DI MOONLIGHT DISCOTHEQUE
SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh
Gelar Sarjana Ilmu Komunikasi pada Konsentrasi Hubungan Masyarakat
Program Studi Ilmu Komunikasi
Disusun Oleh: NUR AENI NIM 6662111871
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
v
TERIMAKASIH ATAS IZIN MENYANDANG GELAR SARJANANYA
“
hari ini adalah hasil dari
usaha-usaha dan doa-doa
di hari kemarin
”
SKRIPSI INI KUPERRSEMBAHKAN UNTUK MAMA, PAPA,
YAYANG, SUAMIKU, NOL SEMBILAN, MAK-MAK JULID,
BURICAK BURINONG, TERIMAKASIH UNTUK SEGALA
vi
Nur Aeni, NIM 6662111871. Skripsi. Impression Management Profesi Dragqueen di Moonlight Discotheque. Pembimbing I Prof. Dr. H. A. Sihabudin, M.Si dan Pembimbing II Uliviana Restu, S.Sos, M.I.Kom
Dragqueen adalah sebuah istilah untuk sebuah pertunjukan dimana seorang laki-laki berpenampilan seperti seorang perempuan lalu menirukan sosok penyanyi terkenal dan dipentaskan secara lipsync. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Impression Management Profesi Dragqueen di Moonlight
Discotheque. Dimana pelakonnya memerankan dua sisi kehidupan. Fokus wawancara pada penelitian ini yaitu pengelolaan kesan panggung depan (front stage) dan panggung belakang (back stage) dari seseorang yang berprofesi sebagai dragqueen di Moonlight Discotheque. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi dramaturgi. Pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling, informan penelitian ini berjumlah tiga orang. Perolehan data diperoleh dari wawancara, observasi, dokumentasi, penulusuran data online dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukan bahwa panggung depan dan panggung belakang seorang dragqueen berbeda-beda. Ada yang menutupi identitasnya dan ada yang membuka identitasnya pada saat dipanggung depan. Ada yang berperilaku layaknya laki-laki normal pada umumnya dan ada yang memakai topeng agar dapat diterima dipanggung belakangnya.
vii
Nur Aeni, NIM 6662111871. Thesis. The Impression Management of Dragqueen Profession in Moonlight Discotheque Area. Preceptor I: Prof. Dr. H. A. Sihabudin, M.Si and Preceptor II: Uliviana Restu, S.Sos, M.I.Kom
Dragqueen is the definition of a showing where a man who has apperance looks like a woman afterwards they are acting like famous singer and doing the lipsync performances. This research aim to knowing The Impression Management of Dragqueen Profession in Moonlight Discotheque Area. Where the actress figures two sides of life. On interview focus of this research is manage the impression of front stage and back stage from someone who as a dragqueen in Moonlight Discotheque. This research use purposive sampling technique for the election of three informants. The acquisition of this research data derived from observation, documentation, surfing the online or website, studies library. The final result of this research showed that the front stage dan back stage of this dragqueen is different each other. Some dragqueen prefered to cover their identity when they are performing. In the other side, there are some dragqueen who act like their normal life be a real man, it purposed to accepted by their back stage area.
viii
Alhamdulillah puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas
segala rahmat, ridho dan pertolongannya yang tidak terhingga sehingga penulis
dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Impression Managemen Profesi
Dragqueen di Moonlight Discotheque”. Tak lupa shalawat serta salam kepada
junjungan Nabi besar Muhammad SAW.
Penulisan skripsi ini dibuat sebagai syarat untuk meraih kesarjanaan strata
satu (S1) Program Studi Ilmu Komunikasi, Konsentrasi Humas, Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang-Banten.
Dalam penyusunannya, penulis banyak menemukan kendala dan kesulitan, namun
berkat pertolongan Allah, niat, usaha serta doa-doa dari orang tersayang akhirnya
skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Dengan segala kemampuan, penulis
menyadari segala keterbatasan dalam melaksanakan penyusunan, skripsi ini masih
jauh dari kata sempurna. Namun demikian penulis berusaha menyajikannya
dengan baik.
Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih yang
sedalam-dalamnya atas segala doa, dukungan, motivasi, bimbingan dan bantuan
yang tak terhingga dalam proses penelitian dan penyusunan skripsi ini kepada:
1. Bapak Prof. Dr. H. Sholeh Hidayat, M.Pd selaku Pimpinan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
ix
4. Bapak Darwis Sagita, S.Ikom. selaku Sekretaris Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. 5. Bapak Burhanudin, S.E., M.Si. selaku Dosen Pembimbing Akademik 6. Bapak Prof. Dr. H. A. Sihabudin, M.Si selaku Dosen Pembimbing I,
terimakasih atas waktu, kesempatan, kesabaran, bimbingan dan arahannya yang sangat berarti bagi penulis
7. Ibu Uliviana Restu, S.Sos, M.I.Kom selaku Dosen Pembimbing II, terimakasih atas waktu, kesempatan, kesabaran, bimbingan dan arahannya yang sangat berarti bagi penulis
8. Bapak Yoki Yusanto, S.Sos, M.Ikom selaku Dosen Penguji I Sidang Skripsi
9. Ibu Puspita Asri Praceka, S.Sos, M.Ikom selaku Dosen Penguji II Sidang Skripsi
10. Seluruh Dosen Fisip Untirta yang telah memberikan ilmu dan pengalamannya kepada penulis. Semoga ilmu yang telah diberikan dapat menjadi ilmu yang bermanfaat.
11. Seluruh staff karyawan FISIP Untirta yang melayani kepentingan penulis dalam berbagai hal untuk memperlancar jalannya perkuliahan dan penyusunan skripsi.
x
14. Almarhumah Mama dan Almarhum Abah mertuaku terimakasih atas kasih sayangnya selama ini
15. Adikku Ria Kuraesin terimakasih atas segala dukungan, doa serta kasih sayangnya.
16. Suamiku Khimatullah terimakasih selalu menemani hari-hariku mengerjakan skripsi ini, terimakasih untuk segala dukungan, doa dan bantuannya.
17. Sahabat-sahabat yang tak henti memberi dukungan yakni Fajariah Oktawiani, M. Hafidz Hermawan, Tb. Faudzul adzim, Ridwan, Toni Fransiska terimakasih selalu menjadi penyemangat, penghibur dan pendengar setia selama ini.
18. Teman seperjuangan Febri Nurunnisa, Triana. Anindita PS, Siti Roifatul Roihah, Friska Riama WT, Fahmi Ilhamullah, Teguh Nugraha, Alzasya Asdrie Rivaldie, serta teman-teman seperjuangan lainnya.
19. Teman-teman mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Untirta terimakasih untuk hari-hari penuh kenangannya.
20. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam penyelesaian skripsi ini, baik itu berupa saran, do'a, maupun dukungan yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
xi
Serang, 2018
xii
LEMBAR PERSETUJUAN ... ... ii
PERNYATAAN ORISINALITAS ... iii
LEMBAR PENGESAHAN ... iv
MOTTO ... v
ABSTRAK ... vi
ABSTRACT ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... ix
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 7
1.3 Identifikasi Masalah ... 7
1.4 Tujuan Penelitian ... 8
1.5 Manfaat Teoritis ... 8
1.6 Manfaat Praktis ... 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan konsep ... 10
xiii
2.1.4 Fungsi Komunikasi ... 14
2.2 Tinjauan Teoritis ... 15
2.2.1 Interaksi Simbolik Sebagai Pencetus Teori Dramaturgi.. 15
2.2.2 Dramaturgi ... 18
2.2.3 Dragqueen ... 20
2.2.4 Moonlight Discotheque ... 21
2.2.5 Presentasi Diri ... 23
2.2.6 Wilayah Pertunjukan ... 24
2.3 Kerangka Berfikir ... 27
2.4 Penelitian Terdahulu ... 29
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metodologi Penelitian ... 32
3.2 Paradigma Penelitian ... 33
3.3 Ruang Lingkup/Fokus Penelitian ... 34
3.4 Lokasi Penelitian ... 35
3.5 Instrumen Penelitian ... 35
3.5.1 Sumber Data ... 35
3.5.2 Teknik Pengumpulan Data ... 36
3.6 Informan Penelitian ... 37
xiv BAB IV HASIL PENELITIAN
4.1 Deskripsi Objek Penelitian ... 43
4.2 Deskriptif Data ... 45
4.3 Profil Informan ... 47
4.3.1 Profil Informan Kunci ... 47
4.3.2 Profil Informan Pendukung ... ... 48
4.4 Pembahasan ... 50
4.4.1 Panggung Depan Profesi Dragqueeen ... 52
4.4.2 Panggung Belakang Profesi Dragqueen ... 57
4.4.3 Aktifitas Diluar Profesi Dragqueen ... 62
4.4.5 Dramaturgi Dragqueen ... 63
4.4.6 Kesan yang berhasil dibangun oleh seorang drag queen. ... 65
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 67
5.2 Saran ... 68
DAFTAR PUSTAKA ... 70
xv
xvi
Tabel 3.1 Informan Kunci ... 38
Tabel 3.2 Informan Penukung ... 39
1 1.1Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan seni
budayanya. Dalam kehidupan manusia, seni adalah media ekspresi yang salah
satu jenisnya adalah seni pertunjukan. Seni pertunjukan adalah karya seni
yang melibatkan aksi individu atau kelompok di tempat dan waktu tertentu.
