Nama : Tugur Ariyani, S,Si, DMM, MM
No Hp/email : 081291811969/ [email protected] Tugas Jabatan : Pranata Lab.Kes.Madya ,
di Laboratorium Biomolekuler/ Unit Lab.
Mikrobiologi- Instalasi Lab. Sentral Terpadu RSUP Persahabatan Jakarta Kepenguruan Organisasi Profesi : Anggota Dept Bidang Hukum dan Advokasi DPP
PATELKI 2017- 2021
Related Training
1. SNI ISO 15189:2012 Training, Laboratorium Medik- Persyaratan Mutu dan Kompetensi 2. TOT Microbiology " Bacteriology Proficiency Educational Course)
3. TOT Phlebotomy, Up grading TOT Phlebotomy
4. TOT Handling of Diagnostic Speciment and Patient Suspected Avian Influenzae 5. Quality System for Medical and Diagnostic Laboratory, Family Health International 6. K3, Biosafety and Biosecurity on Emerging Infectious Disease Laboratories in Indonesia, National Institute of Health Research and Development
7. Training of Trainers (TOT) Biosafety, National Cleaner Production Center and PT MERCK Tbk 8. Refresher Training for Avian Influenza Lab.Personnel in Indonesia, National
Institute of Health Research and Development 9. Infection Control, Basic Courses X, Perdalin, INASIC
10. Plebotomy Training by Becton Dickinson & Company ( in house training)
Disampaikan dalam Penyelenggaraan : WEBINAR PATELKI # 4 DPP PATELKI
Tanggal : Sabtu 30 Januari 2021
by : Tugur Ariyani
Teknik SAMPLING SPESIMEN DARAH DAN SPESIMEN SWAB
* Spesimen Darah
Preanalytical systems
1. Pemilihan tempat penusukan
2. Komplikasi Tindakan
3. Komplikasi Pasien
4. Spesimen Tidak Cukup
5. Pencemaran Spesimen
POKOK BAHASAN
* Spesimen Swab
1.Why preserve spesimen bacterial cultures ?
2. Types of spesimen mikrobiologi
- Procedure for specific organisms
- Persyaratan umum
Spesimen Darah
Preanalytical systems
1. Pemilihan tempat penusukan
2. Komplikasi Tindakan
3. Komplikasi Pasien
4. Spesimen Tidak Cukup
1. P
emilihan tempat penusukan
• Vena median cubital adalah pilihanpertama karena ia besar, paling sedikit sakit, dan terkecil
kemungkinan memarnya
• Vena cephalic adalah pilihan kedua: – besar, tetapi tidak sebaik
terjangkarnya dan lebih sakit ketika ditusuk dibandingkan median cubital.
• Vena basilic adalah pilihan ketiga: – biasanya mudah diraba, tetapi
tidak terjangkar dengan baik oleh jaringan.
– terletak dekat arteri brachial dan
saraf median, yang salah satunya bisa secara tidak sengaja tertusuk.
tempat penusukan di tangan dan kaki
• Pilihan terakhir untuk
pengambilan darah adalah dari vena kaki, setelah vena-vena tangan telah diputuskan tidak bisa dipakai.
• Selalu lihat kebijakan rumah sakit sebelum jenis tindakan
pengambilan darah ini dilakukan
• Phlebotomist harus sangat hati-hati
• Vena ini memiliki diameter sempit, sehingga sebaiknya digunakan
jarum gauge kecil dan tabung hampa kecil.
• Pemakaian blood collection set dapat meningkatkan keberhasilan dan membuat tindakan kurang menyakitkan
Menghindari Syaraf Median
• Hindari syaraf utama.
• Mengenai syaraf pasien dengan jarum dapat menyebabkan sakit yang tajam dan segera.
• Pasien juga bisa melakukan tindakan refleks tidak sengaja, menarik lengan menjauhi jarum.
• Arteri, dideteksi dengan denyutan, hendaknya tidak dipakai untuk pengambilan darah rutin.
• Untuk menghindari penusukan arteri, jangan pilih vena yang bertumpuk atau dekat dengan arteri.
• Terlihat pada gambar, syaraf median dan arteri brachial terletak dekat dengan vena basilic.
• Pencarian buta dan berlebihan ketika melakukan venipuncture dapat
menyebabkan cedera tetap bagi syaraf dan arteri yang bisa berakibat suatu tindakan hukum.
2. Komplikasi Tindakan
Teknik yang Benar ?
• Tusukkan jarum pada sudut 15-30o.
• Lakukan dengan gerakan yang halus dan cepat untuk memperkecil rasa sakit.
• Masukkan permukaan landai (bevel) jarum ke rongga vena. Setelah di dalam rongga, dorong tabung sepenuhnya ke dalam jarum.
• Permukaan landai jarum menembus
stopper memasuki bagian hampa.
• Tabung terisi sampai hampa habis dan darah berhenti mengalir.
• Akan ada ruang udara diantara darah dan stopper.
Komplikasi Tindakan
a. Vena bergeser
Perbaikan
• Cabut tabung dari jarum untuk
menjaga hampa, cabut jarum
sampai permukaan landainya tepat di bawah kulit, jangkar vena-nya, dan arahkan kembali jarum ke dalam vena.
• Jika darah masih tidak mengalir,
cabut tourniquet, pastikan tangan pasien terbuka, cabut tabung, dan cabut jarum dari lengan pasien.
Komplikasi Tindakan
b. Menusuk Melewati Vena
Penyebab
• Kadang-kadang jarum menembus melewati
kedua dinding vena.
• Ini bisa terjadi ketika jarum pertama kali
ditusukkan, atau holder tidak dipegang
secara mantap ketika tabung didorong ke
dalam jarum.
• Darah yang bocor dari vena ke jaringan di
sekitarnya bisa membentuk hematoma
Komplikasi Tindakan
c. Vena Lumpuh
Penyebab
• Vena bisa lumpuh bila tourniquet diikat terlalu dekat ke daerah
penusukan.
• Kadang-kadang tarikan hampa dari tabung, atau tekanan yang ditimbulkan dengan menarik plunger dari syringe,
menyebabkan vena lumpuh. Aliran darah melambat dan lalu berhenti ketika vena lumpuh
Komplikasi Tindakan
Vena Lumpuh…
Perbaikan 1
• Pertama perketat tourniquet dengan memegang kedua ujungnya dengan satu tangan dan pilin bersama-sama. • Jika aliran darah tidak kembali mengalir, cabut tabung
dari jarum, tunggu beberapa detik agar aliran darah
kembali normal, dan masukkan tabung yang lebih kecil.
Perbaikan 2
Jika masih tidak ada aliran darah, cabut tourniquet, pastikan
tangan pasien terbuka, cabut tabung, dan cabut jarum dari lengan pasien.
d. Jarum Masuk Sebagian ; darah bocor ke jaringan Perbaikan
• Jika anda melihat hematoma terjadi, segera lepaskan
tourniquet, pastikan tangan pasien terbuka, cabut
tabung, dan cabut jarum dari lengan pasien.
• Kegagalan melakukan hal di atas bisa menyebabkan kegelisahan dan atau ketakutan pada pasien, dan bisa menyebabkan hematoma semakin membesar. • Naikkan lengan pasien di atas jantung dan berikan
tekanan. Lengan pasien hendaknya jangan ditekuk.
e. Tabung Lepas
Penyebab
Kadang-kadang, selama penusukan vena, sarung jarum akan mendorong tabung sehingga lepas sedikit dari
jarum yang mengakibatkan aliran darah berhenti.
Perbaikan
Untuk mengembalikan aliran darah, masukkan kembali
tabung sampai ke ujung dan tahan dalam posisi ini sampai tabung terisi.
Komplikasi Tindakan
f. Aliran Balik Antikoagulan
• Pada kasus yang jarang, darah bisa mengalir balik (reflux) dari tabung ke dalam vena pasien selama tindakan penusukan vena.
• Penambah tabung, khususnya EDTA, bisa menyebabkan reaksi sampingan pada pasien.
• Untuk mencegah aliran balik, jaga lengan pasien tetap pada posisi ke
bawah sehingga tabung selalu berada di bawah lokasi penusukan dan terisi dari bawah ke atas.
Komplikasi Tindakan
g. Tourniquet --- Tidak Dilepas
• Kegagalan melepas tourniquet sebelum mencabut jarum akan mempertahankan tekanan di dalam vena dan menyebabkan darah mengalir keluar dari
pembuluh vena.
• Hal ini menimbulkan resiko biohazard, ketakutan pasien, dan kemungkinan hematoma.
Komplikasi Tindakan Lainnya
Tourniquet Terlalu Ketat
• Tourniquet yang terlalu ketat akan menjepit dan menimbulkan kegelisahan bermakna bagi pasien.
• Ini juga bisa mencegah aliran darah arteri ke wilayah itu, dan berakibat kegagalan untuk memperoleh
darah.
• Lepaskan tourniquet, biarkan beberapa detik agar darah kembali mengalir, dan pasang kembali
tourniquet dengan benar.
Komplikasi Tindakan Lainnya
Tourniquet Terlalu Dekat ke Lokasi penusukan
• Jika tourniquet dipasang tepat di atas lokasi
penusukan vena, lokasinya akan tercemar oleh tourniquet.
• Selain itu, ini tidak memberikan phlebotomist wilayah bebas yang cukup untuk ia bisa bekerja. • Akhirnya, vena bisa lumpuh ketika darah diambil.
3. Komplikasi Pasien
Hematoma
Syncope
Vena Berparut
a. Hematoma
Hematoma disebabkan oleh darah yang bocor ke
dalam jaringan di sekitar tusukan vena dan lalu
membeku.
Hal ini bisa menimbulkan kegelisahan atau
kekhawatiran pada pasien.
Bila hematoma terjadi, tempat ini tidak bisa
dipakai sebagai titik masuk sampai hematoma
teratasi.
Jika ada hematoma, pilih tempat lain, lakukan
penusukan vena pada posisi distal terhadap
hematoma.
b. Syncope
Pasien dengan riwayat pingsan hendaknya ditempatkan pada posisi berbaring.
Selama tindakan phlebotomy, pasien bisa saja mengatakan bahwa ia merasa tidak sehat atau bahkan bisa kehilangan kesadarannya.
Lepaskan tourniquet
Tarik jarum, dan tempatkan pasien dengan kepala lebih rendah dari jantung.
Selalu pastikan agar pasien secara fisik dijaga untuk mencegah cedera kalau-kalau ia pingsan.
Berikan kompres dingin di belakang leher dan di kening. Lihat SOP lab untuk perintah lebih lanjut.
c. Vena Berparut
Vena normal memiliki pegas atau kelenturan ketika ditekan.
Beberapa vena pasien terasa keras dan kurang lentur. Vena-vena ini dikatakan mengeras atau sklerosis.
Parut ini bisa karena vena ditusuk
berkali-kali, peradangan, penyakit, atau iritasi karena obat kemoterapi yang
diberikan secara intravena.
Ambil darah di bawah vena yang rusak itu atau pilih daerah lain.
4. Spesimen Tidak Cukup
Hemolysis Tube terisi sebagian :
a. Hemolysis
Sel darah merah selaputnya rapuh dan mudah
rusak jika spesimen darah ditangani dengan salah, yang kemudian menimbulkan hemolysis.
Hemoglobin lalu dilepaskan ke bagian cair dari spesimen dan plasma akan tampak berwarna merah muda sampai merah.
Isi sel yang lain, misalnya enzym, elektrolit, juga dilepaskan.
Adanya hemolysis membuat banyak hasil test tidak absah dan mungkin perlu diambil sample baru lagi.
Hemolysis
Penyebab hemolysis termasuk:
1. Mencampur tabung yang mengandung
penambah dengan gerakan yang terlalu keras. 2. Darah berbusa ketika bevel hanya masuk
sebagian ke dalam rongga vena, atau bila jarum tidak terpasang dengan benar ke holder.
3. Menggunakan tabung hampa yang terlalu besar untuk diameter jarum yang dipakai.
4. Menusuk vena sebelum alkohol mengering, yang membuat alkohol bercampur dengan sample.
b. Tabung Terisi Sebagian
Tabung hampa berisi hampa pada tingkat yang telah sebelumnya diukur untuk
menghisap darah sampai volume tertentu. Tabung yang telah kehilangan hampa tidak
akan menghisap darah dengan volume yang benar
Ilustrasi di samping menunjukkan tabung dengan penambah yang dirancang untuk mengambil 4.5 mL darah. Bila penuh,
volume keseluruhan dengan penambah adalah 5 mL.
Tabung Terisi Sebagian
Jika tabung mengandung penambah, adalah
penting diketahui bahwa perbandingan penambah dengan darah harus tepat.
Jika tidak, hasil test-nya tidak absah. Tabungnya akan dicatat sebagai “jumlah tidak mencukupi" (quantity not sufficient, QNS) dan ditolak oleh laboratorium untuk dianalisa.
Jika tabung tidak mengandung penambah, tabung
tetap bisa ditolak sebagai QNS jika volume darah tidak cukup untuk melakukan pemeriksaan yang diminta.
5. Pencemaran Spesimen
Penambah
Cairan IV
a. Penambah
Pencemaran Spesimen
Pencemaran spesimen bisa terjadi ketika tabung yang mengandung penambah diambil pada urutan yangtidak benar.
Penambah dari tabung sebelumnya bisa berpindah ke tabung berikutnya, khususnya jika darah dibiarkan
menyentuh bagian belakang jarum.
Darah pada atau di dalam jarum akan berpindah ke tabung berikutnya. Penambah ini bisa membuat hasil test tidak absah.
Penambah
Pencemaran Spesimen
Pencemaran spesimen bisa terjadi ketika tabung yang mengandung penambah diambil pada urutan yangtidak benar.
Penambah dari tabung sebelumnya bisa berpindah ke tabung berikutnya, khususnya jika darah dibiarkan
menyentuh bagian belakang jarum.
Darah pada atau di dalam jarum akan berpindah ke tabung berikutnya. Penambah ini bisa membuat hasil test tidak absah.
b. Cairan IV
Pencemaran Spesimen Sample darah jangan pernah diambil di atas lokasi infus intravenous (IV), karena semua test menjadi tidak absah.
Darah yang diambil di atas lokasi infus akan
diencerkan oleh cairan infus, ini kadang-kadang
mengurangi konsentrasi semua yang sedang diukur.
Namun kadang juga bisa menambah konsentrasinya, misalnya konsentrasi glucose akan meningkat jika
diambil di atas infus glucose.
Lihat standard operating procedure lab untuk instruksi lebih
c. Alkohol
Pencemaran Spesimen Pencemaran spesimen bisa terjadi jika alkohol tidak dibiarkan mengering sendiri secara sempurna
sebelum penusukan.
Bila mengambil untuk kultur darah, harus hati-hati sehingga disinfectant yang dipakai untuk
membersihkan dan mensterilkan lokasi telah
mengering. Jika tidak, ia bisa masuk ke tabung dan menghambat pertumbuhan bakteri dalam darah.
Alkohol
Pencemaran Spesimen Alkohol jangan dipakai sebagai
bahan pembersih pada pengambilan
spesimen darah-alkohol.
Adalah tidak mungkin bagi
phlebotomist untuk tahu bahwa
pencemaran telah terjadi ketika
melakukan test di laboratorium.
Ini bisa membuat hasil dalam
pelaporan menjadi tidak absah yang
berpengaruh buruk terhadap pasien
.BSI ( Blood Stream Infection)
Bacteraemia
TRANSIEN
INTERMITEN
CONTINUOUS/
PERSISTEN
Klasifikasi bakterimia yang umum
digunakan menjadi 3 kategori
• transien (bakteremia berlangsung dalam waktu singkat
• intermiten (bakteremia berulang seperti abses,
radang paru-paru, atau infeksi tulang, diikuti dengan membersihkan bakteri itu dari aliran darah
• Bakteremia persisten juga dapat terjadi sebagai
bagian dari proses infeksi demam tifoid, brucellosis, dan meningitis bakteri. Jika tidak diobati, kondisi
yang menyebabkan bakteremia persisten dapat berakibat fatal
Pengumpulan Spesimenn
• endokarditis
• bakteremia / jamur
• Sebelum terapi antimikroba
• Tiga set kultur darah dengan volume maksimum
yang diambil
• pada hari 1 Dua set harus diambil secara
berurutan, dan
• set ketiga dapat diambil satu jam kemudian atau
lebih
Alat dan Bahan
• Consumables:
• Sterile gloves
• Sterile syringe / needle (10-20 mL)
• 10% iodophor solution
• 70% alcohol swab
• Aerobic and anaerobic blood culture
• bottles containing appropriate broth
Metode Pengambilan darah
• Usap sisa yodium dengan alkohol
• Desinfeksi septum botol kultur dengan
• 70% alkohol
• Lakukan venipuncture tanpa palpasi ulang
• Tarik jumlah darah yang cukup
• Lepaskan tourniquet
• Tarik jarum dari tempat tusukan
Pengumpulan Darah
• Jumlah botol sangat penting
• volume: 30 mL → 2 set (= 40 mL)
• Sebelum pemberian antibiotik
• Pengambilan/penarikkan semua sampel
darah sekaligus
• Dua tusukan di dua lokasi
• Pertahankan pada suhu kamar saat
inkubasi langsung tidak dimungkinkan
Pengumpulan darah…
• Volume:
– Neonatus hingga 1 tahun: 0,5-1,5 ml / tabung
– Anak-anak 1 hingga 6 tahun: 1 ml per tahun, dibagi antara dua kultur darah
– Anak-anak dengan berat 15-40 kg: 10-20
ml, dibagi antara dua kultur darah
Anak-anak dan orang dewasa dengan
berat> 40 kg: 30-40 ml, dibagi antara dua
kultur darah
Pengiriman dan penyimpanan
• Segera kirim ke laboratorium
• Jika ditunda, jangan di suhu refrigerator
Tunggu sebentar suhu kamar atau 35-37 ° C,
maksimum 24 jam
Spesimen SWAB
Spesimen Mikrobiologi
( ; Molekuler Mikrobiologi )1.Why preserve spesimen
bacterial cultures ?
2. Types of spesimen mikrobiologi
- Procedure for specific organisms
dan Persyaratan umum
• sangat rentan terhadap perubahan
lingkungan
• dapat mudah terkontaminasi
• dapat mudah mengalami perubahan
• kematian
1. Why preserve spesimen bacterial
cultures ?
• Jenis spesimen tepat
• Waktu pengumpulan spesimen tepat
• Volume cukup Penyimpanan dan transportasi
yang baik
• Pemeriksaan yang benar dan tepat Media
transport
• Sebelum pemberian antibiotika / bebas
antibiotika ± 3 hari
• Bakteri anaerob: kontak dengan oksigen (-)
Jumlah mikroorganisme hidup saat
kultur harus cukup?
Pemeriksaan Mikrobiologi
Mikroskopis Mikroskopis Deteksi Antigen Kultur/DST Deteksi Antibodi Deteksi asam nukleat (RNA/DNA) Spesimen yang baik• Darah
• Cairan Tubuh Steril lainnya
• Urin
• Faeces
• Genital spesimen
• Usap luka/pus
• Saluran Pernapasan Atas
dan Sal.Napas
Bawah
• Bersihkan permukaan luka ( eksudat yang
mengering dan kotoran ) dengan kain kasa steril yang dibasahi aquadest
• Bersihkan eksudat
• Buat apusan dari dasar dan tepi luka menggunakan
lidi kapas steril
• Masukkan dalam media transport aerob
• Jangan melakukan permintaan pemeriksaan biakan
aerob pada luka/abses terbuka
• Cara Biopsi ( jaringan, luka diambil sedikit), Aspirasi (
disedot untuk bisul yang tertutup) dan Swab
• Anaerob ( biopsi dan aspirasi) • Aspirasi untuk:
– Abses tertutup
– Luka dengan cairan yang tertutup
• Swab :
– Pus di luar dibersihkan dengan swab yg telah dicelupkan ke
dalam NaCL steril , dengan swab baru dibuat usapan dari dasar ulkus
• Tidak dianjurkan mengambil pus yang berasal dari
drain
Pengiriman spesimen Pus / usap
luka
Spesimen dikirim dalam 2 jam
Jika tertunda dalam media transport
Perlu spesimen Genital swab
Gambaran Klinis
Urethritis
Cervicitis
Vaginitis
Genital ulcery
VAGINAL SWAB
CERVICAL SWAB
Urethral swab
Future
Untuk meningkatkan sensitivitas dan
spesifisitas
teknik amplifikasi DNA
Satu (diambil sendiri oleh pasien)
SWAB untuk Gonore, Chlamydia dan
USAP Nasofaring
Tilt head backwards Insert flexible fine-shafted polyester
swab into nostril and back to nasopharynx Leave in place a few seconds
Withdraw slowly; rotating motion
Mencoba untuk….
a. Identifikasi
b. Monitor
c. Evaluasi
d. Tingkatkan praktik
Acuan * Institut Standar Laboratorium
Klinik (CLSI) www.clsi.org
QA ( Quality
Assurance)
a. Mengacu pada serangkaian prosedur
standar.
b. Dilakukan oleh staf laboratorium untuk
pemantauan terus menerus dan segera
tindakan korektif
c. Hasil yang dikeluarkan oleh laboratorium
harus andal dan akurat,
d. Memperhatikan metodologi yang akan
dirilis.
Internal Quality
Control (ICQ)
a. Mengacu pada evaluasi rutin
kinerja laboratorium dalam kaitannya
dibandingkan dengan laboratorium lain
dengan metode sama.
a. Membutuhkan spesimen eksternal dan
evaluasi hasil yang dilakukan secara
berkala
External Quality
Control (EQC)
Ketentuan tentang warna dan penandaan wadah sampah rumah sakit
1. Infeksius : Kuning lambang biohazard
2. Radioaktif : Merah, lambang radioaktif
hitam
3. Citotoksis : Ungu, bahan citotoksis hitam
4. Umum : Hitam “Domestik” warna putih
Sampah berbentuk benda tajam ditampung dalam wadah kuat/tahan benda tajam
sebelum dimasukkan ke dalam kantong yang sesuai dengan katagori jenis sampah