• Tidak ada hasil yang ditemukan

134 Proposal PKM UNAIR Lolos Seleksi Pendanaan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "134 Proposal PKM UNAIR Lolos Seleksi Pendanaan"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

134 Proposal PKM UNAIR Lolos

Seleksi Pendanaan

UNAIR NEWS – Sebanyak 134 judul proposal Program Kreativitas

Mahasiswa (PKM) Universitas Airlangga (UNAIR) berhasil lolos seleksi pendanaan oleh Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan T i n g g i . H a s i l s e l e k s i i t u d i u m u m k a n m e l a l u i l a m a n Kemenristekdikti pada Kamis (9/3).

Menanggapi hasil seleksi tersebut, Direktur Kemahasiswaan UNAIR Dr. M. Hadi Subhan mengaku senang. Hadi mengatakan, jumlah judul proposal PKM UNAIR yang lolos seleksi pendanaan berada di posisi keempat tertinggi se-Indonesia. Sedangkan, total proposal yang telah dikirimkan mahasiswa UNAIR adalah 1.360 judul.

“Kalau UNAIR tahun lalu 167 proposal yang lolos, sementara tahun ini 134. Memang tren proposal (dari masing-masing perguruan tinggi) yang lolos seleksi tahun ini menurun. Tapi, kalau secara posisi kita naik dua peringkat proposal berdasaarkan hasil seleksi pendanaan,” tutur Hadi.

Dari 134 judul proposal PKM yang lolos, rinciannya adalah 43 judul PKM Kewirausahaan, 18 PKM Karsa Cipta, 22 PKM Pengabdian kepada Masyarakat, 41 PKM Penelitian Eksakta, 9 PKM Penelitian Sosial Humaniora dan Terapan, dan 1 PKM Teknologi.

Setelah dinyatakan lolos seleksi, Hadi meminta mahasiswa peserta PKM untuk mematangkan topik penelitian yang dibahas. Selain itu, ia menganjurkan mahasiswa untuk mencermati ketentuan penulisan PKM seperti yang ditentukan oleh Kemenristekdikti.

“Tentu harus mengikuti pedoman dan panduan PIMNAS. Ketentuan-ketentuan teknis yang sifatnya harus dipenuhi, seperti misalnya format pengesahan harus sesuai dengan yang

(2)

ditentukan. Pengesahnya harus oleh Direktur Kemahasiswaan. Proposal juga harus menggunakan font Times New Roman ukuran 12,” imbuh Hadi.

Agar jumlah proposal PKM yang lolos ke PIMNAS semakin banyak, pihak Direktorat Kemahasiswaan UNAIR akan melakukan empat hal untuk mencapai target tersebut. Pertama, konsolidasi internal. Kedua, pihak UNAIR akan menalangi dana penelitian apabila dana dari Dikti telat cair. Ketiga, melakukan monitoring dan evaluasi (monev) oleh pihak internal sebanyak tiga kali sebelum ke melaju ke monev eksternal. Keempat, pembinaan khusus yang melibatkan ahli di masing-masing bidang PKM.

Rencananya, monev internal akan dilaksanakan pada bulan Maret dan April. Sedangkan, monev eksternal akan dilakukan pada bulan Mei dan Juni. Sedangkan, pelaksanaan PIMNAS ke-30 kali ini rencananya akan diselenggarakan pada bulan Agustus di Makassar, Sulawesi Selatan.

Tahun 2017 ini, pihaknya menargetkan akan memboyong piala kemenangan Adhikarta Kertawidya. Sebelumnya, tahun 2016, UNAIR meraih juara III pada PIMNAS ke-29 di Institut Pertanian Bogor. Dalam PIMNAS ke-29 itu, tim UNAIR berhasil merebut 8 medali emas, 3 medali perak, dan 1 medali perunggu.

Penulis : Defrina Sukma S Editor : Nuri Hermawan

Metformin, Obat Diabetes

Dengan Seratus Manfaat

(3)

menurunkan kadar gula darah. Namun kebaikan Metformin tidak sebatas itu saja. Bagi penyandang diabetes, mengonsumsi Metformin dalam dosis tepat ternyata juga bisa memberikan proteksi lebih bagi penyandang diabetes melitus (DM), khususnya bagi mereka perokok aktif.

Metformin merupakan obat lama yang menurut guideline dari American Diabetes Association (ADA) masih menjadi terapi lini pertama penyakit diabetes. Secara biomolekuler, obat ini memiliki seratus manfaat. Selain sebagai obat antidiabetes, obat ini juga dapat memberikan efek protektif terhadap sistem metabolik, melindungi jantung dan ginjal. Bahkan dapat mencegah pertumbuhan sel tumor (MCRC).

