OLAH GEOMETRI PETER EISENMAN: PADA DESAIN GUARDIOLA HOUSE, SPAIN
Ir. DWI LINDARTO HADINUGROHO
Fakultas Teknik Program Studi Arsitektur Universitas Sumatera Utara
ABSTRAKSI
Kreatifitas perlu untuk digali, dirangsang dan ditumbuhkan dengan berbagai cara untuk mengeksplorasi kemampuan dalam mendisain. Geometri dapat digunakan sebagai perangsang gagasan/ide sekaligus mampu mengungkapkan imajinasi arsitektural menjadi bentukan nyata. Peter Eisenman, arsitek profesional avant garde (terkenal dengan ancangan dekonstruksi) menampilkan kreatifitas olahan geometri pada desain Guardiola House, Spain. Proses cara olahan geometrinya dan produk/hasil karyanya memang dimaksudkan bukan untuk menjadi ‘fashionable’ namun cukup berarti sebagai perangsang ide penumbuh kreatifitas.
Kata kunci – geometri – olah geometri – kreatifitas.
I. PENDAHULUAN
1. Penggalian Kreatifitas
Kreatifitas dapat diartikan sebagai proses akhir dari proses imajinasi yang berubah dari tahap konsep kepada tahap realisasi. Imajinasi berada dalam alam pikiran sementara kreatifitas berada pada alam membuat. Kreatifitas dipicu oleh hal yang bersifat tangible (yang dapat dinyatakan dan kuantitatif) dan intangible (yang tak dapat dinyatakan bahwa itu ada, irrasional).
Kreatifitas berarsitektur dapat dilakukan dengan menggunakan ancangan ataupun olahan geometri sebagai pijakan dasar/sumber ide. Geometri beserta pengolahannya merupakan sumber kreatifitas yang tiada batas dalam kegiatan olah desain arsitektural (dalam pengertian sebagai unsur bentuk/ruang maupun rupa/bangun arsitektur, Anthony C. Antoniades; 1992). Geometri dapat digunakan sebagai bahan terhadap penggalian kreatifitas lewat penemuan asosiasi yang baru atau diletakkan sebagai penggugah kreasi baru (yang dalam prakteknya sangat terbantu oleh teknologi kontemporer misalnya penggunaan komputer CAD).
2. Geometri
Geometri merupakan bidang pengetahuan rasional (matematis) mengenai rupa dan bangun dari benda dan alam. Peranan geometri dapat disetarakan dengan matematika ataupun dengan bahasa sebagai alat berkomunikasi. Matematika adalah alat berkomunikasi melalui bilangan dan rumus. Bahasa adalah alat berkomunikasi dengan bunyi dan ujaran. Sedangkan geometri adalah alat berkomunikasi dengan menggunakan ‘rupa’ dan ‘bangun’ (non verbal communication). ‘Rupa’ adalah benda-benda geometri dalam keadaannya sebagai benda-benda 2 (dua) dimensi sedangkan ‘bangun’ dalam keadaannya yang 3 (tiga) dimensi.
Geometri memiliki unsur rinupa berupa garis/batang/sisi/rusuk dan bidang. “This geometry arise from two natural sources. One may be referred to as the order of building; it comes directly from the building process, from the structural characteristics of construction material. The other is related to human body and
human perception of space. Both of these sources – construction processes and human perception – warrant close examination.” 1
3. Potensi Geometri dalam Kreatifitas Berarsitektur
Geometri berpotensi untuk diperlakukan sebagai bentuk awal, sebagai bentuk akhir ataupun sebagai bentuk awal yang akan mengalami pengolahan lebih lanjut menjadi bentuk akhir. Sebuah rancangan akan memiliki kualitas arsitektur yang tinggi bila mampu memberikan kesan yang mendalam. Kesan ini bisa tampil karena olahan geometri yang kreatif. (diskusi pembahasan ‘geometri’ dengan Ir.Hari
Purnomo, M.Bdg.Sc., September 2000) II. Pembahasan
1. Olah Geometri
Architecture has always been a central cultural institution valued above all for its provision of stability and order. These qualities are seen to arise from the geometric purity of its formal composition
The architects has always dreamed of pure form, of producing objects from which all instability and disorder have been excluded. Buildings are constructed by taking simple geometric form – cubes, cylinders, spheres, cones, pyramids, and so on – and combining them into stable ensembles following composition rules which prevent anyone form from conflicting with another. No form is permitted to distort another, all potential conflict is resolved. The form contribute harmoniously to a unified whole. This consonant geometric structure becomes the physical structure of the building, its formal purity is seen as guaranteeing structural stability.
