KARAKTERISASI
PLASMA
NUTFAH
STROBERI
(Fragaria x ananassa
(Duchesne ex Weston)
Duchesne ex Rozier) DI BALAI PENELITIAN TANAMAN
JERUK
DAN
BUAH
SUBTROPIKA
DENGAN
DESKRIPTOR STROBERI UPOV
Zainuri Hanif1* dan Titis Dwi Jayanti2 1
Balai Penelitian Jeruk dan Buah Subtropika
Jl. Raya Tlekung No. 1 Junrejo, Batu, Jawa Timur 65301 2
Jurusan Budidaya Tanaman, Fakultas Pertanian UGM Email : [email protected]
Abstrak - Dalam upaya perbaikan kultivar/varietas yang sudah ada, kegiatan pengkoleksian tanaman stroberi melalui eksplorasi, karakterisasi, pra evaluasi dan seleksi kultivar/varietas koleksi plasmanutfah sangat dibutuhkan. Koleksi tanaman plasma nutfah stroberi merupakan aset yang sangat penting baik dibidang komersial maupun dibidang ilmu sehingga harus dilestarikan, karena didalamnya terkandung sifat-sifat tertentu yang dibutuhkan dalam pembentukan atau perbaikan suatu varietas unggul yang dikehendaki. Hal ini dapat dicapai kalau plasma nutfah yang merupakan sumber genetik dan sekaligus bahan pemuliaan dikelola dan dievaluasi dengan baik dan berkelanjutan. Penelitian karakterisasi ini dilakukan pada tahun 2012. Pada tahun 2012 Balitjestro mempunyai 22 aksesi plasma nutfah stroberi yang dikoleksi di KP. Tlekung (950 mdpl) dan KP Sumber Brantas (1400 mdpl). Metode penelitian ini dilakukan dengan karakterisasi secara morfologi dengan deskriptor stroberi UPOV (International Union For The Protection Of New Varieties Of Plants).Karakterisasi secara morfologi merupakan pengamatan terhadap kenampakan fisik yang dapat dilihat dan diukur, seperti bentuk buah, diameter buah, bobot buah, warna buah, bentuk daun dan warna daun. Pada penelitian ini telah dikarakterisasi7 aksesi plasma nutfah stroberi dengan gambar tanaman, daun, bunga dan buah yaitu untuk aksesi Testytreet, Lokal Berastagi, Rosalinda, Chandler, Aerut. Sweet Charlie, dan Selva.Inventarisasi, dan pelestarian plasma nutfah stroberi yang dilakukan berguna bagi para pemulia untuk melakukan penyilangan dan pengembangan stroberi selanjutnya.
Kata kunci : Aksesi, Balitjestro, karakterisasi, plasma nutfah, stroberi (Fragaria x ananassa), UPOV
PENDAHULUAN
Pada awal perkembangannya, usaha budidaya stroberi di Indonesia masih terbatas di daerah sentra produksi seperti Jawa Barat (Sukabumi, Ciwidey, Cianjur, Cipanas dan Lembang), Jawa Timur (Batu) dan Bali (Bedugul), namun seiring dengan semakin meningkatnya permintaan pasar, usaha stroberi secara komersial telah diusahakan di beberapa daerah lain, seperti Garut, Tawangmangu, Purbalingga dan Magetan.
Dalam upaya perbaikan kultivar/varietas yang sudah ada, kegiatan pengkoleksian tanaman stroberi melalui eksplorasi, karakterisasi, pra evaluasi dan seleksi kultivar/varietas koleksi plasmanutfah sangat dibutuhkan. Untuk itu, pengelolaan kebun koleksi plasmanutfah stroberi secara optimal perlu dilakukan, sehingga tanaman koleksi dapat terpelihara, lestari dan dapat dimanfaatkan sebagai sumber materi untuk program pemuliaan.
