• Tidak ada hasil yang ditemukan

Phoebe - Cinderella's Scandal

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Phoebe - Cinderella's Scandal"

Copied!
117
0
0

Teks penuh

(1)

Cinderella's Scandal

-Phoebe-Bab 1 Mungkin ini adalah waktu terindah dalam beberapa tahun belakangan ini. Setelah sekian lama Rumah Ouray berduka karena keluarga itu kehilangan penghuni termuda mereka yang merupakan putri bungsu keluarga Ouray bernama Lavender, pada akhirnya mereka menemukan penggantinya. Rex Cutrberth menemukan kembali istrinya yang sudah meninggalkannya dalam diri seorang gadis bernama Daisy Melville yang sejak Malam ini sudah menjadi Daisy Curthberth. Gadis itu benar-benar mirip dengan Lavender, segala yang ada pada dirinya benar-benar membuat Daisy seolah-olah di lahirkan untuk menggantikan Lavender di rumah tersebut. Tapi walau bagaimanapun bagi Daliah, Lavender tetaplah sahabat yang tidak bisa di gantikan. Lavender memperlakukan Daliah yang hanya seorang pelayan sebagai saudara kandungnya sendiri. Karena itulah Daliah sangat bersedih. Mungkin hanya dirinyalah satu-satunya orang yang bersedih dalam pesta pernikahan yang membuat rumah Ouray begitu semarak seperti saat ini. Ruang tengah rumah Ouray mendadak di sulap sebagai lantai dansa dengan banyak lampu yang membuat suasana berbeda dengan biasanya. Lampu-lampu itu juga memenuhi kebun karena rumah saja sama sekali tidak cukup untuk pesta sebesar ini. Bunyi dentuman kembang api di angkasa semakin membuat suasana menjadi ramai dan untuk itu, Daliah hanya termenung melihatnya. Saat ini, perpustakaan rumah yang sepi jauh lebih menarik baginya bila di bandingkan dengan keramaian di luar sana. Pendaran cahaya kembang api yang timbul dan menghilang tiba-tiba saja di gantikan oleh cahaya yang terang benderang. Daliah menatap ke arah lampu perpustakaan yang menyala tiba-tiba lalu beralih kepada seseorang yang menyalakan lampunya. Gadis itu, Daisy mendekatinya dengan senyum mengembang sambil mendorong troli berisi dua buah gelas Kristal dan sebotol Sampanye dingin. Daisy mendaratkan pinggulnya di lantai, tepat di sebelah Daliah dan ikut memandangi Jendela yang memperlihatkan kembang api. Daliah memandanginya sebentar dan kecewa, Daisy memakai gaun pernikahan Lavender saat menikah dengan Rex sebelum akhirnya nyawa Lavender di renggut oleh penyakitnya. "Nyonya, sedang apa disini?" Daliah berujar dengan sopan. Ia sedikit kikuk menghadapi orang yang berwajah mirip dengan sahabatnya tapi sebagai orang asing. Daisy benar-benar mirip dengan Lavender, hanya saja Daisy terlihat lebih dewasa dan gemuk. "Kenapa kau memanggilku nyonya? Panggil aku Daisy saja meskipun aku lebih suka di panggil Lav seperti Suamiku memanggilku!" "Lav? Itu adalah panggilan untuk Lavender di rumah ini. Kau tidak merasa kecewa karena di samakan dengan orang yang sudah tidak ada? Bukankah itu artinya mereka menganggapmu sebagai seseorang yang bukan dirimu?" "Memangnya kenapa? Kau keberatan?" "Tidak, aku hanya heran dengan sikapmu!" Daisy tersenyum ringkas. "Kalau kau tidak bersedia memanggilku dengan nama itu, kau boleh memanggilku dengan apa saja selain dengan sebutan terhormat manapun!" "Mana boleh aku bersikap tidak sopan dengan memanggilmu sesuka ku!" "Bukankah kau sahabat Lavender? Berarti kau juga sahabatku. Kau tidak keberatan menjadi sahabatku, kan? Setelah ini mungkin aku akan sering menghubungimu untuk bertukar cerita!" Daliah memaksakan sebuah senyum. Daisy Melville sudah menunjukkan sikap yang sangat persis

(2)

dengan yang Lavender miliki. "Kau seharusnya berbaur dengan banyak orang diluar sana!" "Dan membiarkanmu sendirian disini? Aku rasa, disini bersamamu lebih menyenangkan bila di bandingkan dengan berada di keramaian itu. Kau mau Sampanye? Aku membawakannya untukmu." "Tapi aku tidak bisa minum-minuman keras!" "Benarkah? Kau terlihat seperti seseorang yang berpengalaman!" Daliah tersenyum lagi. Ia memang selalu mengesankan kepada banyak orang kalau dirinya adalah orang yang berpengalaman. Tapi pada kenyataannya Daliah tidak tau apa-apa. Sejak kecil ia di besarkan di rumah ini, mendapat pendidikan khusus dari keluarga Ouray tentang ilmu pengetahuan, cara bersikap dan tata karma. Ia bahkan bukan orang yang tau dengan dunia luar. Aktingnya sudah menipu banyak orang termasuk Lavender semasa hidupnya. "Kau sedang memikirkan apa sendirian disini? Pacarmu?" Daisy menyapanya lagi dengan sebuah pertanyaan telak. Pacar? Daliah tidak pernah memiliki pacar seumur hidupnya. Bagaimana mungkin ia bisa memiliki kekasih jika di rumah ini jumlah laki-laki sangat sedikit? Semua laki-laki di rumah ini, usianya jauh di atas Daliah, hanya Bethoven yang merupakan majikannya yang memiliki usia terdekat dengan Daliah. Tapi ia tidak mungkin berpacaran dengan Bethoven. Mereka sudah seperti keluarga. "Aku hanya merindukan Lavender. Maaf kalau menyinggungmu!" Daisy menggeleng cepat. "Tidak, bukan masalah. Kau sahabatnya, tentu saja boleh merindukannya kapanpun yang kau suka." "Terimakasih." "Kenapa kau tidak keluar?" "Aku rasa lebih baik disini. Aku tidak cocok dengan pesta. Seharusnya aku melayani tamu, tapi tuan Fabian Ouray melarangku melakukan itu." "Tentu saja, Rex bilang kau sudah seperti keluarga di rumah ini." Daisy lalu meraih dua gelas sampanye-nya dan menuangkan cairan berwarna keemasan itu kedalamnya. Selang beberapa saat, Daisy sudah menyodorkan salah satu dari kedua gelasnya kepada Daliah. Semula Daliah merasa ragu, namun dengan berat hati ia meneguk isinya dengan perlahan. Lalu menjadi lebih intens sehingga tanpa disadarinya, ia hampir menghabiskan sebotol Sampanye seorang diri. Ia kembali menghabiskan isi gelasnya yang terakhir dan tersenyum kepada Daisy. "Ternyata minuman mahal sangat enak!" Kata-katanya itu spontan membuat Daisy tertawa nyaring. "Kau masih mau? Kalau begitu kita keluar saja. Ikutlah berpesta. Kau sudah mengenakan gaun yang sangat indah. Tidak adil kalau kau menyembunyikan keindahannya disini." "Tapi aku tidak terbiasa bergaul dengan orang-orang penting di luar sana!" "Kenapa kau terlihat sangat putus asa sekali? Kau tidak seperti yang orang-orang ceritakan kepadaku. Kau cukup terus berada disampingku sampai kau terbiasa. Itu jauh lebih baik daripada mengurung diri di dalam sini sendirian. Ayolah!" Daliah terkikik. Ia dan Daisy tidak henti-hentinya tertawa karena cerita-cerita gadis itu tentang daerah asalnya di New Zeland. Juga tentang cerita lucu seluruh keluarganya. Daisy bahkan memperkenalkan Daliah kepada ibu dan kakaknya sebagai sahabatnya. Gadis itu sudah berhasil mengobati kehilangan Daisy akan Lavender dan sekarang ia mengerti mengapa Rex memilih Daisy untuk menggantikan Lavender. Mereka bukan hanya mirip secara fisik tapi juga sikap. Tapi Daisy tidak semanja Lavender. Ia lebih dewasa. "Kakakku akan kembali ke Sidney besok pagi. Aku memesan banyak barang untuk di kirimkan

(3)

kemari. Kau mau? aku akan memintanya mengirimkan apapun yang kau mau!" Daliah tertawa senang lalu menenggak gelas sampanye yang ke sekian kalinya sampai habis. Kepalanya sudah mulai pusing, tapi ia tidak bisa berhenti. Daliah menyesal tidak terjun ke pesta sejak awal. Tidak, semua ini berkat Daisy. Jika tidak ada gadis itu, ia tidak yakin akan bisa menikmati pestanya sebaik kali ini. "Aku ingin banyak hal!" "Kalau begitu katakanlah, aku akan memintanya mencarikan apapun yang kau inginkan." "Kau terlalu memanjakanku, Daisy!" "Demi sahabatku, apapun akan ku berikan." Daliah terkikik lalu sesuatu mendesak. Ia memuntahkan kembali minumannya dengan tiba-tiba. Beruntung Daliah tidak mengganggu seorangpun. Daisy Melville mengurut punggungnya perlahan dan itu membuat Daliah merasa lebih baik. "Terimakasih." "Kau mau ku antarkan ke kamar?" "Tidak, aku akan kembali sendirian lewat halaman belakang. Kau pergilah bersama suamimu. Dia pasti sangat ingin bersamamu!" Daliah bergumam lemah sambil mendorong tubuh Daisy untuk menjauh darinya. "Pergilah!" "Kau yakin kalau dirimu tidak apa-apa? Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian..." "Pergilah. Aku sangat hapal dengan rumah ini, bahkan di saat aku tidur. Jadi kau tidak perlu merasa khawatir." "Kau yakin?" "Ya, sana pergilah..." "Baiklah, aku akan pergi. Jika terjadi sesuatu berteriaklah. Buat keributan dan aku akan tau kalau itu darimu!" Daisy terkikik lalu beranjak setelah melambaikan tangan kembali masuk ke keramaian pesta menyusul Rex, suaminya. Daliah memegangi kepalanya sejenaemasa hidupnya. "Kau sedang memikirkan apa sendirian disini? Pacarmu?" Daisy menyapanya lagi dengan sebuah pertanyaan telak. Pacar? Daliah tidak pernah memiliki pacar seumur hidupnya. Bagaimana mungkin ia bisa memiliki kekasih jika di rumah ini jumlah laki-laki sangat sedikit? Semua laki-laki di rumah ini, usianya jauh di atas Daliah, hanya Bethoven yang merupakan majikannya yang memiliki usia terdekat dengan Daliah. Tapi ia tidak mungkin berpacaran dengan Bethoven. Mereka sudah seperti keluarga. "Aku hanya merindukan Lavender. Maaf kalau menyinggungmu!" Daisy menggeleng cepat. "Tidak, bukan masalah. Kau sahabatnya, tentu saja boleh merindukannya kapanpun yang kau suka." "Terimakasih." "Kenapa kau tidak keluar?" "Aku rasa lebih baik disini. Aku tidak cocok dengan pesta. Seharusnya aku melayani tamu, tapi tuan Fabian Ouray melarangku melakukan itu." "Tentu saja, Rex bilang kau sudah seperti keluarga di rumah ini." Daisy lalu meraih dua gelas sampanye-nya dan menuangkan cairan berwarna keemasan itu kedalamnya. Selang beberapa saat, Daisy sudah menyodorkan salah satu dari kedua gelasnya kepada Daliah. Semula Daliah merasa ragu, namun dengan berat hati ia meneguk isinya dengan perlahan. Lalu menjadi lebih intens sehingga tanpa disadarinya, ia hampir menghabiskan sebotol Sampanye seorang diri. Ia kembali menghabiskan isi gelasnya yang terakhir dan tersenyum kepada Daisy. "Ternyata minuman mahal sangat enak!"