Hal ini disampaikan Ketua Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) Prof. Dr. dr. Askandar Tjokroprawiro, SpPD, K-EMD, FINASIM. Dalam kesempatan khusus, Prof Askandar mengungkapkan efek proteksi yang diperoleh dengan mengonsumsi metformin telah banyak dipublikasikan di berbagai penelitian di luar negeri.

“Sudah banyak dipublikasikan penelitian tentang benefit lebih dari Metformin ini. Mengonsumsi Metformin dalam jangka panjang mampu memperkecil benjolan tumor pada payudara maupun usus besar,” ungkapnya.

Berdasarkan hasil penelitian pada Journal of Diabetes 2016 di UK diperoleh kesimpulan bahwa pada pasien DM perokok aktif yang mengonsumsi Metformin mengalami resiko penyakit jantung koroner sebesar 24 persen lebih rendah di bandingkan dengan DM perokok aktif yang tidak mengonsumsi obat tersebut. Bahkan, resiko kematiannya hanya sebesar 48 persen lebih rendah dibanding dengan DM yang tidak mengonsumsi. Prof. Askandar menekankan, meskipun kebaikan Metformin membawa dampak mencegah efek nikotin terhadap resiko kanker, namun ada baiknya jika penyandang diabetes menghindari kebiasaan merokok.

(4)

Selain itu, Metformin ternyata dapat menghambat pertumbuhan tahi lalat. Bahkan, Obat ini dianjurkan pula bagi orang-orang yang gemar mengonsumsi makanan berlemak. Karena, efek Metformin dapat menghambat terjadinya penyempitan pembuluh darah. Metformin juga baik dikonsumsi oleh penderita hipotiroit. “Jika dikonsumsi oleh penderita serangan jantung, maka infact-nya tidak mudah meluas,” jelasnya.

Meskipun banyak memberikan proteksi, penggunaannya Metformin harus diawali dengan rekomendasi dokter untuk memastikan kondisi ginjal terlebih dulu. Mengingat pemakaian obat tersebut haris dalam kondisi ginjal yang baik dan dengan takaran dosis yang tepat.

“Konsumsi Metformin tidak bisa asal-asalan. Tetap ada dosisnya, yaitu 500-200 ml/gram perhari. Itu pun dengan catatan kondisi ginjal harus baik. Karena jika tidak, Metformin justru akan memberikan efek komulatif mengendap di ginjal,” jelasnya.

Prof. Askandar menuturkan, Metformin adalah salah satu solusi. Namun sebenarnya yang lebih penting adalah memperbaiki gaya hidup dengan mengatur dan menjaga pola makan, serta rutin melakukan aktifitas fisik.

Sementara itu, pasien DM seringkali khawatir bila rutinitas mengonsumsi obat diabetes seumur hidup dapat merusak ginjal. Padahal sebenarnya tidak demikian. Prof Askandar menegaskan, obat-obatan untuk diabetes dan hipertensi tidak memiliki dampak buruk pada ginjal. Obat diabetes maupun hipertensi yang diberikan kepada pasien justru dapat melindungi ginjal dari kerusakan. Bila tidak dikonsumsi malah mengakibatkan gula darah dan tekanan darah jadi tidak terkontrol yang justru dapat merusak ginjal.

Sebenarnya ada beberapa jenis obat yang memiliki efek samping terhadap kerusakan ginjal, seperti obat pereda nyeri dan rematik. Obat-obatan tersebut tetap aman dikonsumsi apabila

(5)

mengalami keluhan, dosisnya pun harus sesuai, tidak berlebihan.

Oleh karena itu, Prof. Askandar berharap tenaga medis dapat memberikan pemahaman yang tepat kepada para pasiennya. Khususnya terhadap kepatuhan dalam mengonsumsi obat-obatan untuk mengontrol kadar gula darah.

Maka dari itu, tenaga medis perlu melakukan perbaruan skill dengan mengikuti berbagai kegiatan symposium. Seperti acara Quadruple Joint Symposium oleh Pusat Diabetes dan Nutrisi Surabaya-RSUD Dr. Soetomo- FK UNAIR misalnya. Kali ini acara tersebut mengambil tema berjudul “ Cardiometabolic Health Toward-2020. Challenge in Prevention and Treatment of Obesity, MetS, CMR and the CMDs.

Kegiatan ini rutin diselenggarakan tiap tahun. Diselenggarakan oleh Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) cabang Surabaya bekerjasama degan Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Cabang Surabaya. Acara ini menghadirkan pembicara dan sejumlah pakar dari 14 pusat diabetes di seluruh Indonesia. Acara tersebut membahas, mencari solusi dan merumuskan informasi ilmiah terkini untuk para dokter dan tenaga kesehatan.

