PENGARUH KELAS IBU HAMIL
TERHADAP PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN
KETERAMPILAN IBU HAMIL MENGENAI KESEHATAN IBU
DAN ANAK DI WILAYAH PUSKESMAS SEMPOR II
KABUPATEN KEBUMEN
SKRIPSI
LINARSIH
1006820480
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
PROGRAM SARJANA KESEHATAN MASYARAKAT
DEPOK
JUNI 2012
PENGARUH KELAS IBU HAMIL
TERHADAP PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN
KETERAMPILAN IBU HAMIL MENGENAI KESEHATAN IBU
DAN ANAK DI WILAYAH PUSKESMAS SEMPOR II
KABUPATEN KEBUMEN
SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana
LINARSIH
1006820480
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
PROGRAM STUDI SARJANA KESEHATAN MASYARAKAT
PEMINATAN KEBIDANAN KOMUNITAS
Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri, dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk
telah saya nyatakan dengan benar
Nama : Linarsih
NPM : 1006820480
Tanda Tangan :
Skripsi ini diajukan oleh Nama NPM Program Studi Judul Skripsi Linarsih 1006820480 Kebidanan Komunitas
Pengaruh Kelas Ibu Hamil Terhadap Peningkatan Pengetahuan Dan Keterampilan Ibu Hamil Mengenai Kesehatan Ibu Dan Anak Di Wilayah Puskesmas Sempor II Kabupaten Kebumen
Tahun 2012
Telah berhasil dipertahankan dihadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat pada Program Studi Peminatan Kebidanan Komunitas, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia.
DEWAN PENGUJI Pembimbing : dr. Iwan Ariawan, MSPH
Penguji : dr. Yovsyah, M.Kes
Penguji : H. Hermansyah, SKM, MPH
Ditetapkan di : Depok Tanggal : Juni 2012
I. IDENTITAS
Nama : Linarsih
Tempat/tanggal lahir : Sleman, 28 Nopember 1972 Asal Instansi : UPTD Unit Puskesmas Sempor II
Alamat : Rt. 2 Rw. 2 Pekuncen Kecamatan Sempor
Kabupaten Kebumen Provinsi Jawa Tengah
II. RIWAYAT PENDIDIKAN
SD Negeri Nglengking II Sleman : Lulus tahun 1985 SLTP Negeri Sendangsari Sleman : Lulus tahun 1988
SPK Karya Husada Yogyakarta : Lulus tahun 1992
PPB SPK Ngesti Waluyo Temanggung : Lulus tahun 1993 D III Stikes ‘Aisyiyah Yogyakarta : Lulus tahun 2007 FKM UI Peminatan Kebidanan Komunitas : 2010 – 2012
III. RIWAYAT PEKERJAAN
Alhamdulillahirobbil’alamin, penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Sholawat beserta salam tak lupa penulis sampaikan kepada junjungan nabi besar Muhammad SAW beserta para sahabat yang telah menyampaikan risalah sehingga penulis dapat merasakan nikmatnya iman islam.
Penulisan skripsi ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat Peminatan Kebidanan Komunitas pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Penulis menyadari bahwa, tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan skripsi ini, sangatlah sulit bagi penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. dr. Iwan Ariawan, MSPH selaku pembimbing akademik yang telah memberikan bimbingan, nasehat, dan petunjuk dengan penuh kesabaran dalam menyelesaikan skripsi ini.
2. dr. Yovsyah, M.Kes selaku dosen penguji dalam yang telah banyak memberikan masukan yang berharga bagi sempurnanya penulisan ini. 3. H. Hermansyah, SKM, MPH selaku penguji luar yang telah memberikan
masukan yang berharga bagi sempurnanya penulisan ini.
4. drg. Isodora Suryaningtyas selaku Kepala Puskesmas Sempor II yang telah memberikan izin penulis untuk melaksanakan penelitian di wilayah kerja Puskesmas Sempor II.
5. Hj. Dwi Suryani Amd. Keb selaku bidan koordinator Puskesmas Sempor II beserta tim kelas ibu hamil yang telah membantu pelaksanaan klas ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Sempor II, sehingga penulis dapat melaksanakan penelitian ini dengan lancar.
6. Bapak/ibu dan teman-teman seluruh karyawan Puskesmas Sempor II, terima kasih atas semangat serta dukungan moril yang tak terhingga. 7. Seluruh peserta kelas ibu hamil wilayah kerja Puskesmas Sempor II, yang
tidak bisa mengawal anakmu hingga lulus dari perkuliahan ini, akan kuingat selalu pesan terakhirmu sebagai pemacu semangat untuk menyelesaikan pendidikan ini.
9. Suami dan anak-anak tercinta yang telah memberikan dukungan moril, materiil dan doa, serta motivasi untuk segera menyelesaikan skripsi.
10. Seluruh keluarga, bapak dan ibu mertua, kakak, adik yang telah memberikan dukungan selama penulis kuliah.
11. Sahabat-sahabatku tercinta yang telah berbagi ilmu dan pengalaman, terima kasih atas bantuan dan masukan kalian demi kesempurnaan penulisan skripsi ini, semoga Allah membalas semua kebaikan yang telah diberikan kepada penulis.
12. Teman teman satu bimbingan yang selalu memberikan motivasi dan saran dalam penulisan ini.
13. Teman-teman mahasiswa bidkom angkatan 2010 serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah banyak membantu penulis dalam pembuatan skripsi ini
Semoga semua pihak yang telah disebut diatas mendapat anugerah yang berlimpah dari Allah SWT, atas segala kebaikan yang telah diberikan kepada penulis. Penulis menyadari bahwa pembuatan skripsi ini masih jauh dari sempurna, jika dalam penulisan laporan ini pembimbing atau pembaca masih menemukan kesalahan dan kekurangan maka penulis dengan senang hati menerima saran, koreksi dan kritiknya.
Depok, Juni 2012
Sebagai sivitas akademik Universitas Indonesia, saya yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama : Linarsih
NPM : 1006820480
Program Studi : Sarjana Kesehatan Masyarakat Departemen : Kebidanan Komunitas
Fakultas : Kesehatan Masyarakat Jenis Karya : Skripsi
demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-exclusive Royalty
Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul:
“Pengaruh Kelas Ibu Hamil Terhadap Peningkatan Pengetahuan Dan Keterampilan Ibu Hamil Mengenai Kesehatan Ibu Dan Anak Di Wilayah Puskesmas Sempor II Kabupaten Kebumen Tahun 2012”.
beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Noneksklusif ini Universitas Indonesia berhak menyimpan, mengalih media/formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat, dan mempublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di : Depok
Pada Tanggal : Juni 2010
(Linarsih) Yang menyatakan
Nama : Linarsih
Program Studi : Kesehatan Masyarakat
Judul : Pengaruh Kelas Ibu Hamil Terhadap Peningkatan Pengetahuan Dan Keterampilan Ibu Hamil Mengenai Kesehatan Ibu Dan Anak Di Wilayah Puskesmas Sempor II Kabupaten Kebumen
Tahun 2012
Pendidikan kesehatan ibu dan anak lebih banyak dilaksanakan melalui konsultasi perorangan atau perkasus pada waktu ibu datang memeriksakan kehamilannya, bayi atau balitanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kelas ibu hamil terhadap peningkatan pengetahuan dan keterampilan ibu hamil mengenai kesehatan ibu dan anak. Desain penelitian menggunakan rancangan quasi
experiment dimana seluruh populasi dijadikan sampel berjumlah 42 ibu hamil. Uji
hipotesis menggunakan paired sample t-test. Hasil menunjukkan ada perbedaan yang bermakna antara pengetahuan, keterampilan sebelum dan sesudah pelatihan serta keterampilan sesudah dan satu bulan sesudah pelatihan kelas ibu hamil, dengan demikian perlu dikembangkan program kelas ibu hamil sebagai salah satu upaya untuk menekan morbiditas dan mortalitas pada ibu dan bayi.
Kata kunci:
Name : Linarsih Study Program: Public Health
Title : The Effect of Against Pregnant Women Class Increasing Knowledge And Skills Regarding Pregnant Mother And Child Health In Area Of Puskesmas Sempor II Regency of Kebumen Year 2012
Maternal and child health education more consultation is carried out through individual or per case at the time the mother came to check her pregnancy, babies or toddler. This study aims to determine the effect of pregnant women class to increase their knowledge and skills of pregnant women on maternal and child health. The study design is quasi experiment using a design where the entire population sampled, amounting to 42 pregnant women. Hypothesis testing using a paired sample t-test. The results showed there were significant differences between the knowledge, skills before and after training skills and one month after the training pregnant women class, as such programs should be developed pregnant women class as part of efforts to reduce morbidity and mortality in mothers and babies.
