38 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Perusahaan
Pada bagian ini akan dijelaskan sekilas mengenai gambaran umum perusahaan yang dijadikan objek penelitian yaitu CV Bintang Prima Perkasa.
4.1.1 Profil Perusahaan
CV Bintang Prima Perkasa merupakan perusahaan manufaktur yang bergerak dibidang industri karoseri dan konstruksi. Perusahaan ini memproduksi Cargo Box (Steel/Alumunium). Proses produksi perusahaan dibagi menjadi dua lantai produksi, yaitu produksi bak maupun box yang berbahan plat besi (Steel) dan box yang berbahan alumunium. Dengan komitmen yang kuat untuk mencapai visi perusahaan, CV Bintang Prima Perkasa saat ini telah berkembang menjadi perusahaan karoseri terbaik di Jawa Tengah.
CV Bintang Prima Perkasa merupakan perusahaan karoseri terdepan karena mempunyai tenaga ahli yang sangat berpengalaman dibidangnya dan menggunakan bahan baku yang berkualitas serta didukung dengan peralatan yang berteknologi mutakhir. Setiap proses produksi pada CV Bintang Prima Perkasa dikerjakan dengan kejujuran, kecermatan dan konsistensi yang tinggi sehingga dapat menghasilkan produk yang memiliki standar kualitas yang tinggi. CV Bintang Prima Perkasa selalu menjalankan program peningkatan mutu dan inovasi guna meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan.
4.1.2 Sejarah Berdirinya Perusahaan
CV Bintang Prima Perkasa didirikan oleh Bapak Agus Setiawan Hidayat pada awal bulan Oktober 2002, namun mulai beroperasional pada tanggal 3 Januari 2003. Perusahaan ini terletak di Jalan Gatot Subroto Blox XI/C-2 Semarang yang berada di dalam lingkungan Kawasan Industri Candi Krapyak.
Pemilihan lokasi perusahaan yang berada di dalam lingkungan Kawasan Industri Candi sangatlah tepat, karena segmen pasar dari CV Bintang Prima Perkasa adalah perusahaan-perusahaan manufaktur yang membutuhkan Cargo Box Alumunium dalam mengantarkan produk mereka kepada konsumen. Sehingga perusahaan-perusahaan manufaktur yang berada di dalam lingkungan Kawasan Industri Candi tidak kesulitan mencari perusahaan karoseri dan konstruksi di Semarang.
Pada awalnya, perusahaan ini hanya memiliki lantai produksi yang tidak begitu luas, namun seiring meningkatnya permintaan konsumen terhadap produk, maka perusahaan menambah lantai produksi dengan menyewa bangunan sebagai lantai produksi sekaligus gudang bahan baku besi ataupun alumunium, yang lokasinya masih berada di dalam lingkungan Kawasan Industri Candi. Sehingga dapat mempermudah transportasi bahan baku dari gudang utama ke lantai produksi kedua. Pada pertengahan tahun 2014 ini, CV Bintang Prima Perkasa melakukan perluasan lantai produksi lagi dengan membangun lantai produksi yang berlokasi tepat di sebelah kanan lantai produksi pertama.
4.1.3 Tenaga Kerja (Personalia)
Personalia merupakan salah satu bagian yang sangat penting bagi perusahaan. Manusia merupakan pelaku utama kegiatan operasional perusahaan.Tanpa manusia mustahil perusahaan dapat beroperasi dengan baik.
Sebelum mengadakan penarikan tenaga kerja, CV Bintang Prima Perkasa terlebih dahulu menganalisa jabatan sehingga perusahaan dapat memperoleh karyawan yang tepat sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Analisa jabatan disusun melalui diskripsi jabatan tugas-tugas, kewajiban, fungsi tanggung jawab dan hubungannya dengan pihak lain serta spesifikasi jabatan seperti pendidikan, ketrampilan, kecakapan, kecerdasan dan lain-lain.
Adapun perincian spesifikasi jabatan dilihat dari jenjang pendidikan adalah sebagai berikut:
1. Tenaga administrasi dan keuangan minimal D3.
2. Tenaga produksi, bagian rumah tangga dan satpam biasanya diambil dari SMU, SMK dan atau memiliki keahlian tertentu.
3. Tenaga teknisi diambil dari SMK.
4. Tenaga sopir diambil dari SMP atau sederajat.
5. Tenaga untuk manajerial diambil dari minimal S1.
4.1.4 Segmentasi Pasar
Pada awal perusahaan didirikan, pangsa pasar CV Bintang Prima Perkasa adalah perusahaan manufaktur yang berlokasi di kawasan industri candi krapyak, namun seiring perkembangan jaman CV Bintang Prima Perkasa telah memperluas
segmen pasarnya hingga merambah luar kota Semarang, bahkan merambah luar pulau Jawa. Adapun segmen-segmen itu adalah:
1. Industri manufaktur 2. Dealer penjualan truk
Dalam bidang pemasaran CV Bintang Prima Perkasa mempunyai beberapa pelanggan tetap diantaranya CV Andrian, PT Polytron, PT Pura Barutama dan masih banyak lainnya.
4.1.5 Visi dan Misi Perusahaan
Dalam mencapai tujuan perusahaan, CV Bintang Prima Perkasa mempunyai visi misi yang ditempuh, berikut penjelasan visi dan misi perusahaan.
a. Visi Perusahaan
Visi CV Bintang Prima Perkasa adalah berusaha menjadi perusahaan karoseri yang unggul dan mampu bersaing di bidang industri karoseri di Jawa Tengah.
b. Misi Perusahaan
Untuk menciptakan keungulan dalam bersaing, misi yang dilaksanakan adalah:
1. Mengutamakan kepuasan pelanggan dengan menghasilkan produk yang memiliki standart kualitas yang tinggi.
2. Menggunakan bahan baku yang terbaik.
3. Mempekerjakan tenaga ahli yang telah berpengalaman dibidangnya.
4. Menjalankan program peningkatan mutu dan inovasi.
4.1.6 Struktur Organisasi
CV Bintang Prima Perkasa dipimpin oleh seorang Presiden Direktur yang membawahi empat departemen dengan tugas utama memastikan bahwa setiap kegiatan pada setiap departemen dilakukan dengan benar dan sesuai prosedur.
