• Tidak ada hasil yang ditemukan

Memahami Akar Keislaman di Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Memahami Akar Keislaman di Indonesia"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

Memahami Akar Keislaman di Indonesia

Pendahuluan

Kebangkitan Islam dalam konteks sejarah modern umat Islam Indonesia mulai muncul bersamaan dengan kebangkitan semangat nasionalisme bangsa Indonesia yang berlansung pada abad ke-20. Karena itu kebangkitan Islam tidak hanya tumpang tindih, tetapi juga bisa dianggap sebagai bagian dari kebangkitan nasional bangsa Indonesia.

Terbentuknya Muhammadiah pada tahun 1912, NU 1926 dan ormas-ormas keislaman lainnya juga sekaligus menandai munculnya perbedaan metode atau dasar istinbat hukum Islam sacara prosedural di Indonesia. Sekalipun ormas-ormas keislaman itu berada dalam satu mazhab, tetapi bisa jadi mereka akan berbeda dalam suatu penekanan tertentu, misalnya kelompok A lebih condong menggunakan qiyas, sedangkan B lebih condong menggunakan mashlahah mursalah.

Antara NU dan al-Khairat memiliki kriteria penekanan tersendiri dalam penetapan hukumnya meskipun keduanya sama-sama bermazhab syafiiah, antara Muhammadiah dan Persis juga berbeda dalam penekanan penetapan hukumnya, meskipun keduanya sama-sama mengaku sebagai golongan yang menjunjung tajdid. Hal ini dapat dipahami karena ormas-ormas Islam ini adalah gerakan massa yang beraliansi kemasyarakatan, sehingga mau tak mau mereka harus mengikatkan diri dengan beberapa ciri khusus untuk membedakan diri dengan ormas lainnya.

(2)

Dalam tulisan yang singkat ini, kami akan menjelaskan beberapa metode perumusan hukum Islam beberapa lembaga keislaman di Indonesia dari perspektif sejarah. Diharapkan dengan pembahasan ini kita bisa mengetahui perkembangan dan proses istinbat hukum lembaga-lembaga tersebut.

Kelompok-Kelompok ke-Islaman di Indonesia a. Kedatangan Islam di Indonesia

Dari empat disiplin ilmu ke-Islaman tradisional yang mapan-ilmu fiqh (hukum Islam), ilmu qalam, ilmu taswuf dan ilmu filsafat- fiqh adalah yang paling kuat mendominasi pemahaman orang-orang muslim akan agama-agama mereka, sehingga paling banyak membentuk bagian terpenting cara berpikir mereka. Kenyataan ini dapat dikembalikan kepada berbagai proses sejarah pertumbuhan masyarakat muslim masa lalu, juga kepada sebagian dari inti semangat ajaran agama Islam sendiri.

Hukum Islam seperti halnya ilmu-ilmu keislaman lainnya, dapat dikatakan telah tumbuh semenjak masa nabi sendiri, terutama periode sesudah hijrah ke madinah. Selanjutnya hukum Islam ini terus berkembang pada setiap khilafah Islam yang dipelapori oleh ulama-ulama besar semisal Hasan Albasri, Mujahid, Abu Hanifah, Imam Malik, as-Syafii, Imam Ahmad bin Hambal dan abu Daud al-Dhahiri serta ulama-ulama besar lainnya.

Setelah periode ulama-ulama besar itu, terutama setelah masa imam mazhab, fiqh Islam dalam banyak buku sejarah dikatakan telah mengalami stagnansi. Hal ini disebabkan oleh adanya pemahaman dikalangan umat Islam, terutama kaum sunni, bahwa pintu ijtihad- proses penetapan hukum dari sumber asli Islam- Alquran dan Hadist- telah ditutup. Anggapan bahwa apa-apa yang telah dirumuskan dan ditetapkan oleh ulama-ulama besar itu terutama para imam mazhab telah sangat lengkap untuk dijadikan sebagai rujukan pengambilan hukum bagi umat Islam dimanapun dan kapanpun.

(3)

penetapan hukumnya tidak lepas dari kententuan mazhab, misalnya, harus merujuk pada metode penetapan hukum imam Syafii dalam kitab al-risalah nya. Dengan ini muncullah kemudian ulama-ulama yang berhaluan mazhab tertentu, ulama mazhab syafiiyah, ulama bermazhab Hanafi dan seterusnya.

