• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPRESSION MANAGEMENT PROFESI DRAG QUEEN DI MOONLIGHT DISCOTHEQUE - FISIP Untirta Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "IMPRESSION MANAGEMENT PROFESI DRAG QUEEN DI MOONLIGHT DISCOTHEQUE - FISIP Untirta Repository"

Copied!
127
0
0

Teks penuh

(1)

DI MOONLIGHT DISCOTHEQUE

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh

Gelar Sarjana Ilmu Komunikasi pada Konsentrasi Hubungan Masyarakat

Program Studi Ilmu Komunikasi

Disusun Oleh: NUR AENI NIM 6662111871

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

(2)
(3)
(4)
(5)

v

TERIMAKASIH ATAS IZIN MENYANDANG GELAR SARJANANYA

hari ini adalah hasil dari

usaha-usaha dan doa-doa

di hari kemarin

SKRIPSI INI KUPERRSEMBAHKAN UNTUK MAMA, PAPA,

YAYANG, SUAMIKU, NOL SEMBILAN, MAK-MAK JULID,

BURICAK BURINONG, TERIMAKASIH UNTUK SEGALA

(6)

vi

Nur Aeni, NIM 6662111871. Skripsi. Impression Management Profesi Dragqueen di Moonlight Discotheque. Pembimbing I Prof. Dr. H. A. Sihabudin, M.Si dan Pembimbing II Uliviana Restu, S.Sos, M.I.Kom

Dragqueen adalah sebuah istilah untuk sebuah pertunjukan dimana seorang laki-laki berpenampilan seperti seorang perempuan lalu menirukan sosok penyanyi terkenal dan dipentaskan secara lipsync. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Impression Management Profesi Dragqueen di Moonlight

Discotheque. Dimana pelakonnya memerankan dua sisi kehidupan. Fokus wawancara pada penelitian ini yaitu pengelolaan kesan panggung depan (front stage) dan panggung belakang (back stage) dari seseorang yang berprofesi sebagai dragqueen di Moonlight Discotheque. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi dramaturgi. Pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling, informan penelitian ini berjumlah tiga orang. Perolehan data diperoleh dari wawancara, observasi, dokumentasi, penulusuran data online dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukan bahwa panggung depan dan panggung belakang seorang dragqueen berbeda-beda. Ada yang menutupi identitasnya dan ada yang membuka identitasnya pada saat dipanggung depan. Ada yang berperilaku layaknya laki-laki normal pada umumnya dan ada yang memakai topeng agar dapat diterima dipanggung belakangnya.

(7)

vii

Nur Aeni, NIM 6662111871. Thesis. The Impression Management of Dragqueen Profession in Moonlight Discotheque Area. Preceptor I: Prof. Dr. H. A. Sihabudin, M.Si and Preceptor II: Uliviana Restu, S.Sos, M.I.Kom

Dragqueen is the definition of a showing where a man who has apperance looks like a woman afterwards they are acting like famous singer and doing the lipsync performances. This research aim to knowing The Impression Management of Dragqueen Profession in Moonlight Discotheque Area. Where the actress figures two sides of life. On interview focus of this research is manage the impression of front stage and back stage from someone who as a dragqueen in Moonlight Discotheque. This research use purposive sampling technique for the election of three informants. The acquisition of this research data derived from observation, documentation, surfing the online or website, studies library. The final result of this research showed that the front stage dan back stage of this dragqueen is different each other. Some dragqueen prefered to cover their identity when they are performing. In the other side, there are some dragqueen who act like their normal life be a real man, it purposed to accepted by their back stage area.

(8)

viii

Alhamdulillah puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas

segala rahmat, ridho dan pertolongannya yang tidak terhingga sehingga penulis

dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Impression Managemen Profesi

Dragqueen di Moonlight Discotheque”. Tak lupa shalawat serta salam kepada

junjungan Nabi besar Muhammad SAW.

Penulisan skripsi ini dibuat sebagai syarat untuk meraih kesarjanaan strata

satu (S1) Program Studi Ilmu Komunikasi, Konsentrasi Humas, Fakultas Ilmu

Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang-Banten.

Dalam penyusunannya, penulis banyak menemukan kendala dan kesulitan, namun

berkat pertolongan Allah, niat, usaha serta doa-doa dari orang tersayang akhirnya

skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Dengan segala kemampuan, penulis

menyadari segala keterbatasan dalam melaksanakan penyusunan, skripsi ini masih

jauh dari kata sempurna. Namun demikian penulis berusaha menyajikannya

dengan baik.

Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih yang

sedalam-dalamnya atas segala doa, dukungan, motivasi, bimbingan dan bantuan

yang tak terhingga dalam proses penelitian dan penyusunan skripsi ini kepada:

1. Bapak Prof. Dr. H. Sholeh Hidayat, M.Pd selaku Pimpinan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

(9)

ix

4. Bapak Darwis Sagita, S.Ikom. selaku Sekretaris Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. 5. Bapak Burhanudin, S.E., M.Si. selaku Dosen Pembimbing Akademik 6. Bapak Prof. Dr. H. A. Sihabudin, M.Si selaku Dosen Pembimbing I,

terimakasih atas waktu, kesempatan, kesabaran, bimbingan dan arahannya yang sangat berarti bagi penulis

7. Ibu Uliviana Restu, S.Sos, M.I.Kom selaku Dosen Pembimbing II, terimakasih atas waktu, kesempatan, kesabaran, bimbingan dan arahannya yang sangat berarti bagi penulis

8. Bapak Yoki Yusanto, S.Sos, M.Ikom selaku Dosen Penguji I Sidang Skripsi

9. Ibu Puspita Asri Praceka, S.Sos, M.Ikom selaku Dosen Penguji II Sidang Skripsi

10. Seluruh Dosen Fisip Untirta yang telah memberikan ilmu dan pengalamannya kepada penulis. Semoga ilmu yang telah diberikan dapat menjadi ilmu yang bermanfaat.

11. Seluruh staff karyawan FISIP Untirta yang melayani kepentingan penulis dalam berbagai hal untuk memperlancar jalannya perkuliahan dan penyusunan skripsi.

(10)

x

14. Almarhumah Mama dan Almarhum Abah mertuaku terimakasih atas kasih sayangnya selama ini

15. Adikku Ria Kuraesin terimakasih atas segala dukungan, doa serta kasih sayangnya.

16. Suamiku Khimatullah terimakasih selalu menemani hari-hariku mengerjakan skripsi ini, terimakasih untuk segala dukungan, doa dan bantuannya.

17. Sahabat-sahabat yang tak henti memberi dukungan yakni Fajariah Oktawiani, M. Hafidz Hermawan, Tb. Faudzul adzim, Ridwan, Toni Fransiska terimakasih selalu menjadi penyemangat, penghibur dan pendengar setia selama ini.

18. Teman seperjuangan Febri Nurunnisa, Triana. Anindita PS, Siti Roifatul Roihah, Friska Riama WT, Fahmi Ilhamullah, Teguh Nugraha, Alzasya Asdrie Rivaldie, serta teman-teman seperjuangan lainnya.

19. Teman-teman mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Untirta terimakasih untuk hari-hari penuh kenangannya.

20. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam penyelesaian skripsi ini, baik itu berupa saran, do'a, maupun dukungan yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

(11)

xi

Serang, 2018

(12)

xii

LEMBAR PERSETUJUAN ... ... ii

PERNYATAAN ORISINALITAS ... iii

LEMBAR PENGESAHAN ... iv

MOTTO ... v

ABSTRAK ... vi

ABSTRACT ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... ix

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 7

1.3 Identifikasi Masalah ... 7

1.4 Tujuan Penelitian ... 8

1.5 Manfaat Teoritis ... 8

1.6 Manfaat Praktis ... 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan konsep ... 10

(13)

xiii

2.1.4 Fungsi Komunikasi ... 14

2.2 Tinjauan Teoritis ... 15

2.2.1 Interaksi Simbolik Sebagai Pencetus Teori Dramaturgi.. 15

2.2.2 Dramaturgi ... 18

2.2.3 Dragqueen ... 20

2.2.4 Moonlight Discotheque ... 21

2.2.5 Presentasi Diri ... 23

2.2.6 Wilayah Pertunjukan ... 24

2.3 Kerangka Berfikir ... 27

2.4 Penelitian Terdahulu ... 29

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metodologi Penelitian ... 32

