Window of Health : Jurnal Kesehatan, Vol. 1 No. 1 (Januari, 2018) E-ISSN 2614-5375

64 

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)

1

| Penerbit: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia

ARTIKEL RISET

URL artikel: http://jurnal.fkmumi.ac.id/index.php/woh/article/view/woh1101

Relaksasi Otot Progresif Menurunkan Tingkat Depresi pada Lansia

K

Wa Ode Sri Asnaniar1, Tutik Agustini1 1

Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muslim Indonesia Email Penulis Korespondensi (K): waode.sriasnaniar.umi.ac.id

ABSTRAK

Menua atau menjadi tua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan –lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang dideritanya (Santoso, dkk, 2009). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh relaksasi otot progresif terhadap tingkat depresi pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Gau Mabaji (PSTW) Kabupaten Gowa. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen semu atau quasi eksperimental dengan rancangan pretest and posttest with control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah lansia yang tinggal di PSTW Gau Mabaji Gowa yang berjumlah 95 orang. Sampel yang digunakan adalah lansia yang mengalami depresi yaitu 20 orang dengan teknik pengambilan proportional random sampling. Kelompok intervensi berjumlah 10 orang lansia dan kelompok kontrol berjumlah 10 orang lansia. Semua responden mengikuti penelitian hingga akhir penelitian. Uji statistik dengan menggunakan

independent t-test. Terdapat pengaruh relaksasi otot progresif terhadap penurunan depresi pada lansia. Diharapkan relaksasi otot progresif dapat menjadi terapi non farmakologi dalam pemberian asuhan keperawatan pada pasien lansia dengan depresi karena dapat dilakukan sendiri oleh lansia setiap waktu, tidak memerlukan biaya yang banyak, dan tidak memerlukan waktu yang lama.

Kata Kunci: Relaksasi Otot Progresif, Depresi, Lansia

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Menua atau menjadi tua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan –lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang dideritanya (Santoso, dkk, 2009). Pengaruh proses penuaan dapat menimbulkan berbagai masalah baik secara fisik, psikologi, maupun sosial bagi seseorang yang memasuki usia lanjut (Nugroho, 2008).

Perubahan penampilan fisik sebagai bagian dari proses penuaan yang normal, seperti berkurangnya ketajaman pancaindra, menurunnya daya tahan tubuh merupakan ancaman bagi integritas orang usia lanjut. Belum lagi mereka harus berhadapan dengan kehilangan peran diri, kedudukan social serta perpisahan dengan orang-orang yang dicintai. Kondisi seperti itu menyebabkan orang usia lanjut menjadi lebih rentan untuk mengalami masalah seperti kecemasan, ketakutan, dan depresi (FKUI, 2009).

Menurut proyeksi Bappenas jumlah penduduk lansia 60 tahun atau lebih akan meningkat dua kali lipat (36 juta) pada tahun 2025 (BKKBN, 2013). Data demografi pada tahun 2010 jumlah lansia di Sulawesi Selatan adalah 721.353 jiwa yaitu 9,19% dari total jumlah penduduk Sulawesi Selatan. Jumlah lansia di kota Makassar sebanyak 79.581 jiwa sedangkan di Kabupaten Gowa dengan jumlah lansia sebanyak 49.030 jiwa (BPS, 2010).

(5)

2

| Penerbit: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia

dihilangkan atau dipulihkan (Apriani, 2009).Tingginya jumlah lansia membutuhkan perhatian khusus terutama masalah kesehatan, salah satunya ditunjukkan dengan gejala depresi yang sering muncul pada lansia. Gejala depresi ini dapat memperpendek harapan hidup dengan mencetuskan atau memperburuk kemunduran fisik. Dampak terbesarnya sering terjadi di area-area tempat kepuasan dan kualitas hidup menurun, sehingga menghambat pemenuhan tugas-tugas perkembangan lansia (Stanley dan Beare, 2006).

Dari hasil penelitian Hasniar (2011) tentang tingkat depresi lansia di PSTW Gau Mabaji Gowa ditemukan dari 105 populasi terdapat 51 orang yang dijadikan sampel penelitian mengalami depresi. Latihan relaksasi progresif sebagai salah satu tehnik relaksasi otot telah terbukti dalam program terapi terhadap ketegangan otot mampu mengatasi keluhan anxietas, insomnia, kelelahan, kram otot, nyeri leher dan pinggang, tekanan darah tinggi, fobia ringan dan gagap (Davis, 1995) . Menurut Black and Mantasarin (1998) dalam (Ari & Pratiwi, 2010) bahwa teknik relaksasi progresif dapat digunakan untuk pelaksanaan masalah psikis. Berdasarkan penelitian Erviana & Arif (2008), teknik relaksasi dapat mempengaruhi perubahan status mental klien skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Surakarta. Mengacu pada hasil penelitian yang menunjukkan peran terapi non farmakologis dan kejadian depresi yang dialami oleh lansia maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang pengaruh terapi relaksasi otot progresif terhadap tingkat depresi pada lansia.

Tujuan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh relaksasi otot progresif terhadap tingkat depresi pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Gau Mabaji (PSTW) Kabupaten Gowa.

METODE

Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Panti Sosial Tresna Werdha Gau Mabaji Kabupaten Gowa. Penelitian dilakukan mulai bulan Mei – Juli 2015.

Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode eksperimen semu atau quasi eksperimental dengan rancangan pretest and posttest with control group design. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan dua kelompok yaitu kelompok intervensi atau perlakuan yang diberikan intervensi berupa latihan relaksasi otot progresif dan kelompok kontrol yang tidak diberikan intervensi berupa latihan relaksasi otot progresif.

Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah lansia yang tinggal di PSTW Gau Mabaji Gowa yang berjumlah 95 orang. Sampel yang digunakan adalah lansia yang mengalami depresi yaitu 20 orang dengan teknik pengambilan proportional random sampling. Kelompok intervensi berjumlah 10 orang lansia dan kelompok kontrol berjumlah 10 orang lansia. Semua responden mengikuti penelitian hingga akhir penelitian.

Pengumpulan Data

Data dikumpulkan menggunakan instrumen penelitian berupa kuesioner. Pengkajian pretest dan posttest

tingkat depresi pada lansia di PSTW Gau Mabaji Gowa dengan menggunakan Geriatric Depression Scale

(GDS) sedangkan latihan relaksasi otot progresif pada kelompok intervensi menggunakan lembar observasi. Tingkat depresi pada lansia diukur telebih dahulu (pretest) baik pada kelompok intervensi maupun kelompok kontrol. Pada kelompok intervensi diberikan relaksasi otot progresif yang dilakukan selama 2 minggu dengan frekuensi 6 kali dalam seminggu berdurasi 40 menit, sedangkan pada kelompok kontrol tidak diberikan perlakuan. Setelah 2 minggu pelaksanaan intervensi, diukur kembali tingkat depresi pada masing-masing kelompok yang dijadikan sampel (posttest).

Analisis Data

(6)

3

| Penerbit: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia

HASIL

Tabel 1. Distribusi Frekuensi Tingkat Depresi Kelompok Intervensi pada Lansia di PSTW Gau Mabaji Gowa

Tabel 1 menunjukkan bahwa tingkat depresi lansia pada saat Pretest pada kelompok intervensi sebagian besar mengalami depresi ringan yaitu sebanyak 7 responden (70%) dan depresi berat sebanyak 3 responden (30%). Setelah mendapatkan terapi latihan relaksasi otot progresif, tingkat depresi responden menurun yaitu dari depresi berat menjadi ringan dan bahkan ada yang menjadi normal dengan frekuensi depresi ringan sebanyak 6 orang (60%) dan normal sebanyak 4 responden (40%).

Tabel 2. Distribusi Frekuensi Tingkat Depresi Kelompok Kontrol pada Lansia di PSTW Gau Mabaji Gowa depresi ringan sebanyak 8 responden (80%) dan depresi berat sebanyak 2 responden (20%). Selanjutnya setelah

post test tingkat depresi lansia relatif tetap.

Tabel 3. Perbedaan Tingkat Depresi Posttest antara Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol pada Lansia di PSTW Gau Mabaji Gowa

Kelompok N Mean Mean difference Standar Deviasi p

Kelompok

Intervensi 10 4.40 5.00 2.366 0.000

Kelompok Kontrol 10 -0.6 0.966

Independent T-Test.

Berdasarkan tabel 3 menunjukkan bahwa perbedaan rerata antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol (mean difference) sebesar 5,00 dan Nilai p-value 0,000, karena nilai p-value lebih kecil dari 0,05, maka H0 ditolak dan disimpulkan terdapat perbedaan yang signifikan tingkat depresi responden pada kedua kelompok pada post test. Hasil ini menunjukkan bahwa pemberian teknik relaksasi progresif berdampak terhadap penurunan tingkat depresi lansia.

PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat penurunan tingkat depresi pada lansia kelompok intervensi setelah diberikan latihan relaksasi otot progresif sedangkan pada kelompok kontrol yang tidak diberikan intervensi memiliki tingkat depresi yang tetap. Berdasarkan analisis Independent T-Test diperoleh nilai p-value 0,000 yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan tingkat depresi responden pada kedua kelompok pada post test. Hal ini membuktikan bahwa relaksasi otot progresif yang dilakukan oleh lansia yang mengalami depresi dapat membantu mengurangi tingkat depresi.

(7)

4

| Penerbit: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia

isolasi sosial (Nugroho, 2008). Depresi dapat menyebabkan lansia menjadi kurang bersemangat dalam hidupnya (Kaplan, 2010).

Depresi pada lansia dapat ditangani dengan memberikan terapi kejiwaan memberikan terapi kejiwaan yang dinamakan psikoterapi (Davitson, 2002). Psikoterapi disebut juga sebagai terapi non farmakologi. Salah satu macam dari terapi non farmakologi adalah teknik otot progresif.

