Modul

26 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

MODUL

MODUL

KEPERAWATAN PALIATIF DAN MENJELANG

KEPERAWATAN PALIATIF DAN MENJELANG

AJAL

AJAL

BOBOT 3 SKS (2T; 1P)

BOBOT 3 SKS (2T; 1P)

KURIKULUM 2013

KURIKULUM 2013

Oleh Oleh ... ... Disajikan Pada Disajikan Pada

Proses Belajar Mengajar Semester I (SATU) Proses Belajar Mengajar Semester I (SATU)

DIPLOMA III Jurusan Keera!atan DIPLOMA III Jurusan Keera!atan

POLITEKNIK KESEATAN GORONTALO

POLITEKNIK KESEATAN GORONTALO

KEMENTERI

KEMENTERIAN KES

AN KESEA

EAT

TAN RI

AN RI

201!"201#

(2)

BAB I BAB I

KEPERAWATAN PALIATIF DAN MENJELANG AJAL KEPERAWATAN PALIATIF DAN MENJELANG AJAL

A.

A. PePendndahahululuauann 1.

1. DeDeskskriripspsi Mi Maaa Ka Kululiaiahh Mat

Mata a kukulialiah h inini i memempmpelelajaajari ri tententatang ng prprespespekektitif f kekepeperawrawataatan n dadan n kokonsnsepep  perawatan

 perawatan paliatif, paliatif, etik, etik, kebijakan, kebijakan, teknik teknik menyampaikan menyampaikan berita berita buruk,buruk, komu

komunikatonikator, kebutuhan r, kebutuhan psikpsikologis pasien ologis pasien paliatifpaliatif, , manajemmanajemen en nyerinyeri, , berbaberbagaigai maca

macam m teraterapai pai komkomplemplemententer, er, tintinjauajauan n agaagama ma dan dan bubudaydaya a tententantang g penpenyakyakitit kronik.

kronik.

!.

!. K"#peensi DasarK"#peensi Dasar

Setelah mengikuti pembelajaran ini, bila diberi kasus, mahasiswa mampu: Setelah mengikuti pembelajaran ini, bila diberi kasus, mahasiswa mampu: a.

a. MenjelMenjelaskan askan perspeperspektif ktif keperakeperawatan watan dan kdan konsep onsep perawaperawatan ptan paliatifaliatif..  b.

 b. Menjelaskan etik dan kebijakan tentang perawatan paliatif.Menjelaskan etik dan kebijakan tentang perawatan paliatif. c.

c. BerkoBerkomunikmunikasi denasi dengan pagan pasien dasien dan kelun keluarga yarga yang menang mendapat pdapat perawatan erawatan paliatipaliatif.f. d.

d. MenMenjelajelaskaskan paton patofisifisioloologi penygi penyakit terakit terminminal.al. e.

e. MelakuMelakukan pkan pengkaengkajian bjian bio, pio, psiko, siko, sosiososio, spri, spritual dtual dan kuan kulturalltural.. f.

f. MenyMenyusun usun rencanrencana asuha asuhan kan keperaweperawatan atan pada pada pasien pasien penypenyakit akit terminterminal.al.

B.

B. PPeen$n$a%a%iaiann 1.

1. PenPen&er&eriaian Persn Perspekpeki' Kepi' Keperaera(a(aanan a.

a. DeDe'i'ininisi si KeKepeperara(a(aaann 1)

1) Pada Pada lokaklokakarya arya nasionasional nal 1!" telah 1!" telah disepadisepakati kati pengpengertian keperawatanertian keperawatan seb

sebagagai ai beberirikukut, t, kekepeperawrawatatan an adadalaalah h pepelaylayananan an prprofofesessisiononal al yayangng merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan berdasarkan ilmu dan merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan berdasarkan ilmu dan kiat

kiat kepkeperaerawatawatan, n, berberbenbentuk tuk pelpelayaayanan nan bio bio psipsiko ko sossosio io spispirituritual al yayangng komprehensif yang ditujukan kepada indi#idu, kelompok dan masyarakat komprehensif yang ditujukan kepada indi#idu, kelompok dan masyarakat  baik

 baik sakit sakit maupun maupun sehat sehat yang yang mencakup mencakup seluruh seluruh proses proses kehidupankehidupan manusia.

manusia. !)

!) $l$lororenence ce %i%ighghtitingngale ale &1&1!!'( '( memendndefiefininisiksikan an kekepeperawrawatatan an sebsebagagaiai  berikut, keperawatan adalah

 berikut, keperawatan adalah menemmenempatkan patkan pasien pasien dalam dalam kondkondisi isi palinpalingg  baik bagi alam dan isinya untuk bertindak.

 baik bagi alam dan isinya untuk bertindak. *)

*) )ali)alista sta *oy *oy &1&1+( +( menmendefidefinisnisikaikan n kepkeperawerawatan atan mermerupaupakankan definisidefinisi ilm

ilmiah iah yanyang g berberoriorientaentasi si kepkepada ada prapraktiktik k kepkeperaerawatawatan n yanyang g memmemilikilikii sekumpulan pengetahuan untuk memberikan pelayanan kepada klien.

sekumpulan pengetahuan untuk memberikan pelayanan kepada klien. +)

+) Martha -. *ogers mendifinisikan keperawatan adalah ilmu humanisti atauMartha -. *ogers mendifinisikan keperawatan adalah ilmu humanisti atau hum

humanianitaritarian an yanyang g menmenggaggambambarkarkan n dan dan memmemperperjelajelas s bahbahwa wa manmanusiusiaa dalam strategi yang utuh dan dalam perkembangan hipotesis secara umum dalam strategi yang utuh dan dalam perkembangan hipotesis secara umum

(3)

dengan memperkirakan prinsip  prinsip dasar untuk ilmu pengetahuan  praktis. /lmu keperawatan adalah ilmu kemanusiaan, mempelajari tentang

alam dan hubungannya dengan perkembangan manusia.

,) 0ari keempat definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa keperawatan adalah upaya pemberian pelayananasuhan yang bersifat humanistic dan  professional, holistic berdasarkan ilmu dan kiat, standart pelayanan

dengan berpegang teguh kepada kode etik yang melandasi perawat  professional secara mandiri atau melalui upaya kolaborasi.

-. Tu%uan Kepera(aan

1( Memberi bantuan kepada klien &seperti memberikan informasi dan  pencapaian haknya sebagai klien(

2( Memenuhi dasar kebutuhan klien &makanan, minuman dan obat3obatan( "( Memberi kesempatan kepada perawat untuk mengembangkan ilmunya

&walaupun sudah jadi perawat tetap menggali ilmu pengetahuan agar tidak  ketinggalan 4aman(

5( Memelihara hubungan kerja antar parawat &keperawatan membantu  perawat untuk hidup seperti keluarga, tanpa adanya iri diantara perawat,  perawat dengan perawat bisa saja saling bertukar pikiran dan saling memberi masukan sehingga terciptalah keperawatan yang seperti diharapkan(.

. /iri0iri Kepera(aan Pr"'essi"nal

1( Berorientasi pada pelayanan masyarakat. 2( Berbasis keahlian pada jenjang tinggi. "( 6erbuka dengan ide3ide baru.

5( Memilii rasa humor.

'( 0apat berinteraksi dengan orang lain secara harmonis. ( Berpenampilan baik.

+( Periang.

!( 0alam bekerja tidak semata3mata berorientasi karena uang. !( Memiliki kode etik.

( Memiliki organisasi profesi. d. Nilai0Nilai Dala# Kepera(aan

 %ilai adalah keyakinan personal mengenai harga atas suatu ide, tingkah laku, kebiasaan atau objek yang menyusun suatu standar yang mempengaruhi tingkah laku. &*okeach, 1+"(.

e. Nilai dala# Kepera(aan Pr"'essi"nal 1( %ilai Perawatan

(4)

7suhan yang berupaya untuk melindungi dan meningkatkan harga diri serta integritas orang lain.

