• Tidak ada hasil yang ditemukan

III. METODOLOGI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "III. METODOLOGI PENELITIAN"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

III. METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Model Persamaan Simultan

Penelitian ini menganalisis perilaku kebijakan fiskal, khususnya komposisi belanja Pemerintah. Permasalahan yang dihadapi adalah format kebijakan fiskal di Indonesia terus mengalami berbagai perubahan. Diantaranya adalah perubahan tahun penganggaran, yaitu terjadi perubahan siklus anggaran yang semula menggunakan tahun fiskal (bulan Maret-April), mulai tahun 2000 berubah menjadi menggunakan tahun kelender (bulan Januari sampai Desember). Perubahan kebijakan ini tentunya mempengaruhi ketersediaan data runtun waktu (time-series). Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data tahun 1970-2010. Dengan demikian data belanja pemerintah sebelum tahun 2000 menggunakan data tahun fiskal.

Sejalan dengan tujuan penelitian adalah untuk mengetahui dampak dari komposisi belanja pemerintah, maka pilihan alat analasisnya yang digunakan adalah metode ekonometrika persamaan simultan. Persamaan simultan dipilih karena variabel kebijakan fiskal dan variabel makro ekonomi memiliki hubungan saling mempengaruhi. Dimana variabel bebas di dalam satu atau lebih persamaan juga menjadi variabel bebas di persamaan lain. Artinya satu variabel bisa memiliki dua peran yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Model persamaan simultan digunakan untuk mendeskripsikan hubungan antar variabel terkait, yaitu

(2)
(3)

Blok Kinerja NPOV CONS CONG INVT INVG EXPO IMPO PDBI PUNEM IHM INFL SBI NV SBI3 EXR R IHE GIW L TREV RDOM HB H RTA X YD PN S POI L IMP M LIB OR DE BT DEFI S BTU S BTO T BTD R PNP B RMG S RNM GS BPGW BBRG SBBM SNBM BUTG BMDL BDBH BDAK BDAU GPOP I WAG E

(4)
(5)

3.2. Spesifikasi Model

Pada penelitian ini, perumusan model ekonometrika yang dibangun didasarkan pada kerangka teori ekonomi dan fakta empiris yang menunjukkan keterkaitan antara kebijakan fiskal yang dimanifistasikan dalam komposisi belanja pemerintah dengan kinerja perekonomian, terutama pertumbuhan ekonomi, penyerapan tenaga kerja dan tingkat kemiskinan. Dengan menganalisis struktur APBN dari sisi penerimaan dan pengeluaran, maka dampak dari kebijakan komposisi belanja pemerintah dapat dilihat secara simultan dari peubah-peubah yang mempengaruhinya. Model persamaan yang dibangun pada penelitian ini dijelaskan sebagai berikut :

A. Blok Pendapatan Nasional

1. Pendapatan Nasional

PDBIt = CONSt + CGOVt + INVGt + INVTt +

(EXPO-IMPO)t

(3.1) dimana :

PDBIt = Produk Domestik Bruto (Rp Miliar )

CONSt = Konsumsi Rumah Tangga (Rp Miliar)

CGOVt = Konsumsi Pemerintah (Rp Miliar)

INVGt = Investasi Pemerintah (Rp Miliar)

INVTt = Investasi Swasta (Rp Miliar)

EXPOt = Ekspor (Rp Miliar) IMPOt = Impor (Rp Miliar)

2. Konsumsi Rumah Tangga

CONSt = a0 + a1YDt + a2YLCONSt-1 + et ………... (3.2)

Hipotesis = a1 > 0 ; 0 <a2 <1

dimana :

CONSt = Konsumsi Rumah Tangga (Rp Miliar)

YDt = Pendapatan disposabel (Rp Miliar)

LCONSt-1 = Konsumsi Rumah Tangga tahun Sebelumnya (Rp

Miliar) 3. Pendapatan Disposabel

YDt = Yt - RTAXt + (SNBMt + SBBMt) ……..…. (3.3)

dimana :

(6)

66

PDBIt = Produk Domestik Bruto (Rp Miliar)

RTAXt = Penerimaan negara dari pajak (Rp Miliar)

SNBMt = Subsidi BBM (Rp Miliar)