(4)

Kata-katanya itu spontan membuat Daisy tertawa nyaring. "Kau masih mau? Kalau begitu kita keluar saja. Ikutlah berpesta. Kau sudah mengenakan gaun yang sangat indah. Tidak adil kalau kau menyembunyikan keindahannya disini." "Tapi aku tidak terbiasa bergaul dengan orang-orang penting di luar sana!" "Kenapa kau terlihat sangat putus asa sekali? Kau tidak seperti yang orang-orang ceritakan kepadaku. Kau cukup terus berada disampingku sampai kau terbiasa. Itu jauh lebih baik daripada mengurung diri di dalam sini sendirian. Ayolah!" Daliah terkikik. Ia dan Daisy tidak henti-hentinya tertawa karena cerita-cerita gadis itu tentang daerah asalnya di New Zeland. Juga tentang cerita lucu seluruh keluarganya. Daisy bahkan memperkenalkan Daliah kepada ibu dan kakaknya sebagai sahabatnya. Gadis itu sudah berhasil mengobati kehilangan Daisy akan Lavender dan sekarang ia mengerti mengapa Rex memilih Daisy untuk menggantikan Lavender. Mereka bukan hanya mirip secara fisik tapi juga sikap. Tapi Daisy tidak semanja Lavender. Ia lebih dewasa. "Kakakku akan kembali ke Sidney besok pagi. Aku memesan banyak barang untuk di kirimkan kemari. Kau mau? aku akan memintanya mengirimkan apapun yang kau mau!" Daliah tertawa senang lalu menenggak gelas sampanye yang ke sekian kalinya sampai habis. Kepalanya sudah mulai pusing, tapi ia tidak bisa berhenti. Daliah menyesal tidak terjun ke pesta sejak awal. Tidak, semua ini berkat Daisy. Jika tidak ada gadis itu, ia tidak yakin akan bisa menikmati pestanya sebaik kali ini. "Aku ingin banyak hal!" "Kalau begitu katakanlah, aku akan memintanya mencarikan apapun yang kau inginkan." "Kau terlalu memanjakanku, Daisy!" "Demi sahabatku, apapun akan ku berikan." Daliah terkikik lalu sesuatu mendesak. Ia memuntahkan kembali minumannya dengan tiba-tiba. Beruntung Daliah tidak mengganggu seorangpun. Daisy Melville mengurut punggungnya perlahan dan itu membuat Daliah merasa lebih baik. "Terimakasih." "Kau mau ku antarkan ke kamar?" "Tidak, aku akan kembali sendirian lewat halaman belakang. Kau pergilah bersama suamimu. Dia pasti sangat ingin bersamamu!" Daliah bergumam lemah sambil mendorong tubuh Daisy untuk menjauh darinya. "Pergilah!" "Kau yakin kalau dirimu tidak apa-apa? Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian..." "Pergilah. Aku sangat hapal dengan rumah ini, bahkan di saat aku tidur. Jadi kau tidak perlu merasa khawatir." "Kau yakin?" "Ya, sana pergilah..." "Baiklah, aku akan pergi. Jika terjadi sesuatu berteriaklah. Buat keributan dan aku akan tau kalau itu darimu!" Daisy terkikik lalu beranjak setelah melambaikan tangan kembali masuk ke keramaian pesta menyusul Rex, suaminya. Daliah memegangi kepalanya sejenak. Ia merasa sangat pusing dan mengantuk. Dengan tergopoh-gopoh Daliah bangkit dari tempat duduknya dan tenggelam di ketemaraman halaman belakang. Gegap gempita pesta masih saja terdengar nyaring seolah-olah tidak akan pernah berakhir. Mungkin semua orang akan berpesta sampai pagi. Daliah menghembuskan sebuah senyum dan merasakan kepalanya sakit lagi. Ia mengusahakan langkahnya untuk melangkah lebih cepat agar bisa segera berbaring di atas tempat tidurnya. Hingga tiba-tiba ia menabrak seseorang. Sayangnya pandangan Daliah begitu kabur sehingga tidak bisa menangkap seperti apa wajah orang yang

(5)

berada di hadapanya. Ia menundukkan wajahnya sambil menggumamkan permintaan maaf. Tapi sebuah ciuman panas mengejutkannya. Tubuh Daliah bergetar hebat, ia memang mabuk, tapi dirinya sangat bisa merasakan setiap getarang yang sampai di sekujur tubuhnya. Orang itu menciumnya, entah siapa. Dan Daliah sangat menikmatinya. Ini adalah ciuman pertamanya. Ia tidak bisa mendengarkan gegap gempita lagi. Yang di ketahuinya, tubuhnya bersandar ke tembok dan tersembunyi apik oleh tanaman rambat yang menyusuri tembok rumah Ouray. Ciuman yang di dapatanya berpindah ke leher dan Daliah mulai mendengar desahan dari mulutnya saat tubuhnya di sentuh. Laki-laki itu mengangkat sebelah kakinya, mencondongkan tubuhnya lalu menyentuh daerah sensitifnya dengan sesuatu. Sesaat kemudian Daliah mendengarkan teriakan keluar dari mulutnya. Ia merasakan sakit menyerangnya. Ada sesuatu yang keras masuk ke dalam tubuhnya melalui bagian yang berada di pangkal paha. Apa ini? Perih sekali... Fikirnya. Airmatanya merembes setiap kali ia merasakan gesekan kasar di daerah penting tubuhnya. Tapi ia tidak bisa melawan. Daliah tidak mengerti apa yang terjadi padanya, ia tidak bisa melawan sama sekali dan perlahan-lahan ia mulai bisa menikmatinya. Kedua lengannya merangkul orang yang tengah menyetubuhinya dengan sangat erat. Ia tidak ingin terjatuh, tidak ingin terlepas, ini pertama kalinya Daliah merasakan sesuatu yang luar biasa seumur hidupnya. Bab 2 "Apakah kau tidak merasa aneh?" Noah menepuk bahu Seth saudaranya sambil terus menyodorkan Handycam untuk merekam pesta. Ia terus berusaha untuk mengajak Seth bicara karena mungkin Seth adalah satu-satunya orang yang tidak menikmati pestanya. Noah tau kalau Seth sangat menderita karena baru saja patah hati. Masalah klise, tapi menjadi neraka bagi pria itu karena wanita itu adalah orang pertama yang di sukainya setelah Seth merubah fikirannya dari tidak menikah seumur hidupnya menjadi salah seorang yang terus memimpikan pernikahan. Sayangnya, setelah pemikirannya tentang pernikahan berubah, Gadis itu malah memilih orang yang baru di kenalnya untuk menikah dan saat ini, Seth harus berusaha keras untuk menikmati pestanya. Ia tidak bisa. Seth malah mengalihkan seluruh perhatiannya kepada wine dan dia sudah hampir mabuk. Daisy Melville seharusnya bukan sepupunya. Seharusnya Daisy Melville adalah orang lain yang bisa di nikahinya di saat Seth menginginkannya. Tapi hubungan persaudaraan sudah menghalang-halangi cintanya. Seth menuang Wine lagi untuk memenuhi gelasnya yang sudah kosong, lalu meminumnya dan menuang lagi lalu meminumnya lagi, terus berulang-ulang. "Kau tidak dengar kata-kataku?" Noah menggeram. Seth menghentikan ucapannya lalu memandang Noah heran. "Apanya yang aneh?" "Pelayan di rumah ini, kau lihat mereka?" "Tidak ada yang aneh!" "Ada. Mereka semua cantik-cantik!" Lalu Noah tertawa dengan segala leluconnya. "Aku serius, mereka bahkan terlihat seperti nona besar di rumah ini. Kulit mereka halus dan semuanya bertubuh indah." "Aku tidak pernah memperhatikan itu! Aku juga tidak bisa membedakan yang mana pelayan dan yang mana yang bukan. Semua orang di pesta menggunakan gaun!" "Gaun biru gelap. Semua pelayan menggunakan gaun berwarna biru gelap, yang rambutnya di gulung ke belakang adalah pelayan. Bethoven yang memberi tahuku!"

(6)

"Aku tidak perduli!" "Sebaiknya kau perduli." Noah menggeram lagi. Ia memandangi Seth dengan perasaan iba. Noah tau betul bagaimana perasaan kakaknya terhadap Daisy. Semenjak gadis itu berubah, Seth selalu memperhatikannya. Sayangnya, Seth tidak bisa memperhatikan Daisy sesukanya karena terhalang oleh Gallion Melville, kakak laki-laki Daisy. Sekarang ia hanya bisa menatap kakak sulungnya itu dengan perasaan yang tak menentu. Noah menepuk bahu Seth lagi lalu berbicara di dekat telinganya. "Mereka tidak kalah cantik dengan Daisy. Kau bisa merayu salah seorang dari mereka dan membawanya ke kamarmu malam ini. Aku tidak suka melihatmu terus bersedih." "Aku tidak bersedih Noah! Aku menikmati pestanya." "Kalau begitu buktikan padaku. Rayulah salah seorang wanita di pesta ini seperti yang selalu kau lakukan dulu sebelum jatuh cinta pada Daisy." "Aku tidak jatuh cinta pada Daisy! Kenapa kau mengatakan hal itu terus?" Cih. Noah berdesis kesal. Seth masih saja terus berusaha untuk mengingkari kenyataan. "Kalau begitu buktikan!" "Baik. Aku akan mencari wanita tercantik di pesta ini untukmu!" Seth bergumam kesal sambil beranjak untuk berkeliling mencari wanita yang di katakannya. Sayangnya menurutnya tidak ada seorangpun yang bisa di bandingkan dengan Daisy. Daisy sangat cantik dan ceria. Bagaimana mungkin ada seseorang yang bisa di bandingkan dengannya? Seth mengeluh, hatinya tidak ingin untuk mencari wanita lain, matanya mencari-cari dimana Daisy berada dan tubuhnya bergerak mengikuti kehendak hatinya. Seth tertegun saat menemukannya. Daisy terlihat sangat anggun dengan gaun pernikahan sederhananya. Ia sedang berbincang dengan seorang gadis yang memakai gaun biru. Seorang pelayan? Ciri-cirinya persis dengan yang Noah ungkapkan tadi dan Noah benar, ia tidak terlihat seperti seorang pelayan. Seth mendekati mereka, ia ingin mengobrol dengan Daisy. Sayangnya sebelum Seth sempat menyapanya, ia sudah mendengarkan hal yang mengecewakan, pelayan itu memaksa Daisy untuk menemani Rex, suami yang baru saja di nikahinya. Pelayan itu membuatnya kecewa. Seharusnya kau tidak beranjak secepat ini, Daisy. Aku belum menyapamu! Seth membatin. Melihat Daisy menyongsong Rex lalu menggenggam tangan suaminya membuat hati Seth meneteskan darah. Ia kembali menoleh kepada pelayan itu dengan perasaan kesal dan benci. Kenapa harus ada permintaan konyol dari mulut pelayan itu? Dia sudah membuat Seth gagal untuk berbicara dengan Daisy. Perasaannya semakin luka. Kau harus menggantikan Daisy untukku! Gadis pelayan itu bangkit dengan langkah sempoyongan menuju pekarangan sepi di halaman belakang. Ia kelihatannya sangat mabuk. Dengan tangkas Seth segera melangkah untuk mengikutinya hingga ia mendapat kesempatan untuk mendahului gadis itu di sebuah tempat yang sepi. Gadis itu menabraknya, lalu menunduk penuh rasa bersalah dan mengucapkan sesuatu. "Maafkan saya, tuan! Saya tidak sengaja, sungguh. Maafkan saya!" Kata-kata itu terus di ucapkannya berulang kali. Seth meneliti setiap inci tubuhnya yang di terangi cahaya lampu dari jendela rumah yang menerpanya. Gadis itu tepat berdiri di tengah satu-satunya wilayah terang di halaman belakang. Gaun biru yang sangat gelap itu membuat kulitnya tampak terang. Ia memiliki rambut hitam dan tebal yang terlepas dari gulungannya saat menabrak Seth tadi. Sekarang dengan rambut terurai seperti itu, Seth tidak bisa memungkiri kalau gadis itu tampak sangat menggoda dengan wajah halus dan bibir yang penuh, mengundang Seth untuk menciumnya.