Bagan lengkap dari struktur organisasi CV Bintang Prima Perkasa dapat dilihat pada gambar 4.1 dibawah ini:
Gambar 4.1 Struktur Organisasi CV Bintang Prima Perkasa Sumber: CV Bintang Prima Perkasa, 2015
Berikut ini adalah struktur organisasi secara garis besar pada CV Bintang Prima Perkasa beserta tanggung jawabnya, yaitu:
1. Presiden Direktur
Presiden Direktur merupakan pimpinan tertinggi di CV Bintang Prima Perkasa yang mempunyai tanggung jawab untuk menentukan arah perkembangan perusahaan. Presiden Direktur juga meninjau dan menyetujui rencana dalam
mengontrol pengeluaran biaya, efektivitas kerja, efisiensi bahan, masalah ketenagakerjaaan, menjalin dan mempertahankan hubungan kerja yang baik antar departemen. Presiden Direktur memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai berikut:
a. Menentukan semua kebijakan dan keputusan yang berhubungan dengan kegiatan operasional perusahaan.
b. Bertanggung jawab atas semua kegiatan operasional perusahaan serta kontinuitas kegiatan perusahaan.
c. Bertindak sebagai Top Management.
2. ManajerPemasaran
Tugas dan tanggung jawab manajer pemasaran sebagai berikut:
a. Merencanakan dan melaksanakan strategi-strategi pemasaran yang diperlukan untuk meningkatkan penjualan prduk pada CV Bintang Prima Perkasa.
b. Bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan pemasaran perusahaan.
3. Manajer Logistik
Manajer Logistik bertanggung jawab untuk merencanakan, mengatur dan mengontrol semua kebutuhan bahan baku untuk proses produksi serta melakukan pemilihan pemasok dan pembelian bahan baku.
4. Manajer Administrasi
Manajer Administrasi mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut:
a. Melakukan kegiatan perencanaan, pelaksanaan, pengendalian dan pelaporan kegiatan dalam aspek keuangan perusahaan.
b. Melakukan pengelolaan keuangan perusahaan secara efisien.
c. Menyusun laporan keuangan perusahaan secara berkala.
d. Melakukan evaluasi kinerja staf administrasi.
5. ManajerProduksi
Manajer Produksi bertanggung jawab mengendalikan segala aktivitas yang berhubungan dengan proses produksi pada CV Bintang Prima Perkasa.
4.1.7 Jam Kerja
Berdasarkan jam kerja, karyawan CV Bintang Prima Perkasa terbagi menjadi dua yaitu karyawan bagian produksi dan non-produksi. Pengaturan jam kerja di CV Bintang Prima Perkasa dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut:
Tabel 4.1 Pengaturan Jam Kerja CV Bintang Prima Perkasa
Bagian Hari Jam Kerja Istirahat
Produksi Senin-Jumat 08.00-17.00
12.00-13.00 Sabtu 08.00-15.00
Non-Produksi Senin-Jumat 08.00-17.00 Sabtu 08.00-11.00 Sumber: CV Bintang Prima Perkasa, 2015
4.2 Pelaksanaan Survei Awal
Pelaksanaan survei awal dilakukan guna mengetahui nama-nama pemasok bahan baku plat besi yang selama ini digunakan oleh CV Bintang Prima Perkasa.
Dalam hal ini wawancara ditujukan kepada pihak yang berwenang yaitu bagian
pengadaan bahan baku plat besi pada CV Bintang Prima Perkasa. Berikut ini tabel 4.2 yang merupakan nama-nama pemasok bahan baku plat besi yang digunakan perusahaan:
Tabel 4.2 Pemasok Bahan Baku Plat Besi
Kode Nama Pemasok Alamat
SP1 PT Handy Mandiri Steel
Kawasan Industri Candi BI 8-D/3, Jl.
Jendral Gatot Subroto, kota Semarang 50517.
SP2 PT Mandiri Citra Abadi Jl. Yos Sudarso kav 1, Semarang.
SP3 PT Maiko Baru Jl. Letjen MT Haryono 563, Gandekpuspo, Semarang Tengah, kota Semarang 50136.
Sumber: CV Bintang Prima Perkasa, 2015
Berdasarkan tabel 4.2 di atas diketahui bahwa terdapat tiga pemasok bahan baku plat besi di CV Bintang Prima Perkasa yaitu PT Handy Mandiri Steel, PT Mandiri Citra Abadi dan PT Maiko Baru. Kode pemasok ditetapkan pada penelitian ini untuk mempermudah penggunaan simbol saat pengolahan data nantinya.
4.3 Penentuan Kriteria dan Sub Kriteria
Pada awal penggunaan metode ANP, perlu didefinisikan kriteria-kriteria yang akan digunakan dalam pengambilan keputusan. Setiap kriteria ini mungkin dapat dibagi lagi ke dalam sub kriteria apabila diperlukan. Kriteria-kriteria ini dalam pengambilan keputusan didapatkan dari pihak CV Bintang Prima Perkasa yang memang berwenang menentukan pemasok bahan baku plat besi yang akan digunakan, selain juga dari telaah jurnal. Melalui diskusi yang dilakukan dengan
pihak CV Bintang Prima Perkasa bagian pengadaan, didapatkanlah kriteria- kriteria pengambilan keputusan yang meliputi kriteria pengiriman bahan baku, kriteria karakteristik bahan baku, kriteria biaya bahan baku dan kriteria layanan dari pemasok. Setiap kriteria ini dapat dibagi lagi ke dalam sub-sub kriteria yang lebih spesifik. Berikut tabel 4.3 yang menjelaskan kriteria dan sub kriteria dalam pemilihan pemasok di CV Bintang Prima Perkasa:
Tabel 4.3 Kriteria dan Sub Kriteria
Kriteria Sub Kriteria Definisi
Pengiriman Bahan Baku
Frekuensi pemenuhan pemesanan
Pemasok dapat selalu memenuhi pesanan sesuai jumlah yang diminta.
Frekuensi ketepatan waktu
Pemasok mampu mengirim bahan baku sesuai waktu yang telah dijanjikan.
Karakteristik Bahan Baku
Ukuran bahan baku Spesifikasi ketebalan, panjang dan lebar plat besi sesuai yang dipesan.
Kualitas Pemasok menjaga kualitas bahan baku yang dipasok.
Biaya Bahan Baku
Harga Harga bahan baku dari pemasok memberi keuntungan lebih bagi CV.
Diskon Pemasok memberi diskon dari biaya total pembelian.
Layanan dari Pemasok
Cara pembayaran Pemasok memberi kemudahan dan toleransi dalam pembayaran.
Kepercayaan Perbandingan rasa percaya terhadap pemasok-pemasok yang ada.
Keterbukaan terhadap keluhan
Pemasok membuka diri untuk menerima keluhan dari pihak CV.
