• Tidak ada hasil yang ditemukan

VARIASI SUHU TERHADAP NUT SILO VARIAN DURA DAN TENERA PADA KINERJA RIPPLE MILL SKRIPSI MUHAMMAD ADHAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "VARIASI SUHU TERHADAP NUT SILO VARIAN DURA DAN TENERA PADA KINERJA RIPPLE MILL SKRIPSI MUHAMMAD ADHAR"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

(1)

1

VARIASI SUHU TERHADAP NUT SILO VARIAN DURA DAN TENERA PADA KINERJA RIPPLE MILL

SKRIPSI

MUHAMMAD ADHAR 1322060362

JURUSAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN HASIL PERIKANAN PROGRAM STUDI AGROINDUSTRI PERKEBUNAN

POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI PANGKEP

2017

(2)

i

VARIASI SUHU TERHADAP NUT SILO VARIAN DURA DAN TENERA PADA KINERJA RIPPLE MILL

MUHAMMAD ADHAR

SKRIPSI

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains Terapan

Pada

Program Studi Agroindustri

POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI PANGKEP

2017

(3)

ii

HALAMAN PENGESAHAN

VARIASI SUHU TERHADAP NUT SILO VARIAN DURA DAN TENERA PADA KINERJA RIPPLE MILL

SKRIPSI

MUHAMMAD ADHAR 1322 060 362

Sebagai salah satu persyaratan untuk menyelesaikan studi Di Politeknik Pertanian Negeri Pangkep

Telah diperiksa dan Disetujui oleh

(4)

iii

HALAMAN PERSETUJUAN PENGUJI

Judul :Variasi Suhu Terhadap Nut Silo Varian Dura Dan Tenera Pada Kinerja Ripple Mill

Nama Mahasiswa : Muhammad Adhar

NIM : 1322 060 362

Program Studi : Agroindustri Diploma IV Tanggal Lulus : 16 Agustus 2017

Disahkan oleh : Tim Penguji

1. Zulfitriany Dwiyanti Mustaka, SP., M.Si.

2. A.Ita Juwita, S.Si., M.Si.

3. Dr. Lutfiah, S.TP., M.Si.

4. Fifi Arfini, S.TP., M.Si.

(5)

iv

PERNYATAAN MENGENAI TUGAS AKHIR DAN SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan skripsi yang berjudul “VARIASI SUHU TERHADAP NUT SILO VARIAN DURA DAN TENERA PADA KINERJA RIPPLE MILL“ adalah benar karya saya dengan arahan dari ibu dosen pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasa dari karya yang terbit maupun yang tidak diterbitkan dari penulis lain telah dituliskan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari tugas akhir saya kepada politeknik pertanian pertanian negeri pangkep.

Pangkep, 18 Juli 2017

MUHAMMAD ADHAR NIM 1322 060 362

(6)

v

RINGKASAN

Muhammad Adhar (13 22 060 362). Variasi Suhu Terhadap Nut Silo Varian Dura Dan Tenera Pada Kinerja Ripple Mill Dibimbing oleh Zulfitriany Dwiyanti Mustaka dan A.Ita Juwita.

Tujuan penelitian ini adalah Penggunaan berbagai suhu pada nut silo untuk mengurangi kadar air sehingga pektin yang terdapat pada nut dapat dirombak dan menentukan tinggi penumbuk dalam memecahkan nut untuk mengoptimalkan kinerja dari ripple mill. Penelitian ini menggunakan suhu sebesar 100 oC, 125 oC dan 150 oC dan tinggi penumbuk 15 cm, 20 cm dan 30 cm dengan waktu 15 menit.

Percobaan pertama 100 oC dengan tinggi penumbuk 15 cm, 20 cm dan 30 cm Diperoleh penurunan kadar air dan daya rekat kernel dengan cangkangnya adalah nut agak gampang pecah dan kernel agak lengket dengan cangkangnya.

Semetara pemberian suhu kedua sebesar 125 oC dengan tinggi penumbuk 15, 20 dan 30 cm diperoleh nut mudah untuk dipecahkan serta kernel mudah lepas dari cangkang. Selanjutnya untuk pemberian suhu ketiga sebesar 150 oC dengan tinggi penumbuk 15 cm, 20 cm dan 30 cm diperoleh nut sangat mudah untuk dipecahkan, kernel sangat mudah untuk dipisahkan dari cangkang akan tetapi kernel yang dihasilkan kering dan minyak yang dikandung oleh kernel keluar dan menyebabkan oil losses pada kernel.

Hasil penelitian menunjukkan suhu terbaik untuk digunakan dalam proses riplle mill adalah perlakuan suhu sebesar 125 oC dengan tinggi penumbuk 30 cm karena hasil dari perlakuan suhu tidak mengganggu kandungan minyak dari kernel sehingga hasilnya kernel tetap dan saat proses pemecahan kernel tidak ikut pecah.

Kata Kunci : nut silo, pectin, ripple mill, suhu, tinggi penumbuk.

(7)

vi

SUMMARY

Muhammad Adhar (13 22 060 362). Temperature Variance Against nut silo of Dura And Tenera On Ripple Mill Performance Guided by Zulfitriany Dwiyanti Mustaka and A.Ita Juwita.

The purpose of this research is to use various temperature in nut silo to reduce water content so that pectin contained in nut can be overhauled and determine high pounder in solve nut to optimize performance of ripple mill. This study used temperature of 100 oC, 125 oC and 150 oC and pounder height 15 cm, 20 cm and 30 cm with time 15 minutes.

The first experiments of 100 oC with 15 cm, 20 cm and 30 cm pounders were obtained. The water content decrease and kernel sticking power with the shell is the nut slightly vulnerable and the kernel is rather sticky with its shell. In the case of second temperature 125 oC with 15 cm, 20 cm and 30 cm pounders obtained nut easy to solve and kernel easily escape from the shell. Furthermore, the third temperature of 150 oC with 15, 20 and 30 cm pounders obtained nut very easy to solve, the kernel is very easy to separate from the shell but the resulting kernel is dry and the oil contained by the kernel exits and caused the oil losses in the kernel .

The result of the research shows that the best temperature to use in the riplle mill process is the temperature treatment of 125 oC with 30 cm pounder because the result of the temperature treatment does not interfere with the oil content of the kernel so that the kernel output is fixed and when the kernel splitting process does not break.

Keywords: height pounder, nut silo, pectin, ripple mill, temperature.

(8)

vii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat tuhan atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan praktek kerja magang industri tepat pada waktunya.

Terima kasih kepada keluarga terutama kedua orang tua tercinta, ibunda saya hasmi dan ayahanda samsu yang selalu mendoakan untuk keberhasilan penulis. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Dr. Ir. H. Darmawan,M.P selaku Direktur Politeknik Pertanian Negeri Pangkep beserta jajarannya.

2. Ibu Ir. Nurlaeli Fattah, S.TP.,M.Si Selaku Ketua Jurusan Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan.

3. Ibu Zulfitriany Dwiyanti Mustaka, SP., M.P Selaku Ketua Program Studi Agroindustri.

4. Bapak Ilham Ahmad S.T.,M.T Selaku Penasehat Akademik.

5. Zulfitriany Dwiyanti Mustaka.S.P., M.P pembimbing 1 yang selaku memberikan motivasi sehingga penulis bisa menyelesaikan laporan ini dengan tepat waktu.

6. A. Ita Juwita, S.Si., M.Si selaku pembimbing II yang selalu memberikan motivasi sehingga penulis menyelesaikan laporan ini dengan tepat waktu.

7. Seluruh dosen, teknisi dan staf program studi agroindustri.

8. Teman spesial dalam hidup (Sri Ekawati) senantiasa memberikan semangat serta motivasi dalam menyelesaikan laporan..

9. Saudara Seperjuangan ( Ibhe, Ancha, Immank, Awal, Adam, Andi Syahrullah dan seluruh anggota UKM POR PP-NP, Seluruh Pengurus MPM Periode 2016 ) senangtiasa memberikan bantuan dan motivasi.

