• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan Beton Ringan Mutu Tinggi Dengan dan Tanpa Serat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pengembangan Beton Ringan Mutu Tinggi Dengan dan Tanpa Serat"

Copied!
70
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN AKHIR TAHUN

PENELITIAN STRATEGIS NASIONAL

INSTITUSI

Pengembangan Beton Ringan Mutu Tinggi Dengan dan

Tanpa Serat

Tahun ke 1 dari rencana 3 tahun

Ketua/Anggota Tim

Ketua Peneliti : Dr. Ir. Abdullah, M.Sc. (NIDN: 0021036406) Anggota 1 : Ir. Bustari, MT. (NIDN: 0014026702)

Anggota 2 : Dr. Syahriza Fonna, ST. MT. (NIDN: 0027107801)

UNIVERSITAS SYIAH KUALA

(2)
(3)

iii

RINGKASAN

Indonesia adalah Negara kepulauan terbesar di dunia yang terletak disepanjang garis ring-of-fire sehingga penggunaan bahan yang tepat akan menghasilkan konstruksi yang aman. Misalnya, penggunaan bahan yang ringan akan mengurangi beban gempa yang bekerja pada suatu gedung karena beban gempa adalah berbanding terbalik terhadap berat konstruksi sehingga akan relative lebih aman terhadap kemungkinan rusak atau runtuh. Dengan jumlah pulau mencapai 17.000 buah dan luas perairan lebih kurang 60% dari luas wilayah keseluruhan menyebabkan Indonesia adalah Negara dengan garis pantai terpanjang di dunia. Kondisi ini merupakan peluang, akan tetapi sekaligus tantangan untuk mengusai teknologi terkait agar pengembangan ekonomi kawasan pesisir dapat dilakukan.

Pengembangan beton ringan di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) sejak tahun 2006 telah menghasilkan beberapa aplikasi terutama untuk bahan bangunan gedung. Seperti dinding dan pelat lantai pracetak. Sejumlah aplikasipun telah berhasil dilakukan, seperti: rumah panel pracetak BeRi-C, lantai jembatan (termasuk untuk lantai jembatan gantung) dan lantai bangunan gedung. Saat ini, di Laboratorium Konstruksi dan Bahan Bangunan Unsyiah mutu (kuat tekan) beton ringan tanpa serat mencapai 60 MPa sudah dapat dicapai. Berbagai elemen konstruksi untuk bangunan gedung, seperti elemen dinding dan lantai pracetak telah berhasil diuji coba dan diaplikasikan. Terutama panel pracetak BeRi-C untuk rumah ramah gempa.

Pada penelitian ini, yaitu tahun pertama dilakukan pengujian sifat mekanis dan pengaruh penambahan serat terhadap kekuatan dan durabilitas beton ringan berserat mutu tinggi terhadap lingkungan yang ekstrim, seperti air laut. Selain sifat mekanis dan durabilitas pada lingkungan ekstrim, pada tahun pertama dilakukan juga uji sambungan baut panel pracetak. Terbuat dari beton busa ringan, memungkinkan pemanfaatan bahan produk sampingan suatu industri, semua komponen konstruksi dari panel BeRi-C tersambung satu sama lain dengan cukup kokoh menggunakan baut. Dengan jaringan kawat penguat didalamnya sebagaimana konsep ferosemen, panel BeRi-C memiliki daktilitas cukup baik, dan, kapasitas retak yang jauh lebih tinggi dari pada beton bertulang lainnya.

Hasil penelitian terapan ini juga akan dipublikasi pada beberapa jurnal international dan nasional, juga sangat berpeluang untuk mendapatkan paten: Panel Beton Ringan Komposit (BeRi-K).

Keywords: Beton Ringan, Mutu Tinggi, Kuat Tekan, Agregat Ringan, Infrastruktur, dan Serat

(4)

iv PRAKATA

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, atas berkat dan karunia-Nya maka pelaksanaan kegiatan pengabdian ini dapat terlaksana dengan baik sesuai dengan yang diharapkan. Shalawat dan Salam disampaikan ke junjungan Nabi Muhammad SWA yang telah menuntun manusia dari alam kebodohan ke alam yang penuh ilmu pengetahuan.

Pengabdian ini dilaksanakan dengan paling tidak dua sasaran utama: 1. meningkatkan pengetahuan dan teknologi dalam penggunaan beton busa

ringan pada konstruksi pracetak; dan

2. memberikan bantuan rumah untuk korban gempa yang merupakan contoh rumah ramah gempa yang dikembangkan di Universitas Syiah Kuala. Kegiatan ini terlaksana dikarenakan adanya kerja sama yang baik antara Universitas Syiah Kuala dan Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya, terutama pasca gempa di akhir tahun 2017. Termasuk berkat kerjasama tim pengabdi, kedua mitra, mahasiswa Jurusan Teknik Sipil, dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Syiah Kuala.

Penulis menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi hingga kegiatan ini dapat diselesaikan dengan baik. Semoga semua bantuan dan sokongan yang diberikan dapat menjadi amal shaleh di sisi Allah SWT. Penulis berharap hasil kegiatan ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

Banda Aceh, Oktober 2018 Tim Pelaksana

(5)

iv DAFTAR ISI Halaman HALAMAN PENGESAHAN ... ii RINGKASAN ... iii PRAKATA ... iv DAFTAR ISI ... v DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR GAMBAR ... vii

DAFTAR LAMPIRAN ... viii

BAB 1 PENDAHULUAN 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Tujuan dan Sasaran ... 3

1.3 Kebaruan dan Terobosan Teknologi ……… 4

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 6

BAB 3 METODE PENELITIAN ... 9

BAB 4 KEGIATAN PENELITIAN 2018 ……… 11

4.1 Pengujian Kapasitas Panel Pracetak Dibebani Beban Lateral .. 11

4.2 Pengujian Korosi Tulangan ………. 24

4.3 Pengujian Sifat Mekanis ………. 35

BAB 5 LINGKUP DAN JADWAL PENELITIAN 5.1 Road Map ... 39

5.2 Jadwal Penelitian Keseluruhan ... 41

DAFTAR PUSTAKA ... 42

(6)

iv

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1.1 Target Luaran ……….. 5

Tabel 4.1.1 Benda Uji Portal Beton Bertulang (PBB) yang dipersiapkan .. 12 Tabel 4.1.2 Kelompok Benda Uji Portal Beton Bertulang ………. 13

Tabel 4.1.3 Komposisi Campuran Beton ……… 15

Tabel 4.1.4 Hasil Pengujian Kuat Tekan Silinder pada Elemen Portal ….. 17 Tabel 4.2.1 Variasi Benda Uji Balok ………. 25 Tabel 4.2.2 Variasi Benda Uji Silinder ……….. 26 Tabel 4.3.1 Hasil Pengujian Kuat Tekan dan Kuat Tarik Belah Silinder .. 37 Tabel 5.1 Jadwal Pelaksanaan Penelitian ……… 40

(7)

iv

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1.1 Beberapa contoh aplikasi beton ringan busa ... 2

Gambar 3.1 Peralatan Laboratorium ... 6

Gambar 4.1.1 Detail Benda Uji Portal Dinding Tanpa Rangka ... 14

Gambar 4.1.2 Detail Benda Uji Portal Beton Bertulang Tanpa Dinding …… 14

Gambar 4.1.3 Set Up alat dan portal untuk pengujian ……… 15

Gambar 4.1.4 Grafik Hubungan Beban dan Perpindahan ……….. 19

Gambar 4.1.5 Grafik Envelope Beban dan Perpindahan PDTR ……… 20

Gambar 4.1.6 Grafik Hubungan Penurunan Kekakuan Secant dan Perpindahan 20 Gambar 4.1.7 Grafik Envelope Beban dan Perpindahan PDTR ……….. 22

Gambar 4.1.8 Pola Retak pada PDTR ………. 23

Gambar 4.2.1 Bentuk dan ukuran benda uji beton busa berserat ……… 25

Gambar 4.2.2 Beton busa berserat polypropylene tanpa anoda korban ... 25

Gambar 4.2.3 Beton busa berserat polypropylene dengan anoda korban ... 25

Gambar 4.2.4 Beton busa berserat polypropylene dengan anoda ……… 26

Gambar 4.2.5 Pengukuran Potensial Korosi ……… 27

Gambar 4.2.6 Potensial korosi pada BBSTA ……….. 29

Gambar 4.2.7 Potensial korosi pada BBSATT ……… 30

Gambar 4.2.8 Potensial korosi pada BBSAT ……….. 31

Gambar 4.2.9 Perbandingan nilai potensial korosi dari semua beton ………. 32

Gambar 4.2.10 Diagram hubungan pH beton dengan potensial korosi ….… 35 Gambar 4.3.1 Pengujian Kuat Tekan Beton ……… 36

(8)

iv LAMPIRAN

Halaman Lampiran 1 Artikel Ilmiah ... 43 Lampiran 2 Personalia Tenaga Peneliti beserta Kualifikasinya ... 50 Lampiran 3 Foto dan Gambar Aktivitas ... 69

(9)

1

Bab I - PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia adalah Negara kepulauan terbesar di dunia dengan jumlah pulau mencapai 17.000 buah. Luas perairan lebih kurang 60% dari luas wilayah keseluruhan. Kondisi geographis yang demikian memerlukan armada kapal yang kuat untuk sarana penangkap ikan yang merupakan salah satu potensi ekonomi, terutama bagi masyarakat pesisir/nelayan dan sebagai moda transportasi penumpang dan barang. Saat ini umumnya kapal sebagai moda transportasi terbuat dari bahan baja, sedangkan kapal nelayan masih banyak yang menggunakan bahan kayu. Sebagai bahan konstruksi yang paling banyak digunakan karena murah dan mudah dibentuk, beton juga banyak diaplikasikan pada konstruksi maritim/kelautan. Tidak saja sebagai bahan untuk bangunan pelabuhan, pemecah ombak, dan konstruksi pelindung pantai lainya, beton juga telah digunakan sebagai bahan untuk kapal sejak akhir abad ke 19. Namun, kapal beton mempunyai kelemahan, yaitu berat dan tebalnya. Perkembangan teknologi beton yaitu adanya beton ringan mutu tinggi memungkinkan kapal beton menjadi salah satu alternatif karena semakin mahalnya bahan baja dan sulitnya mendapatkan kayu mutu baik karena isu penyelamatan hutan untuk melestarikan lingkungan.

