• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PEMBAHASAN. Kesatuan adat Kasepuhan Banten Kidul terletak di wilayah Taman Nasional

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV PEMBAHASAN. Kesatuan adat Kasepuhan Banten Kidul terletak di wilayah Taman Nasional"

Copied!
76
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Kasepuhan Ciptagelar 4.1.1 Letak Geografis

Kesatuan adat Kasepuhan Banten Kidul terletak di wilayah Taman Nasional Gunung Halimun yang merupakan wilayah hutan konservasi, mereka tinggal di daerah ketinggian yang sulit dijangkau oleh kendaraan. Jumlah penduduknya sekitar 30.000 jiwa dan menempati 569 lembur kecil yang termasuk kedalam 360 kampung besar. Kampung Adat Ciptagelar berada di bawah Kesatuan Adat Banten Kidul, terletak di lembah Gunung Halimun. Wilayahnya berada di Desa Sinaresmi, Kec. Cisolok, Kab. Sukabumi Kampung Gede Ciptagelar-Cikarancang berada pada posisi ketinggian 1200 m dpl (meter di bawah permukaan laut) dengan jumlah populasi 250 jiwa dalam 60 kepala keluarga dan luas wilayah sekitar 10 hektar. (BPS Kab. Sukabumi, 2006 : 15).

Kampung Ciptagelar Terletak di bawah Gunung Halimun yang merupakan bagian dari kawasan Taman Nasional Gunung Halimun dan Salak. Halimun adalah nama salah satu puncak gunung yang berarti kabut, karena setiap harinya pada pukul 16.00 WIB, kabut muncul dan menyelimuti area tersebut. Tempat ini berjarak 9 km dari Ciptarasa kearah utara memasuki hutan TNGH (Taman Nasional Gunung Halimun) dengan kondisi jalan yang hanya dapat dilalui oleh kendaraan roda dua. (Departemen Kehutanan, 1992).

Secara geografis, Kampung adat Kasepuhan Ciptagelar dikelilingi pegunungan, di sebelah utara ada gunung Kendeng, sebelah Barat gunung Halimun,

(2)

dan sebelah Timur gunung Bongkok yang termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Jarak dari pusat kota kabupaten Sukabumi, Palabuhan Ratu melalui kecamatan Cikakak sekitar 33 km ke arah utara. Untuk sampai ke Kasepuhan Ciptagelar harus melewati kampung Ciptarasa terlebih dahulu, sebelumnya kampung ini dihuni warga Ciptagelar sebelum melakukan perpindahan ke Cicemet. Sebagian warga yang tidak ikut pindah menetap di kampung Ciptarasa dengan tetap menjadi bagian warga adat kasepuhan Ciptagelar. Wilayah Kasepuhan Ciptagelar berbatasan dengan Bogor, Sukabumi dan Banten oleh karena itu, untuk menuju kesana dapat melalui beberapa jalur dari ketiga kota tersebut.

Sangiang dan Gunung Bodas, diketinggian 750 m dpl. Ciptagelar adalah nama kampung Gede yang baru ditempati sejak bulan April 1982 sebagai pusat pemerintahan sesepuh girang Kasepuhan Banten Kidul dengan ketua adatnya Abah Anom. Sebelumnya, pusat pemerintahan berada di kampung Ciptarasa Desa Sinaresmi kecamatan Cisolok kabupaten Sukabumi. Terdiri dari 2 RT dan 1 RW, berada dipunggung Gunung

Kampung Ciptarasa didirikan tahun 1972 oleh Aki Ardjo yang merupakan pindahan dari kampung Linggar Jati-Cisarua yang berjarak 350m dibawahnya. Kampung Ciptarasa berada di gunung Halimun selatan pada ketinggian 1050 m dpl yang mudah dijangkau dari Pelabuhan Ratu dengan berkendaraan roda empat hingga halaman rumah eks Imah Gede. Setelah menetap selama kurang lebih 17 tahun, kampung Gede berpindah kembali ketempat baru berdasarkan wangsit yang diterima Abah Anom dan harus dilaksanakan oleh sesepuh girang atau baris kolot. Tempat perpindahan tersebut tidak pernah diketahui oleh siapapun termasuk Abah Anom sendiri. (Kusnaka, A. 1992 : 112).

(3)

4.1.2 Awal Perkembangan Kasepuhan Ciptagelar

4.1.2.1 Sejarah Terbentuknya Kasepuhan Ciptagelar

Masyarakat Kasepuhan Ciptagelar merupakan salah satu masyarakat Sunda yang berada di Jawa Barat yang memegang teguh aturan Sunda buhun. Masyarakat Kasepuhan Ciptagelar sama dengan masyarakat Sunda lainnya, memiliki persamaan bahasa yang sama-sama dapat dimengerti oleh seluruh orang Sunda, warna kulit, bentuk dan ukuran tubuh serta wajah. Hal yang membedakan mereka dengan orang Sunda lainnya adalah sistem dan pola hidup atau kebudayaannya. Dibandingkan dengan masyarakat Sunda lainnya, masyarakat Kasepuhan masih banyak menyimpan unsur, pola dan sistem masyarakat dan kebudayaan Sunda lama. Dengan kata lain, masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar masih lebih mencerminkan tipe masyarakat serta kebudayaan Sunda asli dibandingkan dengan kelompok masyarakat Sunda lainnya yang sudah mendapatkan pengaruh besar dari kebudayaan nasional. Lokasi pemukiman yang terpencil, sikap hidup yang kukuh mempertahankan adat dari leluhur dan sikap keras menolak pengaruh kebudayaan luar, serta cara hidup yang mandiri yang berbeda dengan cara hidup masyarakat kebanyakan.

Ada beberapa komunitas masyarakat Sunda yang tinggal di kampung adat dengan karakter yang hampir sama seperti masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar salah satu kampung adat yang sangat terkenal di Jawa Barat karena ketradisionalannya adalah masyarakat Kanekes atau sering kali di sebut Baduy. Masyarakat Kanekes merupakan masyarakat yang sangat tertutup terhadap dunia luar, mereka memiliki sikap menolak pengaruh luar sekecil apapun hingga saat ini. Dari nenek moyangnya mereka dapat bertahan hidup hingga saat ini adalah karena pikukuh atau aturan adat yang telah dijalankan oleh leluhurnya. Kasepuhan Ciptagelar dan masyarakat Kanekes masih dalam kesatuan adat Sunda, mereka sama-sama

(4)

menjunjung tinggi nilai dan norma Sunda kuno. Banyak kesamaan antara Kasepuhan Ciptagelar dan Kanekes sehingga disaat membicarakan tentang Kasepuhan Ciptagelar banyak yang tidak bisa membedakannya dengan masyarakat Kanekes.

Secara garis besar dan secara selintas tidak terdapat perbedaan antara masyarakat Kasepuhan Ciptagelar dan masyarakat Kanekes, dari segi adat, tradisi, kebiasaan dan seni bangunannya perbedaan yang nampak langsung adalah dari pakaian adatnya yang berbeda warna. Sesungguhnya Kasepuhan Ciptagelar memiliki perbedaan dengan Kanekes pada aturan-aturan hidupnya. Namun dari segi asal-usul keberadaan kedua kampung adat ini memiliki persamaan, baik dari para ahli maupun pengakuan masyarakatnya. Asal mula keberadaan masyarakat Kasepuhan Ciptagelar di wilayah Gunung Halimun memiliki beberapa versi, yaitu:

1. Masyarakat Kasepuhan Ciptagelar berasal dari rakyat kerajaan Sunda Padjadjaran, karena adanya invansi Islam dari Banten terhadap Kerajaan Pakuan yang pada saat itu masih bercorak Hindu. Untuk menghindari serangan kerajaan Islam Banten, sebagian rakyatnya yang tidak mau memeluk Islam berpencar melarikan diri ke daerah pegunungan Kendeng yang salah satunya kini menjadi sebuah kelompok, yaitu perkampungan Ciptagelar yang telah mengalami beberapa kali perpindahan ( Darmawidjadja, 1968).

2. Masyarakatnya merupakan pengungsi pada masa penjajahan Belanda yang menghindari serangan dari pemerintahan kolonial dan kaum pengungsi ini membuka pemukiman baru di tempat persembunyian mereka dan disebut masyarakat Kasepuhan Ciptagelar.

3. Berdasarkan pengakuan masyarakat Kasepuhan Ciptagelar, bahwa mereka sudah lama hidup sebagai masyarakat Kasepuhan Ciptagelar sejak nenek

(5)

moyang mereka. Leluhur mereka tidak berasal dari mana-mana dan bukan pula berasal sebagai pengungsi, Abah Anom mengatakan bahwa mereka berasal dari Pancer pangawinan. Pancer Pangawinan yang dimaksud Abah Anom berbeda dengan apa yang dimaksud oleh para sejarawan yang merupakan punggawa pangeran Siliwangi. Melainkan adalah penyatuan unsur bumi yang dilambangkan oleh dewi padi, yaitu dewi Sri sebagai perempuan dengan unsur langit. Jadi nenek moyang masyarakat Ciptagelar adalah cikal bakal dari beberapa raja di Nusantara yang kemudian seiring waktu luruhnya kerajaan-kerajaan di Nusantara menjadi komunitas yang kini menjadi masyarakat Kasepuhan Ciptagelar.

Berdasarkan tradisi lisan masyarakat Kasepuhan Ciptagelar dan data kepurbakalaan yang ada di wilayah Banten memberikan kesimpulan bahwa masyarakat Kasepuhan Ciptagelar berasal dari kelompok masyarakat pengungsi yang terdesak oleh gerakan perluasan wilayah kekuasaan dan islamisasi kesultanan Banten. Kelompok pengungsi ini berasal dari kerajaan yang bercorak Hindu terakhir di Jawa Barat yang menganut agama Hindu. Keberhasilan invasi Islam tersebut membuat sebagian masyarakat Pakuan yang tidak mau memeluk Islam melarikan diri ke Selatan dan kini menjadi masyarakat Kasepuhan Ciptagelar.

