1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian
Terdapat tiga sektor di Burrsa Efek Indonesia (BEI) yang diantaranya adalah sektor utama, sektor manufaktur dan sektor jasa yang kemudian dijabarkan menjadi sembilan indeks sektoral yang terdiri dari sektor pertambangan; properti, real estat dan konstruksi bangunan; perdagangan, jasa dan investasi; barang konsumsi; aneka industri; pertanian; keuangan; industri dasar dan kimia dan infrastruktur, utilitas dan transportasi (www.idx.co.id, 2018).
Objek pada penelitian ini merupakan perusahaan sektor manufaktur. Dimana per tanggal 12 September 2017, jumlah perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sebanyak 611 perusahaan dan diantaranya terdapat 164 perusahaan manufaktur atau sekitar 26,84% dari perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Berikut adalah jumlah perusahaan sektor manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang dapat dilihat pada tabel 1.1.
Tabel 1.1
Jumlah Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI tahun 2018
NO SEKTOR JUMLAH PERUSAHAAN
1 Sektor Industri Barang Konsumsi 49 2 Sektor Industri Dasar dan Kimia 71
3 Sektor Aneka Industri 44
JUMLAH 164
Sumber: (www.idx.co.id, 2018)
Tabel 1.1 menunjukkan secara rinci jumlah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang dibagi menjadi tiga sektor diantaranya sektor industri barang konsumsi, sektor industri dasar dan kimia dan sektor aneka industri.
2
Yang dari tiap-tiap sektor tersebut dikelompokkan lagi berdasarkan sub sektornya masing-masing.
Berikut pada Gambar 1.1 menunjukkan Distribusi PDB dari beberapa industri yang beragam yang ada di Indonesia. Industri Pengolahan atau sektor manufaktur dari tahun 2014 hingga 2017 selalu menjadi perusahaan yang memiliki kontribusi paling besar terhadap PDB nasional di Indonesia dibandingkan dengan industri lainnya, bisa dilihat dari grafik yang signifikan antara sektor manufaktur dengan yang lainnya. Sektor manufaktur juga merupakan salah satu perusahaan yang berkontribusi besar dalam meningkatkan perekonomian di Indonesia dibandingkan dengan sektor lainnya. Besarnya kontribusi perusahaan manufaktur terhadap PDB diyakini dapat meningkatkan perekonomian di Indonesia dan menjadi peluang yang baik di masa yang akan datang. Besarnya kontribusi ini juga menunjukkan bahwa perusahaan mampu menghasilkan laba yang lebih besar. Kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba yang besar akan menarik perhatian para investor untuk berinvestasi di perusahaan tersebut. Berikut adalah grafik yang menjelaskan kontribusi beberapa sektor industri pada PDB nasional di Indonesia.
Gambar 1.1
Kontribusi Beberapa Sektor Industri Terhadap PDB
Sumber: (www.bps.go.id, 2018) -10,00% -5,00% 0,00% 5,00% 10,00% 15,00% 20,00% 25,00% 30,00% 35,00% 40,00% 2014 2015 2016 2017 Pertanian Pertambangan Manufaktur Perdagangan Real Estate Listrik, Gas dan Air
3 1.2 Latar Belakang Penelitian
Laporan keuangan digunakan oleh pihak eksternal sebagai untuk memperoleh informasi terkait keadaan perusahaan, pengambilan keputusan bagi seorang investor, pencapaian kinerja suatu perusahaan atau entitas. Dalam PSAK No.1 Tahun 2015 disebutkan bahwa laporan keuangan berfungsi untuk memberikan informasi mengenai laporan arus kas, catatan atas laporan keuangan, laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif, laporan posisi keuangan dan laporan perubahan ekuitas yang informasinya disajikan berdasarkan fakta yang ada tanpa mengurangi pemahaman terhadap laporan keuangan. Laporan keuangan yang mencantumkan informasi-informasi material dapat dijadikan dasar bagi stakeholder dalam mengukur kinerja perusahaan berdasarkan kemampuan manajemen dalam mengelola sumber daya dan menghasilkan keuntungan (laba) dan juga bagi shareholder dalam mengambil keputusan dalam berinvestasi.