10. Seluruh rekan mahasiswa Program Studi Agroindustri Politeknik Pertanian Negeri Pangkep angkatan XXVI.

11. Seluruh Sahabat AgroIndustri Angkatan XXVI kelas B.

12. Seluruh rekan mahasiswa Politeknik Pertanian Negeri Pangkep.

(9)

viii Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini masih jauh dari kesempurnaan sehingga di butuhkan kritik serta saran yang sifatnya membangun dari semua pihak guna kelengkapan laporan ini sehingga dapat bermanfaat.

Pangkep, 18 Juli 2017

Penulis

(10)

ix

DAFTAR ISI

Halaman

Halaman Sampul ... i

Halaman Pengesahan ... ii

Halaman Persetujuan Penguji ... iii

Pernyataan Skripsi ... iv

Ringkasan ... v

Kata Pengantar ... vii

Daftar Isi ... ix

Daftar Tabel ... xi

Daftar Gambar ... xii

Daftar Lampiran ... xiii

I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 3

1.3 Tujuan ... 3

1.4 Manfaat Kegiatan ... 4

II Tinjauan Pustaka 2.1 Deskripsi Kelapa Sawit ... 5

2.2 Klasifikasi Kelapa Sawit Menurut Kandungan Minyak ... 6

2.3 Klasifikasi Kelapa Sawit Menurut Besar Tipisnya Cangkang ... 7

2.4 Pengolahan Kelapa Sawit ... 9

2.5 Nut Kelapa Sawit ... 20

2.6 Inti Sawit ... 21

2.7 Pengeringan Biji/Nut ... 21

2.8 Nut Silo ... 22

2.9 Ripple Mill ... 23

III Metodologi 3.1 Waktu Dan Tempat ... 25

3.2 Alat Dan Bahan ... 25

(11)

x

3.3 Metode Penelitian ... 25

3.4 Rancangan Percobaan ... 25

3.5 Parameter Pengamatan ... 27

IV Hasil Dan Pembahasan 4.1 Hasil ... 29

4.2 Pembahasan ... 31

4.3 Pengujian Data ... 35

V Penutup 5.1 Kesimpulan ... 36

5.2 Saran ... 36

Daftar Pustaka ... 37

Lampiran ... 39

Riwayat Hidup ... 74

(12)

xi

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel.1 Kreteria Kematangan Buah Berdasarkan Brondolan ... 11 Tabel.2 Kreteria Penilaian Kekerasa Nut ... 28 Tabel.3 Kreteria Penilaian Terhadap Lepasnya Kernel dari Cangkang ... 28

(13)

xii

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar.1 Kelapa Sawit Jenis Dura ... 7

Gambar.2 Kelapa Sawit Jenis Pesivera ... 8

Gambar.3 Kelapa Sawit Jenis Tenera ... 8

Gambar.4 Nut Kelapa Sawit ... 20

Gambar.5 Inti Sawit ... 21

Gambar.6 Nut Silo ... 23

Gambar.7 Ripple Mill ... 24

Gambar.8.1 Grafik Persentase Penurunan Kadar Air ... 29

Gambar.8.2 Grafik Penambahan Suhu Terhadap Pecahnya Nut... 30

Gambar.8.3 Grafik Penambahan Suhu Terhadap Lepasnya Kernel Dari cangkang ... 31

(14)

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman Lampiran.1 Diagram Alir Studi Variasi Suhu Terhadap Nut Silo Varian

Dura dan Tenera Pada Kinerja Ripple Mill ... 40

Lampiran.2 Dokumentasi Kegiatan ... 41

Lampiran.3 Pengambilan Data ... 43

Lampiran.4 Uji SPSS ... 51

(15)

1

I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kelapa sawit mulai dikenal di indonesia pada tahun 1848 oleh pemerintah belanda. Saat itu, tanaman kelapa sawit dianggap sebagai salah satu jenis tanaman hias. Kebun raya bogor yang dulunya bernama Buitenzorg menanam empat kelapa sawit, dua berasa dari Bourbon dan dua lainya dari Hortus Botanicus, Belanda.

Pada tahun 1853, tanaman tersebut berbuah dan bijinya disebarkan secara gratis.

Keempat tanaman tumbuh subur dan berbuah lebat. Meskipun berbeda waktu penanaman (penanaman tanaman yang berasal dari Bourbon lebih dahulu dua bulan), waktu yang berbuahnya hampir sama. Kemungkinan besar sumber genetiknya diperoleh dari sumber yang sama (Lubis & Widanarko,2011).

Pengolahan kelapa sawit merupakan suatu proses pengolahan yang menghasilkan minyak kelapa sawit. Hasil utama yang dapat diperoleh ialah minyak sawit, inti sawit, fiber, cangkang dan tandan kosong. Pabrik kelapa sawit (PKS) dalam konteks industri kelapa sawit di Indonesia dipahami sebagai unit ekstraksi Crude Palm Oil (CPO) dan inti sawit dari Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit. PKS tersusun atas unit-unit proses yang memanfaatkan kombinasi perlakuan mekanis, fisik, dan kimia. Parameter penting produksi seperti efisiensi ekstraksi, rendemen, kualitas produk sangat penting perananya dalam menjamin daya saing industri perkebunan kelapa sawit di banding minyak nabati lainnya.

Perlu diketahui bahwa kualitas hasil minyak CPO yang diperoleh sangat dipengaruhi oleh kondisi buah TBS yang diolah dalam pabrik. Sedangkan proses pengolahan dalam pabrik hanya berfungsi menekan kehilangan dalam pengolahannya, sehingga kualitas CPO yang dihasilkan tidak semata-mata tergantung dari TBS yang masuk ke dalam pabrik.

Pada prinsipnya proses pengolahan kelapa sawit adalah proses ekstraksi CPO secara mekanis dari TBS yang diikuti dengan proses pemurnian. Secara keseluruhan proses tersebut terdiri dari beberapa tahap proses yang berjalan secara berkesinambungan dan terkait satu sama lain kegagalan pada satu tahap proses akan berpengaruh langsung pada proses berikutnya. Oleh karena itu setiap tahap

(16)

2 proses harus dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan norma-norma yang ada.

Hingga saat ini, kebanyakan pabrik kelapa sawit hanya berpusat untuk meningkatkan rendemen CPO dan menekan kehilangnan minyak serendah mungkin dibandingkan meningkatkan rendemen inti dan menekan kehilangan inti, padahal inti sawit juga merupakan pengolahan kelapa sawit yang berpengaruh pada pengolahan kelapa sawit. Jika rendemen minyak dan inti tinggi, dan didukung oleh persentase kehilangan inti yang rendah, maka pabrik tersebut dapat dinyatakan berhasil mencapai tujuan dari pengolahan kelapa sawit.

Selain peningkatan CPO yang tidak bergantung pada kualitas TBS agar mampu menekan losses dalam setiap pengolahannya. Pengolahan Kernel juga dilakukan berbagai cara untuk menghindari losses yang terjadi disetiap pengolahannya agar KER dapat tercapai sehingga keuntungan dapat pabrik dapatkan dalam setiap pengolahannya. Melakukan modivikasi alat pengolahan dari pabrik kelapa sawit merupakan salah cari untuk menekan losses pengolahan dapat dihindari. Pengolahan kernel dapat berhasil jika setiap alat pengolahan dapat berjalan dengan baik.

Kernel merupakan hasil kedua dari pengolahan kelapa sawit yang menjadi proritas utama dari pengolahan kelapa sawit selain dari CPO (Crude Palm Oil), pada proses pengolahannya, kernel juga dapat perhatian penting dari pabrik kelapa sawit baik secara fisik, mekanik maupun kimiawi, karena setiap pengolahan harus sesuai dengan tinggat pencapaian suatu alat.

