• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERILAKU PROSOSIAL DALAM NOVEL THE FABULOUS UDIN KARYA RONS IMAWAN SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PERILAKU PROSOSIAL DALAM NOVEL THE FABULOUS UDIN KARYA RONS IMAWAN SKRIPSI"

Copied!
70
0
0

Teks penuh

(1)

i

PERILAKU PROSOSIAL DALAM NOVEL THE FABULOUS UDIN KARYA RONS IMAWAN

SKRIPSI

Oleh:

Rayhan Shafira 170701092

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2021

(2)

ii

(3)

i

(4)

i

PERNYATAAN

PERILAKU PROSOSIAL DALAM NOVEL THE FABULOUS UDIN KARYA RONS IMAWAN

OLEH

RAYHAN SHAFIRA 170701092

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi ini benar-benar karya saya sendiri. Sepanjang pengetahuan saya tidak terdapat karya yang ditulis atau diterbitkan orang lain kecuali sebagai acuan atau kutipan dengan mengikuti tata penulisan karya ilmiah yang lazim. Apabila pernyataan yang saya perbuat ini tidak benar, saya bersedia menerima sanksi berupa pembatalan gelar kesarjanaan yang saya peroleh.

Medan, Desember 2021 Penulis,

Rayhan Shafira 170701038

(5)

ii

(6)

iii

PERILAKU PROSOSIAL DALAM NOVEL THE FABULOUS UDIN KARYA RONS IMAWAN

OLEH

RAYHAN SHAFIRA

ABSTRAK

Novel The Fabulous Udin karya Rons Imawan menceritakan tentang sosok Udin, remaja cerdas yang senang membantu orang dan mampu menyelesaikan berbagai masalah dan kisah percintaannya dengan Suri, gadis remaja dengan mengidap kanker. Pada novel The Fabulous Udin ditemukan aspek-aspek perilaku prososial.

Perilaku prososial merupakan perilaku menolong orang lain tanpa mengharapkan sesuatu atau imbalan. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan tahapan penelitian membaca keseluruhan isi novel, pengelompokan data, kemudian analisis dan penafsiran data. Pada hasil penelitian ini terdapat tujuh aspek perilaku prososial yaitu: 1) Berbagi, 2) Kerjasama, 3) Menolong, 4) Bertindak jujur, 5) Berdermawan, 6) Persahabatan, 7) Pengorbanan.

Kata kunci: Novel, perilaku prososial, psikologi sosial.

(7)

iv

PRAKATA

Puji syukur tiada hentinya peneliti ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan serta menganugerahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul "Perilaku Prososial Dalam Novel The Fabulous Udin Karya Ronsawan”. Ada pun skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk memeroleh gelar sarjana sastra di Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.

Dalam proses penyelesaian skripsi ini, peneliti banyak menerima bantuan, bimbingan, arahan, dan saran-saran dari berbagai pihak. Oleh karena itu, peneliti mengucapkan rasa hormat dan terima kasih kepada:

1. Rektor Universitas Sumatera Utara Dr. Muriyanto Amin, S.Sos., M.Si. serta segenap wakil rektor beserta jajarannya yang telah menyediakan segala fasilitas, sarana, dan prasarana selama penulis mengenyam dan menempuh pendidikan di Universitas Sumatera Utara.

2. Dr. Dra. T. Thyrhaya Zein, MA. sebagai Dekan Fakultas Ilmu Budaya serta segenap Wakil Dekan beserta jajarannya yang turut mendukung, memotivasi, serta menyediakan segala sarana dan prasarana di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

3. Dr. Dwi Widayati M. Hum sebagai Ketua Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya dan Ibu Dra. Nurhayati Harahap, M. Hum sebagai Sekretaris Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya.

4. Dr. Drs. Hariadi Susilo, M.Si, sebagai pembimbing atas kesediaan dan kesabarannya dalam memberikan bimbingan, saran, evaluasi yang

(8)

v

membangun ilmu, dan motivasi serta keluangan waktu selama proses penulisan skripsi.

5. Drs. Haris Sutan Lubis, M.SP. dan Ibu Emma Marsella, S.S., M.Si. atas masukan serta saran yang membangun untuk penyempurnaan pada skripsi ini.

6. Seluruh Dosen dan Staf Pengajar Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya, yang selalu memberi dukungan, ilmu, penanaman nilai-nilai universal, dan nasihat kepada penulis selama mengenyam pendidikan di Program Studi Sastra Indonesia.

7. Bapak Joko Santoso, A.Md. yang begitu sabar dan piawai dalam mempermudah administrasi dan sirkulasi prosedur akademik selama penulis mengenyam pendidikan di Program Studi Sastra Indonesia.

8. Kepada yang tersayang kedua orangtua peneliti, Ir.Bambang Yusuf dan Nurhidayati Lubis, SH. yang telah membesarkan peneliti dengan limpahan kasih dan sayang, dukungan, doa, kesabaran yang tiada henti dalam mendidik peneliti dan memberikan segala hal yang dibutuhkan peneliti sampai dapat menyelesaikan pendidikan sarjana seperti yang diharapkan.

9. Adik-adik yang tersayang, Qeisha Amaliah Phynasthika, Ahmad Giffar Omari, Shabina Nurul Ihsaniah, Athaya Dhiya‟ul Hiqqa, Aufa Nazmi Nabilia yang telah memberikan dukungan berupa motivasi dan semangat kepada peneliti selama menyelesaikan skripsi ini.

10. Sahabat tersayang Mutiara Ramadhani yang jauh di mata namun dekat di hati yang selama ini selalu berusaha ada untuk menemani dan memberikan nasihat, semangat serta dukungan kepada peneliti dalam menjalani pahit manisnya kehidupan.

(9)

vi

11. Teman-teman seperjuangan stambuk 2017 khususnya kepada Tengku Maharani, Lliyyin Austi Br. Ginting, Dinda Agkristy Julianti Aritonang dan Meidini Wardah Lesmana yang telah menemani hari-hari peneliti dengan penuh canda, tawa dan juga emosi dari awal perkuliahan hingga selesai dan memberikan banyak dukungan berupa saran, kritik, motivasi, serta semangat baik dalam keadaan suka maupun duka.

12. Teman-teman SMA yang terbentuk menjadi grup HTW khususnya Utami Putri Andari, Annisa Widya Utami, Priskilla Monica, Sischa Ramadhani, Safira Nurul Sakinah yang telah membawa peneliti pada hal-hal yang menyenangkan sehingga peneliti tidak stress dan bersedih ketika melanjutkan skripsi disaat patah hati.

13. Teman-teman musik, terutama Hery Ramadhani, M. Ariq Luthfi Siregar, Adli Widodo, Tengku Habib Ihza Husny yang tidak hanya mengiringi musik ketika peneliti bernyanyi tetapi juga menemani, mendengarkan keluh kesah peneliti dan memberikan banyak informasi dan pengetahuan yang berguna bagi peneliti.

14. Seluruh keluarga besar Universitas Sumatera Utara dan seluruh pihak yang telah membantu secara langsung maupun tidak langsung selama peneliti mengenyam pendidikan di kampus tercinta.

15. Terakhir peneliti ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada diri sendiri yang telah berusaha keras dan tetap kuat melewati berbagai macam masalah, cobaan dan rintangan serta mau belajar banyak hal untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

(10)

vii

Akhir kata, peneliti berharap skripsi ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan pembaca mengenai "Perilaku Prososial Dalam Novel The Fabulous Udin Karya Rons Imawan". Peneliti juga menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kata sempurna, maka peneliti sangat membutuhkan saran dan juga kritik yang membangun.

Medan, 10 Desember 2021

Rayhan Shafira

(11)

viii DAFTAR ISI

PERSETUJUAN………...i

LEMBAR PENGESAHAN………...………...…………...ii

LEMBAR PERNYATAAN ………...………...…….iii

ABSTRAK …………..………...iv

PRAKATA …………..………v

DAFTAR ISI ………..………...……….ix

BAB I PENDAHULUAN ……...…….………...……...1

1.1 Latar Belakang ..………..………...1

1.2 Batasan Masalah..………..……….………...………4

1.3 Rumusan Masalah ...………...…..……...………4

1.4 Tujuan Penelitian .………...……...………...…...4

1.5 Manfaat Penelitian …………..…...………….………..5

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA…..…....6

2.1 Konsep ………... ...………6

2.1.1 Perilaku...….………..…………...………...6

2.1.2 Perilaku Prososial.…...………...…………..………...…….7

2.1.3 Novel………..…...……….7

2.2 Landasan Teori …………...………...8

2.2.1 Pendekatan Psikologi Sosial ...………..………9

2.2.2 Perilaku Prososial ..………...………..……….10

2.2.3 Aspek – Aspek Perilaku Prososial.………..……....12

2.3 Tinjauan Pustaka..………...…………...…………....15

BAB III METODE PENELITIAN.……….………..……….20

3.1 Metode Penelitian ………..………..20

3.2 Sumber Data….………...………...………..21

3.3 Teknik Pengumpulan Data....………...…………...….23

3.4 Teknik Analisis Data….………..………...24

BAB IV PERILAKU PROSOSIAL DALAM NOVEL THE FABULOUS UDIN KARYA RONS IMAWAN……….………..……….26

4.1 Berbagi ……….………..……..………..….26

(12)

ix

4.2 Kerjasama………....…....29

4.3 Menolong………..……...………...….32

4.4 Bertindak jujur………..………...35

4.5 Berdermawan………...………….…..….37

4.6 Persahabatan……….………...………….39

4.7 Pengorbanan………...…………..41

BAB V SIMPULAN DAN SARAN…..…….……….….……...44

5.1 Simpulan.………..………...…...….44

5.2 Saran ..…..……….………...……46

DAFTAR PUSTAKA………..……...……….……..47

LAMPIRAN ………...…...50

1 Sinopsis ………..…….………...………..….………..50

2 Unsur Intrinsik………...………..…………...53

(13)