SBBMt = Subsidi Non BBM (Rp Miliar)

4. Konsumsi Pemerintah

CGOVt = b0 + b1RDOMt + b2DKt + b3LCGOVt-1 + et …. (3.4)

Hipotesis = b1, b2, b3 > 0 ; 0 < b3 <1

dimana :

CGOVt = Konsumsi Pemerintah (Rp Miliar)

RDOMt = Penerimaan Domestik (Rp Miliar)

DKt = Dummy Krisis

LCGOVt-1 = Konsumsi Pemerintah tahun sebelumnya (Rp Miliar)

5. Investasi Swasta

INVTt = c0 + c1PDBI + c2SBINVt + c3LINVTt-1 + et ... (3.5)

Hipotesis = c1,c3 > 0 ; c2 < 0 ; 0 < c3 <1

dimana :

INVTt = Investasi (Rp Miliar)

PDBIt = Produk Domestik Bruto (Rp Miliar)

SBINVtt = Tingkat Suku Bunga Investasi Riil (%)

LINVTt-1 = Investasi pada tahun sebelumnya (Rp Miliar)

6. Investasi Pemerintah

INVGt = d0 + d1SBI3t + d2BMDLt + d3DKt + d4LINVGt-1

+ et

(3.6) Hipotesis = d2,d4 > 0 ; d1,d3 < 0 ; 0 < d3 <1

dimana :

INVGt = Investasi Pemerintah (Rp Miliar)

SBI3t = Tingkat Suku Bunga SBI 3 bulan (%)

BMDLt = Belanja Modal (Rp Miliar)

DKt = Dummy Krisis

LINVGt-1 = Total Investasi pada tahun sebelumnya (Rp Miliar)

7. Ekspor

EXPOt = e0 + e1EXRRt + e2IHEt + e3INVTt + e4GIWLt +

et

(3.7) Hipotesis = e2, e3, e4 > 0 ; e1 < 0 ; 0 < e3 <1

dimana :

EXPOt = Ekspor (Rp juta)

EXRRt = Nilai Tukar Riil (Rp/US$)

IHEt = Indeks Harga Ekspor

INVTt = Total Investasi (Rp Miliar)

GIWLt = Pertumbuhan Ekonomi Dunia (% )

8. Impor

IMPOt = f0 + f1IHMt + f2PDBIt + f3LIMPOt-1 + et (3.8)

(7)

dimana :

IMPOt = Impor (Rp Miliar) IHMt = Indeks Harga Impor

PDBIt = Pendapatan Domestik Bruto (Rp Miliar )

LIMPOt-1 = Impor pada tahun sebelumnya (Rp Miliar)

B. Blok Fiskal

Penerimaan Negara

9. Total Penerimaan Negara

TREVt = RDOMt + HBHt (3.9)

dimana :

TREVt = Total penerimaan negara (Rp Miliar)

RDOMt = Penerimaan dalam negeri (Rp Miliar)

HBHt = Penerimaan dari hibah (Rp Miliar)

10. Penerimaan Dalam Negeri

RDOMt = RTAXt + PNBPt (3.10)

dimana :

RDOMt = Penerimaan dalam negeri (Rp Miliar)

RTAXt = Penerimaan negara dari pajak (Rp Miliar)

PNBPt = Penerimaan negara bukan pajak (Rp Miliar)

11. Penerimaan Negara dari Pajak

RTAXt = g0+ g1 GPDBIt + g2 BTOTt + g3 LRTAXt-1 + et (3.11)

Hipotesis = g1, g2, g3 > 0 ; 0 < g3 <1

dimana :

RTAXt = Penerimaan negara dari Pajak (Rp Miliar)

GPDBIt = Pertumbuhan Ekonomi (%)

BTOTt = Total Belanja Pemerintah (Rp Miliar)

RTAXt-1 = Penerimaan dari Pajak tahun sebelumnya(Rp Miliar)

Belanja Pemerintah

12. Belanja Pemerintah

BTOTt = BTUSt + BTDRt (3.12)

dimana :

BTOTt = Total belanja pemerintah (Rp Miliar)

BTUSt = Belanja pemerintah pusat (Rp Miliar)

(8)