Dengan potensi bahan agregat ringan dari alam (pozolan, misalnya) dan hasil sampingan industri seperti abu terbang (fly ash) dari pembangkit listrik tenaga uap/batubara, serta hasil sampingan pertanian (abu sekam padi) dan perkebunan (cangkang sawit) yang melimpah, upaya pengembangan kapal beton akan sangat menjanjikan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Abdullah (2009) menunjukkan bahwa, kuat tekan beton busa yang menggunakan pozolan atau fly ash sebagai bahan pengganti semen dan berat jenis (Specific Gravity) = 1,8 dapat > 60 MPa.

Panjangnya garis pantai dan luasnya Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) yang dimiliki oleh Indonesia, secara umum belum memberikan dampak terhadap kesejahteraan nelayan dan masyarakat yang tinggal di kawasan pantai. Hal ini disebabkan, diantaranya, keterbatasan teknologi dan lemahnya kemandirian. Misalnya, sampai saat ini bahan baku untuk pembuat kapal penangkap ikan untuk nelayan masih sangat tergantung pada hanya kayu dan baja. Kedua bahan tersebut masing-masing punya kelemahan, yaitu service life-nya pendek, tidak mungkin diproduksi secara massal, khususnya konstruksi dari kayu, dan mahal. Pengembangan kawasan

(10)

2

pantai untuk objek wisata agar dapat memberikan dampak terhadap perbaikan ekonomi masyarakat. Selain itu, berbagai bentuk dekoratif untuk taman dan lain-lain dapat diproduksi dengan mutu yang baik. (Lihat Photo – 1 di bawah).

Secara umum, beton bertulang rentan terhadap korosi/karatan. Namun, jika diproduksi dengan pengawasan yang baik, konstruksi terapung, seperti kapal beton pertama dari ferosemen (salah satu jenis beton bertulang) yang dipatenkan oleh Joseph-Louis Lambot pada tahun 1850-an masih baik kondisinya. Peneliti1850-an y1850-ang dilakuk1850-an di Fakultas Teknik Unsyiah tent1850-ang beton ringan terbukti lebih kedap air, sehingga laju korosi lebih rendah. Kombinasi konsep ferosemen dan beton ringan mutu tinggi yang diproduksi secara pracetak memungkinkan percepatan dan pengawalan mutu dilakukan. (Lihat Photo – 1: Contoh Aplikasi Beton Pracetak).

(11)

3

Dari sejumlah penelitian yang dilakukan oleh Abdullah, baik terhadap ferosemen, yaitu pada tahun 1994, 1995, 1996, 2001, 2003, dan terhadap beton ringan, dari tahun 2004 s/d 2009 menunjukkan bahwa konsep konstruksi ferosemen dan pemanfaatan beton ringan busa sangat tepat untuk dikembangkan di Indonesia untuk berbagai jenis konstruksi. Kalau pada konstruksi bangunan gedung pemanfaatan dan pengembangan beton busa akan menjadikan konstruksi gedung menjadi lebih ringan sehingga berimplikasi positif terhadap pengurangan gaya gempa yang bekerja, beton ringan busa untuk konstruksi maritim, kapal dan konstruksi bangunan lepas paintai lainnya seperti jetty dan jembatan terapung, sangat menjanjikan karena berbagai potensi, yaitu sumber agregat ringan alami dan hasil sampingan industri perkebunan, serta sumber daya manusia yang terampil dan relatif murah yang kita miliki di Indonesia.

1.2 Tujuan dan Sasaran

Dengan potensi sumber daya alam yang melimpah seperti semen dan agregat ringan, baik yang alami maupun hasil sampingan industry untuk bahan baku, serta didukung oleh sumber daya manusia yang terampil dan relatif murah, penggunaan konsep ferosemen yang menggunakan beton ringan busa merupakan teknologi yang tepat untuk pembuatan kapal. Pemanfaatan bahan agregat alami, seperti pasir pozolan dan batu apung belum dilakukan secara optimal. Juga bahan dari hasil sampingan industri, seperti abu terbang (fly ash) dari pembangkit listrik tenaga uap/batubara, serta hasil sampingan pertanian (abu sekam padi) dan perkebunan (cangkang sawit) yang melimpah di Indonesia. Pemanfaatan bahan tersebut saat ini masih belum memberikan nilai tambah yang memadai.

Semua bahan untuk kapal beton ini tersedia melimpah di Indonesia. Keberhasilan dalam mengembangkan kapal beton sebagai sarana transportasi sungai dan laut dapat mengurangi ketergantungan kepada bahan tradisional (kayu dan baja) yang semakin langka dan mahal, juga, akan membuka lapangan kerja yang besar, serta dapat mengurangi pengrusakan hutan.

Dengan menggunakan konsep konstruksi ferosemen, tebal elemen/komponen dapat dibuat lebih tipis, yaitu boleh < 50 mm. karena tidak menggunakan agregat kasar dalam campuran beton dan diameter tulangan lebih kecil. Konstruksi yang ringan dan tipis sangat sesuai diaplikasikan pada berbagai sarana dan prasarana terapung (floating structures) yang dibutuhkan di kawasan pantai. Melimpahnya potensi bahan agregat ringan pozolanic, baik dari

(12)

4

alam (pasir pozolan dan batu apung) maupun limbah industri, menjadikan pengembangan kapal beton ringan akan sangat menjanjikan.

1.3 Kebaruan dan Terobosan Teknologi

Penelitian tentang ferosemen sudah dilakukan oleh Abdullah sejak tahun 1990, saat meneliti untuk gelar master di National University of Singapore (NUS). Selanjutnya, konsep konstruksi ferosemen ini juga diteliti untuk perkuatan kolom bangunan (1998 - 2001) di TITech, Tokyo (program doctor) dan sebagai penahan beban impact (2001 -2003) saat sebagai JSPS postdoctoral fellow di tempat yang sama. Tahun 2004 – 2005 kembali ke NUS sebagai Research Fellow untuk penelitian beton ringan.

Pengembangan beton ringan sebagai peneliti utama di Unsyiah sudah dilakukan sejak 2006 dengan dukungan dana dari Dikti. Fokus saat itu beton ringan mutu non-struktural, yaitu kuat tekan < 10 MPa. Mulai tahun 2009, beton ringan mutu struktural, kuat tekan > 17 MPa mulai diteliti. Sejak tahun 2010 sampai sekarang (2015) berbagai aplikasi panel pracetak sudah dilakukan dengan dukungan NGO dan dinas terkait yang ada di Pemda Aceh. Pada tahun 2013 dan 2014, telah dilakukan kerjasama dengan PT Solusi Inovatif Pracetak (SIP) Surabaya untuk aplikasi panel pracetak komponen bangunan (gedung dan rumah).

Kerjasama dan dukungan PT SIP masih tetap berlanjut hingga saat ini. Tentu saja akan terus berlanjut dengan adanya tantangan dan peluang untuk pengembangan floating structures sekarang dan dimasa yang akan datang. Sementara itu, adanya dukungan dan kerjasama dengan PU Puskim Bandung, disamping untuk standarisasi, juga akan memperkuat tekat untuk memposisikan Indonesia sebagai Negara Bahari yang mandiri, termasuk dalam teknologinya. Diantara beberapa bentuk keluaran yang dihasilkan dari penelitian ini adalah:

Tahun I dan II:

- Tulisan Ilmiah terkait dengan sifat mekanis dan durabilitas beton ringan mutu tinggi berserat yang akan dipublikasikan pada Jurnal dan Konferen: nasional dan internasional,

Tahun III:

- Prototipe / uji laboratorium tipikal produk yang nantinya akan dicobakan produksi skala lab. Tahun IV:

(13)

5

- Hak Karya Intelektual (HKI, Paten): bahan, metodologi, serta produk tertentu; dan

- Prototype kapal baik untuk sarana transportasi maupun untuk kapal penangkap ikan nelayan.

Tabel 1.1 – Target Luaran

No. Kegiatan Tahun Tahun

I II III IV

1 HKI(didaftarkan) √ √

2 Produk teknologi/rekayasa (intervensi) sosial (status: pengembangan, uji coba, penerapan, evaluasi)

√ √

3 Pelayanan jasa (status: pengembangan, uji coba, penerapan, evaluasi)

√ √ √ √

4 Kerja sama (status: penjajakan, pelaksanaan, evaluasi kerja sama)

√ √ √ √

5 Product market-acceptance

6 Spin-off

7 Pembangkitan pendapatan

(14)

6

Bab II – TINJAUAN PUSTAKA

Beton ringan (light weight concrete), yang tentu saja lebih ringan dari beton yang umum kita kenal yaitu beton normal atau sering disebut juga sebagai beton konvensional, telah digunakan untuk berbagai jenis konstruksi teknik sipil sejak puluhan tahun lalu, utamanya di negara beriklim sub-tropis, seperti Eropa, Amerika Utara, Jepang dan Australia (Narayan 2000; ACI Committee 213, 1987). Karena ringan, beban mati (dead load) dari suatu konstruksi dari beton ringan akan menjadi kecil, dan pelaksanaan pekerjaan menjadi lebih cepat serta lebih murah. Disamping itu, membesar nilai perbandingan kekuatan terhadap berat akan sangat positif terutama pada konstruksi bangunan terapung, seperti kapal dan bangunan lepas pantai lainnya.