2( %ilai -sensial

Standar tingkah laku yang menggambarkan sejumlah nilai yang dianut  profesi.

"(  Aesthetics &8eindahan(

8ualitas objek suatu peristiwa atau kejadian, seseorang memberikan kepuasan termasuk penghargaan, kreatifitas, imajinasi, sensitifitas, dan kepedulian.

5(  Altruisme &Mengutamakan orang lain(

8esediaan memperhatikan kesejahteraan orang lain termasuk keperawatan, komitmen, arahan, kedermawanan atau kemurahan hati, serta ketekunan. '(  Equality &8esetaraan(

Memiliki hak atau status yang sama termasuk penerimaan dengan sifat asertif, kejujuran harga diri, dan toleransi.

(  Freedom &8ebebasan(

Memiliki kapasitas untuk memilih kegiatan termasuk percaya diri, harapan, disiplin, serta kebebasan dalam pengarahan diri sendiri.

+(  Human dignity &Martabat manusia(

Berhubungan dengan penghargaan yang lekat terhadap martabat manusia sebagai indi#idu termasuk didalamnya kemanusiaan, kebaikan,  pertimbangan dan penghargaan penuh terhaddap kepercayaan.

!(  Justice &8eadilan(

Menjunjung tinggi moral dan prinsip3prinsip legal termasuk objektifitas, moralitas, integritas, dorongan dan keadilan serta kewajaran.

( 6ruth &8ebenaran(

Menerima kenyataan dan realita, termasuk accountability, kejujuran, keunikan dan reflektifitas yang rasional.

19( %ilai 7d#okasi

Mendukung, menjunjung dan berbicara mengenai nilai yang dianut seseorang.

'. Fun&si Nilai

1( Membentuk perilaku seseorang.

2( $ilter : menyaring hal3hal penting dalam bersosialisasi. "( Memberikan pedoman dalam pelayanan kesehatan. &. /iri dan Karakerisik Pr"'esi

1) insley &15(

 Profesi adalah suatu pekerjaan yang membutuhkan badan ilmu sebagai dasar untuk mengembangkan teori yang sistematis guna melengkapi

(5)

 banyak tantangan yang baru memerlukan pendidikan dan pelatihan yang cukup lama serta memiliki kode etik  dengan fokus utama pada pelayanan. 2( Schein -.; &12(

 Profesi merupakan suatu kumpulan atau set pekerjaan yang membangun suatu set norma yang sangat khusus yang berasal dari perannya yang khusus di masyarakat.

"( ;ughes, -.) &1"(

 Profesi merupakam suatu keahlian dalam mengetahui segala sesuatu dengan lebih baik dibandingkan orang lain &pasien(.

h. /iri0/iri Pr"'esi

1( Berorientasi pada pelayanan masyarakat.

2( Pelayanan keperawatan yang diberikan berdasarkan pada ilmu  pengetahuan

"( 7danya otonomi. 5( Memiliki kode etik.

'( 7danya organisasi profesi. i. Karakerisik Pr"'esi

1( Pekerjaan dilakukan secara menetap, mungkin seumur hidup.

2( Pekerjaan yang dilakukan memberi kepuasan karena merupakan panggilan  jiwa.

"( Memiliki keterampilan khusus menyangkut ilmu dan seni.

5( 8eputusan yang diambil didasarkan pada prinsipteori dalam kegiatan  professional.

'( Berorientasi pada asuhan untuk memenuhi kebutuhan kesehatan. ( 7suhan yang diberikan didasarkan atas kebutuhan objektif.

+( Mempunyai otonomi dalam menentukan tindakan. !( Memiliki standar etika dan praktik professional.

( Mempunyai wadah yang berbentuk organisasi profesi.

 %. Krieria Pr"'esi Kepera(aan

8riteria adalah kualitas, atribut, atau karakteristik yang dapat diukur  yang menguraikan keteramplan, pengetahuan, sikapperilaku khusus. &8enney < 7nristensen, 299(.

8elly &1!1( dalam Simamora &299(, menyebutkan kriteria profesi keperawatan meliputi :

1( =ayanan yang diberikan merupakan suatu hal yang sangat penting bagi kemanusiaan.

2( 7danya Body < 8nowledge yang khusus dipelajari.

"( *elatif bebas dan dapat mengontrol kebijakan dan aktifitas yang mereka  perbuat &otonomi(.

(6)

5( Memiliki dasar pendidikan di institusi pendidikan tinggi.

'( Memberi pelayanan dengan moti#asi kuat dan bekerja secara professional. ( 7danya kode etik.

+( 6erdapat organisasi profesi yang dapat memberikan bantuan dan dorongan dalam menerapkan standar praktik keperawatan.

!( =ayanan yang diberikan termasuk aktifitas intelektual tanggung gugat < tanggung jawab merupakan suatu tantangan besar dan harus dijawab.

k. Peran dan Fun&si Pera(a

1( Peran sebagai pemberi asuhan keperawatan.

Peran sebagai pemberi asuhan keperawatan ini dapat dilakukan  perawat dengan memeprhatikan keadaan kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan melalui pemberian pelayanan keperawatan dengan menggunakan proses keperawatan sehingga dapat ditentukan diagnosis keperawatan agar bias direncakan dan dilaksanakan tindakan yang tepat sesuai dengan tingkat kebutuhan dasar manusia, kemudian dapat die#aluasi tingkat perkembangannya. Pemberian asuhan keperawatan ini dilakukan dari yang sederhana sampai dengan kompleks.

2( Peran Sebagai 7d#ocad &pembela( 8lien

Peran ini dilakukan perawat dalam membantu klien dan keluarga dalam menginterpretasikan berbagai informasi dari pemberi pelayanan atau informasi lain khususnya dalam pengambilan persetujuan atas tindakan keperawatan yang diberikan kepada pasiennya, juga dapat  berperan mempertahankan dan melindungi hak3hak pasien yang meliputi hak atas pelayanan sebaik3baiknya, hak atas informasi tentang  penyakitnya, hak atas pri#asi, hak untuk menentukan nasibnya sendiri dan

hak untuk menerima ganti rugi akibat kelalaian. "( Peran Sebagai -dukator 

Peran ini dilakukan untuk :

a( Meningkatkan tingkat pengetahuan kesehatan dan kemampuan klien mengatasi kesehatanya.

 b( Perawat memberi informasi dan meningkatkan perubahan perilaku klien.

5( Peran Sebagai 8oordinator 

Peran ini dilaksanakan dengan mengarahkan, merencanakan serta mengorganisasi pelayanan kesehatan dari tim kesehatan sehingga

(7)

 pemeberian pelayanan kesehatan dapat terarah serta sesuai dengan kebutuhan klien.

6ujuan Perawat sebagi 8oordinator adalah :

a( >ntuk memenuhi asuhan kesehatan secara efektif, efisien dan menguntungkan klien.

 b( Pengaturan waktu dan seluruh aktifitas atau penanganan pada klien. c( Menggunakan keterampilan perawat untuk :

 Merencanakan

 Mengorganisasikan

 Mengarahkan

 Mengontrol

'( Peran Sebagai 8olaborator 

Perawat disini dilakukan karena perawat bekerja melalui tim kesehatan yang terdiri dari dokter fisioterapis, ahli gi4i, dan lain3lain dengan berupaya mengidentifikasi pelayanan keperawatan yang diperlukan termasuk diskusi atau tukar pendapat dalam penentuan bentuk pelayanan selanjutnya.

