• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN GAYA MENGAJAR PENDIDIK PAI DENGAN MINAT BELAJAR PESERTA DIDIK SMAN 1 PURBOLINGGO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HUBUNGAN GAYA MENGAJAR PENDIDIK PAI DENGAN MINAT BELAJAR PESERTA DIDIK SMAN 1 PURBOLINGGO"

Copied!
155
0
0

Teks penuh

(1)

1

DENGAN MINAT BELAJAR PESERTA DIDIK SMAN

1 PURBOLINGGO

Oleh:

WIWIK PURWANINGSIH

NPM. 1501010141

Fakultas :Tarbiyah Dan Ilmu Keguruan

Jurusan :Pendidikan Agama Islam (PAI)

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) METRO

1440 H/2019 M

(2)

ii

HUBUNGAN GAYA MENGAJAR PENDIDIK PAI TERHADAP

MINAT BELAJAR PESERTA DIDIK SMAN 1 PURBOLINGGO

Diajukan Untuk memenuhi Tugas dan Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar S. Pd

Oleh:

WIWIK PURWANINGSIH NPM. 1501010141

Pembimbing Skripsi 1 : Drs. Mahyunir, M. Pd. I Pembimbing Skripsi 2 : Umar, M. Pd. I

Fakultas: Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Jurusan : Pendidikan Agama Islam (PAI)

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) METRO TAHUN 2019

(3)
(4)
(5)

v ABSTRAK

HUBUNGAN GAYA MENGAJAR PENDIDIK PAI DENGAN MINAT BELAJAR PESERTA DIDIK SMAN 1 PURBOLINGGO

Oleh :

Wiwik Purwaningsih

Pendidikan Agama Islam di lembaga pendidikan formal khususnya SMAN 1 Purbolinggo mempunyai alokasi waktu tiga jam pelajaran per minggu. Hal ini menyebabkan proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam kurang mampu mengakomodir seluruh materi. Dalam proses pembelajaran gaya mengajar pendidik diperlukan agar tercipta gairah belajar, sehingga peserta didik tetap dapat berkonsentrasi dalam tiga jam pelajaran tersebut. Dimana minat belajar peserta didik yang berbeda-beda dalam setiap waktunya, pendidik perlu menciptakan suasana yang menarik perhatian peserta didik dalam proses pembelajaran berlangsung. Dengan ini diharapkan tujuan pembelajaran dapat tercapai secara maksimal.

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah ada hubungan gaya mengajar pendidik PAI dengan minat belajar peserta didik SMAN 1 Purbolinggo. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan gaya mengajar pendidik PAI dengan minat belajar peserta didik SMAN 1 Purbolinggo. Hipotesis pada penelitian ini ialah ada hubungan gaya mengajar pendidik PAI dengan minat belajar peserta didik SMAN 1 Purbolinggo. Populasi pada penelitian ini adalah 142 responden dengan mengambil 30% populasi maka sampel penelitian sebanyak 44 responden.

Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data kuesioner (angket) dan dokumentasi. Kuesioner (angket) ditujukan kepada peserta didik untuk mencari data tentang gaya mengajar pendidik PAI dan minat belajar peserta didik. Dokumentasi ditujukan untuk mendapatkan informasi tentang deskripsi lokasi penelitian yaitu SMAN 1 Purbolinggo.

Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa ada hubungan gaya mengajar pendidik PAI dengan minat belajar peserta didik SMAN 1 Purbolinggo. Hal ini terbukti dari hasil analisis data menggunakan korelasi Person Product Moment diperoleh nilai r 0,352 lebih kecil dari rtabel dengan taraf signifikansi 5% dengan

nilai 0,304 yakni 0,352<0,304. Sehingga dalam penelitian ini hipotesis diterima dengan arah hubungan positif. Selanjutnya untuk mengetahui tingkat koefisiensi korelasi hubungan keduanya dimana nilai r sebesar 0,352 yang berada pada interval koefisien 0,20 – 0,399 yang tergolong dalam tingkat hubungan keduanya rendah. Adapun ada faktor lain yang mempengaruhi dalam minat belajar selain faktor sekolah seperti faktor keluarga dan masyarakat

(6)
(7)

vii MOTTO

ْ

هَ

ع

َ

ناَ

مْ

ثُ

ع

ىضر

للها

ونع

هَ

ع

َّ

ِ

ىِ

بَّ

َ

نلا

-ىلص

للها

ويلع

ملسو

لاَ

ق

«

ْ

مُ

كُ

رْ

يَ

خ

ْ

هَ

م

َ

مَّ

َ

لَ

عَ

ت

َ

نآْ

رُ

قْ

لا

ُ

وَ

مَّ

َ

لَ

عَ

و

»

هاور

يراخبلا

Artinya: ―Ustman bin Affan radhiyallahu „anhu berkata: ―Bahwa Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik

kalian adalah yang belajar al-Quran dan

(8)
(9)
(10)

x DAFTAR ISI Halaman Sampul ... i Halaman Judul ... ii Persetujuan ... iii Pengesahan ... iv Abstrak ... v Orisinalitas Penelitian ... vi Motto ... vii Persembahan ... viii Kata Pengantar ... ix Daftar Isi ... x

Daftar Tabel ... xiii

Daftar Gambar ... xiv

Daftar Lampiran ... xv BAB I PENDAHULUAN A. LatarBelakangMasalah... 1 B. Identifikasi Masalah ... 4 C. Batasan Masalah ... 4 D. Rumusan Masalah ... 5

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 5

F. Penelitian Relevan ... 5

BAB II LANDASAN TEORI A. Minat Belajar ... 10

1. Pengertian Minat Belajar ... 10

2. Ciri-Ciri Minat Belajar ... 11

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat Belajar... 14

4. Upaya Membangkitkan Minat Peserta Didik ... 16

B. Gaya Mengajar ... 18

1. Pengertian Gaya Mengajar ... 18

2. Macam-Macam Gaya Mengajar ... 21

(11)

xi

4. Variasi Gaya Mengajar ... 26

C. Hubungan Gaya Mengajar Pendidik Dengan Minat Belajar ... 30

D. Kerangka Konseptual Penelitian ... 31

E. Hipotensis Penelitian ... 32

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Rancangan Penelitian ... 33

B. Definisi Operasional Variabel ... 33

1. Variabel Bebas ... 33

2. Variabel Terikat ... 34

C. Populasi, Sampel dan Teknik Sampling ... 35

1. Populasi ... 35

2. Sampel ... 36

3. Teknik Sampling ... 37

D. Metode Pengumpulan Data ... 37

1. Metode Angket ... 37 2. Metode Observasi... 39 3. Metode Dokumentasi ... 39 E. Instrumen Penelitian ... 40 1. Rancangan/Kisi-kisi Instrumen ... 40 2. Pengujian Instrumen... 42 a. Validitas ... 42 b. Reliabilitas ... 43

F. Teknik Analisis Data ... 43

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Wilayah Penelitian ... 45

1. Deskripsi Lokasi Penelitian... 45

2. Deskripsi Data Hasil Penelitian ... 59

3. Pengujian Hipotesis ... 64

(12)

xii BAB V PENUTUP A. Kesimpulan... 82 B. Saran ... 82 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN DAFTAR RIWAYAT HIDUP

(13)
(14)

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

Surat Izin Pra Survey ... Surat Balasan Izin Pra Survey... Surat Bimbingan Skripsi ... Surat Tugas Research ... Surat Izin Research ... Surat Balasan Izin Research... Surat Keterangan Telah Melaksanakan Research ... Surat Keterangan Bebas Pustaka ... Surat Keterangan Bebas Pustaka Jurusan ... Nota Dinas ... Alat Pengumpul Data ...

Analisis Data Penelitian Uji Validitas dan Reliabilitas ... Nilai-Nilai r tabel Product Moment ...

Dokumentasi ... Surat Konsultasi Bimbingan Skripsi ... Daftar Riwayat Hidup ...

(15)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Proses belajar mengajar akan berjalan dengan baik, jika peserta didik mempunyai kemauan untuk belajar secara bersungguh-sungguh. Keberhasilan dalam proses belajar mengajar dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satunya adalah faktor psikologis yaitu faktor yang ada di dalam diri seseorang. Faktor ini berperan penting dalam keberhasilan peserta didik, salah satu faktor psikologis yaitu minat. ―Minat adalah suatu aktivitas tanpa sadar yang dilakukan peserta didik karena ketertarikan pada suatu hal dan mendorong untuk melakukan dan mempelajarinya. Semakin kuat hubungan terhadap suatu hal maka semakin kuat pula minat untuk melakukannya‖1

Minat berperan dalam proses belajar mengajar, sebab minat yang tinggi dalam diri peserta didik akan menimbuhkan rasa ingin tahu. Sebaliknya jika minat belajar rendah akan memberikan rasa bosan dan jenuh bagi peserta didik. Sehingga materi yang disampaikan tidak dapat dipahami dengan baik dan tujuan pembelajaran tidak dapat tercapai secara maksimal. Oleh karena itu, pendidik perlu mempunyai suatu gaya atau ciri khas dalam mengajar untuk dapat menarik perhatian peserta didik dalam proses pembelajaran.

Gaya mengajar sendiri merupakan ciri khas seorang pendidik. ―Gaya mengajar pendidik adalah cara atau teknik seorang guru dalam menyampaikan isi pengajaran mereka. Gaya mengajar pendidik berkaitan

1

Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), 180.

(16)

dengan penyampaian, interaksi dan ciri-ciri kepribadian pendidik‖.2 Gaya mengajar pendidik mencerminkan kepribadian pendidik yang sulit diubah karena menjadi bawaan sejak lahir. Walaupun gaya mengajar pendidik berbeda-beda tetapi mempunyai tujuan yang sama yaitu menyampaikan ilmu pengetahuan, membentuk sikap, dan menjadikan peserta didik terampil.3 Kegiatan belajar mengajar yang pendidik lakukan hendaklah menarik perhatian dan membangkitkan semangat agar peserta didik dapat berpartisipasi dalam proses pembelajaran. Gaya mengajar penting dan diperlukan dalam proses pembelajaran bagi peserta didik, untuk dapat menciptakan gairah dan daya tarik dalam belajar sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan tidak membosankan.

Berdasarkan hasil prasurvey yang peneliti lakukan melalui wawancara dengan narasumber Ibu Dariyah selaku guru Pendidikan Agama Islam. Beliau mengatakan bahwa ada peserta didik pada saat pembelajaran kurang memperhatikan, ketika ditegur selalu menjawab dengan kata ―iya‖ tetapi mengulanginya lagi. Selain ditegur beliau juga memindahkan tempat duduk, beliau menyuruh peserta didik tersebut untuk duduk di depan (tempat duduk guru) tetapi peserta didik tidak mau, peristiwa tersebut selalu berulang-ulang.

2

Nur Wigati Ningsih, ―Hubungan Gaya Mengajar Guru dengan Sosial Terhadap Prestasi Belajar Pelajaran Matematika di SMK PGRI 1 Surakarta,‖ Talenta Psikologi 4, no. 1 (Februari 2015): 64.

3

Hery Rahman dan Miftahul Jannatin, ―Hubungan Gaya Mengajar Guru dengan Motivasi Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Bahasa Inggris,‖ Jurusan PGMI 10, no. 2 (2018): 99.

(17)

Beliau juga memberi teguran yang lebih tegas yaitu peserta didik tidak boleh mengikuti pelajaran beliau.4

Peneliti juga mewawancarai salah satu peserta didik kelas X ISOS 3, ia berkata bahwa dalam proses pembelajaran peserta didik memperhatikan pembelajaran pada awal pembelajaran. Tetapi semakin lama peserta didik ribut, ketika ditegur diam lalu ribut kembali. Sehingga proses pembelajaran tidak kondusif dan peserta didik menjadi bosan dan mengantuk5.

Tabel 1.1

Data Minat Belajar Peserta Didik Mata Pelajaran PAI

No Nama Kelas Keterangan

1 ANK X ISOS 3 Berminat

2 AY X ISOS 3 Berminat

3 BES X ISOS 3 Kurang berminat

4 DW X ISOS 3 Berminat

5 LO X ISOS 3 Berminat

6 MABS X ISOS 3 Kurang berminat

7 NNA X ISOS 3 Kurang berminat

8 PAY X ISOS 3 Kurang berminat

9 RDA X ISOS 3 Kurang berminat

10 RDW X ISOS 3 Kurang berminat 11 TARF X ISOS 3 Kurang berminat

Adapun data yang diperolah peneliti di atas, berdasarkan pendapat pendidik yang bersangkutan pada peserta didik pada kelas X ISOS 3 menjelaskan bahwa minat belajar peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran masih kurang. Hal ini dapat dilihat dari data di atas dari 11 peserta didik bahwa ada 4 peserta didik yang berminat dalam belajar

4 Wawancara dengan Ibu Dariyah, Guru Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam, Tanggal

04 September 2018 Pukul 11:00 WIB.

5

Wawancara dengan Salah Satu Peserta Didik X ISOS 3, Tanggal 04 September 2018 Pukul 11: 35 WIB.

(18)

sedangkan ada 7 peserta didik yang masih kurang dalam minat belajar. Hal ini dikarenakan peserta didik malas-malasan, ngobrol dan kurang memperhatikan pendidik dalam menyampaikan materi. Peneliti menemukan peserta didik yang tidak mempunyai LKS dan tidak membawa LKS. Pendidik tidak hanya menggunakan metode ceramah tetapi juga menggunakan metode lain seperti diskusi. Pendidik juga menggunakan media pembelajaran yang bervariasi dalam proses pembelajaran.

Gaya mengajar pendidik erat kaitannya dengan syarat dalam efektifnya sebuah proses pembelajaran sehingga pusat perhatian peserta didik tertuju pada pendidik dalam penyampaian materi. Semakin bagus, inovasi dan unik gaya mengajar yang dilakukan pendidik maka semakin besar pengaruh dalam keberhasilan tujuan pembelajaran. Berdasarkan pemaparan di atas peneliti akan melakukan penelitian dengan judul peneliti hubungan gaya mengajar terhadap minat belajar peserta didik SMAN 1 Purbolinggo.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, terdapat beberapa masalah yang timbul sebagai berikut:

1. Peserta didik kurang memperhatikan pelajaran saat proses pembelajaran berlangsung.

2. Minat belajar peserta didik kurang, peserta didik masih malas-malasan, bosan, dan mengantuk dalam mengikuti proses pembelajaran.

(19)

3. Keberhasilan pembelajaran dipengaruhi banyak faktor seperti gaya mengajar pendidik yang baik dalam menyampaikan materi akan menciptakan gairah belajar bagi peserta didik.

4. Pendidik perlu berinovasi dalam gaya mengajar agar tujuan pembelajaran dalam tercapai secara maksimal.

5. Pendidik tidak hanya menggunakan metode ceramah, misalnya metode diskusi tetapi kondisi kelas kurang kondusif.

C. Batasan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas, dan untuk menghindari terlalu luasnya pembahasan ini, maka penulis batasi permasalahannya pada:

1. Penelitian dilakukan hanya pada peserta didik X ISOS 1 sampai X ISOS 4.

2. Penelitian ini hanya melihat hubungan gaya mengajar pendidik PAI dengan minat belajar peserta didik SMAN 1 Purbolinggo melalui gaya mengajar pendidik PAI seperti pemanfaatan ruang kelas, pemilihan pembelajaran dan materi, dan cara pengelompokan peserta didik. Sedangkan minat belajar peserta didik melalui memberikan perhatian terhadap sesuatu yang diminati, rasa suka dan senang, dimanifestasikan melalui partisipasi, dan lebih memusatkan perhatian

(20)

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah yang ada, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah ―Apakah ada hubungan gaya mengajar pendidik PAI dengan minat belajar peserta didik SMAN 1 Purbolinggo?‖.

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan

Berkenaan dengan masalah di atas, maka tujuan penulis dalam penelitian ini adalah ―Untuk mengetahui hubungan gaya mengajar pendidik PAI dengan minat belajar peserta didik SMAN 1 Purbolinggo‖. 2. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian iniSecara Teoritis yaitu sebagai sumbangan pemikiran bagi studi/kajian tentang peran gaya mengajar pendidik terhadap minat belajar. Sedangkan secara praktis yaitu penelitian ini dapat digunakan secara mudah sehingga kelak akan membangkitkan inovasi dan kreativitas dalam proses pembelajaran.

F. Penelitian Relevan

Berdasarkan penelusuran yang telah peneliti lakukan, peneliti belum menemukan penelitian yang secara khusus meneliti tentang hubungan gaya mengajar pendidik PAI dengan minat belajar SMAN 1 Purbolinggo. Namun peneliti menemukan penelitian yang ada kaitannya dengan penelitian yang akan di lakukan antara lain :

Skripsi karya Elok Rahayu, NPM. 0738061, Jurusan Tarbiyah, Program Studi Pendidikan Agama Islam dengan judul ―Pengaruh

(21)

Keterampilan Mengajar Guru Terhadap Aktivitas, Minat Dan Hasil Belajar Bidang Studi Aqidah Akhlak Siswa Kelas VIII MTs Ma‘arif 4 Pekalongan Lampung Timur Tahun Pelajaran 2012/2013‖.

Kajian Penelitian ini membahas tentang keterampilan seorang pendidik dalam proses belajar mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara maksimal. Tujuan pembelajaran yang tercapai akan mempengaruhi aktivitas dan hasil belajar peserta didik.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang akan peneliti lakukan terletak pada kajian penelitiannya yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Dalam kajian penelitian ini variabel bebas yaitu keterampilan sedangkan variabel penelitian yang akan di teliti yaitu gaya mengajar. Variabel terikat yaitu aktivitas dan hasil belajar dengan minat belajar. Adapun persamaan penelitian terdapat pada variabel bebas yaitu keterampilan guru dengan gaya mengajar. Sebab gaya mengajar seorang pendidik adalah bagian dari keterampilan guru dalam mengajar.

