Mega, Tbk tahun 2014-
Jurnal SOSOQ VOLUME 8 Nomor 2 Agustus 2020
76 Tabel 7
Hasil Perhitungan Risk Profile untuk Rasio NPL PT. Bank Mega,Tbk
Tahun 2014-2017
Tahun Kredit Bermasalah Total Kredit NPL (100%)
2014 703.487 33.142.181 2,12
2015 3.431.327 31.748.472 10,81
2016 971.914 27.777.461 3,50
2017 708.176 34.748.506 2,04
Sumber : Data diolah peneliti 2018 Data di atas menunjukan bahwa rasio
NPL pada PT. Bank Mega, Tbk untuk tahun 2014-2017 terapresiasi. Pada tahun 2014 rasio NPL pada PT. Bank Mega, Tbk adalah sebesar 2.12 % mengalami kenaikan menjadi 10.81% pada tahun 2015, dan kembali mengalami penurunan pada tahun 2016 menjadi 3.50 % persen. Pada tahun 2017 mengalami penurunan menjadi 2.04%. Kenaikan rasio NPL yang terjadi pada PT. Bank Mega tahun 2015 karena jumlah kredit bermasalah dan tak lepas dari kelesuan pertumbuhan ekonomi nasional, sehingga kualitas aset nasabah turun. Rasio NPL megalami penurunan pada tahun 2016 dan 2017 karena PT Bank Mega Tbk, menerapkan beberapa strategi supaya rasio NPL mampu dikendalikan. Salah satunya, melaksanakan monitoring terhadap portofolio Bank, yang dilakukan antara lain terhadap segmentasi kredit, kualitas kredit dan pengalihan kredit ke sektor lain hingga memanfaatkan sentimen perbaikan ekonomi di tahun ini. Bank Mega menyalurkan kredit kebeberapa beberapa sektor sebagai diversifikasi, seperti ritel pangan, konsumsi, pariwisata, konstruksi, dan property. Berdasarkan kriteria penilaian tingkat kesehatan bank yang ditetapkan oleh Bank Indonesia, maka nilai rasio NPL pada PT. Bank Mega, Tbk tahun 2014 termasuk dalam kriteria
SEHAT karena rasio NPL berada pada kriteria lebih dari 0 persen dan lebih dari 2 persen ( 2< NPL > 5% ). Untuk tahun 2015 termasuk dalam kriteria KURANG
SEHAT karena lebih dari 8% hal ini, terjadi karena latar belakang kondisi makro ekonomi perbankkan yang penuh tantangan, karena itu bank harus mampu menjaga kredit bermasalah dalam batas yang di persyaratkan dari proses penerbitan bisnis baru, pengetatan proses monitoring kredit, strategi portofolio berbasis resiko yang lebih komprehensif dan baik,identifikasi segmen bisnis bermasalah dengan tepat dan fokus pada unit asset management dan unit collection
untuk memperolrh pembayaran.
Sedangkan nilai rasio NPL PT. Bank Mega, Tbk tahun 2016 dan 2017 termasuk dalam predikat SEHAT karena rasio NPLberada pada kriteria lebih dari atau sama dengan 2 persen dan kurang dari 5 persen ( 2% ≤NPL < 5% ). Hal ini terjadi akibat restrukturisasi terhadap kredit bermasalah dengan melakukan restructuring, resheduling dan reconditioning maupun collection. Penyelesaian kredit bagi Debitur bermasalah dan pembahasan rutin terkait
dengan permasalahan dibidang
perkreditan dan melakukan
penyempurnaan atas analisa Kredit yang disertakan dengan laporan keuangan debitur.