( Peran Sebagai 8onsultan

Peran disini adlah sebagai tempat konsultasi terhadap masalah atau tindakan keperawatan yang tepat untuk diberikan. Peran ini dilakukan atas  permintaan klien terhadap informasi tentang tujuan pelayanan keperawatan

yang diberikan.

+( Peran Sebagai Pembaharu

Peran sebagai pembaharu dapat dilakukan dengan mengadakan  perencanaan, kerja sama, perubahan yang sistematis dan terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan. Peran perawat sebagai  pembaharu dipengaruhi oleh beberapa factor diantaranya :

a( 8emajuan teknologi  b( Perubahan =isensi

c( *egulasi

d( Meningkatnya peluang pendidikan lanjutan

e( Meningkatnya berbagai tipe petugas asuhan kesehatan. l. Fun&si Pera(a

1( $ungsi independen.

Merupakan fungsi mandiri dan tidak tergantung pada orang lain, dimana perawat dalam melaksanakan tugasnya dilakukan secara sendiri dengan keputusan sendiri dalam melakukan tindakan dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar manusia seperti pemenuhan kebutuhan fisiologis &pemenuhan kebutuhan oksigenasi, pemenuhan kebutuhan cairan

(8)

dan elektrolit, pemenuhan kebutuhan nutrisi, pemenuhan kebutuhan akti#itas, dan lain3lain(, pemenuhan kebutuhan keamanan dan kenyamanan, pemenuhan kebutuhan cinta mencintai, pemenuhan kebutuhan harga diri dan aktualisasi diri.

2( $ungsi 0ependen

Merupakan fungsi perawat dalam melaksanakan kegiatannya atas  pesan atau instruksi dari perawat lain. Sehingga sebagai tindakan  pelimpahan tugas yang diberikan. ;al ini biasanya dilakukan oleh perawat spesialis kepada perawat umum, atau dari perawat primer ke perawat  pelaksana.

"( $ungsi /nterdependen

$ungsi ini dilakukan dalam kelompok tim yang bersifat saling ketergantungan di antara tim satu dengan lainnya fungsi ini dapat terjadi apabila bentuk pelayanan membutuhkan kerjasama tim dalam pemberian  pelayanan seperti dalam memberikan asuhan keperawatan pada penderita

yang mempunyai penyakit kompleks keadaan ini tidak dapat diatasi dengan tim perawat saja melainkan juga dari dokter ataupun lainya, seperti dokter dalam memberikan tanda pengobatan bekerjasama dengan perawat dalam pemantauan reaksi obat yang telah di berikan.

!. K"nsep Pera(aan Paliai' 

a) Pen&erian Kepera(aan Palliai' 

Perawatan paliatif &dari bahasa =atin??palliare,??untuk jubah( adalah setiap bentuk perawatan medis atau perawatan yang berkonsentrasi pada  pengurangan keparahan gejala penyakit, daripada berusaha untuk 

menghentikan, menunda, atau sebaliknya perkembangan dari penyakit itu sendiri atau memberikan menyembuhkan.

6ujuannya adalah untuk mencegah dan mengurangi penderitaan dan meningkatkan kualitas hidup orang menghadapi yang serius, penyakit yang kompleks. %on3rumah sakit perawatan paliatif tidak tergantung pada  prognosis dan ditawarkan dalam hubungannya dengan kuratif dan semua  bentuk lain yang sesuai perawatan medis.

0i 7merika Serikat, pembedaan dibuat antara perawatan paliatif  rumah sakit umum dan perawatan, yang memberikan perawatan paliatif untuk 

(9)

mereka pada akhir kehidupan@ dua aspek perawatan berbagi filosofi yang sama tetapi berbeda dalam sistem pembayaran mereka dan lokasi layanan.

0i tempat lain, misalnya di /nggris, pembedaan ini tidak operatif: di samping penampungan khusus, tim paliatif non3perawatan berbasis rumah sakit memberikan perawatan kepada mereka dengan membatasi hidup  penyakit pada setiap tahap penyakit. /stilah Aperawatan paliatifA umumnya mengacu pada setiap perawatan yang meredakan gejala, apakah ada atau tidak  ada harapan penyembuhan dengan cara lain, dengan demikian, ; baru3  baru pernyataan panggilan perawatan paliatif Apendekatan yang meningkatkan kualitas hidup pasien dan mereka keluarga menghadapi masalah yang terkait dengan penyakit yang mengancam jiwa.

Perawatan paliatif juga dapat digunakan untuk mengurangi efek  samping dari pengobatan kuratif, seperti mengurangi rasa mual yang  berhubungan dengan kemoterapi. /stilah Aperawatan paliatifA semakin digunakan berkaitan dengan penyakit lain selain kanker seperti kronis, gangguan paru progresif, penyakit ginjal, gagal jantung kronis, ;/C  7/0S, dan kondisi neurologis progresif. Selain itu, bidang yang berkembang pesat  perawatan paliatif pediatrik telah menunjukkan dengan jelas kebutuhan untuk 

layanan diarahkan khusus untuk anak3anak dengan penyakit serius. Meskipun konsep perawatan paliatif bukanlah hal yang baru, kebanyakan dokter secara tradisional berkonsentrasi pada mencoba untuk menyembuhkan pasien. Pengobatan untuk pengentasan gejala dipandang sebagai berbahaya dan dilihat sebagai kecanduan mengundang dan efek samping yang tidak  diinginkan.

$okus pada kualitas hidup pasien telah meningkat sangat selama dua  puluh tahun terakhir. 0i 7merika Serikat saat ini, ''D dari rumah sakit

dengan lebih dari 199 tempat tidur menawarkan program perawatan paliatif, dan hampir seperlima dari rumah sakit masyarakat memiliki program  perawatan paliatif. Sebuah perkembangan yang relatif baru adalah konsep dari

tim perawatan kesehatan khusus yang sepenuhnya diarahkan untuk perawatan  paliatif: tim perawatan paliatif. 7da sering kebingungan antara istilah rumah

sakit dan perawatan paliatif. 0i 7merika Serikat, rumah sakit layanan dan  program perawatan paliatif berbagi tujuan yang sama untuk memberikan  bantuan gejala dan manajemen nyeri. %on3rumah sakit perawatan paliatif 

(10)

diharapkan untuk pulih sepenuhnya, untuk hidup dengan penyakit kronis untuk waktu yang lama, atau mengalami perkembangan penyakit. Sebaliknya, meskipun perawatan rumah sakit juga paliatif, yang berlaku untuk jangka rumah sakit perawatan diberikan menjelang akhir kehidupan.

0efinisi perawatan paliatif telah mengalami beberapa e#olusi. menurut ; pada 19 perawatan palliati#e adalah perawatan total dan aktif dari untuk penderita yang penyakitnya tidaklagi responsi#e terhadap pengobatan kuratif. Berdasarkan definisi ini maka jelas Perawatan Paliatif hanya diberikan kepada penderita yang penyakitnya sudah tidak respossif terhadap  pengobatankuratif. 7rtinya sudah tidak dapat disembuhkan dengan upaya kuratif apapun. 6etapi definisiPerawatan Paliatif menurut ; 1' tahun kemudian sudah sangat berbeda.

0efinisi perawatan paliatif yang diberikan oleh ; pada tahun 299'  bahwa perawatan paliatif adalah sistemperawatan terpadu yang bertujuan

meningkatkan kualitas hidup, dengan cara meringankan nyeridan penderitaan lain, memberikan dukungan spiritual dan psikososial mulai saat diagnosaditegakkan sampai akhir hayat dan dukungan terhadap keluarga yang kehilanganberduka.

0i sini dengan jelas dikatakan bahwa Perawatan Paliatif diberikan sejak diagnosa ditegakkansampai akhir hayat. 7rtinya tidak memperdulikan  pada stadium dini atau lanjut, masih bisadisembuhkan atau tidak, mutlak 

Perawatan Paliatif harus diberikan kepada penderita itu.Perawatan Paliatif  tidak berhenti setelah penderita meninggal, tetapi masih diteruskan denganmemberikan dukungan kepada anggota keluarga yang berduka.