Skripsi karya Desy Wijayanti, NPM. 1282611, Jurusan Tarbiyah, Program Studi Pendidikan Agama Islam dengan judul ―Pengaruh Kompetensi Profesional Guru PAI Terhadap Minat Belajar dan Hasil Belajar Siswa Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas XII SMAN 1 Labuhan Ratu Kec. Labuhan Ratu Kab. Lampung Timur Tahun Pelajaran 2016/2017‖.

Kajian penelitian ini membahas tentang seorang pendidik harus memiliki 4 kompetensi yaitu pedagogik, profesional, sosial dan

(22)

kepribadian. Kompetensi ini mutlak dimiliki pendidik dalam proses belajar mengajar seperti keterampilan, kemampuan, dan kecakapan dalam mengelola kelas. Sehingga kompetensi ini dapat menumbuhkan dan membangkitkan motivasi dan minat peserta didik yang akan berpengaruhi pada hasil belajar.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang akan peneliti lakukan terletak pada variabel bebas. Variabel bebas penelitian ini adalah kompetensi profesional guru. Sedangkan penelitian yang akan diteliti variabel bebas yang di teliti yaitu gaya mengajar. Adapun persamaan penelitian terdapat pada bagian variabel terikat yaitu sama-sama membahas tentang minat belajar.

Skripsi Amelia Rahma Pratiwi, NIM.1323301188 Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Jurusan Pendidikan Agama Islam, dengan judul ―Pengaruh Gaya Mengajar Guru Terhadap Minat Belajar Siswa Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di MTs Negeri Karanganyar Kabupaten Purbalingga‖.

Kajian penelitian ini membahas tentang gaya mengajar yang merupakan syarat mutlak untuk efektifnya proses pembelajaran. Gaya mengajar diperlukan agar perhatian peserta didik tetap berpusat dan tidak bosan saat proses pembelajaran berlangsung. Sedangkan minat belajar adalah kecenderungan untuk memperhatikan, semangat yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu.

(23)

Perbedaan antara penelitian ini dengan penelitian yang hendak dilakukan yaitu pada objek dan mata pelajaran yang diteliti. Objek penelian ini tertuju pada tingkatan SMP/MTs sedangkan penelitian yang hendak dilakukan tingkatan SMA/MA, untuk mata pelajaran yaitu mata pelajaran sejarah kebudayaan islam dengan pendidikan agama Islam. Persamaan penelitian keduanya terletak pada variabel bebas dan variabel terikat.

Berdasarkan penelitian yang telah dipaparkan di atas ketiganya mempunyai persamaan dan perbedaan yang mendasar, dimana persamaan dari ketiga penelitian ini ialah sama-sama membahas tentang minat belajar. Adapun satu penelitian yang sama persis hanya berbeda pada jenjang pendidikan dan mata pelajaran Dari ketiganya sebenarnya saling berkaitan dengan penelitian yang hendak dilakukan tentang gaya mengajar. Gaya mengajar pendidik merupakan bagian dari ciri khas seorang pendidik meliputi kreativitas, keterampilan, inovasi dalam proses belajar mengajar. Pada penelitian yang hendak dilakukan ini lebih membahas pada gaya mengajar yang digunakan oleh seorang pendidik yang akan mempengaruhi minat belajar peserta didik yang tidak tentu. Semakin baik gaya mengajar pendidik maka semakin besar minat belajar peserta didik, sebaliknya jika gaya mengajar pendidik kurang maka minat belajar peserta didik pun kurang.

(24)

BAB II

LANDASAN TEORI A. Minat Belajar

1. Pengertian Minat Belajar

―Minat (Interest) berarti kecenderungan dan kegairahanyang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu‖,6

sesuatu hal yang saat menarik sehingga mendorong seseorang untuk melakukan hal tersebut. ―Minat tidak termasuk istilah psikologi yang populer. Sebab, ia bergantung pada banyak faktor internal, seperti pemusatan perhatian, keingintahuan, motivasi, dan kebutuhan.‖7

Berdasarkan pendapat ahli di atas yang menyebutkan bahwa minat merupakan istilah psikologi yang tidak populer istilah minat sendiri adalah suatu kecenderungan dan gairah yang tinggi terhadap suatu hal. Minat biasanya dikaitkan dengan motivasi untuk melakukan sesuatu, keingitahuan dan perhatian terhadap suatu hal.

Minat merupakan suatu bentuk motivasi intrinsik pada suatu topik atau aktivitas tertentu dan mereka atau peserta didik mengganggap bahwa topik dan aktivitas tersebut lebih menantang dan menarik bagi mereka atau peserta didik. Topik dan aktivitas yang menarik ini akan membuat minat tumbuh dan akan mengalami meningkatkan efek positif.8

Minat adalah suatu rasa lebih suka, senang dan keterikatan pada suatu hal atau aktivitas sehingga seseorang tersebut melakukan sesuatutanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah

6 Muhibbin Syah, Psikolog Pendidikan (Bandung: Rosda, 2010), 133. 7

Mahmud, Psikolog Pendidikan (Jakarta: Pustaka Setia, 2012), 99.

8

Jeanne Ellis Ormrod, Psikolog Pendidikan Membantu Siswa Tumbu dan Berkembang (Gelora Aksara Pratama, 2009), 101.

(25)

penerimaan suatu hubungan antara diri sendiri dengan luar diri.9 Semakin kuat hubungan terhadap suatu hal maka semakin kuat pula minat untuk melakukannya.Pada dasarnya suatu minat dapat diekspresikan melalui suatu pertanyaan yang dapat menunjukkan bahwa peserta didik lebih menyukai suatu hal daripada hal yang lainnya, dapat pula di lihat ketika peseta didikberpartisipasi dalam suatu aktivitas.

Mengembangkan minat pada dasarnya adalah membantu peserta didik dalam belajar dengan menghubungkan antara materi yang akan dipelajarinya. Belajaradalah suatu alat untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai yang dianggap penting, peserta didik dapat melihat hasil dari pengalaman belajarnya yang dapat membawa kemajuan untuk dirinya. Sehingga ada kemungkinan peserta didik akan lebih berminat dan termotivasi untuk mempelajarinya.10 Berdasarkan pendapat para ahli dapat dipahami bahwa minat adalah suatu aktivitas tanpa sadar yang dilakukan seseorang karena ketertarikan atau perhatian pada suatu hal dan mendorong untuk melakukan hal tersebut.

Sedangkan pengertian belajar secara psikologis adalah ―suatu proses perubahan tingkah laku dari hasil interaksi dengan lingkungannya. Perubahan tersebut meliputi segala aspek untuk memenuhi segala kebutuhannya seperti perubahan dalam segi sifat‖.11

Tujuan belajar adalah ―Ingin mendapatkan pengetahuan, keterampilan, dan penanaman

9

Surya Mahyudi, ―Peranan Gaya Mengajar Guru Fisika Terhadap Minat Belajar Fisika Siswa Kelas IX MTs Istiqlal Delitua,‖ Pendidikan Fisika 1, no. 1 (Juni 2012): 11.

10

Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), 180.

11

(26)

sikap mental dan nilai-nilai‖.12 Tujuan belajar juga dapat menghasilkan hasil belajar. Relevan dengan tujuan belajar, maka hasil belajar yaitu ―Hal ihwal keilmuwan dan pengetahuan, konsep atau fakta (kognitif), Hal ihwal personal, kepribadian atau sikap (afektif), Hal ihwal kelakuan, keterampilan atau penampilan (psikomotorik)‖.13

Adapun pendapat yang mengemukakan Zunikhan bahwa minat belajar merupakan suatu aspek psikologi yang akan menampakan diri dalam berbagai gejala yang meliputi gairah, keinginan, perasaan suka yang ingin melakukan suatu proses perubahan tingkah laku melalui berbagai kegiatan seperti mencari pengetahuan dan pengalaman.14

Berdasarkan penjelasan di atas dapat dipahami bahwa minat belajar adalah suatu ketertarikan atau rasa senang peserta didik pada proses pembelajaran. Sehingga mendorong peserta didik untuk melakukan suatu proses perubahan tingkah laku dalam hal positif, misal kegiatan mencari ilmu pengetahuan.

2. Ciri-ciri Minat Belajar

Minat belajar adalah suatu ketertarikan atau rasa senang peserta didik pada proses pembelajaran yang mendorong peserta didik untuk melakukan sesuatu.Adapun ciri-ciri minat belajar menurut Slameto ialah memberikan perhatian lebih pada sesuatu yang diminati, ada rasa suka dan senang pada sesuatu yang diminati, lebih menyukai suatu hal yang

12

Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar (Jakarta: Rajawali Press, 2011), 28.

13 Sardiman, 29. 14

Leni Damayanti, Erliany Syaodih, dan Anytha Basaria Silitonga, ―Pengembangan Model Pembelajaran Quantum Teaching Tipe Tandur untuk Meningkatakn Minat Belajar Siswa,‖ Pendidikan dan Pembelajaran Ekonomi Akuntansi 2, no. 1 (Juni 2016): 28.

(27)

menjadi minatnya dari pada lainnya, dan dimanifestasikan melalui partisipasi pada aktifitas dalam kegiatan.15

Adapun memberikan perhatian lebih pada sesuatu yang diminati yaitu berkonsentrasi atau aktivitas seseorang terhadap pengamatan dengan mengampingkan hal yang lain. Ketertarikan adalah dengan rajin belajar, terus menerus memahami semua ilmu yang berhubungan dengan bidang tertentu akan mengikuti pelajaran dengan penuh antusias dan tanpa ada beban.16 Rasa suka dan senang pada sesuatu yang diminati, ada yang berpendapat bahwa seseorang memiliki perasaan senangpada sesuatu adalah memberikan perhatian, aktif berbuat, dan ketertarikan.17 Menurut Slameto bahwa dimanifestasikan melalui partisipasi dalam suatu aktifitas yaitu dengan memberikan perhatian yang lebih besar terhadap subjek.18

Sesuai dengan pemaparan di atas bahwa ciri-ciri seorang peserta didik yang mempunyai minat belajar jika peserta didik mempunyai kecenderungan, rasa suka, perhatian dalam proses pembelajaran. Hal ini dapat di lihat bagaimana peserta didik rajin, berkonsentrasi, rasa senang atau rasa suka dengan penuh semangat, antusias dan aktif mengikuti dan memahami proses pembelajaan secara terus menerus dan tanpa beban.

15

Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi, 180.

16

Siti Nurhasanah dan A. Sobandi, ―Minat Belajar sebagai Determinan Hasil Belajar Siswa,‖ Pendidikan Manajemen Perkantoran 1, no. 1 (Agustus 2016): 138.

17

Ninik Yuliani dan Niken Titi Pratitis, ―Minat pada Profesi Guru Semangat Kerja dan Kreativitas Guru Taman Kanak-Kanak,‖ Psikolog 8, no. 1 (April 2013): 642.

18

(28)

Adapun pendapat lain yang dikemukakan oleh Muhibbin Syah tentang ciri-ciri minat belajar ada dalam diri peserta didik yaitu lebih memusatkan perhatian yang banyak dibandingkan peserta didik yang lainyaitu dengan giat dan memusatkan perhatian secara intensif untuk memperoleh hasil yang optimaluntuk mencapai prestasi belajar.19

Berdasarkan pendapat di atas dapat dipahami bahwa ciri-ciri minat belajar peserta didik yaitu memusatkan perhatiannya pada mata pelajaran yang mereka sukai, perhatian tersebut berbeda dengan peserta didik yang lain. Perhatian yang mereka lakukan itu juga intensif atau terus menerus sehingga mereka dapat memperoleh hasil yang maksimal. 3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat Belajar Peserta Didik

Minat belajar merupakan salah satu aspek yang menentukan keberhasilan peserta didik dalam proses belajar. Adapunfaktor yang mempengaruhi minat belajar antara lain sebagai berikut:

a. Faktor Internal

Faktor internal adalah faktor dalam diri peserta didik yaitu aspek jasmaniah dan aspek psikologis. Aspek jasmaniah adalah mencakup kondisi fisik atas kesehatan dari indivisu itu sendiri. Kondisi yang baik akan mempengaruhi minat belajar sebaliknya jika ada gangguan dalam kondisi kesehatan akan menyebabkan kurangnya minat belajar seperti indera penglihatan dan pendengaran.Aspek psikologis menurut Sardiman

19

(29)

ialah meliputi perhatain, pengamatan, tanggapan, fantasi, ingatan, berfikir, bakat dan motif.

b. Faktor Eksternal

Faktor eksternal adalah faktor dari luar diri peserta didik yang meliputi keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat.

1) Keluarga

Keluarga adalah lembaga pendidikan yang pertama bagi anak maka dari itu peran keluarga sangat besar dalam menciptakan minat belajar anak. Cara mengajar orang tua dalam mempengaruhi minat belajar seperti suasana rumah yang nyaman, kerapian dan ketenangan sehingga anak dapat berkonsentrasi terhadap materi yang di ajarkan. 2) Sekolah

Sekolah merupakan faktor yang mempengaruhi minat belajar yang meliputi metode mengajar, kurikulum, saran dan prasarana, sumber-sumber belajar, media pembelajaran, hubungan peserta didik dengan temannya, guru-guru dan staf sekolah serta kegiataan ekstrakurikuler. Pendidik berperan penting dalam memberikan pengetahuan dan pengalaman melalui proses belajar mengajar serta memperhatikan kondisi peserta didik sehingga tercipta kondisi yang menyenangkan dan tidak membosankan.

(30)

3) Lingkungan

Lingkungan masyarakat meliputi hubungan dengan teman bergaul, kegiatan dalam masyarakat, dan lingkungan tempat tinggal. Banyak kegiatan di masyarakat yang dapat menumbuhkan minat belajar anak seperti kegiatan karang taruna, tetapi orang tua perlu memperhatikan setiap kegiatan yang diikut anak sehingga tidak akan menurunkan semangat dalam mengikut pelajaran.20 Adapun menurut Slameto, faktor eksternal minat belajar dapat diperoleh melalui gaya mengajar pendidik, pengelolahan kelas dan bahan /materi pembelajaran.21

Sesuai dengan pemaparan di atas dapat dipahami bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi minat belajar adalah faktor-faktor internal dan eksternal. Faktor internal ialahfaktor yang ada dalam diri peserta didik seperti jasmani dan psikologi. Sedangkan faktor eksternal ialah faktor dari luar meliputi keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat yang dapat mempengaruhi minat belajar sehingga minat belajar akan muncul dan berdampak pada kualitas peserta didik.

20 Zaki Al-Fuad dan Zuraini, ―Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat Belajar Siswa

Kelas 1 SDN 7 Kute Panang,‖ Tunas Bangsa, t.t., 45–46.

21

(31)

4. Upaya Membangkitkan Minat Belajar Peserta Didik

Dalam mengembangkan minat belajar peserta didik dapat dilakukan dengan beberapa cara oleh seorang pendidik untuk membangkitkan minat belajar peserta didik,22 sebagai berikut:

a. Hubungkan bahan pelajaran dengan kebutuhan peserta didik sehingga minat peserta didik akan muncul,sebab peserta didik menganggap meteri tersebut berguna untuk kehidupannya.

b. Sesuaikan antara materi pelajaran dengan tingkat pengalaman dan kemampuan peserta didik, jika materi pelajaran jauh dari pengalaman, maka materi tersebut tidak diminati dan akan menimbulkan kegagalan.

c. Menggunakan berbagai model dan strategi pembelajaran secara bervariasi, misalnya diskusi, kerja kelompok, eksperimen, demonstrasi, dan lain-lain.23

Berdasarkan kutipan di atas dapat dipahami bahwa upaya membangkitkan minat belajar peserta didik dapat dilakukan dengan beberapa cara. Salah satunya dengan menghubungkan bahan pengajaran yang akan disampaikan dengan kehidupan sehari-hari sehingga peserta didik merasa tertarik dengan proses belajar mengajar. Selain itu juga bahan pengajaran disesuaikan dengan pengalaman peserta didik dalam segi penerimaan bahan pengajaran, desain yang sesederhana, dan

22

Kompri, Motivasi Pembelajaran Perspektif Guru dan Siswa (Bandung: Remaja Rosdakarya Offset, 2015), 253.

23

(32)

memilih modelsertastrategi pembelajaran yang bervariasi untuk menarik minat peserta didik.

Selain itu minat belajar peserta didik dapat ditingkatkan dengan cara menghubungkan bahan pengajaran yang akan diberikan dengan bahan pengajaran yang telah lalu, bahan pengajaran dihubungkan dengan peristiwa yang masih viral dikalangan peserta didik, memberikan motivasi atau inspirasi kepada peserta didik, dan memberikan hadiah kepada peserta didik karena hasil belajarnya baik serta memberikan hukuman pada peserta didik yang kurang baik (remedial).24

Berdasarkan pemaparan di atas bahwa untuk dapat meningkatan minat belajar peserta didik dengan menyiapkan bahan pengajaran yang mudah dipahami dan disesuaikan dengan keadaan saat ini, menciptakan suasana kelas yang kondusif dan menyenangkan dengan memberikan hadiah atau hukuman.

B. Gaya Mengajar

1. Pengertian Gaya Mengajar

―Gaya mengajar dipandang sebagai dimensi atau kepribadian yang luas yang mencakup posisi guru, pola perilaku, modus kinerja serta sikap terhadap diri sendiri dan orang lain‖.25

Adapun pendapat lain tentang pengertian gaya mengajar dalam kutipan buku Abdul Majid menurut Allan C. Ornstein mendefinisikan bahwa ―Gaya mengajar sebagai gaya guru dalam hal bagaimana guru memanfaatkan ruang kelas,

24

Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi, 181.

25

(33)

pilihan kegiatan pembelajaran dan materi, dan cara pengelompokan siswa mereka‖.26

Berdasarkan pemaparan diatas dapat dipahami bahwa gaya mengajar adalah dimensi kepribadian yang meliputi perilaku, posisi dan kinerja pendidik. Jika pendidik dapat memanfaatkan segala fasilitas yang ada baik ruang kelas dan berkreativitas dalam mengelola kelas serta dapat menyampaikan materi dengan maksimal maka tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik.

