Pandangan Weber Tentang Kepemimpinan / Otoritas Dikaitkan Dengan Pemikirannya Tentang Jenis-Jenis Hukum
Max Weber1 sebagai seorang sosiolog hukum, ia tidak menilai suatu sistem hukum, namun ia memahami sistem hukum. Hukum dipahami sebagai suatu kompleks dari kondisi-kondisi faktual yang ditentukan oleh tindakan-tindakan manusia. Bentuk perilaku sosial yang paling penting adalah perilaku sosial timbal balik atau resiprokal. hukum dikonsepsikan sebagai perilaku sosial yang ajeg dan terlembagakan serta mendapatkan legitimasi secara sosial.2
Pada bidang kemasyarakatan, Weber memberikan pendapat bahwa tidak ada manfaatnya memecahkan masalah-masalah masyarakat secara deduktif, yakni dengan bertolak dari prinsip-prinsip rasional. Penyelidikan empiris diperlukan untuk mengerti masyarakat, strukturnya dan masalah-masalahnya. Hal ini berarti jika ada masalah di masyarakat, maka tidak semua masalah tersebut dapat diselesaikan secara normatif. Harus ada suatu pemikiran empiris dari gejala-gejala yang timbul dalam masyarakat. Jika dikkaitkan dengan hukum, maka hukum tidak akan selamanya bisa sebagai law in the book, namun perlu adanya law in action. Weber juga menambahkan bahwa gejala hukum yang timbul dimasyarakat harus diselidiki secara historis-emipiris.
Weber menggambarkan historis sosiologi hukum seperti berikut, masyarakat dari hidup bersama sederhana ke hidup bersama yang berbelit-belit dalam zaman modern ini. Selaras dengan itu dibentangkan perkembangan hukum. Dikatakan Weber bahwa mula-mula pembentukan hukum lebih-lebih berdasarkan pada kharisma seorang nabi dalam bidang hukum. Dalam tahap yang kedua pembentukan hukum menjadi tugas beberapa orang yang berwibawa, yaitu para sesepuh. Mereka menyusun kaidah-kaidah hukum yang bertolak belakang dari situasi empiris aturan masyarakat. Dalam tahap yang ketiga pembentukan hukum dicabut dari tangan orang yang berwibawa. Akhirnya masa modern ini hukum dibentuk secara sistematis oleh orang-orang yang sudah dididik secara formal sebagai sarjana hukum( Fachjuristen).
1 Max weber lahir di Erfrut, Jerman 21 April 1864, ia berasal dari keluarga kelas menengah. Max weber terlahir dari dua karakter orangtua yang berbeda, Ayah seorang birokrat yang menyenangi kesenangan dunia dan ibu seorang calvinis yang taat, wanita yang berusaha menjalani hidup prihatin (ascetic). Perbedaan pandangan kedua orang tuanya sangat mempengaruhi orientasi intelektual dan psikologis Weber. Lihat Goerge Ritzer-Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern, cet. ke-6 (Jakarta: Kencana, 2010), hlm. 38-39.
Dalam konteks ini perkembangan hukum dilihat dari kekuatan-kekuatan sosial yang membentuk hubungan sosial dikaitkan dengan motivasi dan rasionalitas formal3 hingga terbagi tiga sifat hubungan, yaitu:
1. Hubungan sosial yang bersifat atau didasarkan pada tradisi. Yaitu hubungan sosial yang terbangun atas dasar kebiasaan/tradisi di masyarakat.
2. Hubungan sosial yang bersifat atau didasarkan pada koersif/tekanan. Yaitu hubungan sosial yang terbangun dari rekayasa sosial dari pihak yang memiliki otoritas (kekuasaan) terhadap yang powerless.
3. Hubungan sosial yang bersifat atau didasarkan pada rasionalitas. Ciri dari hubungan rasional adalah hubungan sosial yang bersifat asosiatif dan orientasi tindakan sosial berdasarkan pada sebuah penyesuaian kepentingan-kepentingan yang dimotivasi secara rasional atau persetujuan yang di motivasi secara sama.
Dalam hubungan sosial selalu ada pengorganisasian dan pengorganisasian tersebut dipertahankan melalui wewenang. Weber menjelaskan hubungan sosial ini berdasarkan atas rasional formal, karenanya terdapat suatu pengorganisasian. Dan pengorganisasian tersebut dipertahankan melalui wewenang (otoritas, legitimasi).
Weber membagi 3 tipe otoritas / legitimasi, yaitu:
1. Otoritas Tradisional berdasarkan atas suatu kepercayaan yang telah ada (estabilished) pada kesucian tradisi kuno. Dengan kata lain yakni bentuk kepercayaan terhadap legalitas praktek-praktek yang telah disucikan dan dibakukan4. Polanya berasal dari kepercayaan dan faktor keturunan atau garis keluarga atau kesukuan. Penerimaan tersebut dianggap aturan-aturan suci karena aturan-aturan itu telah lama ada dan dalam legitimasi mereka yang telah mewariskan hak untuk memerintah dengan aturan-aturan ini. Pada tatanan tradisional individu merupakan loyalitas dari masa lalu dan mereka mewakili masa lalu itu, sebuah loyalitas yang seringkali berakar dalam sebuah kepercayaan akan kesakralan peristiwa-peristiwa sejarah tertentu. Misalnya seorang kyai, maka anak dan keturunan kyai akan cenderung menjadi kyai pula karena tradisi yang diterima oleh masyarakatnya. Walaupun seringkali sang kyai muda ini tidak memiliki ilmu agama yang memadai. Tetapi tidak ada orang yang menentang karena mereka percaya.
3Weber pada intinya mengembangkan teori tentang proses rasionalisasi. Rasionalitas formal yakni meliputi proses berpikir seseorang dalam membuat pilihan mengenai alat dan tujuan yang biasanya merujuk pada kebiasaan, peraturan, dan hukum yang diterapkan secara universal dimana ketiganya berasal dari berbagai struktur berskala besar terutama birokrasi dan ekonomi. Weber melihat birokrasi sebagai contoh klasik dari rasionalisasi, dan memasukkan diskusinya mengenai proses birokratisasi ke dalam diskusi yang lebih luas tentang lembaga politik. Weber membedakan tiga jenis system otoritas yaitu tradisional, karismatik dan rasional-legal.
2. Otoritas Karismatik ialah ketaatan kepada seseorang yang dianggap suci, pahlawan atau berkualitas luar biasa bergantung pada beberapa bukti yang tak dapat dibantah umumnya yang bersifat magis atau karya mukjizat. Weber berpandangan bahwa tanda-tanda nyata otoritas tersebut bukanlah sebagian bentuk kharisma murni, akan tetapi charisma murni adalah pengabdian pemimpin kepada orang dan dukungan dari kelompok sosial yang kuat5. Contohnya, Gusdur sosok yang dianggap (minimal oleh pemujanya) kekuatan “supra”, dsb.
3. Otoritas Legal-Rasional Berasal dari peraturan (legal-rasional) yang diberlakukan secara hukum dan rasional. Otoritas hukum didasarkan pada suatu kepercayaan akan keabsahan peraturan-peraturan yang impersonal dan pada tata pengambilan dan pelaksanaan peraturan-peraturan6. Pemimpin yang lahir dari otoritas ini berdasarkan atas kemunculan sosok yang mampu mengemban amanat massa yang pelaksanaanya mengikuti dan sesuai prosedur undang-undang yang berlaku. Misalnya pemimpin negara, organisasi modern, Ketua RT, RW, yang dipilih secara langsung oleh musyawarah warga RT, RW. Mereka memperoleh otoritas tertinggi dari hukum masyarakat.
Tipe kharismatik merupakan salah satu dari tiga tipe yang dikemukakan oleh Weber sebagai postulat ideal dalam memandang peranan pemimpin-pemimpin keagamaan terhadap pola sosial di masyarakat. Sebenarnya Weber menjadikan tipe otoritas atau sistem kepercayaan yang mengabsahkan hubungan -hubungan dalam masyarakat menjadi tiga, yaitu dominasi hukum (legal-rasional), tradisional (estabilished), dan kharismatik (pemimpin).7
Tafsiran tradisional tentang Weber adalah bahwa sosiologi dan filsafat ilmu pengetahuannya merupakan sebuah kritik tajam terhadap matrealisme kasar, terutama dari jenis marxis. Konsep kharismatik Weber merupakan langsung atas tuntutan-tuntutan sapu bersih determinisme ekonomi. Weber menggambarkan konsepsi kharsima serta komentar singkat tentang Nabi Muhammad dan mencuatnya agama islam untuk menunjukkan bahwa determinisme ekonomi (sampai tingkat tertentu reduksionisme ekonomi) memainkan bagian penting dalam sosiologi gerakan sosial Weber.
Dalam risalah tentang Rasul, Weber mencoba membedakan peran kenabian dari peran pendeta dan tukang sihir. Berbeda dengan pendeta, otoritas Nabi terletak wahyu personal dan charisma, dan sangat kontras dengan tukang sihir, nabi berpijak atas “kebenaran wahyu dan inti perutusannya adalah ajaran atau perintah Tuhan dan bukan sihir”. Akan tetapi, Nabi tidak bergerak dalam kekosongan sosial dan otoritasnya memerlukan sosial dari para pengikutnya. Sehingga, pada titik ini, ketaatan kepada nabi dalam bentuk kewajiban murni mudah tergelincir menjadi ketaatan karena hadiah. Weber telah menarik garis bahwa para pengikut menggunakan ukuran-ukuran utilitarian atau matrealistis, sedangkan sang pemimpin kharismatik sendiri ingin menegakkan otoritasnya atas dasar himbauan kewajiban.
Bukti penting otoritas kharismatik Muhammad yakni terlihat pada kenyataan bahwa ia diundang penduduk Madinah untuk mendudukkan masalah-masalah sosial politik. Dan
status Muhammad semakin kuat tercermin dari semakin bertambah besarnya pemeluk agama Islam dan kepastian surah-surah Madinah. Dalam tafsiran Weber, kedudukan Muhammad sebagai seorang Nabi kharismatik dan pemimpin tak terlepas dari keunggulan militer dan politiknya.8
Maka, kharisma murni bukanlah ketaatan kepada seseorang yang dianggap suci, pahlawan atau berkualitas luar biasa bergantung pada beberapa bukti yang tak dapat dibantah umumnya yang bersifat magis atau karya mukjizat. Akan tetapi kharisma murni adalah pengabdian pemimpin kepada orang dan dukungan dari kelompok sosial yang kuat.
Meski Weber banyak menuangkan pemikirannya tentang otoritas kharismatik dikaitkan dengan kritiknya terhadap matrealisme dan semangat kapitalisme agama, Weber juga menyebutkan 2 otoritas/kekuasaan rasional yang akan ditaati yakni otoritas tradisional dan otoritas legal-rasional seperti yang telah disebutkan di atas. Perbedaan mendasar antara tipe tradisional dan hukum dengan kharisma yaitu terletak pada sifatnya. Tradisional dan hukum merupakan bentuk relasi yang stabil dan terus menerus (continou), sedangkan kharisma9 murni berusia pendek.10
Max Weber sebagai seorang Sosiolog dan juga Sosiolog Hukum menitikberatkan pemikirannya pada teori rasionalisasi dilatarbelakangi oleh penyebaran pemikiran rasional yang tidak menyebar secara merata melainkan penyebaran pemikiran rasional saat itu hanya terbatas pada institusi sosial di belahan dunia Barat. Konsep yang ia konsentrasikan yakni “rasionalitas formal” yang meliputi proses berpikir seseorang dalam membuat pilihan mengenai alat dan tujuan yang biasanya merujuk pada kebiasaan, peraturan, dan hukum yang diterapkan secara universal dimana ketiganya berasal dari berbagai struktur berskala besar terutama birokrasi dan ekonomi.
Kemudian Max Weber melihat birokrasi sebagai contoh klasik dari rasionalisasi, dan memasukkan diskusinya mengenai proses birokratisasi ke dalam diskusi yang lebih luas tentang lembaga politik. Weber membedakan tiga jenis sistem otoritas yaitu tradisional, karismatik dan rasional-legal. Dan ketiga sistem otoritas tersebut baik tradisional, karismatik dan rasional-legal merupakan corak otoritas yang sekaligus menggambarkan pola kebiasaan, peraturan dan hukum masyarakat. Atau dapat dikatakan bahwa hukum dilihat dari kekuatan-kekuatan sosial membentuk 3 sifat hubungan sosial dan pengorganisasian hubungan sosial tersebut dipertahankan pula melalui 3 wewenang/otoritas/legitimasi, yakni tradisional, karismatik dan rasional-legal. Sehingga, kebiasaan, peraturan dan hukum masyarakat merupakan hasil interaksi sosial yang terbukti membentuk pola yang saling bersinergi satu sama lain untuk membentuk struktur yang lebih besar seperti birokrasi.
8 Bryan S. Turner, Sosiologi Islam; Suatu Telaah Analistis Atas Tesa Sosiologi Weber..., hlm. 54-56.
9 Menskipun demikian, seorang pemimpin yang berkharisma, itu juga dapat dan bisa mewarisi
kekarismaannya kepada orang lain atau istilah Weber rutinisasi karisma
10http//PANDANGANKEPEMIMPINANMAXWEBER/KepemimpinanKharismatik(Analisisterhada
Pada diskusi mengenai proses birokratisasi terkait tiga jenis sistem otoritas-tradisional, karismatik dan rasional legal. Sistem otoritas rasional legal hanya dapat berkembang dalam masyarakat Barat Modern dan hanya dalam otoritas rasional legal itulah birokrasi modern dapat berkembang penuh. Masyarakat lain di dunia tetap didominasi oleh otoritas tradisional atau karismatik yang umumnya merintangi perkembangan sistem hukum rasional dan birokrasi modern. Singkatnya, sistem otoritas tradisional berasal dari sistem kepercayaan di zaman kuno. Pemimpin karismatik mendapatkan otoritasnya dari kemampuan atau ciri-ciri luar biasa, atau mungkin keyakinan pengikut bahwa pemimpin itu mempunyai ciri-ciri tersebut. Meski kedua jenis otoritas itu mempunyai arti penting di masa lalu, Weber yakin bahwa masyarakat Barat dan akhirnya masyarakat lainnya cenderung menuju sistem otoritas rasional-legal, yang mana sistem otoritas ini berasal dari peraturan yang diberlakukan secara hukum dan rasional.11