• Tidak ada hasil yang ditemukan

Wacana dalam perpuisian Abdul Wachid B.S. arif

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Wacana dalam perpuisian Abdul Wachid B.S. arif"

Copied!
229
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

WACANA DALAM PERPUISIAN ABDUL WACHID B.S.

TESIS

Disusun untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Meraih Gelar Magister

Program Studi Kajian Budaya

Minat Utama: Sastra

oleh

Arif Hidayat

S701008002

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

(2)

commit to user

i

WACANA DALAM PERPUISIAN ABDUL WACHID B.S.

TESIS

Disusun untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Meraih Gelar Magister

Program Studi Kajian Budaya

Minat Utama: Sastra

oleh

Arif Hidayat

S701008002

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

(3)

commit to user

ii

WACANA DALAM PERPUISIAN ABDUL WACHID B.S.

oleh

Arif Hidayat

S701008002

Telah disetujui oleh Tim Pembimbing :

Jabatan Nama Tanda

tangan

Tanggal

Pembimbing I Prof. Dr. Soediro Satoto ……… ………...

NIP. 130516319

Pembimbing II Dr. Titis Srimuda Pitana, ST., M.Trop.Arch ……… ………….

NIP.19680609 199402 1 001

Mengetahui,

Ketua Program Studi Kajian Budaya

(4)

commit to user

iii

Judul

WACANA DALAM PERPUISIAN ABDUL WACHID B.S.

oleh Arif Hidayat

S701008002

Telah Disetujui dan Disahkan oleh Tim Penguji:

Jabatan Nama Tanda tangan Tanggal

Ketua Prof. Dr. Bani Sudardi, M. Hum. ……… …………

NIP. 19640918 198903 1 001

Sekretaris Dr. Nooryan Bahari, M.Sn. ……… …………

NIP. 19650220 199003 1 001

Pembimbing I Prof. Dr. Soediro Satoto ……… ………...

NIP. 130516319

Pembimbing II Dr. Titis Srimuda Pitana, ST., M.Trop.Arch ……… ………….

NIP.19680609 199402 1 001

Mengetahui,

Direktur Program Pascasarjana Ketua Program Studi Kajian Budaya

(5)

commit to user

iv

PERNYATAAN

Nama : Arif Hidayat

NIM : S701008002

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tesis yang berjudul “Wacana dalam

Perpuisian Abdul Wachid B.S.” adalah betul karya saya sendiri. Hal-hal yang

bukan karya saya, dalam tesis ini, diberi tanda citasi dan ditunjukkan dalam daftar

pustaka.

Apabila dikemudian hari terbukti pernyataan saya tidak benar, maka saya bersedia

menerima sanksi akademik berupa pencabutan tesis dan gelar akademik yang saya

peroleh.

Surakarta, 7 Juni 2012 Peneliti,

(6)

commit to user

v

PERSEMBAHAN

Tesis ini peneliti persembahkan kepada:

1. Bapak dan Ibu tercinta sebagai rasa hormat, bakti dan terima kasih untuk

segalanya yang telah diberikan;

2. Adikku tercinta yang memberikan semangat dan kritikan; dan

(7)

commit to user

vi

MOTTO

1. Belajarlah untuk melihat gelap dan terang di sekitarmu agar keseimbangan

dan keadilan tercipta dari batin ketika menemukan rahasia tersembunyi.

2. Kehidupan manusia selalu dijajah oleh pengetahuannya sendiri dan

pengetahuan dapat tersembunyi di mana pun. Seluruh kehidupan ini berisikan

pengetahuan.

3. Sebagian kecil dari rahasia Tuhan telah terpampang luas di alam semesta, tapi

(8)

commit to user

vii ABSTRAK

Arif Hidayat, S701008002. 2012: Wacana dalam Perpuisian Abdul Wachid B.S. TESIS. Pembimbing I: Prof. Dr. Soediro Satoto, Pembimbing II: Dr. Titis Srimuda Pitana, ST., M.Trop.Arch, Program Studi Kajian Budaya Pascasarjana Fakultas Sastra dan Seni Rupa, Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Puisi mampu mengonstruksi realitas melalui permainan bahasa berdasarkan konvensi estetis untuk memperebutkan kebenaran. Setiap penyair berusaha untuk membentuk rangkaian wacana dengan gaya, karakter, dan pola yang berbeda dengan penyair lainnya sebagai inovasi. Selain itu, penyair berusaha untuk memberi keyakinan berdasarkan pandangan-pandangan yang termarginal di dalam kehidupan melalui penanda-penanda, baik yang hadir maupun tak hadir. Tidak heran jika puisi dipandang sebagai bagian dari budaya karena memainkan kebenaran di suatu zaman.

Puisi yang ditulis oleh Abdul Wachid B.S. menggunakan medium bahasa,

yang di sisi lain “bahasa itu tidaklah nertral,” melainkan bahasa mengkonstruks

realitas. Perpuisian Abdul Wachid B.S. lebih banyak dipahami memiliki nilai dan makna mengenai sufi. Padahal, makna tidak dapat muncul secara kolektif. Pemahaman seperti ini ada kekeliruan dengan pretensi pemaknaan didasarkan pada labelitas terdahulu. Pemaknaan seharusnya tidak hanya berhenti pada puisi itu sendiri, melainkan pada entitas, yakni makna-makna yang berada di sekitarnya secara berserakan. Perpuisian Abdul Wachid B.S. memiliki entitas yang dapat ditelusuri lebih jauh karena adanya sistemisasi dalam menulis puisi. Keterhubungan Abdul Wachid B.S. dengan bahasa, realitas, dan institusi sosial merupakan acuan dan makna dari wacana yang terus dikonstruks untuk berdiri pada posisi idealitas, yang bergerak dalam lingkup arena produksi kultural.

Penelitian berjudul “Wacana dalam Perpuisian Abdul Wachid B.S.”

berusaha untuk mendeskripsikan secara mendalam strategi wacana dari puisi-puisi Abdul Wachid B.S.; Mengungkapkan secara mendalam rekonstruksi wacana di dalam perpuisian Abdul Wachid B.S. mampu memperebutkan makna; dan Memformulasikan secara mendalam transformasi wacana dari perpuisian Abdul Wachid B.S.

(9)

commit to user

viii

Hasil dari penelitian ini adalah deskripsi secara mendalam mengenai wacana

yang terkandung di dalam perpuisian Abdul Wachid B.S. Pertama, strategi

wacana di dalam puisi-puisi Abdul Wachid B.S. terbentuk oleh politik metonimi dan metafora. Pertautan antara metonimi dan metafora itu tersembunyi dalam simbol-simbol sehingga variasi bahasa lebih termungkinkan. Dalam bahasa yang bervariatif dapat memungkinkan penyair untuk meyakinkan kepada publik tentang tanda dan substansi dari puisi modern, yang pada tahun 1980-an hingga 2000

kental dengan simbol. Kedua, rekonstruksi wacana di dalam perpuisian Abdul

Wachid B.S. dimulai dengan mengkritisi modernisasi, terutama dengan pembangunan kota yang di sisi lain menyebabkan orang kecil tersisih. Pembangunan yang terjadi pada rezim Orde Baru ditulis dengan serangkaian dialektika, terutama dengan wacana religius yang berusaha untuk mengingatkan kembali hakikat manusia pada nilai. Abdul Wachid B.S. melalui puisi untuk mewacanakan sesuatu yang termarginal dari realitas yang diimpikan oleh rezim

Orde Baru. Ketiga, transformasi wacana dari perpuisian Abdul Wachid B.S.

terbentuk oleh wacana religius yang secara sosial mulai memudar di kalangan modern, tetapi juga sedang berkembang di Indonesia seiring munculnya sastra sufi dan sastra profetik.

(10)

commit to user Faculty of Literature and Fine Arts, Postgraduate Program of Surakarta Sebelas Maret University.

Poetry can construct reality through language games based on aesthetic conventions to fight the truth. Each poet trying to form a series of discourses in the style, characters, and patterns that are different from other poets as innovation. In addition, the poet sought to give confidence based on the views of the marginalized in the life through the markers, both present and absent. No wonder if the poem is seen as part of the culture due to play in an age of truth.

Poems written by Abdul Wachid B.S. using the medium of language, which on the other side "of that language is not nertral," but the reality mengkonstruks language. Abdul collection of poems Wachid B.S. more widely understood to have value and meaning of the Sufis. In fact, the meaning can not appear collectively. Understanding of such misconduct by the pretense of meaning based on previous labelitas. Meaning should not just stop at the poem itself, but the entity, namely the meanings that are scattered around him. Abdul collection of poems Wachid B.S. have entities that can be traced back even further because of the systemization of writing poetry. Connectedness Abdul Wachid B.S. with language, reality, and social institutions are a reference and meaning of the discourse that continues to stand in the shoes dikonstruks ideals, which move within the arena of cultural production.

The study entitled "Discourse in Collection of Poems Abdul Wachid BS" trying to describe in depth the discourse strategies of the poems of Abdul Wachid BS; Reveals in depth reconstruction of the discourse in the perpuisian Abdul Wachid BS able to fight over the meaning, and formulate in-depth transformation of the discourse of perpuisian Abdul Wachid BS.