Perawatan paliatif tidak hanyasebatas aspek fisik dari penderita itu yang ditangani, tetapi juga aspek lain seperti psikologis, sosialdan spiritual.6itik sentral dari perawatan adalah pasien sebagai manusia seutuhnya, bukan hanya penyakit yangdideritanya. 0an perhatian ini tidak  dibatasi pada pasien secara indi#idu, namun diperluas sampaimencakup keluarganya. >ntuk itu metode pendekatan yang terbaik adalah melalui  pendekatanterintegrasi dengan mengikutsertakan beberapa profesi terkait. 0engan demikian, pelayanan padapasien diberikan secara paripurna, hingga meliputi segi fisik, mental, social, dan spiritual. Makatimbullah pelayanan  palliati#e care atau perawatan paliatif yang mencakup pelayanan terintegrasiantara dokter, perawat, terapis, petugas social3medis, psikolog,

(11)

rohaniwan, relawan, dan profesilain yang diperlukan.=ebih lanjut, rganisasi 8esehatan 0unia &;( menekankan lagi bahwa pelayanan paliatif berpijak   pada pola dasar berikut ini :

1( Meningkatkan kualitas hidup dan menganggap kematian sebagai  proses yang normal.

2( 6idak mempercepat atau menunda kematian.

"( Menghilangkan nyeri dan keluhan lain yang menganggu. 5( Menjaga keseimbangan psikologis dan spiritual.

'( Berusaha agar penderita tetap aktif sampai akhir hayatnya. ( Berusaha membantu mengatasi suasana dukacita pada keluarga.

0ari data diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan dari perawatan  palliati#e adalah untukmengurangi penderitaan pasien, memperpanjang umurnya, meningkatkan kualitas hidupnya, jugamemberikan support kepada keluarganya. Meski pada akhirnya pasien meninggal, yang terpentingsebelum meninggal dia sudah siap secara psikologis dan spiritual, serta tidak stres menghadapipenyakit yang dideritanya.

-. Perke#-an&an Kepera(aan Paliai'

0i negara maju, perawatan khusus bagi mereka yang akan segera meninggalmerupakan kolaborasi antara keluarga dan para profesional, dan memberikan layanan medis,psikologis, social dan spiritual.Pengobatan paliatif   bermaksud mengurangi nyeri dan mengurangi symptom selain nyeri

sepertimual, muntah dan depresi. Perawatan bagi mereka yang akan segera meninggal pertama didirikandi /nggris melalui lokakarya cicely Saunders di *S 8husus St. )hristopher, *S khusus tersebut pindahke 7S pada tahun 1+93 an. *S khusus pertama di 7S adalah *S %ew ;a#en yang kemudian menjadi *Skhusus )onnecticut. *S tersebut kemudian menyebar ke seluruh %egara.0i /ndonesia perawatan paliatif baru dimulai pada tanggal 1 $ebruari 12 di *S 0r. Soetomo&Surabaya(, disusul *S )ipto Mangunkusumo &Eakarta(, *S 8anker 0harmais &Eakarta(, *S ahidinSudirohusodo &Makassar(, *S 0r. Sardjito &Fogyakarta(, dan *S Sanglah &0enpasar(.0i *S 0r. Soetomo  perawatan paliatif dilakukan oleh Pusat Pengembangan Paliatif dan Bebas  %yeri.Pelayanan yang diberikan meliputi rawat jalan, rawat inap &konsultatif(, rawat rumah,day care, danrespite care.Pengertian rawat jalan dan rawat inap sudah cukup jelas. *awat rumah &home care( dilakukandengan melakukan kunjungan ke rumah3rumah penderita, terutama yang karena alasan3 alasantertentu tidak dapat datang ke rumah sakit. 8unjungan dilakukan oleh

(12)

tim yang terdiri atas dokterpaliatif, psikiater, perawat, dan relawan, untuk  memantau dan memberikan solusi atas masalah3masalah yang dialami  penderita kanker dan keluarganya, bukan hanya menyangkut

masalahmedisbiologis, tetapi juga masalah psikis, sosial, dan spiritual.

0ay care merupakan layanan untuk tindakan medis yang tidak  memerlukan rawat inap, misalnyaperawatan luka, kemoterapi, dsb. Sedangrespite caremerupakan layanan yang bersifat psikologis.0i sini  penderita maupun keluarganya dapat berkonsultasi dengan psikolog atau  psikiater,bersosialisasi dengan penderita kanker lain, mengikuti terapi musik, atau sekedar bersantai danberistirahat. Bisa juga menitipkan penderita kanker  &selama jam kerja(, jika pendamping ataukeluarga yang merawatnya ada keperluan lain

. Perke#-an&an "spie /are

0i /ndonesia, perawatan di hospis atau ;ospice care merupakan hal yang baru. $alsafah ;ospice )are adalah manusia yang menderita harus dibantu dan diringankan penderitaannya, agar kualitas hidupnya dapat ditingkatkan selama sakit sampai ajal, dan meninggal dengan tenang.

d. Le#-a&a Pela$anan Kesehaan2 erdiri dari 3 1( *awat Ealan

2( /nstitusi 3) Hospice.

) !ommunity "ased Agency e. Hospice Care

7dalah perawatan pasien terminal &stadium akhir( dimana pengobatan terhadappenyakitnya tidak diperlukan lagi. Perawatan ini bertujuan meringankan penderitaan dan rasa tidaknyaman dari pasien, berlandaskan  pada aspek bio3psiko3sosial3spiritual. & Hospice Home !are, 2911( #he focus

of hospice relies on the belief that each of us has the right to die pain$free and  %ithdignity& and that our lo'ed ones %ill recei'e the necessary support to allo% us to do so.

() Hospice focuses on caring& not curing and& in most cases care is pro'ided  in the persons home.

*) Hospice care also is pro'ided in freestanding hospice centers& hospitals& and nursing homes andother long$term care facilities.

(13)

3) Hospice ser'ices are a'ailable to patients of any age& religion& race& or  illness.

) Hospice care is co'ered under +edicare& +edicaid& most pri'ate insurance plans& H+,s& andother managed care organi-ations.

'. Ruan& Lin&kup

1( Pasien yg tinggal di daerah pedalaman.

2( Pasien dengan )a, heart disease, 7/0S, kidney and lung disease. "( Pasien di nursing home.

5( Pasien yg tinggal sendirian &. Tu%uan Pela$anan "spie /are

1( Meringankan pasien dari penderitaannya.

2( Memberikan dukungan moril, spirituil maupun pelatihan praktis dalam hal  perawatan pasienbagi keluarga pasien dan pelaku rawat.

"( Memberikan dukungan moril bagi keluarga pasien selama masa duka cita. h. Ti# Pelaksana "spie /are

1( 0okter. 2( Perawat.

"( Pekerja Sosial. 5( *elawan.

i. Benuk "spie /are

() #he nstitutionHospice !are *) HospiceHome !are

"(  Palliati'e !are

 %. 4andar Asuhan Keper(aan

1( Standard / : Perawat mengumpulkan data kesehatan klien

2( Standard // : 0alam menetapkan diagnosa keperawatan, perawat melakukan analisa terhadap data yangtelah terkumpul

"( Standard /// : Perawat mengidentifikasi hasil yang diharapkan baik dari klien maupun lingkungannya.

5( Standard /C : Perawat mengembangkan rencana asuhan keperawatan dengan menetapkan inter#ensi yangakan dilakukan untuk mencapai hasil yang diharapkan.

'( Standard C : Perawat melaksanakan rencana inter#ensi yang telah di tetapkan dalam perencanaan.

