Penampilan Beberapa Galur Padi Hibrida Asal Cina
B. Suprihatno1, Satoto1, dan A. Martono21Balai Penelitian Tanaman Padi, Sukamandi 2PT Bambu Ijo, Jakarta
ABSTRACT. Performance of Some Chinese Hybrid Rice Lines. Nine hybrid rice lines, six of them derived from China, were tested for their yield under two different plant spacings using the split plot design, in Kuningan DS 1997 and Sukamandi WS1997/98 with IR64, Maros and Memberamo as check varieties. Data on grain yield, yield components, days to flower, plant height, and grain quality were collected. Results of the experiment indicated that in Kuningan, five Chinesse hybrids, GD2, GD3, GD4, GD5 and GD6, yielded 7.42-8.0 t/ha with standard heterosis between 2.48-10.5% against IR64 or 19.48-28.82% against Memberamo. GD4 and GD5 in Sukamandi showed 18.9-29.6% higher than Memberamo, however, they were not better than IR64. The Chinese hybrid rice showed grain density and green kernel comparable to IR64, but it was better than Memberamo with amylose content higher than IR64 and Memberamo. The percen-tages of brown rice and milled rice were comparable to those of IR64 and Memberamo, but the head rice percentages were lower. The cooked rice was hard to slightly soft, white to slightly white, and non-sticky to slightly non-sticky. The higher dense planting (20 x 10 cm) did not give better grain yield compared to the normal planting (20 x 20 cm). In Kuningan, all data, except grain weight, were significantly lower. None of the Chinese hybrid rice lines tested in this experiment was significantly better than IR64.
Key words: Hybrid rice, plant spacings.
ABSTRAK. Sembilan hibrida, enam di antaranya berasal dari Cina, diuji potensi hasilnya pada dua jarak tanam yang berbeda di Kuningan pada MK1997 dan di Sukamandi pada MH1997/98 bersama varietas pembanding IR64, Maros, dan Memberamo menggunakan rancangan petak terpisah. Pengamatan dilakukan terhadap hasil gabah kering, komponen hasil, umur, tinggi tanaman, kualitas gabah dan beras. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Kuningan, lima hibrida asal Cina (GD2, GD3, GD4, GD5 dan GD6) memberikan hasil 7,42-8,0 t/ha, atau 2,48-10,5% lebih tinggi dibanding IR64 atau 19,48-28,82% lebih tinggi dibanding Memberamo. Hibrida GD4 dan GD5 di Sukamandi memberikan hasil 18,9-29,6% lebih tinggi dibanding Memberamo, namun tidak lebih baik dari IR64. Hibrida asal Cina mempunyai densitas gabah dan butir hijau yang setara dengan IR64, lebih baik dari Memberamo, dan kandungan amilose lebih tinggi dibanding IR64 dan Memberamo. Beras pecah kulit dan beras giling padi hibrida yang diuji setara dengan IR64 dan Memberamo, beras kepala lebih rendah, dengan warna nasi sangat putih sampai sedang, sedikit lekat sampai tidak lekat, dan agak pulen sampai pera. jarak tanam lebih rapat (20 x 10 cm) tidak memberikan hasil yang berbeda dengan jarak tanam normal (20 x 20 cm), bahkan di Kuningan nyata lebih rendah. Hibrida asal Cina yang diuji belum ada yang nyata mengungguli IR64.
Kata kunci: Padi hibrida, jarak tanam.
P
emuliaan padi dengan metode konvensional lebih ditujukan untuk memelihara kemantapan hasil per satuan luas dengan cara memasukkan sifat tahan terhadap hama dan penyakit utama, masukan rendah toleransi terhadap cekaman biotik/abiotik, dan kualitasberas yang baik. Dengan menggunakan metode ini potensi hasil sulit ditingkatkan. Salah satu alternatif untuk mengatasi masalah tersebut adalah memanfaat-kan gejala heterosis padi hibrida. Cara ini dilapormemanfaat-kan dapat meningkatkan hasil 20% (Lin and Yuan 1980).
Heterosis hanya muncul untuk sifat-sifat tertentu saja, tidak untuk setiap karakter dari genotipe yang bersangkutan. Tongmin dan Xinggui (1991) melapor-kan bahwa heterobeltiosis untuk sifat hasil per tanam-an berkisar tanam-antara 2,0-246,8%. Hibrida-hibrida turuntanam-an IR54752A yang diuji di Kuningan pada MK 1989 hanya memberikan standar heterosis maksimal 9,27% (Su-prihatno dan Satoto 1992).
Untuk komponen kualitas, Singh et al. (1977) me-laporkan bahwa heterosis untuk kandungan protein bervariasi dari -24,25-26,33%, sedang untuk kandungan amilose berkisar antara -35,96-49,22%. Penelitian Mishra et al. (1991) menggunakan tiga CMS dan 15 tester yang terdiri atas 12 kultivar nonrestorer dan 3 kultivar restorer menunjukkan bahwa pengaruh daya gabung khusus pada umumnya hanya terdapat pada persilangan antara CMS dengan restorer.
Galur IR29744A, IR62829A, IR54, dan IR64 merupa-kan penggabung umum yang baik untuk hasil (Satoto et al. 1993). Dengan menggunakan CMS introduksi dan pemulih nasional, heterosis tertinggi mencapai 40,5% (Satoto et al. 1994). Jika menggunakan pemulih IRRI, rata-rata heterosis pada UDHL berkisar antara 1,19-49,38% (Suprihatno dan Satoto 1996).
Tingkat heterosis yang fluktuatif tersebut antara lain disebabkan oleh belum mantapnya sterilitas tetua be-tina, perbedaan daya pulih dari pemulih yang diguna-kan, daya gabung khusus, dan juga karena interaksi genotipe dengan lingkungan. Pengujian daya hasil se-jumlah hibrida pada lingkungan yang berbeda akan memunculkan keragaman fenotipik dari hibrida yang diuji. Dengan demikian dapat diidentifikasi hibrida yang mampu memberikan heterosis positif tertinggi.
