• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Teori Ekologi Manusia Sebagai M

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Analisis Teori Ekologi Manusia Sebagai M"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

Analisis Teori Ekologi Manusia Sebagai Model Kebijakan Makro-Struktural Terhadap Fenomena Anak Jalanan di Ibukota1

oleh

Rizki Akbar Hasan2

____________________________

I. Pendahuluan

Hampir di berbagai belahan dunia, khususnya negara-negara dunia ketiga (Third World Countries) dan negara berkembang seperti Indonesia, masalah sosial anak adalah salah satu dari sekian banyak masalah yang secara struktural masih jauh dari kata ‘selesai’ untuk dibenahi dan ditangani oleh pemerintah. Mulai dari isu yang paling mikro, yaitu belum terpenuhinya gizi dan pola asuh orang tua, hingga ke isu yang paling makro, yaitu kebijakan pemerintah terkait kesejahteraan anak; usaha pemenuhan terhadap hak-hak mendasar anak masih banyak yang belum terpenuhi. Hal ini secara langsung maupun tidak langsung berdampak pada banyaknya anak yang. hidup di jalan.

Di wilayah Jakarta, menurut Badan Pusat Statistik pada tahun 2009, dilaporkan bahwa terdapat 20.000 anak jalanan di Jakarta. Sedangkan menurut Kementerian Sosial RI, perkiraan jumlah anak jalanan di Jakarta pada tahun 2011 mencapai angka 4000 jiwa. Lain lagi dengan Komisi Nasional Perlindungan Anak, organisasi pemerinta non-kementerian tersebut memperkirakan bahwa anak jalanan di Jakarta mencapai 8000 jiwa. Organisasi non-pemerintah lain memperkirakan jumlah anak jalanan mencapai kurang lebih 12.000 jiwa.

Pokok permasalahan yang ingin diangkat oleh penulis adalah mengenai upaya pengentasan fenomena anak jalan yang dapat dilakukan pemerintah dengan merujuk pada berita yang ditulis oleh Anto Prabowo3. Mengapa? Karena pemerintah, pada hakikatnya

adalah pihak yang berkewajiban untuk memenuhi hak dan memelihara warga negaranya, terutama fakir miskin dan anak terlantar, seperti yang tercantum dalam Konstitusi negara,

1 Disusun sebagai tugas akhir matakuliah Perlindungan Anak, Departemen Kriminologi, FISIP-UI. 2014

2 Mahasiswa Program Sarjana Departemen Kriminologi FISIP-UI angkatan 2012. Untuk kritik dan saran hubungi

[email protected]

3 Prabowo, Anto. (1998). Masalah Anak-anak Jalanan, Masalah Kita. Suara Merdeka, Selasa 5 Mei 1998,

(2)

UUD NKRI Tahun 1945. Di dalam penulisan ini, dengan menggunakan pendekatan struktural, penulis menyajikan model kebijakan pemerintah berskala makro dan universal sebagai upaya untuk mengentaskan fenomena anak jalanan di Ibukota. Pendekatan struktural tersebut menggunakan Teori Ekologi Manusia sebagai landasan pikir dan diharapkan mampu memerikan pisau analisis secara makro terkait isu anak jalanan dalam studi perlindungan anak.

II. Penelitian Terdahulu

Duyan dalam jurnalnya4 menjelaskan bahwa, bukan saja faktor ekonomi, atau perubahan masyarakat, atau perubahan struktur masyarakat; hubungan antara anak keluarga juga menjadi salah satu variabel mengenai fenomena kehidupan anak di jalan. Berdasarkan temuan penelitiannya, adanya indikasi bahwa kebanyakan anak-anak jalanan berasal dari keluarga yang hidup di bawah garis marjinal secara sosio-ekonomi, berstatus anak yang yatim-piatu, ditelantarkan, konflik keluarga, tidak memiliki tempat tinggal, orang tua yang kecanduan alkohol dan narkotika, masalah keuangan dan kemiskinan, kekerasan dalam keluarga yang melibatkan child battered, wife-beating dan perceraian/pasangan yang menelantarkan keluarga, hubungan keluarga yang buruk, dan orang tua yang menganggur. Keadaan yang seperti itu mempengaruhi perasaan putusa asa yang nantinya menjadi faktor pendorong dalam diri anak untuk terlibat dalah kehidupan jalanan. Dan menariknya, anak-anak dengan kondisi diatas, cenderung akan mencari dukungan sosial dan emosioal di tempat lain, ironisnya tempat tersebut adalah jalanan. Ada dua hal yang mampu ditawarkan oleh kehidupan jalanan kepada anak-anak dengan kondisi seperti yang disebutkan diatas;