Salah satu media yang digunakan oleh perusahaan untuk menyampaikan informasi-informasi terkait dengan aktivitas yang dilakukan perusahaan selama satu periode akuntansi serta memberikan informasi mengenai kondisi perusahaan (Sulistyanto, 2014). Laporan keuangan juga seharusnya dapat membantu para
stakeholder maupun shareholder untuk mengevaluasi kekuatan dan kelemahan
perusahaan dengan melihat informasi mengenai modal, kewajiban dan asset (Hery, 2015:6). Informasi mengenai laba membantu perusahaan untuk memprediksikan dan melihat seberapa besar laba yang dapat dihasilkan untuk periode yang mendatang, ukuran laba juga menggambarkan bagaimana kinerja manajemen dalam menghasilkan laba guna membayar dividen investor, bunga kreditor dan pajak pemerintah. (Hery, 2015:34). Informasi laba sering digunakan para stakeholder dan shareholders sebagai tolak ukur kinerja perusahaan untuk melihat apakah tujuan operasi sudah tercapai dan juga sebagai pertanggungjawaban manajemen serta menjadi dasar dalam pengambilan sebuah keputusan.
Tindakan mementingkan diri sendiri (opportunistic) dilakukan dengan cara menentukan dan memilih metode akuntansi tertentu sehingga laba dapat diatur,
4
diturunkan (income decreasing), dinaikkan (income increasing) dan perataan laba (income smoothing) sesuai dengan kepentingannya masing-masing (Sulistyanto, 2014). Manajemen laba merupakan istilah dari tindakan manajemen dalam mengatur laba sesuai dengan kepentingan dan keinginan pribadi.
Manajemen laba sering timbul akibat benturan kepentingan antara manajemen (agent) dan pemilik (principal) atau yang sering disebut dengan konflik keagenan serta perbedaan informasi yang diterima dimana agent memiliki lebih banyak informasi dibandingkan dengan principal (Jensen dan Meckling, 1976). Perbedaan informasi yang didapat membuat seorang pemilik (pemegang saham atau investor) menginginkan informasi perusahaan diperoleh lebih cepat, lebih banyak, valid sehingga memungkinkan pihak manajemen untuk melakukan tindakan manajemen laba yang hanya berorientasi pada laba, yang dapat menciptakan kesan atau prestasi tertentu.
Infomasi laba yang tercantum dalam laporan keuangan sering kali dibuat dan disusun berdasarkan kepentingan pihak manajemen dan perusahaan atau kalangan pribadi, tindakan manajemen atau kalangan pribadi dalam mengatur informasi laba disebut dengan manajemen laba. Tindakan yang mementingkan kepentingan pribadi sering disebut sebagai tindakan opportunistic. Perspektif dan tindakan opportunistic merupakan pandangan yang menyatakan bahwa seseorang melakukan tindakan manajemen laba untuk mengelabui para investor dengan menyajikan informasi-informasi yang menyesatkan dan tentu untuk menyejahterakan kepentingan pribadi dan kalangan sendiri (Sulistyanto, 2014).
Menurut Fisher dan Rosenzweig dalam (Sulistyanto, 2014) bahwa tindakan menurunkan atau menaikkan laba pada periode tertentu oleh manajemen tanpa menyebabkan penurunan dan kenaikan keuntungan ekonomi perusahaan untuk jangka panjang disebut dengan manajemen laba. Tindakan menaikkan dan menurunkan laba hanya untuk keuntungan saat itu juga dan untuk kepentingan sendiri tanpa pertimbangan jangka panjang terhadap perusahaan.
National Association of Certified Fraud Examiners dalam (Sulistyanto, 2014)
5 kelalaian saat dalam menyusun laporan keuangan mengenai data akuntansi dan fakta material yang berujung menyesatkan saat digunakan sebagai dasar dalam pengambilan sebuah keputusan. Sedangkan menurut Schipper dalam (Sulistyanto, 2014:49) manajemen laba merupakan penyusunan laporan keuangan yang di dalamnya terdapat campur tangan yang mengarahkan kepada menguntungkan diri sendiri. Manajemen laba merupakan keadaan dimana seseorang dengan sangat sadar melakukan perubahan-perubahan akuntansi saat melakukan penyusunan laporan keuangan, yang nantinya akan digunakan bagi pihak eksternal dan orang-orang yang memiliki kepentingan di dalam perusahaan.
Terdapat beberapa alasan mengapa manajer melakukan manajemen laba. Salah satunya adalah untuk kepentingan meningkatkan kepercayaan pemegang saham terhadap kinerja perusahaan dan juga untuk memperbaiki hubungan dengan pihak kreditor (Sulistyanto, 2014:65-94). Perusahaan yang sedang mengalami financial
distress memungkinkan dalam melakukan tindakan manajemen laba. Dimana
perusahaan akan berusaha menutupi utangnya dan menyajikan laporan keuangan agar terlihat bagus dan baik, sedangkan keadaan sesungguhnya perusahaan mengalami kerugian yang berturut-turut. Harga saham sebuah perusahaan secara signifikan dipengaruhi oleh laba perusahaan itu sendiri. Laba yang terlihat konsisten dapat mengurangi risiko yang ada dalam perusahaan. Sebagai salah satu upaya perusahaan untuk menaikkan harga saham dan mengurangi risiko perusahaan tak jarang perusahaan melakukan tindakan manajemen laba.
Salah satu kasus manajemen laba yang pernah terjadi di Indonesia yaitu pada perusahaan PT. Inovisi Infracom pada tahun 2015. Kasus pada perusahaan ini bermula ketika Bursa Efek Indonesia menemukan indikasi adanya manipulasi laba. Indikasi manajemen laba ini muncul ketika dirasa laporan keuangan yang diterbitkan tidak sesuai dan mengalami banyak kesalahan. Kesalahan yang mencolok terutama pada bagian penerimaan, bagian pembayaran kas pada karyawan, laba bersih per saham, aset tetap, utang-utang pada pihak ketiga dan berelasi. Bursa Efek Indonesia juga mempertanyakan adanya perubahan angka terhadap pembayaran kas kepada karyawan,
6
yang mana pada laporan keuangan tidak memunculkan penjelasan adanya perubahan. Pembayaran kas kepada karyawan yang sebelumnya bernilai Rp 1,9 triliun pada kuartal ketiga 2014 mengalami perubahan menjadi Rp 59 miliar (finance.detik.com, 2019).
Indikasi kecurangan dalam sebuah perusahaan dilihat melalui salah satu alat atau model pendeteksi kecurangan atau manipulasi laba dalam perusahaan yaitu
Beneish M-Score Model (Beneish & Nichols, 2007). Beneish M-Score merupakan
salah satu proksi yang dapat digunakan untuk mengetahui adanya tindakan manajemen laba dalam suatu perusahaan, model Beneish M-Score sudah diuji di beberapa Negara seperti India (Ragheveer Kaur, 2014), Vietnam (Linh, 2016) , Malaysia (Mohamad Ezrien Mohamad Kamal, 2016), Italia (Koschtial, 2013), Indonesia (Herawati, 2015) dan Nigeria (Oraka Azubuike Onuora, 2013) dan hasil penelitian menjelaskan bahwa
Beneish M-Score mampu membedakan perusahaan yang melakukan manajemen laba
dan tidak. Beneish (1999) dalam (Linh, 2016) menjelaskan bahwa Beneish M-Score diukur menggunakan delapan rasio keuangan meliputi Asset Quality Index (AQI);
Sales, General and Administration Expenses Index (SGAI); Days Sales in Receivable Index (DSRI); Sales Growth Index (SGI); Depreciation Index (DEPI);; Leverage Index
(LVGI); Gross Margin Index (GMI) dan Total Accruals to Total Asset (TATA). Kedelapan financial ratio tersebut akan menghasilkan angka kumulatif M-Score yang dijadikan sebagai indikator tindakan manajemen laba. Total MScore lebih kecil dari -2,22 menandakan bahwa perusahaan tidak melakukan manajemen laba sedangkan
M-Score lebih besar dari -2,22 menandakan bahwa perusahaan cenderung melakukan
7 Tabel 1.2
Angka Manajemen Laba berdasarkan Beneish M-Score
Perusahaan 2014 2015 2016 2017 PT.Wismilak Inti Makmur Tbk -1,47 -2,36 -2,15 -2,15 PT. Mayora indah Tbk -2,19 -2,44 -2,04 -1,91 PT. Lionmesh Prima Tbk -2,15 -0,28 -3,71 -0,34 PT. Alumindo Light Metal Industry Tbk -0,06 6,46 -6,76 -2,08 Sumber: Data yang telah diolah (2018)
Tabel 1.2 menunjukkan angka kumulatif Beneish M-Score tahun 2014 - 2017 dari empat perusahaan manufaktur yaitu PT. Wismilak Inti Makmur, PT. Mayora Indah, PT. Lionmesh Prima Tbk dan PT. Alumindo Light Metal Industry Tbk. Angka kumulatif Beneish M-Score yang lebih besar dari -2,22 mengindikasikan bahwa perusahaan melakukan tindakan manajemen laba. Pada tabel diatas menunjukkan bahwa keempat perusahaan melakukan manajemen laba pada beberapa tahun. PT.Wismilak Inti Makmur yang terindikasi melakukan manajemen laba di tahun 2014, 2016 dan 2017; PT. Mayora Indah yang terindikasi melakukan manajemen laba pada tahun 2014, 2016 dan 2017; PT. Lionmesh Prima Tbk yang terindikasi melakukan manajemen laba pada tahun 2014, 2015 dan 2017; PT. Alumindo Light Metal Industry Tbk yang terindikasi melakukan manajemen laba pada tahun 2014, 2015 dan 2017. Tindakan manajemen laba yang dilakukan oleh perusahaan tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhinya. Terdapat beberapa variabel yang dianggap peneliti mempengaruhi tindakan manajemen laba perusahaan tersebut meliputi ukuran perusahaan, kepemilikan manajerial perusahaan dan kompensasi bonus.
Praktik manajemen laba dipengaruhi oleh ukuran perusahaan. Menurut Sujoko (Sosiawan, 2012) ukuran perusahaan yang besar menunjukkan perkembangan sehingga investor akan lebih tertarik untuk berinvestasi. Menurut Asih (2014) ukuran perusahaan merupakan skala dimana perusahaan dapat diklasifikasikan besar kecil dengan ukuran total aktiva, nilai pasar saham, log size dan sebagainya. Gambar 1.2 menunjukkan
8
jumlah total aset dari empat perusahaan yang mana terindikasi melakukan manajemen laba. Menurut Agusti & Pramesti (2013) semakin besar perusahaan maka kemungkinan terjadinya manajemen laba dalam perusahaan akan semakin kecil. Namun hal tersebut bertolak belakang dengan data yang ada pada gambar 1.2 dimana menjelaskan baik perusahaan kecil atau besar yang dilihat dari total asset sama-sama masih melakukan tindakan manajemen laba. Bahkan PT. Mayora Indah Tbk yang tergolong dengan ukuran perusahaan besar justru lebih banyak melakukan manajemen laba jika dilihat dari tahun terindikasinya perusahaan melakukan tindakan manajemen laba. Penelitian mengenai pengaruh ukuran perusahaan terhadap manajemen laba sudah dilakukan oleh beberapa peneliti lainnya, namun masih menghasilkan kesimpulan dan hasil yang berbeda.
