BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan dunia bisnis dewasa ini cenderung semakin pesat. Tingkat

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Perkembangan dunia bisnis dewasa ini cenderung semakin pesat. Tingkat persaingan yang sudah semakin tinggi menuntut setiap perusahaan agar mampu menerapkan strategi, inovasi dan manajemen yang baik. Apabila perusahaan tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan bisnis (bussiness environment) yang cenderung dinamis dan berubah-ubah maka cepat atau lambat perusahaan tersebut akan kalah bersaing dan akan digantikan oleh perusahaan lain yang lebih peka terhadap perubahan.

Umumnya sektor manufaktur adalah salah satu bidang usaha yang paling banyak digeluti perusahaan. Hal ini disebabkan karena produk dari sektor manufaktur memberikan nilai tukar yang lebih tinggi dibandingkan dengan produk pertanian, menuntut adanya tingkat efisiensi yang tinggi, dan memberikan prospek keuntungan yang besar.

Dalam Bursa Efek Indonesia, klasifikasi industri dibedakan menjadi 3 (tiga) bagian berdasarkan sektor, yaitu sektor primer (ekstraktif), sektor sekunder (industri pengolahan/ manufaktur), dan sektor tersier (industri jasa/ non-manufaktur). Industri manufaktur merupakan industri yang sangat menarik bagi investor untuk menginvestasikan dananya, karena industri manufaktur merupakan sektor usaha yang terus mengalami perkembangan yang cukup signifikan dari tahun ke tahun. Selain itu, investor yang menanamkan dananya ke dalam industri

(2)

manufaktur memiliki jaminan atas dana yang diinvestasikannya yaitu berupa aktiva. Aktiva yang tertanam pada perusahaan memberikan perlindungan kepada para investor, karena kemampuannya untuk menghasilkan laba dan dapat direalisasikan/dijual, sehingga merupakan sumber dana untuk membayar kembali utang beserta bunganya.

Perusahaan didirikan dengan tujuan utama untuk mendapatkan dan meningkatkan profitabilitasnya. Munawir (2004: 33) menyatakan bahwa, “tujuan yang paling mendasar dari operasi perusahaan adalah perusahaan harus memperoleh laba yang besar”. Agar mampu mencapai tujuan tersebut perusahaan harus menerapkan strategi atau kebijakan yang tepat. Warsono (2003 : 37), mendefinisikan “profitabilitas sebagai kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva, maupun modal sendiri”.

Krisis ekonomi yang berawal dari tahun 1997/1998 yang mengakibatkan merosotnya nilai tukar rupiah terhadap US$ yaitu secara riil sekitar 71,6% berimbas pada peningkatan tajam jumlah hutang yang dimiliki oleh perusahaan Indonesia yang pada saat itu banyak melakukan pendanaan modal asing. Hal ini berpengaruh terhadap struktur modal perusahaan dimana rasio hutangnya menjadi sangat tinggi. Selain itu, suku bunga yang meningkat, inflasi yang sangat tinggi, dan pertumbuhan ekonomi yang minus 4% menambah kemerosotan yang tajam pada perusahaan-perusahaan di Indonesia. Perusahaan pada saat itu umumnya mengalami penurunan profitabilitas sementara jumlah hutang yang harus dibayar mengalami peningkatan.

(3)

Dampak krisis ekonomi 1997/1998 juga sangat mempengaruhi kondisi perusahaan manufaktur di Indonesia. Krisis tersebut menyebabkan kemerosotan pada industri manufaktur. Menurut Mayangsari (2001:1) berdasarkan hasil penelitiannya terhadap perusahaan manufaktur di Indonesia bahwa salah satu penyebab meradangnya perusahaan-perusahaan di Indonesia pada saat terjadi krisis adalah pada umumnya perusahaan dalam memenuhi kebutuhan modalnya tanpa pertimbangan sehingga aktivitas-aktivitas yang seharusnya didanai dengan utang jangka panjang justru didanai dengan utang jangka pendek demikian pula sebaliknya. Sehingga pada saat itu banyak perusahaan yang mengalami kebangkrutan.

Kondisi krisis saat itu menuntut setiap perusahaan menerapkan kebijakan strategis agar dapat bertahan hingga saat ini. Kebijakan ini terutama menyangkut bagaimana pemenuhan dana dengan tepat dan efisien bagi perusahaan. Perusahaan harus menerapkan manajemen keuangan yang baik guna memperoleh sumber keuangan/ modal yang maksimal dan menggunakannya seefektif, seefisien, dan seproduktif mungkin untuk menghasilkan laba. Salah satu langkah konkrit yang dapat ditempuh oleh setiap perusahaan adalah melakukan perencanaan target laba dan struktur modal yang ideal.

