DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
………...…...………….i
DAFTAR ISI
………...…...…….iii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah………...11.2 Pembatasan Masalah...5
1.3 Tujuan Penelitian...5
1.4 Metodologi………...5
1.5 Organisasi Penelitian………...…...7
BAB 2 SUSHI TRADISIONAL DAN MODERN
2.1 Sejarah dari sushi………... 92.2 Simbol-simbol bagi orang Jepang………...…14
2.3 Simbol Bunga Dan Tanaman Bagi Orang Jepang………...…..14
2.4 Simbol Bahan Makanan Bagi Orang Jepang………...……..16
2.5 Simbol Warna Bagi Orang Jepang………...….17
2.6 Simbol Dewa Bagi Orang Jepang………...…..17
2.7 Simbol Angka Bagi Orang Jepang………...…..18
2.8 Simbol Festival Bagi Orang Jepang………...19
2.9 Simbol Ritual Bagi Orang Jepang………...….20
3.0 Simbol Binatang Bagi Orang Jepang...21
3.1.3 Kesucian………...….23
BAB 4 KESIMPULAN
...31SINOPSIS
...33DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang masalah
Kebiasaan makan masyarakat Jepang terkait erat dengan kondisi alam tempat
mereka tinggal. Dengan naiknya pendapatan dan berubahnya gaya hidup,
memberikan efek besar terhadap kebiasaan makan, baik kualitas maupun kuantitas
makanan, serta sikap mereka dalam memilih makanan pun ikut berubah. Dulu
makanan orang Jepang hanya terdiri dari nasi dan ikan, tapi sekarang orang
Jepang lebih banyak makan roti, daging, dan minum susu. Meskipun begitu orang
Jepang sangat menyukai masakan tradisionalnya yang berbahan dasar ikan atau
makanan laut lainnya, sehingga sushi dan sashimi menjadi makanan khas Jepang
yang digemari orang Jepang baik tua maupun muda. Sushi adalah ikan, bisa juga
seafood mentah yang dipotong kecil-kecil dan ditaruh di atas kepalan nasi. Untuk
sushi yang bahan dasarnya udang dan kepiting, biasanya udang dan kepiting
tersebut telah direbus terlebih dahulu.
Sushi yang banyak disajikan di restoran Jepang dan dikenal sebagai makanan
khas Jepang, sebenarnya berasal dari Cina dan masuk ke Jepang sekitar abad ke 7.
berbulan-bulan. Sekitar tahun 1800, seorang koki terkenal bernama Yohei
membuat sushi tanpa melalui proses fermentasi.Dan sushi buatan Yohei inilah
yang dinamakan “Edomaezushi/Nigiri Sushi”,menjadi sushi jenis pertama di
Jepang.Sejak sushi menjadi mudah dan cepat dibuat,sushi dijadikan bisnis di abad
ke 19. Bersamaan dengan itu variasi dari isi, hiasan, bumbu-bumbu, dan cara
pembuatan sushi pun berkembang dengan pesat. Dari bahan-bahan yang sama
dibuat lah berbagai jenis sushi baik yang tradisional maupun yang modern.
Sushi tradisional yang terkenal dan berbeda bentuknya adalah:
1) Edomaezushi, yang sekarang lebih populer dengan nama “Nigiri Sushi”, yaitu
nasi yang dibentuk oval lalu di atasnya diberi daging.
2) Gunkan Maki, ialah nasi yang digulung dengan nori (rumput laut) lalu diisi
dengan bahan-bahan yang lembut atau kecil seperti: telur ikan, natto, dll.
3) Maki Sushi, adalah nasi dan beberapa macam lauk yang dibentuk silinder, lalu
digulung dengan nori (rumput laut).
4) Kappamaki, adalah Makizushi tipis yang digulung bersama dengan ketimun.
Kappamaki diambil dari legenda setan yang bernama Kappa yang sangat
menyukai ketimun.
