• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINGKAH LAKU IKAN II. PERILAKU INDIVIDUAL. Oleh : Ir. M. Tajuddin Noor, MP Prodi PSDP FP Unitomo

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "TINGKAH LAKU IKAN II. PERILAKU INDIVIDUAL. Oleh : Ir. M. Tajuddin Noor, MP Prodi PSDP FP Unitomo"

Copied!
92
0
0

Teks penuh

(1)

TINGKAH LAKU IKAN II. PERILAKU INDIVIDUAL

Oleh :

Ir. M. Tajuddin Noor, MP Prodi PSDP – FP

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

Selar Bentong

Kembung Lelaki

Layang

(7)
(8)
(9)
(10)
(11)
(12)
(13)
(14)
(15)
(16)

KEMOTAKSIS POSITIF ;

Crustacea akuatik mempunyai respon positif terhadap stimulus kemis yang berasal dari makanan

Ex: Udang Lobster ( Panulirus spp) Kepiting Bakau ( Scylla serrata )

Mereka sangat tertarik pada bau umpan berupa :

Kepala Ikan,

Daging Belut,

(17)

BAGAIMANA

MEKANISME TERTARIKNYA …………. ? Masih sedikit yang telah diketahui,

Selanjutnya telah diketahui bahwa organ-organ sensor lainnya telah membantu penginderaan suatu stimulus kemis tersebut untuk menuntun arah keberadaan umpannya / makanannya.

(18)

LOBSTER

(Panulirus spp)

(19)

KEPITING BAKAU (Scylla serrata)

(20)
(21)

KETAM

( Carcinus macanas )

(22)
(23)

KELOMANG

( Dardanus arrosor )

(24)
(25)

statosis

(26)

STATOSIS

(27)

MEKANISME GEOTAKSIS :

Jika posisi tubuh ikan miring, maka tahapan reaksi yang terjadi pada ikan :

 Gaya gravitasi pada statosis akan berubah,

 Stimulus / rangsangan itu akan diterima oleh Reseptor,

 Tanggapan dikoordinasikan melalui System Syaraf,

 Perintah diterima oleh Efektor untuk melakukan Aksi,

(28)
(29)

2.2 REFLEKS

 Respon otomatis dari sebagian tubuh terhadap suatu stimulus

 Respon yang dibawa sejak lahir, yang sifatnya ditentukan oleh pola reseptor, syaraf, dan efektor yang diwariskan

 Otak tidak perlu berperan untuk

merespon stimulus yang diterima oleh

(30)

Lanjutan ……….

 Merupakan respon bawaan paling

sederhana yang dijumpai pada hewan yang mempunyai sistem syaraf.

 Gerakannya dapat dibedakan atas 2 golongan :

1. Refleks Sederhana 2. Refleks Kompleks

(31)

REFLEKS SEDERHANA :

Merupakan aksi monosinaptik dan aksi-aksi lainnya yang tidak diikuti oleh aksi-aksi ikutan lainnya.

Ex. Gerak melompat atau meletik pada benur udang windu (Penaeus monodon) dalam upaya menyelamatkan diri dari suatu stimulan yang mengejutkan, dimana ia akan mengepakan

ekornya dengan kuat yang didukung otot perut sehingga tubuhnya akan melesat kebelakan

(32)

Perilaku ini dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk menguji kesehatan benur, dengan indikasi bahwa benur sehat akan berlompatan atau meletik-letik secara serempak dan spontan ketika dinding baskom/bak/wadah penampung benur kita ketuk.

(33)
(34)

SEGEROMBOLAN IKAN BELANAK (Mugil spp) AKAN MELESAT MENGHINDARI BAHAYA KETIKA DEGAN TIBA-

(35)

REFLEKS KOMPLEKS :

Merupakan yang komplikasi, tergantung pada umpan baliknya, atau berupa rangkaian repleks sederhana.