Stroberi ini adalah hasil persilangan antara Fragaria virginiana L. var Duschesne dari Amerika Utara dengan
Fragaria chiloensis L. var Duschene dari Chili, Amerika Selatan. Persilangan kedua jenis stroberi tersebut dilakukan pada tahun 1750. Persilangan-persilangan lebih lanjut menghasilkan jenis stroberi dengan buah berukuran besar, harum dan manis (Budiman, S., dan D., Saraswati, 2008).
Tanaman stroberi termasuk dalam famili Rosaceae, genus Fragaria, spesies Fragaria sp. Tanaman stroberi memiliki batang pendek sekali, seolah-oleh tidak berbatang. Daunnya trifoliata, tumbuh dekat tanah dan sebagai pelindung buah. Sulur tumbuh dari batangnya, sulur tersebut berakar dan berbunga pada dasar daun. Buahnya ialah buah agregat yang terdiri dari beberapa biji (achene) yang membengkak pada dasar biji. Apabila
achene tersebut tidak terserbuk, buah tidak akan terbentuk. Ukuran dan berat buahnya berkolerasi dengan banyaknya achene yang diserbuki (Ashari, 1995).
Varietas stroberi introduksi yang berkembang di Indonesia adalah Osogrande di Purbalingga, Selva di Karanganyar, Earlibrite (Holibert) di Garut dan Ciwidey
Bandung, Rosa Linda, Sweet Charlie, Aerut, dan Camarosa di Bedugul Bali, Dorit, Lokal Brastagi dan California di Brastagi, Chandler di Bondowoso PTPN XII, dan Lokal Batu di Batu (Hanif, Z 2012).Buah stroberi yang orang kenal selama ini sebenarnya adalah buah semu. Buah stroberi yang berwarna merah menyala itu bukan hasil fertilisasi sel betina dan jantan. Bentuk buah semu stroberi bermacam-macam. Ada yang ujungnya meruncing, bulat dan mendatar. Berdasarkan perbedaan bentuk tersebut, terdapat pengelompokkan stroberi. Perbedaan bentuk buah ini disebabkan oleh gen bawaan dalam stroberi tersebut (Rahmatia dan Pitriana, 2000).
Buah stroberi umumnya berbentuk kerucut hingga bulat. Namun, United State Departement of Agriculture (USDA) membagi bentuk buah stroberi dalam delapan tipe, yaitu oblate, globose, globose conic, conic, long conic, necked, long wedge, dan short wedge. Buah tipe oblate dan globose ditandai dengan ujungnya yang bulat, sedangkan conic berujung meruncing, dan wedge bentuk ujungnya mendatar. Buah yang nampak secara visual disebut buah semu, karena berasal dari dasar bunga (receptaculum) yang berubah bentuk menjadi gumpalan daging buah. Buah muda berwarna hijau, namun setelah tua (matang) berubah menjadi berwarna merah atau kuning kemerah-merahan mengkilap (Rukmana, 1998).
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan dengan analisa deskriptif menggunakan deksipsi stroberi International Union for the Protection of new Varietes of plants (UPOV) revisi tanggal 28 Maret 2012. Penelitian ini dilaksanakan pada Januari – Agustus 2012 di KPTlekung (950 m dpl) dan KP Sumber Brantas (1400 m dpl).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Perbaikan kualitas dan kuantitas stroberi dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah program pemuliaan tanaman. Prinsip pemuliaan tanaman adalah bekerja dengan keragaman yang tinggi sehingga tingkat keragaman genetik pada koleksi plasma nutfah sangat diperlukan. Oleh karena itu, Balitjestro melakukan eksplorasi ke daerah sentra-sentra produksi stroberi di Indonesia. Pada tahun 2008, Balitjestro mulai melakukan koleksi plasma nutfah stroberi dengan 6 aksesi stroberi, pada 2012 terdapat 22 aksesi. Kegiatan eksplorasi, inventarisasi, dan pelestarian plasma nutfah stroberi di Indonesia masih sangat terbatas. Hal tersebut menyebabkan pengelolaan informasi tentang tanaman koleksi menjadi tidak optimal sehingga mengacaukan data karakterisktik suatu kultivar.