Penelitian beton ringan di Jurusan Teknik Sipil UNSYIAH telah dilakukan oleh Abdullah dkk. sejak tahun 2006 dengan sumber dana dari berbagai pihak, seperti dari Dikti (TPSDP 2006, RUSNAS 2009, Hikom 2010-12), dan Mandiri (2007). Pada tahap awal, penelitian beton ringan busa difokuskan untuk aplikasi bahan dinding dengan kuat tekan (f’c) sekitar 3-5 MPa, dan SG (Specific Gravity) ≤ 1, karena saat itu Aceh sedang membangun puluhan ribu unit rumah dan gedung yang hancur saat Tsunami 2004. Kebutuhan bahan dinding dari batubata tidak dapat dipenuhi oleh pengrajin bata lokal. Pada tahun 2006 tersebut BATAFOAM, yaitu blok beton dari beton busa berukuran 9 cm x 20 cm x 60 cm diperkenalkan kepada masyarakat dan developer, sehingga baik di Aceh maupun di Pulau Nias (Provinsi Sumatera Utara), banyak rumah untuk korban tsunami dan gedung yang dibangun menggunakan BATAFOAM sebagai bahan untuk dinding.

Penelitian tahun selanjutnya, dengan sumber dana Rusnas dan Hikom, lebih difokuskan kepada beton ringan busa mutu struktural dan SG = 1.2 – 1.8. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, beton ringan busa yang memanfaatkan berbagai bahan pozolan, baik yang alami maupun limbah industry, dan penggunaan agregat ringan alami (batu apung dan pasir pozolan), serta agregat limbah industri seperti cangkang sawit, dapat menghasilkan beton dengan kualitas struktural, yaitu kuat tekannya > 17 MPa. Pada tahun 2011 telah berhasil dibuat beton ringan busa mutu tinggi dengan kuat tekan. f’c, mencapai 60 MPa. Lihat road-map penelitian beton ringan di Lampiran.

(15)

7

Selain penelitian sifat mekanis, berbagai uji elemen struktur, seperti balok dan plat lantai telah dilakukan sejak tahun 2010. Dari beberapa uji tersebut diketahui bahwa, dengan menambahkan agregat ringan dan serat, perilaku dan kapasitas balok dan plat lantai dari beton ringan busa identik (Alfis, 2012). Hal yang sama dilaporkan oleh Teo (2007) dan Jumaat (2009). Penelitian mereka menunjukkan bahwa, penggunaan cangkang sawit segar (sebelum dibakar) sebagai pengganti agregat pada campuran beton tidak memberikan dampak yang negatif terhadap perilaku balok beton bertulang. Namun demikian, untuk benda uji yang hanya menggunakan beton busa tanpa agregat ringan bongkahan cangkang sawit atau pasir pozolan atau tanpa tambahan serat, kapasitas geser balok lebih rendah. Hal ini disebabkan tidak adanya konstribusi agregat interlock terhadap kapasitas geser.

Dengan mutu struktural yang dihasilkan di atas telah dilakukan pengujian balok yang menggunakan beton ringan busa agregat pozolan dan bongkahan cangkang sawit dan penambahan serat menunjukkan duktilitas yang sebanding dengan balok menggunakan beton normal. Hasil penelitian tahun 2011 menunjukkan bahwa, balok beton ringan busa bertulang dapat ditingkatkan kapasitas gesernya sama seperti kapasitas geser balok beton normal bertulang dengan menambahkan serat nilon sebesar 1%. Bongkahan cangkang sawit (BCS) yang sudah diteliti pada penelitian hibah kompetensi adalah limbah bakaran boiler. Disejumlah pabrik pengolah sawit di Aceh dan Sumatera pada umumnya, cangkang sawit segar dimanfaatkan sebagai bahan bakar pada boiler. Sisa bakaran cangkang ini berupa bongkahan karang keras tetapi relatif lebih ringan dari batuan alami. Bongkahan ini jika dihancurkan akan menjadi butiran agregat kasar yang ringan tetapi lebih keras dibandingkan batu apung dan mempunyai permukaan yang kasar. Penelitian awal yang dilakukan oleh Abdullah (2009) menunjukkan bahwa, pada SG = 1.6, kuat tekan beton busa yang ditambahkan BCS juga dapat diklasifikasikan sebagai beton struktural.

Berbagai uji durability masih dilakukan saat ini. Diantaranya adalah uji potensi korosi. Hasil uji tahap awal (2011 dan 2012) menunjukkan bahwa, penggunaan bahan pozolan, baik yang alami maupun yang hasil limbah industri sebagai bahan pengganti semen, memberikan dampak positif bagi pengurangan potensi korosi tulangan. Hasil penelitian tentang potensi korosi

(16)

8

ini dilakukan dalam jangka waktu lama sehingga akan didapatkan hasil yang lebih komprehensif nantinya.

Pada penelitian lanjutan (penelitian dengan dana Hibah Kompetensi tahun 2011 dan 2012), juga dilakukan serangkaian pengujian lanjut tentang sifat-sifat mekanis dari beton busa menggunakan berbagai bahan tambahan dan bahan pengganti semen yang telah diidentifikasi. Selanjutnya, terhadap beton yang dipilih tersebut akan diuji geser (push-off test), dan uji kuat lekatan (bond strength test) terhadap besi tulangan.

Penelitian tentang bond strength, potensi korosi besi tualangan dan ketahanan beton busa terhadap panas juga masih sangat terbatas. Informasi tentang bond strength dan potensi korosi adalah sangat penting karena akan mempengaruhi layan (serviceability), seperti retak, lendutan, dan umur layan dari suatu elemen struktural.

Penggunaan serat pada beton ringan sudah banyak dilakukan. Beberapa penelitian sepuluh tahun terakhir menunjukkan bahwa, penambahan serat memberikan konstribusi terhadap kekuatan tarik sehingga retak menjadi sedikit, dan konstribusi terhadap kuat tekan dan impact. 1. Mechanical Properties of Fiber Reinforced Lightweight Concrete Containing Surfactant

(2010);

2. Investigation into Mechanical Properties of Lightweight Concrete Containing Steel Wire (2013);

3. Properties of Fiber-Reinforced Lightweight Concrete (2005); 4. Casting Thin Concrete Furniture with GFR (2012);

(17)

9

Bab 3 – METODE PENELITIAN

Kajian dan kegiatan penelitian sifat mekanis bahan, dan uji perilaku dan kekuatan elemen struktur beton ringan mutu tinggi serta durabilitasnya akan dilakukan di Laboratorium Fakultas Teknik Unsyiah. Fasilitas laboratorium yang ada, baik di jurusan Teknik Sipil, maupun Teknik Mesin cukup memadai untuk keperluan uji tersebut. Setelah uji coba sifat mekanis dan uji kekuatan komponen, akan dilakukan uji produksi skala laboratorium.

Dari hasil pengujian sifat mekanis dan kekuatan komponen akan dapat dipublikasikan beberapa makalah sebagai media desiminasi dan sosialisasi produk. Bersamaan dengan itu, uji pengujian lapangan dilakukan, baik di Banda Aceh maupun di lokasi Mitra. Lokasi kampus Unsyiah yang sangat dekat dengan laut dan bersebelahan dengan kanal banjir akan sangat mendukung uji model lapangan. Di lokasi Mitra, fokus pengujian adalah uji produksi full-scale. Uji laboratorium dan uji lapangan full-scale, akan didukung juga oleh fasilitas PU Puskim Bandung untuk pengujian struktural dan standarisasi agar produk penelitian benar-benar dapat dipergunakan oleh masyarakat.

Selain uji coba komposisi campuran, pengecoran, pembuatan cetakan, dan metode sambung komponen, setiap sampel benda uji akan diuji kekuatannya. Diskusi dengan pelaku industri akan dilakukan secara berkala untuk mendapatkan masukan-masukan terhadap capaian yang telah dilakukan di laboratorium. Kelebihan penggunaan beton ringan akan dimanfaatkan dalam pengaturan dimensi komponen pra-cetak sehingga produknya semaksimal mungkin tidak memerlukan alat berat dalam memindahkan dan memasang pada posisinya.

Dalam pelaksanaannya, selain dibantu oleh tenaga laboran/teknisi lab, sejumlah mahasiswa (i), S-2 dan S-1 akan dilibatkan secara langsung dalam penelitian ini. Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini telah tersedia di Laboratorium Konstruksi dan Bahan Bangunan, Fakultas Teknik UNSYIAH. Bahan-bahan yang dipakai dalam penelitian adalah, dan kalau memungkinkan, diupayakan semuanya tersedia/produk dalam negeri

(18)

10

(19)

11

Pengujian di lokasi Mitra sekaligus sebagai dimulai proses alih teknologi dan untuk memastikan aplikasinya dapat berjalan sebagaimana diharapkan. Pada tahun kedua, pada saat uji lapangan dimulai, publik, terutama masyarakat dan perwakilan pemerintah terkait akan diundang untuk menyaksikan dan berdiskusi. Bersamaan dengan uji lapangan ini, tim peneliti, baik dari universitas maupun dari Mitra akan memulai kajian kelayakan komersial. Keberhasilan dalam mengembangkan dan komersialisasi konstruksi terapung, yang salah satu produknya adalah kapal beton akan sangat mendukung sarana transportasi sungai dan laut akan mengurangi ketergantungan kepada bahan tradisional kayu dan baja.

Saat ini industri konstruksi di Indonesia sangat bergantung kepada teknologi konvensional, baik material maupun pelaksanaannya, sehingga kualitas yang dihasilkan belum memenuhi harapan para pihak dan umur konstruksi menjadi singkat. Kualitas hasil pelaksanaan konstruksi juga sangat dipengaruhi oleh kompetensi tenaga kerja kita yang rendah. Dengan konsep pracetak, yang didukung oleh penguasaan material beton ringan mutu tinggi dan potensi sumber daya alam yang melimpah seperti semen dan agregat ringan, serta penggunaan konsep ferosemen, industrialisasi konstruksi di Indonesia akan menghasilkan konstruksi yang berkualitas. Beton ringan yang dikembangkan di Unsyiah memungkinkan tumbuhnya Industrialisasi konstruksi skala menengah, sehingga akan tersebar di level Kabupaten / Kota. Dengan demikian, akan membuka kesempatan kerja yang besar bagi pencari kerja di Indonesia yang terus bertambah karena besarnya populasi penduduk.

(20)

18

18

BAB 4 – KEGIATAN PENELITIAN TAHUN 2018

Beberapa kegiatan penelitian yang telah dilaksanakan pada tahun 2018 meliputi: 4.1 Pengujian Kapasitas Panel Pracetak Dibebani Beban Lateral,

4.2 Sifat Mekanis Beton Ringan Berserat,

4.3 Pengaruh Penambahan Serat Terhadap Laju Korosi Tulangan, dan 4.4 Uji pengecoran tampang tipis.

4.1 Pengujian Kapasitas Panel Pracetak Dibebani Beban Lateral

4.1.1 Rencana Pengujian

Pengujian ini dilakukan untuk mempelajari perilaku dan kekuatan sambungan baut pada penyambungan panel pracetak. Pada penelitian ini dilakukan pengujian terhadap panel dinding pracetak ferrofoam concrete untuk melihat perilakunya akibat pembebanan. Jumlah benda uji yang dipersiapkan hanya satu portal. Detail dari benda uji diperlihatkan pada Tabel 4.1.1.

Tabel 4.1.1 Benda Uji Portal Beton Bertulang (PBB) yang dipersiapkan Benda

Uji Elemen Ukuran

(mm) Material Variabe l yang diuji Beton Tul. Utama Tul. Sengkang PDTR Balok 150 x 150 f’c = 27,5 MPa Uk. maks. agregat

= 25,4 mm 4Ø12 mm Ø8 - 150 Perilaku PBB tanpa rangka berisi dinding pracetak Sloof 200 x 150 Dinding 500 x 30 x 2000 Panel Pracetak

Dari hasil pengujian dilakukan perbandingan dengan penelitian sebelumnya (Sari, 2017), dimana yang sudah dilakukan pengujian yaitu benda uji PTD0 dan PDDR seperti yang diperlihatkan pada Gambar 4.1.2, Gambar 4.1.3 dan Tabel 4.1.2.

(21)

19

19

Tabel 4.1.2 Kelompok Benda Uji Portal Beton Bertulang (PBB) dari penelitian terdahulu

Benda

Uji Elemen Ukuran (mm)

Material Variabel yang

diuji

Beton Tul. Utama Tul.

Sengkang PTD0 Balok 150 x 150 f’c = 27,5 MPa Uk. maks. agregat = 25,4 mm 4Ø12 mm Ø8 - 150 Perilaku PBB tanpa dinding Kolom 150 x 150 Sloof 200 x 150 Dinding - - PDDR Balok 150 x 150 f’c = 27,5 MPa Uk. maks. agregat = 25,4 mm 4Ø12 mm Ø8 - 150 Perilaku PBB berisi dinding pracetak Kolom 150 x 150 Sloof 200 x 150 Dinding 500 x 30 x 2000 Panel Pracetak Sumber: Sari (2017) Keterangan :

PTD0 = Portal Tanpa Dinding

PDDR = Portal Dinding Dengan Rangka PDTR = Portal Dinding Tanpa Rangka

(22)

20 20 200 23 5 0 20 0 0 200 150 200 150 150 3300 Balok Uk. 150 x 150 T. Utama: 4Ø10 Sengkang: Ø8-150 Kolom Pracetak (U) Uk. 130 x 130 23502000 Panel Ferrofoam Concrete Sloof Uk. 200 x 150 T. Utama: 4Ø10 Sengkang: Ø8-150 Baut Pengikat 200 200 200 500 500 200 700 2300 700

Gambar 4.1.1 Detail Benda Uji Portal Dinding Tanpa Rangka (PDTR)

40 d 150 3300 300 0 150 Balok 150x150 Utama: 4Ø10 Sengkang: Ø8 - 150 Kolom 150x150 Utama: 4Ø10 Sengkang: Ø8 - 150 150 Sloof 200x150 Baut Pengikat 150

Gambar 4.1.2 Detail Benda Uji Portal Beton Bertulang Tanpa Dinding (PTD0) Sumber: Sari (2017)

(23)

21

21

Rangkaian alat tes beban lateral hidraulic untuk mengenerate beban Cyclic mempunyai kapasitas stroke 500 mm dengan kapasitas beban 50 ton dipasang pada strong wall menggunakan pelat berukuran 640 x 640 x 50 mm yang disambung menggunakan baut

Untuk mengukur perpindahan / displacement titik uji, LVDT yang dipasangkan pada benda uji sebanyak lima titik. Pada LVDT titik satu ketelitiannya 1000 mm dan LVDT di titik lainnya dengan ketelitian 100 mm. LVDT dipasang pada sisi kanan dan kiri dinding untuk membaca nilai perpindahan pada saat pengujian beban siklik. Pemasangan alat pengujian dan benda uji dapatdilihat pada Gambar 4.1.2.

Strong Wall Actuator CyclicLoad LVDT 1 LVDT 5 LVDT 2 LVDT 4 LVDT 3 Strong Floor

(24)

22

22

Sebagaimana pada Gambar 4.1.3, Pengujian portal menggunakan beban lateral siklik. Pengujian lateral siklik dilakukan dengan memberikan beban quasi- static dengan arah pembebanan sejajar bidang balok (in plane) pada kiri bagian atas portal.

Mekanisme pembebanan dilakukan dengan kontrol beban yang ditentukan oleh perpindahan maksimum yang terukur dari LVDT. Siklus pembebanan diberikan pada beban 0,5 tf; 1,0 tf; 1,5 tf; dan kelipatannya lalu didorong sampai benda uji hancur. Pembacaan pembebanan juga dilakukan sampai benda uji hancur (tercapainya beban ultimit). Pola retak diamati pada setiap siklus beban dengan membuat gambar pola retak yang terjadi pada dinding menggunakan spidol/alat gambar lainnya.

Nilai perpindahan yang digunakan adalah nilai perpindahan maksimum yang terjadi pada benda uji portal. Dari grafik hubungan beban dengan perpindahan didapatkan nilai kekuatan dan kekakuan pada setiap siklus pembebanan. Kapasitas kekuatan puncak diambil dari titik tertinggi dari envelope kurva histeretik pada pembebanan dorong dan tarik.

Potensi energi disipasi didapatkan dari luas daerah dibawah kurva hubungan beban dan perpindahan. Luasan ini dihitung menggunakan software AutoCAD 2017 dengan persamaan kurva tersebut. Perpindahan ultimit ditentukan dari perpindahan saat kekuatan puncak telah turun sebesar 20% dan perpindahan leleh ditentukan dengan menggunakan metode equal energy absorption (perpindahan berdasarkan kapasitas penyerapan energi).

Retak yang muncul pada saat pembebean diamati dan dicatat terhadap siklus beban. Pola retak dan kehancuran disampaikan dalam bentuk gambar dan deskripsi.

(25)

30

30 4.1.2 Hasil Penelitian

a) Hasil perencanaan campuran beton (mix design)

Perhitungan komposisi campuran beton untuk mendapatkan mutu K-225 menggunakan metode ACI 211.1-91 yang disesuaikan pada tahun 2008. Hasil komposisi campuran yang terdiri dari semen, air, pasir, dan agregat untuk 1 m3 beton konvensional disajikan pada Tabel 4.1.3.

Tabel 4.1.3 Komposisi Campuran Beton untuk 1 m3

Elemen FAS Semen (Kg) Air (Kg) Pasir (Kg) Agregat (Kg) Balok

0,5 373,52 186,76 587,63 1247,69

Sloof

b). Pengujian kuat tekan beton portal

Pengujian kuat tekan dilakukan pada umur 28 hari untuk mengontrol mutu beton yang digunakan pada benda uji balok dan sloof sebagai pengikat dan perletakan alat pengujian. Berikut adalah hasil pengujian kuat tekan benda uji silinder berdimensi Ø 15 cm x 30 cm diperlihatkan pada Tabel 4.1.4.

Tabel 4.1.4 Hasil Pengujian Kuat Tekan Silinder pada Elemen Portal

Nama Benda Uji

Dimensi Benda Uji

Berat Beban (P) Kuat Tekan Kuat Tekan Rerata Diameter Tinggi (cm) (cm) (kg) (kg) (kg/cm2) (kg/cm2) PDTR 1 14,91 30,11 12,56 51000 292,23 288,87 2 15,04 30,24 12,64 53000 298,26 3 15,03 30,10 12,60 50000 281,81 4 15,09 30,20 12,49 52000 290,63 5 15,04 30,20 12,50 50000 281,44

c). Pengujian portal dinding tanpa rangka (PDTR)

1. Beban dan perpindahan lateral PDTR

Grafik hubungan beban dan perpindahan didapatkan dari data beban dan perpindahan hasil pengujian lateral siklik pada portal. Nilai perpindahan lateral maksi-

(26)

31

31

mum pada PDTR yaitu sebesar 52,8 mm didapatkan dari LVDT 1 yang terletak di tengah-tengah sisi kanan atas portal. Grafik hubungan beban dan perpindahan lateral dapat dilihat pada Gambar 4.1.1.

(27)

32 32 B eba n L a ter a l (T f) 8 6 4 2 52,8; 1,04 0 -100 -50 0 -2 50 100 150 200 250 -4 -6 -8 Perpindahan Lateral (mm)

Beban 0,5 S1 Beban 0,5 S2 Beban 0,5 S3 Beban 1 S1

Beban 1 S2 Beban 1,5 S1 Beban Monotonik

Gambar 4.1.4 Grafik Hubungan Beban dan Perpindahan PDTR

2. Kapasitas kekuatan maksimum PDTR

Titik tertinggi dari envelope grafik hubungan beban dan perpindahan, didapatkan kapasitas kekuatan maksimum benda uji PDTR 1,14 tf. Data hasil perhitungan diperlihatkan pada Lampiran C Perhitungan C.4.1 halaman 107. Grafik envelope hubungan beban dan perpindahan lateral dapat dilihat pada Gambar 4.1.5.

(28)

33 33 P enu run an K ek a k u an B eba n La ter a l (Tf ) 8 6 4 2 22,8; 1,14 -100 0 -50 0 -2 50 100 150 200 250 -4 -6 -8 Perpindahan Lateral (mm)

Gambar 4.1.5 Grafik Envelope Beban dan Perpindahan PDTR

3. Penurunan kekakuan secant portal PDTR

Penurunan kekakuan secant pada benda uji PDTR dihitung berdasarkan sub bab 3.9.1. Grafik hubungan penurunan kekakuan dengan perpindahan lateral dapat dilihat pada Gambar 4.1.6. 1,2 1,0 1 1,00 0,8 0,6 0.4 0,2 0,26 0,23 0,0 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 Perpindahan Lateral (mm)

(29)

34

34

Berdasarkan Gambar 4.1.6, benda uji PDTR mengalami penurunan kekakuan dimulai dari perpindahan lateral 1,27 mm sampai pada perpindahan 19,35 mm sebesar 0,23 mm. Sebaliknya, pada kekakuan selanjutnya benda uji mengalami kenaikan kekakuan pada perpindahan lateral 16,8 mm sebesar 0,26. Kesimpulan yang didapatkan dari grafik diatas adalah pada benda uji PDTR mengalami penurunan dan kenaikan kekakuan sebelum dilakukannya siklus pembebanan terakhir.

Berdasarkan grafik pada Gambar 4.1.6, nilai energi disipasi pada pembebanan dorong pada setiap siklus berbeda. Pada siklus 0,5 tf sampai 1,0 tf energi disipasi yang didapatkan semakin besar, tetapi pada siklus 1,5 tf energi disipasi mengalami penurunan. Ini berbanding terbalik dengan hubungan energi dan beban tarik lateral. Nilai energi disipasi pada pembebanan lateral semakin besar pada setiap siklusnya.

Daktilitas struktur PDTR

Daktilitas struktur diperoleh dari envelope grafik hubangan beban dan perpindahan. Grafik envelope beban dan perpindahan dapat dilihat pada Gambar 4.1.7.

(30)

35 35 22,8;1,14 dy = 14, 65 Gaya L a te ral ( T o n f) 1,8 1,6 1,4 1,2 1 0,8 0,6 0,4 0,2 0 0 10 20 30 40 50 60 70 Perpindahan Lateral (mm) h 80% h max

Gambar 4.1.7 Grafik Envelope Beban dan Perpindahan PDTR

Berdasarkan grafik diatas, perpindahan ultimit (du) tidak didapatkan, disebabkan oleh du yang ditentukan dari perpindahan saat kekuatan puncak telah turun sebesar 20%, tidak mengalami penurunan kekuatan. Nilai perpindahan leleh (dy) berdasarkan grafik envelope beban dan perpindahan sebesar 14,65 mm.

Pada siklus pembebanan 0,5 tf, keretakan kecil sudah terjadi. Keretakan awal ini terjadi pada panel kedua dari sisi kiri benda uji. Pada siklus pertama beban 1 tf, tampak depan sisi kanan benda uji mulai terangkat sebesar 2 cm. Benda uji kembali ke posisi semula pada siklus kedua beban 1 tf. Pada siklus pembebanan 1,5 tf, sisi kanan benda uji kembali terangkat hingga 5 cm. Elemen penghubung pada sisi kanan benda uji sudah mulai hancur sehingga dilakukan pembebanan siklus akhir. Pada siklus akhir pembebanan, portal sisi kiri sudah terangkat sebesar

(31)

36 36 1,0 1,5 0,7 0,9 0,7 0,5 1,2 1,2 1,1

4 cm. Pada kolom pracetak tidak ada keretakan yang terjadi. Pola Keretakan pada benda uji PDTR dapat dilihat pada Gambar 4.1.8.

Gambar 4.1.8 Pola Retak pada PDTR

Pada bagian belakang portal, keretakan awal mulai terjadi pada siklus pertama beban 1,0 tf. Keretakan ini terjadi dari sisi kiri atas panel dinding. Seiring dengan pembebanan pada portal, elemen penghubung semakin mengalami keretakan sehingga pada akhir pembebanan, sisi kiri elemen sudah hancur. Pengujian diberhentikan saat portal terangkat sampai setengah bagian portal dan elemen penghubung hancur sebagian.

(32)

37

37 4.2Pengujian Korosi Tulangan

4.2.1 Rencana Penelitian

Pada penelitan ini dilakukan uji potensial korosi dengan metoda half cell potential mapping terhadap benda uji balok beton busa yang telah diberi perlindungan katodik dengan penambahan aliran dari anoda korban zinc dan sudah diberi pengaruh lingkungan perendaman. Perendaman dilakukan dengan air sumur dan air laut buatan dengan menggunakan NaCl 3,5%.

Benda uji balok ini dibuat dengan FAS 0,4 dan SG 1,4 yang berukuran 10 cm x 10 cm x 100 cm dengan baja tulangan ulir D13 sebanyak 3 benda uji. Variasi benda uji yang dibuat dapat ditampilkan di Tabel 4.2.1 dibawah ini.

Tabel 4.2.1 Variasi Benda Uji Balok

Variasi Benda Uji Balok 10x10x100 cm Jumlah Benda Uji Beton busa bertulang dengan serat polyproplene dan

anoda korban terhubung (BBSAT) 1

Beton busa bertulang dengan serat polyproplene dan

anoda korban tidak terhubung (BBSATT) 1

Beton busa bertulang dengan serat polyproplene dan

tanpa anoda korban (BBSTA) 1

Total 3

Salah satu dari dua benda uji yang menggunakan anoda korban menggunakan sengkang dengan tulangan tunggal yang menggunakan tulangan polos berdiameter Ø8. Pada campuran beton busa ini ditambahkan serat polypropylene. Bentuk dan ukuran dari variasi benda uji dapat

(33)

38

38

dilihat pada Gambar 4.2.1 dan 4.2.2 dibawah ini. Serta variasi benda uji dapat dilihat pada Gambar 4.2.3 dan 4.2.4.

Tulangan Baja Ulir D13 Beton Busa Berserat Polypropylene (cm) (cm) 10 5 100 cm 5 5 10 20 6,5 10 13,5 5 20 (a) (cm) (cm

Tulangan Baja Ulir D13 Beton Busa Berserat Polypropylene 5 13,5 5 5 5 5 10 10 20 20 6,5 5 100 cm (b)

Gambar 4.2.1 Bentuk dan ukuran benda uji beton busa berserat Polypropylene (a) tampak depan; (b) tampak samping

Beton Busa Berserat Polypropylene

13,5

Tulangan Baja Ulir D13 5 20 (cm 100 cm 5 10 6,5 5 5 10 5 5 20 (cm)

Gambar 4.2.2 Beton busa berserat polypropylene tanpa anoda korban Tulangan Baja Ulir D13 Anoda Korban 2,5x5 cm Beton Busa Berserat Polypropylene (cm) (c m) 100 cm 5 5 8,5 10 10 5 5 20 20 5 10 6,5

(34)

39 39 Beton Busa Berserat Polypropylene Tulangan Baja

Ulir D13 Tulangan Baja

Polos Ø8 Anoda Korban 2,5x5 cm (cm) (c m) 5 20 5 5 10 6,5 8,5 100 cm 10 10 5 5 20

Gambar 4.2.4 Beton busa berserat polypropylene dengan anoda korban terhubung

Terdapat benda uji beton busa dengan polypropylene normal sebagai kontrol, beton busa dengan polypropylene dengan anoda korban terhubung dan beton busa dengan polypropylene dengan anoda korban tidak terhubung. Selain itu, dibuat juga benda uji silinder berdimater 15 cm dengan tinggi 30 cm untuk pengujian sifat mekanis beton busa kuat tekan dan kuat tarik belah dengan tambahan serat polypropylene. Variasi untuk perancangan penelitian untuk benda uji silinder 15x30 dapat dilihat ditabel 4.2.2 dibawah ini.

Tabel 4.2.2 Variasi Benda Uji Silinder

Pengujian Umur Benda Uji (Hari) Kode Benda Uji Jumlah Benda Uji Kuat Tekan 7 BBKT 1 3 14 BBKT 2 3 28 BBKT 3 3

Kuat Tarik Belah 28 BBTB 1 3

Total 12

4.2.2 Pengukuran potensial korosi baja tulangan dan wet dry cycle

Pengukuran potensial korosi baja tulangan dilakukan di Laboratorium Rekayasa Material Divisi Korosi Jurusan Teknik Mesin Universitas Syiah Kuala. Pengukuran potensial korosi

(35)

40

40

dilakukan dengan cara meletakkan alat diatas permukaan beton yang disambungkan dengan voltmeter yang juga disambungkan dengan baja tulangan dalam beton yang dirancang keluar dari selimut beton. Sebelum dilakukan pengukuran korosi pada benda uji balok dilakukan perawatan selama 56 hari yang dilanjutkan dengan wet dry cycle.

Wet dry cycle dilakukan dengan cara merendam beton selama 24 jam lalu diangin-anginkan pada 24 jam berikutnya dan diteruskan siklus tersebut selama 56 hari. Selama 84 hari tersebut dilakukan pengambilan data half-cell potential disetiap hari ke-7 dan kelipatannya dengan total 12 minggu data potensial korosi. Berikut adalah pengukuran potensial korosi beton busa berserat polypropyene yang dapat dilihat di Gambar 4.2.5 dibawah ini.

(cm) (cm) 5 5 20 5 5 10 High Impedance Volt Meter 5 10 6,5 Reference Electrode Cu/CuSo4 13,5 5 20

(36)

41

41

4.2.3 Hasil perencanaan campuran beton (mix design)

Hasil komposisi campuran yang terdiri dari semen, air, dan busa serta tambahan serat polypropylene untuk beton busa berserat polypropylene ini disajikan pada Tabel 4.2.3.

Tabel 4.2.3 Komposisi Campuran Beton Busa

Elemen FAS Semen (kg) Air (kg) Busa (lt) Serat (g) Beton Busa

Berserat Polypropylene

0,4 93,577 37,431 26,417 56,170

4.2.4 Pengukuran data potensial korosi tulangan dalam beton busa berserat polypropylene

Potensial korosi diukur mulai dari minggu 0 sebelum dimulainya wet dry cycle hingga minggu ke-12 yang diukur disetiap 7 harinya. Semakin negatif nilai potensial tersebut maka semakin tinggi atau semakin besar kemungkinan tulangan tersebut mengalami korosi. Data yang didapat disajikan dalam bentuk grafik hubungan antara nilai potensial dengan jarak disetiap titik tulangan. Terdapat 3 variasi benda uji, yaitu: BBSTA; beton busa berserat polypropylene sebagai kontrol, BBSATT; beton busa berserat polypropylene dengan anoda korban tidak terhubung, dan BBSAT; beton busa berserat polypropylene dengan anoda korban terhubung.

a. Beton busa berserat polypropylene sebagai kontrol (BBSTA)

Pada beton ini nilai potensial korosi paling negatif selama 12 minggu pengambilan data dapat dilihat lebih dominan terjadi pada jarak 5 cm dan 10 cm dan lainnya menyebar pada jarak-jarak dari tulangan yang berada di tengah hingga ke ujung. Grafik hubungan nilai potensial dengan jarak tulangan dapat dilihat pada Gambar 4.2.6 dibawah ini.

(37)

42

42

Gambar 4.2.6 - Potensial korosi pada BBSTA

b. Beton busa berserat polypropylene dengan anoda tidak terhubung (BBSATT)

Nilai potensial korosi tertinggi selama 12 minggu pengambilan data dapat dilihat lebih dominan terjadi pada jarak 5 cm. Data hasil pengujian diperlihatkan pada Grafik hubungan nilai potensial dengan jarak tulangan dapat dilihat pada Gambar 4.2.7 dibawah ini.

(38)

43

43

Gambar 4.2.7 Potensial korosi pada BBSATT

c. Beton busa berserat polypropylene dengan anoda terhubung (BBSAT) Grafik hubungan nilai potensial dengan jarak tulangan dapat dilihat pada Gambar 4.2.8 dibawah ini.

(39)

44

44

Gambar 4.2.8 Potensial korosi pada BBSAT

4.2.5 Pembahasan

Bagian ini menjelaskan pembahasan hasil pengujian berupa perbandingan ketiga benda uji balok beton busa berserat polypropylene yang sebagai kontrol dengan balok beton busa berserat polypropylene yang ada anoda korban, klasifikasi potensial korosi terhadap kriteria ASTM C876, dan potensial korosi dalam diagram Pourbaix.

A) Perbandingan potensial korosi dari semua variasi benda uji

Perbandingan potensial korosi dari ketiga variasi beton ini didapat dari rerata nilai potensial semua titik pada setiap minggu pada masing-masing beton. Maka pada perbandingan

(40)

45

45

ini tertera grafik hubungan antara nilai potensial rata-rata dengan waktu pengukuran selama 12 minggu. Pada grafik potensial korosi di pembahasan sebelumnya dapat dilihat hanya terdapat 10 garis plot dari 10 minggu data potensial dimana data minggu ke-7 dan 8 tidak tertera. Pada proses pengambilan data terjadi sedikit permasalahan pada alat half cell potensial meter sehingga data pada minggu ke-7 dan 8 tidak dapat digunakan atau tidak valid untuk dimasukkan dalam grafik potensial korosi. Maka dari itu hanya terdapat 10 titik pada garis plot pada grafik perbandingan dimana tidak tertera nialai potensial pada minggu 7 dan 8. Grafik perbandingan potensial korosi tersebut dapat dilihat pada Gambar 4.2.9 dibawah ini.

Gambar 4.2.9 - Perbandingan nilai potensial korosi dari semua beton

Gambar 4.4 menampilkan grafik perbandingan rerata nilai potensial korosi dari setiap benda uji. Potensial korosi pada BBSTA yang tidak memiliki anoda korban dan BBSATT yang anoda korbannya tidak terhubung sudah dapat dikatakan benar karena nilai potensial korosi pada kedua beton ini termasuk dalam batas nilai ukur pada ASTM C876. Sedangkan untuk BBSAT dengan anoda korban terhubung seharusnya memiliki nilai yang mencapai 850 mV hingga -1200 mV yang mengidentifikasi bahwa anoda korban sudah bekerja. Tetapi nilai potensial

(41)

46

46

BBSAT yang didapat tidak mencapai nilai yang diharuskan dan disimpulkan bahwa anoda korban yang terhubung belum bekerja dalam memproteksi tulangan. Pada permasalahan di BBSAT ini dapat dijelaskan melalui Diagram Pourbaix dipembahasan selanjutnya.

B) Klasifikasi potensial korosi terhadap kriteria ASTM C876

Aktivitas korosi pada tulangan didalam beton tidak dapat dilihat secara langsung karena korosi tulangan terjadi didalam beton. Tetapi terjadinya korosi dapat dilihat melalui pengkururan potensial half cell menggunakan half cell potential meter yang menampilkan nilai potensial korosi. Dari nilai potensial korosi yang didapat dapat pula diklasifikasikan potensi korosi yang terjadi.

Berdasarkan kriteria ASTM C876, hasil pengukuran potensial korosi ini akan berada pada klasifikasi kondisi korosi yang terjadi. Dalam mengklasifikasikan potensial korosi ini akan dilihat berdasarkan standar half cell berupa copper/copper sulphate atau tembaga/tembaga sulfat. Terdapat 4 klasifikasi kondisi korosi dengan 4 rentang potensial korosi berdasarkan standar half cell copper tersebut.

Data potensial korosi dari miggu 0 sampai dengan minggu 6 dapat dilihat berangsur-angsur naik. Tetapi data potensial pada minggu 9 yang didapat menjadi lebih rendah dari minggu 6 karena ada permasalahan pada alat pada minggu 7 dan 8 sehingga data pada kedua minggu tersebut tidak dapat digunakan. Dan seharusnya data pada minggu 9 akan melanjutkan data dari minggu 6 walaupun ada 2 minggu data yang tidak digunakan. Permasalahan data ini terjadi pada ketiga benda uji, baik benda uji kontrol maupun benda uji yang menggunakan anoda korban.

Data hasil pengukuran BBSTA dan BBSATT selama 12 minggu didapat nilai potensial berada pada nilai -300 hingga -500 mV untuk ketiga benda uji. Dimana pada tabel ASTM C876 terdapat klasifikasi risiko tinggi korosi (90%) memiliki potensial < -300 mV. Data potensial hasil pengukuran berada pada nilai < -300 mV sehingga korosi diklasifikan berada pada kondisi korosi tinggi.

(42)

47

47 C) Potensial half cell dalam Diagram Pourbaix

Pada Diagram Pourbaix terdapat diagram yang menghubungkan pH beton dengan nilai potensial korosi yang didapat. Dari dua data tersebut dapat dilihat fase yang terjadi dalam beton. Diambi pH beton pada umumnya sebesar 13 dan data potensial korosi tulangan dalam beton selama pengujian. Data potensial korosi yang diklasifikasikan pada Diagram Pourbaix ini adalah data potensial korosi BBSAT yang diambil pada minggu 6 sebagai minggu dengan nilai tertinggi dan minggu 12 sebagai minggu terakhir pengambilan data.

Berdasarkan nilai pada minggu 6 dapat dilihat bahwa lingkungan beton sudah berada pada fase korosi, atau tulangan dalam beton sudah mulai mengalami korosi. Sedangkan pada minggu 12 lingkungan beton masih berada pada fase pasivasi. Pertemuan hubungan antara pH dan nilai potensial pada kedua minggu ini masih berada satu wilayah yang berdekatan, yang bisa juga masih disebut dalam wilayah transisi dari fase pasivasi ke wilayah korosi. Hubungan antara pH beton dengan data potensial korosi tulangan dalam beton di minggu 6 dalam Diagram Pourbaix dapat dilihat pada Gambar 4.5 dibawah ini dan untuk hubungan antara pH beton dengan data potensial korosi tulangan dalam beton di minggu 12 dalam Diagram Pourbaix dapat dilihat pada Gambar 4.2.10 dibawah ini.

(43)

48

48 (a)

(44)

49

49

Gbr 4.2.10 - Diagram hubungan pH beton dengan potensial korosi (a) minggu 6; (b) minggu 12

4.3 Pengujian sifat mekanis pada beton busa berserat

Pengujian sifat mekanis beton busa yang terdiri dari uji kuat tekan dan kuat tarik belah dilakukan di LKBB Jurusan Teknik Sipil Universitas Syiah Kuala. Pengujian kuat tekan dilakukan dengan memberikan beban secara vertikal kepada benda uji beton busa secara perlahan dengan meningkatkan pembeban hingga mencapai beban maksimum atau sampai benda uji mengalami kehancuran. Beban yang dicatat dalam pengujian ini adalah saat turunnya angka pembebanan yang diikuti dengan retak atau hancurnya benda uji. Gambar pengujian kuat tekan beton dapat dilihat pada Gambar 4.3.1 dibawah ini.

P

Benda Uji Silinder 15x30 cm

Gambar 4.3.1 Pengujian Kuat Tekan Beton

Dalam pengujian kuat tarik belah benda uji diletakkan diantara dua plat pembebanan dan diberi bantalan kayu dalam posisi memanjang atau horizontal. Beban tekan diberikan merata arah tegak dari atas di sepanjang benda uji silinder dengan beban yang berangsur-angsur dinaikkan hingga dicapai nilai maksimum dan terbelah akibat beban tarik horizontal. Dari hasil pengujian, didapat besarnya beban maksimum yang dapat diterima oleh masing-masing benda uji. Gambar pengujian kuat tarik belah beton dapat dilihat pada Gambar 4.3.2 dibawah ini.

(45)

50 50 P Benda Uji Silinder 15x30 cm

Gambar 4.3.2 Pengujian Kuat Tarik Belah Beton

Pengujian kuat tekan dilakukan pada hari ke-7, 14, dan 28 hari. Sedangkan untuk pengujian kuat tarik belah hanya dilakukan pada hari ke-28 saja. Sehari sebelum pengujian benda uji akan dikeluarkan dari media rendaman dan dibiarkan mengering sampai akan dilakukannya pengujian.

4.3.1 Pengujian kuat tekan dan kuat tarik belah beton busa berserat polypropylene

Data yang diperoleh dari hasil pengujian kuat tekan beton kontrol diperlihatkan di bawah. Pengujian kuat tekan dilakukan pada umur 7, 14 dan 28 hari dan pengujian kuat tarik belah dilakukan ada umur 28 hari. Pengujian ini untuk mengetahui mutu beton busa yang menggunakan serat polypropylene dengan SG 1,4. Berikut adalah hasil pengujian kuat tekan dan kuat tarik belah benda uji silinder berdimensi Ø 15 cm x 30 cm diperlihatkan pada Tabel 4.3.1. Tabel 4.3.1 Hasil Pengujian Kuat Tekan dan Kuat Tarik Belah Silinder

Benda Uji Umur

Kuat Tekan Kuat Tarik Belah Rata-rata

(MPa) (MPa) (MPa)

BBKT 1 7 5,514 - 6,831 BBKT 2 6,617 BBKT 3 8,360

(46)

51 51 BBKT 4 14 6,428 7,713 BBKT 5 8,360 BBKT 6 8,349 BBKT 7 28 8,250 10,282 BBKT 8 9,462 BBKT 9 13,133 BBTB 1 28 1,309 1,452 BBTB 2 - 1,522 BBTB 3 1,525

Ket: BBKT = Beton Busa Kuat Tekan (benda uji untuk pengujian kuat tekan) BBTB = Beton Busa Tarik Belah (benda uji untuk pengujian kuat tarik belah)

(47)

52

52

BAB V - LINGKUP PENELITIAN DAN JADWAL KEGIATAN KESELURUHAN 5.1 Road Map Penelitian Beton Ringan

(48)

53

(49)

54

54 5.2 JADWAL

Keseluruhan rencana penelitian adalah seperti ditampilkan pada Tabel 5.1 di bawah. Tabel 5.1 – Rencana Pelaksanaan Penelitian

Kegiatan - Target

Implementasi

Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Tahap Persiapan

Literature Review

Persiapan Alat dan Komponen

Rencana Detail Program Penelitian

Uji Sifat Mekanis Beton Ringan Mutu Tinggi, Uji Lapangan dan Uji Produksi dan Kelayakan

Pengadaan dan pengujian Bahan Uji Sifat Mekanis, dan Uji Kapasitas Struktur

Uji Produksi dan Uji Lapangan

Aplikasi Lapangan dan Sosialisasi Uji aplikasi disain arsitektur untuk taman

dan konstruksi pontoon dan kapal

Publikasi, Laporan dan Rek omendasi

Usulan Paten dan Publikasi (Diseminasi) Laporan Berkala, Akhir dan Rekomendasi

(50)

55

55 DAFTAR PUSTAKA

1. Abdullah dan Bermansyah, S. (2007), Pengembangan Beton Ringan Sebagai Bahan Konstruksi Bangunan Teknik Sipil, Seminar Hasil Penelitian TPSDP, Batam, Februari 2007. 2. Abdullah, dan Afifuddin (2010), Pemanfaatan Bahan Limbah Sebagai Pengganti Semen

Pada Beton Busa Mutu Tinggi, Konferensi Teknik Sipil, KONTEKS-IV, Bali, Juni 2010. 3. Abdullah Dkk. (2009), Pengembangan Beton Busa Dengan Penambahan Limbah Industri

Sebagai Bahan Campuran Untuk Bahan Konstruksi Bangunan Teknik Sipil, Laporan Hasil Penelitian RUSNAS, November 2009.

4. Afifuddin, dan Abdullah (2010), Pengaruh Penambahan Serat Terhadap Sifat Mekanis Beton Busa (Foamed Concrete), Konferensi Teknik Sipil, KONTEKS-IV, Bali, Juni 2010. 5. Abdullah dkk. (2009), “Laporan Penelitian RUSNAS)

6. Abdullah dkk. (2010), “Laporan Penelitian Hibah Kompetensi Tahun I) 7. Abdullah dkk. (2011), “Laporan Penelitian Hibah Kompetensi Tahun II) 8. Abdullah dkk. (2012), “Laporan Penelitian Hibah Kompetensi Tahun III) 9. Abdullah dkk. (2013), “Laporan Penelitian RAPID” tahun I.

10. Abdullah dkk. (2014), “Laporan Penelitian RAPID” tahun II. 11. Abdullah dkk. (2015), “Laporan Penelitian IPTEK” tahun I.

12. Abdullah, Bustari, dan Mubarak, “Precast Lightweight Concrete Panel (BeRi-C) For Housing in Indonesia,” Submitted to International Conference, di Bali September 2016. 13. ACI Committee 213. (1987). Guide for structural lightweight aggregate concrete, American

Concrete Institute, Farmington Hills, MI.

14. Abdullah, and M.A. Mansur, An Investigation into the Behavior and Strength of Bolted Connections in Ferrocement, Journal of Ferrocement, Vol. 31, No. 4, 2001.

15. Abdullah, and M.A. Mansur, Effect Mesh Orientation on Tensile Strength of Ferrocement, Journal of Ferrocement, Vol. 25, No. 3, 1995.

16. Abdullah, and K. Takiguchi, An Investigation into the Behavior and Strength Of RC Columns Strengthened with Ferrocement, Cement and Concrete Composites Journal, Vol. 25, No. 2, 2003.

17. Hafidh, Abdullah, and Huzaim, Kapsitas Geser Balok Beton Ringan Busa Bertulang, Seminar NAsional, ITS Surabaya, Januari 2012.

(51)

56

56

18. Jumaat, M.Z. at all, Shear strength of oil palm shell foamed concrete beams Materials &

Design, Volume 30, Issue 6, June 2009, Pages 2227-2236.

19. Kearsley EP, Wainwright PJ. The effect of high fly ash content on the compressive strength of foamed concrete. Cement and Concrete Research 2001;31: 105–12.

20. Li K.C. at all., Flexural Behavior of RC Lighweight Concrete Beam under Reversed Cyclic Loading, Sructural Engineering and Mechanics, A Int’l Journal, Vol. 52, No. 3, 2014. 21. Mannan, M.A. and Gapathy, C., Concrete from an agricultural waste-oil palm shell (OPS),

Journal of Building and Environment, Vol. 39, Issue 4, April 2004, Pages 441-448.

22. M.A. Mansur, Abdullah, and W. A.M. Alwis, Strength of Bolted Joints in Ferrocement, Structural Journal of American Concrete Institute, Vol. 91, No. 3, 1994.

23. M.A. Mansur and Abdullah, Constitutve Laws Ferrocement Under Biaxial Tension-Compression, Journal of Ferrocement, Vol. 28, No. 1, 1998.

24. Narayanan, N. and Ramamurthy, K. (2000). Structure and properties of aerated concrete: a review, Cement and Concrete Composites, 22, pp. 321-329.

25. Naaman, A.E.,2000, Ferrocement and Laminated Cementitious Composites, Techno Press 3000, Michigan.

26. Negro, P., and Toniolo, G., Design Guideline for Connections of Precast Structures under Seismic Actions, JRC Scientific and Policy Reports, European Union 2012.

27. Neville, A.M., and Brook, J.J., (1993) “Concrete Technology”, Longman, London.

28. Pocut, K.C., Abdullah, Afifuddin, M., Perilaku dan Kuat Lekat (Bond Strength) Tulangan dan Beton Ringan Busa, Seminar Hasil Penelitian Mahasiswa Pasca Sarjana, ITB Bandung, Des. 2011.

29. Teo, D.C.L. at all, Lightweight concrete made from oil palm shell (OPS): Structural bond and durability properties, Building and Environment Volume 42, Issue 7, July 2007, Pages 2614-2621.

(52)

BIODATA KETUA TIM PENELITI

A. Identitas Diri

1 Nama Lengkap (dengan gelar) Dr. Ir. Abdullah, M.Sc.

2 Jenis Kelamin L

3 Jabatan Fungsional Lektor Kepala

4 NIP 19640321 198903 1 002

5 NIDN 0021036406

6 Tempat dan Tanggal Lahir Peureulak, 21 Maret 1964

7 E-mail - [email protected]

- [email protected]

8 Nomor Telepon/HP 0811687767

9 Alamat Kantor Jl. Tgk. Syech Abdurrauf No. 7 Darussalam – Banda Aceh 23111

10 Nomor Telepon/Faks 0651- 7555444

11 Lulusan yang Telah Dihasilkan S-1 = 40 orang; S-2 = 25 orang

12. Mata Kuliah yg Diampu

S1: 1. Teknologi Beton

2. Konstruksi Beton Bertulang 3. Mekanika Rekayasa

4. Konstruksi Baja 5. Teknologi Bahan 6. Perancangan Gedung

S2: 1.Konstruksi Beton Bertulang Lanjut 2. Teknologi Beton Lanjut

3. Tek. Pracetak, Asesmen & Perkuatan Struktur

4. Rekayasa Kegempaan 5. Topik Khusus

(53)

B. Riwayat Pendidikan S-1 S-2 S-3 Nama Perguruan Tinggi Universitas Syiah Kuala National University of Singapore (NUS) Tokyo Institute of Technology (TITech)

Bidang Ilmu Teknik Sipil Teknik Sipil Teknik Sipil

Tahun Masuk-Lulus

1983-1988 1990-1993 1998-2001

JudulSkripsi/Thes is/ Disertasi

Perilaku Balok Beton Bertulang Connection in Prefa-bricated Ferroce-ment Element Shear Strengthening of RC Column with Ferrocement Nama Pembimbing/ Promotor Dr. Ir. Agussalim, M.Sc. Prof. Dr. M.A. Mansur Prof. Dr. Katsuki Takiguchi