5) Hosomaki, adalah Makisushi tipis yang digulung hanya dengan 1 jenis lauk
saja.
6) Tekkamaki, adalah Hosomaki yang diisi tuna. “Tekka” adalah kasino Jepang
dengan daging tuna merah. Warna merah dipercayai menyimbolkan kekayaan
dan kesehatan.
7) Inarizushi, adalah kulit tahu goreng yang diisi nasi. Nama Inarizushi diambil
dari legenda dewa Inari yang mempunyai pesuruh seekor rubah, yang di
percaya menyukai tahu goreng.
8) Oshizushi, adalah sushi yang diisi daging lalu dibentuk kotak dengan
menggunakan alat bantu cetakan kayu untuk menggulungnya yang dinamakan
oshibako.
9) Temaki, adalah nori yang diisi nasi dan daging lalu digulung berbentuk
kerucut.
10)Chirashi-zushi, terdiri dari variasi beberapa jenis ikan, telur, dan
sayur-sayuran yang ditata rapi di atas mangkuk yang telah di beri nasi terlebih
dahulu. Atau juga disajikan dengan cara mencampur nasi dan bahan-bahan isi
bersama-sama, seperti salad nasi.
Sedangkan sushi jenis modern yang terkenal adalah:
1 California Roll, adalah nasi digulung di luar, sedangkan nori, daging
kepiting, telur, ikan, dan alpukat digulung di dalamnya
2 Philadelphia Roll, dibuat sama seperti California Roll tapi menggunakan
bahan isi yang berbeda, yaitu salmon, sayuran, dan krim keju.
Setiap jenis sushi menggunakan bahan-bahan yang berbeda, sehingga
makna-makna tertentu. Menurut Edward William Soothill di buku “ A Dictionary
of Chinese Buddhist Terms”, ikan di Jepang menyimbolkan kesehatan,
kesejahteraan, kebahagiaan, dan kebebasan. Di Jepang , ikan Koi menyimbolkan
kehidupan tanpa rasa takut. Warna putih menyimbolkan kemurnian, dan warna
merah menyimbolkan kesehatan. Sedangkan menurut Alan Campbell and noble di
buku Japan: An Illustrated Encyclopedia, telur ikan, menyimbolkan kesuburan.
Dan nori menyimbolkan panjang umur. Sushi juga menjadi trademark Jepang
yang menyimbolkan kultural negara Jepang sebagai negara yang dikelilingi laut.
Informasi tentang manfaat makanan Jepang untuk kesehatan memang
semakin banyak. Menu makanan yang kebanyakan berbahan dasar ikan, atau
makanan laut lainnya semakin sering diikuti untuk mendapatkan manfaat hidup
dengan umur panjang secara sehat. Pengaruh itu pun sampai ke Indonesia, orang
Indonesia menyukai sushi karena bentuknya unik, rasanya enak, dan gurih biarpun
mentah, cara penyajiannya berbeda, selain itu rendah lemak. Begitulah kutipan
tanggapan dari beberapa masyarakat Indonesia mengenai sushi, yang penulis dapat
dari Koran harian Pikiran Rakyat. Penulis sendiri pun menyukai sushi karena
rasanya enak dan juga menyehatkan. Selain itu ikan mentah mengandung
minyak omega 3 yang tinggi, baik untuk menekan kandungan racun dalam tubuh
serta menambah kekebalan tubuh
Karena banyaknya simbol-simbol makna yang terdapat di dalam berbagai
mengenai simbol-simbol dari sushi tradisional dan modern. Penulis pun tidak
menemukan adanya penelitian sebelumnya tentang topik ini.
1.2 Pembatasan masalah
Cakupan dalam penelitian ini cukup banyak dan luas oleh karena itu, maka
penelitian yang penulis lakukan akan difokuskan kepada simbol-simbol makna
yang terkandung dalam warna-warna dari sushi, simbol dari bahan makanan yang
digunakan di dalam sushi tradisional maupun yang modern menurut metode
semiotik.