Beberapa parameter yang dijadikan rujukan untuk karakterisasi yang dilakukan dengan deskriptor stroberi UPOV, 3 diantaranya yaitu:
1) Kebiasaan pertumbuhan : (1) tegak (2) semi tegak (3) menyebar
1. Tegak 2. Semi tegak
3. Menyebar
Gambar 1. Kebiasaan pertumbuhan menurut deskriptor stroberi UPOV
2) Kepadatan daun : (3) jarang (5) menengah (7) lebat
3. Jarang 5. Menengah
7. Lebat
Gambar 2. Kepadatan daun menurut deskriptor stroberi UPOV
3) Keseragaman permukaan buah : (1) merata (2) sedikit tidak merata (3) sangat tidak merata
1. Merata 2. Sedikit tidak merata
3 . Sangat tidak merata
Gambar 3. Keseragaman permukaan buah menurut deskriptor stroberi UPOV
Identifikasi morfologi suatu populasi plasma nutfah adalah suatu kegiatan memeriksa keragaman aksesi berdasarkan sejumlah karakter penciri morfologi tanaman. Karakterisasi secara morfologi merupakan pengamatan terhadap kenampakan fisik yang dapat dilihat dan diukur, seperti benuk buah, diameter buah, bobot buah, warna buah, bentuk daun dan warna daun. Karakterisasi secara morfologi memiliki kekurangan yaitu belum tentu menunjukkan keragaman genetik yang sesungguhnya berbeda, karena lingkungan berpengaruh terhadap morfologi tanaman (Cahyarini dkk., 2004). Hal ini seperti yang diungkapkan oleh West and Faith (1990), bahwa karakter morfologi dipengaruhi oleh lingkungan.
Selain eksplorasi, perlu juga mengetahui kejelasan karakter yang dimiliki oleh varietas-varietas sebelum pelaksanaan pemuliaan. Pengamatan terhadap karakter tanaman dapat dilakukan terhadap penampilan morfologinya. Namun, pengamatan secara morfologi tidak akurat karena dipengaruhi oleh lingkungan sehingga dibutuhkan pendekatan secara molekuler. Penanda molekuler telah digunakan secara luas di berbagai tanaman untuk menjelaskan hubungan filogenetik dan bermanfaat pula untuk studi genetik tanaman stroberi. Penanda DNA atau molekuler semakin penting di dalam program pemuliaan karena stabilitas fenotipnya, kemampuan mendeteksi polimorfisme dan mudah dikembangkan sehingga dapat digunakan untuk membantu pemuliaan.
Berikut karakteristik 7 kultivar plasma nutfah stroberi Balitjestro:
1. Testytreet
Tanaman ini memiliki kebiasaan tumbuh tegak dan berdaun lebat. Vigor dari tanaman ini menengah. Posisi pembungaan terhadap daunnya sejajar. Tidak mengeluarkan stolon. Ukuran daunnya kecil. Warna daunnya hijau agak kekuningan. Kilap daunnya tidak ada. Tidak terdapat variegata. Perbandingan panjang dengan lebar pada daun mudanya sedikit lebih panjang. Bentuk pangkal pada daun mudanya lancip (acute). Bentuk pinggiran daun serrate to crenate. Penampang daunnya datar. Ukuran tangkainya panjang. Perilaku bulu pada tangkai mendatar. Jumlah bunganya sedikit, diameter bunganya kecil. Penyusunan petalanya jarang. Ukuran kelopak lebih besar dari mahkotanya. Stamennya ada. Perbandingan panjang dengan lebar pada petala sama besarnya. Warna petala putih. Ukuran buahnya kecil. Bentuk buahnya rhomboid. Warna buah merah medium. Keseragaman warna buah merata. Kilap buah tidak ada. Keseragaman permukaan merata. Posisi achene diatas permukaan. Posisi penempelan kelopak pada buah diatas. Perilaku sepala kesamping. Kekerasan buah sangat lembut. Warna daging buah putih. Warna bagian tengah daging buah putih. Rongga pada buah menengah. Menurut teknisi lapangan Balitjestro, walaupun kultivar ini
berbuah kecil namun tanaman ini tahan terhadap penyakit tular tanah.
