Kandidat Pelepasliaran Lintas Propinsi
Tentang Yayasan BOS
About BOS Foundation
[in]
Didirikan pada 1991, Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (Yayasan BOS) adalah sebuah organisasi non-profit Indonesia yang didedikasikan untuk konservasi orangutan Borneo dan habitat-nya, bekerjasama dengan masyarakat setempat, Kementrian Kehutanan Republik Indonesia dan organisasi mitra internasional.
Yayasan BOS saat ini merawat lebih dari 750 orang-utan dengan dukungan 400 karyawan yang berde-dikasi tinggi, serta juga para ahli di bidang primata, keanekaragaman hayati, ekologi, rehabilitasi hutan, agroforestri, pemberdayaan masyarakat, edukasi, dan kesehatan orangutan.
[en]
Established in 1991, the Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation is an Indonesian non-profit organization dedicated to the con-servation of the Bornean orangutan and its habitat, in cooperation with local communities, the Indonesian Ministry of Forestry and interna-tional partner organizations.
The BOS Foundation is currently taking care of almost 750 orangutans with the support of 400 highly devoted staff, as well as experts in prima-tology, biodiversity, ecology, forest rehabilitation, agroforestry, community empowerment, educa-tion, and orangutan healthcare.
[in]
Friska disita langsung oleh Yayasan BOS Wanariset dari seo-rang warga yang memeliharanya di Tegal, pada 19 Maret 2001. Saat itu orangutan betina ini masih berusia 4 tahun dengan berat badan 17 kilogram.
Friska mengenyam pendidikan di Sekolah Hutan pada tahun 2001 hingga 2005, kemudian melanjutkan pembelajarannya di Halfway House. Di sinilah ia dipersiapkan sebagai kandidat pelepasliaran, karena kemampuan belajarnya yang cepat dan perilakunya yang aktif. Friska kini telah tumbuh menjadi orang-utan betina dewasa berusia 17 tahun dengan berat badan 40 kilogram.
Friska diketahui memiliki sub-spesies Pongo pygmaeus wurmbii, yaitu orangutan yang secara alami tersebar di ba-gian tengah Pulau Kalimantan, sehingga harus dikembalikan ke habitat alaminya. Ia akan belajar untuk sementara waktu di Yayasan BOS Nyaru Menteng sebelum pulang ke kampung halamannya di rimba Kalimantan Tengah.
[en]
Friska was confiscated by the BOS Foundation Wanariset team from a resident who kept her as a pet in Tegal, Central Java, on March 19, 2001. She was only four years old and weighed 17 kilograms. Friska joined the Forest School in 2001 to 2005 and continued her skill building at the Halfway House. There she was prepared as a release candidate thanks to her fast learning ability and active be-haviour. Friska has now has grown into an adult 17 year old female orangutan weighing 40 kilograms. Friska is of the subs-pecies Pongo pygmaeus wurmbii, which naturally inhabits the center of Kalimantan, and thus she needs to be sent back to her natural habitat. She will learn temporarily in the BOS Foundation program at Nyaru Menteng before going home to the forests of Central Kalimantan.
Friska
17 tahun, Betina | 17 years old, Female
Farudz
18 tahun, Jantan | 18 years old, Male
[in]
Si jantan Farudz tiba di Yayasan BOS Wanariset pada 16 Oktober 2002 sebagai orangutan semiliar berusia 6 tahun dengan berat badan 30 kilogram. Ia diserahkan oleh Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Jakarta ke-pada Yayasan BOS setelah disita dari Pelabuhan Tanjung Priok.
Farudz langsung ditempatkan di kandang sosialisasi kare-na masih berperilaku liar. Ia lebih menyukai pakan alami seperti umbut dan tidak suka minum susu. Farudz kini telah tumbuh menjadi orangutan jantan dewasa berusia 18 tahun dengan berat badan 75 kilogram. Orangutan yang berpostur gempal, gemuk, dan pendek ini ber-perilaku dominan dan tidak menyukai kehadiran manusia. Farudz akan pulang ke Kalimantan Tengah bersama Saswoko, salah satu temannya di kandang sosialisasi, kare-na memiliki sub-spesies Pongo pygmaeus wurmbii. Setelah 12 tahun belajar di Kalimantan Timur, ia akan belajar untuk sementara waktu di Yayasan BOS Nyaru Menteng sebelum dilepasliarkan di belantara Kalimantan Tengah.
