• Tidak ada hasil yang ditemukan

STRATEGI KEBIJAKAN PEREMAJAAN KELAPA RAKYAT 1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "STRATEGI KEBIJAKAN PEREMAJAAN KELAPA RAKYAT 1)"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

STRATEGI KEBIJAKAN PEREMAJAAN

KELAPA RAKYAT

1)

Dedi Soleh Effendi

Balai Penelitian Tanaman Kelapa dan Palma Lain Jalan Bethesda II, Mapanget, Kotak Pos 1004, Manado 95001

1)Naskah disarikan dari bahan Seminar Pusat

Pe-nelitian dan Pengembangan Perkebunan bulan Desember 2006.

PENDAHULUAN

Luas areal tanaman kelapa rakyat di Indo-nesia pada tahun 2005 mencapai 3.786.063 ha dengan produksi 3.176.078 ton kopra dan tersebar di 33 provinsi (Direktorat Jenderal Perkebunan 2006). Indonesia merupakan negara produsen kelapa/kopra terbesar kedua dunia setelah Filipina. Arti penting kelapa bagi masyarakat juga tercermin dari luasnya areal perkebunan rakyat yang mencapai 98% dari 3,89 juta ha total areal kelapa serta melibatkan lebih dari 7,13 juta rumah tangga petani. Ekspor komoditas kelapa mencapai US$ 288,47 juta dengan volume 714.160 ton pada tahun 2004. Namun, pemahaman terhadap peran ekonomi kelapa secara nasional tampak masih bias, sehingga kelapa sering diang-gap sebagai komoditas Sunset. Bias ini timbul karena peran suatu komoditas hanya diukur dari kontribusi terhadap perolehan devisa dan peranannya secara nasional, tanpa memperhatikan peranan-nya dalam ekonomi rumah tangga, sosial budaya masyarakat, serta perekonomian pedesaan. Dengan tingkat produktivitas

rata-rata 4.500 butir/ha/tahun atau 17,19 miliar butir/tahun dan harga kopra Rp2,4 juta/ton, aliran uang ke pedesaan melalui komoditas ini minimal mencapai Rp9,168 triliun/tahun hanya dari nilai kopra.

Dalam rencana kegiatan penanganan agribisnis kelapa nasional, Direktorat Jen-deral Perkebunan memprogramkan untuk melaksanakan peremajaan kelapa seluas 100.000 ha/tahun (Manggabarani 2006). Secara nasional, proporsi tanaman tidak menghasilkan (TTM) atau tanaman rusak (TR) sampai tahun 2005 mencapai 9,77% dari total areal kelapa 3,79 juta ha atau setara 370.000 ha (Direktorat Jenderal Per-kebunan 2006). Angka ini akan bertambah terus apabila petani tidak dapat merema-jakan kelapanya. Salah satu penyebab ren-dahnya pendapatan petani kelapa adalah tanaman kelapa yang dimiliki petani tidak produktif karena sudah tua atau rusak. Dengan tingkat produktivitas 1,0 ton kopra/ha/tahun, pemilikan 1,0 ha/KK, dan harga kopra Rp2.400/kg, pendapatan kotor hanya mencapai Rp2,4 juta/ha/tahun.

Kebutuhan kelapa di masa datang, baik secara nasional maupun internasional, diperkirakan akan meningkat tajam karena isu kesehatan, peningkatan penduduk, dan penggunaan minyak nabati untuk biodiesel. Di sisi lain, sejalan dengan pe-ningkatan jumlah penduduk dan

(2)

pemba-ngunan di negara-negara produsen ke-lapa, lahan untuk pengembangan areal kelapa menjadi makin terbatas karena akan diprioritaskan untuk produksi tanaman pangan.

Berdasarkan situasi tersebut, peluang pengembangan areal kelapa makin ter-batas, sehingga alternatif yang dinilai layak untuk merevitalisasi perkelapaan adalah meremajakan kelapa yang sudah tua. Jika setiap tahun dilakukan peremajaan 7,5% dari total tanaman tua, maka kebutuhan benih mencapai 5,55 juta butir/tahun (200 butir benih/ha) untuk luasan 27.750 ha. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan menerapkan teknologi tebang bertahap dengan tetap memperhatikan kemungkin-an kehilkemungkin-angkemungkin-an pendapatkemungkin-an karena sebagi-an kelapa secara bertahap digsebagi-anti dengsebagi-an kelapa unggul. Pendapatan petani dalam jangka pendek dapat diperoleh melalui intensifikasi tanaman kelapa yang tersisa dan melakukan diversifikasi baik horizon-tal maupun vertikal.

KONDISI AKTUAL PERKEBUNAN KELAPA

Luas Areal dan Produksi Pada tahun 2005, luas areal perkebunan rakyat mencapai 3.786.063 ha dengan kom-posisi tanaman belum menghasilkan (TBM) 16,47% (0,62 juta ha), tanaman menghasilkan (TM) 73,75% (2,79 juta ha), dan tanaman tidak menghasilkan/tanaman rusak (TTM/TR) 9,77% (0,37 juta ha). Per-kembangan luas areal TTM/TR selama 5 tahun terakhir disajikan pada Tabel 1.

Berdasarkan Tabel 1, luas areal TTM/ TR setiap tahun bertambah karena tidak ada upaya peremajaan atau rehabilitasi tanaman. Pada tahun 2003, dilakukan upa-ya untuk meremajakan tanaman, sehingga persentase luas areal TTM/TR menurun dari 9,62% menjadi 9,23%. Luas areal TTM/ TR lebih dari 10% terdapat di Sumatera (Sumatera Utara, Riau, Jambi, Lampung), Kalimantan (Kalimantan Tengah,

Kali-Tabel 1. Perkembangan luas areal tanaman kelapa tidak menghasilkan/rusak di Indonesia, 2001-20051).

Wilayah 2003 2004 2005 ha % ha % ha % Sumatera 152.650 11,97 152.119 12,09 155.585 12,27 Jawa 51.241 5,80 58.254 6,64 58.541 6,64 Nusa Tenggara 12.520 4,15 17.014 5,79 17.099 5,79 Kalimantan 42.553 15,50 38.484 13,67 43.727 15,07 Sulawesi 70.233 9,51 71.912 10,04 72.253 10,12 Maluku 17.479 6,43 17.321 5,97 20.133 7,18 Papua 2.568 6,02 2.568 6,02 2.581 6,02 Indonesia 349.244 9,23 357.672 9,51 369.919 9,77

1)Luas areal tanaman tidak menghasilkan/rusak tahun 2001 adalah 358.969 ha (9,40%) dan 2002

366.215 ha (9,62).

(3)

mantan Barat), dan Sulawesi (Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat). Kerusakan tanaman kelapa dapat disebabkan oleh gangguan hama penyakit. Serangan hama Oryctes, Sexava, dan Brontispa yang sudah lama dikenal oleh petani kelapa dan menyebar hampir di seluruh pertanaman kelapa di Indonesia dapat menurunkan produksi dan serangan berat menyebabkan tanaman mati (Hosang et al. 2006).

Sebagian besar kelapa rakyat memiliki produktivitas rendah, tanaman yang tidak menghasilkan cukup luas, dan penurunan hasil cukup tinggi akibat serangan pe-nyakit. Masalah lain yang dihadapi adalah penggunaan varietas unggul oleh petani terbatas, dan adopsi teknologi anjuran jarang dilakukan. Produktivitas tanaman kelapa sampai dengan tahun 2005 baru mencapai 0,62-1,67 ton kopra/ha/tahun atau setara 2.500-6.500 butir kelapa (Tabel 2).

Produktivitas kelapa menurun sejalan dengan meningkatnya umur tanaman. Lebih lanjut menurut Liyanage dan Su-darsip (1978), rendahnya produktivitas kelapa antara lain disebabkan oleh fungsi akar yang menurun dan batang yang terlalu tinggi. Potensi produksi kelapa Dalam unggul yang sudah dilepas berkisar antara 2,8-3,3 ton kopra/ha/tahun.

Permasalahan

Kelapa rakyat yang mencapai 98% dari luas pertanaman kelapa nasional dicirikan antara lain oleh: (1) luas kepemilikan lahan usaha tani sempit, rata-rata 0,5-2,0 ha/ keluarga petani; (2) umumnya diusahakan dalam pola monokultur; (3) produktivitas rendah, rata-rata 0,62-1,67 ton kopra/ha/ tahun; (4) tingkat pengelolaan usaha tani dan penanganan hama dan penyakit rendah sehingga banyak tanaman yang

Tabel 2. Perkembangan produksi dan produktivitas tanaman kelapa rakyat di Indonesia, 2001-20051).

Wilayah

2003 2004 2005

Produksi Produk- Produksi Produk- Produksi

Produk-(t) tivitas (t) tivitas (t) tivitas

(t/ha) (t/ha) (t/ha)

Sumatera 1.003.997 1,08 1.040.324 1,12 1.022.629 1,10 Jawa 664.375 1,04 726.337 1,15 731.680 1,15 Nusa Tenggara 180.109 0,84 187.785 0,88 195.276 0,91 Kalimantan 205.119 1,06 233.836 1,14 219.643 1,05 Sulawesi 791.485 1,36 711.756 1,25 711.573 1,25 Maluku 276.579 1,28 276.410 1,28 280.400 1,67 Papua 14.696 0,50 14.697 0,62 14.878 0,62 Indonesia 3.136.360 1,12 3.191.145 1,15 3.176.079 1,14

1) Produksi dan produktivitas kelapa rakyat Indonesia tahun 2001 adalah 3.068.727 (1,10 t/ha) dan

tahun 2002 adalah 3.010.894 (1,08 t/ha). Sumber: Direktorat Jenderal Perkebunan (2006).

(4)

rusak atau mati; (5) produk usaha tani masih terbatas dalam bentuk kelapa butiran dan kopra; (6) adopsi teknologi anjuran masih rendah, karena kemampuan petani dari segi modal tidak menunjang; dan (7) pendapatan usaha tani per satuan luas ren-dah dan fluktuatif sehingga tidak mampu mendukung eknomi keluarga petani kelapa secara layak (Direktorat Jenderal Perke-bunan 2006; Maliangkay dan Hutapea 2006).

Keterbatasan sumber daya yang di-miliki petani sangat berpengaruh terhadap kemampuan untuk meningkatkan pro-duktivitas tanaman kelapa. Salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas tanaman adalah mengganti atau mere-majakan tanaman kelapa. Menurut Allorerung (1990), peremajaan kelapa sudah berlangsung lama, namun hasilnya belum sesuai dengan yang diharapkan. Salah satu aspek yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan program peremaja-an adalah tingkat partisipasi petperemaja-ani yperemaja-ang masih rendah. Kurangnya perhatian petani terhadap peremajaan dan pemeliharaan tanaman kelapa disebabkan oleh faktor harga, luas lahan, dan pendapatan. Harga kopra yang rendah membuat petani enggan melaksanakan peremajaan. Program pere-majaan dari pemerintah hanya sampai pada pengadaan bibit tanpa disertai kegiatan lanjutan seperti pemeliharaan, tidak ada dukungan modal bagi petani, dan inten-sitas penyuluhan rendah.

Tanaman yang perlu diremajakan ada-lah tanaman yang dikategorikan TTM/RS, yang secara agronomis termasuk: (1) ta-naman yang sudah berumur 50 tahun atau lebih walaupun masih berbuah; (2) umur tanaman kurang dari 50 tahun tetapi pro-duksi buahnya kurang dari 30 butir/po-hon/tahun; dan (3) tanaman yang rusak

akibat serangan berat hama dan penyakit sehingga tidak berproduksi.

Menurut Allorerung dan Mahmud (1997), kendala yang dihadapi dalam pere-majaan kelapa adalah: (1) kendala teknis, mencakup penentuan umur tanaman yang akan diremajakan, sistem peremajaan, varietas kelapa pengganti, pemanfaatan kayu kelapa, teknik budi daya, dan tanaman sela; dan (2) kendala nonteknis yang mencakup persepsi dan tingkat pengeta-huan petani, tingkat ketergantungan pe-tani, status kepemilikan lahan, keterba-tasan modal, dan pemasaran hasil. Kendala nonteknis dinilai lebih sulit dibandingkan dengan kendala teknis, karena petani dihadapkan kepada konsekuensi ekonomi apabila tanamannya harus diremajakan. Paling tidak ada dua hal pokok yang men-jadi pertimbangan, yaitu: (1) bagaimana mengatasi berkurangnya pendapatan dari menjual kelapa atau kopra yang sudah dinikmati bertahun-tahun; (2) bagaimana mempersiapkan modal untuk mendapatkan benih unggul, menanam kembali, dan memelihara tanaman.

Saat ini sumber benih kelapa yang digunakan belum berasal dari kebun induk yang dibangun khusus sebagai kebun induk yang benar, tetapi dipilih dari per-tanaman yang ada di berbagai daerah yang disebut dengan blok penghasil tinggi (BPT), walaupun benih yang berasal dari BPT lebih baik daripada benih sapuan. Masalah lain dalam peremajaan adalah: (1) sangat sulit memproduksi benih kelapa unggul dalam jumlah yang sesuai kebu-tuhan; dan (2) tidak ada pengusaha swasta yang tertarik untuk menanamkan modal-nya pada penangkaran benih kelapa, karena kurangnya keuntungan ekonomi pada penjualan benih, termasuk benih kelapa hibrida.

(5)

POTENSI

DAN APLIKASI TEKNOLOGI Teknologi yang dibutuhkan dalam prog-ram peremajaan sesuai dengan kondisi kelapa rakyat saat ini adalah: (1) teknologi yang dapat memperkecil atau meng-hilangkan dampak peremajaan terhadap pendapatan petani; (2) teknologi yang da-pat mengoptimalkan pemanfaatan lahan dengan tanaman sela; (3) teknologi peme-liharaan tanaman yang meliputi pemu-pukan, pengendalian gulma serta hama dan penyakit; (4) teknologi perbenihan untuk memenuhi kebutuhan benih unggul; dan (5) teknologi pemanfaatan kayu kelapa untuk mebel dan bahan bangunan (Ma-liangkay dan Hutapea 2006). Menurut Mahmud et al. (1990), terdapat dua me-tode peremajaan kelapa yang berkembang di tingkat petani dan perusahaan perke-bunan kelapa, yaitu: (1) peremajaan secara tebang habis dan (2) peremajaan tradi-sional yang biasa dilakukan petani, yaitu kelapa tua tidak ditebang, tetapi di antara tanaman kelapa tua disisipkan tanaman baru. Cara yang umum dipraktekkan pe-tani tampaknya lebih mudah dilakukan, namun dapat berakibat buruk terhadap pertumbuhan tanaman baru yang masih muda karena terjadi persaingan dengan tanaman tua. Petani biasanya juga merasa sayang untuk menebang pohon kelapa tua, meskipun tanaman sisipan sudah ber-produksi. Hal ini mengakibatkan tanaman baru tidak dapat berproduksi secara opti-mal karena jarak tanam menjadi terlalu rapat.

Balai Penelitian Tanaman Kelapa dan Palma Lain (Balitka) telah menghasilkan teknologi peremajaan dengan metode: (1) tebang habis 100%, (2) tebang bertahap 50%, dalam kurun waktu 3 tahun kemudi-an tebkemudi-ang lagi siskemudi-anya 50%, dkemudi-an (3) tebkemudi-ang

bertahap 20% setiap tahun, sehingga da-lam 5 tahun penebangan berakhir. Dari ketiga metode tersebut, tebang bertahap 20% diperkirakan dapat diterima petani mengingat pengurangan produksi tanaman tua berlangsung secara bertahap (5 tahun), sekaligus dapat mengubah pola usaha tani monokultur menjadi polikultur (tanaman sela). Pengurangan populasi kelapa tua setelah tanaman pengganti berproduksi atau secara bertahap sebesar 20% disertai pengusahaan tanaman sela dengan jarak dan sistem tanam tertentu, menyebabkan pengurangan pendapatan dari kelapa tua menjadi tidak berarti. Metode ini juga tidak mengganggu pertumbuhan tanaman peng-ganti dan merupakan alternatif paling tepat untuk diterapkan ditinjau dari segi agro-nomis dan pendapatan petani.

Sistem dan Jarak Tanam Jarak tanam dan sistem tanam baru kelapa, yaitu 5 m x 16 m atau 6 m x 16 m empat persegi (sistem pagar) pada program peremajaan kelapa, sangat tepat untuk mendukung pola usaha tani polikultur (Allorerung dan Mahmud 1993). Jarak dan sistem tanam baru tersebut dikenal dengan sistem pagar (6 m x 16 m), yaitu jarak antar-barisan diperlebar 16 m dan jarak dalam barisan 6 m. Dengan jarak dan sistem ta-nam baru tersebut, populasi kelapa ber-kisar 119 pohon/ha, sedangkan pada jarak dan sistem tanam 5 m x 16 m populasi kelapa sebanyak 125 pohon/ha.

Pola usaha polikultur memberikan ja-minan peningkatan pendapatan bagi petani peserta program peremajaan. Dengan jarak dan sistem tanam baru tersebut, peman-faatan lahan di antara kelapa bersifat per-manen; sepanjang tahun dapat ditanami tanaman sela terutama tanaman semusim.

(6)

Maliangkay dan Hutapea (2006) telah me-lakukan analisis finansial dan kelayakan investasi ketiga metode peremajaan de-ngan tebang bertahap, dan yang paling menguntungkan dan layak dilaksanakan adalah peremajaan tebang bertahap 20%/ tahun. Metode peremajan tebang bertahap 20% dengan pola usaha tani polikultur kelapa dan jagung dengan jarak tanam ba-ru 6 m x 16 m membutuhkan modal pada tahun awal Rp6,7 juta, dan bila diper-hitungkan hingga tahun ketujuh total modal adalah Rp34,4 juta. Total penerima-an ypenerima-ang dapat diraih pada tahun ketujuh mencapai Rp41 juta, sehingga nisbah total penerimaan dan total biaya adalah Rp6,6 juta.

Teknologi Pemeliharaan Tanaman Pemeliharaan tanaman kelapa hasil perema-jaan pada dasarnya sama dengan tanaman kelapa biasa, yang meliputi pemupukan, penyiangan, serta pengendalian hama dan penyakit. Namun dengan sistem pagar, teknologi pemeliharaan perlu disesuaikan karena terdapat tanaman sela. Teknologi pemeliharaan bergantung pada jenis ta-naman sela. Takaran pupuk mungkin dapat diturunkan karena kelapa ikut memanfaat-kan pupuk yang diberimemanfaat-kan pada tanaman sela. Pengendalian gulma hanya dilakukan di daerah bobokor.

Teknologi Perbenihan Kelapa Keberhasilan budi daya sangat bergan-tung pada benih yang digunakan. Benih merupakan alat hantar teknologi dan seka-ligus menentukan kualitas dan kuantitas produk yang dihasilkan. Benih bermutu untuk pengembangan budi daya tanaman

hanya mungkin dilakukan melalui penye-diaan plasma nutfah sehingga meng-hasilkan bahan-bahan genetik untuk dimanfaatkan dalam pemuliaan tanaman. Selanjutnya, kegiatan pemuliaan tanaman akan menghasilkan varietas-varietas ung-gul dan digunakan untuk kegiatan penang-karan benih. Dari kegiatan penangpenang-karan tersebut akan dihasilkan benih-benih untuk didistribusikan kepada petani de-ngan berpedoman pada UU No. 12/1992 tentang pelepasan varietas. Oleh karena itu, benih suatu varietas dapat disebar-luaskan jika telah melalui proses pelepasan varietas, yakni mendapat pengakuan pe-merintah yang dinyatakan dalam Ke-putusan Menteri Pertanian.

Unit Pelaksana Teknis Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, yaitu Balitka pada tahun 2004 dan 2006 telah mengajukan usul pelepasan lima kelapa Dalam unggul dan telah dilepas oleh Menteri Pertanian sebagai kelapa unggul nasional, yakni kelapa Dalam Mapanget (DMT), Dalam Tenga (DTA), Dalam Bali (DBI), Dalam Palu (DPU), dan Dalam Sawarna (DSA). Keunggulan kelima ke-lapa Dalam tersebut yakni potensi pro-duksi tinggi dan toleran terhadap penyakit busuk pucuk.

Kelapa Dalam Mapanget mampu meng-hasilkan 3,3 ton kopra/ha/tahun, Dalam Tenga 3,0 ton kopra/ha/tahun, Dalam Bali 3,0 ton kopra/ha/tahun, Dalam Palu 2,8 ton kopra/ha/tahun, dan Dalam Sawarna 3,0 ton kopra/ha/tahun. Persoalannya adalah kebun induk benih sumber baru dibangun pada tahun 2003 dan mulai menghasilkan benih pada tahun 2010 seluas 36 ha. Produksi benih optimal akan dicapai pada tahun 2015, yakni 360.000 butir benih/ tahun yang dapat digunakan untuk mem-bangun kebun sebar/penangkar seluas 1.800 ha/tahun (Tabel 3).

(7)

Tabel 3. Potensi produksi kelapa Dalam Mapanget (DMT), Dalam Tenga (DTA), Dalam Palu (DPU) dan Dalam Bali (DBI).

Varietas Lokasi Luas Produksi Areal pengembangan

(ha) benih/tahun (ha)

(butir) DMT Balitka 14,0 (2.076) 200.000 1.000 Balitka 6,0 (855) 60.0001) 300 DTA PTPT IV 10,0 (1.000) 64.000 320 Balitka 10,0 (1.463) 100.0001) 500 DPU PTPN XIV 10,0 (1.000) 56.000 280 Balitka 10,0 (1.463) 100.0001) 500 Desa Bangga 100,0 560.000 2.800 DBI BPT Bali 80,7 (8.070) 400.000 2.000 Balitka 10,0 (1.463) 100.0001) TOTAL 250,7 (17.390) 1.640.000 7,700

1)Mulai berproduksi tahun 2010 dan berproduksi optimal 2015.

Angka dalam kurung adalah jumlah tanaman. Sumber: Tenda et al. (2004); Tampake (2005).

Saat ini Balitka baru dapat menyedia-kan benih unggul kelapa Dalam seba-nyak 200.000 butir/tahun yang dapat di-gunakan untuk peremajaan/penanaman baru seluas 900 ha/tahun. Benih tersebut diperoleh dari enam kali panen per tahun, yakni pada Januari-Februari, Maret-April, Mei-Juni, Juli-Agustus, September-Okto-ber, dan November-Desember.

Selain benih yang tersedia di Balitka, untuk mengatasi kekurangan benih, sejak tahun 2005-2007 beberapa Dinas Perkebun-an Provinsi telah bekerja sama dengPerkebun-an Balitka untuk melakukan penetapan blok penghasil tinggi (BPT) dan pohon induk kelapa (PIK) sebagai sumber benih. Pro-vinsi/kabupaten yang telah melakukan penetapan BPT/PIK adalah Jawa Timur, Gorontalo, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Bali, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, Banten, Suma-tera Utara, dan Jambi. Dari 13 provinsi ter-sebut telah ditetapkan 15.000 PIK dengan

kemampuan meghasilkan benih 1,23 juta butir/tahun (Tabel 4).

Selama ini BPT dianggap sama dengan kebun induk sehingga semua tanaman da-pat dijadikan sumber benih, padahal BPT sebagai sumber benih tidak akan mem-berikan perbaikan pada populasi turun-annya. Seharusnya dari BPT tersebut dilakukan lagi seleksi individu sehingga diperoleh pohon-pohon induk sumber benih untuk bahan tanaman. Tingkat seleksi PIK untuk setiap BPT dianjurkan maksimum 15% tanaman terbaik, artinya kalau luas BPT 2,5 ha dengan jumlah tanaman 250 pohon maka PIK sumber benih maksimum 38 pohon.

STRATEGI DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN

1. Pendekatan dan teknologi yang dinilai relevan dalam peningkatan produk-tivitas kelapa adalah meremajakan

(8)

kelapa TTM/TR dengan metode tebang bertahap 20%. Perlu dibuat program peremajaan nasional yang sistematis, terencana, terpadu, dan berkelanjutan. Peremajaan pada prin-sipnya dilakukan untuk mengkon-disikan agar tanaman selalu pada posisi berproduksi optimal. Program pere-majaan tidak lagi hanya sekedar pe-nyediaan benih, tetapi perlu diikuti dengan kegiatan lanjutan seperti pe-meliharaan tanaman sampai berbuah. 2. Menggunakan benih unggul (benih

bermutu) yang berasal dari kebun benih milik Balitka dan BPT yang telah dite-tapkan di tiap provinsi. Walaupun benih yang berasal dari BPT lebih baik daripada benih sapuan, ke depan perlu dibangun kebun benih khusus sebagai kebun induk yang benar, yaitu kebun induk kelapa Dalam komposit (KIKDK). Penggunaan kelapa Dalam unggul

komposit akan meningkatkan produksi kelapa Dalam dari rata-rata 1,5 ton kopra/ha/tahun menjadi minimal 2,25 ton kopra/ha/tahun. Pembangunan KIKDK dapat mengikutsertakan pe-tani/asosiasi petani dan pemerintah daerah.

3. Penanaman kelapa baru dengan pola usaha tani polikultur dengan meng-gunakan sistem dan jarak tanam baru atau sistem pagar (6 m x 16 m) disertai penerapan teknologi pemeliharaan. Pola usaha polikultur perlu disertai dengan usaha pemanfaatan kayu kelapa. Kayu kelapa kualitas pertu-kangan dapat digunakan untuk indus-tri mebel, suvenir atau benda seni, dan bahan bangunan. Sisa-sisa kayu dapat diproses lebih lanjut menjadi arang, papan partikel, dan pulp. Pola usaha ini dimaksudkan untuk meningkatkan pendapatan petani, sehingga

kehilang-Tabel 4. Luas blok penghasil tinggi (BPT), jumlah pohon induk kelapa (PIK), dan prakiraan produksi benih kelapa Dalam di 13 provinsi di Indonesia.

Provinsi Luas BPT Jumlah PIK Prakiraan

(ha) (pohon) produksi benih

(butir) Jawa Timur 100 1.000 80.000 Gorontalo 100 1.500 120.000 Kalimantan Barat 5 0 750 56.000 Kalimantan Tengah 5 0 750 56.000 Sulawesi Utara 100 1.500 120.000 Bali 100 1.500 120.000 Sulawesi Selatan 100 1.500 120.000 Sulawesi Barat 100 1.500 120.000

Daerah Istimewa Yogyakarta 100 1.000 70.000

Jawa Tengah 100 1.000 70.000

Banten 100 1.000 70.000

Sumatera Utara 100 1.000 120.000

Jambi 100 1.000 108.000

(9)

an pendapatan akibat peremajaan dapat ditekan semaksimal mungkin.

4. Meningkatkan kemampuan petani da-lam mengakses sumber-sumber tek-nologi, pembiayaan, dan pasar guna meningkatkan posisi tawar petani da-lam perdagangan. Dukungan kebijakan lainnya yang dibutuhkan adalah: (i) penyediaan kredit modal usaha bagi petani dengan tingkat bunga yang ri-ngan; (ii) pembinaan teknis dan kelem-bagaan produksi yang mengarah pada pembentukan kelompok tani yang dapat menangani pengadaan sarana produksi dan penjualan hasil; (iii) peningkatan intensitas penyuluhan untuk meningkatkan pengetahuan petani tentang perlunya peremajaan; dan (iv) pengembangan infrastruktur di daerah sentra produksi untuk me-ngurangi biaya pengumpulan

(collect-ing cost).

DAFTAR PUSTAKA

Allorerung, D. 1990. Teknologi peremajaan dan pola penerapannya. Buletin Balitka 11.

Allorerung, D. dan Z. Mahmud. 1994. Budi daya kelapa sistem pagar. hlm. 481-493. Prosiding Konferensi Nasional Kelapa III. Yogyakarta 20-23 Juli 1993. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanam-an Industri, Bogor

Allorerung, D. dan Z. Mahmud. 1997. Tek-nologi peremajaan, rehabilitasi dan perluasan tanaman kelapa. Prosiding Pertemuan Komisi Penelitian Pertanian Bidang Perkebunan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, Bogor.

Direktorat Jenderal Perkebunan. 2006. Statistik Perkebunan Indonesia 2003-2005. Kelapa. Direktorat Jenderal Per-kebunan, Jakarta.

Hosang, M.L.A, S. Sabbatoellah, dan F. Tumewan. 2006. Penerapan teknologi PHT untuk hama Oryctes, Sexava dan Brontispa. Prosiding Konferensi Nasi-onal Kelapa VI. Revitalisasi Perkela-paan Melalui Pengembangan Kese-hatan dan Energi Alternatif. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perke-bunan, Bogor.

Liyanage, D.V. dan Sudarsip. 1978. Program peremajaan kelapa pada Pelita III. Kumpulan Makalah dan Pemba-hasan Pertemuan Teknis Kelapa V. Kerja sama Direktorat Jenderal Per-kebunan dengan Pemerintah Daerah Tingkat I Sulawesi Utara, Manado. Mahmud, Z., R.B. Maliangkay, dan Z.

Untu. 1990. Peremajaan kelapa tebang bertahap. Prosiding Simposium I Hasil Penelitian dan Pengembangan Tanam-an Industri. Buku II. Pusat PenelitiTanam-an dan Pengembangan Tanaman Industri, Bogor.

Manggabarani, A. 2006. Kebijakan pem-bangunan agribisnis kelapa. Prosiding Konferensi Nasional Kelapa VI. Revi-talisasi Perkelapaan Melalui Pengem-bangan Kesehatan dan Energi Alter-natif. Pusat Penelitian dan Pengem-bangan Perkebunan, Bogor.

Maliangkay, R.B. dan R.T.P. Hutapea. 2006. Analisis keunggulan teknologi tebang bertahap dalam peremajaan kelapa. Prosiding Konferensi Nasional Kelapa VI. Revitalisasi Perkelapaan Melalui Pengembangan Kesehatan dan Energi Alternatif. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, Bogor.

(10)

Tampake, H. 2005. Pengawasan mutu dan sertifikasi benih. Laporan Teknis Intern Balai Penelitian Tanaman Kelapa dan Palma Lain, Manado.

Tenda, E., J. Kumaunang, dan H. Tampake. 2004. Potensi plasma nutfah lokal

da-lam pengembangan kelapa. hlm. 305-312. Prosiding Simposium IV Hasil Penelitian Tanaman Perkebunan. Bo-gor, 28-30 September 2004. Pusat Pe-nelitian dan Pengembangan Perke-bunan, Bogor.

Gambar

Tabel 1. Perkembangan luas areal tanaman kelapa tidak menghasilkan/rusak di Indonesia, 2001-2005 1) .
Tabel 2. Perkembangan produksi dan produktivitas tanaman kelapa rakyat di Indonesia, 2001-2005 1) .
Tabel 3. Potensi produksi kelapa Dalam Mapanget (DMT), Dalam Tenga (DTA), Dalam Palu (DPU) dan Dalam Bali (DBI).
Tabel 4.  Luas blok penghasil tinggi (BPT), jumlah pohon induk kelapa (PIK), dan prakiraan produksi benih kelapa Dalam di 13 provinsi di Indonesia.

Referensi

Dokumen terkait

Regulatory role of vitamin D reseptor gen variants of BsmI, ApaI, TaqI, and FokI polymorphisms on macrophage phagocytosis and lymphoproliferative response to Mycobacterium

 Khusus : Peremajaan Dini = penggantian tanaman sawit muda berumur 10-25 tahun milik petani / perkebunan rakyat yang menghadapi masalah produktivitas rendah < 10 ton per

Ada banyak manfaat mulut bersih, seperti membuat napas menjadi segar, mulut terlindung dari bakteri mulut, dan yang pasti juga dapat membuat kita percaya diri. Dengan napas

Elisabeth sebagai tempat bernaung anak-anak terlantar perlu ditata ulang guna melengkapi fasilitas-fasilitas yang masih terbatas untuk mendukung kegiatan anak- anak

Cirebon merupakan salah satu tujuan wisata yang dipreferensi oleh masyarakat untuk dikunjungi saat ini. Cirebon memiliki beberapa kawasan wisata yang menarik salah satunya

Data menunjukkan bahwa pada kecepatan gas masuk tertentu sudah terjadi fluidisasi yang baik dan tidak ada kernel yang jatuh ke bawah selama proses pelapisan serta tidak ada

Pembinaan Ahli Muda K3 Konstruksi yang diselenggarakan Dynamiqhse yang bekerja sama dengan A2K4-Indonesia DPW DKI Jakarta adalah Perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam bidang

Bila obat FOI yang diresepkan oleh dokter tidak ada di Apotek atau Instalasi Farmasi Rumah Sakit yang bekerjasama dengan PT Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia, maka Apotek