Adapun pendapat lain yang mengemukakan bahwa ―Gaya mengajar pendidik adalah cara atau teknik seorang guru dalam menyampaikan isi pengajaran mereka. Gaya mengajar pendidik berkaitan dengan penyampaian, interaksi dan ciri-ciri kepribadian pendidik‖.27

Gaya mengajar seorang pendidik dapat dilakukan dengan beberapa pengantar pendidikan dari pendidik secara terarah dan dikontrol oleh pendidik melalui pengulangan dan latihan. ―Usaha untuk memodifikasi perilaku antara lain dengan penguatan, yaitu memberi penghargaan pada perilaku yang diinginkan dan tidak memberikan imbalan apa pun pada perilaku yang tidak tepat‖. 28

Berdasarkan pendapat ahli di atas dapat dipahami bahwa gaya mengajar seorang pendidik adalah cara pendidik menyampaikan

26 Kompri, Motivasi Pembelajaran Perspektif Guru dan Siswa, 273. 27

Nur Wigati Ningsih, ―Hubungan Gaya Mengajar Guru dengan Sosial Terhadap Prestasi Belajar Pelajaran Matematika di SMK PGRI 1 Surakarta,‖ Talenta Psikologi 4, no. 1 (Februari 2015): 64.

28 Muhammad Thobroni, dan Arif Mustofa, Belajar dan Pembelajaran Pengembangan

Wacana dan Praktik Pembelajaran dalam Pembangunan National (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), 79.

(34)

materi,pendidik perluberinteraksidan memberikan penguatan serta pengulangan materi.Sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara maksimal.

Gaya mengajar pendidik mencerminkan kepribadian pendidik yang sulit diubah karena menjadi bawaan sejak lahir. Walaupun gaya mengajar pendidik berbeda-beda tetapi mempunyai tujuan yang sama yaitu menyampaikan ilmu pengetahuan, membentuk sikap, dan menjadikan peserta didik terampil.29 Kegiatan belajar mengajar yang pendidik lakukan hendaklah menarik perhatian dan membangkitkan semangat agar peserta didik dapat berpartisipasi dalam proses pembelajaran.

Sehubungan dengan itu penguatan dapat dilakukan dengan cara verbal maupun nonverbal. Penguatan secara verbal dapat dilakukan dengan menggunakan kata-kata, pujian, penghargaan, dan persetujuan.Penguatan nonverbal dapat dilakukan dengan menggunakan gerak, isyarat tubuh, penguatan pendekatan dan penguatan sentuhan serta penguatan berupa simbol dari suatu benda.30

Berdasarkan pemaparan di atas dapat dipahami bahwa gaya mengajar adalah cara dan teknik seorang pendidik dalam menyampaikan materi dengan mengelola ruang kelas, menggunakan metode dan media pembelajaran yang menarik. Sehingga proses pembelajaran dapat terarah dan terkontrol dengan baik.

29

Hery Rahman dan Miftahul Jannatin, ―Hubungan Gaya Mengajar Guru dengan Motivasi Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Bahasa Inggris,‖ Jurusan PGMI 10, no. 2 (2018): 99.

30

(35)

2. Macam-macam Gaya Mengajar

Berdasarkan pengertian gaya mengajar yang telah dipaparkan diatas,pendidik perlu mengembangkan gaya mengajar berdasarkan fisik dan mental dalam dirinya sendiri. Tidak ada gaya mengajar pendidik yang ideal dan lembaga kependidikan juga tidak dapat memaksakan seorang pendidik untuk menjadi pendidik ideal.

Menurut Hermawan gaya mengajar yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran dapat dikelompokan menjadi 4 yaitu:

a. Gaya Mengajar Klasik

Gaya dengan gaya mengajar klasik masih menerapkan konsepsi sebagai satu-satunya cara belajar dengan berbagai konsekuensi yang diterimanya. Guru masih mendominasi kelas dengan tanpa memberi kesempatan pada siswa untuk aktif, sehingga akan menghambat perkembangan siswa dalam proses pembelajaran.31

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat dipahami bahwa gaya mengajar klasik adalah gaya mengajar dimana pendidik mendominasi kelas dan lebih aktif dibandingkan peserta didiknya. Peserta didik hanya menerima materi yang disampaikan pendidik (pasif).

b. Gaya Mengajar Teknologis

―Gaya mengajar teknologis ini mensyaratkan seorang pendidik untuk berperang pada berbagai sumber media yang tersedia‖.32

Berdasarkan pendapat yang telah dipapar bahwa gaya mengajar

31

Abdul Majib, Strategi Pembelajaran, 279.

32

(36)

teknologis adalah gaya mengajar pendidik yang disesuaikan dengan media yang telah tersedia diruang kelas dan pendidik memberikan pengetahuan sesuai dengan minat.

c. Gaya Mengajar Personalisasi

―Gaya mengajar personalisasi dilakukan berdasarkan atas minat, pengalaman, dan pola perkembangan mental peserta didik. Dominasi pembelajaran ada di tangan peserta didik, dimana peserta didik dipandang sebagai suatu pribadi‖.33

Berdasarkan pendapat yang telah dipapar bahwa gaya mengajar personalisasi adalah gaya mengajar dimana pendidik tidak memaksakan peserta didik sama dengannya sebab setiap peserta didik memiliki minat, bakat dan kecenderungan yang berbeda-beda. Peserta didik mendominasi sebab pendidik menyerahkan sepenuhnya proses pembelajaran pada peserta didik.

d. Gaya Mengajar Interaksional

―Peran pendidik sangat dominan pendidik dan peserta didik berupaya memodifikasi berbagai ide atau ilmu yang dipelajari untuk mencari bentuk berdasarkan kajian yang dipelajari‖.34

Berdasarkan pendapat yang telah dipapar bahwa gaya mengajar interaksional adalah gaya mengajar dimana pendidik mengikutsertakan peserta didik dalam proses pembelajaran. Pendidik juga memodifikasi ide

33

Abdul Majib, 280.

34

(37)

atau ilmu yang dipelajari bersama dengan peserta didik agar peserta didik lebih memahami secara keseluruhan.

Berdasarkan pemaparan di atas dapat dipahami bahwa gaya mengajar terdapat 4 macam yaitu gaya mengajar klasik adalah gaya mengajar dimanapendidik lebih aktif dibandingkan peserta didik, gaya mengajar teknologis adalah gaya mengajar yang menggunakan media yang sudah ada dan terkesan kaku, gaya mengajar personalisasi adalah gaya mengajar yang tidak memaksakan peserta didik sesuai dengan minat dan bakat, dan gaya mengajar interaksional adalah gaya mengajar yang mengikutsertakan peserta didik dalam proses pembelajaran.

Adapun pendapat lain mengenai macam-macam gaya mengajar yaitu menurut Riessman, sebagai berikut:

a. Kompulsif: Pendidik bertipe ini cenderung rewel, mengajarkan sesuatu secara berulang-ulang, dan memperhatikan urutan dan struktur pembelajaran.

b. Boomer: Pendidik berteriak dengan suara keras yang kuat, seperti:‖Kalian akan belajar‖, ―Tidak ada omong kosong di dalam kelas‖.

c. Maverick: Semua orang menyukai guru ini, kecuali, mungkin kepala sekolah. Dia menimbulkan pertanyaan sulit dan menyajikan ide-ide yang dianggap mengganggu.

d. Pelatih: Pendidik tipe ini adalah informal. Bersahaja dan mungkin seorang atlet, secara fisik ia ekspresif dalam mengajar kelas. e. Seseorang yang tenang:Pendidik tipe ini bersifat tulus dan tenang,

tapi pasti dalam memerintahkan tentang hormat dan perhatian. f. Entertainer:Pendidik ini cukup bebas untuk bercanda dan tertawa

dengan peserta didik.

g. Sekuler:Orang ini sangat santai dan informal dengan para peserta didiknya, dia bisa melakukan makan siang, atau bermain bola dengan mereka.

(38)

h. Akademik:Pendidik yang tertarik pada pengetahuan dan substansi dari ide-ide.35

Berdasarkan pendapat di atas dapat dipahami bahwa gaya mengajar pendidik bermacam-macam sesuai dengan karakter pendidik. Misalnya, gaya mengajar pendidik lebih aktif dari pada peserta didik, pendidik menggunakan banyak variasi media dalam proses pembelajaran, pendidik yang bersifat humor, pendidik yang melibatkan peserta didik dalam proses pembelajaran seperti diskusi, pendidik yang cerewat dan mengulang materi, pendidik yang bersifat tegas, pendidik tidak terlalu mendominasi dalam proses pembelajaran diserahkan kepada peserta didik, pendidik yang bersifat tenang dalam proses pembelajaran dan pendidik yang bersifat informal serta pendidik yang santai dan bersahaja dengan peserta didik.

3. Komponen Gaya Mengajar

Menurut Allan C. Ornstein ada beberapa komponen dalam gaya mengajar pendidik ialah pemanfaatan ruang kelas/pengelolaan kelas, pilihan kegiatan pembelajaran dan materi, dan cara pengelompokan peserta didik. Adapun pengelolaan kelas menurut Uzer Usman adalah keterampilan pendidik untuk menciptakan kondisi kelas yang optimal dan memelihara kelas agar tetap kondusif dalam proses pembelajaran. Adapun komponen keterampilan pengelolaan kelas sebagai berikut:

35

(39)

a. Memandang secara seksama

b. Memberikan perhatian dengan mendekati peserta didik c. Memusatkan perhatian kelompok

d. Memberikan pernyataan

e. Menegur jika ada gangguan dalam kelas f. Pemberian penguatan

Selain itu Uzer Usman juga mengemukakan cara pengelompokan peserta didik dengan mengelompokan antara 3-8 peserta didik untuk kelompok kecil dan seorang untuk perseorangan, memusatkan perhatian peserta didik pada tujuan dan topik diskusi, memperluas masalah atau urutan pendapat, menganalisis pandangan peserta didik, meningkatkan urutan peserta didik, menyebarkan kesempatan untuk berpartisipasi.36

Adapun komponen gaya mengajar yaitu pemilihan kegiatan pembelajaran dan materi. Pemilihan kegiatan pembelajaran menurut Hanry Lehman sebagai berikut:

a. Analisis kebutuhan pembelajaran yang terdiri dari analisis prilaku dan karakteristik peserta didik, dan menganalisis hambatan, tantangan, dan peluang pembelajaran.

b. Merancang desain pembelajaraan terdiri dari menetapkan tujuan pembelajaran, memilih dan pembelajraan bahan ajar, memilih dan merancang strategi, metode pembelajaran, dan memilih dan mengembangkan sistem evaluasi.

36

(40)

c. Implementasi pembelajaran sambil dievaluasi

d. Refleksi dan modifikasi desain, sesuai hasil evaluasi pembelajaran Sedangkan yang perlu diperhatikan dalam pemilihan materi pembelajaran, yaitu:

a. Prinsip relevansi artinya keterkaitan, materi pembelajaran hendaknya relevan atau berhubungan dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar.

b. Prinsip konsistensi artinya keajegan, materi hendaknya sesuai dengan kompetensi dasar jika ada 4 macam makan materi yang diajarkan jua meliputi 4 macam.

c. Prinsip kecukupan artinya materi yang diajarkan hendaknya tidak terlalu sedikit dan tidak terlalu banyak cukup memadai untuk menguasai kompetensi dasar.37

Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat dipahami bahwa komponen gaya mengajar pendidik terdiri dari pengelolaan kelas yaitu keterampilan mengelolah dan memelihara kondisi kelas salah satunya dengan menunjukkan sikap tanggap, memberikan perhatian, memberi penguatan dan menegur. Cara pengelompokkan peserta didik dengan mengelompokkan peserta didik 3-8, memberikan kesempatan berpartisipasi dan memusatkan perhatian peserta didik. sedangkan pemilihan kegiatan pembelajaran dan materi dapat dilakukan dengan menganalisis kebutuhan, merancang desain pembelajaran,

37

Muhammad Zain, ―Pengembangan Strategi Pembelajaran dan Pemilihan Bahan Ajar,‖ Inspiratif Pendidikan 6, no. 1 (Juni 2017): 176–77.

(41)

implementasi pembelajaran sambil evaluasi dan refleksi dan memilih materi dengan menggunakan prinsip relevansi, konsistensi dan kecukupan.

4. Variasi Gaya Mengajar

Variasi gaya mengajar secara umum meliputi variasi suara, gerakan anggota badan dan perpindahan posisi guru dalam kelas. Bagi siswa variasi yang digunakan guru itu dilihat sebagai sesuatu yang energik, antusias, lebih bersemangat, dan semuanya memiliki relevansi dengan dengan hasil belajar. Perilaku guru yang sedemikian, dalam proses belajar mengajar akan menjadi dinamis dan mempertinggi komunikasi antara guru dan siswa, menarik perhatian para siswa, menolong penerimaan bahan pengajaran, dan memberi stimulasi.38

Perilaku seorang pendidik dalam proses belajar mengajar lebih bervariasi maka dalam proses pembelajaran akan lebih dinamis dan variasi ini dapat mempertinggi komunikasi antara pendidik dengan peserta didik, sehingga akan menarik perhatian para peserta didik, peserta didik dapat menerima bahan pelajaran dengan baik, dan memberi stimulasi antara pendiidk dan peserta didik. Adapun variasi gaya mengajar seorang pendidik menurut Syaiful Bahri Djamarah sebagai berikut:

a. Variasi Suara

Suara adalah modal utama bagi seorang pendidik sebagai pendukung dalam proses belajar mengajar. Suara pendidik sebagai alat komunikasi dengan peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar. Jadi suara seorang pendidik yang baik adalah suara yang

38

Abuddin Nata, Perspektif Islam Tentang Strategi Pembelajaran (Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2011), 288.

(42)

sedang tidak terlalu kecil tetapi juga tidak terlalu tinggi, enak didengarkan oleh peserta didik sehingga peserta didik lebih memperhatikan untuk menciptakan suasana belajar mengajar yang menyenangkan, menggembirakan dan menggairahkan.

b. Penekanan

Guna memfokuskan perhatian pada suatu aspek yang penting atau kunci dapat menggunakan penekanan secara verbal atau mengkombinasikan dengan gerakan anggota badan untuk memusatkan perhatian peserta didik.

c. Pemberian Waktu

Salah satu cara untuk menarik perhatian peserta didik dapat dilakukan dengan mengubah yang bersuara menjadi sepi, dari suatu kegiatan yang bersuara menjadi kegiatan tanpa suara atau diam. Salah satu pendidik mengajukan beberapa pertanyaan kepada peserta didik. Kemudian pendidik memberikan waktu yang dapat dipakai untuk mengorganisasi jawabannya agar menjadi lengkap. d. Kontak Pandang

Kontak pandang menjadi masalah yang sangat penting dan perlu dipahami oleh setiap pendidik. Sebab komunikasi antara manusia bermulai dari tatapkan mata yang dilanjutkan ke hati. Tatapan mata merupakan kunci untuk mengetahui sejauhmana peserta didik dapat memahami materi yang telah pendidik sampaikan dan fokus pada penjelasan pendidik.

(43)

e. Gerakan Anggota Badan

Variasi gerakan badan merupakan salah satu cara untuk menarik perhatian peserta didik serta membantu menyampaikan materi. Variasi mimik, gerakan kepala dan badan dapat menunjang komunikasi dalam proses belajar mengajar. Gerakan anggota badan ini jangan dilakukan secara berlebihan sebab akan menimbulkan kesan yang tidak baik.

f. Pindah Posisi

Menghidupkan suasana belajar di dalam kelas bisa dilakukan dengan banyak cara salah satunya adalah pindah posisi. Variasi pindah posisi ini sebagai suatu cara untuk memusatkan perhatian peserta didik. Perpindahan ini di lakukan dengan cantik sehingga suasana kelas dapat di kondisikan secara kondusif dan proses belajar mengajar tetap berjalan dengan baik.39

Berdasarkan penjelasan di atas dapat dipahami bahwa variasi dalam mengajar tersebut meliputi suara, penekanan materi, pindah posisi, gerak badan, kontak pandang dan pemberian waktu. Seorang pendidik diharapkan dapat menguasai variasi gaya mengajar dan mengimplimentasikan segala kemampuan yang dimiliki. Sehingga proses pembelajaran dalam berjalan dengan lancar dan tujuan pembelajaran dapat tercapai secara maksimal.

39

(44)

Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perpindahan posisi menurut Uzer, sebagai berikut:

1) Membiasakan bergerak dengan bebas dalam menyampaikan materi sehingga peserta didik merasa lebih dekat dengan pendidik dan pendidik dapat mengontrol perilaku peserta didik. 2) Membiasakan jangan menulis sambil menerangkan maka akan mengakibatkan pendidik tidak dapat mengontrol perilaku peserta didik sebab pendidik menghadap papan tulis.

3) Membiasakan saat menerangkan pendidik tidak melihat ke arah atas, arah bawah, arah luar dan hanya memandang ke arah satu peserta didik saja, tetapi pandangan pendidik harus menyeluruh ke arah peserta didik.

4) Pendidik harus berjalan sambil mengamati perilaku peserta didik dari bagian depan kelas, kiri dan kanan kelas serta belakang kelas dengan secara perlahan.40

Berdasarkan pendapat di atas dapat di pahami bahwa seorang pendidik tidak hanya berdiam diri di saat menerangkan materi, tetapi melakukan gerakan badan seperti pindah posisi. Sehingga peserta didik lebih memerhatikan, disamping itu juga pendidik dapat mengamati peserta didik dengan melihat segala arah saat menyampaikan materi. Sehingga peserta didik akan lebih terfokus pada pendidik.

40

(45)

C. Hubungan Gaya Mengajar Pendidik PAI dengan Minat Belajar Peserta Didik

Variasi gaya mengajar secara umum meliputi variasi suara, gerakan anggota badan dan perpindahan posisi guru dalam kelas. Bagi siswa variasi yang digunakan guru itu dilihat sebagai sesuatu yang energik, antusias, lebih bersemangat, dan semuanya memiliki relevansi dengan dengan hasil belajar. Perilaku guru yang sedemikian, dalam proses belajar mengajar akan menjadi dinamis dan mempertinggi komunikasi antara guru dan siswa, menarik perhatian para siswa, menolong penerimaan bahan pengajaran, dan memberi stimulasi.41

Berdasarkan pendapat di atas dapat dipahami bahwa ada suatu keterkaitan antara minat belajar dengan gaya mengajar yaitu seorang pendidik yang energik, antusias, dan bersemangat dalam proses pembelajaran dapat menarik perhatian peserta didik merupakan salah ciri peserta didik berminat dalam belajar yang mendorong untuk melakukan suatu hal ada tanpa ada unsur paksaan.

D. Kerangka Konseptual Penelitian

Kerangka berpikir merupakan ―konseptualisasi tentang teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah didefinisikan sebagai masalah yang penting‖.42

Berdasarkan penjelasan di atas kerangka berpikir adalah konsep yang berhubungan antar dua variabel sehingga tujuan dan arah penelitian dapat diketahui secara jelas.

Berdasarkan pemaparan di atas, maka kerangka berpikir penelitian ini adalah gaya mengajar yang baik dan tepat bagi peserta didik dapat membangkitkan minat belajar, jika gaya mengajar pendidik baik maka akan

41

Abuddin Nata, Perspektif Islam Tentang Strategi Pembelajaran, 288.

42

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D (Bandung: Alfabeta, 2016), 51.

(46)

diperoleh minat belajar pun baik. Sebaliknya gaya mengajar pendiidk kurang baik akan mengakibatkan minat belajar peserta didik pun kurang baik dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 2.1

Kerangka Konseptual Penelitian

E. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kerangka berpikir di atas, maka peneliti mengajukan hipotesis penelitiannya, yaitu ―Terdapat Hubungan Gaya Mengajar Pendidik PAI dengan Minat Belajar Peserta Didik SMAN 1 Purbolinggo‖. Semakin baik dan kreatif gaya mengajar pendidik maka semakin besar pula minat peserta didik SMAN 1 Purbolinggo.

Gaya Mengajar Pendidik

Minat Belajar Peserta Didik

(47)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN A. Rancangan Penelitian

Rancangan penelitian adalah strategi untuk mengatur latar penelitian agar peneliti dapat memperoleh sumber data yang valid sesuai dengan variabel dan tujuan penelitian.43 Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah jenis penelitian kuantitatif dengan menggunakan bentuk penelitian korelatif. Peneliti ingin mengetahui adakah hubungan antara dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Penelitian ini akan di lakukan di SMAN 1 Purbolinggo, Desa Tanjung Inten Kec. Purbolinggo, Kab. Lampung Timur Provinsi Lampung.

B. Definisi Operasional Variabel

Definisi operasional variabel adalah ―definisi yang didasarkan atas sifat-sifat hal yang didefinisikan yang dapat diamati‖.44

1. Variabel Bebas (Gaya Mengajar)

Gaya mengajar adalah cara dan teknik seorang pendidik dalam menyampaikan materi dengan mengelola ruang kelas, menggunakan metode dan media pembelajaran yang menarik. Sehingga proses pembelajaran dapat terarah dan terkontrol dengan baik. Adapun komponen gaya mengajar pendidik terdiri dari pengelolaan kelas yaitu keterampilan mengelolah dan memelihara kondisi kelas salah satunya dengan menunjukkan sikap tanggap, memberikan perhatian, memberi penguatn

43

Zuhairi, Ida Umami, dkk, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Jakarta: Rajawali Press, 2016), 47.

44

(48)

dan menegur. Cara pengelompokkan peserta didik dengan mengelompokkan peserta didik 3-8, memberikan kesempatan berpartisipasi dan memusatkan perhatian peserta didik. sedangkan pemilihan kegiatan pembelajaran dan materi dapat dilakukan dengan menganalisis kebutuhan, merancang desain pembelajaran, implementasi pembelajaran sambil evaluasi dan refleksi dan memilih materi dengan menggunakan prinsip relevansi, konsistensi dan kecukupan.

2. Variabel Terikat (Minat Belajar)

Minat belajar adalah suatu ketertarikan atau rasa senang peserta didik pada proses pembelajaran yang mendorong peserta didik untuk melakukan suatu proses perubahan tingkah laku dalam hal positif, misal kegiatan mencari ilmu pengetahuan. Adapun ciri-ciri seorang peserta didik yang mempunyai minat belajar jika peserta didik mempunyai kecenderungan, rasa suka, perhatian dalam proses pembelajaran. Hal ini dapat di lihat bagaimana peserta didik rajin, berkonsentrasi, rasa senang atau rasa suka dengan penuh semangat, antusias dan aktif mengikuti dan memahami proses pembelajaan secara terus menerus dan tanpa beban. ciri peserta didik mempunyai minat belajar juga dapat melalui memusatkan perhatiannya pada mata pelajaran yang mereka sukai, perhatian tersebut berbeda dengan peserta didik yang lain. Perhatian yang mereka lakukan itu juga intensif atau terus menerus sehingga mereka dapat memperoleh hasil yang maksimal.

(49)

C. Populasi, Sampel dan Teknik Sampling 1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan objek atau subjek yang berada pada suatu wilayah yang akan diteliti dengan memenuhi syarat-syarat tetentu berkaitan dengan masalah. Populasi juga sering diartikan sebagai keseluruhan unit atau individu dalam ruang lingkup yang akan di teliti.45

Berdasarkan masalah yang akan diteliti jumlah populasi penelitian ini dengan judul penelitian Hubungan Gaya Mengajar Pendidik PAI dengan Minat Belajar Peserta Didik SMA N 1 Purbolinggo yaitu seluruh peserta didik X ISOS yang berjumlah 143 peserta didik. Peneliti menentukan populasi kelas X khususnya kelas X ISOS dikarenakan pendidik mengajar kelas X ISOS. Jumlah kelas X ISOS ada 4 kelas yaitu X ISOS 1, X ISOS 2, X ISOS 3, dan X ISOS 4. Adapun jumlah peserta didik untuk setiap kelas seperti dalam tabel.

Tabel 3.1

Jumlah Populasi Kelas X ISOS SMAN1 Purbolinggo

No Jumalah Seluruh Kelas X ISOS Jumlah Peserta Didik Jumlah Peserta Didik Muslim Jumlah Peserta Didik Non Muslim P L Jml 1 Kelas X ISOS1 19 18 37 37 - 2 Kelas X ISOS2 22 14 36 35 1 3 Kelas X ISOS3 18 17 35 35 - 4 Kelas X ISOS4 16 19 35 35 - JUMLAH 75 68 143 142 1 45

Nanang Martono, Metode Penelitian Kuantitatif: Analisis Isi dan Analisis Data Sekunder (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2012), 74.

(50)

2. Sampel

Sampel adalah bagian dari unit, jumlah dan karakteristik populasi yang akan diteliti. Apabila populasi dalam jumlah besar peneliti tidak mungkin meneliti semua populasi. Suatu sampel atau bagian dari populasi bisa diambil yang betul-betul representatif (mewakili) yang akan diteliti. Sampel juga dapat diartikan bagian dari populasi yang ditentukandengan menggunakan prosedur sehingga sampel ini dapat mewakili populasi yang akan diteliti.46 Menurut Suharsimi Arikunto ―Apabila subjeknya kurang dari 100 lebih baik diambil semua sehigga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Tetapi jika jumlah subjeknya besar maka diambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih‖.47 Maka untuk menentukan sampel dalam penelitian jumlah sampel diambil 30% dari populasi. Tabel 3.2 Jumlah Sampel No Kelas Jumlah Siswa Presentase Jumlah Sampel Pembulatan 1 X ISOS 1 37 30% 11,1 11 2 X ISOS 2 35 30% 10,5 11 3 X ISOS 3 35 30% 10,5 11 4 X ISOS 4 35 30% 10,5 11 Jumlah 44

46 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D (Bandung: Alfabeta,

2016), 81.

47

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Penelitian Praktik (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), 134.

(51)

Jadi jumlah sampelnya = 11+11+11+11=44. Jumlah bilangan pecahan bisa dibulatkan keatas, sehingga jumlah sampel penelitian ini adalah 44 dari jumlah populasi di SMAN 1 Purbolinggo kelas X .

3. Teknik Sampling

Teknik sampling merupakan teknik, metode atau cara menentukan besar sampel yang akan diteliti. Teknik sampling mempunyai dua teknik sampling yaitu probability sampling dan

nonprobability sampling.