Gambar 4. Stroberi Testytreet
2. Lokal Berastagi
Gambar 5. Lokal Berastagi
Lokal Berastagi merupakan kultivar yang berasal dari Berastagi. Tanaman ini memiliki kebiasaan tumbuh semi tegak dan kepadatan daunnya menengah. Vigor dari tanaman ini kuat. Posisi pembungaan berada dibawah daun. Jumlah stolon banyak. Warna antosianin pada stolon menengah. Ukuran daunnya besar. Warna daunnya
hijau medium. Kilap daunnya menengah. Tidak terdapat variegata. Perbandingan panjang dengan lebar pada daun mudanya sedikit lebih panjang. Bentuk pangkal pada daun mudanya bulat (rounded). Bentuk pinggiran daun serrate to crenate. Penampang daunnya datar. Ukuran tangkainya panjang. Perilaku bulu pada tangkai mendatar. Jumlah bunganya menengah, diameter bunganya besar. Penyusunan petalanya bersentuhan. Ukuran kelopak lebih besar dari mahkotanya.Stamennya ada. Perbandingan panjang dengan lebar pada petala sama besarnya. Warna petala putih. Perbandingan panjang dengan lebar pada buah sama besarnya. Ukuran buahnya menengah. Bentuk buahnya conical. Warna buah merah tua. Keseragaman warna buah sedikit tidak merata. Kilap buah menengah. Keseragaman permukaan merata. Posisi achene dibawah permukaan. Posisi penempelan kelopak pada buah diatas. Perilaku sepala keatas. Diameter kelopak hubungannya dengan diameter buah sama besar. Kekerasan buah menengah.
3. Rosalinda
Gambar 6. Stroberi Rosa Linda
Rosalinda merupakan kultivar yang berasal dari Bedugul, Bali. Kultivar ini termasuk tanaman stoberi yang menghasilkan produksi tertinggi diantara tanaman stroberi lainnya. Tanaman ini memiliki kebiasaan tumbuh tegak dan kepadatan daunnya menengah. Vigor dari tanaman ini menengah. Posisi pembungaan terhadap daunnya sejajar.
Jumlah stolonnya sedikit. Warna antosianin pada stolon tidak ada. Ukuran daunnya menengah. Warna daunnya hijau medium. Kilap daunnya tidak ada. Tidak terdapat variegata. Perbandingan panjang dengan lebar pada daun mudanya sama besarnya. Bentuk pangkal pada daun mudanya bulat (rounded). Bentuk pinggiran daun serrate to crenate. Penampang daunnya datar. Ukuran tangkainya panjang. Perilaku bulu pada tangkai mendatar. Jumlah bunganya menengah. Diameter bunganya besar. Penyusunan petalanya bersentuhan. Ukuran kelopak lebih besar dari mahkotanya. Stamennya ada. Perbandingan panjang dengan lebar pada petala sama besarnya. Warna petala putih. Perbandingan panjang dengan lebar pada buah lebih panjang. Ukuran buahnya besar. Bentuk buahnya ovoid. Warna buah merah tua. Keseragaman warna buah merata. Kilap buah menengah. Keseragaman permukaan merata. Posisi achene dibawah permukaan. Posisi penempelan kelopak pada buah diatas. Perilaku sepala keatas. Diameter kelopak hubungannya dengan diameter buah sama besar. Kekerasan buah menengah.
