• Tidak ada hasil yang ditemukan

THE ASSOCIATION BETWEEN AFFECTIVITY, PERCEIVED STRESS, PAIN AND CULTURAL ASPECTS IN PATIENTS WITH BIPOLAR DISORDER DR. Dr. Cokorda Bagus Jaya Lesmana,

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "THE ASSOCIATION BETWEEN AFFECTIVITY, PERCEIVED STRESS, PAIN AND CULTURAL ASPECTS IN PATIENTS WITH BIPOLAR DISORDER DR. Dr. Cokorda Bagus Jaya Lesmana,"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

1 THE ASSOCIATION BETWEEN AFFECTIVITY, PERCEIVED STRESS, PAIN AND

CULTURAL ASPECTS IN PATIENTS WITH BIPOLAR DISORDER

DR. Dr. Cokorda Bagus Jaya Lesmana, SpKJ(K), MARS Department of Psychiatry, Udayana University, Bali

Abstract

Bipolar disorder (BD) is characterized to be a chronic, progressive disorder with significant residual affective symptoms between episodes of depression and mania/hypomania rather than a classically cyclical illness. BD is a common condition with reported lifetime prevalence in the population and when people attending general physicians. Many studies have shown that pain is common in patients with BD and even more frequent than in major depression. Recovery from episodes normally takes months even if they are appropriately treated receiving mood stabilizing medication. The burden of total health care for patients with BD is estimated at two to four times higher than for age and sex matched controls.

In patients with major depression about to be hospitalized, complained of at least one painful symptom is more than multiple painful symptoms. The presence of bodily pain in patients with major depression also predicts a more prolonged and a more severe course of the depressive episode. With recovery and treatment of depression makes physical symptoms decrease indicate a mechanistic link between pain and depression. Patients with unexplained somatic syndromes shows more common symptoms of anxiety and depression associated with pain such as irritable bowel syndrome, fibromyalgia and chronic fatigue syndrome thus supporting a bidirectional mechanistic link between affectivity and pain.

In a recent meta-analysis, the prevalence of chronic pain was two-fold increased risk compared to the general population. Impaired recovery of depressive episodes, lower quality of life and an increased risk of suicide are associated with presence of pain. The presence of perceived stressed is associated to the present of any pain overall as well to hip and neck pain in patients with BD. It is known that pain in patients with BD is associated with a lower quality of life and with suicidal behavior and deteriorate the recovery of affective symptoms. Hence, there are multiple reasons as to why it is important to identify chronic pain in these patients and to treat not only the psychiatric symptoms but also to involve coping strategies for stress as well as treatment of pain.

The biomedical model for understanding and treating BD seems to be shared by most health care professionals globally. However, this does not mean that cultural or psychological factors are unimportant. The biomedical model need a recognition to expand to the bio-psycho- spirit-social-cultural model that constitutes the current understanding of psychiatric disorders and treatment interventions. Cultural factors affected the manner patients present and clinicians understand and respond to symptoms. It is necessary to be aware of culture-bound features, besides the primacy of mania. Consequently, there is a need for continued research to identify cultural characteristics in BD.

Keywords: affectivity, bipolar disorder, cultural, pain, perceived stress

(7)

2 Abstrak

Gangguan bipolar dicirikan sebagai gangguan progresif kronis, dengan gejala afektif residual yang signifikan antara episode depresi dan mania/hypomania dibandingkan dengan penyakit yang memiliki siklus klasik. Gangguan bipolar adalah kondisi yang umum dengan prevalensi seumur hidup dilaporkan dalam populasi dan pada mereka yang berobat ke dokter umum. Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa rasa sakit umum terjadi pada pasien gangguan bipolar dan bahkan lebih sering daripada pada gangguan depresi. Pemulihan dari episode-episode yang terjadi biasanya membutuhkan waktu berbulan-bulan meskipun telah mendapat terapi dengan obat mood stabilizer. Beban biaya perawatan kesehatan untuk pasien gangguan bipolar diperkirakan dua sampai empat kali lebih tinggi daripada kontrol dengan usia dan jenis kelamin yang sama.

Pada pasien rawat inap dengan gangguan depresi, mengeluh setidaknya satu gejala menyakitkan. Adanya nyeri tubuh pada pasien dengan depresi juga memprediksi kejadian depresi yang lebih panjang dan berat. Dengan pemulihan dan pengobatan depresi membuat gejala fisik menurun, ini menunjukkan adanya hubungan mekanisme antara rasa sakit dan gejala depresi.

Pasien dengan sindrom somatik menunjukkan gejala fisik yang lebih umum daripada kecemasan dan depresi terkait dengan rasa sakit seperti sindrom iritasi usus, fibromyalgia dan sindrom kelelahan kronis sehingga mendukung hubungan mekanisme dua arah antara afek dan rasa sakit.

Dalam meta-analisis baru-baru ini, terjadi peningkatan prevalensi risiko nyeri kronis dua kali lipat dibandingkan dengan populasi umum. Terganggunya pemulihan episode depresi, kualitas hidup yang lebih rendah dan peningkatan risiko bunuh diri berhubungan dengan munculnya nyeri.