Dalam konteks Indonesia yang mana dakwah Islam baru datang sekitar abat ke-12 yaitu disaat peradaban Islam mulai mundur, terjadinya perang salib, penyerangan mongol dan berbagai pemberontakan internal di seluruh kawasan Islam. Bisa dipastikan bahwa Islam yang datang ke Indoensia merupakan Islam pelarian atau Islam sisa-sisa dari masa keemasannya, sehingga pemahaman pintu ijtihad telah tertutup telah sejak mulanya ditanamkan pada kaum muslim pribumi. Sebagaimana dikabarkan oleh Ibu Batutah bahwa para muballig yang membawa Islam ke Indonesia kebanyakan berasal dari India Selatan, Pantai Balibar dan Persia, kebanyakan dari mereka menganut mazhab Syafii, yang dikemudian hari menjadi mazhab umum di seantero nusantara. Perumusan dan penetapan hukum Islam di Indonesia secara umum masih sama dengan kawasan Islam lainnya yaitu berhaluan mazhab arba’ah atau setiap pemutusan hukum Islam, baik dalam soal muamalah dan ibadat tidak bisa lepas dari kriteria mazhab tertentu, terutama mazhab Syafiiyah. Lebih nyatanya dapat dilihat dari kitab-kitab karangan hamzah Fansuri, Naruddin Arraniri, Abdur Rauf as-Singkili dan juga berdasarakan kitab-kitab karangan para ulama tentang para walisongo selaku pembawa Islam di tanah Jawa.

b. Munculnya kelompok keislaman

(4)

1930, Nadhatul Wathan di Lombok 1934 dan Darud Dakwah wal-Irsyad di Kendari pada tahun 1938 serta beberapa organisasi lainnya.

Organisasi keagamaan Islam yang di pimpin oleh para ulama ini muncul sebagai gerakan yang dimaksudkan untuk memajukan atau mempertahankan mazhab keagamaan tertentu. Dari perspektif ini organisasi keagamaan di Indonesia dapat dibagi kedalam dua jenis. Pertama, organisasi keagamaan yang berusaha memajukan ortodoksi salafiah, yang mengajak umat Islam kembali kepada praktik keagamaan di masa nabi dan sahabatnya ketika aliran-aliran belum ada. Kedua, organisasi keagamaan yang tetap mempertahankan tradisionalisme mazhabiah, yang menganjurkan umat Islam untuk mengikui mazhab-mazhab keagamaan yang menjadi anutan dan amalan mayoritas umat Islam, terutama empat mazhab yang telah mapan selama berabad-abad.

Disamping mempertahankan dan memperjuangkan sendi agama sesuai dengan apa yang diyakini, ormas-ormas ini juga aktif dalam masalah-masalah sosial; pendidikan, pemberantasan kemiskinan, dan sampai pada batas-batas tertentu juga ikut aktif dalam perjungan untuk membebaskan rakyat Indonesia dari penjajahan asing dan pada saat yang sama juga dari feodalisme pribumi. Bahkan ormas-ormas Islam ini sangat berperan penting dalam penyebaran nasionalisme ke indonesiaan di seluruh seantero nusantara.

Ormas-ormas ke-Islaman ini baik yang dari ortodok salafiah, tradisional mazhabiah maupun yang berhaluan modern, dalam perumusan dan penetapan hukum Islam memiliki dasar istinbat hukum yang berbeda–beda. Sekalipun berada dalam satu mazhab tetapi berbeda dalam penekanan tertentu, misalnya kelompok A lebih condong menggunakan qiyas, sedangkan B lebih condong menggunakan mashlahah mursalah. Antara NU dan al-Khairat memiliki kriteria penekanan tersendiri dalam penetapan hukumnya meskipun keduanya sama-sama bermazhab syafii, antara Muhammadiah dan Persis juga berbeda dalam penekanan penetapan hukumnya, meskipun keduanya sama-sama mengaku sebagai golongan yang menjunjung tajdid.