Hal ini sangat berbeda dengan pengakuan masyarakat setempat, mereka berkeyakinan bahwa mereka merupakan keturunan dari raja-raja Nusantara dengan perkembangan selanjutnya menjadi Kasepuhan Ciptagelar. Ada sedikit raut marah di wajah masyarakatnya apabila dikatakan mereka berasal dari pengungsi, kami bukan pengungsi bahkan seorang pelarian. Karena jauh dari itu bahwa mereka masih keturunan dari cikal bakal raja-raja di Nusantara, bahkan abah mengatakan bahwa apabila dilihat dari asal-usul maka kedudukan masyarakat Kasepuhan Ciptagelar

(6)

masih di atas masyarakat Kanekes karena masyarakat Kanekes memang berasal dari punggawa pangeran Siliwangi.

Apa yang dikemukakan oleh Abah Anom mengenai asal-usul masyarakat Ciptagelar tidak dapat dibenarkan menurut ilmu pengetahuan terutama ilmu sejarah karena pendapat tersebut tidak memiliki bukti kongkrit. Adapun bukti yang terdapat di daerah bogor hanya berupa peninggalan megalitikum tanpa tulisan seperti, batu congklak, bak mandi, kursi dll. Tidak adanya bukti tulisan ini yang kemudian pendapat Abah tidak diakui, adapun satu bukti adalah buku atau kitab mengenai asal-usul masyarakat Kasepuhan yang diregang oleh Abah dan pemimpin adat lain pada masa kepemimpinannya. Kitab tersebut selalu berpindah tangan setiap terjadi pergantian pemimpin adat, namun isi kitab tersebut berbahasda Sunda kuno yang Abah sendiri tidak dapat memahaminya. Karena hal inilah Abah Anom tidak keberatan terhadap pendapat-pendapat yang beredar di luar menganai asal-usul warga dan adatnya. Dengan keyakinan yang tumbuh disetiap warganya dirasa cukup karena pendapat orang lain tidaklah penting.

4.1.2.2 Kondisi Masyarakat Kasepuhan Ciptagelar

Jumlah penduduk Kasepuhan Ciptagelar sekitar 250 jiwa dalam 60 kepala keluarga. Dengan keadaan letak geografisnya yang terisolir mengakibatkan mobilitas penduduknya tidak berkembang. Selain dari letak geografis, kondisi sikap penduduk yang tertutup juga turut mempengaruhi perkembangan laju penduduk.

Sistem kemasyarakatan di Kasepuhan Ciptagelar seperti sebuah kerajaan, dimana pemimpin adat merupakan pemegang kekuasaan tertinggi yang kemudian membawahi pengurus pemerintahan adat yang bertugas membantu tugas pemimpin adat. Pandangan penduduk terhadap pemimpin adatnya adalah berdasarkan kharisma sehingga posisi raja dapat dikatakan memiliki kekuasaan mutlak dan semua

(7)

perintahnya harus dipatuhi. Berbeda dengan kepemimpinan kontemporer yang biasanya kriteria pemimpin dibentuk oleh pemimpin tersebut agar meyakinkan massanya untuk memilih. Masyarakat “modern” akan memilih pemimpin yang dianggap dapat bermanfaat dan kontribusi tersebut sudah dirasakan oleh massanya. Di Kasepuhan Ciptagelar siapapun pemimpin yang dipilih entah itu dirasa pantas atau tidak adalah sebuah harga mati yang harus dipatuhi karena pemimpin bagai orang kepercayaan leluhur mereka.

Mata pencaharian masyarakat Kampung Ciptarasa adalah 90 % bertani, 5 % berdagang, 5 % pegawai. Adapun dalam proses bertani, mereka memanfaatkan bahan yang sudah ada. Untuk bertani biasanya menggunakan kerbau dan cangkul. Dalam menanam padi mereka melakukannya hanya sekali dalam satu tahun. Selain bertani mereka memanfaatkan sumber daya alam yang ada disekitarnya seperti mengolah gula aren, menganyam peralatan rumah tangga, serta berdagang. Sedangkan barang yang diperdagangkan merupakan barang yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan harian masyarakat Kasepuhan Ciptagelar diwarnai dengan kegiatan bertani sehingga pada pagi hari keadaan kampung terasa sepi karena mayoritas warganya sedang menggarap ladang. Sedangkan di Imah Gede selalu ramai karena sebagian ibu-ibu selalu membantu ema untuk menyediakan masakan untuk Abah dan para tamu yang sesekali datang. Setiap harinya Imah Gede selalu ramai karena kedatangan para tamu yang bertujuan meminta petuah dari Abah. Tamu yang meminta petuah tersebut tidak hanya dari kalangan adat dan warga adat dari Kasepuhan lain di wilayah gunung Halimun, tetapi banyak juga orang dari kota seperti dari kalangan pemerintahan, masyarakat kota yang ingin berobat bahkan ada beberapa artis juga yang sengaja datang dari jauh demi mendukung kariernya melalui petuah abah Anom

(8)

tersebut. Makanan dan masakan yang tersedia di Imah Gede diperuntukan bagi para tamu tersebut. Mereka dapat makan sepuasnya dengan gratis, oleh karena itu dapur Imah Gede selalu mengepul setiap hari dalam 24 jam non-stop. Kebiasaan masyarakat Kasepuhan untuk mendapatkan petuah dari sesepuh merupakan sebuah tradisi yang diwariskan sejak nenek moyangnya. Permintaan petuah tersebut biasanya dilakukan disaat kita hendak memiliki tujuan, seperti memimta restu atau ajian sebelum melakukan perjalanan jauh agar dilimpahi keselamatan hingga tujuan, meminta kesuksesan dalam berkarier dll. Pandangan hidup seperti ini sulit dirasioanalkan namun saat ini pandangan hidup tersebut banyak dilakukan oleh orang kota yang cenderung lekat terhadap pendidikan demi mencapai keinginan dengan cepat. Karena memiliki tradisi tersendiri maka keyakinan masyarakatnya terhadap leluhur sangat tinggi, mereka menyakini kepercayaan tersebut sebagaimana keyakinan mereka menjalani hidup sehari-hari dengan pasrah pada jalan hidup yang telah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa, segala yang telah diberikan adalah yang terbaik bagi mereka. Dengan cara bersyukur dan dapat menjalani hidup dengan seadanya kelak akan mendapat rizki yang lebih.

Letak Kasepuhan Ciptagelar yang berada pada wilayah pegunungan dan di tengah-tengah hutan lebat membuat aktifitas perekonomiannya tidak banyak mengalami perkembangan, dikarenakan sikap masyarakatnya yang tertutup dengan “dunia luar” sehingga untuk memenuhi kebutuhannya dilakukan dengan memanfaatkan alam. Pekerjaan atau mata pencaharian masyarakat Kasepuhan Ciptagelar mayoritas adalah berhuma atau bercocok tanam padi dan berladang. Di Kasepuhan mewajibkan setiap warganya untuk menanam padi dalam memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, selain bercocok tanam guna memenuhi kebutuhan pangan harian dilakukan pula kegiatan berladang sayuran. Aturan tanam padi di

(9)

Kasepuhan Ciptagelar berbeda pada umumnya, warga Kasepuhan Ciptagelar hanya berhuma satu tahun sekali selain dikarenakan aturan adat, hal ini disesuaikan dengan keadaan geografis alamnya. Bila keadaan sawah sedang boyor atau berair cukup dapat dipakai untuk memelihara ikan, bila indeks air kurang bagus akan ditanami jagung, cabe, kacang panjang, mentimun atau tanaman yang berjangka pendek. Walaupun berhuma hanya dilakukan satu tahun sekali tapi warga Kasepuhan tidak pernah mengalami kekurangan dalam hal pangan. Terdapat larangan untuk menjual padi kepada sesama warga Kasepuhan ataupun warga luar adat, bagi yang membutuhkan dapat meminjam pada warga lain atau pada lumbung Abah dan lumbung komunal. Oleh karena aturan inilah masyarakat Kasepuhan tidak pernah mengalami kekurangan pangan sekalipun sedang ,mengalami musim paceklik. Disamping berhuma, mereka menanam pisang dan membuat gula aren untuk kebutuhannya sehari-hari dan dijual pada masyarakat setempat yang membutuhkan.

Pada masyarakat Kasepuhan Ciptagelar status lahan adalah milik bersama dalam artian kepemilikan tanah di Kasepuhan tidak dimiliki secara pribadi dan mengenal sertifikat. Berhubung Kasepuhan terletak di kawasan hutan konservasi Taman Nasional Gunung Halimun dan Salak, maka lahan yang ditempati oleh masyarakatnya merupakan tanah milik pemerintah yang dinaungi oleh departemen kehutanan sehingga status wilayah tersebut merupakan lahan ulayat atau lahan adat yang telah disediakan oleh pemerintah. Mereka dapat menempati dan memanfaatkan wiayah tersebut dengan turut menjaga kelestariannya. Setiap rakyatnya telah mendapat bagian secara rata untuk keperluan pertanian mereka, adapun penggarapannya adalah tanggungjawab pemilik tanah. Pihak Kasepuhan hanya memberikan bagian kepada rakyatnya yang berasal dari lahan ulayat, masalah pemberdayaan lahan tersebut diserahkan kepada masyarakat mengenai teknis dan pendanaannya.