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Sastra merupakan sebuah karya seni yang dihasilkan melalui ungkapan ekpresi dan imajinasi manusia yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Tulisan dalam sebuah karya sastra tidak hanya dirangkai sedemikian rupa menjadi tulisan yang memiliki keindahan tetapi juga dapat dimengerti. Pemakaian kata sastra atau literature sering kali mengacu pada segala sesuatu yang tertulis seperti yang dikatakan oleh Wellek dan Werren (2014:12), sastra merupakan segala sesuatu yang tertulis atau tercetak. Untuk dapat melihat dan mengabadikan sebuah karya sastra salah satunya adalah dengan dibuat ke dalam bentuk buku atau lembaran-lembaran yang berisikan tulisan-tulisan yang menggambarkan sebuah karya sastra.

Karya sastra memiliki beberapa jenis, antara lain yaitu; prosa, puisi dan drama.

Prosa merupakan salah satu jenis karya sastra berupa tulisan karangan bebas yang menjabarkan sebuah cerita mengenai kehidupan atau seseorang yang penulisannya tidak terikat dengan aturan penulisan seperti rima, diksi, ataupun irama. Salah satu bentuk prosa yang paling populer dan banyak diminati yaitu novel. Novel merupakan sebuah buku mengenai karya sastra yang berbentuk tulisan panjang yang menjabarkan rangkaian cerita tentang kehidupan atau peristiwa mengenai seseorang.

Hal-hal yang tertulis dalam prosa, baik itu dalam novel, roman atau pun puisi pada hakikatnya merupakan cerminan kehidupan yang pernah terjadi dan ada di sekitar masyarakat, namun permasalahan dan konflik yang terjadi tidak diungkapkan sebagaimana adanya. Pada umumnya pengarang akan menggambarkan suatu bentuk kondisi atau permasalahan mengenai kehidupan yang hampir sama persis terjadi di sekitarnya.

Penggambaran cerita dalam karya sastra disesuaikan dengan daya imajinasi, kreativitas

(14)

2

serta pengalaman pengarang dalam mengungkapkannya, sebab ruang lingkup sastra sangat luas sehingga para pengarang leluasa dalam mengungkapkan beberapa kemungkinan sekalipun tidak masuk akal dan tidak mungkin terjadi dalam dunia nyata.

Karya sastra erat kaitannya dengan psikologi dan sosial. Kedua ilmu ini tidak lepas dalam gambaran kehidupan yang disajikan dalam sebuah karya sastra. Karya sastra akan terasa hidup jika di dalamnya terdapat kejiwaan yang mampu membangkitkan berbagai macam emosi yang dapat dirasakan oleh para pembacanya. Ada pun ilmu sosial dalam karya sastra adalah untuk menghidupkan gambaran jalan cerita yang terdapat pada karya tersebut sehingga membuatnya terasa nyata dan seolah-olah memang ada dan pernah terjadi di lingkungan para pembaca. Kedua ilmu ini bergabung menjadi sub interdisiplin ilmu yang mempelajari kejiwaan seseorang dalam berinteraksi atau bersosialisasi.

Salah satu bentuk psikologi sosial yang dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari baik itu pada diri sendiri maupun masyarakat adalah perilaku prososial. Perilaku prososial atau altruisme adalah hasrat untuk menolong orang lain tanpa memikirkan kepentingan sendiri (Myers dalam Sarwono, 2002:328). Tindakan ini didasari oleh perasaan sadar dan iba terhadap seseorang sehingga muncul rasa ingin menolong orang tersebut keluar dari kesulitannya tanpa mengharapkan sesuatu berupa imbalan atau yang lainnya. Perilaku prososial dapat dikatakan sebagai perilaku terpuji dalam bermasyarakat. Jika seseorang memiliki perilaku prososial dan sering melakukannya dalam berbagai kesempatan maka seseorang tersebut akan dikenal. Ada pun jenis-jenis dari perilaku prososial yang paling umum dilakukan adalah berbagi, kerjasama, menolong, bertindak jujur, berdermawan.

Salah satu novel yang di dalamnya terdapat perilaku prososial adalah novel The Fabulous Udin karya Rons Imawan. Rons Imawan atau yang biasa akrab disapa Onyol adalah penulis yang sukses mencetak empat buku karangannya yaitu; Truth or Dare, The

(15)

3

Fabulous Udin, Wow Konyol, dan Perfect Mistakes. Novel The Fabulous Udin, karya

Onyol diterbitkan Bentang Pustaka awal tahun 2013. Novel ini juga sudah diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama.

Novel The Fabulous Udin mengisahkan tentang seorang anak remaja belia bernama Udin yang dikenal memiliki kecerdasan luar biasa. Udin hanya hidup berdua bersama Ibunya, yang berprofesi sebagai tukang jahit. Ayahnya sudah lama meninggal ketika ia masih kecil. Walaupun kehidupannya jauh dari kemewahan, ia tidak pernah mengeluh.

Sosok remaja seperti Udin yang digambarkan dalam novel ini sangat luar biasa karena ia tidak seperti kebanyakan remaja pada umumnya. Ia merupakan remaja yang memiliki banyak akal dalam memecahkan masalah. Ketika seseorang menghadapi masalah, ia datang membantu dengan memberikan solusi yang cerdas, dimana hal itu tentu tidak mungkin terpikir di usianya yang sangat muda. Selain itu ia juga termasuk remaja yang berani mengambil resiko untuk menolong orang yang tertindas tanpa mengharapkan apapun. Tingkah lakunya selalu membuat orang di sekitarnya takjub dan mengenalnya, tak terkecuali Suri, anak kota yang menjadi murid baru di sekolahnya. Suri dijuluki miss sayembara. Setiap minggu ia selalu mengadakan sayembara dengan hadiah-hadiah berbeda kepada teman-temannya, hal ini ia lakukan karena ia suka mewujudkan mimpi orang lain.

Suri merasa bahwa hidupnya tidak lama lagi karena penyakit kanker yang diidapnya semakin membuatnya lemah. Ia merasa dirinya tidak memiliki banyak kesempatan untuk dapat mewujudkan mimpi-mimpinya sendiri walaupun ia mampu. Maka sebelum ia meninggal, ia ingin mewujudkan mimpi-mimpi orang yang bisa dia wujudkan. Namun saat bersama Udin dan teman-temannya, Suri merasakan hal yang berbeda, ia menemukan pengalaman yang menyenangkan serta merasakan indahnya jatuh cinta dengan Udin.

(16)

4

Berdasarkan uraian di atas peneliti akhirnya tertarik untuk menganalisis perilaku prososial kajian psikologi sosial pada novel The Fabulous Udin Karya Rons Imawan.

Peneliti melihat dalam novel ini terdapat perilaku prososial yang dilakukan oleh para tokoh yang berperan di dalamnya. Aspek-aspek perilaku prososial dalam penelitian ini meliputi berbagi, kerjasama, menolong, bertindak jujur, berdermawan, persahabatan dan pengorbanan.

1.2 Batasan Masalah

Berdasarkan uraian yang dikemukakan dalam latar belakang masalah diatas maka peneliti akan membatasi masalah hanya pada aspek-aspek perilaku prososial, yaitu;

berbagi, kerjasama, menolong, bertindak jujur, berdermawan, persahabatan dan pengorbanan dalam novel The Fabulous Udin.

1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang serta batasan masalah di atas, ada pun rumusan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut yaitu: Apa sajakah aspek-aspek perilaku prososial dalam novel The Fabulous Udin karya Rons Imawan?

1.4 Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang ada di atas maka yang menjadi tujuan dalam penelitian The Fabulous Udin karya Rons Imawan adalah mendeskripsikan aspek-aspek perilaku prososial dalam novel The Fabulous Udin karya Rons Imawan.

(17)

5 1.5 Manfaat Penelitian

Ada pun manfaat yang didapat dalam penelitian perilaku prososial dalam novel The Fabulous Udin karya Rons Imawan:

1.5.1 Manfaat Teoritis

Manfaat yang dapat diperoleh secara teoritis dalam penelitian ini adalah:

1) Hasil penelitian dapat menjadi tinjauan dalam memahami perilaku prososial yang terdapat di dalam novel The Fabulous Udin karya Rons Imawan.

2) Hasil penelitian ini dapat menjadi masukkan pemikiran pada ranah kesusastraan dengan perspektif psikologi sosial yang merujuk pada perilaku prososial dalam novel The Fabulous Udin karya Rons Imawan.

3) Hasil penelitian ini dapat menjadi masukkan untuk perkembangan terhadap penelitian selanjut pada novel The Fabulous Udin karya Rons Imawan.