Penulis: Sefya Hayu Editor: Nuri Hermawan

Mahasiswa UNAIR Ciptakan

(6)

Energy, Zero Emission, dan

Portable

UNAIR NEWS – Modernisasi telah mendorong lahirnya peningkatan konsumsi energi oleh penduduk di bumi ini. Kemudian gaya hidup modern dan persaingan industri berskala global juga merupakan bagian penting dari akumulasi terhadap penggunaan energi.

Karena itu peningkatan konsumsi energi juga telah memunculkan kekhawatiran terhadap ketersediaan energi, sementara di sisi lain cadangan energi di perut bumi dapat dipastikan telah mengalami penyusutan. BP Statistical Review of World Energy (2013) menyatakan, konsumsi energi pokok dunia tumbuh hingga 1,8% pada tahun 2012.

”Karenanya saat ini Indonesia menghadapi masalah serius, yaitu ketahanan energi. Mengutip data dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (2014) bahwa konsumsi energi di Indonesia pada periode tahun 2000-2012 meningkat rata-rata sebesar 2,9% per tahun,” demikian dinyatakan Siti Nurmala, ketua tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC). Karena itulah bersama empat kawannya, Siti Dkk berhasil menciptakan “PIONEER (Spin Magnet Generator) Sebagai Pembangkit Listrik Free Energy, Zero Emission, dan Portable”. Empat orang anggota tim PKM-KC ini adalah Tita Aulia Nur Utami, Mayasari Hariyanto, Muhammad Zulfa Abdillah dan Moch Andi Putra Jaya.

Proposal kreativitas dan inovasi PKM-KC ini telah berhasil lolos penilaian Dikti, sehingga memperoleh dana hibah pengembangan dalam program PKM Kemenristekdikti tahun 2016-2017.

Ditambahkan oleh Siti Nurmala, bahwa konsumsi energy listrik di Indonesia semakin meningkat dan cadangan bahan sumber pembangkit listrik semakin berkurang. Penghematan energy

(7)

listrik perlu dilakukan agar cadangan energi listrik di Indonesia tidak cepat habis. Untuk itulah Siti dan kawan-kawan membuat inovasi dengan PIONEER, sebuah alat pembangkit listrik yang free energy, zero emission dan portable.

“Prinsip kerja dari PIONEER ini cukup sederhana, yaitu memanfaatkan gaya dari arah flux magnetic yang berlawanan sebagai sumber energy listrik. Alat ini dapat menghasilkan energy listrik lebih besar dari energy masukan yang digunakan sehingga efisiensi penggunaan listrik lebih besar,” kata Tita Aulia NU menambahkan.

Teknologi ini memiliki beberapa keuntungan, diantaranya tidak memerlukan energi/biaya operasional dan perawatan yang cukup banyak, karena menggunakan sumber energi magnet yang berputar terus menerus, dapat dioperasikan pada kondisi cuaca apapun dan dimanapun karena bentuknya yang portable dan ramah lingkungan karena tidak menghasilkan emisi gas berbahaya.

”Dengan teknologi ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada sumber energi fosil sehingga ketahanan energi nasional di masa mendatang tetap terjamin,” kata Siti Nurmala. (*)

Editor: Bambang Bes

50

Persen

Nyeri

Haid

Berpotensi Endometriosis

NEWS UNAIR – Nyeri haid merupakan gejala menstruasi yang lumrah dialami oleh setiap perempuan. Namun sudah sepatutnya

(8)

dicurigai apabila nyeri haid dirasa begitu menyiksa.

Nyeri haid yang dirasa ‘tidak wajar’ seringkali dianggap biasa oleh masyarakat pada umumnya. Padahal, bermula dari gejala nyeri haid sebagian besar didiagnosa sebagai endometriosis. Ketua Departemen Obstetri & Ginekologi FK UNAIR-RSUD Dr.Soetomo Dr. H.Hendy Hendarto, dr., Sp.OG(K) mengatakan, kasus Endometriosis di Surabaya terbilang cukup tinggi. Sebagian besar dari mereka, datang untuk berobat dalam kondisi akut.

Endometriosis terjadi karena darah haid mengalir kembali (regurgitasi) melalui saluran tuba kemudian menempel pada organ kandungan di bagian panggul.

“Hampir 80 persen wanita mengalami regurgitasi haid. Darah haid tetap keluar tapi ternyata di dalamnya darah mengalir masuk,” ungkapnya.

Penumpukkan darah di organ kandungan ini perlahan-lahan mengakibatkan terjadinya inflamasi atau peradangan yang cukup tinggi. Kondisi ini mengakibatkan nyeri haid berlebihan hingga akhirnya menganggu kesuburan. Endometriosis ditandai dengan dua keluhan, yaitu nyeri haid berlebihan dan infertilitas.

“Ketika nyeri haid tidak mempan dengan obat pereda nyeri, maka patut dicurigai,” ungkapnya.

