• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teropong Edisi 7: Membincang Sekolah Khusus Puteri di Inggris Raya. Ditulis oleh AD. Kusumaningtyas Senin, 22 Juni :26 -

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Teropong Edisi 7: Membincang Sekolah Khusus Puteri di Inggris Raya. Ditulis oleh AD. Kusumaningtyas Senin, 22 Juni :26 -"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

"Thalabul 'ilmi fariidhatun 'ala kulli muslimin wa muslimatin "

(Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim, baik laki-laki ataupun

perempuan)

(Al Hadits)

Bicara soal sekolah khusus puteri sebenarnya bukanlah suatu

hal yang asing. Sebab,

dalam sejarah pendidikan, sekolah semacam ini pernah diperkenalkan

Kartini yang mendirikan sekolah khusus untuk anak-anak perempuan di

Jepara, atau Dewi Sartika yang menyelenggarakan Sekolah Isteri di

tanah Pasundan, pun Rahmah El Junusiyah yang mengelola Diniyah Puteri

di Padang Panjang. Bahkan sampai sekarangpun kita masih menemui sekolah

khusus perempuan seperti Tarakanita, Santa Ursula, Stella Duce, Regina

Pacis untuk anak perempuan, ataupun Colesse Canisius , Don Bosco,

De Britto untuk anak laki-laki.

Pertanyaannya mengapa harus ada sekolah khusus? Lalu jika ada

sekolah khusus putrid, apakah benar sistem ini ditujukan untuk

membebaskan perempuan dari belenggu patriarki yang begitu kuat

ataukah justru melanggengkannya? Tulisan berikut mungkin tidak

ditujukan untuk memberikan jawaban, akan tetapi sekedar mencoba

memberi gambaran dari pengalaman orang lain tentang model sekolah

khusus putri itu dan alasan yang melatarinya.

Belajar dari Pengalaman Maria Hanifa

Adalah Maria Hanifa, seorang warganegara Pakistan yang berimigrasi

ke Inggris tahun 1967. Dia adalah muslimah yang kesehariannya di Inggris

berprofesi sebagai guru di salah satu sekolah ternama di Inggris.

Pengalaman hidup Hanifa inilah yang oleh Kaye Haw, penulis buku Educating

Moslem Girls coba diambil sebagai salah satu contoh. Haw mengajak

Hanifa untuk mau mencurahkan sebagian pengalamannya menjadi sebuah

tulisan. Maria Hanifa kemudian tercatat sebagai salah satu kontributor

dalam tulisan Kaye Haw tersebut yang berhasil diterbitkan Open University

Press Buckingham, Philadelphia.

Pengalaman Hanifa dianggap menarik oleh Haw, sebab dalam kondisi ini

Hanifa yang berkebangsaan Pakistan, mewakili pandangan seorang

minoritas yang hidup di tengah kekuasaan dan kebudayaan bangsa

Inggris. Pun pandangannya tentang pentingnya sekolah khusus puteri.

(2)

Bagi Hanifa yang ketika awal mula berada di Inggris harus berhadapan

dengan realitas sebagai kelompok minoritas, pemerintah Inggris

seharusnya dapat mengakomodir kepentingan seluruh masyarakat.

Setidaknya jangan terlalu kelihatan hanya memfasilitasi kaum mayoritas.

Seharusnya pemerintah dapat melihat sisi keragaman masyarakat Inggris

yang pluralis. Untuk masalah sekolah misalnya banyak siswi muslim yang

masuk ke sekolah Katholik, untuk mendapatkan pendidikan formal.

Masalah sesungguhnya menurut Hanifa bukan pada masalah sekolah

khusus agama katolik atau Islam, akan tetapi pada budaya masyarakat

setempat dan juga keyakinan sebagian muslim yang masih sangat

memegang pendapat bahwa dalam hal menuntut ilmu, siswi putri

sebaiknya dipisah dari siswa laki-laki. Dan di Inggris, kebetulan ada

sekolah khusus siswi, yaitu sekolah khusus putri Katolik. Tetapi ketika

siswi putri Katholik mendapatkan pendidikan yang menyeluruh berkaitan

dengan keberadaan mereka di tengah komunitas agama Katholik, para

orang tua muslim menyekolahkan anaknya ke tempat tersebut karena

terpaksa dan merupakan satu-satunya pilihan bagi mereka. Karena tidak

ada sekolah lain yang khusus puteri untuk masyarakat muslim. Dan yang

terpenting dicatat adalah pilihan untuk menyekolahkan perempuan pada

sekolah khusus adalah pilihan bagi keberlangsungan budaya masyarakat

muslim. Dan sayangnya apa yang sudah tersedia belum menjawab kebutuhan

untuk mendidik anak-anak mereka dalam berbagai nuansa keislaman.

Tahun 1994-1995 ada perdebatan mengenai apakah 5 sekolah di tengah

kota akan dijadikan sekolah Islam atau tidak. Pada awalnya masyarakat

tidak peduli dan Badan Pemerintah punya kekuasaan yang cukup besar

untuk mengambil alih sekolah. Keberadaan sekolah khusus puteri di

kalangan muslim adalah jawaban untuk menepis masalah yang disebut di

atas. Dan untuk itu, dibutuhkan guru yang baik, siswa yang baik, dan

lingkungan yang kondusif. Ketika sebuah sekolah berdiri, orang tua dapat

menanyakan kualifikasi dari staf pengajar dan latar belakang mereka.

Pada awalnya mereka menghendaki guru-guru non muslim, karena dalam

pandangan mereka seorang guru non muslim berkulit putih lebih baik

dibandingkan guru-guru muslim. Namun, kondisi dengan pandangan

yang masih sangat rasis ini kemudian dapat sedikit demi sedikit di kikis

habis. Lagi-lagi dengan merujuk kembali kepada ajaran masing-masing

agama yang dianut sebagian masyarakat, bahwa kualitas seseorang tidak

dapat diukur dari kulit maupun agama, tetapi dari kesempatan mereka

memperoleh pengetahuan. Dan, untuk meningkatkan kualitas guru yang

(3)

muslim juga harus dibuka kesempatan untuk mereka.

Kini, pandangan itu tak terjadi lagi dan telah banyak orang tua yang

mempercayakan pendidikan anak-anaknya di tangan guru muslim sendiri

karena mereka memiliki kualifikasi untuk itu.Ibu-ibu mulai berani datang

dan berkonsultasi perihal pendidikan puteri mereka. Namun sayang,

belum semua keinginan mendidik perempuan meresap dalam hati para orang

tua muslim, karena kebanyakan mereka masih menginginkan anaknya berada

di sekolah hingga usia 16 tahun. Perlu diperhatikan bahwa perlu kerja

keras untuk menanamkan kesadaran bahwa memberikan pendidikan bagi

anak perempuan termasuk dalam status 'jihad', dan harus dibicarakan

oleh para imam di masjid-masjid.

Sekolah khusus puteri merupakan kebutuhan mendasar bagi perempuan

muslim, karena hal ini dianggap untuk mempersiapkan tegaknya

semangat ke-Islaman bila mereka mendapatkan pendidikan yang baik

secara benar. Sekolah-sekolah ini seharusnya menyesuaikan dengan

standar pendidikan, dimana kaum muslim dan non muslim dapat merasa

cukup puas terhadap infrastruktur sekolah muslim sehingga

memungkinkan mereka untuk memberi yang terbaik bagi siswanya.

Maria Hanifa berpendapat bahwa hendaknya orang tua menyadari

tanggungjawab memberi pendidikan bukan hanya karena

Undang-undang Negara Inggris, tetapi juga karena Islam itu sendiri

sesuai Sabda Nabi Muhammad Saw, Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap

muslim. Dan muslim di sini mengacu pada lelaki dan perempuan. Mereka

sangat membutuhkan dedikasi dan ketetapan hati. Tanpa adanya

komitmen sangat sulit untuk mendapatkan fasilitas kelas utama, sehingga

dibutuhkan kerja keras menghadapi masa depan bangsa yang dititipkan

pada anak-anak kita.

Lembaga pendidikan untuk kaum perempuan muslim mendorong mereka

untuk mengekspresikan keyakinan keagamaan mereka dan bagaimana

menjadikan mereka contoh yang baik. Dengan harapan, ketika

meninggalkan bangku sekolah mereka telah dapat memutuskan mana

yang benar dan yang salah, tidak hanya pada sisi permukaan tetapi juga

apresiasi yang cukup dalam mengenai kehidupan dan tujuannya. Dalam

sekolah muslim ada sebuah lingkungan dimana keluasan pengetahuan

membuat mereka sadar dan menghayati akan keberadaan Allah.

(4)

sebuah hal sangat penting dan tidak sekedar perintah agama terhadap

anak-anak mereka, tetapi secara lebih dalam adalah untuk

keberlangsungan budaya.Pandangan Soal Single Sex School (Sekolah

Khusus)

Pembicaraan soal sekolah khusus akan sangat berkait dengan

beragamnya pandangan untuk menjawab soal kesetaraan kesempatan

untuk mendapatkan pendidikan. Beberapa pandangan yang berkembang

tentang hal ini, adalah :

1. Segregasi/ pemisahan lelaki-perempuan di segala umur itu tidak

bersifat alami.

2. Sekolah yang bercampur antara jenis kelamin laki-laki dan perempuan,

dianggap akan menciptakan sebuah perilaku yang lebih sehat dalam

memandang jenis kelamin dan pola relasi diantara kedua jenis tersebut.

3. Kebanyakan siswa memilih sekolah yang bercampur laki-laki dan

perempuan dan juga mata pelajaran yang diberikan pada mereka, karena

pelajaran akan terasa lebih menarik.

4. Kebanyakan guru lebih menyukai sekolah untuk umum karena

kehadiran murid-murid perempuan membuat akibat pada murid laki-laki

sehingga lebih pendiam dalam berperilaku sehingga berdampak jauh

pada munculnya perilaku positif untuk pembelajaran.

5. Sekolah yang bercampur antara murid lelaki dan perempuan

melibatkan sebuah komitmen akan keadilan bagi kedua jenis kelamin

secara prinsipil dan memberikan fasilitas yang sama bagi kedua jenis

kelamin di dalam praktik kehidupan.

Kaum muslim lebih cenderung pada isu sekolah khusus untuk satu jenis

kelamin, karena hal itu dianggap berakar dari nilai keagamaan/budaya

mereka. Dalam hal ini mungkin ada perbandingan tentang pendidikan

dalam konteks feminis dan muslim. Kaum feminis liberal mendukung

prinsip-prinsip kesamaaan kesempatan di semua bidang dan bergeser

dari pengelompokan sekolah satu khusus untuk satu jenis kelamin pada

sekolah ko-edukasi. Tetapi pendekatan-pendekatan liberal untuk sekolah

khusus perempuan ditolak oleh kaum muslim. Bagi kaum liberal,

kesetaraan didasarkan pada prinsip-prinsip melalui perlakuan yang

identik untuk lelaki dan perempuan. Sedangkan di sisi lain, kaum muslim

percaya bahwa kesetaraan didapatkan dengan cara menghargai

perbedaan, dan pembeda-bedaan peran bukanlah merupakan contoh

dari kesetaraan.

(5)

terhadap bentuk pendidikan dengan cara yang berbeda yaitu dengan

menekankan agar perempuan mempergunakan kesempatan belajar satu

sama lain, dan mereka sama-sama merasakan secara kuat adanya tindak

kekerasan seksual pada siswi perempuan di sekolah campuran lelaki dan

perempuan.

Ditulis oleh : AD. Kusumaningtyas(Disarikan dari

Schooling for Moslem Students in Contemporary Britain, tulisan

Kaye Haw dan kontribusi dari Maria Hanifa dan Gender, Islam, and

single-sex schooling dari tulisan Kaye Haw dalam Educating Muslim

Girls terbitan Open University Press Buckingham, Philadelphia)

Referensi

Dokumen terkait