Menurut Arifin (2005:77) struktur modal merupakan “kombinasi hutang dan ekuitas dalam struktur keuangan jangka panjang perusahaan. Struktur modal lebih tepat dalam menggambarkan target komposisi hutang dan ekuitas jangka panjang perusahaan dibandingkan dengan debt ratio atau leverage ratio yang hanya menggambarkan ratio utang dan ekuitas pada satu saat tertentu”. Menurut

(4)

teori struktur modal, porsi hutang yang optimal terjadi pada struktur modal yang optimal yaitu posisi dimana risiko yang ditanggung perusahaan akibat penggunaan hutang sama dengan return yang diterima dari penggunaan hutang tersebut. Apabila posisi struktur modal berada diatas target struktur modal yang optimal, maka setiap penambahan hutang akan menurunkan nilai perusahaan dan sebaliknya.

Kebijakan struktur modal melibatkan perimbangan (trade-off) antara resiko dan tingkat pengembalian. “Perusahaan yang menggunakan lebih banyak hutang berarti memperbesar resiko yang ditanggung oleh pemegang saham serta memperbesar tingkat pengembalian investasi” ( Brigham, dkk, 2001 : 5). Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa tingkat profitabilitas tidak terlepas dari kebijakan struktur modal perusahaan. “Pemilihan struktur modal yang baik akan meningkatkan profitabilitas” (Sartono, 2001 : 225).

Pengelolaan keuangan perusahaan tidak hanya menyangkut modal saja. Perusahaan juga harus memperhatikan sisi aktiva. Dalam mencapai keseimbangan finansial dalam perusahaan manufaktur, Riyanto (2001 : 13) menyatakan bahwa “bagi perusahaan yang bukan financial corporation, yang diutamakan lebih dahulu adalah masalah penentuan dan susunan aktiva yang diperlukan untuk melaksanakan produksi yang direncanakan”.

Laba bersih erat kaitannya dengan pendapatan usaha. Dimana ketika pendapatan usaha meningkat diharapkan laba usahanya juga meningkat. Kenaikan laba usaha akan meningkatkan laba bersih yang merupakan ukuran tingkat profitabilitas perusahaan. Dikaitkan dengan pengelolaan aktiva, Sawir (2003:17),

(5)

menyatakan bahwa “perusahaan menggunakan aktivanya secara efektif untuk meningkatkan pendapatan”. Perusahaan harus mampu mengelola aktiva yang dimilikinya secara efektif dan efisien guna mencapai profitabilitas yang diharapkan, sehingga perlu diteliti sejauh mana pengaruh kebijakan struktur aktiva terhadap tingkat profitabilitas.

Perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan mengakibatkan manajemen menghadapi dilema untuk memutuskan apakah akan melakukan ekspansi (investasi baru dengan laba ditahan) atau membagikan dividen kepada pemegang saham. Apabila perusahaan memilih untuk membagikan laba sebagai dividen, maka akan mengurangi laba ditahan dan selanjutnya mengurangi total sumber dana intern. Sebaliknya jika perusahaan memilih untuk menahan laba yang diperoleh, maka kemampuan pembentukan dana intern akan semakin besar.

Perusahaan yang sedang mengalami pertumbuhan dan profitable akan memerlukan dana yang cukup besar guna membiayai investasinya, dimana dana yang diperoleh akan diinvestasikan kepada aktiva tetap dan aktiva lancar yang permanen (Sartono, 2001 : 293). Investasi ke aktiva-aktiva ini akan mempengaruhi likuiditas perusahaan yang nantinya juga akan berpengaruh pada kebijakan dividen yang diambil oleh perusahaan. Hal ini disebabkan karena likuiditas merupakan pertimbangan utama dalam banyak kebijakan dividen.

Kebijakan dividen memegang peranan penting dalam meningkatkan nilai perusahaan. Perusahaan yang stabil dalam memberikan dividen merupakan salah satu kriteria penilaian investor untuk memilih melakukan investasi karena perusahaan tersebut umumnya memiliki profitabilitas yang baik disamping

(6)

investor juga akan mendapatkan imbal hasil yang menguntungkan berupa dividen. Namun pemberian dividen yang konsisten juga akan mempengaruhi kemampuan perusahaan dalam melakukan pendanaan dan investasi baru. Jika perusahaan konsisten memberikan dividen maka akan mengurangi kemampuan perusahaan dalam melakukan pendanaan dan investasi. Pendanaan dan investasi yang tidak efisien akan mempengaruhi profitabilitasnya, oleh sebab itu secara tidak langsung kebijakan dividen juga mempengaruhi profitabilitas perusahaan. Melihat keadaan tersebut maka perlu diteliti sejauh mana kebijakan dividen ini berpengaruh terhadap profitabilitas perusahaan.