Key words:
HALAMAN JUDUL... i
LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS ... ii
LEMBAR PENGESAHAN. ...iii
SURAT PERNYATAAN... iv
RIWAYAT HIDUP... v
KATA PENGANTAR ... vi
LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH. ...viii
ABSTRAK. ... ix
DAFTAR ISI... xi
DAFTAR TABEL... xiv
DAFTAR GAMBAR ... xv
DAFTAR ISTILAH. ... xvi
DAFTAR LAMPIRAN...xviii 1. PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Perumusan Masalah. ... 8 1.3 Pertanyaan Penelitian... 8 1.4 Tujuan Penelitian. ... 9 1.5 Manfaat Penelitian ... 9
1.6 Ruang Lingkup Penelitian... 10
2. TINJAUAN PUSTAKA... 11
2.1 Kelas Ibu Hamil ... 11
2.1.1 Tujuan Kelas Ibu Hamil ... 12
2.1.2 Hasil Yang Diharapkan ... 14
2.1.3 Sasaran Kelas Ibu Hamil ... 15
2.1.4 Pelaksanaan Kelas Ibu Hamil... 15
2.1.5 Kegiatan Pelaksanaan Kelas Ibu Hamil ... 16
2.1.6 Materi Pelaksanaan Kelas Ibu Hamil ... 16
2.2 Pengetahuan ... 18
2.2.1 Definisi Pengetahuan... 18
2.2.2 Tingkat Pengetahuan ... 19
2.2.3 Cara Memperoleh Pengetahuan... 20
2.3 Keterampilan/Praktek... 22
2.4 Karakteristik Ibu Hamil... 23
2.4.1 Umur. ... 23
2.4.2 Pendidikan... 25
2.4.3 Pekerjaan... 27
2.4.4 Paritas... 27
2.4.5 Umur Kehamilan... 28
2.5 Buku Kesehatan Ibu dan Anak... 29
2.6 Pendidikan /Promosi Kesehatan... 30 Halaman
2.6.3 Media Promosi Kesehatan... 32
2.7 Komunikasi. ... 35
2.7.1 Proses Komunikasi... 35
2.7.2 Tahap Komunikasi. ... 35
2.7.3 Faktor Yang Mempengaruhi berkomunikasi Dengan Ibu Hamil... 37
2.8 Kerangka Teori... 38
3. KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS DAN DEFINISI OPERASIONAL .. 40
3.1 Kerangka Konsep... 40
3.2 Hipotesis. ... 41
3.3 Definisi Operasional. ... 42
4. METODE PENELITIAN ... 45
4.1 Disain Penelitian... 45
4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian. ... 46
4.3 Kriteria Inklusi dan Eksklusi ... 46
4.4 Populasi dan Sampel... 47
4.5 Pengumpulan Data... 48
4.6 Pelaksanaan Penelitian... 49
4.7 Sumber Media KIE. ... 52
4.8 Pengolahan Data. ... 52
4.9 Analisa Data... 53
5. HASIL PENELITIAN ... 55
5.1 Gambaran Umum lokasi Penelitian... 55
5.2 Visi dan Misi Puskesmas Sempor II. ... 56
5.3 Demografi... 56
5.4 Fasilitas dan Sumber daya... 56
5.5 Analisis Univariat... 58
5.6 Analisis Bivariat Paired t-Test... 65
6. PEMBAHASAN. ... 66
6.1 Keterbatasan Penelitian... 66
6.2 Pelaksanaan Intervensi... 66
6.3 Karakteristik Responden Penelitian. ... 69
6.4 Perbedaan Pengetahuan Antara Sebelum dan Sesudah Intervensi Pelatihan Kelas Ibu Hamil di Wilayah Puskesmas Sempor II. ... 70
6.5 Perbedaan Pengetahuan Antara Sesudah Dengan Satu Bulan Sesudah Intervensi Pelatihan Kelas Ibu Hamil di Wilayah Puskesmas Sempor II. ... 73
6.6 Perbedaan Keterampilan Antara Sebelum dan Sesudah Intervensi Pelatihan Kelas Ibu Hamil di Wilayah Puskesmas Sempor II. ... 74
6.7 Perbedaan Keterampilan Sesudah Dengan Satu Bulan Sesudah Intervensi Pelatihan Kelas Ibu Hamil di Wilayah Puskesmas Sempor II. ... 75
7.2 Saran... 77 DAFTAR REFERENSI
Tabel 5.1 Fasilitas dan Sumber Daya Kesehatan UPTD Puskesmas Sempor II Tahun 2012 ... 56 Tabel 5.2 Sumber Daya Kesehatan UPTD Unit Puskesmas Sempor II Tahun
2012 ... 56 Tabel 5.3 Distribusi frekuensi ibu hamil menurut karakteristik ibu hamil... 59 Tabel 5.4 Distribusi frekuensi menurut keterpaparan informasi pengetahuan
KIA dan sumber informasi yang diperoleh... 60 Tabel 5.5 Distribusi frekuensi menurut keterpaparan informasi keterampilan
KIA dan sumber informasi yang diperoleh... 61 Tabel 5.6 Distribusi menurut pengetahuan dan keterampilan sebelum, sesudah
dan satu bulan setelah intervensi ... 63 Tabel 5.7 Selisih skor pengetahuan antara sebelum dan sesudah intervensi dan
Gambar 2.1 Kerangka Teori... 39
Gambar 3.1 Kerangka Konsep . ... 40
Gambar 4.1 Bentuk Rancangan Penelitian... 45
AIDS : Acquired Immuno Defisyency Sindrom
AKB : Angka Kematian Bayi
AKI : Angka Kematian Ibu
ANC : Ante Natal Care
APE : Alat Permainan Edukatif
BBL : Bayi Baru Lahir
BBLR : Berat Badan Lahir Rendah
BOK : Bantuan Operasional Kesehatan
CD : Compac Disc
HIV : Human Immunodeficiency Virus
IMD : Inisiasi Menyusu Dini
IMS : Infeksi Menular Seksual
IUFD : Intra Uterin Foetal Death
JICA : Japan International Cooperation Agency
K1 : Kunjungan antenatal pertamakali
K4 : Kunjungan antenatal ke empat kali
KB : Keluarga Berencana
KH : Kelahiran Hidup
KIA : Kesehatan Ibu dan Anak
KIE : Komunikasi Informasi Edukasi
KMS : Kartu Menuju Sehat
Linakes : Persalinan oleh tenaga kesehatan
LSM : Lembaga Swadaya Masyarakat
LTM : Long Term Memory
NTB : Nusa Tenggara Barat
P4K : Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi
PKD : Pos Kesehatan Desa
Polindes : Pondok Bersalin Desa Posyandu : Pos Pelayanan Terpadu Puskesmas : Pusat Kesehatan Masyarakat
TB : Tuberculosis
Lampiran 1. Surat Ijin Penelitian Lampiran 2. Kuesioner Penelitian
Lampiran 3. Tabel Kegiatan Intervensi Kelas Ibu Hamil Lampiran 4. Leaflet ASI Eksklusif
Lampiran 5. Media yang Digunakan (Lembar Balik, Buku Senam Hamil, Alat Peraga)
1.1 Latar belakang
Pembangunan kesehatan adalah penyelenggaraan upaya kesehatan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Pengertian pembangunan kesehatan juga meliputi pembangunan yang berwawasan kesehatan, pemberdayaan masyarakat dan keluarga, serta pelayanan kesehatan (Depkes, 2002). Pembangunan kesehatan di Indonesia dewasa ini masih di prioritaskan pada upaya peningkatan derajat kesehatan ibu dan anak, terutama pada kelompok yang paling rentan kesehatan yaitu ibu hamil, bersalin dan bayi masa perinatal. Salah satu tujuan program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) adalah meningkatkan kemandirian keluarga dalam memelihara kesehatan ibu dan anak. Ibu dan anak merupakan kelompok paling rentan terhadap berbagai masalah kesehatan yang seringkali berakhiran dengan kematian (Depkes RI & JICA, 2001). Ibu hamil diharapkan memiliki pengetahuan yang cukup mengenai KIA meliputi masalah seputar kehamilan, persalinan dan perawatan bayi. Pengetahuan yang rendah mengenai KIA pada ibu hamil berdampak serius terhadap masalah kesakitan dan kematian ibu dan bayi, hal ini ditandai dengan tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB)
Tingginya tingkat kematian ibu yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan merupakan salah satu masalah besar di Indonesia, karena angka kematian ini menunjukkan gambaran derajat kesehatan di suatu wilayah, sebagai gambaran indeks pembangunan manusia Indonesia, sehingga pelayanan kesehatan ibu dan anak menjadi prioritas utama dalam pembangunan kesehatan di Indonesia. Sekitar 25-50% kematian perempuan usia subur disebabkan oleh hal yang berkaitan dengan kehamilan. WHO memperkirakan setiap tahun terjadi 210 juta kehamilan diseluruh dunia. Dari jumlah ini 20 juta perempuan mengalami kesakitan sebagai akibat kehamilan, sekitar 8 juta mengalami komplikasi yang mengancam jiwa, dan lebih dari 500.000 meninggal pada 1995. Sebanyak 50% terjadi di negara-negara Asia Selatan dan Tenggara, termasuk Indonesia. (Saifuddin, 2005). Dalam hal ini, hampir semua negara anggota telah berupaya
menurunkan kematian ibu dan anak dengan meningkatkan penyediaan pelayanan kelahiran oleh tenaga kesehatan trampil.
Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia saat ini telah berhasil diturunkan dari 307/100.000 kelahiran hidup (KH) pada tahun 2002 menjadi 228/100.000 KH pada tahun 2007 (SDKI, 2007). Namun demikian, masih diperlukan upaya keras untuk mencapai target RPJMN 2010-2014 yaitu 118/100.000 KH pada tahun 2014 dan Tujuan Pembangunan Milenium (Millenium Development Goals), yaitu AKI 102/100.000 KH pada tahun 2015 (Kemenkes RI, 2010).
