IMPLEMENTASI KEBIJAKAN AMERIKA SERIKAT PADA DALAM MENGATASI PEREDARAN PRODUK TIRUAN CINA
Indra Mahardika
Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Brawijaya
Email : [email protected]
Abstrak :
Permasalahan produk tiruan Cina telah menciptakan dilema bagi pemerintah maupun masyarakat Amerika Serikat. Hal ini dikarenakan maraknya peredaran produk tiruan Cina terhadap di pasar domestik Amerika Serikat. tingginya produk tiruan Cina akan mengurangi pendapatan negara dari pajak yang disetorkan oleh pelaku industri serta dapat menyebabkan 750.000 masyarakat AS kehilangan pekerjaannya (Blackstone,2013). Namun disisi lain, sejak terpuruknya perekonomian AS menyebabkan masyarakat AS menjadi tergantung pada penggunaan produk tiruan Cina yang dianggap lebih terjangkau (Yu,2010). Oleh karena itu pemerintah Amerika Serikat mengeluaran 2010 Joint Strategic Plan on IPE sebagai arah kebijakan untuk mengentaskan permasalahan produk tiruan asing khususnya Cina di domestik AS.
Kata Kunci : Amerika Serikat, Cina, Produk Tiruan, Kebijakan
Pendahuluan
Amerika Serikat (AS) merupakan negara penghasil inovasi terbesar saat ini. Berdasarkan survei Tomson Routers (2011:11) terkait inovasi terkemuka hingga tahun 2011 yang termuat dalam Top 100 Global Innovators, tercatat 40 inovasi AS masuk dalam jajaran 100 inovasi terkemuka menggungguli Jepang yang hanya tercatat 27 inovasi. Tentu saja inovasi telah dianggap penting khususnya dalam perdagangan bebas (free trade) agar mampu bersaing dalam persaingan internasional. Ini selaras dengan tulisan Ross Singleton (2001:212) yang menyatakan bahwa inovasi sebagai salah satu sumber kekayaan (wealth) negara untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Untuk itu setiap inovasi yang diciptakan perlu dilindungi dalam Hak Kekayaan
Intelektual (HaKI) guna mengantisipasi pihak lain memanfaatkan inovasi tersebut untuk kepentingannya. Tidak terkecuali dengan AS yang berusaha melindungi inovasinya.
mengganggu stabilitas ekonomi, perkembangan inovasi dikemudian hari, namun juga berpotensi meningkatnya pengangguran akibat kerugian perusahaan.
Tahun 2007, AS memperkarakan masalah pelanggaran ini ke WTO. AS meminta Cina untuk mematuhi Trade Related Aspect Intellectual Property Rights (TRIPs), sebuah aturan yang mewajibkan anggota WTO untuk melindungi HaKI serta menindak setiap pelanggar melalui kebijakan domestiknya (Margared,2010:68). Namun tuntutan AS tidak menunjukkan hasil yang memuaskan terlihat dari semakin gencarnya produsen lokal Cina meningkatkan produktivitas produk tiruan. Ini menandakan bahwa AS tidak bisa terlalu mengharapkan sistem internasional mampu melindungi inovasi negaranya dikemudian hari. Untuk itu perlu upaya memperkuat kembali peraturan domestik guna menekan masuknya produk tiruan Cina ke AS.
Barack Obama menggagas kebijakan 2010 Joint Strategic Plan on Intellectual Property Enforcement (2010 Joint Strategic Plan on IPE). Ini menjadi acuan pada Pemerintahan Barack Obama untuk melindungi HaKI dan inovasi asli AS. Kebijakan ini memasukkan 13 daftar negara dalam kategori prioritas ancaman HaKI AS seperti Cina, Argentina, Chili, Algeria, India, Indonesia, Israel, Pakistan, Rusia, Thailand, Ukraina, dan Venezuela (Executive Office of the President of the United States, 2010:15).