(10)

Dalam masyarakat Jawa Barat umumnya dikenal istilah maro dan bawon. sistem ini juga digunakan oleh masyarakat Kasepuhan Ciptagelar dalam hal penggarapan padi. Sistem maro adalah sistem bagi 2 (dua) untuk penggarap dan pemilik baik untuk pertanian dan peternakan,bila penggarap mengerjakan lahan sejak penanaman hingga memanen. Sistem bawon hanya berlaku saat panen padi, jika seseorang ikut memanen dari 5 (lima) ikat yang diperoleh dikurangi 4 (empat) ikat/pocong untuk pemilik dan 1(satu) ikat untuk pemetik. Begitu pula untuk menumbuk -1(satu) ikat setara dengan 4 (empat) kg beras. Selesai panen setiap keluarga menyisihkan 2 ikat untuk diserahkan kepada sesepuh girang sebagai gaji setahun. Padi - padi tersebut biasanya disimpan dilumbung - lumbung kesatuan. Selain sebagai gaji, padi itu berfungsi sebagai cadangan bila paceklik dan masyarakat Kasepuhan dan non Kasepuhan dibolehkan meminjam dan mengembalikannya dengan jumlah yang sama. Terdapat satu lumbung komunal milik Kasepuhan Ciptagelar. Lumbung komunal ini selalu digunakan untuk upacara adat pada acara seren taun yang diadakan setiap tahun sekali.

Terdapat adat istiadat mengenai penggunaan padi di Kasepuhan Ciptagelar, warga adat wajib menanam padi dan hasil panen tidak diperbolehkan untuk dijual tetapi bagi warga yang membutuhkan boleh meminjam padi dari lumbung umum Kasepuhan. Diberbagai kampung kelompok sosial Kasepuhan, terdapat lumbung kelompok yang dapat digunakan oleh seluruh warga dalam keadaan mendesak. Lumbung umum itu biasanya disebut leuit kasatuan atau leuit paceklik yang akan digunakan apabila warga sudah mengalami kekurangan pangan atau terjadi musibah. Lumbung umum itu merupakan cadangan pangan dikalangan anggota kelompok sosial Kasepuhan Ciptagelar pada saat menghadapi masa paceklik. Lumbung umum yang terbesar ada di Kampung Gede (pusat kegiatan sosial semua anggota kasepuhan dimana sesepuh girang bermukim), lumbung tersebut bernama leuit Si Jimat yang

(11)

selalu dibawa di setiap perpindahan Kampung Gede. Leuit Si Jimat adalah lumbung yang digunakan dalam upacara Seren Taun dalam proses ngadiukeun pare.

Gambar 4.1Leuit Sijimat

Dok. Koleksi Pribadi 16 Juli 2006

Seluruh isi lumbung tersebut, selain padi pengembalian dari setiap peminjam, juga diperoleh atas usaha gotong royong kalangan anggota kelompok sosial Kasepuhan Ciptagelar. Usaha itu di dalam bentuk menyisihkan sebanyak 2 (dua) pocong untuk masing-masing rumah tangga (umpi) yang mereka sebut sebagai tukuh tumbal. Seluruh hasil padi yang dituai dari sawah milik bersama (milik) kasepuhan juga disimpan di lumbung umum sebagai cadangan kelompok sosial atau kasepuhan.

Peminjaman padi dari lumbung umum hanya diperbolehkan untuk memenuhi keperluan hidup dan bukan untuk dijual. Dikalangan anggota kelompok sosial kasepuhan meminjam padi dari lumbung umum digunakan untuk kenduri, membayar

(12)

upah buruh (kuli), kematian. Bagi siapa pun tidak tanpa kecuali boleh meminjam padi dari lumbung umum dan mengembalikannya tanpa dikenakan bunga.

Setiap kepala keluarga rata-rata memiliki 2 – 3 lumbung dimana setiap lumbung padi tersebut dapat menampung sekitar 7500 pocong/ikat padi kering atau sekitar 2.25 ton. Dengan hal ini sudah dapat ditarik kesimpulan mengenai sistem pangan yang dimiliki masyarakat Kasepuhan sangat kuat sehingga tidak pernah ada kata kurang dalam hal pangan.

Pekerjaan lainnya adalah beternak, jenis ternak seperti kambing, bebek dan ayam. Adapun kerbau hanya dipelihara oleh beberapa orang yang mampu karena dengan memiliki kerbau pemilik harus membayar pajak setiap tahunnya kepada Kasepuhan Rp. 5000/ ekor. Pemberlakuan pajak ini didasarkan bagi barang yang dapat menghasilkan. Kerbau dihitung dapat menghasilkan pwmasukan bagi pemiliknya dengan kegiatan bertani. Sama seperti bertani, hasil ternakpun hanya diperuntukan bagi kebutuhan hidup mereka, tidak untuk dijual. Terdapat hubungan simbiosis mutualisme di dalam lingkungan alam Kasepuhan. Kotoran dari ternak itu digunakan untuk pupuk tanaman sehingga tidak menggunakan pupuk kimia, selain dilarang pupuk kimia tidak baik bagi manusia dalam jangka panjang. Adapun pekerjaan jasa seperti pekerjaan sebagai buruh, dan tukang kuli bangunan hanya sedikit karena dalam pengerjaan bangunan biasanya masyarakatnya bergotong royong.

Pendidikan merupakan hal terpenting dalam hidup, dimana dengan pendidikan kita dapat menjalani dan memenuhi kebutuhan hidup dengan layak. Sudah menjadi kewajiban pemerintah pula dalam mencerdaskan bangsa, tak kenal usia dan jarak rakyatnya harus mengenyam pendidikan formal melalui lembaga sekolah. Sehubungan program tersebut, pemerintah mensosialisasikan program pendidikan ke

(13)

seluruh pelosok salah satunya kepada masyarakat Kasepuhan Ciptagelar. Dengan kondisi perekonomian yang rendah dan kondisi jarak yang sulit dan jauh pemerintah setempat membuat kebijakan untuk membangun gedung sekolah bagi masyarakat Kasepuhan Ciptagelar, namun hal tersebut awalnya tidak bersambut baik. Masyarakat Kasepuhan Ciptagelar tidak mementingkan pendidikan formal seperti apa yang dicanangkan pemerintah.

Dengan sikap masyarakatnya yang tertutup kepada dunia luar telah membuat masyarakat Kasepuhan Ciptagelar jauh dari pemahaman mengenai pendidikan formal. Pengetahuan dan kesadaran akan pendidikan di masyarakatnya sangat rendah, mayoritas dari mereka juga tidak bisa membaca. Pengetahuan yang dimiliki masyarakat Kasepuhan Ciptagelar berupa perangkat nilai yang dimiliki adalah hal mengenai perlindungan dan pemanfaatan lingkungan yang dipengaruhi oleh adat istiadat. Pengetahuan tradisional selama bertahun-tahun dan peraturan tata nilai budaya yang dijalankan dalam sistem pertanian tradisional merupakan ciri yang mendasar dari pola pengolahan tanah pertanian masyarakat Kasepuhan. Kearifan ekologi dalam mengelola tanah pertanian memberi kontribusi yang besar terhadap kelestarian lingkungan, keaneka-ragaman hayati, kontinuitas produksi, dan kelangsungan adat budaya. Kearifan ekologi yang dijalankan tersebut tampak pada pola tanam, pola pemilihan jenis tanaman, dan pola periode tanam (rotasi tanam) selama mengolah tanah pertanian. Kelangsungan adat dan budaya di antaranya 10 peraturan adat (tabu) melalui pengaturan pola tanam, pemilihan jenis tanaman dan periode tanam misalnya larangan penggunaan bahan kimia untuk pestisida yang dipecahkan dengan mengatur waktu rotasi tanaman. Konsekuensi dari sistem pertanian tradisional yang dijalankan tersebut adalah hanya tercukupi kebutuhan

(14)

hidup sehari-hari dan tidak menjadi masalah, mengingat seluruh aktivitas pertanian merupakan bagian dari kegiatan budaya.

Contoh pengetahuan tentang lingkungan dan adat istiadat yang mereka miliki adalah mengenai sistem pertanian yang menyelaraskan dengan alam dan tidak mau menanam padi jenis unggul versi pemerintah, seperti:

1. Upacara adat mengharuskan menggunakan padi lokal

2. Padi jenis unggul tidak dapat tumbuh dengan baik di daerah lembab dan terlalu dingin. Tahun 1978-1979 dicoba padi jenis PB4, PB* dan Cisadane hasilnya buruk

3. Padi lokal batangnya panjang memudahkan dietem. Mudah pengeringan dan penyimpanannya, tahan disimpan walau sampai lima tahun tidak rontok.

4. Melestarikan adat leluhur, ada sekitar 43 jenis pare rurukan (padi pokok) dan 100 jenis padi hasil silang dari pare rurukan

5. Menanam padi satu tahun sekali yang bertujuan untuk menghentikan siklus hama wereng yang biasanya jatuh pada bulan Mei, dan pada bulan April warga sudah dapat memanen. Kondisi lahan yang berbukit bukit dan sulit mendapat air cukup untuk menanam dua kali

6. Dalam menentukan masa tanam didasarkan pada perhitungan dengan menggunakan bintang seperti yang diungkapkan oleh Kusnaka Adimihardja (1992), yaitu tanggal Kerti Keuna Beusi, tanggal Kidung turun Kijang (Agustus) untuk menyiapkan alat-alat pertanian dan pada bulan Kidang Ngarangsang Ti Wetan, Kerti Ngarangsang Ti Kulon (September) untuk lahan mulai digarap.

(15)

Pengetahuan mengenai pertanian padi ini sangat berharga, mengingat program tanam padi yang hanya dilakukan satu tahun sekali tapi di Kasepuhan Ciptagelar belum pernah merasa kekurangan akan padi. Padi mereka selalu melimpah tersimpah rapi di leuit-leuit yang berjejer di belakang imah Gede. Oleh karena itu terdapat larangan menjual padi, bagi yang membutuhkan dapat meminjam pada warga yang lain atau pada lumbung komunal milik Kasepuhan.

Masyarakat Kasepuhan juga memiliki pengetahuan sendiri tentang hutan dan mereka menggolongkan hutan ke dalam 3 golongan, yaitu:

1. Hutan Tua (Leuweung Kolot). Hutan asli dengan kerimbunan dan kerapatan tinggi dan banyak satwa, tidak boleh di eksploitasi

2. Hutan Titipan/Kramat (Leuwueng Titipan). Hutan kramat yang harus dijaga oleh setiap warganya dan tidak boleh digunakan tanpa izin sesepuh girang, memungkinkan penggunaan hasil hutannya bila ada wangsit dari leluhur.