(7)

Seth merangkul tubuhnya seketika, memegangi lehernya dan mencium bibirnya. Terasa sangat hangat. Ia merasa di rasuki oleh sesuatu sehingga cumbuannya semakin panas dan terus mendaki hingga Seth mendidih. Ia sudah mulai menginginkan gadis itu sepenuhnya. Masih dengan tanpa suara, Seth memegangi lengan gadis itu kuat-kuat dan menyeretnya kesebuah dinding rumah berbentuk ceruk dan di tutupi tanaman rambat. Cahaya remang-remang milik bulan purnama membuat suasana semakin menggila. Seth mencumbunya lagi, lebih panas dari yang sebelumnya. Ia berpindah keleher dan menghisapnya beberapa lama hingga akhirnya Seth mendengar desahan kenikmatan dari mulut gadis itu. Ia memberanikan diri untuk menyentuh bagian tubuh yang lain. Payudaranya, sangat kenyal membuat Seth bertahan lama untuk meremasnya hingga ia mulai merasa meledak dan memutuskan untuk segera mengakhirinya secepat mungkin. Seth berusaha keras untuk mengatur posisi yang mengutungkannya. Ia merapatkan tubuhnya lalu segera menyatukan dirinya dan gadis itu dengan segera. Sesuatu hal yang tidak di sangka-sangka membuat Seth gamang. Gadis itu berteriak kesakitan dan ia sedikit menjauhkan tubuhnya untuk melihat gadis itu lagi di bawah cahaya purnama. Masih cantik, masih menggairahkan tapi. Astaga, dia masih perawan? Seth menyesal. Sangat menyesal melakukan ini kepada gadis pelayan itu. Tapi bukankah ia sedang berusaha menjadikan gadis itu sebagai pengganti Daisy? Dia tidak perduli. Seth melanjutkan hasratnya, terus memacu hingga ia terpuaskan, tidak hanya sekali, tidak juga cukup dengan satu kali klimaks di satu posisi. Ia sudah membuat gadis itu berbaring di atas rumput dalam keadaan tak sadarkan diri dan Seth masih berusaha menikmatinya. Dia tau kalau dirinya mulai menggila. Mulai kejam, mulai jahat... Sebuah lenguhan panjang membuat Seth menghela nafas lega. Ia sudah memuaskan hasratnya kepada gadis itu untuk kesekian kalinya malam ini. Nafasnya yang terengah-engah membuat Seth menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh gadis pelayan itu dan merasakan kelelahan yang luar biasa. Seth memejamkan matanya untuk membayangkan Daisy, tapi dia tidak bisa. Isi otaknya sudah berganti dengan wajah gadis ini, segala ekspresinya, suara desahannya, rintihan, bahkan teriakan, juga kata maafnya. Seth ,menghela nafas dan membuka matanya lalu memandangi gadis itu sekali lagi. Ia menatap wajahnya dalam lalu menyeka sejumput rambut yang melekat di wajah gadis itu karena keringat. Gadis itu pasti juga merasa sangat lelah. "Kau hebat. Aku sudah percaya sekarang!" Seth berdelik saat mendengar suara Noah yang sangat dekat dengannya. Saat ia menoleh, ternyata Noah berdiri di tempat yang agak tersembunyi dan sudah merekam segalanya. "Apa yang kau lakukan? Kau merekam semua ini?" "Ini hanya untuk koleksi pribadiku! Aku akan menyimpannya sendiri, jangan takut! Sekarang ayo menjauh darinya. Sudah hampir pagi dan orang-orang bisa saja datang kemari!" "Lalu meninggalkannya sendirian disini dalam keadaan yang seperti itu?" "Lalu kau ingin membawanya kekamar? Di kamar kita juga ada Gallion. Bukankah dia masih perawan? Dia berteriak tadi." "Kau merekam semuanya dari awal?" "Bukan itu yang perlu di bahas. Masalahnya, kau sudah salah memilih wanita. Dia bernama Daliah, kau tau siapa dia?" "Dia pelayan, dia menggunakan pakaian yang sama dengan yang pelayan wanita lain gunakan!" "Ya, tapi dia adalah satu-satunya dari enam orang pelayan muda di rumah ini yang di perlakukan seperti keluarga oleh keluarga besar Ouray. Lawrence, pewaris tunggal seluruh harta Ouray bahkan menganggap gadis ini sebagai pengganti adiknya Lavender yang sudah meninggal dunia-istri Rex sebelum Daisy- dan kau tau apa yang akan mereka lakukan jika gadis ini menuntutmu? Kau

(8)

beruntung karena dia dalam keadaan mabuk dan bisa saja dia tidak mengingatmu. Tapi untuk jaga-jaga jangan sampai ada orang lain yang melihatmu bersamanya selain aku, kau harus pergi sekarang juga. Kau beruntung punya adik sepertiku!" Seth memijat kepalanya bingung. Disatu sisi ia sangat berterima kasih kepada gadis itu karena sudah membuatnya melupakan Daisy untuk sementara, di sisi lain ia tidak bisa mengungkapkan rasa terimakasih itu secara langsung dan harus meninggalkannya dalam keadaan mengenaskan seperti sekarang. Noah benar, Seth tidak mungkin bisa membawa gadis itu ke kamarnya. Ia bisa mati karena ini dan mustahil bagi Seth untuk menikah dengan seorang pelayan jika gadis itu menuntutnya untuk mempertanggung jawabkan segala perbuatannya. Seth mendesah galau. "Biarkan aku memindahkannya ke tempat yang sedikit tersembunyi. Aku tidak bisa membiarkannya begitu saja disini!" Bab 3 Daliah terbangun di pagi hari dengan kepala yang sangat pusing. Ia tau kalau ini semua di akibatkan oleh dirinya yang terlalu banyak minum. Jika saja dia tidak menuruti nafsunya untuk meminum sampanye sebanyak yang dia bisa pada pesta tadi malam, Daliah meyakinkan kalau dirinya sudah bangun lebih pagi dari pada yang di lakukannya hari ini. Jam di dinding menunjukkan pukul enam pagi. Masih belum terlambat untuknya menyiapkan sarapan seluruh anggota keluarga di rumah ini. Ia yakin, meskipun dirinya tidak ada, pelayan lain sudah melakukannya dengan sangat baik, meskipun begitu Daliah masih tidak yakin jika ia tidak mengawasi semuanya sendiri. Bunyi pintu di ketuk dengan sangat teratur membuat Daliah menatap pintu dengan dahi berkerut. Tapi begitu mendengar suar yang mengiringi ketukan pintu itu, kerutan di dahinya mulai sirna. Daisy memanggil-manggilnya dengan suara yang agak berbisik. Mungkin Daisy masih kurang nyaman untuk berteriak-teriak di rumah ini. Dengan bermalas-malasan Daliah bangkit dari ranjangnya dan menyadari bahawa dirinya masih mengenakan gaun pesta semalam. Bagian bawah perutnya sedikit sakit sehingga Daliha mengerenyit. Tapi ia masih berusaha untuk mendekati pintu dan membukanya dengan perlahan. "Bagaimana keadaanmu?" Daisy bertanya dengan ekspresi yang sangat cemas. "Bolehkah aku masuk ke kamarmu?" Daliah memandanginya sejenak lalu mengangguk. Dengan tangkas Daisy masuk ke dalam kamar itu dan mengambil posisi di atas ranjang. Daliah segera menutup pintu rapat-rapat dan mengikuti Daisy mengambil posisi disana. "Kau belum menjawab pertanyaanku, bagaimana dengan keadaanmu?" Daisy mengulangi pertanyaannya sekali lagi sambil menatap Daliah dengan sorot mata penuh selidik. "Apa yang terjadi semalam? Aku menemukanmu di halaman belakang berbaring di atas rumput dalam keadaan yang sangat kacau. Apakah sudah terjadi sesuatu? Kau terjatuh? Atau." "Aku tidak yakin." Daliah memotong. "Aku tidak bisa mengingat apa-apa. Yang ku ingat." Daliah terdiam lama. Ia berusaha mengingat-ingat apaa yang terjadi pada dirinya semalam dan ia tidak berhasil mengingat apa-apa selain. "Sebuah ciuman?" Ciuman? "Entahlah, Ada seseorang yang menciumku disana. Tapi aku terlalu mabuk untuk mengingatnya." "Hanya itu?" Daliah mengangguk. "Kau yakin tidak apa-apa?" "Aku sangat berterima kasih karena kau masih bersedia memperdulikanku. Tapi aku benar-benar tidak apa-apa. Sedang apa kau di halaman belakang? Kenapa bisa sampai disana?" "Aku juga tidak tau kenapa bisa kesana. Aku mendengar sesuatu malam tadi sehingga aku berfikir untuk menyelidikinya. Kau yakin tidak apa-apa?"