Tinjauan Pustaka
1. Teori Implementasi Kebijakan Kebijakan menjadi unsur penting bagi pemangku
kepentingan (stakeholders) dalam mencapai sebuah tujuan. Bahkan kebijakan dapat mengarah pada cara mengatasi hambatan-hambatan tertentu seraya mencari berbagai peluang dalam mencapai tujuan atau mewujudkan sasaran yang diinginkan (Wahab,2001). Menurut Mustopadidjaja (1988) dalam Tachjan (2006:21) menyatakan bahwa pada dasarnya kebijakan yang dihasilkan akan melalui tiga tahap utama yaitu tahap perumusan kebijakan; tahap implementasi kebijakan; dan tahap pengawasan serta penilaian (evaluasi). Berdasarkan hal ini terdapat hal mendasar yang membedakan antara tahap perumusan kebijakan dan tahap implementasi. Pada perumusan kebijakan cenderung bersifat bottom up, yaitu proses pembuatan kebijakan diawali dengan penyampaian aspirasi, permintaan, dan dukungan dari masyarakat. Disisi lain implementasi kebijakan memiliki logika top down dimana terjadi penurunan alternatif kebijakan yang semula masih abstrak atau makro menjadi tindakan konkrit atau mikro (Wibawa,1994; Tarigan,2009:2). Tidak heran bahwa tahap implementasi kebijakan menjadi titik kunci penentu berhasil atau tidaknya suatu kebijakan dikarenakan pada tahap ini sangat sarat akan adanya muatan politis dan intervensi dari para pemilik kepentingan
mempengaruhi hasil akhir kebijakan.
Berbagai definisi implementasi kebijakan telah dicetuskan oleh pakar kebijakan. Edward III (1980) menjelaskan bahwa : “Policy implementation, … is the stage of policy making between the establishment of a policy... and the consequences of the policy for the people whom it affects”. Merille S. Grindle (1980) mendefinisikan implementasi kebijakan sebagai “a general process of administrative action that can be investigated at specific
program level”
(Tachjan,2006:25). Disisi lain Jan Erik Lane (1983:17) mendefiniskan sebagai “to carry out something or to accomplish something may sound intelligible and require little explication. A formal defition might be, Implementation = Intention, Output, Outcome” Berdasarkan beberapa definisi tersebut, penulis menyederhanakan implementasi kebijakan sebagai sebuah proses aplikasi kebijakan yang ditujukan kepada obyek tertentu sehingga terciptanya niat, luaran dan hasil. Ini selaras dengan Agustino (2012:139) yang memaparkan bahwa teori implementasi kebijakan akan menyangkut pada tiga hal yaitu : adanya tujuan atau sasaran kebijakan; adanya aktivitas atau kegiatan pencapaian tujuan; dan adanya hasil kegiatan.
2. Proses Implementasi
Proses implementasi diartikan sebagai tindakan nyata mewujudkan hasil yang kongruen antara keinginan asli
(original intention) dan maksud atau luaran dari suatu kebijakan (Lane,1983:17). Melalui proses implementasi inilah, kebijakan dapat diketahui seberapa besar tingkat kesesuaian yang dilihat berdasarkan rumusan kebijakan awal. Proses implementasi dapat dinyatakan sesuai bila pelaksanaannya tidak jauh berbeda dengan petunjuk dan ketentuan pelaksanaan yang dirancang oleh pembuat kebijakan (formator). Petunjuk dan ketentuan tersebut meliputi tata cara atau prosedur pelaksanaan, kelompok sasaran, agen pelaksana, dan manfaat program (Lane,1983; Akib,2010:7).
Disisi politik, kebijakan perlu mendapatkan penerimaan secara politik (political acceptability). Untuk itu implementor akan melakukan strategi koalisi dengan melibatkan pihak publik maupun organisasi privat (Lane,2000:107) serta melibatkan kerjasama antar pemerintahan
(intergovernmental bodies) melalui jaringan kebijakan (policy networking) (Lane,2000:113) untuk merealisasikan tujuan kebijakan. Oleh karena itu selama implementasi, implementor telah menargetkan stakeholders mana saja yang perlu dilibatkan. Pada negara yang menganut sistem demokrasi seperti AS, proses implementasi bukan hanya sebagai upaya yang dilakukan oleh pemerintah semata namun juga mampu menjembatani kepentingan masyarakat, politisi, dan pelaku privat.