Dari hasil penelitian, setelah mendapatkan terapi latihan relaksasi otot progresif tingkat depresi responden menurun, yaitu dari depresi berat menjadi ringan dan bahkan ada yang menjadi normal dengan frekuensi depresi ringan sebanyak 6 orang (60%) dan normal sebanyak 4 responden (40%). Penurunan tingkat depresi lansia dari depresi berat menjadi depresi ringan atau normal. Relaksasi otot progresif dilakukan dengan menegangkan dan merilekskan atau melemaskan otot. Hal ini berkaitan dengan sistem saraf. Pada saat otot mengalami ketegangan, sistem saraf simpatis bekerja sedangkan pada waktu rileks, sistem saraf parasimpatis bekerja. Latihan relaksasi otot progresif dapat memberikan pemijatan halus pada berbagai kelenjar-kelenjar tubuh yang akan menurunkan produksi kortisol dalam darah, mengembalikan pengeluaran hormon yang secukupnya sehingga memberi keseimbangan emosi dan ketenangan pikiran(Bao, Meynen, & Swaab, 2008)

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa relaksasi otot progresif efektif untuk mengurangi ketegangan otot, kecemasan dan kelelahan yang dialami lansia sehingga akan mempengaruhi status mental lansia sehingga tingkat depresi berkurang. Hasil ini sesuai pendapat dari Pratiwi (2006) bahwa relaksasi dapat menjadi terapi untuk merilekskan tubuh. Teknik relaksasi akan mengembalikan proses mental, fisik dan emosi.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Erviana & Arif (2008) tentang pengaruh teknik relaksasi terhadap perubahan status mental klien skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Surakarta. Penelitian ini merupakan eksperimen dengan rancangan penelitian pretest-posttest with control group. Kesimpulan penelitian tersebut yaitu pada kelompok perlakuan yang mendapatkan teknik relaksasi ada perubahan yang cukup signifikan terhadap penilaian status mental; pada kelompok kontrol yang tidak mendapatkan teknik relaksasi tidak ada perubahan yang signifikan terhadap penilaian status mental; dan perbedaan yang terjadi setelah diberi teknik relaksasi pada kelompok perlakuan sangat baik dan berpengaruh sangat signifikan. Sedangkan pada kelompok kontrol tidak ada pengaruh yang cukup signifikan. Hasil penelitian ini juga didukung dengan penelitian Lumbantobing (2012) tentang pengaruh Progressive Muscle Relaxation terhadap depresi klien kanker yang menunjukkan adanya penurunan depresi dan peningkatan relaksasi pada klien dengan kanker.

Relaksasi otot progresif dapat menekan rasa tegang sehingga timbul perasaan rileks. Perasaan rileks akan diteruskan ke hipotalamus untuk menghasilkan Corticotropin Releasing Hormone (CRH) dan Corticotropin Releasing Hormone (CRH) mengaktifkan anterior pituitary untuk mensekresi enkephalin dan endorphin yang berperan sebagai neotransmiter yang mempengaruhi suasana hati menjadi rileks dan senang. Di samping itu, anterior pituitary sekresi Adrenocorticotropic hormone (ACTH) menurun, kemudian Adrenocorticotropic hormone (ACTH) mengontrol adrenal cortex untuk mengendalikan sekresi kortisol (Guyton & Hall,2011). Menurunnya kadar Adrenocorticotropic hormone (ACTH) dan kortisol menyebabkan stres dan ketegangan menurun yang akhirnya dapat menurunkan tingkat depresi (Bao et al., 2008).

KESIMPULAN

Terdapat pengaruh relaksasi otot progresif terhadap penurunan depresi pada lansia. Diharapkan relaksasi otot progresif dapat menjadi terapi non farmakologi dalam pemberian asuhan keperawatan pada pasien lansia dengan depresi karena dapat dilakukan sendiri oleh lansia setiap waktu, tidak memerlukan biaya yang banyak, dan tidak memerlukan waktu yang lama

DAFTAR PUSTAKA

Apriani, Triciana. (2009). Hubungan Tingkat Depresi Dengan Ketergantungan Dalam ADL pada lansia di Panti Werdha Darma Bakti Pajang Surakarta. Surakarta: Universitas Muhammadiyah

Ari, P. L. D., & Pratiwi, A. (2010). Pengaruh Relaksasi Progresif Terhadap Tingkat Kecemasan Pada Pasien Skizofrenia Di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta. Keperawatan, 03, 27–34.

Bao, a. M., Meynen, G., & Swaab, D. F. (2008). The stress system in depression and neurodegeneration: Focus on the human hypothalamus. Brain Research Reviews, 57(2), 531–553.

(8)

5

| Penerbit: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia

Davitson,GC.Neale,J.M,& Kring, A.M. (2006). Psikologi Abnormal Edisi 9. Terjemahan oleh Noermalasari Fajar. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

Erviana Kustanti & Arif Widodo. (2008). Pengaruh Teknik Relaksasi Terhadap Perubahan Status Mental Klien Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta. Berita Ilmu Keperawatan ISSN 1979-2697, Vol. I No. 3. September 2008.

FKUI. (2009). Pedoman Pengolahan Kesehatan Pasien Geriatrik Edisi 1. Jakarta : Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI.

Guyton & Hall. (2011). Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC.

Hasniar. (2011). Hubungan Ketergantungan Pemenuhan Activity Daily Living dengan Tingkat Depresi pada Lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Gau Mabaji Gowa. Skripsi tidak dipublikasikan. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia.

Kaplan,HI,Sadock,BJ,& Grebb,J.A. (2010). Buku Ajar Psikiatri. Jakarta : EGC

Lumbantombing, Duma. (2012). Pengaruh Progressive Muscle Relaxation dan Logoterapi terhadap Ansietas dan Depresi, Kemampuan Relaksasi dan Kemampuan Memaknai Hidup Klien Kanker di RS Kanker Dharmais. Tesis dipublikasikan. FKUI Jakarta

Nugroho, Wahyudi, (2008).Keperawatan Gerontologi & Geriatrik. Jakarta:EGC

Potter dan Perry. (2013). Fundamental of Nursing. Concepts, Process and Practice. (8th ed) Imprint of Elsivier Inc: Mosby

Pratiwi,A. (2006). Model Pengembangan Strategi tindakan Keperawatan pada Klien Halusinasi dengan Klasifikasi Akut,Maintanance, Health Promotion di RSJD Wilayah Karasidenan Surakarta.Tidak dipublikasikan. UMS

(9)

6

| Penerbit: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia

ARTIKEL RISET

URL artikel: http://jurnal.fkmumi.ac.id/index.php/woh/article/view/woh1102

Senam Lansia Menurunkan Tekanan Darah pada Lansia Hipertensi

K

Najihah1, Rahmawati Ramli1 1

Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muslim Indonesia Email Penulis Korespondensi (K): jia.najihah@yahoo.co.id

ABSTRAK

Lansia cenderung mengalami masalah kesehatan yang disebabkan oleh penurunan fungsi tubuh akibat proses penuaan. Gangguan kesehatan yang paling banyak dialami oleh lansia adalah kemunduran sistem kardiovaskuler. Katup jantung menebal dan menjadi kaku, kemampuan jantung memompa darah menurun 1% pertahun, berkurangnya curah jantung, berkurangnya denyut jantung terhadap respon stress, kehilangan elastisitas pembuluh darah, tekanan darah meningkat akibat resistensi pembuluh darah perifer. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh senam lansia terhadap perubahan tekanan darah pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Rappokalling. Desain penelitian yang digunakan yaitu pre-eksperimen dengan rancangan one group pre test-post test, dengan jumlah sampel sebanyak 14 orang. Pengambilan sampel pada penelitian ini adalah non probability sampling. Intervensi yang diberikan yaitu senam lansia yang dilakukan selama 3 minggu dengan frekuensi 3 kali dalam seminggu berdurasi 15-30 menit. Data di uji dengan uji statistik Paired Sample T-test. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pemberian senam lansia terhadap perubahan tekanan darah sistolik (p value 0,02) dan tekanan darah diastolik (p value 0,000) pada lansia hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Rappokalling sehingga dapat disimpulkan ada pengaruh pemberian latihan senam lansia terhadap penurunan tekanan darah pada lansia hipertensi dan diharapkan latihan senam lansia secara rutin dapat menjadi terapi non farmakologi dalam pemberian asuhan keperawatan pada pasien lansia.

Kata Kunci: Senam Lansia, Tekanan Darah, Lansia

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kualitas hidup lansia terus menurun seiring dengan semakin bertambahnya usia, sehingga diberikan kesempatan untuk dapat hidup nyaman dan mempertahankan keadaan fisiologis sejalan dengan perkembangan psikologis, di dalam kehidupan sehari-hari yang dijalani oleh lanjut usia (Ratmini dan Arifin, 2011). Menurut Mubarak dalam Mayuni (2013), gangguan kesehatan yang paling banyak dialami oleh lansia adalah kemunduran sistem kardiovaskuler. Katup jantung menebal dan menjadi kaku, kemampuan jantung memompa darah menurun 1% per tahun, berkurangnya curah jantung, berkurangnya denyut jantung terhadap respon stress, kehilangan elastisitas pembuluh darah, tekanan darah meningkat akibat resistensi pembuluh darah perifer dan manifestasi penyakit yang bisa ditimbulkan adalah hipertensi.

Berdasarkan profil kesehatan Indonesia, pada tahun 2011 jumlah lansia yang menderita hipertensi sebanyak 640.862 dari 18.312.055 orang, pada tahun 2012 jumlah lansia yang menderita hipertensi sebanyak 765.324 dari 18.584.905 orang. Jumlah lansia di Sulawesi Selatan yang menderita hipertensi pada tahun 2011 sebesar 3.829 dari 1.653.438 orang dan pada tahun 2012 jumlah lansia yang menderita hipertensi sebesar 4.697 dari 1.755.635 orang (Kemenkes RI, 2013). Meningkatnya jumlah kejadian hipertensi pada lansia menuntut peran tenaga kesehatan untuk melakukan pencegahan dan upaya promosi kesehatan. Pencegahan yang dapat

dilakukan oleh lansia agar terhindar dari penyakit hipertensi menggunakan dengan semboyan “Seimbangan gizi,

(10)

7

| Penerbit: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia

Latihan fisik seperti senam yang teratur juga membantu mencegah keadaan-keadaan atau penyakit kronis, seperti tekanan darah tinggi (hipertensi). Senam dapat meningkatkan aktivitas metabolisme tubuh dan kebutuhan oksigen. Senam lansia sangat penting untuk para lanjut usia dalam menjaga kesehatan tubuh lansia. Senam Lansia dilakukan dengan serangkaian gerak nada yang teratur, terarah dan terencana dalam bentuk latihan fisik yang berpengaruh terhadap kemampuan fisik lansia. Selain itu, senam lansia membantu tubuh agar tetap bugar dan segar karena dapat melatih tulang menjadi kuat, mendorong jantung bekerja optimal dan membantu menghilangkan radikal bebas yang berkeliaran di dalam tubuh (Widianti dan Atikah, 2010). Menurut Sherwood (2011) olahraga seperti senam lansia tingkat sedang yang dilakukan selama 15-60 menit yang dilakukan tiga kali/minggu sangat mempengaruhi tekanan darah yaitu bermanfaat dalam menurunkan tekanan darah.

Mengacu pada manfaat senam lansia terhadap tekanan darah lansia dan jumlah lansia yang mengalami hipertensi cukup banyak dan cenderung meningkat, maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang pengaruh senam lansia terhadap perubahan tekanan darah pada lansia hipertensi.

Tujuan

Tujuan penelitian ini adalah untuk meneliti tentang pengaruh senam lansia terhadap perubahan tekanan darah pada lansia hipertensi.

METODE

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Rappokalling Makassar. Penelitian dilakukan mulai bulan Januari-Februari 2017.

Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan pre eksperimental dengan one group pretest-postest design. Penelitian ini memberikan perlakuan pada kelompok tetapi sebelumnya diukur atau di test terlebih dahulu (pretest) selanjutnya setelah perlakuan atau intervensi, kelompok diukur atau di test kembali (posttest) tanpa kelompok pembanding.

Populasi dan Sampel

Populasi penelitian ini adalah lansia hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Rappokalling yang berjumlah 273 orang dengan 30 orang populasi lansia hipertensi. Sampel yang digunakan adalah lansia yang mengalami hipertensi yaitu 14 orang dengan teknik non probability sampling dengan pendekatan accidental sampling.

Pengumpulan Data

Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar kuesioner yang berisi data demografi yang terdiri dari nama, umur, dan jenis kelamin. Lembar kuesioner juga berisi lembar pengamatan (observasi) untuk pengukuran tekanan darah pada lansia. Alat pengukur tekanan darah yang digunakan yaitu sphygmomanometer air raksa dan stetoskop.

HASIL

Tabel 1 menujukkan untuk tekanan darah sistolik didapatkan hasil mean pretest 172, 86 dan untuk mean posttest 167,86 sehingga dapat dilihat adanya perubahan tekanan darah sistolik sebelum dan setelah senam lansia dengan selisih 5,000. Sedangkan, untuk tekanan darah diastolik didapatkan hasil mean pretest 103,57 dan untuk mean posttest 92,86 sehingga dapat dilihat adanya perubahan tekanan darah diastolik sebelum dan setelah senam lansia dengan selisih 10,714.

Tabel 1. Hasil Uji Paired T Test

Variabel n Mean Selisih p

TD Sistolik Pre-Test 14 172,86

5,000 0,020 TD Sistolik Post-Test 14 167,86

TD Diastolik Pre-Test 14 103,57

(11)

8

| Penerbit: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia

Dari hasil uji paired T test diperoleh p value 0,02 untuk tekanan darah sistolik dan p value 0,000 untuk tekanan darah diastolik dimana p value < 0,05, sehingga Ho ditolak yang berarti ada pengaruh sebelum dan setelah senam lansia terhadap perubahan tekanan darah lansia hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Rappokalling.

PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa mean tekanan darah sistolik pretest 172,86 dan untuk mean posttest 167,86 sehingga dapat dilihat adanya perubahan tekanan darah sistolik sebelum dan setelah senam lansia dengan selisih 5,000. Dari hasil uji statistik dengan menggunakan Paired T Test didapatkan nilai p value 0,02 dimana p value <0,05 yang artinya terdapat pengaruh senam lansia terhadap tekanan darah sistolik pada lansia hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Rappokalling.

Selain itu, diketahui pula mean tekanan darah diastolik pretest 103,57 dan untuk mean posttest 92,86 sehingga dapat dilihat adanya penuruna tekanan darah diastolik sebelum dan setelah senam lansia dengan selisih 10,714. Dari hasil uji statistik dengan menggunakan Paired T Test didapatkan nilai p value 0,000 dimana p value < 0,05 yang artinya terdapat pengaruh senam lansia terhadap tekanan darah diastolik pada lansia hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Rappokalling.

Hipertensi sendiri menurut Muhammad (2010) dapat disebabkan oleh kurangnya aktifitas fisik. Ketidakaktifan fisik meningkatkan resiko Cardiac Heart Desease (CHD) yang setara dengan hiperlipidemia atau merokok, dan seseorang yang tidak aktif secara fisik memiliki resiko 30-50% lebih besar untuk mengalami hipertensi (Price & Wilson, 2006). Manfaat dari aktifitas fisik adalah dapat melancarkan sirkulasi darah, memperkuat dan menjaga elastisitas otot, menurunkan tekanan darah dan mengurangi kolesterol dan membakar kalori sehingga dapat menurunkan berat badan (Muhammad, 2010). Penelitian oleh Lord, Caplan dan Ward (1993) dalam Potter & Perry (2005) menemukan bahwa olahraga dapat memainkan peranan dalam meningkatkan sensori-motorik sejumlah sistem yang mempengaruhi stabilitas seperti kekuatan otot.

Dengan adanya latihan fisik atau senam lansia yang teratur dan terus menerus maka katup-katup jantung yang tadinya mengalami sklerosis dan penebalan berangsur kembali pada kondisi dasar atau normal, miokard tidak terjadi kekakuan lagi, adanya kontraksi otot jantung, isi sekuncup dan curah jantung tidak lagi mengalami peningkatan. Hal ini akan mengakibatkan tekanan darah tidak lagi meningkat atau mengalami penurunan tekanan darah (Maryam, 2008). Selain itu, dengan olahraga seperti senam maka sel, jaringan membutuhkan peningkatan oksigen dan glukosa untuk membentuk ATP. Terkait dengan pembuluh darah maka dapat digambarkan bahwa pembuluh darah mengalami pelebaran (vasodilatasi), serta pembuluh darah yang belum terbuka akan terbuka sehingga aliran darah ke sel, jaringan meningkat (Darmojo, 2010).

Senam lansia dapat menurunkan tekanan darah karena melakukan olahraga seperti senam lansia mampu mendorong jantung bekerja secara optimal, dimana olahraga untuk jantung mampu meningkatkan kebutuhan energi oleh sel, jaringan dan organ tubuh, dimana akibat peningkatan tersebut akan meningkatkan aktivitas pernafasan dan otot rangka, dari peningkatan aktivitas pernafasan akan meningkatkan aliran balik vena sehingga menyebabkan peningkatan volume yang akan lansung meningkatkan curah jantung sehingga menyebabkan tekanan darah arteri meningkat sedang, setelah tekanan darah arteri meningkat akan terjadi fase istirahat terlebih dahulu, akibat dari fase ini mampu menurunkan aktivitas pernafasan dan otot rangka dan menyebabkan aktivitas saraf simpatis dan epinefrin menurun, namun aktivitas saraf simpatis meningkat, setelah itu akan menyebabkan kecepatan denyut jantung menurun, volume sekuncup menurun, vasodilatasi arteriol vena, karena penurunan ini mengakibatkan penurunan curah jantung dan penurunan resistensi perifer total, sehingga terjadinya penurunan tekanan darah (Sherwood, 2011).

Penelitian yang dilakukan di BPLU Senja Cerah Paniki Bawah menujukkan bahwa dari awal sebelum melakukan kegiatan senam bugar lansia sampai minggu ke 3 perlakuan didapatkan tekanan darah sistolik pada lansia mengalami penurunan yang menunjukan perbedaan bermakna, sedangkan tekanan darah diastolik mengalami kenaikan dan tidak menunjukan perbedaan bermakna tapi masih dalam batas normal (Moniaga dkk, 2013). Selain itu, Hasil penelitian di Desa Leyangan Kecamatan Ungaran Timur Kabupaten Semarang menunjukkan ada perbedaan yang signifikan tekanan darah sistolik maupun diastolik kelompok intervensi (p value 0,000 dan p value 0,000) serta tidak ada perbedaan yang signifikan tekanan darah sistolik maupun diastolik kelompok kontrol (p value 0,634 dan p value 0,089). Sehingga disimpulkan ada pengaruh pemberian senam lansia terhadap tekanan darah pada lansia penderita hipertensi (p value 0,000) baik tekanan darah sistolik maupun diastolik (Irmawati, 2013).

(12)

9

| Penerbit: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia

KESIMPULAN

Senam lansia dapat menurunkan tekanan darah pada lansia hipertensi. Diharapkan bagi lansia hipertensi untuk melakukan senam lansia sebagai terapi non farmakologik secara rutin, serta senam lansia yang tidak aktif supaya diaktifkan kembali dibawah pengawasan Puskesmas.

DAFTAR PUSTAKA

Astari,P, D. (2012). Pengaruh Senam Lansia terhadap Tekanan Darah Lansia dengan Hipertensi pada Kelompok Senam Lansia di Banjar Kaja Sesatan Denpasar Selatan. (Skripsi, Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Udayana Denpasar).

Darmojo, B. (2010). Buku Ajar Geriatrik (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut) Edisi ke-4. Semarang: Balai Penerbit FKUI.

Irmawati (2013). Pengaruh Senam Lansia terhadap Tekanan Darah pada Lansia Penderita Hipertensi di Desa Leyangan Kecamatan Ungaran Timur Kabupaten Semarang. (Skripsi. STIKES Ngudi Waluyo Ungaran) Kemenkes RI. (2013). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Lumbantobing, S. M. (2008). Tekanan Darah Tinggi. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

Maryam, R. S., dkk. (2008). Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Jakarta: Salemba Medika

Mayuni, A. O. (2013). Senam Lansia Menurunkan Tekanan Darah. (Skripsi. Poltekkes Denpasar: Jurusan Keperawatan).

Menpora. (2008). Senam Lanjut Usia. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Olahraga.

Muchtadi, D. (2013). Antioksidan & Kiat Kesehatan di Usia Produktif. Bandung: Penerbit Alfabeta Muhammad, N. (2010). 100 Tanya Jawab Kesehatan Harian untuk Lansia. Jogjakarta: Tunas Publising. Moniaga, V,.dkk (2013). Pengaruh senam bugar lansia terhadap tekanan darah penderita hipertensi di BPLU

Senja Cerah Paniki Bawah. (Skripsi. Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado). Nugroho, W. (2012). Keperawatan Gerontik & Geriatrik Edisi 3. Jakarta: EGC.