Pada dasarnya pengolahan kernel disebut dengan Statuan Kernel yang terdiri dari beberapa alat yakni Cake Breaker Conveyor (CBC), Depericaper, Nut polishing Drum, Nut Silo, Nut Greading Drum, Ripple Mill, Ligth Tenera Dry Separator (LTDS), Hidrocyclone, Claybatch, dan Kernel silo. Setiap alat mempunyai peran dan fungsi untuk menekan tidak terjadi losses pada setiap pengolahan.

Penampungan nut yang dilakukan di stasiun pengolahan nut disebut nut silo. Nut silo dalam mengoptimalkan hasil dari grading drum sehingga mampu mengsuplai nut untuk dipecahkan menggunakan ripple mill. Nut Silo adalah alat yang digunakan sebagai tempat penampungan nut, hal ini dilakukan untuk

(17)

3 mengurangi kadar air sehingga lebih mudah dipecah dan inti lekang dari cangkangnya. Kemudian dialiri dengan udara panas antara 60 – 80°C selama 18- 24 jam agar kadar air turun dari sekitar 21 % menjadi 4 %. Biji dari nut silo masuk ke ripple mill untuk dipecah sehingga inti terpisah dari Cangkang (Wardanu,2009).

Penggilasan/pemecahan nut kelapa sawit dengan alat dan mesin dilakukan di stasiun pengolahan nut pada stasiun kernel, Stasiun pengolahan nut merupakan ruang pengolahan yang digunakan dalam proses penggilasan/pemecahan nut kelapa sawit yang disebut Ripple mill. Ripple mill merupakan alat penggilas/pemecah nut dengan menggunakan metode penggilasan dimana Ripple mill menggunakan dinding bergerigi untuk menekan/menggilas dengan bantuan rotor sehingga nut bisa pecah. Dinding gerigi plat dan rotor berfungsi sebagai penahan dan pemecah. Biji yang masuk melalui rotor akan mengalami gaya sentrifugal sehingga biji keluar dari rotor dan terbanting dengan kuat yang menyebabkan cangkang pecah (Susanti,2015).

Berdasarkan uraian diatas bahwa penggunaan udara panas mampu mengurangi kadar air yang di kandung oleh nut pada nut silo sehingga dapat memudahkan nut untuk diolah oleh ripple mill.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas maka dapat diruumuskan masalah sebagai berikut:

1. Apakah perlakuan suhu dapat mempermudah memecahkan nut.

2. Apakah penggunaan suhu dapat merombak pectin yang terdapat diantara cangkang dan kernel/inti sawit.

1.3 Tujuan

Penelitan ini bertujuan sebagai berikut :

1. Menentukan suhu terbaik dalam memecahkan nut dan lepasnya kernel dari cangkangnya.

2. Menentukan tinggi penumbuk dalam pemecahan nut.

(18)

4 1.4 Manfaat Kegiatan

1. Bagi penulis

Mengetahui peran suhu dalam mengoptimalkan kinerja dari ripple mill.

2. Bagi perguruan tinggi

Sumber informasi kepada masyarakat kampus secara khusus dan masyarakat pada umumnya tentang proses pemberian suhu pada nut silo.

3. Bagi perusahaan

Sebagai sumber informasi kepada perusahaan pengolahan kelapa sawit tentang proses pemberian suhu pada nut silo.

(19)

5

II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Deskripsi Kelapa Sawit (Elaeis guinensis.J)

Kelapa sawit adalah salah satu pohon palem produktif utama yang dikembangkan di indonesia. Tumbuhan ini adalah penghasil minyak nabati terbesar di dunia, terutama karena minyak dapat diproduksi baik dari serabut buah maupun inti. Penyebaran kelapa sawit di indonesia terutama didaerah pantai timur sumatra, Aceh, Sulawesi dan Papua Barat (Brief, 2013).

Prospek pasar bagi olahan kelapa sawit cukup menjanjikan, karena permintaan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang cukup besar, tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Oleh sebab itu, sebagai negara tropis yang masih memiliki lahan yang cukup luas, Indonesia berpeluang besar untuk mengembangkan perkebunan kelapa sawit. Berdasarkan buku statistik komoditas kelapa sawit terbitan Ditjen Perkebunan, pada Tahun 2014 luas areal kelapa sawit mencapai 10.9 juta Ha dengan produksi 29.3 juta ton CPO. Luas areal menurut status kepemilikan, milik rakyat (Perkebunan Rakyat) seluas 4.55 juta Ha atau 41.55% dari total luas areal, milik negara (PTPN) seluas 0.75 juta Ha atau 6.83% dari total luas areal, milik swasta seluas 5.66 juta Ha atau 5.62%, swasta terbagi menjadi 2 (dua) yaitu swasta asing seluas 0.17 juta Ha atau 1.54%

dan sisanya lokal.

Asam Lemak Bebas (ALB) dalam konsentrasi tinggi yang terdapat dalam minyak sawit sangat merugikan. Tingginya ALB menyebabkan rendemen minyak menurun, untuk itu perlu dilakukan usaha pencengahan terbentuknya ALB dalam minyak sawit (Arifin, 2012).

Minyak sawit dan inti sawit umumnya digunakan untuk pangan dan nonpangan. Dari segi pangan, minyak sawit digunakan sebagai bahan baku untuk membuat minyak goreng, lemak pangan, margarin, kue, biskuit, atau es krim.

Minyak inti sawit digunakan sebagai bahan baku untuk membuat sabun, Deterjen dan bahan bakar mesin diesel (Bioetanol) (Naibaho dan Ponten, 1998).

Dalam dunia botani semua tumbuhan diklasifikasikan untuk memudahkan dalam identifikasi secara ilmiah. Klasifikasi adalah penggolongan spesies kepada suatu

(20)

6 tanaman yang berguna untuk memudahkan peneliti kelapa sawit maka dari seluruh tanaman didunia diberikan nama berdasarkan kedekatannya (taksionomi).

Taksionomi kelapa sawit adalah sebagai berikut (Lubis, 2008) : Kingdom : Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji) Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) Kelas : Liliopsida (berkeping satu / monokotil) Sub Kelas : Arecidae

Ordo : Arecales

Famili : Arecaceae (suku pinang-pinangan)

Genus : Elaeis

Spesies : Elaeis guineensis Jacq.

2.2 Klasifikasi Kelapa Sawit Menurut Kandungan Minyak.

Menurut Sastrosayono (2003), varietas tanaman kelapa sawit dapat digolongkan berdasarkan:

a. Varietas Dura

Varietas ini memiliki ciri-ciri: daging buah (Mesocarp) tipis, cangkang (Endocarp) setebal 2–8 mm. Intinya besar dan tidak terdapat cincin serabut prosentase daging buah 35–60% dengan rendemen minyak 17–18%. Tipe delidura yang juga terdapat di Malaysia, buahnya lebih besar, daging buahnya lebih tebal dan intinya juga lebih besar.

b. Varietas Pisifera

Varietas ini memiliki ciri-ciri: daging buahnya tebal, tidak mempunyai cangkang, tetapi terdapat cincin serabut yang mengelilingi inti. Intinya kecil sekali bila dibandingkan dengan varietas dura maupun tenera. Perbandingan daging buah terhadap buahnya tinggi, dan kandungan minyaknya tinggi. Bunga varietas pisifera biasanya steril, varietas ini hanya dipakai sebagai pohon bapak dalam persilangn dengan varietas dura. Inti sawit yang dihasil tidak ada karena itulah

(21)

7 varietas ini hanya digunakan pada saat persilangan pisifera dengan dura saja tidak untuk diolah.

c. Varietas Tenera

Varietas ini merupakan hasil persilangan antara varietas Dura dan Pisifera.

Sifat varietas Tenera merupakan kombinasi sifat khas dari kedua induknya.

Varietas ini mempunyai tebal cangkang sekitar 0,5–4 mm, mempunyai cincin serabut walaupun tidak sebanyak pada Pesifera, sedangkan intinya kecil.

