• Tidak ada hasil yang ditemukan

konsep shuudan shugi dalam manajemen per

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "konsep shuudan shugi dalam manajemen per"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

KONSEP SHUUDAN SHUGI

DALAM MANAJEMEN PERUSAHAAN JEPANG

YANG TERCERMIN DALAM SERIAL DRAMA HOTELIER

KARYA MIWA YUMIKO DAN FUNATSU KOICHI

SKRIPSI

OLEH

LAILA FITRININGSIH SUNDARI

NIM. 0911120126

PROGRAM STUDI S1 SASTRA JEPANG

JURUSAN BAHASA DAN SASTRA

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

(2)

KONSEP SHUUDAN SHUGI

DALAM MANAJEMEN PERUSAHAAN JEPANG

YANG TERCERMIN DALAM SERIAL DRAMA HOTELIER

KARYA MIWA YUMIKO DAN FUNATSU KOICHI

SKRIPSI

Diajukan kepada Universitas Brawijaya untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan

dalam Memperoleh Gelar Sarjana Sastra

OLEH

LAILA FITRININGSIH SUNDARI NIM. 0911120126

PROGRAM STUDI S1 SASTRA JEPANG JURUSAN BAHASA DAN SASTRA

FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS BRAWIJAYA

(3)

DAFTAR ISI

2.4 Penelitian Terdahulu ... 24

BAB III PEMBAHASAN 3.1 Sinopsis ... 25

3.2 Profil Pemeran Serial Drama Hotelier ... 28

3.3 Konsep Shuudan Shugi (集団主義) dalam Serial Drama Hotelier ... 29

(4)

3.3.2 Kehidupan Berpusat kepada Kelompok ... 40

3.3.3 Menghindari Konfrontasi dan Menghargai Kedamaian . 42 3.3.4 Konsep Berkelompok yang Bersifat Dinamis ... 45

3.4 Konsep Shuudan Shikou (集団思考) dalam Serial Drama Hotelier ... 50

3.4.1 Kerangka Berpikir Orang Jepang terhadap Kerja Kelompok ... 50

3.5 Konsep Shuudan Seikatsu (集団生活) dalam Serial Drama Hotelier ... 57

3.5.1 Kehidupan Sosial atas Dasar Kerjasama Kelompok ... 58

3.5.2 Arti Perusahaan atau Kaisha sebagai Sebuah Keluarga .. 61

3.6 Konsep Shuudan Ishiki (集団意識)dalam Serial Drama Hotelier ... 66

3.6.1 Prioritas Terpenting adalah Keharmonisan Kelompok .. 66

3.6.2 Kesetiaan kepada Kelompok ... 75

3.6.3 Pembuktian Loyalitas dari Anggota Kelompok ... 79

BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan ... 85

4.2 Saran ... 88

DAFTAR PUSTAKA ... 89

(5)

DAFTAR TABEL

(6)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Gambar 3.1 Mempertahankan Keberadaan Kelompok ...30

2. Gambar 3.2 Kebutuhan Untuk Mempertahankan Keberadaan Kelompok ...34

3. Gambar 3,3 Mempetahankan Keberadaan Kelompok ...37

4. Gambar 3.4 Kehidupan Berpusat Pada Kelompok ...40

5. Gambar 3.5 Ogata meminta Odagiri untuk tidak Memberitahukan kepada Pegawai Lainnya Jika Mizusawa adalah Mata-Mata ...43

6. Gambar 3.6 Konsep Berkelompok Yang Bersifat Dinamis ...46

7. Gambar 3.7 Odagiri Menjemput Ogata di Korea ...51

8. Gambar 3.8 Motivasi Ogata kembali Bekerja di Tokyo Ocean Hotel untuk Menjaga Hotel ...55

9. Gambar 3.9 Kehidupan Sosial Atas Dasar Kerjasama Kelompok ...58

10. Gambar 3.10 Perusahaan Dianggap sebagai Keluarga Besar Oleh Odagiri ...61

11. Gambar 3.11 Mitsuko ingin meninggal di lingkungan Tokyo Ocean Hotel ...63

12. Gambar 3.12 Odagiri Mempertimbangkan untuk Mengundurkan Diri ...66

13. Gambar 3.13 Ogata Menawarkan Dirinya untuk Mengundurkan Diri sebagai Ganti Pembatalan Pengurangan Pegawai ...69

14. Gambar 3.14 Odagiri Membatalkan Kepergiannya ke Amerika ...72

15. Gambar 3.15 Kesetiaan kepada Kelompok ...75

16. Gambar 3.16 Pembuktian Loyalitas dari Akane ...79

(7)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

(8)