68

13. Belanja Pemerintah Pusat

BTUSt = BPGWt + BBRGt + BMDLt + BUTGt +

SNBMt + SBBMt + BLAINt

(3.13) dimana :

BTUSt = Belanja pemerintah pusat (Rp Miliar)

BPGWt = Belanja Pegawai (Rp Miliar) BBRGt = Belanja Barang (Rp Miliar)

BMDLt = Belanja Modal (Rp Miliar)

BUTGt = Pembayaran Bunga Utang (Rp Miliar)

SNBMt = Subsidi Non BBM (Rp Miliar)

SBBMt = Subsidi BBM (Rp Miliar)

BLAINt = Belanja lain-lain (Rp Miliar)

14. Belanja Pegawai BPGWt = h0 + h1PNSt + h2INFLt + h3RTAXt + h4DOt + h5LBPGWt-1 + et (3.14) Hipotesis = h1, h2, h3, h4 > 0 ; 0 < h3 <1 dimana :

BPGWt = Belanja Pegawai (Rp Miliar)

PNSt = Jumlah Pegawai Negeri Sipil (Ribu orang)

INFLt = Tingkat Inflasi (%)

RTAXt = Penerimaan Pajak (Rp Miliar)

DOt = Dummy otonomi daerah

LBPGWt-1 = Belanja Pegawai tahun sebelumnya (Rp Miliar)

15. Belanja Barang

BBRGt = i0 + i1INVGt + i2TREVt + i3LBBRGt-1 + et (3.15)

Hipotesis = i1, i2, i3 > 0 ; 0 < i3 <1

dimana :

BBRGt = Belanja Barang (Rp Miliar) INVGt = Investasi Pemerintah (Rp Miliar)

TREVt = Total penerimaan negara (Rp Miliar)

LBBRG t-1 = Belanja Barang tahun sebelumnya (Rp Miliar)

16. Belanja Modal

BMDLt = j0 + j1RDOMt + j2DSPAt + j3LBMDLt-1 + et (3.16)

Hipotesis = j1, j2, j3> 0 ; 0 < j3 <1

dimana :

BMDLt = Belanja Modal (Rp Miliar)

RDOMt = Total Penerimaan Dalam Negeri (RP Miliar)

DSPAt = Dummy Perubahan Struktur APBN

LBMDLt-1 = Belanja Modal Tahun Sebelumnya (Rp juta)

17. Pembayaran Bunga Utang

BUTGt = k0 + k1DFISt +k2LIBOR3t +k3DEBTt +

k4LBUTGt-1 + et

(3.17) Hipotesis = k1, k2, k3, k4 > 0 ; 0 < k3 <1

(9)

dimana :

BUTGt = Pembayaran Bunga Utang (Rp Miliar) DFISt = Defisit Anggaran (Rp Miliar)

LIBOR3t = Suku bunga Dunia Riil (%)

DEBTt = Stok Utang Baru Pemerintah (RP Miliar)

LBUTGt-1 = Pembayaran Bunga Utang Tahun Sebelumnya (Rp

Miliar) 18. Belanja Subsidi Non BBM

SNBMt = l0 + l1PUNEMt + l2NPOVt-1 + l3LSNBMt-1 + et (3.18)

Hipotesis = l1, l2, l3 > 0 ; 0 < l3 <1

dimana :

SNBMt = Belanja Subsidi Non BBM (Rp Miliar)

PUNEM t = Tingkat Pengangguran (juta orang)

NPOVt-1 = Penduduk Miskin tahun Sebelumnya (Juta orang)

LSNBMt-1 = Belanja Subsidi Non BBM tahun sebelumnya (Rp

Miliar) 19. Belanja Subsidi BBM

SBBMt = m0 + m1 POILt + m2 IMPMt + m3LSBBMt-1 + et (3.19)

Hipotesis = m1, m2, m3 > 0 ; 0 < m3 <1

dimana :

SBBMt = Belanja Subsidi BBM (Rp Miliar)

POILt = Harga Minyak Mentah Dunia (Rp)

IMPMt = Impor Migas (US$)

LSBBMt-1 = Belanja Subsidi BBM tahun sebelumnya (Rp Miliar)

20. Belanja Transfer Daerah

BTDRt = BDAKt + BDAUt + BDBHt + BDOPt (3.20)

dimana :

