KOMUNITAS SERANGGA TANAH DI TAMAN NASIONAL GUNUNG RINJANI DAN PENGEMBANGANNYA SEBAGAI MODUL
PEMBELAJARAN EKOLOGI HEWAN
Arbawa I . N. S1) , Lestari N2) , Artayasa I. P3)
1)Mahasiswa Pendidikan Biologi FKIP Universitas Mataran 2)3)Dosen Pendidikan Biologi FKIP Universitas Mataran
Universitas Mataram, Jalan Majapahit No. 62, Mataram Email: [email protected]
ABSTRAK
Keberadaan serangga tanah memiliki peran penting dalam stabilitas ekosistem hutan. Populasi serangga dipengaruhi oleh kondisi habitatnya. Kondisi habitat serangga tanah di Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) kini mulai terancam dikarenakan jumlah pengunjung pendakian TNGR setiap tahunnya selalu meningkat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui komunitas serangga tanah di TNGR, mengetahui hubungan faktor fisik dan kimia lingkungan dengan keanekaragaman, kemerataan dan dominansi serangga tanah dan mengembangkan hasil penelitian sebagai modul dalam materi perkuliahan Ekologi Hewan. Jenis penelitian ini adalah deskriptif eksploratif. Proses pengambilan data di TNGR dilakukan dengan menggunakan pitfall traps dengan metode transek. Analisis yang digunakan adalah indeks Shannon-Wiener, indeks Evenes dan dominansi Simpson. Hasil penelitian menemukan bahwa (1) Jenis serangga tanah yang ditemukan sebanyak 8 ordo yang terdiri dari 19 famili dengan 26 spesies serangga tanah. (2) Jumlah serangga tanah yang berhasil dikumpulkan sebanyak 1458 individu. (3) Indeks keanekaragaman serangga tanah yang diperoleh adalah 1,27. (4) Indeks kemerataan serangga tanah adalah 0,49. (5) Indeks dominansi yang ditemukan adalah 0,45. (6) Faktor fisik dan kimia lingkungan yang memiliki hubungan terhadap nilai indeks keanekaragaman adalah suhu, kelembapan, tebal serasah dan penutupan kanopi pohon.
Kata kunci : Keanekaragaman, Serangga Tanah, Pengembangan Bahan Ajar Ekologi Hewan, Taman Nasional Gunung Rinjani.
PENDAHULUAN
Serangga merupakan golongan hewan yang dominan di muka bumi. Jumlah serangga saat ini melebihi semua hewan melata daratan lainnya (Borror et al., 1992). Storer and Robert (2010) menjelaskan bahwa serangga mencakup tiga per empat Kingdom Animalia di bumi, yang mendominasi dalam filum arthropoda. Waldbauer (2003)
menjelaskan, serangga merupakan faktor biotik yang memiliki peran sangat besar dalam stabilitas ekosistem hutan, terutama serangga tanah.
Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) merupakan salah satu bagian dari hutan hujan tropis yang terdapat di wilayah Nusa Tenggara Barat. Secara pegunungan (1.500-2000 m dpl) hingga hutan cemara dan sub alpin (>2000 m dpl) (Syihabuddin, 2011).
Kondisi ekosistem di TNGR khususnya pada wilayah jalur pendakian kini mulai terancam. Syihabuddin mengontrol sampah dari masyarakat yang melakukan pendakian. Suin (2003) menyatakan bahwa faktor lingkungan, yaitu lingkungan biotik dan abiotik suatu daerah mempengaruhi keberadaan dan kepadatan suatu jenis hewan tanah.
Struktur komunitas serangga tanah dan hubungannya dengan faktor lingkungan tersebut merupakan media belajar yang menarik dan kontekstual Juni 2014. Lokasi penelitian berada pada jalur pendakian Senaru TNGR. Stasiun 1
berada di hutan tropis dataran rendah (<1.500 m dpl) pada kordinat S 08o 19.696o E 116o 24.111. Stasiun 2 berada di hutan hujan tropis pegunungan (1.500–2.000 m dpl) pada kordinat S 08o 20.569o E 116o 23. 693o. Stasiun 3 berada di hutan cemara dan vegetasi sub alpin (>2.000 m dpl) pada kordinat S 08o 22.096o E 116o 23.950o dan Stasiun 4 berada di tepi Danau Segara Anak (± 2010 m dpl ) pada kordinat S 08o 23.547o E 116o 25. 193o.
Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan selama penelitian yaitu gelas plastik, seng penutup, tiang besi, pisau gali, roll meter, soil tester, higrometer, Global Positioning System (GPS), termometer, mistar, botol sampel, mikroskop stereo (Oplympus), pinset, kamera (Nikon), kertas label, alkohol 70 %, formalin 4 % dan larutan deterjen.
Metode Pengambilan Data
Pengambilan sampel serangga selama penelitian menggunakan pitfall trap. Pitfall trap dibuat dengan cara memasang gelas plastik ke dalam tanah yang telah diisi dengan formalin 4%, alkohol 70%, dan larutan deterjen secukupnya. Sketsa pitfall trap dapat dilihat pada Gambar 1.
Pengambilan data serangga tanah di TNGR dilakukan dengan menggunakan transek. Setiap stasiun Lempeng seng
Tiang penyangga
Gelas plastik
Larutan pengawet
Gambar 1. Sketsa Pitfall Trap
T
an
penelitian dibuat 2 transek dengan panjang masing-masing transek 40 m. Pada setiap transek ditempatkan 5 pitfall trap yang berjarak 10 m. Dengan demikian, jumlah pitfall trap pada setiap stasiun adalah 10 buah. Pengambilan pitfall trap pada stasiun 1, 2 dan 3 dilakukan setelah 2 hari, sedangkan pada stasiun 4 dilakukan setelah 1 hari.
Faktor lingkungan yang diukur di lokasi pengambilan sampel diantaranya ialah suhu tanah, pH tanah,, ketinggian tempat, kadar air tanah, ketebalan serasah, dan persentase penutupan kanopi (pohon dan semak).
Analisis Data
Nilai indeks keanekaragaman serangga tanah dihitung dengan menggunakan indeks Shannon-Wiener (Magurran, 1988)
ni = Jumlah individu spesies ke-i
N = Jumlah individu seluruh spesies
Indeks kemerataan serangga tanah dihitung dengan menggunakan nilai Eveness:
E = H′/ ln S Keterangan:
E = Indeks kemerataan jenis H′ = Indeks Shannon Wiener S = Jumlah jenis yang ditemukan
Magurran (1988) menjelaskan, nilai E berkisar antara 0-1. Nilai 1 menunjukkan seluruh jenis ada dengan kelimpahan yang sama.
Menghitung indeks dominansi serangga tanah digunakan dominansi Simpson:
ni = Jumlah individu jenis i
n = jumlah individu total serangga
Odum (1998) menjelaskan, jika C mendekati 0 ( < 0,5 ) maka tidak ada spesies yang mendominasi. Jika C mendekati 1 ( > 0,5 ) maka ada spesies yang mendominasi.
Hubungan Faktor Fisik dan Kimia Lingkungan Terhadap struktur komunitas serangga dianalisis dengan menggunakan analisis korelasi bivariate-statistic. Interpretasi nilai r dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Interpretasi Nilai r
Analisis bahan ajar ekologi hewan meliputi: analisis kebutuhan bahan ajar, menyusun peta bahan ajar, dan membuat bahan ajar berdasarkan struktur masing-masing bahan ajar. pengumpulan serangga tanah di TNGR, serangga tanah yang diperoleh sebanyak 8 ordo yang terdiri dari 19 famili dengan 26 jenis spesies serangga
tanah. Serangga tanah yang berhasil dikumpulkan diantaranya: Collémbola (Entomobryidae sp. dan Sminthùridae sp.), Thysanùra (Meinertéllidae sp.), Homoptera (Homoptera sp.), Coleoptera (Curculionídae sp., Scarabaèidae sp., Carabidae sp. dan Staphylìnidae sp.), Hymenóptera (Cèphidae sp., Tenthredínidae sp., dan Formicidae sp.), Díptera (Lauxanìidae sp., Mùscidae sp., Tipùlidae sp., Delochopodidae sp. dan Empídidae sp.), Orthóptera (Gryllidae sp., dan Gryllacrídidae sp.), Dermaptera (Forficùlidae sp).