Faktor yang berkontribusi terhadap kematian ibu, secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi penyebab langsung dan penyebab tidak langsung. Penyebab langsung kematian ibu adalah faktor yang berhubungan dengan komplikasi kehamilan, persalinan dan nifas seperti perdarahan, pre eklamsia/eklamsia, infeksi, persalinan macet dan abortus. Penyebab tidak langsung kematian ibu adalah faktor-faktor yang memperberat keadaan ibu hamil seperti empat terlalu (terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering melahirkan dan terlalu dekat jarak kelahiran) menurut SDKI 2002 sebanyak 22,5%, maupun yang mempersulit proses penanganan kedaruratan kehamilan, persalinan dan nifas seperti tiga terlambat (terlambat mengenali tanda bahaya dan mengambil keputusan, terlambat mencapai fasilitas kesehatan dan terlambat dalam penanganan kegawat daruratan). Faktor berpengaruh lainnya adalah ibu hamil yang menderita penyakit menular seperti malaria, HIV/AIDS, tuberkulosis, sifilis, penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes mellitus, gangguan jiwa, maupun yang mengalami kekurangan gizi (Kemenkes RI, 2010)
Indikator yang digunakan untuk menggambarkan akses ibu hamil terhadap pelayanan antenatal adalah cakupan K1- kontak pertama dan K4 – kontak empat kali dengan tenaga kesehatan yang mempunyai kompetensi, sesuai standar. Secara nasional angka cakupan pelayanan antenatal saat ini sudah tinggi, K1 mencapai 94,24% dan K4 84,36% (data Kementrian Kesehatan tahun 2009). Walaupun demikian, masih terdapat disparitas antar provinsi dan antar kabupaten/kota yang variasinya cukup besar. Selain adanya kesenjangan, juga ditemukan ibu hamil yang tidak menerima pelayanan dimana seharusnya diberikan pada saat kontak dengan tenaga kesehatan (missed opportunity) (Kemenkes RI, 2010)
Di Propinsi Jawa Tengah AKI tahun 2009 adalah 117,02 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB 10,37 per 1.000 kelahiran hidup. Angka kematian tertinggi di Propinsi Jawa Tengah adalah Kabupaten Cilacap, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Kebumen dan disusul kabupaten lain (Profil dinas kesehatan Propinsi Jawa Tengah, 2010). AKI tahun 2010 sebesar 114,42 per 100.000 kelahiran hidup dan tahun 2011 AKI Jawa Tengah sebesar 116 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB sebesar 10,34 per 1000 KH.
Kabupaten Kebumen merupakan salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Jawa Tengah, terbagi 54 kecamatan dengan jumlah desa 460 desa, jumlah bidan di desa sebanyak 493 bidan, sarana pelayanan kesehatan pemerintah meliputi 1 Rumah Sakit Umum Daerah, 35 Puskesmas, 7 Puskesmas rawat inap, 74 Puskesmas Pembantu, dan 32 Polindes atau PKD. Sedangkan dari swasta terdiri 9 RSU, 2 RSIA. Kasus kematian bayi di Kabupaten Kebumen pada tahun 2008 adalah sebesar 142 kasus, tahun 2009 berjumlah 205 kasus, sedangkan tahun 2010 berjumlah 231 kasus. Untuk kasus kematian ibu pada tahun 2008 berjumlah 17 kasus, tahun 2009 berjumlah 15 kasus, tahun 2010 berjumlah 14 kasus dan tahun 2011 berjumlah 9 kasus. Dari data tersebut kasus kematian bayi Kabupaten Kebumen mengalami peningkatan. Untuk cakupan tahun 2008 (K1) 89% dari target 95%, (K4) 82% dari target 90%, Linakes sebesar 84% dari target 85%, cakupan tahun 2009 (K1) 96,02% dari target 95%, (K4) 92,42% dari target 90%, Linakes 93,84% dari target 90%, untuk cakupan tahun 2010 cakupan (K1) 99,48% dari target 95%, (K4) 95,02% dari target 95% dan cakupan Linakes sebesar 96,18% dari target 90%. Tahun 2011 (K1) 94%, (K4) 96,6%, Linakes 98,5% (Profil dinas kesehatan Kabupaten Kebumen, 2008-2011)
Puskesmas Sempor II adalah salah satu Puskesmas yang ada di wilayah Kabupaten Kebumen mempunyai wilayah kerja 7 desa, pencapaian program KIA tahun 2008, kunjungan antenatal (K1) 84,9%, (K4) 55,1% dan Linakes 80,9%. Tahun 2009 (K1) 101,4%, (K4) 84,1%, Linakes 94,8%. Tahun 2010 (K1) 95,5%, (K4) 75,8%, Linakes 86,7%. Tahun 2011 (K1) 96,7%, K4 80,3% dan Linakes 90,4%, dari data tersebut menunjukkan bahwa selama empat tahun berturut-turut pencapaian K4 di Puskesmas Sempor II belum mencapai target. Data kematian ibu untuk Puskesmas Sempor II dalam kurun waktu 4 tahun terakhir (2008-2011)
tidak ada kematian, kematian bayi pada tahun 2008 terdapat 5 kasus, tahun 2009 terdapat 11 kasus, tahun 2010 terdapat 7 kasus dan tahun 2011 sebanyak 4 kasus dengan penyebab kematian karena BBLR, Asfiksia dan IUFD (Profil Dinas kesehatan Kabupaten Kebumen, 2008-2011)
Untuk mengatasi permasalahan tersebut di atas, maka pelayanan antenatal di fasilitas kesehatan pemerintah maupun swasta dan praktik perorangan/kelompok perlu dilaksanakan secara komprehensif dan terpadu, mencakup upaya promotif, preventif, sekaligus kuratif dan rehabilitatif, yang meliputi pelayanan KIA, Gizi, pengendalian penyakit menular (imunisasi, HIV/AIDS, TB, malaria, penyakit menular seksual), penanganan penyakit kronis serta beberapa program lokal dan spesifik lainnya sesuai dengan kebutuhan program (Kemenkes RI, 2010)
Upaya akselerasi penurunan AKI diantaranya adalah dengan peran serta masyarakat dengan kegiatan KIE berupa penyuluhan tentang kesehatan ibu kepada berbagai sasaran termasuk ibu hamil, suami dan mertua, memanfaatkan media cetak dan elektronik untuk kampanye tentang kesehatan ibu (Depkes RI, 1997). Dalam konvensi hak-hak anak, semua anak sejak dari dalam kandungan mempunyai hak atas kelangsungan hidup, perkembangan dan mendapat perlindungan. Pemantauan intensif pada ibu hamil untuk kesehatan ibu hamil dan persiapan persalinan. Hal ini dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien melalui pemberdayaan masyarakat, kemitraan petugas kesehatan dengan masyarakat serta mewujudkan kesadaran, kemandirian keluarga untuk menjaga kesehatan ibu dan anak (Depkes RI, 2009)
Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu dan ini setelah orang melakukan penginderaan terhadap obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2007). Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Over Behaviour). Pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh pendidikan, mass media/informasi, sosial budaya dan ekonomi, lingkungan, pengalaman dan usia (Notoatmodjo, 2007).
Salah satu tool (alat) program kesehatan yang diharapkan turut berperan dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat kehamilan, persalinan dan nifas dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu hamil, keluarga dan masyarakat adalah melalui buku Kesehatan Ibu dan Anak (buku KIA), yang merupakan kumpulan materi standar penyuluhan, informasi serta catatan tentang gizi, kesehatan ibu dan anak. Manfaat buku KIA diantaranya adalah sebagai alat komunikasi dan penyuluhan bagi ibu, keluarga dan masyarakat (Depkes RI, 2009)
Dalam Niaty (2010) menurut hasil survei cepat tahun 2004 tentang penggunaan buku KIA di NTB dan hasil penelitian yang dilakukan oleh Kusumayati (2008) tentang pengaruh pemanfaatan buku KIA di Padang Pariaman dan Tanah Datar Sumatera Barat, mengungkapkan bahwa tidak semua ibu mau/bisa membaca buku KIA, sehingga ibu-ibu hamil sulit memahami/mengerti isi dari buku KIA, sementara diketahui bersama bahwa pemanfaatan buku KIA memiliki potensi untuk meningkatkan perilaku perawatan diri ibu dan memanfaatkan pelayanan KIA.
Diantara peran kesehatan dalam pembangunan bangsa adalah membangun generasi yang akan datang yang sehat dan cerdas. Generasi yang akan datang harus lebih baik dari generasi sekarang. Peran kesehatan untuk mempersiapkan generasi yang akan datang harus dapat diperlihatkan secara nyata diamana sebenarnya peran unik dan spesifik kesehatan yang tidak bisa digantikan oleh sektor lain. Oleh karena itu tenaga kesehatan termasuk tenaga gizi perlu pengkawalan perkembangan fisik dan mental sejak awal pertumbuhan calon generasi sehingga sejak pembuahan sampai dewasa dapat sehat secara terus menerus (Konsorsium Ilmu Kesehatan Indonesia, 2003)
Pendidikan kesehatan ibu dan anak yang diberikan kepada ibu yang lazim dilaksanakan sampai sekarang lebih banyak berupa penyuluhan melalui konsultasi perorangan atau per kasus yang diberikan pada waktu ibu datang memeriksakan kandungan atau memeriksakan bayi atau balita. Penyuluhan seperti diatas baik untuk menangani kasus per kasus, namun masih memiliki beberapa kelemahan antara lain:
2. Penyuluhan yang diberikan tidak terkoordinir sehingga ilmu kesehatan yang diberikan kepada ibu hanyalah pengetahuan yang dimiliki oleh petugas saja, karena tidak ada suatu tim dalam penyuluhan.
3. Tidak ada rencana kerja sehingga tidak ada kunjungan dari lintas sektor dan lintas program.
4. Pelaksanaan penyuluhan tidak berkala dan tidak berkesinambungan. Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan diatas dan memudahkan ibu hamil memahami isi buku KIA dan bagaimana cara menggunakan buku KIA, direncanakan pendidikan untuk kelas ibu hamil, yang lebih menyeluruh dan sistematis serta dapat dilaksanakan secara berkala dan berkesinambungan. Kegiatan yang direncanakan ialah pendidikan dalam bentuk tatap muka dalam kelas yang diikuti dengan diskusi antara ibu dan petugas, yang dinamakan “KELAS IBU”.