Ode, S. L. (2012). Asuhan Keperawatan Gerontik. Yogyakarta: Nuha Medika.

Pamungkas, B,.dkk (2015). Pengaruh senam lansia terhadap tekanan darah pada lansia penderita hipertensi di Posyandu Lansia Dusun Banaran 8 Playen Gunungkidul. (Skripsi. Stikes Aisyah Yogyakarta)

Pearce, E. C. (2007). Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: PT Gramedia.

Price, S. A., & Wilson, L. M. (2006). Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6 Volume 1. Jakarta: EGC.

Ratmini, K, T. dan Arifin. (2011). Hubungan Kesehatan Mulut dengan Kualitas Hidup Lansia, (online), Jurnal Ilmu Gizi,. 2, 2 dan 8, (http://Poltekkes-denpasar.ac.id/files/JIP/V2N2/Ratmini.pdf, diakses 22 Februari 2016). Ronny, S. (2009). Senam Vitalisasi Otak Meningkatkan Kognitif Lansia. Jakarta: Salemba Medika.

Sherwood, Lauralee. (2011). Fisiologi Kedokteran : Dari Sel ke Sistem Edisi 6. Jakarta: EGC.

Suroto. (2004). Buku Pegangan Kuliah: Pengertian Senam, Manfaat Senam dan Urutan Gerakan. Semarang: Unit Pelaksana Teknis Mata Kuliah Olahraga Universitas Diponegoro.

(13)

10

| Penerbit: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia

ARTIKEL RISET

URL artikel: http://jurnal.fkmumi.ac.id/index.php/woh/article/view/woh1103

Efektivitas Ekstrak Dahan Kelor Terhadap Mortalitas Larva Aedes aegypti

K

Alfina Baharuddin1 1

Prodi Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia Email Penulis Korespondensi (K): alfina.riyadi@gmail.com

ABSTRAK

Tingginya angka kasus DBD di Indonesia sehingga perlu diadakan upaya pengendalian vector. batang kelor digunakan sebagai anti nyamuk alami diangap mampu memetikan jentik. Hal ini disebabkan terdapat senyawa steroid, triterpenoid, alkaloid, saponin, flavanoid, dan tanin di dalam batang dahan kelor. Jenis Penelitian yang digunakan adalah eksperimental dengan metode post test only control group design. Pengumpulan data dilakukan dengan menghitung jumlah larva Aedes aegypti instar III yang mati disetiap jenis konsentrasi salinitas selama waktu pemaparan. Percobaan dilakukan sebanyak 4 kali, Pengamatan, perhitungan dan pencatatan jumlah larva yang hidup dan mati setiap 24, 32, 40 dan 48 jam setelah perlakuan. Data yang telah dikumpulkan dan dianalisis kemudian disajikan dalam bentuk tabel dan narasi. Pada konsentrasi 3% pada estrak kulit dahan kelor pada waktu pengukuran 24 jam pada masing-masing perlakuan 1 (3), perlakuan 2 (3), perlakuan 3 (3), perlakuan 4 (1) dengan presentase rata-rata kematian jentik yaitu 27,5%. Konsentrasi 3% ekstrak kulit dahan kelor efektif membunuh jentik Aedes aegepty sebesar 45% dalam waktu 48 jam. Konsentrasi 3,5% ekstrak kulit dahan kelor efektif membunuh jentik Aedes aegepty sebesar 45% dalam waktu 24 jam. Konsentrasi 4% ekstrak kulit dahan kelor efektif membunuh jentik Aedes aegepty sebesar 67,5% dalam waktu 24 jam. Lama waktu paparan yang efektif yaitu 24 jam yang menyebabkan kematian 67,5 % Aedes aegypti.

Kata Kunci: Efektifitas,Aedes aegypti, Dahan kelor, Mortalitas

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit menular yang berbahaya dapat menimbulkan kematian dalam waktu singkat dan sering menimbulkan wabah1. Penyakit demam berdarah sampai saat ini masih merupakan masalah dibanyak negara terutama di negara-negara berkembang. WHO memperkirakan terdapat 50 juta kasus DBD terjadi setiap tahunnya, sebanyak 500.000 kasus membutuhkan perawatan rumah sakit dan sedikitnya terdapat 22.000 kematian (Siregar, 2004).

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Makassar melaporkan kasus DBD tiga tahun terakhir menunjukkan jumlahnya sebanyak 265 kasus pada tahun 2010, tahun 2011 turun menjadi 115 kasus (0,182%) dan turun lagi pada tahun 2012 dengan jumlah kasus sebanyak 2,83%). Demikian halnya dengan jumlah kematian akibat DBD pada tahun 2010 sebanyak 3 orang dan pada tahun 2011 sebanyak 2 orang, tahun 2012 sebanyak 1 orang (Dinkes Makassar, 2014).

(14)

11

| Penerbit: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia

berulang-ulang kurang efektif karena dapat menyebabkan resistensi bagi larva, kematian bagi hewan predator larva dan pencemaran lingkungan (Yunita,dkk 2013).

Kelor (Moringa oliefera Lamk.) adalah salah satu tumbuhan yang telah dikenal di Indonesia, tetapi multi manfaatnya belum banyak dipahami oleh masyaraka. Mereka yang telah mengetahui manfaatnya menyebut tanaman ini sebagai miracle plant. Hal ini dikarenakan tanaman kelor dimanfaatkan mulai dari biji, daun, hingga kulit batang dan akarnya. Tanaman kelor bagi komunitas masyarakat Indonesia pada umumnya belum menjadi perhatian (Anonim, 2012).

Sebagian komunitas masyarakat Indonesia, khusus di daerah kota ParepareSulawesi Selatan menggunakan tanaman kelor khusus kulit batangnya sebagai anti nyamuk alami. Dengan cara mengeringkan dan membakar batangnya. Namun hal ini hanya landasan empiris, karena sebaiknya dilakukan penelitian dari dasar untuk mengetahui kegunaan tumbuhan ini secara ilmiah berdasarkan kandungan senyawa yang terdapat didalamnya (WHO, 1999).

Berdasarkan penggunaannya di masyarakat tumbuhan kelor khususnya. Kulit batang kelor digunakan sebagai anti nyamuk alami (Ikalius. R, 2013). Cara penggunaannya dengan cara mengeringkan batang dan membakarnya. Berdasarkan hasil uji pendahuluan golongan senyawa metabolit sekunder dari tumbuhan kelor, terdapat senyawa steroid, triterpenoid, alkaloid, saponin, flavanoid, dan tannin (Taufik, Noor, 2011) . Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk menguji evektivitas ekstrak dahan kelor terhadap mortalitas larva Aedes aegypti yang nantinya dapat digunakan untuk mendukung program pemerintah dalam upaya pengendalian vektor DBD.

Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas konsentrasi 3%, 3,5%, 4%, ekstrak kulit dahan kelor yang dapat menyebabkan kematian larva Aedes aegypti serta Mengetahui suhu sebelum dan sesudah penambahan ekstrak dahan kelor yang dapat menyebabkan kematian larva Aedes aegypti dan lama waktu paparan yang dapat menyebabkan kematian larva Aedes aegypti.

METODE Desain Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan post test only control group design.

Lokasi dan Waktu Penelitan

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium terpadu kesmas FKM UMI pada bulan Desember Tahun 2016

Perlakuan Postest

R (Kelompok Eksperimen)

T1 → 01

T2 → 02

T3 → 03

T4 → 04

R (Kelompok Kontrol) → 05

Gambar 1. Skema Rancangan Penelitian Ket

T1-4: konsentrasi ekstrak dahan kelor yang dipaparkan pada larva Aedes aegypti

01-4: Obeservasi terhadap jumlah kematian larva Aedes aegypti setelah diberi konsentrasi ekstrak dahan kelor 05: Kelompok yang tidak diberi perlakuan (Kelompok kontrol)

Subyek Penelitian

(15)

12

| Penerbit: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia

Pengolahan data

Data yang diperoleh dari hasil pemeriksaan di laboratorium tersebut akan dianalisa dengan menggunakan uji probit dan analisis variansi (ANOVA) untuk mengetahui pengaruh atau perbedaan yang ditimbulkan oleh masing masing perlakuan.

Penyajian data

Data yang telah dikumpulkan dan dianalisis kemudian disajikan dalam bentuk tabel dan narasi untuk kemudian dibahas sebagai hasil penelitian

HASIL

Berdasarkan tabel 1 menunjukkan bahwa kematian jentik pada konsentrasi 3% pada estrak kulit dahan kelor pada waktu pengukuran 24 jam pada masing-masing perlakuan 1 (3), perlakuan 2 (3), perlakuan 3 (3), perlakuan 4 (1) dengan presentase rata-rata kematian jentik yaitu 27,5%.

Tabel 1 Kematian Jentik Aedes aegypti dengan Konsentrasi 3% Ekstrak Kulit Dahan Kelor

Waktu Jumlah Kematian Jentik Setiap Replikasi % Rata-rata (Jam) Perlakuan Perlakuan Perlakuan Perlakuan Kontrol Kematian

I II III IV Jentik

24 4 3 3 1 0 27,5

32 3 0 1 3 0 17,5

40 0 3 0 1 0 10

48 3 4 6 5 0 45

Total 10 10 10 10 0 100

Berdasarkan tabel 2 menunjukkan bahwa kematian jentik pada konsentrasi 3,5% pada estrak kulit dahan kelor pada waktu pengukuran 24 jam pada masing-masing perlakuan 1 (7), perlakuan 2 (3), perlakuan 3 (3), perlakuan 4 (3) dengan presentase rata-rata kematian jentik yaitu 45%.