Perbandingan daging buah terhadap buah 60–96%, rendemen minyaknya 22–

24%. Jumlah daun yang terbentuk tiap tahun pada varietas ini lebih banyak daripada varietas Dura, tetapi ukurannya lebih kecil.

2.3 Klasifikasi Kelapa Sawit Menurut Besar Tipisnya Cangkang

Menurut Pahan (2008) klasifikasi kelapa sawit berdasarkan dari besar dan tipisnya cangkang kelapa sawit dibagi atas tiga jenis yaitu :

a. Varietas Dura

Merupakan kelapa sawit yang mempunyai cangkang tebal. Ketebalan cangkang tidak diinginkan oleh perusahaan pengolahan kelapa sawit karena dianggap memperpendek umur mesin pengolah. Keunggulan dari jenis dura adalah tandan buahnya besar-besar dan kandungan minyak per tandannya berkisar 18%. Kelapa sawit jenis dura mempunyai alela homozigot dominan yang membuatnya menghasilkan cangkang yang tebal.

Gambar 1. Kelapa sawit Jenis Dura

(22)

8 b. Varietas Pesifera

Buahnya tidak memiliki cangkang namun bunga betinanya steril sehingga sangat jarang menghasilkan buah. Tanaman jenis ini mempunyai alela homozigott resesif sehingga tidak membentuk cangkang. Beberapa jenis pisifera mempunyai kemampuan fertile dan mampu berkembang baik.

Gambar 2. Kelapa sawit Jenis Pesifera c. Varietas Tenera

Tenera merupakan hasil perkawinan antara dura dan pisifera. Tenera memiliki ketebalan cangkang diantara keduanya. Selain itu jenis Tenera mempunyai kandungan minyak paling tinggi dari varietas lainnya. Tenera mempunyai alela heterozigot.

Gambar 3. Kelapa sawit Jenis Tenera

(23)

9 2.4 Pengolahan Kelapa Sawit

Pengolahan kelapa sawit merupakan suatu proses pengolahan yang menghasilkan minyak kelapa sawit. Hasil utama yang dapat diperoleh ialah minyak sawit, inti sawit, sabut, cangkang, solid dan tandan kosong. Pabrik kelapa sawit dalam konteks industri kelapa sawit di Indonesia dipahami sebagai unit ekstraksi crude palm oil dan inti sawit dari tandan buah segar kelapa sawit. PKS (Pabrik Kelapa Sawit) tersusun atas unit-unit proses yang memanfaatkan kombinasi perlakuan mekanis, fisik, dan kimia. Parameter penting produksi seperti efisiensi ekstraksi, rendemen, kualitas produk sangat penting perananya dalam menjamin daya saing industri perkebunan kelapa sawit di banding minyak nabati lainnya.

a. Stasiun Penerimaan Buah (Fruit Reception Station)

Stasiun penerimaan buah berfungsi sebagai tempat penerimaan buah (TBS) dari perkebunan sebelum diolah. Pada stasiun ini dapat di ketahui jumlah TBS dari masing-masing kebun. Pada stasiun penerimaan buah ini meliputi : 1. Pos Security

Security mempunyai fungsi untuk menjaga keamanan dan ketertiban pabrik, mengatur kendaraan yang keluar masuk kepabrik baik truk TBS ataupun dispatch. Menjaga kebersihan area kerja, mencatat nomor kendaraan “nama tamu”

untuk yang berkunjung dipabrik (Danny, 2014).

Pada pos ini di lakukan peroses pencatatan, pemeriksaan SPB (Surat Pengantar Buah) yang dimiliki oleh driver yang dimana yang akan di catat yaitu nama driver, no polisi, afdeling, waktu pemasukan, asal buah dan lain lain. hal ini di lakukan Sebagai bahan evaluasi perusahaan.

Selain itu juga pos security harus melakukan pengawasan dengan melakukan kontroling di beberapa tempat :

a. Perumahan b. Kolam limbah c. Grading d. Proses e. Engine room

(24)

10 f. Dispach

g. Gudang h. Boiler

Hal ini di lakukan agar keamanan selalu terjaga, kegiatan ini di lakukan mulai jam 16.00- 06.00 pagi.

2. Jembatan Timbang (Weight Bridge)

Penimbangan dilakukan dua kali untuk setiap angkutan TBS yang masuk ke pabrik, yaitu pada saat masuk (berat truk dan TBS) serta pada saat keluar (berat truk). Dari selisih timbagan saat truk masuk dan keluar, diperoleh berat bersih TBS yang masuk ke pabrik (Pahan, 2006).

TBS (Tandan Buah Segar) yang telah panen dari kebun diangkut menggunakan alat transportasi berupa truk. Setiap truk yang telah sampai dilokasi pabrik, terlebih dahulu di timbang di jembatan timbang untuk mengetahui berat sewaktu berisi (Bruto). Setelah TBS di bongkar di loading ramp maka truk kosong tersebut di timbang kembali untuk mengetahui berat terra (tidak bermuatan) sehingga diperoleh berat bersih (netto) TBS tersebut.

Fungsi dari jembatan timbang (Weight Bridge) yaitu untuk mengetahui jumplah tonase dari :

 TBS yang diterima pabrik.

 CPO & Kernel yang dikirim/keluar dari pabrik.

 Tandan kosong.

Penimbangan dilakukan dua kali, yaitu saat kendaraan masuk (berat truck

& TBS) dan saat kendaraan keluar (berat truck kosong). Dari selisihnya di peroleh berat bersih TBS yang masuk ke pabrik.

3. Sortasi Tandan Buah Segar

Grading adalah suatu kegiatan penyortiran tandan buah segar sebagai salah satu kendali mutu CPO yang akan dihasilkan baik dari segi kuantitas dan kualitas (Damanik, 2012).

Sortasi/grading TBS berfungsi untuk menilai Mutu atau Kriteria hasil panen setiap kebun. Dalam sortasi TBS ini terdapat pula kretiria hasil panen yang

(25)

11 berdasarkan persentase buah mentah, mengkal, matang dan busuk/jajang kosong.

Derajad kematangan dihitung berdasarkan jumlah (persentase) buah yang membrondol dengan kriteria tercantum dalam tabel berikut.

Tabel 1. Kriteria Kematangan Buah Berdasarkan Brondolan.

Katagori Mentah Mengkal Matang

Terlalu matang

Jajang Kosong

BJR 3-5 kg

0 1 >2 50 - 90 % 100 %

BJR 5-10 kg

0 >5 >5 50 - 90 % 100 %

BJR > 10 kg

0 >10 >10 50 - 90 % 100 %

Sumber PT. HHK-Sungai Bila Estate-Mill,2017

b. Stasiun Pengolahan Tandan Buah Segar ( TBS ) Kelapa Sawit.

1. Loading Ramp

Loading Ramp merupakan suatu bangunan dengan lantai berupa kisi-kisi pelat besi berjarak 10 cm dengan kemiringan 45o. Kisi-kisi pelat tersebut berfungsi untuk memisahkan kotoran berupa pasir, krikil dan sampah yang terikut dalam TBS (Pahan, 2006).

Loading Ramp adalah suatu stasiun yang berfungsi sebagai tempat penimbunan sementara sebelum TBS dimasukkan kedalam lori rebusan (Pardamean, 2013).

Setelah buah disortir pihak sortasi, buah dimasukkan kedalam ramp cage yang berada diatas rel lori. Ramp cage mempunyai 35 pintu yang dibuka tutup dengan sistem hidrolik, terdiri dari 2 line sebelah kiri dan kanan. Pada saat pintu dibuka lori yang berada dibawah cage akan terisi dengan TBS. Setelah terisi, lori

(26)

12 ditarik dengan capstand ke transfer carriage, dimana transfer carriage dapat memuat 3 lori yang masing–masing mempunyai berat rata-rata 3.3–3.5 ton.

Dengan transfer carriage lori diarahkan ke rel sterilizer yang diinginkan.

Kemudian diserikan sebanyak 12 lori untuk dimasukan kedalam sterilizer.