Kelas ibu merupakan sarana untuk belajar bersama tentang kesehatan bagi ibu hamil, dalam bentuk tatap muka yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan ibu-ibu mengenai kehamilan, perawatan kehamilan, perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi, persalinan, perawatan nifas, perawatan bayi, mitos, penyakit menular dan akte kelahiran, (Depkes RI, 2007). Keuntungan kelas ibu antara lain:
1. Penyuluhan/pengetahuan yang diberikan bersifat menyeluruh dan terencana sesuai dengan skenario yang berisikan perawatan kehamilan dan perawatan bayi/balita.
2. Penyuluhan menjadi lebih sempurna karena adanya persiapan oleh petugas sebelum memberikan penyuluhan.
3. Dapat didatangkan tenaga ahli untuk menjelaskan penyuluhan mengenai bidang tertentu.
4. Ada interaksi antara petugas kesehatan dan ibu pada saat penyuluhan dilaksanakan.
5. Dilaksanakan secara berkala dan berkesinambungan. 6. Evaluasi petugas dan ibu dalam menjalankan penyuluhan.
Dengan kegiatan ini diharapkan akan muncul kelompok para ibu yang benar-benar memahami kesehatan diri dan bayinya, mampu menyiapkan diri
menghadapi gangguan selama kehamilan serta mampu menyiapkan diri dan keluarganya selama proses persalinan dan juga mampu merawat bayinya dengan baik.
Kelas Ibu Hamil merupakan program yang dilaksanakan oleh Departemen Kesehatan bekerjasama dengan JICA, pada tahun 1997 dilakukan uji coba di Propinsi Sumatera Barat dengan ditentukan Puskesmas model di tiga Puskesmas Kabupaten Agam, Kabupaten Tanah Datar, kota Padang dan uji coba di Kabupaten Solok. Selanjutnya daerah yang mengembangkan kegiatan tersebut adalah Kabupaten Lombok Barat Nusa Tenggara Barat yang dilaksanakan sejak tahun 2009 di Puskesmas Jembatan Kembar. Di propinsi Jawa Tengah uji coba pelaksanaan kelas ibu hamil dimulai pada tahun 2010.
Pelaksanaan Kelas ibu hamil di Kabupaten Kebumen dimulai pada akhir tahun 2010 dengan menunjuk empat puskesmas sebagai pilot project yaitu Puskesmas Ambal 1, Puskesmas Buluspesantren 1, Puskesmas Klirong dan Puskesmas Karanganyar dengan tenaga fasilitator sebanyak 4 orang bidan. Pada tahun 2011 Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen mengadakan sosialisasi kepada bidan koordinator dan kepala puskesmas. Pada bulan Maret 2012 Dinas Kesehatan Kabupaten Kebumen kembali mengadakan sosialisasi ke bidan koordinator dan 1 orang bidan desa.
Puskesmas Sempor II merupakan salah satu Puskesmas yang memulai melaksanakan kelas ibu hamil pada bulan Desember 2010 dengan menggunakan dana BOK, pelaksanaan kelas ibu hamil dilaksanakan di Puskesmas sebagai percontohan untuk desa-desa di wilayah kerja Puskesmas Sempor II, untuk selanjutnya semua desa diharapkan ikut melaksanakan kegiatan serupa. Dari beberapa desa yang melaksanakan kelas ibu hamil, pelaksanaannya belum berjalan dengan optimal/belum sesuai dengan ketentuan pada petunjuk pelaksanaan kelas ibu hamil. Berdasarkan studi pendahuluan didapatkan bahwa sebagian besar perawatan bayi baru lahir seperti memandikan dan merawat tali pusat hingga berusia 7 hari atau sampai tali pusatnya lepas diserahkan kepada dukun bayi. Selain itu banyak dijumpai keluhan ibu bayi mengalami payudara bengkak/puting susu lecet yang disebabkan oleh perlekatan menyusui yang tidak benar. Tujuan diselenggarakan kelas ibu hamil adalah dapat dijadikan sarana
belajar untuk meningkatkan pengetahuan tentang perilaku positif ibu hamil yang dibuktikan dengan meningkatnya kunjungan pemeriksaan ke KIA serta pencapaiaan persalinan oleh tenaga kesehatan. (Depkes RI dan JICA, 2008)
Penelitian ini belum pernah dilakukan di Kabupaten Kebumen khususnya di wilayah kerja Puskesmas Sempor II. Berdasarkan hal tersebut maka penulis bermaksud untuk meneliti mengenai “pengaruh kelas ibu hamil terhadap peningkatan pengetahuan dan keterampilan ibu hamil mengenai Kesehatan Ibu dan Anak di wilayah Puskesmas Sempor II Kabupaten Kebumen tahun 2012”. 1.2 Rumusan masalah
Kunjungan ibu hamil (K4) di Puskesmas Sempor II selama 4 (empat) tahun berturut-turut masih dibawah target, sedang cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan pada tahun 2008 (80,9%) dari target 85%, tahun 2009 (94,8%) dari target 90%, tahun 2010 sebesar 86,7% dari target 90% dan tahun 2011 (90,4 %) dari target 90%. Selain itu pelaksanaan penyuluhan kesehatan pada ibu hamil dilaksanakan pada saat kegiatan kunjungan antenatal saja, pelaksanaan kelas ibu hamil belum berjalan secara optimal dan perawatan bayi baru lahir diserahkan kepada dukun bayi. Berdasar latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah adakah pengaruh kelas ibu hamil terhadap peningkatan pengetahuan dan keterampilan ibu hamil mengenai Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) di wilayah Puskesmas Sempor II Kabupaten Kebumen Tahun 2012?
1.3 Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka pertanyaan penelitiannya adalah
1. Bagaimana gambaran pelaksanaan Kelas Ibu Hamil di wilayah Puskesmas Sempor II Kabupaten Kebumen tahun 2012?
2. Bagaimana nilai rata-rata pengetahuan dan keterampilan ibu hamil mengenai KIA sebelum, sesudah dan satu bulan setelah mengikuti kelas ibu hamil di wilayah Puskesmas Sempor II Kabupaten Kebumen tahun 2012?
3. Bagaimana perbedaan nilai pengetahuan dan keterampilan ibu hamil mengenai KIA sebelum, sesudah dan satu bulan setelah mengikuti kelas ibu hamil di wilayah Puskesmas Sempor II Kabupaten Kebumen tahun 2012?
1.4 Tujuan Penelitian 1.4.1 Tujuan Umum
Diketahuinya pengaruh kelas ibu hamil terhadap peningkatan pengetahuan dan keterampilan ibu hamil mengenai KIA sebelum, sesudah dan satu bulan sesudah mengikuti kelas ibu hamil di wilayah Puskesmas Sempor II Kabupaten Kebumen tahun 2012
1.4.2 Tujuan Khusus
1. Diketahuinya gambaran pelaksanaan Kelas Ibu Hamil di wilayah Puskesmas Sempor II Kabupaten Kebumen tahun 2012.
2. Diketahuinya nilai rata-rata pengetahuan dan keterampilan ibu hamil mengenai KIA sebelum, sesudah dan satu bulan sesudah mengikuti kelas ibu hamil di wilayah Puskesmas Sempor II Kabupaten Kebumen tahun 2012.
3. Diketahuinya perbedaan nilai pengetahuan dan keterampilan ibu hamil mengenai KIA sebelum, sesudah dan satu bulan sesudah mengikuti kelas ibu hamil di wilayah Puskesmas Sempor II Kabupaten Kebumen tahun 2012.
1.5 Manfaat Penelitian
1.5.1 Manfaat Bagi Institusi
1. Memperoleh gambaran, informasi, masukan mengenai apa yang telah dicapai sehingga dapat dievaluasi lebih lanjut dan menemukan upaya-upaya baru yang dapat dilakukan oleh program KIA dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu hamil mengenai kesehatan ibu dan anak di wilayah Puskesmas Sempor II.
2. Hasil penelitian diharapkan dapat bermanfaat untuk membantu meningkatkan kualitas pelatihan dan penyuluhan terhadap masyarakat.
1.5.2 Manfaat Bagi Keilmuan
1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pustaka bagi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dalam pengembangan ilmu pengetahuan kesehatan masyarakat khususnya yang berkaitan dengan penyuluhan kesehatan di Puskesmas.
2. Sebagai masukan dalam penelitian lebih lanjut dan dapat memperluas wawasan berpikir sebagai usaha penggalian terhadap ilmu pengetahuan.
1.6 Ruang Lingkup
Penelitian ini meneliti tentang pengaruh kelas ibu hamil terhadap peningkatan pengetahuan dan keterampilan ibu hamil mengenai KIA di wilayah Puskesmas Sempor II. Alasan penelitian ini karena peneliti ingin mengetahui adakah pengaruh pelaksanaan kelas ibu hamil terhadap peningkatan pengetahuan dan keterampilan ibu hamil mengenai KIA antara sebelum, sesudah dan satu bulan sesudah pelaksanaan kelas ibu hamil. Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Sempor II Kabupaten Kebumen selama kurun waktu antara bulan Maret-Mei tahun 2012. Karena kunjungan K4 selama empat tahun berturut-turut masih dibawah target, pelaksanaan kelas ibu hamil belum berjalan dengan optimal dan dimasyarakat sebagian besar perawatan bayi baru lahir diserahkan kepada dukun bayi. Sebagai sampel dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil dengan umur kehamilan 20-32 minggu pada bulan Maret 2012. Penelitian ini bersifat eksperimen dengan rancangan eksperimen semu (Quasi Experiment). Penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder berupa kuesioner, daftar tilik/ceklis dan kohort ibu hamil sebagai cara ukur untuk mendapatkan hasil penelitian.