(5)

Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang berdiri pada tanggal, 7 Rajab 1395 H, bertepatan dengan tanggal 26 Juli 1975 di Jakarta, sebagai hasil dari pertemuan atau musyawarah para ulama, cendekiawan dan zu'ama yang datang dari berbagai penjuru tanah air. Dengan adanya majelis ini diharapkan dapat terciptanya persatuan dan kesatuan serta kebersamaan umat Islam yang beragam di Indonesia.

Pada pembahasan berikutnya kita akan beralih pada pembahasan tentang metode-metode istinbat hukum yang dipegangi oleh ormas-ormas ke-Islaman, tetapi cuma akan dibahas metode yang dipegangi oleh dua ormas besar yaitu NU dan Muhammaddiah dan di akhiri dengan metode istinbat hukum yang dipegangi oleh MUI selaku wadah penyatuan umat Islam Indonesia.

Metode Perumusan Hukum Islam Ormas ke-Islaman di Indonesia a.Lajnah Bahtsul Masail NU

Dokumen-dokumen yang menginformasikan kelahiran dan perkembangan lajnah bahtsul masail baik dari latar belakang, metode, objek, maupun pelaku sejarahnya masih sangat sedikit. Namun bila ditinjau dari latar belakang berdiri dan angggran dasar NU, maka sedikit dapat direkontruksikan latar belakang munculnya bahtsul masail yaitu adanya kebutuhan masyarakat terhadap hukum islam praktis (‘amaliy) bagi kehidupan sehari-hari yang mendorong para ulama dan intelektual NU untuk mencari solusinya dengan melakukan bahtsul masail. Dan bila ditelusuri isi-isinya dari dokement yang ada dapat diketahui bahwa bahtsul masail pertama dilaksanakan pada tahun 1926, beberapa bulan setelah berdirinya NU.

Dari data yang ada dapat ditelusuri bahwa sejak tahun 1926 sampai 1999 telah diselenggarakan bahtsul masail tingkat nasional sebanyak 39 kali. Namun karena ada beberapa dokumen yang belum atau tidak ditemukan, maka berdasarkan dokument yang dapat dihimpun, hanya ditemukan 33 kali Bahtsul Masail yang menghasilkan 505 keputusan.

(6)

non-fiqh, yaitu keputusan yang tidak berkaitan dengan masalah hukum praktis dan hal ini tidak akan dibahas lebih lanjut disini. Sedang yang kedua adalah keputusan yang hukum fiqh, yakni yang berkaitan dengan hukum-hukum praktis (‘amaliyyah).

Dalam struktur NU, yang bertugas mengadakan Bahtsul Masail adalah lembaga syuriyah ( salah satu bagian dari struktur organisasi NU disemua tingkatan, yang memiliki otoritas yang paling tinggi). Sedangkan menajemen atau kepengurusan Lajnah Bahtsul Masail secara sederhana hanya ditangani oleh ketua (ra’is), sekretaris (katib), anggota (a’da atau a’wan) dan tim perumus yang terdiri atas ketua, sekretaris dan beberapa orang anggota. Peserta Bahtsul Masail adalah para ulama dan cendikiawan NU, baik yang berada di dalam maupun di luar struktur organisasi, termasuk pengasuh pesantren.

Penetapan hukum yang dilakukan oleh Lajnah Bahtsul Masail adalah sangat hati-hati dan tidak mau merujuk lansung kepada nash al-Quran maupun as-Sunnah. Hal ini tidak terlepas dari pandangan bahwa mata rantai perpindahan ilmu agama tidak boleh terputus dari suatu generasi kegenerasi berikutnya. Yang dapat dilakukan adalah menelusuri matarantai yang baik dan sah pada setiap generasi, yang ini dapat dilakukan hanya dengan cara merujuk pada kitab-kitab mu’tabarah dari kalangan empat mazahab, terutama madzhab syafii. Oleh karena sikap dan cara pandang demikian dalam memahami dan menafsirkan ajaran Islam, para pengamat sering menyebut dan mengelompokkan NU dalam golongan Islam tradisional.

(7)

ijtihad yang diyakini hanya layak bagi ulama mujtahidin terdahulu, melainkan memakai istilah istinbat (penggalian dan penetapan) hukum dengan pendekatan mazhabi.