(9)

"Hentikanlah, sikap khawatirmu sangat berlebihan. Kau mengingatkanku pada Lavender!" Daisy menyeringai mendengar ucapan Daliah tentangnya. Tapi Daisy yakin ia mendengar sesuatu semalam. Ia mendengar suara teriakan dari dalam kamarnya di lantai dua saat Daisy berusaha membuka jendela kamar pengantinnya. Karena itu Daisy sangat khawatir pada Daliah karena setelah ia menyelidikinya, Daisy menemukan Daliah dalam keadaan tidak sadarkan diri. Ia segera memanggil suaminya malam itu dan Rex-pun membantu Daisy memindahkan Daliah ke kamarnya. Ia sangat tenang karena tidak terjadi satu hal-pun yang menakutkan kepada gadis itu. "Maaf Daisy, kau bisa keluar? Bukan maksudku mengusirmu tapi aku masih harus menyiapkan sarapan dan." "Ya, aku mengerti."Jawab Daisy sambil bersiap-siap untuk pergi dari kamar pelayan utama itu sekali lagi ia menatap Daliah dengan pandangan penuh selidik. "Kau benar-benar tidak apa-apa?" "Sejauh ingatanku, semuanya baik-baik saja." "Kalau begitu katakan padaku jika terjadi sesuatu padamu, mengerti?" Daliah mengangguk lalu tersenyum. "Apakah aku harus membereskan kamarmu setelah sarapan?" Bab 4 Aku sudah mengatakan kepada kakakku untuk tinggal. Tapi dia berkeras untuk ke Sydney. Aku rasa ada seseorang disana sehingga Gale selalu ingin kembali ke Sydney. Kau tau? Tingkahnya seperti orang yang sedang jatuh cinta!" Daliah tersenyum mendengar ucapan Daisy tentang Gallion, kakaknya. Ia bisa mengingat saat Daisy memperkenalkan Daliah dengan Gallion dan Daliah sempat terperangah. Gallion sangat mirip dengan Nick Sherwood, mantan suami Lawrence sebelum ia menikah dengan Bethoven. Tapi mereka bukan orang yang sama. Gallion lebih angkuh dan terlihat kurang bersahabat sedangkan mendiang Nick sangat ramah dan baik hati. Tapi tidak bisa di pungkiri bahwa mereka memiliki kemiripan itu. "Dia mirip seseorang yang ku kenal." "Nick?" Daisy bertanya nyaring. "Banyak orang yang mengatakan itu. Nick itu siapa? Kau punya fotonya? Apa benar dia mirip dengan kakakku?" "Ya, hanya saja tubuh Nick lebih jangkung. Dia adalah mantan suami Lawrence, anak sulung di keluarga ini. Semenjak mereka berpisah, Lawrence menyembunyikan semua foto-foto Nick di suatu tempat dan tidak ada seorangpun yang mengetahuinya. Tapi kakakmu sangat menyeramkan, kau tau? Sepertinya kakamu perlu mengambil kelas di akademi tertawa Eropa." Daisy tertawa geli. Ia setuju dengan pendapat Daliah tentang hal itu. "Dia memang terlahir sebagai orang yang galak dan sombong. Aku tidak bisa berbuat banyak. Ah, ya! Kau tau Noah yang tinggal di kamar sebrang?" "Sepupumu?" "Ya, dia mungkin akan tinggal disini. Beth menawarkannya sebuah posisi di kantornya. Ku harap kau bisa berteman baik dengannya. Dia adalah penghuni lain di rumah ini yang harus kau layani dengan baik. Jadi bersabarlah dengan sikapnya..." "Aku mengerti!" "Daliah, bagaimana anggapanmu tentangku?" "Teman. Bukankah semalam kau mengatakan itu." "Ya, aku bisa tenang jika begitu. Tapi hari ini kau terlihat agak pendiam." Daliah menghela nafas. "Mungkin karena aku datang bulan. Pagi tadi sewaktu mandi aku menyadarinya dan ternyata gaunku juga terkontaminasi noda darah. Aku terlalu mabuk untuk mengingat apakah aku sedang datang bulan atau tidak." Lalu ia berdiri dengan rapi setelah menyelesaikan semua pekerjaannya. "Sekarang bolehkah aku ke bawah? Aku harus menyelesaikan

(10)

beberapa buah pekerjaan lagi sebelum memiliki banyak waktu untuk bermain denganmu!" "Tapi kau benar-benar akan kemari setelah semua pekerjaanmu selesai?" "Tentu saja. Selagi Lavender masih hidup, aku selalu melakukan hal itu." "Baiklah, cepatlah kembali kemari!" "Nikmati saja peranmu sebagai seorang istri sebelum bermain-main denganku! Harusnya kau lebih banyak menghabiskan waktu bersama suamimu!" Daliah menggerutu sambil melangkah menuju keluar rumah. Ia meninggalkan Daisy seorang diri dan berjalan mendekati tangga. Tubuhnya memang terasa sangat lelah, seharusnya Daliah lebih banyak istirahat. "Daliah!" Suara lantang itu memanggil namanya. Daliah langsung menoleh dan melihat Noah melambaikan tangannya dari pintu kamarnya. "Itu namamu, kan?" lanjut Noah. Daliah mengagguk. "Kau kepala pelayan disini, kan?" "Ya, Tuan muda!" "Kemarilah, aku ingin protes dengan pelayanan di rumah ini!" Daliah berbalik lalu mendekati Noah dengan langkah kaki yang berketuk-ketuk teratur. Ia berdiri dengan tegap saat sudah berada di hadapan Noah dan bergumam dengan suara yang berat. "Protes mengenai apa, Tuan muda?" "Kau bisa melihat jam tanganmu, kan? Ini sudah hampir siang. Bagaimana mungkin tidak ada seorang pelayanpun yang masuk untuk membersihkan kamarku?" "Pelayan muda di rumah ini tidak akan berani membersihkan kamar jika masih ada penghuninya. Mereka akan bergerak setelah anda keluar dari dalam kamar anda. Kami tidak mungkin membiarkan anda melihat kamar anda di bersihkan dan ikut menikmati debu yang kotor." "Aku juga tidak suka meninggalkan pelayan di kamarku seorang diri tapa pengawasan. Bagaimana jika mereka menyentuh barang pribadiku? Aku bukanlah orang yang suka jika barang-barang milikku di pindahkan tanpa izin." "Maaf, Tuan muda. Kami tidak tau mengenai itu." "Ya, sekarang kau sudah tau, kan? Apa yang akan kau lakukan untuk bertanggung jawab mengenai hal ini?" Daliah melirik ke kiri dan ke kanan ruangan, tidak ada seorang pelayanpun di lantai atas. Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi? Seharusnya para pelayan yang bertugas menunggui Noah Wyndham keluar dari kamarnya. Tapi mereka meninggalkan kamar Noah terlewati begitu saja? "Aku akan memanggilkan seorang pelayan untuk membersihkan kamarmu." "Kenapa tidak kau saja yang melakukannya?" "Ya?" "Kenapa tidak kau saja yang membersihkan kamarku sekarang? Apakah karena kau seorang kepala pelayan jadi kau tidak lagi mengerjakan pekerjaan seperti ini? Aku tidak bisa menunggu lagi jika kau harus memanggil pelayan untukku. Itu akan sangat membuang-buang waktu. Aku harus mengantarkan kakakku ke Bandara sebelum makan siang." "Baiklah," Daliah mendesis. "Sekarang bolehkah aku memulainya?" Noah mengangguk lalu tersenyum. Gadis itu masuk ke kamar Noah dan Noah segera menutup pintu. Ia memulai dari ranjang. Daliah memunguti satu persatu bantal yang berserakan di ranjang dengan sangat hati-hati dan menepuk-nepuknya dengan cukup bertenaga. Noah menggeleng-gelengkan kepala, Daliah sangat tangkas dalam mengerjakan segala pekerjaan rumah tangga.

(11)

"Katakan padaku, berapa usiamu?" Noah bergumam pelan. Tapi ia tau kalau Daliah mendengarnya. Gadis itu menoleh kepada Noah sejenak, mungkin karena Noah menanyakan hal yang sangat sensitif. Tapi sepertinya Daliah lebih memilih untuk menjawabnya. "Aku hanya lebih tua tiga tahun di bandingkan dengan Sepupumu." "Daisy? Berarti usiamu dua puluh tiga tahun?" "Ya, tapi sebentar lagi akan dua puluh empat." Daliah membungkuk untuk membuka sepatu high heelsnya dan mulai merangkak di atas ranjang. Jantung Noah berdegub tiba-tiba. Betapa ia tergoda melihat Daliah bersikap seperti itu. Seharusnya hal itu adalah hal yang biasa. Tapi Noah tidak bisa memungkiri kalau ingatan tentang apa yang di lihatnya semalam menyerang. Saat merekam tindakan Seth kepada Daliah tadi malam, Noah juga sangat tergoda mendengar rintihannya. Sekarang, gadis yang menggoda hasratnya semalam merangkak di atas ranjangnya dengan sikap yang sangat mempengaruhinya. Noah menelan ludahnya. Sebisa mungkin ia mengalihkan pandangannya tapi Noah tidak bisa. Ia duduk di atas sofa dengan lebih tenang dan menyilangkan kedua belah tangannya di depan dada sambil terus memandangi semua sikap Daliah yang membersihkan tempat tidurnya. Ia tidak ingin Daliah mengira apa yang ada di fikirannya. Ia harus segera bicara, Diam bisa saja membuat Daliah mencurigainya. Tapi mengatakan hal seperti apa? Otaknya lumpuh. "Berapa lama kau akan tinggal disini?" Daliah bersuara tanpa memandangnya. Gadis itu masih mengerjakan pekerjaannya dengan sikap yang cepat. Noah bersyukur dengan sikap Daliah yang tidak pendiam. Dia cukup crewet untuk tidak membiarkan sesuatu hal mengganjal di hatinya. "Aku juga tidak tau. Tergantung kontrak kerjaku dengan Beth. Mungkin dua tahun? Kau sendiri, bagaimana mungkin bisa jadi kepala pelayan di rumah ini dalam usia muda? Biasanya kepala pelayan adalah orang yang di tuakan." "Bagaimana kau bisa mengira kalau aku adalah kepala pelayan, Tuan muda?" "Karena kau tidak memakai pakaian seperti pelayan lainnya. Kau terlihat lebih bebas di bandingkan dengan teman-temanmu." "Aku di lahirkan untuk itu, di besarkan dan di didik sebagai pelayan di rumah ini untuk menggantikan Olive, kepala pelayan yang lama. Seharusnya aku menggantikannya setelah usia pensiunnya tiba. Saat itu usiaku harusnya tiga puluh lima tahun. Tapi sayangnya Olive meninggal lebih dulu sehingga aku harus menggantikannya lebih cepat." Daliah kemudian mendekat ke meja telpon dan menekan beberapa nomor tanpa mengangkat telponnya sama sekali. Tidak lama kemudian terdengar suara yang sangat sopan menyapa dan Daliah berujar tegas. "Panggilkan Janette. Katakan padanya kalau aku butuh Vacum cleaner di kamar tamu lantai atas, bawakan juga selimut yang baru!" Dan Daliah segera mengerjakan pekerjaan yang lain lagi setelah memutuskan sambungan telepon. Ia membuka tirai yang sejak tadi tertutup rapat dan memadamkan pendingin ruangan. Sejenak kemudian kamar sudah kembali terang benderang saat Daliah membuka lebar jendela kamar sehingga pemandangan di halaman belakang terlihat jelas. "Siapa Janette?" Noah bergumam pelan. Daliah berdiri tegak dan memandangnya. "Dia calon kepala pelayan yang baru. Begitu aku menjabat sebagai kepala pelayan, aku harus mencari calon yang bisa menggantikanku jika terjadi sesuatu padaku kelak. Itu sudah aturannya." Dan bunyi pintu di ketuk menyela obrolan mereka. Daliah segera melangkah dan membukakan pintu lalu memerintahkan gadis kecil bernama Janette itu untuk masuk. Usia gadis itu mungkin masih dua atau tiga belas tahun, tapi terlihat sama tangkasnya dengan Daliah. Noah harus kecewa kali ini karena ia tidak merasa bebas lagi berbincang-bincang dengan Daliah.

