DAMPAK KENAIKAN PERMUKAAN AIR LAUT TERHADAP PELABUHAN BELAWAN
TUGAS AKHIR
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Mencapai Gelar Sarjana S1 pada Departemen Teknik Sipil
Disusun Oleh:
(14 0404 106) AZZEDI PUTRA
DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2019
ABSTRAK
Pelabuhan belawan dermaga ujung baru merupakan salah satu dermaga yang berfungsi sebagai terminal penumpang dan terminal curah kering dan basah.Terminal ini memiliki luasan sebesar 13329.3 m2. Dermaga ini memilki bagian-bagian antara lain bagian 101-103 dan 104-107 dengan keterangan dermaga 101-103 untuk kapal kecil hingga sedang sedangkan 104 sampai 107 untuk kapal besar. Dalam penelitian ini seluruh dermaga ujung baru dibagi atas 8 section dan memiliki masing-masing ketinggian. Dalam msing-masing section juga memiliki karakteristik kedalaman yang berbeda antara 2-6 meter. Tiap-tiap dermaga akan dievaluasi terhadap elevasi masing-masing untuk mendapatkan evaluasi penambahan tinggi agar operasional pelabuhan dapat berjalan dengan baik.
Metode penilitian yang digunakan adalah metode kualitatif dan data yang digunakan adalah data pasang surut tahun 2015-2017 stasiun belawan dan laju kenaikan muka air antara CPH dan Zero 2016.Data pasang surut kemudian dihitung menggunakan metode Least Square.
Dari hasil perhitungan didapatkan bahwa kenaikan muka air akibat data pasang surut adalah 0.1 mm, kenaikan CPH adalah 1.41 m dengan laju sebesar 15 mm pertahun, kenaikan Zero 2016 sebesar 0.72 dengan laju 8 mm pertahun. Masing –masing scenario dijumlahkan dengan tinggi muka air max sebesar 1.535 m dan kenaikan Metode Kenaikan Berdasarkan Iklim (Rahmstorf) 0.558 meter dengan laju kenaikan 1.6 mm/tahun/
0C, CPH dengan tinggi total 3.27 dan Zero 2016 dengan tinggi total 2.612 . Nilai kenaikan muka air laut menurut hasil perhitungan Least Square sangat kecil dikarenakan siklus pasang surut hampir sama untuk setiap tahun karena gerak astronomis yang disiplin (tidak berubah) setiap tahun menyebabkan nilai-nilai parameter konstituen menjadi hampir sama. Tinggi freeboard juga ditambahkan dengan asumssi 1 meter untuk operasional dermaga ujung baru.Hasil evaluasi tinggi muka air terhadap dermaga menunjukkan tidak adanya dampak banjir yang terjadi, karena tinggi dermaga 5 meter cukup tinggi bila dibandingkan dengan nilai tinggi muka air yang didapat. Dalam penelitian ini juga terdapat analisa hasil draft kapal terhadap tinggi MLWL (tinggi terendah selama 19 tahun) dan kedalaman persection dermaga dimana untuk 101-103 hanya bisa dilalui oleh Kapal Tunda (Tugboat) sedangkan 104-107 dapat dilalui oleh kapal barang DWT 1000 Ton.
Kata Kunci : Dermaga, CPH, Zero 2016, Pasang surut, Draft, Least Square, Konstituen.
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya ucapkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya hingga terselesaikan tugas akhir ini dengan judul “Dampak Kenaikan Muka Air terhadap Pelabuhan Belawan” Studi Kasus : Dermaga Ujung Baru – PelabuhanBelawan.
Tugas Akhir ini disusun untuk diajukan sebagai syarat dalam ujian sarjana Teknik Sipil bidang studi Transportasi pada Fakultas Teknik Universitas Sumatera Medan.
Dengan kerendahan hati, saya juga menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Bapak Dr. Ahmad Perwira Mulia Tarigan Msc selaku dosen Pembimbing Utama yang telah banyak meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk memberikan bantuan dalam menyelesaikan Tugas Akhirini.
2. Bapak Medis Sejahtera Surbakti, ST, MT, Ph.d sebagai Ketua Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas SumateraUtara.
3. Bapak Dr. M. Ridwan Anas, ST., MT, sebagai Sekretaris Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas SumateraUtara.
4. Bapak dan Ibu Dosen / Staf Pengajar Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas SumateraUtara.
5. Bapak Zaki, St selaku Manajer dan Bapak Taufiq, ST selaku Asisten Manajer
dan Facility Manager PT. (Persero) Pelabuhan Indonesia – I Cabang Belawan
yang telah banyak memberikan informasi danbantuan.
6. Khususnya untuk Kedua Orang tua saya, Ikhwansyah Lubis dan Yusnita yang tercinta yang telah mendidik, membimbing, membesarkan, dan memberikan dukungan dan doa kepadasaya.
7. Buat Muhammad Yahfi Putra Ikhwansyah Lubis telah memberikan dukungan dan doanya kepadasaya.
8. Terima kasih khusus juga buat Rizka Wijaya Nasution yang telah memberikan dukungan moral.
9. Terima kasih buat sahabat saya Joshua Armando Nainggolan, Willy setiawan ST, Sem Simanungkalit ST, Michael ST, Rebecca Ginting St yang telah membantu saya selama ini .
10. Terima kasih juga buat teman-teman saya anak-anak sipil 2014.
11. Terima kasih buat abang-abang dan adik-adik stambuk atas bantuan dan
dukungannya.
Daftar Isi
ABSTRAK………i
KATA PENGANTAR……….ii
DAFTAR ISI………iv
DAFTAR GAMBAR………...vi
DAFTAR PUSTAKA………..vii
BAB I PENDAHULUAN……….……….2
1.1 LATAR BELAKANG……….………..…….2
1.2 RUMUSAN MASALAH…...……….……….3
1.3 TUJUAN PENELITIAN……….………4
1.4 BATASAN MASALAH…………..……….4
1.5 MANFAAT PENELITIAN…..……….………..5
1.6 SISTEMATIKA PENELITIAN……….………5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA………7
2.1 KENAIKAN PERMUKAAN AIR LAUT SECARA EUSTACY………..7
2.2 PERMUKAAN AIR LAUT GLOBAL DAN PENGUKURANNYA……….8
2.3 DAMPAK YANG DITIMBULKAN OLEH KENAIKAN MUKA AIR LAUT………..11
2.4 OBSERVASI PERUBAHAN KETINGGIAN MUKA AIR LAUT………..12
2.4.1 PERUBAHAN KENAIKAN MUKA AIR LAUT ABAD KE 20 MELALUI PENGUKURAN PASANG SURUT………..12
2.4.2 VARIASI BAGAN DATUM TERHADAP PEMBATASAN ZONA MARITIM YANG MENGACU TERHADAP KENAIKAN MUKA AIR LAUT………....14
2.4.3 KAJIAN KENAIKAN MUKA AIR LAUT DI KAWASAN PESISIR KABUPATEN TUBAN, JAWA TIMUR………..21
2.5 LAJU KENAIKAN MUKA AIR LAUT SECARA GLOBAL DAN LOCAL…………..22
2.5.1 KENAIKAN MUKA AIR SECARA GLOBAL………….………..22
2.5.2 KENAIKAN MUKA AIR LAUT SECARA LOKAL……….24
2.6 METODE ANALISIS KOMPONEN HARMONIK PENGAMATAN PASANG
SURUT………22
2.7 ANALISA DRAFT KAPAL ………..………29
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ……….………36
1.1 UMUM………..………...…..7
1.2 CAKUPAN DAN TAHAPAN METODOLOGI………..38
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN..……….41
1.1 DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN…………...………..……….41
4.1.1 FUNGSI SECTION-SECTION UJUNG BARU ..….………..41
4.1.2TINGKAT KETINGGIAN DERMAGA UJUNG BARU…………..…………..43
1.2 KENAIKAN MUKA AIR LAUT………...………..……….44
1.2.1 PENETAPAN DATA AWAL PASANG SURUT ..……...……….44
1.2.2 HASIL ANALISA LEAST SQUARE METHOD………..45
1.2.3 PREDIKSI KENAIKAN MUKA AIR LAUT PENELITIAN RAHMSTORF…..……….48
1.3 KENAIKAN MUKA AIR LAUT BERDASARKAN FENOMENA GLOBAL……...….48
1.4 TINGKAT KENAIKAN MUKA AIR LAUT TERHADAP DERMAGA…………...49
1.5 ANALISA DRAFT TERHADAP TINGGI MUKA AIR………53
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN………..……….41
1.1 KESIMPULAN…………...………..……….…….57
1.2 SARAN………57
Daftar Gambar
GAMBAR 3.1 Diagram Eustacy Pada Air………7
GAMBAR 3.2 Proyeksi Kenaikan Muka Air Laut AKibat Pemanasan Atmonsfer………..8
GAMBAR 3.3 Kenaikan Muka Air di Pago-Pago Amerika………10
GAMBAR 3.4 Rekonstruksi Church dan White ………..…....13
GAMBAR 3.5 Kehilangan Daratan Pada Malaysia………...15
GAMBAR 3.6 Grafik Stasiun Sedili………..16
GAMBAR 3.7 Grafik Stasiun Genting………..16
GAMBAR 3.8 Grafik Stasiun Kukup………17
GAMBAR 3.9 Grafik Stasiun Cendering………..17
GAMBAR 3.10 Grafik Stasiun Lumut………..18
GAMBAR 3.11 Grafik Stasiun Penang……….18
GAMBAR 3.12 Grafik Stasiun Langkawi……….19
GAMBAR 3.13 Regresi Linear Stasiun Malaysia……….20
GAMBAR 3.14 Gambar Pengamatan Es yang Semakin berkurang………..21
GAMBAR 3.15 Trend Line Kenaikan MukaAirLaut Tuban………..22
GAMBAR 3.17 Tingkat Kenaikan Muka Air Laut Global……….23
GAMBAR 3.18 Proyeksi Tinggi Muka Air oleh Parameter Harmonik……….27
GAMBAR 3.19 DATA 15 Hari………..27
GAMBAR 3.20 Matriks L………..………28
GAMBAR 4.1 LAYOUT DERMAGA………...41
GAMBAR 4.2 FOTO GUDANG 101 dari Laut………42
GAMBAR 4.3 FOTO GUDANG 102 dari Laut………42
GAMBAR 4.4 FOTO GUDANG 103 dari Laut………42
GAMBAR 4.5 Foto Area 104-106 dari Laut……….43
GAMBAR 4.6 Foto Gudang 107 dari laut………...43
GAMBAR 4.7 Kapal Barang 10000 DWT (LOADING)……….….53
GAMBAR 4.8 Kapal Tunda (TugBoat)……….54
GAMBAR 4.9 Elevasi Akhir Muka Air Dermaga Ujung Baru Section 3………..…55
GAMBAR 4.10 Elevasi Akhir Muka Air Dermaga Ujung Baru Section 3………....…55
GAMBAR 4.11 Elevasi Akhir Muka Air Dermaga Ujung Baru Section 3………..…..56
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pelabuhan belawan terletak di timur laut pantai Sumatera di Indonesia. Lokasi tersebut sangat strategis dimana berjarak hanya 13,5 kilometer dari salah satu rute perdagangan tersibuk di dunia selat malaka. Secara geografis terletak pada 3° 47’ 20’’ lintang utara dan 98° 42’ 08’’
lintang selatan. Terminal belawan pertama kali dibangun pada tahun 1985 dan secara cepat menambah kapasitas handling kargo dan menjadi pelabuhan kelima terbrsar di Indonesia yang dapat memfasilitasi container export di Indonesia. Pelabuhan belawan sendiri memiliki 5 terminal terminal citra, terminal ujung baru, terminal kargo, terminal pertamina dan terminal belawan lama. Terminal 101, 102, 103, 107 dan 111-112 ujung baru merupakan terminal bongkar muat barang dimana terdapat bongkar muat bahan curah dan juga terminal ini dilalui oleh jalur kereta api (N. Many 2018).