The approach used in this study carried out multiinterdisipliner involving more than two fields of science for use in mengalisis same problem. no major discipline is used, the text is analyzed based on critical discourse. Discourse theory put forward by Michel Foucault will be supported by theory stilistika to reveal the characteristics of the text, semiotics to reveal the production of meaning, and structuration to reveal the direction of transformation. Abdul collection of poems Wachid BS, which is the object in this study, will be analyzed in depth. Date were obtained through in-depth interviews, direct observation and document analysis.

The results of this study was in depth description of the discourse that is

contained in BS Wachid Abdul collection of poems: First, discourse strategies in

(11)

commit to user

x

Linkage between metonymy and metaphor that is hidden in symbols so that variations in language more possible. Can be varied in a language that allows the poet to convince the public about the sign and substance of modern poetry, which

in the 1980's to 2000 is thick with symbols. Secondly, the reconstruction of the

discourse in the perpuisian Abdul Wachid BS begins with critiquing modernization, especially with urban development on the other hand leads to a small isolated. Development that occurs in the New Order regime was written by a series of dialectics, especially with religious discourses that seek to recall the nature of human values. Abdul Wachid B.S. through poetry for marginalized mewacanakan something of the reality envisioned by the New Order regime.

Third, the transformation of the discourse of perpuisian Abdul Wachid BS formed by religious discourses that are socially began to fade in the modern, but is also being developed in Indonesia as the emergence of Sufi literature and prophetic literature.

(12)

commit to user

xi

KATA PENGANTAR

Dengan telah selesainya penelitian ini, peneliti mengucapkan syukur kepada

Allah SWT yang telah memberikan hidayah, inayah, dan karunia yang begitu

berlimpah. Peneliti sadar bahwa tidak ada kekuatan apapun selain pertolongan

Allah. Untuk itu, tidak lupa pula peneliti haturkan salawat dan salam kepada Nabi

Muhammad SAW sebagai utusan Allah SWT yang telah memberikan pencerahan

kepada umat manusia mengenai pengetahuan, temasuk kepada peneliti.

Dalam kesempatan ini, perkenankanlah peneliti mengucapkan terima kasih

kepada:

1. Prof. Dr. Bani Sudardi, M. Hum., selaku Ketua Program Studi Kajian Budaya,

yang telah memberikan kesempatan dan memberi izin kepada penulis untuk

melakukan penelitian ini;

2. Prof. Dr. Soediro Satoto, selaku dosen pembimbing I yang telah memberikan

masukan dan bimbingan dalam penelitian ini dengan bijak dan sabar; dan

3. Dr. Titis Srimuda Pitana, ST., M.Trop.Arch, selaku dosen pembimbing II

yang telah memberikan bimbingan, saran, dan kritikan dalam penulisan kajian

ini.

Surakarta, 7 Juni 2012

(13)

commit to user

xii

DAFTAR ISI

JUDUL ... i

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

PENGESAHAN TIM PENGUJI ... iii

PERNYATAAN ... iv

PERSEMBAHAN ... v

MOTTO ... vi

ABSTRAK ... vii

KATA PENGANTAR ... xi

DAFTAR ISI ... xii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Masalah ... 12

1.2.1. Identifikasi Masalah ... 12

1.2.2. Pembatasan Masalah ... 14

1.2.3. Rumusan Masalah ... 14

1.3 Tujuan Penelitian ... 15

1.3.1. Tujuan Umum ... 15

1.3.2. Tujuan Khusus ... 15

1.4 Manfaat Penelitian ... 16

1.5 Sistematika Penelitian... 16

BAB II LANDASAN TEORI ... 19

2.1 Kerangka Konsep ... 19

2.1.1 Wacana ... 19

(14)

commit to user

xiii

2.1.3 Perpuisian Abdul Wachid B.S. ... 24

2.2 Kajian Teori ... 26

2.2.1 Produksi Wacana ... 30

2.2.2 Teori Strukturasi ... 42

2.2.3 Teori Semiotika ... 51

2.2.4 Teori Stylistika ... 61

2.3 Kontribusi Pustaka Terdahulu ... 70

BAB III METODE PENELITIAN ... 79

3.1 Model Penelitian ... 79

3.2 Jenis Penelitian dan Pendekatan ... 80

3.3 Metode Penelitian ... 81

3.2.1. Bentuk dan Strategi Penelitian ... 81

3.2.2. Sumber Data ... 84

3.2.2.1. Informan ... 84

3.2.2.2. Arsip atau Dokumen ... 85

3.2.2.3. Instrument Penelitian ... 85

3.2.3. Teknik Pengumpulan Data ... 86

3.2.3.1. Interviewing/ Wawancara Mendalam ... 87

3.2.3.2. Observasi Langsung ... 87

3.2.3.3. Content Analysis/ Analisis Dokumen... 88

3.2.3.4. Teknik Cuplikan ... 88

3.2.3.5. Validitas Data ... 88

3.2.3.6. Teknik Analisi Data ... 89

BAB IVANALISIS DAN PEMBAHASAN ... 92

(15)

commit to user

xiv

4.2Tema-tema Khusus (Tema dalam Perpuisian Abdul Wachid B.S.) ... 109

4.2.1. Buku Puisi Rumah Cahaya ... 110

4.2.2. Buku Puisi Tunjammu Kekasih ... 118

4.2.3. Buku Puisi Ijinkan Aku Mencintaimu dan Beribu Rindu Kekasihku... 122

4.2.4. Buku Puisi Yang ... 129

4.3Analisis Wacana ... 132

4.3.1 Puisi dan Strategi Wacana ... 132

4.3.1.1. Politik Metonimi ... 134

4.3.1.2. Politik Metafora ... 143

4.3.2 Rekonstruksi Wacana Puisi ... 160

4.3.2.1. Produksi Wacana ... 160

4.3.2.2. Kritik Modern sebagai Pengetahuan ... 169

4.3.3 Wacana Religius yang Terpinggirkan Mampu Melahirkan Kuasa ... 192

BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 205

5.1. Simpulan ... 205

5.2. Saran ... 207

DAFTAR PUSTAKA ... 208

DAFTAR WAWANCARA ... 212

LAMPIRAN 1 ... 213

LAMPIRAN 2 ... 224

(16)

commit to user

xv

DAFTAR GAMBAR DAN MATRIK

Gambar 3.1. Model Penelitian ... 79

Gambar 4.1. Keterhubungan membaca dan menulis ... 97

Gambar 4.2. Lingkaran Komunitas Sastra ... 101

Matrik Pengaruh: Relasi-relasi Proses Kreatif Wacana dalam Perpuisian Abdul Wachid B.S. ... 111

Matrik Perubahan: Tipe Tema pada Buku Puisi Abdul Wachid B.S. ... 136

Matrik Strategi Wacana... 164

Matrik Rekonstruksi Wacana ... 197

(17)

commit to user BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang Masalah

Foucault (dalam Sarup 2003:102), “menghargai sastra transgresi—sastra

yang berusaha merongrong pembatasan-pembatasan yang diberikan semua bentuk

wacana karena kelainannya.” Ada pandangan bahwa teks-teks sastra dapat

memberikan ruang bicara bagi sisi yang lain: dunia yang selama ini terabaikan.

Pandangan ini lebih tertuju pada teks-teks sastra yang mengungkap sisi

tersembunyi, yakni wilayah yang lebih partikular dengan menggunakan citra

bahasa yang berbeda dari kehidupan sehari-hari. Ini terutama puisi karena

memiliki kekentalan bahasa melalui metonimi, metafora maupun permainan

simbol yang lebih kaya sehingga dapat menciptakan bermacam kemungkinan

makna baru. Makna dan pesan di dalam puisi yang disampaikan lebih terbuka

untuk dipahami sebagai pengetahuan oleh pembaca.

Sekalipun ide kreatif seorang penyair dalam mencipta puisi bermula dari

kepekaan rasa dalam membaca situasi dan kondisi melalui pengalaman, namun di

dalamnya terdapat pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca. Sekalipun

penyair seperti Emily Dickinson tidak pernah bermaksud hati untuk

mempublikasikan puisi-puisinya, dan memilih menjilid rapi di laci meja kerja,

namun curahannya tetap terkandung pesan: entah kegelisahan hati ataupun

sebagai curahan. Kehadiran puisi di satu sisi memiliki elemen imitatif, tetapi juga

mengandung pesan. Ada pesan denotatif muncul sebagai yang tersurat dan

(18)

commit to user

konotatif sebagai yang tersirat. Kedua pesan itu membentuk wacana sebagai yang

disodorkan kepada masyarakat sebagai pandangan terhadap kebenaran.

Di dalam setiap kata-kata, ada pesan yang mampu diterima sebagai

kebenaran, namun itu diterima dalam multi-interpretable (Pradobo, 1997: 5-6).

Akan tetapi, ketika memahami puisi dari segi pesan akan tertuju pada amanat,

yang masih mengacu pada arahan dari pengarang. Padahal, Roland Barthes (1986)

telah menulis esai berjudul “La Mort de L’auteur” (Kematian Pengarang). Segera

setelah fakta dinarasikan, diskoneksi terjadi, suara kehilangan jejak sumber

asalnya, pengarang menyongsong kematiannya sendiri dan tulisan mengada

(Barthes, 2010:145). Kematian pengarang itu sendiri bukan dimaksudkan bahwa

pengarang tidak punya hak bicara, melainkan agar pemaknaan (interpretasi) tidak

percaya secara penuh yang disampaikan oleh pengarang di luar teks. Pengarang

boleh saja berbicara di luar puisinya, namun yang dibicarakan oleh pengarang

adalah bagian dari sekian banyak pemaknaan yang ada.

