commit to user 5
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka 1. Bunga Rosella
a. Pengertian
Bunga Rosella memiliki nama latin Hibiscus sabdariffa. Divisi Spermatophyta, sub divisi Angiospermae, kelas Dicotyledoneae, bangsa Malvales, suku Malvaceae, marga Hibiscus . Tinggi tanaman 50-300 cm.
Batang berkayu , lurus, bulat, berduri, bercabang, dan warnanya hijau keunguan. Daun tunggal, tersebar, bentuknya bulat telur, pangkalnya membulat dan ujungnya tumpul, tepi daun beringgit, panjang daun 5-7 cm, lebar 4-6 cm dengan panjang tangkai 5-9cm, pertulangan menjari, warnanya merah.
Bunga tunggal, bentuknya seperti terompet, terdapat di ketiak daun dan ujung batang, kelopak bunga berbagi lima dan berlekatan pada pangkal, warna benang sari kuning, tangkai putiknya merah. Buah kotak bentuknya kerucut, warnanya merah kecoklatan. Bentuk biji ginjal, warnanya putih bila masih muda dan coklat bila sudah tua. Akar tunggang, dan berwarna putih (Herbie, 2015). Rosella tumbuh baik di daerah tropis sampai subtropis. Rosella adalah sayuran yang berasal dari Afrika Barat dan ada di semua wilayah Asia, Australia, dan di negara tropis lainnya (Triyanto, 2014).
commit to user b. Kandungan
Bunga Rosella mengandung antocyanin, gossipetin, glucoside hibicin , riboflavin, niasin, protein, kalsium, magnesium, kalium, besi, asam askorbat,asam sitrat, beta carotene, omega 3, asam glycolic, ekstrak saliks, glicosida cardiac, flavonoid, saponin, alkaloid, sardenoleda, hibiscetine, vitamin C, vitamin A, dan 18 macam asam amino. Rosella diketahui mengandung senyawa fenolik yang berfungsi sebagai antioksidan sebanyak 23,10 mg dalam setiap gram bobot kering kelopak Rosella (Pusat Studi Biofarmaka LPPM IPB, 2014).
c. Manfaat
Banyak sekali unsur-unsur dalam bunga Rosella yang dapat menurunkan tekanan darah. Leucin dan Niacin dalam Rosella memiliki kemampuan dalam membantu metabolisme lemak, mengurangi kolesterol total dalam darah sehingga mencegah oksidasi dari low dencity lipoproteins (LDL). Hal ini dapat menekan lemak dalam darah termasuk trigliserida dan kolesterol. Penumpukan lemak yang berkurang dalam pembuluh darah membuat lumen tunika intima melebar. Pelebaran tersebut membuat tekanan aliran darah yang melewati pembuluh darah semakin berkurang. Semakin besar penampang sebuah arteri atau pembuluh darah maka tekanan yang dibutuhkan semakin rendah.
Menurut Sayago-Ayerdi SG dari Departement of Nutrition, Universidad Complutense de Madrid Spanyol, Rosella mengandung 33,8 % serat larut yang membantu meluruhkan lemak.
commit to user
Gambar 2.1 Mekanisme Leusin-niasin menurunkan tekanan darah (Triyanto, 2014)
Threonin, Valin, Leusin, Glysin, Alanin, Niasin dan Thiamin yang berperan dalam metabolisme gula (mengatur kadar gula darah) karena turunnya kadar gula darah dapat menurunkan viskositas atau kekentalan darah sehingga tekanan yang dibutuhkan dalam mengalirkan darah ke seluruh tubuh dapat menurun.
Gambar 2.2 Mekanisme Threonin, Valin, Leusin, Glysin, Alanin, Niasin dan Thiamin menurunkan tekanan darah (Triyanto, 2014)
Asam Askorbat dan Asam Glycotik memiliki kemampuan sebagai diuretik. Ketika produksi urin meningkat sebaiknya diimbangi asupan cairan yang cukup. Peningkatan ekskresi cairan tubuh yang disebabkan Rosella
Leusin
Niasin
Metabolisme lemak
Kolesterol berkurang
Tidak terjadi oksidasi LDL
Lumen tunika intima melebar
Aliran darah berkurang
Penampang arteri melebar Tekanan semakin
rendah
Rosella
Threonin, Valin, Leusin, Glysin, Alanin, Niasin dan
Thiamin
Mengatur kadar gula
darah
Viskositas darah turun Tekanan darah
turun
commit to user
karena diuretik ini menurunkan volume darah sehingga dapat menurunkan tekanan darah.
Gambar 2.3 Mekanisme Asam askorbat dan Asam glycotik dalam menurunkan tekanan darah (Triyanto, 2014)
Aturan minum teh Rosella adalah seduh 10 gram bunga Rosella kering dalam satu gelas (250 cc) selama 5-10 menit (Triyanto, 2014).
