BAB I PENDAHULUAN. merupakan fenomena yang begitu mudah dijumpai di mana-mana. Tidak

15 

Teks penuh

(1)

1 A. Latar Belakang Masalah

Kemiskinan merupakan salah satu masalah yang sampai saat ini masih menjadi problem nasional pemerintah Indonesia. Hal ini terlihat dari sebagian warga masyarakat yang taraf hidupnya masih rendah. Dan kemiskinan merupakan fenomena yang begitu mudah dijumpai di mana-mana. Tidak hanya di desa-desa, namun juga di kota-kota. Di balik kemewahan gedung-gedung pencakar langit di kota, misalnya, tidak terlalu sulit dijumpai rumah-rumah kumuh berderet di bantaran sungai, atau para pengemis yang berkeliaran di perempatan-perempatan jalan. Sedangkan di daerah pedesaan salah satunya, daerah yang diharapkan sebagai daerah produktif dan juga sebagai sentra pertanian dengan hasil bumi yang sangat melimpah namun sampai sekarang masalah kemiskinan dan ketimpangan sosial masih terjadi.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada maret 2014 jumlah penduduk yang berada pada garis kemiskinan berjumlah 28,28 juta orang, atau sekitar 11,25% dari jumlah masyarakat Indonesia. Jumlah tersebut hanya turun tipis dibandingkan bulan September 2014 yang berjumlah 28,6 juta orang, atau sekitar 11,46%. Kepala BPS Suryamin menyatakan trend penurunan jumlah kemiskinan yang landai ini sulit di dorong lagi. Jumlah penduduk miskin memang sedang menjadi trend yang sulit diturunkan lebih

(2)

drastis. Dan perlu kebijakan khusus pemerintah yang harus dikeluarkan lebih dari kebijakan saat ini.1

Betapapun, dalam pandangan al-Qur’ān dan Sunnah setiap makhluk mempunyai hak memperoleh makan dan minum, bahkan hidup terhormat. Jangankan manusia, binatangpun demikian. Islam memerintahkan pada umatnya untuk menyantuni orang miskin, larangan untuk mendzalimi mereka, larangan untuk menumpuk harta dan sebagainya. Ini menandakan bahwa Islam memiliki perhatian terhadap orang-orang miskin. Dalam Qs. al-Mā’un misalnya, Allah memberikan label “Pendusta Agama” kepada mereka yang rajin sholat tetapi tidak memberikan perhatianya kepada anak-anak yatim dan orang orang miskin.























”Taukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (Qs. al-Mā’un [107 ] : 1-3)

Yaitu orang-orang yang mendustakan Agama/ hari kemudian, tidak menyatakan bahwa mereka adalah orang yang tidak memberi makan, tetapi yang tidak menganjurkan memberi pangan. Ini berarti bahwa, walaupun mereka tidak memiliki kelebihan apapun, mereka tetap dituntut oleh ayat tersebut untuk, paling sedikit, berperan sebagai penganjur pemberian pangan.2

1Http://nasional.kontan.co.id/news/jumlah-orang-miskin-mei-2014-turun-jadi... (diakses

09/2014 Jam 13.49 WIB).

2 M. Quraish Shihab, Secercah Cahaya Ilahi, Cet Ke-III (Bandung: Mizan, 2002), hlm.

(3)

Selain itu Nabi juga menafikan keimanan orang orang yang berzina, mencuri, kenyang sendiri sedangkan tetangganya kelaparan, tidak menghormati tamu, tidak mencintai sesama dan ritualitas sosial lainya.3

Dikemukakan oleh Quraish Shihab dalam bukunya Wawasan al-Qur’ān bahwa faktor penyebab dari kemiskinan adalah sikap berdiam diri, enggan dan tidak mau bergerak dan tidak berusaha. Sedangkan al-Qur’ān memerintahkan kepada manusia untuk bekerja dan berusaha.

Dengan demikian siapa yang menyebar di muka bumi untuk mencari karunia Allah dan rizki Nya pantas mendapatkanya, dan siapa yang duduk bermalas malasan maka tidak akan mendapatkan apa-apa.