BTDRt = Belanja transfer daerah (Rp Miliar)

BDAUt = Belanja Dana Alokasi Umum (Rp Miliar)

BDAKt = Belanja Dana Alokasi Khusus (Rp Miliar)

BDBHt = Belanja Dana Bagi Hasil (Rp Miliar)

BDOPt = Belanja Dana Otsus dan Penyesuaian (Rp Miliar)

21. Dana Alokasi Khusus

BDAKt = n0 + l1RDOMt + l2PNPOVt + l3LBDAKt-1 + et (3.21)

Hipotesis = l1, l2, l3 > 0 ; 0 < l3 <1

dimana :

BDAKt = Belanja Dana alokasi khusus (Rp Miliar)

RDOMt = Penerimaan Dalam Negeri (Rp Miliar)

PNPOVt = Tingkat Kemiskinan (%)

(10)

70

22. Dana Alokasi Umum

BDAUt = o0 + o1RDOMt + o2PDBIt + o3GPOPIt +

o4LDAUt-1 + et

(3.22) Hipotesis = o1, o2, o3, o4 > 0 ; 0 < o3 <1

dimana :

BDAUt = Belanja Dana Alokasi Umum (Rp Miliar)

RDOMt = Penerimaan Dalam Negeri (Rp Miliar)

PDBIt = Produk Domestik Bruto (Rp Miliar

GPOPIt = Pertumbuhan Penduduk Indonesia (%)

LBDAUt-1 = Belanja Dana Alokasi Umum Tahun Sebelumnya (Rp

Miliar) 23. Belanja Dana Bagi Hasil

BDBHt = p0 + p1RMGSt + p2RNMGSt + p3GPDBIt+

p4LBDBHt-1 +et

(3.23) Hipotesis = p1, p2, p3, p4 > 0 ; 0 < p3 <1

dimana :

BDBHt = Belanja Dana Bagi Hasil (Rp Miliar)

RMGSt = Penerimaan dari Migas (Rp Miliar)

RNMGSt = Penerimaan dari Non Migas (Rp Miliar)

GPDBIt = Pertumbuhan Ekonomi (%)

LBDBHt-1 = Belanja Dana Bagi Hasil Tahun Sebelumnya (Rp Miliar)

C. Blok Kinerja Perekonomian

24. Pertumbuhan Ekonomi (Identitas)

GPDBIt = (PDBIt – LPDBIt-1)/LPDBIt-1 * 100 (3.24)

dimana :

GPDBIt = Pertumbuhan ekonomi (%)

PDBIt = Produk Domestik Bruto (Rp Miliar)

PDBIt-1 = Produk Domestik Bruto tahun sebelumnya (Rp Miliar)

25. Tingkat Pengagguran

PUNEMt = q0 + q1WAGEt + q2 TOTIt + q3LPUNEMt-1 + et (3.25)

Hipotesis = q1, q3 > 0 ; q2< 0 ; 0 < q3 <1

dimana :

PUNEMt = Tingkat Pengangguran (%)

WAGEt = Tingkat Upah Riil (Rp Miliar)

TOTI t = Total Investasi (Rp Miliar)

LPUNEMt-1 = Tingkat Pengangguran tahun sebelumnya (orang)

26. Tingkat Kemiskinan

NPOVt = r0 + r1 GPDBIt + r2 TSUBt + r3 PUNEMt + r4

INFLt + r5LNPOVt-1 + et

(3.26) Hipotesis = r3, r4, r5 > 0 ; r1, r2 < 0 ; 0 < r3 <1

(11)

dimana :

NPOVt = Jumlah Penduduk Miskin (juta orang)

GPDBIt = Pertumbuhan ekonomi (%)

TSUBt = Total Subsidi (Rp Miliar)

PUNEMt = Tingkat Pengangguran (%)

INFLt = Tingkat Inflasi (%)

LNPOVt-1 = Jumlah penduduk Miskin tahun sebelumnya (%)

3.3. Identifikasi dan Pendugaan Model

Model yang digunakan dalam penelitian ini adalah model persamaan simultan. Pada model persamaan simultan, identifikasi model ditentukan atas dasar ”order condition” sebagai syarat keharusan dan ”rank condition” sebagai syarat kecukupan. Menurut Koutsoyiannis (1977), rumusan identifikasi model persamaan struktural berdasarkan order condition ditentukan oleh:

( K – M ) > ( G – 1 ) dimana:

K = total peubah dalam model, yaitu peubah endogen dan peubah predetermined

M = jumlah peubah endogen dan eksogen yang termasuk dalam satu persamaan tertentu dalam model

G = total persamaan dalam model, yaitu jumlah peubah endogen dalam model.