3.2 Paradigma Penelitian ... 33

3.3 Ruang Lingkup/Fokus Penelitian ... 34

3.4 Lokasi Penelitian ... 35

3.5 Instrumen Penelitian ... 35

3.5.1 Sumber Data ... 35

3.5.2 Teknik Pengumpulan Data ... 36

3.6 Informan Penelitian ... 37

(14)

xiv BAB IV HASIL PENELITIAN

4.1 Deskripsi Objek Penelitian ... 43

4.2 Deskriptif Data ... 45

4.3 Profil Informan ... 47

4.3.1 Profil Informan Kunci ... 47

4.3.2 Profil Informan Pendukung ... ... 48

4.4 Pembahasan ... 50

4.4.1 Panggung Depan Profesi Dragqueeen ... 52

4.4.2 Panggung Belakang Profesi Dragqueen ... 57

4.4.3 Aktifitas Diluar Profesi Dragqueen ... 62

4.4.5 Dramaturgi Dragqueen ... 63

4.4.6 Kesan yang berhasil dibangun oleh seorang drag queen. ... 65

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 67

5.2 Saran ... 68

DAFTAR PUSTAKA ... 70

(15)

xv

(16)

xvi

Tabel 3.1 Informan Kunci ... 38

Tabel 3.2 Informan Penukung ... 39

(17)

1 1.1Latar Belakang Masalah

Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan seni

budayanya. Dalam kehidupan manusia, seni adalah media ekspresi yang salah

satu jenisnya adalah seni pertunjukan. Seni pertunjukan adalah karya seni

yang melibatkan aksi individu atau kelompok di tempat dan waktu tertentu.

(Wilson,1991) dalam The Theater Experience menyebutkan bahwa seni pertunjukan memberikan pengalaman dan emosi bukan dalam sebuah objek

melainkan dalam peristiwa yang bergerak seiring berjalannya waktu.

Penyampaian dalam seni pertunjukan harus di dukung oleh suasana

ruang yang sesuai, sehingga maksud dan tujuan yang ingin disampaikan dapat

diterima dan penontonpun ikut masuk kedalam dunia yang diciptakan tersebut.

Misalnya pertunjukan komedi, akan tidak lucu jika dekorasinya suram, gelap

ataupun sebaliknnya. Dalam seni pertujukan tentu terdapat sutradara yang

mengatur jalannya sebuah pentas, begitu juga dengan panggung kehidupan

yang kita jalani sehari-hari. Mari kita sedikit bernostalgia dengan salah satu

lirik lagu lawas yang diciptakan oleh Taufik Ismail dan Ian Antono.

Dunia ini panggung sandiwara Ceritanya mudah berubah

Kisah mahabrata atau tragedi dari yunani Setiap kita dapat satu peranan

Yang harus kita mainkan

Ada peran wajar ada peran berpura-pura Mengapa kita bersandiwara

(18)

Lagu dengan lirik sederhana namun kaya akan makna ini merupakan

gambaran dari kehidupan manusia. Ada yang berperan wajar seperti layaknya

manusia pada umumnya, adapula yang perannya berpura-pura untuk menjadi

apa yang diinginkan.

Berbicara mengenai sandiwara atau panggung pertunjukan, tentu tidak

akan jauh dengan dunia pertelevisian. Pada tahun 2010, pertelevisian di

Indonesia ramai dengan ajang pencarian bakatnya. Secara tidak langsung, hal

ini menghidupkan beberapa profesi yang belum banyak diketahui oleh

masyarakat. Indonesia‟s Got Talent (IGT) menjadi salah satu ajang pencarian

bakat bergengsi, yang berhasil memperkenalkan “Drag queen” kepada

masyarakat Indonesia pada musim keduanya pada ditahun 2014. Bakat yang

di pentaskan oleh Richard Affandi dan Dark Angels ini, mendapatkan respon

positif dari para juri kala itu, karena penampilannya cukup menghibur.

Drag Queen adalah sebuah istilah dalam dunia performing act/show. Drag queen artinya laki-laki yang memerankan karakter wanita dalam sebuah pertunjukkan. Profesi drag queen sebenarnya sudah dikenal sejak abad ke-19 hingga abad ke-20 sebagai peniru sosok wanita (chauncey 1994: schacht, dalam Saphiro). Namun, tidak banyak masyarakat yang mengetahui tentang profesi ini, karena kelompok ini sedikit tertutup dari pihak luar. Beberapa

(19)

Hal tersebut yang membuat peneliti tertarik untuk mengenal lebih jauh

tentang profesi drag queen, dimana seorang pria bisa mempunyai dua peran berbeda dalam hidupnya. Yang pertama sebagai laki-laki normal pada

umumnya, yang kedua sebagai wanita karena profesinya. Di Indonesia sangat

jarang sekali yang berprofesi sebagai drag queen, profesi ini hanya tersebar di kota-kota besar yang mempunyai cerita dikehidupan malamnya.

Jakarta, Ibukota Indonesia yang menjadi pusat perhatian karena gaya

hidup hedonis yang menjadi sorotan bagi masyarakat Indonesia. Bahkan di

beberapa kalangan, gaya hidup masyarakat Jakarta menjadi acuan dalam

menjalani kehidupan. Di kota yang padat akan lalu lintas ini tak pernah sepi

dari segala aktifitas penduduknya. Tak heran jika banyak tempat wisata, mall,

diskotik yang berdiri di tengah ramainya kota ini. Di Jakarta, bukan hanya

siang hari segala aktifitas dilakukan. Ketika malam tiba pun kota ini akan

semakin ramai dengan segala hiburan dunia malamnya. Pada saat malam hari

lah para drag queen melangsungkan aksinya. Moonlight discotheque menjadi salah satu tempat yang menyajikan pertunjukan drag queen didalamnya.

Banyak yang menganggap bahwa drag queen sama seperti pengamen yang berpenampilan perempuan yang mengamen di pinggir jalan. Namun

pada kenyataannya tentu berbeda. Pengamen yang berdandan seperti wanita

lalu mengamen di pinggir jalan berdandan seperti itu untuk mencari rezeki

yang salah satu caranya adalah dengan mengamen. Sedangkan drag queen

(20)

seperti di Moonlight Discotheque atau menjadi bintang tamu di sebuah acara dimana segala sesuatunya sudah dipersiapkan dengan matang.

Persiapan yang dilakukan oleh seorang drag quuen tentu tidak asal-asalan, karena sebagai seorang penghibur lypsync yang menirukan sosok penyanyi, tentu harus mempunyai konsep disetiap penampilannya. Seperti

tema yang akan ditampilkannya, make-up nya bagaimana, menirukan sosok

penyanyi siapa, apa saja aksesoris yang digunakan, body language-nya seperti apa, tarikan nafasnya bagaimana, dan lain sebagainya. Tentu hal ini membuat

para drag queen harus memperlajari segalanya sebelum pertunjukan dimulai,

agar pada saat pertunjukan nanti dapat berhasil menirukan sosok tersebut.

Tidak sedikit para profesi drag queen yang mencoba untuk menampilkan aksinya secara live (tidak lypsync). Tentu saja hal ini membutuhkan keahlian yang cukup dengan cara latihan yang sangat ekstra,

karena untuk pertunjukan secara live para drag queen harus menirukan suara wanita, bagaimanapun juga para drag queen ini adalah seorang laki-laki. Di luar dari pada itu, para drag queen yang mempunyai bakat alami akan sangat mudah untuk menirukan suara wanita, sehingga ia bebas memilih ingin tampil

live atau lipsync. Namun di Indonesia sedikit sekali yang bisa menampilkan aksinya secara live.

Setiap manusia mempunyai alasan sendiri, mengapa mereka memilih

(21)

Seperti yang sudah diketahui, profesi ini lebih banyak dipandang sebelah mata

oleh masyarakat. Tentu saja hal ini membuat para pelakonnya harus siap untuk

menerima segala kritikan pedas dari masyarakat. Maka tak jarang, beberapa

diantara mereka harus sembunyi-sembunyi melakukan aksinya agar tetap

diterima dimasyarakat.

Profesi drag queen mengingatkan pada teori dramaturgi yang dicetuskan oleh Erving Goffman salah satu pakar sosiologi yang terkenal pada

abad ke-20. Menurut Goffman, wilayah depan ibarat panggung sandiwara

bagian depan (front stage) yang ditonton khalayak penonton, sedangkan wilayah belakang ibarat panggung sandiwara bagian belakang (back stage) atau kamar rias tempat pemain sandiwara bersantai, mempersiapkan diri, atau

berlatih untuk memainkan perannya di panggung depan. 1

Erving Goffman menyatakan bahwa kehidupan sosial seseorang

merupakan serangkaian penampilan dramatik seperti halnya orang orang yang

melakukan pertunjukan di panggung teater, dimana seseorang berusaha

membentuk kesan yang mereka inginkan untuk dilihat orang lain.