Pemasukan lori ke dalam sterilizer menggunakan loader.

2. Sterilizer

Perebusan selain untuk memanaskan TBS dengan uap bertekanan tinggi sterilizer juga mempunyai peran untuk menghentikan perkembagan ALB (Asam Lemak Bebas), mempermudah pemipilan, penyempurnaan dalam pengolahan, serta penyempurnaan dalam proses pengolahan inti sawit/ PK (Palm Kernel).

(Pahan, 2006).

Pengolahan pertama adalah perebusan TBS di dalam sterilizer dengan menggunakan uap panas tekanan tinggi. Perebusan melunakkan buah sehingga daging buah mudah lepas dari biji sewaktu diaduk dalam bejana pemerasan.

Tujuan lain adalah menonaktifkan enzim lipase. Enzim lipase ini dapat meningkatkan kadar ALB (Pardamean, 2013).

Sterilisasi adalah proses perebusan dalam suatu bejana yang disebut dengan sterilizer. Adapun fungsi dari perebusan adalah sebagai berikut:

a. Mematikan Enzyme.

b. Memudahkan lepasnya brondolan dari tandan.

c. Mengurangi kadar air dalam buah.

d. Melunakkan Mesocarp sehingga memudahkan proses pelumatan dan pengepressan.

Proses perebusan dilakukan selama 105 menit. Untuk media pemanas dipakai Steam dari BPV (Back Pressure Vessel) yang bertekanan 2.8-3 bar.

Perebusan dilakukan dengan sistem 3 peak ( tiga puncak tekanan). Puncak pertama tekanan sampai 1.5 kg/cm2, puncak kedua tekanan sampai 2.0 kg/cm2 dan puncak ketiga tekanan sampai 2.8–3.0 kg/cm2 dengan suhu 95 oC-105 oC.

Berikut proses perebusan sistem tiga peak :

a. Deaeration dilakukan 2 menit, dimana posisi condensate terbuka.

(27)

13 b. Memasukkan uap untuk peak pertama yang dicapai dalam waktu 10 menit.

Biasanya tekanan mencapai 1,2 bar.

c. Uap dan kondensat dibuang sampai tekanan menjadi 0 bar dalam waktu 5 menit.

d. Uap dimasukkan selama 15 menit untuk mencapai tekanan 2 bar.

e. Uap kondensat dibuang lagi selama 3 menit.

f. Kemudian steam dimasukkan lagi untuk mencapai peak ke-3 dalam waktu 15–20 menit.

g. Setalah peak ketiga tercapai maka dilakukan penahanan selama 40–50 menit.

h. Uap kondensat dibuang selama 5–7 menit sampai tekanan 0 atm.

3. Thresser

Tresher adalah suatu alat yang berbentuk tromol mendatar dengan kisi-kisi yang bercelah sedikt lebih besar dari pada ukuran brondolan (Pardamean, 2013).

Setelah perebusan TBS yang telah masak diangkut ke thresser dengan menggunakan hoisting crane yang mempunyai daya angkat 5 ton. Lori diangkat dan dibalikkan diatas hopper thresser (auto feeder). Pada stasiun ini tandan buah segar yang telah direbus siap untuk dipisahkan antara berondolan dan tandannya.

Sebelum masuk kedalam thresser TBS yang telah direbus diatur pemasukannya dengan menggunakan auto feeder. Dengan menggunakan putaran TBS dibanting sehingga berondolan lepas dari tandannya dan jatuh ke conveyor dan elevator untuk didistribusikan ke rethresser untuk pembantingan kedua kalinya. Thresser mempunyai kecepatan putaran 22–25 rpm. Pada bagian dalam thresser, dipasang batang-batang besi perantara sehingga membentuk kisi-kisi yang memungkinkan berondolan keluar dari thresser. Untuk tandan kosong sendiri didistribusikan dengan empty bunch conveyor untuk didistribusikan ke penampungan empty bunch.

4. Stasiun Press

Proses pengepresan bertujuan mengeluarkan minyak dan cairan dari kelapa sawit. Buah atau brondolan diaduk di dalam digester (mesin pengaduk pengupas kulit) (Pardamean, 2013).

(28)

14 Brondolan yang ke luar dari thresser jatuh ke conveyor, kemudian diangkut dengan fruit elevator ke battom cross conveyor yang mendistribusikan berondolan ke distributing conveyor untuk dimasukkan dalam tiap-tiap digester.

Digester adalah tangki silinder tegak yang dilengkapi pisau-pisau pengaduk dengan kecepatan putaran 25-26 rpm, sehingga brondolan dapat dicacah di dalam tangki ini. Bila tiap-tiap digester telah terisi penuh maka brondolan menuju ke conveyor recycling, diteruskan ke elevator untuk dikembalikan ke digester.

Tujuan pelumatan adalah agar daging buah terlepas dari biji sehingga mudah di- press. Untuk memudahkan pelumatan buah, pada digester di-inject steam bersuhu sekitar 90–95°C. Berondolan yang telah lumat masuk ke dalam screw press untuk diperas sehingga dihasilkan minyak (crude oil). Pada proses ini dilakukan penyemprotan air panas agar minyak yang keluar tidak terlalu kental (penurunan viscositas) supaya pori-pori silinder tidak tersumbat, sehingga kerja screw press tidak terlalu berat. Penyemprotan air dilakukan melalui nozzle-nozzle pada pipa berlubang yang dipasang pada screw press. Kapasitas mesin press adalah 15 ton per jam. Tekanan mesin press harus diatur, karena bila tekanan terlalu tinggi dapat menyebabkan inti pecah dan screw press mudah aus. Sebaliknya, jika tekanan mesin press terlalu rendah maka oil losses di ampas tinggi. Minyak hasil mesin press kemudian menuju ke sand trap tank untuk pengendapan. Hasil lain adalah ampas (terdiri dari biji dan fiber), yang akan dipisahkan dengan menggunakan cake breaker conveyor (CBC).

c. Stasiun Pemurnian

Minyak yang berasal dari stasiun press masih banyak mengandung kotoran-kotoran yang berasal dari daging buah seperti lumpur, air dan lain-lain.

Untuk mendapatkan minyak yang memenuhi standar, maka perlu dilakukan pemurnian terhadap minyak tersebut. Pada stasiun ini terdiri dari beberapa unit alat pengolah untuk memurnikan minyak produksi, yang meliputi : Sand Trap Tank, Vibrating Screen, Crude Oil Tank, Continous Settling Tank (CST), Oil Tank, Purifier, Vacum Dryer, Sludge Oil Tank, Sludge Vibrating Screen, Sludge Centrifuge, Fat Pit, dan Storage Tank.

(29)

15 1. Sand Trap Tank

Minyak hasil mesin press merupakan minyak mentah yang masih banyak mengandung kotoran-kotoran. Minyak tersebut masuk ke sand trap tank untuk mengendapkan partikel-partikel yang mempunyai densitas tinggi. Sand trap tank adalah sebuah bejana yang berbentuk silinder tegak.

2. Vibrating Screen

Minyak bagian atas dari sand trap tank yang masih mengandung serat dan sedikit kotoran dialirkan ke ayakan getar (vibrating screen). Proses penyaringan memakai vibrating screen bertujuan untuk memisahkan padatan, seperti : serabut, pasir, tanah dan kotoran-kotoran lain yang masih terbawa dari sand trap tank.

Vibrating yang digunakan adalah double deck vibrating screen, dimana screen pertama berukuran 30 mesh dan screen kedua 40 mesh. Padatan yang tertahan pada ayakan akan dikembalikan ke digester melalui conveyor, sedangkan minyak dipompakan ke crude oil tank.

3. Crude Oil Tank (COT)

Minyak yang keluar dari vibrating screen dialirkan ke crude oil tank untuk ditampung sementara. Pada crude oil tank ini minyak dipanaskan dengan steam melalui sistem pipa pemanas, dan suhu dipertahankan 90-95°C. Dari sini minyak dipompakan ke CST (Continuous Settling Tank).