3. Hutan Sempalan/Bukaan (Leuweung Sampalan). Hutan bukaan yang boleh di eksploitasi untuk lading, mengembalakan ternak, mencari kayu bakar dan dapat ditanami berbagai tumbuhan seperti bambu, petai, durian, nangka,mangga dll yang hasilnya dapat dimanfaatkan oleh warga.

Selain pendidikan mengenai adat istiadat, terdapat pendidikan keluarga yang berasal dari orang tua kepada anak-anaknya. Pelajaran yang terpenting adalah mengenai aturan dan adat istiadat Kasepuhan yang harus dipatuhi sejak dini serta etika kesopanan terhadap orang yang lebih tua. Sejak dini telah dibagi pembagian kerja, bagi anak laki-laki di ajarkan oleh ayahnya untuk bertani, beternak kadang berburu dengan tujuan untuk mencari nafkah kepada keluarga dan pemegang tanggung jawab keluarga, sedang bagi anak perempuan di ajarkan oleh sang ibu untuk

(16)

memasak dan mengurus rumah. Pembagian kerja di dalam keluarga mengikuti aturan kodrat yang telah ditetapkan melalui religi, sehingga setiap perempuan dan laki-laki telah mengetahui tugasnya masing-masing selain melalui pendidikan yang diberikan orang tua mereka memahaminya dengan kebiasaan orang tuanya.

Pendidikan mengenai tradisi pun turut dipelajari sejak dini agar tumbuh kecintaan dan ketaatan pada anak. Pengetahuan mengenai tradisi ini seperti larangan menjual padi kepada dunia luar selain sudah menjadi aturan adat yang wajib dipatuhi terdapat alasan yang rasional mengenai larangan tersebut, alasan yang sederhana karena mereka hidup jauh dari perkotaan yang ramai dan menyediakan hampir segala kebutuhan yang bisa didapat kapan saja, sedangkan di bagi mereka tidak mungkin bisa mendapatkan waktu itu juga karena untuk mendapatkan beras butuh proses dan waktu.

Selain tradisi mengenai larangan menjual beras, ada juga larangan atau aturan mengenai pendirian rumah nagi warga Kasepuhan. Aturan adat Kasepuhan mengahruskan masyarakatnya untuk membangun rumah, bentuk rumah tidak banyak mengalami perbedaan dengan rumah warga non adat hanya saja bagi warga adat Kasepuhan tidak boleh memakai atap yang berasal dari bahan baku tanah, tidak boleh langsung berpijak pada tanah, harus memakai penyangga seperti rumah panggung dab rungku memasak tidak boleh dibuat diatas tanah tetapi di atas panggung. Aturan tersebut merupakan larangan karuhun dan dinggap pamali. Bila kita masih hidup harus selalu berada di atas tanah dan pantang tinggal di bawah tanah oleh karena itu unsur tanah dianggap sebagai indung tempat manusia hidup. Terdapat ajaran adat yang menyebutkan bahwa jika atap memakai genting diibaratkan kita berzinah dengan ibu karena tanah atau bumi merupakan ibu selama kita hidup dan dipercaya hidupnya akan dingin dan tertutup kehidupannya (gelap).

(17)

Aturan adat ini tidak terlalu mengikat dalam artian terdapat beberapa keringanan bagi warga Kasepuhan yang tinggal di luar adat. Seperti dalam bentuk rumah, mereka diijinkan membuat rumah seperti di kota, yaitu langsung berpijak pada tanah dan memakai genting namun diharuskan membuat satu ruangan yang atapnya tidak memakai bahan dari tanah dan biasanya digunakan sebagai ruang tidur. Sama halnya dengan aturan mengenai pemakaian tungky, bagi yang tinggal di kota dapat memakai kompor atau alat lainnya, tetapi dalam setiap tahun mereka harus mengadakan Rosulan (selamatan) yaitu izin untuk memakai alat-alat modern. Jelas keringanan yang didapat bukanlah keputusan pemimpin adat dan baris kolot langsung, melainkan didapat melalui negosiasi yang dilakukan dengan leluhurnya. Setiap terdapat perubahan, sebelumnya Abah ataupun pemimpin adat lain harus melakukan permohonan terhadap keinginan yang biasanya dilalui oleh bertapa atau berdiam diri di hutan yang telah ditentukan dengan waktu yang telah ditentukan pula. Prosesnya cukup memakan waktu lama, setelah didapat restu maka dibawa ke hadapan baris kolot untuk dibicarakan yang kemudian tercapailah aturan baru tersebut.

Pendidikan tersebut telah dirasa cukup oleh warga Kasepuhan pada masa itu, kehidupan yang serba tradisional tidak membutuhkan pengetahuan formal seperti orang kota. Setiap perempuan dan laki-laki telah diberikan garis kodrat yang memiliki tugas dan kewajibannya dalam keluarga. Pendidikan di lingkungan keluarga diberikan secara bertahap sesuai usia si anak, pemberian pendidikan itu dilakukan hingga dewasa, sampai anak dirasa cukup untuk menikah dan menjalani hidup berumah tangga.

Terdapat kesulitan untuk membicarakan kepercayaan dengan masyarakat Kasepuhan Ciptagelar. Masyarakat Kasepuhan Ciptagelar rnenganggap sebagai Sunda Wiwitan, urang girang, atau kolot seperti yang biasa disebut oleh orang Sunda

(18)

lainnya. Tuhan atau sistem kekuasaan tertinggi dalam agama Sunda Wiwitan berada pada Tuhan yang disebut sesuai dengan sifatnya, Sang Hyang Keresa (Yang Maha Kuasa), Nu Ngersakeun (Yang Maha Berkehendak), Batara Jagat (Penguasa Alam),

Batara Seda Niskala (Yang Gaib), dan Batara Tunggal. Pedoman bagi tingkah laku dan tindakan serta kehidupan sehari-hari ialah pikukuh yang bersumber dari karuhun, yang kemudian diturunkan dari generasi ke generasi. Pikukuh itu menentukan bahwa tempat bermukim mereka perlu dipelihara karena menjadi pancer bumi, atau inti jagat, yaitu pusat bumi yang membuat sejahtera kehidupan dunia. Kelompok masyarakat Sunda ini berdasarkan sistem budaya dan struktur sosialnya merupakan kelompok masyarakat yang masih menjalankan tatanan kehidupan seperti masyarakat Sunda lama, dari masa jauh sebeIum pengaruh Hindu masuk ke Jawa Barat.

Monoteisme sudah merupakan landasan beragama orang Sunda sejak dahulu kala ketika karuhun orang Sunda menganut agama Sunda Wiwitan atau agama Sunda Asli. Semua dewa dalam konsep agama Hindu (Brahma, Wisnu, Syiwa, Indra, Yama, dan lain-lain) tunduk kepada Batara Seda Niskala (Edi S Ekadjati, 1995:73). Konsep dewa dari India disesuaikan dengan sistem kepercayaan lokal yang monoteis. Akar monoteisme itu sering dijadikan alasan logis bila orang mempertanyakan proses masuknya Islam ke Tatar Sunda yang relatif mudah. Dari sembilan wali yang menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa, wilayah Tatar Sunda dahulu hanya perlu satu, yaitu Sunan Gunung Jati. Hal ini sejalan dengan apa yang telah dikatakan oleh sesepuh warga yang mengatkan bahwa kerutusan mereka untuk masuk Islam adalah karena Islam mudah dan tidak memaksa. Walaupun awalnya mereka enggan memeluk Islam namun seiring waktu dan berubahnya pandangan mereka terhadap Islam adalah agama yang damai, mereka mau mengikuti dan menjalankan ajarannya.

(19)

Pada masa kepemimpinan Aki Ardjo masyarakatnya telah mengenal agama Islam, bahkan ada sebagian dari mereka yang telah memeluk Islam. Seperti kita tahu bahwa asal-usul masyarakat Kasepuhan Ciptagelar yang berasal dari rakyat Kerajaan Sunda yang bercorak Hindu di Jawa Barat. Kedatangan mereka di pegunungan kendeng merupakan penolakan mereka terhadap Islam, namun dalam perkembangan selanjutnya Islam mulai diterima di tengah-tengah masyarakatnya. Islam yang datang dengan damai dan tanpa paksaan menarik perhatian mereka pada akhirnya. Walaupun begitu, masyarakat yang memeluk Islam masih menjadi kelompok minoritas. Selain itu, dalam pelaksanaannya syariat Islam pada masyarakat Kasepuhan Ciptagelar masih bercampur dengan tradisi Hindu, hal tersebut tidak menjadi kendala bagi peraturan agama Islam karena Islam masuk secara damai penuh dengan penyesuaian dan kemudahan tidak akan memberatkan umatnya selama itu tidak menyekutukan Allah SWT.

Masyarakat yang memeluk Islam dan Sunda Wiwitan hidup berdampingan, mereka saling menghormati. Aki Ardjo tidak melarang dan membatasi warganya yang berkeinginan memeluk agama Islam. Selama mereka dapat hidup berdampingan dan mematuhi pikukuh Sunda yang merupakan aturan warisan nenek moyangnya. Namun mengenai fasilitas ibadah di Kasepuhan Ciptagelar masih kurang, dikarenakan minoritas ini hanya terdapat satu langgar dan tidak terlalu besar. Aktifitas sehari-hari di langgar tersebut adalah shalat maghrib berjamaah dan kegiatan mengaji anak-anak kecil yang masih sedikit kurang mendapatkan perhatian, pemeluk Islam yang benar-benar menjalankan hukum Islam masih merupakan minoritas.

Disamping itu masyarakatnya memiliki beberapa ritual yang pada dasarnya tidak ada dalam ajaran Islam. Seperti Ngembang, sebuah acara untuk meminta restu dan perlindungan kepada leluhur sebelum melakukan kegiatan dengan cara

(20)

mendatangi leluhur pemimpin adat dari generasi 1 hingga ke 10 dengan berarakan yang diikuti sebagian warganya. Ritual Ngembang merupakan salah satu contoh upacara ritual yang selalu dilakukan Abah beserta keluarga dan rakyatnya terutama sebelum dilakukan acara Seren taun agar acara dapat berjalan lancar dan diberi keselamatan bagi seluruh warganya.

