• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

A. Latar Belakang Masalah

Konsep mengenai suatu negara telah lama diperbincangkan di lingkaran para pemikir-pemikir politik dunia, bahkan para filosof di zaman pra modern pun sudah lama memperbincangkan hal ini. Bagaimana sesungguhnya konsep negara yang ideal yang dapat mewadahi semua potensi manusia yang berada di dalamnya? Plato mengatakan bahwa negara haruslah dilihat sebagai suatu sistem pelayanan yang mengharuskan setiap warga negara secara bertanggung jawab saling mengisi, memberi dan menerima, menukar jasa, dan memerhatikan kebutuhan sesama warga, serta saling membangun (Rapar, 2001: 57).

Permasalahan negara di mulai pada masa peradaban Yunani Kuno, Plato menyaksikan bagaimana seorang yang berkuasa dapat memengaruhi terhadap sebuah komunitas yang dinamakan negara. Negara dimulai dengan keinginan dan kebutuhan manusia yang begitu banyak dan beraneka ragam, yang tidak dapat terpenuhi dan terpuaskan oleh kekuatan dan kemampuan diri sendiri, oleh karena itu terbentuklah apa yang dinamakan negara. Protagoras, seorang tokoh

(2)

terkemuka kaum Sofis, mengatakan bahwa negara dicipta oleh manusia itu sendiri (Rapar, 2001: 56).

Manusia pada awalnya hidup sendiri-sendiri, memenuhi keinginan dan kebutuhan, namun seiring berjalannya waktu manusia menyadari bahwa kebutuhan yang harus dipenuhi banyak menemukan kesulitan dan gangguan, terutama kesulitan dan gangguan yang berasal dari luar diri manusia itu sendiri, maka pada saat itu manusia mulai hidup berkelompok hingga pada akhirnya munculah komunitas yang dinamakan negara. Jean Bodin (1530-1596) mendefinisikan negara sebagai pemerintah yang tertata dengan baik dari beberapa keluarga serta kepentingan bersama mereka oleh kekuasan yang berdaulat. Bodin menerangkan bahwa terdapat empat unsur pokok yang perlu dilihat dalam sebuah negara: tatanan yang benar, keluarga, kekuasaan yang berdaulat, dan tujuan bersama. Hal ini berarti bahwa perlu ada keselarasan antara pemerintah dan warga negaranya (Schmand, 2002: 279).

Suatu negara memiliki banyak persoalan diantara warga negara dan pemerintahnya, bukan hanya persoalan pemerintah sebagai pemimpin dalam suatu negara, tapi juga warga negara yang menjadi satu kesatuan dengan pemerintah. Menurut Plato, negara ideal pada hakikatnya adalah suatu keluarga, di dalam negara semua bersaudara, karena hakikat suatu negara adalah keluarga, maka kesatuan antara

(3)

pemerintah dan warga harus senantiasa dijaga dan dipelihara (Rapar, 2001: 55).

Menurut kaum sofis negara semata-mata adalah instrumen, suatu sarana atau suatu mekanisme yang digunakan manusia untuk mencapai dan memperoleh segala sesuatu yang diinginkan. Sedangkan menurut Aristoteles bahwa sesungguhnya setiap negara itu merupakan suatu persekutuan hidup atau lebih lagi suatu persekutuan hidup politis yang dalam bahasa Yunani disebut he koinonia politike, sementara Plato mengatakan bahwa tujuan hidup manusia adalah kesenangan dan kebahagiaan, maka tujuan negara harus sinkron dengan tujuan hidup manusia yakni kesenangan dan kebahagiaan warganya (Rapar, 2001: 58).

Seiring dengan perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan, juga hadirnya agama di tengah-tengah kehidupan manusia, konsep negara mempunyai sudut pandang yang berbeda dari para pemikir agama, khususnya Islam. Islam adalah agama yang universal atau syumul (menyeluruh), mencakup semua dimensi kehidupan dengan syari’at. Islam menata kehidupan manusia sejak dilahirkan sampai meninggal dunia. Islam mengajarkan konsep tawazun bagaimana manusia dapat seimbang antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Kehidupan dunia yang menyangkut keberlangsungan kehidupan manusia itu sendiri, Islam secara mendalam mengatur semuanya. Islam sebagai agama yang syumul, Islam mengatur segala aspek kehidupan manusia,

(4)

tidak hanya ibadah yang hubungannya dengan Sang Khalik saja, tetapi juga dengan lingkungan dan makhluk hidup lainnya, seperti aspek sosial, aspek pendidikan, aspek ekonomi, aspek budaya, aspek politik dan lain sebagainya.

Islam tidak semata-mata sebagai sistem agama, karena Islam meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, baik itu spiritual, fisik, dan intelektual. Orang-orang sampai saat ini masih banyak yang memperbincangkan hubungan Islam dan politik, Islam dan ekonomi, Islam dan budaya, bahkan perbincangan itu masih diperbincangan di kalangan umat Islam itu sendiri, termasuk hubungan Islam dan pengaturan kenegaraan (Rais, 1998: 176).