Metode Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Ruang lingkup penelitian adalah AS dalam level domestik. Sedangkan ruang lingkup waktu yaitu periode 2010–Juni 2013 dengan landasan bahwa 2010 menjadi tahun berlakunya kebijakan 2010 Joint Strategic Plan on IPE serta Juni 2013 sebagai penanda berakhirnya kebijakan tersebut.
Pembahasan
U.S Customs and Border Protection Protection (U.S CBP) tahun 2012 merilis sepuluh komoditas tiruan yang beredar di pasar domestik AS.
Adapun sepuluh komoditas tiruan tersebut antara lain : 1) tas maupun dompet; 2) Jam tangan maupun perhiasan; 3) pakaian maupun aksesoris; 4) elektronik maupun komponennya; 5) alas kaki (sepatu dan sandal); 6) obat-obatan maupun alat medis; 7) media digital; 8) komputer maupun aksesorisnya; 9) Label/Tags; dan 10) Permainan (U.S CBP.2013:6). Kesepuluh komoditas ini telah mengancam inovasi di AS karena produk yang dihasilkan produsen AS harus bersaing menghadapi produk tiruan yang dihasilkan negara lain di pasar AS.
Total kerugian AS tahun 2012 yaitu sebesar lebih dari US$ 1,262 milliar mengalami peningkatan bila dibandingkan tahun 2011 yang hanya mencapai US$ 1,110 milliar (U.S CBP,2013:4). Peningkatan tertinggi justru terjadi pada komoditas tas maupun dompet. Ditahun 2011, komoditas tas maupun dompet hanya menimbulkan nilai kerugian sebesar US$ 211.071.721 namun di tahun 2012 kerugian telah mencapai US$ 511.248.074 atau meningkat 142 persen dari tahun 2011 U.S CBP (2013:19). Faktor pendukung mengapa permintaan produk tiruan begitu tinggi dikarenakan besarnya keinginan masyarakat untuk memiliki produk dengan merek terkenal dengan harga terjangkau. Ini dikarenakan dengan memakai produk bermerek namun sebenarnya palsu dapat memunculkan kesan ekslusif bagi penggunanya (prestige) (Soenarjo,2010:3-4). Ini juga terjadi bagi masyarakat AS.
persen masyarakat AS mengganggap bahwa penjualan produk tiruan mempengaruhi akan perekonomian AS (Blackstone,2013:1). Pendapatan terbesar negara berasal dari pajak yang dibayarkan oleh masyarakat ataupun sektor privat. Adanya produk tiruan akan keuntungan lebih besar justru dirasakan oleh produsen pencipta produk tiruan dibandingkan pemilik inovasi awal. Sehingga secara langsung, pajak yang dibayarkan kepada negara ikut berkurang. 2) 89 persen masyarakat AS menyatakan bahwa produk tiruan akan berpengaruh negatif terhadap masa depan pekerjaan masyarakat AS (Blackstone,2013:1). Perusahaan yang berhubungan dengan inovasi di AS telah menjadi tumpuan bagi 5,5 juta pekerja di AS (Schlesinger,2011:1). Bahkan semakin maraknya peredaran produk tiruan di AS dapat membuat 750.000 masyarakat AS kehilangan pekerjaannya (Blackstone,2013:3). Dampak negatif pertama yang dirasakan oleh para konsumen AS terhadap produk tiruan yaitu dari sisi kesehatan dan resiko keamanan. Dampak ini muncul dari produk tiruan yang berasal dari makanan, minuman, obat-obatan, komponen elektrik, suku cadang otomotif, alat permainan, hingga produk rumah tangga (GAO,2010:10). Produk tiruan ini umumnya memiliki standar pengujian atau kelayakan yang rendah sehingga resiko keamanan tidak terjamin. Khusus pada produk obat-obatan tiruan, ketidakjelasan bahan baku hingga dosis yang tertera pada obat tersebut dapat menyebabkan terjadinya reaksi yang tidak diinginkan seperti efek samping bahkan dapat menyebabkan kematian pada penggunannya. Kualitas produk rendah menjadi dampak negatif lainnya dikarenakan produk tiruan hanya mengandalkan harga yang lebih murah
dibandingkan produk asli sehingga kualitas akan dikesampingkan.