Adapun bila seseorang tidak dapat bekerja atau berusaha dikarenakan suatu udzur maka al-Qur’ān memerintahkan kepada umatnya untuk memberikan jaminan kepada mereka yang tidak mampu mencari nafkah karena hal tersebut merupakan hak bagi mereka. Sebagaimana yang terdapat dalam Qs. ar-Rūm [30]: 38























Maka berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridaan Allah. Dan mereka itulah orang-orang-orang-orang yang beruntung.” (Qs. ar-Rūm [30]:38)

Kemiskinan yang terjadi akibat termarjinalisasinya kelompok tertentu dalam masyarakat juga menjadi salah satu perhatian agamawan.

3 M. Nur Kholis Setiawan, Pribumisasi al-Qur’ān, Cet. Ke-I (Yogyakarta: Kaukaba

(4)

Rekomendasi melalui pemahaman teks suci semestinya mampu menjadi pencerah penguasa untuk melahirkan kebijakan pro-rakyat miskin.4

Kesalah pemahaman terhadap pesan al-Qur’ān juga bisa berakibat memunculkan perilaku manusia yang tidak ramah terhadap sesama (de humanisasi), seperti terjadinya eksploitasi tenaga kerja, korupsi, serakah terhadap harta benda, menumpuk kekayaan, tidak perduli terhadap kemiskinan, dan perilaku-perilaku negatif lain yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Padahal al-Qur’ān dalam ajaran-ajaranya melarang manusia untuk berbuat kedzaliman dan menganjurkan untuk berbuat baik terhadap sesama. Al-Qur’ān sangat mengecam perbuatan buruk dan kejahatan, al-Qur’ān juga melarang manusia berbuat aniaya terhadap orang yang lemah serta menghardik orang yang membutuhkan bantuan. Selain itu banyak ayat-ayat yang berbicara tentang orang miskin. Diantaranya memerintahkan supaya berbuat baik kepada orang miskin, memberikan harta kepada orang miskin, memberi makan terhadap orang miskin dan sebagainya.

Namun seperti apa sebenarnya bentuk dan perhatian al-Qur’ān terhadap orang-orang miskin, dan siapakah sebenarnya yang dimaksud dengan miskin tersebut. Dalam hal ini khususnya menurut pandangan Ahmad Musṭafā al-Marāgī dan M. Quraish Shihab. Hal inilah yang mendorong penulis untuk mengkaji masalah ayat-ayat kemiskinan dalam al-Qur’ān. Selain itu ketertarikan peneliti mengangkat tema ini tidak terlepas dari penafsiran M. Quraish Shihab dalam menafsirkan Qs. al-Mā’ūn ayat 3

4 M. Nur Kholis Setiawan, Pribumisasi al-Qur’ān, Cet. Ke-I (Yogyakarta: Kaukaba

(5)

tentang kemiskinan, yaitu bahwa tidak memberikan peluang sekecil apapun bagi setiap orang untuk tidak berpartisipasi dan merasakan bahwasanya perhatian harus diberikan kepada setiap orang lemah yang membutuhkan bantuan.

Penulis memilih untuk mengkaji dan mengomparasikan pemikiran Ahmad Musṭafā al-Marāgī dan M. Quraish shihab di dalam tafsirnya dengan beberapa alasan :

Pertama, Baik Ahmad Musṭafā al-Marāgī maupun M. Quraish Shihab sama-sama dikenal sebagai mufasir yang sadar akan persoalan kontemporer dan pemikir Islam terkemuka, dalam menafsirkan ayat al-Qur’ān keduanya sama-sama menggunakan corak Adab Ijtimā’ῑ corak penafsiran yang cenderung pada persoalan sosial kemasyarakatan.5 Dan masalah kemiskinan merupakan permasalahan yang terjadi di masyarakat. Selain itu juga mengutamakan keindahan bahasa serta terkesan membumi dan hidup di alam realitas.