( Standard C/ : Perawat melakukan e#aluasi terhadap kemajuan klien yang mengarah ke pencapaian hasil yangdiharapkan.

k. 4andar Kiner%a Pr"'esi"nal 5Pr"'esi"nal Per'"r#ane)

1( Standard / : 8ualitas asuhan keperawatan, perawat melakukan e#aluasi terhadap kualitas dan efektifitaspraktik keperawatan secara sistematis.

(14)

2( Standard // :  Performance Appraisal  , perawat melakukan e#aluasi diri sendiri terhadap praktik keperawatanyang dilakukannya dihubungkan dengan standar praktik professional, hasil penelitian ilmiahdan peraturan yang berlaku.

"( Standard /// : Pendidikan, perawat berupaya untuk selalu meningkatkan  pengetahuan dan kemampuan dirinya dalam praktik keperawatan.

5( Standard /C : 8esejawatan, perawat berinteraksi dan berperan aktif dalam  pengembangan professionalisme sesama perawat dan praktisi kesehatan

lainnya sebagai sejawat.

'( Standard C : -tika, putusan dan tindakan perawat terhadap klien  berdasarkan pada landasan etika profesi

( Standar C/ : 8olaborasi, dalam melaksanakan asuhan keperawatan,  perawat berkolaborasi dengan klien,keluarga dan praktisi kesehatan lain. +( Standar C// : Penelitian, dalam praktiknya, perawat menerapkan hasil

 penelitian.

!( Standard C/// : Pemanfaatan sumber, perawat membantu klien atau keluarga untuk memahami resiko, keuntungan dan biaya perencanaan dan  pelaksanaan asuhan keperawatan.

*. Eik dala# Pera(aan Paliai'  a)  Autonomy &otonomi (

Prinsip otonomi didasarkan pada keyakinan bahwa indi#idu mampu be rpikir logis dan mampu membuat keputusan sendiri. rang dewasa dianggap k  ompeten dan memiliki kekuatan membuat sendiri, memilih dan memiliki berb agai keputusan atau pilihan yang harus dihargai oleh orang lain. Prinsip otono mi merupakan bentuk respek terhadap seseorang, atau dipandang sebagai pers etujuan tidak memaksa dan bertindak secara rasional. tonomi merupakan hak kemandirian dan kebebasan indi#idu yang menuntut pembedaan diri. Praktek  profesional merefleksikan otonomi saat tim perawatan paliatif menghargai ha

k3hak klien dalam membuat keputusan tentang perawatan dirinya. -)  /on maleficience &tidak merugikan(

Prinsip ini berarti tidak menimbulkan bahayacedera fisik dan psikolog is pada klien. Prinsip tidak merugikan &%onmaleficience, do no harm( hendak mengartikan bahwa kita berkewajiban jika melakukan suatu tindakan agar jan gan sampai merugikan orang lain. Prinsip ini nampaknya sama dengan salah s atu prinsip dari ;ippocrates, yaitu Premium non nocere yang berarti bahwa ya ng terpenting adalah jangan sampai merugikan. &7chadiat, 299+(.

(15)

c) 0eracity &kejujuran(

Prinsip #eracity berarti penuh dengan kebenaran. %ilai ini diperlukan o leh pemberi layanan kesehatan untuk menyampaikan kebenaran pada setiap pa sien dan untuk meyakinkan bahwa pasien sangat mengerti. Prinsip #eracity ber  hubungan dengan kemampuan seseorang untuk mengatakan kebenaran. /nfor  masi harus ada agar menjadi akurat, komprehensif dan objektif untuk memfa silitasi pemahaman dan penerimaan materi yang ada, dan mengatakan yang se  benarnya kepada pasien tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan ke adaan dirinya salama menjalani perawatan. alaupun demikian terdapat beber  apa argument mengatakan adanya batasan untuk kejujuran seperti jika kebenar  an akan kesalahan prognosis pasien untuk pemulihan, atau adanya hubungan p aternalistik bahwa Gdoctor knows bestH sebab indi#idu memiliki otonomi, mer  eka memiliki hak untuk mendapatkan informasi penuh tentang kondisinya. 8e  benaran adalah dasar dalam membangun hubungan saling percaya.

d)  "eneficienec &berbuat baik(

 "eneficience berarti, hanya melakukan sesuatu yang baik. 8ebaikan, m emerlukan pencegahan dari kesalahan atau kejahatan, penghapusan kesalahan atau kejahatan dan peningkatan kebaikan oleh diri dan orang lain. 6erkadang, dalam situasi pelayanan kesehatan, terjadi konflik antara prinsip ini dengan ot onomi.

e)  Justice &keadilan(

Prinsip keadilan dibutuhkan untuk terpai yang sama dan adil terhadap orang lain yang menjunjung prinsip3prinsip moral, legal dan kemanusiaan. %il ai ini direfleksikan dalam prkatek profesional ketika tim perawatan paliatif bek  erja untuk terapi yang benar sesuai hukum, standar praktek dan keyakinan yan g benar untuk memperoleh kualitas pelayanan kesehatan.

f) !onfidentiality &8erahasiaan(

7turan dalam prinsip kerahasiaan ini adalah bahwa informasi tentang Pasien harus dijaga pri#asinya. 7pa yang terdapat dalam dokumen catatan kes ehatan Pasien hanya boleh dibaca dalam rangka pengobatan Pasien. 6ak ada sa tu orangpun dapat memperoleh informasi tersebut kecuali jika diijin kan oleh Pasien dengan bukti persetujuannya. 0iskusi tentang Pasien diluar area pelaya nan, menyampaikannya pada teman atau keluarga tentang Pasien dengan tenag

(16)

a kesehatan lain harus dicegah. 8omunikasi yang terjaga adalah informasi yan g diberikan oleh tim perawatan kepada Pasien dengan kepercayaan dan keyaki nan informasi tersebut tidak akan bocor & Perry < Potter, 1+(.

g)  Accountability &7kuntabilitas(

Prinsip ini berhubungan erat dengan fidelity yang berarti bahwa tanggu ng jawab pasti pada setiap tindakan dan dapat digunakan untuk menilai orang lain. 7kuntabilitas merupakan standar yang pasti yang mana tindakan seorang  professional dapat dinilai dalam situasi yang tidak jelas atau tanpa terkecuali.

6im Perawatan seringkali mengandalkan pertimbangan mereka denagn meng gunakan &6eori Moral Mandle, 15, dalam Perry < Potter, 1+ ( yaitu 6eori 0eontologi : Pemikiran mengarahkan seseorang untuk mempertimbangkan ke  benaran dan kesalahan bawaan dari dari suatu tindakan atau kewajiban tersebu

t. 6eori 6eleologis : umumnya mempertimbangkan konsekwensi suatu tindaka n. 6eori moral semacam ini memulai sesuatu yang baik dengan melihat pada si tuasi untuk menentukan apa yang harus dilakukan, berdasaran konsekwensi apa yang akan dialami orang yang terlibat jika tindakan tersebut dilakukan. +. Ke-i%akan Nasi"nal Terkai Pera(aan Paliai' 

a( 6ujuan dan Sasaran 8ebijakan 1( 6ujuan 8ebijakan

6ujuan umum: Sebagai payung hukum dan arahan bagi perawatan paliatif  di /ndonesia.

6ujuan khusus:

1( 6erlaksananya perawatan paliatif yang bermutu sesuai standar yang  berlaku di seluruh /ndonesia.

2( 6ersusunnya pedoman 3 pedoman pelaksanaan atau juklak perawatan  paliatif.

"( 6ersedianya tenaga medis dan non medis yang terlatih. 5( 6ersedianya sarana dan prasarana yang diperlukan.