2.1 Kelas ibu hamil
Kelas ibu hamil, merupakan sarana untuk belajar bersama tentang kesehatan bagi ibu hamil, dalam bentuk tatap muka dalam kelompok yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu-ibu mengenai kehamilan, perawatan kehamilan, persalinan, perawatan nifas, perawatan bayi baru lahir, mitos, penyakit menular dan akte kelahiran. (Depkes RI, 2009)
Dewasa ini penyuluhan kesehatan ibu dan anak pada umumnya masih banyak dilakukan melalui konsultasi perorangan atau kasus per kasus yang diberikan pada waktu ibu memeriksakan kandungan atau pada waktu kegiatan posyandu. Kegiatan penyuluhan semacam ini bermanfaat untuk menangani kasus per kasus namun memiliki kelemahan antara lain:
1) Pengetahuan yang diperoleh hanya terbatas pada masalah kesehatan yang dialami saat konsultasi
2) Penyuluhan yang diberikan tidak terkoordinir sehingga ilmu yang diberikan kepada ibu hanyalah pengetahuan yang dimiliki oleh petugas saja
3) Tidak ada rencana kerja sehingga tidak ada pemantauan atau pembinaan secara lintas sektor dan lintas program
4) Pelaksanaan penyuluhan tidak terjadwal dan tidak berkesinambungan. Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan di atas, direncanakan metode pembelajaran kelas ibu hamil. Kegiatan yang dilaksanakan adalah pembahasan materi buku KIA dalam bentuk tatap muka dalam kelompok yang diikuti diskusi dan tukar pengalaman antara ibu-ibu hamil dan petugas kesehatan. Kegiatan kelompok belajar ini diberi nama KELAS IBU HAMIL.
Kelas Ibu Hamil adalah kelompok belajar ibu-ibu hamil dengan umur kehamilan antara 20 minggu s/d 32 minggu dengan jumlah peserta maksimal 10 orang. Di kelas ibu hamil ini ibu-ibu hamil akan belajar bersama, diskusi dan tukar pengalaman tentang Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) secara menyeluruh dan sistematis serta dapat dilaksanakan secara terjadwal dan berkesinambungan. Kelas
ibu hamil difasilitasi oleh bidan/tenaga kesehatan dengan menggunakan paket Kelas Ibu Hamil yaitu Buku KIA, Flip chart (lembar balik), Pedoman Pelaksanaan Kelas Ibu Hamil, Pegangan Fasilitator Kelas Ibu Hamil dan Buku senam ibu hamil (Depkes RI, 2009).
Beberapa keuntungan Kelas Ibu Hamil
1) Materi diberikan secara menyeluruh dan terencana sesuai dengan pedoman kelas ibu hamil yang memuat mengenai kehamilan, perawatan kehamilan, persalinan, perawatan nifas, perawatan bayi baru lahir, mitos, penyakit menular seksual dan akte kelahiran.
2) Penyampaian materi lebih komprehensif karena ada persiapan petugas sebelum penyampaian materi.
3) Dapat mendatangkan tenaga ahli untuk memberikan penjelasan mengenai topik tertentu.
4) Waktu pembahasan materi menjadi efektif karena pola penyajian materi terstruktur dengan baik.
5) Ada interaksi antara petugas kesehatan dengan ibu hamil pada saat pembahasan materi dilaksanakan.
6) Dilaksanakan secara berkala dan berkesinambungan.
7) Dilakukan evaluasi terhadap petugas kesehatan dan ibu hamil dalam memberikan penyajian materi sehingga dapat meningkatkan kualitas sistim pembelajaran.
Fasilitator kelas ibu hamil adalah bidan atau tenaga kesehatan yang telah mendapat pelatihan fasilitator Kelas Ibu Hamil.
2.1.1 Tujuan Kelas Ibu Hamil
2.1.1.1 Tujuan Umum Kelas Ibu Hamil
Meningkatkan pengetahuan, merubah sikap dan perilaku ibu agar memahami tentang kehamilan, perubahan tubuh dan keluhan selama kehamilan, perawatan kehamilan, persalinan, perawatan nifas, KB pasca persalinan, perawatan bayi baru lahir, mitos/kepercayaan/adat istiadat setempat, penyakit menular dan akte kelahiran (Depkes RI, 2009).
2.1.1.2 Tujuan khusus Kelas Ibu Hamil
a. Terjadinya interaksi dan berbagai pengalaman antar peserta (ibu hamil dengan ibu hamil) dan antar ibu hamil dengan petugas kesehatan/bidan tentang kehamilan, perubahan tubuh dan keluhan selama kehamilan, perawatan kehamilan, persalinan, perawatan nifas, KB pasca persalinan, perawatan bayi baru lahir, mitos/kepercayaan/adat istiadat setempat, penyakit menular dan akte kelahiran.
b. Meningkatkan pemahaman, sikap dan perilaku ibu hamil tentang:
1) Kehamilan, perubahan tubuh dan keluhan (apakah kehamilan itu?, perubahan tubuh selama kehamilan, keluhan umum saat hamil dan cara mengatasinya, apa saja yang perlu dilakukan ibu hamil dan pengaturan gizi termasuk pemberian tablet tambah darah untuk penanggulangan anemia).
2) Perawatan kehamilan (kesiapan psikologis menghadapi kehamilan, hubungan suami isteri selama kehamilan, obat yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi oleh ibu hamil, tanda bahaya kehamilan, dan P4K (Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi).
3) Persalinan (tanda-tanda persalinan, tanda bahaya persalinan dan proses persalinan).
4) Perawatan Nifas (apa saja yang dilakukan ibu nifas agar dapat menyusui eksklusif?, bagaimana menjaga kesehatan ibu nifas, tanda-tanda bahaya dan penyakit ibu nifas).
5) KB pasca persalinan.
6) Perawatan bayi baru lahir (perawatan bayi baru lahir, pemberian K1 injeksi, tanda bahaya bayi baru lahir, pengamatan perkembangan bayi/anak dan pemberian imunisasi pada bayi baru lahir).
7) Mitos/kepercayaan/adat istiadat setempat yang berkaitan dengan kesehatan ibu dan anak.
8) Penyakit menular (IMS, informasi dasar HIV-AIDS dan pencegahan dan penanganan malaria pada ibu hamil).
2.1.2 Hasil yang diharapkan:
a. Adanya interaksi dan berbagai pengalaman antar peserta (ibu hamil dengan ibu hamil) dan ibu hamil dengan bidan/tenaga kesehatan tentang kehamilan, perubahan tubuh dan keluhan selama kehamilan, perawatan kehamilan, persalinan, perawatan nifas, perawatan bayi, mitos/kepercayaan/adat istiadat setempat, penyakit menular dan akte kelahiran.
b. Adanya pemahaman, perubahan sikap dan perilaku ibu hamil tentang:
1) Kehamilan, perubahan tubuh dan keluhan (apakah kehamilan itu?, perubahan tubuh selama kehamilan, keluhan umum saat hamil dan cara mengatasinya, apa saja yang perlu dilakukan ibu hamil dan pengaturan gizi termasuk pemberian tablet tambah darah untuk penanggulangan anemia).
2) Perawatan kehamilan (kesiapan psikologis menghadapi kehamilan, hubungan suami isteri selama kehamilan, obat yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi oleh ibu hamil, tanda bahaya kehamilan, dan P4K.
3) Persalinan (tanda-tanda persalinan, tanda bahaya persalinan dan proses persalinan).
4) Perawatan Nifas (apa saja yang dilakukan ibu nifas agar dapat menyusui eksklusif?, bagaimana menjaga kesehatan ibu nifas, tanda-tanda bahaya dan penyakit ibu nifas).
5) KB pasca persalinan.
6) Perawatan bayi baru lahir (perawatan bayi baru lahir, pemberian K1 injeksi, tanda bahaya bayi baru lahir, pengamatan perkembangan bayi/anak dan pemberian imunisasi pada bayi baru lahir).
7) Mitos/kepercayaan/adat istiadat setempat yang berkaitan dengan kesehatan ibu dan anak.
8) Penyakit menular (IMS, informasi dasar HIV-AIDS dan pencegahan dan penanganan malaria pada ibu hamil).