Berdasarkan dua teknik sampling di atas peneliti dengan judul penelitian hubungan gaya mengajar pendidik PAI dengan minat belajar peserta didik SMAN 1 Purbolinggo, peneliti menggunakan teknik

Random Sampling sebab populasi penelitian ini anggota yang homogen

dan semua subjek dianggap sama. D. Metode Pengumpulan Data

1. Metode Angket

Kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan kepada responden untuk menjawabnya. Kuensioner ini cocok digunakan pada responden yang jumlahnya cukup besar dan wilayah luas.48

Angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket tertutup yaitu ―Angket yang dirancang untuk merekam data tentang

48

(52)

keadaan yang dialami oleh responden, kemudian semua alternatif jawaban yang harus dijawab responden, telah tertera dalam angket‖.49

Angket ini menggunakan jenis angket instrumen skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang.Penyusunan item dalam hal ini dijabarkan dari variabel menjadi indikator sebagai tolak ukur untuk menyusun item-item yang berupa pertanyaan atau pernyataan. Adapun beberapa jawaban item instrumen: pertama, sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju dan sangat tidak setuju. Kedua, selalu, sering, kadang-kadang dan tidak pernah. Ketiga, sangat positif. Positif, negatif, dan sangat negatif.

Keempat, sangat baik, baik, tidak baik, dan sangat tidak baik. Adapun

skor dalam setiap instrumen untuk setuju/selalu/sangat positif dengan nilai 5, untuk setuju/sering/ positif dengan nilai 4, untuk ragu-ragu/kadang-kadang/netral dengan nilai 3, untuk tidak setuju/hampir tidak pernah/negatif dengan nilai 2, dan untuk sangat tidak setuju/tidak pernh dengan nilai 1.Penelitian ini menggunakan alternatif jawaban selalu, sering, kadang-kadang, dan tidak pernah.50 Angket ini ditujukan kepada peserta didik untuk mengetahui hubungan gaya mengajar pendidik PAI dengan minat belajar peserta didik dalam proses pembelajaran SMAN 1 Purbolinggo.

49

Burhan Bungin, Metode Penelitian Kuantitatif, Sosial dan Ekonomi (Jakarta: Kencana, 2013), 130.

50

(53)

2. Metode Observasi

Observasi adalah salah satu teknk pengumpulan data yang mempunyai ciri lebih spesifik dibandingkan dengan teknik yang lain, yaitu angket dan wawancara. Angket dan wawancara peneliti dapat bertatap muka secara langsung dengan responden sedangkan teknik ini peneliti hanya mengamati objek-objek penelitian. ―Observasi merupakan suatu proses yang komplek, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis. Dua di antara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan‖.51

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa observasi adalah teknik pengumpulan data yang komplek dimana proses ini tersusun dari proses biologi sampai proses psikologis. Proses ini di lakukan melalui pengamatan dan ingatan peneliti terhadap objek penelitian.

Metode observasi yang digunakan adalah observasi nonpartisipasi karena peneliti tidak terlibat langsung dalam proses penelitian tetapi peneliti hanya sebagai pengamat dalam kegiatan proses pembelajaran untuk melihat gaya mengajar pendidik PAI SMAN 1 Purbolinggo.

3. Metode Dokumentasi

Metode dokumentasi adalah salah satu metode pengumpulan data yang digunakan untuk mengumpulkan data yang bersifat sosial dan mencari data yang bersifat historis. Metode ini berbentuk laporan, surat,

51

(54)

catatatan harian dan lain-lain.52 Metode dokumentasi digunakan untuk denah lokasi dan jumlah peserta didik serta jumlah pendidik dan karyawan SMAN 1 Purbolinggo.

E. Instrumen Penelitian

1. Rancangan/ kisi-kisi Instrumen a. Angket

Tabel 3.3

Kisi-Kisi Kuesioner (Angket)

Variabel Indikator Jumlah

Item Nomer Item Variabel Bebas (X) Gaya Mengajar Pendidik

1. Pemanfaatkan ruang kelas a. Memandang secara seksama b. Memberikan perhatian dengan mendekati peserta didik c. Memusatkan perhatian kelompok d. Memberikan pernyataan e. Menegur jika ada

gangguan dalam kelas f. Pemberian penguatan 2. Pemilihan kegiatan

pembelajaran dan materi a. Menganalisis kebutuhan b. Merancang desain pembelajaran c. Implementasi pembelajaran sambil evaluasi d. Refleksi e. Prinsip relevansi, f. Prinsip konsistensi g. Prinsip kecukupan 3. Cara pengelompokan peserta didik 6 8 1,2,3,4,5,6 7.8.9.10,11,12,13,14 52

Burhan Bungin, Metode Penelitian Kuantitatif Komunikasi, Ekonomi dan Kebijakan Publik serta Ilmu-Ilmu Sosial Lainnya (Jakarta: Kencana, 2010), 15.

(55)

a. Mengelompokkan peserta didik 3-8 b. Memberikan kesempatan berpartisipasi c. Memusatkan perhatian peserta didik pada tujuan dan topik diskusi d. Memperluas masalah

atau urunan pendapat e. Menganalisis pandangan peserta didik 5 15,16,17,18,19 Variabel Terikat (Y) Minat Belajar Peserta Didik 1. Memberikan perhatian terhadap sesuatu yang diminati

a. Konsentrasi

b. Mengampingkan hal yang lain

2. Rasa suka dan senang terhadap sesuatu yang diminati a. Perhatian b. Aktif berbuat c. Ketertarikan (rajin, antusias) 3. Dimanifestasikan melalui partisipasi dalam suatu aktivitas

a. Partisipasi dalam pembelajaran

b. Perhatian yang lebih besar terhadap subjek tertentu

4. Lebih memusatkan perhatian (mata pelajaran) dibandingkan peserta didik yang lain a. Giat b. Intensif c. Memperolah hasil optimal 2 5 2 3 1,2 3,4,5,6,7 8,9 10,11,12

(56)

2. Pengujian Instrumen

Pengujian instrumen dlakukan untuk pengetesan item-item instrumen yang telah dibuat oleh peneliti untuk mengetahui validitas dan reliabilitas instrumen penelitian. Untuk mengetahui validitas dan reliabilitas item-item angket, peneliti menguji angket pada responden lain diluar sampel, kemudian hasilnya dianalisis dari hasil analisis tersebut akan ditentukan layak atau tidak item tersebut digunakan untuk mengumpulkan data khususnya variabel pemberian penguat

a. Validitas

Pengujian validitas digunakan untuk mengetahui hubungan antara masing-masing item pertanyaan pada variabel bebas dan variabel terikat. Apabila ada satu pertanyaan yang dinyatakan tidak valid, direvisi atau dihilangkan dari daftar pertanyaan sehingga terlihat konsisteni dari masing-masing item pertanyaan dan dapat digunakan untuk analisis lebih lanjutdengan rumus:

R

xy = 2 2

y

x

xy

Keterangan: rxy = angka indeks korelasi ―Y‖ product moment

∑xy = jumlah hasil perkalian antara skor X dan Y ∑X2

= jumlah seluruh skor X2 ∑Y2

(57)

b. Reliabilitas

Setelah pengujian validitas dilakukan, kemudian peneliti menggunakan teknik Spearman Brown untuk mengetahui tingkat reliabilitas, sebagai berikut:

R

tot =

n n

r

r

1

)

(

2

Keterangan : Rtot = reliabilitas seluruh item

rn = angka korelasi belahan pertama dan belahan kedua53

F. Teknik Analisis Data

Setelah peneliti melakukan pengujian data yang maka selanjutnya penulis melakukan analisis data untuk mengetahui hubungan gaya mengajar pendidik PAI dengan minat belajar SMAN 1 Purbolinggo, penelitimenggunakan rumus: ∑XY –(∑X)(∑Y) n r = [∑X2-(∑X)2][∑Y2-(∑Y)2] n n Keterangan: r = Koefisien korelasi

∑xy = Jumlah hasil kali skor x dengan skor y yang berpasangan ∑x = Jumlah skor dalam sebaran x

∑y = Jumlah skor dalam sebaran y ∑x2

=Jumlah skor yang dikuadratkan dalam sebaran x

53

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

dalam penelitian ini adalah pertama pembuatan larutan uji, yaitu air sadah tiruan dan air sadah dari industri tekstil paling korosif dari hasil penelitian

(2) Latihan Refeling. Dengan kondisi medan di daerah operasi sangat bervariasi dan kebanyakan hutan belantara serta mobilitas dan agresifitas musuh yang tinggi

Sehingga penelitian yang telah dilakukan adalah sesuai berdasarkan teori, yaitu dari 3.672 populasi dengan mengambil setiap kelipatan 10 karena kelipatan 10 adalah hasil

Dalam skim pembiayaan Multijasa di BPRS Gala Mitra Abadi menggunakan akad Ijarah, yaitu akad pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu barang atau jasa dalam waktu

Relasi yang intim dengan Allah akan memperkokoh spiritualitas kehidupan kita, dan spiritualitas yang kokoh membuat kita tidak mudah tergoncang dalam badai apapun yang menimpa

yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa sabun II dengan konsentrasi ekstrak daun jarak sebesar 10% menunjukkan respon paling baik yang diberikan oleh 30

Berdasarkan hasil penelitian dan analisa data di unit pengantongan semen Bosowa Indonesia sesuai metode Seven Quality Tools dapat diketahui jumlah produksi selama 2 bulan

Teori ini merupakan pengembangan dari model kepemimpinan tiga dimensi, yang didasarkan pada hubungan antara tiga faktor, yaitu perilaku tugas (Task behavior), perilaku