Jika dalam suatu persamaan dalam model menunjukkan kondisi sebagai berikut. (K-M) > (G-1) = maka persamaan dinyatakan teridentifikasi secara

berlebih (over identified)

(K-M) = (G-1) = maka persamaan dinyatakan teridentifikasi secara tepat (exactly identified)

(K-M)<(G-1) = maka persamaan dinyatakan tidak teridentifikasi (unidentified)

Hasil identifikasi untuk setiap persamaan struktural haruslah exactly identified atau over identified untuk dapat menduga parameter-parameternya. Kendati suatu persamaan memenuhi order condition, mungkin saja persamaan ini

(12)

72

tidak teridentifikasi. Karena itu dalam proses identifikasi diperlukan suatu syarat perlu sekaligus cukup. Hal itu dituangkan dalam rank condition untuk identifikasi yang menyatakan bahwa dalam suatu persamaan teridentifikasi jika dan hanya jika dimungkinkan untuk membentuk minimal satu determinan bukan nol pada order (G-1) dari parameter struktural peubah yang tidak termasuk dalam persamaan tersebut, atau dengan kata lain kondisi rank ditentukan oleh determinan turunan persamaan struktural yang nilainya tidak sama dengan nol (Koutsoyiannis, 1977).

Tabel 4. Identifikasi Model Persamaan Simultan Komposisi Belanja Pemerintah

Persamaan K M G Keterangan

1. Konsumsi Rumahtangga 26 4 18 Overidentified

2. Konsumsi Pemerintah 26 5 18 Overidentified

3. Total Investasi 26 4 18 Overidentified

4. Investasi Pemerintah 26 4 18 Overidentified

5. Ekspor 26 7 18 Overidentified

6. Impor 26 4 18 Overidentified

7. Penerimaan Total 26 3 18 Overidentified

8. Belanja Pegawai 26 6 18 Overidentified

9. Belanja Barang 26 4 18 Overidentified

10.Belanja Modal 26 4 18 Overidentified

11.Pembayaran Bunga Utang 26 5 18 Overidentified

12.Subsidi Non BBM 26 4 18 Overidentified

13.Subsidi BBM 26 4 18 Overidentified

14.Belanja DAK 26 4 18 Overidentified

15.Belanja DAU 26 5 18 Overidentified

16.Belanja DBH 26 5 18 Overidentified

17.Tingkat Pengangguran 26 4 18 Overidentified 18.Tingkat Kemiskinan 26 4 18 Overidentified

(13)

3.4. Evaluasi Model

Terdapat tiga kriteria yang digunakan untuk melakukan evalusi model ekonometrika, yaitu pengujian berdasarkan kriteria ekonomi, kriteria statistik dan kriteria ekonomi (Intriligator, Bodkin dan Hsiao, 1996). Evaluasi model berdasarkan kriteria ekonomi dapat dilakukan dengan melihat tanda pada koefisien masing-masing peubah bebas. Dengan demikian sebelum dilakukan estimasi model, perlu disusun hipotesis agar dapat dibandingkan dengan hasil estimasi, sehingga dapat diketahui apakah hasil estimasi tersebut telah sesuai secara ekonomi. Lebih lanjut Koutsoyiannis (1977) menyatakan untuk evaluasi model berdasarkan kriteria statistika dapat dilakukan dengan cara melihat besarnya nilai koefisien determinasi (R2), uji t dan uji F. Pada kriteria ekonometrika dilakukan dengan uji pelanggaran OLS antara lain uji autokorelasi, uji heteroskedastisitas dan uji multikolinieritas.

3.5. Kesesuaian Model

Kesesuaian model (Goodness of Fit) dihitung dengan nilai koefisien determinasi R2. Koefisien determinasi R2 bertujuan untuk mengukur keragaman peubah tidak bebas yang dapat dijelaskan oleh peubah tidak bebas. Semakin tinggi nilai R2 maka semakin baik model karena semakin besar keragaman peubah tidak bebas yang dapat dijelaskan oleh peubah bebas. Koefisien determinasi dapat dirumuskan sebagai berikut (Koutsoyiannis, 1977) :

JKT JKG JKT JKR R2 1 dimana :

JKR = Jumlah Kuadrat Regresi JKT = Jumlah Kuadrat Total JKG = Jumlah Kuadrat Galat

(14)

74

3.6. Validasi Model

Untuk mengetahui apakah model cukup valid untuk membuat suatu simulasi alternatif kebijakan dan peramalan, maka perlu dilakukan suatu validasi model, dengan tujuan untuk menganalisis sejauh mana model tersebut dapat mewakili dunia nyata.

Dalam penelitian ini, kriteria statistik untuk validasi nilai pendugaan model ekonometrika yang digunakan adalah Root Means Square Error (RMSE), Root Means Square Percent Error (RMSPE) dan Theil’s Inequality Coefficient (U) (Pindyck and Rubinfield, 1991). Kriteria-kriteria dirumuskan sebagai berikut:

RMSE = n t a t s t Y Y n 1 2 1 RMSPE = n t a t a t s t Y Y Y n 1 2 1 U = n t n t a t s t n t a t s t Y n Y n Y Y n 1 1 2 2 1 2 1 1 1 dimana: s t

Y = nilai hasil simulasi dasar dari variabel observasi a

t

Y = nilai aktual variabel observasi n = jumlah periode observasi

Statistik RMSPE digunakan untuk mengukur seberapa jauh nilai-nilai peubah endogen hasil pendugaan menyimpang dari alur nilai-nilai aktualnya dalam ukuran relatif (persen), atau seberapa dekat nilai dugaan itu mengikuti perkembangan nilai aktualnya.

Sedangkan nilai statistik U bermanfaat untuk mengetahui kemampuan model untuk analisis simulasi peramalan. Nilai koefisien Theil (U) berkisar antara

(15)

1 dan 0. Jika U=0 maka pendugaan model sempurna, jika U=1 maka pendugaan model naif. Untuk melihat keeratan arah (slope) antara aktual dengan hasil yang disimulasi dilihat dari nilai koefisien determinasinya (R2). Pada dasarnya makin kecil nilai RMSPE dan U-Theil’s dan makin besar nilai R2, maka pendugaan model semakin baik.

3.7. Simulasi Model

Pada dasarnya tujuan dilakukan simulasi model adalah (1) menguji dan mengevaluasi model, (2) mengevaluasi kebijakan-kebijakan pada masa lampau, dan (3) membuat peramalan untuk masa yang akan datang (Pindyck dan Rubinfield, 1998). Melalui analisis simulasi dampak perubahan peubah-peubah eksogen terhadap peubah-peubah endogen dalam model dapat diketahui. Namun demikian, pada penelitian ini, simulasi yang dilakukan hanya untuk mengevaluasi kebijakan di masa lalu, tidak digunakan untuk peramalan dimasa yang akan datang. Simulasi ditujukan untuk mengetahui dampak jika terjadi perubahan komposisi belanja pemerintah (APBN) terhadap pertumbuhan ekonomi, kesempatan kerja dan penurunan kemiskinan.

Dalam penelitian ini, simulasi kebijakan dipilih dalam periode 2006-2010. Pemilihan jangka waktu untuk melakukan simulasi dikarenakan selama periode tersebut sudah tidak ada lagi perubahan dalam struktur APBN Indonesia. Demikian juga semua data variabel diluar anggaran yang digunakan adalah data aktual dengan metode perhitungan yang sama sehingga diharapkan data selama periode tersebut terjamin tingkat validitasnya.

