• Tidak ada hasil yang ditemukan

STRUKTUR DAN SUSUNAN APBN ANGGARAN PENDA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "STRUKTUR DAN SUSUNAN APBN ANGGARAN PENDA"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

STRUKTUR DAN SUSUNAN APBN (ANGGARAN

PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA)

Struktur APBN terdiri dari pendapatan negara dan hibah, belanja negara, keseimbangan primer, surplus/defisit, dan pembiayaan. Sejak Tahun 2000, Indonesia telah menguba komposisi APBN dari T-account menjadi I-account sesuai dengan standar statistik keuangan pemerintah,

Government Finance Statistics (GFS).

Pendapatan Negara dan Hibah

Penerimaan APBN diperoleh dari berbagai sumber. Secara umum yaitu penerimaan pajak yang meliputi pajak penghasilan (PPh), pajak pertambahan nilai (PPN), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), Cukai, dan Pajak lainnya, serta Pajak Perdagangan (bea masuk dan pajak/pungutan ekspor) merupakan sumber penerimaan utama dari APBN.

Selain itu, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) meliputi penerimaan dari sumber daya alam, setoran laba BUMN, dan penerimaan bukan pajak lainnya, walaupun memberikan kontribusi yang lebih kecil terhadap total penerimaananggaran,jumlahnya semakin meningkat secara signifikan tiap tahunnya Berbeda dengansistem penganggaran sebelum tahun anggaran 2000, pada system penganggaran saat ini sumber-sumber pembiayaan (pinjaman) tidak lagi dianggap sebagai bagian dari penerimaan.

(2)

Belanja Negara

Belanja terdiri atas dua jenis :

1. Belanja pemerintah pusat, adalah belanja yangdigunakan untuk membiayai kegiatan pembangunan pemerintah pusat, baik yang dilaksanakan di pusat maupun di daerah. Belanja pemerintah pusat dapat di kelompokkan menjadi:

o Belanja pegawai,

o Belanja barang,

o Belanja modal,

o Pembiayaan bunga utang,

o Subsidi BBM dan subsidi non-BBM,

o Belanja hibah,

o Belanja sosial (termasuk penangulangan bencana), dan

o Belanja lainnya.

2. Belanja daerah, adalah belanja yang dibagi-bagi ke pemerintah daerah, untuk kemudian masuk dalam pendapatan APBD daerah yang bersangkutan. Belanja daerah meliputi:

o Dana bagi hasil,

o Dana alokasi umum,

o Dana alokasi khusus,

o Dana otonomi khusus.

Defisit dan Surplus

(3)

surplus. Sejak Tahun 2000, Indonesia menerapkan anggaran defisit menggantikan anggaran berimbang dan dinamis yang telah digunakan selama lebih dari tiga puluh tahun. Dalam tampilan APBN, dikenal dua istilah defisit anggaran, yaitu: keseimbangan primer (primary balance) dan keseimbangan umum (overall balance). Keseimbangan primer adalah total penerimaan dikurangi belanja tidak termasuk pembayaran bunga. Keseimbangan umum adalah total penerimaan

2. Pembiayaan luar negeri, meliputi penarikan pinjaman luar negeri, terdiri atas pinjaman program dan pinjaman proyek.

3. Pembayaran cicilan pokok utang luar negeri, terdiri atas jatuh tempo dan monatorium.

A. STRUKTUR DAN SUSUNAN APBN

 Struktur dan susunan APBN sejak tahun 1999 berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, karena disusun berdasarkan prinsip anggaran tidak seimbang (anggaran defisit), di mana sumber penerimaan dan sumber pembiayaan dipisahkan dengan tegas pada pos-pos yang berbeda.

 Anggaran defisit lazim digunakan oleh negara yang mengacu pada government Financial Statistik (GFS), seperti Jepang. Dalam APBN sebelumnya, pos untuk menutup defisit berasal dari utang luar negeri (disebut : penerimaan pembangunan) yang dibukukan pada os penerimaan. Dalam APBN tahun 1999, utang luar negeri dimasukkan pada pos : pembiayaan defisit.

 Dalam APBN tahun 1999, besarnya defisit dinyatakan secara ekplisit pada pos “surplus/ defisit anggaran” dan ditutup dengan sumber-sumber yang dinyatakan pada pos “pembiayaan bersih”. Dengan demikian APBN lebih transparan, DPR lebih mudah melakukan review dan pemerintah lebih mudah melakukan konsultasi.

 Struktur dan susunan APBN 2002 terlihat seperti dibawah : (lihat lampiran : operasi keuangan pemerintah)

(4)

2. Dana otonomi khusus dan penyeimbang C. Keseimbangan Primer Perbedaan Statistik

D. Surplus/ Defisit Anggaran E. Pembiayaan

1. Pembiayaan dalam negeri 1) Perbankan Dalam Negeri 2) Non-Perbankan dalam negeri

a. Privatisasi

b. Penjualan aset program restruk perbankan c. Penjualan obligasi pemerintah

2. Pembiayaan Luar Negeir (Neto) 1) Penarikan pinjaman Ln (bruto)

a. Pinjaman program b. Pinjaman proyek

Referensi

Dokumen terkait

Penerimaan Negara Bukan Pajak, yang selanjutnya disingkat PNBP, adalah semua penerimaan Pemerintah Pusat yang diterima dalam bentuk penerimaan dari sumber daya

Peraturan Pemerintah ini secara khusus mengatur setoran alias tarif royalti atau Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) batu bara progresif mengikuti besaran kenaikan

Balai Besar Pulp dan Kertas adalah merupakan Pendapatan Negara Bukan Pajak.

Dalam rangka pencairan dana yang berasal dari setoran terpusat Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) pada Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum di Iingkungan Kementerian

Sejalan dengan perkembangan kegiatan perekonomian serta berbagai langkah kebijakan dan administrasi di bidang perpajakan maupun penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang

LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN PENERIMAAN NEGARA BERDASARKAN SURAT SETORAN BUKAN PAJAK / SSBP. NO

Pemerintah pun menekankan bahwa sebagian setoran STNK dan BPKB yang masuk dalam pos Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), akan dimanfaatkan untuk

BAB V PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK PNBP 5.1 Penerimaan Negara Bukan Pajak Dari Kontribusi Penyelenggaran Layanan Pos Universal 5.1.1 Jumlah Wajib Bayar Berdasarkan data