pertama, memberikan harapan karena bertemu dan mengalami attachment dengan peer group-nya yang memiliki kondisi serupa. Hal ini mengakibatkan anak-anak memiliki intensitas yang lebih sering di jalanan dan cenderung membentuk gang. Kedua, menambah rasa keputusasaan anak karena mengalami kerasnya kehidupan jalanan dan rumah bukanlah opsi untuk kembali. Keputusasaan ini mengakibatkan anak-anak rentan untuk dieksploitasi, menjadi korban kehidupan jalanan, dan menjadi objek yang diperjualbelikan.

Fakta Konkrit Partikular dari Realitas Sehari-Hari Anak Jalanan5

4 Duyan, Veli. (2005). Relationships Between The Sociodemographic and Family Characteristics, Street Life Experiences and The Hopelessness of Street Children. Journal Childhood. Turki-Norwegia: Sage Publication.

http://chd.sagepub.com/content/12/4/445

(3)

Dalam jurnal yang ditulis oleh Grundling dan Grundling yang mengambil studi kasus di Namibia, negara-negara dunia ketiga (Third World Countries) dengan masalah-masalah seperti pengangguran dan kemiskinan, yang menghasilkan sub-masalah lain seperti degenerasi budaya dan pola perilaku anti-sosial, secara langsung/tidak langsung menghasilkan fenomena anak-anak jalanan. Anak-anak yang terlibat dalam kehidupan jalanan tersebut, mereka bukanlah bagian integral dengan keluarganya dan tinggal di lingkungan yang tidak mendukung secara sosio-ekonomi untuk tumbuh kembang anak. Anak-anak jalanan tersebut mengalami masalah, yang oleh UNICEF dibagi menjadi tiga sub-pembagian, yang menjadi penyebab, yakni; Mikro, meso, dan makro. Selain itu, penyebab lain adalah terkait masalah ekonomi, kemiskinan, penelantaran, yatim-piatu, dan menjadi korban kekerasan di dalam rumah. Terkait permasalahan tersebut, maka diperlukan sebuah rencana pemulihan berbasis pada fakta-fakta konkrit partikular dari realita kehidupan anak-anak jalanan yang dapat digunakan untuk memulihkan kondisi mereka. Fakta konkrit partikular yang dimaksud oleh Grundling dan Grundling adalah profil individu dari anak-anak jalanan, situasi rumah atau tempat asal dari anak-anak jalanan, dan alasan utama dari anak-anak jalanan mengenai keterlibatannya di jalanan. Ketiga fakta konkrit partikular tersebut dijadikan sebagai variabel penelitian Grundling dan Grundling. Hasil temuan data lapangan menggunakan variabel tersebut kemudian dianalisis sehingga menghasilkan temuan berupa hal-hal yang amat sangat dibutuhkan oleh anak-anak jalanan di Namibia dan di asosiasikan dengan Klasifikasi Kebutuhan Pringle.

*Klasifikasi Kebutuhan Pringle6

Prioritas Ke- Kebutuhan Anak JalananYang Berupa; Klasifikasi Pringle

1 Kebutuhan primer dan sekunder (makan-minum,

pakaian, tempat tinggal, dll) Kebutuhan Fisik

2 Pendidikan

3 Perhatian dan Kasih Sayang

Kebutuhan Psikologis

4 Keamanan dan Perlindungan

5 Pengakuan dan Pujian

Isu dan Tantangan Pemerintah (Nigeria) Dalam Menghadapi Anak Jalanan Yang Semakin Bertambah7

http://hum.sagepub.com/content/58/2/173 6Ibid Grundling dan Grundling. Halaman 186

(4)

Jurnal tersebut menjelaskan implikasi dari UU Hak Anak Nigeria tahun 2003 untuk mengevaluasi bagaimana praktik yang dilakukan institusi pemerintah yang dimandatkan oleh UU tersebut, yakni Kepolisian dan Departemen Kesejahteraan Sosial dalam menghadapi fenomena anak jalanan yang semakin bertambah di Nigeria. Studi tersebut menemukan dan menjelaskan bahwa anak-anak jalanan masih melihat Kepolisian sebagai sosok yang tidak ramah sehingga menimbulkan kesan bahwa kehadiran polisi dalam kehidupan mereka hanya sebagai pihak yang selalu menghukum daripada menolong masalah yang mereka hadapi. Bahkan, menurut hasil temuan peneliti jurnal, polisi justru menimbulkan masalah tersendiri bagi anak-anak jalanan. Polisi cenderung berlaku kasar secara fisik, psikis, dan bahkan seksual kepada anak-anak jalanan. Temuan lain juga menunjukkan bahwa program-program pemerintah yang dicanangkan oleh Departemen Kesejahteraan Sosial untuk anak-anak jalanan masih dirasa belum banyak membantu dalam menangani masalah anak-anak jalanan, dan bagi anak-anak jalanan yang menjadi target memandang program tersebut dengan idiom ‘Nigerian prison yard = halaman penjara Nigeria’, karena program yang dibentuk untuk anak-anak ternyata lebih tepat jika ditargetkan ke narapidana dewasa di penjara. Ironis.

Second-Class Citizens in the Making: The Rights of Street Children in Chile8

Salazar dalam jurnalnya menjelaskan mengenai bagaimana anak-anak jalanan di Cili, Amerika Selatan, secara struktural didiskriminasi dan disegmentasikan dengan anak-anak golongan sosial-ekonomi menengah keatas. Terlepas dari adanya jaminan ratifikasi Konvensi Hak- Hak Anak di Cili, anak-anak jalanan tersebut mengalami praktik perlindungan yang dibedakan dan tidak sesuai dengan Hak Asasi-nya sebagai manusia yang setara. Buktinya yakni pada pemberitaan demonstrasi yang dilakukan anak-anak sekolah menengah dan pemberitaan penangkapan anak-anak jalanan oleh kepolisian. Kedua-duanya mendapatkan perhatian yang sama besar dari media massa, namun keduanya mendapatkan respon yang berbeda dari publik yang melihatnya. Anak-anak jalanan diperlakukan layaknya kriminal, dan hal ini disebabkan karena status sosial anak-anak tersebut. Perbedaan status sosial antara dua contoh kasus tersebut berdampak pada perbedaan hak dan perlindungan yang akan diterima oleh kedua kelompok anak-anak itu nantinya di masyarakat, dan tentunya anak-anak jalanan mendapatkan perlakuan yang termarjinakan juga. Dan dalam prosesnya, anak-anak jalanan

Publication. http://jsw.sagepub.com/content/9/4/371

8 Salazar, Guadalupe. (2008). Second-Class Citizens in the Making: The Rights of Street Children in Chile. Journal

(5)

berubah menjadi ’second-class citizens’. Untuk menangani hal ini, Salazar merekomendasikan perlunya restrukturasi pendekatan pemerintah dengan kembali mengacu nilai-nilai ideal yang terkandung dalam Konvensi Hak Anak.

Tipologi Risiko dan Perlindungan Dalam Kehidupan Anak-Anak Jalanan Filipino di Manila9

Jurnal tersebut berisi hasil diskusi kelompok terfokus dengan anak-anak yang tinggal dan bekerja di jalanan Manila, serta hasil wawancara dengan informan kunci yang terlibat dalam program-program intervensi untuk anak-anak jalanan tersebut. Informan kunci mengungkapkan bahwa ada beberapa praktik yang dapat dilakukan untuk melindungi anak-anak tersebut dari perilaku-perilaku khas kehidupan jalanan. Temuan jurnal menunjukkan bahwa kondisi yang mempromosikan perasaan aman dan perhatian seperti keluarga memberikan anak-anak tersebut perlindungan dan stabilitas. Anak-anak juga merasa terlindungi ketika masyarakat memberikan mereka kesempatan terlibat dalam kegiatan produktif dan memberikan kontribusi positif bagi kehidupan masyarakat. Kegunaan yang diperoleh dari partisipasi mereka dalam kegiatan produktif masyarakat yang komunal yakni memberikan anak-anak jalanan harapan dan motivasi untuk keluar dari kehidupan jalanan.