(12)

Saat ini, ada dua orang wanita yang membersihkan kamarnya dan Noah hanya bisa menyimak setiap perintah yang Daliah ucapkan untuk Janette, termasuk mengganti selimut di atas ranjang. Noah menghela nafas berat saat semua pekerjaan selesai dengan cepat. Janette segera keluar setelah permisi dengan sikap yang lemah lembut sedangkan Daliah masih berdiri di dalam kamar Noah untuk kembali menutup jendela dan menyalakan pendingin ruangan. Setelah yakin semua pekerjaannya selesai, Daliah sedikit merendahkan tubuhnya dan meminta izin untuk meninggalkan kamar itu. "Pekerjaanku sudah selesai, Tuan Muda. Sekarang aku permisi dulu." "Biarkan aku menilai pekerjaanmu dulu!" Daliah mengangguk setuju. Ia membiarkan Noah Wyndham meneliti setiap inci kamarnya dengan sangat teliti lalu menoleh kepada Daliah dengan wajah puas. Daliah tau kalau pekerjaannya sangat sempurna. Ia tidak pernah melakukan kecerobohan untuk yang satu ini. Mengerjakan pekerjaan rumah tangga adalah keahliannya dan itu tidak bisa di ragukan lagi. "Bagaimana tuan muda?" Noah berdehem lalu tersenyum menatap Daliah. "Sempurna." "Terimakasih." "Aku harap kau turun tangan langsung untuk merapikan kamarku setiap pagi seperti hari ini. Aku tidak bisa percaya kepada pelayan yang lain." "Bukan masalah." Noah tersenyum lagi. Entah mengapa Daliah terlihat sangat menarik, terlalu memikat. Apakah karena kejadian semalam? Bukankah semalam Daliah bahkan tidak sadarkan diri. Hari ini dia terlihat sangat baik seperti biasa seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Noah tau hal itu di sebabkan karena semalam Daliah sangat mabuk. Ia menghela nafas tak percaya pada perasaan dan apapun yang di fikirkannya sekarang tentang Daliah. Benarkah Daliah baik-baik saja seperti kelihatannya? "Kau baik-baik saja?" Daliah memiringkan kepalanya sejenak. "Maksud anda?" "Wajahmu terlihat pucat!" "Tidak, aku baik-baik saja. Anda tidak perlu khawatir!" Bab 5 Daisy menguap dengan mudahnya sore ini. Padahal pesta itu sudah berlalu beberapa hari tapi perasaan lelahnya masih terus menggelayuti. Ia duduk di pinggir jendela kamarnya dengan penuh ketenangan sambil meneguk teh hangat yang Daliah bawakan untuknya. Gadis itu sekarang tengah menatap antusias foto-foto pesta yang sudah tersusun dalam sebuah Album. Daliah menyayangkan kalau foto dirinya tidak ada satupun yang bagus. Itu semua karena Daliah terlalu mabuk saat pesta berlangsung. Tapi Daisy mengatakan bahwa semua foto Daliah disana sangat bagus. Daliah tampak sangat bahagia dan Daisy senang saat orang berbahagia di pesta pernikahannya. Dua hari Sudah cukup untuk Daliah melunak. Baginya saat ini, Daisy sama sekali bukan orang asing dan dia sudah semakin dekat dengan Daisy sama halnya saat mendiang Lavender masih hidup. Melihat Daisy duduk di jendela kamar itu membuat Daliah mengenang kembali Lavender yang sudah meninggalkannya untuk selamanya. "Astaga, aku melakukan hal konyol seperti ini?" Daliah menggerutu sambil memandangi foto anehnya di pesta. "Sepertinya aku sangat memalukan saat mabuk." "Kau menyenangkan saat mabuk. Lebih menyenangkan dengan saat dirimu tidak mabuk. Kau lihat foto di bawahnya?" Daliah mengangguk. Daisy berfoto dengan memangku si kecil Finnegan yang baru berusia satu tahun lebih. Daisy adalah orang asing pertama yang di perbolehkan Lawrence untuk menyentuh putranya. "Kau sangat manis, terlihat seperti seorang ibu muda."

(13)

"Aku ingin benar-benar menjadi ibu muda. Aku ingin segera punya anak dari Rex!" "Kau baru menikah, nikmati saja pernikahanmu dulu sebelum kita memastikan dirimu benar-benar hamil. Kau akan menyesal jika terlalu cepat memiliki anak!" "Lalu bagaimana jika aku mati sebelum memiliki anak?" Daliah terdiam sebentar. Daisy benar-benar mirip dengan Lavender, selalu mengatakan kata-kata seandainya yang sangat mengerikan. "Kau tidak punya penyakit, kan?" Daisy menggeleng. "Aku sangat bahagia menjadi orang yang sehat. Lalu bagaimana caranya agar aku bisa hamil dengan mudahnya?" "Bagaimana jika mengatur posisi yang menguntungkan saat berhubungan seks? Tapi hal seperti itu Cuma mitos. Lebih baik nikmati saja. Konon kebahagiaan itu bisa membuatmu mudah hamil." "Kebahagiaan?" "Kebahagiaan untuk menikah dengan orang yang di cintai." Daisy tersenyum. "Bagaimana keadaanmu sekarang?" "Entahlah, sedikit lesu. Mungkin karena bulan ini menstruasiku terlalu sedikit. Saat malam pesta itu aku mengeluarkan banyak darah, tapi setelah itu tidak ada lagi. Tubuhku jadi sangat lemas karena itu. Harusnya mensturasi bisa membuatku lebih segar." "Apa yang terjadi sehingga kau sampai begitu?" "Mungkin Stress. Terlalu banyak fikiran tentang rumah ini. Aku bersumpah aku sering seperti ini karena terlalu banyak fikiran. Aku masih terlalu muda untuk menggantikan tugas Olive. Semula ku kira, menjadi kepala pelayan sangat enak. Tinggal perintah dan marah-marah. Mendapat akses khusus dari majikan dan kehormatan yang luar biasa. Tapi ternyata menggantikan Olive membuat bobot tubuhku berkurang dan rambutku rontok..." Daisy memotong ucapan Daliah dengan tawa. Ia membuat Daliah tersenyum bahagia. "Kau harus menjadikan Janette kepala pelayan jika kau ingin pensiun." "Usianya baru tiga belas tahun. Ia akan lebih terbebani bila di bandingkan dengan aku!" "Ya, tapi sikap Janette selalu terlihat lebih siap bila di bandingkan denganmu!" "Benarkah? Dia memanag sudah menguasai banyak hal. Anak itu terlalu cerdas, mirip dengan Olive. Keturunan Olive memang sangat berbakat." "Daliah, bagaimana dengan ciuman waktu itu?" Daliah mengecilkan pupil matanya saat menatap Daisy yang mengeluarkan kalimat di luar konteks pembicaraan. Tapi ia memutuskan untuk menjawab dengan terbuka, karena Daisy sudah menjadi sahabatnya. "Aku mengingat ciumannya, sangat jelas." "Siapa orangnya?" Daliah menggeleng tidak yakin. "Dia bahkan tidak bersuara, bagaimana mungkin ia berbicara saat menciumku.yang pasti dia terlihat sangat tinggi. Saat itu aku menabraknya sehingga pakaiannya kotor. Aku sudah minta maaf." "Dan dia tidak terima? Dia menghukummu dengan ciuman?" "Aku tidak tau apakah itu hukuman atau tidak." "Apa yang kau rasakan saat dia menciummu?" "Emosional" Daliah menjawab dengan pasti. Ia bisa mengingat perasaan yang orang itu salurkan kepadanya lewat cumbuannya. Laki-laki itu mencumbunya dalam waktu yang sangat lama. Terlalu lama sehingga Daliah sulit mengingat kejadian lain yang terjadi setelah itu. Ia hanya mengingat ciuman itu dan bagaimana rasanya. Orang yang menciumnya itu adalah salah seorang dari tamu-tamu di pesta. Tapi Daliah sama sekali tidak bisa menebak siapa orangnya. Laki-laki, sangat tinggi seperti Gallion kakak sulung Daisy. Tapi laki-laki itu mengenakan pakaian yang berbeda, rambutnya

(14)

juga lebih panjang di bandingkan dengan Gallion yang mencukur habis rambutnya. Laki-laki yang mencumbunya sudah pasti bukan Gallion atau Gallion yang mengenakan wig. Daliah masih bisa mengingat saat ia meremas rambutnya dan rambut itu tertancap kuat. Tapi siapa lagi orang yang seperti Gallion? Daliah tidak ingin mengingatnya. Kejadian itu hanya hadiah peri untuknya sebelum jam dua belas malam seperti ciuman yang Cinderella dapatkan dari pangeran. Tapi ia tidak meninggalkan sepatu kaca saat itu, lalu bagaimana mungkin Daliah bisa berharap sang pangeran mencarinya? Ia tidak pernah punya harapan seperti itu. Tidak boleh. Bab 6 "Aku akan mulai bekerja besok." Noah Wyndham bercerita kepada Daliah saat gadis itu membersihkan kamarnya seperti biasa. Di rumah ini sedikit banyak Noah merasa sangat kesepian. Biasanya ia selalu bersama dengan keluarganya yang sangat ramai dan suka bercerita. Tapi di rumah Ouray, ia yaris tidak berbicara kecuali saat bersama Daliah. Mau tidak mau Noah menyadari kalau Daliah adalah satu-satunya orang di rumah Ouray yang bisa di jadikan teman. Pelayan lain sama sekali menghindar untuk berbicara dengannya. Fabian Ouray tengah sakit dan Lawrence tidak pernah keluar dari kamarnya saat Bethoven bekerja. Seharusnya Noah bisa bergaul dengan Daisy dan Rex. Tapi apa yang bisa di harapkan dari sepasang pengantin baru? Mereka ke Canada untuk bulan madu dan tentunya tidak suka bila di ganggu terlalu sering. Beberapa hari ini Noah selalu mengajak Daliah berbicara dalam berbagai topik pembahasan dan Daliah cukup tau banyak serta berfikiran terbuka. Karena itu ia sangat senang menceritakan kabar baik ini kepada Daliah. Karena itu juga Noah memutuskan untuk mengangkat handycam-nya dan menyoroti Daliah yang sedang membersihkan ranjangnya. "Aku turut senang mendengarnya." Gumam Daliah. "Bisakah kau berhenti merekam, Tuan muda?" "Tidak bisa. Ini hobiku! Kau lanjutkan saja pekerjaanmu dan biarkan aku merekammu hari ini." Daliah mendesah keras lalu melanjutkan pekerjaannya dengan tangkas. Noah tersenyum melihat gambar-gambar Daliah yang di rekamnya dengan sempurna. Ia selalu berfantasi seharian setelah Daliah keluar dari kamarnya. Berfantasi tentang bagaimana Daliah merangkak di atas ranjangnya dan Noah selalu ingin melihat hal itu. Sekarang, jika ia memiliki rekamannya maka Noah tidak perlu berfantasi lagi. Ia cukup memutar videonya dan menikmati kecantikan Daliah dari balik handycam-nya. "Aku sudah selesai, Tuan Muda. Aku permisi." "Duduklah dulu disana!" Noah memotong ucapan Daliah, ia tidak ingin Daliah pergi secepat ini. Setiap kali gadis itu mengatakan kalau dirinya sudah selesai dengan segala pekerjaannya, Daliah akan membuat suasana hati Noah semakin buruk. Noah tidak mengerti apa yang sudah terjadi padanya tapi ia selalu menikmatinya. Handycam-nya masih merekam potongan-potongan gambar dengan sangat jelas, ia masih merekam Daliah yang perlahan duduk di atas ranjangnya, tepat dari posisi depan. "Apa yang harus aku lakukan?" "Diam saja disana sebentar!" Daliah menurut. Noah merekam tingkah Daliah yang tegas dengan senang hati dan cukup lama. Dua puluh menit kemudian Daliah mulai gelisah, gadis itu menggigit bibirnya galau. Lima menit kemudian kaki-kaki Daliah terus bergerak dengan tidak nyaman dan semenit kemudian Daliah memberanikan diri untuk protes. "Aku sudah lelah!"