4. Chandler
Gambar 7. Stroberi Chandler
Tanaman ini memiliki kebiasaan tumbuh tegak dan kepadatan daunnya menengah. Vigor dari tanaman ini menengah. Posisi pembungaan berada dibawah daun. Jarang mengeluarkan stolon. Warna antosianin pada stolon lemah. Ukuran daunnya medium. Warna daunnya hijau medium. Kilap daunnya menengah. Tidak terdapat variegata. Perbandingan panjang dengan lebar pada daun
mudanya sedikit lebih panjang. Bentuk pangkal pada daun mudanya tumpul (obtuse). Bentuk pinggiran daun serrate to crenate. Penampang daunnya datar. Ukuran tangkainya panjang. Perilaku bulu pada tangkai sedikit keluar. Jumlah bunganya menengah. Diameter bunganya menengah. Penyusunan petalanya tumpang tindih. Ukuran kelopak sama besarnya dengan mahkotanya. Stamennya ada. Perbandingan panjang dengan lebar pada petala sama besarnya. Warna petala putih. Perbandingan panjang buah cukup pendek hubungannya dengan lebar. Ukuran buahnya kecil. Bentuk buahnya conical. Warna buah merah agak oranye. Keseragaman warna buah merata. Kilap buah menengah. Keseragaman permukaan merata. Posisi achene sejajar di permukaan permukaan. Posisi penempelan kelopak pada buah disisipkan. Perilaku sepala kesamping. Kekerasan buah keras. Warna daging buah merah terang. Warna bagian tengah daging buah merah terang. Rongga pada buah tidak ada.
5. Aerut
Gambar 8. Stroberi Aerut
Aerut merupakan kultivar yang berasal dari Bedugul, Bali. Tanaman ini memiliki kebiasaan tumbuh tegak dan kepadatan daunnya menengah. Vigor dari tanaman ini menengah. Jarang mengeluarkan stolon. Ukuran daunnya menengah. Warna daunnya hijau medium. Kilap daunnya menengah. Tidak terdapat variegata. Perbandingan panjang dengan lebar pada daun mudanya lebih pendek. Bentuk pangkal pada daun mudanya bulat (rounded). Bentuk pinggiran daun serrate to crenate. Penampang daunnya datar. Ukuran tangkainya menengah. Perilaku bulu pada tangkai mendatar. Jumlah bunganya sedikit. Diameter bunganya menengah. Penyusunan petalanya jarang, ukuran kelopak lebih besar dari mahkotanya. Stamennya ada. Perbandingan panjang dengan lebar pada petala sama besarnya. Warna petala putih. Perbandingan panjang dengan lebar pada buah lebih panjang. Ukuran buahnya menengah. Bentuk buahnya conical. Warna buah merah tua. Keseragaman warna buah merata. Kilap buah
menengah. Keseragaman permukaan merata. Posisi achene dibawah permukaan. Posisi penempelan kelopak pada buah diatas. Perilaku sepala keatas. Diameter kelopak hubungannya dengan diameter buah sama besar. Kekerasan buah menengah.
6. Sweet Charlie
Tanaman ini memiliki kebiasaan tumbuh semi tegak dan kepadatan daunnya menengah. Vigor dari tanaman ini menengah. Posisi pembungaan berada dibawah daun. Jumlah stolon menengah. Warna antosianin pada stolon kuat. Ukuran daunnya besar. Warna daunnya hijau medium. Kilap daunnya menengah. Tidak terdapat variegata. Perbandingan panjang dengan lebar pada daun mudanya sedikit lebih panjang. Bentuk pangkal pada daun mudanya bulat (rounded). Bentuk pinggiran daun serrate to crenate. Penampang daunnya datar. Ukuran tangkainya panjang. Perilaku bulu pada tangkai mendatar. Jumlah bunganya banyak. Diameter bunganya menengah. Penyusunan petalanya bersentuhan. Ukuran kelopak lebih besar dari mahkotanya. Stamennya ada. Perbandingan panjang dengan lebar pada petala sama besarnya. Warna petala putih. Perbandingan panjang dengan lebar pada buah sama besarnya. Ukuran buahnya menengah. Bentuk buahnya globose. Warna buah merah agak oranye. Keseragaman warna buah merata. Kilap buah menengah. Keseragaman permukaan merata. Posisi achene sejajar dengan permukaan. Posisi penempelan kelopak pada buah sejajar. Perilaku sepala kesamping. Diameter kelopak hubungannya dengan diameter buah sama besar. Kekerasan buah menengah. Warna daging buah merah agak oranye. Warna bagian tengah daging buah putih. Rongga pada buah tidak ada.