Dalam memahami puisi, kebanyakan memahami dari wilayah intrinsik dan

ekstrinsik secara terpisah, kemudian baru disatukan. Aspek-aspek seperti diksi,

gaya bahasa, tipografi, rima, dan unsur dari luarnya dianalisis dengan

sendiri-sendiri kemudian disatukan. Ada kesan bahwa analisis seperti itu dilakukan

dengan menjadikan teks dibedah kemudian dijahit ulang sesuka pembaca. Dalam

memahami puisi seperti itu, arah ujungnya akan mencari nilai atau konsep yang

terkandung di dalam suatu teks dengan berujung pada penilaian baik dan buruk

secara dikotomis. Pembacaan juga dilakukan secara linear, tanpa

(19)

commit to user

Sementara itu, Ignas Kleden (2004:71) menekankan upaya kritik

kebudayaan terhadap teks sastra dilakukan “bukan sekadar refleksi intelektual.”

Ada dua hal yang dapat dilakukan. Pertama, seorang peneliti dapat memosisikan

diri untuk konsisten dangan gelaja-gejala kebudayaan di dalam karya sastra

dengan melihat bahwa kebudayaan di dalam karya sastra tidak memanipulasi dan

tidak mendominasi, melainkan mengemansipasikannya. Semakin teks diposisikan

sebagai nilai, semakin akan kokoh sebagai warisan, produk, dan condong pada

tradisionalisme. Kedua, dengan menempatkan teks sebagai wacana (discourse)

untuk berinteraksi dengan ide-ide dan kepercayaan yang dibangun, dikukuhkan,

yang bisa digusur, didekonstruksi atau dihancurkan. Ada usaha untuk

memosisikan teks sebagai hasil produksi yang penuh dengan kepentingan,

pembenaran atas ide-ide untuk membuat rasa percaya yang baru, maka rasa

tradisionalisme semakin berkurang.

Sifat bahasa di dalam puisi yang berusaha untuk menerobos pemaknaan

secara semantik sesungguhnya lebih menarik jika ditinjau dari wacana yang

berkembang secara bebas. Wacana di dalam puisi dengan kekuatan subjektif dari

penyair dalam memainkan kata-kata telah membentuk makna yang dapat

diterapkan dalam keadaan berlainan. Dalam pandangan Ignas Kleden

(2004:212-213), penyair berbeda dengan pemakai bahasa lainnya karena menyikapi “kata

-kata untuk mengaktifkan polisemi, mengarahkan ambivalensi, sambil

mengintensifkan ambiguitas dan merayakannya.” Ini berarti bahwa sekalipun

(20)

commit to user

konseptual terhadap puisi-puisi yang diciptakannya. Pernyair –lewat puisi—

berusaha memproduksi pengetahuan dalam dinamika kebudayaan.

Michel Foucault termasuk tokoh yang banyak melihat “pembentukan

wacana” terjadi dalam arena aktivitas (Barker, 2008:83). Dia memang bukanlah

orang yang ahli dalam hal puisi, namun puisi memiliki pengetahuan dengan

adanya bahasa sebagai medium. Foucault termasuk orang yang kritis terhadap

bahasa untuk melihat pembentukan wacana. “Pembentukan wacana muncul

dengan adanya rangsangan kebenaran melalui bahasa” yang dikendalikan untuk

melahirkan objek-objek yang dapat dikendalikan. Karya Foucault pada tahun

1960 memusatkan perhatian pada bahasa dan pembentukan subjek dalam wacana

(Sarup, 2003:124). Wacana itu sendiri dapat muncul di mana pun karena “tidak

ada pengetahuan yang bebas oleh kekuasaan.” Dalam pandangan Foucault

(2002b:162), politik umum wacana muncul dengan kebenaran yang diterima dan

difungsikan sebagai benar. Hal itu untuk memberikan status bagi mereka yang

mengatakan akan dianggap sebagai benar. Kekuasaan muncul seperti jaring

dengan kekuatan imanen yang terus bergerak melalui bahasa dan membentuk

subjek berada dalam pengaruh setelah kristalisasi kelembagaan diwujudkan.

Puisi, sekalipun ditulis dengan bahasa yang rumit, namun dapat menjadi

media untuk berkomunikasi dengan pembaca. Menurut Abdul Wachid B.S.

(2005b:65), mendiang Presiden Amerika Serikat, Jhon F. Kennedy pernah

mengungkapkan bahwa “Jika politik bengkok puisi akan meluruskannya.” Ini

berarti bahwa puisi memiliki kekuatan yang mampu bergerak melalui kekuatan

(21)

commit to user

kebenaran. Rahasia sebuah puisi terletak pada kekuatan sebagai pengetahuan yang

terus bergerak dalam arena struktur sosial. Lazimnya, orang (pembaca) akan

mengatakan bahwa isi puisi itu benar karena sudah diproduksi menjadi puisi.

Serangkaian teori telah mengategorikan dan mendeskripsikan

pengetahuan-pengetahuan di dalam puisi memiliki dimenasi humanis. Puisi sebenarnya terasa

sangat subjektif dan penyair dapat diperlakukan sebagai individu dalam gelora

rasa untuk mengekspresikan segala yang diketahuinya.

Adapun penyair, menurut Kleden (2004:214), adalah “intelektual publik”

kerena memiliki kesadaran terhadap batas-batas puisi dan bukan puisi, bahkan

kesadaran ungkap melalui bahasa untuk menampilkan pengetahuan. Pengetahuan

penyair didapat berdasarkan rasa dan pengalaman. Pengetahuan-pengetahuan di

dalam puisi –yang terwujud melalui bahasa— itulah elemen penting sebagai

representasi realitas. Pengetahuan dan bahasa tersatukan di dalam wacana dari

puisi yang melahirkan pengetahuan bagi pembaca maupun penikmat.

Kehadiran pengetahuan di dalam puisi tidak datang begitu saja sebagai

kejutan atau kebetulan, melainkan ia hadir karena adanya sistem produksi sosial

atas puisi sehingga menjadi diterima oleh masyarakat. Hal ini karena,

sebagaimana yang dikatakan oleh Foucault dalam esai “What Is an Author”

(1978:1), “pengarang (baca:penyair) adalah produktor ideologi” dalam setiap

makna-makna yang diciptakan di dalam teks, baik melalui sisi estetika maupun

etika. Kehadiran pengetahuan di dalam puisi tidak lepas dari pengaruh lingkup

sosial seorang pengarang, yang memberikan kontribusi cukup besar bagi cara

(22)

commit to user

puisinya. Dalam relasi sosial, eksistensi seorang penyair tidak lepas dari

perputaran pengetahuan dalam sebuah arena. Michel Foucault (2002b:158)

mengungkapkan bahwa ketika kekuasaan yang politis untuk menguasai intelektual

melalui pembagian pengetahuan, maka ia mulai menyentuh arahan-arahan dalam

relasi tersebut. Intelektual—di sini, dapat pula dimasukkan dalam ranah penyair

sebagai intelektualitas karena menulis sesuatu tentang keadaan entah wilayah

batin, maupun luaran—masuk pada wilayah terminologi tersendiri, yang berada

dalam hubungan-hubungan dengan masyarakat untuk menjadikan dirinya

memiliki karya yang diakui.

Penyair memiliki sisi kreatif atas intelektualitas yang dimilikinya dalam

menyusun teks. Keadaan politis tersebut merupakan arena tersendiri yang

memberikan pengaruh kuat pada gaya penyair dalam menampilkan estetika

sehingga tulisan yang ditampilkan tidak murni dari idealitas, melainkan ada usaha

menjangkau arena produksi dan pemilihan posisi diri. Keadaan ini muncul melalui

transformasi wacana dalam relasi sosial oleh gejolak antara nilai dan struktur,

yang merupakan proyeksi dan refleksivitas dari keterulangan dalam reproduksi

sosial. Dalam kaitan ini, penyair, sebagai manusia, merupakan “agen” yang

terlibat untuk melakukan tindakan-tindakan, yang kemudian memunculkan

wacana sebagai bentuk kuasa.

Wacana, yang dapat hadir melalui tanda-tanda secara utuh dan saling

berkaitan di dalam sistem bahasa. Hubungan antartanda di dalam puisi yang

terwujud melalui bahasa—sebagai sistem yang mengorganisasi untuk membina

(23)

commit to user

penulisan setiap kata, yang secara komparatif kemudian diakui oleh masyarakat

sebagai “puisi.” Masyarakat tidak akan menerima begitu saja sebuah puisi tanpa

ada pengetahuan yang ditampilkan, juga kebenaran mengenai sastra di masa itu.

Untuk alasan inilah, A. Teeuw (1981:4-6) memandang sastra modern (termasuk

juga puisi modern.-pen) telah menciptakan berbagai inovasi yang lepas dari

kestatisan sesuai dengan perkembangan, yang masih merujuk pada konvensi.

Rachmat Djoko Pradopo (2002:3-5) menandai kesusastraan Indonesia modern

pada tahun 1920, yang bersamaan dengan itu juga lahir kritik sastra tulis dengan

pengaruh Barat, khususnya Belanda, yang masuk dalam pengajaran kesusastraan.

Namun, A. Teeuw (1981:7) sendiri melihat modern dengan terjadinya

perombakan dari sastra tradisional. Perubahan dari struktur yang ketat menjadi

bentuk yang bebas dan longgar telah dimulai oleh Chairil Anwar di tahun 1945.

Adapun wacana mengenai perkembangan teknologi sebagai sistem dari modern

telah muncul juga dalam teks-teks yang ditulis oleh Balai Pustaka.

Kajian terhadap puisi seharusnya secara jernih menyikapi puisi bukan

sebatas ideologi komunikatif yang melihatnya dalam kerangka universal dan

pragamatis secara kaku, yakni hubungan teks dan pembaca saja. Kajian terhadap

puisi perlu untuk melihat ideologi sebagai upaya transformasi bahasa dengan

realitas antara ada dan tiada. Pada akhirnya, gaya bahasa di dalam suatu teks

sebenarnya untuk meningkatkan komunikasi, dengan menjadikan adanya

kesan-kesan lebih mendalam. Hal itu ditentukan dengan daya horizon baca berdasarkan

latar belakang sosial budaya yang pembaca miliki. Di masa sekarang ini, setiap

(24)

commit to user

berdasarkan horizon pembacaannya sehingga teks puisi tidak lagi dalam kategori

baik dan buruk, melainkan dapat menghadirkan kebenaran atas rekonstruksi

realitas, berdasarkan pembacaan yang cermat dan kritis. Fenomena teralienasi dan

eksistensialisme, juga pewacanaan nilai-nilai lokal yang memuat mitos dan

pembentuk budaya menjadi penting sebagai identitas, yang kerap kali

dimunculkan oleh para penyair. Puisilah yang menyampaikan dengan bahasa yang

lembut, halus, indah, perbandingan, dan polisemik, dengan masuk pada daya

imajinasi dan keterharuan bagi pembaca.

Penelitian ini mengungkap sisi terdalam dari puisi lebih mengarah pada

wacana yang ditampilkan untuk memandangnya sebagai teks, bukan sebatas

sebagai karya yang mati. Puisi lebih plural, tidak berhenti sebagai tulisan,

merupakan respon dari tanda-tanda realitas, dan dapat dicermati ke dalam dan ke

luar. Metonimi, metafora maupun permainan simbol bekerja dengan cermat untuk

merepresentasikan realitas. Ada makna yang selalu berubah dalam menyampaikan

pengetahuan dan membentuk pola hubungan yang kompleks. Puisi memiliki

kekayaan bahasa yang mampu membentuk realitas baru, berdasarkan kenyataan

sehari-hari.

Penelitian ini berusaha mencermati wacana-wacana (yang dimiliki oleh)

Abdul Wachid B.S., yang muncul dalam wacana perpuisiannya sebagai penyair

mulai tahun 1980-an, dan mulai dikenal pada tahun 1990-an. Puisi Abdul Wachid

B.S. tidak berhenti hanya dituliskan saja, tetapi terus berusaha hidup pada

ingatan-ingatan pembaca, bahkan sebagai suatu pandangan yang terus diperbincangkan.

(25)

commit to user

1995, buku puisinya yang berjudul Rumah Cahaya diterbitkan oleh ITTAQ Press,

yang diberi kata pengantar oleh K.H. A. Mustofa Bisri (Gus Mus), yang di tahun

2002 dan 2003 buku tersebut terpilih sebagai buku ajar yang disebarkan di SMA

seluruh Indonesia. Puisinya yang terhimpun dalam buku Tunjammu Kekasih

(Abdul Wachid B.S.; 2003) terpilih sebagai seri penyair pilihan Indonesia versi

Bentang Budaya. Adapun buku puisi yang berjudul Ijinkan Aku Mencintaimu

(Abdul Wachid B.S.; 2002) menjadi buku best seller. Adalagi yang menarik,

yakni buku puisinya yang berjudul Rumah Cahaya (Abdul Wachid B.S.; 1995)

sempat menjadi polemik di Kedaulatan Rakyat pada tahun 1997. Dia oleh Korrie

Layun Lampan sebagai angkatan 2000 dinyatakan sebagai penyair Indonesia

kontemporer. Tahun 1980-an sampai 1990-an, dikatakan oleh Heru Kurniawan

(2009:5) bahwa Abdul Wachid B.S. sebagai generasi penerus yang menuliskan

puisi sufi.

Pada permasalahan ini, untuk dicermati lebih dalam, bahwa puisi yang

ditulis oleh Abdul Wachid B.S. menggunakan medium bahasa, yang di sisi lain

“bahasa itu tidaklah nertral,” melainkan bahasa mengkonstruks realitas dengan

kebenaran-kebenaran dari asumsi alamiah. Untuk menentukan kedirian wacana di

dalam perpuisian Abdul Wachid B.S., penelitian ini tidak hanya mengungkap

pengetahuan di dalam, melainkan juga pada entitas Abdul Wachid B.S. secara

total dengan melihat struktur sosial-budaya sebagai institusi yang

mengelilinginya. Kajian ini sangat penting kiranya untuk menemukan wacana

secara total yang ada pada puisi sehingga terungkap tatanan simbolik yang telah

(26)

commit to user

juga menulis esai, dan kritik sastra. Buku esainya, yang berjudul Sastra

Pencerahan ditulis dalam kesadarannya membaca fenomena politik yang terkait

dengan dunia sastra. Buku kritik sastranya ada tiga: pertama, yang berjudul

Membaca Makna ditulis dalam rangka mengkritisi teks-teks sastra dalam relasi

sosialnya, kedua, yang berjudul Religiositas Alam; berisikan perkembangan

surealisme di Indonesia pada tahun 1980-an, dengan titik perhatian pada

sajak-sajak yang ditulis oleh D. Zawawi Imron, dan ketiga, yang berjudul Gandung

Cinta mengenai kesufian dari A. Mustofa Bisri yang mewujud dalam puisi-puisi. Oleh karena itu, dalam memahami puisi-puisi Abdul Wachid B.S. tidak hanya

tertuju pada teks-teksnya saja, melainkan juga pada aspek itu juga teks yang

memiliki relasi dengan puisi yang ia tulis. Tulisan-tulisan itu merupakan

pengetahuan dari Abdul Wachid B.S. mengenai puisi, baik secara estetika maupun

etika.

Penelitian untuk memahami perpuisian Abdul Wachid B.S. tidak hanya

ditelaah pada makna-makna yang hadir secara konotatif, melainkan juga pada

caranya membentuk pengetahuan hingga diterima oleh masyarakat, yakni lebih

pada perpuisiannya. Perpuisian Abdul Wachid B.S. lebih banyak dipahami

memiliki nilai dan makna mengenai sufi. Padahal, makna tidak dapat muncul

secara kolektif. Pemahaman seperti ini ada kekeliruan dengan pretensi pemaknaan

didasarkan pada labelitas terdahulu. Pemaknaan seharusnya tidak hanya berhenti

pada teks puisi itu sendiri, melainkan pada entitas, yakni makna-makna yang

berada di sekitarnya secara berserakan. Keberadaan puisi itu hanya sebagai jejak

(27)

commit to user

tidak hadir karena semuanya adalah teks. Dalam penelitian ini, yang perlu

dicermati bahwa kehadian puisi sebagai representasi melalui bahasa sehingga

perlu upaya berkelanjutan untuk membongkar sisi yang menjadi wacana.

Kajian ini tidak hanya menganalisis makna puisi-puisi Abdul Wachid B.S.

secara sturktural, bahkan juga mengungkapkan kejelasan wacana dalam

perpuisian Abdul Wachid B.S. Perlu diketahui, wacana memiliki paradigma yang

lebih luas daripada pemaknaan terhadap kode-kode bahasa yang disampaikan

dalam bentuk tulis maupun ujaran. Foucault (dalam Eriyanto, 2008:65)

memandang wacana mengarah pada ide, konsep, dan pandangan hidup dalam

suatu konteks tertentu sehingga mempengaruhi cara berpikir dan bertindak.

Sementara itu, linguistik hanya memberikan persepsi yang lain antara wacana dan

makna melalui bahasa dari satu arah.

Wacana itu sendiri membentuk rangkaian jalur yang bercabang dari

praktik-praktik sosial berdasarkan perentangan ruang-waktu yang sistemik karena adanya

dualitas struktur. Puisi yang ditulis oleh Abdul Wachid B.S. bukanlah cerminan

realitas, melainkan representasi yang dikonstruksi melalui bahasa. Kehadiran

bahasa sebagai media ini akan membentuk realitas yang lain karena bahasa selalu

menciptakan makna-makna secara terus-menerus.