4. Continous Settling Tank (CST)

Minyak dari COT dipompakan ke CST dimana sebelumnya dilewatkan ke buffer tank agar aliran minyak masuk ke CST tidak terlalu kencang. CST bertujuan untuk mengendapkan lumpur (sudge) berdasarkan perbedaan berat jenisnya. Di CST suhu dipertahankan 86-90oC. Minyak pada bagian atas CST dikutip dengan bantuan skimmer menuju oil tank, sedangkan sludge (yang masih mengandung minyak) pada bagian bawah dialirkan secara underflow ke sludge vibrating screen sebelum ke sludge oil tank. Sludge dan pasir yang mengendap didasar CST di-blowdown untuk dibawa ke sludge drain tank .

(30)

16 5. Oil Tank

Minyak dari CST menuju ke oil tank untuk ditampung sementara waktu, sebelum dialirkan ke oil purifier. Dalam oil tank juga terjadi pemanasan (75- 80°C) dengan tujuan untuk mengurangi kadar air.

6. Vacuum Drier

Minyak yang keluar dari purifier masih mengandung air, maka untuk mengurangi kadar air tersebut, minyak dipompakan ke vacuum drier. Di sini minyak disemprot dengan menggunakan nozzle sehingga campuran minyak dan air tersebut akan pecah. Hal ini akan mempermudah pemisahan air dalam minyak, dimana minyak yang memiliki tekanan uap lebih rendah dari air akan turun ke bawah dan kemudian dipompakan ke storage tank.

7. Sludge Tank

Untuk overflow dari tangki ini di alirkan ke drain tank sedangkan under flownya dialirkan ke vibrating screen dan brush strainer atau langsung ke bak transit untuk dipompakan ke sand cyclone. Untuk mempercepat pengendapan lumpur, sludge dipanaskan (80-90oC) dengan menggunakan uap yang dialirkan melalui coil pemanas. Sehingga densitas minyak menjadi lebih rendah dan lumpur halus yang melekat pada minyak akan terlepas dan mengendap pada dasar tangki. Dari sand cyclone atau brush strainer sludge dialirkan ke balance tank sebagai umpan untuk decanter atau sludge centrifuge.

8. Sludge centrifuge

Sludge centrifuge merupakan alat yang digunakan dalam pengolahan sludge, dimana alat ini berfungsi dari Sludge Seperator adalah untuk mengambil minyak yang masih terkandung dalam sludge dengan cara sentrifugal (Richard, 2015).

Sludge centrifuge untuk mengolah sludge. Sludge centrifuge adalah alat yang digunakan untuk memisahkan minyak yang masih terkandung di dalam sludge, dengan cara pemisahan berdasarkan gaya sentrifugal. Didalam sludge centrifuge ini terdapat bowl yang berputar 1450 rpm, bowl ini berbentuk bintang

(31)

17 yang diujungnya terdapat nozzle dengan diameter lubang tertentu dan nozzle ini dapat diganti sesuai keinginan. Prinsip kerjanya adalah nozzle separator berputar dengan gaya centifugal dimana pemisahannya, fraksi berat (umpur, kotoran) terlempar ke dinding bowl dan fraksi ringan (air dan minyak) akan ketengah.

Minyak yang mempunyai densitas lebih kecil akan menuju poros dan terdorong keluar melalui sudu-sudu (paring disk), dan ditampung di reclaimed tank sebelum dipompakan oleh reclaimed oil pump untuk alirkan kembali ke CST. Sedangkan sludge (mengandung air) yang mempuyai densitas lebih besar akan terdorong ke bagian dinding bowl dan keluar melalui nozzle, kemudian sludge keluar melalui saluran pembuangan menuju fat pit.

9. Sludge drain tank

Lapisan bawah dari CST, dan sludge tank pada selang waktu tertentu didrain menuju sludge drain tank. Di sludge drain tank minyak mengalir tenang dan dibiarkan overflow untuk mengalir dan ditampung pada reclaimed tank, dan kemudian dipompakan kembali ke CST untuk kemudian dimurnikan lagi.

Sedangkan kotoran dan air dialirkan menuju fat pit.

10. Fat Pit

Sebelum sludge di buang ke kolam pengolahan limbah, terlebih dahulu ditampung di fat pit dengan maksud agar minyak yang masih terbawa dapat terpisah kembali. Di Fat Pit diinjeksikan uap sebagai pemanas untuk mempermudah proses pemisahan minyak dengan kotoran. Minyak yang ada pada permukaan dibiarkan melimpah (overflow). Selanjutnya minyak ditampung pada sebuah bak pada pinggiran kolam fat pit, dan kemudian dipompakan kembali ke sludge drain tank.

11. Storage Tank

Minyak dari vacuum dryer, kemudian dipompakan ke storage tank (tangki timbun), pada suhu simpan 45-55°C. Setiap hari dilakukan pengujian mutu.

Minyak yang dihasilkan dari daging buah berupa minyak yang disebut Crude Palm Oil (CPO).

(32)

18 d. Stasiun Kernel

Stasiun kernel merupakan suatu bagian dari pabrik kelapa sawit yang berfungsi untuk memisahkan ampas (fibre), biji (nut), dan inti sawit (Pardamean, 2013).

Pada stasiun ini dilakukan aktifitas pemisahan serabut dari nut, pemisahan inti dari cangkangnya dan juga pengeringan inti. Peralatan yang digunakan di stasiun ini , diantaranya : Cake Breaker Conveyor (CBC), Depericarper, Nut Silo, Ripple Mill, hidro cyclone, dan Kernel Silo.

1. Cake Breaker Conveyor (CBC)

Ampas dari screw press yang terdiri dari fiber dan nut yang masih menggumpal masuk ke CBC. CBC merupakan suatu screw conveyor namun screwnya dipasang palt persegi sebagai pelempar fiber dan nut. CBC berfungsi untuk mengurai gumpalan fiber dengan nut dan membawanya ke depericarper.

2. Depericarper

Depericarper adalah alat untuk memisahkan fiber dengan nut. Fiber dan nut dari CBC masuk ke separating column. Disini fraksi ringan yang berupa fiber dihisap dengan fibre cyclone dan di tampung dalam hopper sebagai bahan bakar pada boiler. Sedangkan fraksi berat berupa nut turun ke bawah masuk ke polishing drum.

3. Nut Polishing Drum

Nut polishing drum berupa drum berlubang-lubang yang berrputar. Akibat dari perputaran ini terjadi gesekan yang mengakibatkan serabut yang masih menempel pada nut terkikis dan terpisah dari nut. Nut jatuh, selanjutnya nut diangkut oleh nut conveyor dan destoner (second depericarper) untuk memisahkan batu dan benda – benda yang lebih berat dari nut seperti besi. Nut yang terbawa ke atas jatuh kembali di dalam air lock dan di tampung oleh nut elevator untuk dibawa ke dalam Nut silo.

(33)

19 4. Nut Silo

Fungsi dari alat ini sebagai tempat penampungan nut, hal ini dilakukan untuk mengurangi kadar air sehingga lebih mudah dipecah dan inti lekang dari cangkangnya.

Biji tertampung/nut pada Nut Silo yang dialiri dengan udara panas antara 60 – 80°C selama 18- 24 jam agar kadar air turun dari sekitar 21 % menjadi 4 % (Wardanu, 2009).

5. Ripple Mill

Biji dari Nut silo masuk ke ripple mill untuk dipecah sehingga inti terpisah dari cangkang. Biji yang masuk melalui rotor akan mengalami gaya sentrifugal sehingga biji keluar dari rotor dan terbanting dengan kuat yang menyebabkan cangkang pecah. Setelah dipecahkan inti yang masih bercampur dengan kotoran- kotoran di bawa ke kernel grading drum.

6. Kernel Grading Drum

Pada kernel grading drum ini di saring antara nut,shell dan kotoran dengan nut yang belum terpecahkan. Untuk nut shell dan kotoran lolos dari saringan dibawa ke LTDS. Sementara untuk nut atau yang tertahan dikembalikan ke nut conveyor.

