• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "4. ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

4. ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

4.1 Profil Perusahaan

Tahun 2001, merupakan awal munculnya merek De Boliva. De Boliva memiliki produk unik yang berbeda dari produk lain di pasaran dan berhasil membentuk citra dirinya. De Boliva menawarkan produk low fat ice cream yang segar dan lezat. Memulai bisnis dengan membuka outlet pertama di jalan HR Mohammad Surabaya dengan kapasitas hanya 50 kursi. Keunikan produk

“GREAT TASTE WITH LOW FAT” es krim mampu menarik minat konsumen dengan cepat. Banyaknya permintaan dan respon positif dari konsumen membuat De Boliva mulai berkembang hingga membuka cabang pertamanya di Raya Gubeng 36. .Pada saat ini De Boliva telah berkembang dan memiliki total 5 outlet di Surabaya , diikuti dengan beberapa cabang lain hingga di luar Surabaya.

De boliva juga memiliki cabang waralaba di Surabaya dan Solo. Cabang De Boliva di Surabaya salah satunya adalah De Boliva Surabaya Town Square yang terletak di Jl. Adityawarman no.55, Jawa Timur 60242.

Pada saat ini De Boliva Surabaya Town Square melakukan promosi berupa promosi diskon 50 % lunch saving dan dinner saving bagi pemegang member online De Boliva, dengan cara membeli member online di De Boliva seharga Rp 25.000,00 untuk 1000 pembeli pertama dan selebihnya dikenakan biaya seharga Rp 50.000,00, dimana syarat dan ketentuan ini diberlakukan mulai tanggal 15 Agustus 2015.

4.2 Analisa Data Responden

Kuesioner dibagikan kepada konsumen member yang ada di De Boliva Surabaya Town Square yang mana berjumlah total 55 orang,. Berikut ini akan dibahas tentang profil deskriptif konsumen De Boliva berdasarkan jenis kelamin, pekerjaan, dan pendapatan :

Tabel 4.1 Jenis Kelamin Konsumen

Jenis Kelamin Jumlah Konsumen Persentase (%)

Pria 27 49.1

Wanita 28 50.9

Total 55 100.0

(2)

Berdasarkan Tabel 4.1 dapat diketahui bahwa konsumen mayoritas adalah wanita dengan jumlah 28 orang atau 50.9%, sedangkan konsumen yang berjenis kelamin pria ada berjumlah 27 orang atau 49.1%.

Tabel 4.2 Deskripsi Pekerjaan

Berdasarkan Tabel 4.2 dapat diketahui bahwa mayoritas konsumen memiliki pekerjaan Wiraswasta dengan jumlah sebanyak 26 orang atau 47.3%, sedangkan konsumen yang bekerja sebagai Pelajar / Mahasiswa berjumlah 14 orang (25.5%), konsumen yang bekerja sebagai pegawai negeri berjumlah 8 orang (14.5%), dan sisanya hanya 7 orang (12.7%) konsumen yang bekerja hanya sebagai Karyawan Swasta.

Tabel 4.3 Deskripsi Pendapatan Konsumen

Pendapatan Jumlah

Konsumen

Persentase (%) Rp. 1.000.000,- s.d 1.999.999,- 10 18.2 Rp. 2.000.000,- s.d 3.999.999,- 14 25.5 Rp. 4.000.000,- s.d 7.999.999,- 20 36.4

> 8.000.000,- 11 20.0

Total 55 100.0

Berdasarkan Tabel 4.3 dapat diketahui bahwa mayoritas konsumen mendapat pendapatan sekitar Rp. 4.000.000,- s.d 7.999.999,- dengan jumlah 20 orang atau 36.4%, sedangkan yang berpendapatan berkisar antara Rp. 2.000.000,- s.d 3.999.999,- dengan jumlah 14 orang (25.5%), dan yang berpendapatan lebih dari Rp. 8.000.000,- berjumlah 11 orang (20.0%), dan hanya 10 orang yng berpendapatan antara Rp. 1.000.000,- s.d 1.999.999,-.