Hasil padi hibrida tertinggi di Cina dilaporkan men-capai 15,7 t/ha untuk padi hibrida japonica di AKSU, Propinsi Xinjiang, dan 15,3 t/ha untuk padi hibrida indica di Propinsi Yunnan (Yuan et al. 1994). Hasil yang relatif tinggi ini dapat diperoleh karena kondisi ling-kungan subtropis yang lebih kondusif untuk per-tumbuhan tanaman padi, minimnya gangguan hama
dan penyakit. Di samping itu, tanaman padi di Cina umumnya ditanam pada jarak yang lebih rapat (12 x 12 cm) sehingga populasi mencapai lebih dari 600.000 tanaman. Di Indonesia, padi ditanam pada jarak tanam 20 x 20 cm atau 25 x 25 cm dengan populasi maksimal 250.000 tanaman/ha. Perbedaan jarak tanam antara di Cina dengan Indonesia mendorong perlunya diteliti pengaruh jarak tanam yang lebih rapat terhadap hasil padi hibrida di Indonesia.
Pengujian ini bertujuan untuk mengidentifikasi galur-galur padi hibrida asal Cina yang berpotensi hasil tinggi dan memberikan heterosis sekitar 20% terhadap varietas IR64 atau Memberamo, dan mengetahui pengaruh jarak tanam terhadap hasil padi hibrida.
BAHAN DAN METODE
Sembilan hibrida yang terdiri atas enam hibrida asal Cina yaitu GD (Guang Dong) 1, GD2, GD3, GD4, GD5, GD6, dan tiga hibrida rakitan Balitpa yaitu IR58025A/IR53942, IR58025A/IR58100, dan IR58025A/ IR72 diuji daya hasilnya. Sebagai pembanding diguna-kan varietas Maros, IR64, dan Memberamo. Pengujian dilaksanakan di Kuningan pada MK 1997 dan di Suka-mandi pada MH 1997/98. Hibrida yang diuji pada MH 1997/98 adalah sebanyak 12 galur, sembilan di antara-nya sama dengan yang diuji pada MK 1997 ditambah dengan IR58025A/BR827 rakitan Balitpa, I You 128, dan II You 128 asal Cina.
Percobaan menggunakan rancangan petak ter-pisah dengan tiga ulangan. Petak utama adalah dua macam jarak tanam yaitu 20 x 20 cm dan 20 x 10 cm, sedangkan anak petak adalah galur-galur hibrida dan varietas pembanding. Bibit berumur 21 hari ditanam satu bibit per lubang tanam pada petak berukuran 3 x 5 m. Pupuk urea, TSP, dan KCl, masing-masing diberi-kan dengan takaran 300 kg, 100 kg, dan 100 kg/ha. Urea diberikan tiga kali yaitu pada saat tanam, 4 minggu setelah tanam (MST), dan 6 MST, masing-masing 100 kg/ha. TSP dan KCl diberikan semuanya pada saat tanam. Pupuk disebar pada kondisi air macak-macak. Selain itu diberikan pula insektisida Furadan 3G se-banyak 20 kg/ha.
Variabel yang diamati adalah hasil gabah dalam kg/petak yang kemudian dikonversikan ke dalam t/ha pada k.a 14%, jumlah malai/rumpun, jumlah gabah isi/malai, jumlah gabah hampa/malai, bobot 1000 butir, panjang malai, tinggi tanaman, umur, kualitas gabah dan beras.
Sepuluh rumpun sampel ditentukan secara acak untuk diukur tingginya dan dihitung jumlah malainya serta diambil sampel malai utamanya untuk dihitung jumlah gabah isi, gabah hampa dan diukur panjang
malainya. Masing-masing sebanyak 1,0 kg sampel gabah dari tiap galur diambil untuk evaluasi kualitas gabah dan beras. Pengamatan tinggi tanaman dan jumlah malai/rumpun dilakukan menjelang panen, sedangkan pengamatan pascapanen dan komponen hasil lainnya dilakukan di laboratorium.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pertumbuhan Tanaman
Di Kuningan pada MK1997, pertumbuhan awal tanaman kelihatan normal, namun pada umur 4-5 minggu setelah tanam mendapat serangan penggerek batang (sundep) dan beberapa hama lainnya. Karena serangan terjadi secara bersamaan maka tingkat ke-parahan terlihat cukup berat. Serangan tersebut tampak lebih parah pada pertanaman yang ditanam dengan jarak tanam lebih lebar (20 x 20 cm). Dengan kata lain, tanaman dengan jarak tanam 20 x 10 cm kelihatan lebih tahan, diduga karena pada populasi tanaman yang lebih rapat tingkat serangan yang sama menunjukkan persentase yang lebih kecil.
Galur-galur hibrida yang diuji menunjukkan respons yang bervariasi. Beberapa galur seperti GD2, GD3, dan GD6 menunjukkan toleransi yang tinggi.