7. Light Tenera Dry Separator (LTDS)

LTDS (Light Tenera Dry Separator) merupakan alat yang digunakan dalam pemisahan kering dalam pengolahan inti sawit dimana alat ini bekerja berdasarkan berat jenis dari kernel/inti sawit dan fraksi lainya (Yuwono, 2010).

Pada bagian ini akan terjadi pemisahan dimana fraksi-fraksi yang lebih ringan akan dihisap oleh LTDS cyclone. Fraksi-fraksi yang ringan di hisap yang terdiri dari cangkang dan serabut akan di bawa ke shell hopper melalui fibre and shell conveyor. Inti dan sebagian cangkang yang belum terpisahkan, dipisahkan lagi pada hidro cyclone.

(34)

20 8. Hidrocyclone.

Hasil olahan ripple mill sebelum memasuki Hydro Cyclone mengalami pemisahan fraksi halus oleh Winnowing. Sampah halus akan terpisah dari fraksi berat akan dicampur dengan air yang kemudian inti dipisahkan dari tempurung berdasarkan berat jenis. Untuk memperbesar selisih berat jenis inti dengan tempurung maka campuran dilewatkan melalui Cyclone, sehingga inti akan keluar dari atas permukaan cyclone dan tempurung dari bagian bawah yang kemudian masing – masing fraksi diangkut ke pengolahan yang lebih lanjut.

9. Kernel Silo

Inti yang masih mengandung air, perlu dikeringkan sampai kadar air 7%.

Inti yang berasal dari pemisahan di hidrocyclone melalui wet kernel conveyor didistribusikan ke dalam unit kernel silo untuk dilakukan proses pengeringan.

Pada kernel silo ini inti akan dikeringkan dengan menggunakan udara panas dari steam heater yang dihembuskan oleh Fan kernel silo ke dalam kernel silo.

Pengeringan dilakukan pada temperatur 60-80°C selama 4-8 jam. Kernel yang telah dikeringkan ini dibawa ke kernel bulk silo melalui dry kernel transport fan.

2.5 Nut Kelapa sawit

Nut merupakan bagian kedua dari kelapa sawit yang berfungsi sebagai pelindung dari inti sawit sebelum dipecahkan. Nut terdiri dari endocarp/shell/cangkang, dan inti sawit (Julia, 2009).

Gambar 4. Nut

(35)

21 2.6 Inti Sawit.

Inti sawit merupakan hasil olahan dari biji sawit yang telah dipecah menjadi cangkang dan inti, cangkang sawit digunakan sebagai bahan bakar ketel uap, arang, pengeras jalan dan lain-lain. Sedangkan inti sawit diolah kembali menjadi minyak inti sawit. Proses pengolahan inti sawit menjadi minyak inti sawit tidak terlalu rumit bila dibandingkan dengan proses pengolahan buah sawit.

Bentuk inti sawit bulat padat atau agak gepeng berwarna cokelat hitam. Inti sawit mengandung lemak, protein, serat dan air. Pada pemakaiannya lemak yang terkandung didalamnya disebut minyak inti sawit dan ampas atau bungkilnya yang kaya protein digunakan sebagai bahan makanan ternak. Kadar minyak dalam inti kering adalah 44 – 53%. (Mangoensoekardjo.S., 2003).

Gambar .5 Inti sawit (kernel).

2.7 Pengeringan Biji/Nut

Nut atau biji mengandung pectin yang terdapat diantara tempurung dan inti. Untuk mempermudah proses pemecahan, maka pectin yang berfungsi sebagai perekat inti perlu dirombak dengan proses kimia seperti fermentasi (Malangyudo dan Krisdwiarto.2011)

Waktu tunggu pemeraman biji didalam nut silo berpengaruh langsung pada proses hidrolisa sebagai upaya menurunkan kadar air pada biji. Lamanya pemeraman yang dianggap memenuhi kreteria ialah 24-48 jam, dengan kadar air biji sekitar 15% (Malangyudo dan Krisdwiarto.2011).

(36)

22 Biji sawit yang telah dipisah pada proses pengadukan, diolah lebih lanjut untuk diambil minyaknya. Sebelum dipecah, biji sawit dikeringkan dalam silo, minimal 14 jam dengan sirkulasi udara kering pada suhu 50-80°C. Akibat proses pengeringan ini, inti sawit akan mengerut sehingga memudahkan pemisahan inti sawit dari tempurungnya. Selain penguapan, biji di dalam silo juga mengalami proses fermentasi sehingga serabut yang masih menempel pada biji akan mengalami pelapukan. Kadar air yang dikehendaki adalah 12%. Jika temperatur kurang maka kadar air masih tinggi sehingga menyulitkan pemisahan inti dari cangkangnya.

Biji-biji sawit yang sudah kering kemudian dibawa ke alat pemecah biji.

Terdapat dua jenis alat pemecah biji yang digunakan oleh perkebunan kelapa sawit saat ini, yaitu nut cracker model rotor vertikal dan nut cracker model rotor horizontal (rippel mil). Namun, yang paling banyak digunakan adalah ripper mil karena tanaman sawit yang diusahakan saat ini adalah dari jenis tenera, dengan biji yang cenderung lebih kecil dan cangkangnya lebih tipis. Pada rippel mil, biji seolah dikupas pada suatu stator yang dibuat bergerigi ketika rotor (baling-baling) berputar untuk menggerakan biji-biji tersebut sehingga mengakibatkan biji terpecah (Susanti, 2015).

2.8 Nut silo

Nut silo sebagai tempat penampungan inti biji kelapa sawit (Nut), hal ini dilakukan untuk mengurangi kadar air sehingga lebih mudah dipecah dan inti lekang dari cangkangnya. Juga sebagai tempat penyimpanan sementara biji sebelum diolah pada proses berikutnya. Bila proses pemecahan biji dengan menggunakan ripple mill maka Nut silo harus dilengkapi dengan sistem pemanasan (Susanti, 2015).

Biji yang yang keluar dari nut polishing drum diangkat ke nut bin atau nut silo untuk dikeringkan. Proses pengeringan dilakukan dengan cara mengalirkan udara panas. Biji yang akan diproses harus kering karena jika kurang kering menyebabkan biji utuh dan biji setengah pecah terbawa pada cangkang.

Pada bagian dalam silo diberi sekat-sekat segitiga horizontal. Tujuan dari penyekatan adalah agar nut didalam Nut Silo mempunyai permukaan yang luas

(37)

23 untuk kontak langsung dengan udara panas, sehingga udara dapat dengan mudah melalui semua permukaan dari nut.

Gambar 6. Nut Silo.

2.9 Ripple Mill

Ripple mill terdiri dari dua bagian yaitu rotating rotor dan stationary plate. rotating rotor terdiri dar 30 batang rotor rood yang tersusun dari 30 batang rotor rood yang terbuat dari high carbon steel yang terdir dua lapisan yaitu 15 batang dipasang dibagian luar dan 15 batang dibagian dalam. Stationary plate terbuat dari carbon steel dengan permukaan bergerigi tajam.

Mekanisme pemecahan biji berbeda dengan nut cracker, yaitu dengan cara menekan biji dengan rotorpada dinding bergerigi dan bisa menyebabkan pecahnya biji. Efesiensi pemecahan biji dipengaruhi oleh kecepatan putaran rotor sebagai resultan gaya, jarak antar rotor dengan plate bergerigi dan ketajaman gerigi-gerigi plate disusun sedemikian rupa sehingga berperan sebagai penahan pemecah.

Biji dari Nut silo masuk ke ripple mill untuk dipecah sehingga inti terpisah dari cangkang. Biji yang masuk melalui rotor akan mengalami gaya sentrifugal sehingga biji keluar dari rotor dan terbanting dengan kuat yang menyebabkan cangkang pecah. Setelah dipecahkan inti yang masih bercampur dengan kotoran- kotoran di bawa ke kernel grading drum.