Sumber: CV Bintang Prima Perkasa, 2015
Kriteria pertama adalah pengiriman bahan baku. Kriteria ini mempunyai sub kriteria frekuensi pemenuhan pemesanan dan frekuensi ketepatan waktu. Sub kriteria yang pertama adalah frekuensi pemenuhan pemesanan. Hal ini berkaitan dengan kemampuan pemasok dalam memenuhi jumlah pesanan yang diminta pihak CV Bintang Prima Perkasa. Perusahaan tentunya berharap pemasok dapat selalu memenuhi pesanan sesuai dengan jumlah yang diminta. Sub kriteria yang kedua adalah frekuensi ketepatan waktu pengiriman berkaitan dengan kemampuan pemasok dalam menepati waktu pengiriman yang telah dijanjikan. Dari pengalaman yang dimiliki CV Bintang Prima Perkasa, keterlambatan kedatangan bahan baku akan berdampak buruk bagi perusahaan. Hal ini akan menyebabkan terhambatnya proses produksi sehingga pemenuhan permintaan konsumen menjadi tidak tepat waktu. Oleh sebab itu, pemasok yang ideal adalah pemasok yang mampu mengirimkan barang atau pesanan sesuai dengan waktu yang telah disepakati.
Kriteria kedua adalah karakteristik bahan baku. Kriteria ini mempunyai sub kriteria ukuran bahan baku dan kualitas. Ukuran bahan baku mencakup ketebalan, panjang serta lebar plat besi. Satuan pesanan plat besi biasanya berupa satuan berat (kg). Pemenuhan pesanan bahan baku plat besi seringkali tidak sesuai dengan spesifikasi ukuran yang diinginkan, namun berat total plat besi tetap sesuai dengan pesanan. Hal ini memang sering dimaklumi oleh pihak perusahaan karena keperluan akan bahan baku plat besi yang mendesak. Selain itu akibat spesifikasi yang tidak sama, jumlah produk akhir yang dihasilkan bisa berkurang, hal ini tentu sangat merugikan pihak perusahaan. Oleh sebab itu, pihak CV
Bintang Prima Perkasa mengharapkan pemasok yang dapat memenuhi pesanan sesuai dengan spesifikasi produk yang diinginkan. Sub kriteria kedua adalah kualitas. Kualitas sudah menjadi hal yang umum dan sangat penting dalam pemilihan produk. Untuk menjaga kualitas pesanan konsumen yang dihasilkan CV Bintang Prima Perkasa, kualitas bahan baku perlu diperhatikan. Pemasok yang dapat memasok bahan baku dengan kualitas baik merupakan pemasok yang patut dipilih.
Kriteria ketiga adalah biaya bahan baku. Kriteria ini mempunyai sub kriteria harga dan diskon. Sub kriteria biaya bahan baku muncul karena pihak CV Bintang Prima Perkasa menyadari bahwa harga bahan baku merupakan salah satu hal yang harus diperhatikan terutama ketika CV Bintang Prima Perkasa memiliki keterbatasan dana pembelian. CV Bintang Prima Perkasa akan berusaha memilih pemasok yang memberikan keuntungan lebih bagi perusahaan. Sub kriteria diskon pun tentunya mencul karena inilah yang akan mempengaruhi harga akhir pembelian bahan baku. Pada kenyataannnya, terdapat pemasok yang terkadang memberikan diskon pembelian bahan baku karena suatu alasan. Tentunya pihak CV Bintang Prima Perkasa akan memilih pemasok-pemasok sedemikian untuk mengurangi biaya total pembelian.
Kriteria terakhir adalah layanan dari pemasok. Kriteria ini mempunyai sub kriteria cara pembayaran, kepercayaan dan keterbukaan terhadap keluhan. Kriteria layanan dari pemasok berhubungan dengan pelayanan serta image yang diberikan pemasok kepada pembeli. Sub kriteria cara pembayaran berkaitan dengan kemudahan pembayaran yang diberikan pemasok kepada perusahaan. Terdapat
pemasok-pemasok tertentu yang terkadang memberikan toleransi pembayaran dengan cara mencicil. Hal seperti inilah yang dapat dimanfaatkan perusahaan ketika perusahaan mengalami kekurangan dana pembelian bahan baku. Sub kriteria kedua adalah kepercayaan. Keputusan dalam memilih pemasok tentunya juga dipengaruhi oleh perbandingan rasa percaya terhadap pemasok yang ada. Sub kriteria ketiga adalah keterbukaan terhadap keluhan, hal ini harus diperhatikan juga sebagai contoh keluhan terhadap kualitas produk yang kurang baik. Apabila pemasok sangat tertutup sehingga tidak mau menerima keluhan, akan sulit bagi pembeli untuk mendapatkan barang atau produk yang sesuai dengan kriteria yang diinginkan.
4.4 Keterkaitan Kriteria dan Sub Kriteria
Selain metode ANP terdapat metode pengambilan keputusan lain yaitu Analytical Hierarchy Process (AHP). Keuntungan yang dimiliki metode ANP dibandingkan AHP adalah dimungkinkannya pemodelan hubungan keterkaitan antar kriteria atau sub kriteria dalam model pengambilan keputusan. Hubungan yang terjadi antar sub kriteria didapatkan melalui cara penilaian melalui kuesioner. Hasil olah data kuesioner tersebut menunjukkan adanya hubungan antar sub kriteria yang dapat dibagi menjadi dua, yaitu inner dependence dan outer dependence.
Inner dependence adalah hubungan yang terjadi antar sub kriteria di dalam kriteria yang sama yaitu frekuensi pemenuhan pesanan dengan frekuensi ketepatan waktu, ukuran bahan baku denga kualitas, harga dengan diskon, cara pembayaran dengan kepercayaan dan kepercayaan dengan keterbukaan terhadap
keluhan. Kemampuan pemasok memenuhi jumlah pesanan bahan baku yang diinginkan pembeli akan mempengaruhi ketepatan waktu pengiriman. Apabila pemasok memiliki bahan baku yang cukup maka akan mudah bagi pemasok untuk mengirimkan secara tepat waktu, namun apabila sebaliknya maka sulit untuk memenuhi kesepakatan waktu yang telah ditetapkan. Keterlambatan disebabkan adanya usaha pencarian barang yang dilakukan oleh pemasok ke pemasok- pemasok di cabang lainnya. Usaha ini memerlukan waktu yang tidak sebentar dan tidak dapat diprediksi dengan baik sehingga seringkali menyebabkan keterlambatan pengiriman. Diskon adalah subkriteria yang mempengaruhi harga bahan baku plat besi. Adanya diskon akan membuat bahan baku plat besi lebih murah. Sub kriteria selanjutnya adalah kepercayaan. Kepercayaan yang telah dibangun memungkinkan pemasok memberi alternatif cara pembayaran yang lebih mudah. Perlakuan pemasok ini akan berbeda apabila dihadapkan dengan pembeli yang baru. Track record pembelilah yang turut membangun kepercayaan ini. Hubungan selanjutnya adalah kepercayaan terhadap keterbukaan terhadap keluhan. Sama halnya dengan cara pembayaran, hubungan baik yang terjalin antara pembeli dengan pemasok akan meningkatkan keterbukaan dalam hal keluhan-keluhan yang disampaikan.
