Seminar Nasional dalam Rangka Dies Natalis ke-46 UNS Tahun 2022
“Digitalisasi Pertanian Menuju Kebangkitan Ekonomi Kreatif”
Uji Fisika Pupuk Azolla Coated N-Slow Release Micron Compound dan Uji Agronomis pada Kailan
Purwandaru Widyasunu, Hana Hanifa, Tania Nursetya Diningrum, Almas Sabrina, dan Muhamad Fariz Altrius
Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, UNSOED
Email: [email protected]
Abstrak
Tanaman memerlukan N dalam medianya; pupuk urea sumber N cepat hilang karena menguap dan terlindikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat efektif dari pupuk Azolla slow release terhadap produksi tanaman kalian. Uji agronomis tanaman kailan menggunakan tanah Inceptisol. Faktor uji agronomis yaitu lima formula pupuk ditambah perlakuan F0 (pupuk N, P, K) sebagai kontrol. Penelitian uji agronomis tanaman kailan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan satu faktor berupa formula pupuk dan empat kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) formula I 60% N-urea (U), 10% Azolla microphylla (Am), 10% local montmorillonite (M),10% Gum Rosis (GR), 10% asam humat (HA), formula II (70% U, 10% Am, 10% M, 10% GR), dan formula III (70% U, 10% Am, 10% M, 10% AH), meluruh cepat dengan meningkatnya suhu penangasan air; Formula IV (70% U, 10% Am, 10%
GR, 10% AH) dan formula V (70% U, 20% Am, 10% M) konsisten pada suhu rendah namun cepat meluruh pada kisaran peningkatan dari suhu 40°C ke 70°C. Pengamatan peluruhan pada suhu ruangan tropika 28°C cenderung tidak meluruh, (2) semua pupuk formula luruh dari 4,0 cm ke kisaran ketebalan 1,20 - 3,0 cm; berarti luruh 25 - 70 %, (3) formula F1 lepas-lambat N- totalnya paling stabil dan lama, (4) semua formula berpengaruh terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, dan luas daun, dan (5) pemberian formula pupuk N-urea yang dikelat Azolla dan bahan lokal lainnya dapat meningkatkan produksi tanaman kalian.
Kata kunci: formula pupuk nitrogen, pelindian, tanaman kailan
Pendahuluan
Lahan pertanian di Indonesia semakin tidak sehat karena penggunaan pupuk kimia yang berlebihan. Residu pupuk kimia yang sering digunakan oleh petani menyebabkan pencemaran lingkungan dan juga hilangnya unsur hara pada tanah. Menurut Naiborhu (2021), pemupukan yang berlebihan dapat menimbulkan masalah bagi tanaman yang dibudidayakan seperti keracunan, rentan hama penyakit, dan menimbulkan pencemaran. Usaha yang perlu dilakukan untuk meningkatkan produksi tanaman yaitu dengan melakukan pemupukan yang efektif guna
mengganti kehilangan unsur hara di dalam tanah. Pemberian pupuk nitrogen umumnya kurang efisien, karena N dalam tanah bersifat mobile. Kondisi mobile menyebabkan N mudah hilang dari tanah karena tercuci (leaching) atau hilang melalui penguapan, sehingga mengurangi ketersediaan N bagi tanaman. Pupuk nitrogen yang disebarkan pada tanaman tidak semua dapat diserap oleh tanaman. Sekitar 50% nitrogen dari pupuk akan hilang ke lingkungan dan tidak dapat diserap oleh tanaman (Muratore, 2021).
Peningkatan efisiensi pemupukan nitrogen dapat dilakukan dengan menggunakan pupuk nitrogen slow release (lepas lambat). Penggunaan nitrogen slow release fertilizers termasuk terobosan baru dalam penyediaan unsur hara nitrogen bagi tanaman. Pupuk ini dapat melepaskan hara N bertahap sesuai kebutuhan tanaman, meminimalisasi pencucian, sehingga meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk. Pupuk ini bersifat ramah lingkungan karena mengurangi kehilangan N dan tidak meninggalkan residu (Kaavessina, 2021).