[en]
Farudz is a male orangutan who arrived in the BOS Foundation program at Wanariset on October 16, 2002, as a six year old semi-wild weighing 30 kilo-grams. He was handed over by the Jakarta Conser-vation and Natural Resources Authority to the BOS Foundation after being confiscated from Tanjung Priok Port.
Farudz was then placed in a socialisation enclosure because he still retained his natural behaviour. He preferred natural foods and disliked milk. Farudz has since grown into an 18 year old adult orangutan and weighs 75 kilograms. This slightly plump, stoutly built orangutan is dominant and dislikes human presence. He will go to Central Kalimantan with Saswoko, one of his friends in the socialisation enclosure, because he is of the sub-species Pongo pygmaeus wurmbii. After 12 years learning in East Kalimantan, he will temporarily continue his rehabilitation in Nyaru Menteng before being released into the forests of Central Kalimantan.
[in]
Saswoko tiba di Yayasan BOS Wanariset pada 4 Agustus 2002 setelah diserahkan oleh Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Denpasar, Bali, yang menyitanya dari seorang warga yang menjadikannya hewan peliharaan. Saat pertama kali tiba di Wanariset, orangutan jantan ini masih berusia 4 tahun.
Karena termasuk orangutan yang pintar, Saswoko diper-siapkan sebagai kandidat pelepasliaran dan ditempatkan di Halfway House pada tahun 2002 hingga 2004. Kini ia telah tumbuh menjadi orangutan jantan sub-adult berusia 16 tahun dengan berat badan 70 kilogram. Ia sangat pintar mengenali pakan alaminya dan membuat sarang.
Bersama sahabatnya Farudz yang ia kenal di kandang so-sialisasi, ia akan dipulangkan ke Kalimantan Tengah karena memiliki sub-spesies Pongo pygmaeus wurmbii. Ia akan belajar di Yayasan BOS Nyaru Menteng untuk sementara waktu sebelum menjelajah rimba Kalimantan Tengah ber-sama Farudz.
[en]
Saswoko arrived at the BOS Foundation program in Wanariset on August 4, 2002, after being handed over by the Denpasar Conservation and Natural Re-sources Authority in Bali who confiscated him from a resident keeping him as a pet. When he first arrived in Wanariset, he was only four years old.
Because of his intelligence, Saswoko was prepared as release candidate and placed in the Halfway House between 2002 to 2004. Now he is a sub-adult aged 16 years old and weighs 70 kilograms. He is skillful in recognising natural foods and building nests. Together with his best friend Farudz whom he knows well from the socialisation enclosure, he will go home to Central Kalimantan since he is also of the sub-species Pongo pygmaeus wurmbii. He will continue his learning at the BOS Foundation Nyaru Menteng program for a while before being able to explore the real forest of Central Kalimantan with Farudz.
Saswoko
16 tahun, Jantan | 16 years old, Male
Inou
18 tahun, Jantan | 18 years old, Male
[in]
Inou tiba di Yayasan BOS Wanariset pada 2 Mei 1998 saat berusia dua tahun dengan berat badan enam kilogram. Ia disita oleh Wanariset dari seorang warga di Pontianak, Kalimantan Barat, yang menjadikannya hewan peliharaan.
Di Sekolah Hutan, Inou bersahabat dengan Maduri, orangutan betina yang telah dilepasliarkan di Hutan Kehje Sewen, Kalimantan Timur, pada bulan Maret 2014 lalu. Lulus dari Sekolah Hutan, ia dipersiapkan sebagai kandidat pelepasliaran di Halfway House pada tahun 2001 hingga 2006. Inou yang sangat dekat dengan babysitter-nya di masa kecilnya telah tumbuh menjadi orangutan jantan yang dominan, aktif, dan tidak menyu-kai kehadiran manusia. Kini usianya sudah 18 tahun dengan berat badan 60 kilogram.