1.5.2 Manfaat Praktis

Manfaat praktis yang dapat diperoleh dalam penelitian ini adalah:

1) Memperkaya wawasan dan khasanah penelitian dalam bidang kesusastraan.

2) Penelitian ini dapat menjadi bahan referensi bagi penelitian selanjutnya, baik dalam kajian psikologi sosial sastra maupun pendekatan lainnya.

3) Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu pembaca memahami apa yang terkandung dalam novel The Fabulous Udin karya Rons Imawan terkait perilaku prososial.

(18)

6 BAB II

KONSEP, LANDASAN TEORI DAN TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep

Konsep merupakan unsur terpenting dalam sebuah penelitian. Menurut Siyoto &

Sodik (2015:45) konsep merupakan suatu istilah dan definisi yang digunakan untuk menggambarkan secara abstrak kejadian, keadaan, kelompok atau individu yang menjadi pusat perhatian ilmu sosial. Ada pun beberapa konsep yang digunakan dalam penelitian ini, sebagai berikut:

2.1.1 Perilaku

Walgito (2003:15) mengemukakan pendapatnya bahwa perilaku atau aktivitas – aktivitas dalam pengertian luas yaitu adanya bentuk perilaku yang tampak (overt behaviour) dan perilaku yang tidak tampak (innert behaviour). Perilaku yang tampak

merupakan aktivitas yang dilakukan individu secara nyata sehingga dapat disaksikan oleh mata seperti bekerja, memarahi seseorang, membantu seseorang, sedangkan perilaku yang tidak tampak adalah aktivitas yang dilakukan invidu yang tidak dapat disaksikan oleh mata namun hanya dapat dirasakan oleh invidu yang melakukannya saja, seperti berpikir, merasakan emosi baik itu sedih atau pun senang. Aktivitas-aktivitas tersebut melibatkan aktivitas motorik yang juga termasuk aktivitas emosional dan kognitif.

Walgito (2003:15) juga menambahkan pendapat dari pandangan yang bersifat behavioristis bahwa perilaku sebagai respon terhadap stimulus, hal tersebut sangat ditentukan oleh bagaimana keadaan stimulusnya dan individu atau organisme yang seakan

(19)

7

– akan tidak memiliki kemampuan untuk menentukan perilakunya. Hal ini membuat hubungan stimulus dan respon seakan – akan bersifat mekanistis.

Menurut Skinner (dalam Rachmawati, 2019:19) perilaku adalah respon atau reaksi seseorang terhadap suatu rangsangan dari luar. Berdasarkan bentuk respons terhadap stimulus, Skinner membagi dua bentuk perilaku yaitu:

a. Perilaku Tertutup (Covert Behavior)

Perilaku tertutup terjadi apabila respon dari suatu stimulus belum dapat diamati oleh orang lain secara jelas. Respon seseorang terhadap stimulus ini masih terbatas pada bentuk sikap perhatian, perasaan, persepsi, pengetahuan dan sikap terhadap stimulus tersebut.

b. Perilaku Terbuka (Overt Behavior)

Perilaku terbuka adalah perilaku yang apabila respon terhadap suatu stimulus dapat diamati oleh orang lain. Respon terhadap stimulus tersebut merupakan suatu tindakan atau praktik yang jelas dan dapat dengan mudah diamati oleh orang lain.

2.1.2 Perilaku Prososial

Menurut Baron dan Byrne (dalam Mulyadi, dkk. 2016:43) perilaku prososial merupakan perilaku yang memiliki tujuan untuk menguntungkan orang lain. Perilaku ini disebut sebagai perilaku tolong menolong yang dilakukan tanpa memikirkan keuntungan yang didapat setelah memberikan pertolongan kepada orang lain. Dengan kata lain perilaku ini adalah tindakan yang dilakukan tanpa pamrih.

2.1.3 Novel

Menurut Nurgiyantoro (2010:9-10) novel berasal dari kata novella, yang dalam bahasa Jerman disebut novelle dan novel dalam bahasa Inggris, dan kemudian masuk ke

(20)

8

Indonesia. Secara harfiah novella berarti sebuah barang baru yang kecil, yang kemudian diartikan sebagai cerita pendek yang berbentuk prosa. Novel juga diartikan sebagai suatu karangan yang berbentuk prosa yang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang-orang di sekelilingnya yang menonjolkan watak dan sifat.

Menurut R.J. Rees (dalam Azis & Hasim, 2010) novel adalah sebuah cerita fiksi dalam bentuk prosa yang cukup panjang, yang tokoh dan perilakunya merupakan cerminan dari kehidupan nyata, dan digambarkan dalam suatu plot yang cukup kompleks. Selaras dengan pendapat Eric Reader (1987:6) bahwa novel adalah cerita fiksi dalam bentuk prosa dengan panjang kurang lebih satu volume yang menggambarkan tokoh-tokoh dan perilaku yang merupakan cerminan kehidupan nyata dalam plot yang berkesinambungan.

2.2. Landasan Teori

Menurut Siyoto dan Sodik (2015:45) landasan teori diibaratkan sebuah pisau untuk yang menjadi alat untuk mengupas masalah yang terjadi dalam sebuah penelitian, maka untuk dapat mengupas masalah dengan tepat perlu digunakan teori-teori yang tepat. Ada pun beberapa teori yang relevan yang menjadi landasan pada penelitian ini, sebagai berikut:

2.2.1 Pendekatan Psikologi Sosial

Psikologi dan sosiologi merupakan dua cabang ilmu pengetahuan yang objeknya adalah manusia. Pada ilmu psikologi manusia ditinjau dari kejiwaannya yang didorong oleh motif tertentu sehingga memunculkan suatu perilaku atau perbuatan. Sedangkan sosiologi objek kajiannya adalah kehidupan manusia dalam lingkungan masyarakat. Hasil penggabungan kedua cabang ilmu ini menghasilkan pendekatan baru untuk meneliti

(21)

9

manusia. Objek kajian dalam psikologi sosial adalah interaksi dan perilaku manusia pada lingkungan masyarakat yang melibatkan kejiwaan atau emosi.

Secara etimologi, psikologi berasal dari bahasa yunani “psyche” yang artinya jiwa, dan “logos” yang berarti ilmu pengetahuan. Sedangkan kata sosial berasal dari bahasa latin

“socius” yang berarti teman, kawan, sahabat.

Secara terminologi, psikologi adalah ilmu tentang perilaku. Sedangkan sosial adalah interaksi individu atau interaksi individu atau antar kelompok dalam masyarakat.

Secara keseluruhan, psikologi sosial adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku individu dalam konteks situasi sosial atau dalam kehidupan bermasyarakat (Hermawan, dkk. 2020:15-16).

Menurut Allport, dalam (Hermawan, dkk. 2020:16) psikologi sosial adalah suatu upaya untuk memahami dan menjelaskan bagaimana pikiran, perasaan, dan perilaku individu terpengaruh oleh kehadiran orang lain.

Menurut Baron dan Byrne (2006), psikologi sosial adalah suatu bidang ilmu yang mencari pemahaman mengenai asal mula dan penyebab terjadinya pikiran dan perilaku individu dalam situasi - situasi sosial. Defenisi ini menekankan pada terjadinya reaksi perilaku dan pikiran dalam kondisi tertentu di suatu masyarakat atau ketika individu dihadapkan pada persoalan yang ada di lingkungan masyarakat.

Ada pun tujuan psikologi sosial yang dikemukakan oleh Arifin (2015: 29) yaitu sebagai berikut:

a. Secara teoritis, psikologi sosial merupakan ilmu yang bertujuan untuk memahami tingkah laku sosial, mengendalikan tingkah laku sosial, dan memprediksi tingkah laku sosial.

(22)

10

b. Secara praktis, psikologis sosial bertujuan untuk memecahkan masalah sosial, seperti konflik, prasangka, ketegangan sosial, kesukuan, dan diskriminasi.

Psikologi sosial memberikan sebuah pencerahan mengenai bagaimana cara berpikir manusia berfungsi dan memperkaya jiwa masyarakat. Melalui berbagai penelitian yang dilakukan secara sistematis oleh para psikolog sosial menunjukkan bahwa untuk dapat memahami perilaku manusia, kita harus mengenali peranan situasi, permasalahan dan budaya setempat.

2.2.2 Perilaku Prososial

Manusia merupakan makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat hidup sendirian, setinggi apapun kemandirian dalam diri manusia manusia pasti akan membutuhkan satu sama lain untuk keberlangsungan hidupnya, maka manusia dituntut untuk dapat berinteraksi dengan sesama dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam bermasyarakat atau bersosial dibutuhkan rasa saling mengasihi dan menghargai termasuk sikap tolong menolong. Hal ini memunculkan bentuk perilaku prososial dalam diri seseorang.

Menurut Asih dan Pratiwi (2010:1), perilaku prososial merupakan salah satu bentuk perilaku yang muncul dalam kontak sosial, sehingga perilaku prososial merupakan tindakan yang dilakukan untuk menolong orang lain tanpa memperdulikan latar belakang si penolong.

Myers (dalam Sarwono, 2002:328) juga menyatakan hal yang hampir sama dengan Asih dan Pratiwi, bahwa perilaku prososial adalah hasrat untuk menolong orang lain tanpa mementingkan diri sendiri. Dengan kata lain, perilaku prososial sebagai perilaku yang

(23)

11

menguntungkan orang lain tanpa memikirkan apa yang didapat setelah memberikan pertolongan. Tindakan ini merupakan tindakan yang dilakukan secara suka rela.

Selain pengertian di atas, terdapat indikator-indikator untuk melihat perilaku prososial yang dikemukakan oleh Staub (dalam Dayakisni & Hudaniah, 2003 ) adalah sebagai berikut:

a. Tindakan yang dilakukan tersebut berakhir pada dirinya dan tidak menuntut keuntungan pada pihak pelaku

b. Tindakan tersebut dilahirkan secara sukarela c. Tindakan tersebut menghasilkan kebaikan

Hal ini selaras dengan pendapat Tobing (2019:32) yang mengemukakan bahwa perilaku prososial selalu mengarah pada tindakan kebaikan yang ditujukan untuk menjalin rasa kasih sayang antar sesama.

Amato (dalam Oscar & Vivi, 2006: volume XI) mengemukakan perilaku prososial sebagai segala tindakan baik yang direncanakan secara formal & informal atau bersifat spontan. Menolong orang yang direncanakan secara berarti menolong dengan memikirkan lebih jauh terhadap pertolongan yang akan diberikan, sedangkan menolong secara spontan merupakan menolong orang dengan memberikan pertolongan seketika saat itu tanpa berpikir. Ada pun menolong yang direncanakan secara formal dan informal. Darmadji (2011:Vol. IV) mengemukaan menolong formal (formal helping) merupakan bentuk pertolongan yang diberikan kepada sebuah organisasi formal, sedangkan menolong secara informal (informal helping) merupakan bentuk pertolongan yang diberikan kepada teman, keluarga, termasuk kepada orang tidak dikenal.

(24)

12 2.2.4 Aspek-Aspek Perilaku Sosial

Ada pun aspek-aspek yang terdapat pada perilaku sosial menurut Mussen, dkk (dalam Asih & Pratiwi 2010:36) yaitu, sebagai berikut:

a. Berbagi

Berbagi dalam aspek perilaku sosial merupakan suatu kesediaan diri untuk berbagi perasaan dengan orang lain baik dalam suasana suka maupun duka. Menurut Einsberg &

Mussen (dalam Dayakisni & Hudaniah, 2003:175) berbagi dilakukan dengan bila seseorang sedang dalam keadaan sukar atau sulit sebelum ada tindakan meliputi tindakan fisik dan verbal.

b. Kerjasama

Kerjasama merupakan kesediaan untuk melakukan suatu kerjasama dengan orang lain demi tercapainya suatu tujuan.

c. Menolong

Menolong merupakan kesediaan untuk menolong orang lain yang membutuhkan pertolongan ketika dalam keadaan sulit.

d. Bertindak jujur

Bertindak jujur merupakan bentuk kesediaan diri untuk melakukan sesuatu seperti apa adanya tanpa ada yang ditutupi dan tidak berbuat curang ketika membantu orang lain.

e. Berdermawan

Berdermawan merupakan kesediaan diri untuk memberikan sukarela dan ikhlas sebagian barang/benda miliknya kepada orang yang membutuhkan tanpa mengharapkan sesuatu, baik berupa imbalan atau pun pujian.

Menurut Bringham (dalam Asih & Pratiwi, 2010:35) aspek – aspek dari perilaku prososial adalah sebagai berikut:

(25)

13 a. Persahabatan

Menurut Baron & Byrne (2006), persahabatan adalah hubungan dimana dua orang menghabiskan waktu bersama, berinteraksi di berbagai situasi dan juga menyediakan dukungan emosional.

b. Kerjasama

Kerjasama merupakan kesediaan diri bekerja sama dengan orang lain sehingga tercapai tujuan yang diinginkan.

c. Menolong

Menolong merupakan kesediaan membantu orang lain untuk keluar dari kesulitan yang dialaminya.

d. Jujur

Jujur merupakan suatu perilaku atau tindakan seperti apa adanya tanpa berbuat curang ketika memberikan pertolongan kepada orang lain.

e. Berdermawan

Berdermawan merupakan tindakan memberikan secara sukarela sebagian barang atau harta yang dimiliki kepada orang yang membutuhkan.

f. Pengorbanan

Pengorbanan merupakan suatu tindakan yang lebih mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi.

Ada pun menurut Bashori (vol 1:2017) perilaku prososial dalam kehidupan sehari- hari meliputi:

a. Menolong

Aktivitas seseorang atau kelompok untuk mmebantu orang lain untuk meringankan beban penderitaan dan kesukaran fisik atau psikologis orang yang dibantu.

(26)

14 b. Berbagi

Berbagi dapat dilakukan dalam dua bentuk. Pertama, dalam bentuk yang tampak seperti benda, uang, barang atau bantuan fisik lainnya. Kedua, dalam bentuk yang tidak tampak seperti berbagi rasa. Berbagi rasa dilakukan dengan tindakan seperti mendengarkan keluh kesah dari orang yang mengalami kesulitan, ikut merasakan apa yang dirasakan seseorang ketika mendengar kesulitan yang menimpanya, serta diliputi tindakan lain seperti verbal yang berupa kata-kata motivasi, nasehat dan fisik yang berupa pelukan, menggenggam tangan atau mengelus pundak.

c. Kerjasama

Kerjasama merupakan suatu aktivitas yang melibatkan seseorang atau lebih untuk melakukan suatu kegiatan atau aktivitas berdasarkan kesepakatan untuk mencapai suatu tujuan yang dapat dirasakan bersama-sama.

d. Menyumbang

Menyumbang dalam bahasa Indonesia berarti berperilaku murah hati, ikut menyokong baik dengan tenaga maupun pikiran serta memberikan bantuan kepada orang- orang yang sedang tertimpa musibah.

e. Memperhatikan kesejahteraan orang lain

Memperhatikan kesejahteraan orang lain merupakan bentuk hasrat dalam diri seseorang untuk menolong orang lain tanpa memikirkan kepentingan diri sendiri.

Berdasarkan uraian teori – teori yang dikemukakan para ahli di atas, maka peneliti memilih aspek perilaku prososial meliputi berbagi, kerjasama, menolong, bertindak jujur, berdermawan, persahabatan dan pengorbanan.

(27)

15 2.3. Tinjauan Pustaka

Untuk mengetahui keaslian sebuah karya ilmiah terdapat penelitian-penelitian yang relevan yang telah dilakukan sebelumnya sebagai landasan atau acuan dalam melakukan penelitian ini. Maka dalam tinjauan pustaka akan diuraikan beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian ini.

Sejauh ini belum ada yang mengkaji novel The Fabulous Udin karya Rons Imawan melalui perspektif apapun, namun karena novel ini sudah diangkat ke layar lebar (menjadi film) terdapat jurnal yang menganalisis film The Fabulous Udin oleh Abdul Basid dan Barokatul Fitria (2017) dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dengan judul,” Nilai Moral Dalam Film The Fabulous Udin Berdasarkan Perspektif Sosiologi Sastra”.

Penelitian tersebut menganalisis bentuk nilai moral yang terdapat dalam film The Fabulous Udin. Metode yang digunakan dalam jurnal tersebut adalah metode penelitian kualitatif

dengan teknik tonton dan catat kemudian data dianalisis dengan empat tahap, yaitu, pengumpulan data, reduksi data, penyajian data kemudian penarikan kesimpulan. Ada pun bentuk-bentuk nilai moral dalam film The Fabulous Udin pada jurnal ini yaitu memberi motivasi kepada seseorang, menjalin persahabatan dengan anak-anak yang mempunyai latar belakang berbeda, dan meringankan beban kejiwaan.

Penelitian ini juga menguraikan penyebab nilai moral yang muncul dalam film The Fabulous Udin dan dampak dari nilai moral dalam film The Fabulous Udin. Ada pun

penyebab munculnya nilai moral tersebut yaitu, perlunya meyakinkan dan memberi harapan kepada orang lain, perlunya bersikap peka, tegar, dan menenangkan, setiap tindakan ada konsekuensinya, dan kodrat manusia sebagai makhluk sosial.

(28)

16

Dampak dari nilai moral dalam film The Fabulous Udin yaitu, masyarakat semakin mengerti arti dan manfaat sikap peduli dan tolong menolong, masyarakat semakin peduli dan tergerak untuk meringankan beban orang lain, dan membuat masyarakat semakin bijak dalam membuat keputusan.

Penelitian dengan kajian terkait tingkah laku prososial terdapat pada skripsi Felita Elviani (2017) dari Universitas Brawijaya yang berjudul, “Analisis Tingkah Laku Prososial Tokoh Marguerite Dalam Film Marie Heurtin: Kajian Psikologi Sosial”. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik tonton dan catat. Film Marie Heurtin merupakan film yang menceritakan tentang seorang biarawati bernama Marguerite di sekolah tuna rungu Notre-Dame de Larnay. Marguerite bertemu seorang gadis bernama Marie yang didaftarkan oleh orangtuanya di sekolah tersebut karena mereka tidak mampu mendidik Marie dengan baik, sehingga Marie tumbuh menjadi sosok remaja yang susah beradaptasi dengan lingkungannya dan memiliki emosi dan kepribadian yang tidak wajar dan tidak stabil seperti remaja pada umumnya.

Penelitian yang berkaitan dengan perilaku prososial terdapat pada skripsi Febri Rahayu (2016) dari Universitas Nusantara PGRI Kediri dengan judul, “Perilaku Sosial Dalam Novel Stephanie Last Day In Semeru Karya Nikki Carto: Tinjauan Psikologi Sosial”. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif yang diperoleh dari paparan teks dalam novel Stephanie Last Day In Semeru. Penelitian ini juga menggunakan instrumen pembantu berupa tabel yang digunakan untuk mengumpulkan data dan memberikan kode data untuk menganalisis data. Novel Stephanie Last Day In Semeru ini menggambarkan tentang kehidupan seseorang yang sedang mengalami konflik jiwa yang dialami oleh seorang anak laki-laki dari keluarga yang tidak mampu dan merasa tertindas oleh orang-orang yang mempunyai kehidupan yang layak.

(29)

17

Dalam penelitian ini ditemukan aspek struktural yang terdiri dari tema, penokohan, perwatakan, serta konflik. Kemudian ditemukan juga masalah psikologi sosial yang terdiri dari perilaku prososial, perilaku agresi dan prasangka sosial. Pada perilaku prososial di dalamnya tergambar norma tanggung jawab, norma saling ketimbalbalikan, dan keadilan sosial ketika menolong seseorang. Pada perilaku agresi terdapat provokasi, kondisi aversi, dan adanya kehadiran orang lain, dan prasangka sosial yang terjadi pada tokoh Alfian yang tidak senang terhadap ulah teman-temannya yang sering merendahkan dirinya.

Dalam penelitian ini ditemukan bentuk tingkah laku prososial yang dilakukan oleh tokoh Margurite kepada Marie dalam Film Marie Heurtin. Tokoh Marguerite banyak melakukan tindakan menolong terhadap anak buta dan tuli, termasuk kepada seorang anak bernama Marie dengan motif yang berbeda-beda. Motif dari perilaku yang dilakukan Marguerite antara lain adalah empati-altruisme yang dimana Marguerite berfokus dalam mengatasi kesulitan yang dialami oleh Marie, Marguerite memiliki motif mengurangi keadaan negatif untuk mereduksi rasa ketidaknyamanannya, dan yang terakhir motif kesenangan empatik yang ditunjukkan Marguerite pada saat Marie bertemu kedua orang tuanya, perkembangan Marie serta respon Marie yang baik.

Penelitian yang berkaitan dengan perilaku prososial terdapat pada skripsi Ulin Umi Azmi (2014) dari Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga yang berjudul, “Pesan Prososial Melalui Tokoh Laisa Dalam Film Bidadari-Bidadari Surga“. Film ini menceritakan tentang sosok perempuan bernama Laisa yang memiliki perangai yang tidak cantik, namun Laisa selalu berhasil melewati banyak cobaan dan masalah dalam hidupnya dengan kebaikan.

Pada penelitian ini terdapat 58 adegan pesan prososial yang ditampilkan melalui tokoh Laisa dalam film Bidadari-Bidadari Surga. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif deskriptif dengan pendekatan analisis isi. Data yang disajikan

(30)

18

dalam penelitian ini berbentuk tabel dan potongan frame dari adegan yang ada dalam film Bidadari-Bidadari Surga dengan tahap uji validitas dan uji reliabilitas. Pada penelitian ini ditemukan pesan prososial yang meliputi pesan prososial berbagi dengan jumlah 22 scene atau 37,95%, pesan prososial menolong dengan jumlah 6 scene atau 10,34%, pesan prososial kerjasama dengan jumlah 9 scene atau 15,51%, pesan prososial bersahabat dengan jumlah 9 scene atau 15,51%, dan pesan prososial berkorban dengan jumlah 12 scene atau 20,69%.

Penelitian dengan perspektif psikologi sosial ditemukan dalam skripsi Ferry Hasiholan Lumban Tobing (2019) dari Universitas Sumatera Utara dengan judul, “ Analisis Psikologis Sosial Pada Tokoh Utama Pada Film “The Monkey King 3” Karya Cheang Pou Soi”. Film The Monkey King 3 menceritakan tentang kera sakti Sun Wu Kong bersama gurunya. Sun Wu Kong bersama teman – temannya dan biksu Xuanzhang tidak sengaja memasuki negeri para wanita dari liang barat. Dimana di negeri tersebut tak ada satupun pria yang tinggal di sana. Ratu dari negeri tersebut jatuh cinta dengan biksu Xuanzhang tanpa ia tahu apa artinya cinta dan kemudian mengira dirinya akan sakit parah karna kutukan cinta. Di negeri para wanita, semua wanita diperingatkan bahwa pria adalah makhluk beracun yang harus dibunuh. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan teknik tonton dan catat.

Dalam penelitiannya terdapat bentuk psikologi sosial yang mempengaruhi perkembangan karakter tokoh utama dalam film “The Monkey King 3” yang meliputi pikiran sosial, ada pun pikiran sosial ini terdiri dari pikiran sosial pada diri sendiri, pikiran sosial pada sikap, pikiran sosial pada keyakinan, dan pikiran sosial pada penilaian.

Terdapat pengaruh sosial yang terdiri dari pengaruh sosial pada tekanan konformitas dan pengaruh sosial pada persuasi, serta adanya hubungan-hubungan sosial baik itu antar

(31)

19

individu, antar kelompok, atau antar individu dan kelompok. Pada hubungan sosial ini terdapat perilaku prososial yang dilakukan oleh para tokoh yang berperan di dalamnya.

(32)

20 BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian

Menurut Strauss & Corbin (dalam Syahrum & Salim, 2012:41) Setiap penelitian memiliki metode untuk memecahkan permasalahan dalam penelitiannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Penelitian kualitatif adalah suatu jenis penelitian yang prosedur penemuannya dilakukan tidak menggunakan prosedur statistik atau kuantifikasi. Bogdan dan Taylor (Nugrahani, 2014:8) mengemukakan bahwa metode penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Penelitian dengan metode kualitatif sangat relevan digunakan dalam penelitian sastra. Hal ini dikarenakan karya sastra berbentuk teks dengan sejumlah kata- kata dan simbol makna dari bahasa.

Metode penelitian kualitatif deskriptif menggunakan teknik baca dan catat. Teknik baca ini diperoleh dengan membaca keseluruhan sumber data, baik itu data primer maupun data sekunder. Ada pun sumber data utama dalam penelitian ini berasal dari novel The Fabulous Udin karya Rons Imawan yang kemudian data-data yang didapat dari hasil

teknik baca dicatat akan dikumpulkan. Data-data yang terkumpul akan dianalisis dengan cara membaca berulang-ulang secara menyeluruh isi dari novel The Fabulous Udin karya Rons Imawan kemudian mengaitkan unsur intrinsik karya satra pada novel The Fabulous Udin, mengidentifikasi bagian-bagian cerita yang menjadi objek penelitian, lalu memilih data-data yang dikelompokkan sesuai dengan tujuan penelitian yaitu bentuk perilaku sosial.

(33)

21 3.2 Sumber Data

Dalam sebuah penelitian terdapat sumber data. Nur dan Supomo (2013:142) mengemukakan bahwa sumber data merupakan faktor penting yang menjadi pertimbangan dalam penentuan metode pengumpulan data di samping jenis data yang telah dibuat.

Sebuah penelitian yang bersifat ilmiah harus memiliki sumber data yang jelas mengenai bagaimana dan darimana data tersebut diperoleh.

Sumber data terbagi menjadi dua macam, yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder.

3.2.1 Data Primer

Menurut Siyoto & Sodik ( 2015:67) data primer merupakan data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti secara langsung dari sumber datanya. Data primer disebut juga sebagai data asli atau data utama yang menjadi dsar validnya suatu penelitian. Untuk mendapatkan data primer, peneliti hanya dapat mengumpulkannya secara langsung.

Sumber data primer dalam penelitian ini merupakan sumber data tertulis yang diperoleh dari hasil membaca novel The Fabulous Udin karya Rons Imawan. Hasil dari data yang terdapat dalam novel tersebut setelah dibaca kemudian dirangkum, dicatat dan dipahami untuk digunakan sebagai laporan penelitian.

(34)

22

Ada pun sumber data primer yang akan dianalisis adalah:

Judul Fabulous Udin

Pengarang Rons Imawan

Penerbit Bentang Belia (Bentang Pustaka

Tebal Buku 379 Halaman

Cetakan Pertama

Tahun Terbit 2013 Warna Sampul Ungu

Gambar Sampul Siluet sekelompok remaja di atas menara

Desain Sampul Fahmi Ilhamsyah

(35)

23 3.2.2 Data Sekunder

Menurut Siyoto & Sodik ( 2015:67) data Sekunder merupakan data yang diperoleh atau dikumpulkan peneliti dari berbagai sumber yang telah ada. Peneliti dalam hal ini sebagai tangan kedua. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini meliputi buku- buku acuan, jurnal ilmiah, artikel dan penelitian-penelitian yang relevan.