4.1.3 Kondisi Sosial-Budaya

Kehidupan sosial masyarakat Kasepuhan Ciptagelar pada masa kepemimpinan Aki Ardjo sangat sederhana dan bersahaja. Masyarakat Sunda yang mencerminkan tipe masyarakat dan kebudayaan Sunda lama ini memiliki sikap hidup untuk menolak masuknya kebudayan luar. Mereka tidak menginginkan mendapat pengaruh budaya luar seperti masyaraktat Sunda lainnya yang akhirnya meninggalkan budaya aslinya. Asas kemandirian yang membuat mereka sebisa mungkin untuk tidak bergantung kepada pihak lain (masyarakat luar) tetapi tetap menjunjung tinggi nilai gotong royong. Nilai gotong royong yang dimiliki masyarakat Kasepuhan Ciptagelar sangat besar, selain di kehidupan sehari-hari keberadaan kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar yang berlokasi di Ciptarasa adalah hasil dari kerja bergotong royong dalam pembangunan fisiknya menjadi bukti betapa besar rasa gotong royong mereka. Kebersamaan diterapkan dalam berbagai bidang kehidupan dengan ciri khas kemandirian masyarakat. Mulai dari pertanian padi, pengairan sawah, pengadaan air bersih, hingga membangun perekonomian terutama dalam mewujudkan ketahanan pangan. Pembangunan infrastruktur pun mereka kerjakan sendiri melalui gotong royong.

Tata cara hidup mereka berbeda dengan masyarakat kebanyakan, cara hidupnya masih sederhana, seperti kehidupan sosial masyarakat Ciptagelar yang memiliki prinsip kesederhanaan dan kemandirian serta memiliki sikap tertutup

(21)

terhadap “dunia luar”. Artinya dalam melakukan segala aktifitasnya mereka lakukan dengan cara konvensional, tidak melibatkan alat bantu yang bersifat modern seperti barang-barang elektronik rumah tangga, kendaraan bermotor, dll.

Segala tingkah perilaku dan kebiasaan hidup sehari-hari diatur oleh aturan adat, seperti dalam berpakaian, masyarakat Kasepuhan Ciptagelar selalu memakai pakaian adat dengan setelan serba hitam dan ikat di kepala bagi laki-laki dan kebaya sederhana dengan paduan samping atau semacam sarung tapi khusus perempuan bagi kaum perempuan. Pembagian tugas dalam kegiatan sehari-hari telah berjalan berdasarkan kodrat, kaum perempuan tidak boleh bekerja di luar rumah hanya mengurus rumah dan memelihara anak dan suami. Sedangkan bagi kaum laki-laki berkewajiban bekerja untuk mencari nafkah bagi seluruh keluarganya.

Di masyarakat Kasepuhan Ciptagelar dalam satu atap rumah dapat diisi oleh beberapa kepala keluarga, karena bagi anak yang sudah menikah tidak di wajibkan pindah rumah selama mereka dirasa belum siap. Sistem kamasyarakatan dimaksud adalah peraturan adat yang menjadi hukum bagi masyarakat Kasepuhan Ciptagelar, aturan yang digariskan leluhur dan mempunyai konsekuensi hukuman bagi yang melanggar dan imbalan pahala bagi yang mematuhinya dimana sanksi bagi yang melanggar biasanya bersifat magis.

Perkembangan jiwa di Kasepuhan dapat dikatakan tinggi karena aturan usia nikah di masyarakatnya sangat muda. Bagi perempuan, usia nikah adalah 14-20 tahun dan bagi laki-laki adalah 16-25 tahun usia nikah yang berlaku masih sangat muda, disat anak-anak kota masih sibuk dengan kegiatan pendidikannya masyarakat Kasepuhan dihadapkan dengan pernikahan. Karena sudah terjadi pernikahan pada usia muda tersebut maka tingkat kelahiran tinggi dan mobilitas jiwa berkembang pesat.

(22)

Upacara pernikahan dilakukan secara sederhana hanya dihadiri keluarga, pemimpin adat dan penghulu.

Masyarakat Kasepuhan Ciptagelar memiliki upacara adat yang telah terkenal ke pelosok negeri bahkan manca negara, upacara tersebut adalah upacara Seren taun yang sering dilaksanakan satu tahun sekali. Upacara ini dilakukan bertujuan untuk memberikan rasa syukur kepada Tuhan YME atas limpahan panen yang didapat masyarakat Kasepuhan pada tahun itu. Setiap tahunnya upacara Seren taun banyak menyedot perhatian ratusan orang dari berbagai kalangan dan daerah. Mereka mau datang ke Kasepuhan dengan melalui perjalanan dengan medan yang berat demi keunikan budaya ini. Tidak hanya masyarakat biasa yang datang pada acara ini, pihak pemerintahan, peneliti atau sejarawan, artis-artis yang biasa meminta petuah kepada Abah Anom dan yang paling banyak datang adalah wartawan dan media massa untuk mendapatkan berita.

4.1.3.1 Ajaran hidup Masyarakat Kasepuhan Ciptagelar

Masyarakat Kasepuhan Ciptagelar masyarakat tradisional yang lekat akan aturan hidup dari leluhur. Tidak hanya sebagai hubungan mereka dengan leluhurnya tetapi aturan tersebut selalu diterapkan dalam kehidupan sehari-harinya. Bagi mereka pantang meninggalkan aturan nilai hidup dalam setiap kegiatannya sehari-hari karena mereka percaya bahwa apa yang mereka dapat pada hari itu karena bukti kasih saying leluhurnya begitu juga dengan keselamatan yang selalu menyertai kehidupan masyarakatnya merupakan limpahan dari leluhur.

Pandangan dan ajaran hidup yang harus dipatuhi oleh masyarakat Kasepuhan Ciptagelar adalah:

1. Yakin kepada amanat leluhur yang diberikan kepada anak cucu 2. Harus melestarikan adat leluhur

(23)

3. Harus bisa mengayomi hidup dengan tata cara leluhur

4. “Nyaur kudu diukur, nyabda kudu di tunggang, bekasna bisi nyalahan”. Berbicara harus benar, ucapan harus tepat jangan salah bicara karena dapat mencelakakan

5. “Mipit kudu amit, ngala kudu menta, make suci, dahar halal, ulah maen kartu, maen dadu, madat, jinah, ngrinah tampa wali”. Memetik harus ijin, mengambil harus minta, pakai apa saja mesti yang suci atau bersih, memakan yang halal, jangan berjudi, madat, berjinah sebelum ada perkawinan

6. “Kudu boga rasa, rumasa, ngarasa kudu hate tekad, ucap jeung lampah, kudu akur jeung dulur, hade carek jeung saderek, kabatur tinggal makena”. Harus rukun dengan saudara, bicara baik dengan orang, terhadap orang lain tinggal menerapkan.

7. “Kudu sarende, saigel, sababad, sapihancan”. Ringan sama di jinjing berat sama dipikul.

8. “Kudu jadi takeucik saleuwi, kudu jadi buyur sacingkrung”. Harus jadi satu wadah, tujuan dan haluan

Pandangan hidup mereka mengajarkan bahwa mereka harus dapat mensyukuri anugrah dan rizki yang didapat sekecil apapun di setiap harinya, karena dengan rasa syukur itu akan mendatangkan rizki yang lebih melimpah dan membuat rizki yang mereka dapat lebih barokah atau lebih bernilai. Selain dengan harus pandai bersyukur, dalam hidupnya masyarakat Kasepuhan dituntu untuk selalu sadar diri, dalam artian tidak boleh sombong dan angkuh. Apa yang ada di dalam diri kita merupakansebuah pemberian dan titipan yang harus dijaga dana akan di ambil kembali oleh Tuhan Yang

(24)

Maha Esa. Leluhur sangat benci terhadap kesombongan karena dapat meusak diri dan menimbulkan penyakit hati.

Adapun adat istiadat dalam menanam padi yang harus dipatuhi oleh masyarakat Kasepuhan Ciptagelar adalah:

1. Menanam padi hanya satu tahun sekali

2. Dalam upacara harus menggunakan padi lokal yang sekarang jumlah varietasnya ada 100 jenis

3. Padi tidak boleh digiling 4. Beras tidak boleh dijual

5. Tidak boleh memasak di atas tanah dan harus menggunakan tungku Memakai ikat kepala adalah kebiasaan laki-laki di masyarakat Kasepuhan Ciptagelar yang tidak boleh ditinggalkan, terutama bila berada di lingkungan imah Gede. Makna dari kebiasan tersebut adalah sebagai simbol ajaran hidup yang mengerti dirinya sendiri dan lingkungan hidup. Hal itu dilambangkan dengan kain kepala yang mempunyai 4 sudut yang menunjukan 4 mata angin kehidupan dan lipatan segitiga yang ujungnya mengarah ke bawah sebagai symbol pengingat diri. Manusia adalah mahluk sosial yang sangat membutuhkan orang lain, artinya manusia harus memiliki rasa saling menghormati dan menghargai kepada orang lain karena manusia bersifat memiliki segala kekurangan yang tidak diperkenankan untuk memiliki rasa angkuh. Tidak hanya untuk kaum laki-laki nilai ini diperuntukan bagi seluruh warga Kasepuhan Ciptagelar bahwa setiap masyarakatnya harus bersadar diri akan dirinya sendiri dan tidak boleh sombong dalam seluruh aspek kehidupannya.

Walaupun aturan-aturan tersebut hanya diturunkan secara lisan dari generasi ke generasi selanjutnya, tetapi aturan tersebut mempunyai kekuatan mengikat

(25)

masyarakatnya. Sesepuh girang sendiripun akan mendapatkan sanksi atau hukuman bila melanggar adat dan berlaku tanpa kecuali.