Bagi pelaku industri, adanya produk tiruan tentu akan menurunkan penjualan hingga mempengaruhi citra produk dan pelaku industri itu sendiri. Produk tiruan telah dianggap sebagai produk pengganti dari produk asli itu sendiri terutama bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan ekonomi untuk membeli produk yang asli. Seiring waktu, masyarakat AS justru mulai beralih menggunakan produk tiruan dibandingkan produk asli mengingat harga yang ditawarkan lebih murah. Secara langsung permintaan terhadap produk asli berkurang sehingga penjualan mengalami penurunan. Tidak hanya itu, konsumen yang secara sengaja atau tidak membeli produk tiruan dan akhirnya merasa dirugikan terhadap produk tersebut akan menciptakan kekecewaan yang akan berdampak pada citra produk ataupun pelaku industri asli. Untuk menghindari adanya peniruan yang dilakukan oleh produsen lain tentu saja pelaku industri perlu mengeluarkan uang secara lebih besar untuk mendapatkan hak paten, penentuan strategi penjualan, hingga investasi penelitian dan pengembangan inovasi produk itu sendiri.
6,5 persen dari total GDP AS (Schlesinger,2011:1). Berkaca pada hasil temuan produk tiruan yang dilakukan oleh U.S Customs and Border Protection Protection tahun 2012, sebanyak 22.848 jenis produk tiruan mampu menimbulkan kerugian AS sebesar lebih dari US$ 1,262 milliar. AS (baik dari pemerintah pusat hingga lokal) telah kehilangan pajak sebesar US$ 2,6 milliar baik yang berasal dari pajak produk, personal, dan produksi perusahaan setiap tahunnya (Ewek,2007:i). Upaya menekan tingkat kerugian ini, pemerintah AS perlu Obama. Mulai dari perancangan hingga implementasi, pemerintah AS tentu mengeluarkan dana yang besar. Inilah yang menjadi permasalahan lain yang timbul akibat maraknya produk tiruan di AS. berkurangnya penciptaan inovasi baru. Padahal ekonomi AS sangat tergantung pada perdagangan yang notabane-nya membutuhkan inovasi baru yang dibutuhkan oleh konsumen. Disisi lain semakin banyaknya negara dengan perlindungan HaKI yang rendah memunculkan ketakutan untuk melakukan perdagangan dengan negara-negara tersebut (GAO,2010:14).
Ketakutan terbesar AS justru muncul kepada Cina yang akhirnya memunculkan dilemma perdagangan dua negara tersebut. Cina telah
dianggap sebagai negara dengan pelindung HaKI terburuk (Hodge,2008) dan produk tiruan yang ada di pasar AS didominasi dari produk Cina. Disisi lain, AS sangat tergantung dengan perdagangan dengan Cina dan semakin kuat AS setelah adanya krisis ekonomi tahun 2008. Cina telah menjadi partner dagang terbesar kedua, pangsa pasar ketiga bagi ekspor AS dan pengimpor terbesar AS (Morrison,2011:1). Ironisnya, hubungan dagang ini justru menjadi pemicu semakin gencarnya peniruan inovasi AS yang dilakukan oleh produsen Cina dan tingginya peredaran produk tiruan tersebut di AS.
Desember 2011, Presiden Obama telah menandatangani National Defense Authorization Act of 2012 yaitu sebuah kesepahaman untuk : 1) meningkatkan denda dan hukum bagi instansi pemerintahan dan militer AS yang ditemukan menggunakan dan atau menjual produk tiruan, 2) memberikan kewenangan bagi siapapun untuk mendapatkan informasi mengenali produk tiruan yang akan diimpor apakah produk tersebut asli atau tidak (Espinel,2012:2).
2. Transparency
Dalam pelaksanaannya, IPEC berusaha menerapkan keterbukaan kepada seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) untuk mengetahui pelaksanaan implementasi 2010 Joint Strategic Plan on IPE yang dikenal dengan open door policy. Langkah ini dibuktikan dengan menerbitkan Intellectual Property Spotlight untuk memaparkan pelaksanaan penegakkan HaKI di tataran pemerintahan pusat hingga lokal serta upaya penegakkan bersama dengan beberapa partner hukum negara lain. IPEC juga memandatkan The Department of Justice dan FBI untuk menerbitkan laporan tahunan PRO IP Act yang berisikan segala bentuk penegakkan hukum terhadap pelanggaran hak cipta serta secara berkala mengadakan pertemuan dengan para korban ataupun pemangku kebijakan yang dirugikan akibat peredaran produk tiruan (Espinel,2012:3).