Berdasarkan telaah dokumenter yang dilakukan oleh Ahmad Zahro terhadap seluruh keputusan yang menyangkut hukum fiqh selama kurun waktu 1926 sampai 1999 dapat disimpulkan bahwa untuk mengaplikasikan pendekatan mazhabi, Lajnah Bahtsul Masail mempergunakan tiga macam metode istinbat hukum yang diterapkan secara berjenjang, yaitu: Pertama, metode Qauli adalah suatu cara istinbat hukum dengan mempelajari masalah yang dihadapi, kemudian mencari jawabannya pada kitab-kitab fiqh dari mazhab empat, dengan mengacu dan merujuk lansung pada bunyi teks.

Kedua, Metode Ilhaqi adalah cara istinbat hukum dengan menyamakan hukum suatu kasus atau masla yang belum dijawab oleh kitab (belum ada kerentuan hukumnya) dengan kasus atau masalah serupa yang telah dijawab oleh kitab. Metode Ilhaqi ini dalam praktek menggukan prosedur dan persyaratan yang mirip dengan Qias. kalau tak berlebihan metode ilhaqi ini bisa dikatakan metode qiyasi vesi NU.

Ketiga, metode manhaji adalah suatu cara menyelesaikan masalah keagamaan yang ditempuh lajnah Bahtsul Masail dengan mengikuti jalan pikiran dan kaidah penetapan hukum yang telah disusun oleh imam mazhab. Contoh penerapan metode Manhaji ini adalah keputusan kongres/ mu’tamar I tahun 1926.

Soal: dapat pahalakah sedoqoh kepada mayat? Jawab: dapat!.

Keterangan: dapat dilihat dalam kitab bukhari bab jenazah dan kitab al-muhadzab bab wasiat. Keputusan diatas dikatagorikan sebagai keputusan yang didasarkan pada metode manhaji karena lansung merujuk pada hadist yang merupakan dalail yang dipergunan oleh imam mazhab.

b. Majlis Tarjih Muhammadiah

(8)

agama untuk melakukan ijtihad, tampa harus terikat dengan syarat-syarat mujtahid klasik. Tidak sulit bagi kita untuk memahami hal ini, karena Muhammadiah secara tak lansung adalah ormas yang didirikan oleh Ahmad Dahlan, seorang yang telah menuntut ilmu di Jazirah Arab pada permulaan abad 20. Dimana saat itu gejolak pembebasan dan pembaharuan pemikiran Islam yang dibawa oleh Abduh dan Rasyid Ridha sedang berkobar di Timur Tengah.

Untuk merealisasikan kebebasan berijtihad ini maka dibentuklah Majlis Tarjih Muhammadiah pada kongres Muhammadiyah XVII tahun 1928 di Yogyakarta, dengan KH. Mas Mansur sebagai ketua pertamanya. Tarjih berasal dari kata “ rojjaha – yurajjihu- tarjihan “, yang berarti mengambil sesuatu yang lebih kuat. Tarjih dalam istilah persyarikatan ,sebagaimana terdapat uraian singkat mengenai “ Matan Keyakinan dan Cita-cita hidup Muhamadiyah “ adalah membanding-banding pendapat dalam musyawarah dan kemudian mengambil mana yang mempunyai alasan yang lebih kuat “.

Pada tahap-tahap awal, tugas Majlis Tarjih, sesuai dengan namanya, hanyalah sekedar memilih-milih antar beberapa pendapat yang ada dalam Khazanah Pemikiran Islam, yang dipandang lebih kuat. Tetapi, dikemudian hari, karena perkembangan masyarakat dan jumlah persoalan yang dihadapinya semakin banyak dan kompleks , dan tentunya jawabannya tidak selalu di temukan dalam Khazanah Pemikiran Islam Klasik, maka konsep tarjih Muhammadiyah mengalami pergeseran yang cukup signifikan. Kemudian mengalami perluasan menjadi : usaha-usaha mencari ketentuan hukum bagi masalah-maasalah baru yang sebelumnya tidak atau belum pernah ada diriwayatkan qoul ulama mengenainya “. Usaha-usaha tersebut dalam kalangan ulama ushul Fiqh lebih dikenal dengan nama “ Ijtihad “.

(9)

kebijaksanaan dalam menjalankan kepemimpinan serta membimbing umat, khususnya anggota dan keluarga Muhammadiyah. 3. Mendampingi dan membantu Pimpinan Persyarikatan dalam membimbing anggota melaksanakan ajaran Islam. 4. Membantu Pimpinan Persyarikatan dalam mempersiapkan dan meningkatkan kualitas ulama. 5. Mengarahkan perbedaan pendapat/faham dalam bidang keagamaan ke arah yang lebih maslahat.