III. Kerangka Pikir

Sebagai dasar kerangka pikir tulisan ini, penulis menggunakan dua kerangka pikir. Pertama adalah kerangka Hak Asasi Manusia khususnya Konvensi Hak Anak, Artikel 1, Artikel 2, Artikel 20, Artikel 28, dan Artikel 39. Secara garis besar, kelima artikel tersebut menjelaskan bahwa anak-anak amat sangat bergantung terhadap orang lain untuk dukungan materi dan perlindungan10. Konvensi Hak Anak menetapkan tolak ukur universal untuk

perlindungan anak dari praktik neglect dan abuse, dan menjamin hak dasarnya, termasuk hak untuk bertahan hidup, perkembangan, dan berpartisipasi dalam aktifitas yang diperlukan untuk tumbuh kembangnya menjadi dewasa11. Selain itu anak-anak juga berhak untuk

9 Maria, Madelene A. Sta; Martinez, Carmelo L; Diestro Jr, Jose Maria A. (2011). Typologies of Risk and Protection in the Lives of Filipino Street Children in Manila. Journal of Youth & Society. Filipina: Sage Publication. http://yas.sagepub.com/content/46/1/112

(6)

beropini dan didengar opininya, dan opini tersebut harus menjadi pertimbangan dalam setiap pengambilan keputusan terkait dengan hidupnya12.

Kedua, penulis menggunakan kerangka pikir teori ekologi manusia yang dicetuskan oleh Urie Bronfenbrenner, sebagai bentuk pendekatan struktural penulis dalam isu perlindungan anak jalanan. Teori atau pendekatan ekologi manusia ini memberikan perspektif multidisiplin dalam isu kekerasan terhadap anak, menggunakan penjelasan mengenai hubungan ekologi manusia (dimana kekerasan anak terjadi di dalamnya) yang dipengaruhi oleh kombinasi dari; lingkungan sosial, politik, ekonomi, hukum, psikologi, lingkungan fisik, kultur/budaya, dan hubungan antar manusia13. Penjelasan sistematis dari pendekatan tersebut,

oleh Bronfenbrenner, dibagi menjadi 5 sistem ekologi manusia yakni;

1. Sistem Mikro. Sistem ini menjelaskan anak sebagai entitas individu beserta hubungannya dengan faktor bio-psikologis dan hubungannya dengan individu yang ada di dekatnya.

2. Sistem Meso. Sistem ini mejelaskan anak dengan agen sosialisasi yang pertama bagi anak, yakni keluarga, sekolah, dan peer group.

3. Sistem Exo atau semi-makro. Sistem ini mencakup anak yang berada di dalam suatu komunitas atau masyarakat umum dimana anak terlibat secara langsung ataupun tidak langsung dalam posisinya pada kekerasan yang dialaminya.

4. Sistem Makro. Sistem ini merupakan representasi negara dan keterlibatannya dalam kekerasan terhadap anak. Bentuk keterlibatannya berupa sistem hukum, politik, budaya, dan kebijakan yang diinstitusionalisasikan oleh negara dan diterapkan secara menyimpang.

5. Sistem Global. Sistem ini mencakup tataran global seperti badan PBB, konvensi, deklarasi, dan segala bentuk instrumen hukum serta bagaimana kerjasama bilateral/multilateral dan regional/internasional antar negara terhadap isu kekerasan terhadap anak.

IV. Analisis

Pada bagian ini, penulis akan melakukan analisis berdasarkan permasalahan yang terkandung pada tajuk berita yang dilampirkan menggunakan tinjauan jurnal dan kerangka

12Ibid

(7)

pikir yang dituliskan pada bagian sebelumnya. Dengan mengadopsi jurnal yang ditulis oleh Grundling dan Grundling, maka pertama kali penulis berusaha untuk menguraikan fakta konkrit partikular dari fenomena anak jalanan di Ibukota dalam tajuk berita yang ditulis oleh Anto Prabowo.

Menguraikan Fakta Konkrit Partikular Fenomena Anak Jalanan di Ibukota

Dalam berita yang ditulis oleh Anto Prabowo, diuraikan bahwa secara makro, fenomena anak jalanan di sebabkan akibat kurangnya perhatian pemerintah dalam memperhatikan isu kesejahteraan sosial keluarga, khususnya keluarga yang hidup di bawah garis marjinal. Pun hal tersebut semakin diperparah ketika negara mengalami sesat pikir dan memandang fenomena anak jalanan sebagai wabah yang harus diberantas. Jikalau pun terdapat program-program pemerintah yang ditargetkan untuk mengentaskan kemiskinan, namun desain untuk mengentaskan fenomena anak jalanan tidak dimasukkan dalam rancangan program, sehingga tidak efektif. Dalam tajuk berita tersebut, fakta konkrit partikular yang muncul jika dilihat secara makro, dimana negara memiliki peran penting adalah sebagai berikut:

 Alienasi dan eksploitasi dalam kehidupan keluarga, komunitas, dan negara.

(8)

Sistem Peradilan Anak sebagai salah satu instrumen hukum nasional terkait isu anak, masih memiliki peran yang insignifikan terhadap isu ini.

 Kemiskinan sehingga anak dipekerjakan

Fakta ini berkaitan dengan fakta diatas yang berhubungan dengan keluarga. Kemiskinan yang melanda keluarga mengakibatkan anak-anak seringkali dipekerjakan, atau lebih tepatnya, diekspoitasi untuk mendapatkan uang di jalanan. Pengangguran yang dialami oleh orang tua anak-anak tersebut juga semakin memperburuk keadaan, Ditambah lagi kesadaran para orang tua mengenai salahnya perlakuan objektifikasi terhadap anak yang masih minim.

 Konflik internal keluarga dan buruknya pola asuh orang tua terhadap anak

Fakta ini merupakan penyebab lain yang cukup kuat mengenai keterlibatan anak-anak di jalanan. Ketidakharmonisan keluarga – antara lain orang tua yang bercerai – dalam beberapa kasus juga menjadi pemicu anak untuk lebih memilih dunia jalanan sebagai rumah alternatif dibandingkan dengan keluarga sendiri14.

 Kesenjangan sosial dan dianggap sebagai pihak biang masalah

Kesenjangan sosial ini merupakan fakta yang timbul akibat adanya stratifikasi di masyarakat. Variabel stratifikasi tersebut biasanya dicirikan dengan perbedaan gaya hidup dan norma-norma yang dianut, ekonomi, dan status sosial. Dan oleh negara (dalam arti penguasa pemerintahan), mereka sering dianggap sebagai pengotor keindahan kota, pembuat keonaran dan ketidaktertiban. Maka tidak jarang praktek-praktek “garuk” dikenakan pada mereka15

Teori Ekologi Manusia Sebagai Model Kebijakan Makro-Struktural

Bagi penulis, usaha pemerintah dalam menghadapi fenomena anak jalanan yang mengambil studi kasus di Jakarta, dirasa masih belum mencapai titik terang. Anak yang hidup dan anak yang menghabiskan waktu di jalanan merupakan masalah struktural di Ibukota yang dari tahun ke tahun selalu dinomorduakan oleh Pemerintah. Maka daripada itu, penulis menawarakan sebuah model kebijakan makro-struktural dengan mengadopsi teori Ekologi Manusia sebagai bentuk pengentasan fenomena anak jalana secara universal di Ibukota dan dengan menambahkan klasifikasi kebutuhan dari Pringle.

Sistem

14 Prabowo, Anto. (1998). Masalah Anak-anak Jalanan, Masalah Kita. Suara Merdeka, Selasa 5 Mei 1998,

Halaman 6 dalam Yayasan Setara. http://yayasansetara.org/masalah-anak-anak-jalanan-masalah-kita/ Diakses Pada 4 Juni 2014. Berita Terlampir

(9)
(10)

Perbaikan terlibat dalam kegiatan

(11)

Peradilan Pidana dan institusi pemerintahan lain terkait fenomena anak jalanan.

V. Kesimpulan

Masalah sosial anak, khususnya isu anak-anak jalanan adalah masalah yang penyelesaiannya membutuhkan peran serta dari setiap institusi yang ada di masyarakat dan berfokus mulai dari tataran yang paling kecil hingga yang paling besar. Peran serta negara adalah peran yang paling utama, diikuti dengan keluarga dan komunitas dalam rangka menangani fenomena anak jalanan, dengan berfokus pada program-program atau kebijakan yang berpihak demi kebaikan anak. Pergeseran paradigma terkait anak jalanan sebagai biang masalah menjadi anak jalanan sebagai korban struktural dapat membentuk pola pikir dan perspektif yang tepat terhadap isu tersebut.