Hendy mengungkapkan, pasien kerap memeriksakan keluhan nyeri haid karena tidak kunjung membaik setelah mengonsumsi obat pereda nyeri sebelumnya. Malah, kondisinya semakin parah. Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata sudah mengalami endometrosiosis stadium tiga hingga empat.

“Endometrosis bisa berpotensi menjadi kista, kalau sudah jadi kista maka sudah masuk grade IV atau berat. Untuk itu penanganannya lebih kompleks. harus diobati dulu, kemudian operasi. Pasca operasi juga masih harus didampingi

(9)

pengobatannya,” jelasnya.

Hendy telah menangani banyak kasus pasien yang datang berobat ke klinik fertilitas. Umumnya mereka kesulitan memiliki keturunan setelah bertahun-tahun menikah. Setelah dilakukan pemeriksaan laparoskopi, hasilnya 50 persen lebih didiagnosa mengalami endometriosis.

“Pengobatan endometriosis ternyata tidak mudah. Pasien diberi obat-obatan anti nyeri, namun tingkat kekambuhannya tinggi. Jika kondisi parah maka harus operasi. Itu saja masih beresiko kambuh. Resikonya sulit hamil, dan masih mengupayakan bayi tabung,” ungkapnya.

Untuk memperdalam kasus tersebut, Tim dokter Departemen Obstetri & Ginekologi FK UNAIR-RSUD Dr.Soetomo telah banyak melakukan riset. Hingga kini, belum diketahui pasti seperti apa mekanisme endometriosis sehingga menyebabkan nyeri dan infertilitas.

“Masih banyak diperdebatkan dan masih banyak peluang untuk meneliti hal itu,” ungkapnya.

Di luar negeri, diagnosa kasus tersebut terbilang lambat. Sebuah data menyebutkan bahwa diagnosa ketepatan endometriosis di beberapa negara di Eropa mencapai waktu hingga 11 tahun. “Pasien baru dipastikan endometriosis 11 tahun kemudian setelah dilakukan pemeriksaan melalui operasi. Itu di luar negeri, bagaimana Indonesia?,” ungkanya.

Tak dipungkiri, endomitrosis adalah kasus yang kronis dan memerlukan waktu yang cukup panjang untuk memastikan diagnosa penyakit tersebut. Hal ini menyebabkan keterlambatan diagnosis. Sehingga ada banyak hal yang perlu diperbaiki untuk menjawab berbagai tantangan dalam penganan kasus tersebut.

Deteksi dini paling mudah adalah mewaspadai bila mengalami nyeri haid berlebihan, nyeri haid semakin parah setelah tidak

(10)

mempan mengonsumsi obat pereda nyeri. Bila kondisi ini terus berlanjut, maka segera periksakan ke dokter.

“Gejala penyakit ini sulit dikenali, karena bersamaan dengan siklus haid. Untuk itu perlu waspada. Karena wanita dengan nyeri haid 80 persen didiagnosa endometriosis, dan separuhnya mengalami ketidaksuburan,” ungkapnya.

Untuk memastikan diagnosis, maka perlu melakukan pemeriksaan laparoskopi, karena pemeriksaan endometriosis cukup konkret. Dalam kasus ringan grade 1 maupun 2, diagnosa seringkali tidak menunjukkan gambaran diagnosa. Mengingat, pada level ringan tidak terlihat adanya penampakkan yang patut dicurigai.

“Dengan pemeriksaan USG saja masih tidak terlihat apa-apa. Baru bisa didiagnosa kalau sudah muncul kista,” ungkapnya. (*) Penulis : Sefya Hayu Istighfaricha

Editor : Binti Q. Masruroh

FK Kirim Muhammad Reza di

Pilmapres Universitas

UNAIR NEWS – Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Universitas Airlangga 2017 terus bergulir. Seperti tradisi sebelumnya, setiap fakultas menyerahkan satu nama yang bakal dijagokan naik ke level universitas.

Muhammad Reza A., mahasiswa semester lima S1 Pendidikan Kedokteran Fakultas Kedokteran (FK) UNAIR, akhirnya terpilih sebagai jawara Pilmapres 2017 tingkat fakultas. Hasil pengumuman pemenangnya disampaikan langsung oleh Dekan FK UNAIR Prof. Dr. Soetojo, dr., SpU(K), di hadapan tujuh

(11)

kandidat pilmapres fakultas di Ruang Sidang Khusus FK UNAIR, Kamis (26/10).

Reza berhasil mengungguli Jefferson Caesario dan Andi Yasmin Wijaya, kandidat lainnya, setelah melalui seleksi pada Sabtu (21/10). Dalam seleksi tersebut, tim juri menyaring tujuh kandidat pilmapres melalui tiga babak. Yakni, presentasi karya tulis ilmiah, wawancara dalam bahasa inggris, dan psikotes. Tahun ini mahasiswa yang terdaftar dalam Pilmapres FK UNAIR hanya berjumlah tujuh orang. Mereka terdiri atas empat mahasiswa semester tiga, dan tiga orang semester lima.