DAFTAR TRANSLITERASI

menggandakan konsonan berikutnya, misal: pp / tt / kk / ss Bunyi vokal panjang hiragana /a/, /i/, /u/ ditulis ganda

(9)

BAB I PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Sastra merupakan sebuah gambaran kehidupan masyarakat di suatu daerah

dan dalam kurun waktu tertentu. Sumardjo dan Saini (1988:12) menyatakan

bahwa sastra merupakan ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman,

pemikiran, perasaan, ide, semangat, keyakinan dalam suatu bentuk gambaran

konkret yang membangkitkan pesona dengan alat bahasa, sehingga sastra dapat

pula dikatakan sebagai penyajian yang menyerupai kehidupan yang terdiri dari

kenyataan sosial.

Kebudayaan serta kebiasaan yang ada di masyarakat di suatu negara juga

mempengaruhi hasil dalam sebuah karya sastra. Seperti di Indonesia, Jepang

memiliki kebiasaan yang telah menjadi ideologi dan menjadi dasar mereka

bertindak. Beberapa diantaranya mempengaruhi hasil karya sastra di Jepang.

Salah satu ideologi masyarakat Jepang yang tercermin dalam karya sastra adalah

paham berkelompok yang ditanamkan dalam kehidupan sosial masyarakat Jepang

atau biasa disebut dengan shuudan shugi (集団主義). Shudan memiliki arti grup

atau kelompok (Nelson, 1963:937), dan shugi memiliki arti isme atau paham

(Nelson, 1963:112). Secara harafiah, shuudan shugi berarti paham berkelompok.

(10)

pandagan (KBBI, 2004:1102). Iwan (2004:x) mendefinisikan shuudan shugi

sebagai sebuah ideologi berkelompok atau semacam groupism. Ideologi tersebut

merupakan ideologi kebersamaan atau sebuah paham berkelompok orang Jepang.

Paham berkelompok ini salah satunya terimplikasi dalam sistem manajemen yang

terdapat di dalam perusahaan Jepang. Selain paham berkelompok, ada pula sistem

pengambilan keputusan secara kolektif yang biasa disebut dengan Nemawashi

(根回 ) dan Rin-gi (稟議) (Iwan, 2004:11-15). Selain itu, ada juga konsep

harmoni atau Wa () yang digunakan sebagai etika bisnis (Iwan, 2004:24), dan

lain sebagainya.

Peran sumber daya manusia merupakan hal yang terpenting dalam

meningkatkan kinerja organisasi. Adanya ideologi berupa groupism atau

kelompokisme serta orientasi kebutuhan masyarakat, membuat pegawai di

organisasi tersebut mampu bekerja sama dan berkomitmen, serta termotivasi

dalam bekerja dan belajar. Adanya perilaku tersebut mampu membuat kinerja

anggota organisasi lebih berkualitas, produktivitas, pertumbuhan dan keuntungan

organisasi meningkat (Ishida dalam Iwan, 2004:119-120). Penjelasan tersebut

memperlihatkan bahwa peran sumber daya manusia dalam meningkatkan kinerja

organisasinya harus memiliki tujuan yang terpadu terhadap orientasi kelompok

mereka.

Bagi masyarakat Jepang, ikatan kekeluargaan dalam keluarga inti maupun

(11)

prinsip pokok dalam kehidupan masyarakat Jepang (Nakane, 1981:1-3). Menurut

Saronto (2005:308), orang Jepang dalam melaksanakan pekerjaannya selalu

mendapatkan kekuatannya dengan kerjasama kelompok melalui kebersamaan

(shuudan shugi) dan keakraban (onjooshugi).

Konsep shuudan shugi atau paham berkelompok ini sebenarnya telah ada

sejak zaman Tokugawa. Konsep ini bermula dari sebuah ajaran Konfusian. Iwan

(2004:23) menyatakan, sebagian dari kebudayaan asing yang telah melewati

proses penyesuaian dan disosialisasikan tersebut, ada yang telah menjadi pokok

pemikiran orang Jepang, yaitu pemikiran Konfusian, ajaran Buddha, dan filosofi

Barat, termasuk paham Tao meskipun pengaruhnya sangat terbatas.

Pada zaman pemerintahan Tokugawa, pemikiran konfusius ini digunakan

untuk mengatur masyarakat petani dan samurai agar terkendali. Kemudian

berkembanglah paham neo-Konfusian, paham ini kemudian menjadi dasar dalam

pembentukan etika, struktur sosial, dan organisasi kepemerintahan keluarga

Tokugawa. Nilai-nilai ini diajarkan secara ketat oleh para orang tua kepada

anak-anaknya dan diteruskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Pada

akhirnya, nilai-nilai ini menjadi bagian dari kehidupan sosial mereka karena

mereka melakukan tugas dan kewajibannya dengan sikap loyalitas yang tinggi,

(12)

Shuudan shugi sendiri telah menjadi harmoni bagi masyarakat Jepang. Hal

ini sesuai dengan penjelasan oleh Murayama dalam Iwan (2004:24) pada kutipan

berikut:

Shuudan-shugi in Japan has been unconciously developed and thought as the concept of harmony or wa because it is the most effective means of pacifying individuals dissatisfaction with unequal in the group due to low social or economic status.

Terjemahan:

Paham berkelompok di Jepang secara tidak sadar telah berkembang dan dianggap sebagai konsep harmoni atau wa karena ini adalah cara yang paling efektif untuk menenteramkan ketidakpuasan individu yang merata dalam kelompok karena status sosial atau ekonomi yang rendah.

Sugimoto (2010:2-5) menyatakan dilihat dari wacana Nihonjinron sebagai

paradigma, masyarakat Jepang merupakan masyarakat yang unik dan seragam.

Bagi masyarakat Jepang sendiri loyalitas dalam sebuah kelompok adalah hal

terpenting. Status sosial mereka ditinjau dari jangka waktu masyarakat Jepang

dapat bergabung dalam suatu kelompok. Masyarakat Jepang sangat menjaga

keharmonisan dalam sebuah kelompok. Tingkatan antarkelompok, integrasi dan

harmoni dalam sebuah masyarakat Jepang yang ‘konsensus’ dapat dicapai secara

efektif. Pendeskripsian masyarakat Jepang dalam ‘satu-kelas masyarakat’ adalah

penggambaran masyarakat Jepang sebagai identifikasi diri seseorang sebagai

anggota perusahaan, almamater, faksi, kelompok ataupun kelompok fungsional

(13)

Sistem nilai yang berupa shuudan shugi ini, ada dalam setiap interaksi

sosial masyarakat Jepang. Salah satu interaksi sosial masyarakat Jepang yang

menganut sistem nilai shuudan shugi ini ada di manajemen perusahaan Jepang.

Salah satu contoh dari serial drama Jepang yang menggambarkan paham

berkelompok atau shuudan shugi dalam manajemen perusahaan Jepang,

khususnya pada manajemen perhotelan adalah serial drama Hotelier. Serial drama

ini merupakan salah satu serial drama Jepang yang diadaptasi dari drama Korea

dengan judul yang sama. Hotelier sendiri merupakan serial drama Jepang yang

ditayangkan secara bersambung di televisi setempat. Serial Drama Hotelier tayang

perdana di Jepang pada tanggal 19 April 2007 hingga Juni 2007. Serial drama ini

ditayangkan oleh stasiun televisi Asahi Terebi dengan sembilan episode.

Serial drama ini menceritakan sebuah perjuangan yang didasari dengan

shuudan shugi atau paham berkelompok dalam manajemen perusahaan Jepang

dalam menyelesaikan permasalahan yang saat itu dihadapi oleh Tokyo Ocean

Hotel. Masalah tersebut terjadi ketika presiden direktur sedang dirawat di rumah

sakit, general manager mereka yang bernama Fujita Toru mengundurkan diri dari

Tokyo Ocean Hotel. Pengunduran diri general manager Fujita Toru itu

mengakibatkan kekosongan puncak pimpinan dalam manajemen Tokyo Ocean

Hotel. Selain kekosongan puncak pimpinan itu, Tokyo Ocean Hotel sedang

mengalami kerugian finansial. Oleh karena itu, perusahaan saingan Tokyo Ocean

(14)

Fukutake dalam Madubrangti (2008:10) menyatakan bahwa hubungan

yang didasari dengan rasa saling memiliki ini ada pada Raja sebagai kepala

keluarga tertinggi dan pada masyarakat Jepang sebagai anggota keluarga.

Pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan adanya rasa saling memiliki

dalam sebuah kelompok, ketika puncak pimpinan mereka berganti, tidak akan

menjadi masalah bila anggota kelompok mampu mempertahankan rasa saling

memiliki untuk menjalin sebuah hubungan. Hubungan tersebut meliputi

melindungi dan dilindungi serta mengayomi dan diayomi.

Pada tahun 2007, Jepang mengalami pergantian Perdana Menteri mereka,

dan hal ini dapat direfleksikan dalam serial drama ini, karena dalam serial drama

ini, maupun dalam sebuah “keluarga masyarakat Jepang” itu sendiri, mengalami

pergantian puncak pimpinan.

Alasan penulis menggunakan serial drama “Hotelier” yaitu, serial drama

tersebut sebenarnya diadaptasi dari serial drama Korea dengan judul yang sama.

Serial drama Hotelier versi Jepang ini mendapatkan rating 7 dari skala 10 dalam

situs IMDB. Selain itu, dalam serial drama ini banyak adegan yang mengambil

latar tempat di Tokyo Ocean Hotel yang banyak menggambarkan adegan paham

berkelompok (shuudan shugi). Paham berkelompok khususnya yang

menggambarkan shuudan shikou yang terdapat dalam serial drama ini contohnya

saja pada saat dirawat di rumah sakit, presiden direktur dari Tokyo Ocean Hotel

(15)

dianggap merupakan satu-satunya orang yang mampu mengatasi kekacauan dalam

manajemen hotel. Sebenarnya Odagiri merasa bimbang karena akan bertemu

dengan Ogata. Kebimbangan itu didasari karena Odagiri merasa tersakiti akibat

skandal pelecehan seksual yang dituduhkan kepada Ogata dua tahun sebelumnya.

Oleh karena Odagiri berorientasi kelompok, Odagiri mau bekerja sama dengan

direktur Kojiro untuk menjemput Ogata ke Korea demi kepentingan

kelompoknya. Melalui serial drama “Hotelier” ini, penulis ingin mendeskripsikan

konsep shuudan shugi yang terdapat dalam manajemen suatu perusahaan,

khususnya di dalam manajemen perhotelan yang tercermin dalam serial drama ini.

Manajemen perusahaan Jepang sendiri juga menggunakan paham

berkelompok dalam kesehariaan mereka. Paham berkelompok itu salah satunya

terlihat dalam proses pengambilan keputusan mereka. Hal ini terlihat ketika

manajer perusahaan itu mengajak pegawai perusahaan untuk turut serta dalam

proses pengambilan keputusan. Manajer perusahaan jarang mengabaikan usulan

atau rekomendasi yang diajukan oleh anggotanya. Kesadaran berkelompok itu

digunakan untuk mendorong dan menggerakkan kegiatan organisasinya.

Kesadaran berkelompok itu dapat digunakan untuk memperkokoh semangat

kebersamaan, sehingga dapat menanggulangi setiap masalah yang dihadapi secara

bersama dan bertanggung jawab. Adanya nakama ishiki, dapat mendorong dan

menggerakkan semangat kebersamaan para anggota untuk mencapai tujuan dan

(16)

1.2Rumusan Masalah

Shuudan shugi atau paham berkelompok adalah sistem yang mengatur

masyarakat Jepang dalam interaksi sosial. Tidak seperti di Indonesia ataupun

negara lain, paham berkelompok dalam masyarakat Jepang telah mendarah daging

dan kepentingan kelompok merupakan faktor utama di atas kepentingan individu.

Rumusan masalah dalam penulisan skripsi ini adalah, bagaimanakah konsep

shuudan shugi atau paham berkelompok dalam manajemen perusahaan Jepang

yang tercermin dalam serial drama Hotelier karya Miwa Yumiko dan Funatsu

Koichi.

1.3Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah, maka tujuan penelitian yang ingin

dicapai adalah untuk mendeskripsikan konsep shuudan shugi dalam manajemen

perusahaan Jepang yang tercermin dalam serial drama Hotelier karya Miwa

Referensi

Dokumen terkait