Perasaan stres berhubungan dengan nyeri secara keseluruhan termasuk nyeri pinggul dan leher pada pasien gangguan bipolar. Nyeri pada pasien gangguan bipolar berhubungan dengan kualitas hidup yang lebih rendah perilaku bunuh diri dan perburukan pemulihan pada gejala afektif. Oleh karena itu, ada beberapa alasan mengapa penting untuk mengidentifikasi nyeri kronis pada pasien gangguan bipolar dan mengobati tidak hanya gejala psikiatri tetapi juga melibatkan strategi penanganan stres serta pengobatan nyeri.

Model biomedis untuk memahami dan mengobati gangguan bipolar tampaknya telah dipahami oleh sebagian besar profesional kesehatan. Namun, ini tidak berarti bahwa faktor budaya atau psikologis tidak penting. Model biomedis perlu memperluas ke model biopsikospirit-sosial budaya yang menjadi pemahaman gangguan kejiwaan dan intervensi pengobatan saat ini. Faktor budaya mempengaruhi perilaku pasien, cara klinisi memahami dan merespon gejala. Untuk itu perlu disadari aspek terkait budaya, selain gejala mania. Sebagai konsekwensinya, ada kebutuhan penelitian berkelanjutan guna mengidentifikasi karakteristik budaya pada gangguan bipolar.

Kata kunci: afektivitas, gangguan bipolar, budaya, nyeri, stres

(8)

3 Pendahuluan

Gangguan bipolar memiliki perjalanan penyakit yang unik. Ditandai dengan episode hipomanik/manik dan depresi yang terjadi secara bergantian dan berulang (Anderson & Maes, 2015). Gangguan bipolar menempati posisi kedua terbanyak sebagai penyebab ketidakmampuan/disabilitas (Ferrari et al., 2016). Penderita gangguan bipolar dengan riwayat stres traumatik dapat mengalami bunuh diri 15 kali lebih banyak dibandingkan dengan populasi umum (Wilcox et al., 2017).

Selama dekade terakhir, gangguan bipolar terbukti sebagai gangguan kronis dan progresif dengan gejala afektif residual yang signifikan antara episode depresi dan mania/hipomania dibandingkan dengan penyakit yang memiliki siklus klasik. Orang dengan gangguan bipolar menunggu rata-rata 13,2 tahun sebelum mereka didiagnosis, dan sering menghabiskan bertahun- tahun menerima pengobatan untuk kondisi lain. Pemulihan dari episode biasanya memakan waktu berbulan-bulan dan dari seluruh pasien yang mengalami sejumlah gejala afektif membutuhkan waktu sekitar 50% bahkan setelah menerima obat mood stabilizer (Nielsen et al., 2019). Beban biaya perawatan kesehatan untuk pasien gangguan bipolar diperkirakan dua sampai empat kali lebih tinggi daripada kontrol dengan usia dan jenis kelamin yang sama. Konsekuensi psikososial dari gangguan bipolar adalah peningkatan pengangguran, kehilangan pekerjaan secara signifikan lebih besar dan kecacatan dalam jangka pendek, dampak negatif pada hubungan interpersonal, hingga tingginya tingkat perceraian.

Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa rasa nyeri umum dijumpai pada pasien gangguan bipolar dan bahkan lebih umum daripada pada depresi berat. Dalam meta analisis terkini, prevalensi nyeri kronis adalah 23,7% pada pasien dengan gangguan bipolar, dimana terjadi peningkatan risiko dua kali lipat dibandingkan dengan populasi umum. Nyeri dikaitkan dengan gangguan pemulihan episode depresi, kualitas hidup yang lebih rendah dan peningkatan risiko bunuh diri (Ferro, 2016).

Pada pasien dengan depresi berat yang akan dirawat di rumah sakit, 92% mengeluhkan setidaknya satu gejala nyeri dan 76% melaporkan beberapa gejala nyeri. Munculnya nyeri badan pada pasien dengan depresi berat juga memprediksi perjalanan episode depresi yang lebih lama dan lebih berat. Gejala fisik berkurang dengan pemulihan dan dengan pengobatan depresi, mengindikasikan adanya hubungan antara nyeri dan depresi. Kecemasan dan depresi juga umum dijumpai pada pasien dengan keluhan nyeri pada sindrom somatik yang tidak dapat dijelaskan

(9)

4 seperti sindrom iritasi usus, fibromyalgia dan sindrom kelelahan kronis sehingga mendukung hubungan dua arah antara afektivitas dan nyeri (Bortolato et al., 2016).

Dibutuhkan pemahaman yang lebih baik tentang hubungan mood dan rasa sakit pada pasien gangguan bipolar. Model biomedis untuk memahami dan mengobati gangguan bipolar tampaknya perlu diperluas ke model biopsikospirit-sosial budaya yang menjadi pemahaman gangguan kejiwaan dan intervensi pengobatan saat ini. Faktor budaya mempengaruhi perilaku pasien, cara klinisi memahami dan merespon gejala. Untuk itu perlu disadari aspek terkait budaya, selain gejala-gejala klinis gangguan bipolar.

Definisi Gangguan Bipolar

Gangguan bipolar adalah gangguan jiwa yang ditandai dengan perubahan mood (suasana perasaan), pikiran, energi, dan perilaku yang dramatis dari suasana perasaan serta energi dan aktivitas yang meningkat (mania atau hipomania) di suatu waktu, menjadi penurunan suasana perasaan serta pengurangan energi dan aktivitas (depresi) di waktu yang lain. Dari perasaan senang luar biasa atau uring-uringan menjadi perasaan sedih disertai rasa putus asa. Sebelumnya, gangguan bipolar disebut juga dengan manik depresi. Istilah gangguan bipolar sebenarnya kurang tepat karena tidak selalu merupakan dua emosi yang berlawanan dari suatu kontinum. Kadang- kadang pasien bisa memperlihatkan dua dimensi emosi yang muncul bersamaan, pada derajat berat tertentu. Keadaan ini memiliki mekanisme neurobiologi yang serupa dengan gangguan depresi dan spektrum psikosis (Muneer, 2016).

Uniknya, periode mood yang normal (eutimik) terjadi diantara episode perubahan mood tersebut. Adanya fase normal pada gangguan bipolar sering mengakibatkan buruknya kepatuhan minum obat, karena dikira sudah sembuh (Wesley, Manjula & Thirthalli, 2018). Padahal, selama periode mood eutimik, pasien berisiko mengalami kekambuhan menjadi mania, hipomania, campuran atau depresi. Kekambuhan dapat terjadi setiap saat, tanpa adanya tanda-tanda awal (warning)

Gangguan bipolar merupakan penyakit yang memiliki spektrum, dalam artian variasi manifestasinya sangat luas. Semua pasien dengan gangguan bipolar bisa mengalami satu atau lebih episode selama kehidupan mereka dengan frekuensi, lama, dan pola episode yang sangat bervariasi diantara pasien. Gangguan cemas sering muncul ketika mood mereka dapat terkontrol dengan baik (Pavlova et al., 2017).

(10)

5 Pada DSM-IV TR, gambaran esensial gangguan bipolar adalah kemunculan sekurang- kurangnya satu episode mania, biasanya, meskipun tidak selalu, disertai sekurang-kurangnya satu episode depresi. Oleh karena itu, berdasarkan definisi, setiap orang yang sebelumnya baik kemudian menderita episode pertama mania (atau hipomania), akan digolongkan sebagai penderita gangguan bipolar. Di lain sisi, jika orang yang sebelumnya baik kemudian menderita satu atau lebih episode depresi, suatu diangnosis gangguan bipolar tidak akan ditegakkan, kecuali jika dan sampai episode mania terjadi (American Psychiatric Association., 2000). Pada ICD-10, definisi gangguan bipolar sedikit berbeda, yaitu harus terdapat riwayat setidaknya dua episode gangguan mood dan setidaknya salah satu harus berupa mania (atau hipomania) (World Health Organization., 1992).

Berdasarkan Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) III, gangguan ini bersifat episode berulang yang menunjukkan suasana perasaan pasien dan tingkat aktivitasnya jelas terganggu, dan gangguan ini pada waktu tertentu terdiri dari peninggian suasana perasaan serta peningkatan energi dan aktivitas (mania atau hipomania), dan pada waktu lain berupa penurunan suasana perasaan serta pengurangan energi dan aktivitas (depresi). Yang khas adalah terdapat penyembuhan sempurna antar episode. Episode manik biasanya mulai dengan tiba- tiba dan berlangsung antara 2 minggu sampai 4-5 bulan, sedangkan depresi cenderung berlangsung lebih lama.

Episode pertama bisa timbul pada setiap usia dari masa kanak-kanak sampai tua.

Kebanyakan kasus terjadi pada dewasa muda berusia 20-30 tahun. Semakin dini seseorang menderita bipolar maka risiko penyakit akan lebih berat, kronik bahkan refrakter.

Gangguan Bipolar, Depresi dan Skizofrenia

Gangguan bipolar tersifat oleh episode berulang (yaitu sekurang-kurangnya dua) yang menunjukkan suasana perasaan (mood) pasien dan tingkat aktivitasnya jelas terganggu, dan gangguan ini pada waktu tertentu terdiri dari peninggian suasana perasaan (mood) serta peningkatan enersi dan aktivitas (mania atau hipomania), dan pada waktu lain berupa penurunan suasana perasaan (mood) serta pengurangan enersi dan aktivitas depresi). Yang khas adalah bahwa biasanya ada penyembuhan sempurna antar episode, dan insidensi pada kedua jenis kelamin kurang lebih sama dibanding dengan gangguan suasana perasaan (mood) lainnya (Stein et al., 2005).

(11)

6 Pasien dengan gangguan bipolar sebanyak 35-60% mengalami fase depresi lebih dulu sebelum mengalami fase mania, sehingga membuat diagnosis semakin menyulitkan. Disamping itu, pasien gangguan bipolar I maupun II mengalami fase depresi lebih sering daripada fase hipomania/mania atau fase campuran. Pada fase depresi yang dijumpai, pada gangguan bipolar melalui dua fase mania dan depresi yang fase depresi cenderung lebih singkat atau panjang (Malhi

& Yatham, 2004).