Keberhasilan pembuatan pupuk N-slow release memerlukan perlindungan pupuk N- urea menggunakan polimer organik dan mineral. Pelapisan pada pupuk menggunakan polimer organik bertujuan untuk mengubah karakteristik kelarutan nutrisi dan mengontrol pelepasan nutrisinya sehingga meningkatkan efektifitas pemakaian pupuk (Blessington et al., 2017).
Polimer organik dan mineral yang digunakan pada formula pupuk percobaan ini yaitu dari kombinasi biomassa Azolla microphylla dengan bahan lokal (asam humat, gondorukem atau gum-rossin, dan montmorillonite).
Rendahnya produktivitas kailan bisa terjadi karena menurunnya kualitas tanah yang disebabkan hilangnya unsur hara di dalam tanah. Berdasarkan hal tersebut perlu dilakukan peningkatan produktivitas tanaman kailan; salah satu cara dapat ditempuh dengan menyediakan hara N dalam tanah menggunakan pupuk nitrogen slow release. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) sifat peluruhan lima formula (water-bath) pupuk nitrogen slow release, (2) kelambat-lepasan unsur hara N pada formula pupuk dengan metode pelindian, (3) mengetahui pengaruh dan formula terbaik dalam pertumbuhan dan hasil tanaman kalian setelah dilakukan pengujian dengan metode pelindian.
Metode
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Tanah dan di screen house Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanah Inceptisol, pupuk Azolla microphylla coating, asam humat, montmorilonit, gondorukem, urea dan pupuk NPK sebagai kontrol (F0). Formulasi pupuk sebagai berikut:
FI = 60% Urea, 10% Azolla microphylla, 10% Monmorilonit, 10% Gondorukem, 10%
Asam humat
FII = 70% Urea, 10% Azolla microphylla, 10% Monmorilonit, 10% Gondorukem F III = 70% Urea, 10% Azolla microphylla, 10% Monmorilonit, 10% Asam humat F IV = 70% Urea, 10% Azolla microphylla, 10% Gondorukem, 10% Asam humat F V = 70% Urea, 20% Azolla microphylla, 10% Monmorilonit
Penelitian pengujian agronomis disusun dengan rancangan dasar RAL (Rancangan Acak Lengkap) yang memiliki 1 faktor perlakuan, yaitu 5 macam formula pupuk nitrogen yang dikelat bahan lokal dan 1 macam kontrol (berupa pupuk N, P, dan K). Percobaan tersebut terdiri dari 6 taraf perlakuan, diulang 4 kali, sehingga terdapat 24 unit percobaan. Data analisis menggunakan Analysis of Varians (ANOVA), apabila berbeda nyata dilakukan uji lanjut DMRT (Duncan Multiple Range Test) pada taraf 5%.
Hasil dan Pembahasan
Peluruhan Lima Formula Pupuk Azolla Coated N-Slow Release Micron Compound Uji penangasan air dilakukan menggunakan water bath, fenomena yang kemudian terjadi adalah bertambah tebal sedikit; kemudian lambat sampai cepat endapan pupuk mengalami peluruhan. Peluruhan disebabkan karena pelarutan kinetik fisik pupuk Am Coated N-Slow Release Fertilizer Micron Compound. Peluruhan pupuk Formula 60% urea dengan tambahan asam humat sangat cepat luruh pada suhu 70°C, pada suhu yang lebih rendah Formula tersebut lebih lambat meluruh. Gambar 1. bagian A menunjukkan keluruhan pada temperatur 20-30°C tidak menyebabkan pupuk meluruh cepat. Namun demikian pembuatan Formula ini menyebabkan kandungan N-totalnya hanya tinggal pada kisaran 21-27 %.
Pupuk Formula 70% urea tanpa asam humat pada Gambar 1. bagian B dengan kisaran kandungan N-total 31-34% meluruh cepat pada suhu penangas air pada suhu ruangan; meluruh cepat hingga menyisakan endapan setebal 1 cm saja dengan warna peluruhan gelap dalam gelas beaker. Hal tersebut menunjukkan kinetika luruh fisik sangat cepat begitu menyentuh air dengan suhu ruangan. Formula tanpa campuran asam humat ini bersifat lebih mudah terurai partikel mikronnya dibandingkan dengan menggunakan humat.