Konsep negara di dunia Islam sudah banyak dikemukakan oleh para pemikir-pemikir Islam modern, diantaranya adalah Imam Syahid Hasan Al-Banna, seorang pemikir Islam yang berasal dari negara timur tengah, lebih tepatnya dari Mesir. Pemikiran-pemikiran Hasan Al-Banna tentang negara banyak dijadikan referensi di kalangan para pemeluk agama Islam dunia. Hasan Al-Banna dalam perjalanan hidupnya mendirikan sebuah gerakan Islam modern untuk menjawab kegelisahan umat Islam saat itu, salah satunya terkait dengan kegelisahan umat Islam terhadap kepemimpinan dan kenegaraan.

Umat Islam pasca runtuhnya kekhilafahan Turki Utsmani pada tanggal 03 Maret 1924 mengalami kemunduran dari berbagai hal. Kekhalifahan Turki Utsmani yang runtuh membuat tatanan sistem

(5)

kenegaraan dalam dunia Islam berubah total, sehingga sistem kenegaraan Turki yang pada saat itu sebagai pusat kepemimpinan Islam dunia mengalami perubahan. Konsep negara Islam yang berlandaskan asas syari’at yaitu khilafah berubah menjadi asas negara sekuler.

Sementara di Indonesia sebagai negara merdeka mempunyai konsep negara sendiri yang telah tertuang dalam ideologi negara yaitu Pancasila. Pancasila merupakan falsafah negara Indonesia, ide-ide besar para pendiri bangsa Indonesia berada dalam Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa. Pancasila sebagai suatu paradigma merupakan model atau pola berpikir yang mencoba memberikan penjelasan atas kompleksitas realitas sebagai manusia personal dan komunal dalam bentuk sebuah bangsa dan negara. Pancasila merupakan satu kesatuan, sila-silanya merupakan dasar negara Indonesia harus menjadi sumber nilai, kerangka berfikir, serta asas moralitas bagi pembangunan negara Indonesia, sebagai basis moralitas dan haluan kebangsaan.

Pancasila saat ini masuk pada era globalisasi yang mau tidak mau harus dihadapi oleh negara Indonesia. Indonesia sebagai negara berkembang harus berhadapan langsung dengan negara maju. Indonesia yang levelnya masih sebagai negara berkembang di hegemoni oleh negara maju dalam relasi ekonomi politik internasional, sehingga Indonesia yang mempunyai jati diri Pancasila terlupakan atau

(6)

bahkan mungkin dilupakan, karena mengedepankan asas kepentingan global. Indonesia memilih sistem politik demokrasi, harus mengedepankan asas keterbukaan dan kebebasan. Pancasila sebagai dasar filsafat negara Indonesia mengandung konsekuensi setiap aspek penyelenggaraan negara dan semua sikap dan tingkah laku bangsa Indonesia dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara harus berdasarkan pada nilai-nilai Pancasila, yaitu nilai-nilai Pancasila yang bersumber dari kehidupan bangsa Indonesia, nilai adat-istiadat, nilai budaya, dan nilai religi (Kaelan, 2013: 76).

Perjalanan panjang sejarah Pancasila sejak fase penciptaannya hingga saat ini telah memasuki babak baru. Pada babak yang mutakhir ini Pancasila berada dalam situasi menghadapi kompleksitas permasalahan ekonomi, politik, sosial, dan budaya seperti problem akut masalah kemiskinan dan korupsi, ancaman terorisme yang sudah berjejaring secara internasional, masifnya peredaran narkoba, dampak destruktif cuaca ekstrim, konflik sosial pada disintegrasi bangsa, serta sikap dan perilaku generasi muda yang kehilangan jati diri bangsa dan mengalami pendangkalan budaya. Sistem demokrasi pascareformasi membuka jalan bagi pertumbuhan dan perkembangan macam-macam ideologi aliran di Indonesia yang bercorak “sekuler” maupun “agamis” juga memberikan tantangan tersendiri bagi eksistensi Pancasila. Masuknya berbagai ideologi mempengaruhi eksistensi Pancasila itu

(7)

sendiri. Pancasila bukan saja kehilangan eksistensi tapi juga hanya dijadikan sebuah simbol dan formalitas kenegaraan.