2( Sasaran kebijakan pelayanan paliatif 

'( Seluruh pasien &dewasa dan anak( dan anggota keluarga, lingkungan yang memerlukan perawatan paliatif di mana pun pasien berada di seluruh /ndonesia.

( Pelaksana perawatan paliatif : dokter, perawat, tenaga kesehatan lainnya dan tenaga terkait lainnya.

(17)

a. 0inas kesehatan propinsi dan dinas kesehatan kabupatenkota  b. *umah Sakit pemerintah dan swasta

c. Puskesmas

d. *umah perawatanhospis

e. $asilitas kesehatan pemerintah dan swasta lain.  b( =ingkup 8egiatan Perawatan Paliatif 

1( Eenis kegiatan perawatan paliatif meliputi : !( Penatalaksanaan nyeri.

( Penatalaksanaan keluhan fisik lain. 19( 7suhan keperawatan

11( 0ukungan psikologis 12( 0ukungan social

1"( 0ukungan kultural dan spiritual

15( 0ukungan persiapan dan selama masa dukacita &berea'ement (.

2( Perawatan paliatif dilakukan melalui rawat inap, rawat jalan, dan kunjunganrawat rumah.

c( 7spek Medikolegal dalam Perawatan Paliatif 

1( Persetujuan tindakan medisinformed consent untuk pasien paliatif.

1'( Pasien harus memahami pengertian, tujuan dan pelaksanaan perawatan  paliatif melalui komunikasi yang intensif dan berkesinambungan

antara tim perawatan paliatif dengan pasien dan keluarganya.

1( Pelaksanaan informed consent atau persetujuan tindakan kedokteran  pada dasarnya dilakukan sebagaimana telah diatur dalam peraturan  perundang3undangan.

1+( Meskipun pada umumnya hanya tindakan kedokteran &medis( yang membutuhkan informed consent , tetapi pada perawatan paliatif  sebaiknya setiap tindakan yang berisiko dilakukan informed consent . 1!( Baik penerima informasi maupun pemberi persetujuan diutamakan

 pasien sendiri apabila ia masih kompeten, dengan saksi anggota keluarga terdekatnya. aktu yang cukup agar diberikan kepada pasien untuk berkomunikasi dengan keluarga terdekatnya. 0alam hal pasien telah tidak kompeten, maka keluarga terdekatnya melakukannya atas nama pasien.

1( 6im perawatan paliatif sebaiknya mengusahakan untuk memperoleh  pesan atau pernyataan pasien pada saat ia sedang kompeten tentang apa yang harus atau boleh atau tidak boleh dilakukan terhadapnya apabila kompetensinya kemudian menurun &ad'anced directi'e(. Pesan dapat memuat secara eksplisit tindakan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan, atau dapat pula hanya menunjuk seseorang yang nantinya

(18)

akan mewakilinya dalam membuat keputusan pada saat ia tidak  kompeten. Pernyataan tersebut dibuat tertulis dan akan dijadikan  panduan utama bagi tim perawatan paliatif.

29( Pada keadaan darurat, untuk kepentingan terbaik pasien, tim perawatan  paliatif dapat melakukan tindakan kedokteran yang diperlukan, dan

informasi dapat diberikan pada kesempatan pertama. 2( *esusitasi6idak resusitasi pada pasien paliatif 

21( 8eputusan dilakukan atau tidak dilakukannya tindakan resusitasi dapat dibuat oleh pasien yang kompeten atau oleh 6im Perawatan paliatif. 22( /nformasi tentang hal ini sebaiknya telah diinformasikan pada saat

 pasien memasuki atau memulai perawatan paliatif.

2"( Pasien yang kompeten memiliki hak untuk tidak menghendaki resusitasi, sepanjang informasi adekuat yang dibutuhkannya untuk  membuat keputusan telah dipahaminya. 8eputusan tersebut dapat diberikan dalam bentuk pesan &ad'anced directi'e( atau dalam informed consent menjelang ia kehilangan kompetensinya.

25( 8eluarga terdekatnya pada dasarnya tidak boleh membuat keputusan tidak resusitasi, kecuali telah dipesankan dalam ad'anced directi'e tertulis. %amun demikian, dalam keadaan tertentu dan atas  pertimbangan tertentu yang layak dan patut, permintaan tertulis oleh seluruh anggota keluarga terdekat dapat dimintakan penetapan  pengadilan untuk pengesahannya.

2'( 6im perawatan paliatif dapat membuat keputusan untuk tidak  melakukan resusitasi sesuai dengan pedoman klinis di bidang ini, yaitu apabila pasien berada dalam tahap terminal dan tindakan resusitasi diketahui tidak akan menyembuhkan atau memperbaiki kualitas hidupnya berdasarkan bukti ilmiah pada saat tersebut.

"( Perawatan pasien paliatif di /)>

2( Pada dasarnya perawatan paliatif pasien di /)> mengikuti ketentuan3 ketentuan umum yang berlaku sebagaimana diuraikan di atas.

2+( 0alam menghadapi tahap terminal, 6im perawatan paliatif harus mengikuti pedoman penentuan kematian batang otak dan penghentian  peralatan life$supporting .

(19)

2!( 6im Perawatan Paliatif bekerja berdasarkan kewenangan yang diberikan oleh Pimpinan *umah Sakit, termasuk pada saat melakukan  perawatan di rumah pasien.

2( Pada dasarnya tindakan yang bersifat kedokteran harus dikerjakan oleh tenaga medis, tetapi dengan pertimbangan yang memperhatikan keselamatan pasien tindakan3tindakan tertentu dapat didelegasikan kepada tenaga kesehatan non medis yang terlatih. 8omunikasi antara  pelaksana dengan pembuat kebijakan harus dipelihara.

d( Sumber 0aya Manusia

1( Pelaksana perawatan paliatif adalah tenaga kesehatan, pekerja sosial, rohaniawan, keluarga, relawan.

2( 8riteria pelaksana perawatan paliatif adalah telah mengikuti  pendidikanpelatihan perawatan paliatif dan telah mendapat sertifikat.

"( Pelatihan

"9( Modul pelatihan : Penyusunan modul pelatihan dilakukan dengan kerjasama antara para pakar perawatan paliatif dengan 0epartemen 8esehatan &Badan Pembinaan dan Pengembangan Sumber 0aya Manusia dan 0irektorat Eenderal Bina Pelayanan Medik(. Modul3 modul tersebut terdiri dari modul untuk dokter, modul untuk perawat, modul untuk tenaga kesehatan lainnya, modul untuk tenaga non medis. "1( Pelatih : Pakar perawatan paliatif dari *S Pendidikan dan $akultas

8edokteran.

"2( Sertifikasi : dari 0epartemen 8esehatan c.I Pusat Pelatihan dan Pendidikan Badan PPS0M.

""( Pada tahap pertama dilakukan sertifikasi pemutihan untuk pelaksana  perawatan paliatif di ' &lima( propinsi yaitu : Eakarta, Fogyakarta, Surabaya, 0enpasar, Makasar. Pada tahap selanjutnya sertifikasi diberikan setelah mengikuti pelatihan.

"5( Pendidikan formal spesialis paliatif &ilmu kedokteran paliatif, ilmu keperawatan paliatif(.

e( 6empat dan rganisasi Perawatan Paliatif 

6empat untuk melakukan perawatan paliatif adalah:

1( *umah sakit : >ntuk pasien yang harus mendapatkan perawatan yang memerlukan pengawasan ketat, tindakan khusus atau peralatan khusus.

(20)

2( Puskesmas : >ntuk pasien yang memerlukan pelayanan rawat jalan.

"( *umah singgahpanti &hospis( : >ntuk pasien yang tidak memerlukan  pengawasan ketat, tindakan khusus atau peralatan khusus, tetapi belum dapat dirawat di rumah karena masih memerlukan pengawasan tenaga kesehatan.