Daftar Pustaka

(12)

Journal of Social Work. Nigeria: Sage Publication.

http://jsw.sagepub.com/content/9/4/371

Duyan, Veli. (2005). Relationships Between The Sociodemographic and Family Characteristics, Street Life Experiences and The Hopelessness of Street Children. Journal Childhood. Turki-Norwegia: Sage Publication. http://chd.sagepub.com/content/12/4/445

Grundling, Jan; Irma, Grundling. (2005). The concrete particulars of the everyday realities of street children. Human Relations Journal. London; South-Africa: Sage Publication; The Tavistock Institute. http://hum.sagepub.com/content/58/2/173

Helander, Einar A. (2008). Children and Violence; The World of the Defenceless. Inggris: Palgrave Macmillan

Maria, Madelene A. Sta; Martinez, Carmelo L; Diestro Jr, Jose Maria A. (2011). Typologies of Risk and Protection in the Lives of Filipino Street Children in Manila. Journal of Youth & Society. Filipina: Sage Publication. http://yas.sagepub.com/content/46/1/112

Prabowo, Anto. (1998). Masalah Anak-anak Jalanan, Masalah Kita. Suara Merdeka, Selasa 5 Mei 1998, Halaman 6 dalam Yayasan Setara.

http://yayasansetara.org/masalah-anak-anak-jalanan-masalah-kita/ Diakses Pada 4 Juni 2014. Berita Terlampir

Salazar, Guadalupe. (2008). Second-Class Citizens in the Making: The Rights of Street Children in Chile. Journal of Latin American Perspectives. Cili: Sage Publication.

(13)

Lampiran Berita

MASALAH ANAK-ANAK JALANAN, MASALAH

KITA

16

Oleh Anto Prabowo

SUARA MERDEKA, Selasa, 5 Mei 1998, Halaman VI

Di kota-kota besar, tak terkecuali Semarang, jumlah anak-anak dan remaja yang

berkeliaran di jalan jalan untuk mengais rupiah, makin banyak saja. mereka

melakukannya dengan berbagai cara seperti mengamen, jual koran, jual jasa semir

sepatu, mengemis dengan membawa bayi, dan mengelap kaca mobil di traffic light.

Mengapa itu terjadi? Jika hal itu dianggap sebagai kondisi yang tidak ideal, apa yang bisa

dilakukan negara untuk mengatasinya, dan partisipasi macam apa pula yang bisa

digalang dari masyarakat?

Di masyarakat, setidaknya ada dua persepsi dalam memandang persoalan anak-anak

jalanan.

Pertama, anak-anak jalanan adalah pembuat masalah. Persepsi seperti itu memang

sangat mudah tumbuh di kebanyakan anggota masyarakat yang melihat langsung – atau

membaca lewat media – tingkah polah anak-anak jalanan yang umumnya memiliki

norma-norma yang berbeda dari aturan-aturan yang dianut oleh masyarakat pada

umumnya.

Lihat cara sebagian dari mereka memperoleh uang. Makin “mudah” dan cenderung

mengemis. Seperti yang terjadi pada kelompok pengamen. Pada masa persaingan ketat,

bukan kreativitas dan perbaikan keterampilan yang mereka tunjukkan, melainkan

penurunan mutu.

Prie GS (kolom Gazebo tabloid Cempaka Mingguini, 23 April 1998) menulis, evolusi

penurunan derajat itu tampak dari peralatan yang dibawa.

Semula gitar, kemudian ukulele, saat ini ecek-ecek dari tutup botol, dan telah terlihat

disana-sini mereka hanya berbekal lap untuk membersihkan mobil. Lama-lama nekat.

Sekedar diketahui saja, kelompok yang “nekat” itu telah tampak di beberapa ruas jalan di

Jakarta. Begitu pengemudi membuka kaca jendela untuk menyodorkan “uang kasihan”,

pisau atau clurit yang menempel di lehernya.

16 Prabowo, Anto. (1998). Masalah Anak-anak Jalanan, Masalah Kita. Suara Merdeka, Selasa 5 Mei 1998,

(14)

Tidak hanya cara cari uang. Simak juga “gaya hidup” sebagian dari mereka. Konsumtif

sekali. Begitu dapat uang, hari itu juga mereka gunakan untuk happy-happy. Antara lain

main ding-dong atau flydengan mengisaparoma lem.

Dalam hal perilaku seks, sebagaimana telah diberitakan harian ini, mereka cenderung

menerapkan perilaku seks bebas. Prinsipnya, longgar norma.

Tentu saja tidak dapat di-gebyah uyah. Ada beberapa dari mereka yang mencoba

menggunakan rupiah mereka dengan benar-benar untuk ditabung dan biaya sekolah.

Kelompok yang seperti itu tentulah sangat istimewa.