Untuk mengatasi serangan hama tersebut di-lakukan penyemprotan insektisida. Namun karena se-rangan yang terjadi tidak hanya dari satu macam hama maka usaha pengendalian terlihat tidak menunjukkan pengaruh yang nyata. Dengan semakin berkembang-nya tanaman dan semakin kuatberkembang-nya jaringan tanaman maka pertanaman secara perlahan mengalami pulih. Menurut Rubia et al. (1996) terdapat kompensasi tanaman terhadap kerusakan akibat serangan peng-gerek batang pada stadia vegetatif awal, sehingga serangan sundep atau penggerek batang pada stadia vegetatif bukan indikator yang baik untuk kehilangan hasil. Hal tersebut ditunjukkan oleh mampunya galur-galur untuk berbunga secara normal. Namun, karena musim kemarau cukup panjang pada tahun 1997 dan sumber air irigasi tidak mencukupi, maka pertanaman pada fase pengisian bulir mengalami cekaman ke-kurangan air untuk periode yang cukup panjang. Jumlah curah hujan selama percobaan berlangsung (periode Mei-Oktober 1997) hanya 153,5 mm, semen-tara kebutuhan air untuk pertanaman padi minimal 200 mm per bulan. Hal ini berpengaruh negatif terhadap hasil gabah. Dalam kondisi kekeringan tersebut be-berapa galur hibrida masih menunjukkan penampilan fenotipik yang cukup baik.
Seperti halnya di Kuningan, pertumbuhan tanaman pada fase pembentukan anakan aktif di Sukamandi pada MH 1997/98 terlihat normal. Umur tanaman dari semua materi yang diuji hampir sama sehingga fase berbunga dan fase memasuki pengisisan bulir terjadi pada waktu yang relatif bersamaan. Pada fase pe-masakan sampai menjelang panen, sebagian besar entri mengalami kerebahan yang cukup parah, bahkan beberapa galur rebah 100%.
Analisis Varians
Analisis varians data percobaan di Kuningan MK1997 menunjukkan bahwa blok tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah malai/rumpun, jumlah gabah isi/malai, dan bobot 1000 butir tetapi berpengaruh nyata terhadap hasil gabah, tinggi tanaman, panjang malai, dan jumlah gabah hampa/malai (Tabel 1).
Kombinasi perlakuan, jarak tanam secara mandiri, dan galur ternyata menunjukkan perbedaan yang nyata untuk semua sifat yang diamati. Sebaliknya, interaksi antara jarak tanam x hibrida tidak menunjukkan pe-ngaruh yang nyata.
Dari hasil analisis data percobaan di Sukamandi MH 1997/98 dapat dilihat bahwa jarak tanam tidak ber-pengaruh nyata terhadap semua variabel yang diamati. Sebaliknya, antarhibrida terdapat perbedaan yang nyata, sedangkan interaksi jarak tanam x hibrida hanya berpengaruh nyata terhadap jumlah malai/rumpun (Tabel 2). Perlakuan galur/hibrida, baik di Kuningan maupun di Sukamandi, berpengaruh nyata terhadap semua variabel. Jarak tanam berpengaruh nyata di Kuningan dan tidak nyata di Sukamandi, sedangkan interaksi antara jarak tanam dan hibrida secara umum tidak nyata. Pada jarak tanam yang lebih rapat, hasil yang nyata lebih rendah memerlukan klarifikasi lebih lanjut.
Hasil Gabah
Di Kuningan MK1997, pengelompokan yang dilaku-kan ternyata cukup efektif. Hal ini terbukti adanya per-bedaan hasil yang sangat nyata antarblok. Dari analisis varians juga terlihat perbedaan yang sangat nyata antar-galur/varietas yang diuji. Perbedaan ini menunjukkan bahwa memang terdapat variabilitas yang cukup tinggi
Tabel 1. Nilai kuadrat tengah dari variabel-variabel yang diamati, Kuningan MK 1997.
Sumber variasi db Hasil Tinggi tanaman Jumlah malai/ Panjang Jumlah gabah Jumlah gabah Bobot 1000 (t GKG/ha) (cm) rumpun malai (cm) isi/malai hampa/malai butir (g) Blok 2 3,838** 104,780** 1,043ns 3,722** 203,246ns 770,662* 0,073ns Perlakuan 23 2,674** 85,083** 25,259** 5,909** 2706,244** 1856,526** 6,203** Jarak tanam (J) 1 3,146* 179,867** 252,375** 4,450** 3710,911** 1415,120* 0,888* Hibrida (H) 11 5,034** 150,578** 24,109** 11,254** 5166,722** 3393,711** 12,704** J X H 11 0,271ns 10,971ns 5,762ns 0,697ns 154,433ns 359,461ns 0,184ns Galat 46 0,604 8,595 5,088 0,537 318,716 224,914 0,156 CV (%) 11,400 3,800 17,200 3,200 11,900 25,900 1,600
* berbeda nyata pada taraf 5% ** berbeda nyata pada taraf 1% GKG = gabah kering giling ns tidak berbeda nyata
Tabel 2. Nilai kuadrat tengah dari variabel-variabel yang diamati, Sukamandi MH 1997/98.
Sumber variasi db Hasil Tinggi tanaman Jumlah malai/ Panjang Jumlah gabah Jumlah gabah Bobot 1000 (t/ha) (cm) rumpun malai (cm) isi/malai hampa/malai butir (g) Blok 2 0,307 32,806 17,487 9,772 212,904 120,385 0,583 Jarak tanam (J) 1 0,754 114,800 139,372 0,023 1275,301 10,220 0,309 Galat a 2 0,376 24,963 2,723 2,745 120,722 7,764 1,027 Hibrida (H) 13 2,324** 189,560** 12,217** 3,973* 2174.094** 363,993** 11,915** J X H 13 0,249 6,458 4,627* 2,470ns 226,617 25,972 0,440ns Galat b 52 0,387 7,520 2,402 1,633 310,384 62,806 0,317 CV (%) 14,1 2,40 13,6 5,0 14,1 29,9 2,3
* berbeda nyata pada taraf 5% ** berbeda nyata pada taraf 1% ns tidak berbeda nyata GKG = gabah kering giling
dari galur/varietas hibrida yang diuji. Namun, jika di-bandingkan dengan IR64, galur-galur hibrida penghasil tinggi masih belum berbeda nyata. Lima hibrida asal Cina memberikan hasil di atas IR64 dan Memberamo. Hibrida-hibrida tersebut adalah GD5, GD2, GD4, GD3, dan GD6 (Tabel 3).