Banjir merupakan peristiwa yang terjadi ketika aliran air yang berlebihan merendm daratan.Peristiwa banjir merupakan masalah yang serius dan harus ada penangan segera untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan baik materi maupun korban jiwa.banjir dapat digolongkan terhadap wilayahnya menjadi banjir perkotaan, pedesaan dan pantai. Dalam wilayah pantai, banir diakibatkan oleh kenaikan muka air laut yang berorientasi terhadap iklim.Studi yang dilakukan di 136 kota maritime dengan penduduk lebih dari 1 juta menunjukkan bahwa populasi yang besar telah mengalami bencana banjir akibat kenaikan permukaan air laut di daerah pesisir dengan perkiraan 40 juta orang mengalami dampak bencana banjir tersebut sekali dalam 100 tahun kejadian banjir(Nicholls et al 2008).Dalam siklus. Dalam cakupan wilayah studi yaitu belawan, kepadatan penduduk belawan per km2 yaitu sebesar 3.638,32 (2010,Wikipedia). Dari data dampak terhadap tersebut diketahui bahwa perlunya mengidentifikasi yang potensial terjadi terhadap wilayah-wilayah padat penduduk selain dalam fungsi mitigasi juga untuk fungsi pemeeliharaan struktur-struktur yang berdekatan dengan garis pantai.
Ketinggian banjir yang menghasilkan kerugian terhadap beberapa aspek khususnya
terhadap fasilitas dermaga mengakibatkan beberapa permasalahan.Kenaikan permukaan laut
menyebabkan masalah lainnya seperti menyebabkan tinggi gelombang semakin tinggi akibat
permukaan air laut semakin tinggi, kedalaman kanal juga harus diperdalam atau harus dilakukan
pengerukan secara berkala agar tinggi air tidak sampai ke dermaga. Di terminal ujung baru
terdapat beberapa gudang curah kering, kondisi gudang harus terhindar dari flooding atau banjir karena jika terjadi banjir maka akan mengakibatkan kerugian barang logistik dan tidak layak menjadi gudang curah kering. Kenaikan permukaan air laut juga mempengaruhi sistem navigasi yang berada di terminal ujung baru, pengorganisasian kapal harus dilakukan lebih hati-hati karena draft kapal semakin tinggi dan cenderung akan menghantam dermaga di depannya.
Prediksi terhadap kenaikan permukaan air laut harus dilakukan agar dapat mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh kenaikan muka air laut seperti kemunduran garis pantai dan erosi abrasi. Prediksi ini dilakukan melalui data-data historis baik data-data pasang surut melalui badan yang kredibel atau dengan menggunakan data-data iklim seperti suhu, kelembapan dan tekanan udara.Prediksi-prediksi yang tersebut merupakan data-data lokal yang tidak dapat ditarik menjadi parameter universal, tetapi nilai-nilai lokal tersebut dapat dibandingkan dengan data- data peneliti yang berkesimpulan terhadap hasil global. Salah satu cara membandingkan antara lokal dengan global yaitu dengan melihat perbandingan antar masing-masing laju kenaikan muka air laut, lalu perbandingan itu dirunut dari terbesar hingga terkecil untuk mengetahui berapa besar nilai perbedaan kesenjangan antara lokal dan global. Dalam kasus global memang banyak penelitian-penelitian yang menyimpulkan hasil-hasil universal, tetapi harus diperhatikan bahwa hasil yang didapat harus merupakan hasil dari suatu perjanjian (Traktat) ataupun penelitian di lapangan (in situ) bukan yang dilakukan melalui satellite karena perbedaan cara record instrument tersebut.
1.2 RumusanMasalah
Dengan mengacu kepada latar belakang masalah yang terjadi pada pelabuhan belawan dermaga ujung baru. Perumusan masalah dalam penelitian ini yaitu
1. Berapa laju kenaikan muka air laut di belawan melalui data dari badan penyedia layanan informasi pasang surut?
2. Berapa laju kenaikan muka air laut melalui data iklim di kawasan belawan ?
3. Berapa tinggi muka air belawan pada tahun 2100 menurut laju akibat iklim dan trend
pasang surut ?
4. Berapa tinggi muka air belawan pada tahun 2100 menurut laju kenaikan global ?
5. Bagaimana tingkat perbaandingan tinggi muka air tiap-tiap laju kenaikan muka air yang ada ?
6. Berdasarkan tingkat muka air masing-masing perhitungan, berapa jumlah volume dermaga yang terendam dan berapa jumlah volume yang tidak terendam.
1.3 TujuanPenelitian
Adapun tujuan dari tugas akhir ini adalah:
1. Mengevaluasi dan mengestimasi kenaikan muka air laut yang terjadi di pelabuhan belawan berdasarkan data-data lokal dan global yang diperoleh
2. Membandingkan masing-masing tingkat banjir yang diperoleh sebagai referensi dalam pengambilan keputusan pemeliharaan.
3. Mengevaluasi dermaga ujung baru berdasarkan nilai tingkat muka air laut pada tahun 2100 melalui softdrawing CAD.
1.4 BatasanMasalah
Adapun batasan masalah pada penelitian ini antara lain
1. Studi kasus berada di kawasan pelabuhan belawan ujung baru mencakup terminal 101, 102,103, 104, 105, 106 dan 107.
2. Data acuan awal adalah proyek existing tahun 2009
3. Data yang dianalisis adalah pasang surut yang dirilis oleh kementerian kelautan dan perikanan Republik Indonesia, data trend laju kenaikan suhu oleh BMKG, data laju kenaikan muka air laut oleh Penelitian Rhamstorf, data-data laju muka air global dalam hal ini digunakan kebijakan CPH dan analisa karbon nol (Zero 2016).
4. Dalam perhitungan, diasumsikan data ketinggian dermaga merupakan hasil real di
lapangan.
1.5 Manfaat Penelitian
Tugasakhir ini diharapkan bermanfaat untuk:
2. Dapat memprediksi ketinggian air yang akan terjadi di periode berikutnya melalui data- data yang ada.
3. Dapat mengantisipasi kejadian seperti Free board yang terlampaui akibat tinggi muka air, atau banjir yang menggenang kawasan gudang.
4. Dapat menjadi tolak ukur desain untuk perawatan (maintenance) ataupun untuk desain pembangunan baru (constructing)
5. Memberikan referensi kepada pihak pembaca maupun kepada pihak PT PELINDO 1
1.6 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan ini adalah sebagai berikut:
BAB I.
PENDAHULUAN.Bab ini berisi latar belakang penelitian, perumusan masalah, tujuan penelitian, batasan masalah, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II.
TINJAUAN PUSTAKA.Pada bab ini memuat teori mengenai hal-hal yang berkaitan dengan penelitian.
BAB III.
METODOLOGI PENELITIAN.Bab ini berisi uraian tentang persiapan analisis mencakup
pengumpulan data hingga pelaksanaan analisis.
BAB IV.
PEMBAHASAN DAN ANALISA DATA.Bab ini berisi analisis data pasang surut, gelombang dan kenaikan permukaan air laut melalui penelitian yang dilakukan di stasiun hidrologi malaysia.