4.1.3.2 Sistem Organisasi Kepemimpinan Adat

Setiap wilayah pasti memiliki seorang pemimpin yang bertanggung jawab terhadap keamanan wilayahnya. Kasepuhan Ciptagelar dipimpin oleh seorang pemimpin yang disebut sesepuh kampung dan sesepuh kampung dipimpin lagi oleh seorang sesepuh adat yaitu sesepuh girang. Dimana tugasnya yaitu mengatur keamanan dan kehidupan masyarakat sehari-hari serta membantu menjalankan proram pemerintah dikampung tersebut.

Pemimpin adat atau sesepuh girang diharuskan laki-laki, pemilihan sesepuh girang tidak dipilih secara langsung oleh rakyatnya tetapi dipilih menurut wangsit, dalam hal ini biasanya yang terpilih menjadi kepala adat adalah salah satu anak dari ketua adat yang menjabat sebelumnya. Aparatur sesepuh adalah orang-orang yang terpilih dan dipercaya oleh ketua adat.

Kasepuhan Ciptagelar merupakan komunitas adat tertentu yang sama memiliki pemimpin adat guna menjaga keamanan dan kehidupan warganya, hal ini sejalan dengan kampung adat Kasepuhan Ciptagelar yang bagi warganya keberadaan Kasepuhan bagai negara kecil yang memiliki aparatur pemerintahan dan otonomi tersendiri secara adat. Mereka mengakui kedaulatan Republik Indonesia dan merupakan bagian dari warganya, namun secara adat mereka memiliki pemimpin dan pengurus rumah tangga Kasepuhan Ciptagelar tersendiri yang harus dipatuhi.

Dalam pemilihan pemimpin adat di Kasepuhan Ciptagelar tidak dilakukan secara demokratis yang melibatkan seluruh warganya dan dilakukan pemilihan langsung. Sistem pengankatan pemimpin adat dilakukan atas dasar wangsit yang diberikan oleh leluhur. Wangsit merupakan petunjuk atau perintah leluhur yang

(26)

disampaikan kepada baris kolot atau calon pemimpin melalui mimpi. Keberadaan wangsit di lingkungan masyarakat Kasepuhan Ciptagelar sangat sakral, wangsit merupakan perintah leluhur yang harus dipatuhi tanpa kecuali, tidak boleh ada penolakan dan pelanggaran karena bagi yang melanggar akan mendapatkan bebendon atau musibah. Calon pemimpin adat hanya berasal dari keluarga pemimpin adat selanjutnya, hanya orang yang masih memiliki ikatan darah dengan pemimpin sebelumnya yang dapat menggantikan tampuk kepemimpinan selanjutnya.

Untuk menunjang tugas pemimpin adat dibuat struktur pengurus rumah tangga kampung adat ini merupakan sebuah upaya untuk mengatur seluruh aspek kehidupan warga Kasepuhan Ciptagelar. Keberadaan Abah Anom sebagai pemangku adat mendapat pengakuan dari pemerintah daerah. Dalam struktur adat masyarakat Kasepuhan Ciptagelar untuk melakukan interaksi dengan dunia luar dibuat struktur organisasi yang telah mengalami pengembangan sebagai adaptasi sesuai dengan kebutuhan. Walaupun didalam struktur pemerintahan Kasepuhan Ciptagelar sudah ada pembagian tugas secara turun-temurun yang dijalani oleh anggota dengan sepenuh hati.

Gambar 4.2 Diagram struktur pemerintahan adat Kasepuhan

Dok. Kasepuhan yang Tumbuh diatas yang Luhur, Kusnaka Adimihardja.1995 Sesepuh Girang

Sesepuh Lembur - 568 kampung kecil dalam 360 kampung besar

Bendahara Seikretaris I dan II Baris Kolot/Kepala

(27)

Struktur diatas sebagai tuntunan manajemen untuk memperlancar tugas-tugas Abah Anom dalam mengayomi warganya. Ke 13 baris kolot atau kepala urusan di atas adalah pembantu Abah secara turun temurun dan bersifat sosial, artinya kerja dan jasanya bagi Kasepuhan tidak mendapatkan bayaran atau gaji karena tugas tersebut merupakan kewajiban pengabdian rakyatnya terhadap Kasepuhan dan pemimpin adat serta leluhurnya. Pelimpahan tugasnya dilakukan secara turun temurun berdasarkan garis keturunan sehingga jika ada yang tidak melaksanakan tugasnya akan mendapatkan kualat (sanksi). Ke-13 pengurus adat yang membantu tugas pemimpin adat adalah:

1. Rorokan Pakakas atau petugas adat perawat pusaka yang bertugas untuk:

• Memeriksa perkakas

• Menyiapkan bahan dan alat-alat perdukunan dan pamakaiyaan

2. Rorokan Pamakayaan atau petugas adat pertanian yang bertugas untuk:

• Mewakili Abah dalam hal terkait dengan pertanian

• Menjalankan perdukunan atau pengobatan pada warga

3. Rorokan Paninggaran atau petugas keamanan dalam bidang pertanian yang bertugas untuk:

• Mengontrol lahan pertanian

• Memberantas hama-hama yang mengganggu, misalnya babi

• Mencari ikan atau daging untuk kepentingan pemimpin adat (dengan

berburu) tapi sekarang ini tugas ini tidak lagi dilakukan karena warga sudah memelihara ternak.

4. Rorokan Kapanghuluan atau petugas adat dalam keagamaan yang bertugas untuk:

(28)

• Membimbing warga dalam keagamaan

• Memimpin acara syukuran

• Menjalankan syukuran misalnya Rajaban, Mauludan dan Nadaran

5. Rorokan Kadukunan atau petugas adat dalam pengobatan yang bertugas untuk:

• Memeriksa rorokan pusaka di bagian perdukunan

• Mengobati warga yang tidak dapat ditangani oleh pamakayaan

6. Rorokan Bengkong atau petugas adat khitan yang bertugas untuk:

• Terbagi dua, yaitu untuk laki-laki dan perempuan

• Melaksanakan khitanan

• Mengatur hajatan disemua warga Kasepuhan

7. Rorokan Paraji / Nini Beurang atau petugas adat urusan dapur rumah pemimpin adat yang bertugas untuk:

• Mengatur dapur di imah gede atau wakil emak (sebutan istri Abah)

• Menyiapkan sesaji yang diperlukan oleh Abah

8. Rorokan Paraji Hias atau petugas adat urusan merias yang bertugas untuk:

• Merias pengantin

• Selamatan pengantin yang terkait dengan adat

9. Rorokan Paraji atau petugas adat kelahiran atau dukun bayi yang bertugas untuk:

• Mengurusi orang yang hamil

• Mengurus orang yang melahirkan

• Mengatur syukuran 40 hari kelahiran

10. Rorokan Panahaban atau petugas adat kebersihan lingkungan yang bertugas untuk:

(29)

• Merawat bentengan (tembok batu untuk jalan atau pondasi)

11.Rorokan Ngebas atau petugas adat alam pertukangan yang bertugas untuk:

• Koordinator semua tukang bangunan

• Memimpin pembangunan dan perbaikan bangunan

12.Rorokan Tatabuhan atau petugas kesenian yang bertugas untuk:

• Mengatur grup kesenian yang ada

• Mengatur kesenian untuk hajatan

13.Rorokan Kapamukaan/Bebenteng atau petugas adat dalam keamanan yang bertugas untuk:

• Menjaga rumah Abah atau imah Gede

• Mengatur tamu yang akan menghadap Abah

• Mengamankan semua kawasan warga

• Pada jaman dahulu bertugas memimpin pasukan unutk melakukan

penyerangan

Ke-13 perangkat adat tersebut bertugas membantu tugas Abah dalam memimpin warga Kasepuhan Ciptagelar untuk memberikan yang terbaik bagi warganya. Posisi ke-13 perangkat adat tersebut ditempati oleh orang yang telah ditunjuk oleh pemimpin adat terdahulu dan posisi tersebut tidak dapat dirubah, apabila pejabat adat tersebut meninggal akan digantikan oleh anaknya. Pejabat perangkat adat dilakukan secara turun temurun sehingga dalam silsilah keluargapun menjadikan ukuran dari posisi keluarga di lingkungan warga luas Kasepuhan Ciptagelar.

Selain perangkat adat di dalam Kasepuhan Ciptagelar, terdapat sesepuh lembur akan menghadap secara rutin pada saat pelaksanaan upacara adat ngaseuk (tanam Padi), mipit (potong padi), nganjaran (makan padi pertama), pongokan (laporan tahunan) dan seren taun (serah tahun). Sesepuh girang dalam

(30)

menjalankan tugasnya sebagai pemimpin selalu berusaha menerapkan sistem demokrasi bagi hal-hal yang tidak terkait adat. Beliau mengundang masyarakat, sesepuh lembur atau minimal baris kolot.

4.1.3.3 Kesenian

Setiap suku bangsa dan masyarakat tradisional sekalipun memiliki kesenian khas daerahnya. Kesenian dikenal berfungsi sebagai hiburan bagi warga daerah. Bagi masyarakat Kasepuhan Ciptagelar keberadaan Kesenian tidak hanya sebagai hiburan tetapi juga berfungsi sebagai kegiatan-kegiatan ritual. Kesenian yang terdapat di Kasepuhan Ciptagelar adalah sebagai berikut:

Rengkong, bunyi-bunyi yang dikeluarkan dari bambu alat pikul padi, dihasilkan dari gesekan tali gantungan dengan bambu yang berlubang dan sering dipertunjukan pada Seren Taun

Dog dog lojor, alat musik pukul dari bambu kendang dan angklung, digunakan pada saat hendak tanam padi, panen,mengangkut hasil panen, menyambut dan mengiring tamu

Pantun buhun, berpantun dengan diiringi kecapi, isi pantun biasanya bercerita tentang sejarah yang berkaitan dengan Kasepuhan. Seperti cerita Raden Tanjung, Munding Jalingan, Badak Pemalang dll yang merupakan cerita rakyat. Kesenian ini tidak ditampilkan sembarangan, karena menyangkut cerita leluhur. Sebelum ditampilkan harus ada ijin dan sesaji dahulu dan akan kena kualat bila melanggar.