(Wilson,1991) dalam The Theater Experience menyebutkan bahwa seni pertunjukan memberikan pengalaman dan emosi bukan dalam sebuah objek
melainkan dalam peristiwa yang bergerak seiring berjalannya waktu.
Penyampaian dalam seni pertunjukan harus di dukung oleh suasana
ruang yang sesuai, sehingga maksud dan tujuan yang ingin disampaikan dapat
diterima dan penontonpun ikut masuk kedalam dunia yang diciptakan tersebut.
Misalnya pertunjukan komedi, akan tidak lucu jika dekorasinya suram, gelap
ataupun sebaliknnya. Dalam seni pertujukan tentu terdapat sutradara yang
mengatur jalannya sebuah pentas, begitu juga dengan panggung kehidupan
yang kita jalani sehari-hari. Mari kita sedikit bernostalgia dengan salah satu
lirik lagu lawas yang diciptakan oleh Taufik Ismail dan Ian Antono.
Dunia ini panggung sandiwara Ceritanya mudah berubah
Kisah mahabrata atau tragedi dari yunani Setiap kita dapat satu peranan
Yang harus kita mainkan
Ada peran wajar ada peran berpura-pura Mengapa kita bersandiwara
Lagu dengan lirik sederhana namun kaya akan makna ini merupakan
gambaran dari kehidupan manusia. Ada yang berperan wajar seperti layaknya
manusia pada umumnya, adapula yang perannya berpura-pura untuk menjadi
apa yang diinginkan.
Berbicara mengenai sandiwara atau panggung pertunjukan, tentu tidak
akan jauh dengan dunia pertelevisian. Pada tahun 2010, pertelevisian di
Indonesia ramai dengan ajang pencarian bakatnya. Secara tidak langsung, hal
ini menghidupkan beberapa profesi yang belum banyak diketahui oleh
masyarakat. Indonesia‟s Got Talent (IGT) menjadi salah satu ajang pencarian
bakat bergengsi, yang berhasil memperkenalkan “Drag queen” kepada
masyarakat Indonesia pada musim keduanya pada ditahun 2014. Bakat yang
di pentaskan oleh Richard Affandi dan Dark Angels ini, mendapatkan respon
positif dari para juri kala itu, karena penampilannya cukup menghibur.
Drag Queen adalah sebuah istilah dalam dunia performing act/show. Drag queen artinya laki-laki yang memerankan karakter wanita dalam sebuah pertunjukkan. Profesi drag queen sebenarnya sudah dikenal sejak abad ke-19 hingga abad ke-20 sebagai peniru sosok wanita (chauncey 1994: schacht, dalam Saphiro). Namun, tidak banyak masyarakat yang mengetahui tentang profesi ini, karena kelompok ini sedikit tertutup dari pihak luar. Beberapa
Hal tersebut yang membuat peneliti tertarik untuk mengenal lebih jauh
tentang profesi drag queen, dimana seorang pria bisa mempunyai dua peran berbeda dalam hidupnya. Yang pertama sebagai laki-laki normal pada
umumnya, yang kedua sebagai wanita karena profesinya. Di Indonesia sangat
jarang sekali yang berprofesi sebagai drag queen, profesi ini hanya tersebar di kota-kota besar yang mempunyai cerita dikehidupan malamnya.
Jakarta, Ibukota Indonesia yang menjadi pusat perhatian karena gaya
hidup hedonis yang menjadi sorotan bagi masyarakat Indonesia. Bahkan di
beberapa kalangan, gaya hidup masyarakat Jakarta menjadi acuan dalam
menjalani kehidupan. Di kota yang padat akan lalu lintas ini tak pernah sepi
dari segala aktifitas penduduknya. Tak heran jika banyak tempat wisata, mall,
diskotik yang berdiri di tengah ramainya kota ini. Di Jakarta, bukan hanya
siang hari segala aktifitas dilakukan. Ketika malam tiba pun kota ini akan
semakin ramai dengan segala hiburan dunia malamnya. Pada saat malam hari
lah para drag queen melangsungkan aksinya. Moonlight discotheque menjadi salah satu tempat yang menyajikan pertunjukan drag queen didalamnya.
Banyak yang menganggap bahwa drag queen sama seperti pengamen yang berpenampilan perempuan yang mengamen di pinggir jalan. Namun
pada kenyataannya tentu berbeda. Pengamen yang berdandan seperti wanita
lalu mengamen di pinggir jalan berdandan seperti itu untuk mencari rezeki
yang salah satu caranya adalah dengan mengamen. Sedangkan drag queen
seperti di Moonlight Discotheque atau menjadi bintang tamu di sebuah acara dimana segala sesuatunya sudah dipersiapkan dengan matang.
Persiapan yang dilakukan oleh seorang drag quuen tentu tidak asal-asalan, karena sebagai seorang penghibur lypsync yang menirukan sosok penyanyi, tentu harus mempunyai konsep disetiap penampilannya. Seperti
tema yang akan ditampilkannya, make-up nya bagaimana, menirukan sosok
penyanyi siapa, apa saja aksesoris yang digunakan, body language-nya seperti apa, tarikan nafasnya bagaimana, dan lain sebagainya. Tentu hal ini membuat
para drag queen harus memperlajari segalanya sebelum pertunjukan dimulai,
agar pada saat pertunjukan nanti dapat berhasil menirukan sosok tersebut.
Tidak sedikit para profesi drag queen yang mencoba untuk menampilkan aksinya secara live (tidak lypsync). Tentu saja hal ini membutuhkan keahlian yang cukup dengan cara latihan yang sangat ekstra,
karena untuk pertunjukan secara live para drag queen harus menirukan suara wanita, bagaimanapun juga para drag queen ini adalah seorang laki-laki. Di luar dari pada itu, para drag queen yang mempunyai bakat alami akan sangat mudah untuk menirukan suara wanita, sehingga ia bebas memilih ingin tampil
live atau lipsync. Namun di Indonesia sedikit sekali yang bisa menampilkan aksinya secara live.
Setiap manusia mempunyai alasan sendiri, mengapa mereka memilih
Seperti yang sudah diketahui, profesi ini lebih banyak dipandang sebelah mata
oleh masyarakat. Tentu saja hal ini membuat para pelakonnya harus siap untuk
menerima segala kritikan pedas dari masyarakat. Maka tak jarang, beberapa
diantara mereka harus sembunyi-sembunyi melakukan aksinya agar tetap
diterima dimasyarakat.
Profesi drag queen mengingatkan pada teori dramaturgi yang dicetuskan oleh Erving Goffman salah satu pakar sosiologi yang terkenal pada
abad ke-20. Menurut Goffman, wilayah depan ibarat panggung sandiwara
bagian depan (front stage) yang ditonton khalayak penonton, sedangkan wilayah belakang ibarat panggung sandiwara bagian belakang (back stage) atau kamar rias tempat pemain sandiwara bersantai, mempersiapkan diri, atau
berlatih untuk memainkan perannya di panggung depan. 1
Erving Goffman menyatakan bahwa kehidupan sosial seseorang
merupakan serangkaian penampilan dramatik seperti halnya orang orang yang
melakukan pertunjukan di panggung teater, dimana seseorang berusaha
membentuk kesan yang mereka inginkan untuk dilihat orang lain.
Hal senada juga dikemukakan oleh Mulyana bahwa Goffman
mengasumsikan bahwa ketika orang-orang berinteraksi, mereka ingin
menyajikan suatu gambaran diri yang akan diterima orang lain. Ia menyebut
upaya itu sebagai “pengelolaan kesan” (impression management), yaitu
1
teknik-teknik yang digunakan aktor untuk memupuk kesan-kesan tertentu
dalam situasi tertentu untuk mencapai tujuan tertentu.2
Pengelolaan kesan (Impression Management) ditemukan dan dikembangkan oleh Erving Goffman pada tahun 1959, dan telah
dipaparkan dalam bukunya yang berjudul “The Presentation of Self in Everyday Life”. Pengelolaan kesan juga secara umum dapat didefinisikan
sebagai sebuah teknik presentasi diri yang didasarkan pada tindakan
mengontrol persepsi orang lain dengan cepat, dengan mengungkapkan aspek
yang dapat menguntungkan diri sendiri atau tim. 3
Presentasi Diri ini dilakukan ketika seseorang berinteraksi dengan
orang lain dan mengelola kesan yang ia harapkan tumbuh pada orang lain
terhadapnya, melalui sebuah pertunjukan diri yang mengalami setting di
hadapan khalayak. Dalam sebuah pertunjukan ini kebanyakan menggunakan
atribut, busana, make-up, pernak-pernik, dan alat dramatik lainnya.4
Goffman menyebut pertunjukan (performance) merupakan aktivitas untuk mempengaruhi orang lain. Sebuah pertunjukan yang
ditampilkan seseorang berdasarkan atas perhitungan untuk memperoleh
respon dari orang lain. Penampilan serta perilaku seseorang dalam sebuah
interaksi merupakan suatu proses interpretif, yang dimana tujuannya agar
2
Ibid. Hlm 112
3
Deddy Mulyana, metodologi penelitian kualitatif.PT Roemaja Rosdakarya, Bandung. Hlm 112
4
terbentuknya sebuah persepsi yang merupakan hasil dari suatu interpretasi
yang dilakukan orang lain.5
Goffman memandang ini dengan perspektif Dramaturgi. Berdasarkan
hasrat dasar manusia, secara ilmiah manusia memiliki kekuatan yang dapat
menguasai sikap dan tindakannya. Manusia mempunyai kebutuhan untuk
berhubungan dengan sesamanya. Untuk itu dia menempuh jalan bertemu
dengan orang lain yang melakukan pertunjukan dan memproyeksikan
diri dengan peranan-peranan yang melakonkan hidup dan kehidupan di atas
pentas secara khayali.
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah peneliti uraikan di
atas, maka peneliti menentukan judul penelitian yaitu “Impression
Management Profesi Drag Queen di Moonlight Discotheque”
1.2Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya,
sekiranya perlu dilakukan penelitian lebih dalam tentang penelitian ini, maka
dari itu peneliti merumuskan masalah yaitu “Bagaimana Panggung Depan dan Panggung Belakang Pelaku Drag Queen di Moonlight Discotheque
sebagai upaya pengelolaan kesan (Impression Management)”
1.3Identifikasi Masalah
Berdasarkan Rumusan masalah diatas, maka identifikasi masalah
penelitian ini adalah sebagai berikut:
5
1. Bagaimana Panggung Depan Pelaku Drag Queen di Moonlight Discotheque sebagai upaya pengelolaan kesan (Impression Management)? 2. Bagaimana Panggung Belakang pelaku Drag Queen di Moonlight
Dischoteque sebagai upaya pengelolaan kesan? (Impression Management)?
1.4Tujuan Penelitian
Berdasarkan identifikasi masalah yang telah diuraikan maka tujuan
diadakannya penelitian ini adalah untuk,
1. Mengetahui Panggung Depan Pelaku Drag Queen di Moonlight Discotheque sebagai upaya pengelolaan kesan (Impression Management)
2. Mengetahui Panggung Belakang Pelaku Drag Queen di Moonlight Discotheque sebagai upaya pengelolaan kesan (Impression Management)
1.5Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang baik dalam hal
teoritis maupun praktis.
1.5.1 Manfaat Teoritis
Peneliti berharap penelitian ini dapat memperkaya khasanah serta
menambah wawasan bagi pembaca, terutama dalam Prodi Ilmu Komunikasi
khususnya konsentrasi humas. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui
bagaimana panggung depan dan panggung belakang seseorang yang berprofesi
1.5.2 Manfaat Praktis
Peneliti berharap penelitian ini memiliki kegunaan untuk segala pihak.
Manfaat praktis yang telah peneliti rumuskan dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:
a. Untuk peneliti diharapkan dapan menambah wawasan serta membantu
menjelaskan profesi Drag queen yang dipaparkan melalui kajian teoritis. Diharapkan pula dapat lebih tajam melihat situasi apapun yang
terjadi di sekeliling.
b. Untuk akademisi penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi
mahasiswa program Studi Ilmu Komunikasi terutama konsentrasi
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Konsep 2.1.1 Komunikasi
Kata Komunikasi atau communication dalam bahasa inggris berasal dari kata Latin communis yang berarti “sama”, communico, communication, atau communicare yang berarti “membuat sama” (to make common). Istilah pertama (communis) adalah istilah yang paling sering disebut
sebagai asal-usul kata komunikasi, yang merupakan akar dari kata-kata
Latin lainnya yang mirip. Komunikasi menyarankan bahwa suatu pikiran,
suatu makna, atau suatu pesan dianut secara sama.6
Carl L. Hovland mendefinisikan komunikasi adalah proses yang
memungkinkan seseorang (komunikator) menyampaikan rangsangan
(biasanya lambang-lambang verbal) untuk mengubah perilaku orang
lain (komunikate). Everett M. Rogers mendefinisikan komunikasi adalah
proses di mana suatu ide dilahirkan dari sumber kepada suatu penerima atau
lebih, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka.7
Harold Lasswell dalam karyanya, The Structure and Function of Communication in Society, cara yang baik menjelaskan komunikasi ialah
6
Sudikin Basrowi. 2002. Metode Penelitian Kualitatif Perspektif Mikro. Surabaya: Insan Cendikia. Hal. 62.
7
Deddy Mulyana. 2000. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: Rosda Karya. Hal. 62
menjawab pertanyaan sebagai berikut: Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect?
Paradigma Lasswell diatas menunjukan bahwa komunikasi meliputi lima
unsur sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan itu, yakni:
1. Siapa yang mengatakan (Komunikator)
2. Kepada siapa disampaikan (Komunikan)
3. Apa yang dikatakan (Pesan)
4. Media apa yang digunakan (Media)
5. Akibata apa yang terjadi (Efek)
Berdasarkan paradigma Lasswell tersebut, komunikasi adalah proses
penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media
menimbulkan efek tertentu. (Effendy, 2000). Jadi dalam berkomunikasi bukan
sekedar memberitahu, tetapi juga berupaya mempengaruhi agar seseorang atau
sejumlah orang melakukan kegiatan atau tindakan yang diinginkan oleh
komunikator, akan tetapi hal itu bisa terjadi apabila komunikasi yang
disampaikannya bersifat komunikatif yaitu komunikator dalam menyampaikan
pesan-pesan harus benar-benar dimengerti dan dipahami oleh komunikan untuk
mencapai tujuan komunikasi yang efektif.
2.1.2 Proses Komunikasi
Menurut Onong Uchayana Effendy proses komunikasi terbagi menjadi
dua tahap, yakni secara primer dan secara sekunder sebagai berikut :8
8
1. Proses komunikasi secara primer Proses komunikasi secara primer adalah proses penyampaian pikiran atau perasaan seseorang kepada
orang lain dengan menggunakan lambang (simbol) sabagai media.
Lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi adalah
bahasa, isyarat, gambar,warna, dan lain sebagainya yang secara
langsung mampu “menerjemahkan” pikiran atau perasaan komunikator
kepada komunikan. Bahwa bahasa yang paling banyak dipergunakan
dalam komunikasi adalah jelas karena hanya bahasalah yang mampu
“menerjemahkan” pikiran seseorang kepada orang lain. Apakah
berbentuk informasi atau opini; baik mengenai hal yang kongkret
maupun yang abstrak; bukan hanya tentang hal atau peristiwa yang
terjadi pada saat sekarang, melainkan juga pada waktu yang lalu dan
masa yang akan datang.
2. Proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana
sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama.
Seorang komunikator menggunakan media kedua dalam melancarkan
komunikasinya karena komunikan sebagai sasarannya berada ditempat
yang relatif jauh atau jumlahnya banyak. Surat, telepon, surat kabar,
majalah, radio, televisi, film, dan masih banyak lagi adalah media kedua
yang sering digunakan dalam komunikasi. Pada umumnya apabila kita
berbicara dikalangan masyarakat, yang dinamakan media komunikasi itu
menganggap bahasa sebagai media komunikasi. Hal ini disebabkan oleh
bahasa sebagai lambang (symbol) beserta isi (content) yakni pikiran atau perasaan yang dibawanya menjadi totalitas pesan (message) yang tidak daat dipisahkan.
2.1.3 Tujuan Komunikasi
Setiap individu dalam berkomunikasi pasti mengharapkan tujuan dari
komunikasi itu sendiri, secara umum tujuan berkomunikasi adalah
mengharapkan adanya umpan yang diberikan oleh lawan bicara kita serta
semua pesan yang kita sampaikan dapat diterima oleh lawan bicara kita dan
adanya efek yang terjadi setelah melakukan komunikasi tersebut.
Onong Uchjana Effendy dalam buku Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek
mengemukakan beberapa tujuan berkomunikasi, yaitu:9
a. Mengubah sikap (to change the attitude)
Supaya gagasan kita dapat diterima oleh orang lain dengan pendekatan
yang persuasif bukan memaksakan kehendak.
b. Mengubah Opini/pendapat/pandangan (to change the opinion)
Memahami orang lain, kita sebagai pejabat atau pimpinan harus
mengetahui benar aspirasi masyarakat tentang apa yang diinginkannya,
jangan mereka inginkan arah kebarat tapi kita memberikan jalur
ketimur.
9
c. Mengubah perilaku (to change the behavior)
Menggerakan orang lain untuk melakukan sesuatu, menggerakan
sesuatu itu dapat bermacam-macam mungkin berupa kegiatan yang
dimaksudkan ini adalah kegiatan yang banyak mendorong, namun
yang penting harus di ingat adalah bagaimana cara yang terbaik
melakukannya.
d. Mengubah masyarakat (to change the society)
Supaya yang kita sampaikan itu dapat dimengerti. Sebagai pejabat atau
komunikator kita harus menjelaskan kepada komunikan (penerima)
atau bawahan dengan sebaik baiknya dan tuntas sehingga mereka dapat
mengikuti apa yang kita maksudkan. Jadi secara singkat dapat
dikatakan tujuan komunikasi itu adalah mengharapkan pengertian,
dukungan, gagasan dan tindakan. Serta tujuan yang sama adalah agar
semua pesan yang kita sampaikan dapat dimengerti dan diterima oleh
komunikan
2.1.4 Fungsi Komunikasi
Komunikasi memiliki beberapa fungsi. Menurut Onong Uchjana Effendy
ada empat fungsi utama dari kegiatan komunikasi, yaitu:10
1. Menginformasikan (to inform)
Menginformasikan yaitu memberikan informasi kepada masyarakat,
memberitahukan kepada masyarakat mengenai peristiwa yang terjadi,
10
ide atau pikiran dan tingkah laku orang lain, serta segala sesuatu yang
disampaikan orang lain.
2. Mendidik (to educate)
Mendidik yaitu komunikasi merupakan sarana pendidikan, dengan
komunikasi manusia dapat menyampaikan ide dan pikirannya kepada
orang lain sehingga orang lain mendapatkan informasi dan ilmu
pengetahuan
3. Menghibur (to entertain)
Adalah komunikasi selain berguna, untuk menyampaikan komunikasi,
pendidikan, mempengaruhi juga berfungsi untuk menyampaikan
hiburan atau menghibur orang lain. Penyanyi dangdut merupakan salah
satu penghibur. Dalam hasil pengamatan penulis para penyanyi
dangdut dapat menghibur orang banyak dan menghibur diri sendiri
apabila sedang merasa sedih.
4. Mempengaruhi (to influence)
Adalah fungsi mempengaruhi setup individu yang berkomunikasi,
tentunya berusaha saling mempengaruhi jalan pikiran komunikan dan
lebih jauh lagi berusaha merubah sikap dan tingkah laku komunikan
sesuai dengan apa yang diharapkan.
2.2 Tinjuan Teoritis
2.2.1 Interaksi Simbolik Sebagai Pencetus Teori Dramaturgi
Perspektif dramaturgi dari Erving Goffman, sebenarnya merupakan
dan etnometodologi.11 Pengertian Interaksionisme Simbolik adalah Teori yang
menyatakan bahwa orang-orang memberikan makna terhadap simbol-simbol,
dan pemaknaan tersebut berfungsi untuk mengontrol mereka.12
Interaksi simbolik berakar dan berfokus pada hakekat manusia yang
adalah mahluk relasional. Setiap individu pasti terlibat relasi dengan
sesamanya. Tidaklah mengherankan apabila kemudian teori interaksi simbolik
segera mengedepan apabila dibandingkan dengan teori lainnya. Alasannya
ialah diri manusia muncul dalam dan melalui interaksi dengan yang diluar
dirinya. Interaksi itu sendiri membutuhkan simbol-simbol tertentu. Simbol itu
biasanya disepakati dalam skala kecil maupun skala besar.
Goffman begitu terilhami oleh teori interaksi simbolik dari Mead.
Mead melihat pikiran (mind) dan dirinya (self) menjadi bagian dari perilaku manusia yaitu bagian interaksinya dengan orang lain. Bahkan menurut Mead:
“sebelum seseorang bertindak, ia membayangkan dirinya dalam posisi orang
lain dengan harapan-harapan orang lain dan mencoba memahami apa yang
diharapkan orang itu”.
Menurut Littlejohn, interaksi simbolik mengandung inti dasar premis
tentang komunikasi dan masyarakat (core of common premises about communicationand society) perspektif interaksi simbolik memandang bahwa individu bersifat aktif, reflektif dan kreatif, menafsirkan, menampilkan perilaku
11
Deddy Mulyana dan Solatun,Metode Penelitian Komunikasi: PT. Remaja Rosdakarya, 2007.Hal 37
12
yang rumit dan sulit diramalkan.13 Goffman sering dianggap sebagai salah satu
penafsir „teori diri‟ dari Mead dengan menekankan sifat simbolik dari
manusia. Goffman menganggap individu (bukan struktur yang lebih besar)
sebagai satuan analisis. Untuk menjelaskan tindakan manusia, Goffman
memakai analogi drama dan teater. Hal itulah yang menjadikannya
sebagai seorang dramaturgis.
Perspektif interaksionisme simbolik memulainya dengan konsep diri (self), diri dalam hubungannya dengan orang lain dan diri sendiri dan orang lain itu
dalam konteks yang lebih luas. Dalam konteks sosial inilah nantinya akan
dapat dipahami beragam macam anggapan dari masyarakat. Interaksi simbolik
ada karena ide-ide dasar dalam membentuk makna yang berasal dalam
membentuk makna yang berasal dari pikiran manusia (mind), mengenai diri
(self), dan hubungan di tengah interaksi sosial (society), dan tujuan bertujuan akhir untuk memediasi, serta menginterprestasi makna individu tersebut
menetap. Seperti yang di catat oleh Douglas (1970) makna itu berasal dari
interaksi, dan tidak ada cara lain untuk memberi makna, selain dengan
membangun hubungan dengan individu lain melalui interaksi.14
Definisi singkat dari ke tiga dasar dari interaksi simbolik, antara lain :
1. Pikiran (mind) adalah kemampuan untuk menggunakan simbol yang mempunyai makna sosial yang sama, dimana tiap individu harus
mengembanggkan pikiran mereka melalui interaksi dengan individu lain,
13
Littlejohn, Stephen W. 1996. Theories Of Human Communication. 5th Edition. Belmont California: wadsworth, publishing Company, hlm. 159
14
2. Diri (self) adalah kemampuan untuk mereflesikan diri tiap individu dari penilaian sudut pandang atau pendapat orang lain, teori interaksionisme
simbolis adalah salah satu cabang teori sosiologi yang mengemukakan
tentang diri sendiri (the-self) dan dunia luarnya, dan
3. Masyarakat (society) adalah jejaring hubungan sosial yang di ciptakan, di bangun, dan di kontruksikan oleh tiap individu di tengah masyarakat, dan
tiap individu tersebut terlibat dalam perilaku yang mereka pilih secara aktif
dan sukarela yang pada akhirnya mengantar manusia dalam proses
pengambilan peran di tengah masyarakatnya. (Mead.1934).15
2.2.2 Dramaturgi
Istilah dramaturgi dipopulerkan oleh Erving Goffman, salah
seorang sosiolog yang paling berpengaruh pada abad 20. Dalam bukunya
yang berjudul The Presentation of Self in Everyday Life yang diterbitkan pada tahun 1959, Goffman memperkenalkan konsep dramaturgi yang
bersifat penampilan teateris. Yakni memusatkan perhatian atas
kehidupan sosial sebagai serangkaian pertunjukan drama yang mirip
dengan pertunjukan drama di panggung. Secara ringkas dapat dikatakan
bahwa Goffman melihat banyak kesamaan antara pementasan teater dan
berbagai jenis peran yang kita mainkan dalam interaksi dan tindakan
sehari-hari.16
15
West Richard dan Lynn H. Turner. 2008. Pengantar Teori Komunikasi: Analisis Dan Aplikasi. Buku 1 edis ke-3 Terjemahan Maria Natalia Damayanti Maer. Jakarta: Salemba Humanika, hlm. 96
16
Goffman cenderung melihat pada interaksi tatap muka atau kehadiran
bersama (Co-presence). Interaksi tatap muka dibatasinya sebagai “individu -individu yang saling mempengaruhi tindakan-tindakan mereka satu sama lain
ketika masing-masing berhadapa secara fisik.17 Biasanya terdapat suatu arena
kegiatan yang terdiri dari serangkaian tindakan individu itu. Dalam suatu
situasi sosial, seluruh kegiatan dari partisipan tertentu disebut sebagai suatu
penampilan (performance), pertunjukan adalah aktivitas untuk mempengaruhi
orang lain.
Dalam konsep dramaturgi, Goffman mengawalinya dengan
penafsiran “konsep-diri”, di mana Goffman menggambarkan pengertian diri
yang lebih luas daripada Mead (menurut Mead, konsep-diri seorang
individu bersifat stabil dan sinambung selagi membentuk dan dibentuk
masyarakat berdasarkan basis jangka panjang). Sedangkan menurut Goffman,
konsep-diri lebih bersifat temporer, dalam arti bahwa diri bersifat jangka
pendek, bermain peran, karena selalu dituntut oleh peran-peran sosial
yang berlainan, contohnya pada saat seseorang yang berprofesi sebagai
dragqueen berinteraksi dengan lingkungan sosialnya, mereka tidak hanya
berinterkasi dengan lingkungan keluarganya saja, akan tetapi dengan
lingkungan sosial lainnya dengan situasi dan identitas sosial yang mungkin
berbeda sehingga memungkinkan untuk memainkan peran-peran sosial yang
berlainan. Berkaitan dengan interaksi, definisi situasi bagi konsep-diri
individu tertentu dinamakan Goffman sebagai presentasi diri.
17
2.2.3 Dragqueen
Drag Queen adalah sebuah istilah dalam dunia performing act/show. Drag queen artinya laki-laki yang memerankan karakter wanita dalam sebuah pertunjukkan. Profesi drag queen sebenarnya sudah dikenal sejak abad ke-19 hingga abad ke-20 sebagai peniru sosok wanita (chauncey 1994: schacht,
dalam Saphiro). Namun, tidak banyak masyarakat yang mengetahui tentang
profesi ini, karena kelompok ini sedikit tertutup dari pihak luar. Beberapa
peneliti bahkan mengkonsepkan drag queen sebagai lelaki gagal yang mengasosiasikan mereka sebagai kaum homoseksual (Newton 1979:
Tawksbury dalam Berkowitz).
Drag queen adalah seorang laki-laki yang berpenampilan seperti perempuan lalu menirukan sosok penyanyi terkenal dan dipentaskan secara
lipsing. Hal tersebut yang membuat peneliti tertarik untuk mengenal lebih jauh
tentang profesi drag queen, dimana seorang pria bisa mempunyai dua peran berbeda dalam hidupnya. Yang pertama sebagai laki-laki normal pada
umumnya, yang kedua sebagai wanita karena profesinya. Di Indonesia sangat
jarang sekali yang berprofesi sebagai drag queen, profesi ini hanya tersebar di kota-kota besar yang mempunyai cerita dikehidupan malamnya.
Persiapan yang dilakukan oleh seorang drag queen tentu tidak asal-asalan, karena sebagai seorang penghibur lypsync yang menirukan sosok penyanyi, tentu harus mempunyai konsep disetiap penampilannya. Seperti tema yang
akan ditampilkannya, make-up nya bagaimana, menirukan sosok penyanyi
tarikan nafasnya bagaimana, dan lain sebagainya. Tentu hal ini membuat para
drag queen harus memperlajari segalanya sebelum pertunjukan dimulai, agar pada saat pertunjukan nanti dapat berhasil menirukan sosok tersebut.
Tidak sedikit para profesi drag queen yang mencoba untuk menampilkan aksinya secara live (tidak lipsync). Tentu saja hal ini membutuhkan keahlian yang cukup dengan cara latihan yang sangat ekstra,
karena untuk pertunjukan secara live para drag queen harus menirukan suara wanita, bagaimanapun juga para drag queen ini adalah seorang laki-laki. Di luar dari pada itu, para drag queen yang mempunyai bakat alami akan sangat mudah untuk menirukan suara wanita, sehingga ia bebas memilih ingin tampil
live atau lipsync. Namun di Indonesia sedikit sekali yang bisa menampilkan aksinya secara live.
2.2.4 Moonlight Discotheque
Diskotik menjadi salah satu lokasi pembaratan masyarakat lokal yang
diawali dengan proses perkenalan kata-kata atau ucapan bahasa asing, serta
musik dan lagu-lagu Barat. Adapun diskotik (discotheque - dalam bahasa Perancis) sebenarnya berasal dari kata disco (disko), yang berarti gedung tempat menyimpan koleksi piringan hitam; lembaga yang menyimpan koleksi
piringan hitam untuk tujuan ilmiah; suatu tempat atau gedung yang dipakai
untuk mendengarkan musik disko yang diiringi tarian atau dansa oleh para
perkembangannya, disko berubah menjadi musik bergaya meriah, yang
merangsang penggemarnya untuk melakukan gerakan-gerakan tari tertentu dan
ajojing (dansa) adalah istilah baru lagi untuk gengsot atau istilah kunonya
melantai.
Makna diskotik sebenarnya lebih luas dari hanya sekedar musik dan
berdansa. Diskotik tidak hanya sebagai gedung untuk berdansa, tetapi juga
ruang sosial yang memiliki beberapa fungsi. Fungsi catharsis, menempatkan
diskotik sebagai ruang pembebasan atau pelepasan ketegangan dan kecemasan
dengan jalan mengalami kembali dan mencurahkan ke luar kejadian-kejadian
traumatis di masa lalu yang semula dilakukan dengan cara menekankan
emosiemosi ke dalam “ketidaksadaran”. Sementara itu, fungsi ekspresi diri
bermakna bahwa diskotik merupakan sarana dari para pengunjungnya untuk
bebas mengungkapkan perasaan.
Selain itu, diskotik juga berfungsi sebagai sarana mengidentifikasi diri
dengan cara mencari jati diri dengan mencari pergaulan baru di dalam diskotik.
Akhirnya, fungsi yang terakhir adalah asosiasi. Dalam fungsi ini, setiap
pengunjung datang ke diskotik untuk bergaul dan memperluas pertemanan
dengan berinteraksi dengan tamu-tamu lain yang datang ke diskotik. Penulis
memilih salah satu diskotik di Jakarta yaitu Moonlight Discotheque yang berada di sekitar Hayam Wuruk. Moonlight menjadi salah satu diskotik yang
menyediakan tempat untuk pertunjukan dragqueen. jadwal pertunjukan
rutinnya yaitu hari rabu malam kamis, namun tidak menutup kemungkinan
2.2.5 Presentasi Diri
Menurut Goffman, presentasi diri merupakan suatu kegiatan yang
dilakukan oleh individu tertentu untuk memproduksi definisi situasi dan
identitas sosial bagi para aktor dan definisi situasi tersebut mempengaruhi
ragam interaksi yang layak dan tidak layak bagi para aktor dalam situasi yang
ada. Lebih jauh presentasi diri merupakan upaya individu untuk
menumbuhkan kesan tertentu di depan orang lain dengan cara menata
perilaku agar orang lain memaknai identitas dirinya sesuai dengan apa yang ia
inginkan. Dalam proses produksi identitas tersebut, ada suatu
pertimbangan-pertimbangan yang dilakukan mengenai atribut simbol yang
hendak digunakan sesuai dan mampu mendukung identitas yang
ditampilkan secara menyeluruh.18
Manusia adalah aktor yang berusaha menggabungkan karakteristik
personal dan tujuan kepada orang lain melalui “pertunjukan dramanya sendiri”.
Dalam mencapai tujuannya tersebut, manusia akan mengembangkan
perilaku-perilaku yang mendukung perannya tersebut. Selayaknya pertunjukan drama,
seorang aktor dalam drama kehidupan juga harus mempersiapkan kelengkapan
pertunjukan. Kemudian ketika perangkat simbol dan pemaknaaan identitas
yang hendak disampaikan itu telah siap, maka individu tersebut akan
melakukan suatu gambaran-diri yang akan diterima oleh orang lain. Upaya itu
disebut Goffman sebagai “pengelolaan kesan” (impression management), yaitu
18
teknik-teknik yang digunakan aktor untuk memupuk kesan-kesan tertentu
dalam situasi-situasi tertentu untuk mencapai tujuan tertentu.19
Goffman menyatakan bahwa hidup adalah teater, individunya sebagai
aktor dan masyarakat adalah penontonnya. Jadi kehidupan dapat juga
diartikan sebagai panggung pertunjukkan, ketika individu dihadapkan pada
panggung, ia akan menggunakan simbol-simbol yang relevan untuk
memperkuat identitas karakternya, namun ketika individu tersebut telah
habis masa pementasannya, maka di belakang panggung akan terlihat
tampilan seutuhnya dari individu tersebut.
2.2.6 Wilyah Pertunjukan
Dalam perspektif dramaturgis, kehidupan ini ibarat teater, interaksi
sosial yang mirip dengan pertunjukkan diatas panggung yang menampilkan
peran-peran yang dimainkan para aktor.20 Menurut Goffman, kehidupan
sosial itu dapat dibagi menjadi dua yaitu panggung depan (front stage) dan panggung belakang (back stage). Goffman melihat ada perbedaan akting yang besar saat aktor berada di atas panggung depan (front stage) dan panggung belakang (back stage) drama kehidupan. Kondisi akting di panggung depan adalah adanya penonton (yang melihat kita) dan kita
sedang berada dalam bagian pertunjukan. Saat itu kita berusaha
memainkan peran kita sebaik-baiknya agar penonton memahami tujuan
19
Dedy Mulyana, M.A. Ph.D. (2003). Ilmu Komunikasi, Suatu Pengantar. PT. Remaja Rosdakarya : Bandung. Hal. 115.
20
dari perilaku kita. Perilaku kita dibatasi oleh konsep-konsep drama yang
bertujuan membuat drama yang berhasil. Sedangkan di panggung belakang
adalah keadaan di mana kita berada di belakang panggung dengan kondisi
tidak ada penonton, sehingga kita dapat berperilaku bebas tanpa
memperdulikan plot perilaku bagaimana yang harus kita bawakan.
1. Panggung Depan (Front Stage)
Panggung depan merupakan suatu panggung yang terdiri dari
bagian pertunjukkan (appearance) atas penampilan dan gaya (manner). Di panggung inilah aktor akan membangun dan menunjukkan sosok
ideal dari identitas yang akan ditonjolkan dalam interaksi sosialnya.
Pengelolaan kesan yang ditampilkan merupakan gambaran aktor
mengenai konsep ideal dirinya yang sekiranya bisa diterima
penonton. Aktor akan menyembunyikan hal-hal tertentu dalam
pertunjukkan mereka.21
Goffman membagi panggung depan ini menjadi dua bagian yaitu
front pribadi dan setting yakni situasi fisik yang harus ada ketika aktor
harus melakukan pertunjukkan. Tanpa setting, aktor biasanya tidak dapat
melakukan pertunjukkan.22 Seperti seorang drag queen yang memerlukan panggung atau tempat untuk pentas. Wilayah pribadi terdiri dari
alat-alat yang dapat dianggap khalayak sebagai perlengkapan aktor yang
21
Sudikin Basrowi. 2002. Metode Penelitian Kualitatif Perspektif Mikro. Surabaya: Insan Cendikia. Hal. 49-51.
22
dibawa ke dalam setting. Seperti pakaian, make up dan aksesoris
lainnya.
2. Panggung Belakang (Back Stage)
Merupakan panggung penampilan individu di mana ia
dapat menyesuaikan diri dengan situasi penontonnya. Di panggung
inilah segala persiapan aktor disesuaikan dengan apa yang akan
dihadapi di lapangan, untuk menutupi identitas aslinya. panggung ini
disebut juga panggung pribadi, yang tidak boleh diketahui oleh
orang lain. Dalam arena ini individu memiliki peran yang berbeda
dari front stage, ada alasan-alasan tertentu di mana individu
menutupi atau tidak menonjolkan peran yang sama dengan
panggung depan. Di panggung inilah individu akan tampil “seutuhnya”
dalam arti identitas aslinya. Aktor boleh bertindak dengan cara yang
berbeda dibandingkan ketika berada di hadapan penonton, jauh dari
peran publik. Di sini bisa terlihat perbandingan antara penampilan
“palsu” dengan keseluruhan kenyataan diri seorang aktor.
Panggung belakang biasanya berbatasan dengan panggung
depan, tetapi tersembunyi dari pandangan khalayak. Ini dimaksudkan
untuk melindungi rahasia pertunjukkan, dan oleh karena itu,
khalayak biasanya tidak diizinkan memasuki panggung belakang,
kecuali dalam keadaan darurat. Suatu pertunjukkan akan sulit
dilakukan bila aktor membiarkan khalayak berada di panggung
belakang.23
23
2.3Kerangka Berfikir
Penulis ingin mencoba menjelaskan tentang pengelolaan kesan profesi Drag queen dilihat dari panggung depan dan panggung belakangnya dan dikaji melalui konsep dramaturgi. Goffman menjelaskan realitas sosial tentang kehidupan
sesungguhnya bagaikan panggung sandiwara yang terbagi dua wilayah panggung
depan dan panggung belakang dan pengelolaan kesan yang dijelaskan Erving
Goffman menyimpulkan bahwasanya individu sebagai aktor dalam realita yang
dihadapinya.
Dalam kerangka berfikir ini yang menjadi penelitian adalah diri seseorang
yang berprofesi sebagai dragqueen sebagai aktor panggung. Bagaimana aktor ini
membangun komunikasi terhadap penonton tetapi bersikap seperti bukan diri
yang sesungguhnya. Realita yang berlangsung dalam panggung tersebut menuntut
aktor bersikap profesional sampai pertunjukan usai nantinya. Sikap yang
ditunjukan oleh aktor menutupi sikap yang sesungguhnya, yang bebas dilakukan
pada panggung belakang. Namun terkadang panggung depan dan panggung
belakang sulit untuk dibedakan. Oleh karena itu penulis ingin mengetahui
bagaimana perbedaan antara kedua ruang, yakni panggung depan dan panggung
belakang sehingga seorang aktor nyaman menjadi seorang drag queen. Dengan begitu fokus pertanyaan dapat dijawab, mengenai bagaimana seorang drag queen
memaknai panggung dilingkungannya.
Kerangka yang ditampilkan yaitu dari tahap awal objek penelitian yaitu
drag queen memaknai panggung depan ketika diatas panggung dan panggung belakang ketika diluar panggung, kemudian kerangka berfikir ini dapat dijabarkan
sebagai berikut:
Kerangka Berfikir
Impression Management Profesi Dragqueen di Moonlight Discotheque
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran
DRAG QUEEN
Pengelolaan Kesan
Impression Management Profesi Drag Queen
di Moonlight Discotheque
Penerapan Teori Dramaturgi
2.4 Penelitian Terdahulu
Sebagai referensi tambahan dalam penyusunan sebuah penelitian yang
juga dapat digunakan sebagai pembanding antara penelitian terbaru yang
dilakukan oleh peneliti dengan penelitian terdahulu. Oleh karena itu, peneliti
mencari beberapa penelitian yang dirasa memiliki beberapa kesamaan.
Penelitian tersebut diperoleh dari berbagai universitas, diantaranya adalah :
1. Skripsi yang disusun oleh Elfrida Grace Manullang dengan judul ”Ayam
Kampus Kota Medan Dengan Analisis Teori Dramaturgi (Studi kasus pada
mahasiswi ayam kampus di Kota Medan)” disusun pada tahun 2008.
Skripsi yang disusun oleh salah satu mahasiswi Universitas Sumatera Itara
ini menggunakan metode kualitatif, dengan hasil penelitiannya adalah 11
ayam kampus dari 5 perguruan tinggi, menunjukan bahwa mahasiswi yang
menjadi ayam kampus mempunyai faktor-faktor yang berbeda-beda.
Tampak dari faktor yang ada, beberapa diantara hasil penelitian ialah
banyak kepada faktor ekonomi, faktor kecewa terhadap laki-laki, faktor
kepuasan diri terhadap hubungan seksual dan faktor gaya hidup.
2. Skripsi yang disusun oleh Angga Sumantono dengan judul “Perilaku
Komunikasi Pengguna Ganja (Studi Dramaturgi perilaku komunikasi
pengguna ganja dalam kehidupannya di Kota Bandung)” disusun pada
tahun 2013. Skripsi yang disusun oleh salah satu mahasiswa Universitas
Komputer Indonesia ini menggunakan metode kualitatif dengan hasil
panggung depan sesuai dengan peran mereka dimasyarakat. Pada
panggung belakang, pengguna ganja memainkan sebuah peran yang utuh,
sehingga perilaku pada saat di panggung depan ataupun panggung
belakang sangat berbeda.
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
No ITEM
Peneliti Terdahulu Elfrida Grace Manullang Peneliti Terdahulu Angga Sumantono Peneliti NurAeni
1 Judul Ayam Kampus
Kota Medan Dengan Analisis Teori Dramaturgi (Studi kasus pada mahasiswi ayam kampus di Kota Medan) Perilaku Komunikasi Pengguna Ganja (Studi Dramaturgi perilaku komunikasi pengguna ganja dalam
kehidupannya di Kota Bandung) Impression Management Profesi Dragqueen di Moonlight Discotheque
2 Tahun 2008 2013 2018
3 Teori Teori Dramaturgi Teori
dramaturgi
Teori Dramaturgi
4 Metode Penelitian
Kualitatif Kualitatif Kualitatif Deskriptif
5 Hasil Penelitian
Dari hasil penelitian
terhadap 11 ayam kampus dari 5 perguruan tinggi, menunjukan bahwa mahasiswi yang menjadi ayam kampus mempunyai faktor-faktor yang Dari hasil penelitian hampir semua pengguna ganja memerankan panggung depan sesuai dengan peran mereka dimasyarakat. Pada panggung belakang,
Dari hasil penelitian setiap drag queen
memaknai panggung depan dan panggung belakangnya berbeda-beda. Ada yang menjadikan panggung depan saat sedang
No ITEM Peneliti Terdahulu Elfrida Grace Manullang Peneliti Terdahulu Angga Sumantono Peneliti NurAeni berbeda-beda. Faktor-faktor tersebut antara lain: permasalahn ekonomi, faktor kecewa terhadap laki-laki, faktor kepuasan diri terhadap hubungan seksual dan faktor gaya hidup. pengguna ganja memainkan sebuah peran yang utuh, sehingga perilaku pada saat di panggung depan ataupun panggung belakang sangat berbeda. yang penjadikan panggung depan saat dilingkungan keluarga dan dilingkungan kerja. Begitupun dipanggung
belakang, ada yang menjadikan
panggung belakang saat sedang berada dilingkungan rumah dan keluarga adapula yang menjadikan panggung belakang saat sedang
pertunjukan drag queen.
6 Persamaan Penelitian ini
menggunakan Teori Dramaturgi
Penelitian ini menggunakan Teori
dramaturgi
Peneliti
menggunakan teori Dramaturgi
7 Perbedaan Mengetahui
penyebab seorang mahasiswi
menjadi ayam
kampus fokus penelitiannya lebih kepada perilaku pengguna ganja pada proses kehidupannya di Kota Bandung Mendeskripsikan panggung depan dan panggung belakang seorang
Drag Queen di Moonlight Discotheque sebagai upaya pengelolaan kesan (Impression Management) menggunakan teori Dramaturgi
8 Sumber Universitas
Sumatera Utara
Universitas Komputer Indonesia
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1Metode Penelitian
Metodologi adalah proses, prinsip dan prosedur yang kita gunakan untuk
mendekati problem dan mencari jawaban. Dengan kata lain, metodologi
adalah suatu pendekatan umum untuk mengkaji topik penelitian.24 Penelitian
ini menggunakan pendekatan kualitatif metode deskriptif dengan pendekatan
studi dramaturgi. Pendekatan kualitatif yaitu pendekatan penelitian yang
menghasilkan data yang bersifat deskriptif berupa kata-kata tertulis atau
lisan dari orang-orang atau perilaku yang diamati.25
Secara harfiah penelitian deskriptif adalah penelitian yang
dimaksud untuk membuat panca indra (deskripsi). Menggambarkan mengenai
situasi-situasi atau kejadian-kejadian sebagaimana adanya pada saat
penelitian dilakukan yang diakumulasikan data kasar dalam cara deskriptif
semata-mata tidak untuk mencari atau mendapatkan makna dan implikasi dan
data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar dan bukan angka.26
Dalam buku Metode penelitian untuk Public Relation Goffman mengungkapkan dramaturgi adalah sandiwara kehidupan yang disajikan
manusia. Gofftman menyebut ada dua peran dalam teori ini, yaitu bagian
24
Dedy Mulyanana. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung. Remaja Rosdakarya. Hal 115.
25
Lexy J. Moleong. 2003. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya. Hal. 3.
26
Mardalis. 1999. Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal.Jakarta: Bumi Aksara. Hal. 26.
depan (front) dan bagian belakang (back). Front mencakup, setting,
personal front (penampilan diri), expressive equipment (peralatan untuk mengekpresikan diri). Sedangkan bagian belakang adalah self, yaitu semua bagian yang tersembunyi untuk melengkapi keberhasilan akting
atau penampilan diri yang ada pada front.
3.2Paradigma Penelitian
Dedi Mulyana (2003) mendefinisikan paradigma adalah suatu cara
pandang untuk memahami kompleksitas dunia nyata. Paradigma yang
digunakan dalam penelitian ini adalah paradigma kontruktivis karena sesuai
dengan sifat dan karakter permasalahan data yang diangkat dalam penelitian
ini. Paradigma konstruktivistis menempatkan ilmu komunikasi sebagai
analisis sistematis terhadap socially meaningful action atau pengamatan langsung yang dilakukan secara alamiah. Paradigma ini bersifat ilmiah,
yakni menempatkan peneliti pada posisi objek yang ditelitinya atau dengan
kata lain peneliti berusaha memahami cara berfikir objek yang
ditelitinya.27
Penulis menggunakan paradigma konstruktivis untuk mengetahui
bagaimanakah pengelolaan kesan profesi Drag queen di Moonlight Dischoteque. Dengan paradigma konstruktivis ini penulis bisa mendapatkan informasi yang lebih mendalam dari individu yang diteliti.
27
3.3 Ruang Lingkup / Fokus Penelitian
Penentuan fokus penelitian menjadi hal yang penting bagi penelitian
kualitatif, dimulai dengan penemuan masalah yang kemudian dianalisis oleh
teori yang ada didalam Ilmu Komunikasi. Dalam penelitian ini, penulis akan
membatasi kajian yang diteliti sehingga nantinya tidak akan ada
kesalahpahaman. Selain itu, penulis juga ingin memudah para pembaca dalam
memahami penelitian ini. Adapun batasan masalah dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut:
1. Pertama, penulis ingin mengetahui bagaimana panggung depan seseorang
yang berprofesi sebagai drag queen di Moonlight Discotheque. Seperti yang sudah diketahui, bahwa panggung depan adalah tempat dimana
pelaku dragqueen melangsungkan aksinya diatas panggung dan ditonton
oleh khalayak.
2. Kedua, penulis ingin mengetahui bagaimana panggung belakang
seseorang yang berprofesi sebagai drag queen di Moonlight Discotheque. Panggung belakang memang sangat bertolak belakang dengan panggung
depan, karena dipanggung ini para pelaku drag queen menjalani kehidupan yang sebenar-benarnya.
3. Ketiga, penulis ingin mengetahui bagaimana pengelolaan kesan panggung depan dan panggung belakang seseorang yang berprofesi
3.4 Lokasi Penelitian
Penulis melakukan penelitian disalah satu discotheque yang berada di Jakarta yaitu Moonlight Discotheque yang bertempat di Jl. Hayam Wuruk Taman Sari No.120, RT.3/RW.6, Maphar, Tamansari, Kota Jakarta Barat,
Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11180
3.5 Instrumen Penelitian 3.5.1 Sumber Data
1. Data Primer (Primary Data)
Data yang diperoleh langsung dari sumber asli (tidak melalui
media perantara). Data primer berupa opini subjek (orang)
secara individual atau personal, hasil observasi terhadap suatu
benda (fisik), kejadian atau kegiatan, dan hasil pengujian.
Metode yang dilakukan dalam pengumpulan data primer
bisa didapatkan dari kegiatan wawancara dan observasi
yang sudah dipaparkan pada baris sebelumnya.
2. Data Sekunder
Data yang diperoleh dari sumber yang sudah ada bisa dimiliki
peneliti dari catatan penelitian sebelumnya, bukti yang
dikumpulkan dari beberapa pra-observasi. Pada penelitian ini
peneliti memiliki cara dengan membaca artikel tulisan yang
memuat tentang subjek penelitian, mengetahui dari catatan
penelitian. Data sekunder umumnya berupa bukti, catatan atau
laporan historis yang telah tersusun dalam arsip (data
dokumenter) yang dipublikasikan dan yang tidak
dipublikasikan. Bentuk data yang sudah ada dalam
pengambilan data dengan cara sekunder yaitu studi
kepustakaan merupakan teknik pengumpulan data melalui teks
yang tertulis maupun soft-copy edition (buku,ebook atau artikel dalam majalah, surat kabar, jurnal serta media lainnya). Dalam
hal ini peneliti memperoleh beberapa informasi atau data yang
diperoleh dari buku, literatur lain dari internet dan artikel
yang bisa di akses.
3.5.2 Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data merupakan faktor yang sangat penting dalam setiap
penelitian. Karna tanpa pengumpulan data, penelitian tidak akan sesuai
dengan apa yang kita inginkan. Bukan hanya pengetahuan saja yang harus
dimiliki dalam melakukan penelitian, informasi dalam bentuk data juga harus
dimiliki untuk dianalisis nantinya. Adapun teknik pengumpulan data adalah
sebagai berikut:
1. Wawancara
Wawancara yang dilakukan peneliti adalah wawancara tidak
terstruktur dan wawancara terstruktur. Wawancara tidak
terstruktur adalah wawancara bebas dimana peneliti tidak
sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya.28 Selain
wawancara tidak terstruktur, peneliti juga melakukan wawancara
secara terstruktur yaitu dengan menyusun dan mempersiapkan
pertanyaan sebagai pedoman wawancara. Wawancara merupakan
suatu teknik pengumpulan data dalam metode survey melalui data pertanyaan yang diajukan secara lisan terhadap responden atau
subjek.29
2. Observasi
Observasi merupakan metode pengumpulan data yang dilakukan
peneliti untuk mengamati atau mencatat suatu peristiwa
dengan penyaksian langsung, dan biasanya peneliti dapat sebagai
partisipan atau observer dalam menyaksikan atau mengamati suatu
objek peristiwa yang sedang ditelitinya.
3.6 Informan Penelitian
Penelitian kualitatif tidak menggunakan istilah sampel. Sampel pada
penelitian kualitatif bukan dinamakan responden, tetapi sebagai narasumber,
partisipan, informan, teman dan guru dalam penelitian.30 Informan penelitian
merupakan subjek yang memahami informasi sebagai pelaku ataupun orang
lain yang mengetahui tentang penelitian yang dilakukan.31
28
Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif dan R&D,Alfabeta, Bandung 2012, Hlm.233
29
Rosady Ruslan, Metode Penelitian Public Relations dan Komunikasi. Jakarta: Raja GrafindoPersada, 2006, Hlm.221
30
() Lexy J. Moleong. 2003. Metode Penelitian Kualitatif edisi revisi. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya. Hal. 216
31
Penulis menggunakan teknik Sampling Purposive (Purposive Sampling). Menurut Krisyanto teknik ini mencakup orang orang yang diseleksi berdasarkan kriteria kriteria tertentu yang dibuat periset
berdasarkan tujuan riset. Dalam penelitian ini penulis menggunakan
informan seorang laki laki yang mempunyai 2 profesi, dimana salah satu
profesinya adalah seorang drag queen. Penyeleksian ini ditujuan sebagai bahan untuk mengetahui, memahami dan mengamati hal yang diteliti
sehingga mengetahui panggung depan, panggung belakang dan pengelolaan
kesan seseorang yang berprofesi sebagai drag queen.
Pada penelitian ini penulis menggunakan informan penelitian atau
narasumber untuk mendapatkan data. Penulis membagi informan
menjadi dua, informan kunci dan informan pendukung. Informan kunci
dalam penelitian ini adalah seorang Drag queen yang sering melakukan pertunjukan di Moonlight Discotheque yang dipilih berdasarkan perbedaan latar belakang pendidikan, usia dan pekerjaan informan tersebut. Sedangkan
informan pendukung merupakan teman dekat informan kunci atau seseorang
yang ikut terlibat atau sering menyaksikan saat sedang pertunjukan. Data
informan dapat dilihat dari tabel dibawah ini:
Tabel 3.1 Informan Kunci
NO Nama Pekerjaan Umur Keterangan
1. Anggita Zepora (nama samaran)
Penjaga loket tiket PT. KAI
26 Tahun
Drag queen
3. Iin Kirana (nama samaran)
Make Up LC 22
Tahun
Dragqueen
Tabel 3.2 Informan Pendukung
No Nama Keterangan
1. Kak Dita Manager Drag queen
di Moonlight Discotheque
2. Baim Sahabat Anggita
3. Iqlima Sahabat Aditya
4. Riko Sahabat Iin
3.7 Teknik Analisis Data
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Model Milles
& Hiberman. Menurut model ini aktifitas dalam analisis data kualitatif
dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus
sampai tuntas dan digunakan untuk data selama dilapangan.32 Dalam
penelitian ini, teknik analisis data yang peneliti lakukan adalah sebagai
berikut:
1. Reduksi Data
Reduksi data merupakan proses pemilihan, pemusatan perhatian
pada penyederhanaan, pengabstrakan, transformasi data kasar
yang muncul dari catatan-catatan lapangan. Langkah-langkah yang
dilakukan adalah menajamkan analisis, menggolongkan kedalam
setiap permasalahan melalui uraian singkat, mengarahkan, membuang
32
yang tidak perlu, dan mengorganisasikan data sehingga
kesimpulan-kesimpulan finalnya dapat ditarik dan diverifikasi.
Adapun data yang direduksi antara lain seluruh data mengenai
permasalahan penelitian dan kemudian dilakukan penggolongan ke
dalam beberapa bagian. Kemudian dari masing-masing bagian
tersebut dikelompokkan lagi berdasarkan sistematisasinya. Adapun
perolehan data mengenai hal-hal yang tidak relevan dengan
penelitian, sebaiknya tidak dimasukkan dalam penyajian hasil,
namun tetap disimpan untuk masa yang akan datang jika diperlukan.
2. Pengumpulan Data
Data yang dikelompokan selanjutnya disusun dalam bentuk
narasi-narasi, sehingga berbentuk rangkaian informasi yang