b. LDR (Loan to Deposit Ratio)
Rasio LDR merupakan perbandingan antara total kredit dengan dana pihak ketiga bukan bank yang terdiri dari tabungan, giro dan deposito berjangka. Rasio LDR digunakan untuk mengukur
Jurnal SOSOQ VOLUME 8 Nomor 2 Agustus 2020
77
perbandingan jumlah kredit yang diberikan bank dengan dana yang diterima oleh bank, yang menggambarkan kemampuan bank dalam membayar kembali penarikan dana oleh masyarakat
dengan mengandalkan kredit yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya. Berikut hasil perhitungan LDR tahun 2014-2017
Tabel 8
Hasil Perhitungan Risk Profile untuk Rasio NPL PT. Bank Mega,Tbk
Tahun 2014-2017
Tahun Total Kredit Dana Pihak Ketiga LDR (100%) 2014 33.142.181 51.021.875 64,96 2015 31.748.472 49.739.672 63,83 2016 27.777.461 51.073.227 54,39 2017 34.748.506 61.282.871 56,70
Sumber : Data diolah peneliti 2018 Tabel diatas mengindikasikan bahwa
rasio LDR pada PT. Bank Mega, Tbk untuk tahun 2014-2017 mengalami penurunan yang signifikan. Pada tahun 2014 rasio LDR pada PT. Bank Mega, Tbk adalah sebesar 64.96% mengalami penurunan menjadi 63.83% pada tahun 2015, dan kembali mengalami penurunan menjadi 54.39% pada tahun 2016. Pada Tahun 2017 mengalami peningkatan menjadi 56.70%. Berdasarkan kriteria penilaian tingkat kesehatan bank yang ditetapkan oleh Bank Indonesia, maka nilai rasio LDR pada PT. Bank Mega, Tbk tahun 2014 sampai tahun 2017 termasuk dalam predikat SANGAT SEHAT karena rasio LDR berada pada kriteria lebih dari 50 persen dan kurang dari atau sama dengan 75% (50% < LDR≤75%).
Metode CAMEL dengan metode RGEC terletak pada dinilainya kualitas penerapan
manajemen risiko bank termasuk risiko kredit. Prinsip yang telah diterapkan oleh bank untuk menjalankan aktivitas manajemen risiko khususnya risiko kredit didasarkan pada kebijakan kredit yang mencakup persyaratan peraturan Bank Indonesia dan kebijakan-kebijakan internal. Kebijakan Interanal diselaraskan
sesuai dengan perkembangan
peraturan,lingkungan bisnis dan pertumbuhan yang terjadi karena perkembangan bisnis bank dan kondisi
ekonomi global. Secara umum kebijakan internal kredit bank bersifat pemberian kredit dalam bentuk secured loan atau kredit yang berbasis agunan. Sistem pemeringkatan internal bank untuk segmen korporasi dan komersial akan menghasilkan peringkat risiko setiap debitur dan fasilitas yang diberikan. Setiap peringkat mencerminkan risiko gagal bayar (default) dari peminjam, sedangkan peringkat risiko pada level fasilitas akan dipengaruhi juga oleh ketersediaan agunan. Dari langkah-langkah antisipasi diatas, yang dilaksanakan oleh manajemen bank untuk risiko kredit, maka Kualitas Penerapan Manajemen Risiko Kredit yang dilakukan oleh Bank Mega selama berada dalam peringkat memadai Dimana dalam pelaksanaan manajemen risiko kredit tahun 2016 dan 2017 bank telah dapat menghasilkan pengelolaan kredit secara sehat sehingga dapat memberikan dampak yang baik dan membawa arah positif bagi bank pertumbuhan Bank Mega Tbk.
Good Corporate Governance (GCG)
Pengalaman krisis keuangan global mendorong peningkatan efektivitas penerapan risiko dan Good Corporate Governance (GCG) bagi dunia perbankan di Indonesia. Tujuannya supaya bank mampu mengidentifikasi permasalahan lebih dini, sehingga dapat melakukan
Jurnal SOSOQ VOLUME 8 Nomor 2 Agustus 2020
78
tindakan perbaikan yang sesuai dan lebih cepat untuk keberlangsungan kegiatan perbankan. Pengelolaan manajemen risiko dan penerapan GCG yang baik diharapkan dapat membuat bank lebih tahan dalam menghadapi krisis. Pemberian kriteria GCG dilakukan oleh bank secara self asssessment namun tetap dalam pengawasan Bank Indonesia. Penilaian terhadap faktor GCG merupakan penilaian
terhadap manajemen bank atas
pelaksanaan prinsip-prinsip GCG sebagaimana diatur dalam Peraturan Bank Indonesia GCG didasarkan pada 3 aspek utama yaitu Governance Structure, Governance Process, dan Governance Outcomes. Governance Structure
mencakup pelaksanaan tugas dan tanggungjawab Komisaris dan Direksi serta kelengkapan dan pelaksanaan tugas komite.Governance Process mencakup penerapan fungsikepatuhan bank, penanganan benturan kepentingan, penerapan fungsi audit intern dan ekstern, penerapan manajemen risiko termasuk sistem pengendalian intern, penyediaan dana kepada pihak terkait dan dana besar, serta sistem rencana strategis bank.