Jenis serangga tanah yang memiliki jumlah pengumpulan paling banyak pada seluruh stasiun
berturut-turut adalah Collémbola
(Entomobryidae sp.), Díptera (Lauxanìidae sp.), Coleoptera (Scarabaèidae sp.), Hymenóptera (Formicidae sp.). Hasil penelitian serupa diperoleh oleh Syaufina (2007) yang menemukan jenis serangga paling banyak dalam penelitiannya berturut-turut adalah Hymenoptera, Collembola dan Coleoptera. Nurhadi (2011) dalam penelitinnya mengenai serangga tanah juga menemukan, jenis serangga Collembola, Hymenoptera dan Coleoptera merupakan jenis serangga dengan jumlah pengumpulan paling banyak.
Collémbola, Coleoptera dan Hymenóptera merupakan jenis serangga tanah yang banyak ditemukan persebarannya. Serangga tersebut aktif di permukaan tanah dan merupakan serangga yang umum ditemukan di hutan tropis. Karakteristik hutan di Taman Nasional Gunung Rinjani juga mendukung untuk perkembangan
serangga tersebut. Namun pada lokasi tertentu dengan kondisi lingkungan yang ekstrim serangga tersebut kurang mampu untuk beradaptasi sehingga persebarannya terbatas.
Jumlah total serangga yang berhasil dikumpulkan dari empat stasiun pengambilan sampel sebanyak 1458 individu. Namun setelah dilakukan perhitungan terhadap kelimpahan dengan menggunakan satuan individu/ pitfall trap/hari, kelimpahan serangga yang ditemukan menjadi 83,6 individu/ pitfall trap/hari. Data kelimpahan serangga tanah di TNGR dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Kelimpahan Serangga Tanah di TNGR
N
o Ordo Famili Spesies (Individu/ KelimpahanPitfall traps/ Hari)
Total individ
u ST.
1 ST.2 ST.3 ST.4
1 Collémbola Entomobryida e
Entomobrya sp. 1 4,2 9,6 9,9 16,5 40,2
Entomobrya sp. 2 0,1 0 0 0 0,1 Sminthùridae Smynthuridae sp. 0,2 0,1 0,1 0,2 0,6 2 Thysanùra Meinertéllidae Meinertéllidae sp. 0,1 0 0,1 0 0,2 3 Homoptera Cixíidae Homoptera sp. 1 0,2 0 0 0 0,2
Homoptera sp. 2 0,1 0 0 0 0,1
Homoptera sp. 3 0 0 0,2 0,3 0,5 4 Coleoptera Curculionídae Curculionidae sp. 0,3 0,1 0 0,2 0,6 Scarabaèidae Scarabidae sp. 9,2 0,1 0,1 0,3 9,7 Carabidae Carabidae sp. 1 0 0 0,3 0,2 0,5
Carabidae sp. 2 0,1 0 0 0,1 0,2 Staphylìnidae Lathróbium sp. 1,4 1,2 1,1 0,2 3,9 5 Hymenópter
a Cèphidae Cephidae sp. 0,1 0 0 0 0,1
Tenthredínida
e Tenthrenididae sp. 0,1 0 0,7 0 0,8 Formicidae Polyrhachis sp. 7,1 0,9 0,2 0,2 8,4
Dolichoderus sp. 0,2 0 0 0 0,2
Camponotus sp. 0,4 0 0,1 0 0,5 6 Díptera Lauxanìidae Minettia sp. 7,2 2,7 0,2 0,2 10,3
Diptera sp.1 0,6 0,5 0 0,1 1,2
Mùscidae Muscidae sp. 0,2 0 0,1 0 0,3
Tipùlidae Tipulidae sp. 0,2 0 0 0,3 0,5
Empídidae Empididae sp. 0 0,5 0,3 0 0,8
Delochopodid ae
Delochopodidae sp. 0 0 0,1 0 0,1
7 Orthóptera Gryllidae Gryllidae sp. 1,1 0,2 1,7 0,1 3,1 Gryllacrídidae Rhapidophorínae
sp. 0,4 0 0 0 0,4
8 Dermaptera Forficùlidae Forficùlidae sp. 0,1 0 0 0 0,1
Total individu/ pitfall trap/ hari 33,6 15,9 15,2 18,9 83,6
Karakteristik hutan pada stasiun 3 dan 4 memiliki beberapa kesamaan. Stasiun 3 berada pada ketinggian 2105 m dpl. Kelimpahan serangga tanah yang pada stasiun 3 adalah 15,2 individu/ pitfall trap/hari. Jenis serangga yang paling banyak pada stasiun 3
berturut-turut adalah Collémbola
alpin, sedangkan stasiun 4 berada pada tepi danau segara anak. Stasiun 4 berada pada ketinggian 2013 m dpl. Pada stasiun 4, kelimpahan serangga tanah adalah 18,9 individu/pitfall trap/hari. Jenis serangga yang paling banyak pada stasiun 4 adalah Collémbola (Entomobryidae sp.) dengan 16,5 individu dan 2,4 individu serangga lainnya. Kelimpahan serangga tanah pada stasiun 3 dan stasiun 4 lebih sedikit bila dibandingkan dengan kelimpahan serangga tanah yang berhasil dikumpulkan pada stasiun 1 dan stasiun 2.
Berdasarkan hasil perhitungan indeks keanekaragaman (Lampiran 1) diperoleh rata-rata keanekaragaman serangga tanah di Taman Nasional Gunung Rinjani sebesar 1,27. Nilai indeks keanekaragaman serangga tanah di setiap stasiun berbeda-beda. Perbedaan nilai indeks keanekaragaman di setiap stasiun dapat disebabkan oleh perbedaan kelimpahan serangga tanah dan banyaknya jenis serangga tanah pada setiap stasiun.
Kelimpahan paling banyak terdapat pada staiun 1 dengan 33,6 individu/pitfall trap/ hari. Pada staiun 2 dan 4 masing-masing kelimpahan serangga tanahnya adalah 15,9 individu/ pitfall trap/hari dan 18,9 individu/pitfall trap/hari. Sedangkan kelimpahan paling rendah ada pada stasiun 3 dengan 15,2 individu/pitfall trap/hari. Namun setelah diidentifikasi, stasiun 2 memiliki jenis serangga tanah paling sedikit dibandingkan pada stasiun lainnya yakni 9 jenis serangga tanah. Pada stasiun 1 ditemukan 17 jenis serangga tanah, dan pada stasiun stasiun 3 dan 4 berturut-turut ditemukan 14 jenis serangga tanah dan 11 jenis serangga tanah. Kondisi tinggi dibandingkan dengan stasiun lainnya yakni sebesar 1,85. Sedangkan nilai indeks keanekaragaman pada stasiun 2 dan staiun 3 nilai indeks keanekaragaman berturut-turut adalah 1,244 dan 1,367. Sedangkan nilai indeks keanekaragaman pada stasiun 4 merupakan indeks keanekaragaman paling rendah dari stasiun lainnya yakni 0,667.
Berdasarkan hasil perhitungan nilai indeks kemerataan serangga tanah (Lampiran 2) dengan menggunakan nilai Eveness, diperoleh rata-rata indeks kemerataan serangga tanah di Taman Nasional Gunung Rinjani adalah 0,49. Banyaknya jenis serangga yang tersebar merata di setiap stasiun akan mempengaruhi keanekaragaman.
Staiun 1 memiliki nilai kemerataan paling tinggi yakni 0,653 sedangkan staiun 4 memiliki nilai indeks kemerataan paling rendah yakni 0,276. Pada stasiun 2 dan 3 berturut-turut nilai indeks keanekaragamannya adalah 0,566
Stasiun 4 memiliki nilai indeks domnansi pada stasiun 2 dan 3 berturut-turut adalah 0,41 dan 0,44.
Hubungan Faktor Fisik dan Kimia Lingkungan Terhadap Struktur Komunitas Serangga Tanah di TNGR
Suin (2003) menjelaskan, faktor terhadap keanekaragaman, kemerataan dan dominasi, diperoleh beberapa faktor memiliki hubungan yang kuat (Lampiran 4) . Beberapa faktor tersebut yakni suhu, ketebalan serasah, kelembapan, dan Kanopi.
Berdasarkan perhitungan korelasi, ketebalan serasah dan indeks keanekaragaman memiliki nilai korelasi yang sangat kuat yakni (0,80).Tingginya produksi serasah dengan beragamnya jenis serasah mendukung perkembangan dominasi. Suhu memiliki nilai korelasi 0.97 terhadap indeks keanekaragaman, 0.94 terhadap indeks kemerataan, dan -0.97 terhadap indeks dominansi. . Jumar (2000) menjelaskan, Serangga memiliki kisaran suhu tertentu dimana serangga dapat hidup. Pada umumnya kisaran suhu yang efektif adalah 15 0C
suhu minimum, 25 0C suhu optimum dan 45 0C suhu maksimum.
Persentase penutupan pohon pada setiap stasiun berbeda-beda. Berdasarkan hasil perhitungan korelasinya, persentase penutupan kanopi pohon memiliki nilai korelasi yang kuat terhadap indeks keanekaragaman (0,78), serta sangat kuat terhadap kemerataan (0,84) dan dominasi (-0,85). Kanopi pohon berperan dalam menjaga kelembapan lingkungan. Tingkat kelembapan yang sesuai akan mendukung ketersediaanya sumber daya lingkungan.
Nilai kelembapan lingkungan juga memiliki pengaruh terhadap keanekaragaman. Berdasarkan hasil perhitungan korelasi, kelembapan lingkungan memiliki nilai korelasi kuat terhadap kemerataan (0,79). Hal ini berarti kelembapan juga akan mempengaruhi indeks keanekaragaman. Semakin tinggi kelembapan lingkungan tentu akan mempengaruhi pergerakan dan persebaran serangga tanah. Serangga tanah merupakan serangga yang aktif bergerak di atas tanah. Apabila kondisi lingkungan tanah lembab, atau bahkan basah tentu mobilitas serangga tanah akan terganggu dan persebarannya juga akan terbatas.
indeks keanekaragaman, indeks terhadap struktur komunitas serangga tanah. Besarnya nilai korelasi faktor fisik dan kimia lingkungan belum tentu memiliki pengaruh yang signifikan terhadap indeks keanekaragaman, kemerataan dan dominansi. Berdasarkan uji hipotesis nilai korelasi dengan taraf signifikan 5% menggambarkan hanya suhu yang memiliki pengaruh yang signifikan. Penelitian serupa dilakukan Atini (2013) di Hutan Suaka Margasatwa Kateni Kabupaten Belu Provinsi NTT. Atini mengemukakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi indeks keanekaragaman adalah suhu. Syaufina (2007) mengemukakan bahwa suhu juga mempengaruhi keanekaragaman Arthropoda tanah di Hutan Pendidikan Gunung Walat.
Pengembangan Modul Ekologi Hewan
Bahan ajar yang dikembangkan adalah modul perkuliahan ekologi hewan yang disusun dari hasil penelitian serangga tanah di Taman Nasional Gunung Rinjani. Bahan ajar dikembangkan berdasarkan pada silabus perkuliahan ekologi hewan.
Pengembangan modul “Ekologi Serangga Tanah” (Taman Nasional Gunung Rinjani) diawali dari pengambilan sampel serangga tanah serta pengukuran faktor fisik dan kimia lingkungan di Taman Nasional Gunung Rinjani. Data yang telah diperoleh selanjutnya dibawa ke Laboratorium Biologi FKIP Universitas Mataram jenis serangga tanah, kelimpahannya, keanekaragamannya serta hubungannya dengan faktor fisik dan kimia lingkungan selanjutnya dijadikan bahan untuk menyusun pembuatan modul. Sebelum penyusunan modul, terlebih dahulu dilakukan penyusunan kerangka modul.
Modul yang telah disusun selanjutnya divalidasi oleh dosen untuk mengetahui modul telah tersusun dengan baik atau masih perlu dilakukan perbaikan. Modul yang telah divalidasi dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Modul dapat menambah pengetahuan peserta didik dalam memahami keanekaragaman serangga tanah terutama yang ada di Taman nasional Gunung Rinjani dan membantu peserta didik mencapai capaian pembelajaran ekologi hewan.
KESIMPULAN DAN SARAN
Indeks kemerataan serangga tanah adalah 0,503 ; dan Indeks dominansi serangga tanah adalah 0,456. 3)Faktor fisik dan kimia lingkungan yang memiliki hubungan sangat kuat terhadap struktur komunitas serangga tanah adalah suhu, ketebalan serasah dan penutupan kanopi. Namun hanya suhu yang memiliki pengaruh yang signifikan terhadap struktur komunitas serangga tanah. 4) Bahan ajar ekologi hewan yang dihasilkan dalam penelitian ini dalam modul yang sudah divalidasi sehingga dapat digunakan untuk kegiatan perkuliahan ekologi hewan.
Didasarkan pada hasil penelitian yang diperoleh, dapat disarankan hal-hal sebagai berikut: 1) Disarankan kepada peneliti berikutnya untuk menggunakan hasil penelitian ini sebagai referensi keanekaragaan serangga tanah di TNGR dan melakukan penelitian dalam jangka waktu lebih panjang terhadap keanekaragaman serangga sehingga data yang didapat lebih akurat. 2) Pihak Balai Taman Nasional Gunung Rinjani agar menggunakan data hasil penelitian menjadi informasi dasar pertimbangan tentang pengelolaan dan perlindungan hutan TNGR dan melengkapi profil proses pembelajaran yang menarik dan kontekstual. 4) Masyarakat Taman Nasional Gunung Rinjani yang mengetahui pentingnya peran serangga khususnya serangga tanah diharapkan turut serta dalam menjaga kelestarian lingkungannya.
DAFTAR PUSTAKA
Atini, B. 2013. Kelimpahan dan Distribusi Serangga Permukaan Tanah Di Hutan Suaka Margasatwa Kateri Kabupaten Belu Provinsi NTT. Yogyakarta: Gadjah Mada University.
Balai Taman Nasional Gunung Rinjani. 2013. Mengatasi Sampah Taman Nasional Gunung Rinjani. (online)
http://www.tnrinjani.net/berita-161-
mengatasi-sampah-taman-nasional-gunung-rinjani.html, Diakses
tanggal 19 Maret 2014.
Borror, D.J., Charles A. T., dan Norman F. J. 1992. Pengenalan Pelajaran Serangga Edisi Keenam. Soetiyono Partosoedjono. Yogyakarta : Gajah Mada University Press.
Jumar (2000) Entomologi pertanian. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Magurran, A.E. 1988. Ecological Diversityand its Measurement. London: Chapman & Hall.
Nurhadi. 2011. Komposisi Arthropoda Permukaan Tanah di Kawasan Pabrik Pupuk Sriwijaya Palembang. Jurnal Ilmiah Ekotrans Universitas Ekasakti Padang, Vol. 11 No. 1, Januari 2011 ISSN 1411 4615. Odum, E.P. 1998. Dasar-Dasar Ekologi.
Tjahjono Samingan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Prastowo, A. 2011. Panduan Kreatif
Membuat Bahan Ajar Inovatif. Jogyakarta : DIVA Press.
Storer, T.I. dan Robert L.U. 2010. Dasar-dasar Zoologi Terjemahan Bahasa Indonesia. Evi Luvina Dwisang, S.Si. Tanggerang: Binarupa Aksara.
Suin, N.M. 2003. Ekologi Hewan Tanah. Jakarta Bumi Aksara
Peniikan Gunung Walat. Media Konservasi Vol. XII, No. 2 Agustus 2007 : 57 – 66. Bogor: IPB
Syihabuddin. 2011. Profil Objek dan Taman Wisata Alam Taman Nasional Gunung Rinjani. Mataram: Balai Taman Nasional Gunung Rinjani.
Syihabuddin. 2011. Sekilas Taman Nasional Gunung Rinjani. Mataram: Balai Taman Nasional Gunung Rinjani.
Waldbauer, Gilbert. 2003. What Good Are Bugs?. London : Harvard University Press
Lampiran 1. Indeks Keanekaragaman Serangga Tanah di TNGR. Stasiun 1
No Ordo Famili/subordo ∑I Pi ln Pi Pi ln Pi
1 Collémbola Entomobryidae 4,3 0.12797619 -2.055911044 -0.263107663 Sminthùridae 0,2 0.005952381 -5.123963979 -0.030499786 2 Thysanùra Meinertéllidae 0,1 0.00297619 -5.81711116 -0.017312831 3 Homoptera Homoptera Sp. 0,3 0.008928571 -4.718498871 -0.042129454 4 Coleoptera Curculionídae 0,3 0.008928571 -4.718498871 -0.042129454 Scarabaèidae 9,2 0.273809524 -1.295322583 -0.35467166 carabidae 0,1 0.00297619 -5.81711116 -0.017312831 Staphylìnidae 1,4 0.041666667 -3.17805383 -0.13241891 5 Hymenóptera Cèphidae 0,1 0.00297619 -5.81711116 -0.017312831
Tenthredínidae 0,1 0.00297619 -5.81711116 -0.017312831 Formicidae 7,7 0.229166667 -1.473305738 -0.337632565 6 Díptera Lauxanìidae 7,8 0.232142857 -1.460402333 -0.33902197
Mùscidae 0,2 0.005952381 -5.123963979 -0.030499786 Tipùlidae 0,2 0.005952381 -5.123963979 -0.030499786 7 Orthóptera Gryllidae 1,1 0.032738095 -3.419215887 -0.111938615 Jangkrik gunung 0,4 0.011904762 -4.430816799 -0.052747819 8 Dermaptera Forficùlidae 0,1 0.00297619 -5.81711116 -0.017312831
Jumlah 33,
6 -1.853861622
Stasiun 2
N o
Ordo Famili/subordo ∑I Pi ln Pi Pi ln Pi
7 Orthóptera Gryllidae 0,2 0.012578616 -4.375757022 -0.055040969
Jumlah 15,
9 -1.244323321
Stasiun 3
N
o Ordo Famili/subordo ∑I Pi ln Pi Pi ln Pi
1 Collémbola Entomobryidae 9,9 0.651315789
-0.428760671 -0.279258595 Sminthùridae 0,1 0.006578947
-5.023880521 -0.033051846 2 Thysanùra Meinertéllidae 0,1 0.006578947
-5.023880521
-0.033051846
3 Homoptera Homoptera Sp. 0,2 0.013157895 -4.33073334 -0.056983333 4 Coleoptera Scarabaèidae 0,1 0.006578947
-5.023880521
-0.033051846
carabidae 0,3 0.019736842
-3.925268232
-0.077472399
Staphylìnidae 1,1 0.072368421
-2.625985248 -0.190038406 5 Hymenópter
a
Tenthredínidae 0,7 0.046052632 -3.077970372
-0.141748636
Formicidae 0,3 0.019736842
-3.925268232 -0.077472399 6 Díptera Lauxanìidae 0,2 0.013157895 -4.33073334 -0.056983333
Mùscidae 0,1 0.006578947
-5.023880521
-0.033051846
Empídidae 0,3 0.019736842
-3.925268232 -0.077472399 Diptera Sp.
0,1 0.006578947 5.023880521- -0.033051846 7 Orthóptera Gryllidae 1,7 0.111842105
-2.190667177
-0.245008829
Jumlah 15,
2 -1.367697558
Stasiun 4
No Ordo Famili/subordo ∑I Pi ln Pi Pi ln Pi
1 Collémbola Entomobryidae
16,
5 0.873015873 -0.135801541 -0.118556901 Sminthùridae 0,2 0.010582011 -4.548599834 -0.048133332 3 Homoptera Homoptera Sp. 0,3 0.015873016 -4.143134726 -0.065764043
4 Coleoptera
Staphylìnidae 0,2 0.010582011 -4.548599834 -0.048133332 5 Hymenóptera Formicidae 0,2 0.010582011 -4.548599834 -0.048133332 6 Díptera LauxanìidaeTipùlidae 0,30,3 0.0158730160.015873016 -4.143134726-4.143134726 -0.065764043-0.065764043
7 Orthóptera Gryllidae 0,1 0.005291005 -5.241747015 -0.027734111
Lampiran 2. Indeks Kemerataan Serangga Tanah di TNGR
No Stasiun H' Jumlah jenis (S) ln S E
1 Stasiun 1 1.85 17 2.83 0.653
2 Stasiun 2 1.24 9 2.19 0.566
3 Stasiun 3 1.36 14 2.63 0.517
Lampiran 3. Indeks Dominansi Serangga Tanah di TNGR Stasiun 1
No Ordo Famili/subordo ∑I Pi (n/N)^2
1 Collémbola Entomobryidae 4,3 0.12797619 0.016377905
Sminthùridae 0,2 0.005952381 3.54308E-05
2 Thysanùra Meinertéllidae 0,1 0.00297619 8.85771E-06
3 Homoptera Homoptera Sp. 0,3 0.008928571 7.97194E-05
4 Coleoptera Curculionídae 0,3 0.008928571 7.97194E-05
Scarabaèidae 9,2 0.273809524 0.074971655
carabidae 0,1 0.00297619 8.85771E-06
Staphylìnidae 1,4 0.041666667 0.001736111
5 Hymenóptera Cèphidae 0,1 0.00297619 8.85771E-06
Tenthredínidae 0,1 0.00297619 8.85771E-06 Formicidae 7,7 0.229166667 0.052517361
6 Díptera Lauxanìidae 7,8 0.232142857 0.053890306
Mùscidae 0,2 0.005952381 3.54308E-05
Tipùlidae 0,2 0.005952381 3.54308E-05
7 Orthóptera Gryllidae 1,1 0.032738095 0.001071783
Jangkrik gunung 0,4 0.011904762 0.000141723
8 Dermaptera Forficùlidae 0,1 0.00297619 8.85771E-06
Jumlah 33,6 1 0.201016865
Stasiun 2
No Ordo Famili/subordo ∑I Pi (n/N)^2
1 Collémbola Entomobryidae 9,6 0.603773585 0.364542542
Sminthùridae 0,1 0.006289308 3.95554E-05
4 Coleoptera Curculionídae 0,1 0.006289308 3.95554E-05
Scarabaèidae 0,1 0.006289308 3.95554E-05 Staphylìnidae 1,2 0.075471698 0.005695977
5 Hymenóptera Formicidae 0,9 0.056603774 0.003203987
6 Díptera Lauxanìidae 3,2 0.201257862 0.040504727
Empídidae 0,5 0.031446541 0.000988885
7 Orthóptera Gryllidae 0,2 0.012578616 0.000158222
Jumlah 15,9 1 0.415213006
No Ordo Famili/subordo ∑I Pi (n/N)^2
1 Collémbola Entomobryidae 9,9 0.651315789 0.424212258
Sminthùridae 0,1 0.006578947 4.32825E-05
2 Thysanùra Meinertéllidae 0,1 0.006578947 4.32825E-05
3 Homoptera Homoptera Sp. 0,2 0.013157895 0.00017313
4 Coleoptera Scarabaèidae 0,1 0.006578947 4.32825E-05
carabidae 0,3 0.019736842 0.000389543
Staphylìnidae 1,1 0.072368421 0.005237188
5 Hymenóptera Tenthredínidae 0,7 0.046052632 0.002120845
Formicidae 0,3 0.019736842 0.000389543
6 Díptera Lauxanìidae 0,2 0.013157895 0.00017313
Mùscidae 0,1 0.006578947 4.32825E-05
Empídidae 0,3 0.019736842 0.000389543
Diptera Sp. 0,1 0.006578947 4.32825E-05
7 Orthóptera Gryllidae 1,7 0.111842105 0.012508657
Jumlah 15,2 1 0.445810249
Stasiun 4
No Ordo Famili/subordo ∑I Pi Pi2
1 Collémbola Entomobryidae 16,5 0.873015873 0.762156715
Sminthùridae 0,2 0.010582011 0.000111979
3 Homoptera Homoptera Sp. 0,3 0.015873016 0.000251953
4 Coleoptera
Curculionídae 0,2 0.010582011 0.000111979 Scarabaèidae 0,3 0.015873016 0.000251953 carabidae 0,3 0.015873016 0.000251953 Staphylìnidae 0,2 0.010582011 0.000111979
5 Hymenóptera Formicidae 0,2 0.010582011 0.000111979
6 Díptera Lauxanìidae 0,3 0.015873016 0.000251953
Tipùlidae 0,3 0.015873016 0.000251953
7 Orthóptera Gryllidae 0,1 0.005291005 2.79947E-05
Jumlah 18,9 1 0.763892388
Lampiran 4. Analisis Hubungan Faktor Fisik dan Kimia Lingkungan terhadap Struktur Komunitas Serangga Tanah Di TNGR.
No Faktor Fisik dan Kimia Lingkungan
Indeks
1 pH -0.427023733 -0.291170507 0.392136378
2 Suhu 0.976054019 0.949581329 -0.975696769
3 Kelembapan 0.65430098 0.795395531 -0.752026638
4 Serasah 0.803408882 0.581910133 -0.664162482
5 Ketinggian -0.783473587 -0.731479758 0.786111681