Having produced this basic structure , the architects elaborates it into a final design in away that preserves its purity. Any deviation from the structural order, any impurity , is seen as threatening the formal values of harmony, unity and stability, and is therefore insulated from the structure by being treated as mere ornament. Architecture is a conservative discipline that produces pure form and protects it from contamination. 2
Dua kutipan yang pertama menunjukkan hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum mengolah geometri dan kutipan ketiga berikutnya menyatakan hal yang perlu dilakukan pada saat melakukan proses pengolahan geometri.
II.2. Desain Guardiola House, Santa Maria del Mar, Spain
Peter Eisenman hampir selalu mendesain karyanya atas dasar persegi empat, namun dimodifikasi dalam bentuk-bentuk yang variatif.
Eisenman merasa perlu untuk melepaskan satu persatu hubungan antar struktur, bentuk, arti, isi, simbol yang disebutnya sebagai tindakan ‘displacement’.
Peter Eisenman developed architectural forms that expressed a world without order or logic. Fragments of forms crashed into anothers, incomplete and twisted grids disoriented rather than organized and dynamic forms devied gravity by hovering over the composition without visible means of support.
1 Norman Crowe; ”Nature and The Idea of A Man-Made World”, The MIT Press, Cambridge
Massachussets London England, 1995.
2
Mark Wigley: “ Deconstructivist Architecture” dalam Phillip Johnson, and Mark Wigley (eds) : Deconstructivist Architecture ; MOMA ‘ New York ; pg. 10 )
Violently disrutive effects are necessary , Eisenman though in order to dissolve architecture’s artificial oppositions between structure and decoration, abstractive and figuration, figure and ground, form and function.
Once we have purged our thinking of these artificial construct, architecture can explore ‘the between’ within these categories.
Eisenman also thought that dissolving these construct would free us from pathologically repressive order. 3
Model Guardiola House, Spain
Pada olah geometri desain denah Guardiola House bentukan geometri asalnya adalah rectangular dipadu dengan beberapa bentuk L secara penetrasi dan interweaving.
Tahapan dasarnya adalah displacement, intersection, solids with voided intersection, rotation, displacement between solid and void, trace and frame definition, imprinting solids, imprinting through surface.
3
Gelernter, Mark : “Sources of Architectural Form, a Critical History of Western Design Theory”. Manchester University Press. 1995 )
II.3. Proses Olahan Geometri
Peter Eisenman cenderung mengembangkan gagasan olah geometrinya dengan teknik ‘imprint’ dan ‘trace’ – jejak dan membekas ( pernyataan metafora tentang kaki yang mencetak diatas pasir , jejak ini tak bertahan lama dan bekasnyapun cepat hilang tertiup angin ). Gagasan ini memungkinkan hasil yang bisa menimbulkan ke-aneka-an interpretasi.
Ia mempromosikan bentuk ‘lemah’ ( weak image/form) yang dijelaskan lewat perbandingan dua kekuatan. Bila suatu obyek berada diantara dua kekuatan tersebut maka ia akan tampil mirip kedua kekuatan tadi atau sama sekali tidak mirip dengan kekuatan tadi. Hal ini dianggap saling melemahkan. Hubungan yang lemah ( tidak kaku ) akan mendorong lahirnya bentuk-bentuk bebas dan mengarah bentuk terpilin
(twisted), saling bertumpuk, tidak beraturan (superimposse) sehingga beragam imajinasi dapat muncul karena penampilan tersebut.