Governance Outcomes mencakup transparasi kondisi keuangan dan non keuangan, laporan pelaksanaa GCG dan pelaporan internal. Penerapan GCG yang memadai sangat diperlukan dalam pengelolaan perbankan mengingat SDM yang menjalankan bisnis perbankan merupakan faktor kunci yang harus memiliki integritas dan kompetensi yang baik. Penerapan tata kelola perusahaan yang baik (GCG) pada PT. Bank Mega,
Tbk Hal- hal yang telah dilakukan dalam proses tata kelola :
a. Proses tata kelola telah dilaksanakan oleh Direksi didukung oleh seluruh Unit Kerja yang ada pada struktur organisasi Bank. Kebijakan strategis diambil melalui mekanisme Rapat Direksi (diadakan sebanyak 48 kali dalam setahun).
b. Direksi telah melakukan monitoring terhadap Komitmen Tindak lanjut Bank terkait pemeriksaan oleh Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Indonesia. Seluruh hasil temuan OJK/BI telah ditindak lanjuti sesuai dengan kesepakatan yang dibuat (Komitmen Bank sd Desember 2015).
c. Proses pengawasan telah dilakukan oleh Dewan Komisaris dibantu oleh Komite-Komite pada Dewan Komisaris dengan cakupan pengawasan dan pemantauan sesuai dengan ketentuan. Rapat Dewan Komisaris dan Komite telah dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan telah diadministrasikan dengan baik.
d. Bank telah berupaya untuk mening-katkan kompetensi dan skill pegawai melalui pelaksanaan training / sosialisasi / seminar baik internal mau-pun eksternal. (https://www.bank. mega.com)
Indikator penilaian GCG menggunakan bobot penilaian berdasarkan nilai komposit dari ketetapan Bank Indonesia menurut PBI No.13/1/PBI/2011 tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum. Kriteria predikat komposit GCG
bank :
Kriteria Predikat Komposit GCG Bank Kriteria Predikat Komposit
GCG Rentang Nilai GCG Sangat Sehat GCG < 1,5 Sehat GCG < 2,5 Cukup Sehat GCG < 3,5 Kurang Sehat GCG < 4,5 Tidak Sehat GCG < 5,0
Jurnal SOSOQ VOLUME 8 Nomor 2 Agustus 2020
79 Tabel 9.
Laporan penilaian sendiri (self assesment) pelaksanaan GCG PT Bank Mega Tbk
2014 – 2017
2014 2015 2016 2017
Nilai Komposit 2 3 2 2
Sumber : Data Sekunder diolah,2018 Berdasarkan diatas diketahui bahwa penilian tingkat GCG dilaksanakan pada tiap periodenya. Pada periode tahun 2014, Bank Mega memperoleh Peringkat Komposit 2 dengan predikat sehat. Pada periode tahun 2015, Bank Mega memperoleh Peringkat Komposit 3 dengan predikat Cukup Sehat. Pada tahun 2016 dan 2017 dengan predikat sehat. Hasil ini memberikan cerminan bahwa selama periode tahun 2014 - 2017 Bank Mega mampu melaksanakan prinsip Good Corporate Governance dengan baik, sehingga Bank Mega mampu melaksa-nakan manajemen perbankan dengan baik.
Rentabilitas (Earnings)
Rasio keuangan yang digunakan dalam menilai tingkat kesehatan PT. Bank Mega, Tbk ditinjau dari aspek earnings pada penelitian ini dengan menggunakan dua rasio yaitu ROA dan NIM.
a. ROA (Return On Asset)
ROA (Return On Asset) merupakan rasio profitabilitas yang
mampu menunjukkan keberhasilan suatu bank dalam menghasilkan keuntungan atau laba dengan mengoptimalkan aset yang dimiliki. ROA diperoleh dari laba sebelum pajak dibagi dengan rata-rata total aset. Rata-rata total aset dalam satu periode diperoleh dari menjumlahkan nilai aset awal periode dengan nilai aset akhir periode dan kemudian dibagi dua.
Rasio ini dihitung untuk mengukur
keberhasilan manajemen dalam
menghasilkan laba. Semakin kecil rasio ini berarti manajemen bank kurang mampu dalam mengelola aset untuk meningkatkan pendapatan dan menekan biaya.