Kedua, baik Ahmad Musṭafā al-Marāgī maupun M. Quraish Shihab sama-sama memiliki karya tafsir yang merupakan refleksi dari persoalan yang ada. Di mana dalam penyusunannya memiliki perbedaan ruang dan waktu. Tafsīr al-Marāgī disusun sekitar tahun 1900-an M. yakni lahir untuk yang pertama kalinya pada tahun 1365 H.6 Sedangkan Tafsīr al-Miṣbāh disusun sekitar tahun 2000, selain itu kedua tafsir tersebut disusun di tempat

5 M. Al Fatih Suryadilaga, et al., Metodologi Ilmu Tafsir, Cet-III (Yogyakarta: Teras, 2010),

hlm.45.

6 Ahmad, Musṭafā al-Marāghī, Tafsīr Al-Marāgī, (muqaddimah), Juz I, Cet.I (Beirūt: Dār

(6)

yang berbeda yang tentu mempengaruhi corak pandang dalam merespon masalah mengingat situasi dan kondisi kehidupan keduanya yang berbeda.

Ketiga, sama-sama pernah di Universitas al-Azhar Kairo Mesir yang memiliki pengaruh terhadap karir intelektual keduanya termasuk dalam penafsiran al-Qur’ān.

Maka menurut peneliti mengomparasikan pandangan keduanya yakni pandangan Ahmad Musṭafā al-Marāgī dalam tafsīr al-Marāgī dan M. Quraish Shihab dalam tafsīr al-Miṣbāh merupakan kajian yang cukup menarik karena bagaimanapun kedua mufasir ini lahir dari kondisi lingkungan yang berbeda dengan jarak waktu yang tidak sama.

Dan dalam upaya membandingkan kedua tafsīr atau pendapat ini tentu penelitian ini tidak akan mampu mengupas secara komprehensif dari keduanya. Oleh karena itu peneliti dalam hal ini fokus pada kajian komparasi penafsiran yakni tentang penafsiran ayat-ayat yang berhubungan dengan kata miskin (ينكسم) dan derevasinya yang berjumlah dua puluh satu kata. Adapun tafsir yang diteliti dalam penelitian ini adalah tafsīr Marāgī dan tafsīr al-Miṣbāh. Dengan judul Tafsir Ayat-Ayat al-Qur’ān tentang Kemiskinan (Studi Komparasi Tafsir al-Marāgῑ dan Tafsir al-Miṣbah).

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimanakah penafsiran ayat-ayat tentang kemiskinan menurut Ahmad Musṭafā al-Marāgi dalam Tafsīr al-Marāgī dan M. Quraish Shihab dalam Tafsīr al-Miṣbāh?

(7)

2. Apa persamaan dan perbedaan penafsiran Ahmad Musṭafā al-Marāgī dan M. Quraish Shihab tentang ayat-ayat kemiskinan?

C. Tujuan Penelitian

1. Mendeskripsikan penafsiran Ahmad Musṭafā al-Marāgī dan M. Quraish Shihab tentang ayat-ayat kemiskinan.

2. Mengetahui persamaan dan perbedaan dalam menafsirkan ayat-ayat tentang kemiskinan dalam Tafsīr Marāgī karya Ahmad Musṭafā al-Marāgī dan Tafsīr al-Miṣbāh karya M. Quraish Shihab.

D. Kegunaan Penelitian

1. Adapun yang dilakukan diharapkan sebagai salah satu sumbangan akademik bagi pengembangan ilmiah tidak hanya bagi lingkungan perguruan tinggi Islam saja namun bagi masyarakat pecinta ilmu pada umumnya.

2. Memberikan tambahan khazanah pemikiran Islam khususnya dengan menampilkan beberapa mufassir modern/kontemporer. Memperkuat pemahaman masyarakat, betapa pentingnya kerjasama dalam menghadapi kemiskinan di lingkunganya.