Koordinator Staf Dekanat FK UNAIR Dr. Gadis Meinar Sari,dr.,M.Kes berasumsi, minat mahasiswa untuk mengikuti ajang tersebut agak menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya. “Kami berharap tahun depan semakin banyak mahasiswa yang ikut serta. Dan, tugas para pemenang tahun ini adalah mengajak adik-adik kelasnya ikut pilmapres tahun depan,” tuturnya.

Sebelum seleksi, FK UNAIR menggelar school of mawapres. Dalam forum itu, mahasiswa dikenalkan dengan pilmapres sekaligus cara mengikutinya. Termasuk disampaikan tips dan trik agar bisa lolos seleksi. Agar lebih mengena, dihadirkan pula sesi testimoni dari mahasiswa FK yang pernah memenangkan ajang tersebut.

Pada akhir sambutan, Soetojo berharap kemenangan Reza di fakultas mampu mengharumkan nama FK UNAIR hingga ke tingkat nasional. “Pertahankan terus, sampai menang di level nasional,” ujarnya. (*)

Penulis : Sefya Hayu Istighfaricha Editor: Feri Fenoria

(12)

Mahasiswa Keperawatan UNAIR

Edukasi Penyandang Diabetes

untuk Tetap Sehat

UNAIR NEWS – Mahasiswa Program Studi Magister Keperawatan bidang Medical Bedah menggelar pengabdian masyarakat (pengmas) dengan mengedukasi penderita diabetes mellitus (DM) anggota Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia) Kota Surabaya. Ratusan penyandang DM hadir memenuhi Aula Fakultas Kedokteran, di kampus A UNAIR, Minggu (29/10).

Pengmas mahasiswa Magister Fakultas Keperawatan UNAIR ini terlaksana berkat jalinan kerjasama dengan Persadia Kota Surabaya, dalam rangka memperingati World Diabetes Day (WDD) 2017. Pengmas ini dibuka oleh Ketua Persadia Surabaya Dr. dr. Soebagjo Adi, Sp.PD., K-EMD., FINASIM.

Dijelaskan oleh Ketua panitia, Moch Dadang Suharno, S.Kep., NS., didampingi wakil ketua Argo Winoto, S.Kep., NS., pengmas di Aula FK UNAIR ini merupakan yang kedua dari jurusannya, setelah yang pertama dilaksanakan di Kelurahan Dupak Bandarejo 12 Oktober lalu. Materi yang diedukasikan kepada penyandang DM pun merupakan aplikasi dari artikel yang diambil dari jurnal yang terindek Scopus, sehingga sudah teruji.

”Karenanya yang kami aplikasikan disini lebih kearah peer group, yaitu bagaimana diantara anggota kelompok penyandang DM itu saling bisa memberikan dukungan dan motivasi untuk menuju sehat, walaupun secara individu mereka sama-sama penyandang diabetes,” kata Dadang.

Karena itulah dalam pengmas ini, 49 orang mahasiswa Prodi Magister FKp UNAIR angkatan ke-10 ini mengedepankan tema

(13)

”Peningkatan Kesejahteraan Klien Diabetes Melalui Peer Group dengan Pendekatan 3P (Promote, Prevent, Protect)”.

”Sehat Bersama Diabetes Mellitus” judul buku yang dibagikan kepada penyandang DM menjadi topik utama yang diadukasikan. Mengutip International Diabetes Federation (IDF), diperkirakan jumlah penderita DM di dunia tahun 2015 terdapat 415 juta dan diperkirakan akan menjadi 640 juta tahun 2040 nanti.

Menurut IDF (2015), Indonesia berada di urutan ketujuh tertinggi di dunia, dengan angka kejadian tahun 2030 diperkirakan mencapai 21,3 juta jiwa, dan sekitar 75.000 jiwa meninggal akibat diabetes yang tidak terkontrol (WHO, 2016).

SALAH satu peer group sedang diberikan edukasi oleh mahasiswa. Rata-rata sudah lansia dan mengikuti dengan antusias. (Foto: Bambang Bes)

K e m a r i n m a h a s i s w a S 2 F K p i t u k e p a d a p e n y a n d a n g D M mengedukasikan mengenai “Kenapa Aku Diabetes”. Di dalamnya dijelaskan bagaimana cara mengenali tanda-tanda DM, memahami penyebabnya, bagaimana mengawasi sepuluh gejalanya, dan menguasai cara menangani DM. Sebab DM adalah suatu penyakit yang disebabkan karena tubuh tidak mampu memproduksi insulin,

(14)

sehingga kadar glukosa darah meningkat (hiperglikemia).