BAB V.
KESIMPULAN DAN SARAN.Bab ini berisi kesimpulan yang dapat diambil dari seluruh
kegiatan tugas akhir ini dengan menitikberatkan pada konstruksi peninggian dermaga serta
pencegahan terhadap kerusakan infrastruktur akibat kenaikan permukaan air laut.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 KENAIKAN PERMUKAAN AIR LAUT SECARA EUSTACY
Kenaikan permukaan air laut merupakan fenomena alam yang terjadi saat ini, fenomena ini biasanya disebebkan oleh beberapa faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi antara lain: hydro-eustaty, glacio-eustaty, thermo-eustaty, dan tectono-eustaty. Hydro-eustaty merupakan proses dimana akumulasi salju yang terbentuk pada suatu tempat mencair dan membuat kenaikan permukaan air pada tempat tersebut. Glacio-eustaty merupakan proses mencairnya glester (gunung es) di kutub bumi sehingga menyebabkan permukaan air laut naik, fenomena glacio-eustaty merupakan fenomena yang sekarang sedang terjadi akibat global warming. Thermo-eustasy merupakan proses mengembangnya partikel air akibat dipanaskan akibat suhu berada diatas 4 ̊ celcius, akibat suhu tersebut juga menyebabkan terjadinya pergerakan molekul air. Tectono-ustaty merupakan proses kenaikan permukaan air laut akibat adanya aktivitas tektonik bumi, sebagaimana yang diketahui bahwa pergerakan lempeng bumi yang terus terjadi menyebabkan perubahan pada permukaan bumi dan mengakibatkan kenaikan permukaan air laut. Berikut adalah diagram faktor-faktor penyebab kenaikan permukaan air laut
.
Gambar 3.1 Diagram Eustasi pada air
(Sumber : EUSTATIC AND SEA LEVEL CHANGE, SPRINGER AUGUST 2nd 2016)
`
pada skala waktu waktu yang lebih singkat, perubahan kebanyakan
perubahan kenaikan permukaaan air laut secara eustacy terjadi akibat beberapa perubahan
atmosfir laut. Hal ini sering memicu proses Hydro-Eustacy, Thermo- ataupun Haloestric-. Ketika efek langsung dari proses ini hanya berkaitan dengan terhadap perubahan massa air, hal tersebut tidak mutlak disbut sebagai Eustacy karena rata-rata permukaan air laut tidak berubah. Sebagai contoh, terhadap masa air yang berubah pada pasifik selama fenomena El nino yang besar pada tahun 1982-1983, 1997-1998, pantai barat pasifik mencatat penurunan muka air laut sebesar 30 cm sementara pantai timu pasifik area ekuator mencatat kenaikan dengan besar yang sama . karena proses tidak menyebabkan perubahan rata-rata permukaan air laut, perubahan yang terjadi di pantai barat dan pantai timur yang tercatat bukan merupakan fenomena Eustacy di alam. Efek yang tidak langsung ditimbulkan oleh El nino dapat membuat proses Eustacy yang mendorong terjadi perubahan pada air permukaan. Bahkan, gejala El nino akan dapat meningkatkan presipitas di laut dan meurunkan presipitas di darat. Perubahan muka air laut dapat dilihat dengan pencitraan satelit dataset altimetry dan dapat diperkirakan apakah perubahan tersebut cepat terjadi (Alessio Rovere Et all 2016).
2.2 PERMUKAAN AIR LAUT GLOBAL DAN PENGUKURANNYA
Fluktuasi permukaan laut yang lebih luat dari frekuensinya mulai dari jangka pendek tetapi menghasilkan gelombang yang merusak hingga ketinggian 6 meter sampai variasi pada skala waktu secara geologi yang melebihi 100 meter.Variasi ini memiliki sejarah dimana mempengaruhi pola hidup manusia pada daerah pesisir
.Gambar 3.2 proyeksi kenaikan muka air laut akibat pemanasan atmosfer
(Sumber : Engineering Response to Climate Change CRC Press 2013)
Pada bagan diatas menunjukkan perubahan muka air laut akibat pencairan es selama 22 ribu tahun sebelum masehi dari tahun 2009 berdasarkan nilai dari Fleming et all tahun 1998 dan Milne et all tahun 2005. Trend garis, berdasarkan analisa kuadrat terkecil, banyak sekali fluktuasi.Meltwater Pulse 1A merupakan periode yang unik dari deglasiasi yang secara signifikan cepat terjadi. Titik terendah dari permukaan laut selama glasiasi sebelumnya adalah 130 ± 10 meter dari ketinggian muka air laut tahun 2009, hal ini diperkirakan terjadi pada 22000 sampai 3000 tahun yang lalu.
Pada beberapa decade belakangan, satellite data altimetry sudah mulai tersedia
(Church Et al. 2004). Meskipun beberapa masalah data interpretasi dari satellite yang berbeda
dan periode yang berbeda (contoh satellite TOPEX/Poseidon), pengukuran ini lebih akurat dari
perhitungan pasang surut dan ekstensif spasial, tetapi data waktu akan terlalu singkat pada
rentang 200-300 tahun rata-rata respon waktu antara kenaikan temperature dan kenaikan
permukaan air laut. Tundaan repon ini berlaku pada volume air yang besar dan juga kedalaman
muka air pada bumi dan interpretasi yang rumit pada perilaku muka air saat sekarang.Data
pasang surut lebih panjang daripada data altimetry satellite, tetapi hanya memiliki data sedikit
pada jangka waktu yang panjang (>80 tahun). Tambahan untuk trend yang belum diketahui pada
perilaku iklim kedepan, perbedaan di data dan fakta yang teridentifikasi dari rerata trend tidak
dapat berdiri sendiri dari metode estimasi dapat emmbuat ambiguitas dari prediksi permukaan
laut. Kenaikan permukaan air laut umumnya dibuat trend linear terhadap dapa historis yang telah
terjadi. Dalam analysis nya pada data 4 pasang surut di florida, Walton (2007) melakukan
prediksi dimana memungkinkan terjadinya percepatan dan perlambatan kenaikan muka air laut
dan hasilnya menunjukkan prediksi yang lebih besar pada tahun 2006-2080 dibandingkan
dengan prediksi menggunakan asumsi trend linear.
Gambar 3.3 kenaikan muka air di pago-pago amerika
(Sumber : Engineering Response to Climate Change CRC Press 2013)
Bagan tersebut merupakan perbedaan prediksi menggunakan polynomial dan linear. Rerata
bulanan pada oktober 1948 sampai may 2004 di daerah Pago-Pago di daerah Samoa. Regresi
linear mencatat kenaikan permukaan air laut sebesar sekitar 1.97 mm per tahun.Berbeda dengan
polynomial menyebutkan terjadi percepatan kenaikan permukaan air laut pada tahun pertengahan
1997. Ketidaktentuan yang sama terjadi dengan interpretasi data temperatur laut.
2.3 DAMPAK YANG DITIMBULKAN OLEH KENAIKAN MUKA AIR LAUT.
selama abad 20 kenaikan permukaan air laut global naik hingga 18cm, dimana lebih cepat daripada abad ke 19. Ketika perubahan ini mungkin terlihat kecil, hal ini dapat mengakibatkan perubahan yang cukup signifikan, umumnya pada kondisi dari periode balik extreme permukaan laut (Zhang et al 2000:woodworth and Blackman 2004: Chapter 11) dan mengakibatkan kecenderungan erosi pada pantai sebagaimana diobservasi secara luas (Bird 1985, 2000: Velinga and Leatherman 1989), bagaimanapun mengaitkan kenaikan permukaan air laut global kepada dampak yang ditimbulkan cukup sudah sebagaimana zona pantai telah mengalami banyak perubahan pada abad ke 20 (Rozenweig et al 2007). Data yang baik pada kenaikan muka air laut telah diukur pada beberapa lokasi dan pertahanan terhadap banjir rutin dilakukan peningkatan secara substansi pada abad ke 20, khususnya pada daerah yang makmur dimana ada terdapat pengukur muka air laut. Kebanyakan dari peningkatan pertahanan mengaca kepada jumlah penduduk yang semakin banyak dan dana yang diperuntukan pada banjir rob dan perubahanan penanganan resiko, dan kenaikan muka air laut bahkan belum pernah diperhitungkan di dalam design, persamaannya, erosi dapat dipicu oleh proses yang lain dibandingkan dengan kenaikan permukaan air laut dan aktivitas manusia dalam pengurangan kebutuhan sedimen untuk pantai mesti menjadi salah satu penyebab kepada perubahan-perubahan observasi yang dicatat oleh Bird (1985) dan Svitskyet al (2005). Menolak pada habitat intertidal seperti ladang garam, rawa berlumpur dan hutan mangrove selalu dikaitkan kepada kenaikan permukaan air laut, tetapi sistem habitat ini juga merupakan subyek ke beberapa perubahan yang terjadi., termasuk kerusakan lanngsung (Hoozemanet al 1993; Coleman et al. 2008). Oleh Karen itu, ketika kenaikan permukaan air laut global merupakan proses yang sedang berlangsung, akan sangat sulit untuk tidak menganggap bahwa hal ini tidak ada kaitanya dengan dampak yang akan ditimbukan. Kecuali dalam beberapa kasus khusus : umumnya karena perubahan di abad ke 20 merupakan respon terhadap beberapa penyebab dari perubahan. (Robert J Nichols, 2010)
Berikut adalah data-data yang didapat penelitian pantai timur Amerika Serikat 1. Kenaikan variable muka air adalah 2 dan 4 mm/tahun
2. Persentase kemunduran garis pantai terhadap terhadap kenaikan muka air kaut pada
Pantai timur sebesar 50-100 kali (Zhang et al 2004)
3. Terdapat pulau yang berpenghuni di Cheapsake bay namun sudah tak berpenghuni pada abad ke 19 akibat daerah tersebut sudah kehilangan wilayah darat akibat kenaikan muka air laut.