(A) (B)
Gambar 1. Kinetika peluruhaan Formula pupuk Am coated slow release fertilizer micron compound dengan 60% urea dan 10% asam humat (A) dan formula 70% urea
tanpa asam humat (B) (graph by SPSS)
Ada fenomena sangat menarik pada Formula tanpa gondoruken yang ditangasi pada suhu air waterbath 70° C, yaitu terjadi penggelembungan endapan mulai hari ke-1 s/d hari ke- 2 dan drastis menurun dari hari ke-2 ke hari ke-3 (Gambar 2. bagian A). Peniadaan gondorukem dalam formula, melalui hasil pengamatan tidak mempengaruhi kecepatan peluruhan pupuk micron-compound. Namun bilamana gondorukem dipadukan dengan bahan humat, maka terjadi peningkatan ketahanan pupuk Formula tanpa monmorillonite untuk lama menjadi larut dalam waterbath yang ditingkatkan ke suhu 40-70° C (Gambar 2. bagian B).
(A) (B)
Gambar 3. Kurva kinetika fisik peluruhan pupuk Am coated slow release fertilizer micron compound tanpa Gondoruken (A) dan tanpa monmorillonite (B) (graph by SPSS)
Formula tanpa gondoruken dan tanpa monomorillonite memiliki kelebihan masing- masing (Gambar 3), dibandingkan dengan formula 60% urea dan semua material coated lengkap yang menunjukkan penurunan tebal endapan yang cepat pada pengujian peluruhan pada suhu 60° C dan 70°C. Inti sukses pengembangan pupuk slow-release adalah terletak pada karakter bahan polimer pelindungnya, baik dari bahan organik maupun bahan mineral (Suppan, 2013). Karakter pelindung ini dikatakan oleh Zou et al. (2015), mempengaruhi keefisiensian pelepasan hara pupuk terutama N.
Gambar 4. Kurva kinetika fisik peluruhan pupuk Am coated slow release fertilizer micron compound tanpa mineral coating gondoruken dan asam humat (graph by SPSS) Kinetika peluruhan pupuk Formula tanpa coating gondoruken dan asam humat (Gambar 4.) hampir sama dengan peluruhan pada Formula tanpa gondoruken, endapan sangat lemah pada suhu ruang (28-30°C). Melihat fenomena ini maka bahan biomassa Azolla microphylla dan monmorillonite merupakan bahan baik untuk membuat pupuk N-slow release skala mikron. Sedangkan peluruhan pada suhu yang lebih tinggi yaitu 40-70°C “seperti”
mendapatkan energi guna bertahan sehingga tidak mudah meluruh, artinya pupuk micron compound slow release menguat partikelnya pada suhu dinaikkan sampai 40°C, namun meluruh lebih cepat pada suhu di bawahnya.
Hasil studi Zou et al. (2015) menunjuk pada pengaruh temperatur media terhadap perubahan laju kelarutan N yang didahului oleh “efek perusakan” struktur polimer pelindungnya. Pada penelitian ini diperoleh hasil peluruhan tajam pada hari ke-1 s/d hari ke-3.
Pada saat pergantian ketajaman pelepasan N-urea, hal tersebut menunjukkan adanya “lag phase” yang merujuk adanya “coating” yang sangat lekat dengan urea granular memperlambat laju infiltrasi air ke dalam coating sehingga menunda waktu pelarutan hara N (Zou et al., 2015).
Kondisi suhu tanah yang relatif tinggi namun lembab berpeluang akan menjadi pemicu pelarutan urea dengan cepat. Perkiraan teoritik inilah yang menjadi dasar perhatian kita mengapa pupuk urea harus diberikan pelapisan polimer organik/mineral atau kombinasinya.
Zou et al. (2015) juga mendapatkan hasil penelitian, bahwa semakin tinggi temperatur inkubasi media maka semakin cepat N-urea terlepas; sedangkan material mengandung polimer organik dapat meningkatkan kemampuan tanah mempertahankan kelembabannya. Arti praktikalnya adalah semua formulasi pupuk mengandung bahan organik (polimer dan non polimer) yang mampu mempertahankan kelembaban tanah, namun bilamana dalam tanah di mana akar tanaman berkembang jenuh dengan air maka pupuk micron-compound N slow fertilizer akan cepat mengalami perusakan lapisan “coated”nya/pelapisannya.