”Sepuluh gejala DM itu antara lain cepat merasa lelah, kalau ada luka lambat sembuhnya, sering buang air kecil di malam hari, berat badan menurun, kesemutan, penglihatan kabur, hingga masalah gangguan seksual,” terangnya.

Para peserta diberi pengetahuan seperti mengontrol pola konsumsi, rajin periksa, dan senantiasa berolahraga. Kepada penyandang DM juga diajarkan senam, baik yang dilakukan berdiri mapun yang hanya dengan duduk di kursi dengan mengaktifkan pergerakan kaki.

”Meski hanya dengan duduk yang menggerak-gerakkan kaki, ini jangan diremehkan. Ini manfaatnya besar sekali sebagai upaya untuk tetap sehat bagi penyandang DM,” kata seorang mahasiswa instruktur senam DM.

Menurut keterangan yang dihimpun unair.news, dalam rangka WDD di FK UNAIR ini, Persadia melaksanakan beberapa aktivitas. Diantaranya menggelar seminar di ruang propadeus, pemeriksaan gula darah, penyuntikan insulin, serta lomba senam yang diikuti oleh persatuan lansia dari berbagai kelurahan di Kota Surabaya. (*)

Penulis: Bambang Bes

BEM FST UNAIR Undang Ahli

Teknologi Nano

UNAIR NEWS – Ahli teknologi nano dihadirkan Badan Eksekutif

Mahasiswa (BEM) Fakultas Sains dan Teknologi (FST), Universitas Airlangga, pada Sabtu siang (28/10) di Aula

(15)

Kahuripan lantai 3 Kampus C UNAIR. Sang ahli menjadi salah seorang pemateri dalam seminar teknologi bertajuk science technology event (STE) 2017. Dialah Prof. Andrivo Rusydi, Ph.D.

“Kami sebenarnya tak pernah menyangka bisa menghadirkan beliau (Andrivo, Red). Sebab, beliau merupakan ilmuwan fisika Indonesia yang ahli di bidang nanotechnology yang telah mendunia,” ujar Ketua Panitia STE 2017 Angga Puspo Adi Negoro, mahasiswa Statistik angkatan 2015.

“Sebanyak 1.784 artikel ilmiah diterbitkan sejak 2012. Dan, total ada 2.676 artikel ilmiah telah Prof. Andrivo publikasikan,” ungkap Dr. Nurina Fitriani, S.T., selaku moderator saat membuka diskusi dalam seminar tersebut.

Selain Andrivo, pemateri ahli lainnya turut dihadirkan. Yakni, Koordinator peneliti di Kebun Raya Purwodadi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Sugeng Budiharta, S.Hut., M.Sc., Ph.D., Sugeng menyampaikan materi tentang riset. Mulai jenis, tahap, hasil, hingga peran dan fungsinya.

Penampilan Airlangga Orchestra mengawali seminar teknologi tersebut. Dihadiri 119 peserta, seminar bertema “Basic and Scientific Application for Enhanching The Quality of Life” itu berjalan sangat meriah. Diskusi yang apik antara para peserta dan pemateri tersaji.

Para pesertanya tidak hanya berasal dari UNAIR. Dari Universitas Surabaya (Ubaya), Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Surabaya, Universitas Jember (Unej), Universitas Negeri Surabaya (Unesa), dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) juga ada.

Sementara itu, Angga menjelaskan bahwa STE merupakan acara tahunan dalam rangka peringatan dies natalis FST. “Pada 2017, selain tema yang diusung dan pematerinya dari perguruan tinggi luar negeri, kegiatan STE 2017 berbeda,” tuturnya.

(16)

Dalam STE 2017, terdapat Expo Produk Penelitian Fakultas Sains dan Teknologi. Beberapa produk dari mahasiswa dan dosen dipamerkan. Di antaranya, Piooner, Bionic Arm, Stevity, Tes Kit, i-Humble, dan Coco Mask. Hadir pula dalam kegiatan itu Direktur Kemahasiswaan UNAIR Dr. Hadi Subhan, S.H.,M.H., C.N.; humas LIPI Purwodadi Roni Permana Saputra; Dr. Hartati, Dra., M.Si.; dan dosen fisika UNAIR Febdian Rusydi, S.T., Ph.D.

Pada akhir, mengenai seminar teknologi itu, Angga berharap peserta kian menyadari pentingnya riset. Termasuk, mereka semakin berminat dan termotivasi untuk melakukannya. Sebab, penemuan teknologi yang besar mesti dimulai dengan riset yang lama dan terus-menerus.

Penulis: Feri Fenoria Editor: Nuri Hermawan

Yel-Yel Bikin Semarak, Lomba

Mahasiswa Asing Bikin Ketawa

UNAIR NEWS – Suasana halaman gedung Rektorat UNAIR terasa

begitu ramai Kamis pagi (17/8). Lomba-lomba dalam rangka peringatan Hari Kemerdekaan ke-72 Republik Indonesia dihelat dengan meriah. Para sivitas akademika begitu bergairah dan penuh semangat.