5( *umah pasien : >ntuk pasien yang tidak memerlukan pengawasan ketat, tindakan khusus atau peralatan khusus atau ketrampilan perawatan yang tidak mungkin dilakukan oleh keluarga.

rganisasi perawatan paliatif, menurut tempat pelayanansarana kesehatannya adalah :

1( 8elompok Perawatan Paliatif dibentuk di tingkat puskesmas.

2( >nit Perawatan Paliatif dibentuk di rumah sakit kelas 0, kelas ) dan kelas B non pendidikan.

"( /nstalasi Perawatan Paliatif dibentuk di *umah sakit kelas B Pendidikan dan kelas 7.

5( 6ata kerja organisasi perawatan paliatif bersifat koordinatif dan melibatkan semua unsur terkait.

f( Pembinaan dan Pengawasan

Pembinaan dan pengawasan dilakukan melalui sistem berjenjang dengan melibatkan perhimpunan profesikeseminatan terkait. Pembinaan dan  pengawasan tertinggi dilakukan oleh 0epartemen 8esehatan.

g( Pengembangan dan Pemingkatan Mutu Perawatan Paliatif 

>ntuk pengembangan dan peningkatan mutu perawatan paliatif diperlukan : 1( Pemenuhan sarana, prasarana dan peralatan kesehatan dan non kesehatan. 2( Pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan!ontinuing Professional 

 1e'elopment untuk perawatan paliatif &S0M( untuk jumlah, jenis dan kualitas pelayanan. Menjalankan program keselamatan pasien atau patient   safety.

h( Pendanaan

Pendanaan yang diperlukan untuk:

1( pengembangan sarana dan prasarana 2( peningkatan kualitas S0Mpelatihan "( pembinaan dan pengawasan

(21)

Sumber pendanaan dapat dibebankan pada 7PB%7PB0 dan sumber3sumber  lain yang tidak mengikat. >ntuk perawatan pasien miskin dan P%S dapat dimasukan dalam skema 7skeskin dan 7skes.

,. Teknik Men$a#paikan Beria Buruk 

Berita buruk adalah bagian yang tak dapat elakkan dari praktek medis. Sebagian besar dari kita khawatir untuk berkomunikasi mengenai hal3hal sensitif  seperti menyampaikan berita buruk, yang terkadang bisa membuat sedih pasien dan keluarga mereka. Berikut ada beberapa alasan mengapa sulit untuk  memberitahukan berita buruk.

a) Mungkin merasa bertanggung jawab dan takut jika disalahkan -) 6idak tahu bagaimana cara terbaik untuk melakukannya

) 8emungkinan penghambatan karena tidak memiliki pengalaman pribadi d) 8eengganan untuk mengubah hubungan dokter3pasien yang ada

e) 6akut mengganggu peran keluarga ada pasien atau struktur  ') 6idak tahu kemampuan dan keterbatasan pasien

&) 6akut implikasi bagi pasien, misalnya cacat, sakit, sosial dan kerugian keuangan

h) 6akut terhadap reaksi emosional pasien

i) 8etidakpastian tentang apa yang mungkin terjadi selanjutnya dan tidak  memilikijawaban atas beberapa pertanyaan

 %) 8urangnya kejelasan peran seoramg pelayan kesehatan

7da beberapa langkah praktis dan logis yang dapat diikuti saat menyampaiakan kabar buruk kepada pasien. Meskipun ini berfungsi sebagai  pedoman, namun tidak ada peraturan tegas untuk selalu melakukan lamgkah3 langkah tersebut, hal tersebut tergantung dari tantangan medis yang ada. ;al tersebut tergantung dari penilain secara klinis dan juga pengalaman pelayan kesehatan tersebut tentang bagaimana berita burukbisa disampaikan secara efektif, dimana setiap kasus harus dilakukan secara berbeda.7da lima langkah utama : a) Personal preparation

() 0ibutuhkan waktu yang tepat untuk memberikan suatu berita buruk secara  benar dan disertai

*) Menanamkan kepercayaan disertai dukungan dengan selalu siap untuk  menjawab pertanyaan3pertanyaan. >ntuk alasan tersebut , tidak tepat rasanya jika menyampaikan kabar buruk di tengah3tengah sebuah klinik  yang sinuk dan ramai. %amun, sebelum melihat pasien terlebih dahulu 7nda harus mengambil beberapa saat untuk mempertimbangkan informasi apa yang diketahui dan apa yang perlu ditangani. 7dapun hal3hal yang harus dipertimbangkan adalah sebagai berikut:

(22)

1( 7pakah pasien mengharapkan kabar buruk , atau aku ? masuk dingin? J 2( 7pakah harus ada orang lain hadir & seperti perawat atau kerabat( J "( 7pa pasien sudah tahu tentang penyakit, atau apa yang telah terjadi J 5( 7pa kemampuan pribadi yang pasien milikiJ

'( 7pakah saya mempunyai cukup waktu untuk menghabiskan waktu dengan pasien J

( 7pakah ada ? bagaimana jika . . . ? Pertanyaan dimana saya harus mempersiapkan diri untuk menjawabnya J & misalnya, ? Bagaimana kalau dia marah dengan saya J ?(

Eeda sesaat, berpikir jernih dan dahulukan meminimalisir kesulitan sebelum melihat pasien. 0alam menyampaikan berita buruk, banyak kesulitan timbul dikarenakan dari tidak bisanya pelayan kesehatan berpikir secara jernih tentang apa yang akan dilakukan dan bagaimana cara terbaik untuk  mencapainya dan juga terkadang pelayan kesehatan tidak memiliki jawaban yang cocok atas beberapa pertanyaan pasien.

b) #he physical setting 

Pengaturan fisik yang ideal adalah kamar pribadi yang cukup nyaman,  bebas dari gangguan, dan memiliki suasana yang tenang. 6entu saja, hal

tersebut tidak selalu dapat terjadi. %amun, dalam beberapa pengaturan, disebutkan bahwa harus adanya upaya yang dilakukan untuk menjamin pri#asi dan kenyamanan pasien. Sebuah tirai harus ditarik di sekitar pasien di sebuah ksamar terbuka jika tidak mungkin untuk pindah ke kamar pribadi.

Posisi fisik 7nda jika dikaitankan dengan pasien adalah penting. Eika  pasien di tempat tidur, itu lebih sulit untuk mempertahankan mata ditingkat

yang sama. Beberapa dokter lebih memilih untuk duduk di sisi tempat tidur, tetapi hal ini dapat membuat pasien merasa tengganggu dan terlalu dekat bagi  pasien. 0uduk di sebuah kursi kantor di samping tempat tidur adalah lebih  baik dan nayaman. Fang lain lebih memilih untuk mengadopsi defensif   posisi bersandar di dinding dekat dengan pasien, hal ini mengindikasikan  postur santai dan komitmen untuk tetap di dalam ruangan. %amun, ada  beberapa hal yang tidak boleh 7nda lakukan, yaitu :

() Eangan memberikan kabar buruk pada akhir pemeriksaan fisik sementara Pasien belum dalam keadaan siap.

*) Eangan memberikan berita buruk di koridor dan melalui telepon &jika bisa hal ini harus dihindari(.

(23)

3) Eangan mondar3mandir di sekitar pasien, lalu melihat keluar jendela atau melakukan hal yang dapat mengganggu pasien.