Simulasi kebijakan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah perubahan komposisi belanja pemerintah pusat, yaitu dengan cara menaikkan belanja modal. Hal ini sesuai dengan hipotesis penelitian bahwa jika belanja modal mengalami

(16)

76

peningkatan maka akan terjadi peningkatan pertumbuhan ekonomi serta penurunan tingkat pengangguran dan jumlah penduduk miskin. Alasan peningkatan belanja modal dalam simulasi ini dikarenakan berdasarkan tinjauan teori maupun hasil penelitian sebelumnya, belanja modal mempunyai pengaruh sangat besar dalam memberikan dorongan atau stimulus terhadap pertumbuhan ekonomi.

Simulasi kebijakan dilakukan dengan meningkatkan belanja modal sebesar Rp 20 triliun. Kenaikkan Rp 20 triliun didasarkan pada rata-rata defisit APBN selama tahun 2006-2010 rata-rata sekitar Rp 24 triliun. Sesuai dengan teori, kebijakan defisit anggaran, idealnya adalah agar terjadi peningkatan peran stimulus fiskal dalam perekonomian. Untuk itu, dalam skenario kebijakan ini diasumsikan jika besarnya defisit anggaran digunakan untuk membiayai infrastruktur melalui belanja modal. Dengan adanya kenaikan belanja modal, tentu saja akan menggeser belanja pemerintah yang lain. Beberapa simulasi perubahan komposisi anggaran yang akan dibuat adalah sebagai berikut :

1. Simulasi 1 : Jika terjadi perubahan komposisi belanja pemerintah pusat, yaitu kenaikkan belanja modal sebesar Rp 20 triliun berasal dari pengurangan secara merata sebesar Rp 5 triliun dari belanja pegawai, belanja Subsidi BBM, belanja barang, dan belanja pembayaran bunga utang.

2. Simulasi 2 : Jika terjadi efisiensi alokasi Belanja Modal, yaitu koefisien parameter atau kontribusi belanja modal terhadap investasi pemerintah dinaikkan 10% dari 0.29 menjadi 0.39.

(17)

3. Simulasi 3 : Gabungan antara simulasi 1 dan 2. Jika terjadi perubahan komposisi belanja pemerintah pusat disertai dengan efisiensi belanja modal.

3.8. Jenis dan Sumber Data

Dalam penelitian ini keseluruhan data yang digunakan adalah data sekunder yang berasal dari berbagai publikasi resmi dari lembaga pemerintah Indonesia maupun publikasi resmi lembaga internasional. Data untuk menyusun persamaan simultan adalah data runtun waktu (time series) selama 40 tahun, yaitu dari tahun 1970 sampai 2010. Untuk menghindari nilai nominal dengan nilai riil karena terdapat perbedaan waktu yang cukup panjang, maka semua data menggunakan tahun dasar tahun 2000. Demikian juga dengan beberapa indikator moneter, data yang digunakan telah menggunakan nilai riil, yaitu data yang telah memperhitungkan tingkat inflasi. Adapun data Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN) adalah data realisasi APBN yang bersumber dari Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) yang telah diaudit dan dikeluarkan oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Republik Indonesia. Namun demikian terdapat beberapa kendala dalam penggunaan data APBN, karena terjadi perubahan penggunaan tahun anggaran. Data APBN tahun 1970 sampai dengan tahun 2000 menggunakan tahun anggaran April-Maret. Sementara sejak tahun 2001 menggunakan tahun kalender yang dimulai dari Januari Desember. Dalam penelitian ini, perbedaan tahun anggaran tersebut diasumsikan sama. Secara detail jenis data dan sumber data yang digunakan dalam model simultan diuraikan dalam Tabel 5.

(18)