Standar heterosis terhadap Maros berkisar antara -19,05% sampai 22,89% sementara terhadap IR64 ber-variasi antara -27,21% sampai 10,5%, sedangkan terhadap Memberamo antara -15,14% sampai 28,82% (Tabel 4). Dalam kondisi kekurangan air, target hasil 20% lebih tinggi dari IR64 ternyata belum tercapai. Dilihat dari perbedaan tonase riil maka antara hibrida berdaya hasil tertinggi dengan IR64 terdapat perbedaan
hasil 760 kg. Standar heterosis untuk hasil terhadap Memberamo di Sukamandi bervariasi antara -17,53% (HR2) sampai 29,62% (GD5), sementara terhadap IR64 berkisar antara -33,33% sampai 4,79% (Tabel 4).
Jarak tanam lebih rapat (20 x 10 cm) untuk se-mentara belum menjamin hasil yang lebih tinggi. Dari percobaan ini ternyata hasil gabah pada jarak tanam 20 x 10 cm nyata lebih rendah dibanding pada jarak tanam 20 x 20 cm (Tabel 5). Di Sukamandi MH 1997/98 ter-dapat perbedaan hasil yang nyata antarhibrida, tetapi jarak tanam tidak berpengaruh nyata. Rata-rata hasil pada jarak tanam 20 x 20 cm adalah 4,50 t/ha sementara pada jarak tanam 20 x 10 cm adalah 4,31 t/ha (Tabel 5).
Tabel 3. Hasil, jumlah gabah isi/malai, jumlah gabah hampa/malai, dan bobot 1000 butir hibrida dan varietas pembanding, Kuningan (KN) MK 1997 dan Sukamandi (SKI) MH 1997/1998.
Hasil (t GKG/ha) Jumlah gabah isi/malai Jumlah gabah hampa/malai (%) Bobot 1000 butir (g) Hibrida/
varietas KN MK 1997 SKI MH 1997/98 KN MK 1997 SKI MH 1997/98 KN MK 1997 SKI MH 1997/98 KN MK 1997 SKI MH 1997/98 GD1 6,16 cd 4,52 b-e 142,3 de 145,0 ab 29,0 bc 23,3 cde 24,1 de 23,7 fg GD2 7,93 a 4,21 def 162,2 bcd 125,5 bc 22,1 cd 34,0 ab 27,7 a 27,0 a GD3 7,42 ab 4,08 def 183,2 ab 136,8 ab 20,4 cd 29,0 bcd 23,3 f 24,5 cde GD4 7,87 a 5,47 a 177,8 ab 136,7 ab 16,3 de 18,3 e 23,7 ef 25,2 c GD5 8,00 a 5,02 abc 168,2 bc 139,3 ab 28,2 b 27,2 bcd 22,7 g 22,3 h GD6 7,42 ab 4,85 a-d 196,1 a 154,3 a 14,0 de 24,4 bcd 23,5 f 24,6 cde HR1 - 3,75 ef - 100,5 d - 41,1 a - 25,2 c HR2 6,16 cd 3,48 f 132,1 ef 106,8 cd 30,6 bc 33,2 abc 24,1 de 24,0 ef HR3 5,27 d 3,91 ef 119,3 f 112,9 cd 36,6 b 28,5 cde 23,7 ef 23,8 fg HR4 5,89 cd 3,67 f 129,3 ef 109,9 cd 31,0 bc 27,3 cde 23,2 f 23,2 g I You 128 - 5,04 abc - 140,3 ab - 17,9 e - 25,1 cd
II You 128 - 4,29 c-f - 140,4 ab - 27,8 a-d - 24,4 def
Maros 6,51 bc - 150,6 cde - 39,6 a - 24,9 c
-IR64 7,24 ab 5,22 ab 93,3 g 100,2 d 22,2 e 12,1 f 26,5 b 26,1 b Memberamo 6,21 cd 4,22 def 146,3 cde 101,0 d 40,9 a 26,2 de 24,5 cd 27,5 a
Angka selajur yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 0,05 DMRT. GKG = gabah kering giling
Tabel 4. Nilai standar heterosis untuk hasil dari hibrida-hibrida yang diuji, Kuningan (KN) MK 1997 dan Sukamandi (SKI) MH 1997/98. Standar heterosis (%) terhadap
Hibrida
Maros IR64 Memberamo
KN MK 1997 KN MK 1997 SKI MH 1997/98 KN MK 1997 SKI MH 1997/98 GD1 - 5,37 - 14,92 -13,41 - 0,81 7,11 GD2 21,81 9,53 -19,35 27,70 - 0,24 GD3 13,98 2,48 -21,84 19,48 - 3,32 GD4 20,89 8,70 4,79 26,73 29,62 GD5 22,89 10,50 - 3,83 28,82 18,95 GD6 13,98 2,48 - 7,09 19,48 14,93 HR1 - - -28,16 - -11,14 HR2 - 5,37 - 14,92 -33,33 - 0,81 -17,53 HR3 - 19,05 - 27,21 -25,09 - 15,14 - 7,34 HR4 - 9,52 - 18,65 -29,69 - 5,15 -13,03 I You 128 - - - 3,45 - 19,43 II You 128 - - -17,82 - 1,66
Interaksi antara jarak tanam dengan hibrida tidak memberikan pengaruh yang nyata. Hibrida GD4, GD5, dan I You 128 memberikan hasil berturut-turut 5,47 t, 5,02 t, dan 5,04 t/ha, nyata lebih tinggi dibanding Mem-beramo tetapi tidak nyata dibanding IR64 (Tabel 3). Walaupun terdapat perbedaan hasil antara di Kuningan dengan Sukamandi, namun dua hibrida asal Cina kon-sisten memberikan hasil lebih tinggi. Hasil yang relatif rendah di Sukamandi dibanding Kuningan disebabkan karena jumlah malai/rumpun dan jumlah gabah isi/ malai lebih rendah, selain kemungkinan adanya ke-rebahan dan faktor lain yang berkaitan dengan spesifik lokasi.
Jumlah Gabah Isi
Di Kuningan, analisis varians untuk sifat jumlah gabah isi/malai menunjukkan bahwa blok dan interak-si jarak tanam x hibrida tidak berpengaruh secara nyata, tetapi jarak tanam dan hibrida secara mandiri berpengaruh sangat nyata (Tabel 1). Jumlah gabah isi/malai pada jarak tanam 20 x 20 cm nyata lebih banyak dibandingkan dengan jarak tanam 20 x 10 cm (Tabel 5). Pertumbuhan tanaman pada jarak tanam yang lebih rapat (20 x 10 cm) mengalami persaingan yang lebih berat dibanding jarak tanam yang lebih lebar (20 x 20 cm). Nutrisi tambahan yang diberikan dalam jumlah yang sama, pada jarak tanam rapat digunakan oleh populasi tanaman yang besarnya dua kali lipat. Hal ini jelas berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman, panjang malai dan jumlah gabah isi/malai.
Hibrida yang diuji memberikan jumlah gabah isi/ malai yang bervariasi antara 119,27 (HR3) sampai 196,15 (GD6), sedangkan IR64 dan Memberamo ber-turut-turut memberikan jumlah gabah isi/malai 93,28 dan 146,35 (Tabel 3). Perbedaan jumlah gabah isi/malai pada hibrida disebabkan karena masing-masing mem-punyai latar belakang genetik yang berbeda. Semua
hibrida yang diuji mempunyai jumlah gabah isi/malai yang nyata lebih tinggi dibanding IR64. Pada jarak tanam normal, jumlah gabah isi/malai berkisar antara 100,87 (IR64) sampai 199,97 (GD6) dengan rata-rata 157,24, pada jarak tanam 20 x 10 cm berkisar antara 85,70 (IR64) sampai 192,33 (GD6) dengan rata-rata 142,89. Dengan jumlah malai/satuan luas yang tinggi, hasil gabah pada jarak tanam 20 x 10 cm diharapkan lebih baik daripada jarak tanam 20 x 20 cm.
Di Sukamandi MH1997/98, hibrida-hibrida yang di-uji mempunyai jumlah gabah isi/malai yang berbeda nyata satu sama lain. Jarak tanam dan interaksi jarak tanam dengan hibrida tidak memberikan pengaruh yang nyata. Pada jarak tanam 20 x 20 cm jumlah gabah isi/malai rata-rata 128,9 sedangkan pada jarak 20 x 10 cm adalah 121,1 (Tabel 5). Semua hibrida asal Cina mempunyai jumlah gabah isi/malai yang nyata lebih banyak dibandingkan dengan IR64 atau Memberamo (Tabel 3).
Jumlah Gabah Hampa
Di Kuningan, untuk jumlah gabah hampa/malai tidak ada interaksi antara hibrida dengan jarak tanam. Untuk blok, jarak tanam dan hibrida secara mandiri memberikan pengaruh yang nyata terhadap sifat ini (Tabel 1). Pada jarak tanam yang lebih rapat, jumlah gabah hampa/malai ternyata lebih rendah (Tabel 5). Jika dibandingkan dengan Memberamo, semua hibrida yang dicoba mempunyai jumlah gabah hampa/ malai yang nyata lebih rendah, tetapi nyata lebih tinggi dibandingkan dengan IR64, kecuali hibrida GD4 dan GD6 (Tabel 3).
Di Sukamandi, semua hibrida yang diuji mem-punyai jumlah gabah hampa/malai nyata lebih tinggi dibandingkan dengan IR64. Dibandingkan dengan Memberamo, tiga hibrida juga memberikan gabah hampa yang lebih banyak dan sembilan hibrida
mem-Tabel 5. Hasil dan komponen hasil hibrida pada jarak tanam rapat (20 x 10 cm) dan jarak tanam normal (20 x 20 cm), Kuningan MK 1997 dan Sukamandi MH 1997/98.
Kuningan MK 1997 Sukamandi MH 1997/1998 Sifat
20 x 20 cm 20 x 10 cm 20 x 20 cm 20 x 10 cm
Hasil (t GKG/ha) 7,05 a 6,63 b 4,50 a 4,31 a
Jumlah malai/ rumpun 15,0 a 11,2 b 12,7 a 10,1 a
Jumlah gabah isi/malai 157,2 a 142,9 b 128,9 a 121,1 a
Jumlah gabah hampa/malai 62,3 a 53,4 b 47,2 a 44,0 a
Bobot 1000 butir (gram) 24,2 b 24,4 a 24,7 a 24,8 a
Panjang malai (cm) 23,3 a 22,8 b 25,5 a 25,5 a
Tinggi tanaman (cm) 77,9 a 74,7 b 116,7 a 114,3 a
Angka sebaris selokasi yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 0,05 BNT GKG = gabah kering giling
punyai kehampaan yang tidak berbeda nyata. Jumlah gabah hampa/malai hibrida berkisar antara 17,52% (I You 128) sampai 43,48% (HR1), sedangkan IR64 mem-punyai gabah hampa/malai 12,06% dan Memberamo 26,15%.
Bobot 1000 Butir
Di Kuningan, untuk variabel bobot 1000 butir, blok dan interaksi jarak tanam x hibrida tidak memberikan pengaruh yang nyata, sedang jarak tanam dan hibrida secara mandiri berpengaruh nyata (Tabel 1). Bobot 1000 butir pada jarak tanam lebih rapat lebih tinggi meskipun perbedaannya sangat kecil (Tabel 5). Semua hibrida yang diuji, kecuali GD2, mempunyai bobot 1000 butir yang lebih rendah dibandingkan IR64 (Tabel 3).