Setidaknya, mereka membutuhkan lingkungan pendukung – keluarga atau peer

group lain – yang relatif idealistis, karena lingkungan pergaulan tempat mereka

memperoleh uang sangat tidak mendukung.

Sebagai Korban

Persepsi kedua, mereka adalah korban. Pandangan seperti itu hidup pada diri pihak-pihak

yang berempati terhadap nasib dan kondisi anak-anak jalanan. Mereka juga percaya,

masalah-masalah sosial yang kait-mengait dengan anak-anak jalanan tidak akan bisa

terselesaikan, jika persepsi yang dipakai hanyalah “anak-anak jalanan sebagai pembuat

masalah”.

Pada seminar-lokakarya tentang Konvensi Hak Anak, yang diselenggarakan Pusat Studi

Wanita Unika Soegijapratana bekerja sama dengan Pemda Jateng dan Unicef

pertengahan Februari lalu, persepsi “anak-anak jalanan adalah korban” muncul secara

dominan sekali.

Pada seminar itu juga ditampilkan kesaksian beberapa anak jalanan serta pihak-pihak

yang mewakili mereka. Eksploitasi dan alienasi (pengasingan) yang berlapis-lapis mereka

alami, baik di tingkat keluarga, masyarakat, maupun negara lewat aparatus-aparatusnya.

Di tingkat keluarga, tidak sedikit orang tua yang beranggapan bahwa anak adalah milik

mereka sepenuhnya. Mau diapakan pun adalah hak orang tua, sehingga pihak-pihak di

luarnya tidak berhak ikut campur.

Pandangan seperti itu berwujud pada tindakan pemerkosaan terhadap anak, eksploitasi

tenaga kerja mereka, termasuk juga menjual anak untuk menjadi pelacur.

Sering kemiskinan menjadi alasan, mengapa orang tua bersikap eksploitatif terhadap

anak-anaknya. Tetapi latar belakang lain yang juga dominan, kata dr Nafsiah Mboi MPH,

(15)

orang tua dan kelompok orang dewasa di masyarakat bahwa anak dan remaja juga

memiliki serangkaian hak.

Hak-hak itu – yang diatur dalam Konvensi Hak Anak – antara lain hak untuk tumbuh,

berkembang, berpendapat, mendapatkan pendidikan, memperoleh rasa aman,

perlindungan dari eksploitasi, identitas, dan kewarganegaraan. Orang tua dan negara

merupakan pihak yang berkewajiban memenuhi hak-hak itu.

Faktor lain, ketidakharmonisan keluarga – antara lain orang tua yang bercerai – dalam

beberapa kasus juga menjadi pemicu anak untuk lebih memilih dunia jalanan sebagai

rumah alternatif dibandingkan dengan keluarga sendiri.

Di dunia jalanan, mereka barangkali mendapatkan kebebasan yang lebih. Tapi

bersamaan dengan itu, mereka juga memperoleh kekerasan, eksploitasi dan juga

“pendidikan” nonformal berupa norma-norma yang sangat jauh berbeda dari masyarakat

pada umumnya.

Pemerkosaan dan pelecehan seks untuk anak-anak jalanan putri serta sodomi untuk

yang putra adalah pengalaman-pengalaman kekerasan nyata yang mereka peroleh. Juga

pemerasan dan kekerasan fisik, baik oleh sesama anak jalanan, preman maupun oleh

pihak-pihak yang seharusnya melindungi mereka.

Pendek kata, eksploitasi yang mereka terima berlapis-lapis. Di masyarakat pun – karena

perbedaan gaya hidup dan norma-norma yang dianut – anak jalanan mengalami

penyingkiran. Tidak mudah untuk menerima mereka sebagai bagian dari anggota

masyarakat yang wajar.

Dan oleh negara (dalam arti penguasa pemerintahan), mereka sering dianggap sebagai

pengotor keindahan kota, pembuat keonaran dan ketidaktertiban. Maka tidak jarang

praktek-praktek “garuk” dikenakan pada mereka.

Patut Diperhatikan

Mana persepsi yang benar di antara keduanya? Saya berpendapat, kedua persepsi itu

tidak salah, kalau ditempatkan sebagai proses yang berurutan.

Awalnya, mereka jelas merupakan korban. Anak-anak jalanan itu merupakan produk

akumulatif kondisi keluarga, keadaan sosial yang buruk, serta negara yang belum

mampu menjadi pengayom atas kelemahan-kelemahan di level keluarga dan

(16)

Setelah korban, pada tahap berikutnya mereka dapat saja berubah menjadi trouble

maker, dilihat dari sudut pandang masyarakat. Dengan bahasa yang lain, bisa dikatakan

mereka sebagai “kelompok yang patut mendapat perhatian untuk lebih disikapi secara

manusiawi”.

Tentu saja, kondisi seperti itu tidak dapat dibiarkan begitu saja. Sebab, jika tidak, dunia

masa depan yang dekat dengan anak-anak jalanan – tanpa perhatian yang khusus dan

serius – cukup jelas. Yang putri akan dekat dengan dunia pelacuran dan yang putra

selangkah lagi masuk ke dunia preman dan kriminal.

Dunia-dunia itu tampaknya memang lebih mudah digapai dibandingkan jika mereka

memasuki ruang-ruang hidup yang “normal” lain.

Serangkaian usaha untuk merangkul dan mengentaskan anak-anak jalanan itu memang

telah dilakukan baik oleh individu maupun kelompok, dengan biaya dari kantong sendiri

atau ada lembaga dana di baliknya.

Individu dan kelompok-kelompok itu berusaha menjadi “keluarga alternatif” bagi

anak-anak jalanan. Usaha-usaha yang dilakukan: ke dalam, antara lain mengurangi jam hidup

di jalanan, memberikan bekal-bekal keterampilan, mengembalikan ke keluarga, dan

dengan memberikan penyadaran pada kedua pihak (orang tua dan anak).

Sementara ke luar, individu dan kelompok-kelompok pemerhati itu memberikan

pengertian bahwa anak-anak jalanan merupakan bagian dari masyarakat yang menjadi

korban dari kondisi keluarga yang buruk, dan membutuhkan perhatian serius untuk dapat

kembali “normal” seperti anggota masyarakat lain.

Intinya, jangan memusuhi mereka, jangan menganggap mereka sampah.

Di Semarang, kelompok-kelompok pemerhati anak jalanan itu antara lain Paguyuban

Anak Jalanan Semarang (PAJS) – yang digerakkan oleh anak-anak jalanan dewasa untuk

melindungi yang yunior – Duta Awam yang khusus menangani masalah-masalah anak

jalanan putri, Yayasan Sosial Soegijapranata, serta Pusat Studi Wanita Undip Semarang,

dan individu-individu mahasiswa dan dosen dan Unika Soegijapranata Semarang.

Sayang sekali, kelompok itu bergerak sendiri-sendiri dan tidak menjalin kontak satu

dengan yang lain, baik untuk menyamakan persepsi, apalagi untuk membuat jaringan

(17)

Saya kira, langkah-langkah yang lebih serius dan terbuka, telah saatnya untuk dilakukan.

Masalah anak-anak jalanan memang maslaha kita bersama. Luput memperhatikan hal itu

pada saat sekarang, kita akan menuai masalah yang lebih besar di kemudian hari (41b).

Referensi

Dokumen terkait

16.00 wita Patroli Kewilayahan Mataram-KLU Kapolda Tentative.

Hasil Skenario A dengan 6 atau 8 neuron hidden dengan fungsi sigmoid menggunakan bias Untuk mengetahui pengaruh dari tiap parameter yang ada pada arsitektur jaringan seperti, jumlah

Mohamed (2002) mengemukakan bahwa pada proyek konstruksi sedapat mungkin dibentuk lingkungan kerja yang kondusif, seperti budaya tidak saling menyalahkan bila ada

Dari hasil analisis statistik dengan uji Chi Square antara masa kerja dengan temuan retikulosit darah, hubungan masa kerja dengan hemoglobin darah, dan hubungan masa

Penyutradaraan Aktor Lansia Yang Berinteraksi Dengan Unseen Character Dalam Film Pendek Mie Kuning Abadi Laporan Tugas Akhir Ditulis sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana

Baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, produksi kedelai bersifat inelastis terhadap perubahan harga di tingkat petani karena memiliki nilai |E| <1.. Sifat inelastis ini

Membangun sistem informasi berbasis website sebagai media informasi dan promosi yang efektif dan efesien merupakan upaya untuk memberitahukan tempat wisata yang

Manjusri, yang sudah mencerahkan sang putri, mengakui pencapaian Kesadaran Buddha dari Putri Raja Naga, akan tetapi bagi orang lain yang berkumpul di sana, adalah suatu