Oleh Karena penelitian-penelitian yang dilakukan pada abad ke 20 menguatkan bahwa pentingnya memahami tentang kenaikan muka ait laut dalam konteks dari bebrbagai penyebab perubahan, hal ini benar bahwa terjadi peningkatan kenaikan muka air laut yang cepat. Karena berbagai penyebab perubahan, peran manusia dalam terjadi merupakan hal yang cukup menarik, tetapi hal ini menjadi relative tifak terstudi di pengertian yang sistematik, observasi juga menekankan pada kemampuan memproteksi akibat kenaikan muka air laut, terutama pada daerah dengan kepadatan penduduk tinggi seperti kota-kota di Asia. Proteksi juga telah diperbaharui di sekitar laut cina utara, termasuk London dan Hamburg: disini subsiden dianggap kurang berpengaruh, sebagaimana kenaikan permukaan air secara ekstrim telah dibuat beberapa reklamasi dan pengerukan.
2.4 OBSERVASI PERUBAHAN KETINGGIAN PERMUKAAN AIR LAUT
2.4.1 PERUBAHAN KENAIKAN MUKA AIR LAUT ABAD KE 20 MELALUI PASANG SURUT
Kekhawatiran tentang bias geografi pada PSML (Permanent Service for Mean Sea level), data
set yang sekarang dengan data yang panjang dari ketinggian permukaan air laut yang terekam
berasal dari NH, dan kebanyakan dari garis-garis pantai tiap benua daripada samudra interior,
berdasarkan dari angka kecil (25) dari pecatatan kualitas pasang surut daru daerah darat yang
stabil, tingkat kenaikan permukaan air laut diestimasikan sebesar 1,8 mm pertahun untuk kurun
waktu 70 tahun kebelakanag (Douglas, 2001; Peltier, 2001) dan Miller Douglas (2004)
menestimasi rentang tingkat kenaikan sebesar 1,5-2,0 mm pertrahun untuk abad ke 20 dari
pengukuran di 9 situs pasang surut yang stabil. Holgate dan Woodworth (2004) mengestimasi
peningkatan sebesar 1.7 ± 0,4 mm pertahun sepanjang garis pantai global tahun 1948 sampai
tahun 2002, berdasarkan data dari 177 stasiun yang dibagi atas 13 daerah Church et al (2004)
menetapkan tingkat kenaikan permukaan laut global sebesar 1,8 ± 0,3 mm pertahun selama tahun 1950 sampai tahun 2000 dan Church dan White (2006) menetapkan perubahan terjadi pada abad ke 20. Perubahan kenaikan permukaan air laut mengacu pada data pasang surut akan dijelaskan pada grafik di bawah, mempertimbangkan terhadap hasil dan memungkinkan terjadinya trend garis yang lebih besar akibat pengukuran altimetri satellite, tingkat kenaikan permukaan air laut sebesar 1,8 ± 0,3 mm per tahun pada tahun 1961 sampai 2003 dan pada abad ke 20 sebesar 1,7 ± 0,5 mm pertahun.
Gambar 3.4 gambar rekonstruksi White dan Church Keterangan gambar : kurva merah menunjukkan rekonstruksi data sejak tahun 1880 (diupdate dari Church dan White, 2006). Kurva biru menunjukkan pengukuran dari (Holgate dan Woodworth, 2004).Kurva hitam merupakan data altimetry satellite.
(Sumber : Climate Change 2007 The Physical Science Basis, 2007)
Ketika kenaikan permukaan air laut yang baru-baru dipublikasi terhadap beberapa decade kebelakang tetap di dalam rentang nilai TAR 1-2 mm pertahun.Masih terdapat opini yang menambahkan bahawa estimasi yang terbaik yaitu mendekati 2 mm pertahun daripada mendekati 1 mm pertahun.Hasil terendah yang tercatat oleh TAR disebabkan dari local dan regional studi; tingkat local dan regional mungkin berbeda dari rata-rata global.
Sebuah masalah kritis mengkhawatirkan bagaimana data-data yang
terekam menyesuaikan kepada pergerakan vertical dari daratan berdasarkan dimana lokasi
pasang surut dan di samudera mana. Trend di pencatatan pasang surut dikoreksi untuk digunakan dalam model GIA, tetapi bukan untuk pergerakan daratan yang lain. Koreksi model GIA mempunyai rentang anatara 1 mm pertahun atau lebih mendekati lapisan-lapisan es ke beberapa puluh dari setiap millimeter per tahun di lokasi yang jauh (Peltier, 2001); eror akibat perhitungan pasang surut berdasarkan rata-rata kenaikan global pertahun yang dihasilkan oleh GIA dinilai sebesar 0,15 mm pertahun. TAR menyebutkan perkembangan teknologi geodetic terutama GPS dimana cukup menjanjikan dari tingkat perhitungan pergerakan daratan vertical pada pasang surut, tidak peduli apakah pergerakan tersebut berlaku untuk GIA atau proses geological yang lainnya. Bagaimanapun ada beberapa model yang telah tervalidasi, terutaama untuk model GIA, problematika yang sistematik dengan teknik begitu, termasuk data dengan rentang pendek, telah terselesaikan dengan keseluruhan.
2.4.2 VARIASI BAGAN DATUM TERHADAP PEMBATASAN ZONA MARITIM MENGACU KEPADA KENAIKAN MUKA AIR LAUT
Studi kasus Malaysia, Malaysia merupakan negara maritim dan ketertarikan ekonomi yang bergantung kepada laut. Berdasarkan statistic dari departemen dari survey dan pemetaan Malaysia (DSMM) dan pusat hidrografis nasional (NHC), Malaysia mempunyai teritori wilayah laut sebesar 65,023 km2 dan zona ekonomi sebesar 450233 km2, panjang garis pantai 4800 km dan 1007 pulau yang aman memberikan berbagai sumber daya alam dan peluang untuk mengembangkan sector ekonomi maritim. Harta karun di laut dan pentingnya industri maritim perlu untuk dilestarikan untuk kemakmuran dan kesejahteraan negara. Batas nasional maritim telah meraih pengakuan internasional dalam kuasa untuk menegakkan hokum dan dan ekspliutasi. Setelah pembenaran dari UNCLOS 1982, pada oktober 14 1996, negara mempunyai obligasi kepada PBB untuk merubah posisi koordinat dari titik dasar.
Mengacu pada UNCLOS 1982, semua negara pesisir meletakkan koordinat titik mulai
dimana yang sama dalam mengukur luas area perbatasan dan zona maritime lainnya. Deposisi
juga penting untuk memperkuat penegasan wilayah atas landasan benua melampaui 200 nautical
mile.Penentuan titik dasar memerlukan pengukuran hidrografis yang berprsisi tinggi.Berdasarkan
pertemuan subkomite garis dasar tahun 2004, menggambarkan titik dasar dan garis dasar adalah
dasar untuk penentuan untuk zona maritime.Penetapan posisi dari titik dasar dengan presisi yang tinggi sangat penting dalam upaya untuk memperkuat zona maritime dan penetapan dari batas maritime dan garis batas kepada PBB juga membuat pengakuan global.
Bagaimanapun, mengacu kepada peningkatan mendadak pada peningkatan permukaan aur laut pada beberapa dekade terakhir, telah terjadi beberapa perubahan pada garis dasar dari negara-negara pantai atau disebut pergeseran garis batas.Fenomena ini menyebabkan perubahan di laut yang juga berpengaruh pada bagan datum.Ketika bagan datum telah berubah, hal itu juga mempengaruhi garis dasar.Sebagaimana laut mengalami peningkatan dan menyebabkan kemunduran.Berikut adalah bagan yang memperlihatkan pergeseran garis dasar.
Gambar 3.7 Kehilangan Daratan Pada Malaysia
(SUMBER : VARIATION OF CHART DATUM TOWARD MARITIME DELIMINATION DUE TO RISING SEA LEVEL)
Tahapan metode penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut
1. Observasi di 8 stasiun : genting, cendering, sedili, tioman, kukuo langkawi, lumut dan penang
2. Data tersebut diedit berdasarkan format Geotide
3. Pemrosesan menggunakan software GeoTide
4. Data proses menggunakan analysis harmonic
5.
Dihasilkan 23 set rerata muka air laut
Berikut adalah grafis-grafis hasil
pengukuran:
Gambar 3.6 (Grafik stasiun sedili)
Gambar 3.7 (Grafik
stasiun genting)
Gambar 3.8 (Grafik stasiun Kukup)
Gambar 3.9 (Grafik
stasiun cendering)
.
Gambar 3.10 (Grafik stasiun Lumut)
Gambar 3.11 (Grafik stasiun penang)
Gambar 3.12 (Grafik stasiun langkawi)
Gambar 3.13 Regresi Linear Stasiun Malaysia Berikut merupakan hasi dari regresi linear tiap-tiap stasiun observasi Malaysia
.(SUMBER : VARIATION OF CHART DATUM TOWARD MARITIME DELIMINATION DUE TO RISING SEA LEVEL)
Berdasarkan perbandingan yang dibuat untuk 23 tahun observasi gelombang pasang surut untuk
tiap-tiap stasiun, hasil menunjukkan bahwa perbedaan nilai variasi dari nilai rata-rata muka air
laut (MSL) dan bagan datum (CD). Sebagaimana disimpulkan, kelanjutan dari peningkatan
bagan datum sepanjang garis pantai menunjukkan hasil bahwa terjadi kehilangan zona-zona
maritime, terutama area dengan pantai yang mempunyai kemiringan renda.Penelitian tersebut
juga dapat meningkatkanakurasit prediksi pasang surut dengan penggunaan data existing yang
dibentuk selama periode 23 tahun. Maka, hal ini menjadi asumsi terbaik bahwa deviasi ini akan
lanjut untuk peningkatan muak air laut kedepan. Tujuan kedua yaitu penelitian tersebut menjadi
studi dampak kenaikan permukaan air laut terhadap titik dasar yang tidak menentu. Berdasarkan
analisis, dengan menganalisa hubungan antara ketiga parameter (Bagan Datum, Kemiringan
pantai dan ketidaktentuan titik dasar), hal ini dapat disimpulkan bahwa mengacu kepada geografi
yang lebih terjal untuk pantai timur dari Malaysia, perubahan garis batas meiliki dampak yang kurang daripada di pantai barat Malaysia yang mempunyai geografi yang rendah .
2.4.3 KAJIAN KENAIKAN MUKA AIR LAUT DI KAWASAN PESISIR KABUPATEN TUBAN, JAWA TIMUR.
Kenaikan muka air laut merupakan fenomena naiknya muka air laut sebagai akibat dari perubahan iklim yang merupakan isu penting saat ini. Terlebih lagi Indonesia yang merupakan negara kepulauan.’laporan IPCC (International Panel on Climate Change), memperkirakan bahwa pada kurun waktu 100 tahun terhitung dari tahun 200, permukaan air naik sebesar 48 cm.
pada gambar berikut merupakan berkurang nya es di kutub utara yang semakin mencair dari tahun ke tahun.
Gambar 3.14 Gambar Pengamatan Es di Kutub Utara Yang Semakuin Berkurang
pada gambar berikut terlihat es di kutub utara yang semakin berkurang tiap tahunnya.
Peningkatan suhu air dan melelehnya volume es di daerah kutub meningkatkan volume laut.Kontribusi relative dari meningkatnya suhu dan pencairan es terhadap kenaikan muka air laut adalah tifak pasti dan perkiraan ini dapat sangat bervariasi.Kedua faktor tersebut dapat meningkatkan tinggi muka air laut.
Pesisir yang rentan terhadap kenaikan muka air laut, salah satunya kawasan pantai utara jawa. Focus daerah pada penelitian ini adalah kawasan pesisir kabupaten tuban. Laut jawa berada di jalur transportasi darat pantura sehingga ada kecenderungan pertumbuhan pesisir di tuban menjadi kawan ekonomi akan terancam akibat fenomena ini.
Hasil yang didapat menggunakan perbandingan dari data stasiun di tuban bahwa kenaikan permukaan air laut berdasarkan tren line sebesar fungsi y = 0.0006x+ 0.9666 seperti pada gambar di bawah ini.
Gambar 3.15 Trend Line Kenaikan Muka Air Laut Tuban.
Sehingga dengan persamaan tersebut dapat dipresdiksi muka air laut untuk beberapa tahun kedepan. Diprediksi kenaikan muka air laut pada tahun 2010, 2050 dan 2100 adalah sebesar 1.22 m, 1.43 m dan 1.48 m.
2.5 LAJU KENAIKAN MUKA LAUT SECARA GLOBAL DAN LOCAL.
2.5.1 KENAIKAN MUKA AIR SECARA GLOBAL
Sea Level Rise (SLR) merupakan resiko dari perubahan iklin yang sangat tidak menentu,
melibatkan skala waktu dari dekade-dekade.Sekarang kita menggunakan model empirirs,
mengkalibrasi data kenaikan muka air laut dari beberapa millennium kebelakang, untuk
mengestimasi implikasi SLR dari nilai pemanasan dibawa 2 atau 1.5 derajat celcius diatas
temperature pra industrialisasi seperti yang disebutkan di perjanjian Cancun (CPH).Implikasi jangka panjang dari SLR dibagi menjadi 2 tujuan secara substansi pada skala waktu multi-abad yang berujuk pada inertia di sistem iklim dan perbedaan di tingkat SLR pada scenario 2100.
Hal yang bertentangan terhadap tujuan pemanasan ditulis pada tahun 2100 di perjanjian cancun, sedikit perhatian yang difokuskan pada limit SLR. Pada tahun 2006, dewan penasehat jerman di bidang perubahan global dipanggil untuk sebuah pembatasan dari 1 meter SLR yang tidak semestinya terlampaui selama beberapa dekade.Disini kita memeriksa bahwa bagaimana reduksi emsisi hingga tahun 2300. Kita menilai bahwa range dari scenario emisi dengan scenario emisi yang cukup untuk menemui tujuan dari global warming di perjanjian cancun dengan beragam probabilitas. Ketika dianalisis perbedaan pada SLR dan tingkat SLR di tahun 2100 disimpulkan dan sebuah set jalur emisi yang lebih luas. Perbedaan tingkat SLR abad ke 21 ditemukan untuk menjadi indicator dari perbedaan SLR setelah 2100, tetapi ini juga penting bahwa semakin tinggi tingkat kenaikan semakin tinggi juga tantangan untuk adaptasi bagi ekosistem yang ada.
Dari kebijakan-kebijakan terhadap penelitian ini maka dianalisis skenario yang ada, yang pertama merupakan hasil dari cerminan wabah reduksi emisi yang ada pada masing-masing negara di dunia yang berasosiasi pada perjanjian Coppenhagen (CPH) dan perjanjian Cancun.
Kemudian, hasil-hasil dari kebijakan tersebut dipangkas hingga nol pada tahun 2016 untuk memproyeksi kenaikan muka air laut dalam hal emisi nol. Berikut merupakan besaran masing- masing kenaikan muka air laut pada penelitian ini..
Gambar 3.17 Tingkat Kenaikan Muka Air Laut Global.
2.5.1 KENAIKAN MUKA AIR SECARA LOKAL
Kenaikan muka air laut didasarkan juga pada faktor-faktor lokal, selain data pasang surut juga berlaku data cuaca seperti suhu.Penyetaraan faktor global menuju lokal dapat didasarkan pada penyertaan data lokal dengan rumusan global.Rumusan global yang dipakai untuk menentukan nilai iklim dekade berikutnya adalah dengan pendekatan rumus empiris yang dilakuakn oleh Rahmstorf.Penelitian Rahmstorf didasarkan pada pencairan es di kutub utara dengan mengamati dinamika glester yang ada.Pemodelan yang digunakan dengan memodelkan lapisan-lapisan es yang ada untuk mengetahui berapa jumlah es yang telah menghilang. Permodelan ini juga tidak menentu seperti haal nya pada tahun 1990 muka air laut tidak menentu sehingga IPCC mengeluarkan TAR (Third Assesment Ratio) yaitu menggabungkan skenario emisi tertinggi dengan sensitivitas iklim yang tertinggi (Rahmstorf, 2007).
Hasil dari data Rahm storf menunjukkan angka kenaikan muka air laut sebesar 3.4 mm pertahun per derajat celcius, dimana nilai ini dapat di substitusikan ke setiap wilayah-wilayah pesisir. Untuk kenaikan suhu sendiri diinformasikan melalui badan klimatologi meteorology dan geofisika (BMKG) melalui pusat informasi.Dari data yang didapat bahwa kenaikan suhu tiap- tiap daerah sekitar 0.03 derajat celcius pertahun. Maka dari itu untuk proyeksi suhu tahun 2100 dapat dilakukan dan akan menjadi nilai yang dapat dikonversikan menjadi laju kenaikan muka air.
2.6 METODE ANALISA KOMPONEN HARMONIK PENGAMATAN PASANG SURUT .
Pasang surut air laut meruakan fenomena naik danturunnya permukaan air laut secara periodic yang disebabkan oleh pengaruh gravitasi benda-benda langit. Gaya-gaya pembangkit pasang surut ditimbulkan oleh gaya tarik menarik bumi , bulan dan matahari (Triadmodjo, 2012). Gaya tarik menarik antara bumi dan bulan menjadi satu sistem kesatuan yang beredar bersama-sama sekeliling sumbu, perputaran bersama.Pembentukan pasang surut air laut sangat dipengaruhi oleh gerakan gerakan utama matahari dan bulan.
1. Revolusi bulan terhadap bumi, dimana orbitnya berbentuk elips dan memerlukan periode untuk menyelesaikan revolusi ini selama 29.5 hari.
2. Revolusi bumi terhadap matahari dengan orbitnya berbentuk elips, periode yang
diperlukan adalah 365,25 hari.
3. Perputaran bumi terhdapa sumbunya sendiri, periode yang diperlukan untuk gerkana ini adalah 24 jam.
Pengaruh gravitasi benda-benda langit terhadap bumi tidak hanya menyebabkan pasang surut air laut, tetapi juga perubahan bentuk bumi dan atmosfer. Fenomena lain yang berhubungan dengan pasang surut adalah arus pasang surut, yaitu gerakan badan air menuju dan meninggalkan pantai saat air pasang dan surut.
Metodologi
Data pasang surut air laut diperoleh dari dinas perhubungan kabupaten mimika, provinsi Papua. Data yang diperoleh berupa fluktuasi air laut pengukuran selama 29 hari (15 september – 13 september 2016) dengan interval setiap data satu jam.
Data yang diperoleh kemudian diolah lebih lanjut untuk mengetahui nilai-nilai amplitudo komponen harmonic pasang surut.Hal ini dimungkinkan karena pasang surut bersifat gelombang, nilai dari amplitude dan periode masing-masing komponen pasang suruttersebut dapatdi analisi karakteristik nya.
Metode yang digunakan dalam pengolahan data adalah metode least square method . metode tersebut digunakan untuk menghitung komponen harmonic pasang surut yang terdiri dari tinggi air laut rata-rata (Mean Sea level) amplitude dan fase yang terdiri dari 9 komponen utama pasang surut antara lain :
M2 : Konstanta harmonik yang dipengaruhi oleh posisi bulan
S2 : Konstanta harmonik yang dipengaruhi oleh posisi matahari N2 : Konstanta harmonik yang dipengaruhi oleh perubahan jarak bulan K2 : Konstanta harmonik yang dipengaruhi oleh perubahan jarak matahari O1 : Konstanta harmonik yang dipengaruhi oleh deklinasi bulan
P1 : Konstanta harmonik yang dipengaruhi oleh deklinasi matahari
K1 : Konstanta harmonik yang dipengaruhi oleh deklinasi matahari dan bulan M4 : Konstanta harmonik yang dipengaruhi oleh pengaruh ganda M2
MS4 : Konstanta harmonik yang dipengaruhi oleh interaksi antara M2 dan S2 Selanjutnya, dari data-data komponen harmonik pasang surut yang telah diperoleh,
kemudian diolah lebih lanjut untuk memperoleh nilai elevasi penting muka air laut, antara lain:
o Muka air tinggi tertinggi (Highest High Water Level, HHWL)
o Muka air tinggi rerata (Mean High Water Level, MHWL)
o Muka air laut rata-rata (Mean Sea Level, MSL)
o Muka air rendah rerata (Mean Low Water Level, MLWL o Muka air rendah terendah (Lowest Low Water Level, LLWL)
Perhitungan analisa metode least menngunakan 9 parameter dalam penentuan ketinggian HHWL,MHWL, MSL, MLWL, LLWL dan LAT. Paramteter-parameter tersebut adalah parameter konstituen yaitu : HHWL: Z0+(M2+S2+K2+K1+O1+P1)
MHWS: Z0+(M2+S2) MHWL: Z0+(M2+K1+O1) MSL: Z0
MLWL: Z0 - (M2+K1+O1) MLWS: Z0 - (M2+S2)
LLWL: Z0 - (M2+S2+K2+K1+O1+P1) LAT; Z0 – Semua Parameter.
Nilai parameter-parameter tersebut apabila di grafiskan maka akan seperti grafik di bawah ini.
Gambar 3.18 Grafis Proyeksi Tinggi Muka Air oleh Parameter-parameter Harmonik.
Adapun cara (step) untuk mendapatkan nilai masing-masing konstituen berdasarkan cara yang sama digunakan pada penelitian Analisa Komponen Harmonik Pengamatan Pasang Surut Menggunakan Alat Pengamatan Pasang Surut Berbasis Ultrasonik adalah sebagai berikut.
1. Ambil nilai data pasang surut selama 24 jam dan pastikan sumber adalah badan pengukuran yang kredibel dan jelas.
2. Nilai masing-masing pasut kemudian di kelompokkan ke dalam 15 hari karena kondisi pasang surut terjadi setiap 14,3 hari atau di kasarkan menjadi 15 hari.
Gambar 3.19 Data 15 Hari.
3. Setelah nilai-nilai tersebut dibuat kedalam 15 maka selanjutnya membuat matriks observasi dalam hal ini data 15 hari tersebut dianggap hasil observasi dan dirunutkan dari tanggal dan jam pertama sama tanggal dan jam terakhir. Matriks tersebut diberi nama Matriks L.
Gambar 3.20 Gambar Matriks L.
4. Menurut Eric Wolanski dan Michael Elliot dalam buku Estuarian Ecohydrology nilai periode masing-masing konstutuen adalah sebagai berikut.
K1 23.93 jam M2 12.42 jam O1 25.82 jam S2 12 jam P1 24.07 jam N2 12.66 jam M4 6.21 jam S2 11.97 jam MS4 6.103 jam
Nilai-nilai tersebut kemudian akan diubah menjadi kecepatan radian perjam yang digunakan sebagai perhitungan untuk menentukan tinggi harmonic
5. Setelah mendapatkan nilai kecepatan masing-masing konstutuen maka langkah
berikutnya adalah menghitung nilai A (fungsi cos) dan B (fungsi sin) yaitu menggunakan rumus.
𝑨𝑨 = 𝑪𝑪𝑪𝑪𝑪𝑪(𝝎𝝎
𝒏𝒏𝒕𝒕
𝒊𝒊)
Perhitungan2.1 menghitung parameter A
𝑩𝑩 = 𝑪𝑪𝑺𝑺𝑺𝑺(𝝎𝝎
𝒏𝒏𝒕𝒕
𝒊𝒊)
Perhitungan menghitung parameter A
6. Perhitungan tersebut dilakukan berulang sebanyak 360 jam atau 15 hari dan 18 parameter.
Sehingga jumlah matriksnya berukuran 360x18. Lalu matriks tersebut dinyatakan sebagai matriks A.
7. Setelah didapat matriks A, langkah selanjutnya adalah melakukan perhitungan sehingga didapat matriks parameter yaitu :
Maka didapatlah nilai S0 A1, B1………..A9, B9. Dimana nilai-nilai parameter ini akan masuk ke tahapan selanjutnya yaitu tahapan koreksi.
8. Tahapan koreksi merupakan tahapan perkalian matriks parameter dengan matriks A sehingga matriks yang didapat merupakan Matriks hasil perhitungan, nilai matriks perhitungan ini akan dikurangkan dengan nilai matriks observasi dan akan menjadi nilai koreksi. Semakin kecil nilai koreksi maka semakin sedikit perbedaan dilapangan dan hasil pengukuran.
9. Setelah itu nilai-nilai parameter A dan B akan dicari nilai amplitudonya yaitu dengan menghitung akar dari jumlah nilai A dan B kuadrat. Sehingga didapatkan nilai-nilai parameter M1 hingga MS4.
2.7 ANALISA DRAFT KAPAL .
Analisa draft kapal diperlukan untuk menentuka kualitas dermaga kapal terhadap Draft kapal.
Analisa ini dilakukan dengan menggunakan data pasang surut yang ada dan diakumulasikan
hasil-hasil yang ada. Adapun tabulasi draft kapal seperti di bawah ini.
BOBO T
PANJAN G
LEBA R
DRAF T
BOBOT
PANJAN G
LEBA R
DRAF T
LOA ( m ) ( m ) ( m ) LOA ( m ) ( m ) ( m )
Kapal Penumpang ( GRT ) Kapal Barang Curah ( DWT )
500 51 10.2 2.9 10,000 140 18.7 8.1
1,000 68 11.9 3.6 15,000 157 21.5 9.0
2,000 88 13.2 4.0 20,000 170 23.7 9.8
3,000 99 14.7 4.5 30,000 192 27.3 10.6
5,000 120 16.9 5.2 40,000 208 30.2 11.4
8,000 142 19.2 5.8 50,000 222 32.6 11.9
10,000 154 20.9 6.2 70,000 244 37.8 13.3
15,000 179 22.8 6.8 90,000 250 38.5 14.5
20,000 198 24.7 7.5
100,00
0 275 42.0 16.1
30,000 230 27.5 8.5
150,00
0 313 44.5 18.0
Kapal Barang ( DWT ) Kapal Ferry ( GRT )
700 58 9.7 3.7 1,000 73 14.3 3.7
1,000 64 10.4 4.2 2,000 90 16.2 4.3
2,000 91 12.7 4.9 3,000 113 18.9 4.9
3,000 92 14.2 5.7 4,000 127 20.2 5.3
5,000 109 16.4 6.8 6,000 138 22.4 5.9
8,000 126 18.7 8.0 8,000 155 21.8 6.1
10,000 137 19.9 8.5 10,000 170 25.4 6.5
15,000 153 22.3 9.3 13,000 188 27.1 6.7
20,000 177 23.4 10.0 Kapal Peti Kemas ( DWT )
30,000 186 27.1 10.9 20,000 201 27.1 10.6
40,000 201 29.4 11.7 30,000 237 30.7 11.6
50,000 216 31.5 12.4 40,000 263 33.5 12.4
Kapal Minyak ( DWT ) 50,000 280 35.8 13.0
700 50 8.5 3.7
1,000 60 9.8 4.0
2,000 77 12.2 5.0
3,000 88 13.8 5.6
5,000 104 16.2 6.5
10,000 130 20.1 8.0
15,000 148 22.8 9.0
20,000 162 24.9 9.8
30,000 185 28.3 10.9
40,000 204 30.9 11.8
50,000 219 33.1 12.7
Tabel 2.1. Kedalaman Draft kapal untuk tiap masing-masing jenis kapal
Data-data diatas digunakan untuk membandingkan kedalaman draft dengan kedalaman
kedalaman muka air laut. Semakin tinggi tonnase kapal maka kedalaman draft kapal juga
semakin dalam, sehingga perlu dilakukan pengerukan terhadapSea Floor agar kapal tetap dapat merapat ke dermaga
2.8 STUDI TERDAHULU
No. Referensi Topik/Masalah Metode Penelitian Hasil 1 Sihombing ,weny et al.