Pekerjaan Jumlah Konsumen Persentase (%)

Pelajar / Mahasiswa 14 25.5

Wiraswasta 26 47.3

Pegawai Negeri 8 14.5

Karyawan Swasta 7 12.7

Total 55 100.0

(3)

4.3. Analisis Deskriptif

Gambaran jawaban konsumen didapat dari besarnya interval kelas mean, dengan cara dibuat rentang skala, sehingga dapat diketahui di mana letak rata-rata penilaian konsumen terhadap setiap variabel yang dipertanyakan. Contoh rentang skala mean tersebut ditunjukkan sebagai berikut :

Interval kelas = Nilai Tertinggi – Nilai Terendah = 5 – 1 = 0,8 Jumlah Kelas 5

Dengan hasil interval kelas 0,8, maka dapat disimpulkan kriteria rata-rata jawaban konsumen adalah :

1,00 - 1,80 = Sangat buruk 1.81 - 2,60 = Buruk 2,61 - 3,40 = Cukup 3,41 - 4,20 = Baik

4,21 - 5,00 = Sangat baik

Skala mean tersebut digunakan untuk menilai jawaban pertanyaan yang ada pada kuisioner. Sebagaimana dijelaskan dalam definisi operasional, variabel dalam penelitian ini antara lain Promosi Harga (X), Kepuasan (Z), dan Minat Beli Ulang (Y), hasil analisa deskriptif ditunjukkan sebagai berikut :

4.3.1 Promosi Harga (X)

Tabel 4.4 Hasil Tanggapan Konsumen Terhadap Promosi Harga (X)

No Pernyataan Mean Kategori

1. Diskon 50 % pada lunch saving yang menarik 3.82 Baik 2. Diskon 50 % pada dinner saving yang menarik 3.78 Baik 3. Member card dengan poin yang dapat

ditukarkan dengan voucher yang menarik

3.67 Baik

4. Kupon es krim bagi penumpang Garuda Indonesia yang menarik

3.60 Baik Mean keseluruhan Variabel Promosi Harga (X) 3.72 Baik

Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa pada variabel Promosi Harga, mayoritas konsumen menyatakan Setuju pada pernyataan ”Diskon 50 % pada lunch saving yang menarik” dengan memiliki nilai rata-rata tertinggi sebesar 3.82. Sedangkan secara keseluruhan variabel Promosi

(4)

Harga mendapat nilai rata-rata 3.72. Dengan mengamati hasil tersebut, maka mayoritas dari 55 konsumen masuk kategori baik (dalam interval kelas 3,41 - < 4,20).

4.3.2 Kepuasan (Z)

Tabel 4.5 Hasil Tanggapan Konsumen Terhadap Kepuasan (Z)

No Pernyataan Mean Kategori

1.

Saya puas secara keseluruhan dengan pengalaman menikmati produk dan layanan De Boliva

3.65 Baik

2.

Produk dan layanan De Boliva sudah ideal (Produk makanan, minuman, Layanan, dan Suasana)

3.51 Baik

3.

Saya puas setelah menikmati produk dan layanan De Boliva karena sesuai dengan yang saya harapkan

3.45 Baik

Mean keseluruhan Variabel Kepuasan (Z) 3.54 Baik

Tabel 4.5 menunjukkan bahwa pada variabel Kepuasan mayoritas konsumen menyatakan “Saya puas secara keseluruhan dengan pengalaman menikmati produk dan layanan De Boliva” dengan memiliki nilai rata-rata tertinggi yaitu sebesar 3.65, sehingga masuk dalam kategori baik. Sedangkan secara umum pernyataan variabel Kepuasan mendapat nilai rata-rata dari konsumen sebesar 3.54 yang masuk kategori baik

4.3.3 Minat Beli Ulang (Y)

Tabel 4.6 Hasil Tanggapan Konsumen Terhadap Minat Beli Ulang (Y)

No Pernyataan Mean Kategori

1. Saya akan melakukan pembelian kembali di De Boliva

3.51 Baik

2. Saya akan merekomendasikan produk De Boliva kepada orang lain

3.40 Cukup

3. Saya akan menjadikan De Boliva sebagai pilihan utama

3.42 Baik

4. Saya akan selalu mencari informasi terbaru yang ada di De Boliva

3.47 Baik Mean keseluruhan Variabel Minat Beli Ulang (Y) 3.45 Baik

Berdasarkan tabel 4.6 menunjukkan bahwa pada variabel Minat Beli Ulang mayoritas konsumen yang menyatakan “Saya akan melakukan

(5)

pembelian kembali di De Boliva” yang memiliki nilai rata-rata tertinggi yaitu sebesar 3.51, sehingga masuk dalam kategori baik Sedangkan secara umum pernyataan variabel Minat Beli Ulang mendapat nilai rata-rata dari konsumen sebesar 3.45 yang masuk kategori baik.