Merealisasikan nilai-nilai Pancasila di era globasliasi penuh dengan tantangan dalam mengaktualiasikannya. Aktualisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegera perlu adanya loyalitas dari warga negara kepada bangsa dan negara Indonesia, sehingga loyalitas tersebut menimbulkan ketaatan. Ketataan moral dalam mengaktualisasikan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara perlu adanya dorongan yang kuat dari warga negara Indonesia sendiri, dorongan yang membuat warga negara Indonesia loyal terhadap Pancasila yaitu kesadaran akan wajibnya bagi setiap warga negara Indonesia untuk mengaktualisasikan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Rasa wajib yang telah tertanam dalam diri manusia Indonesia dan meresap dalam hati sanubari sebagai sebuah kesadaran, sehingga setiap manusia Indonesia dalam keadaan bersedia untuk melaksanakan Pancasila (Kaelan, 2002: 247).

Pancasila secara realita saat ini sangat jauh dari nilai-nilai Pancasila yang diinginkan. Pancasila saat awal pendiriannya mencita-citakan kehidupan berbangsa dan bernegara yang harmonis, aman dan sejahtera. Namun, Pancasila saat ini hanya sebatas formalitas dan simbol falsafah negara yang apabila diaktualisasikan masih banyak orang-orang yang belum paham terhadap nilai-nilai Pancasila itu

(8)

sendiri, padahal Pancasila bersumber dari nilai-nilai kehidupan bangsa Indonesia.

Pancasila merupakan ideologi terbuka, sehingga berbagai corak pemikiran dan ideologi tentang konsep negara hadir di tengah-tengah arus globalisasi bangsa saat sebagian besar bangsa ini lupa dengan ideologi negaranya sendiri. Banyak pemikiran dan ideologi dunia masuk ke Indonesia, salah satunya adalah ideologi gerakan yang didirikan oleh Hasan Al-Banna yaitu Ikhwanul Muslimin.

Ikhwanul Muslimin dalam gerakannya berdasar kepada syari’at Islam yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadits. Gerakan ini tujuan utamanya adalah mengembalikan sistem kenegaraan umat Islam yang telah runtuh. Konsep pemikiran Ikhwanul Muslimin khususnya mengenai tatanan kenegaraan banyak mempengaruhi negara-negara dunia. Pemikiran gerakan Ikhwanul Muslimin berasal dari Hasan Al-Banna menyebar ke seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia.

Pada kenyataannya sejarah kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari dukungan negara-negara yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Negara yang pertama kali mengakui dan mendukung Indonesia sebagai negara yang merdeka adalah Mesir. Mesir mempunyai hak andil dalam kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari dukungan dan dorongan Ikhwanul Muslimin yang didirikan Hasan Al-Banna, karena pada saat itu partai politik yag berpengaruh dalam konstitusi negara Mesir

(9)

adalah salah satunya adalah partai politik yang didirikan oleh Hasan Al-Banna melalui gerakan Islam modern Ikhwanul Muslimin.

Indonesia saat ini berada pada arus kebebasan dan masuknya berbagai macam ideologi dan gerakan transnasional. Gerakan transnasional akan sangat perpengaruh terhadap pola pikir bangsa Indonesia yang seharusnya pola pikir bangsa Indonesai berdasar pada Pancasila. Gerakan transnasional yang masuk ke Indonesia salah satunya adalah pemikiran Ikhwanul Muslimin, meskipun Ikhwanul Muslimin di masa kemerdekaan mempunyai hak andil, namun apakah akan berpengaruh terhadap konsep negara Indonesia, yaitu Pancasila yang dijadikan asas, ideologi, dan falsafah? Penulis berusaha meneliti mengenai hal ini, apa relevansi konsep negara Hasan Al-Banna dalam gerakan Ikhwanul Muslimin dengan konsep negara Pancasila.

1. Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah yang hendak ditelaah pada proses penelitian ini adalah: a. Bagaimana konsep negara menurut pandangan Hasan

Al-Banna?

b. Apa analisis kritis konsep negara Hasan Al-Banna serta bagaimana relevansinya dengan konsep negara Pancasila? 2. Keaslian penelitian

(10)

Peneliti belum pernah menemukan tulisan, jurnal atau buku-buku yang membahas secara terinci mengenai konsep negara menurut Hasan Al-Banna dan relevansinya terhadap konsep negara Pancasila dalam sudut pandang filsafat politik. Penulis mengamati bahwa sejauh ini hanya ada tulisan terkait dengan konsep negara, Hasan Al-Banna, dan Pancasila secara terpisah. Penelusuran yang terkait dengan penelitian tentang konsep negara, Hasan Al-Banna, dan Pancasila adalah sebagai berikut:

a. Konsep Negara dalam Filsafat Politik Ibnu Taimiyah 1263-1328). Skripsi M. Hanif Sukrasno, mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada 1992. Skripsi ini meneliti tentang konsep negara dalam pandangan Ibnu Taimiyah, yaitu seorang Ulama terkemuka di dunia Islam.

b. Konsep Negara dalam Filsafat Politik Agustinus. Skripsi Melan Basori, mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada 1999. Skripsi ini meneliti tentang bagaimana konsep negara menurut Agustinus dalam perspektif filsafat politik.