Tabel 2 Kematian Jentik Aedes aegypti dengan Konsentrasi 3,5% Ekstrak Kulit Dahan Kelor

Waktu Jumlah Kematian Jentik Setiap Replikasi % Rata-rata Perlakuan I Perlakuan II Perlakuan III Perlakuan IV Kontrol Kematian Jentik (Jam)

24 7 5 3 3 0 45

32 3 2 0 2 0 17,5

40 0 3 7 5 0 37,5

48 0 0 0 0 0 0

Total 10 10 10 10 0 100

(16)

13

| Penerbit: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia

Tabel 3. Kematian Jentik Aedes aegypti dengan Konsentrasi 4% Ekstrak Kulit Dahan Kelor

Waktu Perlakuan I Perlakuan II Perlakuan III Perlakuan IV

24 8 8 5 6 0 67,5

32 1 0 3 3 0 17,5

40 1 2 2 1 0 15

48 0 0 0 0 0 0

Total 10 10 10 10 0 100

Berdasarkan tabel 4 menunjukkan bahwa pemeriksaan suhu rata-rata sebelum penambahan ekstrak kulit dahan kelor yaitu pada konsentrasi 3% dengan durasi waktu 24 jam (25,9°C), 32 Jam (26,8°C), 40 jam (27,0°C) dan 48 jam (26,3°C). Pemeriksaan suhu rata-rata sebelum penambahan ekstrak kulit dahan kelor yaitu pada konsentrasi 3,5% dengan durasi waktu 24 jam (26,8°C), 32 jam (26,8°C), 40 jam (26,5°C) dan 48 jam (25,9°C).

Tabel 4. Pemeriksaan Suhu Sebelum Penambahan Ekstrak Kulit Dahan Kelor

Perlakuan Waktu (Jam)

Suhu (°C) Setiap Replikasi ∑ Rata -rata Perlakuan I Perlakuan II Perlakuan III Perlakuan IV

Kontrol 25,5 °C 26,0 °C 26,3 °C 26,3 °C 25,9 °C

Tabel 5 berikut ini menunjukkan bahwa pemeriksaan suhu rata-rata sesudah penambahan ekstrak kulit dahan kelor yaitu pada konsentrasi 3% dengan durasi waktu 24 jam (27,0°C), 32 jam (26,4°C), 40 jam (25,5°C) dan 48 jam (26,1°C). Pemeriksaan suhu rata-rata sesudah penambahan ekstrak kulit dahan kelor yaitu pada konsentrasi 3,5% dengan durasi waktu 24 jam (27,0°C), 32 jam (26,4°C), 40 jam (27,4°C) dan 48 jam (26,7°C).

Tabel 5. Pemeriksaan Suhu Sesudah Penambahan Ekstrak Kulit Dahan Kelor

Perlakuan Waktu (Jam)

Suhu (°C) Setiap Replikasi ∑ Rata -rata Perlakuan I Perlakuan II Perlakuan III Perlakuan IV

(17)

14

| Penerbit: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia

PEMBAHASAN

Kulit batang kelor telah dilaporkan khasiatnya sebagai anti-inflamasi, antioxidant, dan antimicrobial. Uji fitokimia Ikalinus menunjukan kulit batang kelor mengandung senyawa aktif seperti steroid, alkaloid, tannin, fenolat, dan flavonoid. Tannin merupakan suatu senyawa polifenol yang larut dalam air dan berfungsi sebagai antioksidan dan penghambat pertumbuhan tumor (Siregar, F, 2004).

Senyawa alkaloid merupakan senyawa aktif bahan alam yang memiliki aktivitas hipoglikemia. Flavonoid merupakan senyawa fenolik yang potensial sebagai antioksidan dan mempunyai bioaktifitas sebagai obat. Senyawa flavonoid dapat berfungsi sebagai antioksidan, antidiabetik, antikanker, antiseptik, dan anti-inflamasi (Adifian dkk, 2013).

Ekstrak kulit dahan kelor dengan konsentrasi 3%,dikatakan efektif dalam membunuh jentik Aedes aegypti karena setelah pengamatan diperoleh persentasi kematian sebesar 100% selama 48 jam. Tanaman kelor mengandung senyawa steroid, triterpenoid, alkaloid, saponin, flavanoid, dan tanin, dan zat-zat tersebutlah yang membunuh jentik Aedes aegypti.

Ekstrak kulit dahan kelor dengan konsentrasi 3,5% dinyatakan efektif membunuh jentik Aedes aegypti

sebesar 100% selama 48 jam pengamatan. Hal ini disebabkan oleh Steroid dan triterpenoid berfungsi untuk menghambat daya makan jentik. Tanin dapat menyebabkan rasa sepat, alkaloid bertindak sebagai stomach poisoning atau racun perut. flavonoid sebagai racun pernapasan, serta saponin yang bekerja sebagai racun perut. Hal ini menunjukkan semakin tinggi konsentrasi ekstrak yang digunakan maka semakin banyak jumlah jentik yang mati dan semakin sedikit waktu kontak ekstrak terhadap jentik. Akan tetapi hal tersebut terjadi jika pada masing-masing perlakuan tidak terjadi penguapan/penurunan daya bunuh ekstrak atau dengan adanya pengaruh lingkungan luar.

Ekstrak kulit dahan kelor dengan konsentrasi 4% dikatakan efektif membunuh jentik Aedes aegypti

sebesar 100% dalam waktu 48 jam pengamatan. Pada perlakuan II dalam waktu 32 jam tidak terdapat jentik yang mati, namun di waktu selanjutnya yaitu 40 jam masih terdapat 2 ekor yang mati. Dalam hal ini dapat dilihat bahwa rentan waktu yang dibutuhkan ekstrak untuk membunuh jentik terbilang cukup lama karena kemampuan ekstrak mulai menurun. Hal ini sejalan dengan teori yang menyatakan bahwa insektisida nabati mudah terurai dengan cepat di lingkungan (Chandra Tama, 2013).

Penolak nyamuk Pada tahap pupa, ekstrak metanol kelor menunjukkan LC50 dan LC90 67,77 ppm dan 141,00 ppm. Penelitian membuktikan kandungan fitokimia ekstrak biji kelor efektif sebagai agen kontrol vektor nyamuk. Pemberian ekstrak dahan kelor (moringa) menurunkan kenaikan CCI4-induced aktivitas serum aminotransferase dan level globulin. Peningkatan kandungan hepatic hydroxyproline dan aktivitas myeloperoxidase juga menurun dengan perlakuan moringa. Ekstrak dahan kelor menunjukkan efek penghambatan signifikan pada radikal bebas 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl. Aktivitas superoxide dismutase serta kandungan malondialdehyde maupun protein carbonyl, yang merupakan penanda stres oksidatif, berbalik setelah perlakuan kelor. Hasil menunjukkan ekstrak dahan kelor dapat berperan sebagai pengusir nyamuk alami. Analisis fitokimia menemukan kandungan tanin, flavonoid, steroid, dan alkaloid. Nilai LC50 diperoleh pada 850 µg/ml untuk ekstrak petroleum eter, 800 µg/ml untuk ekstrak kloroform, dan 900 µg/ml untuk ekstrak metanol. Kandungan fenol total ekstrak metanol 50,72% w/w, ekuivalen dengan asam galat. Ekstrak petroleum eter, kloroform, dan metanol kelor serta standar asam askorbat ditemukan memburu radikal DPPH dengan IC50 124,75; 112,08; 54,34; dan 13,86 µg/ml. Ekstrak metanol terbukti menjadi pemburu yang baik bagi radikal DPPH. Ekstrak metanol dari fraksi larut petroleum eter, kloroform, etil asetat kelor serta asam askorbat terbukti menjadi pemburu radikal nitrit oksida dengan IC50 93,32; 65,12; 54,83; dan 12,59 µg/ml sehingga dapat disimpulkan ekstrak kasar kelor berpotensi sebagai sumber antioksidan alami (Hasanuddin Ishak, dkk, 2005). .

Antioksidan Dengan menggunakan sistem model oksidase xanthine, semua ekstrak menunjukkan aktivitas antioksidan in vitro kuat dengan konsentrasi penghambatan 50% (IC50) 16, 30, dan 38 µl untuk akar, daun, dan kulit kayu. Kapasitas pemburu radikal diobservasi ketika ekstrak dievaluasi dengan sistem model uji 2-deoxyguanosine, dengan IC50 40, 58, dan 72 µl untuk ekstrak metanol daun, batang, kulit akar (Taufik Nor. 2011).

Berdasarkan penggunaannya di masyarakat tumbuhan kelor khususnya.Kulit batang kelor digunakan sebagai anti nyamuk alami16. Cara penggunaannya dengan cara mengeringkan batang dan membakarnya. Berdasarkan hasil uji pendahuluan golongan senyawa metabolit sekunder dari tumbuhan kelor, terdapat senyawa steroid, triterpenoid, alkaloid, saponin, flavanoid, dan tanin

KESIMPULAN

(18)

15

| Penerbit: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia

digunakan untuk penampungan air di luar rumah seperti gentongan/bak. Selain itu masyarakat dianjurkan untuk membudidayakan tanaman kelor karena dapat digunakan sebagai larvasida jentik Aedes aegypti yang ramah lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. (2012). Informasi Spesies Tanaman Kelor. (online), (http://www. Kelor(Moringaoleifera). html, diakses Februari 2016 )

Adifian dkk, (2013) Kemampuan Adaptasi Nyamuk Ades aegypti Dan Aedes albopictus Dalam Berkembang BiakBerdasakan Jenis Air. Jurnal Media Kesehatan Makassar, Unhas.

Chandra Tama. (2013). Sifat Dan Cara Kerja Racun Pestisida. (online). (http://chandratama. wordpress. com/2013/03/21/sifat-dan-cara-kerja-racun-pestisida/, diakses 19 Juni 2015)

Cahyati, WH, (2009). Dinamika Aedes aegypti sebagai vektor penyakit. Volume 2/No.1/Juli-Desember 2009. Semarang

Canyon, D. dkk. (2008). Adaptation of Aedes aegypti (Diptera: Culicidae) Oviposition Behavior in Respone to Humidity and Diet. J Insect Physiol, 45 (10). 959-964

Depkes (2005). Pencegahan dan Pemberantasan Demam Berdarah Dengue di Indonesia, Dirjen P2 & PL, Dep Kes RI, Jakarta

Dinas Kesehatan Kota Makassar, (2014) Profil Kesehatan Kota Makassar. Susanto, 2007. Waspadai Gigitan Nyamuk. PT Sunda Kelapa Putaka

Hasanuddin Ishak, dkk, (2005). Uji Kerentanan Aedes aegypti terhadap Malathion dan Efektifitas Tiga Jenis Insektisida, Propoksur Komersial di Kota Makassar. Jurnal Med.Nasional .26 (4), 235–239

Ikalinus R. (2013). Skrining Fitokimia Ekstrak Etanol Kulit Batang Kelor (Moringa oleifera). FKH UNUD Denpasar.

