A. TB Paru
1. Gambaran Umum TB Paru a. Definisi
Penyakit TB Paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, yang masih keluarga besar ganus Mycobacterium. Diantara lebih dari anggota keluarga mycobacterium yang diperkirakan lebih dari 30 buah, hanya 3 yang dikenal bermasalah dengan kesehatan masyarakat. Mereka adalah mycobacterium bovis dan kalau mycobacterium leprae adalah penyakit kusta yang sudah ratusan tahun, M bovis dikenal karena sering berada pada susu sapi yang tidak dimasak dengan baik. (Achmadi, 2005). Tidak semua orang yang terinfeksi Mycobacterium Tuberculosis akan menjadi sakit TB. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi imunitas tubuh menurun sehingga mudah menjadi TB aktif. , Misal : malnutrisi , infeksi HIV, dibetes, penggunaan obat imunosupresif lain dalam jangka panjang.
Tuberculosis paru adalah penyakit infeksius yang terutama menyerang penyakit parenkim paru (Brunner& Suddarth, 2002). Tuberculosis adalah suatu penyakit infeksius yang menyerang paru-paru yang secara khas yang ditanadai oleh pembentukan granuloma dan menimbulkan nekrosis jaringan. Penyakit ini bersifat menahun dan dapat menular dari penderita kepada orang lain (Santa, dkk, 2009).
Tuberkulosis dibedakan menjadi TB Paru dan ekstra paru berdasarkan orang yang terkenanya. Tuberkulosis ekstra paru dibedakan berdasarkan organ yang terkena yaitu : limfadenitis TB, Pleuritis TB, Peritonitis TB, TB tulang dan sendi, Miliari TB, meningitis TB.
b. Prevalensi
WHO memperkirakan pada saat ini Indonesia merupakan adalah urutan keempat dengan kasus TB Paru terbanyak pada tahun 2010 setelah India, China, dan Afrika Selatan. Prevalensi kasus TB Paru di Indonesia sebesar 244/100.000 dan insidensi untuk semua tipe TB Paru adalah 228/100.000. Insidensi kasus TB Paru – BTA positif sebesar 102/100.000 dan angka kematian mencapai 39 kasus/100.000 atau sekitar 250 orang/hari. Fakta tersebut didukung oleh kondisi lingkungan perumahan, dan social ekonomi masyarakat (WHO, 2009).
c. Penularan
Gambar 1.
Proses penularan Mycobacterium Tuberculosis melalui droplet
Nature Reviews Microbiology, 2014
banyak sekali kuman dapat terlihat (penderita bta positif) adalah sangat menular.
Penderita TB Paru BTA positif mengeluarkan kuman-kuman ke udara dalam bentuk droplet yang sangat kecil pada waktu batuk. Droplet yang sangat kecil ini mongering dengan cepat dan menjadi droplet yang mengandung kuman tuberkulosis. Dan dapat bertahan diudara selama beberapa jam.
Droplet yang mengandung kuman ini dapat terhiru poleh orang lain. Jika kuman tersebut sudah menetap dalam parudari orang yang menghirupnya, maka kuman mulai membelah diri (berkembangbiak) dan terjadilah infeksi dari satu orang keorang lain (Kusnindar, 1990). Dalam penularan ada dua macam infeksi yaitu :
1) Infeksi primer
beberapa bulan yang bersangkutan akan menjadi penderita TB Paru. Masa inkubasi, yaitu waktu yang diperlukan mulai terinfeksi sampai menjadi sakit, diperkirakan sekitar 6 bulan.
2) Infeksi Pasca Primer
TB Paru pasca primer biasanya terjadi s etelah beberapa bulan atau tahun sesudah infeksi primer, misalnya karena daya tahan tubuh menurun akibat terinfeksi HIV atau status gizi buruk. Ciri khas dari TB Paru pascaprimer adalah kerusakan Paru yang luas dengan terjadinya kavitas atau efusi pleura (Brown, Harold. 1983).