‘Pure form has indeed been contaminated, trnsforming architectue into an agent of instability, disharmony, conflict’
(kutipan yang dipampang di depan pameran ‘Dekonstruksi’ 1988)
Kiranya kutipan diatas juga terefleksikan dalam olahan Eisenman terhadap karyanya di Spain ini.
Arsitektur dekonstruksi ( yang juga menjadi ajang kreasi Eisenman ) lahir dari pengaruh filsafat Derrida , karena itu tepat untuk disebut “Dekonstruksi Derridean” tapi bisa juga lahir sekedar sebagai produk pragmatis dan formal, sehingga bisa disebut “Dekonstruksi Non-Derridean”
Dekonstruksi non-Derridean mencakup dekonstruksi bentuk dan struktur bangunan yang didasarkan pada konsep ‘disrution’, ‘dislocation’. ‘deviation’, ‘distorsion’ sehingga menyebabkan stabilitas , kohesi dan identitas bentuk murni menjadi terganggu.
Peter Eisenman sedikit banyak sering melakukan dekonstruksi bentuk arsitektural dengan caranya yang khas yaitu secara intelektual mendekonstruksi melalui permainan sistem geometri yang kompleks dan canggih.4
Dekonstruksi yang ditunjukkan oleh Peter Eisenman seolah olah memproduksi komposisi –komposisi yang terdistorsi . Bentuk murni seolah terganggu oleh parasit, yang menginfeksi sebuah bentuk dan mendistorsinya dari dalam . teknik desain yang digunakannya terkadang sangat pelik seperti : Moving set of volumes, Points, lines,
Coloured skew of grids, Tilted blocks, Skewed flying beams, long thin rising spine, layering, rotation, fragmentasi, superimposisi,combination, etc. 5
Yang jelas kelihatan pola ‘decentering’ ( non sumbu ) menjadi titik tolak yang mendukung kebebasan dalam ‘mempermainkan’ bentuk geometrisnya mencapai ensemble bentukan yang diinginkan.
Teknik twisting (penekukan) nampak jelas pada olahan tampak sampingnya untuk memperoleh efek ‘decentering’.
K e s i m p u l a n
Proses Olah Geometri Eisenman
Proses olah geometri sebenarnya masih menggunakan teknik yang lazim namun karena dibungkus dengan pernyataan (konsep?) yang diambil dari filsafat (misalnya Derrida , Dekonstruksi) menjadi terkesan baru karena ‘lain’ yaitu memakai sebutan-sebutan filsafati untuk menerangkan olah geometrinya dan tentu saja menjadi berbeda dari olahan geometri yang pernah ada ( misalnya teknik olah geometri Gary Steven, Francis D.K.Ching ) maka lantas segera menarik perhatian.
Justru yang menjadi ‘heart’ nya adalah ‘kata sifat’ yang digunakan sebagai ‘kata kerja’ misalnya ‘imprint(ing)’, ‘decenter(ing)’ dan ini dipakai untuk menamai perjalanan perancangannya.
Proses yang mampu membuat batas ‘tak terbatas’ bisa jadi merupakan kebolehan Eisenman dalam mengumbar kreatifitasnya.
Yang jelas proses kreatifnya teruji dengan kolaborasinya bersama limabelas asisten arsiteknya (yang membutuhkan proses penyamaan persepsi yang luar biasa ). Attitude yang demikianlah mungkin sebagai penanda bahwa ia memang kreatif (It is the day and night pre occupation, mental and physical, of a person who constantly searches for new ways of doing things and new ideas.) 6
5
Andy Siswanto,M.Arch.MSc.Ir : Program-Typologi, Makna dan Order dalam Arsitekur Dekonstruksi. Sketsa.Imarta11.Jakarta 1995)
Produk Olah Geometri Peter Eisenman
Geometri diperlakukan sebagai bentuk dasar yang diolah dengan teknik sedemikian hingga geometri tetap tampil juga sebagai bentuk akhir dengan komposisi yang dinamai dengan ‘ kata sifat ‘ sebagai konsep sekaligus rencana terhadap kesan/suasana yang diharapkan ( harapan untuk diterjemahkan secara multi interpretasi ) sebagai perwujudan kreatifitas rancangannya.