(15)

"Kau hanya berdiam diri saja sudah merasa lelah?" "Apa yang anda inginkan sebenarnya?" "Bisakah kau membuka pakaianmu?" Daliah mendengus sejenak lalu tertawa tak habis fikir. Ia menatap lensa dengan pandangan tak percaya. "Aku bercanda!" Gumam Noah diiringi dengan senyum jenakanya. "aku akan mewawancaraimu. Kau siap? Kau akan menjawab, kan?" "Ya. Jika ada jawabannya!" "Satu pertanyaan saja. Laki-laki seperti apa yang kau inginkan untuk ada di dalam hidupmu?" "Tidak pernah terfikirkan tentang itu!" "Kenapa?" "Karena pelayan wanita di rumah ini tidak di izinkan untuk menikah. Jika mereka melakukan itu, maka mereka harus keluar dari rumah ini. Kebanyakan pelayan memilih untuk bercerai dari suaminya begitu mereka mengandung, tapi tidak sedikit juga yang keluar dari rumah ini lalu di gantikan dengan pelayan baru" "Lalu bagaimana dengan kehidupan kalian jika ada peraturan konyol seperti itu. Itu artinya kalian tidak boleh mencintai laki-laki manapun? Tidak ingin menikah? Tidak ingin punya anak." "Kami bahkan tidak pernah terfikirkan untuk seperti itu." "Lalu bagaimana dengan seks? Itu kebutuhan yang tidak bisa terelakkan, kan?" "Pertanyaan yang itu belum ada jawabannya. Anda bilang hanya satu pertanyaan, tapi anda menanyakan lebih dari satu pertanyaan." "Berhentilah berbicara dengan nada sopan kepadaku. Bagiku kau sudah seperti teman di rumah ini. Satu-satunya teman yang ku punya!" Daliah tersenyum kepada Noah. Entah mengapa Noah merasa sangat bahagia. "Kau mau jadi temanku?" "Aku sangat beruntung karena semua majikanku menginginkanku menjadi teman mereka." "Jadi kau mau?" Daliah tersenyum lagi lalu mengangguk. "Kalau begitu kau mau menemaniku membeli pakaian kerja pertamaku?" "Haruskah aku?" Kali ini Noah yang mengangguk. "Untuk terlihat keren di depan wanita aku memerlukan selera wanita. Kau pasti tau pakaian seperti apa yang cocok untukku. Kau juga tau seperti apa perusahaan milik keluarga Ouray dan penampilan seperti apa yang cocok untuk ku bawa kesana. Jadi?" "Baiklah, tapi setelah semua pekerjaanku selesai. Aku akan menemanimu begitu waktu istirahat tiba." "Jam berapa?" "Sehabis makan siang, dan aku harus pulang sebelum makan malam. Aku harus menyiapkan makan malam untuk seluruh keluarga ini, Tuan Muda." "Panggil aku Noah! Kita teman, bukan?" Bab 7 Noah banyak tertawa hari ini. Ia tau kalau Daliah adalah sosok yang menyenangkan, tapi Noah tidak pernah menyangka bahwa gadis itu semenyenangkan ini. Daliah memiliki banyak lelucon jika dia tidak sedang berada di rumah. Saat ini Daliah tidak terlihat seperti seorang pelayan, ia sama seperi gadis lainnya yang menarik dan menyenangkan. Noah suka melihat Daliah, menatapnya berlama-lama menyegarkan otaknya yang buntu karena terus berada di rumah selama seminggu ini. "Kau terlihat sangat kikuk!" Noah protes. Ia memandangi Daliah dari balik Handycam-nya. Gadis itu

(16)

tersenyum tidak enak. Tapi bukan masalah yang besar, semua orang yang jarang bermain-main dengan kamera akan terlihat kikuk seperti dirinya. "Sebaiknya kau bertanya seperti saat itu. Jika kau memintaku berbicara sendiri, aku sama sekali tidak tau apa yang harus ku bicarakan!" "Tentangmu?" "Bukankah aku sudah menceritakannya saat pertama kali aku masuk ke kamarmu?" Noah tertawa dan tawanya terekam jelas. Ia baru berhenti setelah puas dan tidak mendengar sepatah katapun dari Daliah. Taksi yang mereka tumpangi berhenti di sebuah butik pakaian laki-laki. Bruno Pattielli terlihat sepi. Tapi ini adalah butik pilihan Daliah karena gadis itu suka dengan pakaian-pakaian Bethoven yang pada umumnya di beli disini. Daliah turun lebih dulu di susul oleh Noah kemudian. Seorang pramuniaga tersenyum dan mengucapkan selamat datang dengan ramah. Dengan segera Noah bertanya pada gadis itu apakah mereka boleh merekam di dalam? Pramuniaga itu terlihat bingung lalu bertanya pada seseorang yang mungkin berada di balik semua pakaian mahal itu. Tidak lama karena gadis itu segera kembali dengan anggukan yang membuat Noah senang. "Dia sangat baik mengizinkanmu merekam. Seharusnya kau tidak melakukan itu. Bagaimana jika ada orang yang melihat videomu dan berfikir untuk meniru pakaian yang terekam disana?" Daliah bergumam dengan nada berbisik. Noah tersenyum simpul. "Tidak ada seorangpun yang menonton Video rekamanku selain diriku sendiri. Untuk menonton rekamanku perlu melalui perizinan yang sangat ketat. Mengerti? Aku tidak akan membiarkan orang lain melihat video-video tentang dirimu!" Daliah mendesah, mungkin ia memilih untuk menyerah berdebat dengan Noah. Sebagai seorang gadis Daliah cukup keras kepala dan cerewet. Tapi semua sikapnya itu teredam dengan baik karena status pelayan yang di milikinya. Ia terbiasa mengalah pada perintah meskipun hatinya berontak. Daliah juga tidak pernah berkeras untuk menekankan pendapatnya pada seseorang. Ia memilah-milah pakaian yang tersampir dengan rapi lalu mengeluarkan sebuah kemeja kerja berlengan panjang dengan motif garis-garis vertikal berwarna hitam, merah dan abu-abu. Daliah menyukai itu pada pandangan pertama dan sekarang ia menyodorkannya kepada Noah. "Bagaimana dengan ini? Kau agak kurus, pakaian ini bisa membuat tubuhmu tampak lebih berisi." "Kalau begitu ambil saja!" "Tidak ingin kau coba?" "Tidak usah, kau tau ukuran yang cocok untukku, kan? Jika tidak, tanya saja kepada pramuniaganya!" "Berapa buah kemeja yang kau butuhkan?" "Dua lagi, bagaimana?" "Perlu Jas?" "Aku tidak suka memakai jas." "Kalau begitu aku ambil yang ini dan yang ini!" Daliah mengambil dua potong kemeja lagi. Sebuah kemeja putih polos dan kemeja yang berwarna hijau Zaitun dengan dua buah garis vertikal berwarna putih yang di mulai dari bahu sebelah kanan hingga ke bawah. Ia menyerahkan ketiga potong pakaian pilihannya kepada pramuniaga dan mengikutinya kekasir. Dengan sigap Daliah membayar semuanya sehingga Noah berdelik. Kartu kredit dari dompet Noah gagal keluar. "Kau tidak harus melakukan itu!" Noah menggeram. Ia masih merekam wajah Daliah yang tersenyum dengan ekspresi yang sangat di sukainya. "Apa kata orang jika kau yang membayar pakaianku?" "Ini hadiah, ucapan selamat karena mulai bekerja besok!" "Tapi pakaian-pakaian ini sangat mahal." "Aku punya uang yang cukup. Selama bekerja di rumah Ouray, kami mendapatkan gaji yang lebih

(17)