Selain sulitnya membedakan gangguan bipolar dengan depresi mayor, pada saat kondisi akut, simptom gangguan bipolar episode kini manik bisa sangat mirip dengan skizofrenia atau skizoafektif (Holder, 2017). Secara umun dipahami bahwa skizofrenia dan gangguan bipolar diklasifikasikan sebagai dua gangguan dengan kriteria diagnosis dan pola terapi yang berbeda.

Namun, dalam beberapa penelitian genetik molekuler pada dekade terakhir menduga adanya kesamaan gen pada kedua gangguan ini. Diantara keluarga penderita bipolar, terdapat peningkatan risiko munculnya gangguan Skizofrenia, termasuk anak yang diadopsi dari orang tua biologis yang menderita gangguan bipolar (El-Mallakh & Ghaemi, 2006).

Adanya beberapa persamaan dari gejala dan onset antara skizofrenia dan gangguan bipolar seperti: gejala dimulai antara umur 16-30 tahun, kedua gangguan dapat mengalami gejala psikosis, keduanya dapat mengalami depresi, terapinya dapat menggunakan antipsikotik (Caponigro, 2012).

Anamnesa dan heteroanamnesa sangat memegang peranan dalam membedakan kedua gejala ini.

Individu yang menderita skizofrenia pada saat dewasa telah menunjukkan gejalanya pada masa anak-anak. Gejala-gejala tersebut diantaranya telat bicara, susah bersosialisasi, akademik yang lemah dan performa kognitif yang lemah, sedangkan pada gangguan bipolar menunjukkan beberapa performa seperti: Pertama, orang dengan hipomania terlihat memiliki kosa kata yang lebih banyak, daya ingat dan daya kognitif lainnya yang lebih dalam serta ide-ide inovasi yang tiada henti. Orang dengan kondisi mental seperti ini terlihat lebih jenaka dan penuh daya cipta.

Kedua, orang dengan gangguan bipolar sering terlihat memiliki respon emosional yang berlebihan dimana hal itu berguna dalam perkembangan bakat mereka dalam seni, musik, dan sastra. Ketiga, individu dengan hipomania sering memiliki stamina yang lebih dan tanpa lelah untuk melakukan konsentrasi terhadap sesuatu hal. Salah satu atau semua kondisi kognitif tersebut atau kecenderungan kondisi mental hipomania menghasilkan performa bagus di pelajaran kreatifitas di sekolah. Brain-derived neurotrophic factor (BDNF), peradangan dan kerusakan oksidatif

(12)

7 berhubungan secara signifikan dengan adanya disfungsi kognitif pada gangguan bipolar (Mora et al., 2019).

Seseorang dengan gangguan bipolar, biasanya dapat hidup secara normal, dapat bekerja seperti orang kebanyakan, mempunyai hubungan yang baik dan keluarga, bahkan bisa sangat sukses dalam berkarier. Sedangkan pada penderita skizofrenia, lebih sering tidak dapat bekerja, cenderung memiliki masalah dalam menjalin suatu hubungan. Lingkungan keluarga memiliki hubungan yang signifikan terhadap keparahan gejala klinis gangguan bipolar (Reinares et al., 2016).

Aspek Afektivitas, Stres, dan Nyeri

Nyeri kronik sering dialami oleh pasien dengan gangguan bipolar. Pasien dengan nyeri lokasi multipel kronis lebih rentan mengalami gangguan depresi mayor dan memiliki risiko tinggi gangguan bipolar. Data yang terpublikasi masih terbatas mengenai faktor yang berhubungan dengan nyeri pada gangguan bipolar (Stubbs et al., 2015). Nyeri ditemukan berhubungan dengan stres yang dialami namun tidak terhadap keluhan kecemasan dan depresi. Faktor usia yang lebih tua, bercerai, memiliki riwayat diagnosis tipe depresi yang lain, dan gangguan tidur berhubungan dengan nyeri namun tidak untuk skor depresi (dinilai dengan skor Hamilton scale). Tidak terdapat hubungan status pernikahan dan usia dengan nyeri.

Nyeri menjadi gejala (28,9% pasien) pasien gangguan bipolar yang memiliki skor depresi tinggi (Stubbs et al., 2015). Gejala depresi setelah disesuaikan dengan usia, jenis kelamin, kecemasan, dan stres secara signifikan berhubungan dengan nyeri abdomen serta nyeri lutut. Area abdomen menjadi area yang sensitif terhadap stimuli visceral dan nyeri, yang mengarahkan pada hubungan antara gejala depresi dengan nyeri visceral. Studi pada pasien unipolar saat mengalami depresi, gejala fungsional gastrointestinal tampak signifikan dan sesuai dengan pasien irritable bowel syndrome yang juga melaporkan kecemasan serta gejala depresi yang lebih menonjol dari yang diperkirakan (Karling et al., 2016).

Hubungan antara stres dan nyeri dapat dijelaskan melalui dua cara. Pertama, stres kronis dan depresi dapat menurunkan ambang batas nyeri. Kedua, nyeri kronis dapat menurunkan toleransi stres dan menyebabkan depresi. Mekanisme neurobiologi nyeri dan depresi cukup kompleks, mungkin saling menyokong dan sebagian besar belum diketahui (Ozerdem, Ceylan &

Can, 2016). Pengalaman nyeri mencakup komponen sensori namun juga persepsi, kognisi serta

(13)

8 proses di pusat sensori otak yang lebih tinggi. Nyeri yang tersebar dilaporkan oleh pasien dengan gangguan bipolar dan depresi, menunjukkan adanya abnormalitas di fungsi sistem saraf pusat yang lebih tinggi atau insufisiensi inhibisi nyeri yang menyebabkan pasien bipolar mengeluhkan nyeri yang tersebar luas.

Struktur otak tertentu, seperti hipokampus dan amygdala berhubungan dengan patogenesis nyeri pada pasien dengan depresi. Struktur tersebut terlibat dalam matriks nyeri yang mentransmisi dan mengkode, meneruskan dan meningkatkan informasi nosiseptif atau menurunkan sensasi nyeri, memungkinkan ekspresi perilaku defensif atau distres serta mempengaruhi regulasi afek.

Hipokampus juga berperan dalam regulasi stres dan kecemasan serta proses memori dan belajar.

Struktur otak juga berperan dalam proses dan modifikasi stimuli nosiseptif serta mengintegrasi informasi sensori, autonom serta afek. Nyeri kronis, stres kronis, dan depresi juga berhubungan dengan atrofi hipokampus (Han et al., 2018).

Afektivitas dan emosi juga melibatkan amigdala, yang memiliki jalur bidireksional dengan hipokampus. Amigdala dianggap sebagai penyedia nilai emosional, baik positif atau negatif terhadap informasi sensori, dan perilaku adaptif, respon afektif serta memori emosional (Soehner et al., 2018). Nukleus sentral dari amigdala menerima informasi nosiseptif dari berbagai sumber, seperti batang otak, thalamus dan korteks serebri dan dipercaya berperan dalam hipoalgesia yang dijumpai pada stres akut serta hiperalgesia pada stres kronis.

Pasien dengan nyeri pada gangguan bipolar menunjukkan keterlambatan terapi mood stabilizer secara signifikan dan diterapi dalam durasi yang lebih singkat dengan mood stabilizer daripada pasien tanpa nyeri. Pasien dengan nyeri cenderung memiliki riwayat episode depresi yang lebih banyak di masa lalu. Gangguan bipolar yang tidak diterapi dan beban stres yang lebih tinggi berpengaruh pada hipokampus serta amigdala sehingga menyebabkan perubahan jangka panjang bahkan perubahan permanen pada area tersebut dengan dampak hyperalgesia (Machado-Vieira, 2018).

Satu teori di balik nyeri pada depresi adalah inhibisi nyeri yang tidak mencukupi oleh monoamin. Telah diketahui bahwa antidepresan memiliki efek terhadap nyeri kronis. Sebagai contoh, duloxetine, sebuah selective noradrenaline and serotonin reuptake inhibitor (SNRI) efektif dalam menterapi gangguan afektif dan kondisi nyeri seperti nyeri neuropati diabetikum. Sebagai tambahan pada pasien dengan depresi mayor dan nyeri yang diterapi dengan duloxetine, kecepatan remisi depresi untuk reponden dengan nyeri dua kali lebih cepat dari remisi responden tanpa nyeri.

(14)

9 Pada mereka yang mengalami gangguan depresi, pemberian SNRI berhubungan dengan peningkatan risiko gangguan bipolar (Patel et al., 2015).

Melihat hal tersebut di atas dapat dikatakan bahwa stres yang dialami pasien gangguan bipolar berhubungan dengan adanya nyeri secara menyeluruh, baik nyeri pinggang dan leher.

Keluhan depresi berhubungan dengan nyeri abdomen dan nyeri lutut. Selain itu nyeri pada pasien gangguan bipolar berhubungan dengan kualitas hidup yang lebih rendah dan dengan perilaku mengancam jiwa serta kemunduran pemulihan gejala afektif. Terdapat berbagai alasan mengapa penting untuk mengidentifikasi nyeri kronis pada pasien tersebut dan tidak memberikan terapi hanya pada gejala psikiatri namun juga melibatkan strategi menyeluruh untuk stres dan juga terapi nyeri.

Aspek budaya

Budaya berkontribusi pada etiologi, penanganan, dan pengobatan penyakit. Meskipun tujuan pencegahan dan pengobatan penyakit dan pemeliharaan kesehatan kita mungkin sama di seluruh budaya, namun budaya bervariasi dalam definisi mereka tentang apa yang dianggap

"sehat". Perbedaan budaya juga ada dalam persepsi masalah dan dalam pilihan strategi untuk mengatasi masalah. Tugas kita dibuat lebih sulit karena keyakinan dan praktek budaya mempengaruhi pengobatan, dan berpengaruh kepada terapis dan pasien dalam mendefinisikan dan memahami masalah. Pendekatan tradisional untuk pengobatan perilaku abnormal terbukti tidak sensitif atau tidak pantas bila diterapkan di seluruh budaya.

Individu yang didiagnosis dengan gangguan bipolar, gejala yang dimunculkan didasarkan pada keyakinan budaya, nilai, dan norma mereka. Budaya adalah fenomena biopsikososial yang kompleks dan personal yang memberikan makna dalam kehidupan bagi individu, kelompok, atau masyarakat (Warren, 2007).

Seperti halnya pada depresi, terdapat perbedaan prevalensi dan insiden gangguan bipolar berdasarkan gender, wilayah dan etnis. Pada studi epidemiologic catchment area menemukan bahwa, ketika variabel lain dikendalikan, prevalensi gangguan bipolar serupa dalam kelompok etnis dan agama yang berbeda. Sebuah studi yang membandingkan karakteristik epidemiologi gangguan bipolar di berbagai negara menunjukkan kesamaan yang luar biasa di antara berbagai daerah di dunia dalam prevalensi, rasio pria/wanita, dan usia onset terjadinya gangguan (Oedegaard et al., 2016). Di penelitian lain disebutkan, terdapat perbedaan antara berbagai negara

(15)

10 dalam prevalensi gangguan bipolar dan gangguan spektrum bipolar lainnya. Perbedaan ini terkait dengan faktor seperti konsumsi makanan laut seumur hidup di berbagai wilayah negara yang diteliti. Hal ini dihubungkan dengan seafood yang kaya akan Omega-3, sebagai pelindung terhadap gangguan bipolar. Studi lain membandingkan efek dari aspek etnis pada variasi musiman dalam tingkat rawat inap pasien dengan gangguan mood menunjukkan bahwa variabel etnis tidak berpengaruh pada jumlah dan distribusi musiman rawat inap pasien gangguan bipolar.

Di Inggris, ditemukan imigran Afrika-Karibia memiliki risiko yang lebih besar untuk menyajikan profil manik daripada Kaukasia (Kirov & Murray, 1999). Mengingat fakta bahwa kelompok etnis ini juga berisiko lebih besar untuk mengalami skizofrenia. Namun secara keseluruhan tidak ditemukan bukti yang konsisten bahwa gangguan bipolar lebih lazim dalam kelompok etnis tertentu atau menunjukkan profil epidemiologi yang berbeda dalam etnis yang berbeda. Data dalam literatur menunjukkan bahwa, di antara pasien yang menderita gangguan mood dari etnis atau budaya yang berbeda, memiliki faktor yang melekat pada hubungan psikiater- pasien, seperti masalah linguistik dan kosa kata, perbedaan budaya dalam penafsiran gejala tertentu, dan stereotipe rasial yang mempengaruhi proses diagnostik. Namun, dimungkinkan bahwa faktor tersebut juga karena adanya variasi budaya dalam presentasi klinis gangguan bipolar (Demissie et al., 2018).

Pada penelitian yang berfokus pada ordo keagamaan Amish di Amerika Serikat ditemukan bahwa, dalam karakterisasi gejala, beberapa gejala manik, seperti agitasi psikomotor dan penurunan kebutuhan untuk tidur, dapat dianggap bebas dari pengaruh budaya. Namun, gejala seperti grandiositas dan keterlibatan yang berlebihan dalam kegiatan, dan meningkatnya harga diri, misalnya, akan dianggap sebagai dosa di antara individu Amish dan umumnya tidak muncul dalam wawancara psikiatri. Selain itu, tingginya kejadian halusinasi dan delusi yang sebagian besar berhubungan dengan keagamaan, diamati dalam populasi ini (Shaw et al., 2005). Hal serupa juga ditemukan pada sebuah studi pasien manik di India, keanehan fenomenologis juga diamati, dengan rendahnya terjadinya flight of ideas dan proporsi yang relatif tinggi pada gejala waham persecutory dan waham menyalahkan diri.

Penanganan gangguan jiwa dalam lingkungan terapeutik yang berbeda dipengarhui oleh faktor etnis dan budaya. Sebuah studi retrospektif berfokus secara khusus pada manajemen psikofarmakologis gangguan bipolar menunjukkan bahwa remaja ras Afrika-Amerika didiagnosis dengan gangguan bipolar yang dirawat di rumah sakit memiliki angka kejadian dua kali lebih

(16)

11 mungkin untuk menerima antipsikotik dari pasien Kaukasia dengan diagnosis yang sama. Hal ini mungkin terkait dengan overestimasi gejala psikotik pada ras Afrika-Amerika (Angst et al., 2018).

Pasien gangguan bipolar yang memiliki keyakinan agama yang dianggap "kuat", menunjukkan tingkat kepatuhan terhadap pengobatan yang lebih rendah daripada mereka yang keyakinannya dianggap "lemah". Koping religius yang negatif berhubungan dengan kualitas hidup yang memburuk pada pasien gangguan bipolar (Stroppa & Moreira-Almeida, 2013). Lingkungan budaya yang sangat ketat secara moral berhubungan dengan episode manik pada wanita dan berdampak kepada pengobatan yang diberikan. Dalam studi lain, dilaporkan meningkatnya angka kekambuhan pasien gangguan bipolar yang sedang dalam pengobatan lithium disebabkan karena ritual berpuasa dan perubahan rutin selama bulan suci Ramadan (Eddahby, Kadri & Moussaoui, 2013). Hal ini menunjukkan bahwa aspek etnokultur tampaknya mempengaruhi presentasi klinis, diagnosis dan pengobatan gangguan bipolar. Aspek sosiobudaya memiliki pengaruh potensial terhadap gejala klinis yang berhubungan dengan modalitas pengobatan gangguan bipolar.

Simpulan

Perasaan dan emosi merupakan aspek terpenting dalam hidup kita. Afektivitas, stress dan nyeri pada gangguan bipolar merupakan gambaran dari pasien dalam menyampaikan keluhannya.

Gejala-gejala tersebut banyak dipengaruhi oleh budaya yang berdampak pada interaksi antara pasien, keluarganya dan dokter serta sistem kesehatan. Untuk itu perlu adanya peningkatan pemahaman terhadap gejala klinis gangguan bipolar dan aspek budaya yang mendasarinya guna memberikan modalitas penanganan yang lebih baik

(17)

12 Daftar Pustaka

American Psychiatric Association. (2000). Diagnostic criteria from DSM-IV-TR. Washington, D.C.: American Psychiatric Association.

Anderson, G., & Maes, M. (2015). Bipolar disorder: role of immune-inflammatory cytokines, oxidative and nitrosative stress and tryptophan catabolites. Curr Psychiatry Rep, 17(2), 8.

doi: 10.1007/s11920-014-0541-1

Angst, J., Rossler, W., Ajdacic-Gross, V., Angst, F., Wittchen, H. U., Lieb, R., et al. (2018).

Differences between unipolar mania and bipolar-I disorder: Evidence from nine epidemiological studies. Bipolar Disord. doi: 10.1111/bdi.12732

Bortolato, B., Berk, M., Maes, M., McIntyre, R. S., & Carvalho, A. F. (2016). Fibromyalgia and Bipolar Disorder: Emerging Epidemiological Associations and Shared Pathophysiology.

Curr Mol Med, 16(2), 119-136.

Caponigro, J. M. (2012). Bipolar disorder : a guide for the newly diagnosed. Oakland, CA: New Harbinger Publications.

Demissie, M., Hanlon, C., Birhane, R., Ng, L., Medhin, G., & Fekadu, A. (2018). Psychological interventions for bipolar disorder in low- and middle-income countries: systematic review.

BJPsych Open, 4(5), 375-384. doi: 10.1192/bjo.2018.46

Eddahby, S., Kadri, N., & Moussaoui, D. (2013). [Ramadan and bipolar disorder: Example of circadian rhythm disturbance and its impact on patients with bipolar disorders]. Encephale, 39(4), 306-312. doi: 10.1016/j.encep.2012.11.008

El-Mallakh, R. S., & Ghaemi, S. N. (2006). Bipolar depression : a comprehensive guide (1st ed.).

Washington, DC: American Psychiatric Pub.

Ferrari, A. J., Stockings, E., Khoo, J. P., Erskine, H. E., Degenhardt, L., Vos, T., et al. (2016). The prevalence and burden of bipolar disorder: findings from the Global Burden of Disease Study 2013. Bipolar Disord, 18(5), 440-450. doi: 10.1111/bdi.12423

Ferro, M. A. (2016). Major depressive disorder, suicidal behaviour, bipolar disorder, and generalised anxiety disorder among emerging adults with and without chronic health conditions. Epidemiol Psychiatr Sci, 25(5), 462-474. doi: 10.1017/S2045796015000700 Han, X., Liu, X., Li, L., Xie, B., Fan, B., Qiu, Y., et al. (2018). Neural Activation During Tonic

Pain and Interaction Between Pain and Emotion in Bipolar Disorder: An fMRI Study.

Front Psychiatry, 9, 555. doi: 10.3389/fpsyt.2018.00555

Holder, S. D. (2017). Psychotic and Bipolar Disorders: Bipolar Disorder. FP Essent, 455, 30-35.

Karling, P., Maripuu, M., Wikgren, M., Adolfsson, R., & Norrback, K. F. (2016). Association between gastrointestinal symptoms and affectivity in patients with bipolar disorder. World J Gastroenterol, 22(38), 8540-8548. doi: 10.3748/wjg.v22.i38.8540

Kirov, G., & Murray, R. M. (1999). Ethnic differences in the presentation of bipolar affective disorder. Eur Psychiatry, 14(4), 199-204.

Machado-Vieira, R. (2018). Lithium, Stress, and Resilience in Bipolar Disorder: Deciphering this key homeostatic synaptic plasticity regulator. J Affect Disord, 233, 92-99. doi:

10.1016/j.jad.2017.12.026

Malhi, G. S., & Yatham, L. N. (2004). Bipolar and beyond. Copenhagen: Blackwell Munksgaard.

Mora, E., Portella, M. J., Pinol-Ripoll, G., Lopez, R., Cuadras, D., Forcada, I., et al. (2019). High BDNF serum levels are associated to good cognitive functioning in bipolar disorder. Eur Psychiatry. doi: 10.1016/j.eurpsy.2019.02.006

(18)

13 Muneer, A. (2016). The Neurobiology of Bipolar Disorder: An Integrated Approach. Chonnam

Med J, 52(1), 18-37. doi: 10.4068/cmj.2016.52.1.18

Nielsen, R. E., Kugathasan, P., Straszek, S., Jensen, S. E., & Licht, R. W. (2019). Why are somatic diseases in bipolar disorder insufficiently treated? Int J Bipolar Disord, 7(1), 12. doi:

10.1186/s40345-019-0147-y

Oedegaard, C. H., Berk, L., Berk, M., International Society for Bipolar Disorders Transcultural Task, F., Youngstrom, E. A., Dilsaver, S. C., et al. (2016). An ISBD perspective on the sociocultural challenges of managing bipolar disorder: A content analysis. Aust N Z J Psychiatry, 50(11), 1096-1103. doi: 10.1177/0004867416668790

Ozerdem, A., Ceylan, D., & Can, G. (2016). Neurobiology of Risk for Bipolar Disorder. Curr Treat Options Psychiatry, 3(4), 315-329. doi: 10.1007/s40501-016-0093-6

Patel, R., Reiss, P., Shetty, H., Broadbent, M., Stewart, R., McGuire, P., et al. (2015). Do antidepressants increase the risk of mania and bipolar disorder in people with depression?

A retrospective electronic case register cohort study. BMJ Open, 5(12), e008341. doi:

10.1136/bmjopen-2015-008341

Pavlova, B., Perlis, R. H., Mantere, O., Sellgren, C. M., Isometsa, E., Mitchell, P. B., et al. (2017).

Prevalence of current anxiety disorders in people with bipolar disorder during euthymia: a meta-analysis. Psychol Med, 47(6), 1107-1115. doi: 10.1017/S0033291716003135

Reinares, M., Bonnin, C. M., Hidalgo-Mazzei, D., Colom, F., Sole, B., Jimenez, E., et al. (2016).

Family functioning in bipolar disorder: Characteristics, congruity between patients and relatives, and clinical correlates. Psychiatry Res, 245, 66-73. doi:

10.1016/j.psychres.2016.08.010

Shaw, J. A., Egeland, J. A., Endicott, J., Allen, C. R., & Hostetter, A. M. (2005). A 10-year prospective study of prodromal patterns for bipolar disorder among Amish youth. J Am Acad Child Adolesc Psychiatry, 44(11), 1104-1111. doi:

10.1097/01.chi.0000177052.26476.e5

Soehner, A. M., Goldstein, T. R., Gratzmiller, S. M., Phillips, M. L., & Franzen, P. L. (2018).

Cognitive control under stressful conditions in transitional age youth with bipolar disorder:

Diagnostic and sleep-related differences in fronto-limbic activation patterns. Bipolar Disord, 20(3), 238-247. doi: 10.1111/bdi.12583

Stein, D. J., Kupfer, D. J., Schatzberg, A. F., & American Psychiatric Publishing. (2005). The American Psychiatric Publishing textbook of mood disorders (1st ed.). Washington, DC:

American Psychiatric Pub.

Stroppa, A., & Moreira-Almeida, A. (2013). Religiosity, mood symptoms, and quality of life in bipolar disorder. Bipolar Disord, 15(4), 385-393. doi: 10.1111/bdi.12069

Stubbs, B., Eggermont, L., Mitchell, A. J., De Hert, M., Correll, C. U., Soundy, A., et al. (2015).

The prevalence of pain in bipolar disorder: a systematic review and large-scale meta- analysis. Acta Psychiatr Scand, 131(2), 75-88. doi: 10.1111/acps.12325

Warren, B. J. (2007). Cultural aspects of bipolar disorder: Interpersonal meaning for clients &

psychiatric nurses. J Psychosoc Nurs Ment Health Serv, 45(7), 32-37.

Wesley, M. S., Manjula, M., & Thirthalli, J. (2018). Interepisodic Functioning in Patients with Bipolar Disorder in Remission. Indian J Psychol Med, 40(1), 52-60. doi:

10.4103/IJPSYM.IJPSYM_211_17

Wilcox, H. C., Fullerton, J. M., Glowinski, A. L., Benke, K., Kamali, M., Hulvershorn, L. A., et al. (2017). Traumatic Stress Interacts With Bipolar Disorder Genetic Risk to Increase Risk

(19)

14 for Suicide Attempts. J Am Acad Child Adolesc Psychiatry, 56(12), 1073-1080. doi:

10.1016/j.jaac.2017.09.428

World Health Organization. (1992). The ICD-10 classification of mental and behavioural disorders : clinical descriptions and diagnostic guidelines. Geneva: World Health Organization.

Referensi

Dokumen terkait