Ada lomba yel-yel, sepeda lambat, parikan dan karaoke bahasa Jawa. Lomba yel-yel diikuti semua unit di UNAIR. Para peserta tak segan menampilkan busana yang penuh aksesoris sebagai bentuk totalitas.

(17)

Mereka mencoret pipi, memakai wig dan hiasan kepala, serta mengenakan hiasan rumbai-rumbai tali raffia pada pinggang. Mereka menggubah lagu Goyang Bang Jali yang dipopulerkan Denny Cagur menjadi Goyang Merdeka. Tepuk tangan meriah dan sorak sorai bersahutan usai penampilan tim yang memakai busana bernuansa merah maroon tersebut.

Setelah mereka, tampil tim dari Rumah Sakit UNAIR. Mereka membawa tabuh-tabuhan sederhana yang digunakan untuk mengiringi yel-yel. Para penabuh, mengenakan helm khas pagawai konstruksi. Sedangkan busana yang mereka pakai berwarna hijau, yang biasa dikenakan perawat atau dokter yang mengoperasi pasien.

Lomba sepeda lambat tak kalah semarak. Begitu pula, lomba parikan dan karaoke bahasa Jawa yang juga mengundang gelak tawa. Sebab, ada penampil yang bukan berasal dari daerah Jawa. Sehingga saat menyanyikan lagu, logat yang terlontar pun jadi lucu. Misalnya, peserta dari Pusat Informasi dan Humas bernama Helmy Rafsanjani, yang menyanyikan Prau Layar.

Yang tak kalah seru adalah lomba-lomba bagi mahasiswa asing. Airlangga Global Engagement menyelanggarakan lomba makan krupuk, terompah raksasa, dan memasukkan paku dalam botol. “Ini sepertinya mudah. Ternyata sulit juga,” kata salah seorang peserta sesaat setelah dia sukses memasukkan paku dalam botol dan berteriak, “Airlangga!” Kawan-kawan di sekitarnya pun bertepuk tangan dan tertawa.

Peserta lain bernama Lotte Patty mengaku bahagia karena bisa berpartisipasi dalam acara ini. “Ini pengalaman luar biasa. Para warga kampus menghias ruangan mereka dengan nuansa merah putih. Kami juga diajak ikut merayakannya,” kata mahasiswi asal Belanda ini.

“Kami sengaja memakai pakaian olahraga dan melakukan pemanasan laksana seorang atlet. Demi bisa menjadi pemenang dalam lomba terompah raksasa dan makan krupuk,” tambah Thomas Van Scholik,

(18)

mahasiswa asal Belanda, lantas terkekeh. (*) Penulis: Rio F. Rachman

Muhammad Reza Ingin Buktikan

pada Orang Tua

UNAIR NEWS – Jawara ajang pemilihan Mahasiswa Berprestasi

(PILMAPRES) tingkat Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga tahun 2017 Muhammad Reza A sempat dilanda kegalauan selama berhari-hari usai mengikuti proses seleksi. Ia berharap dapat mengulang keberhasilannya lolos di tingkat universitas, dan berjuang hingga ke level nasional.

Impian Reza akhirnya terwujud. Pria kelahiran Blitar 29 Maret 1996 akan mewakili FK UNAIR berlaga dalam ajang PILMAPRES tingkat universitas yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat.

Kemenangan PILMAPRES tahun ini adalah kemenangan ke dua baginya. Kemenangan pertama adalah jawara PILMAPRES tingkat universitas untuk kategori semester III tahun 2016.

“Sesuai dengan ketentuan DIKTI pada waktu itu, akhirnya yang berangkat berlaga ke tingkat nasional adalah pemenang PILMAPRES UNAIR yang semester V,” ungkapnya.

Sejak semester II, Reza aktif mengikuti berbagai kompetisi k a r y a t u l i s i l m i a h , b a i k d i l e v e l n a s i o n a l m a u p u n internasional. Dengan pengalaman yang dimiliki, Reza sering diundang menjadi pemateri di berbagai acara pelatihan karya tulis ilmiah.

(19)

berangkat lomba, lama-lama capek sendiri,” tuturnya.

Reza adalah mahasiswa semester V program pendidikan S1 kedokteran FK UNAIR dengan segudang prestasi. Beberapa prestasi diantaranya pernah memenangkan Best Article pada ajang The 14th Indonesia International (bio) Medical Student Congress, juara I lomba karya tulis ilmiah sebanyak lima kali, dan mengantongi sertifikat Training of Trainer (TOT) Profesional and Research Exchange Training in Taiwan. Berpeluang mengikuti berbagai kompetisi di dalam dan luar negeri adalah hal yang tak pernah ia duga sebelumnya. Kesempatan ini adalah bagian dari fasilitas beasiswa yang diperolehnya. Melalui beasiswa itu, Reza dapat memanfaatkan kesempatan untuk mengejar banyak pengalaman.