Hasil penelitian mengenai ukuran perusahaan oleh Aprina & Khairunnisa (2015); Agusti & Pramesti (2013), Asih (2014) dan Suryanawa (2017) mengungkapkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh terhadap manajemen laba. Hal berbeda dikemukakan oleh Irawan (2013); Yatulhusna (2015); Sosiawan (2012) dan Pujiningsih (2011) bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap tindakan manajemen laba sebuah perusahaan.
Gambar 1.2
Total Aset Perusahaan (dalam jutaan rupiah) Sumber: Data yang telah diolah (2018)
Rp5.000.000 Rp10.000.000 Rp15.000.000 Rp20.000.000 2014 2015 2016 2017
PT.Wismilak Inti Makmur Tbk PT. Mayora Indah Tbk
9 Kepemilikan manajerial menurut Gideon (Pramesti & Budiasih, 2017) merupakan besarnya jumlah saham yang dimiliki oleh manajerial dalam sebuah perusahaan, besaran manajemen laba yang dilakukan akan berbeda-beda tergantung dari motivasi melakukannya, seperti manajemen yang sekaligus sebagai pemegang saham dan manajemen yang tidak sebagai pemegang saham. Kepemilikan manajerial merupakan persentase jumlah saham yang dimiliki pihak manajemen dari seluruh modal saham yang beredar (Asih, 2014). Menurut Suryanawa (2017) semakin meningkatnya kepemilikan manajerial di dalam sebuah perusahaan maka kemungkinan dalam melakukan manajemen laba akan menurun. Meningkatnya kepemilikan manajerial diharapkan juga dapat meningkatkan pengawasan di dalam perusahaan. Namun hal berbeda yang ditunjukkan pada gambar 1.3 dimana kepemilikan manajerial PT. Wismilak Inti Makmur mengalami peningkatan, terutama pada tahun 2017 namun perusahaan tetap melakukan manajemen laba. Hal tersebut tidak selaras dengan pernyataan yang menyatakan bahwa dengan ditingkatkannya kepemilikan manajerial maka tindakan manajemen laba akan menurun. Penelitian mengenai pengaruh kepemilikan manajerial terhadap manajemen laba sudah dilakukan oleh beberapa peneliti lainnya, namun masih menghasilkan kesimpulan dan hasil yang berbeda.
Hasil penelitian mengenai kepemilikan manajerial oleh Pramesti & Budiasih (2017); Dimarcia & Krisnadewi (2016); Nugroho (2015) dan Suryanawa (2017) mengungkapkan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh terhadap manajemen laba. Hal tersebut menunjukkan bahwa dengan ditingkatkannya kepemilikan manajerial atas komisaris ataupun direksi dapat meminimalisir terjadinya manajemen laba dalam sebuah perusahaan. Hal berbeda dikemukakan oleh Agustia (2013); Lamora dan Kamaliah (2013), Sunaryo (2010) dan Pujiningsih (2011) bahwa kepemilikan manajerial tidak berpengaruh terhadap tindakan manajemen laba sebuah perusahaan.