) 6erkadang kita bergantung pada alat peraga dalam situasi sulit . Bila memungkinkan hindari meraba3raba melalui catatan klinis ketika berbicara dengan pasien. ;al ini penting untuk mempertahankan kontak mata. =epaskanlah jaket 7nda atau tutupi jas putih 7nda, jika 7nda lebih suka, hal ini bisa menciptakan kedekatan yang lebih pribadi dan juga suasana ramah serta menghindari situasi yang aneh. Selanjutnya lebih baik lagi jika tidak memakai stetoskop di leher. Potensi sumber gangguan dari telepon, tele#isi dan radio pun harus dihindari.

c) #alking to the patient and responding to their concerns

7pa pun yang 7nda katakan kepada pasien, adalah penting bagi 7nda untuk melakukannya secara perlahan3lahan atau setidaknya pada kecepatan yang dapat diterima oleh pasien. Percakapan biasanya menjadi lebih formal dan serius ketika memberikan berita buruk. Membalas pertanyaan dengan satu kata haruslah dihindari. 7kan sangat luar biasa untuk membalas dengan tegas, kepada saudara pasien dan berjalan pergi saat ditanyai jika pasien telah selamat operasi. Sebaliknya, pelayan kesehatan bisa mengatakan, ASeperti yang 7nda ketahui, pamanmu sangat sehat sebelum operasi. 8ami melakukan hal terbaik yang kami bisa, tapi aku takut itu tidak cukup. 0ia tidak pernah sadar, dan saya minta maaf untuk memberitahu 7nda bahwa dia meninggal tak  lama setelah operasi.A /nformasi yang kompleks seperti itu harus disampaikan dengan rasa empati terhadap kebutuhan dan keprihatinan terhadap pasien. 8egagalan untuk melaksanakan suatu hal dapat membuat pertemuan itu tidak  efektif, tidak membantu atau membuat pasien stress. =alu dalam menyampaikan berita buruk dibutuhkan :

() -mpati

Seharusnya tidak terlalu sulit untuk berempati dengan seseorang yang telah mengalami kehilangan atau telah mendengar kabar buruk, karena kebanyakan dari kita dapat dengan mudah mengidentifikasikan seseorang yang sedang menghadapi atau mengalami kesulitan. -mpati  berarti mampu menempatkan diri di tempat orang lain, terutama seseorang yang mungkin tertekan. Mendengarkan dengan penuh perhatian kepada  pasien dan berusaha untuk memahami kesulitan mereka lebih lengkap

(24)

adalah salah satu deskripsi empati. 7nda juga harus menjadi empatik  dengan tidak memperkenalkan informasi baru terlalu cepat dan tidak  memaksakan pandangan dan membuat sebuah asumsi yang tidak sesuai dengan keadaan.

*) 0imulai dengan apa yang pasien atau kerabatnya sudah tahu atau pahami Sebelum memberikan kabar buruk, salah satu hal yang penting adalah mengetahui bagaimana kesan pasien tentang penyakitnya. ;al ini akan langsung mempengaruhi bagaimana 7nda nantinya menyampaikan kabar. Seorang pasien yang terlalu optimis atau tidak, dan tampak  memahami implikasi serius dari penyakit perlu diperkenalkan kepada  berita yang lebih bertahap. 0isana sejumlah pertanyaan yang bisa diajukan dalam rangka untuk mencari tahu apa pasien sudah tahu tentang  penyakitnya dan mungkin mengharapkan suatu kesembuhan. 0alam  beberapa kasus, pasien mungkin memberikan kesan mengetahui sangat sedikit tentang kondisi mereka meskipun telah melakuakn konsultasi sebelumnya. Mereka mungkin banyak yang berharap bahwa informasi  baru telah datang untuk mengubah kabar sebelumnya atau mereka mungkin tidak ingin mendengar berita buruk. 8edua hal ini menunjukkan  penolakan keparahan penyakit dan mungkin diperlukan pertemuan  pertama untuk mengingatkan pasien dari percakapan sebelumnya. 0emikian pula, 7nda harus memperhatikan dekat dengan respon pasien terhadap pertanyaan, keadaan emosional dan intelektual, karena ini secara langsung mempengaruhi apa yang mungkin perlu dijelaskan secara lebih detail, dan cara terbaik yang bagaiman untuk menyampakan kabar buruk. ;al ini penting untuk memeriksa pemahaman pasien tentang istilah tertentu.

3) Mencari tahu apa yang pasien ingin tahu

Setelah menetapkan apa yang pasien sudah ketahui, 7nda bisa mulai memperbarui pengetahuan pasien dan pemahamannya. %amun, jika 7nda mungkin tidak jelas tentang apa yang pasien ingin tahu dan pada tahap mana, 7nda harus terlebih dahulu mencari tahu dengan bertanya, ?7pa yang ingin kamu ketahuiJ 7pakah ada sesuatu yang tidak kamu ingin dengarJ? Pertanyaan3pertanyaan berikut bisa membantu untuk membuka  percakapan tentang masalah penting ini :

(25)

3 A/ni membantu kami untuk mendengar dari 7nda apa yang ingin 7nda ketahui tentang kondisi 7nda. 7pakah ada sesuatu yang tidak ingin 7nda dengarJA

3 A7pa yang 7nda ingin dengar dari hasil diagnosaJA

3 A7pakah 7nda ingin tahu semua detail tentang diagnosis, tes dan  perawatan, atau apakah 7nda hanya ingin mengetahui garis besar apa

yang terjadiJA

3 A7nda mengatakan 7nda hanya ingin diberitahu bila ada ? kabar baik ?. 3 7pa yang harus kita lakukan jika kita punya kabar burukJA 5( 7ktif mendengarkan, memberikan informasi, umpan balik dan menangani

kepentingan sang pasien.

;al pertama yang harus dilakukan adalah membangun hubungan dan kepercayaan. Mendengarkan secara aktif melibatkan menanggapi  pertanyaan dan kekhawatiran sementara pada saat yang sama memimpin  pembicaraan.

'( Memunculkan kekuatan diri sang pasien.

0isini 7nda harus membicarakan bagaimana pasien sebelumnya telah diatasi dengan cukup sulit. /ni membantu membuat eksplisit sumber  daya apa yang sebenarnya indi#idu miliki dan dukungan tambahan apa yang mungkin pasien perlukan.

d) Arranging follo%$up or referral 

Setelah pasien sudah diberitahukan kabar buruk, yang paling penting adalah waktu dimana beberapa saat setelah pertemuan. ;al ini menggoda untuk mengasumsikan bahwa pasien telah mengetahui dan mengerti apa yang mereka butuhkan. Meminta pasien untuk meringkas apa yang mereka ingat adalah cara untuk memeriksa apa yang mereka telah ketahui selama ini. Eika 7nda tidak memperbaiki kesalahpahaman sekarang, pasien mungkin hanya ingat aspek3aspek positif atau negati#e dari berita tersebut, yang keduanya dapat meningkatkan risiko depresi reaktif, penolakan, kecemasan dan bahkan  bunuh diri. 0alam beberapa kasus mungkin tepat untuk membuat rujukan lain  profesional, seperti psikolog atau konselor, untuk spesialis bantuan dengan  berita dukacita, kegelisahan dan depresi.

(26)

/ni adalah praktik yang baik untuk menginformasikan rekan3rekan  pasien tentang pertemuan dengan pasien, meringkas bagaimana keadaan  pasien, apa yang pasien telah ketahui dan mengerti, dan masalah apa yang mungkin terjadi atau reaksi apa yang diharapkan. ;al ini membantu orang lain yang merawat pasien, untuk mengetahui apa yang harus dikatakan tanpa membingungkan atau mengganggu pasien dengan informasi yang berbeda tentang prognosis dan pengobatan. 0iskusi dan konsultasi dengan kolega juga dapat membuat tugas memberikan berita buruk lebih mudah dengan meningkatkan profesional dukungan dan mengeksplorasi ide3ide.

Proses memberikan berita buruk : a( Berikan informasi

 b( Periksa pemahaman pasien informasi c( Mengidentifikasi masalah utama pasien

d( Mendatangkan strategi penanggulangan pasien dan sumber daya pribadi dan memberikan harapan yang realistis.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :