Edisi 33 : Juli - September 2012
K a b a r I t a h
Editorial
Baru-baru ini kami dikabarkan bahwa mitra perusahaan untuk proyek eksplorasi di Jelai memutuskan untuk mengakhiri kerjasamanya.Terlepas dari banyak hal lain, keputusan ini dikhawatirkan berdampak pada masyarakat dampingan YTS: per-tama, akan ada pengurangan sekitar 40 karyawan lokal yang sebelumnya bekerja sebagai kru eksplorasi; dan kedua, pendanaan untuk kegiatan pemberdayaan YTS akan dihentikan. Kurang lebih 113 keluarga telah mendapat manfaat dari dukungan teknis budidaya sayur, ikan, dan karet selama ini. Kami juga mendukung penguatan lembaga pembangunan berbasis masyarakat, dan memperkuat hubungan dengan layanan pemerintah, termasuk puskesmas setempat.
Situasi ini mengundang pertanyaan penting tentang bagaimana tanggung jawab perusaahan terhadap masyara-kat yang selama ini mendapat man-faat langsung dari keberadaan dan kegiatan perusahaan? Di perusahaan tambang aktif, sejak awal sudah ada langkah persiapan terhadap dampak pasca penutupan tambang. Biasanya masyarakat mendapat dana abadi dan rencana pembangunan untuk mem-bantu mereka melalui masa peralihan. Hal semacam ini tidak pernah diper-timbangkan dalam dunia eksplorasi, karena sifatnya adalah kegiatan jangka pendek. Kemungkinan menjadi tambang yang sebenarnya masih san-gat kecil. Dengan tingginya biaya dan resiko bisnis ini, mungkin sangat logis jika tidak ada pertimbangan lebih jauh setelah eksplorasi berhenti.
Namun demikian, kenyataan ini men-jadi tantangan bagi YTS, karena kami memiliki komitmen jangka panjang untuk pembangunan masyarakat yang berkelanjutan. Dalam kasus di Jelai, kami hanya bisa berharap akan ada jalan keluar bagi masalah yang ada.
Bardolf Paul
Semangat Masyarakat Menimba Ilmu
tentang Cuka Kayu di Bukit Batu
Sejak bulan September di keca-matan Bukit Batu, YTS kembali melanjutkan dampingan ke tahap tiga dalam proses produksi biochar – yaitu pembuatan ‘cuka kayu’, yang merupakan produk yang ber-nilai dan bermanfaat.
Cuka Kayu ini sendiri masih baru bagi masyarakat; bentuknya berupa cairan coklat dengan aroma yang khas, yang didapat dari penyuling-an uap pembakarpenyuling-an biochar. Kegunaannya bermacam-macam, termasuk untuk pupuk dan merang-sang pertumbuhan sayur, tumbuh-an dtumbuh-an pepohontumbuh-an. Cuka kayu juga bisa membantu memperkuat akar dan dedaunan, serta berfungsi sebagai pestisida alami.
Umumnya, dibutuhkan sekelompok orang untuk membuat cuka kayu karena prosesnya melibatkan kerja
berat seperti mengumpulkan kayu dan menggali lubang pembakaran di tanah. Proses pengolahannya cukup kompleks dan panjang – dibutuhkan rata-rata sekitar 14-15 jam, dimana pohon berdiameter 5-10 sentimeter dipotong-potong menjadi 70 cm kemudian dibelah. Anggota KPP membuat lubang pembakaran dan melapisi dasar dan sisinya dengan batu bata. Ke-mudian, cerobong didirikan di ba-gian belakang lubang pembakaran dengan sudut tertentu, sementara ujung cerobong dan seluruh rongga ditutup dengan ranting dan minyak tanah, setelah sebelumnya kayu dimasukkan ke dalam cerobong un-tuk dibakar, dengan sedikit ventilasi di bagian depan.
Selanjutnya, pembakaran dimulai dan kayu dalam cerobong dimasak Ibu-ibu di Kelurahan Tumbang Tahai belajar membuat cuka kayu untuk keperluan pertanian dari Tenaga Ahli lokal, Hero (ketiga dari kiri)
tempat belajar bagi anggota kelompok, di mana mereka mempraktekkan apa yang dipelajari dari pelatihan. Baru-baru ini, ikan dari kolam dipantau tumbuh dengan baik dan bulan ini tahap kedua pelatihan difokus-kan pada pemeliharaan dan padifokus-kan, serta cara membuat keramba apung.
Di bulan Agustus, kami juga memulai pro-gram dukungan teknis budidaya karet. YTS membawa anggota KPP dari Bunau dan Ter-indak dalam studi banding ke desa tetangga di Berau. KPP bertemu dengan petani karet yang sudah berhasil di kecamatan Kelay, yang berhasil mengembangkan berbagai jenis bibit karet, termasuk PB 260 dan PB 340. Semua bibit tersebut telah mendapat sertifikasi dari Pusat Penelitian Karet di Salatiga. Kunjungan awal ini diharapkan bisa memotivasi anggota KPP untuk menanam karet pertama kali. Tahap pertama pelatihan ini akan selesai di akhir bulan September.
Selain itu, YTS juga membantu menggalakkan perawatan kesehatan untuk ibu dan anak yang tinggal di sekitar kamp eksplorasi Jelai. Karena masyarakat di tempat ini sulit mengakses layanan kesehatan setempat, saat ini kami mengadakan kunjungan bulanan dari pekerja ke-sehatan yang bertanggung jawab untuk program posy-andu. Program ini dimaksudkan untuk mengurangi tingkat kurang gizi balita. Sejak bulan Juli, sekelompok ibu-ibu diberi pelatihan tentang bagaimana menyiapkan makanan sehat dan bergizi bagi anak-anak. Di bulan Agustus, kegiatan monitoring pertumbuhan anak juga dilanjutkan dengan pemberian vitamin A gratis untuk balita. Kunjung-an bulKunjung-anKunjung-an ini sekarKunjung-ang menjadi bagiKunjung-an dari program penanganan kesehatan dari pemerintah, dan memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat dampingan kami.
Melanjutkan sukses mendampingi penguatan kapasitas dalam usaha skala kecil di Bukit Batu tahun lalu, kini kami mencoba program yang sama di tiga kecamatan dampingan kami di Kahayan. Paket Pendidikan Dasar CU sudah terlaksana di tujuh desa, dua hari di masing-masing desa di Kecamatan Damang Batu, dan akan segara diadakan di Miri Manasa dan Kahayan Hulu Utara. Pelatihan tahap awal ini diadakan langsung oleh Credit Union Betang Asi, dan dimaksudkan untuk memberi pemahaman kepada masyarakat tentang prak-tek manajemen keuangan tingkat dasar. Para peserta belajar mengelola uang dengan efektif, dan juga belajar membuat rencana keuangan.
Di bulan Agustus, tiga pelatihan diadakan selama enam hari di Mahuroi, yaitu desa terdekat dengan kamp eksplorasi KSK. Tujuh puluh lima peserta yang ikut pelatihan langsung mendaftar menjadi anggota Credit Union, dan mulai mengakses tabungan dan pinjaman. Ini merupakan tahap pertama dalam program
penguat-an kapasitas ypenguat-ang kami selenggarakpenguat-an, ypenguat-ang selpenguat-anjut- selanjut-nya diikuti pelatihan usaha skala kecil di tahun 2013. Tahun ini, YTS juga memberikan dukungan teknis lain untuk mengembangkan usaha skala kecil masyarakat dalam bentuk ‘camp supply program’. YTS meng-hubungkan tujuh desa dampingan di Damang Batu se-cara langsung dengan perusahaan eksplorasi KSK. Pe-rusahaan akan memberikan input yang memadai agar KPP bisa membudidayakan ikan dan panen pada akhir tahun, dengan syarat bagi hasil produksi. Program ini adalah bagian dari komitmen perusahaan untuk sedapat mungkin membeli hasil lokal dan adalah keluaran positif dari pelatihan budidaya ikan yang diberikan dari tahun 2011 hingga 2012. Kesempatan ini, dimana petani ikan di desa menjadi supplier bagi pasar yang lebih besar, akan membawa manfaat baik bagi masyarakat maupun KSK. Dengan cara ini, kami bekerja dengan kepastian bahwa masyarakat akan mendapat manfaat yang ber-lanjut dari program eksplorasi mineral yang ada. Selama triwulan ketiga ini, kami meningkatkan intensitas
dukungan teknis untuk kegiatan budidaya yang sedang berjalan di Kalimantan timur. Tiga tahap pelatihan sayur sudah diselesaikan, dan sejauh ini KPP sudah berhasil panen kangkung, sawi, timun, pare dan kacang. Tana-man lain yang akan segera dipanen adalah tomat, terong dan bayam. Sayur yang dipanen kini dijual di pasar Sekatak, tetapi ada juga pembeli yang langsung datang ke kebun desa. Semua hasil penjualan dari pelatihan ini dimasukkan ke tabungan kelompok. Sangat menyenang-kan melihat para anggota KPP juga mulai membuat ke-bun kecil-kecilan di rumah mereka masing-masing untuk konsumsi rumah tangga.
YTS juga memberikan dukungan teknis untuk budidaya ikan di tiga desa proyek yaitu Bunau, Terindak dan Teng-giling. Di bulan Juli, tahap pertama pelatihan difokuskan pada persiapan kolam lele, dan setiap kolam kelompok diisi dengan lima ratus bibit ikan lele. Kolam ini menjadi
Program Mata Pencaharian meningkat di Proyek Jelai
Kebun sayur milik KPP di Bunau, siap untuk dipanen
Lokakarya monitoring triwulan ketiga kali ini dirancang untuk mengulas perkembangan Governance Project yang dilakukan YTS, dengan menekankan pada pembelajaran yang didapat dari keterlibatan setiap pihak dalam proyek ini. Proses pembelajaran dimulai di tingkat individu, kemudian dilanjutkan dalam kelompok dengan melihat tujuan tata kelola pemerintahan sesuai dengan pekerjaan mereka dan bagaimana pengalaman tersebut membawa kontribusi positif terhadap tujuan proyek di kemudian hari.
Sejumlah 20 orang peserta menghadiri lokakarya ini, yang berasal dari lima dinas pemerintah dan juga camat, ditambah lagi 24 peserta lainnya yang merupakan masyarakat dari enam desa percontohan. Pada awal acara, beberapa peserta nampak kurang percaya diri karena masih baru dalam proyek ini. Na-mun di akhir acara mereka mengakui menikmati semua sesi yang disajikan dan senang bisa memberikan par-tisipasi yang sama dengan pihak lain yang sudah lebih dulu terlibat. Metodologi lokakarya ini dirancang untuk
memampukan para pesertanya memberikan kontribusi yang setara dalam setiap sesi acara.
Berikut kesaksian dari salah seorang peserta:
“Saya mendapat banyak pengalaman dari lokakarya ini. Sebagai orang baru, saya sebetulnya agak kurang yakin dan berpikir acaranya nanti akan monoton dan biasa-biasa saja. Tapi dari awal sampai akhir, saya lihat pelaksanaannya sangat interaktif, dan sesuai meskipn latar belakang peserta berbeda-beda. Misalnya, saya sangat suka dengan cara fasilitator mengumpulkan masukan dari peserta untuk menyusun definisi dan karakteristik monitoring, evaluasi dan pembelajaran. Hasil dari sesi pagi kemudian jadi referensi kami untuk sesi siang, ketika kami berdiskusi dalam kelompok. Ini membuat kami merasa masukan yang kami berikan berharga dan kami mendapatkan lebih dari sekedar pengetahuan. Saya sekarang tertarik untuk lebih terlibat dalam proyek ini.”
(Ibu Misnawati – Dinas Kesehatan) Sekretaris Daerah, Bpk. Ir. Kamiar
mem-buka acara ini, yang berjalan dengan mu-lus berkat kerja sama panitia yang terdiri atas YTS, Bappeda, dan BPMPD-KB. Peserta yang datang lebih banyak dari yang diharapkan, karena semua camat dan kepala dinas dan badan yang diun-dang bisa hadir di acara ini. Meskipun terlaksana satu jam lebih lambat dari jadwal, tidak ada peserta yang mengeluh atau meninggalkan acara.
Presentasi disajikan secara interaktif dan langsung oleh tiga orang pembicara: Dalam presentasi pertama, konsultan Nandang Suherman berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang prinsip dasar desentralisasi fiskal di desa, serta ideologi di balik Alokasi Dana Desa (ADD) dan pembelajaran dari praktek terbaik yang dilakukan di Sumedang, Jawa Barat.
Dalam presentasi kedua, Kepala Bappeda mengangkat tentang kebijakan desentralisasi fiskal pagu indikatif terkait dengan ADD. Beliau menyarankan agar ke depan, pagu indikatif bisa dikonversikan menjadi ADD yang lebih besar, asalkan kapasitas dan sistem alirannya diperbaiki. Ketiga, Kepala BPMPD-KB angkat bicara tentang perba-ikan kebijakan ADD dan usul insentif/honorarium bagi staf desa dalam rekening terpisah. Hal ini dimaksudkan agar penggunaan ADD lebih akuntabel. Sekretaris Badan Pengelolaan Aset dan Keuangan Daerah kemudian mem-berikan presentasi pendek di akhir acara. Beliau bicara tentang prosedur pencairan ADDyang berlaku saat ini. Tanggapan dari para peserta sangat positif. Salah seorang peserta memberikan masukan yang cukup pan-jang tentang perumusan kembali ADD dan bagaimana
Staf pemerintah dari Kabupaten Gunung Mas berbagi gagasan tentang bagaimana memperbaiki kebijakan anggaran kabupaten
Lokakarya Revitalisasi Alokasi Dana Desa
Lokakarya Kahayan Governance Project membawa Pembelajaran Baru
meningkatkannya dengan membuat mekanisme kontrol yang lebih baik. Gagasan ini sangat sangat menonjol dan menarik perhatian peserta lainnya.Berikutnya, ada tiga hal yang direkomendasikan dari kegiatan ini:
1. Membentuk tim perumus memorandum kesepakatan yang diajukan kepada Bupati terkait revitalisasi ADD. 2. Badan Perencanaan dan Pemberdayaan Masyarakat
akan merumuskan skema penguatan kapasitas untuk Sekretaris Desa, terutama terkait dengan pengelolaan Alokasi Dana Desa.
3. YTS diminta untuk memperluas dukungan penguatan kapasitasnya ke desa-desa dan kecamatan lainnya, terutama dalam melengkapi Anggaran Tahunan dan proposal ADD.
Mitra dana YTS, Blacksmith Institute, telah melakukan inventarisasi lokasi-lokasi beracun di dunia; terutama yang berasal dari polusi logam berat. Di Indonesia, basis data yang mereka hasilkan menunjukkan bahwa raksa adalah polutan utama dengan resiko bahaya hingga 500.000 orang. Karena itu, kontaminasi raksa akibat kegiatan tambang tradisional menjadi masalah lingkungan utama bagi Indonesia.
Dalam enam tahun terakhir, YTS secara kontinyu mendistribusikan peralatan daur ulang raksa ke toko emas dan penambang. Program air raksa ini mencakup tujuh kecamatan di Kalimantan Tengah dan telah mengurangi ancaman kontaminasi raksa di pemukiman masyarakat, desa dan kota. Retort dan
kondensor yang didistribusikan sampai saat ini sudah berhasil menangkap 1.000 kg uap raksa setiap bulan, yang sebelumnya terlepas begitu saja. Advokasi UNEP terhadap perdagangan raksa internasional kini membuat raksa semakin sulit diperoleh. Karena itu, YTS telah memulai penelitian tindakan untuk mencari cara agar para penambang tidak menggunakan raksa. Kami sudah men-demonstrasikan teknik pengolahan emas bebas raksa kepada para penambang; antara lain menggunakan metode separa-si gravitasepara-si, dan teknologi meja goyang Selain itu, kami juga menyusun panduan untuk Dinas Lingkungan Hidup, bekerja sama dengan Blacksmith Institute. Kami sudah menyelenggarakan beberapa kegiatan training-of-trainer untuk
menun-jukkan kepada pemerintah dan lembaga lain bagaimana melakukan intervensi serupa; dan kami juga mengada-kan seminar kesehatan untuk mengedukasi masyarakat tentang bahaya raksa terhadap lingkungan.
Tumbuh Sehat Bebas Raksa adalah tema
kampanye kesehatan kami: media dirancang untuk menginformasikan pada ibu dan anak-anak tentang bahaya air raksa. Kami ingin menyebarkan pesan ini seluas mungkin; sebab banyak tempat di Indonesia akan terancam jika tidak ada upaya untuk mencegahnya. Hubungi kami di [email protected] jika anda tertarik menerima bahan media dari kami dan ingin menyebarkan pesan ini bagi masyarakat di sekitar anda.
Siswa SD di Palangka Raya antusias mendengar tentang bahaya air raksa dalam kampanye penyadaran masyarakat oleh YTS di sekolah mereka
Tumbuh Sehat Bebas Air Raksa!
Tanggal 16 Agustus, YTS memfasilitasi pertemuan informasi publik antara perusahaan, PT KSK dan 10 LSM lokal, termasuk WWF. Dua perwakilan masyara-kat Dayak dari desa demasyara-kat area eksplorasi juga am-bil bagian, salah satunya adalah Bue Sumbin, tetua masyarakat Dayak yang sudah lama bekerja bersama direktur KSK, Mansur Geiger, ketika beliau pertama kali mulai eksplorasi mineral di Kalimantan.
Pertemuan berlangsung sekitar lima jam, diselimuti atmosfir yang ringan, terbuka dan jujur. Setelah pem-bacaan doa dan pembukaan oleh Jefferson Dau, warga Dayak yang juga Wakil Presiden Direktur KSK, Mansur Geiger mempresentasikan status kegiatan eksplorasi, dan hubungan perusahaan dengan mitra joint venture-nya, yaitu Freeport-McMoran dari Amerika.
Sebagian besar peserta menyatakan kekhawatiran mereka dengan mitra joint venture perusahaan, karena reputasi tambang Grasberg yang buruk di Papua Barat. Mansur kemudian meyakinkan bahwa KSK bertanggung jawab penuh atas semua kegiatan, dan perusahaan akan mengikuti standar tertinggi dalam ketenagakerjaan, pelestarian lingkungan dan program
pertanggungjawaban sosialnya kepada masyarakat. Baru-baru ini, kami sudah maju dengan mendukung mata pencaharian masyarakat, mendorong desa ter-dekat dengan lokasi kamp untuk menyuplai sayur dan ikan segar bagi 300 karyawan kamp. Perusahaan ingin memastikan masyarakat yang terdekat dengan lokasi operasinya paling diuntungkan dalam hal ketenagaker-jaan dan kesempatan di bidang ekonomi lainnya. Kekhawatiran lain adalah tentang dampak tambang terhadap areal lingkungan yang sensitif. Ada banyak nilai konservasi tinggi di area tersebut, terutama daerah aliran sungai. Mansur kembali meyakinkan bahwa peru-sahaan akan menghormati nilai lingkungan dan konser-vasi. Selama eksplorasi, hanya sedikit pohon ditebang, karena kayu dibeli dari sumber berijin di luar area. Lo-kasi eksplorasi akan ditanam kembali dengan spesies lokal segera setelah kegiatan pengeboran selesai. Di akhir pertemuan, perusahaan berjanji untuk menginformasikan kepada masyarakat secara teratur tentang kegiatan mereka, dan berusaha mengadakan pertemuan serupa dari waktu ke waktu.
Akhir September, YTS mendampingi masyarakat Tum-bang Marikoi dalam proses analisis dan perencanaan intensif yang kami sebut dengan CLAP, atau Community-Led Analysis and Planning.
Proses ini menandai awal pendampingan kami di Marikoi secara resmi, dan memberi pemahaman mendalam akan dinamika sosial, budaya dan ekonomi masyarakatnya. Proses ini juga memberikan pandangan tentang hubun-gan masyarakat dan lingkunhubun-gan sekitar, karena mereka masih sangat tergantung dengan sumber daya alam untuk mata pencaharian.
Kegiatan YTS ini didanai oleh PT Kalimantan Surya Ken-cana (KSK) sebagai bagian dari Pertanggungjawaban Sosial Perusahaan, mengingat lokasi Tumbang Marikoi yang relatif dekat dengan lokasi kegiatan KSK. Dengan Marikoi jumlah desa dampingan KSK kini menjadi 20. Pertama, YTS mengadakan pelatihan selama dua hari tentang metodologi YTS bagi delapan
wakil masyarakat – 4 laki-laki dan 4 perempuan – yang kemudian men-jadi orang kunci yang membantu YTS memfasilitasi proses CLAP di desa. CLAP kemudian dilaksanakan selama empat hari dan menjadi periode pem-belajaran baik bagi masyarakat mau-pun staf YTS. Di Marikoi, cukup banyak tantangan signifikan. Pertama, Tum-bang Marikoi adalah kelurahan yang sangat besar dengan 1200 penduduk dari 291 kepala keluarga. Jumlah ini kurang lebih tiga kali kepadatan desa yang umumnya kami dampingi. Kedua, topografi wilayahnya sangat berbukit dan berliku, sehingga butuh upaya gigih untuk mengelilinginya, terutama di daerah curam, di mana masyarakat berladang dan menanam karet. Mata pencaharian di desa ini bera-gam, meliputi ternak, tani, kebun dan
tambang tradisional. Tambang tradisional akhir-akhir ini menjadi mata pencaharian penting meskipun merusak lingkungan. Sebelumnya, mereka mengumpulkan rotan untuk dijual atau dibuat kerajinan, tetapi kini tidak lagi, dan lahan rotan berubah menjadi kebun karet atau sawit. Masalah utama mata pencaharian masyarakat desa ini adalah kurangnya keterampilan dan modal. Harga karet yang merosot baru-baru ini memaksa masyarakat mencari pekerjaan sampingan untuk memenuhi kebutu-han sehari-hari. Tambang tradisional kemudian menjadi andalan mata pencaharian bagi mereka.
Proses perencanaan dan akses layanan pemerintah di Marikoi masih sulit dipahami. Salah satu tujuan CLAP adalah menjawab kebutuhan ini, karena di akhir proses empat hari tersebut masyarakat bisa mengidentifikasi ke-butuhan dan prioritas dalam rencana pembangunan yang mereka susun, yang memampukan mereka tersambung langsung dengan program dan layanan pemerintah.
CLAP di Tumbang Marikoi
Masyarakat Tumbang Marikoi melakukan analisis kalender musim untuk mengidentifikasi dampak faktor musim terhadap kegai-tan mata pencaharian dan aspek lainnya
Tumbang Marikoi memiliki penduduk yang lebih padat dan area yang lebih luas daripada desa-desa lain di hulu Kahayan dan berubah menjadi biochar. Asap diarahkan melalui cero-bong asap baja yang kemudian terpadatkan di ulir-ulir besi yang ditempatkan di atas cerobong. Cairan dari kondensasi inilah yang disebut cuka kayu, yang menetes melalui tutup besi ke dalam penampung plastik yang diletakkan di bawahnya.
Meskipun hasil prosesnya masih bervariasi dan pasar produk ini masih baru, masyarakat Bukit Batu tidak segan berupaya untuk mengumpulkannya baik untuk keperluan sendiri atau dijual.
Villagers ...
Konferensi GHFP
Konferensi ‘Sustainability, Governance, and Human-Centred
Development’ akan diselenggarakan di Rungan Sari 18-19 April 2013.
Pelatihan dari SDM
Pada bulan Oktober, staf YTS mendapat pelatihan selama empat hari tentang ‘Time & Project Management’. Ini merupakan bagian dari rangkaian pelatihan untuk meningkatkan kapasitas staf YTS.
Pindah Kantor
Sejak tanggal 1 September, YTS dan KSK pindah ke kantor baru, Jl. Rajawali VII, Srikandi III No. 100 Bukit Tunggal, Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Nomor telepon dan fax tetap seperti semula.
Kilas Berita
YTS bekerja sama dengan Guerrand Hermes Foundation for Peace, akan mengadakan konferensi di Kalimantan Tengah tentang ‘Sustainability,
Governance, and Human-Centred Development’ atau ‘Keberlanjutan, Tata
Kelola Pemerintahan dan Pembangunan yang Berpusat pada Manusia’. Sebagai persiapan, kami mengundang wakil masyarakat Kalteng untuk berdiskusi dan mendefinisikan konsep ‘pembangunan yang berpusat pada manusia’ dan apa artinya jika diterapkan di propinsi ini.
Selama satu setengah hari, 15 orang berkumpul untuk berbagi pikiran, perasaan dan pengalaman, mengidentifikasi karakteristik utama pem-bangun konsep pempem-bangunan di Kalteng. Selama diskusi, tiga elemen selalu muncul: pertama, pembangunan harus menghormati dan beradap-tasi terhadap budaya setempat; kedua, masyarakat harus menjadi pusat pengambilan keputusan dalam pembangunan; dan ketiga, informasi harus jelas dan tidak kabur, serta bisa diakses semua orang dengan bebas. Berikut beberapa komentar dari acara tersebut:
“Untuk menjalankan pembangunan yang berpusat pada manusia, tujuan
akhir dari pembangunan harus datang dari masyarakat itu sendiri.” “Pembangunan semacam ini butuh kondisi di mana manusia adalah subyek, bukan obyek. Ia harus memanusiakan dan memberdayakan masyarakat, tidak menciptakan ketergantungan seperti yang umumnya terjadi pada program pemerintah.”
“Pembangunan harus menghormati tradisi dan identitas lokal. Sering terjadi konflik ketika misalnya dengan perusahaan kayu, masyarakat ingin pakai cara dan alat tradisional sementara menurut perusahaan itu tidak efisien.”
Peserta seminar mendiskusikan masalah utama dalam implementasi pembangunan yang berpusat pada manusia di Kalimantan Tengah
Seminar Human-Centred Development mengangkat Masalah Penting
“Agar masyarakat tidak hanya jadi objek pembangunan, kita perlu pendekatan partisipatif menyeluruh, baik dalam pelak-sanaan, evaluasi, dan perencanaan. Pendekatan ini perlu waktu yang lebih lama, sementara lembaga seperti UNDP butuh hasil cepat dan sepertinya masih be-lum mengerti kebutuhan untuk partisipatif.”
YTS dan GHFP sangat senang bahwa semua pihak terlibat dengan bebas dan mengungkapkan perasaan dan gagasan mereka. Banyak yang menyatakan bahwa ini merupakan pengalaman yang berharga dan mereka menantikan konferensi yang akan datang.
Agenda
Diterbitkan oleh:
Yayasan Tambuhak Sinta Jl. Rajawali VII, Srikandi III No. 100 Bukit Tunggal, Palangka Raya 73112 Kalimantan Tengah-Indonesia Telp. +62 (0536) 3237184 Fax. +62 (0536) 3229187 Email: [email protected] Website: www.tambuhaksinta.com Rekening Bank:
Yayasan Tambuhak Sinta BNI 1946
Cabang Palangka Raya Kalimantan Tengah INDONESIA Nomor 0114981608 Swift: BNINIDJA
Kabar Itah
Kabar Itah adalah media informasi yang diterbitkan setiap triwulan oleh Yayasan Tambuhak Sinta (YTS), afiliasi PT. Kalimantan Surya Kencana (KSK), sebuah perusahaan eksplorasi mineral.
Oktober
Bukit Batu:
Pelatihan Biochar & Bokashi, Pendas Credit Union
Kahayan:
Miri Manasa: Pelatihan Karet tahap V, Pelatihan Babi tahap II, dan Pelatihan Ikan tahap I; Distribusi Ikan
Governance Project:
Pelaporan akhir
Jelai:
Pelatihan Karet tahap II, monitoring kelompok ikan dan karet, Posyandu Pelatihan Staff “Time & Project Management”
Nopember
Bukit Batu:
Monitoring penggunaan Biochar & Bokashi; Review Tahunan Desa
Kahayan:
Miri Manasa: Pelatihan Ikan tahap II; Review Tahunan Desa
Jelai:
Monitoring kegiatan KPP; Review Tahunan Desa
December
Bukit Batu:
Review Tahunan Kecamatan; monitoring perkembangan demplot
Kahayan:
Review Tahunan Kecamatan
Jelai:
Review Tahunan Kecamatan; monitoring kegiatan KPP