Produk desain Eisenman mencerminkan kegigihan pencariannya terhadap sesuatu yang unik ( lihat juga kolaborasinya dengan arsitek Jepang Kojiro Kitayama dalam menggarap exhibition hall Koijumi Sangyo di Tokyo )
Ia tidak cepat meras puas bila dirinya dapat di ‘duga ‘ penampilan desainnya penuh surprise ( memang tidak se-eksplosif Zaha Hadid ). Sederhana ( trivial ) dalam olahan rectangularnya yang diolah dengan cermat dan ‘patiently’. Unsur keduniaannya memancar dalam mengkorelasikan desainnya dengan alam
( mundane ). 7
Pernyataannya untuk tidak menjadi ‘type’ anutan dan tidak menjadi ‘fashionable’ sebenarnya menjaganya agar tetap berada di depan. Disadarinya pernyataan itu justru membuat efek yang sebaliknya. Ia menjadi panutan dan fashionable. Cara yang unik dalam menempatkan diri sebagai seorang avant garde-is. ( Some reason for self-existence ).8
Terakhir kreasinya menjadi sumber ketakjuban , pemacu idea kreatifitas ( lepas dari tindakan ke-eisenman-eisenman-an yang banyak dilakukan perancang muda, bagaimanapun kreasinya telah memicu sebagai ‘new ways of doing’ and ‘new ideas’ dalam perancangan arsitektur )
Sebagai penutup perlu disitir kilah Peter Eisenman yang manyampaikan bahwa alam mendisain dengan tidak memperhatikan alasan yang jelas. Bila ada yang mempersoalkan mengapa kita merancang dengan begitu maka berarti boleh saja dijawab “ saya tidak tahu, terserah anda !” Artinya tidak setiap tindakan desain harus beroleh alasan yang akurat detail.Ini agaknya supaya dicermati sebagai pembebasan pencapaian kreatifitas ( as ‘the carefree’ yaitu pendapat yang menyatakan arsitek akan kreatif bila bebas dari kegelisahan ), tentu saja pendapat Eisenman diatas jangan lantas diartikan boleh ‘brutal’ semau-maunya dalam merancang tanpa batasan.
Biografi Peter Eisenman
Lahir di Newark, New Jersey tahun1932.ia mendapat gelar professor di Harvard,Princeton,University of Illinois dan Ohio State University.
Eisenman menjabat direktur Institute for Architecture and Urban Studies yang banyak melontarkan kritik bersifat international.
Bersama Michael Graves, Charles Ghwatmey, John Hejduk, Richard Meier, Eisenman menjadi bagian dari New York Five.
Mencetuskan ide ide arsitektur abad 20 yang dikembangkan dalam teorinya dan berpartisipasi dalam pameran “Deconstructive Architecture” di MoMA, 1988.
Inilah titik tolak terkenalnya Eisenman sebagai arsitek avant-garde dekonstruksi ( meski ini tak diakuinya secara eksplisit ).
7 I b i d 8 I b i d
Daftar Pustaka
Antoniades. C. Anthony ; Poetics of Architecture , Van Nostrand Reinhold. New York. 1992
Autodesk Corporation ; AutoCAD Tutorial . terjemahan pada Lab. Komputasi USU Medan. 2000
Crowe, Norman ;”Nature and The Idea of a man-made world”.The MIT Press.Cambridge.Massachusets.London.England.1995
Deconstruction in Architecture ; Guardiola House, Santa Maria del Mar. The Academic Group Ltd. Architectural Design . 1994
Deconstruction II ; An interview Charles Jencks – Peter Eisenman. The Academic Group Ltd. Architectural Design . 1994
Gelernter, Mark : “Sources of Architectural Form, a Critical History of Western Design Theory”. Manchester University Press. 1995
Sketsa No. 11 / 1995, majalah Imarta . Taruma Negara University. 1995
Wigley, Mark: “ Deconstructivist Architecture” dalam Phillip Johnson, and Mark Wigley (eds) : Deconstructivist Architecture ; MOMA ‘ New York ; pg. 10 )