4.4 Evaluasi Outer Model

Outer Model sering juga disebut (outer relation atau measurement model) menspesifikasi hubungan antara variabel yang diteliti dengan indikatornya.

Gambar 4.1 Model Struktural Penelitian

Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan PLS didapatkan seluruh indikator dari variabel laten dinyatakan valid tersebut, karena nilai loading factor lebih dari 0.5.

1. Convergent Validity

Convergent validity dari measurement model dengan indikator refleksif dapat dilihat dari korelasi antara score item/indikator dengan skor konstraknya.

Indikator individu dianggap reliable jika memiliki nilai kolerasi diatas 0.7.

Namun demikian pada riset tahap pengembangan skala, loading 0.50 sampai 0.60 masih dapat diterima Ghozali (2002, p. 40). Adapun hasil korelasi antara indikator dengan kontruknya seperti terlihat pada ouput dibawah ini:

(6)

Tabel 4.7 Outer Loading

original sample estimate T-Statistic

Promosi Harga (X)

X.1 0.774 7.874

X.2 0.779 14.171

X.3 0.848 24.579

X.4 0.741 8.731

Kepuasan Konsumen (Z)

Z.1 0.866 19.961

Z.2 0.808 13.194

Z.3 0.806 11.325

Minat Beli Ulang (Y)

Y.1 0.845 24.880

Y.2 0.848 26.017

Y.3 0.880 38.211

Y.4 0.546 3.847

Berdasarkan Tabel 4.7 di atas diketahui nilai outer loading untuk masing- masing indikator pada variabel penelitian semuanya memiliki nilai lebih dari 0,500. Hal ini berarti indikator-indikator yang digunakan dalam penelitian ini telah memenuhi convergent validity. Semakin besar nilai outer loading menunjukkan bahwa kontribusi yang diberikan oleh indikator tersebut juga semakin tinggi.

Variabel Promosi Harga (X), penelitian ini menentukan empat indikator yakni Diskon 50 % pada lunch saving menarik (X1) dengan bobot faktor 0.774;

Diskon 50 % pada dinner saving menarik (X2) dengan bobot faktor 0.779;

Member card dengan poin yang dapat ditukarkan dengan voucher menarik (X3) dengan bobot faktor 0.848; Kupon es krim bagi penumpang Garuda Indonesia menarik (X4) dengan bobot faktor 0.741. Melihat hasil korelasi antara indikator dengan variabelnya telah memenuhi convergent validity karena semua loading factor berada di atas 0.5.

Sedangkan pada variabel Kepuasan (Z), penelitian ini menentukan tiga indikator yakni Saya puas secara keseluruhan dengan pengalaman menikmati produk dan layanan De Boliva (Z1) dengan bobot faktor 0.866; Produk dan layanan De Boliva sudah ideal (Z2) dengan bobot faktor 0.808; Saya puas setelah

(7)

menikmati produk dan layanan De Boliva karena sesuai dengan yang saya harapkan (Z3) dengan bobot faktor 0.806. Variabel ini telah memenuhi convergent validity karena semua loading factor berada di atas 0.5.

Variabel Minat Beli Ulang (Y) yang terdiri dari Empat indikator yakni Saya akan melakukan pembelian kembali di De Boliva (Y1) dengan bobot faktor 0.845; Saya akan merekomendasikan produk De Boliva kepada orang lain (Y2) dengan bobot faktor 0.848 Saya akan menjadikan De Boliva sebagai pilihan utama (Y3) dengan bobot faktor 0.880; Saya akan selalu mencari informasi terbaru yang ada di De Boliva(Y4) dengan bobot faktor 0.546. Variabel ini telah memenuhi convergent validity karena semua loading factor berada di atas 0.5.