1.3 Tujuan penelitian
Tujuan yang ingin dicapai penulis dalam penelitian dan penulisan skripsi ini
ialah untuk mengungkapkan simbol-simbol makna dari warna, bahan makanan di
dalam sushi baik yang tradisional maupun yang modern.
1.4 Metodologi
Metode yang digunakan pada penelitian ini ialah metode semiotik
Menurut barthes (1967, 1972) ada dua macam sistem pemaknaan, yaitu:
denotasi dan konotasi. Denotasi merupakan tingkat makna yang deskriptif dan
literal yang dipahami oleh hampir semua anggota suatu kebudayaan. Pada tingkat
yang kedua, yakni konotasi, makna tercipta dengan cara menghubungkan
penanda-penanda dengan aspek kebudayaan yang lebih luas:
keyakinan-keyakinan, sikap, kerangka kerja, dan ideologi-ideologi suatu formasi sosial
tertentu. Makna menjadi permasalahan asosiasi tanda-tanda dengan kode-kode
makna kultural lainnya. Sebagai contoh: binatang “babi”, akan berdenotasi konsep
tentang suatu binatang ternak yang berguna dan warnanya merah muda dengan
moncong dan ekor yang keriting, dst. Tetapi “babi” bisa saja berkonotasi dengan
polisi yang kejam atau dihubungkan dengan keegoisan lelaki, tergantung pada
subkode-subkode yang sedang bekerja.
Dari suatu tanda tertentu makna baru terus tercipta sampai tanda itu menjadi
penuh dengan beragam makna. Ketika konotasi-konotasi mengalami
pengalamiahan sehingga telah diterima sebagai hal yang “normal” dan
“alamiah”, mereka akan berfungsi sebagai peta-peta makna yang menunjukkan
bagaimana memahami dunia. Konotasi-konotasi inilah yang di sebut dengan
mitos. Meski mitos merupakan konstruksi sosial, mereka tampak seperti
kebenaran-kebenaran universal yang tertanam dalam nalar sehari-hari. demikian,
mitos mirip dengan konsep ideologi1
yang konon, bekerja pada tingkat konotasi.
Menurut Barthes, mitos dan ideologi bekerja dengan cara mengalamiahkan
penafsiran-penafsiran yang sebenarnya bersifat sementara atau tidak tetap dan
secara historis bersifat spesifik. Artinya, mitos membuat pandangan dunia tertentu
seolah-olah menjadi tidak mungkin ditentang karena memang itulah yang alami
atau memang itulah takdir Tuhan. “Mitos bertugas untuk memberikan
pembenaran alamiah pada suatu histories, dan membuat kesementaraan seolah
abadi” (Barthes, 1972 : 155)
Dalam karya-karya Barthes yang lebih baru, tanda tidak hanya memiliki satu
makna denotatif yang stabil, melainkan bersifat polisemis. Artinya tanda
mengandung banyak makna potensial. Dengan demikian, semua teks bisa
ditafsirkan dengan beberapa cara yang berbeda. Pemaknaan membutuhkan
keterlibatan aktif pembaca dan pengetahuan kultural yang mereka gunakan dalam
pembacaan Dengan demikian, penafsiran teks tergantung pada teks-gambar agar
bisa, untuk sementara waktu, “memastikan” makna demi kepentingan tertentu.
pemahaman kultural pembaca serta pengetahuan mereka tentang kode-kode sosial,
yang tergantung pada kelas, kebangsaan,dll.