2012. Kajian Kenaikan Muka Air Laut di Pesisir Kabupaten Tuban. Institut Teknologi Sepuluh November Vol 1.
Kenaikan muka air laut merupakan fenoomena perubahan iklim yang menjadi isu sangat penting belakangan ini.
Dampak kenaikan muka air laut yang terbesar adalah wiayah pesisir dimana Indonesia memiliki garis pantai sepanjang 108,000 km.
slaah satu wilayah pesisir yang rentang terhadap kenaikan permukaan air laut adlah wilayah pantai jawa dan focus penelitian berada di kabupaten tuban dimana terdapat 5 kecamatan yaitu kecamatan banjar, keamatan jenu, kecamatan Tambakboyo, kecamatan palang dan kecamatan tuban.
Dalam penelitian ini dilakukan pengolahan data pasang surut yang diadopsi dari data pasang surut wilayah semarang lalu dilakukan metode persamaan Least Square untuk mendapatkan data ketinggian permukaan air laut
Hasil yang didapat adalah persamaan kenaikan permukaan yaitu sebesar y= 0,006x + 0,966. Lalu data pasang surut
menghasilkan Trend Line terhadap data- data pasang surut yang kemudian menjadi prediksi
kenaikan muka air laut di daerah tuban sampai tahun 2100
2 A.R Mohd Faizuddin, M.mohd Razali. 2017.
Kenaikan muka air laut yang terjadi di.wilayah
metodologi yang dilakukan terdiri dari
Didapatkan grafik kenaikan
Variation of Chart Datum Toward Maritime Delimitation due to Rising
SeaLevelt. Universiti Teknologi Malaysia Vol XLII-4/W5
Malaysia mengakibatkan beberapa kerugian dri sector ekonomu maritime. Hal ini dikarenakan terjadi perubahan Baseline negara Malaysia yang juga dibarengi dengan pengurangan wilayah maritime. Penentuan Baseline dan Basepoint dari suatu negara harus dilakukan agar tidak terjadi klaim atas negara lain dalam wilayah zona ekonomi maritime seperti penangkapan ikan secara illegal
beberapa tahapan yaitu.
1.Observasiterhadap 8 sasiun di Malaysia 2. pengeditan data dengan menggunakan aplikasi Geotide 3. pemrosesan data menggunakan analisa harmonic
4. data kenaikan permukaan rata-rata 5. data kenaikan permukaan air tahun 1993-2015
permukaan air laut pada tiap-tiap stasiun dan juga trend line untuk masing-masing stasiun.
3 Ali ercan, M levvent kavvass. 2011. Sea level change alongthe peninsular Malaysia and sabah and Sarawak coastline for 21st Century.World Enviromentak and Water Resources Congress 2011.
.kenaikan muka air laut terhadap sistem global telah dilakukan berbagai observasi sepannjang periode historis. Dua proses besar yang menjadi hal utama dalam perubahan volume pada samudra yaitu ekspansi termal dari air dan kehilangan daratan es. Akibat dari itu dampak yang terjadi adalah terjadinya perubahan terhada reservoir air seperti danau.
Metode yang dilakukan menggunakan satellite altimetry dengan memetakan wilayah semenanjung Malaysia, serawak dan sabah dengan menentukan lokasi kordinat tiap-tiap lokasi
Hasil yang didapat adalah kenaikan permukaan tiap- tiap wilayah dengan koordinat awal dan koordinat akhir tiap-tiap lokasi dengan satellite altimetry dan didapat juga hasil perubahan lereng tiap-tiap lokasi
4 Alba Cid et al. 2017.
Storm Surge and
Asia tenggara
merupakan daerah yang
Metodologi yang dilakukan adalah
Hasil penelitian ini menunjukkan
Return Water Level Estimation in Southeast Asia for 20th Century.
Jurnal of geGeophysical
Research: Ocean. 2017
rentan terkena dengan berbagai kejadian akibat tingkat permukaan air laut yang ekstrim seperti topan dan angin ribut.
Tiap kejadian tersebut menyebabkan banyak korban jiwa. Beberapa kejadian tersebut merupakan kejadian pasang secara astronomis dan residunya .pasang surut merupakan suatu metode dalam memprediksi ketinggian gelombang yang akan dating dengan memprediksi nilai ekstrim dari gelombang badai
dengan menggunakan Local Predictor dan menghilangkan siklus predictor dan prediktan local predictor
diletakkan pada meridian 10m angin dari zona angin. Lalu menggunakan Prinsip analisis komponen predictor yang membuat 9 grid cell
pasang surut di tiap masing- masing negara dengan menunjukkan grafis ekstrim dari tiap-tiap masing
gelombang. Hasil grafis ini dapat menjadi acuan potensi terjadi bencana
5 Tri Woro Widyastuti, Darma Bakti, Zulham Apandy Harahap.
2015. Dampak Fisik kenaikan Muka Air Laut Terhadap Wilayah Pesisir Kota Medan Kecamatan Medan Belawan. Universitas Sumatera Utara
Fenomena kenaikan muka air laut merupakan fenomena yang
menimbulkan ancaman bagi wilayah-wilayah pesisir. Fenomena ini dominan akibat dari pemuaian thermal sehingga volume air laut bertambah dan kutub es mencair. Kenaikan muka air laut dirasakan ekstrim sejak abad ke-20 secara geografis dan topografi Indonesia sebagai negara kepulauan maka
Metodologi yang dilakukan adalah persiapan data lalu pengolahan data dari satellite dengan menggunakan ArcGis 9.3. Analisis kenaikan muka air laut dari tahun 2011-2015 dan
pengkajian resiko.
Hasil yang didapat bahwa kenaikan muka air laut pada Medan belawan berkisar 1.0432 cm/tahun dan katergori kelas ancaman rendah.
Indeks kerentanan berdasarkan PERKA BNPB No2 berkisar dari 3,85-4,65dan juga dihasilkan peta genangan wilayah pesisir belawan.
indonesi sangat rentan.
6 Nanin Anggraini, Bambang Trisakti, tri edhi Budhi Soesilo.
2012. Pemanfaatan data satellit utuk analisis potensi genangan dan dampak kerusakan akibat kenaikan muka air laut.
Pusat pemanfaatan Penginderaan Jauh, LAPAN.
Meningkatnya volume air laut menyebabkan kenaikan muka air laut yang mengancam keberadaan kecil pulau- pulau dan wilayah Jakarta Utara.selain itu juga terjadi fenomena penurunan permukaan tanah sehingga mengakibatkan genangan. Penelitian yang dilakuakn di pesisir Jakarta utara pada periode 1982-2010 menunjukkan laju kenaikan muka air laut sebesar 1-15 cm/tahun dan dilokasi tertetu mencapai 20-28 cm/
tahun.
Metodologi yang digunakan yaitu:
pemetaan daerah genangan dan analisis dampak kerusakan.
hasil yang didapat adalah kenaikan tinggi pasang surut sebesar 2,05 pada tahun 1984- 2004. Prediksi kenaikan muka air laut pada tahun 2030 sebesar 2,88 meter.
Penggunaan lahan yang tergenang sebesar 523 ha di kecamatan penjaringan dan 311 ha di kecamatan cilincing.
7 Yuwono, Dedy Kurniawan, Nazib Faisal. 2016.
ANALISIS KOMPONEN HARMONIK PENGAMATAN PASANG SURUT MENGGUNAKAN ALAT PENGAMAT PASANG SURUT BERBASIS SENSOR ULTRASONIK, Institut Teknologi
Pengamatan pasang surut berguna untuk menentukan kerangka control vertical dalam pengukuran posisi suatu titik. Teknologi
pengamatan pasang surut sudah semakin berkembang dan dilakukan secara otomatis. Namun, badan pengukuran atau Badan Informasi Geospatial hanya menyediakan
Dalam metode ini dilakuakn pengamatan pasang surut perjam- jaman dengan menggunakan
ultrasonic sebanyak 15 hari. Lalu data-data yang didapat kemudian dihitung menggunakan metode least square method untuk
mendapatkan data-data ketinggian yang lebih teliti
Hasil yang didapat adalah nilai formzhal ya
Sepuluh November. data-data pasang surut di kota-kota besar saja sehingga data pengukuran harus didapat menggunakan metode ultrasonic.
BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Umum
Prediksi kenaikan permukaan air laut perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya kerusakan pada infrastruktur pelabuhan salah satunya mengakibatkan banjir. Pelabuhan sangat berpengaruh terhadap tinggi muka air laut salah satunya untuk merapatnya kapal, jika Draft dari pelabuhan tidak dapat memenuhi maka kapal tersebut akan karam. Di sisi lain, infrastruktur juga memerlukan pembenahan akibat kenaikan muka air laut, selain dengan membuat drainase ssalah satunya yaitu dengan meningginakan dermaga yang satu dalam konteks ini merupakan dermaga Terminal Ujung baru Milik PT Pelindo 1. Design dari pembenahan infrastruktur memerlukan data dari kenaikan muka air laut agar pembenahan dapat dilakukan dalam jangka waktu yang panjang. Coppenhagen Aggreement (CPH) (2009) berpendapat bahwa kenaikan muka air laut terjadi sebesar 10 mm pertahun tetapi Zero Waste 2016 mencatat kenaikan muak air laut sebesar 8mm pertahun .