Seni Jipeng, kesenian seperti drama yang memainkan cerita rakyat dengan alat-alat musik tradisional. Cerita diselingi dengan tarian seperti jaipong dan kerap dipertunjukan pada bulan purnama pad halaman rumah sesepuh girang

(31)

Topeng, mirip dengan Jipeng tetapi musik pengiringnya adalah gamelan serta pemainnya menggunakan topeng

• Pencak silat

Reog

Debus dan Ujungan, kesenian bela diri dan kekebalan tubuh yang dilakukan pada diri sendiri atau orang lain

Seni Gondong, ibu-ibu memukul lesung dengan alu sambil menyanyi dan berjoget dilakukanpada acara seren taun di halaman sesepuh girang.

Berikut adalah jenis kesenian yang umumnya sering di mainkan oleh masyarakat Kasepuhan Ciptagelar, masih banyak kesenian lain seperti Toleat, Calung rantai (Calung buhun). Kerinding, Suling, Celempung, Wayang Golek dan Ketimpring. Kesenian tersebut biasanya dilakukan secara tertutup bagi lingkungan Kasepuhan saja dan diperuntukan bagi keluarga besar pemimpin adat dan masyarakat Kasepuhan.

4.2. Peran Abah Anom Sebagai Pemimpin Adat 4.2.1 Biografi Abah Anom

Abah Anom memiliki nama asli Encep Sucipta yang lahir dari pasangan Ki Ardjo (alm) dan Ma Tarsih (alm) yang sering disebut eyang sepuh. Abah Anom merupakan tiga bersaudara dengan dua adik perempuan, Abah adalah anak sulung dan kedua adik perempuannya yang bernama Eli dan Euis. Abah Anom memiliki turunan pemimpin kerajaan dari ayahnya Ki Ardjo yang memimpin Kasepuhan sebelum masa kepemimpinan Abah Anom menggantikan ayahnya Aki Buyut Rusdi yang memimpin Kasepuhan Ciptagelar periode tahun 1937-1960.

Pemimpin di Kasepuhan Ciptagelar berkuasa dengan proses pesan dari wangsit dan yang akan menjadi pemimpin adat hanya orang yang memiliki ikatan

(32)

darah dengan pemimpin terdahulu. Jadi tidak ada pencalonan yang berasal dari rakyat atau anggota sesepuh lain kecuali pesan dari wangsit. Abah Anom lahir pada waktu Kasepuhan Ciptagelar berada di Ciganas-Sukabumi tahun 1960 pada masa kepemimpinan ayahnya Ki Ardjo. Masa kecil Abah Anom sama dengan anak-anak lainnya yang membedakan adalah sikap segan warganya karena Abah merupakan anak pemimpin adat. Abah tumbuh di lingkungan Kasepuhan yang masih sangat sederhana, kala itu Kasepuhan masih tertutup dengan dunia luar sehingga Abah tidak mengenal pendidikan formal.

Keluarga Abah Anom sangat ramah, tata bahasa dan tingkah laku sangat dijaga dan lembut. Keluarga Abah Anom tinggal di Imah Gede atau disebut Imah Rurukan oleh warga Kasepuhan yang terletak di tengah kampung adat. Sepeninggal ayahhandanya, Abah Anom berpindah ke Ciptagelar sedangkan ibunya tetap tinggal di Ciptarasa tempat pusat adat terdahulu. Eyang sepuh enggan meninggalkan tempat peristirahatan suaminya sehingga Ma Tarsih tidak ikut pindah bersama Abah Anom.

Abah Anom muda merupakan pribadi yang bersahaja dan sederhana, beliau sangat cinta pada kebudayaannya. Walapun Abah terlahir sebagai anak pemimpin adat tapi hal itu tidak membuat beliau sombong, beliau tetap bermain berbaur dengan remaja lainnya yang seumuran melakukan kegiatan bersama-sama. Menginjak remaja, Abah sering diajarkan mengenai ritual-ritual yang dilakukan ayahnya Ki Ardjo seperti mutih atau puasa untuk ragam makanan, hanya memakan nasi untuk beberapa waktu. Ngembang terhadap makam leluhurnya sebelum melakukan sesuatu untuk mendapat restu dan diberikan keselamatan selama kegiatan berjalan.

Pada saat usia Abah menginjak 17 tahun Abah ditinggalkan ayahnya Ki Ardjo. Menurut wangsit Abah Anom terpilih untuk menduduki posisi sebagai pemimpin adat. Walaupun pada saat itu Abah masih sangat muda tapi Abah faham bahwa keputusan

(33)

wangsit tidak boleh di ganggu gugat dan merupakan harga mati sehingga mau tidak mau harus dipatuhi. Abah Anom yang kala itu masih asik bermain dengan anak seusianya harus rela meninggalkan dunia remajanya dan mengemban tugas berat, yaitu beban besar untuk menentukan nasib warga Kasepuhan. Karena usianya yang muda ini untuk kemudian Abah lebih dikenal dengan nama Abah Anom yang berarti anak muda yang dituakan. Walaupun usianya yang masih muda namun kedudukannya sebagai pemimpin adat dengan segala keputusannya yang telah dibuat bersama baris kolot harus dipatuhi oleh seluruh warganya.

Karena umurnya yang masih muda masih dapat dikatakan idealisme, Abah menginginkan perubahan terhadap rakyatnya, agar rakyatnya dapat berkembang seperti kebanyakan warga luar yang pernah dilihatnya dalam berkunjung ke Kasepuhan dengan tetap memegang teguh aturan adat. Keinginan Abah merupakan perintah bagi rakyatnya namun permintaan dan keinginan Abah harus dilandasi oleh tanggungjawab karena peraturan adat yang ketat berlaku bagi seluruh warga Kasepuhan Ciptagelar tidak terkecuali Abah dan seluruh anggota keluarganya sendiri.

Abah Anom tidak pernah mengenyam pendidikan formal karena Abah Anom tumbuh di lingkungan Kasepuhan yang masih tertutup dengan dunia luar. Abah hanya mendapatkan pendidikan tradisional mengenai kelestarian dan tanggung jawab untuk menjaga hutan sekitar dan pendidikan keluarga. Selanjutnya Abah mendapatkan pelajaran dari alam, seperti apa yang dilakukan oleh anak rimba yang akrab dengan kondisi hutan.

Abah Anom merupakan sosok yang sangat disegani dan dihormati, bagi rakyatnya beliau adalah orang suci. Abah dipercaya oleh warganya dapat berjalan diatas air, terbang dan menyembuhkan orang sakit. Tentu pada zaman sekarang hal tersebut sulit dipahami oleh akal, jauh dari jangkauan rasional tapi itulah yang mereka

(34)

pegang hingga sekarang. Abah Anom merupakan orang suci yang dipercaya oleh leluhurnya untuk memimpin warga adat Kasepuhan Ciptagelar, Abah seringkali di mintai petuah oleh warganya bahkan seluruh warga dari Kasepuhan lain di wilayah gunung Halimun.beragam tujuan hidup seseorang mendorong mereka datang kepada Abah untuk meminta petuah dan restu agar tujuan tersebut dapat dicapai dengan lancar dan cepat. Beragam tujuan seperti, meminta diberikan jodoh, dipererat perjodohannya, sukses dalam karier dan menjayakan usahanya, walaupun hal ini diluar nalar karena tujuan yang kita inginkan adalah bergantung pada usaha yang kita lakukan beserta doa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tapi di setiap harinya rumah Abah tidak pernah sepi dari tamu yang datang untuk memimta petuah. Pada kenyataannya sering kali orang salah kaprah, doa dari Abah dijadikan jalan pintas dan hal ini tidak hanya dipercaya oleh warganya saja tetapi banyak berdatangan orang-orang kota baik dari pemerintahan bahkan artis. Mereka memimta bantuan Abah Anom untuk menunjang kariernya dan bisa mendapatkan apa yang diinginkan dengan cepat. Abah tidak pernah memimta imbalan kepada tamunya, apabila akan memberi adalah seikhlasnya. Dari tamu yang datang untuk berkonsultasi inilah Abah medapatkan imbalan dan menjadi pengasilan untuk Abah.

Abah Anom menikah dengan Ema Uyen Suyenti dan memiliki 3 orang anak, 3 laki-laki dan satu perempuan diantaranya Ugi Sugriwa Rakasiwi yang sekarang menjadi pemimpin adat di Kasepuhan Ciptagelar menggantikan ayahnya Abah Anom, putra yang kedua bernama Nde atau Ade Sofyan yang masih berkuliah di Bandung di salah satu perguruan tinggi swasta jurusan kepariwisataan dan bungsu bernama Putri yang masih duduk di kelas 3 SD Bank Jabar di Kasepuhan. Anak-anak Abah Anom tumbuh disaat kondisi Kasepuhan Ciptagelar sudah mengalami pengaruh budaya luar. Abah Anom sangat peduli terhadap pendidikan anak-anaknya sehingga Abah

(35)

mengirimkan anak sulungnya untuk bersekolah di daerah Sukabumi dan memasuki sekolah unggulan di kota tersebut. Selulus SMU, ugi meneruskan ke perguruan tinggi jurusan kedokteran di Sukabumi tapi hal itu tidak berjalan lama. Ugi yang merupakan anak sulung Abah ini tidak betah berada di kota, Ugi lebih memilih berhenti kuliah dan mengabdi bagi kampungnya dengan semua bekal yang dia bawa dari hasil sekolahnya.

Sepeninggal ayahnya Ugi menduduki kursi pemimpin adat dengan sebutan Abah Anom Ugi Sugriwa. Hasil dari wangsit dan rempugan para baris kolot telah memutuskan bahwa Ugi yang akan meneruskan tugas Abah Anom. Setelah 2 bulan meninggalnya Abah Anom, Ugi menikah dengan perempuan pilihannya yang telah dipacarinya selama setahun yang berasal dari luar kampung Ciptagelar. Keluarga Abah Anom sangat ramah, sangat mencerminkan karakteristik masyarakat Sunda yang lemah lembut dan santun.

4.2.2 Kepemimpinan Abah Anom

Kepemimpinan Abah Anom yang di mulai pada tahun 1983 merupakan gaya kepemimpinan baru dalam sejarah kepemimpinan Kasepuhan Cipatgelar. Adanya perubahan terhadap gaya kepemimpinan ini telah mempengaruhi terhadap laju perkembangan masyarakat Kasepuhan. Abah Anom adalah satu-satunya tokoh pembaharu di Kasepuhan Ciptagelar. Para simpatisan yang telah mengikuti perkembangan masyarakat Kasepuhan Ciptagelar sejak lama, pada masa kepemimpinan Abah Anom ini mereka mendapatkan tempat di dalam struktur pemerintahan adat Kasepuhan untuk mengurusi kepentingan Kasepuhan Ciptagelar yang berhubungan dengan dunia luar.

Abah Anom memimpin rakyatnya dengan gaya baru, adanya pemberlakuan kebijakan baru yang menuntun masyarakatnya menuju masyarakat yang berkembang,

(36)

masyarakat yang mengenal teknologi. Kehidupan Kasepuhan Cipategalar selama periode 1983-2003 di bawah kepemimpinan Abah Anom diwarnai pasang surut perubahan sosial pada masyarakatnya sebagai pengaruh perubahan pada budaya materil. Dengan gaya pemimpin inilah Abah mengharuskan masyarakatnya untuk beradaptasi dengan aturan dan perubahan yang terjadi.

Kepemimpinan di Kasepuhan Ciptagelar adalah kepemimpinan kharismatis, dimana pemimpin adat memiliki wewenang yang didasarkan pada kharisma, yaitu suatu kemampuan khusus (wahyu, wangsit) yang ada pada diri seseorang. Kemampuan khusus ini melekat pada orang tersebut karena sebuah anugrah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Orang sekitar yaitu warganya mengakui akan adanya kemampuan tersebut atas dasar kepercayaan dan pemujaan, karena mereka menganggap bahwa sumber kemampuan tersebut adalah sesuatu yang berada diatas kekuasan dan kemampuan manusia pada umumnya. Sumber kepercayaan dan pemujaan karena kemampuan khusus tadi pernah terbukti manfaat serta kegunaannya bagi masyarakat. Jadi, dasar wewenang kharismatik ini bukanlah terletak pada suatu aturan atau hukum, akan tetapi bersumber pada diri pribadi individu bersangkutan.

Keberadaan Abah Anom sebagai pemimpin adat diakui oleh pemerintah oleh karena itu banyak program pemerintah yang telah dicanangkan untuk pengembangan Kasepuhan Ciptagelar yang kaya akan budaya Sunda tersebut. Pengembangan yang telah dilakukan pemerintah salah satunya adalah dibuatnya jalan batu dari daerah Pangguyangan menuju ke Ciptarasa atau eks kampung adat, tidak hanya jalan utama tetapi juga gang-gang yang telah ada di perluas dan diberi batu.

Lokasi keberadaan kampung Gede selalu berpindah-pindah, alasan perpindahan kampung gede hingga saat ini belum diketahui secara pasti. Semua perpindahan terjadi berdasarkan wangsit dari leluhur kepada sesepuh girang dan berpindahan akan

(37)

terus terjadi sesuai pesan yang disampaikan melalui wangsit. Berdasarkan beberapa petunjuk tempat yang kelak akan menjadi kampung Gede berikutnya, diantaranya adalah Cicemet-Sukabumi (sudah ditempati saat ini dibawah pimpinan Abah Anom), lembah Ciawitali-Sukabumi, Lebak Tipar-Banten dan Muara Tilu Cibareno-banten.

Menurut beberapa peneliti, apabila ditinjau secara ilmiah mengenai perpindahan kampung Gede adalah didasarkan dari kualitas sumber daya alam di tempat tersebut tidak lagi baik. Seperti indeks air yang sudah berkurang, kualitas kesuburan tanah yang berkurang sehingga masyarakat Kasepuhan Ciptagelar mencari lahan baru. Tapi penelitian tersebut tidak dapat dibenarkan karena eks kampung adat biasanya masih dihuni oleh sebagian masyarakat Kasepuhan yang tidak melakukan perpindahan. Seperti keberadaan kampung Ciptarasa yang masih dihuni oleh sebagian warga Kasepuhan yang tidak turut berpindah, mereka masih mendapatkan air yang cukup sekalipun pada musim kemarau dan melakukan kegiatan bercocok tanam tanpa hambatan dari kualitas tanah. Perpindahan, pergantian pemimpin adat adalah sebuah keputusan yang disampaikan oleh wangsit, sehingga mau tidak mau harus dipatuhi karena apabila melanggar maka akan mendapatkan musibah dari leluhur.

Pada masa kepemimpinan Abah Anom, anak adat diberikan tempat di dalam struktur pemerintahan adat. Komunitas anak adat ini diberi nama Baris Koboy yang memiliki tugas membantu Abah mengurusi keperluan Abah dengan dunia luar. Karena komunitas Baris Koboy berasal dari “luar” maka dianggap lebih faham untuk menjadi mediator bagi Abah untuk melakukan interaksi dengan dunia luar.

Setiap pemimpin pada umumnya akan memimpin rakyatnya sesuai dengan gayanya, sesuai dengan kebutuhan dan tujuannya. Berbeda dengan pemimpin Kasepuhan Ciptagelar karakteristik pemimpin Sunda yang bersahaja memiliki amanat untuk menjalankan aturan atau adat Sunda kuno tanpa sentuhan perubahan dan gaya

(38)

dari tiap pemimpin di setiap pergantian pemimpinnya. Gaya kepemimpinan di Kasepuhan Ciptagelar bersifat baku, pergantian pemimpin hanya ditandai oleh perpindahan tampuk kepemimpinan tanpa ada tambahan gaya kepemimpinan dan kebijakan baru, hanya meneruskan pemimpin terdahulu. Dalam sejarah kepemiminan, Abah Anom sebagai pengganti ayahnya Aki Ardjo mengadakan pembaharuan dalam memimpin, Abah Anom ingin melakukan pembaharuan dengan memimpin menyesuaikan perkembangan zaman dan kebutuhan warganya dengan tujuan mensejahterakan rakyatnya. Adapun kebijakan-kebijakan yang dibuat pada masa kepemimpinan Abah Anom, yaitu:

• Membuka wilayahnya kepada dunia luar

• Mengijinkan kepemilikan benda-benda modern ( kendaraan,

mesin-mesin dan alat-alat elektronik lain), dengan catatan diberlakukan pajak tahunan atas kepemilikan barang tersebut

• Mengijinkan warga luar untuk menjadi warga adat Kasepuhan

• Menerima kedatangan orang asing (orang barat)

• Mengijinkan warganya bekerja di luar Kasepuhan

• Melibatkan warga adat ( warga Kasepuhan yang berasal dari waga

luar) untuk ikut berperan menjadi barisan pengurus keperluan Kasepuahan, yaitu menjadi media antara Abah dengan kepentingan dunia luar yang disebut dengan baris koboy

• Mengijinkan warganya menikah dengan warga luar.

Kebijakan yang dikeluarkan oleh Abah Anom tersebut merupakan kebijakan yang tidak biasa bagi sejarah perkembangan masyarakat Kasepuhan Ciptagelar. Kebijakan yang berbeda dari kebijakan pemimpin sebelumnya yang telah dijalankan secara turun temurun. Abah ingin melakukan pembaharuan bagi warganya dengan

(39)

harapan warganya bisa lebih sejahtera seihngga memberlakukan peraturan baru tersebut. Memasukan aturan-aturan baru yang membuka kesempatan terhadap dunia luar. Kebijakan sesepuh girang atau Abah Anom ini telah dirundingkan terlebih dahulu dengan para Baris Kolot, kebijakan yang dikeluarkan Abah Anom harus dipatuhi oleh seluruh warga Kasepuhan Ciptagelar karena perintah yang diberikan Abah merupakan perintah yang diberikan dari leluhur dengan melalui pemimpin adat.

Melalui kebijakannya Abah Anom mengharapkan pembaharuan bagi warganya untuk meningkatkan kesejahteraan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusianya dengan tetap memegang teguh peraturan adat Sunda buhun. Terbuka dan mengikuti perkembangan kemajuan zaman dengan tetap menjaga adat dan tradisi leluhur agar tidak lagi menjadi masyarakat yang tertinggal dan tetap hidup dengan sesuai perintah leluhur.

4.3 Kehidupan Masyarakat Kasepuhan Ciptagelar Pada Masa Kepemimpinan Abah Anom

4.3.1 Upaya Masyarakat Ciptagelar dalam menerapkan kebijakan yang dikeluarkan oleh Abah Anom

4.3.1.1 Berubahnya Kebiasaan Adat Sehari-hari 4.3.1.1.1 Gaya Hidup

Suatu peradaban baru yang sedang tumbuh dalam kehidupan saat ini telah membawa gaya baru terhadap kehidupan keluarga, mengubah cara kerja, cara hidup, membawa tatanan ekonomi baru, dan juga mengubah kesadaran manusia. Serpihan peradaban itu telah ada sekarang ini dan orang-orang yang takut terhadap masa depan itu terlibat dalam suatu pelarian ke masa lalu dan mencoba memulihkan kembali dunia mereka yang telah berubah jauh dari yang diharapkan.

Pengaruh globalisasi pada umumnya selalu menyeret manusia ke arah negatif. Pertukaran dan kontak kebudayaan antara budaya global dan budaya lokal tradisional secara timbal balik menjadi sangat intensif dan mendalam. Sehingga di dalamnya

Gambar

Gambar 4.1Leuit Sijimat
Gambar 4.2 Diagram struktur pemerintahan adat Kasepuhan

Referensi

Dokumen terkait