Hal senada juga dikemukakan oleh Mulyana bahwa Goffman

mengasumsikan bahwa ketika orang-orang berinteraksi, mereka ingin

menyajikan suatu gambaran diri yang akan diterima orang lain. Ia menyebut

upaya itu sebagai “pengelolaan kesan” (impression management), yaitu

1

(22)

teknik-teknik yang digunakan aktor untuk memupuk kesan-kesan tertentu

dalam situasi tertentu untuk mencapai tujuan tertentu.2

Pengelolaan kesan (Impression Management) ditemukan dan dikembangkan oleh Erving Goffman pada tahun 1959, dan telah

dipaparkan dalam bukunya yang berjudul “The Presentation of Self in Everyday Life”. Pengelolaan kesan juga secara umum dapat didefinisikan

sebagai sebuah teknik presentasi diri yang didasarkan pada tindakan

mengontrol persepsi orang lain dengan cepat, dengan mengungkapkan aspek

yang dapat menguntungkan diri sendiri atau tim. 3

Presentasi Diri ini dilakukan ketika seseorang berinteraksi dengan

orang lain dan mengelola kesan yang ia harapkan tumbuh pada orang lain

terhadapnya, melalui sebuah pertunjukan diri yang mengalami setting di

hadapan khalayak. Dalam sebuah pertunjukan ini kebanyakan menggunakan

atribut, busana, make-up, pernak-pernik, dan alat dramatik lainnya.4

Goffman menyebut pertunjukan (performance) merupakan aktivitas untuk mempengaruhi orang lain. Sebuah pertunjukan yang

ditampilkan seseorang berdasarkan atas perhitungan untuk memperoleh

respon dari orang lain. Penampilan serta perilaku seseorang dalam sebuah

interaksi merupakan suatu proses interpretif, yang dimana tujuannya agar

2

Ibid. Hlm 112

3

Deddy Mulyana, metodologi penelitian kualitatif.PT Roemaja Rosdakarya, Bandung. Hlm 112

4

(23)

terbentuknya sebuah persepsi yang merupakan hasil dari suatu interpretasi

yang dilakukan orang lain.5

Goffman memandang ini dengan perspektif Dramaturgi. Berdasarkan

hasrat dasar manusia, secara ilmiah manusia memiliki kekuatan yang dapat

menguasai sikap dan tindakannya. Manusia mempunyai kebutuhan untuk

berhubungan dengan sesamanya. Untuk itu dia menempuh jalan bertemu

dengan orang lain yang melakukan pertunjukan dan memproyeksikan

diri dengan peranan-peranan yang melakonkan hidup dan kehidupan di atas

pentas secara khayali.

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah peneliti uraikan di

atas, maka peneliti menentukan judul penelitian yaitu “Impression

Management Profesi Drag Queen di Moonlight Discotheque”

1.2Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya,

sekiranya perlu dilakukan penelitian lebih dalam tentang penelitian ini, maka

dari itu peneliti merumuskan masalah yaitu “Bagaimana Panggung Depan dan Panggung Belakang Pelaku Drag Queen di Moonlight Discotheque

sebagai upaya pengelolaan kesan (Impression Management)

1.3Identifikasi Masalah

Berdasarkan Rumusan masalah diatas, maka identifikasi masalah

penelitian ini adalah sebagai berikut:

5

(24)

1. Bagaimana Panggung Depan Pelaku Drag Queen di Moonlight Discotheque sebagai upaya pengelolaan kesan (Impression Management)? 2. Bagaimana Panggung Belakang pelaku Drag Queen di Moonlight

Dischoteque sebagai upaya pengelolaan kesan? (Impression Management)?

1.4Tujuan Penelitian

Berdasarkan identifikasi masalah yang telah diuraikan maka tujuan

diadakannya penelitian ini adalah untuk,

1. Mengetahui Panggung Depan Pelaku Drag Queen di Moonlight Discotheque sebagai upaya pengelolaan kesan (Impression Management)

2. Mengetahui Panggung Belakang Pelaku Drag Queen di Moonlight Discotheque sebagai upaya pengelolaan kesan (Impression Management)

1.5Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang baik dalam hal

teoritis maupun praktis.

1.5.1 Manfaat Teoritis

Peneliti berharap penelitian ini dapat memperkaya khasanah serta

menambah wawasan bagi pembaca, terutama dalam Prodi Ilmu Komunikasi

khususnya konsentrasi humas. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui

bagaimana panggung depan dan panggung belakang seseorang yang berprofesi

(25)

1.5.2 Manfaat Praktis

Peneliti berharap penelitian ini memiliki kegunaan untuk segala pihak.

Manfaat praktis yang telah peneliti rumuskan dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut:

a. Untuk peneliti diharapkan dapan menambah wawasan serta membantu

menjelaskan profesi Drag queen yang dipaparkan melalui kajian teoritis. Diharapkan pula dapat lebih tajam melihat situasi apapun yang

terjadi di sekeliling.

b. Untuk akademisi penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi

mahasiswa program Studi Ilmu Komunikasi terutama konsentrasi

(26)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Konsep 2.1.1 Komunikasi

Kata Komunikasi atau communication dalam bahasa inggris berasal dari kata Latin communis yang berarti “sama”, communico, communication, atau communicare yang berarti “membuat sama” (to make common). Istilah pertama (communis) adalah istilah yang paling sering disebut

sebagai asal-usul kata komunikasi, yang merupakan akar dari kata-kata

Latin lainnya yang mirip. Komunikasi menyarankan bahwa suatu pikiran,

suatu makna, atau suatu pesan dianut secara sama.6

Carl L. Hovland mendefinisikan komunikasi adalah proses yang

memungkinkan seseorang (komunikator) menyampaikan rangsangan

(biasanya lambang-lambang verbal) untuk mengubah perilaku orang

lain (komunikate). Everett M. Rogers mendefinisikan komunikasi adalah

proses di mana suatu ide dilahirkan dari sumber kepada suatu penerima atau

lebih, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka.7

Harold Lasswell dalam karyanya, The Structure and Function of Communication in Society, cara yang baik menjelaskan komunikasi ialah

6

Sudikin Basrowi. 2002. Metode Penelitian Kualitatif Perspektif Mikro. Surabaya: Insan Cendikia. Hal. 62.

7

Deddy Mulyana. 2000. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: Rosda Karya. Hal. 62

(27)

menjawab pertanyaan sebagai berikut: Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect?

Paradigma Lasswell diatas menunjukan bahwa komunikasi meliputi lima

unsur sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan itu, yakni:

1. Siapa yang mengatakan (Komunikator)

2. Kepada siapa disampaikan (Komunikan)

3. Apa yang dikatakan (Pesan)

4. Media apa yang digunakan (Media)

5. Akibata apa yang terjadi (Efek)

Berdasarkan paradigma Lasswell tersebut, komunikasi adalah proses

penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media

menimbulkan efek tertentu. (Effendy, 2000). Jadi dalam berkomunikasi bukan

sekedar memberitahu, tetapi juga berupaya mempengaruhi agar seseorang atau

sejumlah orang melakukan kegiatan atau tindakan yang diinginkan oleh

komunikator, akan tetapi hal itu bisa terjadi apabila komunikasi yang

disampaikannya bersifat komunikatif yaitu komunikator dalam menyampaikan

pesan-pesan harus benar-benar dimengerti dan dipahami oleh komunikan untuk

mencapai tujuan komunikasi yang efektif.

2.1.2 Proses Komunikasi

Menurut Onong Uchayana Effendy proses komunikasi terbagi menjadi

dua tahap, yakni secara primer dan secara sekunder sebagai berikut :8

8

(28)

1. Proses komunikasi secara primer Proses komunikasi secara primer adalah proses penyampaian pikiran atau perasaan seseorang kepada

orang lain dengan menggunakan lambang (simbol) sabagai media.

Lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi adalah

bahasa, isyarat, gambar,warna, dan lain sebagainya yang secara

langsung mampu “menerjemahkan” pikiran atau perasaan komunikator

kepada komunikan. Bahwa bahasa yang paling banyak dipergunakan

dalam komunikasi adalah jelas karena hanya bahasalah yang mampu

“menerjemahkan” pikiran seseorang kepada orang lain. Apakah

berbentuk informasi atau opini; baik mengenai hal yang kongkret

maupun yang abstrak; bukan hanya tentang hal atau peristiwa yang

terjadi pada saat sekarang, melainkan juga pada waktu yang lalu dan

masa yang akan datang.

2. Proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana

sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama.

Seorang komunikator menggunakan media kedua dalam melancarkan

komunikasinya karena komunikan sebagai sasarannya berada ditempat

yang relatif jauh atau jumlahnya banyak. Surat, telepon, surat kabar,

majalah, radio, televisi, film, dan masih banyak lagi adalah media kedua

yang sering digunakan dalam komunikasi. Pada umumnya apabila kita

berbicara dikalangan masyarakat, yang dinamakan media komunikasi itu

(29)

menganggap bahasa sebagai media komunikasi. Hal ini disebabkan oleh

bahasa sebagai lambang (symbol) beserta isi (content) yakni pikiran atau perasaan yang dibawanya menjadi totalitas pesan (message) yang tidak daat dipisahkan.

2.1.3 Tujuan Komunikasi

Setiap individu dalam berkomunikasi pasti mengharapkan tujuan dari

komunikasi itu sendiri, secara umum tujuan berkomunikasi adalah

mengharapkan adanya umpan yang diberikan oleh lawan bicara kita serta

semua pesan yang kita sampaikan dapat diterima oleh lawan bicara kita dan

adanya efek yang terjadi setelah melakukan komunikasi tersebut.

Onong Uchjana Effendy dalam buku Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek

mengemukakan beberapa tujuan berkomunikasi, yaitu:9

a. Mengubah sikap (to change the attitude)

Supaya gagasan kita dapat diterima oleh orang lain dengan pendekatan

yang persuasif bukan memaksakan kehendak.

b. Mengubah Opini/pendapat/pandangan (to change the opinion)

Memahami orang lain, kita sebagai pejabat atau pimpinan harus

mengetahui benar aspirasi masyarakat tentang apa yang diinginkannya,

jangan mereka inginkan arah kebarat tapi kita memberikan jalur

ketimur.

9

(30)

c. Mengubah perilaku (to change the behavior)

Menggerakan orang lain untuk melakukan sesuatu, menggerakan

sesuatu itu dapat bermacam-macam mungkin berupa kegiatan yang

dimaksudkan ini adalah kegiatan yang banyak mendorong, namun

yang penting harus di ingat adalah bagaimana cara yang terbaik

melakukannya.

d. Mengubah masyarakat (to change the society)

Supaya yang kita sampaikan itu dapat dimengerti. Sebagai pejabat atau

komunikator kita harus menjelaskan kepada komunikan (penerima)

atau bawahan dengan sebaik baiknya dan tuntas sehingga mereka dapat

mengikuti apa yang kita maksudkan. Jadi secara singkat dapat

dikatakan tujuan komunikasi itu adalah mengharapkan pengertian,

dukungan, gagasan dan tindakan. Serta tujuan yang sama adalah agar

semua pesan yang kita sampaikan dapat dimengerti dan diterima oleh

komunikan

2.1.4 Fungsi Komunikasi

Komunikasi memiliki beberapa fungsi. Menurut Onong Uchjana Effendy

ada empat fungsi utama dari kegiatan komunikasi, yaitu:10

1. Menginformasikan (to inform)

Menginformasikan yaitu memberikan informasi kepada masyarakat,

memberitahukan kepada masyarakat mengenai peristiwa yang terjadi,

10

(31)

ide atau pikiran dan tingkah laku orang lain, serta segala sesuatu yang

disampaikan orang lain.

2. Mendidik (to educate)

Mendidik yaitu komunikasi merupakan sarana pendidikan, dengan

komunikasi manusia dapat menyampaikan ide dan pikirannya kepada

orang lain sehingga orang lain mendapatkan informasi dan ilmu

pengetahuan

3. Menghibur (to entertain)

Adalah komunikasi selain berguna, untuk menyampaikan komunikasi,

pendidikan, mempengaruhi juga berfungsi untuk menyampaikan

hiburan atau menghibur orang lain. Penyanyi dangdut merupakan salah

satu penghibur. Dalam hasil pengamatan penulis para penyanyi

dangdut dapat menghibur orang banyak dan menghibur diri sendiri

apabila sedang merasa sedih.

4. Mempengaruhi (to influence)

Adalah fungsi mempengaruhi setup individu yang berkomunikasi,

tentunya berusaha saling mempengaruhi jalan pikiran komunikan dan

lebih jauh lagi berusaha merubah sikap dan tingkah laku komunikan

sesuai dengan apa yang diharapkan.

2.2 Tinjuan Teoritis

2.2.1 Interaksi Simbolik Sebagai Pencetus Teori Dramaturgi

Perspektif dramaturgi dari Erving Goffman, sebenarnya merupakan

(32)

dan etnometodologi.11 Pengertian Interaksionisme Simbolik adalah Teori yang

menyatakan bahwa orang-orang memberikan makna terhadap simbol-simbol,

dan pemaknaan tersebut berfungsi untuk mengontrol mereka.12

Interaksi simbolik berakar dan berfokus pada hakekat manusia yang

adalah mahluk relasional. Setiap individu pasti terlibat relasi dengan

sesamanya. Tidaklah mengherankan apabila kemudian teori interaksi simbolik

segera mengedepan apabila dibandingkan dengan teori lainnya. Alasannya

ialah diri manusia muncul dalam dan melalui interaksi dengan yang diluar

dirinya. Interaksi itu sendiri membutuhkan simbol-simbol tertentu. Simbol itu

biasanya disepakati dalam skala kecil maupun skala besar.

Goffman begitu terilhami oleh teori interaksi simbolik dari Mead.

Mead melihat pikiran (mind) dan dirinya (self) menjadi bagian dari perilaku manusia yaitu bagian interaksinya dengan orang lain. Bahkan menurut Mead:

“sebelum seseorang bertindak, ia membayangkan dirinya dalam posisi orang

lain dengan harapan-harapan orang lain dan mencoba memahami apa yang

diharapkan orang itu”.

Menurut Littlejohn, interaksi simbolik mengandung inti dasar premis

tentang komunikasi dan masyarakat (core of common premises about communicationand society) perspektif interaksi simbolik memandang bahwa individu bersifat aktif, reflektif dan kreatif, menafsirkan, menampilkan perilaku

11

Deddy Mulyana dan Solatun,Metode Penelitian Komunikasi: PT. Remaja Rosdakarya, 2007.Hal 37

12

(33)

yang rumit dan sulit diramalkan.13 Goffman sering dianggap sebagai salah satu

penafsir „teori diri‟ dari Mead dengan menekankan sifat simbolik dari

manusia. Goffman menganggap individu (bukan struktur yang lebih besar)

sebagai satuan analisis. Untuk menjelaskan tindakan manusia, Goffman

memakai analogi drama dan teater. Hal itulah yang menjadikannya

sebagai seorang dramaturgis.

Perspektif interaksionisme simbolik memulainya dengan konsep diri (self), diri dalam hubungannya dengan orang lain dan diri sendiri dan orang lain itu

dalam konteks yang lebih luas. Dalam konteks sosial inilah nantinya akan

dapat dipahami beragam macam anggapan dari masyarakat. Interaksi simbolik

ada karena ide-ide dasar dalam membentuk makna yang berasal dalam

membentuk makna yang berasal dari pikiran manusia (mind), mengenai diri

(self), dan hubungan di tengah interaksi sosial (society), dan tujuan bertujuan akhir untuk memediasi, serta menginterprestasi makna individu tersebut

menetap. Seperti yang di catat oleh Douglas (1970) makna itu berasal dari

interaksi, dan tidak ada cara lain untuk memberi makna, selain dengan

membangun hubungan dengan individu lain melalui interaksi.14

Definisi singkat dari ke tiga dasar dari interaksi simbolik, antara lain :

1. Pikiran (mind) adalah kemampuan untuk menggunakan simbol yang mempunyai makna sosial yang sama, dimana tiap individu harus

mengembanggkan pikiran mereka melalui interaksi dengan individu lain,

13

Littlejohn, Stephen W. 1996. Theories Of Human Communication. 5th Edition. Belmont California: wadsworth, publishing Company, hlm. 159