Ex. Proses makan pada kepiting, walaupun otaknya telah dirusak / ditiadakan; suatu objek yang disentuhkan pada capitnya akan ditangkap dan didekatkan kemulutnya mula-mula diterima oleh maksiliped, kemudian bagian-bagian mulut lainnya, dan akhirnya ditelan apabila rasa

(36)

Lanjutan ………..

Rangkaian 5 (lima) buah refleks sederhana membentuk suatu aksi dengan adanya peran kemoreceptor tanpa keterlibatan otak,

Bahkan ia akan terus makan sampai-sampai perutnya pecah.

(37)
(38)

2.3 PENCARIAN MAKAN :

a.Macam-macam Cara Makan

Pencarian makanan pada berbagai jenis ikan menunjukan berbagai macam perilaku :

a.l :

Ikan-ikan Penyaring (Filter feeder) seperti ;

Lemuru (Sardinella sirm), Layang (Decapterus spp), dll mencari makan dengan berenang-

renang ditempat gerombolan plankton sambil membuka mulutnya.

(39)
(40)

Ikan Krapu

(Epinephelus spp)

Merupakan ikan buas soliter, suka berburu mangsa didekat dasar perairan dengan

bersembunyi dicelah- celah karang sambil mengintai mangsanya dengan sabar, dan akan segera menyergap dan

(41)

Keluarga Ikan Tuna,

Seperti Tongkol , Cakalang, Tuna, dll merupakan ikan-ikan buas sosial (suka

berkelompok), yang dalam mencari

makannya beramai- ramai menyerbu gerombolan

mangsanya secara

(42)
(43)

Perilaku ini dimanfaatkan oleh para nelayan untuk menangkap mereka dengan alat tangkap pancing “Pole

and Line “ (Huhate) baik dengan menyebarkan umpan yang masih hidup maupun yang sudah mati.

(44)

Dalam hubungannya dengan pencarian makan, beberapa jenis ikan juga sering melakukan

Ruaya (Feeding Migration)

Ex :

Ikan Pelagic Kecil (Layang, Kembung, Lemuru, dll)

Ikan Pelagic Besar (Tuna Mata Besar (Thunnus obesus), Tuna Sirip Kuning (Thunnus albacore) Albacore (Thunnus alalunya), dll

(45)

b. Teknik Pemangsaan

Berdasarkan bagaimana mangsa itu ditangkap dan ditelan kita dapat membedakan 3 macam metode yaitu :

1) Penangkapan mangsa yang berukuran besar : Dilakukan dengan cara menyerangnya dari arah

kepala atau dengan cara mencengkramnya dari arah sisi, kemudian ditangkap ulang dari arah kepala.

(46)

Lanjutan ………

Metode berburu ini

merupakan cara yang khas bagi ikan buas yang suka menyergap mangsa dengan tiba- tiba seperti : ikan

Krapu, Kakap Merah, Kakap Batu, dll

(47)

2) Penangkapan mangsa dilakukan dengan cara mengejar-ngejar secara aktif, selanjutnya

menerkam dari arah belakang (ekor), dan kemudian langsung ditelan.

Cara ini sering dilakukan oleh ikan-ikan buas pelagial seperti : Ikan Tongkol, Cakalang, Layur, Tengiri, dll.

(48)
(49)

Ikan Layur ( Istiophorus orientalis )

(50)

3) Penangkapan mangsa yang berupa ikan atau biota air lainnya yang berukuran kecil,

dilakukan dengan cara mencaplok begitu saja tanpa memperhatikan posisi tubuhnya.

Hal ini biasa dilakukan oleh ikan-ikan buas dalam memangsa anak-anak ikan, udang-udangan, dan anak-anak serangga.

(51)
(52)

IKAN KRONDONG

(53)
(54)

c. Daerah Perburuan

Berdasarkan daerah perburuannya, mekanisme pemangsaan dapat dibedakan 3 tife :

1)Berburu dengan cara mencari mangsa kemana-mana :

Dilakukan oleh ikan-ikan buas pelagik kecil maupun pelagis besar.