Puisi yang ditulis oleh Abdul Wachid B.S. dibentuk dengan adanya

“konvensi estetis”. Adapun pandangan tentang konvensi ini tidak hanya tertuju

pada aturan-aturan di dalam sebuah puisi, tetapi juga pada penerimaan masyarakat

terhadap sebuah puisi. Pandangan ini jelas mengacu pada puisi yang

(28)

commit to user

diproduksi oleh penyair sehingga ada strategi-strategi yang dibentuk agar

masyarakat menerima teks tersebut. Perpuisian Abdul Wachid B.S. memiliki

entitas yang dapat ditelusuri lebih jauh karena adanya sistemisasi dalam menulis

puisi. Keterhubungan Abdul Wachid B.S. dengan bahasa, realitas, dan institusi

sosial merupakan acuan dan makna dari wacana yang terus dikonstruks untuk

berdiri pada posisi idealitas, yang bergerak dalam lingkup arena produksi kultural

(Bourdieu, 2010:15). Arena produksi kultural memuat serangkaian konvensi

estetis yang harus mewujud agar dapat diterima, meskipun di sisi lain kesadaran

praktis berusaha untuk menciptakan makna-makna baru.

1.2Masalah

1.2.1. Identifikasi Masalah

Ada beberapa masalah yang dapat diidentifikasi berdasarkan latar belakang

masalah yang telah dipaparkan tersebut.

1. Puisi di tengah realitas ditulis oleh penyair berdasarkan rasa dan

pengalaman yang terkait dengan kondisi sosial. Walaupun puisi dibuat

berdasarkan sisi subjektif dari penyair, namun terdapat pengetahuan di

dalamnya. Penyair sebagai produktor wacana membentuk

kebenaran-kebenaran yang akan diterima oleh pembaca. Proses konstruksi wacana

perlu untuk ditelusuri lebih mendalam untuk mengungkap kekuatan teks

tersebut.

2. Puisi adalah penjelmaan realitas melalui peristiwa kebahasaan, yang

(29)

commit to user

mencermati puisi sebagai pengetahuan, yang pada akhirnya mampu

mengarah sebagai kuasa.

3. Dari pola interaksi, pola relasi, pola praktik sosial, dan aktivitas penyair

sebagai aktor sosial memunculkan konsekuensi dalam sebuah tindakan

untuk mencipta. Hal itulah yang mendasari adanya rekonstruksi wacana di

dalam puisi sebagai kebenaran yang diyakini berdasarkan konsensus

sosial.

4. Wacana pada sebuah puisi dapat muncul melalui apa saja karena seluruh

elemen di dalamnya adalah sistem. Kehadiran tanda-tanda sangat

diperhitungkan oleh penyair. Adapun bagian yang paling banyak

digunakan menyisipkan pengetahuan, yakni melalui politik kebahasaan

dengan karakteristik yang unik.

5. Masalah-masalah mengenai wacana yang ada di dalam perpuisian Abdul

Wachid B.S. dengan berbagai pengaruh dari relasi sosial yang sangat

kompleks dan luas. Masalah ini lebih disebabkan oleh Abdul Wachid B.S.

yang tidak hanya menulis puisi saja, tetapi juga beberapa tulisan lain yang

berkaitan dengan puisi seperti esai, dan kritik sastra, bahkan juga cerpen.

Pandangan yang ada di dalam esai dan kritik tersebutlah yang cukup

memberikan warna mengenai pengetahuan-pengetahuan yang ada di dalam

puisinya. Hal tersebut banyak diabaikan dengan meneliti lebih kepada

struktur dalam puisinya saja, bahkan hal itu dilakukan secara terpisah.

Pengetahuan-pengetahuan Abdul Wachid B.S. mengenai puisi tidak lepas

(30)

commit to user

untuk isi maupun bentuk. Penyair yang sadar dengan konsep kebahasaan

dan berkecimpung dalam dunia akademik sastra akan banyak tahu tentang

teori sastra dan berusaha untuk mengikuti perkembangan gejolak sastra.

1.2.2. Pembatasan Masalah

Adanya latar belakang masalah yang telah peneliti paparkan tersebut

merupakan masalah yang cukup beragam, maka perlu ada pembatasan masalah

agar arah pembahasan dalam penelitian ini menjadi lebih terfokus dan mendalam.

Pembatasan masalah akan diarahkan pada puisi sebagai media representasi yang

dikonstruksi oleh penyair, wacana yang membentuk teks-teks tersebut, struktur

sosial yang melingkupi konvensi, dan arah transformasi wacana dari perpuisian

Abdul Wachid B.S. Tiga aspek tersebut menjadi ruang bertemunya wacana dalam

perpuisian Abdul Wachid B.S.

1.2.3. Rumusan Masalah

Permasalahan penelitian ini dapat dirumuskan dalam bentuk pertanyaan

sebagai berikut ini.

1. Bagaimanakah strategi wacana di dalam perpuisian Abdul Wachid B.S.?

2. Bagaimanakah rekonstruksi wacana di dalam perpuisian Abdul Wachid

B.S. mampu memperebutkan makna?

(31)

commit to user

1.3Tujuan Penelitian

1.3.1. Tujuan Umum

Tujuan umum dari penelitian ini hendak mendeskripsikan secara holistik

mengenai wacana yang terkadung di dalam perpuisian Abdul Wachid B.S. Dalam

usaha mendeskripsikan, lebih mengarah pada produksi wacana yang memandang

teks sebagai pengetahuan. Puisi yang kebanyakan hanya diungkap makna masih

perlu untuk ditelusuri lagi makna-makna yang tersembunyi di dalam bahasa dan

keterkaitannya dengan realitas. Pengetahuan diproduksi melalui bahasa dengan

dibentuk, didefinisikan, dinarasikan maupun dideskripsikan. Hal tersebut karena

teks diciptakan berdasarkan representasi yang dikonstruksi untuk mendapatkan

makna.

Penelitian ini memahami secara mendalam bahwa puisi memiliki

pengetahuan, maka haruslah diungkap mengenai politik bahasa yang diciptakan

oleh penyair di dalam teks-teksnya sebagai konstruks pengetahuan, mengenai

realitas yang merupakan praktik yang merumuskan pengetahuan sebagai

rekonstruksi wacana, dan mengenai kekuatan puisi dalam membentuk kebenaran.

Sementara itu, pengetahuan itu sendiri akan direspons oleh pembaca secara

kompleks untuk menjadi benar. Adapun puisi juga menampilkan pengetahuan

yang akan diterima oleh pembaca pakar, pembaca ahli, dan pembaca awam.

1.3.2. Tujuan Khusus

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, penelitian ini diarahkan untuk

(32)

commit to user

1. Untuk mengetahui dan memahami kejelasan tentang strategi wacana dari

perpuisian Abdul Wachid B.S.

2. Untuk mengetahui dan memahami tentang rekonstruksi wacana di dalam

perpuisian Abdul Wachid B.S. agar mampu memperebutkan makna.

3. Untuk mengetahui dan memahami tentang transformasi wacana dari

perpuisian Abdul Wachid B.S.

1.4Manfaat Penelitian

Manfaat dalam penelitian ini dibagi menjadi dua macam, yaitu teoretis dan

praktis. Secara teoretis, penelitian ini berguna untuk memperkaya khazanah

penelitian kajian budaya dan untuk memberikan wacana teks puisi yang terjalin

berdasarkan struktur sosial, yang melingkupi penyair; untuk menambah wawasan

tentang proses produksi wacana, strategi wacana dalam teks puisi; dan untuk

memberikan wawasan kepada masyarakat tentang perpuisian Abdul Wachid B.S.

Adapun manfaat penelitian secara praktis, yakni penelitian ini berguna untuk

kerangka acuan untuk meletakkan reformulasi wacana dalam perpuisian Abdul

Wachid B.S. dalam konstruks sosial maupun peninjauan kembali tatanan struktur

perpuisiannya.

1.5Sistematika Laporan Penelitian

Sebagai pemerjelas kepada pembaca untuk memahami tulisan ini, maka

peneliti membuat sistematika laporan penelirian. Sistematika dalam penelitian ini

(33)

commit to user

masalah, masalah (identifikasi masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah),

tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika tulisan. Di dalam bab I ini,

akan dimulai dengan pandangan bahwa puisi sebagai pengetahuan. Bagian ini

penting, yakni sebagai sumber dari permasalahan karena banyak orang yang tidak

sadar dengan puisi yang memiliki keindahan kata-kata merefleksikan wacana.

Terlebih lagi, jika puisi tersebut ditulis oleh Abdul Wachid B.S. yang sadar

dengan teori, kritik, dan dunia akademik sastra. Pengetahuan yang ada di dalam

puisi sangat diperhitungkan, meskipun ditulis berdasarkan pengalaman dan

perasaannya.

Pada bab kedua, memuat tentang landasan teori yang terdiri dari tinjauan

pustaka, konsep, dan landasan teori. Tinjuan pustaka ini penting karena sebagai

penentu bahwa penelitian ini memiliki perbedaan dengan penelitian yang pernah

dilakukan. Konsep memberikan penjelasan tentang beberapa hal penting tentang

istilah yang harus dipahami berdasarkan penelitian ini. Sementara itu, disiplin

teori dalam penelitian ini menjelaskan tentang dasar dan acuan untuk meneliti,

yaitu dengan menggunakan teori stilistika, teori semiotik, teori wacana yang

dikembangkan oleh Michel Foucault, dan teori strukturasi yang dikembangkan

oleh Anthony Giddens.

Bab tiga dalam penelitian ini yaitu metode penelitian yang terdiri atas jenis

penelitian dan pendekatan, dan metode penelitian. Metode penelitian ini

mengungkapkan mengenai rancangan penelitian, lokasi penelitian, bentuk dan

strategi penelitian, sumber data dan teknik pengumpulan data. Sumber data dalam

(34)

commit to user

data dalam penelitian ini dilakukan dengan wawancara mendalam, observasi

langsung, analisis dokumen, teknik cuplikan, validitas data dan dengan analisis

deskripsi mendalam. Metode penelitian ini bekerja dalam ranah berpikir kritis

untuk memahami objek sebagai teks sehingga tidak ada yang berada di luar teks.

Hal ini untuk menemukan makna-makna lain yang tersembunyi di dalam konteks.

Pada bab empat diuraikan tentang gambaran umum fenomena objek

penelitian, tema-tema khusus yang akan dibahas, dan pembahasan itu sendiri

sebagai hasil penelitian. Buku puisi yang menjadi objek dalam pembahasan ini

adalah buku Rumah Cahaya, Tunjammu Kekasih, Ijinkan Aku Mencintaumu,

Beribu Rindu Kekasihku, dan Yang. Namun demikian, pembahasan mengenai perpuisian itu sendiri harus pada seluruh aspek yang melingkupi puisi-puisi Abdul

Wachid B.S., dan karenanya pandangan-pandangannya mengenai puisi yang

termuat dalam buku lain seperti Membaca Makna, Sastra Penceraha, Religiositas

Alam dan Gandrung Cinta menjadi pertimbangan yang cukup penting. Dalam pembahasan itu sendiri dipaparkan mengenai subbab puisi dan strategi wacana,

rekonstruksi wacana, dan transformasi wacana. Wacana sebagai pengetahuan

tidak muncul sebagai makna yang diterima begitu saja, melainkan harus ditelusuri

lagi praktik sosialnya, subjek, dan agen-agen yang terus bergerak. Subjek wacana

muncul dengan adanya karakteristik yang memunculkan pancaran makna kepada

pembaca. Agen wacana muncul dari interpretator ahli yang memiliki pengetahuan

(35)

commit to user

Adapun pada bab kelima adalah penutup, yang berisi kesimpulan paparan

dari pembahasan dan saran untuk penelitian lain. Pada bagian ini diuraikan

(36)

commit to user BAB II

LANDASAN TEORI

2.1Kerangka Konsep

Penelitian ini diarahkan pada wacana yang ada di dalam perpuisian Abdul

Wachid B.S. Untuk membuat arahan tersebut, perlu dibuat kerangka konsep

sebagai usaha pemerjelas terhadap istilah (hipoksi operasional) yang akan dipakai

dalam penelitian ini. Hal ini juga dimaksudkan agar tidak terjadi kesalahpahaman

oleh pembaca ketika membaca hasil penelitian ini.

2.1.1Wacana

Kris Budiman (1999:121) mendefinisikan ‗wacana‘ mengacu pada aspek

-aspek evaluatif, persuasif, atau retoris dari suatu teks, yang dipertentangkan

dengan aspek-aspek seperti menamakan, melokasikan, atau mengisahkan karena

terkait dengan produksi sosial. Eriyanto juga mengatakan hal yang serupa. Dalam

pandangan Eriyanto (2008:65), wacana dapat dideteksi karena secara sistematis

ada ide, opini, konsep, dan pandangan hidup yang ditransformasikan untuk

mengarahkan cara berpikir dan bertindak. Wacana ini mendistribusikan konsep

untuk memasukkan arahan dengan tujuan akan terjadi pola-pola tertentu yang

terpengaruh. Wacana mampu mengkonstruks pikiran seseorang ke dalam suatu

keadaan untuk menjalin relasi sehingga pemikirannya sesuai dengan konsep yang

ada di dalam suatu teks. Pada akhirnya, wacana membentuk “kuasa” karena

(37)

commit to user

adanya kebenaran-kebenaran yang diyakini oleh seseorang secara individu

maupun dalam lingkup komunal.

Istilah “wacana yang membentuk kuasa” dipopulerkan oleh Michel

Foucault. Dalam pandangannya, wacana yang berkembang di tengah masyarakat

membentuk relasi kuasa karena diterima sebagai kebenaran (Foucault,

2002b:143). Pengetahuan secara umum membuat manusia berada di bawah

kekuatan absolut, dan manusia berada di dalamnya seperti terpenjara—tepatnya

pembolehan dan penidakbolehan yang diliputi aturan-aturan untuk mengontrol

individu-individu yang terus bergerak (Foucault, 2002a:43). Transformasi wacana

yang beredar di tengah masyarakat, yang kemudian diyakini sebagai kebenaran,

sepenuhnya mengikat masyarakat untuk “tunduk dan patuh”. Ketertundukan dan

kepatuhan oleh wacana karena diterima oleh masyarakat sebagai hal yang

“benar”.

Kata wacana ini memiliki perspektif yang sangat beragam, terkait dengan

disiplin tertentu. Dalam penelitian ini, wacana mampu membentuk kuasa sesuai

dengan pemikiran Michel Foucault. Penggunaan wacana di sini, lebih untuk

menitikberatkan perhatian pada pandangan kritis. Wacana adalah pengetahuan

yang memberikan definisi-definisi melalui normalisasi sehingga ketika

ditransformasikan akan diyakini sebagai kebenaran oleh masyarakat. Menurut

Chris Barker (2008:83), bahwa Michel Foucault telah menyatukan wacana bahasa

dengan praktik sosial yang mengacu pada produksi pengetahuan melalui bahasa

yang mampu memberikan makna kepada tiap-tiap subjek ketika menafsirkan.

(38)

commit to user

Konteks, dalam hal ini, dipandang sebagai struktur dan sistem yang bergerak

dalam praktik sosial. Wacana mengarah pada kekuasaan yang mengontrol

pergerakan sosial yang ada. Hal tersebut disebabkan oleh adanya kebenaran di

dalam wacana yang diyakini sehingga membentuk individu-individu bergerak

berdasarkan arahan wacana.

2.1.2Wacana Puisi

Wacana puisi ditulis dengan kedalaman perasaan dan imajinasi penyair atas

realitas. Bahasa yang ada di dalam puisi lebih konotatif (bukan makna

sebenarnya), analogis (perbandingan), dan multi-interpretable (banyak makna/

polisemi). Hakikat tersebut berbeda dengan dengan wacana ilmiah yang menuntut

untuk dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan logis. Wacana puisi lebih

memungkinkan untuk memunculkan banyak makna dan memberikan pencerahan

kepada pembaca secara subjektif. A. Teeuw (1982: 3) melihat puisi menggunakan

bahasa dalam kekentalan yang indah dan menarik dengan adanya keseluruhan

yang berhingga, mampu membentuk makna, dan dapat diterima oleh masyarakat.

Wacana pada puisi lebih terbentuk oleh ketidaklangsungan ekspresi di dalam

permainan bahasa untuk menampilkan makna secara tersembunyi.

Wacana di dalam puisi terbentuk dengan karakteristik tersendiri. Misalnya

saja, dalam puisi lirik, kekuatan teks lebih bertumpu pada dekonstruksi kata-kata

yang bertaut dengan keterlibatan penyair, kekuatan puisi surealis lebih tertuju

pada efektifitas simbol untuk merepresentasikan realitas, sementara puisi imajis

(39)

commit to user

dan gaya bahasa lebih menandai hakikat puisi yang destruktif terhadap realitas.

Wacana puisi memiliki keunggulan tersendiri dengan poros dari subjektivitas

penyair dan jenis puisi yang ditulisnya.

Puisi sebagai genre sastra juga berbeda dengan prosa dan drama. Drama

yang lebih menonjolkan dialog-dialog untuk memainkan konflik. Dialog-dialog

antartokoh itulah yang digunakan untuk mengungkap peristiwa, yang kemudian

ditampilkan dalam prilaku yang telah ditentukan polanya. Karakteristik pada

naskah drama akan terlihat dari pola dialog dari suatu tokoh. Tindak-prilaku

bahasa dalam teks drama tidak membahas sesuatu, melainkan berbuat sesuatu,

untuk menimbulkan reaksi pada lawan bicara (Hasanuddin, 1996:17). Pada

intinya, wacana drama terbentuk oleh serangkaian kejadian atau peristiwa yang

didialogkan. Pristiwa demi peristiwa ditampilkan dalam dialog-dialog untuk

menciptakan aksi dan reaksi.

Dalam kaitan tersebut, puisi juga berbeda dengan prosa yang lebih naratif

untuk menyusun pengetahuan. Prosa berusaha menampilkan permasalahan dengan

disampaikan secara naratif sehingga ada tema, alur, dan setting. Unsur tersebut

menjadi pokok dalam sebuah cerita dengan adanya kronologi kejadian, yang

terkait dengan pengisahan peristiwa (Nurgiyantoro, 1997:91).