E. Tinjauan Pustaka

Skripsi karya Masrukhi yang berjudul Kemiskinan dimata Agama Islam Dan Kristen (studi komparatif kitab suci al-Qur’ān dan Injil). Sebuah

(8)

skripsi yang membandingkan kemiskinan dimata Agama Islam dan Kristen. Yaitu ternyata dalam memandang permasalahan kemiskinan tidak jauh berbeda, yakni lebih banyak persamaanya dari pada perbedaanya. Sehingga tidak menjadi alasan perbedaan Agama untuk saling tolong menolong dan membantu dalam bidang sosial guna terciptanya kehidupan sosial masyarakat yang adil, aman dan sejahtera.7

Skripsi yang berjudul Kemiskinan Perspektif M. Quraish shihab dalam Tafsīr al-Miṣbāh ditulis oleh Lasminah pada tahun 2013 Fak Ushuluddin Jurusan Tafsir Hadits IAIN Walisongo Semarang 2013 Skripsi ini menjelaskan tentang kemiskinan perspektif M. Quraish shihab, serta menjelaskan penafsiran M. Quraish Shihab terhadap ayat ayat kemiskinan dalam Tafsīr al-Miṣbāh yang di terangkan dengan menyajikan data mengenai larangan membunuh anak yang ditujukan kepada umum.8

Buku Departemen Agama RI Badan penelitian dan pengembangan Agama Proyek Penelitian Keagamaan Jakarta yang berjudul Model Pengentasan Kemiskinan Melalui Jalur Agama, dalam buku ini berisi tentang model pendekatan Agama dalam pengentasan kemiskinan melalui beberapa lembaga keagamaan yang berada di daerah daerah seperti, Baitul Māl

Wattamwil (BMT), Badan Amil Zakat, Infaq dan Sedekah (BAZIS), dan Koperasi Pondok Pesantren. Yang dilakukan di beberapa daerah yang mana lembaga ini mempunyai konsep dasar model yang sama yaitu pendekatan

7 Masrukhi, Kemiskinan dimata Agama Islam Dan Kristen (studi komparatif kitab suci

al-Qur’ān dan Injil), Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo, Semarang, 2008.

8 Lasminah, Kemiskinan Perspektif M. Quraish shihab dalam Tafsir Al-Miṣbāh., Fakultas

(9)

ekonomi melalui lembaga keuangan yang berlandaskan kepada Syari’at Islam. Lembaga ini jumblahnya cukup besar tersebar diberbagai pelosok tanah Air hingga pedesaan sehingga dapat dijadikan alternatif dan partisan masyarakat dalam pengelolaan dana bantuan kredit usaha kecil maupun bantuan sosial pemberdayaan kelompok penduduk miskin sampai pada tingkat pedesaan.9

Pemahaman Rumah Zakat (RZI) Yogyakarta terhadap Konsep Miskin dalam al-Qur’ān. Skripsi yang ditulis oleh Ahmad Hasanuddin Umar pada tahun 2008 Fak Ushuluddin prodi Tafsir Hadits UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Skripsi ini membahas kemiskinan menurut pemahaman RZI. Selain itu berisi konsep konsep RZI Yogya dalam mengatasi masalah kemiskinan khususnya di wilayah DIY dan strategi dalam merealisasikan solusinya tersebut sebagai upaya pemecahan problem kemiskinan yang ada di wilayah Yogyakarta. Adapun solusi yang ditawarkan RZI yaitu solusi yang bersifat langsung yakni termanifestasi dalam program penyaluran dana ZIS yang mempraktekanya, terdiri dari 4 program yakni pendidikan, kesehatan, ekonomi, kepemudaan. Dan solusi yang bersifat tidak langsung yakni termanifestasi dalam program sadar zakat yang disosialisasikan ke ruang publik.10

Meskipun dengan tema yang sama yaitu tentang kemiskinan namun penelitian ini memiliki fokus yang berbeda dengan penelitian sebelumnya.

9 Huriyudin dan Muchtamil (ed), Model pengentasan kemiskinan melalui jalur agama Tahap

Ketiga), Badan Penelitian dan Pengembangan Agama Proyek Penelitian Keagamaan Jakarta,

(Jakarta:Departemen Agama RI, 1998/1999).