dari cukup. Tapi selama ini aku kebingungan untuk menggunakan uang-uang itu. Rumah itu sudah seperti rumahku dan aku di gaji saat bekerja di rumahku sendiri." "Kau bisa membeli pakaian untukmu sendiri..." "Lawrence selalu membelikannya untukku. Jadi jangan khawatir. Sekarang ayo, pulang!" Daliah beranjak lebih dulu setelah memberikan senyum yang ramah kepada kasir yang melayaninya. Ia melangkah keluar dari butik itu dan berjalan dengan sangat santai di pinggir jalan. Noah masih mengikutinya. Saat Daliah melambaikan tangan untuk memanggil taksi, Noah segera memegangi tangannya sehingga lambaiannya tersembunyi. Daliah menatap Noah dengan ekspresi heran. Seharusnya mereka pulang karena semuanya sudah selesai. Mereka sudah mendapatkan semua kebutuhan Noah untuk bekerja, kan? "Aku tidak mungkin ke kantor hanya dengan kemeja, kan?" Desis Noah. "Aku masih butuh celana, sepatu, dasi, kaos kaki, pakaian dalam yang baru." "Kenapa kau tidak mengatakannya dari tadi? Seharusnya kita bisa membelinya sekalian disana, tadi!" "Dan membiarkanmu membayar semuanya? Tidak! Aku akan sangat berhutang budi karena itu!" "Tunggu dulu, pakaian dalam baru? Aku juga harus memilihkannya? Tidak ada yang tau pakaian dalammu baru atau tidak kecuali kau memamerkannya di kantor dan jika itu terjadi, maka kau akan segera di seret ke rumah sakit jiwa. Kau tidak harus membuang-buang uang untuk hal yang belum penting, Noah!" "Tapi ini memang sudah saatnya aku mengganti pakaian dalamku dengan yang baru." Desis Noah. Kali ini dia sedikit berbohong. Ia sudah memiliki semua barang yang di butuhkannya. Noah hanya tidak ingin kebersamaannya dengan Daliah berlalu dengan sangat cepat. Ia ingin mengulur waktu lebih banyak lagi hingga batas waktu kebersamaan mereka hari ini tiba. Noah tidak bisa berpisah dengan Daliah saat ini, ia merasa terikat, sangat kuat oleh pesona sang pelayan utama yang melayani keluarga Ouray seumur hidupnya hingga kini. Bab 8 Detakan halus dan teratur mengiringi kekesalan Daliah tentang beisik-bisik yang terjadi di belakangnya. Ia tengah memasak bubur untuk Daisy sekarang dan harus mendengar dua orang pelayan muda berbisik di belakangnya. Topik yang mereka perbincangkan, tak lain dan tak bukan adalah dirinya. Topik yang seharusnya bisa saja di anggap wajar karena Daliah memang mendapat perlakukan istimewa di rumah ini, tidak seperti pelayan yang lainnya. Daliah menyelesaikan irisan kentangnya dan memasukkan potongan-potongan itu ke dalam bubur untuk memberi tekstur yang berbeda. Janette segera datang setelah mengambil susu murni di dalam kulkas dan ikut menumpahkannya disana. "Mereka menggosipkanmu!" Bisik Janette sambil menuang susu sedikit demi sedikit untuk mengulur waktu. "Aku tau!" "Mereka selalu begitu. Seharusnya kau memberi pelajaran kepada mereka berdua. Mereka sama sekali tidak hormat kepadamu sebagai kepala pelayan. Meskipun kedua pelayan itu adalah orang baru di rumah ini, seharusnya mereka belajar sebagaimana pelayan yang terlahir di rumah ini pelajari." "Aku sedang berusaha menahan diri." Daliah lalu mengambil alih botol susu yang berada di genggaman Janette dan meletakkannya di lemari es. Kedua pelayan itu berhenti berbicara sejenak dan berpura-pura tidak menyadari segala tindakan Daliah saat itu. Daliah kembali ke dekat panci dan mengaduk-aduk buburnya yang hampir matang.

(18)

"Kalau begitu aku pergi dulu." Gumam Janette. "Aku harus memandikan Finnegan!" "Baiklah, terimakasih!" Janette tersenyum sejenak lalu merendahkan tubuhnya untuk menunjukkan kalau dirinya menyambut dengan baik ucapa terimakasih dari mulut Daliah itu. Dengan langkah tegas yang sama persis dengan yang Daliah miliki, Janette meninggalkan dapur setelah melirik tajam kepada kedua pelayan yang masih bergosip dengan bisikan-bisikan yang mengganggu. Daliah memejamkan matanya untuk menyimak lebih dalam sambil berfikir tentang apa yang harus di lakukannya kepada kedua gadis itu. "Tuan Muda Noah yang selalu memanggilnya, kan? Kenapa kau mengatakan hal seperti itu?" "Tetap saja dia sangat menikmatinya, mereka seperti sepasang kekasih saja, selalu keluar rumah setiap kali jam istirahat. Dia juga suka menghabiskan waktu di kamar atas berlama-lama. Enak sekali jadi dia, semua orang ingin berdekatan dengannya." "Seandainya aku bisa jadi kepala pelayan juga." "Kita tidak di lahirkan di rumah ini, sayang. Adalah mimpi jika kita berharap bisa menjadi kepala pelayan di rumah ini." "Ya, Bagaimana dengan Nyonya Daisy? wanita itu juga sama, bertindak seolah-olah rumah ini adalah rumahnya. Padahal dia hanya istri kedua dari menantu di rumah ini." "Kau benar, dia memerintah sesukanya seolah-olah dia putri Ouray. Seharusnya dia sadar akan dirinya. Semua orang boleh saja berfikir kalau dia adalah pengganti Lavender, tapi dia tetap bukan putri Ouray seperti Lavender..." Pembicaraan itu akan terus mengarah ke seluruh anggota keluarga jika di biarkan. Bukankah sifat gossip memang seperti itu? Spontan Daliah menghempas pisau yang ada di genggamannya keras-keras lalu menoleh kepada kedua pelayan muda itu dengan tatapan galak. Kedua gadis itu segera melarikan diri sebelum Daliah sempat mengeluarkan kata-kata kasar untuk memarahi mereka. Daliah mendengus. Ia kembali berbalik untuk memindahkan bubur kedalam mangkuk lalu beranjak menuju lantai atas. Dalam waktu singkat Daliah sudah berhasil menghidangkan makanan untuk Daisy dan Daisy sangat menikmati bubur buatan Daliah sambil duduk di atas ranjang. Daliah tidak bergumam mengenai apapun, ia masih membayangkan ekspresi kedua gadis tadi saat membicarakannya. Bagaimana mungkin mereka bergosip tentang dirinya sedagkan ia masih berada di ruangan yang sama dengan mereka. "Mereka sengaja untuk membuatku marah!" Daliah berdeis. Daisy Melville segera meliriknya sambil memiringkan kepalanya beberapa waktu. Tidak lama kemudian Daisy kembali menikmati buburnya setelah bergumam. "Ada apa?" "Para pelayan itu membicarakanku dan Noah, mereka mengatakan hal-hal yang tidak senonoh." "Karena sepupuku sangat tampan. Mereka hanya iri-ku rasa! Tapi mereka benar. Kebersamaanmu dengan Noah lebih banyak bila di bandingkan dengan waktumu bersamaku. Aku sempat cemburu, tapi aku juga bersuami dan tidak mungkin menghabiskan banyak waktu bersamamu. Kau dan Noah, ada hubungan apa?" "Tidak ada. Hanya berteman, sama sepertimu." "Tidak ada kata 'teman' antara laki-laki dan perempuan. Pasti akan ada perasaan nantinya. Aku mempelajari itu selama aku hidup di New Zeeland. Gallion juga sering mengatakan hal seperti itu agar aku lebih berhati-hati dengan tipu muslihat laki-laki yang mengajak perempuan berteman padahal mereka hanya mencari-cari alasan untuk berdekatan dengannya secara bebas." "Berarti aku harus menjauh darinya?"

(19)

"Tidak, jangan perdulikan kata orang. Bukankah kau selalu mengatakan hal seperti itu? Nikmati saja hubunganmu dengan Noah. Anggap saja seperti pacar-pacarmu yang lain." "Pacar yang mana?" "Kau tidak pernah pacaran?" Daliah menggeleng. Tidak ada yang bisa menjadi kekasihku di rumah ini. Aku memang selalu bertindak sok tau kepada mendiang Lavender semasa hidupnya, tapi sebenarnya aku juga tidak tau banyak. Aku hanya mendengar cerita-cerita seperti itu dari pelayan-pelayan sebelumku dan aku merekamnya baik-baik." Daisy menghentikan gerakannya dan menatap Daliah dengan pandangan tak menyangka. "Kau tidak terlihat sepolos dirimu yang sebenarnya. Aku bersumpah, kau lebih myakinkan jika memperlihatkan dirimu sebagai orang yang berpengalaman tentang cinta!" Daliah tertawa halus lalu mengibaskan tangannya. "Sepertinya banyak orang yang tertipu dengan sikapku!" "Begitulah, ku rasa. Jadi kau tidak pernah merasakan cinta sama sekali?" "Sepertinya belum. Aku juga menginginkannya, tapi aku cukup tau diri. Rumah ini masih membutuhkan hatiku. Aku tidak bisa memberikan hatiku kepada orang lain sebelum tugasku di rumah ini berakhir. Dan tugas itu mungkin tidak akan pernah berakhir. Aku sudah mencintai rumah ini dan berharap untuk berada disini selamanya." "Lau bagaimana jika orang yang kau cintai ada di rumah ini? Lebih baik, kan?" "Maksudmu Noah?" Daliah menggeleng tidak yakin. "Aku hanya pelayan, aku tau kalau kami seringkali menjadi bulan-bulanan majikan seperti Olive yang sudah pensiun menjadi bulan-bulanan Seks paman mendiang Lavender selagi dia masih cantik dan muda. Kami tau suatu saat itu akan menimpa kami, tapi tidak ada satupun dari kami yang boleh berharap untuk mendapatkan cinta dari majikan, kecuali jika kami keluar dari rumah ini. Dan kau tau? Aku sudah sangat mencintai rumah ini dan segala isinya sehingga ku fikir, aku tidak akan pernah bersedia meninggalkan rumah ini untuk selamanya." Lagi-lagi Daisy terperangah. "Benarkah Olive begitu? Kau tau cerita ini dari mana?" "Aku pernah melihatnya tanpa sengaja. Laki-laki itu mendatangi kamar kami dan memaksanya bercinta pada waktu itu. Aku pernah bertanya pada Olive mengenai itu dan Olive mengatakan kalau itu akan jadi hiburan jika saja ia tidak hamil. Olive juga mengatakan kalau itu bisa saja terjadi pada semua pelayan di dunia, tergantung bagaimana mereka menyikapinya..." "Ceritakan padaku lebih banyak lagi." "Sejak kapan kau jadi suka gossip?" Bab 9 Finnegan ouray bermanja kepada Daliah dengan sikap jenakanya. Ia tertawa senang saat berada dalam gendongan Daliah yang mengajaknya berkeliling rumah hari ini. Finnegan sedikit berontak saat ibunya berusaha mengambil bocah itu dari dalam gendongan Daliah. Ia tidak ingin lepas dari dalam gendongan gadis itu sama sekali. "Dia masih ingin bermain!" Gumam Daliah untuk menenangkan Lawrence yang kelihatannya cemburu. Lawrence mengangguk mengerti. Daliah bukanlah orang yang dekat dengan Finnegan, bocah berusia satu setengah tahun itu sebenarnya lebih dekat dengan Janette. Jika saja Janette tidak sedang flu, Daliah pasti tidak akan datang ke kamar Lawrence untuk menggantikan Janette. "Kalian jangan terlalu memanjakannya!" "Aku mengerti. Aku tidak akan melakukannya!"