2. Discriminant Validity

Setelah melihat convergent Validity dapat diketahui bahwa tiap indikator memiliki nilai yang sesuai, selanjutnya dapat dilakuan pengujian discriminant validity yang bertujuan untuk memastikan setiap indikator yang digunakan disetiap variabel memang cocok untuk mengukur variabel yang bersangkutan.

Discriminant validity diukur dengan menggunakan cross loading. Suatu indikator dikatakan memenuhi discriminant validity jika nilai cross loading indikator terhadap variabelnya adalah yang terbesar dibandingkan terhadap variabel lainnya.

Tabel 4.8 Cross Loading

Promosi Harga (X) Kepuasan Konsumen (Z)

Minat Beli Ulang (Y)

X.1 0.774 0.462 0.410

X.2 0.779 0.425 0.465

X.3 0.848 0.616 0.488

X.4 0.741 0.538 0.526

Y.1 0.371 0.476 0.845

Y.2 0.417 0.538 0.848

Y.3 0.526 0.586 0.880

Y.4 0.534 0.417 0.546

Z.1 0.699 0.866 0.598

Z.2 0.558 0.808 0.624

Z.3 0.386 0.806 0.475

(8)

Berdasarkan nilai cross loading di atas, semua indikator pada variabel Promosi Harga, Kepuasan , dan Minat Beli Ulang memiliki nilai cross loading yang lebih besar dari 0.50. Hasil ini menunjukkan bahwa setiap indikator telah memiliki nilai dan kontribusi yang sesuai. Semakin besar nilai cross loading menunjukkan bahwa kontribusi yang diberikan oleh indikator tersebut juga semakin tinggi. Dengan demikian semua indikator di tiap variabel dalam penelitian ini telah memenuhi discriminant validity.

3. Average Variance Extracted (AVE)

Tabel 4.9 Average variance extracted (AVE)

Average variance extracted

(AVE)

Square Root Average variance extracted

(AVE)

Promosi Harga (X) 0.618 0.786

Kepuasan (Z) 0.684 0.827

Minat Beli Ulang (Y) 0.627 0.792

Berdasarkan Tabel 4.8 dan 4.9 dibawah dapat disimpulkan bahwa semua konstruk dalam model yang diestimasi telah memenuhi kriteria discriminant validity, apabila nilai akar kuadrat dari AVE setiap konstruk lebih besar daripada nilai korelasi antara konstruk. Pada Tabel 4.9 didapatkan nilai AVE untuk variabel Promosi Harga (X) sebesar 0,618; variabel Kepuasan (Z) sebesar 0,684 dan Minat Beli Ulang (Y) sebesar 0,627. Pada batas kritis 0,5 maka indikator- indikator pada masing-masing konstrak telah konvergen dengan item yang lain dalam satu pengukuran.

4. Composite Reliability

Uji lainnya adalah composite reliability dari blok indikator yang mengukur konstruk Ghozali (2002, p.25). Hasil composite reliability dapat dilihat pada Tabel 4.10.

(9)

Tabel 4.10 Composite Reliability

Konstruk Composite Reliability

Promosi Harga (X) 0.866

Kepuasan (Z) 0.867

Minat Beli Ulang (Y) 0.867

Composite reliability adalah baik jika nilainya diatas 0.70. Berdasarkan tabel di atas terlihat nilai composite reliability untuk variabel Promosi Harga, Kepuasan , dan Minat Beli Ulang sudah memiliki nilai yang lebih besar dari 0.70.

Dengan demikian di dalam model struktural variabel tersebut telah memenuhi composite reliability.

4.5 Evaluasi Inner Model

Inner model yang kadang disebut juga dengan (inner relation, structural model dan subtantive theory) menspesifikasi hubungan antar variabel penelitian (structural model).