2.1.3 Sasaran Kelas Ibu Hamil
Peserta kelas ibu hamil sebaiknya ibu hamil pada umur kehamilan 20 s/d 32 minggu, karena pada umur kehamilan ini kondisi ibu sudah kuat, tidak takut terjadi keguguran, efektif untuk melakukan senam hamil. Jumlah peserta kelas ibu hamil maksimal sebanyak 10 orang setiap kelas. Suami/keluarga ikut serta minimal 1 kali pertemuan sehingga dapat mengikuti berbagai materi yang penting, misalnya materi tentang persiapan persalinan atau materi yang lainnya (Depkes RI, 2009)
2.1.4 Pelaksanaan Kelas Ibu Hamil
Penyelenggaraan kelas ibu hamil dapat dilaksanakan oleh pemerintah, swasta, LSM dan masyarakat.
a. Fungsi dan peran (provinsi, Kabupaten dan Puskesmas)
Pelaksanaan kelas ibu hamil dikembangkan sesuai dengan fungsi dan peran pada masing-masing level yaitu Provinsi , Kabupaten dan Puskesmas
b. Fasilitator dan nara sumber
Menurut Dinkes NTB dan JICA (2008), fasilitator kelas ibu hamil adalah bidan atau tenaga kesehatan yang telah mendapat pelatihan fasilitator tentang kelas ibu hamil. Sedangkan bagi bidan atau tenaga kesehatan yang belum mendapat pelatihan tidak boleh memfasilitasi kelas ibu hamil.
c. Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana yang diperlukan untuk melaksanakan kelas ibu hamil adalah: ruang belajar untuk kapasitas 10 orang peserta dengan ventilasi dan pencahayaan yang cukup, alat tulis menulis, buku KIA, lembar balik kelas ibu hamil, buku pedoman pelaksanaan kelas ibu hamil, buku pegangan fasilitator, alat peraga (KB kit, food model, boneka, dll), tikar/karpet, bantal, kursi, buku senam hamil, CD senam hamil.
d. Tahapan Pelaksanaan Kelas Ibu Hamil - Pelatihan bagi pelatih
- Pelatihan bagi fasilitator
- Sosialisasi kelas ibu hamil pada tokoh agama, tokoh masyarakat dan
- Persiapan pelaksanaan kelas ibu hamil - Pelaksanaan kelas ibu hamil
- Monitoring, evalusi dan pelaporan.
2.1.5 Kegiatan Pelaksanaan Kelas Ibu Hamil
Pertemuan kelas ibu hamil dilakukan 3 kali pertemuan selama hamil atau sesuai dengan hasil kesepakatan fasilitator dengan peserta. Pada setiap pertemuan, materi kelas ibu hamil yang akan disampaikan disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi ibu hamil tetapi tetap mengutamakan materi pokok. Pada setiap akhir pertemuan dilakukan senam ibu hamil. Senam ibu hamil merupakan kegiatan/materi ekstra di kelas ibu hamil, jika dilaksanakan, setelah sampai di rumah diharapkan dapat dipraktekkan. Waktu pertemuan disesuaikan dengan kesiapan ibu-ibu, bisa dilakukan pada pagi atau sore hari dengan lama waktu pertemuan 120 menit termasuk senam hamil 15 - 20 menit.
2.1.6 Materi pelaksanaan kelas ibu hamil 2.1.6.1 Materi pertemuan pertama
a. Penjelasan umum kelas ibu hamil dan perkenalan peserta b. Evaluasi awal (pre test) materi pertemuan I
c. Materi kelas ibu hamil (pertemuan I)
1) Kehamilan, perubahan tubuh dan keluhan - Apa kehamilan itu?
- Perubahan tubuh ibu selama kehamilan
- Keluhan umum saat hamil dan cara mengatasinya (kram kaki, wasir dan nyeri pinggang)
- Apa saja yang perlu dilakukan ibu hamil
- Pengaturan gizi termasuk pemberian tablet tambah darah untuk penanggulangan anemia
2) Perawatan kehamilan
- Kesipan psikologis menghadapi kehamilan - Hubungan suami istri selama kehamilan
- Tanda-tanda bahaya kehamilan
- Perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi (P4K)
d. Evaluasi harian dan evaluasi akhir (post test) materi pertemuan I (Peningkatan pengetahuan)
e. Kesimpulan
f. Senam ibu hamil (lembar balik pilihan !) 2.1.6.2 Materi pertemuan kedua
a. Review materi pertemuan I dan hasil evaluasi (pre test I dan post test I) b. Evaluasi awal (pre test) materi pertemuan II
c. Materi kelas ibu hamil (pertemuan II) 1) Persalinan
- Tanda-tanda pesalinan
- Tanda bahaya pada persalinan - Proses persalinan
- Inisiasi Menyusu Dini (IMD) 2) Perawatan nifas
- Apa saja yang dilakukan ibu nifas agar dapat menyusui eksklusif? - Bagaimana menjaga kesehatan ibu nifas?
- Tanda-tanda bahaya dan penyakit ibu nifas - KB pasca salin
d. Evaluasi harian hari ke II dan evaluasi akhir (pasca tes) materi pertemuan II (Peningkatan pengetahuan)
e. Kesimpulan
f. Senam ibu hamil (lembar balik pilihan 2-5) 2.1.6.3 Materi pertemuan ketiga
a. Review materi pertemuan II dan hasil evaluasi (pra tes II dan pasca tes II) b. Evaluasi awal (pra tes) materi pertemuan III
c. Materi kelas ibu hamil (pertemuan III) 1) Perawatan Bayi
- Pemberian vitamin K1 injeksi pada BBL - Tanda bahaya BBL
- Pengamatan perkembangan bayi/anak - Pemberian imunisasi pada BBL 2) Mitos
- Penggalian dan penelusuran mitos yang berkaitan dengan kesehatan ibu dan anak
3) Penyakit menular
- Infeksi Menular Sexual (IMS) - Informasi dasar HIV/AIDS
- Pencegahan dan penanganan malaria pada ibu hamil 4) Akte kelahiran
- Pentingnya akte kelahiran
d. Evaluasi harian hari ke III dan evaluasi akhir (pasca tes) materi pertemuan III (Peningkatan pengetahuan)
e. Kesimpulan
f. Senam ibu hamil (lembar balik pilihan 1-5) 2.2 Pengetahuan (knowledge)
2.2.1 Definisi Pengetahuan
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (over bahavior), karena pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap objek tertentu melalui indera yang dimiliki dan sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek. Pengetahuan dapat diperoleh melalui pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain (Notoatmodjo, 2010). Karena dalam pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng (long lasting) dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Menurut Lukman dalam Hendra (2008), pengetahuan dapat dipengaruhi oleh faktor umur, lingkungan, pengalaman, pendidikan, informasi/mass media, sosial budaya dan ekonomi, intelegensi. Penelitian Rogers pada tahun 1974 (dalam Notoatmodjo, 2007a) mengungkapkan bahwa sebelum
orang mengadopsi perilaku baru, di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni:
a) Awarenes (kesadaran), dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui stimulus terlebih dahulu.
b) Interest (merasa tertarik) terhadap stimulasi atau objek tertentu
c) Evaluation yaitu menimbang-nimbang terhadap baik dan tidaknya stimulasi tersebut terhadap dirinya
d) Trial (mencoba) dimana subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai apa yang dikehendaki oleh stimulus
e) Adoption (adopsi) dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikap terhadap stimulus.
Penyaluran pengetahuan dapat diberikan melalui beberapa jalur (Depkes, 1995) antara lain, yaitu:
a) Dalam lingkungan keluarga b) Dalam lingkungan sekolah c) Dalam lingkungan masyarakat. 2.2.2 Tingkat pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2003), pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan yaitu:
a) Tahu (know): Tahu berarti mengingat suatu materi yang telah dipelajari atau rangsangan yang telah diterima sebelumnya. Tahu merupakan tingkatan pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa seseorang itu tahu adalah ia dapat menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, dan menyatakan.
b) Memahami (comprehension):
Memahami berarti kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang paham harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, dan meramalkan
c) Aplikasi/penerapan (application):
Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek yang dimaksud dapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang diketahui tersebut pada situasi yang lain.
d) Analisis (analysis):
Analisis adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan dan atau memisahkan, kemudian mencari hubungan antara komponen-komponen yang terdapat dalam suatu masalah atau objek yang diketahui. Indikasi bahwa pengetahuan seseorang itu sudah sampai pada tingkat analisis adalah apabila orang tersebut telah dapat membedakan, atau memisahkan, mengelompokkan, membuat diagram (bagan) terhadap pengetahuan atas objek tersebut.
e) Sintesis (synthesis):
Sintesis menunjuk suatu kemampuan seseorang untuk merangkum atau meletakkan dalam satu hubungan yang logis dari komponen-komponen pengetahuan yang dimiliki. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang telah ada. f) Evaluasi (evaluation):
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu objek tertentu. Penilaian ini dengan sendirinya di dasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau norma-norma yang berlaku dimasyarakat.
2.2.3 Cara memperoleh pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2007), cara memperoleh pengetahuan dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
2.2.3.1 Cara tradisional atau non alamiah a) Tial and error
Cara coba-coba ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam memecahkan masalah dan apabila kemungkinan tersebut tidak berhasil dicoba kemungkinan yang lain dan begitu seterusnya sampai masalah tersebut dapat dipecahkan.
b) Cara kekuasaan atau otoritas
Pada cara ini prinsipnya adalah orang lain menerima pendapat yang dikemukakan orang yang mempunyai otoritas tanpa terlebih dahulu menguji dan membuktikan kebenarannya baik berdasarkan empiris atau berdasarkan penalaran sendiri. Dengan kata lain pengetahuan tersebut diperoleh berdasarkan otoritas atau kekuasaan, baik tradisi, otoritas pemerintah, otoritas atau ahli ilmu pengetahuan. Hal ini disebabkan karena orang yang menerima pendapat tersebut menganggap bahwa apa yang dikemukakannya adalah sudah benar.
c) Pengalaman pribadi
Pengalaman adalah guru yang baik, demikianlan bunyi pepatah. Ini mengandung maksud bahwa pengalaman itu merupakan satu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Oleh sebab itu pengalaman pribadinya dapat digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan.
d) Melalui jalan pikiran
Sejalan dengan perkembangan kebudayaan umat manusia, cara-cara berpikir manusia pun ikut berkembang. Dalam memperoleh ilmu dengan kata lain memperoleh pengetahuan, manusia telah menggunakan jalan pikirannya masing-masing yaitu dengan cara menggunakan penalaran dalam memperoleh kebenaran pengetahuan.