Menjadi dokter adalah cita-citanya sejak SMA, walaupun impiannya sempat terhalau oleh restu kedua orang tua.

“Kuliah kedokteran kan terkenal mahal, bapak dan ibu sempat melarang saya. karena faktor keuangan,” paparnya.

Faktor keuangan sempat membuat orang tua Reza ciut nyali. Mustahil rasanya bisa membiayai kuliah si anak mbarep, sementara penghasilan orang tua sebagai sopir truk dan peternak ayam petelor terbilang pas-pasan.

Keinginan berkuliah di fakultas kedokteran juga sempat mendapat cibiran dari keluarga besarnya di Desa Kunir Kecamatan Wonodadi, Blitar. Namun itu semua tak membuatnya menyerah. Reza tetap gigih mempertahankan mimpinya dan berupaya mencari jalan keluar. Alhasil, Reza berhasil mendapat beasiswa dari sebuah perusahaan minyak asal Thailand.

“Saya bersyukur karena dengan beasiswa ini dapat meringankan beban orang tua,” ungkapnya.

Setelah berhasil mendapat beasiswa dan berulang kali menang di berbagai ajang perlombaan, hati orang tua berangsur-angsur

(20)

luluh.

“Bapak ibu sudah tidak lagi skeptis seperti dulu, sekarang mereka sudah bisa menerima dan bangga,” imbuhnya.

Reza memendam keinginan suatu saat nanti bisa mengajak kedua orang tuanya datang ke Surabaya. “Saya ingin sekali waktu bisa mengajak bapak ibu datang ke Surabaya. Saya ingin perlihatkan kampus tempat saya menimba ilmu. Kemenangan ini untuk mereka,” pungkas Reza.

Penulis : Sefya Hayu Istighfaricha Editor : Nuri Hermawan

Hunting Foto Sambut Anggota

Baru APS UNAIR

UNAIR NEWS – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni Fotografi Universitas Airlangga atau yang lebih akrab disapa Airlangga Photography Society (APS) gelar diklat anggota baru 2017. Kali ini APS mengadakan diklat tersebut di Omah Budaya Slamet, Bumiaji, Kota Batu, pada 27-29 Oktober 2017.

Sama halnya dengan tahun-tahun sebelumnya, agenda diklat tahun ini tak jauh berbeda. Hanya, suasana yang lain terlihat saat kegiatan hunting foto.

Sabtu pagi (28/10) 33 peserta yang dibagi menjadi tujuh kelompok berkeliling dari satu pos ke pos lain. Total ada lima pos. Pos tersebut tersebar mengelilingi ladang buah dan bunga serta perkampungan penduduk. Peserta wajib meng-hunting foto di area itu.

(21)

peserta diklat. Jadi, peserta harus cerdas dan peka dalam menangkap momen yang ada,” ujar Ketua APS 2017 Zumrotul Fatma Rahmayanti.

Seusai hunting, peserta wajib mengumpulkan hasilnya. Kurator bakal menyeleksi sepuluh foto terbaik. “Total ada 1.500 foto yang terkumpul. Kami ambil sepuluh foto terbaik untuk ditayangkan dalam sesi diskusi foto,” ungkap Arvin Ranu selaku kurator foto sekaligus ketua APS 2009-2011.

Foto tersebut memiliki kategori yang beragam. Mulai makro, landscape, hingga human interest. Salah satu yang terbaik adalah foto human interest. Di dalamnya, tampak potret dua ibu pengupas nangka.

Foto itu memiliki tone warna, komposisi, dan ketajaman yang pas. “Sisi humanis dan emosional pun sangat terasa kala melihat foto ini,” lanjut Arvin. Menurut dia, kepekaan dalam melihat momentum menjadi nilai plus bagi seorang fotografer. Keunikan menjadi hal yang disorot para kurator foto. Sebab, rata-rata foto peserta diklat memiliki kemiripan antara satu dan yang lain. Baik segi angle, objek, maupun komposisi. “Misalnya, rata-rata mereka mengambil foto bunga dan pemandangan. Jangan sampai stuck. Coba eksplor yang lain. Potret sesuatu yang berbeda,” jelas Yanuar Satria Putra, senior APS 2006.

Bukan hanya hunting dan diskusi foto, masih banyak agenda lain untuk peserta diklat. Misalnya, pembahasan pameran, sharing session bersama senior dan alumni, hingga inisiasi sebagai penanda diterimanya anggota baru APS 2017 secara resmi. (*) Penulis: Nena Zakiah (Mahasiswi ilmu komunikasi angkatan 2014) Editor: Feri Fenoria

Referensi

Dokumen terkait