3.3 Teknik Pengumpulan data

Pada penelitian yang menggunakan metode penelitian kualitatif, peneliti merupakan instrument utama (key instrument) dalam mengumpulkan data. Peneliti menjadi instrumen utama karena dianggap sebagai manusia yang akan lebih peka dan lebih cepat bereaksi terhadap stimulus dari lingkungan yang diperkirakan bermakna ataupun yang kurang bermakna. Sugiyono (dalam Walidin, 2015:117) menjelaskan bahwa peneliti kualitatif sebagai human instrumen, berfungsi menetapkan fokus penelitian, memilih sumber data, melakukan pengumpulan data, menilai kualitas data, menafsirkan data hasil penelitian dan membuat kesimpulan atas temuannya.

Tujuan utama dalam sebuah penelitian adalah mendapatkan data yang diinginkan.

Ada pun teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah teknik pengkajian isi dokumen. Menurut Yin (dalam Nugrahani, 2014:142), kegiatan menganalisis isi dokumen atau yang disebut dengan content analysis adalah kegiatan yang dilakukan bukan hanya sekedar mencatat isi penting yang tersurat dalam dokumen, tetapi juga memahami makna yang tersirat dalam dokumen dengan hati – hati, teliti dan kritis.

Untuk dapat menemukan hal-hal yang tersurat mau pun tersirat dalam dokumen yang digunakan sebagai objek penelitian adalah dengan membacanya berulang-ulang secara

(36)

24

teliti dan mengaitkan unsur-unsur terkait dokumen tersebut. Teknik analisis isi dokumen dalam penelitian ini hanya berfokus pada data – data yang berkaitan dengan perilaku prososial dalam novel The Fabulous Udin karya Rons Imawan.

3.4 Teknik Analisis Data

Dalam penelitian, teknik analisis data merupakan langkah penting yang harus dilakukan setelah pengumpulan data. Patton (Nugrahani, 2014: 170) mengemukakan bahwa analisis data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisir ke dalam suatu pola kategori dan mencari hubungan di antara dimensi-dimensi uraian. Analisis data digunakan untuk menemukan hasil penelitian. Penelitian yang dilakukan tidak akan berhasil jika data-data yang terkumpul tidak dianalisis. Data-data yang sudah dikumpulkan akan dianalisis dengan cara dipilih, dipilah, dibuang atau digabungkan untuk menemukan hasil penelitian yang diinginkan.

Umaya & Harjito ( 2017:116) mengemukakan bahwa pada penelitian sastra terdapat dua jenis kemungkinan dalam melakukan analisis data, yaitu secara deskriptif dan secara statistis. Jika secara deskriptif maka berkaitan dengan intepretasi dan pemaknaan deskripsi pada data yang diperoleh serta hasil analisis dan data intepretasi terhadap perolehan data- data tersebut. Sedangkan jika secara statistik maka berkaitan dengan hasil analisis dari skala ordinal yang menjelaskan secara deskripsi antara nilai tertinggi dengan nilai terendah. Penelitian ini menggunakan analisis data secara deskriptif.

Ada pun tiga langkah penting yang dikemukakan oleh Tripp (dalam Nugrahani, 2014:169) dalam analisis data, yaitu sebagai berikut:

1. Mengidentifikasi apa yang ada dalam data-data.

1. Melihat pola-pola

(37)

25 2. Interpretasi.

Pada penelitian ini ada pun langkah-langkah yang dilakukan untuk menganalisis data yaitu sebagai berikut:

1. Membaca keseluruhan isi novel The Fabulous Udin.

2. Data-data yang terkumpul disusun sesuai dengan pengelompokannya terkait perilaku prososial.

3. Data-data tersebut kemudian dianalisis dan ditafsirkan hubungan antara data tersebut dengan bentuk perilaku prososial yang sudah dijabarkan untuk ditarik simpulannya. Simpulan diambil berdasarkan hasil analisis dan penafsiran yang mengandung implikasi dan saran.

(38)

26 BAB IV

PERILAKU PROSOSIAL DALAM NOVEL THE FABULOUS UDIN KARYA RONS IMAWAN: KAJIAN PSIKOLOGI SOSIAL

Perilaku prososial merupakan perilaku yang muncul dari diri seseorang untuk menolong orang lain yang sedang kesulitan tanpa mengharapkan balasan apapun dari orang yang diberi pertolongan. Dengan kata lain perbuatan ini dilakukan dengan keikhlasan dan kesukarelaan dalam diri seseorang untuk menolong. Perilaku ini dipengaruhi oleh psikologis seseorang ketika melihat orang lain yang mengalami kesulitan.

Keadaan ini akan memunculkan perasaan iba, kasihan, sedih atau perasaan bersalah dalam diri seseorang jika tidak dapat menolong orang yang mengalami kesulitan tersebut.

Novel The Fabulous Udin menunjukkan adanya aspek-aspek perilaku prososial yang dilakukan oleh tokoh-tokoh yang berperan didalamnya. Perilaku ini merupakan suatu perilaku baik yang tampak dan mudah ditemui, karena pada dasarnya perilaku ini terjadi di sekitar lingkungan masyarakat. Berikut ini adalah perilaku prososial yang terdapat dalam novel The Fabulous Udin karya Rons Imawan.

4.1 Berbagi

Berbagi dalam penelitian ini merupakan kesediaan diri untuk berbagi perasaan dengan orang lain baik dalam suasana suka maupun duka. Berbagi dilakukan bila seseorang sedang dalam keadaan sukar baik fisik maupun keadaan psikologisnya, sebelum ada tindakan yang meliputi dukungan verbal dan fisik (Mussen, dalam Asih & Pratiwi 2010:34). Tindakan ini dilakukan dengan mendengarkan atau ikut merasakan apa yang dirasakan orang yang sedang mengalami kesulitan sebelum adanya tindakan dukungan verbal yang berupa nasehat, kata-kata motivasi atau penenang atau dukungan fisik yang

(39)

27

berupa pelukan, mengelus pundak atau memegang tangan, dll. Tindakan tersebut menunjukkan bahwa penolong ikut merasakan apa yang dirasakan oleh orang yang mengalami kesulitan. Tindakan berbagi dapat dilihat pada data di bawah ini.

“Dan, mulai sekarang, Emak Udin adalah Emakmu juga, Nak. Emak senang jika kamu mau mengganggap Emak seperti Ibumu sendiri” sambung Emak seraya mengusap wajah Apang. Emak mengerti sepenuhnya keadaan Apang. Yang dia butuhkan adalah keluarga baru.

(Imawan, 2013:38)

Kutipan di atas menunjukkan adanya tindakan berbagi yang dilakukan Emak Udin dengan menganggap Apang seperti anaknya juga. Emak terlihat mengerti bagaimana keadaan psikologis Apang sebagai pemuda yang hidup sendiri di perantauan yang jauh dari keluarga. Maka dengan menganggap Apang sebagai anaknya, Emak ingin Apang tidak merasa kesepian, memiliki tempat untuk bercerita agar Apang dapat merasa jauh lebih berharga. Tindakan yang dilakukan oleh Emak Udin merupakan tindakan berbagi perasaan sebelum diliputi dukungan fisik yang ditandai dengan mengusap wajah Apang.

Sherif Manan termangu melihat sikap Udin. Sesaat dia bertanya-tanya, apa gerangan yang sedang dipikirkan Udin. Kemudian, tanpa pikir panjang, polisi tua itu pun langsung menarik tubuh Udin, lalu membenamkannya di dadanya.

Tangisan Udin pun meraung begitu Sherif Manan membisikkan sesuatu pada Udin. “Bapak tahu, kamu merindukan ayahmu”.

(Imawan, 2013:46)

Kutipan di atas menunjukkan tindakan berbagi yang dilakukan oleh Sherif Manan kepada Udin. Pada awalnya Sherif Manan tampak bingung dengan sikap Udin, namun ia sadar dari tatapan Udin, ia menunjukkan tatapan seolah-olah melihat Ayahnya dalam diri Sherif Manan. Sherif Manan pun paham akan perasaan Udin dan segera memeluk Udin agar perasaan rindunya terhadap sang Ayah dapat sedikit terobati. Tindakan berbagi yang dilakukan Sherif Manan merupakan tindakan berbagi yang diliputi dukungan fisik dan verbal.

(40)

28

Kutipan lain yang menunjukkan tindakan berbagi dalam novel The Fabulous Udin dapat dilihat pada kutipan di bawah ini.

Inong merangkul Suri. Ini kali pertama dia bisa memeluk sahabatnya itu. Entah kenapa, Inong sangat ingin melakukannya sejak dulu. Menampung air mata Suri di pundaknya, lalu menghapuskan kepedihannya. Inong tahu, sebetulnya Suri butuh itu.

(Imawan, 2013:126)

Kutipan di atas menunjukkan bentuk berbagi perasaan. Inong sangat memahami bagaimana menjadi Suri, namun tindakan berbagi perasaan ini hanya dilakukan Inong dengan dukungan fisik berupa merangkul Suri.

Suri menyadari tangisan itu sepenuhnya. Setelah melepas pelukan malaikatnya, dia melangkah menghampiri Inong, lalu mendekapnya erat – erat, seribu kali lebih erat daripada saat dia memeluk Udin. Di tengah tangisan Suri yang mengharu biru, dia membisikkan sesuatu di telinga Inong.

“Terima kasih sudah meminjamkan mimpimu….” (Imawan, 2013:249)

Bentuk tindakan berbagi yang dilakukan Suri terhadap Inong merupakan tindakan berbagi perasaan yang meliputi dukungan verbal dan fisik. Suri memahami dan menyadari bagaimana perasaan Inong saat itu, maka setelah Suri memeluk Udin, ia menghampiri dan memeluk Inong, agar perasaan Inong tenang sebelum ia mengucapkan terima kasih karena Inong telah memberikan mimpinya pada Suri.

Ada gejolak yang tak tertahankan untuk tidak ditumpahkanya kini.

Menggemeretakkan giginya adalah satu-satunya upaya terakhir Udin untuk tidak menumpahkan emosi jiwanya. Tapi, mata hati Bu Arwiyah tak tidur. Ikatan batin yang kuat membuat beliau mudah membaca gejolak itu.

Bu Arwiyah meneduhkan pandangannya ke wajah Udin. Kemudian, dalam posisi masih berdiri di samping Udin, beliau mengusap bahu bocah itu, membiarkan air matanya meleleh, lalu mendekapkan tubuh Udin ke pelukannya. (Imawan, 2013:276)

Kutipan cerita di atas terdapat tindakan berbagi perasaan yang diliputi dukungan fisik yang dilakukan oleh Bu Arwiyah. Bu Arwiyah terlihat memahami suasana hati Udin yang sedang tidak baik, maka Bu Arwiyah meneduhkan pandangan matanya saat menatap Udin, lalu mengusap bahu Udin untuk memberikannya rasa tenang sehingga sedih yang

(41)

29

ditahan oleh Udin mulai berubah menjadi tangisan, lalu Bu Arwiyah membiarkan Udin menangis dalam dekapannya.

“Iya, Mami. Kak Siloh juga sepertinya tahu kalau pernikahan ini hanya pura-pura.

Kalau nggak, Kak Siloh pasti mengucapkan janji pernikahan itu sesuai yang diperintahkan Pak Gilian. „Saya akan mencintai suami saya meski maut sudah memisahkan‟. Kalimat itu nggak mungkin diucapin Kak Siloh kalau dia percaya pernikahan ini sungguhan,” terang Udin seraya mengelus lengan Mami. “Kak Siloh bakal baik-baik aja, Mami. Buat Kak Siloh, yang penting suasana pernikahan ini dan juga janji setianya bisa memenuhi impian terakhir Bang Cakka. Mami jangan nangis lagi ya…” (Imawan, 2013:316)

Kutipan di atas menunjukkan tindakan berbagi perasaan yang dilakukan Udin kepada Mami. Tindakan berbagi yang dilakukan Udin diliputi dengan dukungan fisik dan verbal. Udin memahami keadaan serta perasaan Mami yang tak kuasa menahan tangis di hari pernikahan putrinya, Siloh dengan mayat kekasihnya, Cakka. Udin berusaha menjelaskan pada Mami dengan sangat baik keadaan Siloh menurut pandangannya sebelum Udin mengelus lengan Mami untuk menenangkan perasaan Mami.

4.2 Kerjasama

Kerjasama merupakan salah satu interaksi sosial dalam bermasyakarat. Ahmadi (2007:101) mengemukakan bahwa kerjasama merupakan usaha bersama dari dua orang atau lebih untuk melaksanakan tugas dalam mencapai tujuan yang diinginkan bersama.

Kerjasama memiliki pembagian tugas, dimana setiap orang yang telibat dalam kerjasama akan mengerjakan pekerjaannya masing-masing sesuai dengan tanggung jawabnya untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Tindakan kerjasama dapat dilihat pada kutipan-kutipan di bawah ini.

“Kalau begitu, mulai sekarang, saya akan ikut menjaga Udin, Mak. Selama ada saya, Udin tidak akan lagi membuat Emak cemas,” kata Apang sambil menoleh ke arah Udin. (Imawan, 2013:38)

(42)

30

Kutipan cerita di atas menunjukkan adanya tindakan kerjasama yang dilakukan oleh Apang untuk membantu Emak. Terdapat pembagian tugas yang ingin dikerjakan oleh Apang dengan sukarela, yaitu menjaga Udin. Emak merupakan seorang janda yang ditinggal mati oleh suaminya, selama ini ia harus mengurus Udin sendirian. Dengan tindakan Apang yang ingin ikut menjaga Udin, maka tujuan Emak agar tidak merasa cemas dan khawatir kepada Udin dapat tercapai.

“Karena hanya dalam dongeng, memenangi sayembara adalah satu-satunya cara untuk mewujudkan mimpi. Itulah kenapa aku suka bikin sayembara buat teman-temanku, seolah aku adalah raja yang membantu mereka mewujudkan mimpinya. Saat aku tidak mampu mewujudkan mimpi untuk diriku sendiri, kenapa aku mengabaikan mimpi orang lain? I have to do something.”

(Imawan, 2013: 61)

Kutipan cerita di atas menunjukkan alasan Suri senang membuat sayembara kepada teman-temannya. Ia ingin mewujudkan mimpi orang lain di saat ia tak bisa mewujudkan mimpinya sendiri. Tindakan ini termasuk tindakan kerjasama. Dimana Suri membuat sayembara kepada teman-temannya, kemudian teman-temannya berusaha memenangi sayembara tersebut untuk mendapatkan keinginan mereka.

Pada kutipan lain yang menunjukkan kerjasama yang dilakukan tokoh Suri terkait sayembara yang dibuatnya adalah sebagai berikut.

“Aku sudah memutuskan siapa pemenang sayembaranya. Nggak ada yang bersikap seaneh kamu. Jadi, kamu pemenangnya…Mr. Frankenstein!” kata Suri sembari menunjukkan mainan mahal itu, lalu menyodorkannya ke arah Udin. (Imawan, 2013:77)

Suri menemukan pemenang dalam sayembaranya dan mewujudkan keinginan pemenangnya dengan memberikan hadiah yang dijanjikannya dalam sayembara.

Pagi itu, Emak terlihat sibuk menyiapkan makanan. Sudah seminggu ini Emak selalu bolak-balik ke tempat Apang untuk mengiriminya makanan. Jika Emak sibuk mengerjakan jahitan baju orang-orang, Udinlah yang menggantikan tugas baru Emak itu.

(Imawan, 2013:84)

(43)

31

Kutipan di atas menunjukkan bentuk kerjasama. Terdapat pembagian tugas yang dilakukan oleh Emak dan Udin untuk mengantar makanan kepada Apang. Jika Emak tidak sibuk maka ia yang akan menyempatkan diri untuk mengantar makanan kepada Apang, jika Emak sedang sibuk maka Udin mengganti tugas Emak mengantar makanan kepada Apang.

Adapun contoh lain yang menunjukkan tindakan kerjasama dalam novel The Fabulous Udin adalah sebagai berikut.

“Jadi begini, teman-teman. Lusa kita ulangan, kan? Nah, kita bisa mulai beraksi.

Kalian jangan belajar, supaya nggah mudah mengerjakan soalnya. Buat yang udah pintar, kayak Inong atau kamu, Suri. Kamu juga harus terlihat kesusahan mengerjakan soal- soalnya. Buat nilai kamu gagal, kalau perlu segagal-gagalnya. Ini juga berlaku buat kalian semua dan teman-teman di kelas lainnya.”

“Terus, kalau si Pharaoh ngamuk gimana? Sanksi skorsing juga gimana? Nggak semua orang mau diskorsing, Din” potong Jeki dengan mimik serius.

“Nggak, Jek, itu salah. Si Pharaoh mungkin aja murka menghadapi kegagalan kita.

Tapi saya yakin, dia nggak bisa berbuat apa-apa karena kemarahan itu bakal dimakannya sendiri. Kalaupun dia menetapkan hukuman lain, terima aja. Kita nggak sendiri, kan? Kita dihukum sama-sama, kita hadapi juga sama-sama. Lalu, soal skorsing, itu hukuman yang bakal dibatalkan. Kalian lupa? Kalau semuanya gagal, berarti dia harus men-skorsing kita semua? Hukuman itu nggak bisa dilakukan karena dia butuh murid untuk mengisi kelas.

Nggak mungkin, kan, dia mengajari bangku kosong?”

“Selanjutnya, kita tinggal menunggu keputusan Pak Moeryono untuk memindahkan Si Pharaoh. Yang jelas, sekarang tugas kita cuma satu: memberikan alasan yang tepat buat Pak Moer untuk memindahkan si Pharaoh segera dengan cara membuat si Pharaoh menjadi guru yang gagal”. (Imawan, 2013:155-156)

Pada kutipan di atas terdapat bentuk kerjasama dimana Udin mengusulkan idenya untuk membuat guru yang dianggap paling killer di sekolah mereka dapat dipindahkan dengan mengajak teman-teman sekelasnya untuk bekerjasama agar tujuan mereka memindahkan guru tersebut berhasil. Ia mengajak teman-temannya untuk membuat nilai ujian mereka tidak berhasil memenuhi standar nilai yang telah ditetapkan oleh sekolah sehingga guru yang sering dijuluki Pharaoh itu mendapat surat mutasi.

(44)

32

Udin tidak hanya melakukannya dengan teman-teman sekelasnya saja, tetapi ia juga akan mengajak seluruh anak di sekolah mereka agar rencana tersebut benar-benar berhasil.

“Kamu bilang rencana ini bisa berhasil kalau anak-anak dari kelas lain diajak bekerjasama. Lalu, bagaimana cara kamu meyakinkan mereka supaya bersedia?” tanya Suri.

“Itu urusanku, Suri. Kamu nggak usah cemas. Aku yang bakal menghadapi mereka.

Kalau ada yang berani nolak, krekkk!” timpal Jeki sembari menggeser telunjuknya melewati lehernya, menirukan gaya menyembelih. Lagaknya persis seperti preman sekolah. (Imawan, 2013: 157)

Ada pun kutipan di atas menunjukkan kerjasama yang dilakukan tidak hanya melibatkan ide Udin saja, tetapi juga ada pembagian tugas khusus untuk Jeki yang dianggap cukup handal untuk mengajak anak-anak yang lain di sekolah mereka agar dapat diajak bekerjasama.

4.3 Menolong

Menolong merupakan tindakan membantu orang lain untuk keluar dari kesulitan yang sedang dialami. Tindakan menolong meliputi membantu orang lain, memberitahu dan menawarkan bantuan sehingga orang tersebut dapat keluar dari kesulitannya. Tindakan menolong dapat dilihat pada kutipan di bawah ini.

Bertepatan dengan jawaban yang nyaris tak terdengar itu, Udin langsung menutup matanya rapat-rapat. Sedetik kemudian, lengan Udin akhirnya lepas. Dia kehabisan daya untuk terus menahan beban tubuhnya. Tubuh Udin pun melayang bebas ke bawah. Belum sampai 10 inci menukik, tiba-tiba tubuh Udin berhenti. Kakinya masih melayang di udara, tapi tak bergerak. Dia tak jatuh. Udin pun mendongak. Ternyata, itu perbuatan Apang.

Dengan sigap, Apang langsung menangkap lengan Udin untuk menahannya terjun.

Perlahan dia menarik tubuh Udin ke atas. (Imawan, 2013:22)

Kutipan di atas menunjukkan tindakan menolong yang dilakukan oleh Apang kepada Udin ketika Udin hampir terhempas dari atas menara karena sudah kehabisan

(45)

33

tenaga untuk menahan beban tubuhnya yang menggelantung. Untungnya Apang dengan cepat dan sigap segera menolong Udin dengan menangkap lengan Udin.

“Mak di rumah sakit ada pasien yang tidak sanggup mengurusi bayinya. Ibunya minta saya mencarikan orangtua baru. Bagaimana kalau kita ambil saja? Supaya ada yang menemani Emak sama Bapak di sini? usul si kakak. Sejak itulah, Ucup mulai menjadi pelangi warna-warni untuk keluarga barunya. (Imawan, 2013:50)

Kutipan lain yang menunjukkan adanya tindakan menolong terdapat di atas.

Tindakan menolong dilakukan oleh si Kakak yang menawarkan bantuan untuk mengadopsi seorang bayi yang baru lahir di rumah sakit tempat ia bekerja. Keluarga bayi tersebut tidak sanggup mengurus bayi tersebut. Selain untuk mengurangi beban orang tua kandung si bayi, Kakak juga ingin kedua orangtuanya tidak merasa kesepian di rumah dengan kehadiran bayi tersebut.

Udin terbiasa membantu pekerjaan Bu Momoh di kantinnya. Meskipun Bu Momoh tak terlalu membutuhkan tenaga, dia mengizinkan Udin melakukannya. Udin sengaja menawarkan jasanya bukan karena ingin mendapat uang tambahan. Udin hanya mengharapkan imbalan beberapa potong gorengan saja untuk disantapnya. Lumayan. Itu saja sudah cukup baginya. (Imawan, 2013:73)

Kutipan di atas juga menunjukkan adanya tindakan menolong. Udin menawarkan bantuan tenaganya kepada Bu Momoh selama membuka kantin. Tindakan menolong yang dilakukan Udin pada Bu Momoh hanya mengharapkan imbalan beberapa potongan gorengan saja.

Kutipan di bawah ini juga menunjukkan adanya tindakan menolong yang dilakukan Udin tanpa mengharapkan balasan apapun.

Sepulang sekolah, Udin kembali ke kantin untuk membantu Bu Momoh. Semua dia kerjakan tanpa pamrih hingga sore hari. (Imawan, 2013:74)

Terdapat tindakan menolong yang dilakukan Udin dengan membantu Bu Momoh di kantin yang dimulai sejak ia pulang sekolah hingga sore hari. Tindakan tersebut dilakukan Udin tanpa berharap ada imbalan atau balasan dari Bu Momoh.

(46)

34 BHUKKK!!

Sebuah balok berukuran besar menghantam keras punggung Pak Silitonga.

Seseorang melakukannya untuk Udin. Cukup satu hantaman, iblis itu langsung terkapar tak sadarkan diri.

“Ini kegagalan Bapak yang ketiga kalinya”, gumam Udin puas.

Apang bergegas menghampiri Udin, lalu membantunya berdiri. (Imawan, 2013:176) Kutipan cerita di atas menunjukkan adanya tindakan menolong yang dilakukan oleh Apang. Ia menolong Udin agar selamat dari serangan yang akan dilakukan Pak Silitonga.

Apang menolong Udin dengan memukul punggung Pak Silitonga dengan benda berupa balok hingga Pak Silitonga ambruk dan terjatuh sebelum sempat menyerang Udin.

“Alhamdulillaaah… terima kasih atas bantuannya, ya, Dik. Ibu lega sekali. Tadinya Ibu kira, Ibu harus memanggil pemadam kebakaran lagi. Terima kasih,” ucap si Ibu sembari menggendong sang bocah.

“Sama – sama, Bu. Boleh saya kasi saran?”

“Ya, Dik. Dengan senang hati.”

“Anak Ibu paling enggak suka dilarang – larang. Ini Namanya psikologi terbalik.

Apapun yang ingin Ibu perintahkan sama Kiki, Ibu harus menyampaikannya seolah Ibu melarangnya.” (Imawan, 2013: 200)

Kutipan cerita di atas menunjukkan tindakan menolong yang dilakukan oleh Udin.

Udin memberitahu dan memberikan saran kepada si Ibu agar tidak perlu bingung atau pusing menghadapi anaknya yang memiliki psikologi terbalik. Psikologi terbalik merupakan keadaan psikologi anak dimana ketika dilarang ia melakukan hal yang dilarang, ketika diperintahkan melakukan suatu hal malah sebaliknya.

“Pak, Pak. Balik lagi, Pak! Obat dan air oksigenku ketinggalan!” perintahnya.

“Baik, Non.”

“Oh, nggak usah balik lagi, Sur. Biar aku aja yang ngambil buat kamu. Belum jauh, kok. Kamu tunggu aja disini,” usul Udin. (Imawan, 2013:262)

Kutipan lain yang menunjukkan adanya tindakan menolong dilakukan oleh Udin dengan menawarkan diri pada Suri untuk mengambil obat dan air oksigen milik Suri yang tertinggal agar supir Suri dan Suri tidak perlu berbalik arah hanya untuk mengambil obat &

airnya.

(47)

35 4.4 Bertindak jujur

Menurut Chairilsyah (vol 5:2016) kejujuran adalah keterkaitan hati pada kebenaran dan sikap jujur merupakan sikap yang ditandai dengan adanya perbuatan yang benar, mengucapkan perkataan dengan apa adanya tanpa ada hal yang dikurangi atau ditambah- tambahkan dan mengakui setiap perbuatan baik positif maupun negatif. Bertindak jujur meliputi berkata jujur, dapat dipercaya dan mengakui apa yang diperbuat ketika menolong orang lain. Bertindak jujur dapat dilihat pada data di bawah ini.

“Sekarang kamu temui Suri. Minta maaf dan bicaralah baik-baik kepadanya. Semua tahu kamu memang salah. Jangan mengecewakannya lagi. Sikap keras yang ditunjukkannya selama ini bukan Suri yang sebenarnya. Itulah kenapa Pak Moeryono menempatkan Suri sekelas sama kamu, supaya kamu bisa mengubahnya. Jadikan dia sahabatmu. Ibu percaya, kamu orang yang paling tepat untuk memberinya semangat,”

terangnya lagi.

Udin mengangguk pasti. Dia menganggap perintah Bu Arwiyah memang misi penting baginya. Misi kemanusiaan. Udin bisa melakukannya. Pasti bisa. (Imawan, 2013:76)

Kutipan di atas menunjukkan adanya tindakan jujur yang dilakukan oleh Udin.

Tindakan ini terlihat pada sikap Udin yang mengangguk setelah Bu Arwiyah memerintahkannya untuk dapat mengubah sedikit sikap keras Suri dan berharap Udin dapat menjadi sahabat bagi Suri yang mampu memberinya dukungan dan semangat. Udin melakukan apa yang dipercayakan padanya tanpa berbuat curang atau mengabaikan perintah Bu Arwiyah dengan menganggap bahwa perintah tersebut merupakan misi kemanusiaan yang bisa dia lakukan. Ada pun bukti dari perilaku Udin yang menunjukkan tindakan jujur ini terdapat di bawah ini.

“Tapi saya nggak bermaksud meremehkan kamu. Serius. Kamu memang kelihatan menarik dengan kepala plontos kamu. Hanya saja…” Udin tak melanjutkan ucapannya.

“Hanya saja apa?”

“Aku salah membandingkan kamu. Harusnya bukan Frank…” (Imawan, 2013:78)

Referensi

Dokumen terkait