Jenis hubungan antar sub kriteria yang kedua dinamakan outer dependence. Hubungan ini terjadi antar sub kriteria di kriteria-kriteria yang berbeda. Hubungan-hubungan ini antara lain frekuensi pemenuhan pesanan dengan ukuran bahan baku, harga, diskon, dan cara pembayaran, ukuran bahan baku dengan harga, kualitas dengan harga, dan kepercayaan dengan diskon.
Seperti telah dijelaskan sebelumnya, frekuensi pemenuhan pesanan berkaitan dengan ketersediaan barang di pihak pemasok. Ketersediaan barang akan mempengaruhi ukuran bahan baku yang dipasok ke pembeli. Perbedaan- perbedaan ukuran bahan baku yang dipasok ke pembeli diakibatkan oleh kekurangan persediaan bahan baku di pihak pemasok sehingga untuk memenuhinya, pemasok mencari barang dari perusahaan-perusahaan cabang di negara lain yang seringkali memiliki spesifikasi plat besi berbeda. Ketersediaan bahan baku juga akan mempengaruhi harga dan diskon. Hubungan yang terjadi antara sub kriteria-sub kriteria ini sesuai dengan teori supply dan demand secara umum. Hubungan lainnya adalah dengan cara pembayaran. Ketersediaan bahan baku yang terlalu banyak di pihak pemasok biasanya membuat pemasok berinisiatif menawarkan cara pembayaran yang lebih mudah sebagai strategi pemasaran agar barang-barang yang dimilikinya cepat terjual. Hubungan selanjutnya adalah antara ukuran dan harga. Spesifikasi bahan baku yang berbeda tentunya memiliki harga yang berbeda pula. Hubungan antara kualitas dan harga adalah semakin tinggi kualitas bahan baku maka harga dari bahan baku tersebut akan semakin tinggi. Sub kriteria lain yang berhubungan adalah kepercayaan dan diskon. Kepercayaan yang dalam hal ini adalah relasi yang baik dan telah terjalin lama memang memberikan banyak keuntungan bagi pembeli, salah satunya adalah kemungkinan diberikannya diskon dalam pembelian bahan baku. Semua hubungan outer dependence antar sub kriteria ini secara otomatis menimbulkan hubungan antarkriteria dalam proses pengambilan keputusan. Seluruh kriteria, sub
kriteria, serta hubungan yang telah teridentifikasi pada akhirnya digunakan dalam pembangunan model pengambilan keputusan seperti pada gambar 4.2 berikut:
Mendapat pemasok plat besi
Pengiriman Bahan Baku
Frekuensi pemenuhan pemesanan
Frekuensi ketepatan waktu
Karakteristik Bahan Baku
Ukuran bahan baku
Kualitas
Biaya Bahan Baku
Harga Diskon
Layanan dari Pemasok
Cara pembayaran Kepercayaan Keterbukaan terhadap keluhan
Gambar 4.2 Model Keterkaitan ANP dalam Pemilihan Supplier Bahan Baku Plat Besi CV Bintang Prima Perkasa Sumber: Olah Data, 2015
Alternatif Pemasok
PT Handy Mandiri Steel PT Mandiri Citra Abadi
PT Maiko Baru
Setelah mendapatkan model keterkaitan antar kriteria maupun sub kriteria, pembobotan perbandingan berpasangan dilakukan melalui kueisoner yang disebarkan. Berikut cara pengumpulan data dengan menyebar kuesioner kepada responden yang telah ditentukan:
a. Dilakukan perancangan responden yang akan ditanyai dan dimintai keterangan tentang kriteria-kriteria yang berkaitan dengan pemilihan alternatif model pemilihan pemasok. Responden yang termasuk dalam daftar pengisian kuesioner adalah perwakilan dari bagian pengadaan bahan baku sebanyak 6 responden.
b. Pengambilan data dari responden dilakukan melalui kuesioner yang diberikan ke 6 orang bagian pengadaan bahan baku tersebut, disesuaikan dengan kondisi responden dan kemudahan pengambilan data.
c. Kuesioner dirancang sedemikian rupa sehingga memudahkan dalam pembacaan dan pemahaman responden (kuesioner dapat dilihat pada lampiran).
4.5 Analisis Matriks Perbandingan Berpasangan 4.5.1 Tahap Bembobotan
Hasil penilaian jawaban responden terhadap tiap pertanyaan selanjutnya dapat dibentuk matriks. Pembentukan matriks dilakukan pada tiap kelompok pertanyaan dengan ordo sesuai dengan jumlah pertanyaan dalam setiap kelompok.
Hasil penilaian pada bagian sebelumnya dimasukan dalam sel-sel yang berada di atas diagonal. Sel diagonal akan diisi dengan angka 1. Sementara sel lain akan
diisi dengan angka kebalikan (invers) sesuai dengan pasangan sel sejenis.
Prosedur pemasukan jawaban adalah sebagai berikut:
a. Tiap jawaban respoden pada tiap pertanyaan akan diberi penilaian sesuai dengan aturan Saaty.
b. Hasil penilaian dalam suatu pertanyaan untuk semua responden (6 orang) lalu dirata-rata.
c. Nilai rata-rata merupakan jawaban yang mewakili semua responden untuk tiap pertanyaan.
d. Nilai tersebut selanjutnya dimasukan dalam matriks berpasangan dan ditempatkan sesuai dengan pasangan antar kriteria yang ditinjau.
e. Tabel hasil penilaian jawaban responden dapat dilihat dalam Lampiran.
4.5.2 Tahap Matriks Perbandingan Berpasangan
Setelah menyebar kuesioner dan merekapnya dalam Ms Excell, tahapan selanjutnya ialah melakukan uji perbandingan berpasangan (Pair Wise Comparison). Uji ini dilakukan untuk menghasilkan prioritas terbaik dengan mengetahui nilai pembobotan kriteria dan sub kriteria satu dengan yang lain.
Setelah diolah dalam bentuk matriks-matriks, data yang didapatkan selanjutnya diolah dengan bantuan software expert choice. Penggunaan software ini dilakukan karena memudahkan peneliti dalam mendapatkan nilai bobot prioritas dari masing-masing kriteria dan sub kriteria yang diuji sekaligus bisa diurutkan prioritasnya berdasarkan nilai bobotnya tersebut. Software ini juga mempercepat peneliti dalam mendapatkan nilai Inconsistency dari masing-masing uji Pair Wise Comparison yang dilakukan. Dalam software expert choice, nilai hubungan antar
kriteria atau sub kriteria dimasukkan sesuai dengan tingkat kecenderungan kepentingannya, apakah kriteria yang satu lebih penting daripada yang lainnya dalam skala 1-9. Dimana jika pilihan mendekati kriteria yang di sebelah kiri dibandingkan di sebelah kanan, maka kriteria kiri lebih penting daripada yang kanan, begitu pula sebaliknya.
1. Matriks Antar Kriteria
Dalam matriks antar kriteria ini dilakukan pengujian perbandingan berpasangan antar kriteria sehingga diketahui bobot masing-masing kriteria dan juga nilai Inconsistency. Hasil matriks antar kriteria tersebut dapat dilihat pada tabel 4.4 berikut:
Tabel 4.4 Matriks Antar Kriteria Pengiriman
Bahan Baku
Karakteristik Bahan Baku
Biaya Bahan Baku
Layanan dari Pemasok Pengiriman
Bahan Baku 1 3 3 3
Karakteristik
Bahan Baku 0,3 1 3 5
Biaya Bahan
Baku 0,3 0,3 1 3
Layanan dari
Pemasok 0,3 0,2 0,3 1
Sumber: Olah Data, 2015
Dari tabel di atas dapat dilihat penilaian responden terhadap hubungan antar kriteria terkait tingkat kecenderungan kepentingannya. Setelah data matriks di atas dimasukkan dalam expert choice, maka didapatkan nilai bobot dari
masing-masing kriteria yang selanjutnya diurutkan berdasarkan prioritasnya seperti ditunjukkan tabel 4.5 berikut:
Tabel 4.5 Bobot Prioritas Antar Kriteria Kriteria Bobot Prioritas Karakteristik Bahan Baku 0.508
Biaya Bahan Baku 0.265
Pengiriman Bahan Baku 0.151 Layanan dari Pemasok 0.075 Inconsistency = 0,07
Sumber: Olah Data, 2015
Berdasarkan tabel 4.5 yang merupakan rekap output dari uji Pair Wise Comparison antar kriteria pada expert choice, dapat dilihat bahwa kriteria dengan prioritas urutan pertama ialah karakteristik bahan baku dengan bobot 0,508, kedua yaitu biaya bahan baku dengan bobot 0,265, ketiga yaitu pengiriman bahan baku dengan bobot 0,151 dan prioritas terakhir ialah layanan dari pemasok dengan bobot 0,075. Nilai Inconsistency dalam pengujian sebesar 0,07 < 0,1 yang berarti penelitian dinyatakan konsisten dan dapat diterima.
2. Matriks Sub Kriteria Pengiriman Bahan Baku
Pengujian perbandingan berpasangan terhadap sub kriteria pengiriman bahan baku digunakan untuk mengetahui sub kriteria mana yang menjadi prioritas dalam kriteria pengiriman bahan baku berdasarkan penilaian responden. Berikut tabel 4.6 yang menunjukkan matriks sub kriteria pengiriman bahan baku:
Tabel 4.6 Matriks Sub Kriteria Pengiriman Bahan Baku Frekuensi pemenuhan
pemesanan
Frekuensi ketepatan waktu Frekuensi pemenuhan
pemesanan 1 3
Frekuensi ketepatan
waktu 0,3 1
Sumber: Olah Data, 2015
Dari tabel 4.6 di atas dapat dilihat penilaian responden terhadap sub kriteria pengiriman bahan baku yang terdiri dari frekuensi pemenuhan pemesanan dan frekuensi ketepatan bahan baku. Bobot prioritas sub kriteria pengiriman bahan baku hasil pengujian dengan expert choice ditunjukkan tabel 4.7 berikut:
Tabel 4.7 Bobot Prioritas Sub Kriteria Pengiriman Bahan Baku Kriteria Bobot Prioritas Frekuensi pemenuhan pemesanan 0.750
Frekuensi ketepatan waktu 0.250
Inconsistency = 0,00
Sumber: Olah Data, 2015
Berdasarkan tabel 4.7 dapat dilihat bahwa sub kriteria dengan prioritas urutan pertama ialah frekuensi pemenuhan pemesanan dengan bobot 0,750 dan kedua yaitu frekuensi ketepatan waktu dengan bobot 0,250. Nilai Inconsistency dalam pengujian sebesar 0,00 < 0,1 yang berarti penelitian dinyatakan konsisten dan dapat diterima.
3. Matriks Sub Kriteria Karakteristik Bahan Baku
Sub kriteria karakteristik bahan baku juga dilakukan uji perbandingan berpasangan berdasarkan penilaian responden. Berikut tabel 4.8 yang merupakan matriks perbandingan sub kriteria karakteristik bahan baku:
Tabel 4.8 Matriks Sub Kriteria Karakteristik Bahan Baku Ukuran bahan baku Kualitas
Ukuran bahan baku 1 5
Kualitas 0,2 1
Sumber: Olah Data, 2015
Dari tabel 4.8 di atas dapat dilihat penilaian responden terhadap sub kriteria karakteristik bahan baku yang terdiri dari ukuran bahan baku dan kualitas.
Bobot prioritas sub kriteria karakteristik bahan baku hasil pengujian dengan expert choice ditunjukkan tabel 4.9 berikut:
Tabel 4.9 Bobot Prioritas Sub Kriteria Karakteristik Bahan Baku Kriteria Bobot Prioritas
Kualitas 0.833
Ukuran bahan baku 0.167 Inconsistency = 0,00
Sumber: Olah Data, 2015
Berdasarkan tabel 4.9 dapat dilihat bahwa sub kriteria dengan prioritas urutan pertama ialah kualitas dengan bobot 0,833 dan kedua yaitu ukuran bahan baku dengan bobot 0,167. Nilai Inconsistency dalam pengujian sebesar 0,00 < 0,1 yang berarti penelitian dinyatakan konsisten dan dapat diterima.
4. Matriks Sub Kriteria Biaya Bahan Baku
Seperti sub kriteria lainnya, pada sub kriteria biaya bahan baku juga dilakukan uji perbandingan berpasangan berdasarkan penilaian responden. Berikut tabel 4.10 yang merupakan matriks perbandingan sub kriteria biaya bahan baku:
Tabel 4.10 Matriks Sub Kriteria Biaya Bahan Baku Harga Diskon
Harga 1 3
Diskon 0,3 1
Sumber: Olah Data, 2015
Dari tabel 4.10 di atas dapat dilihat penilaian responden terhadap sub kriteria biaya bahan baku yang terdiri dari harga dan diskon. Bobot prioritas sub kriteria biaya bahan baku hasil pengujian dengan expert choice ditunjukkan tabel 4.11 berikut:
Tabel 4.11 Bobot Prioritas Sub Kriteria Biaya Bahan Baku Kriteria Bobot Prioritas
Harga 0.750
Diskon 0.250
Inconsistency = 0,00
Sumber: Olah Data, 2015
Berdasarkan tabel 4.11 dapat dilihat bahwa sub kriteria dengan prioritas urutan pertama ialah harga dengan bobot 0,750 dan kedua yaitu diskon dengan bobot 0,250. Nilai Inconsistency dalam pengujian sebesar 0,00 < 0,1 yang berarti penelitian dinyatakan konsisten dan dapat diterima.
5. Matriks Sub Kriteria Layanan dari Pemasok
Sub kriteria terakhir yang dilakukan perbandingan berpasangan ialah sub kriteria layanan dari pemasok berdasarkan penilaian responden. Berikut tabel 4.12 yang merupakan matriks perbandingan sub kriteria layanan dari pemasok:
Tabel 4.12 Matriks Sub Kriteria Layanan dari Pemasok Cara
pembayaran Kepercayaan Keterbukaan terhadap keluhan
Cara pembayaran 1 3 2
Kepercayaan 0,3 1 3
Keterbukaan terhadap keluhan 0,5 0,3 1
Sumber: Olah Data, 2015
Dari tabel 4.12 di atas dapat dilihat penilaian responden terhadap sub kriteria layanan dari pemasok yang terdiri dari cara pembayaran, kepercayaan dan keterbukaan terhadap keluhan. Bobot prioritas sub kriteria layanan dari pemasok hasil pengujian dengan expert choice ditunjukkan tabel 4.13 berikut:
Tabel 4.13 Bobot Prioritas Sub Kriteria Layanan dari Pemasok Kriteria Bobot Prioritas
Kepercayaan 0.594
Cara pembayaran 0.249
Keterbukaan terhadap keluhan 0.157 Inconsistency = 0,05
Sumber: Olah Data, 2015
Berdasarkan tabel 4.13 dapat dilihat bahwa sub kriteria dengan prioritas urutan pertama ialah kepercayaan dengan bobot 0,594, kedua cara pembayaran dengan bobot 0,249 dan terakhir keterbukaan terhadap keluhan dengan bobot 0,157. Nilai Inconsistency dalam pengujian sebesar 0,05 < 0,1 yang berarti penelitian dinyatakan konsisten dan dapat diterima.
6. Matriks Antar Sub Kriteria
Setelah diketahui perbandingan berpasangan antar sub kriteria di dalam kriterianya masing-masing, langkah selanjutnya ialah melakukan uji terhadap semua sub kriteria. Matriks antar sub kriteria dapat dilihat pada tabel 4.14 berikut:
Tabel 4.14 Matriks Antar Sub Kriteria
Sumber: Olah Data, 2015
Dari tabel 4.14 di atas dapat dilihat penilaian responden terhadap hubungan antar sub kriteria dalam penelitian ini. Bobot prioritas antar sub kriteria hasil pengujian dengan expert choice ditunjukkan tabel 4.15 berikut:
Tabel 4.15 Bobot Prioritas Antar Sub Kriteria Kriteria Bobot Prioritas
Kualitas 0.360
Kepercayaan 0.138
Harga 0.136
Keterbukaan terhadap keluhan 0.086
Diskon 0.084
Frekuensi ketepatan waktu 0.056
Ukuran bahan baku 0.052
Cara pembayaran 0.051
Frekuensi pemenuhan pemesanan 0.037 Inconsistency = 0,09
Sumber: Olah Data, 2015
Berdasarkan tabel 4.15 dapat dilihat bahwa sub kriteria yang menempati prioritas pertama adalah kualitas dengan bobot 0,360, kedua ialah kepercayaan dengan bobot 0,138, ketiga ialah harga dengan bobot 0,136, keempat ialah keterbukaan terhadap pelanggan dengan bobot 0,086, kelima ialah diskon dengan bobot 0,084, keenam ialah frekuensi ketepatan waktu dengan bobot 0,056, ketujuh ialah ukuran bahan baku dengan bobot 0,052, kedelapan ialah cara pembayaran dengan bobot 0,051 dan urutan terakhir ialah frekuensi pemenuhan pemesanan dengan bobot 0,037. Nilai Inconsistency dalam pengujian sebesar 0,09 < 0,1 yang berarti penelitian dinyatakan konsisten dan dapat diterima.
4.5.3 Matriks Perbandingan Pemasok terhadap Sub Kriteria
Setelah mendapat keputusan tentang kriteria dan sub kriteria mana yang paling menjadi prioritas sebagai pertimbangan bagi perusahaan dalam memilih pemasok, tahap selanjutnya adalah penilaian terhadap masing-masing pemasok berdasarkan masing-masing sub kriteria, dimana nanti akan mendapat hasil akhir berupa nilai kumulatif ketiga pemasok dari sembilan sub kriteria yang dilakukan penilaian. Penilaian pemasok juga masih menggunakan kueisoner yang sama yaitu menggunakan skala Saaty 1-9.
1. Sub Kriteria Frekuensi Pemenuhan Pemesanan
Dalam matriks ini dilakukan penilaian terhadap pemasok berkaitan dengan frekuensi pemenuhan pemesanan, yaitu nilai tingkat kepentingan satu pemasok dibandingkan pemasok lainnya dalam hal frekuensi pemenuhan pemesanan.
Matriks perbandingan penilaian pemasok terhadap sub kriteria frekuensi pemenuhan pemesanan dapat dilihat pada tabel 4.16 berikut:
Tabel 4.16 Matriks Penilaian Pemasok terhadap Frekuensi Pemenuhan Pemesanan
SP1 SP2 SP3
SP1 1 3 3
SP2 0,3 1 2
SP3 0,3 0,5 1
Sumber: Olah Data, 2015
Dari tabel 4.16 di atas dapat dilihat penilaian responden terhadap pemasok berkaitan frekuensi pemenuhan pemesanan. Bobot prioritas pemasok terhadap frekuensi pemenuhan pemesanan hasil pengujian dengan expert choice ditunjukkan tabel 4.17 berikut:
Tabel 4.17 Bobot Prioritas Pemasok terhadap Frekuensi Pemenuhan Pemesanan Pemasok Bobot Prioritas
SP1 0.594
SP3 0.249
SP2 0.157
Inconsistency = 0,05
Sumber: Olah Data, 2015
Berdasarkan tabel 4.17 dapat dilihat bahwa dalam sub kriteria frekuensi pemenuhan pemesanan, pemasok prioritas urutan pertama ialah SP1 dengan bobot 0,594, kedua SP3 dengan bobot 0,249 dan terakhir SP2 dengan bobot 0,157. Nilai Inconsistency dalam pengujian sebesar 0,05 < 0,1 yang berarti penelitian dinyatakan konsisten dan dapat diterima.
2. Sub Kriteria Frekuensi Ketepatan Waktu
Dalam matriks ini dilakukan penilaian terhadap pemasok berkaitan dengan frekuensi ketepatan waktu, yaitu nilai tingkat kepentingan satu pemasok
dibandingkan pemasok lainnya dalam hal frekuensi ketepatan waktu. Matriks perbandingan penilaian pemasok terhadap sub kriteria frekuensi ketepatan waktu dapat dilihat pada tabel 4.18 berikut:
Tabel 4.18 Matriks Penilaian Pemasok terhadap Frekuensi Ketepatan Waktu
SP1 SP2 SP3
SP1 1 3 3
SP2 0,3 1 2
SP3 0,3 0,5 1
Sumber: Olah Data, 2015
Dari tabel 4.18 di atas dapat dilihat penilaian responden terhadap pemasok berkaitan frekuensi ketepatan waktu. Bobot prioritas pemasok terhadap frekuensi ketepatan waktu hasil pengujian dengan expert choice ditunjukkan tabel 4.19 berikut:
Tabel 4.19 Bobot Prioritas Pemasok terhadap Frekuensi Ketepatan Waktu Pemasok Bobot Prioritas
SP1 0.594
SP3 0.249
SP2 0.157
Inconsistency = 0,05
Sumber: Olah Data, 2015
Berdasarkan tabel 4.19 dapat dilihat bahwa dalam sub kriteria frekuensi ketepatan waktu, pemasok prioritas urutan pertama ialah SP1 dengan bobot 0,594, kedua SP3 dengan bobot 0,249 dan terakhir SP2 dengan bobot 0,157. Nilai Inconsistency dalam pengujian sebesar 0,05 < 0,1 yang berarti penelitian dinyatakan konsisten dan dapat diterima.
3. Sub Kriteria Ukuran Bahan Baku
Dalam matriks ini dilakukan penilaian terhadap pemasok berkaitan dengan ukuran bahan baku, yaitu nilai tingkat kepentingan satu pemasok dibandingkan pemasok lainnya dalam hal ukuran bahan baku. Matriks perbandingan penilaian pemasok terhadap sub kriteria ukuran bahan baku dapat dilihat pada tabel 4.20 berikut:
Tabel 4.20 Matriks Penilaian Pemasok terhadap Ukuran Bahan Baku
SP1 SP2 SP3
SP1 1 2 2
SP2 0,5 1 2
SP3 0,5 0,5 1
Sumber: Olah Data, 2015
Dari tabel 4.20 di atas dapat dilihat penilaian responden terhadap pemasok berkaitan ukuran bahan baku. Bobot prioritas pemasok terhadap ukuran bahan baku hasil pengujian dengan expert choice ditunjukkan tabel 4.21 berikut:
Tabel 4.21 Bobot Prioritas Pemasok terhadap Ukuran Bahan Baku Pemasok Bobot Prioritas
SP1 0.493
SP3 0.311
SP2 0.196
Inconsistency = 0,05
Sumber: Olah Data, 2015
Berdasarkan tabel 4.21 dapat dilihat bahwa dalam sub kriteria ukuran bahan baku, pemasok prioritas urutan pertama ialah SP1 dengan bobot 0,493, kedua SP3 dengan bobot 0,311 dan terakhir SP2 dengan bobot 0,196. Nilai
Inconsistency dalam pengujian sebesar 0,05 < 0,1 yang berarti penelitian dinyatakan konsisten dan dapat diterima.
4. Sub Kriteria Kualitas
Dalam matriks ini dilakukan penilaian terhadap pemasok berkaitan dengan kualitas bahan baku, yaitu nilai tingkat kepentingan satu pemasok dibandingkan pemasok lainnya dalam hal kualitas bahan baku. Matriks perbandingan penilaian pemasok terhadap sub kriteria kualitas bahan baku dapat dilihat pada tabel 4.22 berikut:
Tabel 4.22 Matriks Penilaian Pemasok terhadap Kualitas Bahan Baku
SP1 SP2 SP3
SP1 1 5 3
SP2 0,2 1 2
SP3 0,3 0,5 1
Sumber: Olah Data, 2015
Dari tabel 4.22 di atas dapat dilihat penilaian responden terhadap pemasok berkaitan kualitas bahan baku. Bobot prioritas pemasok terhadap kualitas bahan baku hasil pengujian dengan expert choice ditunjukkan tabel 4.23 berikut:
Tabel 4.23 Bobot Prioritas Pemasok terhadap Kualitas Bahan Baku Pemasok Bobot Prioritas
SP1 0.648
SP3 0.230
SP2 0.122
Inconsistency = 0,00352 Sumber: Olah Data, 2015
Berdasarkan tabel 4.23 dapat dilihat bahwa dalam sub kriteria kualitas bahan baku, pemasok prioritas urutan pertama ialah SP1 dengan bobot 0,648, kedua SP3 dengan bobot 0,230 dan terakhir SP2 dengan bobot 0,122. Nilai Inconsistency dalam pengujian sebesar 0,00352 < 0,1 yang berarti penelitian dinyatakan konsisten dan dapat diterima.
5. Sub Kriteria Harga
Dalam matriks ini dilakukan penilaian terhadap pemasok berkaitan dengan harga bahan baku, yaitu nilai tingkat kepentingan satu pemasok dibandingkan pemasok lainnya dalam hal harga bahan baku. Matriks perbandingan penilaian pemasok terhadap sub kriteria harga bahan baku dapat dilihat pada tabel 4.24 berikut:
Tabel 4.24 Matriks Penilaian Pemasok terhadap Harga Bahan Baku
SP1 SP2 SP3
SP1 1 2 3
SP2 0,5 1 2
SP3 0,3 0,5 1
Sumber: Olah Data, 2015
Dari tabel 4.24 di atas dapat dilihat penilaian responden terhadap pemasok berkaitan harga bahan baku. Bobot prioritas pemasok terhadap harga bahan baku hasil pengujian dengan expert choice ditunjukkan tabel 4.25 berikut:
Tabel 4.25 Bobot Prioritas Pemasok terhadap Harga Bahan Baku Pemasok Bobot Prioritas
SP1 0.540
SP2 0.297
SP3 0.163
Inconsistency = 0,00877 Sumber: Olah Data, 2015
Berdasarkan tabel 4.25 dapat dilihat bahwa dalam sub kriteria harga bahan baku, pemasok prioritas urutan pertama ialah SP1 dengan bobot 0,540, kedua SP3 dengan bobot 0,297 dan terakhir SP2 dengan bobot 0,163. Nilai Inconsistency dalam pengujian sebesar 0,00877 < 0,1 yang berarti penelitian dinyatakan konsisten dan dapat diterima.