10
Gambar 1.3
Persentase Kepemilikan Manajerial Perusahaan (dalam persen) Sumber: Data yang telah diolah (2018)
Menurut Sulistyanto (2014) bonus plan hypothesis atau kompensasi bonus merupakan satu dari berbagai motivasi dilakukannya manajemen laba oleh manajemen, manajemen cenderung menggunakan dan memilih metode-metode akuntansi yang akan meningkatkan angka laba perusahaan. Kompensasi yang diberikan oleh perusahaan kepada dewan komisaris dan direksi dapat berupa imbalan jasa dalam bentuk gaji, barang, dan tunjangan yang diterima secara langsung oleh dewan komisaris dan direksi (Sosiawan, 2012). Besaran bonus yang diberikan tergantung pada jumlah laba yang tercapai pada tahun tersebut, semakin besar laba yang dihasilkan maka semakin besar juga jumlah kompensasi yang diterima (Sosiawan, 2012). Adanya pemberian bonus berdasarkan capaian target laba dapat membuat sifat opportunistic manajemen muncul untuk memaksimalkan pencapaian bonus dengan melakukan manajemen laba. Namun hal tersebut tidak selaras dengan data yang ditunjukkan pada tabel 1.2 dan gambar 1.4, dimana baik perusahaan yang memberikan kompensasi bonus yang kecil maupun besar sama-sama melakukan manajemen laba. Ditunjukkan dengan PT. Lionmesh Prima Tbk yang memberikan kompensasi bonus paling kecil sama-sama melakukan manajemen laba dengan tiga perusahaan lainnya yang memberikan
0,00 5,00 10,00 15,00 20,00 25,00 30,00 35,00 40,00 2014 2015 2016 2017
PT.Wismilak Inti Makmur Tbk PT. Mayora Indah Tbk
11 kompensasi bonus lebih besar kepada dewan komisaris dan direksi perusahaan. Hal tersebut tidak selaras dengan pernyataan yang menyebutkan bahwa dengan adanya pemberian kompensasi bonus maka dewan komisaris dan direksi akan melakukan manajemen laba. Penelitian mengenai pengaruh kompensasi bonus terhadap manajemen laba sudah dilakukan oleh beberapa peneliti lainnya, namun masih menghasilkan kesimpulan dan hasil yang berbeda.
Hasil penelitian mengenai kompensasi bonus oleh Elfira (2014); Pujiati & Arfan (2013) dan Pujiningsih (2011) mengungkapkan bahwa kompensasi bonus berpengaruh terhadap manajemen laba. Hal berbeda dikemukakan oleh Wijaya & Christiawan (2014); Aprina & Khairunnisa (2015); dan Florensia (2017) bahwa kompensasi bonus tidak berpengaruh terhadap tindakan manajemen laba sebuah perusahaan.
Gambar 1.4
Jumlah Kompensasi yang diberikan Perusahaan (dalam jutaan rupiah) Sumber: Data yang telah diolah (2019)
Berdasarkan fenomena kasus dan data yang telah dijabarkan, dan juga masih banyaknya inkonsistensi beberapa hasil penelitian membuat penulis tertarik untuk meneliti tentang pengaruh ukuran perusahaan, kepemilikan manajerial dan kompensasi bonus terhadap manajemen laba, namun dengan memberikan diferensiasi pada tahun
0,00 5000,00 10000,00 15000,00 20000,00 25000,00 2014 2015 2016 2017
PT.Wismilak Inti Makmur Tbk PT. Mayora Indah Tbk
12
penelitian, proksi yang digunakan dan objek yang diteliti yaitu pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Penulis memilih perusahaan manufaktur karena memberi pertimbangan pada jenis usahanya yang memiliki kontribusi terbesar dalam perekonomian Indonesia dan merupakan perusahaan yang jumlahnya cukup banyak sehingga memungkinkan adanya praktik manajemen laba di dalamnya. Berdasarkan latar belakang diatas, penelitian ini mengambil judul “Manajemen Laba: Ukuran Perusahaan, Kepemilikan Manajerial dan Kompensasi Bonus (Studi Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2014-2017).”
1.3 Perumusan Masalah
Manajemen laba yang dilakukan oleh perusahaan akan berkaitan dengan laporan keuangan yang disajikan oleh perusahaan. Laporan keuangan perusahaan akan ditampilkan sebagus mungkin, dimana perusahaan bisa saja menutupi kerugiannya dengan melakukan manipulasi terhadap laporan keuangannya. Meskipun tindakan manajemen laba tidak selalu menyalahi prinsip akuntansi yang berlaku umum, namun tindakan ini dapat merugikan pihak eksternal seperti investor dan mengakibatkan kekeliruan dalam pengambilan keputusan atau membuat sebuah pengendalian apabila dilakukan secara berlebihan. Manajemen laba yang dilakukan oleh perusahaan dapat mengakibatkan kerugian bagi perusahaan itu sendiri dan mengurangi kepercayaan pihak eksternal kepada perusahaan.
Seperti uraian fenomena kasus dan data yang telah di paparkan pada latar belakang penelitian, bahwa tindakan manajemen laba masih dilakukan di berbagai perusahaan terutama pada perusahaan sektor manufaktur. Bahkan tindakan manajemen laba ini tidak hanya dilakukan oleh perusahaan kecil namun perusahaan besar sekali pun masih tetap melakukan tindakan manajemen laba. Tindakan manajemen laba yang dilakukan oleh perusahaan dengan merekayasa atau menyajikan laporan keuangan yang fiktif dapat berdampak buruk pada perusahaan itu sendiri. Tindakan manajemen laba tersebut dapat mengakibatkan citra perusahaan menjadi tidak baik, mengurangi
13 kepercayaan pihak eksternal yang terlibat kepada perusahaan dan juga mengakibatkan pengambilan keputusan yang berujung menyesatkan seperti pengambilan keputusan investor untuk berinvestasi kepada perusahaan. Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi manajemen laba dalam perusahaan. Penelitian ini akan membahas beberapa faktor yang terindikasi mempengaruhi tindakan manajemen laba dalam perusahaan diantaranya adalah ukuran perusahaan, kepemilikan manajerial dan kompensasi bonus.
1.4 Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan rumusan yang telah dibahas sebelumnya, maka pertanyaan penelitian dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana ukuran perusahaan, kepemilikan manajerial, kompensasi bonus dan manajemen laba pada perusahaan sektor manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2014-2017?
2. Apakah terdapat pengaruh secara simultan ukuran perusahaan, kepemilikan manajerial, kompensasi bonus terhadap manajemen laba pada perusahaan sektor manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2014-2017? 3. Apakah terdapat pengaruh secara parsial ukuran perusahaan, kepemilikan
manajerial, kompensasi bonus terhadap manajemen laba pada perusahaan sektor manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2014-2017? a. Pengaruh secara parsial ukuran perusahaan terhadap manajemen laba pada
perusahaan sektor manufaktur yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia pada tahun 2014 – 2017?
b. Pengaruh secara parsial kepemilikan manajerial terhadap manajemen laba pada perusahaan sektor manufaktur yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia pada tahun 2014 – 2017?
c. Pengaruh secara parsial kompensasi bonus terhadap manajemen laba pada perusahaan sektor manufaktur yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia pada tahun 2014 – 2017?
14
1.5 Tujuan Penelitian
Berdasarkan pertanyaan penelitian yang telah diuraikan diatas, maka tujuan penelitian ini sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui ukuran perusahaan, kepemilikan manajerial, kompensasi bonus, dan manajemen laba pada perusahaan sektor manufaktur yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2014-2017.
2. Untuk mengetahui pengaruh secara simultan ukuran perusahaan, kepemilikan manajerial dan kompensasi bonus terhadap manajemen laba pada perusahaan sektor manufaktur yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2014-2017. 3. Untuk mengetahui pengaruh secara parsial ukuran perusahaan, kepemilikan
manajerial dan kompensasi bonus terhadap manajemen laba pada perusahaan sektor manufaktur yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2014-2017: a. Pengaruh secara parsial ukuran perusahaan terhadap manajemen laba pada
perusahaan sektor manufaktur yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2014-2017.
b. Pengaruh secara parsial kepemilikan manajerial terhadap manajemen laba pada perusahaan sektor manufaktur yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2014-2017.
c. Pengaruh secara parsial kompensasi bonus terhadap manajemen laba pada perusahaan sektor manufaktur yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2014-2017.