Nilai model inner dengan PLS dimulai dengan melihat R-Square untuk setiap variabel laten dependen. Perubahan nilai R-Square dapat digunakan untuk menilai pengaruh variabel laten independen tertentu terhadap variabel laten dependen apakah mempunyai pengaruh yang substantif. Variabel laten endogen dalam model struktural yang memiliki hasil R2 sebesar >0.67 mengindikasikan bahwa model “baik”, R2 sebesar 0.33 - 0,67 mengindikasikan bahwa model

“moderat”, R2 sebesar < 0.33 mengindikasikan bahwa model “lemah” (Ghozali, 2009). Adapun output PLS sebagaimana dijelaskan berikut :

Tabel 4.11 Nilai R-Square

Konstruk R-Square

Promosi Harga (X)

Kepuasan (Z) 0.398

Minat Beli Ulang (Y) 0.518

Variabel laten Promosi Harga yang mempengaruhi variabel Kepuasan dalam model struktural memiliki nilai R2 sebesar 0.398 yang mengindikasikan bahwa model adalah “Moderat”. Variabel laten, Promosi Harga dan Kepuasan yang mempengaruhi variabel Minat Beli Ulang dalam model struktural memiliki nilai R2 sebesar 0.518 yang mengindikasikan bahwa model “moderat”.

(10)

Kesesuaian model struktural dapat dilihat dari Q2, sebagai berikut : Q2 = 1 – [(1 – R12

) (1 – R22

)]

= 1 – [(1 – 0.398) (1 – 0.518)]

= 1 – [(0.602) (0.482)]

= 1 – [(0.290)]

= 0.710

Hasil Q2 yang dicapai adalah 0.710, berarti bahwa nilai Q2 di atas nol memberikan bukti bahwa model memiliki predictive relevance.

4.6 Uji Hipotesis

Setelah melakukan penghitungan Q-Square, peneliti melakukan

Bootstrapping dan didapat hasilnya output PLS, pada Gambar 4.2 bootstraping sebagai berikut:

Gambar 4.2 Bootstrapping

Hasil nilai inner weight gambar 4.2 diatas menunjukan bahwa Kepuasan dipengaruhi oleh Promosi Harga. Sedangkan Minat Beli Ulang dipengaruhi oleh Kepuasan, dan Promosi Harga, yang ditunjukkan di pengujian hipotesis.

Untuk menjawab hipotesis penelitian dapat dilihat t-statistic pada Tabel 4.12 berikut ini :

(11)

Tabel 4.12 Tabel Nilai Koefisien Path dan t-hitung

Path

Coefficients T-

Hitung Keputusan Promosi Harga (X) ->

Kepuasan Konsumen (Z)

0.631 5.495 Diterima

Kepuasan Konsumen (Z) -> Minat Beli Ulang

(Y)

0.490 3.965 Diterima

Promosi Harga (X) ->

Minat Beli Ulang (Y) 0.301 2.362 Diterima

Dilihat dari tabel 4.12, dapat diketahui bahwa : 1. Pengaruh Promosi Harga terhadap Kepuasan

Nilai T hitung pengaruh terhadap promosi harga adalah 5.495 yang lebih besar dari t tabel. Hal ini menunjukkan bahwa promosi harga mempunyai pengaruh signifikan terhadap kepuasan. Berdasarkan hasil ini hipotesis pertama penelitian yang menduga bahwa “Promosi Harga mempunyai pengaruh signifikan terhadap Kepuasan di De Boliva Surabaya Town Square” dapat diterima dan terbukti kebenarannya.

2. Pengaruh Kepuasan terhadap Minat Beli Ulang

Nilai T hitung pengaruh kepuasan terhadap minat beli ulang adalah 3.965 yang lebih besar dari t tabel. Hal ini menunjukkan bahwa kepuasan mempunyai pengaruh signifikan terhadap minat beli ulang. Berdasarkan hasil ini hipotesis kedua penelitian yang menduga bahwa “Kepuasan berpengaruh signifikan terhadap Minat Beli Ulang di De Boliva Surabaya Town Square” dapat diterima dan terbukti kebenarannya.

3. Pengaruh Promosi Harga terhadap Minat Beli Ulang dengan Kepuasan sebagai variabel perantara

Dilihat dari nilai koefisien path pada tabel 4.12, Diketahui terdapat hubungan antara promosi harga dan minat beli ulang sebesar 0.301, hubungan antara promosi harga dan minat beli ulang sebesar 0.631, hubungan antara kepuasan dan minat beli ulang sebesar 0.490. Sehingga jika dikalikan 0.631 x 0.490 = 0,309 maka hasilnya lebih besar dibandingkan tanpa melalui kepuasan yang sebesar 0.301 Hal ini mengindikasikan adanya pengaruh yang lebih besar dari keberadaan kepuasan sebagai mediator variabel. Hasil analisis menunjukan bahwa pengaruh

(12)

langsung (direct effect) dari promosi harga menuju minat beli ulang memiliki pengaruh signifikan sehingga dapat dikatakan bahwa kepuasan disini bersifat sebagai part mediation, yang artinya variabel independen mampu mempengaruhi secara langsung variabel dependen tanpa melalui/melibatkan variabel mediator.

Berdasarkan hasil ini hipotesis ketiga penelitian yang menduga bahwa “Apakah Promosi Harga berpengaruh tidak langsung secara signifikan terhadap Minat Beli Ulang dengan Kepuasan sebagai variabel perantara” dapat diterima dan terbukti kebenarannya.

4.7 Pembahasan

Berdasarkan hasil diskriptif pada tabel 4.1, 4.2, dan 4.3 diatas dapat di lihat bahwa mayoritas konsumen De Boliva adalah jenis kelamin wanita sebesar 28 (50,9%) dan mayoritas pekerjaan konsumen adalah pekerja wiraswasta sebesar 26 orang (47.3%), mayoritas pendapatan konsumen adalah konsumen yang pendapatannya Rp. 4.0000.0000,- s/d 7.999.9999,- sebesar 20 orang (36.4%).

Berdasarkan hasil penelitian menggunakan model persamaan structural (PLS), hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tiga hipotesis yang diajukan dapat diterima antara lain: Pertama, untuk variabel pengaruh promosi harga terhadap kepuasan konsumen di De Boliva Surabaya Town Square didapatkan koefisien path sebesar 0.631 dengan t hitung sebesar 5.495 > T tabel sebesar 1,96. Hal ini berarti terdapat pengaruh positif dan signifikan promosi harga terhadap kepuasan konsumen di De Boliva Surabaya Town Square; Kedua, untuk variabel pengaruh kepuasan konsumen terhadap minat beli ulang di De Boliva Surabaya Town Square didapatkan koefisien path sebesar 0.490 dengan t hitung 3.965 > T tabel sebesar 1,96. Hal ini berarti terdapat pengaruh positif dan signifikan kepuasan konsumen terhadap minat beli ulang di De Boliva Surabaya Town Square; Ketiga, untuk variabel pengaruh promosi harga terhadap minat beli ulang dengan kepuasan sebagai variabel perantara di De Boliva Surabaya Town Square

Dilihat dari nilai koefisien path pada tabel 4.12, Diketahui terdapat hubungan antara promosi harga dan minat beli ulang sebesar 0.301, hubungan antara promosi harga dan minat beli ulang sebesar 0.631, hubungan antara kepuasan dan minat beli ulang sebesar 0.490. Sehingga jika dikalikan 0.631 x 0.490 = 0,309

(13)

maka hasilnya lebih besar dibandingkan tanpa melalui kepuasan yang sebesar 0.301 Hal ini mengindikasikan adanya pengaruh yang lebih besar dari keberadaan kepuasan sebagai mediator variabel. Hasil analisis menunjukan bahwa pengaruh langsung (direct effect) dari promosi harga menuju minat beli ulang memiliki pengaruh signifikan sehingga dapat dikatakan bahwa kepuasan disini bersifat sebagai part mediation, yang artinya variabel independen mampu mempengaruhi secara langsung variabel dependen tanpa melalui/melibatkan variabel mediator.

Hal ini berarti kepuasan terbukti sebagai variabel perantara antara promosi harga dan minat beli ulang. Sehingga, promosi harga berpengaruh secara signifikan tidak langsung dengan kepuasan sebagai variabel perantara. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis secara berturut-turut dapat ditunjukkan sebagai berikut :

4.7.1 Pengaruh Promosi Harga Terhadap Kepuasan

Hasil pengelolahan mean pada promosi harga di De Boliva Surabaya Town Square memperlihatkan bahwa promosi harga masuk dalam kategori baik.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa promosi harga mempunyai pengaruh terhadap kepuasan yang signifikan, sehingga hipotesis pertama berbunyi

“Promosi Harga berpengaruh signifikan terhadap Kepuasan Konsumen di De Boliva Surabaya Town Square” dinyatakan diterima. Hasil penelitian ini sejalan juga dengan penelitian Villarejo-Ramos dan Sanchez-Franco (2005) yang mengemukakan bahwa promosi bukan berarti menurunkan kualitas, promosi memiliki efek positif pada persepsi kualitas dengan adanya kualitas yang baik akan memberikan kepuasan konsumen. Hasil penelitian ini didukung juga oleh Studi Khan et., al (2012) pada restoran cepat saji memberikan hasil bahwa terdapat pengaruh positif antara promosi harga terhadap kepuasan konsumen, sehingga dengan penggunaan promosi harga diharapkan memberikan dampak positif pada kepuasan konsumen. Dengan pemberian promosi harga yang menarik maka tingkat kepuasan konsumen akan semakin tinggi. Jadi, penelitian yang dilakukan saat ini memiliki kesimpulan yang sama dengan penelitian-penelitian terdahulu, yaitu promosi harga berpengaruh signifikan terhadap kepuasan.

Apabila ditinjau berdasarkan percakapan informal peneliti dengan 5 konsumen yang menyatakan setuju dengan promosi harga, maka konsumen akan merasa

(14)

puas ketika makan di De Boliva. Dari hasil pengelolahan mean pada promosi harga didapat bahwa pemberian diskon 50% pada lunch saving dan dinner saving paling banyak diminati oleh konsumen De Boliva. Hal itu membuktikan bahwa dengan promosi harga yang berhubungan langsung dengan potongan harga lebih banyak diminati oleh pengunjung De Boliva, sehingga promosi harga sangat penting untuk meningkatkan kepuasan konsumen.

4.7.2 Pengaruh Kepuasan Terhadap Minat Beli Ulang

Hasil pengelolahan mean pada kepuasan di De Boliva Surabaya Town Square memperlihatkan bahwa kepuasan masuk dalam kategori baik. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa kepuasan mempunyai pengaruh terhadap minat beli ulang yang positif, sehingga hipotesis kedua berbunyi “Kepuasan Konsumen berpengaruh signifikan terhadap Minat Beli Ulang di De Boliva Surabaya Town Square” dinyatakan diterima. Dari hasil pengelolahan mean pada kepuasan di De Boliva Surabaya Town Square, konsumen yang puas secara keseluruhan akan melakukan pembelian ulang, yang artinya bahwa semakin tinggi kepuasan konsumen makan semakin tinggi pula minat beli ulang.

Hasil penelitian ini sejalan dengan studi Oh (2000) melakukan penelitian terhadap restoran fine dining dan menemukan bahwa kepuasan konsumen adalah penentu signifikan dari kedua pra-pembelian dan perilaku pasca pembelian.

Apabila konsumen merasa puas, maka dia akan menunjukkan besarnya kemungkinan untuk kembali membeli produk yang sama. Konsumen yang puas juga akan cenderung memberikan referensi yang baik terhadap produk kepada orang lain, tidak demikian dengan konsumen yang tidak puas. Proses itu akan terus berulang sampai konsumen merasa terpuaskan atas keputusan pembelian produknya. Hasil penelitian ini didukung juga oleh pendapat Anderson and Sullivan (1993) menemukan bahwa tingkat kepuasan konsumen yang tinggi mengurangi keinginan konsumen untuk berpindah restoran sehingga Minat beli ulang akan meningkat. Hal ini sesuai dengan kenyataan di lapangan dimana konsumen yang puas, maka akan melakukan pembelian ulang didukung dengan observasi yang dilakukan peneliti, sehingga kepuasan sangat penting untuk meningkatkan minat beli ulang.

(15)

4.7.3 Pengaruh Promosi Harga terhadap Minat Beli Ulang dengan Kepuasan sebagai Variabel Perantara

Hasil pengelolahan mean pada minat beli ulang di De Boliva Surabaya Town Square memperlihatkan bahwa minat beli ulang masuk dalam kategori baik.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa promosi harga berpengaruh tidak langsung terhadap minat beli dengan kepuasan sebagai variabel perantara sehingga hipostesis ketiga berbunyi “Promosi Harga berpengaruh tidak langsung secara signifikan dengan Kepuasan sebagai variabel perantara” dinyatakan diterima. Diketahui terdapat hubungan antara promosi harga dan minat beli ulang sebesar 0.301, hubungan antara promosi harga dan minat beli ulang sebesar 0.631, hubungan antara kepuasan dan minat beli ulang sebesar 0.490. Sehingga jika dikalikan 0.631 x 0.490 = 0,309 maka hasilnya lebih besar dibandingkan tanpa melalui kepuasan yang sebesar 0.301 Hal ini mengindikasikan adanya pengaruh yang lebih besar dari keberadaan kepuasan sebagai mediator variabel.

Hasil analisis menunjukan bahwa pengaruh langsung (direct effect) dari promosi harga menuju minat beli ulang memiliki pengaruh signifikan sehingga dapat dikatakan bahwa kepuasan disini bersifat sebagai part mediation, yang artinya variabel independen mampu mempengaruhi secara langsung variabel dependen tanpa melalui/melibatkan variabel mediator. Hal ini berarti kepuasan terbukti sebagai variabel perantara antara promosi harga dan minat beli ulang. Sehingga, promosi harga berpengaruh tidak langsung secara signifikan dengan kepuasan sebagai variabel perantara

Hal ini sesuai dengan dengan penelitian yang dilakukan Huang dan Shanklin (2008) pada restoran menemukan bahwa kepuasan sebagai mediator antara promosi harga dan minat beli ulang. Hal ini didukung juga oleh studi penelitian Tam (2000) mengidentifikasi kepuasan sebagai variabel perantara antara promosi harga dan minat beli ulang di restoran. Jheng (2006) juga menemukan bahwa kepuasan pada coffee shop sebagai mediator antara promosi harga dan minat beli ulang. Minat beli ulang dapat ditingkatkan dengan promosi harga yang menarik tetapi akan lebih baik jika konsumen merasa puas maka akan melakukan pembelian ulang, sehingga kepuasan sangatlah penting untuk meningkatkan minat beli ulang.

Gambar

Tabel 4.1 Jenis Kelamin Konsumen
Tabel 4.2 Deskripsi Pekerjaan
Tabel 4.4 Hasil Tanggapan Konsumen Terhadap Promosi Harga (X)
Tabel 4.5 Hasil Tanggapan Konsumen Terhadap Kepuasan (Z)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasa rkan data yang diperole h, dapat dilihat bahwa dari 9 laki-laki dari kelompok pasangan usia subur yang infertil didapatkan data bahwa 1 orang laki-laki

Model Kesuksesan Sistem Informasi DeLone dan McLean merupakan model penelitian yang mengukur kesuksesan sebuah sistem informasi dari tiga aspek yaitu kualitas

Sidik ragam persen hidup tanaman pada uji kombinasi spesies-provenan jenis-jenis shorea penghasil tengkawang sampai dengan umur 18 bulan di Gunung Dahu, Bogor (Jawa Barat) disa-

Pasien anak umur kurang dari 14 tahun yang memenuhi kriteria klinis demam dengue (DD), demam berdarah dengue (DBD), dan sindrom syok dengue (SSD) menurut WHO (1997) disertai

1. Perusahaan dapat mengharapkan kelangsungan hidup sebagai tujuan utamanya jika terjadi kelebihan kapasitasnya, persaingan yang sangat sengit atau keinginan konsumen

Salah satu tanaman yang memiliki aktivitas antibakteri adalah bawang putih (Allium sativum L), Aplikasi bawang putih pada wajah juga mempunyai beberapa manfaat

bersama-sama dan membentuk satu kesatuan, saling berinteraksi dan bekerjasama antara bagian satu dengan yang lainnya dengan cara-cara tertentu untuk melakukan fungsi

Pemilihan themes yang kurang sesuai dapat menyebabkan tingkat penggunaan cpu pada hosting akan cukup tinggi, terutama jika themes yang di gunakan tidak compatible dengan versi