Siregar, F. (2004). Epidemiologi dan Pemberantasan Demam Berdarah Dengue di Indonesia. Fakultas Kesehatan Masyarakat USU, Medan

Taufik Nor. (2011). Aktivitas Larvasida Ekstrak Kulit Batang kelor (Moringa Oleifer Lam) Terhadap Jentik Nyamuk Aedesaegypti. Samarinda : Fakultas Farmasi Universitas Mulawarman. (online), (http://wwww. aktivitas-larvasida-kulit-batang-kelor. pdf, diakses 3 Februari 2016)

Yunita dkk, (2009). Pengaruh ekstrak daun teklan (Eupatorium riparium) terhadap mortalitas dan perkembangan larva Aedes aegypti. Jurnal Bioma 11:11-17.

WHO. (1999). DBD, Diagnosis, Pengobatan, Pencegahan, Dan Pengendalian. Penerbit buku kedokteran. Gede Purnama. 2010. Buku Ajar Pengendalian Vektor DBD. Bandung : Program Studi Kesehatan Masyarakat, Universitas Udayana. (online) (http://Pengendalianvektor. com, diakses Februari 2016)

(19)

16

| Penerbit: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia

ARTIKEL RISET

URL artikel: http://jurnal.fkmumi.ac.id/index.php/woh/article/view/woh1104

Pengetahuan Meningkatkan Pemberian Asi Eksklusif Pada Ibu di Makassar

KSundari1, Andi Masnilawati1,

1

Bagian Kebidanan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muslim Indonesia Email Penulis Korespondensi (K): ndari_gani@yahoo.com

ABSTRAK

ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi karena mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan bayi dalam jumlah yang sesuai dan zat imunologik yang melindungi bayi dari infeksi. Hal ini disebabkan adanya antibodi yang terkandung dalam kolostrum ASI. Bayi yang diberi ASI dapat mengatur asupan energi berhubungan dengan respon internal dalam menyadari rasa kenyang. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan dan pekerjaan dengan pemberian ASI eksklusif pada ibu di Makassar. Desain penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan menggunakan rancangan cross sectional. Data kuantitatif kemudian dianalisis secara deskriptif berupa distribusi frekuensi karakteristik ibu yang memiliki anak 7-12 bulan. Analisis

chi square digunakan untuk membandingkan data kategorik pengaruh meliputi pengetahuan dan status pekerjaan terhadap pemberian ASI eksklusif dengan menggunakan uji chi square dengan bantuan program komputer. Pengetahuan responden yang baik tentang ASI eksklusif (67,9%) dan pengetahuan tentang ASI eksklusif kurang (32,1%). Distribusi ibu yg bekerja (54%) dan distribusi ibu yang tidak bekerja (45,7%). Ibu yang tidak bekerja memilih tidak menyusui sebanyak 37,8%. Pengetahuan terhadap pemahaman ASI eksklusif ibu berhubungan dengan tindakan nyata ibu untuk memberikan ASI secara eksklusif pada bayi di Makassar. Pekerjaan ibu tidak berhubungan terhadap tindakan nyata ibu untuk memberikan ASI secara eksklusif pada bayi di Makassar. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan yang baik tentang ASI eksklusif meningkatkan pemberian ASI eksklusif.

Kata Kunci: Pengetahuan, Pekerjaan, ASI eksklusif

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pemberian ASI secara eksklusif dipandang sebagai intervensi yang penting untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas neonatal, bayi atau anak dan strategi yang baik dalam kelangsungan hidup anak. (Bhutta & Labbok, 2011; Edmond, et al, 2006). Air susu ibu (ASI) merupakan asupan yang sangat baik pada seribu hari pertama kelahiran. Pemberian ASI pada bayi merupakan cara terbaik peningkatan gizi dan kualitas sumber daya manusia. ASI mengandung zat-zat gizi yang struktur dan kualitasnya sangat cocok dan mudah diserap oleh bayi. Pemberian ASI mengoptimalkan perkembangan syaraf dan otak, memberikan zat-zat kekebalan terhadap penyakit dan menunjukkan ikatan emosional antara ibu dan bayinya (Roesli, 2008).

(20)

17

| Penerbit: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia

lama dikaitkan dengan perkembangan kognitif dan motorik yang lebih baik pada anak-anak usia 2-3 tahun (Bernard, et al, 2013). Persalinan anak tunggal di Inggris yang diberi ASI berhubungan dengan peningkatan perkembangan kognitif, khususnya pada anak yang lahir prematur di banding dengan anak yang tidak diberikan ASI (Quigley, 2012). Beberapa nutrisi termasuk vitamin A, D, B1, B2, B6, dan B12, asam lemak, dan yodium yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi ada dalam ASI (Valentine & Wagner, 2013).

Berdasarkan hal tersebut di atas penulis merasa perlu melakukan penelitian tentang hubungan antara pengetahuan, status pekerjaan terhadap pemberian ASI eksklusif dan dipilih lokasi penelitian di Makassar karena beragamnya pekerjaan ibu dengan asumsi beragam pula pengetahuan yang dimiliki oleh ibu-ibu yang ada di Makassar.

Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat pengetahuan dan pekerjaan dengan pemberian ASI eksklusif di Makassar

METODE

Penelitian dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas di Makassar, dilaksanakan Juli s/d September 2016, jenis penelitian analitik dengan menggunakan rancangan cross sectional, populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang mempunyai bayi berusia 7-12 bulan, baik yang memberikan maupun yang tidak memberikan ASI eksklusif di wilayah Makassar, sample diambil di puskesmas dan wanita yang bekerja di kantor UMI yang memiliki anak usia 7-12 bulan, pada penelitian ini peneliti menggunakan teknik consecutive sampling. pengumpulan data melalui kuisioner, pengolahan dan analisah data menggunakan software.

(21)

18

| Penerbit: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia

Karakteristik responden berdasarkan usia, terbanyak adalah pada kelompok usia 19-25 tahun (40,7%)

dan yang paling rendah pada usia ≤18 tahun (2,5%). Menurut pekerjaan didapatkan responden yg bekerja (54%)

dan responden yang tidak bekerja (45,7%). Responden yang memberikan ASI eksklusif (54,3%) dan yang tidak memberikan ASI eksklusif (45,7%).

Hubungan Pengetahuan Ibu tentang ASI Eksklusif dengan Pemberian ASI Eksklusif

Pemberian ASI sangat penting bagi tumbuh kembang yang optimal baik fisik maupun mental dan kecerdasan bayi. Oleh karena itu pemberian ASI perlu mendapat perhatian para ibu dan tenaga kesehatan agar proses menyusui dapat terlaksana dengan benar. Kebutuhan bayi akan zat gizi jika dibandingkan dengan orang dewasa dapat dikatakan sangat kecil. Namun jika diukur berdasarkan persentase berat badan, kebutuhan bayi akan zat gizi melampaui kebutuhan orang dewasa, hampir dua kali lipat.

Tabel 2. Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif

Pengetahuan

Tabel 2. hasil analisis regresi logistik menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan ibu dengan praktek pemberian ASI eksklusif (p = 0,003), artinya pengetahuan terhadap pemahaman ASI eksklusif ibu berpengaruh terhadap tindakan nyata ibu untuk memberikan ASI secara eksklusif pada bayi. Pengetahuan diartikan sebagai hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu yaitu indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif diartikan sebagai kesan dan pemahaman yang dimiliki oleh ibu setelah melakukan penginderaan terhadap subjek maupun objek berkaitan dengan ASI eksklusif. Pengetahuan mempunyai peran yang penting dalam perilaku ibu.

Hubungan Pekerjaan Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif

Tabel 3. Hubungan Pekerjaan Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif

Pekerjaan

Tabel 3. hasil analisis logistic regresi linier menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna antara pekerjaan ibu dengan praktek pemberian ASI eksklusif (p = 0,141). Artinya pekerjaan ibu tidak berpengaruh terhadap tindakan nyata ibu untuk memberikan ASI secara eksklusif pada bayi.

PEMBAHASAN

Hubungan Pengetahuan Ibu tentang ASI Eksklusif dengan Pemberian ASI Eksklusif

Pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif akan membawa pemahaman yang mendalam pada ibu tentang dampak baik atau buruknya memberikan ASI secara eksklusif. Pemahaman ini akan menjadi dasar bagi ibu untuk berperilaku memberikan ASI secara eksklusif kepada bayinya. Tingkat pengetahuan ibu terbentuk karena adanya berbagai faktor yang mempengaruhi terbentuknya perilaku. Menurut teori yang dikemukakan oleh Soekanto (1994), disebutkan bahwa faktor yang mempengaruhi pengetahuan meliputi pendidikan, informasi, budaya, dan pengalaman.

(22)

19

| Penerbit: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia

pula peluang ibu dalam memberikan ASI eksklusif (Rachmaniah, 2014). Pengujian hipotesis menggunakan analisis Chi Square menunjukkan adanya hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif dengan pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas Makassar (p=0,007) pada tingkat signifikansi 5%.

Penelitian yang lain membuktikan bahwa tingkat pengetahuan ibu tentang ASI berpengaruh pada tindakan ASI Eksklusif. Semakin tinggi tingkat pengetahuan seseorang tentang ASI maka akan mempengaruhi pola pikir dan sikap seseorang sehingga akan menimbulkan perilaku positif memberikan ASI Eksklusif Menurut Budiman (2013), faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan antara lain; (1) pendidikan, (2) informasi (media massa), (3) sosial, budaya, dan ekonomi, (4) lingkungan, (5) pengalaman, (6) usia.

Menurut Hidayat (2005) yang dikutip dari Firmansyah (2012) bahwa pendidikan merupakan penuntunan manusia untuk berbuat dan mengisi kehidupan yang dapat digunakan untuk mendapatkan informasi sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup. Hubungan pengetahuan dengan sikap pemberian ASI eksklusif. Penelitian Widianto, et all (2012) menunjukkan bahwa korelasi yang positif antara pengetahuan dengan sikap dalam memberikan ASI eksklusif, korelasi positif dengan kekuatan korelasi yang sangat kuat. Penelitian lain yang mendukung penelitian ini (Robiwala, et all, 2012) tingkat pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif sebagian besar dalam kategori baik sehingga sebagian besar memberikan ASI saja/ ASI eksklusif.