Kesimpulannya, tanda di definisikan sebagai sesuatu yang dapat digunakan
untuk memaknai sesuatu yang lain. Dari suatu tanda tertentu, makna baru
terus tercipta sampai menjadi penuh dengan beragam makna Menurut Barthes
ada 2 macam sistem pemaknaan, yaitu denotasi dan konotasi. Denotasi adalah
dan konotasi adalah, makna yang tercipta dengan cara menghubungkan
tanda-tanda dengan aspek kebudayaan. Konotasi ini disebut sebagai mitos, yang tampak
seperti kebenaran universal, yang tertanam dalam nalar sehari-hari, dan membuat
pandangan dunia tertentu seolah-olah menjadi tidak mungkin ditentang karena
memang itu lah yang alami.
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, semiotik disebut sebagai ilmu
yang berhubungan dengan tanda (dalam bahasa, kode morse, dsb). Sedangkan
menurut Ensiklopedia Indonesia, semiotik adalah penyelidikan tentang
lambang-lambang, penggunaannya, dan bagaimana cara lambang-lambang itu digunakan.
1.5 Organisasi penelitian
Berdasarkan sistematika, penulisan di dalam skripsi ini dibagi ke dalam 4
bab, yaitu: Bab pertama berisi latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan
penelitian, metodologi, dan organisasi penulisan.
Pada bab kedua diperkenalkan jenis-jenis sushi tradisional dan sushi modern
yang di dalamnya mencakup sejarah dari sushi, teori tentang simbol dalam
kepercayaan masyarakat Jepang, simbol bunga dan tanaman bagi orang Jepang,
simbol dari bahan makanan bagi orang Jepang, simbol warna bagi orang Jepang,
simbol dari dewa bagi orang Jepang,simbol angka bagi orang Jepang, simbol
festival bagi orang Jepang, simbol ritual bagi orang Jepang, serta simbol binatang
Pada bab ketiga akan dibahas arti warna dari sushi tradisional dan sushi
modern menurut metode semiotik, dan arti dari bermacam-macam bahan makanan
yang berbeda dalam sushi menurut metode semiotik. Sedangkan pada bab
keempat berisi kesimpulan yang ditarik dari pembahasan bab tiga.
Penulis memilih organisasi penelitian seperti ini dengan maksud agar
pembaca memahami alur pikiran penulis di penelitian ini dengan mudah.
1. ー
寿
含
象徴
析一記
論
ーチ
通
ー
序論
日本人 食生活 彼 住居 自然 状況 関わ い
あ 日本人 魚及び他 海 材料 伝統的 食物 執着
う あ 外 老若男女 好 寿 あ 寿
中国 食物 七世紀頃 入 あ 当時 寿 御飯 中 数
ヶ 保 作 い あ 年頃 いう コ
ーク 発酵処理 寿 作 あ 寿 江戸前寿
寿 呼 い
寿 速 簡単 作 う 世紀 入
商品化 あ 商品化
現 あ 伝統的 あ 現代 あ あ
寿 象徴 あ 言わ 本論文 寿 い
ペー
本論
寿 日本 独特 食物 あ 酢 飯 魚 肉 野
菜 卵 混 あ 寿 中国 食物 あ 七世紀頃 日
本 入 あ 当時 寿 飯 塩 混 魚 発酵
ヶ 年保 作 あ う 方
発酵因 飯 捨 魚 食 いう あ
う 寿 寿 いう 室町時代 半酢
食物 発酵 使わ い 人々 発酵処理 寿
作 無駄 多い 使え い あ 現代 飯
捨 食 う 人々 工夫 始 あ 後 発酵時期
一ヶ 短 魚 方 半享 飯 食 う
あ う 寿 生 寿 いう
年 ヤ いう コーク 発酵 寿
作 扱 人 好 あ 彼 作 寿
ペー
江戸前寿 あ い 寿 いう 世紀 ビ ネ 界 仲間入
あ 二火 伝統的 寿 現代 寿 代表的 並
伝統的 寿
寿 楕円形 飯 一 魚 載
.軍艦巻 海苔 巻 い 飯 端 あ い 納豆 載
巻 寿 飯 ゅう ,卵焼 ,魚 混 海苔 巻い
河童巻 飯 ゅう 海苔 巻い
稲荷寿 野菜 混 飯 豆腐 巻い
手巻 寿 飯 中 魚 入 海苔 角形 巻い
現代 寿
寿 飯 魚 野菜 一緒 混
ペー
フ デ フ . ー 鮭 野菜 チー . ク ーム 飯 海苔 巻
い
寿 材料 使わ い 象徴 表 い
例え び 子 米 肥沃 表 い あ 伝統的 寿
長生 竹 象徴 い 一方 現代 寿 長生 菊
海老 象徴 い
伝統的 寿 幸福 表 ぶ 魚 五 いう数 使い
現代 寿 ぼ 赤い 白い 金色 使う 盛 稲荷 いう神
龍 五 いう数 表 伝統的 寿 幸運 鯛 龍 いう象徴 使い
現代 寿 七 八 五 いう数 使う
昔 健康 象徴 黒豆 代表的 い 現代
魚 赤い色 ン 色 代わ い
ペー
結論
寿 含 象徴 研究 結論 伝統的 寿 現代 寿
含 象徴 意 あ いう わ あ 伝統的 寿
含 象徴 日本人 実際 信 伝統的 寿 含
象徴 現代 寿 使 わ い あ 現代
DAFTAR PUSTAKA
Anderson, Jennifer. 1991. “Japanese Tea Ritual:Religion in Practice”. New
York:State University of New York
Barber, Kimiko; Takemura, Hiroki. 2002. The Encyclopedia of Sushi Rolls.
Graph-sha
Barker, Chris. Cultural Studies. PT. Bentang
Barthes, Roland. 1967. Elements of Semiology (translated. Annette Lavers and
Colin Smith). London: Jonathan Cape
Barthes, Roland. 1970. Empire of Signs. London:Jonathan Cape
Berger, Arthur Asa. 2005. Tanda-tanda dalam Kebudayaan Kontemporer.
Yogya:Tiara Wacana
Campbell, Alan and Noble, S. David.1995. Japan:An Illustrated Encyclopedia.
Tokyo: Kodansha
Chandler, Daniel. 2002. Semiotics:The Basics. London:Routledge
Chandra.T. Kamus Indonesia-Jepang. Jakarta: Kursus Bahasa Jepang Evergreen.
Http://www.asian art.com
Http://www.Genkisushi.com.
Http://www.inari-art.com/rel myth x.htm
John M, Echols dan Shadilly, Hassan. Kamus Inggris Indonesia. Jakarta:PT.
Gramedia
Kawasumi, Ken. 2001. The Encyclopedia of Sushi Rolls. Graph-sha
---.1982. Kamus Linguistik. Jakarta: PT. Gramedia
Koran Harian Umum Pikiran Rakyat Hari Sabtu, 2 Desember 2006.Bandung.
Lis, Hs. Maru. Kamus Dengan Ungkapan Sehari-hari. Jakarta: PT. Tri Monusta
Utama
Matsuura, Kenji. 1994. Kamus Bahasa Jepang-Indonesia. Kyoto: Kyoto Sangyo
University Press
Moriyama, Yukiko. Sushi Cook Book. Graph-sha
Nelson, Andrew.N. 2002. Kamus Kanji Modern Jepang Indonesia. PT. Kesaint
Blanc Indah Corp
Nozaki, Kiyoshi. 1961. Japan’s Fox of Mystery, Romance, and Humor.
Hokuseido Press
Peterson, Coral. 2006. Kawaii Culture: The Language of Flowers. Tokyo Pop
Poerwadarminta. W.J.S. 1983. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: PT.Balai
Pustaka
Soothill, Edward William. 2004. A Dictionary of Chinese Buddhist Terms.
Graph-sha
Suzuki, D.T. 1959. Zen and Japanese Culture. Princeton, NJ:Princeton University
Press
Wells, D. 1987. The Penguin Dictionary of Curious and Interesting Numbers.