Metode penetapan hukum atau ijtihad yang dilakukan oleh muhammadiah pada dasaranya sama dengan yang dilakukan oleh ulama klasik terdahulu yaitu dengan menggunakan istihsan, istislah, qiyas, dll. Secara garis besar Majlis tarjih di dalam berijtihad menggunakan tiga macam bentuk ijtihad : Pertama : Ijtihad

Bayani : yaitu ( menjelaskan teks Al Quran dan hadits yang masih mujmal, atau umum, atau mempunyai makna ganda, atau kelihatan bertentangan, atau sejenisnya), kemudian dilakukan jalan tarjih. Sebagai contohnya adalah Ijtihad Umar untuk tidak membagi tanah yang di taklukan seperti tanah Iraq, Iran , Syam, Mesir kepada pasukan kaum muslimin, akan tetapi dijadikan “Khoroj” dan hasilnya dimasukkan dalam baitul mal muslimin , dengan berdalil Qs Al Hasyr ; ayat 7-10.

Kedua : Ijtihad Qiyasi : yaitu penggunaan metode qiyas untuk menetapkan ketentuan hukum yang tidak di jelaskan oleh teks Al Quran maupun Hadist, diantaranya : men qiyaskan zakat tebu, kelapa, lada ,cengkeh, dan sejenisnya dengan zakat gandum, beras dan makanan pokok lainnya, bila hasilnya mencapai 5 wasak ( 7,5 kwintal ) Ketiga : Ijtihad Istishlahi : yaitu menetapkan hukum yang tidak ada nashnya secara khusus dengan berdasarkan illat , demi untuk kemaslahatan masyarakat, seperti ; membolehkan wanita keluar rumah dengan beberapa syarat, membolehkan menjual barang wakaf yang diancam lapuk, mengharamkan nikah antar agama dll.

c. Majlis Ulama Indonesia

(10)

kegelisahan para agamawan melihat fenomena perselisihan dikalangan umat Islam, terutama dalam urusan penetapan hukum terhadap perkara baru dalam urusan fiqh.

Perbedaan pendapat golongan dan ormas-ormas ini tak jarang berujung pada sikap saling mengklaim dan membidahkan satu sama lainnya. Dengan adanya majlis ulama ini diharapkan perselisihan dan perbedaan pendapat diantara golongan-golongan itu dapat teratasi atau minimal membentuk sikap saling menghargai satu sama lain.

Tugas MUI adalah memberikan fatwa terkait permasalah umat Islam baik sosial maupun ubudiah. Metode intinbat hukum yang dipegangi dalam memberikan fatwa merupakan metode yang telah disepakati oleh semua pihak dan golongan yang ada dalam MUI. Sehingga bisa dikatakan MUI secara prosedural bebas dari hegemoni kolompok tertentu.

Dasar-dasar dan Prosedur penetapan fatwa yang dilakukan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dirumuskan dalam Pedoman Penetapan Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor: U-596/MUI/X/1997 yang ditetapkan pada tanggal 2 Oktober 1997. Dasar-dasar penetapan fatwa dituangkan pada bagian kedua pasal 2 yang berbunyi:

1. Setiap Keputusan Fatwa harus mempunyai dasar atas Kitabullah dan Sunnah Rasul yang mu’tabarah, serta tidak bertentangan dengan kemaslahatan umat. 2. Jika tidak terdapat dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul sebagaimana ditentukan pada pasal 2 ayat 1, Keputusan Fatwa hendaklah tidak bertentangan dengan ijma’, qiyas yang mu’tabar, dan dalil-dalil hukum yang lain, seperti istihsan, maslahah mursalah, dan saddu al-dzari’ah.

3. Sebelum pengambilan Keputusan Fatwa, hendaklah ditinjau pendapat-pendapat para imam madzhab terdahulu, baik yang berhubungan dengan dalil-dalil hukum maupun yang berhubungan dengan dalil yang dipergunakan oleh pihak yang berbeda pendapat.

(11)

Kesimpulan

Referensi

Dokumen terkait