Berikut hasil perhitungan rasio ROA pada PT. Bank Mega, Tbk tahun 2014 - 2017 : ROA = 𝐿𝑎𝑏𝑎 𝑆𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚 𝑃𝑎𝑗𝑎𝑘
𝑅𝑎𝑡𝑎−𝑅𝑎𝑡𝑎 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡× 100%
Perhitungan Rasio ROA untuk 4 tahun terakhir yakni dari tahun 2014-2017 pada PT. Bank Mega, Tbk dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 10.
Hasil Perhitungan Earning untuk Rasio ROA PT. Bank Mega,Tbk
Tahun 2014-2017
Tahun Laba Sebelum Pajak Rata-rata Total Aset ROA (100%)
2014 659.006 66.561.794,5 0,99
2015 1.238.769 67.436.530,5 1,84
2016 1.545.423 69.378.426 2,23
2017 1.649.159 76.414.346 2,16
Sumber : Data diolah peneliti 2018 Tabel 4.4 mengindikasikan bahwa rasio ROA pada PT. Bank Mega, Tbk untuk tahun 2014-2017 mengalami peningkatan dari tahun ke tahun kecuali di tahun 2017
mengalami penurunan. Berdasarkan krite-ria penilaian tingkat kesehatan bank yang ditetapkan oleh Bank Indonesia, maka nilai rasio ROA pada PT. Bank Mega,
Jurnal SOSOQ VOLUME 8 Nomor 2 Agustus 2020
80
Tbk di tahun 2014 termasuk dalam predikat CUKUP SEHAT karena rasio
ROA berada pada kriteria
0,5%<ROA≤1,25, tetapi pada tahun-tahun berikutnya Rasio ROA mengalami peningkatan sehingga masuk dalam kriteria SANGAT SEHAT dimana ROA > 1,5%, walaupun di tahun 2017 mengalami penurunan tetapi masih ada dalam kategori sangat sehat. Hal ini dimungkinkan dengan adanya kolaborasi sinergis dengan perusahaan-perusahaan di bawah naungan CT Corp, Bank Mega berhasil mengaktualisasikan berbagai strategi untuk semakin memperkuat posisi sebagai bank utama pilihan masyarakat.
Sepanjang tahun 2015 pemerintah berupaya menjaga stabilitas ekonomi makro dan mendorong pertumbuhan ekonomi, dimana ada perlakuan khusus mengenai penilaian ulang (revaluasi) asset berupa aktiva tetap perusahaan untuk tujuan perpajakan dimana revaluasi ini akan cenderung meningkatkan nilai aktiva tetap perusahaan, serta di tahun yang sama Bank Mega berhasil meningkatkan laba bersih sebesar 85,39% menjadi Rp. 1.053 triliun pada akhir 2015 dari Rp. 568 miliar pada akhir 2014. Kenaikan ini dikontribusi oleh peningkatan NII, Fee Based Income, dan keuntungan penjualan surat berharga. Aset juga meningkat 2,47 % menjadi Rp. 68,23 triliun di akhir tahun.
Di tahun-tahun berikutnya Bank Mega mampu dengan hati-hati (prudent) menetapkan target-target keuangan dan non keuangan dalam prospek usahanya, berkonsentrasi memperbaiki sruktur dan
volume pendanaan serta terus
mengoptimalkan sinergi di berbagai bidang dengan perusahaan-perusahaan di bawah CT Corpora untuk memberikan nilai tambah dan benefit kepada nasabah Bank Mega.
b. NIM (Net Interest Margin)
NIM (Net Interest Margin) digunakan sebagai alat ukur untuk mengetahui tingkat rentabilitas bank yang diperoleh dari pendapatan bunga bersih atas aktiva aktiva produktif atau aktiva yang menghasilkan bunga bersih. Rasio NIM diperoleh dari pendapatan bunga bersih dibagi rata-rata aset produktif. Pendapatan bunga bersih adalah pendapatan bunga setelah dikurangi dengan beban bunga. Aset produktif yang diperhitungkan adalah aset yang menghasilkan bunga. Rata-rata aset produktif dalam satu periode diperoleh dari menjumlahkan nilai aktiva produktif awal periode dengan nilai aset produktif akhir periode dan kemudian dibagi dua. Berikut hasil perhitungan rasio NIM pada PT. Bank Mega, Tbk tahun 2014 – 2017 :
Tabel 11.
Hasil Perhitungan Earning untuk Rasio NIM PT. Bank Mega,Tbk
Tahun 2014-2017
Sumber : Data Diolah peneliti 2018 Berdasarkan kriteria penilaian tingkat kesehatan Bank yang ditetapkan oleh Bank Indonesia, Maka nilai rasio NIM pada PT. Bank Mega, Tbk sepanjang tahun penelitian 2014-2017, termasuk dalam predikat SANGAT SEHAT dimana
nilai NIM > 3% . Implementasi strategi Bank Mega terukur dalam pencapaian kinerja operasional maupun kinerja finansial dimana Bank Mega terus memperluas jaringan pelayanan dengan menjalin sinergi bersama entitas bisnis
Tahun Pendapatan Bunga Bersih Rata-rata Aset Produktif NIM (100%)
2014 2.745.049 57.101.032 4,81
2015 3.302.818 56.512.344 5,84
2016 3.487.634 56.885.167 6,13
Jurnal SOSOQ VOLUME 8 Nomor 2 Agustus 2020
81
lainnya dalam naungan CT Corpora. Secara finansial kinerja Bank Mega tercatat tumbuh secara signifikan yang tercermin dari prosentasi pertumbuhan penyaluran kredit dan penghimpunan dana pihak ketiga yang berada diatas rata rata industri perbankan nasional.
Bank Mega melakukan banyak kerja sama dengan perusahaan lainnya untuk menyalurkan kredit kepada masyarakat seperti penandatanganan Fasilitas Kredit Modal kerja dengan PT.Andalan Finance Indonesia sebesar Rp. 500 Miliar atau dengan PT. Smart Finance sebesar Rp.300 miliar di tahun
2017. Direksi Bank Mega juga berhasil melaksanakan strategi pertumbuhan kredit yang prudent, terutama dalam kondisi yang sangat kompetitif, sehingga portofolio kredit Bank Mega meningkat 24,56% pada tahun 2017. Disisi lain, dana pihak ketiga berhasil tumbuh sebesar 19,99% atau mencapai Rp. 61,28 triliun pada 2017 dari Rp. 51,07 triliun ditahun 2016, meski secara komposisi masih didominasi deposito tetapi pertumbuhan terbesar terjadi pada giro mencapai 42,45 %, tabungan tumbuh 2,29% dan deposito tumbuh 21,81% menjadi 42,42 triliun.
Permodalan (Capital)
Rasio keuangan yang digunakan dalam menilai tingkat kesehatan PT. Bank Mega Tbk ditinjau dari aspek capital pada penelitian ini adalah Capital Adequacy Ratio (CAR). Rasio CAR digunakan untuk mengukur kecukupan modal yang dimiliki bank untuk menunjang aktiva yang mengandung atau menghasilkan
risiko. CAR merupakan rasio
perbandingan antara Modal dengan Aset Tertimbang Menurut Risiko. Risiko yang
dimaksud disini ada 3 risiko yaitu risiko Kredit, Risiko Operasional dan risiko Pasar. Perhitungan modal dan Aset Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) berpedoman pada ketentuan Bank
Indonesia mengenai Kewajiban
Penyediaan Modal Minimum Bank Umum (KPMM).
Berikut hasil perhitungan rasio CAR pada PT. Bank Mega, Tbk Tahun 2014-2017
Tabel 12.
Hasil Perhitungan Capital untuk Rasio CAR PT. Bank Mega,Tbk
Tahun 2014-2017
Tahun Modal Bank ATMR CAR (100%)
2014 6.310.948 41.449.630 15,23
2015 10.279.296 44.993.522 22,85
2016 10.883.111 41.517.371 26,21
2017 12.072.553 50.078.818 24,11
Sumber : Data diolah peneliti 2018 Berdasarkan kriteria penilaian tingkat kesehatan Bank yang ditetapkan oleh Bank Indonesia, Maka nilai rasio CAR pada PT. Bank Mega, Tbk sepanjang tahun penelitian 2014-2017, termasuk dalam predikat SANGAT SEHAT dimana nilai CAR ≥ 11 % dan cenderung meningkat sepanjang tahun penelitian. Dengan pertumbuhan pendapatan yang sangat signifikan setiap tahunnya menyebabkan Bank Mega
memiliki permodalan yang kuat, peningkatan CAR setiap tahun merupakan bukti serta marjin bunga bersih meningkat sebesar 7,01 persen dibanding tahun sebelumnya. Dari tahun ke tahun Bank Mega tetap fokus pada upaya memperkuat
fundamental keuangan dan
memaksimalkan pertumbuhan bisnis melalui 1) Sinergi dengan perusahaan-perusahaan dalam PT CT Corpora untuk meningkatkan volume usaha, menciptakan
Jurnal SOSOQ VOLUME 8 Nomor 2 Agustus 2020
82
peluang usaha baru serta penambahan jumlah jaringan kantor secara terencana. 2) Inovasi produk dan fitur layanan kepada nasabah dalam usaha menjadi bank retail dan meningkatkan jumlah penghimpunan dana masyarakat.