78

Tabel 5. Jenis dan Sumber Data Dalam Persamaan Simultan

No Variabel Keterangan Satuan Sumber Data

1 PDBIt Produk Domestik Bruto Rp Miliar Biro Pusat Statistik 2 CONSt Total konsumsi Rp Miliar Biro Pusat Statistik 3 CGOVt Konsumsi pemerintah Rp Miliar Biro Pusat Statistik 4 INVTt Total investasi Rp Miliar Biro Pusat Statistik 5 INVGt Total Investasi Pemerintah Rp Miliar Biro Pusat Statistik 6 EXPOt Ekspor Rp Miliar Biro Pusat Statistik 7 IMPOt Impor Rp Miliar Biro Pusat Statistik 8 YDt Pendapatan disposabel Rp Miliar Biro Pusat Statistik 9 SBINVtt Tingkat Suku Bunga Investasi Riil % Bank Indonesia 10 SBI3t Tingkat suku bunga SBI 3 bulan % Bank Indonesia 11 EXRRt Nilai Tukar Riil Rp/$US Bank Indonesia 12 IHEt Indeks Harga Ekspor Biro Pusat Statistik 13 GIWLt Pertumbuhan Ekonomi Dunia % World Bank 14 IHMt Indeks Harga Impor Biro Pusat Statistik 15 TREVt Total penerimaan negara Rp Miliar LKPP, Kemenkeu 16 RDOMt Penerimaan dalam negeri Rp Miliar LKPP, Kemenkeu 17 HBHt Penerimaan dari hibah Rp Miliar LKPP, Kemenkeu 18 RTAXt Penerimaan negara dari pajak Rp Miliar LKPP, Kemenkeu 19 PNBPt Penerimaan negara bukan pajak Rp Miliar LKPP, Kemenkeu 20 BTOTt Total Belanja Pemerintah Rp Miliar LKPP, Kemenkeu 21 BTUSt Belanja pemerintah pusat Rp Miliar LKPP, Kemenkeu 22 BTDRt Belanja transfer daerah Rp Miliar LKPP, Kemenkeu 23 BPGWt Belanja Pegawai Rp Miliar LKPP, Kemenkeu 24 BBRGt Belanja Barang Rp Miliar LKPP, Kemenkeu 25 BMDLt Belanja Modal Rp Miliar LKPP, Kemenkeu 26 BUTGt Pembayaran Bunga Utang Rp Miliar LKPP, Kemenkeu 27 SNBMt Subsidi Non BBM Rp Miliar LKPP, Kemenkeu 28 SBBMt Subsidi BBM Rp Miliar LKPP, Kemenkeu 29 PLAINt Belanja lain-lain Rp Miliar LKPP, Kemenkeu 30 PNSt Jumlah Pegawai Negeri Sipil Ribu orang Biro Pusat Statistik 31 INFLt Tingkat Inflasi % Biro Pusat Statistik 32 GPDBIt Pertumbuhan Ekonomi % Biro Pusat Statistik 34 DFISt Defisit Anggaran Rp Miliar LKPP, Kemenkeu 35 SBWRt Suku bunga Dunia Riil (Sibor 3

bulan)

% World Bank 36 PUNEM t Tingkat Pengangguran juta orang Biro Pusat Statistik 37 POILt Harga Minyak Mentah Dunia Rp Kementerian ESDM 38 IMPMt Impor Migas US$ Biro Pusat Statistik

Gambar

Tabel 4. Identifikasi Model Persamaan Simultan Komposisi Belanja Pemerintah
Tabel 5. Jenis dan Sumber Data Dalam Persamaan Simultan

Referensi

Dokumen terkait

Alhamdulillah, syukur ke hadrat Allah S.W.T kerana dengan izin dan limpah kurnia-Nya, Pusat Pengajian Ekonomi, Fakulti Ekonomi dan Pengurusan, Universiti Kebangsaan Malaysia

Setelah dilakukan pengkajian dan analisa kasus muncul empat diagnosa pada pasien : Gangguan rasa nyaman; nyeri berhubungan dengan tindakan pembedahan SC,

Diisi Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) Wajib Pajak apabila Surat Pernyataan Wajib Pajak Bahwa Objek Pajak Terkena Bencana Alam Atau Sebab Lain Yang Luar Biasa

seperti tersedianya tenaga kerja namun dapat juga menjadi sumber permasalahan salah satunya yaitu masalah pengangguran.Adapun jumlah angkatan kerja yang tidak

Berdasarkan hasil dari pengabdian kepada masyarakat ini adalah remaja putri memahami dan dapat melakukan pemeriksaan SADARI, serta mengetahui waktu yang tepat kapan

Adapun persamaan dan perbedaan pada peneliti yaitu persamaan objek yang diteleti dengan peneliti sebelumnya yaitu Al- Qur‟an sedangkan perbedaan yaitu metode yang dipakai

Activity diagram Konsultasi merupakan activity diagram untuk proses mendeteksi hama atau penyakit tanaman kelapa sawit user terhadap sistem. Activity diagram