2.2.3.2 Cara modern atau cara ilmiah
Dalam memperoleh pengetahuan dewasa ini lebih sistematis, logis dan ilmiah, cara ini disebut penelitian ilmiah atau populer disebut metode penelitian
(research methodology). Metode ilmiah adalah suatu cara menerapkan
prinsip-prinsip logis terhadap penemuan, pengesahan, dan penjelasan kebenaran. Pengetahuan seseorang dengan perilaku tidak dapat dipisahkan karena pengetahuan merupakan bentuk intervensi terhadap perilaku (Notoatmodjo, 2007).
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang antara lain yaitu karakteristik individu sendiri (umur, pendidikan, pengalaman), sosial
ekonomi (pekerjaan), keterpaparan media informasi/sumber informasi, kepemilikan media komunikasi, kepemilikan transportasi.
Dari teori diatas menggambarkan bahwa pengetahuan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku individu dalam pemanfatan pelayanan kesehatan. Salah satu pengetahuan yang dianggap penting yaitu pengetahuan ibu tentang kesehatan ibu dan anak meliputi: kehamilan, persalinan, nifas dan perawatan bayi baru lahir.
2.3 Keterampilan / Praktek
Keterampilan merupakan kemampuan seseorang melakukan perbuatan tertentu, seperti berbicara, menulis, melompat, menyuntik, memeriksa dan sebagainya. Kemampuan ini dikenal sebagai kemampuan psikomotor (Pusdiklat 1993). Menurut Notoatmodjo (1993) keterampilan/praktek diklasifikasikan kedalam empat tingkatan:
a. Persepsi (perception)
Mengenal dan memilih berbagai obyek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil adalah merupakan keterampilan tingkat pertama.
b. Respon terpimpin (guided respond)
Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar sesuai dengan contoh adalah indikator keterampilan tingkat kedua.
c. Mekanisme (mechanism)
Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis, atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan, maka ia sudah mencapai tingkat ketiga.
d. Adaptasi (adaptation)
Adaptasi adalah suatu praktek atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik, artinya tindakan itu sudah dimodifikasinya tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut.
Terbentuknya suatu perilaku baru, umumnya dimulai pada tingkat pengetahuan, subyek tahu terlebih dahulu terhadap stimulus yang berupa materi atau obyek yang diluarnya, sehingga akhirnya menyebabkan timbulnya pengetahuan baru pada subyek tersebut dan selanjutnya menimbulkan respon
batin dalam bentuk sikap subyek tersebut terhadap obyek yang telah diketahuinya itu.
Pada akhirnya stimulus yaitu obyek yang telah diketahui dan disadari sepenuhnya tersebut akan menyebabkan timbulnya respon lebih jauh lagi yaitu berupa tindakan tanpa mengetahui makna dari stimulus yang diterima, dengan kata lain tindakan / praktek seseorang tidak harus didasari oleh pengetahuan dan sikap (Notoatmodjo, 1993)
Menurut Guilbert. J.J ada 3 tingkatan keterampilan yaitu: 1) peniruan, 2) pengawasan, dan 3) otomatisme. Sementara itu Gibson, dkk (1991) mengatakan bahwa keterampilan adalah kecakapan yang berhubungan dengan tugas yang dimiliki dan digunakan oleh seseorang pada waktu yang tepat, selain itu keterampilan juga merupakan variabel individu yang mempengaruhi prestasi kerja.
Pelatihan dapat meningkatkan pengetahuan dan sekaligus meningkatkan keterampilan para pekerja, pelatihan sering dipakai sebagai solusi atas persoalan kinerja dari para pekerja. Variabel pengetahuan merupakan faktor internal petugas yang dapat berubah dengan pelatihan (Notoatmodjo, 1992)
Pengetahuan ibu hamil yang telah mengikuti kelas ibu hamil diharapkan dapat meningkat, dengan meningkatnya pengetahuan maka keterampilannyapun dapat meningkat, dan pada gilirannya akan dapat merubah perilaku ibu pada saat merawat bayinya.
2.4 Karakteristik ibu hamil 2.4.1 Umur
Umur seorang ibu hamil, bersalin dan nifas akan mempengaruhi derajat kesehatannya Wiknjosastro (1997) menyatakan masa yang paling tepat untuk menjalankan kehamilan dan persalinan adalah usia antara 20-30 tahun, karena pada saat itu alat reproduksi wanita sudah berfungsi dengan baik. Ibu yang hamil, bersalin dan nifas pada usia kurang dari 20 tahun akan mengalami risiko kematian 2-5 kali lebih tinggi dari pada usia 20-29 tahun.
Menurut Koblinsky (1997) umur ibu antara 20-35 tahun merupakan usia reproduksi yang aman bagi wanita untuk hamil dan melahirkan. Hal tersebut
berhubungan dengan fungsi anatomi dan fisiologi alat-alat reproduksi. Merman dalam Koblinsky (1997) menyatakan, dalam studi pertumbuhan jalan lahir gadis remaja, dinyatakan bahwa sebelum mencapai usia 18 tahun, tinggi kaum ibu kurang mencerminkan tulang-tulang jalan lahir dibandingkan setelah usia 18 tahun. Khususnya pada awal remaja perkembangan tulang jalan lahir lebih lambat dari pada tinggi badan dan saluran tersebut belum matang samapai kira-kira 2-3 tahun setelah pertumbuhan tinggi badan berhenti (Harrison dalam Koblinsy, 1997). Terdapat langkah-langkah non medik yang berkaitan dengan status wanita, yang berpengaruh terhadap kematian ibu. Faktor ini perlu diintegrasikan pula kedalam inisiatif Safe Motherhood yang komprehensif, contohnya dengan peningkatan umur minimal perkawinan menurut hukum dan memperjuangkan hukum tersebut (Fredman dalam Koblinsky, 1997). Faktor umur menentukan status kesehatan maternal dan berkaitan dengan kondisi kehamilan, persalinan dan nifas serta dalam pengasuhan bayi. Proses reproduksi sebaiknya berlangsung pada usia 20-35 tahun, sebab pada saat itu penyulit kehamilan jarang terjadi (Depkes, 2006)
Ibu yang berumur kurang dari 20 tahun, rahim dan panggul ibu belum berkembang dengan baik, sehingga perlu diwaspadai kemungkinan mengalami persalinan yang sulit. Sementara itu, pada ibu yang berumur 35 tahun atau lebih kesehatan dan keadaan rahim sudah tidak sebaik pada umur 20-35 tahun sebelumnya, sehingga perlu diwaspadai kemungkinan terjadi persalinan lama, perdarahan dan risiko cacat bawaan (Royston dan Amstrong dalam Sumiarsih, 2007).
Ibu yang berumur < 20 tahun secara fisik, psikis dan sosial belum siap untuk mengalami kehamilan, persalinan dan nifas. Sedangkan ibu hamil pada usia tua (>35 tahun), menghadapi risiko ketika bersalin (Huda, 2005). Usia yang terlalu muda meningkatkan secara bermakna risiko persalinan di seluruh dunia. Suatu survey di Matlab, Bangladesh, memperlihatkan bahwa wanita yang berumur 10-14 tahun mempunyai angka kematian ibu yang lima kali lebih dibandingkan wanita yang berumur 20-24 tahun (Royston dan Amstrong dalam Sumiarsih, 2007). Menurut Manuaba (1989), ibu yang terlalu muda (kurang dari
20 tahun) dan terlalu tua (lebih dari 35 tahun) berisiko lebih besar mengalami perdarahan sebelum lahir.
2.4.2 Pendidikan
Pendidikan adalah segala upaya yang meningkatkan kualitas sumber daya manusia menuju kualitas yang mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok masyarakat, sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan. Dari batasan ini tersirat bahwa unsur-unsur pendidikan yaitu: 1) Input adalah sasaran pendidikan (individu, kelompok, masyarakat) dan pendidikan (pelaku pendidikan), 2) Proses adalah upaya yang dicanangkan untuk mempengaruhi orang lain, 3) Output adalah melakukan apa yang diharapkan atau perilaku (Notoatmodjo, 2003). Sedangkan pendidikan menurut Notoatmodjo (2005) adalah merupakan suatu upaya seseorang untuk belajar dengan harapan dapat diaplikasikannya dalam bentuk tindakan nyata.
Wanita yang berpendidikan akan lebih mudah untuk mendapatkan pelayanan profesional dibandingkan wanita tidak berpendidikan karena mereka menyadari secara penuh manfaat dari pelayanan tersebut (Royston dan Amstrong dalam Koblinsky, 1997). Koblinsky dkk (1997) mengatakan bahwa wanita yang terdidik akan semakin terbuka dan pantang menyerah dalam meningkatkan ketepatan dan mutu kesehatan. Lebih jauh lagi Jacobson dalam Koblinsky mengatakan terdapat banyak alasan mengapa wanita tidak mampu memanfaatkan pelayanan yang secara teoritis aksesibel bagi mereka, antara lain adalah kurangnya akses terhadap pendidikan dalam hal pentingnya pemeriksaan kehamilan. Pendidikan juga akan meningkatkan akses pelayanan, yaitu dengan meningkatkan kemampuan mereka dalam menyerap konsep-konsep kesehatan yang baru (Thaddeus & Maine dalam Koblinsky, 1997).