Di Sukamandi, jarak tanam tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap bobot 1000 butir gabah isi (Tabel 5). Interaksi antara jarak tanam dengan hibrida juga memberikan pengaruh yang tidak nyata. Hibrida secara mandiri memberikan pengaruh nyata. Semua hibrida, kecuali GD2, mempunyai bobot 1000 butir yang nyata lebih rendah dibandingkan dengan IR64 atau Memberamo (Tabel 3).
Jumlah Malai
Di Kuningan, jumlah malai/rumpun pada jarak tanam 20 x 10 cm sangat nyata lebih rendah dibanding pada jarak tanam 20 x 20 cm (Tabel 5). Dari nilai rata-rata dua jarak tanam, jumlah malai/rumpun terbanyak diberikan oleh HR4, kemudian diikuti oleh IR64, HR3,
GD1, GD3, GD4, Maros, GD6, Memberamo, dan GD2. Dilihat dari jumlah malai/rumpun, terdapat penurunan pada jarak tanam 20 x 10 cm. Jika dilihat dari jumlah malai/satuan luas, jarak tanam 20 x 10 cm mempunyai jumlah malai yang lebih banyak. Pada jarak tanam 20 x 20 cm, jumlah malai/m2 = 15 x 25 = 375 malai. Pada jarak tanam lebih rapat (20 x 10 cm), jumlah malai/m2 = 11,25 x 50 = 562,5 malai. Angka ini seharusnya akan memberikan hasil yang lebih tinggi, namun kenyataan-nya hasil gabah pada jarak tanam lebih rapat kenyataan-nyata lebih rendah daripada jarak tanam normal. Hal ini disebabkan karena pada jarak tanam lebih rapat kom-ponen hasil lainnya yaitu jumlah gabah isi/malai ter-nyata lebih rendah (Tabel 5).
Di Sukamandi, jarak tanam tidak berpengaruh nyata, namun antarhibrida terdapat perbedaan yang nyata. Di Sukamandi, hibrida umumnya mempunyai jumlah malai/rumpun yang lebih sedikit, berkisar antara 9,2 (II You 128) sampai 14,2 (GD4), sedangkan IR64 mempunyai jumlah malai/rumpun 13,8 dan Memberamo 10,6 malai/rumpun (Tabel 6).
Panjang Malai
Hasil analisis varians untuk sifat panjang malai menunjukkan bahwa antarblok, antarjarak tanam dan antarhibrida terdapat perbedaan yang sangat nyata (Tabel 1). Malai pada jarak tanam normal lebih panjang dibanding jarak tanam lebih rapat (Tabel 5). Jarak ta-nam tidak berpengaruh nyata terhadap panjang malai dari semua hibrida yang diuji, tetapi berpengaruh nyata terhadap panjang malai varietas Maros dan Mem-beramo. Pada jarak tanam yang lebih rapat, varietas
Tabel 6. Jumlah malai/rumpun, tinggi tanaman, dan panjang malai hibrida dan varietas pembanding, Kuningan (KN) MK 1997 dan Sukamandi (SKI) MH 1997/1998.
Jumlah malai/rumpun Tinggi tanaman (cm) Panjang malai (cm) Hibrida/varietas
KN MK 1997 SKI MH 1997/98 KN MK 1997 SKI MH 1997/98 KN MK 1997 SKI MH 1997/98
GD1 12,7 bcd 12,3 ab 73,3 de 113,7 c 21,4 g 25,0 bcd GD2 10,6 d 11,6 ab 79,4 bc 119,1 b 22,0 fg 25,3 a-d GD3 12,2 bcd 10,0 bc 78,2 c 120,5 ab 23,5 cd 25,8 a-d GD4 12,1 bcd 14,2 a 77,4 c 109,8 efg 22,1 efg 24,2 d GD5 14,2 bc 11,5 b 76,9 cd 114,0 c 22,1 efg 24,8 cd GD6 11,3 cd 9,5 c 76,1 cd 122,0 ab 23,0 cde 25,4 a-d HR1 - 11,0 bc - 121,9 ab - 26,0 abc HR2 13,3 bcd 11,0 bc 79,0 bc 113,3 cd 23,9 c 26,2 abc HR3 14,5 b 11,3 b 71,0 ef 110,0 def 22,8 def 26,8 a HR4 17,8 a 12,2 ab 69,4 f 106,5 g 22,7 def 25,5 a-d I You 128 - 11,0 bc - 113,0 cde - 24,2 d II You 128 - 9,2 c - 121,0 ab - 26,3 abc Maros 12,2 bcd - 84,2 a - 26,0 a -IR64 15,1 b 13,8 a 68,1 f 108,9 fg 22,0 fg 25,4 a-d Memberamo 11,3 cd 10,6 bc 82,6 ab 122,9 a 25,1 b 26,7 ab
Maros dan Memberamo memiliki malai yang nyata lebih pendek dibanding jika ditanam pada jarak tanam normal. Semua hibrida yang diuji mempunyai malai yang lebih pendek dibanding varietas pembanding Maros dan Memberamo (Tabel 6).
Di Sukamandi, hampir semua hibrida mempunyai malai yang lebih panjang (Tabel 6). Jarak tanam dan interaksi jarak tanam dengan galur hibrida tidak memberikan pengaruh yang nyata (Tabel 2).
Tinggi Tanaman
Blok, jarak tanam, dan hibrida secara mandiri ber-pengaruh terhadap tinggi tanaman, tetapi interaksi antara jarak tanam dengan hibrida tidak memberikan pengaruh nyata (Tabel 1). Pada jarak tanam yang lebih rapat, tanaman nyata lebih pendek (Tabel 5). Tanaman semua hibrida yang diuji nyata lebih pendek dibanding varietas Maros (Tabel 6).
Di Sukamandi, tinggi tanaman semua hibrida dan varietas pembanding di atas 100 cm, lebih tinggi
di-bandingkan dengan di Kuningan (Tabel 6). Lebih pen-deknya tanaman di Kuningan diduga karena adanya kekeringan di samping elevasi yang tinggi (550 m dpl).
Mutu Beras dan Mutu Gabah
Galur hibrida umumnya mempunyai densitas gabah yang hampir sama dengan IR64 maupun Memberamo. IR64 mempunyai densitas 551,5 g/l, Memberamo 561,0 g/l sementara densitas hibrida berkisar antara 533,0 g/l sampai 585,0 g/l (Tabel 7). Memberamo mempunyai butir hijau/kapur 4,13%, IR64 1,55%, sedangkan hibrida berkisar antara 1,43% sampai 5,05%. Butir kuning/rusak, varietas Memberamo rata-rata 2,2%, IR64 0,69%, sedangkan hibrida berkisar antara 0,77-3,59%. Semua hibrida mempunyai kandungan amilose yang ter-golong sedang sampai tinggi. Hibrida HR2 dan HR4 mempunyai kandungan amilose yang setara dengan IR64 yaitu sekitar 24%.
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa persentase beras pecah kulit hibrida setara dengan IR64 dan Mem-Tabel 7. Mutu gabah hibrida dan varietas pembanding pada pengujian daya hasil.
Hibrida/varietas Kadar air Densitas Gabah hampa Butir hijau/ Butir kuning/ Butir merah Amilose
pembanding (%) (g/l) (%) kapur (%) rusak (%) (%) (%)
GD1 12,9 585,0 0,0 2,55 3,59 0,09 28.6 GD2 13,0 557,5 0,0 5,05 2,58 0,00 24.8 GD3 13,7 585,0 0,0 2,88 1,14 0,00 28.5 GD4 13,5 578,0 0,0 1,54 1,30 0,00 28.5 GD5 13,8 584,5 0,0 1,76 0,77 0,00 28.7 GD6 13,7 583,0 0,0 2,47 1,07 0,00 28.0 Maros 13,2 558,0 0,0 2,98 3,37 0,00 24.7 HR2 12,7 533,0 0,0 3,17 2,41 0,10 25.1 HR3 13,1 545,0 0,0 1,43 1,94 0,00 26.4 HR4 14,0 550,0 0,0 2,09 1,08 0,00 24.3 IR64 14,2 551,5 0,0 1,55 0,69 0,00 24.6 Memberamo 13,5 561,0 0,0 4,13 2,20 0,00 18.5
Tabel 8. Mutu beras hibrida dan varietas pembanding pada pengujian daya hasil.
Hibrida/varietas Beras pecah Beras giling Beras kepala Beras pecah Menir Beras kapur Beras kuning Beras rusak
pembanding kulit (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) GD1 80,0 70,1 60,0 38,2 1,82 0,80 0,0 0,25 GD2 77,5 64,4 53,5 43,7 2,80 0,82 0,0 0,14 GD3 77,4 67,4 74,4 24,3 1,27 0,21 0,0 0,14 GD4 77,9 69,0 85,2 13,9 0,96 0,49 0,0 0,06 GD5 77,9 70,8 77,2 22,0 0,85 0,38 0,0 0,05 GD6 77,4 66,1 84,4 14,9 0,73 0,35 0,0 0,12 Maros 78,9 68,7 64,8 32,6 2,66 0,60 0,0 0,09 HR2 79,0 70,8 73,6 24,7 1,68 1,35 0,0 0,49 HR3 78,2 70,0 79,6 18,5 1,85 0,65 0,0 0,49 HR4 78,4 70,6 72,9 24,9 2,23 0,37 0,0 0,17 IR64 77,6 69,5 91,3 7,6 1,60 0,52 0,0 0,08 Memberamo 78,4 66,7 94,2 3,7 2,11 0,46 0,0 0,05
bramo, berkisar antara 77,61-80,00% (Tabel 8). Hal se-rupa juga terjadi pada persentase beras giling. Hibrida GD1, GD5, HR2, HR3, dan HR4 mempunyai persentase beras giling yang lebih tinggi daripada IR64.
Untuk persentase beras kepala, semua hibrida me-nunjukkan nilai yang lebih rendah dibandingkan de-ngan IR64 atau Memberamo, bahkan hibrida GD1 dan GD2 mempunyai beras kepala yang sangat rendah, berturut-turut 59,96% dan 53,53%. IR64 mempunyai beras kepala 91,34% dan Memberamo 94,16%. Dalam hal persentase beras pecah, tidak ada hibrida yang lebih baik daripada IR64 dan Memberamo. Untuk persentase beras menir, tujuh hibrida menunjukkan nilai yang lebih rendah daripada Memberamo. Hibrida GD4, GD5, dan GD6 mempunyai persentase beras menir yang lebih rendah daripada IR64 (Tabel 8).
Hasil uji organoleptik menunjukkan bahwa nasi hibrida mempunyai kisaran warna sangat putih sampai sedang, sedangkan IR64 dan Memberamo berkisar antara sangat putih sampai putih (Tabel 9). Untuk ke-kilapan, hibrida dan varietas pembanding menunjuk-kan kisaran yang sama, yaitu berkilap sampai sedang. Dalam hal kekerasan nasi, hibrida berada dalam kelompok kisaran antara agak keras sampai sedang, IR64 dan Memberamo antara sedang sampai agak lembek. Untuk kelekatan, karena kadar amilose hibrida tergolong tinggi, maka hibrida berada dalam kisaran sedikit lekat dan tidak lekat, sedangkan IR64 dan Memberamo antara sangat lekat dan sedikit lekat. Untuk tekstur nasi, hibrida-hibrida yang diuji berada dalam kisaran antara agak pulen sampai sedang, sedangkan IR64 dan Memberamo antara sangat pulen sampai pulen.