(20)

"Dia harus mandi dulu, baru boleh bermain lagi." "Bolehkah aku mengajaknya berkeliling rumah lagi sebelum dia mandi? Finnegan seharusnya tidur setelah dia mandi." "Tapi dia sangat kotor!" "Dia tidak akan sakit hanya karena menunda mandi. Boleh, ya? Ku rasa Finnegan belum puas dengan jalan-jalan tadi. Kau boleh bilang tidak untuk memanjakannya, tapi kau juga jangan terlalu keras pada anakmu nyonya!" "Astaga, kenapa kau mengatakan hal seperti itu. Kau tau kalau aku selalu kesulitan berkelit melawan katakatamu!" Lawrence berdesis lalu menghela nafas penuh kekalahan. "Pergilah, bawa dia. Tapi jangan terlalu lama." "Terimakasih, nyonya!" Daliah tersenyum senang lalu memandangi Finnegan yang menatapnya. Bocah itu memperlihatkan segelintir gigi susunya yang baru tumbuh sehingga membuatnya terlihat sangat ceria. "Kita pergi sekarang tuan kecil?" Daliah membimbing tangan kecil Finnegan untuk melambai kepada ibunya lalu keluar dari kamar itu menuju lantai bawah. Daliah ingin mengajak Finnegan ke halaman untuk berjalan-jalan sejenak. Setelah sampai di halaman, Finnegan lebih aktif dari yang semula Daliah duga. Anak itu mencondongkan tubuhnya agar ia turun menyentuh rumput. Tapi Daliah tidak mengizinkannya. Finnegan mulai rewel karena keinginannya tidak di turuti. Dengan berat hati Daliah duduk di rumput dengan Finnegan di pangkuannya. Bocah itu boleh menyentuh rerumputan, tapi Daliah terus mengawasinya jika Finnegan mulai mendekatkan rerumputan yang di cabut dengan tenaga kecilnya ke mulut. Finnegan sedang dalam usia memakan apa saja yang menarik menurutnya. Daliah tersenyum sipul setiap kali melihat tawa Finnegan hadir. Selama ini ia banyak melewatkan tawa itu, selama ini hanya Janette yang menikmatinya. Daliah sangat menyayangkannya. Bunyi Klik yang samar membuat Daliah mengalihkan perhatiannya ke arah lain. Spontan, tapi intuisinya benar. Noah sedang mengambil fotonya dengan ponsel lalu memamerkan hasilnya setelah laki-laki itu mendekat. Noah duduk di sebelah Daliah, memindahkan Finnegan ke pangkuannya dan membelai kepalanya. Bocah itu tidak menolak. Laki-laki itu terlihat senang saat Finnegan menggenggam telunjuknya. Ia terus tersenyum hingga akhirnya sebuah teriakan keras mengagetkannya. Dengan gigi susu barunya, Finnegan menggigit jari telunjuk Noah dengan keras. Noah benar-benar kesakitan tapi Daliah menertawakannya. "Astaga, giginya sangat tajam!" Noah menggerutu sambil memegangi telunjuknya. Ia memandangi Finnegan yang kembali memamerkan giginya. "Kau beri makan apa dia sehingga memiliki gigi setajam hiu?" "Gigi anak kecil memang tajam. Gigi mereka lebih pipih di bandingkan dengan gigi orang dewasa. Jangan berlebihan!" Gumam Daliah sambil kembali memperhatikan ponsel Noah yang berada dalam genggamannya. Ia mendapati semua gambarnya di dalam ponsel itu, baik di ambil dengan meminta izin maupun diam-diam. "Foto yang ini, kapan kau ambil?" Noah mendekatkan tubuhnya untuk melihat Foto yang di tunjuk oleh Daliah. Foto saat Daliah menaiki tangga menuju lantai atas. Saat itu ia memanggil Daliah dari puncak tangga dan memotretnya tanpa izin begitu Daliah menoleh kepadanya. "Aku juga sudah lupa." "Untuk apa kau mengkoleksi semua fotoku? Memangnya kau suka padaku?" "Kalau iya, bagaimana?" Daliah tertawa halus sambil memandang Noah dengan tatapan yang sudah menduga. Belakangan ini Noah memang terlalu menunjukkan perasaannya dan Daliah tidak bisa menolak. Ia hanya ingin menikmatinya. "Terserah padamu, tuan muda. Seorang pelayan tidak bisa mengatur perasaan

(21)

majikannya. Kami hanya bisa menyaksikan, mendengarkan dan menikmati. Tidak untuk melarang! Tapi berhati-hatilah jika kau tidak ingin nama baikmu tercemar karena berkencan dengan seorang pelayan!" "Memangnya kita sedang berkencan?" "Tidak. Tapi pelayan yang lain mengira seperti itu, Bahkan Bethoven dan Lawrence. Semua orang di rumah ini menduga kalau kita memiliki hubungan khusus." "Lalu kau mengatakan apa untuk membela diri?" Daliah menggeleng. Ia tidak mengatakan apa-apa karena tidak ada seorangpun yang bertanya langsung mengenai hal itu kepadanya. "Kau keberatan jika aku menyukaimu?" "Aku tidak punya alasan untuk keberatan sebagai." "Sebaga seorang pelayan?" Noah menatap Daliah penuh harap. ia memita kepada Tuhan agar Daliah mengatakan bahwa dia tidak punya alasan untuk menolak karena Daliah seorang wanita yang membutuhkan cinta. Tapi anggukan Daliah membenarkan kalau dirinya masih memberi batas antara mereka berdua. Seorang pelayan dan majikan meskipun mereka sudah berteman. Noah menghela nafas kecewa, terlebih saat Daliah berdiri meninggalkannya dan menyongsong Bethoven yang berjalan menuju ke arahnya. Dengan perasaan linglung Noah mendekat dan memandangi mereka. Bethoven menyapa Finnegan, putranya lalu menyentuh puncak kepala Daliah untuk mengucapkan terimakasih karena sudah menjaga anaknya hari ini. Bocah itu mengulurkan tangan kepada ayahnya untuk di gendong dan Daliah memberikan Finnegan kepada Ayahnya. Seharusnya Bethoven segera pergi setelah mendapatkan anaknya. Tapi laki-laki itu mengajak Daliah mengobrol tanpa mengikut sertakannya seolah-olah mereka sedang membicarakan urusan keluarga. Padahal Noah tau benar bahwa yang mereka bicarakan adalah urusan kantor. Mengapa Bethoven membicarakan hal seperti itu kepada Daliah? Mengapa tidak kepada istrinya? "Ah, ya. Sangat banyak teman-teman di kantor yang menanyakan dirimu." Bethoven bergumam sambil menimang-nimang Finnegan yang berada dalam pelukannya. "Di pesta itu kau cukup menonjol. Semua laki-laki normal yang belum menikah menanyakanmu beserta kemungkinan untuk membawamu keluar dari rumah ini." "Aku tidak akan keluar dari rumah ini!" "Berarti kau tidak mau menikah? Seharusnya kau mencari kehidupan yang baik dan menyenangkan. Di keluarga ini, hanya kau yang belum menikah." "Aku bukan keluarga di rumah ini, Beth!" "Kau dan Lavender di besarkan bersama, saat Lavender tidak ada lagi di dunia ini maka kau yang mengambil alih tempatnya di hati semua orang. Baik ayah maupun Lawrence mulai mengistimewakanmu. Sekarang bagaimana bisa kau mengatakan bahwa dirimu bukan keluarga di rumah ini?" "Tapi aku tidak mungkin menikah dengan teman sekantormu. Kau sedang berusaha menjadi Mak comblang, ya?" "Tidak, bukankah kau sudah memiliki hubungan dengan salah seorang teman sekantorku?" Bethoven mengelak sambil melirik Noah yang berdiri di dekat mereka. Noah tidak menyangka kalau Bethoven akan mengatakan itu. Ia menoleh kepada Daliah yang juga memandangnya dengan tatapan heran. Saat mata mereka saling beradu, jantung Noah hampir saja melompat keluar. Ia menghirup udara sebanyak yang dia bisa. Apa ini? Mengapa dunia berhenti berputar tiba-tiba? Kami sudah berpandangan terlalu lama, kan? Gumam Noah dalam hati.

(22)

Noah memegangi kepalanya dengan geram. Ia tidak mengerti mengapa dirinya sangat ingin menyaksikan video itu sekali lagi setelah sekian lama benda itu tidak di sentuh olehnya. Semenjak Noah menyadari kalau hatinya sangat membutuhkan Daliah, Noah tidak pernah lagi memutar video tentang perlakuan Seth pada gadis itu. Tapi entah mengapa ia ingin menyaksikannya lagi. Daliah memang sangat menggairahkan dan Noah tidak bisa memungkiri kalau Gairahnya terpacu mendengar rintihan kenikmatan dari mulutnya. Tapi bukan hanya itu, Noah juga bersumpah kalau saat ini ia sangat ingin mendatangi Seth di New Zeeland dan membunuhnya karena laki-laki itu telah menyetubuhi wanita pujaannya. Noah sangat membenci Seth tapi Seth tidak bisa di persalahkan. Ia juga memprovokasi Seth malam itu dan sekarang Noah sangat menyesalinya. Dengan gusar Noah mengambil remote televisi dan membuat Home Video yang membakar amarah serta gairahnya secara bersamaan berhenti menyala. Ia ingin berada di sisi Daliah hari ini. Ingin Daliah berada dalam dekapannya, ingin gadis itu meritih hanya untuknya. Tapi ia sama sekali tidak memiliki alasan untuk itu. Sepertinya Noah harus berusaha keras mencari alasan agar Daliah bisa berlama-lama di kamarnya. Tapi hal apa yang bisa menjadi alasan yang tepat? Bab 10 "Kurasa kau harus memeriksakan diri ke rumah sakit. Pasti sesuatu telah terjadi padamu. Kau tau tidak kalau wajahmu sangat pucat. Aku sangat khawatir!" Daisy bergumam lemah saat ia menemani Daliah di dapur. Gadis itu sedang memerintah para pelayan muda untuk segera menyiapkan makan siang karena waktunya sudah semakin tipis. Lima orang pelayan lain selain dirinya sibuk mengerjakan semua perintahnya dengan terburu-buru dan berhasil menyelesaikan tugas mereka dengan cepat. Setelah itu Daliah memerintahkan mereka semua untuk menghidangkan makanan-makanan itu ke ruang makan sebelum ia berpindah ke ruang tengah untuk menjawab pertanyaan Daisy yang terus mengikuti langkahnya. Daliah memandang Daisy yang duduk di sampingnya lalu menggenggam tangannya. "Aku juga berfikir begitu. Aku belum datang bulan lagi. Padahal sudah lewat dua minggu dari jadwal yang seharusnya." "Karena Stress?" "Mungkin, bulan lalu aku hanya datang bulan dalam semalam. Sekarang malah tidak sama sekali. Tapia apa hal yang bisa membuatku tertekan? Rumah ini baik-baik saja, kan?" "Mungkin Gosip para pelayan itu tentangmu dan Noah!" Daliah menggeleng. Hal itu tidak akan membuatnya terlalu stress untuk mengacaukan siklus datang bulannya. "Setelah makan siang hari ini aku akan kerumah sakit. Kau mau ikut? Sekalian kita memeriksakan dirimu." "Boleh, ku rasa sekarang memang saatnya. Aku tidak bisa menunda-nunda keanehan ini lebih lama lagi. Aku takut mengidap penyakit parah." "Dally!" Janette dengan anggunnya menyapa Daliah lalu merendahkan tubuhnya memberi hormat kepada Daisy. Setelah segala sikap hormatnya selesai, Janette kembali berbicara kepada Daliah dengan nada suara yang sopan. "Aku sudah memanggil semua anggota keluarga untuk makan siang, semuanya akan segera berkumpul. Tapi, Tuan Muda Noah memintamu mengantarkan makan siang ke kamarnya. Hanya itu." "Terimakasih, Jane! Kau punya pekerjaan lain?" "Seharusnya aku mengajak Finnegan bermain, tapi sepertinya dia sedang tidur." "Kalau begitu kau bisa bantu aku menyiapkan makan siang untuk Tuan Muda itu?"

Referensi

Dokumen terkait