Pengetahuan merupakan dasar bagi terbentuknya perilaku kesehatan. Sesuai dengan teori Green yang menyebutkan pengetahuan merupakan faktor predisposisi pembentuk perilaku kesehatan. Melakukan perilaku yang benar memerlukan adanya pengetahuan yang baik. Pengetahuan tentang ASI eksklusif berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif karena pengetahuan yang dimiliki ibu mempengaruhi pola pikir yang akan membentuk sikap positif yang selanjutnya diaplikasikan dalam perilaku nyata.

Pemberikan ASI saja pada bayi usia <6 bulan merupakan bentuk perilaku pemberian ASI saja tanpa ada tambahan cairan atau makanan padat, selain obat-obatan dan vitamin. Perilaku ibu memberikan ASI secara eksklusif hanya dapat terbentuk apabila ibu mempunyai pengetahuan yang benar tentang ASI eksklusif mencakup pengertian, alasan pemberian ASI eksklusif, manfaat dan dampak yang dapat ditimbulkan apabila tidak memberikan ASI secara eksklusif. Sesuai dengan pengetahuan ibu tentang keunggulan ASI dan cara pemberian ASI yang benar dapat menunjang keberhasilan ibu dalam menyusui.

Pengetahuan yang baik mempengaruhi perilaku dalam pola asuh anak untuk memberikan ASI saja sampai usia 6 bulan pada bayinya. Pengetahuan tentang ASI eksklusif menjadi dasar diperlukan agar ibu mampu berperilaku yang baik berkaitan dengan pemberian ASI. Ibu dengan tingkat pengetahuan yang baik menunjukkan bahwa ibu tahu dan paham tentang tindakan yang benar dalam memberikan ASI secara eksklusif sehingga akan mewujudkan perilaku yang baik sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya.

Salah satu alasan yang paling sering dikemukakan bila ibu tidak menyusui adalah kerena mereka harus bekerja. Wanita selalu bekerja, terutama pada usia subur, sehingga selalu menjadi masalah untuk mencari cara merawat bayi. Bekerja bukan hanya berarti pekerjaan yang dibayar dan dilakukan di kantor, tapi bisa juga berarti bekerja di ladang, bagi masyarakat di pedesaan.

Hubungan Pendidikan Ibu tentang ASI Eksklusif dengan Pemberian ASI Eksklusif

Bekerja umumnya merupakan kegiatan yang menyita waktu bagi ibu yang mempunyai pengaruh terhadap kehidupan keluarga. Masyarakat yang sibuk akan memiliki waktu yang sedikit untuk memperoleh informasi, sehingga tingkat pendidikan yang mereka peroleh juga berkurang, sehingga tidak ada waktu untuk memberikan ASI pada bayinya. Hasil tersebut menunjukkan bahwa lebih dari setengah responden mempunyai pekerjaan. Hal ini dikarenakan beberapa hal di antaranya tuntutan untuk bekerja, membantu ekonomi keluarga maka sebagian ibu memilih bekerja di luar rumah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Penelitian yang terkait dengan hubungan pekerjaan terhadap pemberian ASI eksklusif banyak menunjukkan hasil yang tidak senada dengan penelitian ini. Dahlan, et all, (2010) menunjukan bahwa apabila status pekerjaan ibu bekerja maka besar kemungkinan ibu tidak memberikan ASI eksklusif pada bayinya, dan apabila status pekerjaan ibu tidak bekerja maka besar kemungkinan ibu dapat memberikan ASI eksklusifnya. Karena kebanyakan ibu bekerja, waktu merawat bayinya lebih sedikit, sehingga memungkinkan ibu tidak memberikan ASI eksklusif pada bayinya. Listaneri & Sugiyanto (2013) ibu yang memilih bekerja lebih banyak tidak memberikan ASI eksklusif di banding ibu yang tidak bekerja.

Penelitian yang mendukung penelitian ini di kemukakan oleh penelitian lestari. D,. et all (2013) yaitu persentasi ibu yang tidak bekerja lebih banyak yang tidak memberikan ASI eksklusif. Penyebabnya adalah pekerjaan bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi pemberian ASI eksklusif. Hal ini juga sejalan dengan hasil penelitian yang membuktikan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara pekerjaan dengan pemberian ASI, begitu juga penelitian yang dilakukan oleh Nasti (2015).

(23)

20

| Penerbit: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia

KESIMPULAN

Pengetahuan terhadap pemahaman ASI eksklusif meningkatkan tindakan nyata ibu untuk memberikan ASI secara eksklusif pada bayi di Makassar. Pekerjaan ibu tidak berhubungan terhadap pemberian ASI secara eksklusif pada bayi di Makassar.

Saran kami agar meningkatkan cakupan pemberian ASI eksklusif dengan memotivasi ibu untuk menerapkan pengetahuan yang dimiliki tentang ASI eksklusif dalam bentuk perilaku nyata yaitu memberikan ASI secara eksklusif kepada bayinya

UCAPAN TERIMA KASIH

Kami sebagai peneliti mengucapan terima kasih kepada Yayasan Wakaf Universitas Muslim Indonesia dan Universitas Muslim Indonesia serta Fakultas Kesehatan Masyarakat yang telah memberikan bantuan dana dan dukungan moril untuk melaksanakan penelitian ini sehingga peneliti ini terlaksana tanpa hambatan.

DAFTAR PUSTAKA

Bernard, J.Y., Agostini, M.D., Forhan, A., Alfaiate, T., Bonet, M., Champion, V.A., Kaminski, M., Guillain, B.DL., Charles, M.A & Heude, B. (2013) Breastfeeding Duration and Cognitive Development at 2 and 3 Years of Age in the EDEN Mother–Child Cohort. J Pediatr; 163:36-42

Bhutta, ZA &Labbok, M. (2011) Scaling up breastfeeding in developing countries. Lancet, Vol 378 : 65–71. Dahlan, A.,Mubin, F., Mustika, D.N., (2010) Hubungan Status Pekerjaan Dengan Pemberian Asi Eksklusif Di

Kelurahan Palebon Kecamatan Pedurungan Kota Semarang. Di akses [ http://jurnal.unimus.ac.id] tanggal 2/08/2017

Edmond KM Edmond KM, Zandoh C, Quigley MA, Amenga-Etego S, Owusu-Agyei S & Kirkwood BR.(2006) Delayed breastfeeding initiation increases risk of neonatal mortality. J. Pediatrics; 117(3): e380-6 Kramer, M.S & Kakuma, R. (2012) Optimal duration of exclusive breastfeeding. Cochrane Database Syst Rev;

CD003517.

Listaneri, W.E & Sugiyanto (2013) Hubungan pekerjaan dengan pemberian ASI Eksklusif. Naskah publikasi. Yogyakarta.

lestari. D,. Zuraida, E & Larasati, TA (2013). Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Air Susu Ibu Dan Pekerjaan Ibu Dengan Pemberian Asi Eksklusif. Medical Journal of University lampung Vol 2, No 4 Mantra LB.(1993). Perilaku dalam Hubungannya dengan Kesehatan. Jakarta: Depkes RI

Nasti, I. (2015) Hubungan Antara Status Pekerjaan Ibu Dengan Pemberian Asi Eksklusif Di Wilayah Kerja Puskesmas Padang Pasir. Universitas Andalas. Diakses di http://scholar.unand.ac.id/ tanggal 6/04/ 2017 Notoatmodjo S. (1997). Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Rineka Cipta. ---. (2002). Metodologi

Penelitian kesehatan. Rineka Cipta. Jakarta

Quigley, M.A., Hockley, C., Carson, C., Kelly, Y., Renfrew, M.J & Sacker, A (2012) Breastfeeding is Associated with Improved Child Cognitive Development: A Population-Based Cohort Study. Pediatri;160:25-32

Rachmaniah, N. (2014) Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Asi Dengan Tindakan Asi Eksklusif. Naskah Publikasi. Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta

Robiwala, M.E., Ciptorini, D., Handini, K.D (2012) Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Asi Eksklusifdengan Pemberian Asi Saja , Yogyakarta

Roesli, U.( 2008). Inisiasi Menyusu Dini plus ASI eksklusif . Pustaka Bunda. Jakarta. ---.(2010). Mengenal ASI Eksklusif. Pustaka Bunda. Jakarta.

Soekanto, 1994. Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku Kesehatan. Yogyakarta.

Widiyanto, S, Aviyanti, D & Tyas A, M. (2012) Hubungan Pendidikan dan Pengetahuan Ibu tentang ASI Eksklusif dengan Sikap terhadap Pemberian ASI Eksklusif. Jurnal Kedokteran Muhammadiyah, Volume 1, Nomor 1 . universitas Muhammadiyah Semarang.

(24)

21

| Penerbit: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia

ARTIKEL RISET

URL artikel of this article: http://jurnal.fkmumi.ac.id/index.php/woh/article/view/woh1105

Determinan Kejadian Dermatitis Di Puskesmas Rappokalling

Kota Makassar

KAbd.Gafur1, Nasruddin Syam1

1

Fakultas Kesehatan Kesehatan Universitas Muslim Indonesia Email Penulis Karespondesi (K): abd.gafur@umi.ac.id

ABSTRAK

Dermatitis termasuk kelompok penyakit yang sering dianggap enteng, padahal termasuk 10 besar penyakit yang diderita masyarakat Indonesia. Prevalensi di Kota Makassar, tahun 2014 jumlah kasus dermatitis 53.365 kasus, sedang di Puskesmas Rappokalling jumlah kasus dermatitis sebesar 2030 (15,63%) kasus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan faktor risiko karakteristik individu, personal hygiene, sanitasi lingkungan, pajanan lingkungan, genetik/hereditas, serta alergi dengan kejadian dermatitis. Rancangan penelitian yang digunakan adalah case control study, dimana pasien yang berkunjung ke Puskesmas Rappokalling yang menderita dermatitis (kasus) dan pasien yang tidak menderita dermatitis (kontrol) sebagai populasi dan sampel. Jumlah sampel sebanyak 64 orang (kasus) dan 64 orang (kontrol), sehingga jumlah keseluruhan sampel sebanyak 128 orang. Analisis data dilakukan dengan uji odds ratio dan disajikan dalam bentuk tabel. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan personal hygiene, sanitasi lingkungan (sarana air bersih), dan alergi dengan kejadian dermatitis di wilayah kerja Puskesmas Rappokalling. Disarankan pemerintah khususnya Puskesmas Rappokalling untuk memberikan penyuluhan kepada masyarakat agar senantiasa menjaga personal hygiene seperti kebersihan handuk, kebersihan badan (mandi 2 kali sehari), kebersihan tangan dan kuku (rajin mencuci tangan dan memotong kuku). Pemerintah hendaknya menyediakan sarana air bersih yang memenuhi syarat bagi masyarakat serta memperhatikan potensi munculnya dermatitis yang terkait dengan alergi.