1.6 Manfaat Penelitian 1.6.1 Aspek Teoritis 1. Bagi penulis
Penelitian ini diharapkan dapat membantu penulis untuk mengembangkan pengetahuan dan pemahaman penulis terutama pada bidang akuntansi keuangan dan manajemen keuangan.
15 2. Bagi akademis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan pengetahuan kepada pembaca, serta dapat berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan terutama pada ilmu di bidang akuntansi keuangan dan manajemen keuangan.
3. Bagi peneliti selanjutnya
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan literature bagi peneliti selanjutnya, terutama pada peneliti yang memiliki permasalahan yang sama dengan penelitian ini.
1.6.2 Aspek Praktis 1. Bagi perusahaan
Diharapkan penelitian ini dapat memberikan masukan pemikiran kepada perusahaan untuk tidak melakukan praktik manajemen laba demi kepentingan pribadi karena dapat merugikan perusahaan tersebut.
2. Bagi investor
Diharapkan penelitian ini dapat membantu para investor dan calon investor dalam memilih perusahaan untuk berinvestasi. Dan memberi gambaran pengetahuan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perusahaan dalam melakukan praktik manajemen laba. Agar para investor dan calon investor tidak salah dalam memilih perusahaan untuk berinvestasi.
1.7 Ruang Lingkup Penelitian 1.7.1 Lokasi dan Objek Penelitian
Lokasi yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah Bursa Efek Indonesia (BEI) dan objek penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah laporan keuangan dan annual report perusahaan dari website resmi milik Bursa Efek Indonesia (BEI) yaitu www.idx.com yang selanjutnya diolah kembali.
16
1.7.2 Waktu dan Periode Penelitian
Waktu penelitian ini akan dilaksanakan dari bulan September 2018 sampai dengan Februari 2019. Penelitian ini akan menggunakan data annual report perusahaan manufaktur yang terdiri dari sektor aneka industri; sektor industri dasar dan kimia dan sektor barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2014-2017
1.7.3 Variabel Penelitian
Penelitian ini menggunakan satu variabel dependen dan tiga variabel independen. Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah ukuran perusahaan, kepemilikan manajerial dan kompensasi bonus. Sedangkan variabel dependen dari penelitian ini adalah manajemen laba. Penelitian ini akan membuktikan apakah ukuran perusahaan, kepemilikan manajerial dan kompensasi bonus berpengaruh terhadap manajemen laba baik secara simultan maupun parsial.
1.8 Sistematika Penulisan Tugas Akhir
Penelitian ini akan dibahas dalam lima bab yang saling terkait. Adapun sistematika penulisan penelitian ini secara garis besar adalah:
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini membahas tentang gambaran umum objek penelitian, latar belakang, perumusan masalah, pertanyaan penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, ruang lingkup penelitian dan sistematika penulisan. Dalam bab ini penulis membahas mengenai inkonsistensi penelitian terdahulu dan fenomena-fenomena terkait dengan penelitian.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini membahas tentang tinjauan pustaka penelitian, penelitian terdahulu, kerangka pemikiran dan hipotesis penelitian. Dalam bab ini lebih membahas mengenai teori yang terkait ke dalam penelitian dan membangun kerangka pemikiran penelitian dan menyimpulkan hipotesis.
17 BAB III METODE PENELITIAN
Bab ini membahas tentang karakteristik penelitian, alat pengumpulan data, tahapan penelitian, populasi dan sampel, pengumpulan data dan sumber data, teknik analisis data dan pengujian hipotesis.
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
Bab ini membahas tentang analisis statistic dan analisis pengaruh variabel independen (ukuran perusahaan, kepemilikan manajerial dan kompensasi bonus) terhadap variabel dependen (manajemen laba).
BAB V KESIMPULAN
Bab ini membahas tentang kesimpulan dari analisis data yang telah dilakukan di bab sebelumnya dan menuliskan saran-saran yang bisa dijadikan pertimbangan kepada penelitian selanjutnya.
18