c. Konsep Negara Ideal Menurut Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani (1900- 1977 M/ 1330- 1398 H). Skripsi Eko Widiarto, mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada 2005. Skripsi ini menjelaskan tentang konsep negara

(11)

ideal menurut Taqiyuddin An-Nabhani, seorang pendiri gerakan Islam modern Hizbut Tahrir.

d. Loyalitas Rakyat Terhadap Pemimpin Menurut Al-Mawardi dan Hasan Al-Banna. Skripsi Rifko Handayani, mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2011. Skripsi menjelaskan tentang konsep kepemimpinan dan loyalitas terhadap pemimpin dari dua tokoh besar pemikir dunia Islam Hasan Al-Banna dan Al-Mawardi.

e. Pemikiran Hasan Al-Banna dalam Pendidikan Islam. Skripsi Muhammad Al-Banna mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2014. Skripsi ini menganalisis pemikiran Hasan Al-Banna dalam pembinaan Islam, karena Hasan Al-Banna terkenal dengan pembinaan Islamnya yang sangat baik sehingga melahirkan penerus-penurus pemikiran Hasan Al-Banna di kemudian hari setelah Hasan Al-Banna meninggal.

3. Manfaat penelitian a. Bagi filsafat:

Penelitian ini diharapkan dapat menambah wacana baru pada khasanah kekayaan kajian filsafat politik, yakni kajian-kajian yang terkait dengan konsep negara menurut tokoh - tokoh Islam dan konsep negara menurut Pancasila.

(12)

b. Bagi Kalangan Akademis dan Masyarakat:

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan dan menambah pemahaman masyarakat pada umumnya dan masyarakat akademis terhadap konsep negara menurut tokoh-tokoh Islam dan konsep negara Pancasila sebagai ideologi negara Indonesia dan menjadi sumber pengetahuan bagi kebutuhan perkembangan sosial politik pada keadaan masyarakat saat ini.

c. Bagi Peneliti:

Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi peneliti. Pertama, selain menambah wawasan penelitian ini diharapkan dapat menjadi pembelajaran untuk membiasakan diri berfikir secara sistematis dan filosofis dalam mengkaji suatu permasalahan tentang konsep negara Islam dan Pancasila. Kedua, peneliti dapat menemukan inti permasalahan dan kemudian dapat menyumbangkan pemikiran baru dalam dunia sosial politik Indonesia, khususnya dalam kajian filsafat politik.

B. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menjawab persoalan yang ada pada rumusan masalah, yaitu:

(13)

1. Mendeskripsikan konsep negara menurut pandangan Hasan Al-Banna.

2. Menganalisis secara kritis konsep negara menurut pandangan Hasan Al-Banna dan mencari relevansi dengan konsep negara Pancasila.

C. Tinjauan Pustaka

Negara adalah suatu komunitas etika untuk mencapai kebajikan dan kebaikan. Negara dibentuk oleh manusia yang memiliki begitu banyak keinginan dan kebutuhan yang hanya dapat dipenuhi apabila manusia bersatu dan bekerja sama untuk dapat saling menutupi keterbatasannya dan supaya dapat saling mencukupi kekurangannya masing-masing (Rapar, 2002: 55).

Plato mengatakan bahwa negara itu timbul atau ada karena adanya kebutuhan dan keinginan manusia yang beraneka macam, menyebabkan harus bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan mereka. Manusia sebagai mahluk sosial pada hakikatnya tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup sendiri, maka diperlukan kerja sama. Kerja sama dan kesatuan inilah yang pada saat ini dinamakan masyarakat yang selanjutnya dalam skala besar masyarakat disebut negara (Soehino, 1986: 17).

(14)

Aristoteles mengatakan bahwa negara adalah suatu persekutuan hidup yang berada di jenjang tertinggi. Negara adalah persekutuan hidup yang paling berdaulat di antara persekutuan hidup lainnya. Persekutuan hidup yang dimaksudkan Aristoteles adalah kebersamaan hidup antara negara dan warganya, ada hubungan yang khusus antara keduanya, hubungan antara warga negara yang satu dengan yang lainnya, sehingga Aristoteles mengatakan bahwa negara adalah persekutuan hidup yang paling berdaulat (Rapar, 2001:169).

Negara merupakan integrasi dari kekuasaan politik. Negara adalah agency/alat dari masyarakat yang mempunyai kekuasaan untuk mengatur hubungan-hubungan manusia dalam masyarakat dan menertibkan gejala-gejala kekuasaan dalam masyarakat. Negara adalah organisasi yang dalam sesuatu wilayah dapat memaksakannya secara sah terhadap semua golongan kekuasaan lainnya dan yang dapat menetapkan tujuan dari kehidupan bersama (Budiyono, 2012: 27).

Agustinus mengatakan bahwa sesungguhnya ada dua macam negara, yang pertama ialah negara Allah (civitas dei) sering juga disebut sebagai negara surgawi, kedua ialah negara sekuler (civitas terrena/negara duniawi) sering juga disebut negara diabaoi. Agustinus membedakan negara, negara Allah yang berarti apabila dikontekskan terhadap definisi pemikir Islam Hasan Al-Banna, ialah negara yang berasaskan syari’at Islam, dan negara sekuler yang berarti memisahkan antara agama dan negara, menurut Agustinus negara

(15)

sekuler ini merupakan manifestasi dari ketidakjujuran, ketidakadilan, keburukan dan sifat buruk lainnya (Rapar, 2002: 303).

Definisi tentang konsepsi negara di atas dikemukakan oleh para pemikir barat juga sama dengan yang dikemukakan oleh para pemikir dunia Islam. Agama dan negara dalam konsepsi Islam saling berhubungan, karena bagi Islam, agama adalah universal. Agama mengurus semua kebutuhan manusia. Agama dan negara tidak dapat dipisahkan, seperti yang ditulis oleh Said Hawwa dalam buku Al-Islam, mengatakan bahwa negara diperlukan dalam memenuhi kebutuhan umat (Hawwa, 2002: 11).

Pemikir Islam lain yakni Yusuf Qardhawy merupakan salah satu anggota dari gerakan Ikhwanul Muslimin yang didirikan oleh Hasan Al-Banna, mengatakan bahwa mendirikan sebuah negara merupakan kebutuhan insani manusia, sebab negara akan menyuguhkan tentang contoh hidup kesatuan agama dan negara. Yusuf Qardhawy juga mengatakan bahwa pada zaman sekarang, dakwah Islamiyah sangat membutuhkan “kampung Islam” atau “negara Islam” menjadikan risalah Islamiyah sebagai aqidah dan sistem, ibadah dan moral, serta sebagai nilai-nilai kehidupan dan peradaban (Qardhawy, 1997: 25).

Hasan Al-Banna meluaskan pengertian negara hingga mencakup seluruh negeri Islam, inilah yang sesuai dengan pemahaman Islam dan kesatuan umat Islam. Umat Islam wajib menopang demi mewujudkan

(16)

kemerdekaan ini di setiap wilayah dan negari muslim. Hasan Al-Banna juga berkata:

Negara Islam itu tak terbagi-bagi, dan memusuhi sebagiannya berarti memusuhi keseluruhannya, mengabaikan sejengkal tanah yang ditempati seorang muslim adalah tindak kejahatan yang tak terampuni. Hasan Al-Banna juga menegaskan bahwa takkan ada sikap mengalah dan menyepelekan para perampas serta penjajah selama-lamanya. Kita harus meminta kembali hak kita secara sempurna tanpa terkurangi sedikit pun (Ramadhan, 2014: 312). Hasan Al-Banna dalam buku Risalah pergerakan Ikhwanul Muslimin bahwa Ikhwanul Muslimin selalu menyarankan kepada pemerintah agar memperbaiki perundang-undang, yaitu dengan mengambil sumber dari ajaran Islam dan memerangi kemungkaran dan dosa dengan had dan saksi yang membuat jera (Hasan Al-Banna, 2012: 101)

Konsepsi penataan suatu negara di Indonesia mempunyai landasannya tersendiri yakni tertuang dalam dasar negara Pancasila. Pancasila sebagai dasar negara dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia bukanlah sekedar sekumpulan ajaran-ajaran moral. Pancasila merupakan sebuah sistem filsafat. Pancasila merupakan sebuah rumusan ideal bagaimana bangun ke-Indonesia-an yang dicita-citakan bangsa. Pancasila merupakan sebuah identitas bagi bangsa, dan sekaligus landasan dalam menuju modernitasnya. Identitas Indonesia bukan sekedar dipertahankan tetapi selalu harus digali. Identitas harus mampu memadukan dua unsur yang kontradiktif: tradisional dan modern. Modernitas harus dijelaskan sejauh mana unsur-unsur modern

(17)

yang dapat dipribumikan dan sejauh mana unsur-unsur tradisional yang dapat dimodernkan. Identitas harus mampu meintegrasikan warisan-warisan tradisional sekaligus mampu mendorong arah kemajuan dan modernitas. (Darmaputera dalam Soedarso, 2012: 35).

Pancasila merupakan ideologi negara, dalam kaitannya dengan teori tentang fungsi-fungsi ideologi. Pancasila sebagai ideologi lebih tersimbolkan memenuhi fungsi integrasi, menyelaraskan fungsi legitimasi, dan akan meretakkan fungsi distorsi (Sutrisno, 2006: 138).