Gambar 9. Stroberi Sweet Charlie
7. Selva
Tanaman ini memiliki kebiasaan tumbuh semi tegak dan berdaun lebat. Vigor dari tanaman ini kuat. Posisi pembungaan sejajar dengan daun. Jumlah stolon menengah. Warna antosianin pada stolon menengah. Ukuran daunnya menengah. Warna daunnya hijau gelap. Kilap daunnya tidak ada. Tidak terdapat variegata. Perbandingan panjang dengan lebar pada daun mudanya sedikit lebih panjang. Bentuk pangkal pada daun mudanya tumpul (obtuse). Bentuk pinggiran daun serrate to crenate. Penampang daunnya datar. Ukuran tangkainya medium. Perilaku bulu pada tangkai mendatar. Jumlah bunganya
banyak. Diameter bunganya menengah. Penyusunan petalanya bersentuhan. Ukuran kelopak lebih kecil dari mahkotanya. Stamennya ada. Perbandingan panjang dengan lebar pada petala sama besarnya. Warna petala putih. Perbandingan panjang dengan lebar pada buah lebih panjang. Ukuran buahnya menengah. Bentuk buahnya conical. Warna buah medium oranye. Keseragaman warna buah tidak merata. Kilap buah tidak ada. Keseragaman permukaan merata. Posisi achene diatas permukaan. Posisi penempelan kelopak pada buah sejajar. Perilaku sepala kesamping. Diameter kelopak hubungannya dengan diameter buah sama besar. Kekerasan buah menengah. Warna daging buah merah terang. Warna bagian tengah daging buah merah terang. Rongga pada buah tidak ada.
Gambar 10. Stroberi Selva
KESIMPULAN
Karakterisasi secara morfologi merupakan pengamatan terhadap kenampakan fisik yang dapat dilihat dan diukur, seperti benuk buah, diameter buah, bobot buah, warna buah, bentuk daun dan warna daun. Karakterisasi secara morfologi memiliki kekurangan yaitu belum tentu menunjukkan keragaman genetik yang sesungguhnya berbeda, karena lingkungan berpengaruh terhadap morfologi tanaman. Karakterisasi sebaiknya dilakukan pada saat tanaman tumbuh optimal.
UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih kami ucapkan kepada Basuki Joko sudarmanto dan Imam Rohmat yang telah membantu jalannya penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
Ashari, S. 1995. Hortikultura Aspek Budaya. Universitas Indonesia Press, Jakarta.
Budiman, S., dan D., Saraswati, 2008. Berkebun Stroberi Secara Komersial. Penebar Swadaya, Jakarta.
Cahyarini, Rita Dewi, Ahmad Yunus, dan Edi Purwanto. 2004. Identifikasi Keragaman Genetik Beberapa Varietas Lokal Kedelai di Jawa Berdasarkan Analisis Isozim. Agrosains. 6 : 79-83.
Hanif, Z dan Tim Plasma nutfah. 2012. Budidaya Stroberi (Fragaria x ananassa). http://balitjestro.litbang.pertanian.go.id/id/522.html. Diakses pada 26 Oktober 2014.
Rahmatia, D. dan P. Pitriana. 2000. Bercocok Tanam Stroberi. Sinar Wadja Lestari, Jakarta.
Rukmana, R. 1998. Stroberi, Budidaya dan Pascapanen. Kanisius, Yogyakarta.
West, J. G. and D. P. Faith. 1990. Data, Methods and Assumption in Phylogenetic Inference. Australian Syst. Bot. 3: 9-20.