Prediksi kenaikan muka air laut dapat dilakukan dengan variable pasang surut ataupun variable kenaikan muka air laut akibat kebijakan-kebijakan.Kedua variable tersebut memiliki perbedaan tingkat keakurasian dalam perhitungannya dimana pasang surut merupakan perhitungan in situ sedangkan kebijakan merupakan ketetapan kebijakan.Tetapi, kedua hal tersebut harus dibandingkan untuk mengetahui perbedaan antara kedua variable tersebut karena tiap-tiap variable mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Perhitungan data pasang surut akan menenetukan prediksi kenaikan permukaan air laut untuk tahun-tahun kedepan sedangkan data altimetry akan menjadi pembanding data pasang surut serta data pasang surut pada lokasi belawan. Selain kedua prediksi diatas dilakukan juga model semi empiris dari Rhamstorf yang berguna mengetahui keterkaitan perubahan iklim dengankenaikan muka air laut.
Cara yang dilakukan agar mendapatkan trend line ataupun prediksi kenaikan muka air laut
yaitu dengan regresi linear hasil dari metode least square daru tahun 2015 hingga 2018,
stasiun pasang surut dan model semi empiris. Lalu tiap-tiap pengukuran akan dibandingkan
dan mencari perhitungan mana yang paling ideal untuk evaluasi dermaga pada tahun 2050
Variable-variable yang di analisis akan dilakukan proses transkripsi dari data NetCDF
menjadi data ketinggian (m) ataupun menjadi data suhu (C). variable ketinggian akan
mempengaruhi variable lainnya yaitu ketinggian dermaga, yang mana ketinggian potongan-
potongan dermaga akan beragam bergantung kepada kontur dasar muka air (SeaFloor).
3.2 Cakupan dan Tahapan Metodologi Penelitian Adapun pelaksanaan penelitian ini dapat digambarkan pada gambar 3.1
Mulai
Studi Literatur
Pengumpulan Data
Data Sekunder
a) Data pasang surut stasiun belawan 2015-2016 b) Data Kenaikan Berdasarkan CPH dan Zero 2006 c) Data Laju Kenaikan Berdasarkan Rhamstorf
Analisis
a) Analisis kenaikan permukaan air laut berdasarkan data stasiun pasang surut belawan
b) Analisis kenaikan permukaan air laut berdasrkan kenaikan permukaan berdasarkan metode rhamstorf, CPH dan Zero 2016
c) Komparatif data kenaikan Masing-masing skenario
d) Evaluasi menggunakan AutoCad pada setiap potongan-potongan dermaga
Kesimpulan dan Saran
Pengolahan data
a. Menentukan parameter - parameter pengukuran kenaikan muka air, sea bed dan elevasi dermaga
b. Melakukan Laju Elevasi Muka air pada masing-masing kasus
c. Menentukan Parameter-parameter konstituen
2. Studi Literatur
Dalam bagian ini dilakukan studi literatur mengenai topik yang berkaitan dengan skripsi, seperti :
• Laju kenaikan muka air
• Referensi CPH
• Penentuan Tingkat Muka Air berdasarkan pola astronomis
• Penenntuan laju muka air berdasarkan suhu
3. Pengumpulan Data
Dalam bagian ini dilakukan pencarian data – data dari berbagai sumber yang berkaitan dengan penulisan skripsi ini, seperti :
• Data kenaikan muka air di stasiun belawan
• Data kenaikan muka air pada skenario CPH dan Zero 2016
• Peta/gambar Proyek eksisting dermaga ujung baru belawan 4. Pengolahan Data
Pada bagian ini dilakukan pengolahan data, antara lain:
• Perhitungan kenaikan permukaan air laut menggunakan least square method dengan pola pasang surut menurut astronomis
• Perhitungan kenaikan permukaan air laut menggunakan Laju kenaikan Muka air pada referensi CPH dan Zero 2016
• Perhitungan kenaikan muka air laut berdasarkan laju kenaikan Rhamstorf yang dihubungkan dengan trend kenaikan suhu menurut laporan BMKG
• Pengevaluasi terhadap proyek dermaga ujung baru.
5. Analisis
Dalam bagian ini dilakukan analisis terhadap :
• Tingkat Muka air melalui data stasiun pasang surut, laju CPH dan Zero 2016
• Data pasang surut menggunakan Metode Least Square Method
• Data tinggi dermaga Ujung Baru Belawan.
6. Kesimpulan dan Saran
Pada bagian ini, disimpulkan dan diberikan saran dari semua pokok permasalahan yang telah dianalisa dalam penelitian ini, sebagai pedoman penelitian di masa yang akan datang yang berkaitan dengan pokok permasalahan ini.
\
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian
Pelabuhan belawan adalah pelabuhan utama di medan dengan jarak 26 Km dari pusat
kota medan. Pelabuhan ini memiliki hak pengelolaan lahan sebesar 289,26 Ha dengan daerah
cakupan kerja sebesar 12072,33 Ha. Pelabuhan ini merupakan terbesar ketiga setelah tanjung
priok dan pelabuhan merak. Pelabuhan ini mempunyai perbedaan pada masing-masing daerah
penambatan, untuk daerah section 1-3 untuk kapal sedang dan kecil. Sedangkan kapal besar
bertambat pada section 5 sampai 8. Hal ini dikarenakan Sea Bed pada daerah 1-3 mempunyai
kedalaman 2-3 meter sedangkan 5-8 mempunyai kedalaman lebih dari 4.
Gambar 4.1 Layout Dermaga 4.1.1 Fungsi Section-section Dermaga Ujung baru
Dermaga Ujung Baru merupakan dermaga dengan luas 1669,75 m2 dengan mempunyai fasilitas gudang sebanyak 11 gudang dan juga mempunyai masing-masing bagian-bagian dermaga yaitu 101-107. Dermaga ujung baru memiliki fungsi yang berbeda-beda yaitu untuk dermaga 101-103 yaitu sebagai areal gudang komoditas. Sedangkan 104-106 merupakan area kosong dimana terdapat jalur-jalur pipa untuk membawa komoditas curah cair menuju tangki penyimpanan.Sedangkan terminal 107 digunakan untuk gudang penyimpanan.
VOID
Gambar 4.2 Foto Gudang 101 dari Laut
Gambar 4.3 Foto Gudang 102 dari Laut
Gambar 4.4 Foto Gudang 103 dari Laut
Gambar 4.5 Foto Area 104-106 dari Laut.
Gambar 4.6 Foto Gudang 107 dari Laut.
4.1.2 Tingkat Ketinggian Dermaga Ujung baru
Section 1 sampai 8 memiliki ketinggian yang berbeda antara masing-masing section berikut adalah
tabel 4.2 ketinggian dermaga.
Section
Tinggi
dermaga Tinggi Perkerasan
Total Tinggi
1 5.03 0.09 5.12
2 5.07 0.05 5.12
3 5.51 0.11 5.62
Tabel 4.1 Tabulasi Tinggi Dermaga
4 4.8 0.07 4.87
5 4.89 0.056 4.946
6 4.81 0.12 4.93
7 4.41 0.05 4.46
8 4.74 0.04 4.78
4.2 Kenaikan Muka Air Laut (Sea Level Rise) 4.2.1 Penetapan Data Awal Pasang Surut.
Data awal pasang surut di ambil dari website pusriskel.litbang.kkp.go.id.data yang diambil merupakan data dari tahun 2015 sampai 2017. Perlu diketahui bahwa data sebelum 2014 tidak tersedia di website ini.Data tersebut digambarkan secara 7 hari (1/2 periode pasang surut) dengan fluktuasi diurnal ganda. Berikut adalah data yang diunduh dalam format jpg minggu 1januari 2015
Tabel 4.2 Daftar Pasang Surut Kementerian Perikanan dan Kelautan
Berdasarkan nilai catatan yang menunjukkan angka error -0.000001 sampai 0.0000011 persen
maka nilai ini dapat menjadi data yang cukup kredible. Data ini kemudian akan diolah kedalama
analisa least square method.
4.2.2Hasil analisa least square method.
Dari hasil analisa least square method untuk januari minggu pertama adalah sebagai berikut.pp
Symbol Aplitudo
Cm
S0 -0.90677 M2 80.58027 S2 24.78504 N2 13.45557 K2 18.4927 K1 12.83728 O1 2.118378 P1 6.036104 M4 2.263518 MS4 2.170871
Tabel 4.3 Nilai Parameter Konstituen
Setelah hasil analisa least square method mendapatkan masing-masing nilai parameter maka nilai-nilai ketinggian pasang surut adalah sebagai berikut.
Simbol Tinggi (cm) HHWL 143.9429975 MHWS 104.4585401
MHWL 77.3971
MSL -0.9068
MLWL -96.4427 MLWS -106.2720805
LLWL -145.7565 LAT -163.646
Tabel 4.4 Nilai Hasil Ketinggian Muka air.
Setelah didapatkan hasil tersebut maka langkah berikutnya adalahmenghitung tren kenaikan
HHWL dengan menggunakan regresi linear.
Setelah hasil tinggi HHWL tiap bulan didapat maka langkah berikutnya adalah menentukan besaran Laju kenaikan muka air laut. Laju didapat dengan metode regresi linear.
𝑌𝑌 = 𝑎𝑎 + 𝑏𝑏. 𝑋𝑋…
𝑥𝑥 =
(𝛴𝛴𝛴𝛴)�𝛴𝛴𝑥𝑥2�−(𝛴𝛴𝑥𝑥)(𝛴𝛴𝑥𝑥𝛴𝛴 ) n(𝛴𝛴𝑥𝑥2)−(𝛴𝛴𝑥𝑥)2 …𝛴𝛴 =
𝑛𝑛(𝛴𝛴𝑥𝑥𝛴𝛴 )−(𝛴𝛴𝑥𝑥)(𝛴𝛴𝛴𝛴)n(𝛴𝛴𝑥𝑥2)−(𝛴𝛴𝑥𝑥)2