Pelindian Lima Formula Pupuk Azolla Coated N-Slow Release Micron Compound Pengamatan pelindian lima formula pupuk Azolla coated N-slow release micron compound disajikan pada Tabel 1. N-total terlindi dianalisis tiap dua hari sekali, sehingga pengamatan dan analisis berjalan selama 14 hari. Hasil uji DMRT menunjukkan bahwa pengujian pelindian formula pupuk nitrogen yang dikelat bahan lokal memberikan pengaruh sangat nyata pada pelindian ke-2, pelindian ke-6, dan pelindian ke-7.
Tabel 1. Hasil rerata N-Total (%) pelindian pada formula pupuk nitrogen yang dikelat bahan lokal
Perlakuan Pelindian N-Total (%) ke-
1 2 3 4 5 6 7
F I 0,15a 0,09b 0,02a 0,09a 0,56b 0,21b 0,28b
FII 0,14a 0,18a 0,08a 0,66a 0,96a 0,89a 1,25a
F III 0,42a 0,12b 0,04a 0,73a 0,49b 1,15a 1,29a F IV 0,33a 0,18a 0,04a 0,21a 0,27b 0,11b 1,17a
F V 0,11a 0,16a 0,03a 0,36a 0,46b 1,16a 1,16a
Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama pada kolom yang sama menunjukan tidak berbeda nyata menurut uji DMRT pada taraf 5 %
Berdasarkan Tabel 1. lima formula pada hasil pelindian ke-1, ke-3, dan ke-4 tidak terdapat beda nyata. Hal ini disebabkan mekanisme pada tahap awal pelindian belum banyak fisik pupuk N-slow release yang terlindi dan proses nitrifikasi nitrogen pada formula pupuk belum terjadi secara maksimal. Menurut Muratore (2021), nitrat yang dihasilkan dari proses nitrifikasi memiliki muatan negatif sehingga lebih mudah terlindi (leaching). Pelindian N hari ke-5 sampai hari ke-7 mulai nyata beda N-total terlindi antar lima formula; hal ini disebabkan karena air untuk melindi (pencucian) mulai aktif melindikan N-tersedia. Gerakan air ke bawah ini dapat membawa hara nitrogen yang berasal dari pupuk keluar pada media pelindian pasir.
Kaavessina (2021), menyatakan bahwa pelindian nitrat lebih sering terjadi di dalam tanah pasiran.
Gambar 5. Grafik Rata-Rata N-Total (%) terlindi dari lima formula pupuk pada pegujian pelindian metode kolom
Berdasarkan Gambar 5, menunjukkan bahwa terjadi penurunan maupun kenaikan hasil N-total yang terlindi pada lima formula pupuk nitrogen yang dikelat bahan lokal. Rata-rata hasil pelindian bervariasi selama 7 kali pelindian (Tabel 2). Arti praktikalnya adalah bahwa N masih tersedia karena tidak terlindi dalam jumlah besar-besaran dalam 14 hari proses pelindian.
Berbeda dengan pada uji peluruhan, yang mana Formula 60% urea dan mineral coating lengkap paling cepat meluruh; pada uji lindi (Gambar 5), formula tersebut paling stabil selama 7 kali pelindian dibandingkan dengan formula pupuk nitrogen lainnya. Formula dengan coating lengkap ini merupakan formula pupuk nitrogen slow release terbaik. Hal ini sesuai dengan pendapat Wang et al. (2011), bahwa teknologi pupuk slow release dengan pelindung bahan lokal memiliki kemampuan untuk memungkinkan dikelola karena mampu melepaskan hara yang terkontrol dengan durasi pelepasan yang bisa disesuaikan.
Kandungan formula 60% Urea, 10% Azolla microphylla, 10% Montmorillonite, 10%
Gondorukem, 10% Asam humat. Penggunaan azolla yang dikombinasikan dengan pupuk N anorganik dapat menjadi alternatif untuk mengamankan/ mengkonservasi unsur hara N pupuk urea. Azolla juga memiliki kandungan unsur hara N yang cukup tinggi (Putra dan Soenaryo, 2013). Asam humat dan gondorukem keduanya memiliki peran dalam pelapisan pupuk nitrogen. Menurut Hermanto et al. (2012), saat ini asam humat telah dimanfaatkan sebagai pelengkap pupuk yang dapat meningkatkan pemanfaatan pupuk nitrogen dan meningkatkan pertumbuhan tanaman.
Nilai pH 𝐇𝟐𝐎 dan pH KCl Inceptisol
Berdasarkan Tabel 3. analisis pH awal diperoleh hasil pH berkisar 5,5; dalam hal ini akibat Formula coating lengkap terjadi peningkatan pH sampai 6,03. Kenaikan pH tidak nyata mungkin disebabkan tanah yang digunakan adalah Inceptisol yang memiliki pH netral.
Menurut Sudirja (2007), tanah inceptisol merupakan ordo tanah yang belum berkembang dan memiliki indikator kemasaman pH sebesar 4,5-6,5.
Tabel 3. Hasil pengukuran pH pada tanah aplikasi formula pupuk nitrogen yang dikelat bahan lokal pada pertumbuhan kailan
Perlakuan pH H2O pH KCl
F0 (Kontrol) 5,94a 5,29a
F I 6,03a 5,22a
FII 5,96a 5,15a
F III 5,83a 5,11a
F IV 5,75a 5,08a
F V 5,92a 5,07a
Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama pada kolom yang sama menunjukan tidak berbeda nyata menurut uji DMRT pada taraf 5 %
Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kailan
Berdasarkan hasil analisis sidik ragam (Tabel 4), formula pupuk nitrogen yang dikelat bahan lokal berpengaruh nyata terhadap variabel pengamatan tinggi tanaman, jumlah daun, dan luas daun. Sementara, pada variabel pengamatan bobot segar tanaman dan bobot segar akar tidak berpengaruh nyata. Menurut Eki et al. (2016), pemberian pupuk nitrogen mampu mensuplai unsur hara untuk pertumbuhan vegetatif pada variabel pengamatan tinggi tanaman.
Adanya kandungan urea yang dikelat dengan bahan lokal seperti azolla dan asam humat mampu mengurangi hilangnya unsur hara N akibat penguapan dan juga pencucian. Menurut Briljan (2014), azolla sebagai kombinasi formula pupuk nitrogen slow release memiliki kemampuan untuk menyediakan kebutuhan hara bagi tanaman, khususnya kebutuhan unsur hara N. Sementara pemberian asam humat dalam pupuk mampu meningkatkan proses metabolisme dalam tanaman melalui peningkatan laju fotosintesis yang mempengaruhi pertumbuhan organ-organ seperti batang, daun dan akar lebih baik.
Tabel 4. Hasil rata-rata variabel pengamatan pertumbuhan dan hasil tanaman kailan dengan pemberian aplikasi formula pupuk nitrogen yang dikelat bahan lokal
Perlakuan
Tinggi Tanaman
(cm)
Jumlah Daun (helai)
Luas Daun (cm2)
Bobot Segar Tanaman (g)
Bobot Segar Akar
(g)
F0 (kontrol) 23b 7ab 95,14ab 86,70a 14,45a
F I 28,75a 8a 129,26a 112,47a 15,36a
FII 27,13ab 6,5b 124,74a 101,06a 17,70a
F III 29a 6,25b 121,79a 87,65a 13,09a
F IV 29a 8a 99,47ab 107,7a 16,87a
F V 22,2b 6,25b 60,40b 71,37a 7,96a
CV (%) 13,582 11,904 27,938 33,233 61,410
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama pada kolom yang sama menunjukan tidak berbeda nyata menurut uji DMRT pada taraf 5 %
Pembentukan daun tidak terlepas dari peranan unsur hara. Unsur hara N dan P merupakan unsur hara yang berperan dalam pembentukan sel-sel baru penyusun senyawa organik dalam tanaman yang mempengaruhi pertumbuhan vegetatif tanaman, khususnya peningkatan jumlah daun (Haryadi, 2015). Pada perlakuan dengan coating lengkap merupakan formula pupuk yang memiliki kelambat-lepasan unsur hara N terbaik. Karena itu, perlakuan ini mampu menahan terjadinya pelindian hara sehingga hara tetap tersedia di tanah untuk diserap tanaman. Semua perlakuan formula pupuk tidak berpengaruh nyata terhadap variabel pengamatan bobot segar akar. Semua perlakuan formula pupuk tidak berpengaruh nyata terhadap variabel pengamatan bobot segar akar. Hal ini bisa saja disebabkan karena formula pupuk dengan dosis yang
ditentukan untuk tanaman kailan sudah memberikan perkembangan yang maksimal pada pertumbuhan akar.