Puisi menyampaikan pengetahuan dengan cara yang unik. Puisi terus ditulis

dalam zaman yang penuh dengan media digital, yang lebih menawarkan imaji

sensasional yang mengasyikkan. Penyair seolah harus repot-repot menulis puisi

dengan kadar menyampaikan makna secara tidak langsung, yang justru membuat

(40)

kata-commit to user

kata yang rumit. Puisi terus ditulis dengan variasi atas kekuatan gaya, bentuk dan

isi sebagai pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca, untuk dipahami

maksudnya, bahkan untuk diinterpretasikan. Tidak banyak orang yang tahu alasan

puisi harus multi-interpretable yang akan menjadi perdebatan oleh banyak orang,

yang mungkin dapat memicu terjadinya perselisihan.

Jhon Fiske (1990:15) menekankan untuk melakukan “pemaknaan secara

aktif” pada wacana di dalam puisi dengan tugas utama yang harus dilakukan

adalah melihat hubungan puisi di dalam sosio-kultur tentang alasan menjadi

begitu, yakni menjadi ada dan hadir. Pasti ada jejak tersendiri dari puisi itu

tercipta, yang akan mendorong menembus batas yang telah digariskan oleh

konvensi sebagaimana tanda-tanda mengungkapkan kembali realitas itu menjadi

teks. Konvensi bukan hanya berarti aturan, juga dapat berarti kebiasaan ataupun

kesepakatan dalam suatu masyarakat, maka apapun dapat saja menjadi mungkin

terjadi dan penyair selalu memiliki cara tersendiri untuk menyatakan pesan. Itulah

uniknya wacana puisi yang selalu berkembang dan berubah sesuai dengan kadar

ideologinya.

Wacana dalam puisi berbeda dengan pesan langsung (semacam seruan

dalam ceramah, seminar, maupun buku pelajaran di sekolah) yang justru setelah

selesai banyak dilupakan oleh audien atau dalam buku teori yang setelah

membaca sampai selesai, ternyata lupa isinya. Justru setelah membaca puisi,

dalam aktivitas tak sadar sering mengucapkan kembali diksi-diksinya, teringat dan

terkenang. Hal itu karena ada pertautan perasaan melalui bahasa sehingga serasa

(41)

commit to user

tersebut tercipta dalam kadar tak langsung melalui nuansa keindahan. Wacana

puisi mampu masuk pada unsur normatif dan kode penandaan sebagai koordinasi

ideologis, yang nantinya akan diterima sebagai kebenaran oleh pembaca,

sedangkan “bahasa sebagai medianya.” Dalam puisi, yang terpenting pada wacana

yang disampaikan dengan tidak langsung justru memberikan daya sugestif untuk

praktik pembentukan pengetahuan kepada pembaca, kebenaran, juga kesadaran

akan realita yang kini menjadi teks.

Wacana puisi tidak hanya tertuju pada kerumitan kata-kata, melainkan

wacana mengenai kehidupan diekspresikan oleh penyair lewat puisi. Adapun

difungsikan untuk mendeskripsikan atau mendefinisikan fenomena kehidupan.

Penulisan puisi dengan simbol, tanda, metafora maupun metonimi, ataupun

paradoks dan ironi bukan dalam rangka mempersulit posisi makna untuk dipahami

pembaca. Puisi bukanlah permainan kata-kata untuk menemu arti, melainkan

susunan realitas yang memberikan pengetahuan bagi pembaca untuk terus

memahami dan mencermati pengetahuan.

2.1.3Perpuisian Abdul Wachid B.S.

Abdul Wachid B.S. mulai menulis puisi sejak dekade 1980-an hingga

sekarang. Ada pandangan bahwa dari masa itulah Abdul Wachid B.S. mulai

merintis jalan kepenyairan sebagai pilihan hidup, baik untuk ekspresi diri maupun

dalam transformasi ideologis. Banyak sekali karya-karya dari Abdul Wachid B.S.

yang telah diterbitkan, baik di media massa, dalam bentuk antologi, maupun

(42)

commit to user

puisi-puisi Abdul Wachid B.S. dari mulai makna yang ada, bahasa yang

digunakan, proses kreatif, transformasinya, maupun sudut pandangannya. Sudut

pandang puisi Abdul Wachid B.S. mengarah pada nilai religius, sosialis, bahkan

sufistik. Hal itu telah dibicarakan dan berdasarkan pemaknaan-pemaknaan oleh

kritikus maupun oleh beberapa orang yang meneliti puisi-puisi Abdul Wachid

B.S. Perpuisian dari Abdul Wachid B.S. juga merupakan

kecenderungan-kecenderungan dari puisi-puisi Abdul Wachid B.S. sebagai jalur yang ditempuh

selama menjadi penyair. Kecenderungan-kecenderungan ini menjadi identifikasi

dan inventarisasi mengenai gaya sebagai keidentikan.

Searah dengan istilah yang telah dipaparkan tersebut, penelitian untuk

mengungkap wacana dalam bahasa sebagai suatu narasi dapat didekati secara

tekstual dengan melibatkan struktur sosial yang mengkonstruknya. Wacana dalam

perpuisian Abdul Wachid B.S. terus muncul sejak 1980-an hingga sekarang.

Puisi-puisi Abdul Wachid B.S. dipublikasikan di media massa, dalam antologi

bersama, ataupun dalam antologi. Puisi-puisi tersebut hadir dengan melibatkan

konteks sebagai struktur dan sistem yang terus menampilkan pengetahuan sebagai

kebenaran. Wacana itu sendiri terlahir berdasarkan idealitas Abdul Wachid B.S.,

dalam memandang realita sosial berdasarkan pandangannya. Abdul Wachid B.S.

dengan seperangkat “sistem nilai” berusaha menuliskan puisi (sebagai sudut

pandang), yang di sisi lain dia akan ditentukan oleh arena produksi kultural agar

karya-karyanya diterima di media massa, masuk dalam antologi bersama,

ataupuan antologi tunggal. Konvensi estetika yang telah ada pada masa 1980-an

(43)

commit to user

Bahkan, pemilihan wacana yang menarik itu sendiri belum tentu murni dari

kesadaran praktis, melainkan karena telah dibentuk oleh institusi sosial untuk peka

terhadap realitas tertentu. Arahan dari institusi ini menjadi disiplin atas

aturan-aturan yang megondisikan cara berpikir Abdul Wachid B.S. dalam menyikapi

realitas untuk ditulis menjadi puisi.

Wacana dalam perpuisian Abdul Wachid B.S. lebih diarahkan pada upaya

membentuk karakterisasi melalui kekuatan bahasa sebagai strategi literar dalam

mengungkapkan pandangan sehingga teks mampu diserap oleh pembaca.

Keseluruhan dari puisi harus dipahami untuk mengukuhkan corak yang melekat

sebagai wacana yang diproduksi di tengah realitas. Dari segi tema, gaya bahasa,

pandangan, dan proses penciptaan makna merupakan wacana secara individual

yang memiliki ideologi. Bahasa yang diproduksi oleh Abdul Wachid B.S. itu

sendiri pada akhirnya menjadi kebenaran yang diterima oleh pembaca.

2.2Kajian Teori

Wacana dalam puisi memiliki berbagai macam kemungkinan makna yang

dapat ditelusuri. Namun demikian, dengan adanya pandangan tentang “wacana

kritis” akan mengarah pada relasi dan praktik sosial yang harus dipahami secara

keseluruhan. Salah satu acuan dari wacana kritis adalah dengan adanya usaha

untuk mengungkap pengetahuan dengan keterkaitannya dengan struktur sosial,

yakni dengan curiga untuk melihat arena kemungkinan-kemungkinan yang

(44)

commit to user

objektif, melainkan harus diamati juga mengenai produksi wacana, juga relasi

yang melingkarinya.

Untuk menuju pada wacana yang kritis dalam puisi tidak dapat langsung

mengungkapnya dengan mudah sebagaimana memahami wacana dalam teks

berita, pamflet, pengumuman, maupun buku ilmiah. Kajian terlebih dahulu perlu

untuk menelusuri lebih mendalam mengenai hakikat puisi itu sendiri karena

sangat dimungkinkan sekali permainan wacana juga berada di dalam. Analisis

wacana, seperti yang diarahkan oleh Michel Foucault, menekankan pemaknaan

untuk ke dalam dan ke luar sehingga yang tampak juga perlu diungkap terlebih

dahulu. Ada arahan bahwa subjek juga dapat sebagai wacana karena terlibat

dalam praktik sosial. Dengan demikian, selain teori utama (grand-theory) tentang

wacana –yang dalam hal ini merujuk pada pemikiran Michel Foucault— juga

menggunakan teori lain yang diposisikan sebagai teori pendukung (midle-theory)

seperti teori stilistika, semiotika, dan teori strukturasi. Seperti yang telah diketahui

oleh para pakar ilmu pengetahuan, bahwa pada hakikatnya ilmu pengetahuan

saling terkait dengan disiplin lainnya sehingga kadang kala kerja dari satu teori itu

sendiri tidak dapat optimal. Adanya interdisipliner untuk mengalisis wacana

dalam puisi akan mengungkap pengetahuan sebagai bentuk kuasa di dalam praktik

sosial.

Teori stilistika digunakan untuk melihat pada wacana yang dibentuk oleh

permainan bahasa secara tekstual di dalam puisi. Stilistika melihat pada cara

penyair dalam memainkan gaya bahasa dengan membentuk karakteristik yang

(45)

commit to user

dengan kelihaian dari penyair memainkan bahasa untuk memunculkan polisemi

sehingga pengetahuan yang tersampaikan menjadi beragam. Seorang penyair baik

secara sadar ataupun tidak sadar menulis puisi dengan kerangka pengetahuan yang

diketahui. Bagi penyair yang secara tidak sadar memiliki keinginan dengan daya

ungkap secara khas, dia sesungguhnya telah membentuk pola pada struktur bahasa

untuk menampilkan wacana. Bagi penyair yang sadar dengan aktivitas

kebahasaan, dia berusaha untuk membuat karakteristik pada dirinya. Karakteristik

akan memainkan identitas melalui struktur kebahasaan sebagai sistem signifikasi.

Sumbangan dari stilistika untuk melihat teks dengan berujung cara

menandai karakteristik di dalam teks sebagai produktifitas pengetahuan.

Pengarang sebagai subjek berusaha menciptakan struktur teks yang

terepresentasikan melalui bahasa. Dengan kata lain, penyair sebagai subjek

sosiologis yang berbeda dengan orang pada umumnya sehingga mampu

menangkap realitas sebagai pengetahuan untuk ditulis menjadi puisi. Wacana

dalam puisi muncul dengan adanya identifikasi kultural dari penyair yang peka

terhadap realitas. Sumbangan dari stilistika tersebut masih kurang mendalam

untuk memahami teks dalam rekonstruksi makna. Adapun untuk memperdalam

hal-hal yang berkaitan dengan penandaan, maka dibutuhkan semiotika.

Teori semiotika akan bekerja untuk arena penandaan dalam melihat teks

sebagai praktik signifikasi. Wacana dalam perpuisian seorang penyair merupakan

rekonstruksi realitas. Roland Barthes (dalam Budiman, 2004:55-57) memahami

suatu teks dalam kode-kode yang tersusun oleh realitas, yang diciptakan oleh

(46)

commit to user

untuk melihat bahasa bukan sebagai media yang netral, melainkan sebagai upaya

pembentukan makna baru yang berisikan pengetahuan. Puisi adalah dunia yang

tersusun atas bahasa dalam menampilkan realitas, maka puisi bukan realitas yang

sebenarnya. Puisi hadir dengan menampilkan realitas yang telah dikonstruksi oleh

penyair dengan berbagai kekuatan bahasa. Makna perlu ditelaah secara mendalam

dengan mengacu pada praktik sosial yang terartikulasikan di dalamnya.

Kemungkinan lain dari kemunculan makna sebuah puisi dan arena

persebaran pengetahuan justru muncul pula pada pandangan pembaca yang

berusaha memaknai. Operasi makna hadir pada tataran kedua. Pemaknaan atas

puisi perlu dilihat dari distribusi pengetahuan yang mewujud di dalamnya. Sifat

puisi yang polisemik akan menghadirkan berbagai macam pandangan, yakni

dalam fungsi pemancar. Terlebih lagi, jika yang membaca adalah kritikus yang

memiliki pengetahuan untuk menciptakan pengetahuan baru tentang teks.

Pembaca sangat plural dalam tatanan sosial dan mereka dapat saja memantulkan

makna teks. Pada titik inilah, dibutuhkan suatu teori yang mampu melihat

pembaca sebagai agen, yakni teori strukturasi dari Anthony Giddens.

Teori strukturasi akan membantu memahami wacana di dalam suatu teks

yang telah terbentuk oleh arena. Teori ini akan melihat wacana mampu

membentuk kuasa melalui kode-kode penanda. Refleksivitas dari wacana akan

mengarah pada pembaca sebagai agen. Reflektivitas dari pengetahuan bergerak

secara terus-menerus. Hal ini sejalan dengan pemikiran Foucault tentang

kedisiplinan. Kekuasaan suatu pengetahuan membentuk jaringan dalam tatanan

(47)

commit to user

pengetahuan, dan dapat menciptakan pengetahuan. Pandangan tersebut sejalan

dengan Foucault yang sudah memikirkan tentang wacana yang tercipta

berdasarkan “subjek diskursus.” Menurut Barker (2009:86), Foucault juga

memperhatikan pada etika yang terpusat pengatuaran orang lain dan diri sendiri,

juga membentuk strategi untuk diperhitungkan dan member refleksi wacana.

2.2.1Produksi Wacana

Pandangan-pandangan Michel Foucault yang kritis pada kehadiran wacana

membentuk makna dan pengetahuan tentang dunia telah menunjukkan suatu

kecermatan yang sangat membantu paradigma kritis. Chris Barker (2008:83)

mengatakan bahwa Foucault menentang formalis bahasa dengan menitikberatkan

perhatian pada praktik-praktik diskursif. Ann Brooks (2009:72) mengatakan arah

konsep wacana yang dikembangkan oleh Foucault bukan dengan pikiran,

melainkan dengan ‗bidang praktis di mana ia disebarkan.‘ Cara tersebut harus

disikapi dengan menentukan posisi wacana yang tidak netral, juga mengungkap

perwujudan adanya realitas baru yang menghadirkan kekuasaan setelah

pengetahuan diyakini sebagai kebenaran. Keyakinan-keyakinan mengenai suatu

pengetahuan akan memunculkan kepatuhan-kepatuhan terhadap substansi yang

terkandung di dalamnya.

Dalam hal ini, posisi bahasa sebagai suatu sistem komunikasi yang memiliki

permainan bebas (Norris, 2009:64) akan membentuk penandaan baru bagi suatu

masyarakat. Adanya komunikasi yang melampaui pandangan-pandangan suatu

(48)

commit to user

Keterikatan wacana dengan bahasa akan menghadirkan makna baru dan makna

lain untuk diterima sebagai kebenaran oleh masyarakat. Adanya bahasa dengan

sistem retorika membuat rasionalitas pengetahuan menjadi terselubung, dan hadir

dengan diam-diam untuk memberikan arahan-arahan. Bahkan, dalam pandangan

Jurgen Habermas (2007a:109) konsep kepatuhan individu terhadap wacana yang

rasional dapat hadir karena adanya citra. Cara-cara dari agen dalam mengakses

komunikasi pada interaksi dilakukan dengan usaha mencapai pemahaman selaras

berdasarkan kesepakatan yang dimainkan oleh pengetahuan pada situasi dan

kondisi. Bahasa bergerak dengan sangat bebas untuk membentuk

penandaan-penandaan terhadap individu dalam memahami kehadiran wacana.

Dalam sebuah fenomena, formasi sosial dan strategi kekuasaan dari sebuah

wacana yang beredar itu seharusnya dilihat dengan keterlibatan institusi di

belakangnya. Michel Foucault (2002b:192-193) mengatakan kenyataan dari

kekuasaan beroprasi dengan biasanya, maka dari situlah perlunya institusi sosial

menggerakkan wacana menembus hambatan dan rintangan. Kekuasaan suatu teks

tidak akan berjalan dengan baik tanpa ada persebaran pengetahuan yang diyakini

sebagai benar. Kuasa membentuk jaringan yang beroprasi di dalam individu untuk

tunduk pada serangkaian kebenaran: yang di dalamnya ada norma atau hukuman

bagi yang melanggar. Wacana itu bukanlah hanya sebuah bahasa yang mati,

melainkan keluasaan dari sebuah tanda mengkonstruks individu-idividu untuk

masuk pada penandaan lain. Ada kesadaran manusia yang terperangkap di dalam

kebenaran wacana karena terpengaruh oleh makna-makna sebagai peristiwa yang

Gambar

Gambar 4.2. Lingkaran Komunitas Sastra .......................................................
Gambar arah pergerakan tanda (sumber Budiman, 2004:64)
Gambar 3.1 Model Penelitian.
Gambar 4. 1. Keterhubungan membaca dan menulis
+2

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil analisis terhadap wacana kritik sosial kumpulan puisi Leak Jagat karya I Gusti Putu Bawa Samar Gantang, yang meliputi aspek bentuk, fungsi dan makna,

Pada tayangan Mata Najwa tersebut terdapat praktik wacana yang dimana dengan praktik tersebut bahasa yang digunakan memiliki makna yang dapat membentuk

Dengan demikian, wacana dalam surat kabar diwujudkan dalam bentuk unsur- unsur bahasa berupa kalimat-kalimat dan paragraf-paragraf yang memiliki pertalian bentuk dan makna (kohesi

Bagi mencapai objektif 1, kajian ini menggunakan pendekatan pragmatik kerana permasalahan kajian yang wujud adalah berkenaan makna bahasa, manakala pendekatan analisis wacana

EFEKTIVITAS METODE MIND MAP DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENERJEMAHKAN WACANA BAHASA JEPANG KE.. DALAM

Pandangan Fairclough dan Wodak tahun 1995 tentang analisis wacana kritis melihat wacana dari pemakaian bahasa dalam tuturan sebagai bentuk praktik sosial

berjudul “ Diksi dan Gaya Bahasa Dalam Wacana Iklan Produk Kosmetik Di Media Sosial” sebagai syarat dalam menuntaskan jenjang Strata Satu di Universitas

Gaya Bahasa Sindiran Sebagai Kritik Sosial dalam Wacana Meme Berbahasa Jawa di Akun Instagram Dagelan_Jowo Kajian Stilistika Pragmatik.. Universitas Sebelas