3. Improving Coordination
IPEC membawahi berbagai instansi pemerintah yang berfokus pada pengentasan produk tiruan di dalam negeri dan 20 agensi partisipan dimana didalamnya terdapat instansi internasional seperti INTERPOL, the Royal Canadian Mounted, Police, Mexican Customs, EUROPOL, dan lainnya. Untuk itu, mempermudah garis koordinasi maka IPEC membentuk National Intellectual Property Rights Coordination Center sebagai sarana penguatan koordinasi antar lembaga di domestik AS maupun secara internasional. Melalui National Intellectual Property Rights Coordination Center, semua instansi pemerintahan baik di tataran pusat hingga lokal maupun agensi partisipan diarahkan untuk menjaga koordinasi dinaungi langsung oleh IPEC (Espinel,2012:3-4). 4. Enforcing Our Rights
Internationally
kategori Priority Watch List antara lain : Algeria, Argentina, Kanada, Chili, Cina, India, Indonesia, Israel, Pakistan, Rusia, Thailand, Ukraina, dan Venezuela. Negara yang masuk kategori Watch List antara lain : Belarus, Bolivia, Brazil, Brunei, Kolumbia, Kosta Rica, Republik Dominika, Ekuador, Mesir, Finlandia, Yunani, Guatemala, Italia, Jamaika, Kuwait, Lebanon, Meksiko, Norwegia, Peru, Filipina, Romania, Tajikistan, Turki, Turkmenistan, Uzbekistan, dan Vietnam. Sedangkan Paraguai masuk dalam Section 306 Monitoring (USTR,2011). Disisi lain melalui 2010 Joint Strategic Plan on IPE, pemerintah AS secara aktif melakukan proses pendekatan bilateral untuk mengajak negara lain mendukung perlindungan HaKI serta menjadikan isu HaKI dalam berbagai pertemuan internasional (Espinel,2012:5-6). 5. Securing Our Supply Chain
Mata rantai perdagangan memiliki peran penting dalam mengurangi atau justru meningkatkan produk tiruan di AS. IPEC melakukan langkah strategis seperti pada Juni 2011, IPEC membuat kesepakatan kepada stakeholders yang menerapkan sistem pembayaran melalui American Express, Discover, MasterCard, PayPal dan Visa dalam perdagangan agar membatalkan transaksi
yang diketahui
memperdagangkan produk tiruan. Selain itu IPEC juga meminta the Association of National Advertisers dan
American Association of Advertising Agencies sebagai sektor swasta yang menaungi periklanan di AS untuk terlibat dalam pengawasan iklan produk tiruan baik secara online, elektronik, maupun media cetak (Espinel,2012:13).
6. Building A Datadriven Government
Pada poin ini, IPEC dituntut secara intensif memperbaharui data yang diperlukan oleh pemerintah pusat dalam menganalisa perkembangan perekonomian AS berdasarkan pengembangan HaKI, penciptaan lapangan pekerjaan bagi masyarakat AS sekaligus yang mendukung ekspor AS, bentuk promosi sekaligus upaya pertahanan keuntungan komparatif inovasi AS dalam perdagangan global, tingkat perlindungan keselamatan konsumen terhadap produk tiruan, maupun berbagai data lainnya. Data yang berhasil dikumpul akan menjadi rekomendasi bagi pemerintah AS untuk menentukan langkah kebijakan selanjutnya (Espinel,2012:14).
Kesimpulan
pajak yang disetorkan oleh pelaku industri serta dapat menyebabkan 750.000 masyarakat AS kehilangan pekerjaannya (Blackstone,2013). Namun disisi lain, sejak terpuruknya
perekonomian AS menyebabkan masyarakat AS menjadi tergantung pada penggunaan produk tiruan Cina yang dianggap lebih terjangkau (Yu,2010).