Hasil penelitian terdahulu telah menemukan adanya pengaruh yang positif antara struktur modal dan profitabilitas. Paramu (2006), melakukan penelitian untuk menganalisis bagaimana karakteristik perusahaan (biaya hutang, biaya keagenan, resiko bisnis, ukuran perusahaan, kebijakan dividen, profitabilitas, kepemilikan internal dan kepemilikan eksternal) pada berbagai industri di Indonesia mempengaruhi struktur modal. Hasil penelitian tersebut secara parsial menunjukkan bahwa biaya hutang berpengaruh positif terhadap rasio hutang pada struktur modalnya, dimana dijelaskan bahwa profitabilitas perusahaan mengandung konsekuensi pajak secara proporsional, namun biaya hutang (cost of debt) akan mengurangi jumlah pajak yang dibayarkan.

Andayani (2009), melakukan penelitian tentang pengaruh perputaran modal kerja dan struktur aktiva terhadap tingkat profitabilitas perusahaan yang terdaftar di BEI. Populasi dari penelitian ini adalah perusahaan real estate dan property yang terdaftar di BEI tahun 2005-2007. Berdasarkan hasil uji t (parsial)

(7)

menunjukkan bahwa struktur aktiva (fixed asset to total asset ratio) mempunyai pengaruh negatif yang tidak signifikan terhadap profitabilitas (ROA).

Penelitian mengenai pengaruh kebijakan dividen terhadap profitabilitas masih jarang dilakukan. Penelitian yang berhubungan dilakukan oleh Mayangsari (2001) meneliti pengaruh struktur aset, tingkat pertumbuhan, besaran perusahaan, profitabilitas, operating leverage, dividen pay out ratio dan perubahan modal kerja terhadap sumber pendanaan eksternal yang ditunjukkan dengan tingkat leverage pada perusahaan manufaktur di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel-variabel besaran perusahaan, struktur aset dan perubahan modal kerja berpengaruh positif terhadap pendanaan eksternal perusahaan.

Penelitian ini menggunakan Debt to Equity Ratio untuk melihat bagaimana pengaruh struktur modal terhadap profitabilitas. Penelitian ini juga menggunakan fixed asset to total asset ratio sebagai variabel indikator struktur aktiva dan dividen payout ratio sebagai variabel indikator kebijakan dividen. Penelitian ini merupakan kelanjutan dari penelitian terdahulu, namun penulis menambah satu variabel independen lainnya yaitu dividend payout ratio. Penulis sengaja menggunakan tahun 2010-2011 agar lebih update dan cukup relevan dalam pengambilan keputusan.

Berdasarkan uraian dan hasil penelitian sebelumnya serta permasalahan yang telah dikemukakan, maka penulis tertarik untuk mengangkat penelitian ini dengan judul: “Pengaruh struktur modal, struktur aset, dan kebijakan dividen terhadap profitabilitas pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2010-2011”.

(8)

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan sebelumnya, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Apakah Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh signifikan terhadap Return On Asset (ROA) ?

2. Apakah Fixed Asset to Total Asset Ratio (FATA) berpengaruh signifikan terhadap Return On Asset (ROA) ?

3. Apakah Dividend Payout Ratio (DPR) berpengaruh signifikan terhadap Return On Asset (ROA) ?

1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.3.1. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan pokok permasalahan yang telah dirumuskan sebelumnya, maka tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Menguji pengaruh Debt to Equity Rasio (DER) terhadap Return On Asset (ROA) pada perusahaan manufaktur yang Terdaftar di BEI.

2. Menguji pengaruh Fixed Asset to Total Asset (FATA) terhadap Return On Asset (ROA) pada perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI.

3. Menguji pengaruh Dividend Payout Ratio (DPR) terhadap Return On Asset (ROA) pada perusahaan manufaktur yang Terdaftar di BEI.

4. Menguji pengaruh Debt to Equity Ratio (DER), Fixed Asset to Total Asset (FATA), dan Dividend Payout Ratio (DPR) secara bersama-sama terhadap

(9)

terhadap Return On Asset (ROA) pada perusahaan manufaktur yang Terdaftar di BEI

1.3.2. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Bagi penulis, menambah pengetahuan penulis mengenai pengaruh struktur modal, struktur aset dan kebijakan dividen terhadap profitabilitas perusahaan.

2. Bagi para peneliti lanjutan, diharapkan dapat menjadi referensi bagi penelitian selanjutnya, khususnya penelitian yang berkaitan dengan profitabilitas dengan ruang lingkup yang lebih luas, sehingga hasilnya menjadi lebih sempurna dan dapat diterapkan secara operasional di lapangan.

3. Bagi pihak lain, khususnya praktisi bisnis, memberikan referensi ataupun masukan dalam pengambilan dan penentuan kebijakan yang tepat untuk meningkatkan profitabilitas perusahaan.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :