i
COMPETITOR
JURNAL PENDIDIKAN KEPELATIHAN OLAHRAGA
Terbit tiga kali setahun pada bulan Februari, Juni dan Oktober berisi artikel-artikel ilmiah yang menjelaskan dan meneliti seputar Ilmu Olahraga, Ilmu Kepelatihan, Pengajaran Pendidikan Jasmani dan Olahraga, Ilmu
Kesehatan dan Gizi. Artikel yang dimuat berupa analisis, kajian dan aplikasi teori, hasil penelitian, dan pembahasan kepustakaan.
EDITOR IN CHIEF
Sahabuddin, Universitas Negeri Makassar, SINTA ID : 6709128, Indonesia
MANAGING EDITOR
Muslim Syaharuddin, Universitas Negeri Makassar, Indonesia
EDITORS
Anak Agung Ngurah Putra Laksana, IKIP PGRI Bali, SINTA ID : 6685162, Indonesia Apta Mylsidayu, Universitas Islam 45 Bekasi, SINTA ID : 6024387, Indonesia Ashar, Universitas Muhammadiyah Makassar, SINTA ID: 6041007, Indonesia
Awaluddin, Universitas Megarezky, SINTA ID : 199477, Indonesia
Hendra Mashuri, Universitas Nusantara PGRI Kediri, SINTA ID : 5998845, Indonesia Muhammad Ishak Naim, Universitas Negeri Makassar, Indonesia
Nukhrawi Nawir, Universitas Negeri Makassar, SINTA ID : 6463299, Indonesia Nurjamal, Universitas Mulawarman, SINTA ID : 6664292, Indonesia Nurussyariah, Universitas Negeri Makassar, SINTA ID : 6181955, Indonesia Resty Gustiawati, Universitas Singaperbangsa Karawang, SINTA ID : 6115205, Indonesia Ruslan Abdul Gani, Universitas Singaperbangsa Karawang, SINTA ID : 6678438, Indonesia
Saharullah, Universitas Negeri Makassar, SINTA ID : 6644543, Indonesia Wahyuddin, Universitas Negeri Makassar, Indonesia
REVIEWER TEAM
Andi Ihsan, Universitas Negeri Makassar, SINTA ID : 6095120, Indonesia Benny Badaru, Universitas Negeri Makassar, SCOPUS ID: 57216510594, Indonesia
Bujang, Universitas Islam 45 Bekasi, SINTA ID : 6162563, Indonesia
Firmansyah Dlis, Universitas Negeri Jakarta, SCOPUS ID: 57210597274, Indonesia Fredrik Alfrets Makadada, Universitas Negeri Manado, SINTA ID : 6033608, Indonesia Hari Amirullah Rachman, Universitas Negeri Yogyakarta, SINTA ID : 6025445, Indonesia
Hasmyati Hasmyati, Universitas Negeri Makassar, SCOPUS ID: 57202601362, Indonesia Rahma Dewi, Universitas Negeri Medan, SCOPUS ID: 57208125242, Indonesia
Ridwan Sinurat, Universitas Pasir Pangaraian, SINTA ID : 6107453, Indonesia Saharuddin Ita, Universitas Cenderawasih, SCOPUS ID: 56624934600, Indonesia
Sugiharto, Universitas Negeri Semarang, SCOPUS ID: 57204619272, Indonesia Syahruddin, Universitas Negeri Makassar, SCOPUS ID: 57211493922, Indonesia
Sukendro, Universitas Negeri Jambi, SINTA ID : 6678644, Indonesia
IT SUPPORT EDITOR
Arman Fadillah, Universitas Negeri Makassar, Indonesia Muhamad Ihsan Azhim, Universitas Negeri Makassar, Indonesia Muhammad Qasash Hasyim, Universitas Negeri Makassar, Indonesia
SEKRETARIAT
Jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga Fakultas Ilmu Keolahraga Universitas Negeri Makassar
Jl. Wijaya Kusuma Raya No.14, Kampus FIK UNM Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia Sahabuddin (Editor In Chief): 0821 9088 1339, Website: https://ojs.unm.ac.id/competitor
ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur senantiasa Tim Publis penjatkan kehadirat Tuhan yang maha Esa, berkat Rahmat
dan HidayahNya, Tim Publikasi COMPETITOR: Jurnal Pendidikan Kepelatihan Olahraga telah
menerbitkan Volume 12 Nomor 1, Februari 2020 sesuai yang diharapkan. Dengan terbitnya
artikel-artikel pada COMPETITOR: Jurnal Pendidikan Kepelatihan Olahraga ini diharapkan segala
penelitian dan pemikiran berkaitan/seputar Ilmu Olahraga, Ilmu Kepelatihan, Pengajaran Pendidikan
Jasmani dan Olahraga, Ilmu Kesehatan dan Gizi dapat terpublikasi dan dapat dimanfaatkan oleh
khalayak umum. Serta diharapkan menjadi media komunikasi ilmiah dan salah satu wadah untuk
mendesiminasikan berbagai hasil temuan ilmiah dan pemikiran baik diantara sesama anggota sivitas
akademika maupun kepada khalayak luas.
Pada kesempatan yang baik ini kami sampaikan ucapan terima kasih kepada para author yang
telah mempercayakan artikelnya untuk di publis, dan tak lupa pula kepada tim reviewer dan editor yang
telah membantu dalam merevisi dan mengedit artikel-artikel yang ingin di publis pada
COMPETITOR: Jurnal Pendidikan Kepelatihan Olahraga.
Makassar, 24 Februari 2020
iii
DAFTAR ISI
ARTICLES page:
PENGARUH LATIHAN FISIK TERHADAP PERUBAHAN KEKUATAN OTOT PEMAIN FUTSAL CHERUBIM FC
Aco Tang Hendrik
Inosensius Gabriel Nining Wean 10.26858/com.v12i1.13531
1-6
PEMANFAATAN APLIKASI ANDROID COACH EYE UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BIOMEKANIKA Dian Pujianto Bayu Insanistyo Santun Sihombing 10.26858/com.v12i1.13523 7-13
PERBANDINGAN GAYA MENGAJAR KOMANDO DENGAN GAYA MENGAJAR DISKOVERI TERHADAP HASIL BELAJAR SHOOTING DALAM PEMBELAJARAN BOLA BASKET
Hari Wibowo Sampurno 10.26858/com.v12i1.13525
14-20
METODE MENGAJAR DAN MOTIVASI TERHADAP HASIL BELAJAR KETERAMPILAN SERVIS FLATTENIS LAPANGAN(STUDI EKSPERIMEN PADA MAHASISWA FIK UNM MAKASSAR)
Hasbunallah AS Ahmad Rum Bismar
10.26858/com.v12i1.13526
21-28
ANALISISSIKAP FAIR PLAYPADA PERMAINAN FUTSALSMA SE-KOTA BINJAI
Nurkadri Rini Andriani
Imam Aris Munandar Hutagaol 10.26858/com.v12i1.13527
29-34
HUBUNGAN KEMAMPUAN PASSING DENGAN KETEPATAN SHOOTING DALAM PEMBELAJARAN SEPAK BOLA DI KELAS XI SMA NEGERI 1 CIKARANG UTARA
Qorry Armen Gemael Febi Kurniawan Deden Akbar Izzuddin
10.26858/com.v12i1.13528
35-40
HUBUNGAN MEROKOK DAN HEMOGLOBIN TERHADAP DAYA TAHAN
Sonang Rona
10.26858/com.v12i1.9133
41-47
EFEKTIFITAS METODE MENGAJAR KESELURUHAN DENGAN METODE MENGAJAR BAGIAN PERBAGIAN TERHADAP HASIL BELAJAR MENGUMPAN (PASSING) KAKI BAGIAN DALAM PADA PERMAINAN FUTSAL MAHASISWA FIK UNM
Sudirman Andi Mas Jaya
10.26858/com.v12i1.13530
1
COMPETITOR: Jurnal Pendidikan Kepelatihan Olahraga
Volume 12 Nomor 1, Februari 2020
e-ISSN: 2657-0703 dan p-ISSN: 2085-5389
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License
PENGARUH LATIHAN FISIK TERHADAP PERUBAHAN
KEKUATAN OTOT PEMAIN FUTSAL CHERUBIM FC
Aco Tang
1, Hendrik
2, Inosensius Gabriel Nining Wean
3Keywords :
Physical Exercise; Muscle Strength. Corespondensi Author 1 Fisioterapi, Poltekkes Kemenkes Makassar, [email protected] 2 Fisioterapi, Poltekkes Kemenkes Makassar, [email protected] 3 Fisioterapi, Poltekkes Kemenkes Makassar, [email protected] Article History Received: Desember 2019; Reviewed: Januari 2020; Accepted: Januari 2020; Published: Februari 2020 ABSTRACT
This study was quasy experimental involving treatment variables, namely physical exercise, while the response variable is muscle strength. The study design was a pretest-post test two group design. The target population is the futsal player Cherubim Fc as many as 25 people, while the sample of this study is the futsal player Cherubim Fc as many as 20 people, at the time of the study, with random sampling technique divided into 2 (two) groups, one treatment group totaling 10 people and one control group of 10 people. This study uses leg dynamometer to measure muscle strength before and after intervention twice a week for 6 weeks. The provision of physical exercise resulted in an increase in muscle strength of 36.25 ± 11.307 while in the control group an increase of 7.92 ± 9643. In the different influence test, it was found that the value of p = 0,000 <0.05 which means that there were significant differences between the treatment and control groups. It is recommended to coaches to provide physical training to increase the muscle strength of futsal players Cherubim Fc.
ABSTRAK
Penelitian ini termasuk penelitian quasy eksperimen yang melibatkan variabel perlakuan yaitu latihan fisik, sedangkan variabel respons adalah Kekuatan Otot. Desain penelitian adalah pretest-post test two group design. Populasi target adalah pemain futsal Cherubim Fc sebanyak 25 orang, sedangkan Sampel penelitian ini adalah pemain futsal Cherubim Fc sebanyak 20 orang, pada saat penelitian berlangsung, dengan teknik sampling secara random sampling dibagi menjadi 2 (dua) kelompok, satu kelompok perlakuan yang berjumlah 10 orang dan satu kelompok kontrol yang berjumlah 10 orang. Penelitian ini menggunakan sit and reah test untuk mengukur Kekuatan Otot sebelum dan sesudah pemberian intervensi 2 kali seminggu selama 6 minggu. Pemberian latihan fisik menghasilkan peningkatan kekuatan otot sebesar 36,25± 11,307 sedangkan pada kelompok kontrol terjadi peningkatan sebesar 7,92± 9,643. Pada Uji beda pengaruh didapatkan nilai beda nilai p = 0,000 < 0,05 yang berarti bahwa ada perbedaan yang bermakna antara kelompok perlakuan dan kontrol. Disarankan kepada pelatih agar memberikan latihan fisik untuk meningkatkan kekuatan otot pemain futsal Cherubim Fc.
e-ISSN: 2657-0703 dan p-ISSN: 2085-5389
2
PENDAHULUAN
Salah satu cabang olahraga yang digemari di kalangan masyarakat saat ini adalah cabang olahraga futsal. Olahraga futsal merupakan salah satu cabang olahraga yang sudah berkembang di masyarakat luas, di klub-klub, kantor-kantor, desa-desa, maupun di sekolah-sekolah. Di sekolah, olahraga futsal digunakan sebagai pembelajaran di luar mata pelajaran atau disebut ekstrakurikuler (Halim, 2013). Olahraga futsal adalah olahraga dengan lapangan tertutup dan menjadi salah satu olahraga yang paling banyak diminati dari semua kalangan (Suryamen, 2016). Pemain futsal harus memiliki kebugaran yang baik karena futsal adalah olahraga yang dimainkan dengan waktu 2 x 20menit, sehingga untuk bias bertahan dalam permainan yang baik diperlukan kebugaran fisik yang prima (Ninzar, 2018).
Salah satu unsur yang sangat penting untuk olahraga futsal adalah kondisi fisik seorang pemain. Dengan adanya program berupa latihan kondisi fisik, maka pemain dapat mempertahankan dan meningkatkan kebugaran jasmani sehingga berada dalam kondisi yang prima untuk menghadapi pertandingan. Latihan kondisi fisik juga sangat berpengaruh dalam tingkat prestasi pemain. Apabila kondisi fisik baik, maka akan ada terjadi peningkatan kelenturan, kelincahan, kecepatan, daya tahan umum dan komponen kondisi fisik lainnya . Untuk mempertahankan atau meningkatkan performa pemain, maka perlu diberikan program latihan lain selain latihan teknik yang bertujuan meningkatkan kebugaran pemain. Program latihan yang di maksud adalah latihan latihan fisik. Latihan fisik adalah satu bentuk latihan terpadu yang didalamnya berisi latihan kebugaran, latihan fleksibilitas, latihan strength, latihan power, dan latihan kelincahan. Latihan periode persiapan umum bertujuan meningkatkan kebugaran fisik secara umum, termasuk kekuatan otot. Menurut Matthew et all, 2003, resisten training dapat meningkatkan kekuatan otot.
Kekuatan otot adalah kemampuan atau potensi otot untuk menghasilkan suatu ketegangan yang dinamis yaitu gerakan terhadap tahanan (resistant) atau menjadi suatu beban yang statis yaitu menghasilkan suatu ketegangan tanpa gerakan juga kekuatan otot dapat dideskripsikan sebagai potensi dari
otot yang mampu untuk melakukan kontraksi yang maksimal.
Kekuatan otot sangat diperlukan oleh semua cabang Olahraga, termasuk futsl. Kekuatan otot yang paling dibutuhkan oleh cabang olahraga futsal adalah adalah kekuatan otot tungkai, Kekuatan otot tungkai diukur dengan menggunakan leg dynamometer yang bertujuan untuk melihat perkembangan kekuatan otot pemain.
Berdasarkan obesrvasi yang dilakukan di Klub Futsal Cherubim, ada beberapa hal yang dikeluhkan oleh pelatih dan para pemain, yaitu minimnya prestasi yang diraih oleh klub ini. Prestasinya tahun 2018 dalam adalah hanya masuk 16 besar dari 32 tim yang berkompetisi di liga lokal. Harapan mereka, timnya bisa masuk 10 besar. Hal lain yang dikeluhkan oleh pelatih adalah kurang kekuatan otot dari para pemain.
METODE PENELITIAN
Penelitian merupakan penelitian quasi eksperimen yaitu penelitian percobaan semu yang menggunakan kelompok pembanding terhadap kelompok yang akan diteliti, dimana terdapat 2 kelompok sampel yang akan diteliti untuk melihat perlakuan atau intervensi mana yang lebih baik atau lebih efektif. Dikatakan semu karena beberapa faktor potensial yang mempengaruhi kondisi sampel tidak dapat di kontrol sehingga dapat mempengaruhi hasil terapi. Populasi target adalah pemain futsal Cherubim Fc sebanyak 25 orang. Sampel penelitian ini adalah pemain futsal Cherubim Fc sebanyak 24 orang pada saat penelitian berlangsung dengan menggunakan teknik purpossive sampling. Sampel dibagi dalam kelompok perlakuan dan kelompok kontrol, masing masing 12 orang. Sampel sebanyak 24 orang, yang berjenis kelamin laki-laki yang dibagi dalam 2 kelompok yaitu kelompok perlakuan sebanyak 12 orang dengan kelompok kontrol sebanyak 12 orang. Setelah seluruh data terkumpul dari hasil pengukuran pada nyeri lutut, dilakukan pengolahan data melalui langkah-langkah berikut: (1) pengelompokan data (tabulasi) yaitu mengelompokan data-data dalam bentuk tabel-tabel dari data yang telah dikumpulkan, (2) menetapkan skala nilai untuk masing-masing variabel, kemudian direkapitulasi. Dalam menganalisis data yang telah diperoleh, maka peneliti menggunakan
Volume 12 Nomor 1, Februari 2020
3
beberapa uji statistik, antara lain: (1) Uji Normalitas; Untuk menentukan bentuk uji statistik yang tepat, maka salah satu yang perlu diketahui adalah apakah sampel dalam penelitian ini berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak normal, dan (2) Uji Hipotesis; Uji hipotesis digunakan untuk menguji signifikansi nilai kekuatan otot sebelum perlakuan dan sesudah perlakuan pada kedua kelompok penelitian. Apabila databerdistribusi normal, maka yang digunakan adalah uji t berpasangan yang dilanjutkan dangan uji t independen. Sedangkan apabila data tidak berdistribusi normal, maka yang digunakan adalah uji wilcoxon yang dilanjutkan dangan uji Mann whitney.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Tabel 1. distribusi kekuatan otot pre test dan post test kelompok perlakuan Kategori kekuatan
otot
Pre test Post Test
n % n % Baik Sekali - - - - Baik - - 1 8,3 Sedang 11 91,7 11 91,7 Kurang 1 8,3 - - Kurang Sekali - - - - Jumlah 12 100,0 12 100,0
Tabel 1. menunjukkan bahwa kekuatan otot pre test terdapat 11 orang (91,7%) sedang, dan 1 orang (8,3%) kurang. Sedangkan pada
post test terdapat 1 orang (91,7%) baik dan 11 orang (91,7%) sedang.
Tabel 2. distribusi kekuatan otot pre test dan post test kelompok kontrol Kategori kekuatan
otot
Pre test Post Test
n % n % Baik Sekali - - - - Baik - - - - Sedang 12 100,0 12 100,0 Kurang - - - - Kurang Sekali - - - - Jumlah 12 100,0 12 100,0
Tabel 2. menunjukkan bahwa kekuatan
otot pre test terdapat 12 orang (100,0%) sedang. Sedangkan pada post test terdapat 12 orang (100,0%) sedang. Tabel 3. Analisis nilai kekuatan otot pemain futsal sebelum dan sesudah
pemberian latihan fisik pada kelompok perlakuan
Kondisi Nilai Rerata Standar Deviasi n
Pre test 166,67 36,948 12
e-ISSN: 2657-0703 dan p-ISSN: 2085-5389
4
Tabel 3. memperlihatkan nilai rerata pre test yaitu 166,67 dengan nilai minimum 100 dan maksimum 200. Nilai rerata post test yaitu 202,92 dengan nilai minimum sebesar 150 dan maksimum 250. Perubahan nilai rerata yang diperoleh menunjukkan adanyapeningkatan kekuatan otot setelah pemberian latihan fisik. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian latihan fisik dapat menghasilkan peningkatan kekuatan otot pada pemain Futsal.
Tabel 4. Analisis nilai kekuatan otot pemain futsal sebelum dan sesudah pemberian latihan fisik pada kelompok kontrol
Kondisi Nilai Rerata Standar Deviasi n
Pre test 168,75 28,455 12
Post test 176,67 33,80
Tabel 4. memperlihatkan nilai rerata pre test yaitu 168,75 dengan nilai minumum 130 dan nilai maksimum 200 sedangkan nilai rerata post test yaitu 176,67 dengan nilai
minmum 135 dan nilai maksimim 230. Perubahan nilai rerata yang diperoleh menunjukkan adanya peningkatan kekuatan otot pada kelompok kontrol.
Tabel 5. Nilai kekuatan otot pemain futsal sebelum dan sesudah pemberian latihan fisik pada kelompok perlakuan
Kondisi n Mean Beda Rerata p
Pre test 12 168,75 36,25 0,002
Post test 12 176,67
Tabel 5. menunjukkan nilai beda rerata diperoleh peningkatan kekuatan otot pre test yaitu 166,67 dengan nilai minimum 100 dan maksimum 200. Nilai rerata post test yaitu 202,92 dengan nilai minimum sebesar 150 dan
maksimum 250, dengan nilai p = 0,000 < 0,05 yang berarti bahwa ada perbedaan yang bermakna setelah nilai pre test dan post pada kelompok perlakuan dengan peningkatan sebesar 36,25.
Tabel 6. Nilai kekuatan otot pemain futsal sebelum dan sesudah pada kelompok kontrol
Kondisi n Mean Beda Rerata p
Pre test 12 168,75
7,92 0,006
Post test 12 176,67
Tabel 6. menunjukkan nilai beda rerata diperoleh peningkatan kekuatan otot sebesar 7,92 dengan pre test sebesar 168,75 dengan nilai minumum 130 dan nilai maksimum 200 sedangkan post test sebesar 176,67 dengan
nilai minimum 135 dan nilai maksimum 230. Adapun nilai p = 0,006 < 0,05 yang berarti bahwa ada perbedaan yang bermakna setelah nilai pre test dan post pada kelompok kontrol dengan peningkatan sebesar 7,92.
Tabel 7. Nilai kekuatan otot setelah perlakuan antar kelompok
Kondisi n Mean z p
Peningkatan Kelompok
Perlakuan 12 36,25 -3,913 0,000
Volume 12 Nomor 1, Februari 2020
5
Tabel 7. menunjukkan p = 0,000 < 0,05 yang berarti bahwa ada perbedaan pengaruh yang bermakna antara kedua kelompok dimana kelompok perlakuan lebih baik dibandingkan kelompok kontrol. Kelompok perlakuan mengalami peningkatan sebesar 36,25 dengan nilai minimum 15 dan nilai maksimum, sendangkan kelompok kontrol mengalami peningkatan sebesar 7,92 , ini berarti ada pengaruh latihan fisik terhadap peningkatan kekuatan otot.Pembahasan
Kekuatan otot merupakan kemampuan seseorang untuk dapat mengubah arah dengan cepat dan tepat pada waktu bergerak tanpa kehilangan keseimbangan. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan latihan fisik dalam melatih kekuatan otot pemain Futsal Cherubim Fc Makassar.
Berdasarkan hasil hasil Uji beda pengaruh, didapatkan hasil p = 0.000, dimana p < 0.05. berarti ada pengaruh pemberian latihan fisik latihan fisik terhadap perubahan kekuatan otot pemain Futsal. Penelitian ini relevan dengan hasil penelitian Winartha, Kanca, Sudarmada, and Or (2015) yang menyatakan side jump traning berpengaruh terhadap kekuatan, kecepatan dan kelincahan pada Siswa Peserta Ekstrakurikuler Pencak Silat SMA Negeri 1 Abiansemal.
Kekuatan otot dipengaruhi oleh banyak faktor seperti hipertrofi, rekruitmen motor unit, rate coding, jumlah sinkronisasi motor unit, siklus stretch shortening, derajat neuromuscular inhibisi dan type serabut hipertrofi. Khususnya otot skeletal, program latihan dapat menyebabkan hipertrofi. Kebanyakan hipertrofi ini lebih disebabkan oleh peningkatan diameter serat otot daripada oleh peningkatan jumlah serat, tetapi hal ini tidak semuanya benar karena beberapa serat otot yang sangat membesar diyakini di tengah, di seluruh panjang otot untuk membentuk serat-serat yang seluruhnya baru, sehingga sedikit meningkatkan jumlah seratnya (Guyton and Hall, 2015).
Perubahan yang terjadi di dalam serat otot yang hipertrofi itu sendiri meliputi: (1) peningkatan jumlah myofibril, sebanding dengan derajat hipertrofi; (2) peningkatan komponen sistem metabolisme fosfagen, termasuk ATP dan fosfokreatin sebanyak 60
sampai 80 persen; (4) peningkatan cadangan glikogen sebanyak 50 persen. Akibat semua perubahan ini, kemampuan sistem metabolik aerobik dan anaerobik meningkat, terutama meningkatkan kecepatan oksidasi maksimum dan efisiensi sistem metabolisme oksidatif sebanyak 45 persen (Guyton and Hall, 2015).
Ukuran dasar otot seseorang terutama ditentukan oleh hereditas ditambah kadar sekresi testosteron, yang pada pria, akan menyebabkan otot yang lebih besar daripada wanita. Akan tetapi, dengan latihan, otot dapat mengalami hipertrofi, mungkin tambahan sebanyak 30 sampai 60 persen. Kebanyakan hipertrofi ini lebih disebabkan oleh peningkatan diameter serat otot daripada oleh peningkatan jumlah serat, tetapi hal ini tidak semuanya benar karena beberapa serat otot yang sangat membesar diyakini di tengah, di seluruh panjang otot untuk membentuk serat-serat yang seluruhnya baru, sehingga sedikit meningkatkan jumlah seratnya (Guyton and Hall, 2015). Peningkatan area cross sectional berkontribusi terhadap peningkatan hipertrofi otot terlihat dalam respon terhadap resisten training. Peningkatan area cross sectional pada otot meningkatkan jumlah elemen kontraktil dan meningkatkan kemampuan membangkitkan tenaga. Serabut otot tipe II menunjukkan plastisitas, yang ditandai dengan peningkatan hipertrofi yang lebih cepat dalam respon terhadap training dan atrofi yang lebih cepat dalam respon terhadap detraining dari tipe serabut ini (Bompa & Buzzichelli, 2015).
Kekuatan dari sebuah otot ditentukan terutama oleh ukurannya, dengan suatu daya kontraktilitas maksimum antara 3 dan 4 kg/cm2 dari satu daerah potongan melintang otot. Jadi, manusia yang mempunyai jumlah testosteron normal akan memiliki pembesaran otot yang sesuai, sehingga lebih kuat daripada orang yang tidak mendapat keuntungan yang diberikan oleh testosteron. Juga, atlet yang telah membesarkan ototnya melalui suatu program latihan kerja akan memiliki kekuatan otot yang bertambah (Guyton and Hall, 2015).
Perubahan ukuran serat terutama akibat peningkatan sintesis protein filamen myosin dan aktin, yang memungkinkan peluang interaksi untuk cross-bridge yang lebih besar dan dengan demikian meningkatkan kekuatan otot. Telah dilaporkan bahwa diameter otot
e-ISSN: 2657-0703 dan p-ISSN: 2085-5389
6
rangka meningkatkan sekitar 30% sebagai akibat dari resisten training (hipertrofi), saat otot bekerja menunjukkan peningkatan 46% pada jumlah nukleus dalam dalam serat otot (McArdle et al., 2001 dalam John Gormley 2005). Hal ini juga sejalan degan penelitian Tacito (2011) menyimpulkan bahwa latihan beban dengan creatin suplemen dapat meningkatkan kekuatan otot, power dan hipertrofi otot.Selain faktor hipertrofi, kekuatan juga di pengaruhi oleh inhibisi neuromuskular. Inhibisi neural dapat terjadi sebagai hasil dari umpan balik neural dari berbagai reseptor otot dan sendi yang dapat mengurangi produksi tenaga. Misalnya, inhibisi terjadi pada golgi tendo organs yang bekerja sebagai mekanisme proteksi, mencegah harmfull tenaga otot selama usaha maksimal atau hampir maksimal. Jika pola aktivasi neural ini dikurangi, disinhibisi dapat terjadi dan kemampuan menghasilkan kekuatan meningkat, dukungan terhadap pendapat ini dapat dilihat pada penelitian Aagard dan kolega (Bompa & Buzzichelli, 2015) Dimana setelah latihan berat selama 4 minggu, dapat menurunkan respon inhibisi neuromuscular. Hasil penurunan inhibisi neuromuscular dapat dijelaskan sebagai peningkatan kemampuan menghasilkan kekuatan sebagai hasil dari dari training.
SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat ditarik kesimpulan bahwa:
1. Ada Pengaruh pemberian latihan fisik terhadap perubahan kekuatan otot pemain Futsal Cherubim Fc dengan nilai p=0,000 atau <0,05.
2. Kekuatan otot pemain Futsal Cherubim Fc pada kelompok perlakuan yaitu pre test sebesar 166,67 dan nilai post test yaitu 202,92. Ini berarti terjadi peningkatan kekuatan otot sebesar 36,25.
3. Kekuatan otot pemain Futsal Cherubim Fc pada kelompok perlakuan yaitu pre test sebesar 168,75 dan nilai post test yaitu 176,67. Ini berarti terjadi peningkatan kekuatan otot sebesar 7,92.
DAFTAR RUJUKAN
Bompa, T., & Buzzichelli, C. (2015). Periodization Training for Sports, 3E: Human kinetics.
Guyton and Hall, J. E. (2015). textbook of medical physiology e-Book: Elsevier Health Sciences.
Halim, S. R. (2013). Minat Siswi SMA Dr. Soetomo Surabaya pada Kegiatan Ekstrakurikuler Futsal. Jurnal Pendidikan Olahraga dan Kesehatan, 1(1).
Ninzar, K. (2018). Tingkat Daya Tahan Aerobik (Vo2 Max) Pada Anggota Tim Futsal Siba Semarang. e-Jurnal Mitra Pendidikan, 2(8), 738-749.
Suryamen, d. (2016). Pembangunan Sistem Informasi Geografis Lapangan Futsal Kota Padang Berbasis Web. Jurnal Teknologi dan Sistem Informasi, 2(1), 45-54. Winartha, I. P. G., Kanca, I. N., Sudarmada,
I. N., & Or, S. (2015). Pengaruh Pelatihan Side Jump Sprint Terhadap Kecepatan Dan Kelincahan. Jurnal Ilmu Keolahragaan Undiksha, 3(1).
7
COMPETITOR: Jurnal Pendidikan Kepelatihan Olahraga
Volume 12 Nomor 1, Februari 2020
e-ISSN: 2657-0703 dan p-ISSN: 2085-5389
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License
PEMANFAATAN APLIKASI ANDROID COACH EYE UNTUK
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BIOMEKANIKA
Dian Pujianto
1, Bayu Insanistyo
2, Santun Sihombing
3Keywords :
Learning Outcomes; Biomechanics; Coach Eye.
Corespondensi Author 1 Pendidikan Jasmani, Universitas Bengkulu [email protected] 2 Pendidikan Jasmani, Universitas Bengkulu [email protected] 3Pendidikan Jasmani, Universitas Bengkulu [email protected] Article History Received: Desember 2019; Reviewed: Januari 2020; Accepted: Januari 2020; Published: Februari 2020
ABSTRACT
This study aims to improve the learning outcomes of biomechanics courses that have low success rates. Based on this reason, improvements will be made in the lecture process, thereby increasing learning outcomes that can reach the minimum standard (KKM). Success in lectures is the achievement of learning outcomes that achieve the minimum standard (KKM) value determined by the study program. This type of research is a classroom action research study with students of physical education and recreation study programs that attend biomechanics lectures 40 students and lecturers supporting biomechanics courses. The results showed that pre-cycle students were able to finish learning 15%, in cycle 1 50%, and at the end of period 2 95%. Based on this fact, motion analysis based on the Android Coach Eye application based on biomechanics courses has improved the learning outcomes of FKIP PJKR students at Bengkulu University.
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar mata kuliah biomekanika yang selama ini memiliki tingkat keberhasilan yang rendah. Berdasarkan alasan ini maka akan dilakukan perbaikan dalam proses perkuliahan, sehingga berdampak pada hasil belajar yang dapat mencapai KKM. Keberhasilan dalam perkuliahan adalah dicapainya hasil belajar yang mencapai nilai KKM yang telah ditetapkan oleh program studi. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas dengan subyek penelitian mahasiswa program studi pendidikan jasmani kesehatan dan rekreasi yang mengikuti perkuliahan biomekanika 40 mahasiswa dan dosen pengampu mata kuliah biomekanika. Hasil penelitian menunjukkan pada pra siklus mahasiswa yang mampu tuntas belajar 15%, pada siklus 1 50%, dan pada akhir siklus 2 95%. Berdasarkah fakta ini analisis gerak berbasis aplikasi android coach eye pada mata kuliah biomekanika telah meningkatkan hasil belajar mahasiswa PJKR FKIP Universitas Bengkulu.
PENDAHULUAN
Mata kuliah biomekanika merupakan mata kuliah wajib program studi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi. Mata kuliah
ini mengkaji tentang mekanika gerak tubuh manusia atau mengkaji bagaimana setiap segmen tubuh bergerak secara efektif dan efisien. Mata kuliah ini menjadi sangat penting bagi mahasiswa program studi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi
e-ISSN: 2657-0703 dan p-ISSN: 2085-5389
8
karena mahasiswa ketika sudah lulus dan menjadi guru pendidikan jasmani harus menguasai tentang teknik gerak yang efektif dan efisien. Begitu pentingnya mata kuliah ini maka setiap mahasiswa wajib lulus.Mata kuliah ini menjadi mata kuliah dasar dan wajib pada prodi pendidikan jasmani kesehatan dan rekreasi, sehingga mahasiswa wajib lulus dengan nilai minimal C atau 2 dengan skala 1 sampai 4. Pada proses perkuliahan yang telah dilakukan pada minggu pertama sampai ketiga telah diberikan materi analsisa gerak olahraga dengan mempelajari tentang gerak menendang bola dan melempar bola. Setelah tiga minggu perkuliahan maka dilakukan kuis untuk mengetahui tingkat pemahaman mahasiswa terhadap materi yang ada dan ternyata ada 80 mahasiswa yang nilainya masih berada di nilai C dan di bawahnya, sehingga berdasarkan ini perlu adanya perbaikan dalm perkuliahan. Perbaikan yang akan dilakukan dengan penerapan media video dalam menganalisis gerak olahraga.
Media menurut Smaldino, Lowther, dan Russell ( 2011:7 ), menyatakan media sebagai bentuk jamak dari medium (perantara), sebagai sarana komunikasi, media digolongkan dalam enam kategori, yaitu; teks, audio, visual, video, modifikasi, dan manusia. kemudian menurut Samsudin ( 2014 : 2), media merupakan setiap orang, bahan, alat, atau suatu peristiwa yang dapat menciptakan suatu kondisi yang mampu memberikan masukan kepada pembelajar untuk menerima pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Berdasarkan pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa media merupakan alat untuk menyampaikan sesuatu kepada orang lain, baik itu berupa perlatan elektronik, peralatan gambar, atau manuisa sendiri sebagai penyampai informasi. Arsyad ( 2015 : 20 ) menyatakan bahwa media pembelajaran terdiri dari 5 bentuk, yaitu; (1) Media berbasis manusia, (2) Media berbasis visual, (3) Media berbasis audio, (4) Media berbasis audio visual, dan (5) Media berbasis komputer.
Media berbasis manusia adalah media yang paling tua digunakan. Manusia sebagai media dalam menyampaikan informasi. Manusia sebagai model dalam menyampaikan sebuah materi ajar terutama pada sebuah keterampilan olahraga atau manusia mendemonstrasikan keterampilan. Media berbasis visual, media ini dapat berupa gambar
atau apapun yang berkaitan dengan cetakan. Pada media ini siswa hanya mampu memahami materi melalui gambar yang disediakan oleh pengajar. Media berbasis audio atau suara, media ini menyediakan suara sebagai sumber informasi dalam proses pembelajaran pada siswa.
Media audio visual, media ini menyediakan suara dan gambar dalam menayjikan informasi dalam proses belajar mengajar, sehingga sisiwa mampu secara optimal menyerap informasi yang disediakan oleh pengajar. Media berbasis komputer, media ini berkaitan dengan penggunaan komputer dalam menyampaikan informasi. Seiring kemajuan jaman penggunaan komputer dengan jaringan internet yang makin cepat maka penggunaan media komputer semakin menjadi sebuah tren dalam proses belajar mengajar. Dalam penelitian ini media yang digunakan adalah media video. Media video yang menyajikan tentang gerak kecabangan olahraga, bagaimana teknik menendang bola dan menangkap bola serta berbagai teknik lainnya, untuk dianalisis secara mekanika.
Bidang mekanika dalam olahraga ada dalam mat kuliah biomekanika. Biomekanika merupakan mata kuliah wajib yang ada dalam program studi pendidikan jasmani, kesehatan, dan rekreasi. Biomekanika merupakan disiplin ilmu gerak yang bertautan dengan disiplin ilmu olahraga. “Biomechanics is the study of body movement and of the forces acting on the musculoskeletal, used in sport analysing complex movement to improve efficiency and help avoid injury”. Morc Coulson (2006:29). Biomekanika merupakan ilmu yang mempelajari gerak manusia dan gaya yang ada di dalamnya, digunakan dalam analisa olahraga atau dalam gerak yang komplek untuk meningkatkan efisiensi gerak dan menghindari terjadinya cedera.
David A. Winter (2009:1), “Biomechanics of the human movement can be defined as the interdiscipline that describe analyzes and asseses human movement”. Pendapat ini menyatakan bahwa biomekanika gerak tubuh manusia diartikan sebagai interdisiplin ilmu yang menggambarkan, menganalisa, dan mengevaluasi gerak manusia.. Kemudian Hamill dan Knuzets (2009:5) menyatakan bahwa biomekanika dapat diartikan menjadi dua (2); “first biomechanics is the application of the laws of mechanics to animate motion, second the
Volume 12 Nomor 1, Februari 2020
9
study of forces acting on and generated within a body and effects of these forces on the material use for the diagnosis, treatment or research purposes.”Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pertama biomekanika merupakan aplikasi dari hukum mekanika untuk menganimasikan sebuag gerakan atau gerak. Kedua biomekanika sebagai sebuah kajian yang mempelajari gaya dari gerak tubuh secara umum, bagaimana gaya tersebut memberikan pengaruh dan dipengaruhi oleh materi sekitar, dan digunakan untuk mendiagnosa, menguji. Hasil dari pengujian ini menjadi sebuah hasil belajar dari mahasiswa dalam perkuliahan biomekanika.
Hasil belajar merupakan hasil nilai yang diperoleh siswa dari hasil evaluasi setelah melaksanakan proses pembelajaran. Menurut Winkel (1997:28) meyatakan bahwa hasil belajar adalah bukti keberhasilan dan usaha yang dilakukan dan merupakan kemampuan atau kecakapan yang diperoleh melalui kegiatan pembelajaran di lembaga pendidikan yang dinyatakan dengan angka.
Suryabrata (1998:56) mengemukakan bahwa ada dua faktor yang mempengaruhi hasil belajar seseorang, yaitu: (1) faktor yang berasal dari luar diri si pelajar, yaitu faktor sosial dan faktor non sosial, (2) faktor yang berasal dari dalam diri pelajar, yaitu faktor psikologis dan fisiologis. Hal ini sejalan dengan pendapat hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu: faktor dari dalam siswa dan faktor yang datang dari luar diri siswa atau lingkungan. Faktor dari dalam diri siswa terutama menyangkut kemampuan yang dimiliki siswa. Berkaitan dengan faktor dari dalam diri siswa, selain faktor kemampuan, ada juga faktor lain yaitu motivasi belajar, minat, perhatian, sikap, kebiasaan belajar, ketekunan, kondisi ekonomi, kondisi fisik dan psikis. Sedangkan faktor dari luar atau lingkungan yang paling dominan
mempengaruhi hasil belajar adalah kualitas pembelajaran.
Hasil belajar ini jika dikaitkan dengan hasil belajar mata kuliah Anatomi maka dapat ditunjukkan dengan perubahan tingkah laku pada diri mahasiswa, dalam aspek kognitif. Perubahan itu terjadi setelah adanya proses pembelajaran Anatomi yang dilaksanakan di lingkungan kampus yang diukur dengan menggunakan alat ukur dalam bentuk tes tertulis. Dan hasil belajar itu dipengaruhi oleh dua faktor yaitu: faktor yang berasal dari luar diri mahasiswa, dan faktor dari dalam diri mahasiswa yang terdiri dari motivasi belajar, minat, perhatian, sikap, kebiasaan belajar, ketekunan, kondisi ekonomi, kondisi fisik dan psikis.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Karena akan memberikan sebuah perlakuan pada sebuah kelas yang memiliki hambatan dalam sebuah proses pembelajaran, dan tindakan ini berupaya untuk memperbaiki kondisi proses pembelajaran tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Suharsimi Arikunto (2006:3) bahwa penelitian tindakan kelas merupakan sebuah pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam kelas secara bersama. Menurut Suhardjono (2006:58) penelitian tindakan kelas adalah penelitian tindakan yang dilakukan di kelas dengan tujuan memperbaiki mutu praktik pembelajaran. Dari kedua pendapat di atas jelas bahwa penelitian yang akan dilaksanakan ini adalah penelitian tindakan kelas.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Siklus PertamaBerdasarkan hasil observasi kegiatan mahasiswa pada pra siklus diperoleh data sebagai berikut;
Tabel 1.
Hasil Observasi Kegiatan Mahasiswa
No Kategori Frekuensi Prosentase
1 Baik Sekali (A) 2 5
2 Baik (B) 4 10
3 Cukup (C) 12 30
4 Kurang (D) 20 50
5 Kurang Sekali (E) 2 5
e-ISSN: 2657-0703 dan p-ISSN: 2085-5389
10
Berdasarkan hasil observasi kegiatan mahasiswa yang terdapat pada tabel 1 diperoleh gambaran bahwa dalam proses perkuliahan masih terdapat mahasiswa memperoleh nilai kurang sekali 2 mahasiswa. Mahasiswa yang meperoleh nilai kurang 20 mahasiswa, berarti ini menunjukkan bahwa proses perkuliahan belum sesuai dengan apa yang diharapkan.Proses perkuliahan belum dapat dioptimalkan karena masih banyak mahasiswa datang terlambat, sehingga sering mengganggu teman-temannya yang telah ada dalam
ruangan. Berdasarkan permasalahan ini maka dosen dan teman sejawat berdiskusi untuk mengatasi masalah ini. Hasil diskusi menyatakan untuk proses perkuliahan pada siklus kedua mahasiswa diberikan batas waktu 15 menit untuk masuk setelah perkuliahan dimulai, jika lebih dari 15 menit maka mahasiswa dianggap tidak masuk. Setelah mengamati proses perkuliahan, selanjutnya teman sejawat mengamati dosen sebagai pengajar dengan lembar observasi yang telah disiapkan. Berikut ini hasil pengamatan pada siklus pertama;
Tabel 2. Hasil Observasi Dosen
No Hal-Hal yang Diamati Ya Tidak
1. Ada SAP dan Silabus V
2. Dosen menyiapkan peralatan dan sarana perkuliahan V
3. Dosen mengabsensi mahasiswa V
4. Dosen membuka kuliah dengan berdoa V 5. Dosen memberikan apersepsi pada setiap awal pertemuan V
6. Dosen memberikan kegiatan kuis sebelum inti V 7. Dosen memeberikan masukan dan penguatan saat proses perkuliahan V
8. Dosen mampu memecahkan permasalahan yang muncul saat
perkuliahan berlangsung V
9. Dosen menutup perkuliahan dengan evaluasi perkuliahan dan berdoa. V
Jumlah 7
Berdasarkan hasil pengamatan teman sejawat ketika dosen memberikan proses perkuliahan diperoleh gambaran bahwa dari 9 item pengamatan dosen telah melaksanakan 7 item pengamatan. Ada 2 item pengamatan yang belum dilaksanakan, yaitu pemberian kuis pada mahasiswa dan evaluasi setelah perkuliahan. Dari hasil pengamatan teman sejawat, item pemberian kuis belum dilaksanakan karena kelengkapan mahasiswa ketika kuliah masih 60 %. Untuk item dosen menutup dengan evaluasi belum terlaksana karena materi kuliah yang padat, sehingga
sampai waktu telah selesai materi belum selesai dan dosen belum memiliki kesempatan memberikan evaluasi.
Observasi proses perkuliahan dan proses dosen memberikan kuliah telah digambarkan, selanjutnya diakhir siklus pertama mahasiswa diberikan tes pengetahuan untuk mengetahui ada tidak peningkatan pengetahuan mahasiswa setelah diberikan materi dengan media video analisis gerak olahraga. Berikut ini hasil tes yang telah dilaksanakan setelah siklus pertama selesai;
Tabel 3. Nilai Kuis Siklus 1
No Nilai Frekuensi Prosentase
1 A 8 20 2 B 12 30 3 C 10 25 4 D 10 25 5 E 0 0 Jumlah 40 100
Volume 12 Nomor 1, Februari 2020
11
Berdasarkan tabel 3 diperoleh bahwa masih ada 10 atau 25% mahasiswa yang memiliki nilai di bawah cukup. Jika di pra siklus nilai di bawah cukup ada 55% setelah siklus 1 ternyata tinggal 25%, sehingga dari gambaran ini dapat ditarik simpulan bahwa ada peningkatan prosentasi mahasiswa yang telah mencapai nilai cukup pada mata kuliahBiomekanika. Selanjutnya setelah siklus 1 selesai dilanjutkan dengan siklus 2.
Siklus Kedua
Berdasarkan hasil observasi pada siklus 2 diperoleh data sebagai berikut;
Tabel 4.
Hasil Observasi Kegiatan Mahasiswa
No Kategori Frekuensi Prosentase
1 Baik Sekali 15 37,5 2 Baik 20 50 3 Cukup 5 12,5 4 Kurang 0 0 5 Kurang Sekali 0 0 Jumlah 40 100
Berdasarkan hasil observasi kegiatan mahasiswa yang terdapat pada tabel 4 diperoleh gambaran bahwa dalam proses perkuliahan telah terlaksana sesuai dengan harapan, mahasiswa yang terlambat telah mengikuti peraturan yang telah disepakati. Sehingga mahasiswa 100% tidak terlambat lagi. Proses kuliah telah berjalan kondusif sesuai apa yang diharapkan.
Proses perkuliahan telah dapat dioptimalkan dengan pembuatan aturan yang telah disepakati bersama. Setelah mengamati proses perkuliahan,selanjutnya teman sejawat mengamati dosen sebagai pengajar dengan lembar observasi yang telah disiapkan. Berikut ini hasil pengamatan pada siklus 2 ;
Tabel 5.
Hasil Observasi Dosen
No Hal-Hal yang Diamati Ya Tidak
1. Ada SAP dan Silabus V
2. Dosen menyiapkan peralatan dan sarana perkuliahan V
3. Dosen mengabsensi mahasiswa V
4. Dosen membuka kuliah dengan berdoa V 5. Dosen memberikan apersepsi pada setiap awal pertemuan V 6. Dosen memberikan kegiatan kuis sebelum inti V 7. Dosen memeberikan masukan dan penguatan saat proses perkuliahan V 8. Dosen mampu memecahkan permasalahan yang muncul saat
perkuliahan berlangsung V
9. Dosen menutup perkuliahan dengan evaluasi perkuliahan dan berdoa. V
Jumlah 9
Berdasarkan hasil pengamatan teman sejawat ketika dosen melaksanakan proses perkuliahan diperoleh gambaran bahwa dari 9 item pengamatan, dosen telah melaksanakan semua item pengamatan. Observasi proses perkuliahan dan proses dosen memberikan kuliah telah digambarkan pada tabel 5.
Pada akhir siklus 2 mahasiswa diberikan tes pengetahuan untuk mengetahui apakah ada peningkatan prosentase kelulusan dari siklus 1 ke siklus 2. Tes ini diberikan setelah
siklus 2 berakhir. Pada siklus 2 mahasiswa diberikan materi dengan media video analisis gerak olahraga. Berdasarkan proses perkuliahan telah berjalan dengan kondusif dan baik serta penyajian dosen yang telah baik juga, maka selanjutnya, apakah ada peningkatan pengetahuan mahasiswa ketika proses telah berjalan dengan baik? Berikut ini hasil tes yang telah dilaksanakan setelah siklus 2 selesai;
e-ISSN: 2657-0703 dan p-ISSN: 2085-5389
12
Tabel 6. Nilai Kuis Siklus 2No Nilai Frekuensi Prosentase
1 A 18 45 2 B 20 50 3 C 2 5 4 D 0 0 5 E 0 0 Jumlah 40 100
Berdasarkan tabel 6 diperoleh bahwa masih ada 2 atau 5 % mahasiswa yang memiliki nilai cukup. 20 mahasiswa atau 50% nilai baik, dan 18 mahasiswa atau 45% nilai baik sekali, dan tidak ada nilai di bawah
cukup. Sehingga dari gambaran ini dapat ditarik kesimpulan bahwa ada peningkatan prosentasi mahasiswa yang telah mencapai nilai cukup pada mata kuliah biomekanika.
15 50 95 0 20 40 60 80 100 Pra Siklus Siklus 1 Siklus 2 Gambar 1. Histogram Hasil Belajar Berdasarkan gambar 1 menunjukkan
peningkatan hasil belajar sebelum penelitian, setelah siklus 1, dan setelah siklus 2. Pada pra siklus mahasiswa yang memperoleh nilai B ke atas hanya ada 15 %. Pada akhir siklus 1 mahasiswa yang memperoleh nila B ke atas meningkat menjadi 50 %, dan pada siklus 2 mahasiswa yang memperoleh nilai B ke atas telah mencapai 95 % atau telah mencapai indikator keberhasilan dari penelitian ini.
Pembahasan
Hasil penelitian telah menunjukkan bahwa mahasiswa yang memperoleh nilai A dan B pada pra siklus ada 15%. Kemudian pada akhir siklus 1 mahasiswa yang memperoleh nilai A dan B ada 50 % dan pada akhir siklus 2 mahasiswa yang memperoleh nila A dan B ada 95 %. Peningkatan hasil belajar ini menjadi dampak dari makin kondusifnya suasana perkuliahan yang dapat diamati melalui lembar kegiatan proses
perkuliahan. Perkuliahan sebelum dilakukan penelitian sering terjadi keterlambatan mahasiswa maka setelah pemberian materi dengan media video analisis geak olahraga dan dengan pembuatan aturan maka mahasiswa menjadi lebih tertarik dan memperhatikan ketika proses kuliah berlangsung.
Media media video analisis gerak olahraga merupakan sebuah media yang menyediakan suara dan gambar dalam menyampaikan informasi berupa gerak olahraga. Jika pada sebelum penelitian dosen selalu menyampaikan materi dengan menggunakan media gambar cenderung mahasiswa bosan. Maka pada proses perkuliahan ini selain menggunakan media gambar, dosen juga menampilkan animasi audio dan video dari gerak kecabangan olahraga yang sesungguhnya, sehingga mahasiswa benar-benar melihat kondisi gerak kecabangan olahraga secara berulang,
13
bagaimana bentuk gerak lari, bagaimana bentuk gerak memukul, bagaimana bentuk sebuah gerak yang kurang tepat saat berolahraga dan masih banyak lagi.Media video olahraga baik yang di download melalui youtube maupun aplikasi Coach’ Eye telah memberikan warna tersendiri dalam proses perkuliahan, mahasiswa menjadi lebih tertarik dan antusias untuk memperhatikan setiap penjelasan dari media maupun penjelasan dari dosen. Media video olahraga baik yang di download melalui youtube maupun aplikasi Coach’ Eye menggambarkan secara nyata gerak olahraga pada manusia, dan bagaimana semua sistem gerak yang ada bekerja secara bersama-sama secara sistematis. Media ini juga menjelaskan bagaimana bentuk kesalahan gerak secara terperinci yang sering dilakukan oleh atlet pemula atau orang yang mulai berolahraga.
SIMPULAN DAN SARAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan Media video olahraga baik yang di download melalui youtube maupun aplikasi Coach’ Eye telah memberikan manfaat dalam peningkatan hasil belajar pada mata kuliah Biomekanika pada materi analisis gerak kecabangan olahraga. penggunaan media ini telah melengkapi dan menyempurnakan penggunaan media gambar yang telah ada. Media ini mampu memberikan pemahaman kepada mahasiswa lebih mendalam pada materi analisis gerak kecabangan olahraga. Berdasarkan simpulan ini maka penggunaan Media video olahraga baik yang di download melalui youtube maupun aplikasi Coach’ Eye dapat dianjurkan sebagai media tambahan pada perkuliahan Biomekanika.
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas sehingga hasilnya hanya dapat berlaku pada kelas percobaan, akan tetapi dengan hasil penelitian yang menunjukkan peningkatan hasil belajar Biomekanika maka, dapat disarankan beberapa hal sebagai berikut;
a. Hasil penelitian ini dapat menjadi pertimbangan dalam pemilihan media perkuliahan.
b. Hasil penelitian ini dapat dipertimbangkan sebagai acuan untuk penelitian berikutnya.
c. Hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi bagi penelitian yang memiliki
kesamaan dengan kondisi pada subyek penelitian
DAFTAR RUJUKAN
Azhar Arsyad,(2015).Media Pembelajaran, Raja Grafindo Persada : Depok.
Coulson, M. (2006). Dictionary of Sport and Exercise Science. A&C Black : London. David A. Winter. (2009). Biomechanics and
Motor Control of Human Movement. Canada : John Williey and Sons.
David Hopkins (1993). Teachers Guide To Claasroom Research. Open University Press. Buckingham Philadelphia.
.Hamill, J, and Knutzen, KM. (2009). Biomechanical Basis of Human Movement. China : William & Wilkins.
McNiff J, Whithead J. (2006) All You Need To Know About ActionResearch. London: Sage Publication.
Metzler M.W. (2000) Intructional Model For Physical Education. Booston: Allyn Bacon. Peter R, Hilary B (2001). Hand Book of Action Research Participative Inquiryand Practice. Stage Publication. London.
Pujianto, D. (2017). The Differences of Intructional Media and Coordination in Learning Outcomes of Groundstrokes Tennis on Novice Level Athletes. JIPES - Journal of Indonesian Physical Education and
Sport, 3(1), 19 - 25.
https://doi.org/10.21009/JIPES.031.03 Samsudin, (2014). Media Pembelajaran
Pendidikan Jasmani. Lintera : Jakarta. Sharon E. Smaldino, Deborah L. Lowther,
James D. Russell, (2011)Intructional Tecnology & Media for Learning. Pearson : USA.
Suharsimi A, Suhardjono, Supardi.(2006). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta.Bumi Aksara.
Suryabrata, S. (1998). Psikologi Pendidikan. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada Winkel, WS (1997). Psikologi Pendidikan dan
14
COMPETITOR: Jurnal Pendidikan Kepelatihan Olahraga
Volume 12 Nomor 1, Februari 2020
e-ISSN: 2657-0703 dan p-ISSN: 2085-5389
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License
PERBANDINGAN GAYA MENGAJAR KOMANDO DENGAN
GAYA MENGAJAR DISKOVERI TERHADAP HASIL BELAJAR
SHOOTING DALAM PEMBELAJARAN BOLA BASKET
Harry Wibowo Sampurno
1 Keywords:The Style of Teaching Command; The Style of Teaching Discovers; Learning Outcomes of Shooting
Corespondensi Author
1 STKIP Situs Banten,
[email protected] Article History Received: Desember 2019; Reviewed: Januari 2020; Accepted: Januari 2020; Published: Februari 2020 ABSTRACT
The purpose of this study is to improve and improve the quality of shooting learning. The research hypothesis proposed is "the style of teaching discovers greater influence compared to the command teaching style of learning outcomes of shooting in basketball games". The research method used was an experimental method, with the research design using posttest only control group design. The study population was vocational student. Affordable population is 205 class XI Pelita Bandung students, totaling 205 students. The sampling technique uses propotional randomized sampling technique. The research sample of 40 female students, randomly and proportionally divided into two groups, namely group A and group B. Group A is students who are taught in the command teaching style and group B is students who are taught in the style of discovers teaching. Based on the percentile value for the ttable distribution at the significance level α = 0.05 with (n1 + n2 -2) = 38, the price of t (0.95) = 1.68, while the t-test results = 2.8. So thus the value of t is greater than the table value then Ho is rejected. It can be interpreted that the teaching style of cover (x ̅ = 10.05, s = 6.19) has a greater influence compared to the command teaching style (x ̅ = 7.9, s = 4.87) on the learning outcomes of shooting a basketball .
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini yaitu untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran shooting. Hipotesis penelitian yang diajukan adalah ”gaya mengajar diskoveri lebih besar pengaruhnya dibandingkan dengan gaya mengajar komando terhadap hasil belajar shooting dalam permainan bolabasket”. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen, dengan desain penelitian menggunakan posttest only control group design. Populasi penelitian adalah siswa SMK. Populasi terjangkau adalah siswi kelas XI SMK Pelita Bandung yang berjumlah 205 orang siswa. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik propotional randomized sampling. Sampel penelitian sebanyak 40 orang siswa puteri, yang secara random dan proposional dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok A dan Kelompok B. Kelompok A adalah siswa yang diajar dengan gaya mengajar komando dan kelompok B adalah siswa yang diajar dengan gaya mengajar diskoveri. Berdasarkan nilai persentil untuk distribusi ttabel pada taraf signifikansi α = 0,05 dengan (n1 + n2 -2) = 38,
Vol 12 No 1, Februari 2020
15
harga t (0,95) = 1,68, sedangkan thitung hasil pengujian = 2,8. Maka dengan demikian nilai thitung lebih besar dari nilai ttabel maka Ho ditolak. Hal ini dapat ditafsirkan bahwa gaya mengajar diskoveri (x ̅ = 10,05, s= 6,19) memberikan pengaruh lebih besar dibandingkan dengan gaya mengajar komando ( x ̅ = 7,9 , s = 4,87) terhadap hasil belajar shooting bolabasket.
PENDAHULUAN
Permainan bolabasket merupakan salah satu cabang olahraga yang banyak dimainkan oleh masyarakat, di samping olahraga lain seperti sepakbola dan bolavoli. Banyaknya masyarakat yang bermain bolabasket di antaranya disebabkan oleh aturan permainannya sederhana, bisa dimainkan oleh anak-anak, remaja, tua, muda, perempuan dan lelaki, lapangannya tidak terlalu sulit, masal, dan mengandung unsur-unsur permainan. Permainan bolabasket juga mengajarkan toleransi, sportifitas, fair play, mendidik, kompetitif, menghibur dan menyehatkan melalui aktivitas fisik sehingga kebugaran jasmani bisa ditingkatkan. Jon Oliver (2007: Vi) mengemukakan bahwa “olahraga bola basket adalah olahraga yang menyenangkan, kompetitif, mendidik, menghibur, dan menyehatkan.” Melalui permainan bolabasket, seluruh potensi dari seluruh aspek yang diajarkan dalam permainan ini diyakini dapat berpotensi untuk dapat ditumbuh kembangkan. Sampai batas-batas tertentu, apalagi jika kegiatan pembelajaran pendidikan jasmani tersebut diintervensi oleh guru Penjas yang memiliki kompetensi sebagai tenaga pendidik. Maka nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam permainan bolabasket tersebut akan lebih dikembangkan lagi secara lebih luas. Sehingga Dengan keyakinan terhadap nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam permainan bolabasket, maka tidak salah pada saat ini permainan bolabasket menjadi salah satu cabang olahraga yang masuk ke dalam struktur kurikulum pendidikan jasmani mulai dari SD, SMP, dan SMA, bahkan diajarkan di beberapa perguruan tinggi, sehingga permainan bolabasket menjadi suatu kewajiban dalam pembelajaran pendidikan jasmani.
Dalam konteks permainan atau bermain, tujuan bermain bolabasket adalah (1) memasukkan bola ke dalam keranjang lawan dan (2) mencegah lawan untuk memasukkan
bola ke keranjang sendiri. Sesuai dengan peraturan Perbasi (2006:1), yang menjelaskan bahwa bola basket adalah: Permainan yang dimainkan oleh dua regu, yang masing-masing terdiri dari lima orang pemain, tujuan dari tiap masing-masing regu adalah memasukkan bola ke keranjang lawan dan berusaha mencegah regu lawan memasukkan bola.
Dengan demikian ada dua hal persoalan penting yang dapat menunjang keberhasilan bermain bolabasket yaitu bagaimana agar dapat memasukkan bola ke dalam keranjang lawan sebanyak-banyaknya dan bagaimana agar lawan tidak dapat memasukkan bola ke keranjang sendiri.
Memperhatikan konsep tujuan permainan bolabasket maka teknik shooting merupakan keterampilan teknik yang inti untuk dipelajari. Sehingga wajar jika dalam pembelajaran bolabasket keterampilan teknik shooting dijadikan fokus utama pembelajaran. Bahkan jika dilihat dari motivasi siswa berlatih, shooting merupakan salah satu keterampilan teknik yang paling digemari terutama oleh siswa yang baru belajar bolabasket. Dengan demikian maka keterampilan teknik shooting harus dipelajari seorang pemain bolabasket karena keterampilan shooting yang baik sering menjadi penentu kemenangan dalam sebuah pertandingan. Seperti yang dijelaskan oleh Hal Wissel (1939: 32) yang mengemukakan bahwa: Shooting is the most important skill basketball. The fundamental skills of passing, driblling, defence, and rebaounding may enable you get a high percentage shot, but you must still be able to make the shot. In fact, good shooting can often overcome weaknesses in other fundamental skill.
Melalui berbagai teknik, metoda, dan strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru, keterampilan shooting harus menjadi fokus utama di dalam pembelajaran bolabasket dalam konteks pendidikan Permasalahan yang nampak di dalam pembelajaran permainan bolabasket,
e-ISSN: 2657-0703 dan p-ISSN: 2085-5389
16
khususnya pembelajaran shooting di antaranya sarana dan prasarana yang meliputi keterbatasan ring basket, ukuran ketinggian ring basket, perbedaan secara genetika antara kekuatan putra dan putri dalam bermain bolabasket. Kemudian kompetensi guru pendidikan jasmani terhadap penguasaan pendekatan, strategi, dan metode pembelajaran bolabasket.Hampir di semua lapangan bolabasket yang ada, hanya terdapat dua buah ring (basket) yang ada di belakang garis akhir lapangan permainan bolabasket, padahal tujuan bermain adalah memasukkan bola sebanyak-banyaknya ke ring lawan, seperti halnya kebutuhan ring bolabasket untuk sesuatu pertandingan resmi, bukan untuk pembelajaran. Jarang sekali ada lapangan bolabasket yang dilengkapi dengan jumlah ring basket yang memadai dengan jumlah siswa. Ukuran ketinggian ring basket disesuaikan dengan karakteristik fisik anak, misalnya tinggi rendahnya kedudukan ring basket. Seyogyanya dengan satu kelas yang diasumsikan 40 siswa yang terdiri atas putera dan puteri, minimal harus terdapat 20 ring untuk dapat menciptakan suasana pembelajaran shooting di sekolah dengan sangat efektif. Di samping jumlah ring bolabasket yang kurang sesuai dengan rasio jumlah siswa, juga ukuran ketinggian bolabasket yang kurang sesuai dengan karakteristik siswa, terutama kekuatan siswa di SMP atau SMA/SMK sangat bervariasi, apalagi terdapat putera dan puteri yang secara genetik berbeda. Masih banyak siswa puteri yang tidak memiliki kekuatan untuk melakukan lemparan atau shooting setinggi ring seperti halnya ring yang terdapat di peraturan bolabasket.
Berlatih Atau belajar memasukkan bola ke dalam keranjang harus merupakan fokus utama dalam permainan bolabasket, namun faktanya masih banyak guru pendidikan jasmani di Indonesia kurang memahami tujuan tersebut. Hal ini bisa dilihat bahwa guru kurang memanfaatkan alokasi waktu yang disediakan ditambah dengan jumlah siswa yang terlalu banyak, dan biasanya guru hanya memberikan bola kepada siswa, kemudian membiarkan siswa bermain bolabasket dengan tidak ada konsep pembelajarannya.
Gaya mengajar yang dilakukan oleh guru dalam praktik pendidikan jasmani cenderung
tradisional khususnya pembelajaran shooting. Model dan metode-metode praktik dipusatkan pada guru (Teacher Centered) dimana pada saat belajar shooting, kegiatan pembelajaran masih banyak yang berorientasi terhadap penguasaan keterampilan teknik dengan melakukan latihan shooting dengan cara-cara tertentu. Sementara dalam pembelajaran bolabasket memerlukan kreatifitas tentang cara memasukkan bola ke dalam keranjang secara bervariasi. Latihan-latihan tersebut hampir tidak pernah dilakukan oleh anak sesuai dengan inisiatif sendiri (Student Centered). pada intinya model dan metode-metode praktik dipusatkan pada guru (Teacher Centered) hanya pada penguasaan teknik dengan cara-cara shooting yang baku, sementara model dan metode praktik yang terfokus pada siswa (Student Centered) lebih kepada mengembangkan daya pikir siswa terhadap cara-cara memasukkan bola yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi.
Shooting merupakan keterampilan gerak yang memiliki karakteristik dominan keterampilan terbuka (open skill), keterampilan diskrit (discrete skil), dan keterampilan kasar (groos skil). Dalam pelaksanaan permainan bolabasket yang sebenarnya, keterampilan shooting banyak dipengaruhi oleh situasi dan kondisi saat permainan berlangsung. Teknik dasar shooting yang baku kadang kala tidak dapat dilaksanakan karena adanya lawan yang memblok, jarak dan sudut ketika ingin melakukan shooting akan selalu berubah karena lawan yang menjaga, yang terpenting dari keterampilan shooting dalam permainan bolabasket yang sebenarnya adalah bola masuk ke dalam ring basket. hal ini sesuai dengan tujuan utama permainan bolabasket.
Gaya mengajar komando merupakan gaya mengajar yang berpusat pada guru. Pembelajarannya menekankan pada keseragaman gerak, standar baku yang telah ditentukan, dengan kaidah-kaidah anatomi gerak, biomekanika yang seragam. Jika diterapkan pada pengajaran shooting yang memiliki karakteristik keterampilan tersebut diatas, nampaknya kurang cocok dilaksanakan karena tidak sesuai dengan karakteristik permainan bolabasket yang sebenarnya. Oleh karena itu, diduga dalam prakteknya siswa akan terpaku pada suatu teknik standar yang baku yang telah diajarkan secara seragam.
Volume 12 Nomor 1, Februari 2020
17
gaya mengajar diskoveri dapat membantu siswa belajar membuat suatu kesimpulan terhadap suatu gerakan shooting dilakukan pada saat situasi dan kondisi yang berubah-ubah. Hal ini sesuai dengan karakteristik permainan bolabasket yang sebenarnya. Dengan penerapan gaya diskoveri, siswa diberikan kebebasan sendiri untuk memutuskan kapan shooting dilakukan, bagaimana teknik gerak shooting dilakukan (saat dijaga oleh lawan yang selalu berubah), jarak dan sudut yang selalu berubah karena lawan yang menjaga. Memperhatikan situasi dan kondisi diatas, penerapan gaya mengajar diskoveri dalam pengajaran shooting, nampaknya cocok digunakan untuk melatih teknik shooting dalam situasi permainan bolabasket yang sebenarnya.Gaya mengajar yang dilakukan oleh guru dalam praktik pendidikan jasmani cenderung tradisional khususnya pembelajaran shooting. Model dan metode-metode praktik dipusatkan pada guru (Teacher Centered). Pada saat belajar shooting, kegiatan pembelajaran masih banyak yang berorientasi terhadap penguasaan keterampilan teknik dengan melakukan latihan shooting dengan cara-cara tertentu. Sementara dalam pembelajaran bolabasket diperlukan kreativitas tentang cara memasukkan bola ke dalam keranjang secara bervariasi. Latihan-latihan tersebut hampir tidak pernah dilakukan oleh anak sesuai dengan inisiatif sendiri (Student Centered). Pada intinya model dan metode-metode praktik dipusatkan pada guru (Teacher Centered) hanya pada penguasaan teknik dengan cara-cara shooting yang baku, sementara model dan metode praktik yang terfokus pada siswa (Student Centered) lebih kepada mengembangkan daya pikir siswa terhadap cara-cara memasukkan bola yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi.
Guru pendidikan jasmani cenderung menekankan pada penguasaan keterampilan cabang olahraga. Pendekatan yang dilakukan seperti halnya pendekatan pelatihan olahraga. Dalam pendekatan ini, guru menentukan tugas-tugas ajarnya kepada siswa melalui kegiatan fisik tak ubahnya seperti melatih suatu cabang olahraga. Kondisi seperti ini mengakibatkan tidak optimalnya fungsi pengajaran shooting di sekolah, sehingga mereka kurang mampu dalam melaksanakan profesinya secara kompeten. Mereka belum berhasil melaksanakan tanggung jawabnya
untuk mendidik siswa secara sistematik melalui pendidikan jasmani. Hal ini dipertegas oleh Cholik Mutohir (1983:19) bahwa “tampak pendidikan jasmani belum berhasil mengembangkan kemampuan dan keterampilan anak secara menyeluruh baik fisik, mental maupun intelektual.”
Berdasarkan permasalahan tersebut, maka penulis merumuskan masalah terhadap permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan penelitian yang dilaksanakan yaitu sebagai berikut : 1.Apakah terdapat perbedaan hasil belajar antara gaya mengajar komando dengan gaya mengajar diskoveri terhadap hasil belajar shooting dalam pembelajaran bola basket. penelitian ini bertujuan untuk menemukan ada tidaknya perbedaan hasil belajar gaya mengajar komando dengan gaya mengajar diskoveri terhadap belajar shooting dalam pembelajaran bolabasket.
METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan adalah metode eksperimen. Sugiyono (2012:80) mengungkapkan bahwa Penelitian dengan metode eksperimen dapat diartikan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan (treatment) tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan. Sampel dalam penelitian ini adalah siswi kelas XI SMK Pelita Bandung dengan jumlah sampel yang gunakan sebanyak 40 siswi, yang didapat dari perhitungan 20 persen dari total populasi penelitian sebanyak 205 siswa. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes memasukkan bola ke dalam ringbasket (Nurhasan,2007:240). Tujuan dari tes ini yaitu untuk mengukur keterampilan (penguasaan) teknik dasar shooting bolabasket. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah Posttest Only Control Group Design yaitu penelitian eksperimen yang membandingkan dua kelompok yang diberi perlakuan yang berbeda, akhir dari eksperimen ini diberikan tes shooting dengan menggunakan instrument yang sama. Kelompok pertama diberi perlakukan keterampilan shooting dengan gaya mengajar komando dan kelompok kedua diberi perlakuan keterampilan shooting dengan gaya mengajar diskoveri. Desain penelitian dapat digambarkan dalam Matrik dibawah ini:
e-ISSN: 2657-0703 dan p-ISSN: 2085-5389
18
Gaya Mengajar Hasil Belajar
Gaya
Komando Diskoveri Gaya
Hasil belajar Shooting X1 X2
Gambar 1.
Desain Penelitian Posttest Only Control Group Design (Campbell, D.T and Stanley J.C :1966:25) Keterangan:
X1 adalah perlakuan melalui gaya mengajar komando. X2 adalah perlakuan melalui gaya mengajar diskoveri.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Data yang diperoleh dari hasil penelitian dapat
dideskripsikan seperti pada Tabel 1 di bawah ini:
Tabel 1
Deskripsi data hasil penelitian Kelompok A
Pembelajaran dengan gaya mengajar komando
Kelompok B
Pembelajaran dengan gaya mengajar Diskoveri n = 20 1 = 7,9 sd1 = 4,87 n = 20 2 = 10,05 sd2 = 6,19
Keterangan:
n = Jumlah Sampel1 = Rata-Rata Sampel Kelompok A 2 = Rata-Rata Sampel Kelompok B sd1 = Standar Deviasi Kelompok A sd2 = Standar Deviasi Kelompok B
Tabel 2.
Hasil Pengujian Normalitas Liliefors Kedua Kelompok
Kelompok n Lhitung Ltabel kesimpulan
Pembelajaran dengan gaya
mengajar Komando 20 0,916 0,190 Normal
Pembelajaran dengan gaya
mengajar Diskoveri 20 0,807 0,190 Normal
Tabel 3.
Hasil Uji Bartlett Kedua Kelompok
Kelompok X2 X2(1-α) (k-1) Kesimpulan
Gaya Mengajar Komando dan
Gaya Mengajar Diskoveri 0,475 3,84 Homogen Berdasarkan tabel nilai kritis L untuk