Efesiensi pemecahan biji oleh ripple mill dapat dipengaruhi oleh : a. Kondisi ripple mill.

Keadaan plate yang bergerigi tumpul dan roda yang bengkok akan menyebabkan pemecahan tidak efektif.

(38)

24 b. Jarak rotor dengan plate bergerigi.

Jarak yang terlalu rapat akan menyebabkan persentase biji yang remuk cukup tinggi jika jarak terlalu renggang maka pemecahan biji menjadi tidak sempurna.

c. Putaran rotor.

Putaran yang terlalu laju akan menghasilkan biji yang hancur dan terlalu rendah yang mengakibatkan banyak biji yang tidak pecah.

d. Bentuk biji.

Ukuran biji yang heterogen, bentuk biji yang lonjong dan gepeng akan meneyebabkan efisiensi pemecahan biji yang rendah.

e. Kekeringan pada nut.

Kekeringan pada nut sangat berpengaruh besar karena nut yang terdiri dari cangkang yang keras sehingga harus dilakukan proses fermentasi untuk mengurai kadar ai. Oleh sebab itu untuk setiap pengguna ripple mill pada setiap pabrik kelapa sawit perlu dilakukan penyesuaian terhadap biji yang diolah.

Gambar 7.Ripple Mill.

(39)

25

III METODOLOGI

3.1 Waktu Dan Tempat

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2017 di PT.HHK Sungai Bila Estate, Desa Pangkalan Muntai, Kec. Sukamara, Kab. Sukamara, Kalimantan Tengah.

3.2 Alat Dan Bahan.

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah lap kasar, timbangan analitik, oven, cawan porselin, besi penumbuk dan mistar.

Bahan yang digunakan kantongan plastik, Nut yang berjenis dura dan tenera.

3.3 Metode Penelitian.

Dalam penelitian ini dilakukan pemberian suhu yang berbeda untuk mendapatkan suhu yang sesuai dengan yang dinginkan. Dalam hal ini pemberian suhu yang dimaksud diatas adalah 100 oC, 125 oC dan 150 oC. Tujuannya adalah untuk mengoptimalkan kinerja dari Ripple Mill.

3.4 Rancangan Percobaan.

Percobaan dilakukan dengan 2 taraf yaitu : 3.4.1 Pemberian Suhu Pada Nut.

Taraf 1 A : Penambahan Suhu A1 : 100 oC

A2 : 125 oC A3 : 150 oC Taraf 2 E : Jenis Nut

B1 : Dura B2 : Tenera

Dengan demikian, perlakuan penelitian sebagai berikut : A1B1 : 100 oC + Nut jenis Dura

A1B2 : 100 oC + Nut jenis Tenera A2B1 : 125 oC + Nut jenis Dura A2B2 : 125 oC + Nut jenis Tenera

(40)

26 A3B1 : 150 oC + Nut jenis Dura

A3B2 : 150 oC + Nut jenis Tenera 3.4.2 Nut jenis Dura

Taraf 1 A : Penambahan Suhu A1 : 100 oC

A2 : 125 oC A3 : 150 oC

Taraf 2 E : Tinggi Penumbukan E1 : 15 cm

E2 : 20 cm E3 : 30 cm

Dengan demikian, perlakuan penelitian sebagai berikut : A1E1 : 100 oC + tinggi penumbukan/pemecahan 15 cm A1E2 : 100 oC + tinggi penumbukan/pemecahan 20 cm A1E3 : 100 oC + tinggi penumbukan/pemecahan 30 cm A2E1 : 125 oC + tinggi penumbukan/pemecahan 15 cm A2E2 : 125 oC + tinggi penumbukan/pemecahan 20 cm A2E3 : 125 oC + tinggi penumbukan/pemecahan 30 cm A3E1 : 150 oC + tinggi penumbukan/pemecahan 15 cm A3E2 : 150 oC + tinggi penumbukan/pemecahan 20 cm A3E3 : 150 oC + tinggi penumbukan/pemecahan 30 cm 3.4.3 Nut Jenis Tenera

Taraf 1 S : Penambahan Suhu S1 : 100 oC

S2 : 125 oC S3 : 150 oC

Taraf 2 M : Tinggi Penumbukan M1 : 10 cm

M2 : 20 cm M3 : 30 cm

Dengan demikian, perlakuan penelitian sebagai berikut :

(41)

27 S1M1 : 100 oC + tinggi penumbukan/pemecahan 15 cm

S1M2 : 100 oC + tinggi penumbukan/pemecahan 20 cm S1M3 : 100 oC + tinggi penumbukan/pemecahan 30 cm S2M1 : 125 oC + tinggi penumbukan/pemecahan 15 cm S2M2 : 125 oC + tinggi penumbukan/pemecahan 20 cm S2M3 : 125 oC + tinggi penumbukan/pemecahan 30 cm S3M1 : 150 oC + tinggi penumbukan/pemecahan 15 cm S3M2 : 150 oC + tinggi penumbukan/pemecahan 20 cm S3M3 : 150 oC + tinggi penumbukan/pemecahan 30 cm 3.5 Parameter Pengamatan

Parameter pengamatan pada penelitian ini adalah Kadar air, kekerasan pada Nut dan mudahnya kernel lepas dari cangkangnya.

3.5.1 Kehilangan Bobot

Pengeringan adalah proses pemindahan uap air karena transfer panas dan massa yang terjadi secara simultan. Laju dari pengeringan dapat dipengaruhi sifat fisik dari bahan,komposisi bahan dan kadar air suatu bahan.

Kehilangan bobot atau berat akibat pemanasan yang dilakukan dalam oven adalah suatu metode pengeringan yang biasa dilakukan untuk mengetahui berapa banyak bobot suatu bahan yang dapat diuapkan.

Adapun rumus yang digunakan dalam menghintung kehilangan suatu bobot akibat pemanasan sebagai berikut :

3.5.2 Kekerasan Pada Nut.

kekerasan nut sangat menjadi penuntu optimalnya kinerja ripple mill karena semakin mudah nut di pecahkan maka semakin baik pula hasil yang dicapai oleh ripple mill, tingginya kadar air yang terkandung pada nut akan

Kehilangan Bobot(%) =Bobot yang Hilang

Bobot Awal x 100 Kehilangan Bobot = Bobot Awal − Bobot Setelah Pemanasan

(42)

28 sangat menjadi penentu, karena salah satu penentu untuk mempermudah pecahnya nut adalah kekeringan nut pada nut silo. Nilai tingkat kekerasan pada nut dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Kreteria penilaian kekerasan nut.

Kreteria Nilai

Sangat mudah pecah 1 - 1,5

Mudah pecah 1,6 - 2,5

Agak mudah pecah 2,6 - 3,5

Susah pecah 3,6 - 4,5

Sangat susah pecah 4,6 - 5

3.5.3 Mudahnya Kernel Lepas Dari Cangkangnya.

Lepasnya kernel dengan mudah dari cangkangya sangat diperlukan dari pengolahan biji selain untuk menghindari pengolahan inti dengan tingkat kotoran yang tinggi juga mencegah kehilangan cangkang yang digunakan sebagai bahan bakar dari pabrik kelapa sawit. Nilai dari lepasnya kernel dari cangkannya dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Kreteria penilaian terhadap kernel dan cangkannya.

Kreteria Nilai

Sangat mudah lekang/lepas 1 - 1,5 Mudah lekang/lepas 1,6 - 2,5 Agak mudah lekang/lepas 2,6 - 3,5 Susah lekang/lepas 3,6 - 4,5 Sangat susah lekang/lepas 4,6 - 5

Gambar

Gambar 1. Kelapa sawit Jenis Dura
Gambar 2. Kelapa sawit Jenis Pesifera  c.  Varietas Tenera
Tabel 1. Kriteria Kematangan Buah Berdasarkan Brondolan.
Gambar 4. Nut
+5

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait