• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. lainnya sering kali dapat dilihat dengan jelas pada setiap bahasa. Hal ini berlaku

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. lainnya sering kali dapat dilihat dengan jelas pada setiap bahasa. Hal ini berlaku"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Hubungan antara bentuk dan makna pada bahasa yang satu dengan bahasa lainnya sering kali dapat dilihat dengan jelas pada setiap bahasa. Hal ini berlaku pula dalam bahasa Prancis dan bahasa Inggris. Walaupun berasal dari rumpun bahasa yang berbeda, namun sering terdapat kemiripan kata-kata di antara keduanya. Kemiripan bahasa ini ada kalanya memiliki makna yang sama namun ada pula yang memiliki makna yang berbeda.

Salah satu relasi bentuk dan makna itu adalah faux amis, yaitu sebuah istilah dalam linguistik Prancis (Penulis tidak menemukan istilah yang umum dipakai dalam linguistik Indonesia, oleh karena itu dalam karya tulis ini penulis akan tetap menggunakan istilah faux amis). Koeseler dan Derocquigny (1928) serta Vinay dan Darbelnay (via R. Galisson / D. Coste) mendefinisikan faux amis sebagai kata yang saling berhubungan antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain melalui etimologi dan bentuk, tetapi telah mengalami perubahan di antara kedua bahasa tersebut dan terpisah secara budaya, serta memiliki makna yang berbeda (R. Galisson / D. Coste , 1976 : 217).

Bahasa Prancis pada dasarnya memiliki akar bahasa yang sama dengan bahasa Latin. Namun seiring dengan berjalannya waktu dalam perkembangannya bahasa Prancis dan bahasa Inggris, yang berasal dari rumpun bahasa Indo-Eropa,

(2)

saling mempengaruhi. Hal ini bisa kita lihat dari berbagai kata dalam kedua bahasa tersebut yang memiliki kemiripan bentuk dan makna, seperti actuel, allure, journée (Bahasa Prancis, yang selanjutnya akan disingkat bP) dan actual, allure, journey (Bahasa Inggris, yang selanjutnya akan disingkat b.Ing).

Untuk bisa memahami hal ini ada baiknya kita melihatnya dari sejarah kedua negara yakni Prancis dan Inggris. Menurut Oxford Language Dictionnaries Online, pengaruh bahasa Prancis pada bahasa Inggris dapat dilihat pada tahun 1066 ketika William, Duke of Normandy, menyerbu Inggris dan memulai apa yang kemudian disebut sebagai the Norman Conquest. Dalam waktu yang sangat singkat, seluruh tanah Inggris dikuasai oleh kaum Norman. Hal ini mengakibatkan bahasa Prancis Norman lalu menggantikan bahasa Inggris sebagai bahasa utama, dan hal ini berlangsung hingga tahun 1363.

Setelah Inggris mengalahkan Prancis dalam Hundred Years War (Perang Seratus Tahun), bahasa Inggris bangkit kembali serta digunakan oleh kaum patriotik yang menganut francophobia (ketakutan terhadap bahasa Prancis). Meskipun demikian, pengaruh bahasa Prancis terus berlanjut melalui budaya Rennaisance dan kemudian menjadi bahasa resmi diplomasi internasional sejak tahun 1714 hingga Perang Dunia I.

Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan jika hingga saat ini bahasa Inggris mendapat pengaruh dari bahasa Prancis, demikian juga sebaliknya. Namun, pada perkembangannya terdapat sejumlah kata dalam bahasa Prancis yang diserap ke

(3)

dalam bahasa Inggris mengalami perubahan makna. Hal yang sama juga berlaku dalam sejumlah kata serapan dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Prancis.

Hal ini mengakibatkan kata-kata yang sama yang terdapat dalam kedua bahasa tersebut tidak saja mengalami perubahan makna namun juga pada perubahan dalam bentuk tulisan. Hal ini bisa dilihat pada contoh bP actuellement yang bermakna ‘sekarang, kini’ (DF : 19), sedangkan pada b.Ing kata actually bermakna ‘betul-betul, sebenarnya, sebetulnya’ (LDCE : 16). Sedangkan kata yang mengalami perubahan makna namun memiliki bentuk tulisan yang sama dapat kita lihat pada bP allure di mana maknanya ialah kecepatan berjalan, tingkah laku, gaya, sikap (berjalan, membawa diri). Dalam b.Ing allure memiliki makna panggilan, daya tarik.

Perbedaan makna ini disebut juga dengan faux amis. Faux amis adalah sebuah kata atau lebih yang terdapat dalam dua bahasa dan terlihat atau terdengar mirip tetapi mempunyai makna yang berbeda. Hal ini seringkali menimbulkan kesulitan tidak saja bagi penutur asli kedua bahasa tersebut tetapi juga bagi mereka yang bukan penutur asli b.Ing dan bP dan mempelajari salah satu atau kedua bahasa ini.

Dalam praktiknya, sering kali faux amis dihubungkan dengan ‘bukan cognat’, atau yang dalam bahasa Inggris disebut dengan false cognate. ‘Bukan cognat’ sendiri merupakan kata yang terdapat dalam dua bahasa dan terlihat serta terdengar mirip namun memiliki makna yang berbeda. Walau begitu, terdapat perbedaan di antara keduanya. Jika faux amis terjadi karena berasal dari akar kata

(4)

yang sama, hal ini tidak berlaku pada ‘bukan cognat’, yang pada dasarnya berasal dari akar kata yang berbeda.

Contoh:

Vous aurez de la chance (DF : 57)  Anda akan mendapat keberuntungan

I have a chance to go to New York (KII : 106)

 Saya mendapat kesempatan untuk pergi ke New York

Kesulitan dalam mempelajari faux amis dan ‘bukan cognat’ inilah yang akan dibahas di dalam karya tulis ini. Di samping itu, penulis juga akan membahas mengenai perbedaan makna FA dalam bahasa Prancis dan bahasa Inggris serta perbedaannya dengan ‘bukan cognat’.

1.2. Rumusan Masalah

Dalam mengerjakan karya tulis ini penulis melihat permasalahan yang akan dibahas sebagai berikut:

1. Apa itu faux amis dan ‘bukan cognat’ dalam bahasa Prancis dan bahasa Inggris ?

2. Apa saja perbedaan dan persamaan makna pada faux amis dalam bahasa Prancis dan bahasa Inggris ?

1.3. Tujuan Penelitian

(5)

1) Mengetahui dengan jelas mengenai faux amis dan ‘bukan cognat’ dalam bahasa Prancis dan bahasa Inggris.

2) Mengetahui secara pasti perbedaan dan persamaan makna faux amis dalam bahasa Prancis dan bahasa Inggris.

1.4. Tinjauan Pustaka

Dalam melakukan analisis untuk karya tulis ini, penulis mengambil

data-data yang berasal dari Dictionnaire Fondamental (DF) karya Georges

Gougenheim. Data-data yang diambil kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia lalu dibandingkan dengan faux amis dalam bahasa Inggris.

R. Galisson / D. Coste dalam bukunya yang berjudul Dictionnaire De Didactique Des Langues mengutip pernyataan Koeseler dan Derocquigny (1928) serta Vinay dan Darbelnay (1963) yang mendefinisikan faux amis sebagai kata yang saling berhubungan antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain melalui etimologi dan bentuk, tetapi telah mengalami perubahan di antara kedua bahasa tersebut, serta memiliki makna yang berbeda (R. Galisson / D. Coste,1976 : 217).

Selama mencari dan mengelompokkan kata-kata yang merupakan faux

amis dan ‘bukan cognat’ dalam bahasa Inggris, penulis mengambil sumber dari

kamus Dictionary of Contemporary English terbitan Longman serta Kamus

Inggris-Indonesia oleh John. M. Echols dan Hassan Shadily terbitan PT Gramedia Pustaka Utama.

(6)

Dalam skripsinya yang berjudul Homonimi dalam bahasa Prancis Andika R. P membahas mengenai homonimi serta hal-hal yang menyebabkan munculnya homonimi dalam bahasa Prancis, tipe-tipe homonimi tersebut dalam bahasa Prancis dan hal-hal apa saja yang menyebabkan perbedaan makna antar kata yang membentuk homonimi.

Untuk menganalisa data yang ada maka diperlukan metode penelitian.

Oleh karena itu, penulis menggunakan buku Pengantar (Metode) Penelitian

Bahasa karya Tri Mastoyo Jati Kesuma. Buku ini membahas mengenai berbagai metode penelitian bahasa serta teknik menganalisis bahasa.

J.W.M. Verhaar melalui bukunya berjudul Asas-Asas Linguistik Umum menulis tentang linguistik dan definisinya. selain itu, buku ini juga membicarakan tentang cabang-cabang yang terdapat di dalamnya termasuk semantik, yang merupakan cabang linguistik yang digunakan di dalam karya tulis ini.

Di samping itu, penulis juga mengambil sumber data dari situs internet, yakni oxfordlanguagedictionaties.com

Prof. Dr. I Dewa Putu Wijana dan Muhammad Rochmadi dalam bukunya yang berjudul Semantik Teori dan Analisis membicarakan tentang teori semantik dan makna serta unsur-unsur yang terdapat di dalamnya. Di antaranya ialah elemen bahasa, jenis-jenis makna, hubungan antara makna dan bentuk, ketaksaan, analisis komponensial, eufemisme, dan perubahan makna.

(7)

Selain itu, penulis juga mengambil tinjauan pustaka dari buku Semantik karya Geoffrey Leech yang membicarakan mengenai semantik dan makna, di antaranya arti dari makna, tujuh tipe makna serta definisinya masing-masing.

Dalam buku Semantics karya F. R. Palmer membahas tentang, antara lain istilah semantik dan makna, ruang lingkup semantik, semantik leksikal serta semantik dan tata bahasa.

1.5. Landasan Teori

Membicarakan faux amis berarti membicarakan hubungan antara makna dan bentuk. Untuk itu penulisan karya tulis ini akan menggunakan landasan teori yang sesuai dengan makna dan bentuk, yaitu teori semantik. Semantik adalah ilmu

yang membahas tentang makna. Kridalaksana dalam Kamus Linguistik

memberikan pengertian mengenai makna sebagai berikut : 1. Maksud pembicara

2. Pengaruh satuan bahasa dalam pemahaman persepsi atau perilaku

manusia atau kelompok manusia

3. Hubungan, dalam arti kesepadanan atau ketidaksepadanan antara

bahasa dan alam di luar bahasa, atau antara ujaran dan semua hal yang ditunjukkannya

4. Cara menggunakan bahasa

Dalam bukunya berjudul Semantik, Geoffrey Leech membagi makna

(8)

1. Makna konseptual, atau kadang disebut juga sebagai makna ‘denotatif’ atau ‘kognitif’, yaitu makna yang mempunyai susunan yang kompleks dan rumit, yang dapat dibandingkan dan dapat dihubung-hubungkan dengan susunan yang serupa pada tingkatan bahasa fonologis maupun sintaksis (Leech, 2003 : 20).

2. Makna konotatif, yaitu nilai komunikatif dari satu ungkapan menurut apa yang diacu, melebihi di atas isinya yang murni konseptual (Leech, 2003 : 23)

3. Makna stilistik dan makna afektif. Makna stilistik merupakan makna sebuah kata yang menunjukkan lingkungan sosial penggunaannya (Leech, 2003: 25).

Jika kita memperluas sedikit mengenai ide tentang situasi sebuah bahasa, maka kita akan melihat bahwa bahasa juga dapat mencerminkan perasaan pribadi penutur. Perasaan pribadi yang dimaksud dalam hal ini termasuk sikap penutur bahasa tersebut terhadap pendengarnya, ataupun sikapnya sendiri mengenai sesuatu yang dikatakannya. Istilah yang dipakai untuk makna ini adalah afektif, yang biasanya berwujud unsur konseptual atau konotatif dari kata-kata yang dipergunakan (Leech, 2003: 27).

4. Makna refleksi dan makna konotatif. Makna refleksi adalah makna yang timbul dalam hal makna konseptual ganda jika suatu pengertian kata membentuk sebagian dari respons kita terhadap pengertian lain (Leech, 2003 :29), sedangkan makna konotatif sendiri merupakan makna yang terdiri atas asosiasi-asosiasi yang diperoleh suatu kata, yang disebabkan

(9)

oleh makna kata-kata yang cenderung muncul di dalam lingkungannya (Leech, 2003 : 30).

5. Makna tematik (Leech, 2003 : 33), yaitu makna yang dikomunikasikan menurut cara penutur atau penulis menata pesannya menurut urutan, fokus, dan penekanan.

F.R. Palmer membahas tentang historical semantic atau semantik historis dalam bukunya yang berjudul Semantics (Palmer, 1981:8), yaitu studi yang tentang perubahan makna dalam waktu. Dalam studi ini kita berusaha mencari tahu alasan perubahan makna tersebut, di mana beberapa alasan tersebut hanya terjadi karena kebetulan semata. Sebagai contoh, kata money ‘uang’ dalam bahasa

Inggris berhubungan dengan bahasa Latin moneo yang memiliki makna

mengingatkan, karena pada masa itu uang dibuat di kuil dewi Juno Moneta di Roma.

Untuk memahami tentang makna, kita perlu melihat tanda bahasa (signe lingustique) seperti yang dikemukakan oleh Ferdinand de Saussure. Tanda bahasa yang dimaksud terdiri dari dua unsur, yaitu yang diartikan (signifié) dan yang mengartikan (signifiant). Signifié adalah apa yang ada di dalam pikiran tentang objek yang ditunjukkan oleh signifiant atau yang secara lazim disebut juga dengan makna. Signifiant sendiri merupakan bentuk bahasa yang dapat berbentuk bunyi atau tulisan (Gardes-Tamine, 1998 : 117).

Putu Wijana dalam bukunya berjudul Semantik Teori dan Analisis

(10)

dan makna dengan satuan kebahasaan yang lain serta mempunyai kedudukan yang sentral di dalam semantik. Satuan-satuan kebahasaan itu adalah sebagai berikut :

1. Sinonimi

Sinonimi merupakan hubungan persamaan makna. Bentuk-bentuk kebahasaan yang memiliki kesamaan makna disebut bersinonim (Wijana, 2008 : 29). Sebagai contoh terdapat dalam kata melihat yang bersinonim dengan kata memandang, memeriksa, mengintip, mengintai, menengok, membesuk, dsb.

Walau kata-kata tersebut memiliki kesamaan makna, namun tidak bersifat secara menyeluruh (total). Menurut Bloomfield, seperti yang dikutip oleh Wijana (2008 : 29), kata yang memiliki sinonim total adalah pasangan kata yang memiliki kesamaan makna secara menyeluruh sehingga dapat saling menggantikan di dalam konteks pemakaian. Dengan kata lain, jika kata tersebut muncul dalam konteks apapun, akan selalu bisa digantikan oleh pasangan sinonimnya.

2. Antonimi

Antonimi adalah perlawanan makna. Kata laki-laki berantonim dengan perempuan, mati berantonim dengan hidup,utara berantonim dengan selatan, dsb (Wijana, 2008 : 34).

(11)

a. Antonimi biner dan antonimi nonbiner

Antonimi biner (binery apposition) merupakan lawan kata yang hanya memiliki dua buah kata, seperti hidup dan, laki-laki dan perempuan, serta jantan dan betina. Berbeda dengan antonimi nonbiner yang memiliki anggota pasangan lebih dari dua (Wijana, 2008 : 36). Sebagai contoh dapat dilihat pada kata panas dan dingin yang kemungkinan masih bisa diberi anggota kata yang lain, seperti hangat dan sejuk seperti gambaran pada skala di bawah ini :

Panas hangat sejuk dingin

b. Antonimi bergradasi dan antonimi tidak bergradasi

Antonimi bergradasi adalah perlawanan yang berjenjang atau bertingkat yang berhubungan dengan sifat-sifat relatif makna kata-kata yang berlawanan.

Contoh :

- Air ini lebih a. panas daripada air yang ada di dalam kendi itu b. dingin

Berdasarkan contoh di atas, dapat dilihat bahwa perlawanan kata panas dan dingin merupakan perlawanan yang bertingkat, karena adanya kemungkinan orang mengatakan lebih panas atau lebih dingin (Wijana, 2008 : 37). Sebaliknya, antonimi tak bergradasi merupakan perlawanan tak bertingkat atau tak berjenjang. Contoh dari antonimi tak bergradassi ini dapat dilihat pada kata nenek dan kakek, ayah dan ibu, hidup dan mati, dsb. Pada pasangan kata dari contoh yang telah

(12)

disbutkan sebelumnya tidak akan diperoleh bentuk *lebih nenek atau *lebih kakek, dsb (Wijana, 2008 : 38).

c. Antonimi orthogonal dan antonimi antipodal

Antonimi orthogonal merupakan perlawanan yang oposisinya tidak bersifat diametrik. Contohnya terdapat dalam kata utara yang berantonim secara orthogonal (nondiametris) dengan semua arah mata angin lainnya, kecuali dengan selatan, yakni timur laut, timur, tenggara, barat daya, barat, dan barat laut. Sebaliknya dengan antonimi antipodal yang oposisinya bersifat diametrik, seperti kata utara yang berantonimi antipodal dengan selatan, timur dengan barat, dsb (Wijana, 2008 : 39).

d. Antonimi direksional

Antonimi direksional merupakan perlawanan makna yang oposisinya ditentukan berdasarkan gerak menjauhi dan mendekati suatu tempat. Sebagai contoh adalah kata kemari yang merupakan gerak mendekati pembicara dan ke sana, yang adalah gerak menjauhi pembicara (Wijana, 2008 : 39).

e. Antonimi relasional

Antonimi relasional adalah perlawanan yang oposisinya bersifat kebalikan (converrsness) seperti pada kata suami dan istri, membeli dan menjual, dsb. Apabila di dalam contoh dikatakan bahwa Joko merupakan suami Inen, maka konsekuensi dari kalimat ini adalah Inen merupakan istri Joko (Wijana, 2008 : 40). Dalam membentuk oposisi relasional masih diperlukan tambahan komponen

(13)

semantik jenis kelamin pada beberapa istilah kekerabatan. Sebagai contoh, bila dikatakan bahwa Anton adalah anak saya, maka tidak membawa konsekuensi secara pasti kalau saya adalah ayah Anton, tetapi ada kemungkinan saya adalah ibu Anton.

3. Polisemi

Polisemi merupakan sebuah bentuk kebahasaan yang memiliki berbagai macam makna (Wijana, 2008 : 41). Contohnya dapat dilihat dalam kata b.Ing bachelor yang memiliki berbagai makna menurut the pocket Macquary Dictionary sebagai berikut:

- Orang laki-laki yang belum menikah; - Sarjana muda;

- Satria muda;

- Sejenis binatang berbulu yang masih muda yang dijauhkan dari tempat perkawinan oleh teman jantannya yang lebih tua.

Komponen semantik yang menjadi benang merah dari contoh di atas adalah pada kata muda. Makna pertama, yaitu ‘orang laki-laki yang belum menikah’, disebut sebagai makna primer karena dapat diidentifikasikan tanpa bantuan konteks, sedangkan makna kedua, ketiga, dan keempat disebut dengan makna sekunder karena harus ditelusuri lewat konteks pemakaian.

Wijana mengutip pernyataan dari Stephen Ullman (Ullman via Wijana, 1970 : 159-164) mengenai faktor-faktor penyebab polisemi, antara lain sebagai berikut:

(14)

3. Bahasa figurative (figurative language);

4. Penafsiran kembali pasangan berhomonim (homonym reinterpreted); dan

5. Pengaruh bahasa asing (foreign influence)

4. Homonimi

Homonimi adalah dua kata atau lebih yang memiliki pola bunyi yang sama

namun memiliki makna yang berbeda. Contohnya terdapat pada kata beruang

(kata dasar) yang memiliki tiga kemungkinan makna, yakni ‘sejenis binatang kutub berkaki empat dan pemakan daging’, ‘memiliki uang (ber- plus uang), dan ‘memiliki ruang (ber- plus uang), serta pada kata kopi yang memiliki makna yakni ‘nama pohon yang bijinya dapat digunakan untuk minuman setelah ditumbuk’ (berasal dari b.Ing coffee) dan ‘menyalin atau salinan’ (berasal dari b.Ing copy). (Wijana, 2008 : 56)

Homonimi terbagi menjadi dua jenis, yaitu homografi dan homofoni. Pada homografi persamaannya terletak pada keidentikan tulisan dan ejaan, contohnya pada kata seri yang dapat bermakna ‘sinar’/sari/ dan ‘jilid’/seri/. Sementara homofoni persamaannya terletak pada keidentikan bunyi serta pengucapan, seperti yang bisa dilihat pada kata bang yang dapat bermakna ‘kakak laki-laki’ (dari kata abang), ‘yayasan keuangan’ (dari kata bank), ‘suara azan’ dan ‘tiruan bunyi peti jatuh’.

(15)

5. Hiponomi

Hiponimi adalah hubungan semantik antara makna spesifik dan makna generik, atau antara anggota taksonomi dengan nama taksonomi (Putu Wijana, 2008 : 67, via Kridalaksana, 1993 : 74). Contoh hiponimi terdapat dalam kata sepeda, becak, pesawat terbang, mobil, kereta api, dan sebagainya yang berhiponim dengan kendaraan. Dalam hal ini, sepeda, becak, pesawat terbang, mobil, dan kereta api merupakan anggota taksonomi, sedangkan kendaraan disebut dengan nama taksonomi.

6. Metonimia

Metonimia yaitu kata yang memiliki hubungan asosiatif dengan kata lain. Hal ini bisa dilihat melalui contoh berikut :

- Ia baru saja menerima amplop dari atasannya

- Ia seharusnya ingin membeli buku itu, tetapi lupa membawa dompet Kata amplop dan dompet bisa menggantikan kata uang, karena dalam konteks ini amplop dan dompet masing-masing adalah tempat untuk menaruh uang.

Hubungan kata yang menggantikan dengan kata yang digantikannya memiliki empat jenis hubungan, yakni sebagai berikut:

(16)

1. Hubungan Spasial

Metonimia atas dasar hubungan spasial terbentuk karena kedekatan lokatif kata yang digantikan dengan kata yang menggantikan (Wijana, 2008 :69). Contohnya terdapat pada kata mogok dalam bP, yakni greve, yang diturunkan dari nama sebuah tempat, yaitu Place de Greve yang biasa digunakan oleh para buruh bila akan melakukan mogok kerja. Atau pada kata magnet, sarden, dan kapur barus yang diturunkan dari tempat benda-benda tersebut dibuat atau ditemukan. Kata magnet yang bermakna ‘besi atau baja yang mempunyai daya tarik seperti listrik’ berasal dari Magnesia, sebuah kota kecil di Asia Kecil. Sarden yang bermakna ‘sebangsa ikan laut kecil-kecil yang suka hidup bergerombol’ awalnya ditangkap di pulau Sardinia di Pasifik Timur. Kapur barus yang bermakna ‘damar yang dibentuj menyerupai bola-bola kecil’ dinamakan demikian karena berasal dari kota Barus di Sumatra Utara.

2. Hubungan Temporal

Hubungan temporal merupakan hubungan makna yang terjadi antara kata yang menggantikan dengan kata yang digantikan. Contohnya pada kata dalam b.Ing missa yang sekarang menjadi misa, bermakna ‘mengirim atau membubarkan’, yang dihubungan dengan kalimat yang diucapkan setelah upacara misa berlangsung, yaitu Ite missa est contio ‘Pergilah sekarang, pertemuan telah selesai’. Kata misa saat ini digunakan untuk menunjukkan pertemuan tesebut (Ullman via Wijana, 2008 : 70).

(17)

3. Hubungan Logikal

Hubungan logikal merupakan hubungan kata yang saat ini digunakan yang berhubungan dengan nama penciptanya sebagai tanda penghormatan. Seperti kata silet ‘pisau cukur’ yang diambil dari nama penemunya, yakni Camp Gillete. Atau kata amper yang diambil dari Andre Ampere (Wijana, 2008 : 71).

4. Hubungan Sebagian-Keseluruhan

Menurut Wijana, hubungan sebagian-keseluruhan dibedakan menjadi dua,

yakni hubungan sebagian untuk keseluruhan (pars pro toto) dan hubungan

keseluruhan untuk sebagian (totem pro parte) (Wijana, 2008 : 72). Contoh :

a) Seperti biasanya, kali ini si pincang datang sendirian b) Sekolah kami libur satu minggu

Pada contoh a), kata si pincang mewakili aatau menggantikan individu secara keseluruhan, hal ini termasuk dalam hubungan sebagian untuk keseluruhan. Berbeda dengan hubungan keseluruhan untuk sebagian, di mana keseluruhan entitas hanya digunakan untuk mewakili sebagian benda yang biasanya berasosiasi dengannya, yang dapat dilihat dalam contoh b), di mana kata sekolah dipakai untuk menggantikan orang-orang yang terlibat di dalamnya (murid, guru, pegawai).

(18)

1.6. Metode Penelitian

Penulis menggunakan metode pengumpulan dan analisis data dan dilakukan melalui 3 tahap, yakni tahap pengumpulan data, tahap analisis data, dan tahap penyajian hasil analisis data.

Pengumpulan data dilakukan dengan menggumpulkan data dari kedua bahasa yang akan diteliti, yaitu bP dan b.Ing yang menjadi objek penelitian dalam karya tulis ini. Metode ini dibantu dengan teknik lanjutan berupa teknik catat yaitu dengan mencatat semua data yang ada. Adapun data yang diambil berupa kata dan definisinya. Data diambil dari Français Fondamental, Dictionary of Contemporary English, Kamus Inggris Indonesia serta oxforddictionaries.com.

Setelah terkumpul, data kemudian dipilah-pilah dan diklasifikasikan sesuai dengan tipe-tipe yang akan dianalisis, setelah itu data yang telah dipilah-pilah dimasukkan ke dalam kartu data.

Untuk menganalisis data ini maka akan digunakan teknik hubung banding, yaitu teknik analisis data dengan cara membandingkan satuan-satuan kebahasaan yang dianalisis dengan alat penentu berupa hubungan banding antara semua unsur penentu yang relevan dengan semua unsur satuan kebahasaan yang ditentukan (Jati Kesuma, 2007:53).

Tujuan dari teknik hubung banding ini adalah untuk mencari (a) kesamaan, (b) perbedaan (c) kesamaan hal pokok di antara satuan-satuan kebahasaan yang dibandingkan.

(19)

1.7. Sistematika Penelitian

Untuk melakukan penulisan karya tulis ini penulis akan melakukan sistematika penelitian sebagai berikut :

a) Bab I akan membahas mengenai pendahuluan, yang dimulai dari latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, metode penelitian serta sistematika penelitian;

b) Bab II akan membahas mengenai rumusan masalah serta tujuan penelitian dari karya tulis ini serta menganalisa data-data yang akan diteliti;

c) Bab III berisi kesimpulan dari analisis penelitian data 

Referensi

Dokumen terkait