KESIMPULAN :
Hasil penilaian tingkat kesehatan bank pada PT. Bank Mega, Tbk berdasarkan Metode RGEC (Risk profile, Good Corporate Governance, earnings, dan Capital) selama tahun 2014-2017 dalam kategori sehat.
SARAN :
PT Bank Mega menjaga tаtа kelolа perusаhааn dengаn mengurangi kelemаhаn yаng аdа dаn melakukan perbaikan terhadap kelemаhаn yаng аdа аgаr tаtа kelolа perusаhааn yаng bаik dаpаt terwujud.
DAFTAR PUSTAKA
Bank Indonesia. 1998. Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No 30/277/KEP/DIR
tahun 1998 tentang Perubahan Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor 30/11/KEP/DIR Tanggal 30 April 1997 Tentang Tatacara Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum. Jakarta: Bank Indonesia. _____________. 2004. Peraturan Bank
Indonesia No. 6/10/PBI/2004 Perihal Penilian Tingkat Kesehatan Bank Umum. Jakarta: Bank Indonesia.
_____________. 2004. Surat Edaran Bank Indonesia No.6/ 23 /DPNP tanggal 31 Mei 2004 Perihal Penilian Tingkat Kesehatan Bank Umum. Jakarta: Bank Indonesia. _____________. 2007. Peraturan Bank
Indonesia Nomor: 9/7/PBI/2007 Perihal Perubahan Atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/3/PBI/2006 tentang Perubahan
Kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip Syariah dan Pembukaan Kantor Bank Yang Melaksanakan Kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip Syariah oleh Bank Umum.
Jakarta: Bank Indonesia.
_____________. 2007. Surat Edaran Bank Indonesia No. 9/12/DPNP/
2007 Perihal Pelaksanaan Good Corporate Governance bagi Bank Umum. Jakarta: Bank Indonesia. _____________. 2011. Peraturan Bank
Indonesia Nomor: 13/1/PBI/2011 Perihal Penilian Tingkat Kesehatan Bank Umum. Jakarta: Bank Indonesia.
_____________. 2011. Surat Edaran Bank Indonesia No.13/24/DPNP Perihal Penilaian Tingkat Kese-hatan Bank Umum. Jakarta: Bank Indonesia.
_____________. 2011. Lampiran Surat Edaran Bank Indonesia No.13/24 /DPNP Perihal Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum. Jakarta: Bank Indonesia.
_____________. 2012. Kodifikasi Penilaian Tingkat Kesehatan Bank. Jakarta: Bank Indonesia.
Rivai, Veithzal, dkk. 2012. Commercial Bank Management:Manajemen Perbankan dari Teori ke Praktik. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Sugiyono. 2011. Metode Penelitian
Administrasi dilengkapi dengan Metode R&D. Bandung: Alfabeta. Suharsimi Arikunto. 2014. Prosedur
Penelitian Suatu Pendekatan Parktik. Jakarta: Rineka Cipta. Totok Budisantoso dan Sigit Triandaru.
2006. Bank dan Lembaga Keuangan Lain. Edisi Kedua. Jakarta: Salemba Empat.
Totok Budisantoso dan Nuritomo. 2014.
Bank dan Lembaga Keuangan Lain.
Jakarta: Salemba Empat.
Undang-undang. 1992. Undang-undang No. 7 Tahun 1992, tentang Perbankan.
Jurnal SOSOQ VOLUME 8 Nomor 2 Agustus 2020
83
_____________. 1998. Undang-undang No. 10 Tahun 1998, tentang Perbankan.
Veranda Aga Refmasari dan Ngadirin Setiawan. 2014. Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum Menggu-nakan Metode RGEC dengan Cakupan Risk Profile, Earnings, dan Capital pada Bank Pembangunan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2012. Fakultas Ekonomi Universiatas Negeri Yogyakarta. Wirawan. 2011. Evaluasi Teori, Model,
Standar dan Profesi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.