• Tidak ada hasil yang ditemukan

Akulturasi Budaya untuk Akselerasi Pemba

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Akulturasi Budaya untuk Akselerasi Pemba"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Akulturasi Budaya untuk Akselerasi Pembauran Kebangsaan - Erham Budi Wiranto | 1

AKULTURASI BUDAYA UNTUK AKSELERASI PEMBAURAN KEBANGSAAN

Erham Budi Wiranto, S.Th.I., MA.

Disampaikan dalam Rapat Kerja Forum Pembauran Kebangsaan, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) DIY, 24 Februari 2016

Apakah berbaur berarti melebur? Pertanyaan sederhana ini membutuhkan jawaban yang tidak sederhana; tapi tulisan pendek ini, dengan segala kesederhanaannya, akan menyuguhkan jawaban yang konon tidak sederhana itu. Jika bertolak dari tujuan diskusi ini, yaitu bagaimana mempercepat pembauran kebangsaan dengan akulturasi budaya, maka starting point yang harus diambil adalah membabarkan tentang akulturasi budaya, lantas menemukan strategi pendaratannya untuk pembauran kebangsaan. Oleh karena itu, secara runtut tulisan ini akan membahas: apa yang secara spesifik dimaksudkan sebagai akulturasi budaya, mengapa akulturasi budaya itu sedemikian penting, apa pula penghambat akulturasi budaya tersebut, dan apa saja upaya yang telah, sedang, dan akan kita lakukan dalam akulturasi budaya untuk mempercepat pembauran kebangsaan.

Akulturasi Budaya dan Arah yang Dituju

Secara terminologis, kata akulturasi biasanya langsung merujuk pada aspek budaya. Oleh Ensiklopedi Britanica, akulturasi diartikan sebagai proses perubahan material (artifacts), kebiasan (custom) dan keyakinan (belief) sebagai hasil dari perjumpaan dua budaya atau lebih. Ensiklopedi Merriam-Webster mendefinisikan akulturasi sebagai modifikasi budaya pada individu, kelompok, maupun masyarakat melalui penyesuian atau peminjaman perilaku dari budaya lain, dan juga berarti percampuran budaya (merging of culture) sebagai hasil dari pertemuan jangka panjang. Akulturasi berbeda dengan sinkretisme yang cenderung menciptakan sintesis baru dan berbeda dengan budaya asli. Akulturasi juga berbeda dengan forced assimilation, yang bermakna penggantian (replacement) suatu budaya oleh budaya lainnya. Dengan demikian, kata kunci dalam akulturasi adalah penyesuaian, tepatnya penyesuaian antar budaya yang saling bertemu. Namun penyesuaian yang bagaimana?

(2)

Akulturasi Budaya untuk Akselerasi Pembauran Kebangsaan - Erham Budi Wiranto | 2 dipertemukan, akan sangat wajar jika mereka merasa perlu membangun komitmen bersama. Namun ketika komitmen bersama tersebut dianggap melunturkan identitas budaya masing-masing, seringkali muncul keengganan dan rasa tidak ikhlas kehilangan identitas. Membaca dilemma ini, menarik untuk mengutip analisa John W. Berry tentang empat pola akulturasi.

John W. Berry menjelaskan empat pola tersebut dalam dua konteks, akulturasi etnokultural (cakupannya lebih sempit, misal antar dua suku) dan akulturasi masyarakat yang lebih kompleks (larger society). Dalam akulturasi etnokultural dapat terjadi empat kemungkinan: marginalization, separation, assimilation, dan integration.

Integrasi terwujud ketika seseorang ingin menjaga budayanya sendiri sekaligus ingin berbaur dengan budaya lain. Asimilasi terjadi ketika seseorang kurang berpihak pada tradisi sendiri namun lebih berpihak dengan budaya lain. Separasi terjadi ketika keinginan menjaga budaya sendiri sangat kuat namun keinginan untuk berbaur dengan budaya lain tidak ada. Sedangkan marginalisasi terjadi ketika seorang tidak menjaga budayanya sendiri namun sekaligus juga tidak tertarik untuk berbaur dengan budaya lain.