D. Landasan Teori

Filsafat politik telah lahir sejak manusia mulai menyadari bahwa tata sosial kehidupan bersama bukanlah sesuatu yang terberi secara alamiah, melainkan sesuatu yang sangat mungkin terbuka untuk perubahan. Tata politik merupakan produk budaya dan memerlukan justifikasi filosofis untuk memepertahankannya. Filsafat politik juga seringkali muncul sebagai tanggapan terhadap situasi krisis zamannya. Tema relasi antara negara dan agama pada era pertengahan menjadi tema utama filsafat politik. Tema pertentangan antara kekuasaan absolut dan kekuasaan raja pada era modern yang dibatasi oleh konstitusi menjadi tema utama refleksi filsafat politik. Menurut Plato, filsafat politik adalah upaya untuk membahas dan menguraikan berbagai segi kehidupan manusia dalam hubungannya dengan negara.

(18)

Plato menawarkan konsep pemikiran tentang manusia dan negara yang baik dan ia juga mempersoalkan cara yang harus ditempuh untuk mewujudkan konsep pemikiran (Rapar, 2001: 3).

Filsafat politik merupakan cabang ilmu filsafat yang mengkaji kehidupan politik, terutama mengenai sifat hakiki, asal-mula dan nilai dari negara-negara. Schmandt dalam bukunya yang berjudul “Filsafat Politik: Kajian Historis dari Zaman Yunani Kuno sampai Zaman Modern” menerangkan bahwa filsafat politik adalah studi tentang ide-ide institusi-institusi yang berkembang sepanjang waktu. Schmandt berusaha menjelaskan pemahaman mengenai cara bagaimana manusia sepanjang zaman membentuk dan mengimplementasikan aspirasi politik dan sosial mereka. Filsafat politik merupakan suatu yang lebih dari sekedar analisis mengenai teori-teori politik masa lalu. Ia berusaha menemukan prinsip-prinsip universal yang mendasari fenomena politik dalam semua situasi historisnya (Schmandt, 2002: 24).

Filsafat politik merupakan filsafat yang mengkaji politik, terutama mengenai sifat hakiki, asal-mula, dan nilai dari negara-negara. Pandangan filsuf Yunani Kuno, filsafat politik erat hubungannya dengan moral philosophy. Moral Philosophy akhirnya menimbulkan pertanyaan dalam filsafat politik, apa seharusnya tujuan negara? Bagaimana sistem pemerintahan terbaik untuk tujuan itu? Bagaimana pemimpin bertanggung jawab terhadap keselamatan warga negaranya?

(19)

Filsafat politik membahas persoalan politik dengan berpedoman pada sistem nilai dan norma-norma tertentu (Budiarjo, 1995: 18).

Politik dalam pengertian dinamis dan fungsional tidak hanya merupakan hal yang berkaitan dengan negara, kenegaraan, kekuasaan, tapi lebih dari itu setiap aksi atau masalah dan tindakan dapat dikategorisasikan sifat berpolitik ketika terjadi proses politisasi terhadapnya. Ruang lingkup filsafat politik menjelaskan berbagai macam yang berhubungan dengan manusia dan keberlangsungan bagaimana manusia dapat hidup dengan aman, damai, adil dan sejahtera. Salah satu pokok yang dapat dbahas dalam filsafat politik adalah persoalan terkait negara.

Filsafat politik sendiri merupakan salah satu cabang ilmu filsafat yang salah satu pokok bahasan di dalamnya membahas tentang negara. Negara penting hubungannya antar manusia. Negara adalah semacam bentuk kumpulan yang pada akhirnya dapat menggunakan paksaan terhadap warga negaranya. Negara mempunyai wewenang dalam untuk memaksa warga negara yang ada di dalamnya, dalam upaya untuk menertibkan, mengamankan, dan mengatur demi terwujudnya tujuan negara yaitu kesejahteraan bagi warga negaranya (Kamaruzzaman, 2001: xxix).

Filsafat politik mencoba menjelaskan konsep-konsep, prinsip-prinsip, mekanisme, dan cara penalaran khas ideologi-ideologi politik. Institusi-institusi serta ideologi-ideologi politik yang ujung-ujungnya

(20)

merupakan landasan utama untuk mewujudkan tujuan-tujuan politik yang pada akhirnya merupakan cerminan dari interaksi sosial-budaya yang mempunyai watak keseharian. Ruang sosial-budaya, filsafat politik bertugas untuk memperoleh pemahaman kritis mengenai politik yang merupakan realisasi kehidupan manusia sebagai mahluk sosial yang mampu melakukan pilihan, dan kemudian menjelaskannya secara terbuka. Filsafat politik secara otomatis dipandang sebagai kritik ideolog, yaitu kritik terhadap pernyataan-pernyataan yang seringkali hanya memuat setengah kebenaran, atau dapat jadi seolah-olah memuat kebenaran, tetapi sebenarnya lebih menuntut pengakuan sebagai kebenaran dalam strategi kehidupan manusia (Kusumohamidjojo, 2014: 24).

Filsafat politik mempunyai pekerjaan besar, harus menguak afirmativitas yang tidak dipertanyakan, memaksa tuntutan-tuntutan ideologis untuk membuktikan diri dan dengan demikian menjadi refleksif dan terbuka terhadap kritik. Politik sarat dengan urusan ideologi, yaitu kepercayaan atau keyakinan mengenai bagaimana kehidupan politik seharusnya diselenggarakan dalam konteks kehidupan manusia (Magnis Suseno dalam Kusumohamidjojo, 2014: 25).

Kajian filsafat politik salah satunya pembahasan mengenai negara menjadi bahasan yang menarik bagi para filsuf. Negara hadir untuk mengelola kekuasaan dan memberikan keadilan dan kesejahteraan

(21)

kepada warga negaranya. Termasuk dalam pengelolaan kekuasaan adalah bagaimana mengatur warga negara agar memiliki loyalitas terhadap ideologi bangsanya. Loyalitas berguna untuk menjaga kemungkinan adanya ancaman kedaulatan negara, dengan loyalitas tinggi, warga negara akan mampu mempertahankan eksistensi negara.

Eksistensi sebuah negara dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan mengokohkan ideologi negara, seperti di Indonesia eksistensi negara Indonesia diperlihatkan dengan dibentuk dan dirumuskannya ideologi bangsa yakni Pancasila. Pancasila sebagai ideologi negara menjadi simbol eksistensi negara Indonesia yang bersumber dari nilai-nilai kehidupan bansga Indonesia.

Filsafat politik membahas politik yang fundamental secara rasional dan sistematis. Menurut Jonathan Wolff filsafat politik merupakan disiplin normatif, yang berarti bahwa filsafat politik mencoba membentuk norma-norma (Wolff, 2009: 2).

Normatif yang berarti “bagaimana seharusnya” sesuatu terjadi, sama seperti yang dikemukakan oleh Hasan Banna. Hasan Al-Banna mengatakan baha konsep negara ideal adalah bagaimana seharusnya suatu negara berjalan dengan benar dan adil sesuai dengan moral, yang tidak pernah lepas dari fenomena politik yang ada. Hasan Al-Banna mengungkap bahwa mengelola negara bagian dari ekspresi dari keimanan, sehingga pengelolaan dan penaatan negara adalah bagian dari kewajiban umat Islam (Al-Banna, 2012: 358).

(22)

E. Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat historis-faktual terkait dengan tokoh Islam modern, yakni Hasan Al-Banna mengenai sebuah konsep negara, dalam penelitian ini menggunakan sudut pandang filsafat politik.

1. Model atau Jenis Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (Library research), seluruh datanya bersumber dari literatur kepustakaan, baik buku maupun artikel-artikel yang dimuat di berbagai jurnal ilmiah yang terkait dengan pemikiran Hasan Al-Banna tentang konsep negaranya.

2. Bahan dan Materi Penelitian

Bahan dan materi penelitian diperoleh dari pustaka yang membahas tentang konsep negara menurut Hasan Al-Banna dan konsep negara Pancasila. Data ini dibagi dua yaitu pustaka primer dan sekunder.

a. Data primer

Data primer dalam penelitian ini adalah buku-buku yang berkaitan dengan konsep negara Hasan Al-Banna dan Pancasila. Buku-buku yang terkait filsafat

(23)

politik juga akan peneliti gunakan dalam keperluan analisis.

Data primer yang peneliti dapatkan diantaranya adalah:

1. Buku karangan Hasan Al-Banna yang berjudul “Majmu’atu Rasail” yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yang berjudul “Risalah Pergerakan Hasan Al-Banna”.

2. Buku karangan Hasan Al-Banna yang berjudul “Mudzakkiratud Da’wah Wad Da’iyah” yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan Judul “Memoar Hasan Al-Banna untuk Dakwah dan Para Da’inya”.

3. Buku karangan Dr. Utsman Abdul Mu’iz Ruslan yang berjudul “Pendidikan Politik Ikhwanul Muslimin”.

b. Data sekunder

Data sekunder dalam penelitian ini adalah berbagai tulisan maupun artikel yang terkait dengan tema penelitian, baik yang berhubungan dengan objek material maupun objek formal penelitian. Tulisan-tulisan tersebut akan peneliti gunakan sebagai bahan pelengkap dan data-data tambahan penelitian.

(24)

3. Jalan Penelitan

Jalan penelitian ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Inventarisasi data

Pada tahapan ini pertama ini dilakukan upaya pengumpulan data kepustakaan sebanyak mungkin, baik secara konvensional maupun secara online. Data terkait dengan tema penelitian, baik itu berhubungan dengan objek formal maupun objek material, hal ini dimaksudkan mempermudah alur berpikir peneliti. b. Analisis data

Tahap ini ialah tahap inti penelitian yaitu menganalisis data sistematis yang telah dikumpulkan dan diklasifikasi dengan seksama.

c. Evaluasi kritis

Evaluasi kritis dilakukan pada tahap terakhir setelah kedua tahapan sebelumnya telah dilalui. Evaluasi kritis digunakan oleh peneliti untuk memberikan penerapan hasil yang lebih kritis secara berimbang dan objektif.