6. Sub Kriteria Diskon
Dalam matriks ini dilakukan penilaian terhadap pemasok berkaitan dengan diskon, yaitu nilai tingkat kepentingan satu pemasok dibandingkan pemasok lainnya dalam hal diskon. Matriks perbandingan penilaian pemasok terhadap sub kriteria diskon dapat dilihat pada tabel 4.26 berikut:
Tabel 4.26 Matriks Penilaian Pemasok terhadap Diskon
SP1 SP2 SP3
SP1 1 2 3
SP2 0,5 1 2
SP3 0,3 0,51 1
Sumber: Olah Data, 2015
Dari tabel 4.26 di atas dapat dilihat penilaian responden terhadap pemasok berkaitan diskon. Bobot prioritas pemasok terhadap diskon hasil pengujian dengan expert choice ditunjukkan tabel 4.27 berikut:
Tabel 4.27 Bobot Prioritas Pemasok terhadap Diskon Pemasok Bobot Prioritas
SP1 0.540
SP2 0.297
SP3 0.163
Inconsistency = 0,00877 Sumber: Olah Data, 2015
Berdasarkan tabel 4.27 dapat dilihat bahwa dalam sub kriteria diskon, pemasok prioritas urutan pertama ialah SP1 dengan bobot 0,540, kedua SP2 dengan bobot 0,297 dan terakhir SP3 dengan bobot 0,163. Nilai Inconsistency dalam pengujian sebesar 0,00877 < 0,1 yang berarti penelitian dinyatakan konsisten dan dapat diterima.
7. Sub Kriteria Cara Pembayaran
Dalam matriks ini dilakukan penilaian terhadap pemasok berkaitan dengan cara pembayaran, yaitu nilai tingkat kepentingan satu pemasok dibandingkan pemasok lainnya dalam hal cara pembayaran. Matriks perbandingan penilaian pemasok terhadap sub kriteria cara pembayaran dapat dilihat pada tabel 4.28 berikut:
Tabel 4.28 Matriks Penilaian Pemasok terhadap Cara Pembayaran
SP1 SP2 SP3
SP1 1 2 2
SP2 0,5 1 2
SP3 0,5 0,5 1
Sumber: Olah Data, 2015
Dari tabel 4.28 di atas dapat dilihat penilaian responden terhadap pemasok berkaitan cara pembayaran. Bobot prioritas pemasok terhadap cara pembayaran hasil pengujian dengan expert choice ditunjukkan tabel 4.29 berikut:
Tabel 4.29 Bobot Prioritas Pemasok terhadap Cara Pembayaran Pemasok Bobot Prioritas
SP1 0.493
SP2 0.311
SP3 0.196
Inconsistency = 0,05
Sumber: Olah Data, 2015
Berdasarkan tabel 4.29 dapat dilihat bahwa dalam sub kriteria cara pembayaran, pemasok prioritas urutan pertama ialah SP1 dengan bobot 0,493, kedua SP2 dengan bobot 0,311 dan terakhir SP3 dengan bobot 0,196. Nilai Inconsistency dalam pengujian sebesar 0,05 < 0,1 yang berarti penelitian dinyatakan konsisten dan dapat diterima.
8. Sub Kriteria Kepercayaan
Dalam matriks ini dilakukan penilaian terhadap pemasok berkaitan dengan kepercayaan, yaitu nilai tingkat kepentingan satu pemasok dibandingkan pemasok
lainnya dalam hal kepercayaan. Matriks perbandingan penilaian pemasok terhadap sub kriteria kepercayaan dapat dilihat pada tabel 4.30 berikut:
Tabel 4.30 Matriks Penilaian Pemasok terhadap Kepercayaan
SP1 SP2 SP3
SP1 1 3 2
SP2 0,3 1 2
SP3 0,5 0,5 1
Sumber: Olah Data, 2015
Dari tabel 4.30 di atas dapat dilihat penilaian responden terhadap pemasok berkaitan kepercayaan. Bobot prioritas pemasok terhadap kepercayaan hasil pengujian dengan expert choice ditunjukkan tabel 4.31 berikut:
Tabel 4.31 Bobot Prioritas Pemasok terhadap Kepercayaan Pemasok Bobot Prioritas
SP1 0.540
SP3 0.297
SP2 0.163
Inconsistency = 0,00877 Sumber: Olah Data, 2015
Berdasarkan tabel 4.31 dapat dilihat bahwa dalam sub kriteria kepercayaan, pemasok prioritas urutan pertama ialah SP1 dengan bobot 0,540, kedua SP3 dengan bobot 0,297 dan terakhir SP2 dengan bobot 0,163. Nilai Inconsistency dalam pengujian sebesar 0,00877 < 0,1 yang berarti penelitian dinyatakan konsisten dan dapat diterima.
9. Sub Kriteria Keterbukaan terhadap Keluhan
Dalam matriks ini dilakukan penilaian terhadap pemasok berkaitan dengan keterbukaan terhadap keluhan, yaitu nilai tingkat kepentingan satu pemasok dibandingkan pemasok lainnya dalam hal keterbukaan terhadap keluhan. Matriks perbandingan penilaian pemasok terhadap sub kriteria keterbukaan terhadap keluhan dapat dilihat pada tabel 4.32 berikut:
Tabel 4.32 Matriks Penilaian Pemasok terhadap Keterbukaan terhadap Keluhan
SP1 SP2 SP3
SP1 1 3 3
SP2 0,3 1 3
SP3 0,3 0,3 1
Sumber: Olah Data, 2015
Dari tabel 4.32 di atas dapat dilihat penilaian responden terhadap pemasok berkaitan keterbukaan terhadap keluhan. Bobot prioritas pemasok terhadap keterbukaan terhadap keluhan hasil pengujian dengan expert choice ditunjukkan tabel 4.33 berikut:
Tabel 4.33 Bobot Prioritas Pemasok terhadap Keterbukaan terhadap Keluhan Pemasok Bobot Prioritas
SP1 0.594
SP3 0.249
SP2 0.157
Inconsistency = 0,05
Sumber: Olah Data, 2015
Berdasarkan tabel 4.33 dapat dilihat bahwa dalam sub kriteria keterbukaan terhadap keluhan, pemasok prioritas urutan pertama ialah SP1 dengan bobot
0,540, kedua SP3 dengan bobot 0,297 dan terakhir SP2 dengan bobot 0,163. Nilai Inconsistency dalam pengujian sebesar 0,00877 < 0,1 yang berarti penelitian dinyatakan konsisten dan dapat diterima.
10. Rekapitulasi Prioritas Pemasok
Setelah dilakukan penilaian responden berkenaan dengan prioritas pemasok di tiap-tiap sub kriteria, tahap selanjutnya adalah merekap nilai-nilai bobot tiap masing-masing pemasok tersebut sehingga didapatkan pemasok mana yang mendapat nilai paling besar. Berikut tabel 4.34 yang menunjukkan rekapitulasi prioritas pemasok:
Tabel 4.34 Rekapitulasi Prioritas Pemasok
Sumber: Olah Data, 2015
Dari tabel 4.34 hasil rekapitulasi di atas bisa dilihat bahwa SP1 memiliki jumlah 5,036, SP2 memiliki jumlah 1,857 dan SP3 memiliki jumlah 2,107 yang menyatakan bahwa SP1 lebih unggul dibandingkan pemasok lainnya.