(3)

Akulturasi Budaya untuk Akselerasi Pembauran Kebangsaan - Erham Budi Wiranto | 3 diakui seluruhnya dan kelompok dominan hanya berperan sebagai perekatnya.i

Dengan meminjam pisau analisis John W. Berry di atas, multikulturalisme tampaknya menjadi pola akulturasi paling tepat untuk konteks Indonesia kontemporer, wa bil khusus, Daerah Istimewa Yogyakarta. DIY kerap disebut

sebagai Indonesia Mini dimana keragaman budaya dan agama sangat terasa. Multikulturalisme terasa tepat, sebab eksklusi, segregasi, dan bahkan melting pot sekalipun, tampak kurang cocok untuk Yogyakarta. Melting pot adalah sebuah metafora tentang masyarakat heterogen yang kemudian berubah menjadi homogen. Sebuah kebijakan yang diterapkan di Amerika sejak akhir abad 18. Keragaman dilebur menjadi satu atas nama kebersamaan dan persatuan, sehingga identitas asli dari unsur-unsur yang terlibat semakin ditinggalkan. Bagi sebuah bangsa yang bangga dengan keragaman etnis dan budayanya (yang mana merupakan daya tarik utama wisata) tentu hampir mustahil untuk melebur masyarakatnya menjadi homogen. Oleh karena itu, multikulturalisme dipandang lebih sesuai. Sebab multikulturalisme masih menghendaki lestarinya identitas masing-masing unsur, namun mereka mau duduk berdampingan dan bekerja bersama demi tujuan bersama pula. Dengan demikian, dalam tulisan ini, akulturasi lebih dimaknai ke arah multikulturalisme.

Akulturasi Budaya, antara Hambatan & Potensi,

Akulturasi ke arah multikulturalisme ini, sayangnya, masih menghadapi banyak hambatan. Jika negara-negara maju menempatkan kendala bahasa dan gaya ekspresi sebagai salah satu hambatan besar dalam akulturasi budaya,ii

(4)

Akulturasi Budaya untuk Akselerasi Pembauran Kebangsaan - Erham Budi Wiranto | 4 Hambatan nyata lainnya adalah gerakan trans-nasional global pattern. Meminjam istilah David Lehmann, global pattern berarti gerakan yang mampu mengglobal namun berideologi eksklusif. Yaitu gerakan-gerakan yang memiliki banyak pendukung di berbagai negara, namun mengusung ideologi yang kurang ramah terhadap keragaman.iii Gerakan trans-nasional semacam ini

banyak yang menyerang nasionalisme dan demokrasi. Mereka menawarkan opsi lain, kepemimpinan global sebagai pengganti nasionalisme, dan sistem lain (misal khilafah) sebagai pengganti demokrasi. Di NKRI di mana nasionalisme dan demokrasi adalah harga mati (sesuai Undang-undang Dasar), tetap saja merebak gerakan anti demokrasi dan anti nasionalisme (anti pancasila, anti upacara bendera, dll). Padahal, dalam konteks NKRI, Pancasila adalah pemersatu dan perekat bagi multikulturalisme. Ia laksana mayonise pada salad, atau sambal pada lotek dan gado-gado. Jika gerakan trans-nasional yang tidak nasionalis ini meraja lela, maka perekat multikulturalisme di Indonesia semakin rapuh, akulturasi semakin sulit terjadi.

Meski hambatan sedemikian nyata, namun sosial kapital yang kita miliki, sejatinya cukup digdaya untuk tetap mengedepankan akulturasi budaya. Sosial capital yang dimaksud, dalam konteks Yogyakarta, adalah khazanah budaya Jawa. Akulturasi budaya sebenarnya telah menjadi watak orang Jawa. Sekedar

contoh, orang Jawa mengenal ungkapan gathuk-mathuk : kalau memang bisa dipertemukan, ya sepakat saja.iv Maksudnya jika terdapat dua atau lebih entitas

yang berbeda, namun memiliki sedikit persamaan saja, maka sudah cukup untuk dijadikan alasan menyatu, tak perlu memperuncing perbedaan yang justru berujung permusuhan. Ini menandakan kedewasaan watak orang Jawa dalam melihat keragaman. Demikian pula dengan semboyan mikul dhuwur mendem jero (mengangkat tinggi-tinggi, memendam dalam-dalam) menyimbolkan kemampuan orang Jawa untuk hormat terhadap keluhuran budaya lain dan bertoleransi terhadap perbedaan-perbedaan yang dimiliki. Hal ini menunjukkan potensi mudahnya orang Jawa melakukan akluturasi. Selain itu, orang Jawa menganut filosofi Semar, tokoh wayang yang paling dicintai oleh masyarakat Jawa.v Semar berarti samar, tidak jelas, in between, paduan

kebapakan dan keibuan sekaligus, namun ia bijak, baik (alus ing pambudi), ngemong, dan siapapun yang dalam lindungannya pasti merasa aman. Semar adalah dewa Sang Hyang Ismaya yang mewujud dalam badan wadag (tubuh materi), kesalehan yang membumi, manunggaling kawula gusti.vi Sosok semar

yang demikian menyimbolkan watak manusia Jawa yang halus dan bersikap moderat, mampu menjadi penengah terhadap dualitas, dan oleh karenanya mudah melakukan akulturasi. Dengan demikian, secara kultural sebenarnya Yogyakarta, yang mewarisi lokus sentral budaya Jawa memiliki kemampuan yang tinggi untuk berakulturasi.

(5)

Akulturasi Budaya untuk Akselerasi Pembauran Kebangsaan - Erham Budi Wiranto | 5 Yogyakarta. Contoh yang sangat tepat yaitu adanya kampung-kampung etnis yang hidup di Yogyakarta. Orang-orang Bugis yang tinggal di Yogyakarta memiliki kampung Bugisan, orang-orang Madura memiliki kampung Menduran, kalangan saudagar Arab dan para sayid di Yogyakarta dahulunya berkumpul di Sayidan, dan orang-orang Cina memiliki kantong perkampungan di Ketandan hingga saat ini. Hal tersebut merupakan bukti nyata dan historis bahwa menerima keragaman adalah keahlian warga Yogyakarta.

Strategi Menguatkan Akulturasi

Meskipun secara tradisi warga Yogyakarta mewarisi ketrampilan akulturasi, namun terpaan modernitas dan globalisasi tidak dipungkiri melunturkan ketrampilan kultural tersebut. oleh karena itu, untuk konteks saat ini, perlu beberapa upaya tambahan agar warga Yogyakarta semakin mudah menerima dan mengembangkan multikulturalisme dan melakukan akulturasi budaya untuk pembauran kebangsaan. Langkah yang dapat ditempuh di antaranya: 1) memperbanyak ruang publik, 2) memperbanyak ajang multicultural, 3) edukasi multiculturalisme melalui dunia pendidikan.

Ruang public sebenarnya menjadi kebutuhan utama bagi masyarakat dengan pluralitas tinggi dan jumlah penduduk yang terus meningkat. Ruang public yang dimaksud adalah tempat-tempat terbuka dimana warga bisa bertemu, bercengkerama, bertegur sapa, dan ekspos identitas yang mereka miliki. Sebetulnya ruang untuk perjumpaan publik sangat banyak ragamnya, bisa berupa pusat perbelanjaan (mall), pasar, halte, rumah sakit dan puskesmas, angkringan, café, dan masih banyak lagi. Namun ruang perjumpaan publik tersebut tentu tidak dalam fungsi utama sebagai tempat bercengkerama antar warga, namun sudah memiliki fungsi tersendiri yang melekat dengan namanya, baik itu sebagai pusat transaksi bisnis, pusat layanan kesehatan, dan sebagainya. Dengan demikian ruang publik yang dimaksud dalam kajian ini adalah ruang-ruang terbuka seperti alun-alun dan taman kota.

(6)

Akulturasi Budaya untuk Akselerasi Pembauran Kebangsaan - Erham Budi Wiranto | 6 Kurangnya RTH atau ruang publik bagi warga Yogyakarta dikhawatirkan akan menurunkan intensitas perjumpaan warga sehingga berakibat kurang berkembangnya sikap saling memahami dan toleransi. Jika hal tersebut terjadi, maka citra Yogyakarta sebagai kota yang identik dengan keterbukaan dan keramahtamahan warganya juga berpotensi memudar. Kondisi kota yang

semakin semrawut dan kurangnya tempat umum untuk leyeh-leyeh (bersantai) dikhawatirkan mempengaruhi psikis warga Yogyakarta, dan dalam jangka panjang bisa mengubah karakter warga dari terbuka, penyabar, toleran, dan santun ke arah sikap yang sebaliknya.vii

Selain memperbanyak ruang perjumpaan warga. Strategi lain menguatkan akulturasi adalah lebih sering mengadakan event multikultural. Jogja Java Carnival adalah salah satu contoh ketika perhelatan budaya di Yogyakarta menampilkan pula pakaian, tari, dan artifacts dari berbagai budaya di Indonesia. Untuk ekspos satu budaya tertentu, Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) yang sudah lebih dari satu dasawarsa menjadi contoh yang baik. PBTY telah berhasil mendekatkan budaya Tionghoa kepada warga sehingga penerimaan warga Yogyakarta terhadap unsur keragaman ini semakin tinggi, prejudice (prasangka) bisa semakin terkikis. Namun unsur budaya lain juga perlu melakukan upaya serupa agar lebih dikenal oleh warga

Yogyakarta. Pepatah tak kenal maka tak sayang mengisyaratkan bahwa

ketertutupan suatu unsur budaya justru menimbulkan kecurigaan, sebaliknya keterbukaan untuk dikenal dan kemauan mengenalkan diri membuat sebuah entitas budaya semakin diterima. Selain event, pusat-pusat kebudayaan sebetulnya cukup efektif untuk menjadi pintu akulturasi. Hingga saat ini mungkin masih banyak warga yang belum tahu pasti, misalnya: harus ke mana jika ingin mengenal budaya Papua? Adakah pusat budaya Papua di Yogyakarta? bagaimana pula dengan budaya lainnya? Mungkin Taman Mini Indonesia Indah itu tidak hanya didirikan di Jakarta, tapi perlu dimiliki masing-masing propinsi meskipun dalam ukuran yang lebih mini lagi.

Strategi lain yang dapat ditempuh adalah edukasi. Sebenarnya cukup membanggakan ketika melihat pertumbuhan lembaga pendidikan di Yogyakarta. namun yang lantas menjadi kekhawatiran, sebagian lembaga pendidikan tersebut disinyalir kurang mengajarkan pluralitas dan justru mengajarkan eksklusifisme keagamaan. Lembaga pendidikan yang paling berpotensi demikian adalah yang didirikan oleh swasta, pendidikan non-formal dan innon-formal. Oleh karena itu, infiltrasi kurikulum sebenarnya diperlukan untuk menjamin agar semua lembaga pendidikan mengajarkan penerimaan akan keragaman.

(7)

Akulturasi Budaya untuk Akselerasi Pembauran Kebangsaan - Erham Budi Wiranto | 7 Akulturasi budaya dalam arti penyesuaian antar budaya dalam konteks Yogyakarta lebih tepat dimaknai ke arah multikulturalisme dengan alasan pluralitas yang kompleks dan berfungsi peran pemerintah sebagai perekat keragaman. Pembauran bukan berarti peleburan, namun saling menjaga eksistensi dan kerjasama antar entitas berbeda demi mencapai tujuan bersama. Akulturasi menghadapi tantangan terutama dari aspek ideologis seperti merebaknya gerakan radikal keagamaan dan gerakan trans-nasional yang menggerogoti nasionalisme dari dalam. Meskipun secara kultural warga Yogyakarta cukup memiliki daya tangkal, namun penguatan akulturasi tetap perlu dilakukan. Membuka luas ruang publik, memperkaya agenda multikultural, dan memperkuat aspek edukasi diyakini menjadi bagian dari strategi penguatan akluturasi budaya untuk mempercepat pembauran kebangsaan di Yogyakarta.

*Penulis adalah peneliti pada Center for the Study of Islam and Social Transformation

(CISForm) UIN Sunan Kalijaga. Dapat dihubungi melalui [email protected] dan

085743213046

i

John W. Berry, Acculturation: Living Succesfully in Two Cultures, International Journal of

Intercultural Relation, 29 (2005), hlm. 705

ii

Angel Rampy dan Lisa Strand, The Five Biggest Obstacles, Success Through Learning, 2010, hlm. 3

iiiDavid Lehmann, “Religion and Globalization”. In Paul Fletcher, Hiroko Kawanami & David Smith, Religions in the Modern World. Tradition & Transformation. (2004) London & New York: Routledge

iv

Kemampuan orang Jawa dalam hal ini misalnya terlihat dalam kreatifitas Kerta Basa (negesi tembung kapirid seka wandane), misalnya: piring, sepine yen miring; gedang, digeged lebar

madhang; tuwa, ngenteni metune nyawa; prawan: yen pepara wayah awan, dll.

v

Franz Magnis Suseno, Javanese Ethic and World View; The Javanese Idea of the Good Life,

Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1997, hlm.185.

viMoch. Soehadha, “Ambiguitas Semar, Ambiguitas Manusia Jawa”, Esensia; Jurnal Ilmu-ilmu

Ushuluddin, Vol. 4, no.1 January 2003, hlm. 118-122.

vii

Referensi

Dokumen terkait