Inou akan pulang ke kampung halamannya di Kalimantan Tengah, karena ia diketahui memiliki sub-spesies Pongo pygmaeus wurmbii. Sebelum menikmati kebebasan-nya di rimba Kalimantan Tengah, ia akan melanjutkan rehabilitasinya di Yayasan BOS Nyaru Menteng.
[en]
Inou arrived at the BOS Foundation program in Wanariset on May 2, 1998 when he was two years old and weighed six kilograms. He was confiscated by Wanariset from a resident in Pontianak, West Kalimantan who was keeping him as a pet.
In Forest School, Inou was good friends with Maduri, a female orangutan who has already been released into the Kehje Sewen forest in East Kalimantan in March 2014. After graduating from the Forest School, he was then prepared as a release candidate at the Halfway House between 2001 to 2006. Inou who was very close to his babysitters in his younger years has now grown into a dominant, active orangutan who dislikes human pres-ence. He is now 18 years old and weighs 60 kilograms. Inou will go home to Central Kalimantan, because he was found to belong to the Pongo pygmaeus wurmbii sub-species. Before enjoying true freedom in the forest of Central Kalimantan, he will continue his rehabilitation in the BOS Foundation program at Nyaru Menteng.
[in]
Niken tiba di Yayasan BOS Wanariset pada 13 Juli 1999 setelah diserahkan oleh Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Banjarmasin. Saat itu orangutan betina ini masih berusia dua tahun dengan berat badan delapan kilogram.
Semasa belajar di Sekolah Hutan, Niken bersahabat dekat dengan Leke, yang sejak bulan Maret 2014 telah menikmati kebebasannya di Hutan Kehje Sewen, Kalimantan Timur. Keduanya merupakan teman sepermainan dan memben-tuk ‘geng’ dominan di antara teman-teman sebaya mereka. Setelah mengenyam pendidikan di Sekolah Hutan antara tahun 2000 hingga 2005, Niken dipersiapkan sebagai kandidat pelepasliaran di Halfway House mulai 2005 hingga 2008. Ia merupakan orangutan yang pintar, aktif dan memiliki keterampilan bertahan hidup di hutan yang baik. Kini usianya sudah 17 tahun dengan berat badan 50 kilogram.
Niken akan pulang ke rumah sejatinya di Kalimantan Tengah, karena memiliki sub-spesies Pongo pygmaeus wurmbii. Sebelum menikmati kebebasannya di belantara Kalimantan Tengah, ia akan melanjutkan rehabilitasinya di Yayasan BOS Nyaru Menteng. Meski harus berpisah dengan sahabatnya Leke, ia akan menyusul Leke, menjalani hidupnya sebagai orangutan liar sejati.
[en]
Niken arrived in the BOS Foundation Wanariset on July 13, 1999 after being handed over by the Banjarmasin Conservation and Natural Authority. She was only two years old and weighed only eight kilograms.
During her time in the Forest School, Niken was a good friend of Leke who since March 2014, is already living freely in the Kehje Sewen Forest, East Kalimantan. Both were playmates and formed a dominant “gang” amongst their peers.
After learning in Forest School between 2000 to 2005, Niken was prepared as a release candidate at our Halfway House from 2005 to 2008. She is a smart, active orangutan and has excellent forest survival skills. She is now 17 years old and weighs 50 kilograms.
Niken will go home to her true home in Central Kalimantan because she belongs to the Pongo pygmaeus wurmbii sub-species. Before enjoying true freedom in the forest of Central Kalimantan, she will continue her rehabilitation in the BOS Foundation program at Nyaru Menteng. Even though she has to be parted from her friend Leke, just like Leke, she will also live as a true wild orangutan.