Ex : Ikan Layang, Kembung, Tongkol, Cakalang, Tengiri, Setuhuk, Madidihang, dan beberapa

(55)

Ikan Setuhuk / Layaran

(56)
(57)

Ikan Cucut / Hiu

(58)

2) Berburu dengan cara mengharapkan ada mangsa yang lewat ditempat

persembunyiannya :

Dilakukan oleh ikan-ikan buas yang suka

bersembunyi di dalam liang atau yang suka membenamkan diri di dalam lumpur atau pasir di dasar perairan

(59)

Ikan Belut

( Monopterus albus )

(60)
(61)

3.) Berburu dengan cara mencari mangsa ditempat terbatas :

Dilakukan oleh ikan-ikan karang

Ex : Ikan Krapu, Napoleon, Kakap Merah, dll

(62)
(63)
(64)

d. Rangsangan Untuk Makan

Meskipun mekanisme perilaku makan itu sangat rumit, namun secara garis besar rangsangan

(stimulan) tersebut dapat dibedakan atas 2 golongan yaitu :

(65)

1) Faktor-faktor yang mempengaruhi motifasi internal yang mendorong aksi untuk makan, antara lain :

 Musim

 Saat / waktu dalam satu hari

 Intensitas cahaya

 Suhu

 Waktu makan terakhir, dan

 Ritme-ritme internal lainnya

(66)

2) Rangsangan dari makanan yang diterima oleh alat-alat indera seperti : alat pembau, peraba, penglihatan, dan sistem gurat sisi yang

mengendalikan aksi untuk makan

Interaksi antara kedua faktor tersebut di atas adalah akan menentukan kapan dan

bagaimana ikan makan serta makanan apa yang disukainya.

(67)

Musim :

 Sangat berpengaruh terhadap suhu air untuk daerah-daerah non-tropis.

 Sedangkan di daerah tropis

berpengaruh terhadap kedalaman air (adanya musim hujan dan musim

kemarau)

(68)

Kedua hal tersebut pengaruh dalam aktifitas ikan mencari makan.

Beberapa jenis ikan secara bersamaan berhenti makan selama musim pemijahan, termasuk ikan Salmon, dll

(69)

Saat Dalam Satu Hari :

 Merupakan salah satu faktor penting, untuk beberapa jenis ikan seperti sebangsa lele- lelean yang disebut “ bullheat “ coklat

(Ictalurus nebulosus ) dan ikan lele (Clarias batrachus) yang mencari makan dengan alat pembau dan peraba, terutama

merupakan ikan pencari makan pada waktu malam hari (Nocturnal).

(70)
(71)

Sedangkan ikan-ikan lainnya seperti Gabus (Ophiocephalus striatus) dan ikan-ikan

buas lainya yang mencari mangsa dengan

penglihatannya , aktifitasnya hampir selalu

dilakukan pada siang hari

(72)

Intensitas Cahaya :

 Kebanyakan ikan memiliki ritme sirkadian (irama harian) dalam aktifitas makan dan geraknya, dengan puncaknya terjadi pada waktu menjelang matahari terbenam, dan menjelang matahari terbit.

(73)

 Banyak lagi faktor-faktor lingkungan yang terjadi selama sehari-semalam seperti :

• suhu,

• salinitas,

• Derajat Keasaman,

• arus, dan

• pasang surut

yang mempengaruhi aktifitas makan dan aktifitas-aktifitas lainnya pada ikan, baik

bekerja sendiri-sendiri maupun merupakan

(74)

Penglihatan :

 Penglihatan terhadap suatu objek dengan :

• Gerak,

• Warna dan

• Bentuknya

juga akan dapat memicu aktifitas makan

(75)

 Dalam suatu gerombolan ikan (baik

monospesies maupun campuran) apabila salah satu ikan mendapatkan makanan

maka ikan lainnya yang meliihat hal itu akan tergerak juga untuk mendapatkan makanan tadi,sehingga akan terjadi perebutan dan kejar-kejaran.

(76)

Faktor Kemis :

 Seperti bau dan rasa sangat penting artinya dalam aktifitas pencarian makan bagi

beberapa jenis ikan yang mengandalkan indera pembau dan pengecapnya.

Ex :

Ikan Hiu, dimana pendorong aksi makannya terutama karena daya tarik kimiawi

(misalnya bau darah).

(77)
(78)

2.4 PERNAPASAN IKAN :

Hampir semua ika, insang adalah merupakan komponen penting dalam pertukaran gas.

Insang :

Terbentuk dari lengkungan tulang rawan yang mengeras

Dengan berupa filamen insang yang ada di dalamnya

Tiap-tiap filamen terdiri banyak lamella sebagai

(79)

 Pinggiran lamella yang tidak menempel pada lengkung insang sangat tipis, ditutupi oleh

epitelium dan mengandung jaringan pembuluh darah kapiler.

 Jumlah dan ukuran lamella juga sangat bervariasi, tergantung tingkah laku ikan.

(80)

 Proses Pernapasan dapat dibagi menjadi 4 tahap :

1. Pemasukan dan pengeluarann udara antara air dan insang atau paru-paru

2. Difusi oksigen, CO2 antara insang dan darah 3. Transfort Oksigen dan CO2 di dalam darah dan

cairan tubuh ke dan dari sel

(81)

Secara umum, ikan dan biota akuatik lainnya suka tinggal ditempat-tempat yang airnya

banyak mengandung oksigen.

Jika dilapisan bawah perairan kandungan oksigennya tipis/kritis, maka mereka akan

berenang kelapisan didekat permukaan yang biasanya masih mempunyai kadar oksigen

terlarut yang tinggi.

(82)

Lanjutan ………

Antara lain dapat dilihat pada ikan Tawes

(83)

Jika dilapisan permukaan itupun kandungan oksigennya kritis juga, maka mereka akan mencakup-cakup udara dipermukaan air.

Udara yang dicakup dicampur dengan air dan lendir sehingga masih dapat menolong

pernbapasan.

Walaupun sifatnya masih darurat, perlu ada

(84)

Ex :

Udang Windu, Udang Putih, atau udang Galah (Macrobrachium rosenbergii) adalah hewan

bentik, dan apabila kadar oksigen dilapisan bawah kritis maka ia akan naik kedekat

permukaan dan berenang mengitari pematang, dan apabila keadaannya juga masih kritis maka mereka akan berlompatan dipermukaan

perairan dalam upayanya melarikan diri dari

(85)

udang Galah (Macrobrachium rosenbergii)

(86)

Ada juga beberapa jenis ikan yang tenang- tenang, meski kondisi oksigen di dalam air menjadi kritis,

Ikan-ikan yang mempunyai alat pernapasan tambahan, yang mampu mengambil oksigen langsung dari udara,

Ex :

Ikan Sepat (Trichogaster trichogaster)

(87)

Ikan Sepat (Trichogaster trichogaster)

(88)
(89)

Lanjutan ………

Ikan Tambakan (Helostoma temmincki) Ikan Lele (Clarias batrachus), dll

Ikan-ikan ini bahkan masih dapat bertahan hidup di luar air sampai beberapa jam ( 6 - 8 jam).

(90)

Ikan Belut sawah (Monopterus albus) bahkan dapat bertahan hidup didalam liang di dasar sungai yang kering selama musim kemarau.

Di dalam liang yang lembab karena dibasahi

dengan lendir, ikan belut masih dapat bernapas dengan menggunakan alat pernapasan

tambahannya

(91)
(92)

SEKIAN

TERIMA KASIH

Referensi

Dokumen terkait