KESIMPULAN
1. Di Kuningan, lima hibrida asal Cina yaitu GD2, GD3, GD4, GD5, dan GD6 memberikan hasil 2,48-10,50% lebih tinggi dibandingkan dengan IR64 atau 19,48-28,82% lebih tinggi dibanding Memberamo. Di Sukamandi, GD4, GD5, dan I You 128 memberikan hasil masing-masing lebih tinggi 29,62%, 18,95%, dan 19,43% dibandingkan dengan Memberamo te-tapi tidak ada yang lebih baik dibanding IR64. Hibrida GD4 dan GD5 secara konsisten ber-penampilan baik dalam hal hasil.
2. Di Kuningan, pertanaman pada jarak tanam 20 x 20 cm memberikan hasil, jumlah malai/rumpun, jum-lah gabah isi/malai, jumjum-lah gabah hampa/malai, panjang malai, dan tinggi tanaman nyata yang lebih tinggi, tetapi bobot 1000 butir nyata lebih rendah dibanding jarak tanam 20 x 10 cm. Di Sukamandi, jarak tanam tidak berpengaruh nyata terhadap se-mua sifat yang diamati. Inkonsistensi hasil pada perlakuan jarak tanam memerlukan klarifikasi le-bih lanjut.
3. Gabah hibrida mempunyai densitas dan persen-tase butir hijau yang setara dengan IR64 dan lebih baik daripada Memberamo, butir rusak setara dengan Memberamo dan lebih tinggi daripada IR64, dan kandungan amilose lebih tinggi daripada IR64 maupun Memberamo.
4. Mutu beras padi hibrida asal Cina yang diuji umum-nya belum dapat mengimbangi mutu beras IR64 maupun Memberamo. Demikian pula tekstur mau-pun rasa nasinya.
5. Padi hibrida GD4 dan GD5 memberikan hasil relatif lebih tinggi dari IR64.
Tabel 9. Uji organoleptik hibrida dan varietas pembanding pada pengujian daya hasil.
Hibrida/varietas Warna nasi Kilap nasi Kekerasan nasi Kelekatan nasi Kepulenan nasi pembanding GD1 3,6 3,6 4,4 3,6 4,2 GD2 3,4 3,2 5,6 2,6 3,6 GD3 4,1 4,0 4,6 3,4 4,4 GD4 3,7 4,0 4,2 3,6 4,8 GD5 5,2 5,4 3,6 4,2 5,8 GD6 3,6 4,0 3,6 3,6 4,6 Maros 2,8 4,0 6,0 2,8 3,2 HR2 2,8 3,2 5,8 3,0 3,4 HR3 2,8 3,8 5,2 3,0 3,2 HR4 3,0 4,2 5,2 3,2 4,0 IR64 2,6 3,6 6,0 3,0 3,0 Memberamo 2,8 3,6 6,4 2,4 2,6
Skor Warna Kilap Kekerasan Kelekatan Kepulenan
1 : Sangat putih Sangat kilap Sangat keras Sangat lekat Sangat pulen 3 : Putih Berkilap Agak keras Sedikit lekat Pulen 5 : Sedang Sedang Sedang Tidak lekat Sedang 7 : Kusam Suram Agak lemah Sangat tidak lekat Pera 9 : Sangat kusam Sangat suram Lemah Sangat pera
DAFTAR PUSTAKA
Lin, S.C. and L.P. Yuan. 1980. Hybrid rice breeding in China. In: Innovative approaches to rice breeding. Intl. Rice Res. Inst. ,Los Banos, Philippines.
Mishra, S.B., C.H. Mishra, and C.N. Chaubey 1991. Combining ability of some rice cultivars with selected cytoplasmic male sterile (cms) lines. Intl. Rice Res. Newsl. 16(3):6.
Rubia, E.G., K.L. Heong, M. Zalucki, B. Gonzales and G. A. Norton. 1996. Mechanisms of compensation of rice plants to yellow stem borer Scirpophaga incertulas (Walker) injury. Crop protect. 15 (4): 335-340.
Satoto, A. Baihaki, B. Suprihatno, dan R. Setiamihardja. 1993. Analisis lini x tester untuk hasil dan komponen hasil lima genotipe mandul jantan sitoplasmik genetik padi. ZURIAT 4(1) : 25-31 Satoto, B. Suprihatno, dan B. Sutaryo. 1994. Heterosis dan variasi
genotipik beberapa karakter hibrida padi. Media Penelitian Sukamandi No.15:6-11.
Singh, N.B., H.G. Singh, and P. Singh. 1977. Heterosis and combining ability for quality components in rice. The Indian, J. of Gen. and Plant Breed., 37 (3): 347-352.
Suprihatno, B. dan Satoto. 1992. Evaluasi penampilan beberapa F1 hibrida turunan galur mandul jantan (CMS) IR54752A.MPS 12: 31-36.
Suprihatno, B. dan Satoto, 1996. Peningkatan potensi hasil padi melalui pemanfaatan heterosis. Prosiding Seminar Apresiasi Hasil Penelitian. Sukamandi, 23-25 Agustus 1995, Buku II. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Balai Penelitian Padi. Halaman :1-9
Tongmin, M. and L. Xinggui, 1991. Combining ability and heterosis of agronomic traits in indica PGMS lines and their hybrids. Intl. Rice Res. Newsl. 16 (2):8.
Yuan, L. P., Z. Y. Yang and J. B. Yang, 1994. Hybrid rice research in China. In Hybrid Rice Technology. New developments and future prospects. IRRI, 1994.