14

(34)

2. Diri (self) adalah kemampuan untuk mereflesikan diri tiap individu dari penilaian sudut pandang atau pendapat orang lain, teori interaksionisme

simbolis adalah salah satu cabang teori sosiologi yang mengemukakan

tentang diri sendiri (the-self) dan dunia luarnya, dan

3. Masyarakat (society) adalah jejaring hubungan sosial yang di ciptakan, di bangun, dan di kontruksikan oleh tiap individu di tengah masyarakat, dan

tiap individu tersebut terlibat dalam perilaku yang mereka pilih secara aktif

dan sukarela yang pada akhirnya mengantar manusia dalam proses

pengambilan peran di tengah masyarakatnya. (Mead.1934).15

2.2.2 Dramaturgi

Istilah dramaturgi dipopulerkan oleh Erving Goffman, salah

seorang sosiolog yang paling berpengaruh pada abad 20. Dalam bukunya

yang berjudul The Presentation of Self in Everyday Life yang diterbitkan pada tahun 1959, Goffman memperkenalkan konsep dramaturgi yang

bersifat penampilan teateris. Yakni memusatkan perhatian atas

kehidupan sosial sebagai serangkaian pertunjukan drama yang mirip

dengan pertunjukan drama di panggung. Secara ringkas dapat dikatakan

bahwa Goffman melihat banyak kesamaan antara pementasan teater dan

berbagai jenis peran yang kita mainkan dalam interaksi dan tindakan

sehari-hari.16

15

West Richard dan Lynn H. Turner. 2008. Pengantar Teori Komunikasi: Analisis Dan Aplikasi. Buku 1 edis ke-3 Terjemahan Maria Natalia Damayanti Maer. Jakarta: Salemba Humanika, hlm. 96

16

(35)

Goffman cenderung melihat pada interaksi tatap muka atau kehadiran

bersama (Co-presence). Interaksi tatap muka dibatasinya sebagai “individu -individu yang saling mempengaruhi tindakan-tindakan mereka satu sama lain

ketika masing-masing berhadapa secara fisik.17 Biasanya terdapat suatu arena

kegiatan yang terdiri dari serangkaian tindakan individu itu. Dalam suatu

situasi sosial, seluruh kegiatan dari partisipan tertentu disebut sebagai suatu

penampilan (performance), pertunjukan adalah aktivitas untuk mempengaruhi

orang lain.

Dalam konsep dramaturgi, Goffman mengawalinya dengan

penafsiran “konsep-diri”, di mana Goffman menggambarkan pengertian diri

yang lebih luas daripada Mead (menurut Mead, konsep-diri seorang

individu bersifat stabil dan sinambung selagi membentuk dan dibentuk

masyarakat berdasarkan basis jangka panjang). Sedangkan menurut Goffman,

konsep-diri lebih bersifat temporer, dalam arti bahwa diri bersifat jangka

pendek, bermain peran, karena selalu dituntut oleh peran-peran sosial

yang berlainan, contohnya pada saat seseorang yang berprofesi sebagai

dragqueen berinteraksi dengan lingkungan sosialnya, mereka tidak hanya

berinterkasi dengan lingkungan keluarganya saja, akan tetapi dengan

lingkungan sosial lainnya dengan situasi dan identitas sosial yang mungkin

berbeda sehingga memungkinkan untuk memainkan peran-peran sosial yang

berlainan. Berkaitan dengan interaksi, definisi situasi bagi konsep-diri

individu tertentu dinamakan Goffman sebagai presentasi diri.

17

(36)

2.2.3 Dragqueen

Drag Queen adalah sebuah istilah dalam dunia performing act/show. Drag queen artinya laki-laki yang memerankan karakter wanita dalam sebuah pertunjukkan. Profesi drag queen sebenarnya sudah dikenal sejak abad ke-19 hingga abad ke-20 sebagai peniru sosok wanita (chauncey 1994: schacht,

dalam Saphiro). Namun, tidak banyak masyarakat yang mengetahui tentang

profesi ini, karena kelompok ini sedikit tertutup dari pihak luar. Beberapa

peneliti bahkan mengkonsepkan drag queen sebagai lelaki gagal yang mengasosiasikan mereka sebagai kaum homoseksual (Newton 1979:

Tawksbury dalam Berkowitz).

Drag queen adalah seorang laki-laki yang berpenampilan seperti perempuan lalu menirukan sosok penyanyi terkenal dan dipentaskan secara

lipsing. Hal tersebut yang membuat peneliti tertarik untuk mengenal lebih jauh

tentang profesi drag queen, dimana seorang pria bisa mempunyai dua peran berbeda dalam hidupnya. Yang pertama sebagai laki-laki normal pada

umumnya, yang kedua sebagai wanita karena profesinya. Di Indonesia sangat

jarang sekali yang berprofesi sebagai drag queen, profesi ini hanya tersebar di kota-kota besar yang mempunyai cerita dikehidupan malamnya.

Persiapan yang dilakukan oleh seorang drag queen tentu tidak asal-asalan, karena sebagai seorang penghibur lypsync yang menirukan sosok penyanyi, tentu harus mempunyai konsep disetiap penampilannya. Seperti tema yang

akan ditampilkannya, make-up nya bagaimana, menirukan sosok penyanyi

(37)

tarikan nafasnya bagaimana, dan lain sebagainya. Tentu hal ini membuat para

drag queen harus memperlajari segalanya sebelum pertunjukan dimulai, agar pada saat pertunjukan nanti dapat berhasil menirukan sosok tersebut.

Tidak sedikit para profesi drag queen yang mencoba untuk menampilkan aksinya secara live (tidak lipsync). Tentu saja hal ini membutuhkan keahlian yang cukup dengan cara latihan yang sangat ekstra,

karena untuk pertunjukan secara live para drag queen harus menirukan suara wanita, bagaimanapun juga para drag queen ini adalah seorang laki-laki. Di luar dari pada itu, para drag queen yang mempunyai bakat alami akan sangat mudah untuk menirukan suara wanita, sehingga ia bebas memilih ingin tampil

live atau lipsync. Namun di Indonesia sedikit sekali yang bisa menampilkan aksinya secara live.

2.2.4 Moonlight Discotheque

Diskotik menjadi salah satu lokasi pembaratan masyarakat lokal yang

diawali dengan proses perkenalan kata-kata atau ucapan bahasa asing, serta

musik dan lagu-lagu Barat. Adapun diskotik (discotheque - dalam bahasa Perancis) sebenarnya berasal dari kata disco (disko), yang berarti gedung tempat menyimpan koleksi piringan hitam; lembaga yang menyimpan koleksi

piringan hitam untuk tujuan ilmiah; suatu tempat atau gedung yang dipakai

untuk mendengarkan musik disko yang diiringi tarian atau dansa oleh para

(38)

perkembangannya, disko berubah menjadi musik bergaya meriah, yang

merangsang penggemarnya untuk melakukan gerakan-gerakan tari tertentu dan

ajojing (dansa) adalah istilah baru lagi untuk gengsot atau istilah kunonya

melantai.

Makna diskotik sebenarnya lebih luas dari hanya sekedar musik dan

berdansa. Diskotik tidak hanya sebagai gedung untuk berdansa, tetapi juga

ruang sosial yang memiliki beberapa fungsi. Fungsi catharsis, menempatkan

diskotik sebagai ruang pembebasan atau pelepasan ketegangan dan kecemasan

dengan jalan mengalami kembali dan mencurahkan ke luar kejadian-kejadian

traumatis di masa lalu yang semula dilakukan dengan cara menekankan

emosiemosi ke dalam “ketidaksadaran”. Sementara itu, fungsi ekspresi diri

bermakna bahwa diskotik merupakan sarana dari para pengunjungnya untuk

bebas mengungkapkan perasaan.

Selain itu, diskotik juga berfungsi sebagai sarana mengidentifikasi diri

dengan cara mencari jati diri dengan mencari pergaulan baru di dalam diskotik.

Akhirnya, fungsi yang terakhir adalah asosiasi. Dalam fungsi ini, setiap

pengunjung datang ke diskotik untuk bergaul dan memperluas pertemanan

dengan berinteraksi dengan tamu-tamu lain yang datang ke diskotik. Penulis

memilih salah satu diskotik di Jakarta yaitu Moonlight Discotheque yang berada di sekitar Hayam Wuruk. Moonlight menjadi salah satu diskotik yang

menyediakan tempat untuk pertunjukan dragqueen. jadwal pertunjukan

rutinnya yaitu hari rabu malam kamis, namun tidak menutup kemungkinan

(39)

2.2.5 Presentasi Diri

Menurut Goffman, presentasi diri merupakan suatu kegiatan yang

dilakukan oleh individu tertentu untuk memproduksi definisi situasi dan

identitas sosial bagi para aktor dan definisi situasi tersebut mempengaruhi

ragam interaksi yang layak dan tidak layak bagi para aktor dalam situasi yang

ada. Lebih jauh presentasi diri merupakan upaya individu untuk

menumbuhkan kesan tertentu di depan orang lain dengan cara menata

perilaku agar orang lain memaknai identitas dirinya sesuai dengan apa yang ia

inginkan. Dalam proses produksi identitas tersebut, ada suatu

pertimbangan-pertimbangan yang dilakukan mengenai atribut simbol yang

hendak digunakan sesuai dan mampu mendukung identitas yang

ditampilkan secara menyeluruh.18

Manusia adalah aktor yang berusaha menggabungkan karakteristik

personal dan tujuan kepada orang lain melalui “pertunjukan dramanya sendiri”.

Dalam mencapai tujuannya tersebut, manusia akan mengembangkan

perilaku-perilaku yang mendukung perannya tersebut. Selayaknya pertunjukan drama,

seorang aktor dalam drama kehidupan juga harus mempersiapkan kelengkapan

pertunjukan. Kemudian ketika perangkat simbol dan pemaknaaan identitas

yang hendak disampaikan itu telah siap, maka individu tersebut akan

melakukan suatu gambaran-diri yang akan diterima oleh orang lain. Upaya itu

disebut Goffman sebagai “pengelolaan kesan” (impression management), yaitu

18

(40)

teknik-teknik yang digunakan aktor untuk memupuk kesan-kesan tertentu

dalam situasi-situasi tertentu untuk mencapai tujuan tertentu.19

Goffman menyatakan bahwa hidup adalah teater, individunya sebagai

aktor dan masyarakat adalah penontonnya. Jadi kehidupan dapat juga

diartikan sebagai panggung pertunjukkan, ketika individu dihadapkan pada

panggung, ia akan menggunakan simbol-simbol yang relevan untuk

memperkuat identitas karakternya, namun ketika individu tersebut telah

habis masa pementasannya, maka di belakang panggung akan terlihat

tampilan seutuhnya dari individu tersebut.

2.2.6 Wilyah Pertunjukan

Dalam perspektif dramaturgis, kehidupan ini ibarat teater, interaksi

sosial yang mirip dengan pertunjukkan diatas panggung yang menampilkan

peran-peran yang dimainkan para aktor.20 Menurut Goffman, kehidupan

sosial itu dapat dibagi menjadi dua yaitu panggung depan (front stage) dan panggung belakang (back stage). Goffman melihat ada perbedaan akting yang besar saat aktor berada di atas panggung depan (front stage) dan panggung belakang (back stage) drama kehidupan. Kondisi akting di panggung depan adalah adanya penonton (yang melihat kita) dan kita

sedang berada dalam bagian pertunjukan. Saat itu kita berusaha

memainkan peran kita sebaik-baiknya agar penonton memahami tujuan

19

Dedy Mulyana, M.A. Ph.D. (2003). Ilmu Komunikasi, Suatu Pengantar. PT. Remaja Rosdakarya : Bandung. Hal. 115.

20

(41)

dari perilaku kita. Perilaku kita dibatasi oleh konsep-konsep drama yang

bertujuan membuat drama yang berhasil. Sedangkan di panggung belakang

adalah keadaan di mana kita berada di belakang panggung dengan kondisi

tidak ada penonton, sehingga kita dapat berperilaku bebas tanpa

memperdulikan plot perilaku bagaimana yang harus kita bawakan.

1. Panggung Depan (Front Stage)

Panggung depan merupakan suatu panggung yang terdiri dari

bagian pertunjukkan (appearance) atas penampilan dan gaya (manner). Di panggung inilah aktor akan membangun dan menunjukkan sosok

ideal dari identitas yang akan ditonjolkan dalam interaksi sosialnya.

Pengelolaan kesan yang ditampilkan merupakan gambaran aktor

mengenai konsep ideal dirinya yang sekiranya bisa diterima

penonton. Aktor akan menyembunyikan hal-hal tertentu dalam

pertunjukkan mereka.21

Goffman membagi panggung depan ini menjadi dua bagian yaitu

front pribadi dan setting yakni situasi fisik yang harus ada ketika aktor

harus melakukan pertunjukkan. Tanpa setting, aktor biasanya tidak dapat

melakukan pertunjukkan.22 Seperti seorang drag queen yang memerlukan panggung atau tempat untuk pentas. Wilayah pribadi terdiri dari

alat-alat yang dapat dianggap khalayak sebagai perlengkapan aktor yang

21

Sudikin Basrowi. 2002. Metode Penelitian Kualitatif Perspektif Mikro. Surabaya: Insan Cendikia. Hal. 49-51.

22

(42)

dibawa ke dalam setting. Seperti pakaian, make up dan aksesoris

lainnya.

2. Panggung Belakang (Back Stage)

Merupakan panggung penampilan individu di mana ia

dapat menyesuaikan diri dengan situasi penontonnya. Di panggung

inilah segala persiapan aktor disesuaikan dengan apa yang akan

dihadapi di lapangan, untuk menutupi identitas aslinya. panggung ini

disebut juga panggung pribadi, yang tidak boleh diketahui oleh

orang lain. Dalam arena ini individu memiliki peran yang berbeda

dari front stage, ada alasan-alasan tertentu di mana individu

menutupi atau tidak menonjolkan peran yang sama dengan

panggung depan. Di panggung inilah individu akan tampil “seutuhnya”

dalam arti identitas aslinya. Aktor boleh bertindak dengan cara yang

berbeda dibandingkan ketika berada di hadapan penonton, jauh dari

peran publik. Di sini bisa terlihat perbandingan antara penampilan

“palsu” dengan keseluruhan kenyataan diri seorang aktor.

Panggung belakang biasanya berbatasan dengan panggung

depan, tetapi tersembunyi dari pandangan khalayak. Ini dimaksudkan

untuk melindungi rahasia pertunjukkan, dan oleh karena itu,

khalayak biasanya tidak diizinkan memasuki panggung belakang,

kecuali dalam keadaan darurat. Suatu pertunjukkan akan sulit

dilakukan bila aktor membiarkan khalayak berada di panggung

belakang.23

23

(43)

2.3Kerangka Berfikir

Penulis ingin mencoba menjelaskan tentang pengelolaan kesan profesi Drag queen dilihat dari panggung depan dan panggung belakangnya dan dikaji melalui konsep dramaturgi. Goffman menjelaskan realitas sosial tentang kehidupan

sesungguhnya bagaikan panggung sandiwara yang terbagi dua wilayah panggung

depan dan panggung belakang dan pengelolaan kesan yang dijelaskan Erving

Goffman menyimpulkan bahwasanya individu sebagai aktor dalam realita yang

dihadapinya.

Dalam kerangka berfikir ini yang menjadi penelitian adalah diri seseorang

yang berprofesi sebagai dragqueen sebagai aktor panggung. Bagaimana aktor ini

membangun komunikasi terhadap penonton tetapi bersikap seperti bukan diri

yang sesungguhnya. Realita yang berlangsung dalam panggung tersebut menuntut

aktor bersikap profesional sampai pertunjukan usai nantinya. Sikap yang

ditunjukan oleh aktor menutupi sikap yang sesungguhnya, yang bebas dilakukan

pada panggung belakang. Namun terkadang panggung depan dan panggung

belakang sulit untuk dibedakan. Oleh karena itu penulis ingin mengetahui

bagaimana perbedaan antara kedua ruang, yakni panggung depan dan panggung

belakang sehingga seorang aktor nyaman menjadi seorang drag queen. Dengan begitu fokus pertanyaan dapat dijawab, mengenai bagaimana seorang drag queen

memaknai panggung dilingkungannya.

Kerangka yang ditampilkan yaitu dari tahap awal objek penelitian yaitu

(44)

drag queen memaknai panggung depan ketika diatas panggung dan panggung belakang ketika diluar panggung, kemudian kerangka berfikir ini dapat dijabarkan

sebagai berikut:

Kerangka Berfikir

Impression Management Profesi Dragqueen di Moonlight Discotheque

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran

DRAG QUEEN

Pengelolaan Kesan

Impression Management Profesi Drag Queen

di Moonlight Discotheque

Penerapan Teori Dramaturgi

(45)

2.4 Penelitian Terdahulu

Sebagai referensi tambahan dalam penyusunan sebuah penelitian yang

juga dapat digunakan sebagai pembanding antara penelitian terbaru yang

dilakukan oleh peneliti dengan penelitian terdahulu. Oleh karena itu, peneliti

mencari beberapa penelitian yang dirasa memiliki beberapa kesamaan.

Penelitian tersebut diperoleh dari berbagai universitas, diantaranya adalah :

1. Skripsi yang disusun oleh Elfrida Grace Manullang dengan judul ”Ayam

Kampus Kota Medan Dengan Analisis Teori Dramaturgi (Studi kasus pada

mahasiswi ayam kampus di Kota Medan)” disusun pada tahun 2008.

Skripsi yang disusun oleh salah satu mahasiswi Universitas Sumatera Itara

ini menggunakan metode kualitatif, dengan hasil penelitiannya adalah 11

ayam kampus dari 5 perguruan tinggi, menunjukan bahwa mahasiswi yang

menjadi ayam kampus mempunyai faktor-faktor yang berbeda-beda.

Tampak dari faktor yang ada, beberapa diantara hasil penelitian ialah

banyak kepada faktor ekonomi, faktor kecewa terhadap laki-laki, faktor

kepuasan diri terhadap hubungan seksual dan faktor gaya hidup.

2. Skripsi yang disusun oleh Angga Sumantono dengan judul “Perilaku

Komunikasi Pengguna Ganja (Studi Dramaturgi perilaku komunikasi

pengguna ganja dalam kehidupannya di Kota Bandung)” disusun pada

tahun 2013. Skripsi yang disusun oleh salah satu mahasiswa Universitas

Komputer Indonesia ini menggunakan metode kualitatif dengan hasil

(46)

panggung depan sesuai dengan peran mereka dimasyarakat. Pada

panggung belakang, pengguna ganja memainkan sebuah peran yang utuh,

sehingga perilaku pada saat di panggung depan ataupun panggung

belakang sangat berbeda.

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

No ITEM

Peneliti Terdahulu Elfrida Grace Manullang Peneliti Terdahulu Angga Sumantono Peneliti NurAeni

1 Judul Ayam Kampus

Kota Medan Dengan Analisis Teori Dramaturgi (Studi kasus pada mahasiswi ayam kampus di Kota Medan) Perilaku Komunikasi Pengguna Ganja (Studi Dramaturgi perilaku komunikasi pengguna ganja dalam

kehidupannya di Kota Bandung) Impression Management Profesi Dragqueen di Moonlight Discotheque

2 Tahun 2008 2013 2018

3 Teori Teori Dramaturgi Teori

dramaturgi

Teori Dramaturgi

4 Metode Penelitian

Kualitatif Kualitatif Kualitatif Deskriptif

5 Hasil Penelitian

Dari hasil penelitian

terhadap 11 ayam kampus dari 5 perguruan tinggi, menunjukan bahwa mahasiswi yang menjadi ayam kampus mempunyai faktor-faktor yang Dari hasil penelitian hampir semua pengguna ganja memerankan panggung depan sesuai dengan peran mereka dimasyarakat. Pada panggung belakang,

Dari hasil penelitian setiap drag queen

memaknai panggung depan dan panggung belakangnya berbeda-beda. Ada yang menjadikan panggung depan saat sedang

(47)

No ITEM Peneliti Terdahulu Elfrida Grace Manullang Peneliti Terdahulu Angga Sumantono Peneliti NurAeni berbeda-beda. Faktor-faktor tersebut antara lain: permasalahn ekonomi, faktor kecewa terhadap laki-laki, faktor kepuasan diri terhadap hubungan seksual dan faktor gaya hidup. pengguna ganja memainkan sebuah peran yang utuh, sehingga perilaku pada saat di panggung depan ataupun panggung belakang sangat berbeda. yang penjadikan panggung depan saat dilingkungan keluarga dan dilingkungan kerja. Begitupun dipanggung

belakang, ada yang menjadikan

panggung belakang saat sedang berada dilingkungan rumah dan keluarga adapula yang menjadikan panggung belakang saat sedang

pertunjukan drag queen.

6 Persamaan Penelitian ini

menggunakan Teori Dramaturgi

Penelitian ini menggunakan Teori

dramaturgi

Peneliti

menggunakan teori Dramaturgi

7 Perbedaan Mengetahui

penyebab seorang mahasiswi

menjadi ayam

kampus fokus penelitiannya lebih kepada perilaku pengguna ganja pada proses kehidupannya di Kota Bandung Mendeskripsikan panggung depan dan panggung belakang seorang

Drag Queen di Moonlight Discotheque sebagai upaya pengelolaan kesan (Impression Management) menggunakan teori Dramaturgi

8 Sumber Universitas

Sumatera Utara

Universitas Komputer Indonesia

(48)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1Metode Penelitian

Metodologi adalah proses, prinsip dan prosedur yang kita gunakan untuk

mendekati problem dan mencari jawaban. Dengan kata lain, metodologi

adalah suatu pendekatan umum untuk mengkaji topik penelitian.24 Penelitian

ini menggunakan pendekatan kualitatif metode deskriptif dengan pendekatan

studi dramaturgi. Pendekatan kualitatif yaitu pendekatan penelitian yang

menghasilkan data yang bersifat deskriptif berupa kata-kata tertulis atau

lisan dari orang-orang atau perilaku yang diamati.25

Secara harfiah penelitian deskriptif adalah penelitian yang

dimaksud untuk membuat panca indra (deskripsi). Menggambarkan mengenai

situasi-situasi atau kejadian-kejadian sebagaimana adanya pada saat

penelitian dilakukan yang diakumulasikan data kasar dalam cara deskriptif

semata-mata tidak untuk mencari atau mendapatkan makna dan implikasi dan

data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar dan bukan angka.26

Dalam buku Metode penelitian untuk Public Relation Goffman mengungkapkan dramaturgi adalah sandiwara kehidupan yang disajikan

manusia. Gofftman menyebut ada dua peran dalam teori ini, yaitu bagian

24

Dedy Mulyanana. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung. Remaja Rosdakarya. Hal 115.

25

Lexy J. Moleong. 2003. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya. Hal. 3.

26

Mardalis. 1999. Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal.Jakarta: Bumi Aksara. Hal. 26.

(49)

depan (front) dan bagian belakang (back). Front mencakup, setting,

personal front (penampilan diri), expressive equipment (peralatan untuk mengekpresikan diri). Sedangkan bagian belakang adalah self, yaitu semua bagian yang tersembunyi untuk melengkapi keberhasilan akting

atau penampilan diri yang ada pada front.

3.2Paradigma Penelitian

Dedi Mulyana (2003) mendefinisikan paradigma adalah suatu cara

pandang untuk memahami kompleksitas dunia nyata. Paradigma yang

digunakan dalam penelitian ini adalah paradigma kontruktivis karena sesuai

dengan sifat dan karakter permasalahan data yang diangkat dalam penelitian

ini. Paradigma konstruktivistis menempatkan ilmu komunikasi sebagai

analisis sistematis terhadap socially meaningful action atau pengamatan langsung yang dilakukan secara alamiah. Paradigma ini bersifat ilmiah,

yakni menempatkan peneliti pada posisi objek yang ditelitinya atau dengan

kata lain peneliti berusaha memahami cara berfikir objek yang

ditelitinya.27

Penulis menggunakan paradigma konstruktivis untuk mengetahui

bagaimanakah pengelolaan kesan profesi Drag queen di Moonlight Dischoteque. Dengan paradigma konstruktivis ini penulis bisa mendapatkan informasi yang lebih mendalam dari individu yang diteliti.

27

(50)

3.3 Ruang Lingkup / Fokus Penelitian

Penentuan fokus penelitian menjadi hal yang penting bagi penelitian

kualitatif, dimulai dengan penemuan masalah yang kemudian dianalisis oleh

teori yang ada didalam Ilmu Komunikasi. Dalam penelitian ini, penulis akan

membatasi kajian yang diteliti sehingga nantinya tidak akan ada

kesalahpahaman. Selain itu, penulis juga ingin memudah para pembaca dalam

memahami penelitian ini. Adapun batasan masalah dalam penelitian ini

adalah sebagai berikut:

1. Pertama, penulis ingin mengetahui bagaimana panggung depan seseorang

yang berprofesi sebagai drag queen di Moonlight Discotheque. Seperti yang sudah diketahui, bahwa panggung depan adalah tempat dimana

pelaku dragqueen melangsungkan aksinya diatas panggung dan ditonton

oleh khalayak.

2. Kedua, penulis ingin mengetahui bagaimana panggung belakang

seseorang yang berprofesi sebagai drag queen di Moonlight Discotheque. Panggung belakang memang sangat bertolak belakang dengan panggung

depan, karena dipanggung ini para pelaku drag queen menjalani kehidupan yang sebenar-benarnya.

3. Ketiga, penulis ingin mengetahui bagaimana pengelolaan kesan panggung depan dan panggung belakang seseorang yang berprofesi

(51)

3.4 Lokasi Penelitian

Penulis melakukan penelitian disalah satu discotheque yang berada di Jakarta yaitu Moonlight Discotheque yang bertempat di Jl. Hayam Wuruk Taman Sari No.120, RT.3/RW.6, Maphar, Tamansari, Kota Jakarta Barat,

Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11180

3.5 Instrumen Penelitian 3.5.1 Sumber Data

1. Data Primer (Primary Data)

Data yang diperoleh langsung dari sumber asli (tidak melalui

media perantara). Data primer berupa opini subjek (orang)

secara individual atau personal, hasil observasi terhadap suatu

benda (fisik), kejadian atau kegiatan, dan hasil pengujian.

Metode yang dilakukan dalam pengumpulan data primer

bisa didapatkan dari kegiatan wawancara dan observasi

yang sudah dipaparkan pada baris sebelumnya.

2. Data Sekunder

Data yang diperoleh dari sumber yang sudah ada bisa dimiliki

peneliti dari catatan penelitian sebelumnya, bukti yang

dikumpulkan dari beberapa pra-observasi. Pada penelitian ini

peneliti memiliki cara dengan membaca artikel tulisan yang

memuat tentang subjek penelitian, mengetahui dari catatan

(52)

penelitian. Data sekunder umumnya berupa bukti, catatan atau

laporan historis yang telah tersusun dalam arsip (data

dokumenter) yang dipublikasikan dan yang tidak

dipublikasikan. Bentuk data yang sudah ada dalam

pengambilan data dengan cara sekunder yaitu studi

kepustakaan merupakan teknik pengumpulan data melalui teks

yang tertulis maupun soft-copy edition (buku,ebook atau artikel dalam majalah, surat kabar, jurnal serta media lainnya). Dalam

hal ini peneliti memperoleh beberapa informasi atau data yang

diperoleh dari buku, literatur lain dari internet dan artikel

yang bisa di akses.

3.5.2 Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data merupakan faktor yang sangat penting dalam setiap

penelitian. Karna tanpa pengumpulan data, penelitian tidak akan sesuai

dengan apa yang kita inginkan. Bukan hanya pengetahuan saja yang harus

dimiliki dalam melakukan penelitian, informasi dalam bentuk data juga harus

dimiliki untuk dianalisis nantinya. Adapun teknik pengumpulan data adalah

sebagai berikut:

1. Wawancara

Wawancara yang dilakukan peneliti adalah wawancara tidak

terstruktur dan wawancara terstruktur. Wawancara tidak

terstruktur adalah wawancara bebas dimana peneliti tidak

(53)

sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya.28 Selain

wawancara tidak terstruktur, peneliti juga melakukan wawancara

secara terstruktur yaitu dengan menyusun dan mempersiapkan

pertanyaan sebagai pedoman wawancara. Wawancara merupakan

suatu teknik pengumpulan data dalam metode survey melalui data pertanyaan yang diajukan secara lisan terhadap responden atau

subjek.29

2. Observasi

Observasi merupakan metode pengumpulan data yang dilakukan

peneliti untuk mengamati atau mencatat suatu peristiwa

dengan penyaksian langsung, dan biasanya peneliti dapat sebagai

partisipan atau observer dalam menyaksikan atau mengamati suatu

objek peristiwa yang sedang ditelitinya.

3.6 Informan Penelitian

Penelitian kualitatif tidak menggunakan istilah sampel. Sampel pada

penelitian kualitatif bukan dinamakan responden, tetapi sebagai narasumber,

partisipan, informan, teman dan guru dalam penelitian.30 Informan penelitian

merupakan subjek yang memahami informasi sebagai pelaku ataupun orang

lain yang mengetahui tentang penelitian yang dilakukan.31

28

Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif dan R&D,Alfabeta, Bandung 2012, Hlm.233

29

Rosady Ruslan, Metode Penelitian Public Relations dan Komunikasi. Jakarta: Raja GrafindoPersada, 2006, Hlm.221

30

() Lexy J. Moleong. 2003. Metode Penelitian Kualitatif edisi revisi. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya. Hal. 216

31

(54)

Penulis menggunakan teknik Sampling Purposive (Purposive Sampling). Menurut Krisyanto teknik ini mencakup orang orang yang diseleksi berdasarkan kriteria kriteria tertentu yang dibuat periset

berdasarkan tujuan riset. Dalam penelitian ini penulis menggunakan

informan seorang laki laki yang mempunyai 2 profesi, dimana salah satu

profesinya adalah seorang drag queen. Penyeleksian ini ditujuan sebagai bahan untuk mengetahui, memahami dan mengamati hal yang diteliti

sehingga mengetahui panggung depan, panggung belakang dan pengelolaan

kesan seseorang yang berprofesi sebagai drag queen.

Pada penelitian ini penulis menggunakan informan penelitian atau

narasumber untuk mendapatkan data. Penulis membagi informan

menjadi dua, informan kunci dan informan pendukung. Informan kunci

dalam penelitian ini adalah seorang Drag queen yang sering melakukan pertunjukan di Moonlight Discotheque yang dipilih berdasarkan perbedaan latar belakang pendidikan, usia dan pekerjaan informan tersebut. Sedangkan

informan pendukung merupakan teman dekat informan kunci atau seseorang

yang ikut terlibat atau sering menyaksikan saat sedang pertunjukan. Data

informan dapat dilihat dari tabel dibawah ini:

Tabel 3.1 Informan Kunci

NO Nama Pekerjaan Umur Keterangan

1. Anggita Zepora (nama samaran)

Penjaga loket tiket PT. KAI

26 Tahun

Drag queen

(55)

3. Iin Kirana (nama samaran)

Make Up LC 22

Tahun

Dragqueen

Tabel 3.2 Informan Pendukung

No Nama Keterangan

1. Kak Dita Manager Drag queen

di Moonlight Discotheque

2. Baim Sahabat Anggita

3. Iqlima Sahabat Aditya

4. Riko Sahabat Iin

3.7 Teknik Analisis Data

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Model Milles

& Hiberman. Menurut model ini aktifitas dalam analisis data kualitatif

dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus

sampai tuntas dan digunakan untuk data selama dilapangan.32 Dalam

penelitian ini, teknik analisis data yang peneliti lakukan adalah sebagai

berikut:

1. Reduksi Data

Reduksi data merupakan proses pemilihan, pemusatan perhatian

pada penyederhanaan, pengabstrakan, transformasi data kasar

yang muncul dari catatan-catatan lapangan. Langkah-langkah yang

dilakukan adalah menajamkan analisis, menggolongkan kedalam

setiap permasalahan melalui uraian singkat, mengarahkan, membuang

32

(56)

yang tidak perlu, dan mengorganisasikan data sehingga

kesimpulan-kesimpulan finalnya dapat ditarik dan diverifikasi.

Adapun data yang direduksi antara lain seluruh data mengenai

permasalahan penelitian dan kemudian dilakukan penggolongan ke

dalam beberapa bagian. Kemudian dari masing-masing bagian

tersebut dikelompokkan lagi berdasarkan sistematisasinya. Adapun

perolehan data mengenai hal-hal yang tidak relevan dengan

penelitian, sebaiknya tidak dimasukkan dalam penyajian hasil,

namun tetap disimpan untuk masa yang akan datang jika diperlukan.

2. Pengumpulan Data

Data yang dikelompokan selanjutnya disusun dalam bentuk

narasi-narasi, sehingga berbentuk rangkaian informasi yang

Gambar

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
Tabel 3.1 Informan Kunci
Tabel 3.2 Informan Pendukung
+3

Referensi

Dokumen terkait