Kata Kunci: Dermatitis, Personal Hygiene, Sanitasi Dan Pajanan Lingkungan, Genetik

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Salah satu upaya untuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat adalah melakukan pengendalian terhadap seluruh kejadian penyakit, tidak terkecuali dermatitis. Dermatitis termasuk kelompok penyakit yang sering dianggap enteng, padahal termasuk 10 besar penyakit yang diderita masyarakat Indonesia.

Dermatitis adalah peradangan non-inflamasi pada kulit yang bersifat akut, sub-akut, atau kronis dan dipengaruhi banyak faktor. Peradangan kulit (epidermis dan dermis) sebagai respon terhadap pengaruh faktor eksogen dan endogen, menimbulkan kelainan klinis berupa efloresensi polimorfik dan keluhan gatal. Terdapat berbagai macam dermatitis, dua diantaranya adalah dermatitis kontak dan dermatitis okupasi. Dermatitis kontak adalah kelainan kulit yang bersifat polimorfi sebagai akibat terjadinya kontak dengan bahan eksogen (Djuanda, 2010).

Secara global dermatitis mempengaruhi sekitar 230 juta orang pada 2010 atau 3,5% dari populasi dunia. Prevalensi dermatitis didominasi kelompok perempuan khususnya dalam periode reproduksi yaitu umur 15 – 49 tahun. Di Inggris dan Amerika Serikat, didominasi kelompok anak-anak yaitu sekitar sekitar 20% dan 10,7% dari jumlah penduduk sedangkan kelompok dewasa di Amerika Serikat sekitar 17, 8 juta (10%) orang (Silverberg JI, Hanifin JM, 2013).

Figur

Tabel 1. Distribusi Frekuensi Tingkat Depresi Kelompok Intervensi pada Lansia  di PSTW Gau Mabaji Gowa
Tabel 1 Distribusi Frekuensi Tingkat Depresi Kelompok Intervensi pada Lansia di PSTW Gau Mabaji Gowa . View in document p.6
Tabel 3. Perbedaan Tingkat Depresi Posttest  antara Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol pada Lansia di PSTW Gau Mabaji Gowa
Tabel 3 Perbedaan Tingkat Depresi Posttest antara Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol pada Lansia di PSTW Gau Mabaji Gowa . View in document p.6
Gambar 1. Skema Rancangan Penelitian
Gambar 1 Skema Rancangan Penelitian . View in document p.14
Tabel 1 Kematian Jentik Aedes aegypti dengan Konsentrasi 3%  Ekstrak Kulit Dahan Kelor
Tabel 1 Kematian Jentik Aedes aegypti dengan Konsentrasi 3 Ekstrak Kulit Dahan Kelor . View in document p.15
Tabel 2 Kematian Jentik Aedes aegypti dengan Konsentrasi 3,5%  Ekstrak Kulit Dahan Kelor
Tabel 2 Kematian Jentik Aedes aegypti dengan Konsentrasi 3 5 Ekstrak Kulit Dahan Kelor . View in document p.15
Tabel 3. Kematian Jentik Aedes aegypti dengan Konsentrasi 4% Ekstrak Kulit Dahan Kelor
Tabel 3 Kematian Jentik Aedes aegypti dengan Konsentrasi 4 Ekstrak Kulit Dahan Kelor . View in document p.16
Tabel 5. Pemeriksaan Suhu Sesudah Penambahan Ekstrak Kulit Dahan Kelor
Tabel 5 Pemeriksaan Suhu Sesudah Penambahan Ekstrak Kulit Dahan Kelor . View in document p.16
Tabel 4. Pemeriksaan Suhu Sebelum Penambahan Ekstrak Kulit Dahan Kelor
Tabel 4 Pemeriksaan Suhu Sebelum Penambahan Ekstrak Kulit Dahan Kelor . View in document p.16
Tabel 1.  Karakteristik Subjek Penelitian
Tabel 1 Karakteristik Subjek Penelitian . View in document p.20
Tabel 3. Hubungan Pekerjaan Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif
Tabel 3 Hubungan Pekerjaan Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif . View in document p.21
Tabel 2. Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif
Tabel 2 Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif . View in document p.21
Tabel 1. Karakteristik Responden di Wilayah Kerja Puskesmas Rappokaling Kota Makassar  Tahun 2016
Tabel 1 Karakteristik Responden di Wilayah Kerja Puskesmas Rappokaling Kota Makassar Tahun 2016 . View in document p.26
Tabel 2. Hubungan Personal Hygiene dengan Kejadian Dermatitis di Wilayah Kerja Puskesmas Rappokalling Kota Makassar Tahun 2016
Tabel 2 Hubungan Personal Hygiene dengan Kejadian Dermatitis di Wilayah Kerja Puskesmas Rappokalling Kota Makassar Tahun 2016 . View in document p.27
Tabel 3 menunjukkan bahwa sanitasi lingkungan khususnya sarana air bersih yang memenuh syarat
Tabel 3 menunjukkan bahwa sanitasi lingkungan khususnya sarana air bersih yang memenuh syarat . View in document p.27
Tabel 5. Hubungan Alergi dengan Kejadian Dermatitis di  Wilayah Kerja Puskesmas Rappokalling  Kota Makassar Tahun 2016
Tabel 5 Hubungan Alergi dengan Kejadian Dermatitis di Wilayah Kerja Puskesmas Rappokalling Kota Makassar Tahun 2016 . View in document p.28
Tabel 6. Hubungan Riwayat Penyakit dengan Kejadian Dermatitis di Wilayah Kerja Puskesmas Rappokalling Kota Makassar Tahun 2016
Tabel 6 Hubungan Riwayat Penyakit dengan Kejadian Dermatitis di Wilayah Kerja Puskesmas Rappokalling Kota Makassar Tahun 2016 . View in document p.28
Tabel 1. Zona Hambat Ekstrak Daun, Getah Jarak Cina serta Clyndamicin  terhadap bakteri uji Staphylococcus aureus
Tabel 1 Zona Hambat Ekstrak Daun Getah Jarak Cina serta Clyndamicin terhadap bakteri uji Staphylococcus aureus . View in document p.34
Tabel 1 Hubungan Status Gizi dengan Status Anemia pada Mahasiswi DIII Kebidanan  Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia Tahun 2017
Tabel 1 Hubungan Status Gizi dengan Status Anemia pada Mahasiswi DIII Kebidanan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia Tahun 2017 . View in document p.39
Tabel 2 Hubungan Siklus Menstruasi dengan Status Anemia pada Mahasiswi DIII Kebidanan  Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia Tahun 2017
Tabel 2 Hubungan Siklus Menstruasi dengan Status Anemia pada Mahasiswi DIII Kebidanan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia Tahun 2017 . View in document p.39
Tabel 3 Hubungan Lama Menstruasi dengan Status Anemia pada Mahasiswi DIII Kebidanan                        Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia Tahun 2017
Tabel 3 Hubungan Lama Menstruasi dengan Status Anemia pada Mahasiswi DIII Kebidanan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia Tahun 2017 . View in document p.40
Tabel 1. Hasil Pemeriksaan Jumlah dan Identifikasi Bakteri pada Handphone  Mahasiswa Fakultas kedokteran GigiUniversitas Muslim Indonesia
Tabel 1 Hasil Pemeriksaan Jumlah dan Identifikasi Bakteri pada Handphone Mahasiswa Fakultas kedokteran GigiUniversitas Muslim Indonesia . View in document p.46
Tabel 3 Pengaruh Pengetahuan Dengan Keberadaan Bakteri Handphone  Mahasiswa Fakultas  Kedokteran Gigi Universitas Muslim Indonesia
Tabel 3 Pengaruh Pengetahuan Dengan Keberadaan Bakteri Handphone Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muslim Indonesia . View in document p.47
Tabel 2. Keberadaan Bakteri pada Handphone Mahasiswa Fakultas kedokteran Gigi Universitas Muslim Indonesia
Tabel 2 Keberadaan Bakteri pada Handphone Mahasiswa Fakultas kedokteran Gigi Universitas Muslim Indonesia . View in document p.47
Tabel 4 Pengaruh sikap dengan Keberadaan Bakteri handphone Mahasiswa  Fakultas  Kedokteran Gigi Universitas Muslim Indonesia
Tabel 4 Pengaruh sikap dengan Keberadaan Bakteri handphone Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muslim Indonesia . View in document p.47
Tabel 5 Pengaruh Pengetahuan Dengan Keberadaan Bakteri Handphone   Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muslim Indonesia
Tabel 5 Pengaruh Pengetahuan Dengan Keberadaan Bakteri Handphone Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muslim Indonesia . View in document p.48
Tabel 1 Analisis Univariat Variabel
Tabel 1 Analisis Univariat Variabel . View in document p.54
Tabel 2 Analisis Faktor yang Berhubungan Dengan Kepatuhan Berobat Mantan Pasien Kusta  Di RSK DR
Tabel 2 Analisis Faktor yang Berhubungan Dengan Kepatuhan Berobat Mantan Pasien Kusta Di RSK DR. View in document p.55
Tabel 3. Analisis Lama Menstruasi Terhadap Kadar Hemoglobin
Tabel 3 Analisis Lama Menstruasi Terhadap Kadar Hemoglobin . View in document p.61
Tabel 2. Distribusi Kadar Hemoglobin
Tabel 2 Distribusi Kadar Hemoglobin . View in document p.61
Tabel 1. Distribusi Kadar Hemoglobin
Tabel 1 Distribusi Kadar Hemoglobin . View in document p.61

Referensi

Memperbarui...