Pendidikan merupakan hal yang mendasar seseorang dalam cara berfikir dalam memutuskan suatu masalah. Tingkat pendidikan ibu berhubungan dengan derajat kesehatannya, meningkatnya tingkat pendidikan ibu merupakan peluang meningkatnya pengetahuan dan kesadaran ibu terhadap kesehatan, (Notoatmodjo, 2007)
Pendidikan berpengaruh pada cara berfikir, dan pengambilan keputusan seseorang dalam menggunakan pelayanan kesehatan, semakin tinggi pendidikan ibu maka akan semakin baik pengetahuannya tentang kesehatan. Pendidikan yang rendah menyebabkan seseorang acuh tak acuh terhadap program kesehatan, sehingga mereka tidak mengenal bahaya yang mungkin terjadi walaupun ada sarana yang baik belum tentu mereka menggunakannya (Martadisoebrata, 2005)
Latar belakang pendidikan masyarakat merupakan masalah mendasar yang dapat menentukan keberhasilan suatu program. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tingkat pendidikan yang lebih tinggi berperan penting dalam mempromosikan kesehatan. Penelitian-penelitian juga menemukan bahwa tingkat pendidikan yang lebih tinggi bermanfaat bagi program kesehatan (Departemen Kesehatan RI, 2002).
Seperti halnya penelitian yang dilakukan oleh Tersiana (2007) menyatakan bahwa ada hubungan antara tingkat pendidikan ibu dengan pemilihan penolong persalinan, proporsi ibu yang memiliki tingkat pendidikan yang baik dan memilih penolong persalinan pada tenaga kesehatan lebih besar 1,5 kali (73,9%) dibandingkan ibu dengan tingkat pendidikan yang kurang (52,5%)
Menurut Depkes RI (2004) tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap perubahan sikap dan perilaku hidup sehat. Tingkat pendidikan yang lebih
tinggi memudahkan seseorang untuk menyerap informasi dan
mengimplementasikannya dalam perilaku dan gaya hidup sehari-hari khususnya dalam hal kesehatan. Hasil studi kualitatif di 3 propinsi, Bali, Sumatera Selatan (Sumsel) dan Kalimantan Selatan (Kalsel) menunjukkan tingkat pendidikan rendah menyebabkan kurangnya pengertian akan bahaya yang dapat menimpa ibu hamil dan bayinya, terutama dalam kegawat-daruratan kehamilan, persalinan dan penyakit pada bayinya. Sebagian besar ibu sudah sadar untuk melakukan
Antenatal Care (ANC) namun perawatan tali pusat, perawatan bayi dilakukan
seperti kebiasaan dan budaya masyarakat setempat yang merugikan kesehatan (Depkes RI, 2004)
2.4.3 Pekerjaan
Keadaan hamil tidak merubah pola bekerja ibu sehari-hari, kadang ibu adalah sebagai tumpuan hidup pada keluarga miskin, di Kalimantan Selatan ibu hamil masih bekerja keras sampai hamil tua dan kembali bekerja setelah masa nifas (Depkes RI, 2004).
Konsep yang berbeda justru diungkapkan oleh Pusat Penelitian Kesehatan dalam Adawiyah (2001) bahwa ibu hamil yang bekerja merupakan sebab-sebab mendasar yang mempengaruhi frekuensi pemeriksaan kehamilan, sehubungan dengan ada tidaknya waktu luang yang dimiliki untuk memanfaatkan pemeriksaan kehamilan, maka diharapkan ibu yang tidak bekerja/ibu rumah tangga lebih banyak yang memeriksakan kehamilannya secara lengkap. Sejalan dengan pernyataan Romlah (2009) mengatakan terdapat hubungan yang bermakna antara pekerjaan dengan perilaku ibu dalam merencanakan persalinan dan pencegahan komplikasi yang mempunyai peluang sebesar 9 kali untuk berperilaku positif dibandingkan dengan ibu yang tidak bekerja. Menurut penelitian yang telah dilakukan Niaty (2010) menyatakan, dapat dibuktikan adanya hubungan yang bermakna antara status pekerjaan dengan pemilihan penolong persalinan . dimana ibu yang bekerja memiliki peluang 1,73 kali untuk memilih penolong persalinan dengan tenaga kesehatan dibandingkan dengan ibu yang tidak bekerja.
2.4.4 Paritas
Paritas adalah jumlah anak yang pernah dilahirkan ibu baik lahir hidup maupun meninggal. Ibu dengan paritas tinggi (lebih dari 4 kali) mempunyai risiko lebih besar untuk mengalami perdarahan dan kehamilan yang terlalu sering menyebabkan risiko sakit dan kematian pada ibu hamil dan juga anaknya (Depkes RI, 2008)
Jumlah kelahiran yang dialami oleh ibu baik kelahiran hidup maupun kelahiran mati dengan kehamilan cukup bulan secara spontan melalui jalan lahir (Sastrawinata, 1993). Riwayat persalinan terdahulu terbagi atas:
1. Primipara, yaitu wanita yang telah melahirkan 1 kali, seorang anak yang cukup besar untuk hidup di dunia luar
2. Multipara, yaitu wanita yang telah melahirkan 2 kali sampai 4 kali lebih dari seorang anak yang cukup besar untuk hidup di dunia luar
3. Grande multipara, yaitu wanita yang telah melahirkan 5 kali atau lebih, lebih dari 5 orang anak cukup besar untuk hidup di dunia luar.
Hasil penelitian Kusumayati (2008) tentang pengaruh pemanfaatan buku KIA di Sumatera Barat, dimana paritas merupakan salah satu faktor yang akan mempengaruhi pengetahuan ibu dan perilaku positif dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan.
Dari sejumlah penelitian yang dilakukan telah terbukti bahwa kehamilan kedua dan ketiga merupakan kehamilan yang paling aman. Sedangkan risiko komplikasi kehamilan dan persalinan yang serius akan meningkat secara bermakna setelah kehamilan ketiga dan seterusnya. Terkait potensi resiko yang dihadapi, maka ibu yang menjalani kehamilan keempat atau lebih harus memeriksakan kehamilannya secara teratur (Royston dan Amstrong dalam Koblinsky, 1997). Paritas merupakan faktor resiko penting komplikasi obstetric, dimana ibu hamil dengan paritas tinggi cenderung mengalami placenta previa, mengakibatkan pertumbuhan endometrium yang kurang sempurna (Manuaba, 1989).
2.4.5 Umur Kehamilan
Penentuan umur kehamilan sangat penting untuk memperkirakan persalinan. Menurut Manuaba (1989), untuk menentukan umur kehamilan dapat ditentukan dengan: mempergunakan rumus Naegle (hari haid pertama ditambah tujuh dan bulannya ditambah sembilan), gerakan pertama fetus (16 minggu), perkiraan tingginya fundus uteri (perkiraan ini kurang tepat pada kehamil kedua dan seterusnya), dengan ultrasonografi.
Menurut Manuaba (2008), lama kehamilan berlangsung sampai persalinan aterm sekitar 280 sampai 300 hari dengan perhitungan sebagai berikut: kehamilan sampai 28 minggu dengan berat janin 1000 gr bila berakhir disebut keguguran, kehamilan 29 sampai 36 minggu bila terjadi persalinan disebut prematuritas, kehamilan berumur 37 sampai 42 minggu disebut aterm dan kehamilan melebihi 42 minggu disebut kehamilan lewat waktu atau postdatism (serotinus). Kehamilan
dibagi menjadi tiga triwulan, yaitu: triwulan pertama: 1 sampai 12 minggu, triwulan kedua: 13 sampai 28 minggu, triwulan ketiga: 29 sampai 42 minggu. 2.5 Buku Kesehatan Ibu dan Anak
Buku ini telah digunakan di Indonesia sejak tahun 1994. Penggunaan buku kesehatan ibu dan anak (buku KIA) telah menjangkau 33 propinsi, dalam masyarakat mengenal buku KIA dikenal sebagai buku berwarna pink (merah muda, ia merupakan salah satu instrumen pelayanan kesehatan ibu dan anak yang diterima langsung oleh ibu dan keluarga (Depkes, 2003).
Penggunaan buku KIA merupakan salah satu bentuk upaya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan keluarga. Buku KIA merupakan kumpulan materi standar penyuluhan, informasi serta catatan tentang gizi, kesehatan ibu dan anak. Yang menjadi milik keluarga untuk disimpan dirumah dan dibawa setiap ibu atau anak datang ke fasilitas kesehatan. Didalamnya terdapat stiker Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) sebagai alat pemantauan intensif bagi setiap ibu hamil di seluruh Indonesia, dalam upaya mempercepat penurunan kematian ibu dan bayi (Depkes, 2009)
Buku KIA bermanfaat untuk melihat data lengkap tentang pelayanan yang sudah didapat ibu dan anak, keadaan kesehatan, gizi dan tumbuh kembang anak sejak masih dalam kandungan sampai usia lima tahun. Selain itu, buku KIA bertindak sebagai pedoman dalam memberikan penyuluhan dan pelayanan kesehatan ibu dan anak. Ia digunakan untuk dapat segera mengetahui dan memantau adanya resiko tinggi pada ibu dan anak sehingga dapat segera ditentukan alternatif penanganannya. Buku KIA juga berguna sebagai alat komunikasi, informasi dan edukasi antara tenaga kesehatan dan ibu/keluarga dalam memberikan pelayanan dan memberikan nasehat pemeliharaan kesehatan ibu dan anak secara lebih bermutu, sering pula, buku KIA dipakai sebagai informasi tambahan digunakan pada saat melakukan audit kematian maternal dan
neonatal.
Informasi di dalam buku KIA meliputi: identitas keluarga, amanat persalinan dan stiker P4K, catatan kesehatan ibu hamil, catatan kesehatan ibu bersalin dan bayi baru lahir, catatan kesehatan ibu nifas, pelayanan KB ibu nifas,