10 Ahmad Hasanuddin Umar, Pemahaman Rumah Zakat (RZI) Yogyakarta terhadap Konsep

(10)

Penelitian ini lebih menitik beratkan pada sisi pemahaman tafsir tentang upaya pengentasan kemiskinan perspektif Ahmad Musṭafā al-Marāgī dan M. Quraish Shihab sehingga akan dihasilkan bagaimana penafsiran tentang ayat-ayat pengentasan kemiskinan dalam kedua kitab tafsīr tersebut yakni Tafsīr al-Marāgi dan al-Miṣbāh. Dan dalam penelitian ini terlihat belum ada yang mengkomparasikan kedua kitab tafsīr tersebut.

Sehingga dari beberapa tinjauan pustaka diatas dapat dilihat bahwa belum ada karya tulis yang membahas secara spesifik mengenai masalah yang akan di teliti.

F. Landasan Teori

Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori tentang Metode tafsir komparatif (muqarran), sebagaimana yang di jelaskan oleh Nasharuddin Baidan yaitu metode tafsir yang menekankan kajianya pada aspek perbandingan ayat al-Qur’ān. Dalam hal ini perbandingan yang dilakukan ialah perbandingan pendapat para mufassir.

Adapun langkah yang harus dilakukan dalam mengkomparasikan pendapat para mufassir ialah:11

 Menghimpun sejumlah ayat yang dijadikan objek studi tanpa menoleh terhadap redaksinya, mempunyai kemiripan atau tidak.

 Melacak berbagai pendapat mufasir dalam menafsirkan ayat.

11 Nashruddin Baidan, Metodologi Penafsiran al-Qur’an, Cet-I (Yogyakarta: Pustaka

(11)

 Membandingkan pendapat mereka untuk mendapatkan informasi berkenaan dengan identitas dan pola pikir dari masing masing mufasir serta kecenderungan dan aliran yang mereka anut.

Pendekatan secara tematik juga dilakukan dalam kajian ini. Adapun pendekatan melalui tematik dilakukan untuk mempelajari ayat tersebut secara tematik, yaitu digunakan untuk mengelompokan ayat-ayat yang mengandung pengertian yang serupa kedalam satu tema pembahasan. 12

G. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka (library research), dengan meneliti dari buku buku kepustakaan dan karya karya dalam bentuk lainya. Dan termasuk penelitian kualitatif.

2. Sumber Data

a. Sumber data primer

Sumber data primer yaitu data yang langsung dikumpulkan oleh peneliti dari sumber pertamanya.13 Adapun literatur pokok yang menjadi acuan dalam penelitian ini adalah Tafsīr al-Marāgī karya Ahmad Musṭafā al-Marāgī dan Tafsīr al-Miṣbāh karya M. Quraish Shihab.

12 Abd. Al Hayy Al Farmawi, Metode Tafsir Maudhu’i, Trj. Suryan A. Jamrah, (Jakarta: PT.

Raja Grafindo Persada, 1996), Cet.2, hlm. 45-46

13 Sumadi, Suryabrata, Metodologi Penelitian, Cet-XI (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,

(12)

b. Sumber data sekunder

Sumber data skunder adalah bahan rujukan kepustakaan yang menjadi pendukung dalam penelitian ini, baik berupa buku, artikel, ensiklopedi, tulisan ilmiah, dan lain sebagainya yang dapat melengkapi data data primer. Diantara literatur literatur tersebut adalah hasil penelitian atau karya ilmiah yang ditulis oleh Ahmad Musṭafā al-Marāgī dan M. Quraish Shihab serta tulisan tulisan yang berisi pemikiran mereka secara umum, serta pemikiran mereka di bidang tafsīr al-Qur’ān pada khususnya.

3. Metode Pengumpulan Data

Karena penelitian yang dibahas adalah hal-hal yang menyangkut penafsiran, maka data-data nya diperoleh dengan cara dokumentasi,14 yaitu dengan mengumpulkan data terhadap bahan-bahan pustaka, baik berupa sumber data primer yaitu tafsῑr al-Marāgῑ dan tafsῑr al-Miṣbah. Dan untuk melengkapi data terkait, penulis menggunakan data skunder yang mencakup referensi yang berkaitan dengan objek penelitian.15

Adapun dua langkah yang ditempuh dalam melakukan pengumpulan data tersebut adalah sebagai berikut: Pertama, mencari dan mengumpulkan ayat-ayat yang memuat tentang kemiskinan baik secara manual maupun dengan bantuan kitab Mu’jam Mufahrās li faḍ al-Qur’ān. Kedua, memilah dan memilih ayat-ayat yang akan diteliti yang dianggap sesuai dengan tema pembahasan. Kemudian memahami,

14

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), Cet-XI, hlm. 236.