Kesimpulan dan Saran
Pemberian perlakuan formulasi yang berbeda-beda ditemukan formula pupuk Azolla Coated N-Slow Release Fertilizer Micron Compound dengan peluruhan paling lambat, tingkat slow-release paling stabil, dan pengkhelat nitrogen paling baik adalah formula dengan 60%
urea dan bahan coating lengkap. Variabel pertumbuhan tanaman menunjukkan dampak yang signifikan beda nyata kecuali pada hasil produksi bobot segar tanaman. Saran penelitian lebih lanjut aplikasi pada ordo tanah lain untuk tanaman sayuran, padi, dan palawija.
Daftar Pustaka
Blessington, T. M., D. L. Clement, dan K. G. Williams. 2017. Slow Release Fertilizers. Dalam:
Muhammad, Yerizam (Ed.), Modifikasi Urea Menjadi Pupuk Lepas Lambat. Hal: 226- 227. Politeknik Negeri Sriwijaya, Palembang.
Briljan, S. 2014. Pengunaan Azolla untuk pertanian berkelanjutan. Jurnal Ilmiah Solusi. 1(2):
72-81.
Haryadi, D., H. Yetti, dan S. Yoseva. 2015. Pengaruh pemberian beberapa jenis pupuk terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kailan (Brassica alboglabra L.) (Doctoral dissertation, Riau University).
Hermanto, Dony, Ni Komang Tri Dharmayani, dan Rina Kurnianingsih. 2012. Pengaruh Asam Humat Sebagai Pelengkap Pupuk Terhadap Ketersediaan dan Pengambilan Nutrien.Lembaga Penelitian Universitas Mataram, Lombok. Hal: 1128-1134.
Ismail. 2006. Fisiologi Tumbuhan. Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Makassar, Makassar.
Kaavessina, M., S. Distantina, and E. N. Shohih. 2021. A slow-release fertilizer of urea prepared via melt blending with degradable poly (lactic acid): formulation and release mechanisms. Polymers, 13(11), 1856.
Muratore, C., L. Espen, dan B. Prinsi. 2021. Nitrogen uptake in plants: The plasma Membrane Root Transport Systems from a Physiological and Proteomic Perspective. Plants, 10(4), 681.
Naiborhu, S. A. A., A. A. Barus, dan E. Lubis. 2021. Pertumbuhan dan hasil tanaman kailan dengan pemberian beberapa kombinasi jenis dan dosis pupuk bokashi. Jurnal Ilmiah Rhizobia. 3(1): 58-66
Pramitasari, H. E., T. Wardiyati, dan M. Nawawi. 2016. Pengaruh Dosis Pupuk Nitrogen dan Tingkat Kepadatan Tanaman Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kailan (Brassica oleraceae L.) (Doctoral dissertation, Brawijaya University).
Putra, F. D., Soenaryo, dan S.Y. Tyasmoro. 2013. Pengaruh pemberian berbagai bentuk Azolla dan pupuk N terhadap pertumbuhan dan hail tanaman jagung manis. J. Produksi Tanaman. 1(4).
Sudirja, R. 2007. Standar Mutu Pupuk Organik dan Pembenah Tanah. Modul Pelatihan Pembuatan Kompos. Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI. Balai Besar Pengembangan dan Perluasan Kerja. Lembang.
Wang, S., A. K. Alva, Y. Li, and M. Zhang. 2011. A rapid technique for prediction of nutrient release from polymer coated controlled release fertilizers. Open Journal of Soil Sceience.
1(2): 40-44.