C. Pengalaman Penelitian Dalam 5 Tahun Terakhir

No. Tahun Judul Penelitian

Pendanaan

Sumber* Jml (Juta

Rp)

1 2009 Pengembangan Beton Busa dengan Penambahan Bahan Limbah Industri Pertanian Dikti - DP2M RUSNAS 2009 (Ketua) 99.5

2 2009 Perilaku Portal/Rangka Beton Bertulang Dibebani Beban Lateral

Mandiri (Ketua)

20 3 2010

-2012

Beton Ringan Busa Sebagai Bahan Alternatif Untuk Konstruksi Bangunan

Dikti - DP2M Hibah Kompetensi (Ketua) 300 (3 tahun)

4 2013 Profil Canal (C) Beton Ringan Busa Sebagai Gelagar Jembatan

Dikti - DP2M Stranas (Anggota)

100

5 2014 Pemanfaatan Limbah Sawit Sebagai Bahan Campuran Beton Ringan Busa

Dikti - DP2M MP3EI (Anggota)

150

6 2013-14 Beton Ringan Busa Untuk Bahan Industri Konstruksi Beton Pracetak Ramah Lingkungan Dikti - DP2M RAPID (Ketua) 615 (2 tahun)

(54)

No. Tahun Judul Penelitian Pendanaan Sumber* Jml (Juta Rp) 7 2015-2017

Beton Ringan Sebagai Bahan Panel Beton Pracetak Untuk Menunjang Industri Konstruksi Dikti - DP2M IPTEK (Ketua) 300 (3 Tahun) 8 2018 Simulasi Perubahan Dimensi Struktur

Terhadap Harga Satuan Bangunan Gedung Berdasarkan Potensi Risiko Gempa Bumi di Provinsi Aceh

PLK 55

9 2018 Pengembangan Beton Ringan Mutu Tinggi Dengan dan Tanpa Serat

Dikti – DRPM STRANAS

(Ketua)

120

D. Pengalaman Pengabdian Kepada Masyarakat Dalam 5 Tahun Terakhir

No. Tahun Judul Pengabdian Kepada Masyarakat

Pendanaan

Sumber* Jml (Juta

Rp)

1. 2008 Investigasi dan Strengthening Pusat Pasar Murni Square, Bireuen

PEMDA Bireuen

86 2. 2009 Review Design Murtipurpose Hall,

Sekolah International SRC (Swiss Red Cross) Sigli

SRC 65

3. 2010 Investigasi Teknis Bangunan Publik di Tiga Kecamatan Kabupaten Aceh Tengah, Takengon Pasca gempa 28 Januari 2010 Lembaga Teknik Sipil, dan Jurusan Teknik Sipil UNSYIAH 10

4. 2010 Penggantian Lantai Jembatan Menggunakan Beton Ringan Busa Bertulang

Dinas PU Kabupaten Aceh

Besar

24

5. 2010 Beton Ringan Busa Sebagai Lapisan Perkerasan (Rigid Pavement) Jalan Lingkungan

Dinas PU Katomadya Banda Aceh

5

6. 2011 Penggantian Lantai Jembatan Gantung Menggunakan Beton Ringan Busa Bertulang

Dinas PU Katomadya Banda Aceh

25

7. 2011 Rumah Riset Pracetak Tahan Gempa TDMRC dan UNDP

(55)

No. Tahun Judul Pengabdian Kepada Masyarakat

Pendanaan

Sumber* Jml (Juta

Rp)

8. 2012 Penggantian Lantai Jembatan Gantung Lampaseh Krueng, Aceh Besar

Menggunakan Beton Ringan Busa Bertulang

Dinas PU Kabupaten Aceh

Besar

45

9. 2012 Invesitigasi Kerusakan dan Kapasitas Jembatan Kereta Api Lintas Bireuen – Kr. Geukuh

Dinas Perhubungan

20

10. 2013 Investigasi Kerusakan Perumahan dan Sarana Ibadah Akibat Gempa Takengon – Bener Meriah

Pemda Kabupaten Bener Meriah

95

11. 2013 Investigasi Kerusakan Gedung DPRK Kota Sabang

Pemda Kota Sabang

45 12. 2015 Rehabilitasi Rangka Lantai Jembatan

Gantung Lampaseh Krueng, Aceh Besar Menggunakan Beton Ringan Busa Bertulang

Dinas PU Kabupaten Aceh

Besar

15

13. 2015 Penggantian Lantai 3 Jembatan, Aceh Tamiang Menggunakan Beton Ringan Busa Bertulang

Dinas PU Kabupaten Aceh

Tamiang

270

14 2017 Satgas Gempa Pidie Jaya

15 2018 Pengembangan Produk Teknologi Beton Busa Ringan Pracetak Pada Pembangunan Rumah Masyarakat Ramah Gempa

PKMBP 75

E. Publikasi Artikel Ilmiah Dalam Jurnal Dalam 5 Tahun Terakhir

No. Judul Artikel Ilmiah Volume/

Nomor/Tahun Nama Jurnal

1 An investigation into the behavior and strength of reinforced concrete columns strengthened with ferrocement jackets

Journal of Cement and Concrete Composites Vol. 25, No. 2, 2003, pp. 233-242. 2 Penentuan Nilai Penyerapan Suara Pada Panel

Dinding Beton Busa Sebagai Panel Alternatif Yang Ramah Lingkungan

Jurnal Rekayasa Kimia dan Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala Vol. 8, No.1, Tahun 2011.

3 Analisis Kerentanan Bangunan Gedung dalam Menghadapi Bencana Tsunami di Kecamatan kuta Alam Banda Aceh

Jurnal Penanggulangan Bencana Vol. 6, No. 1, Tahun 2015.

(56)

No. Judul Artikel Ilmiah Volume/

Nomor/Tahun Nama Jurnal

4 Utilization of palm oil fuel ash (POFA) in producing light-weight foamed concrete for non-structural building material

Procedia Engineering, Elsevier Vol. 125, hal. 739-746, Tahun 2015. 5 Kajian Perilaku Geser Balok Beton Ringan

Busa Dengan Penambahan Agregat Pasir Pozzolan EMARA Indonesian Journal of Architecture Vol. 1, No. 2, hal. 78-84, Tahun 2016. 6 Pengaruh Distribusi Tulangan Geser Terhadap

Kuat Geser Beton Ringan Busa Berserat Nylon Dengan Metode Push-off

Jurnal Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala Vol. 3, No.1, hal. 79-90, Tahun 2016.

7 Shear Behavior of Fiber foam Reinforced Concrete Beams Procedia Engineering, Elsevier Vol. 171, hal. 994-1001, 2017. 8 Negative Total Float to Improve a

Multi-Objective Integer Non-Linear Programming for Project Scheduling Compression

Int’l Journal of Electrical and Computer Engineering

8(1), 2018

9 Risk Assessment of Resources Factor in Affecting Project Time

Adv. in Civil Engineering

(8):1-9, 2018 10 Estimating the Normal Duration using Normal

Production Rate Per Day (PRPD) of Project Activity

MATEC Web of Conferences

197:10004, 2018

F. Pengalaman Penyampaian Makalah Secara Oral Pada Pertemuan / Seminar Ilmiah Dalam 5 Tahun Terakhir

No. Nama Pertemuan

Ilmiah / Seminar Judul Artikel Ilmiah

Waktu dan Tempat 1 4th Annual International

Workshop & Expo on Sumatra Tsunami Disaster & Recovery (AIWEST-DR)

Make it light: Light weight concrete

November 2009, Banda Aceh

2 4th Annual Internatio-nal Workshop & Expo on Sumatra Tsunami Disaster & Recovery (AIWEST-DR)

Design of Ferrocement Jacket for

Shear Strengthening of RC Column November 2009, Banda Aceh

3 Konferensi Nasional Teknik Sipil

(KONTEKS-IV)

Pengembangan Beton Busa Dengan Penambahan Limbah Industri Sebagai Bahan

Campuran Untuk Bahan

Juni 2010, Bali.

Gambar

Tabel 1.1 – Target Luaran
Tabel 4.1.1 Benda Uji Portal Beton Bertulang (PBB) yang dipersiapkan  Benda
Tabel  4.1.2  Kelompok  Benda  Uji  Portal  Beton  Bertulang  (PBB)  dari  penelitian  terdahulu
Gambar 4.1.2 Detail Benda Uji Portal Beton Bertulang Tanpa Dinding  (PTD0) Sumber: Sari (2017)
+7

Referensi

Dokumen terkait

PERILAKU LENTUR BALOK BETON BERTULANG DENGAN PENAMBAHAN SERAT POLYPROPYLENE (FIBER PLASTIC BENESER), Rikar Paledung, NPM 120214473, tahun 2016, Peminatan Struktur,

Pada grafik hubungan kuat tekan beton mutu tinggi dan kuat tarik beton mutu tinggi diatas dapat dilihat bahwa kenaikan nilai kuat tarik dari ketiga dimensi

tinggi akan mempunyai berat volume balok yang lebih besar dibandingkan dengan jika menggunakan mutu beton rendah... Balok komposit dengan mutu

Tujuan dari studi eksperimental ini adalah mengetahui perilaku kuat tarik aksial dan kuat lentur pada beton mutu tinggi dengan adanya penambahan serat polypropylene, serat

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan beton normal dengan beton berserat bendrat dan abu sekam padi ditinjau dari kuat desak, permeabilitas, penetrasi dan

Setelah dilakukan pembuatan benda uji sesuai dengan mutu beton dan komposisi campuran serat kulit durian, selanjutnya dilakukan pengujian kuat tekan beton berdasarkan perbandingan

Beton mutu tinggi berserat tembaga metode dreux yakni beton yang terdiri dari agregat kasar (kerikil), agregat halus (pasir), semen portland, air ditambah dengan

Penelitian tentang geser pada balok beton ringan busa yang dilakukan oleh Meidi Arjuna (2010) dengan menggunakan agregat BCS dan tulangan besi polos, diperoleh