15 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D, Cet. 4 (Alfabeta, 2008),

(13)

membandingkan, menganalisis dan menyimpulkan penafsiran subyek terkait dengan kajian yang telah dilakukan.

4. Metode Analisis Data

Adapun dalam menganalisis data-data yang ada, maka penulis menggunakan metode deskriptif komparatif dengan pendekatan tematik. Metode deskriptif, agar mampu memaparkan gambaran tentang penafsiran dari masing-masing mufasir untuk kemudian dianalisis sehingga diperoleh kesimpulan tentang penafsiran ayat-ayat kemiskinan.

Untuk mencapai proses akhir penelitian, yaitu menjawab persoalan yang muncul sekitar kajian ini, maka penulis menggunakan metode komparatif (muqarrīn). Karena yang dikaji di sini adalah pendapat para mufassir, maka penulis pakai dalam analisis data ini adalah membandingkan pendapat para ulama tafsir dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’ān. Membandingkan pendapat mereka untuk mendapatkan informasi berkenaan dengan identitas dan pola pikir dari masing-masing mufasir serta kecenderungan dan aliran yang mereka anut.16 Sehingga dapat diketahui persamaan dan perbedaanya dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’ān.

16 Nashruddin Baidan, Metodologi Penafsiran al-Qur’ān, Cet-I (Yogyakarta: Pustaka Pelajar

(14)

H. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan adalah merupakan hal yang penting karena mempunyai fungsi untuk menyatakan garis garis besar dari masing masing bab. Adapun penelitian ini terdiri dari lima bab yaitu:

Bab I Pendahuluan, dalam pendahuluan ini berisi gambaran umum tentang aktivitas penelitian ini yang meliputi: Latar belakang masalah, yang menggambarkan latar belakang penulis dalam memilih judul skripsi ini. Lalu latar belakang masalah tersebut mengantarkan penulis pada perumusan masalah yang akan dipecahkan. Selanjutnya yaitu tujuan dan kegunaan penelitian untuk menjelaskan pentingnya penelitian dan tujuan penelitian ini. Kajian pustaka untuk memberikan penjelasan dimana posisi penulis terkait karya ini. Kemudian dilanjut dengan metode penelitian, yaitu menjelaskan bagaimana cara yang akan dilakukan dalam penelitian ini, bagaimana langkah langkah yang akan dilakukan agar penelitian dapat dilakukan secara runtut dan terarah serta mencapai hasil yang optimal. Terakhir sistematika pembahasan, dengan sistematika pembahasan tersebut akan diperoleh gambaran yang menyeluruh terhadap permasalahan yang dibahas.

Bab II Berisi tentang kemiskinan dalam al-Qur’ān yang meliputi, Pengertian miskin, klasifikasi ayat-ayat tentang kemiskinan dalam al-Qur’ān.

Bab III Berisi biografi mufassir. Dan karena skripsi ini membahas tentang penafsiran Ahmad Musṭafā al-Marāgī dan M. Quraish Shihab, maka disini penulis akan mengemukakan biografi keduanya yang meliputi, riwayat hidup, aktivitas keilmuan, kemudian disebutkan juga karya-karya Ahmad

(15)

Musṭafā al-Marāgī dan M. Quraish Shihab serta karakteristik dan metode tafsir keduanya. Serta penafsiran keduanya tentang ayat-ayat kemiskinan.

Bab IV berisi analisis penafsiran Ahmad Mustafa al-Maragi dan M. Quraish shihab tentang ayat-ayat miskin dalam tafsir Marāgī dan tafsir al-Miṣbah meliputi persamaan dan perbedaan penafsiran keduanya. yaitu dari segi isi tafsir serta corak, aliran, dan kecenderungan mufassῑr dalam menafsirkan al-Qur’ān

Figur

Memperbarui...

Related subjects :