Daftar Pustaka
Bloomberg.(2013). “Joint Strategic Plan on Intellectual Property Enforcement”, Enforcement Strategy Action Items Comparison of 2010 and 2013 Plans. Chaudhry,P, dan A. Zimmerman.(2013).Protecting Your Intellectual Property Rights,
Management for Professionals.New York:Springer Science + Business Media Chow,Daniel C.K.(2004).Counterfeiting in China and Its Effect on U.S
Manufacturing.Ohio:The Ohio States University College of Law Publication Department of Justice (DOJ).(2012).Pro IP Act Annual Report FY 2012.Washington DC
: DOJ
Ernst,Dieter.(2011).China’s Innovation Policy is a Wake-Up Call for America.Honolulu:East-West Center
Ernst,Dieter.(2011).Indigenous Innovation and Globalization : The Challenge for China’s Standardization Strategy.Honolulu:Institute Global Conflict and Copperation (IGCC) and East-West Center
Espinel, Victoria A.(2012).Executive Office of the President Office of Management and Budget. Testimony before U.S Senate Committee on Judiciary.Washington DC : IPEC
Espinel,Victoria A.(2012).Development of the Joint Strategic Plan on Intellectual Property Enforcement.Washington DC : Copyright Alliance
Executive Office of the President of the United States.(2010).2010 Joint Strategic Plan on Intellectual Property Enforcement.Washington DC: Executive Office of the President of the United States.
Executive Office of the President of the United States.(2013).Patent Assertation and U.S Innovation.Washington DC: Executive Office of the President
Government Accountability Office (GAO).(2006).Intellectual Property : Strategy for Targeting Organized Piracy (STOP) Requires Changes for Long-Term Success.Washington DC:GAO
Government Accountability Office (GAO).(2008).Federal IP Enforcement : Clear Leadership and Accountability Needed.Washington DC:GAO
Government Accountability Office (GAO).(2010).Intellectual Property : Observation on Efforts to Quantify the Economic Effects of Counterfeit and Pirated
Goods.Washington DC : GAO
Homeland Security.(2012).What Every Member of the Trade Community Should Know About : CBP Enforcement of Intellectual Property Rights.Washington
Hood,Jim.(2012).Respone to the Request of the Intellectual Property Enforcement Coordinator for the Public Comments Regarding the Joint Strategic Plan to the Shape an Effective Intellectual Property Enforcement Strategy
Hunter Jr, Richard J., Lindsey Puliti.(2012).Counterfeit Products Within China – A New Twist to an Old Problem : Imitation Apple Retailers. International Journal of Academic Research in Business and Social Sciences, Vol.2, No.9 September 2012
Kopel, Karen.(2013).Operation Sezuring Our Sites : How the Federal Government is Taking Domain Name Without Prior Notice.California:University of California Publication
Lane, Jan Erik.(2000).The Public Sector : Concept, Models, and Approaches.London:SAGE
Morrison, Wayne M.(2011).China-US Trade Issues.Congressional Research Service Tachjan,H.(2006).Implementasi Kebijakan Publik.Bandung:AIPI Bandung
Thomson Reuters.(2011).Top 100 Global Innovators : Honoring the World Leaders in Innovation, Finding and Methodology.New York: Thomson Reuters
U.S Customs and Border Protection (U.S CBP).(2011).2011 U.S. Intellectual Property Enforcement Coordinator Joint Strategic Plan : One Year
Anniversary.Washington DC : Executive Office of the President Publication U.S Customs and Border Protection (U.S CBP).(2012).2012 U.S. Intellectual Property
Enforcement Coordinator Joint Strategic Plan : Two Year
Anniversary.Washington DC : Executive Office of the President Publication U.S Customs and Border Protection (U.S CBP).(2012).Intellectual Property Rights
Fiscal Year 2011 Seizure Statistics.Washington DC:Homeland Security Publication
U.S Customs and Border Protection (U.S CBP).(2013).Intellectual Property Rights Fiscal Year 2012 Seizure Statistics.Washington DC:Homeland Security Publication
USTR.(2005).2005 Special 301 Report, dapat dilihat di
http://www.ustr.gov/assets/Document_Library/Reports_Publications/2005/2005 _Special_301/asset_upload_file195_7636.pdf [23 Mei 2013]
Wolff, Alan Wm, dkk.(2011).China’s Indigenous Innovation Policy. Testimoni pada US-China Economic and Security Review Commission tanggal 4 Mei