2. Determinan Faktor a. Faktor Agent
Menurut Soeharsono (2005:30) TB disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, bakteri gram positif, berbentuk batang halus, mempunyai sifat tahan asam dan aerobic.
1) Bentuk
a) Batang halus
b) Ukuran panjang 1-4 um c) Tebal 0.3 – 0.6 um 2) Sifat-sifat biakan
a) Kuman bersifat aerob yaitu organisme yang melakukan metabolisme dengan bantuan oksigen
b) Sifat pertumbuhan lambat ( waktu genarasi 2-6 minggu), sedangkan koloninya muncul pada pembiakan 2-6minggu
c) Suhu optimum pertumbuhan pada 37˚C dan pH optimum 6,4 sampai 7.
d) Tumbuh subur pada biakan (eugonik), adapun perbenihannya dapat diperkaya dengan penambahan telur, gliserol, kentang, daging, ataupun asparagin.
Bakteri Mycobacterium tuberculosis dapat tahan hidup diudara kering maupun dalam keadaan dingin atau dapat hidup bertahun-tahun dalam lemasri es. Hal ini dapat terjadi apabila kuman berada dalam sifat dormant (tidur).
Mycobacterium tuberculosis memiliki sifat tidak tahan panas serta akan mati pada suhu 6˚C selama 15-20 menit. Dalam dahak, bakteri ini dapat bertahan selama 20-30 jam. Basil yang berada dalam percikan bahan dapat bertahan hidup 8-10 hari. Biarkan basil ini apabila berada dalam suhu kamar dapat hidup 6-8 bulan dan dapat disimpan dalam lemari dlam suhu 20˚C selama 2 tahun. Mycobacterium tahan terhadap berbagai khemikalia dan disinfektan antara lain phenol 5%, asam sulfat 25%, asam sitrat 3%, dan NaOH 4%. Basil ini dihancurkan oleh jodium tinctur dalam 5 menit, dengan alkohol 80%akan hancur dalam 2-20 menit (Hiswani M.Kes, 2010) .
Mycobacterium tuberculosis merupakan bakteri aerob, oleh karena itu pada kasus TBC biasanya ditemukan pada daerah yang banya udaranya. Mikobakteria mendapat energi dari oksidasi berbagai senyawa karbon sederhana. Aktivitas biokimianya tidak khas, dan laju pertumbuhannya lebih lambat dari kebanyakan bakteri lain karena sifatnya yang impermeable, sehingga penggandaannya hanya berlangsung setiap kurang lebih 18 jam. Karena pertumbuhannya yang lamban, seringkali sulit untuk mendiagnostik ruberculosis dengan cepat. Bentuk saprofit cenderung tumbuh lebih cepat, berkembang biak dengan baik pada suhu 22-23˚C, menghasilkan lebih banyak pigmen, dan kurang tahan asam dari pada bentuk yang pathogen. Mikobakteria cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam ditempat yang gelap dan lembab.
Menurut golongan umursekitar 75% pasien TB adalah kelompok umur yang paling produktif secara ekonomis (15-50 tahun). Diperkirakan seorang pasien TB dewasa, akan kehilangan rata-rata waktu kerjanya 3 sampai 4 bulan. Hal tersebut berakibat pada kehilangan pendapatan tahunan rumah tangganya sekitar 20-30%. Jika ia meninggal akibat TB, maka akan kehilangan pendapatannya sekitar 15 tahun. Hal itu dikarenakan pada usia 15-55 ( usia produktif ) mempunyai aktivitas yang sangat padat sehingga resiko terkena bakteri mycobacterium tuberculosis sangat besar , selain itu sifat dari bakteri inilah yang reaktifan endogen yaitu bakteri akan aktif kembali saat host sudah berusia tua.
2) Jenis kelamin
Jenis kelamin laki laki 6x lebih beresiko terkena penyakit TB paru dimana kebanyakan laki laki merokok dan mengkonsumsi alkohol dibandingkan wanita. Merokok dan konsumsi alkohol dapat menyebabkan imunitas tubuh berkurang dan mudah terserang berbagai agent penyakit selain itu pria berhubungan dengan kegiatan yang sering bermigrasi ketika mencari pekerjaan dan waktu kontak lebih banyak dengan orang lain sehingga meninkatkan kemunkinan tepapar basil.
3) Pendidikan
mempunyai kemungkinan 1,49 kali untuk terjadinya penyakit tuberkulosis dibandingkan dengan pendidikan tinggi. (Yanti, 2005).
4) Pekerjaan
Dalam hubungannya dengan kemungkinan terjadinya suatu penyakit, pekerjaan dapat berpengaruh langsung maupun tidak langsung. Penyakit karena debu misalnya silicosis paru, merupakan akibat langsung terhadap para pekerja. Sedangkan pengaruh tidak langsung dapat terjadi apabila lingkungan sosial ekonomi kurang baik biasanya tingkat penghasilannya pun rendah, hal ini merupakan salah satu penyebab kurang dimanfaatkannya pelayanan kesehatan yang ada, mungkin karena tidak cukup uang untuk membeli obat, transportasi dan sebagainya (Astuti, 1998).
Nutrisi adalah faktor penentu fungsi sistem tubuh dan sitsem imun. Sistem kekebalan dibuthkn manusia sebagai proteksi terhadap penyakit atau infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme. Biladaya tahan tubuh sedang menurun bakteri tb paru akan mudah masuk kedalam tubuh manusia yang terhirup dan mngumpul di paruparu. Sebaliknya apabila daya tahan tubuh baik maka kuman akan tertidur. Jadi makin rendah sistem imun tubuh maka semakin besar kemungkinan terserang penyait.
c. Faktor Lingkungan 1) Lingkungan Umum
Adalah agregat dari seluruh kondisi lingkungan dan pengaruh-pengaruh luar yang mempengaruhi kehidupan dan perkembangan bakteri TBC Linkungan Non Fisik yaitu Kemiskinan. Keadaan ini berkaitan dengan perumahan yang terlampau padat atau kondisi lingkungan kerja yang buruk akan menurunkan daya tahan tubuh dan memudahkan terjadinya infeksi.
2) Lingkungan khusus
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan di daerah Sragi Kabupaten Pekalongan ditemukan faktor – faktor lingkungan yang dapat memacu adanya TB paru, seperti : a) Kondisi rumah
jika ada yang menderita kemungkinan besar tetangga / keluarga beresiko tertular.
3. Pengendalian TB
Dalam sejarah pemberantasan TB di Indonsia tidak hanya terfokus pada TB Paru saja, namun mencakup seluruh jenis TB. Inisiasi pengendalian TB di Indonesia dapat ditelusuri sejak masa pra-kemerdekaan. untuk pengendalian TB paru ada beberapa strategi yaitu :
a. Perbaikan Ventilasi dan sanitasi lingkungan.
b. Nutrisi yang adekuat sesuai dengan tingkat pertumbuhan c. Pemberian imunisasi BCG
d. Pendidikan kesehatan, ajarkan bahwa meludah disembarang tempat tidak baik dan kotor.
e. Pemeriksaan kasus sedini mungkin dengan pemeriksaan sputum pada pasien dengan batuk berdahak lebih dari 3 minggu.
f. Penemuan kasus Aktif dan Pasif. Aktif dengan mengunjungi rumah-rumah penduduk dam memriksakan sputum mereka. Pasif dengan memberikan pengobatan yang adekuat pada pasienTBC yang dating ke Puskesmas,RS, Poliklinik.
g. Pemberian pengobatan atau terapi yang adekuat
h. Pengobatan berlangsung 6-8 bulan dengan menggunakan terapi Rifampisin dan Pirazinamide.
i. Memberikan pendidikan kesehatan pada pasien TBC tentang penularan ke orang lain.
j. Pengembangan kebijakan, pedoman pencegahan dan pengendalian infeksi dalam penanganan TB dan implementasinya;