4. Analisis Hasil

Analisis data pada penelitian ini mengacu pada buku “Metode Penelitian Kualitatif Bidang Filsafat” oleh Kaelan

(25)

dengan menggunakan unsur-unsur metodis dalam metode penelitian ini, diantaranya sebagai berikut:

a. Interpretasi

Penulis berusaha meneliti dan menelaah pemikiran-pemikiran Hasan Al-Banna dari data yang dikumpulkan supaya dapat dipahami dan diungkapkan maksud dari pemikiran-pemikiran Hasan Al-Banna secara objektif.

b. Kesinambungan Historis

Metode ini berusaha melakukan anaslisi data dimana penulis meneliti karya-karya dan pemikiran-pemikiran yang dihasilkan oleh Hasan Al-Banna, sehingga diperoleh gambaran yang lebih jelas, dan mampu menjadi referensi penelitian selanjutnya. Menote analisi data ini terdiri atas; deskriptif historis, rekontruksi biografis, dan periodesasi.

c. Komparasi

Metode ini berusaha membandingkan sifat haikiki dalam objek penelitian untuk menentukan secara tegas kesamaan dan perbedaan, sehigga hakikat objek bisa dipahami dengan jelas.

(26)

Metode ini digunakan dalam pengumpulan data dengan cara menangkap makna yang essensial sesuai dengan konteksnya.

e. Heuristik

Metode ini diterapkan untuk menemukan suatu pemikiran baru setelah melakukan penyimpulan data. f. Deskripsi

Metode ini digunakan untuk mendeskripsikan keseluruhan dari hasil data yang diambil, sehingga dapat diahami secara jelas.

F. Hasil Yang Dicapai Hasil pada penelitian ini adalah:

1. Deskripsi konsep negara menurut pandangan Hasan Al-Banna. 2. Analisis kritis konsep negara menurut pandangan Hasan

Al-Banna dan relevansinya dengan konsep negara Pancasila.

G. Sistematika Penelitian

Penelitian ini disusun dengan sistematika sebagai berikut:

Bab I Berisi pendahuluan yang terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah, keaslian penelitian, tujuan penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, metode penelitian, hasil yang ingin dicapai, dan sistematika penelitian.

(27)

Bab II menguraikan objek material dalam penelitian ini yang berisi uraian mengenai konsep negara menurut Hasan Al-Banna dan pemikiran-pemikiranya.

Bab III merupakan objek formal berisi uraian pembahasan mengenai konsep negara pancasila. Pancasila yang merupakan ideologi, falsafah, dan dasar negara Indonesia.

Bab IV berisi tentang analisis kritis mengenai konsep negara Hasan Al-Banna dan konsep negara pancasila dalam perspektif filsafat politik.

Bab V merupakan bab terakhir dari penelitian penulis yang berisi tentang kesimpulan dan saran-saran yang dapat dijadikan referensi untuk penelitian selanjutnya.

Referensi

Dokumen terkait

Kepesertaan BPJS Kesehatan adalah wajib bagi seluruh penduduk atau masyarakat Indonesia, meskipun demikian ditemukan banyak masyarakat yang tidak ikutserta dalam

Metode Numbered Head Together (NHT) dapat digunakan pada materi pokok sistem ekskresi manusia karena metode ini memiliki kelebihan yaitu meningkatkan rasa saling percaya

Bila dilihat berdasarkan tujuannya, bahasa memiliki fungsi artistik yaitu sebagai alat untuk menyampaikan rasa estetis (keindahan) manusia melalui seni sastra. Alat yang

Maka dari itu masyarakat Indonesia diharapkan mau berpartisipasi dalam pelestarian dan pemanfaatan sumber energi listrik yang mana listrik merupakan kebutuhan pokok manusia,

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Pratitis dan Hendriani (2013), proses penerimaan diri dapat membuat korban terbebas dari rasa bersalah, rasa malu dan rendah diri

Selain penjelasan di atas, dimensi hati juga berpengaruh terhadap kesejahteraan psikologis manusia, karena dengan adanya dimensi hati akan memunculkan niat kuat

Orang tua yang memiliki latar belakang pendidikan tinggi biasanya memiliki kesadaran yang tinggi pada pendidikan anak, sementara yang berpendidikan rendah kesadaran

1. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa akhlak adalah hay‟at atau sifat yang tertanam dalam jiwa yang daripadanya lahir perbuatan-perbuatan.. 7 yang spontan tanpa memerlukan