Pemberian gula diperbolehkan pada seduhan teh Rosella untuk mengurangi keasaman. Berdasarkan Kemenkes RI (2013) mengungkapkan bahwa gula batu merupakan karbohidrat yang lebih kompleks daripada gula pasir sehingga lebih mudah dicerna dan diubah menjadi energi dalam waktu 3 menit berbeda dengan gula pasir yang membutuhkan waktu 140 menit. Pankreas mampu mengubah sampai 60 gr atau 6 sdm (sendok makan) gula batu menjadi energi setiap hari.
Pankreas hanya mampu mengubah 5 gram atau 0,5 sdm gula pasir menjadi energi per hari. Jika mengonsumsi gula pasir lebih dari 0,5 sdm, maka sisanya akan menjadi gula darah dan lemak.
Zat antioksidan dalam Rosella yaitu, Anthocyanin, gossipetin, glucoside hibicin dan flavonoid menghambat terjadinya kehilangan
Rosella
Asam askorbat
Asam glycotik Diuretik
Produksi urin meningkat Ekskresi meningkat
Volume darah turun Tekanan darah
turun
commit to user
membran mitokondria dan pelepasan sitokrom dari mitokondria ke sitosol. Jika molekul yang mengandung elektron seperti guanine DNA terserang, kesalahan replikasi DNA mudah terjadi. Kerusakan DNA memicu oksidasi LDL, kolesterol, dan lemak yang dapat menaikan tekanan darah dan berujung pada penyakit kanker dan jantung (Ismawan, 2012).
Ir. Didah Nurfarida, M. Si, periset Ilmu dan Teknologi Pangan, Institut Pertanian Bogor menemukan kandungan antioksidan dalam Rosella lebih tinggi dibandingkan kumis kucing yang antioksidannya teruji klinis meluruhkan batu ginjal. Jumlah antioksidan itu diperoleh dengan menggerus tiga kuntum Rosella menjadi 1,5 gram bubuk dan diberi air 200 ml. Hasilnya dimasukkan ke spektrofotometer yang kemudian dianalisis seluruh kandungan kimia berdasarkan panjang gelombang yang dibiaskan larutan. John McIntosh dari Institute of Food Nutrition and Human Health, Massey University mengekstrak Rosella yang dikeringkan dengan suhu 50 oC selama 36 jam. Tiga gram Rosella diencerkan dalam 300 ml air kemudian dimasukkan ke dalam tabung spektrofotometer. Hasilnya terdapat 51 % antocyanin sedangkan antioksidannya 24% (Apriyanti, 2013).
commit to user
Gambar 2.4 Mekanisme Anthocyanin, gossipetin, glucoside hibicin dan flavonoid dalam menurunkan tekanan darah (Apriyanti, 2013)
Journal of Ethnopharmacology melaporkan bahwa setelah 12 hari pasien yang mengonsumsi teh Rosella mengalami penurunan tekanan darah hingga 11,2 persen untuk tekanan sistolik dan 10,7 persen untuk tekanan diastolik. Tekanan darah diukur pada hari ke-4, hari ke-8, dan hari ke-12 (Apriyanti, 2014).
Pengontrolan tekanan darah oleh hormon (sistem renin dan angiotensin) terjadi di ginjal melalui serangkaian peristiwa kimiawi yang kompleks dengan mengubah keseimbangan garam dalam tubuh.
Prosesnya dijelaskan melalui skema di bawah ini :
Gambar 2.5 Sistem renin-angiotensin (Williams dan Palmer, 2007) Pembuluh darah
Ginjal
renin
a
angiotensinogen Angiotensin II
Kelenjar adrenal
aldosteron
Rosella
Anthocyanin, gossipetin, glucoside hibicin
dan flavonoid
Antioksidan
menghambat pelepasan membran mitokondria dan
sitokrom dari mitokondria ke
sitosol Mencegah kesalahan replikasi
DNA
Mencegah kerusakan DNA Mencegah
oksidasi LDL, kolesterol, dan lemak Tekanan
darah turun
commit to user
Hati menghasilkan protein yang disebut angiotensinogen ke dalam sirkulasi. Ginjal menghasilkan renin sebagai bagian dari pengontrol otomatis tekanan darah dan sebagai respon terhadap penurunan tekanan darah. Renin merupakan enzim yang bekerja pada angiotensinogen dan mengubahnya menjadi protein lain disebut angiotensin I. Kedua protein ini tidak aktif dan tidak mempunyai efek langsung terhadap tekanan darah sampai diaktifkan oleh enzim lain yaitu angiotensin-converting enzyme (ACE) yang dihasilkan oleh sel yang melapisi pembuluh darah (sel endotel). ACE bekerja mengubah angiotensin 1 yang tidak aktif menjadi angiotensin II yang aktif.
Angiotensin II meningkatkan tekanan darah dengan bekerja langsung pada pembuluh darah, membuatnya berkontraksi sehingga pembuluh darah menyempit. Akibatnya darah tidak mengalir lancar dan tekanan darah meningkat. Karena fungsi tersebut angiotensin II disebut vasokonstriktor. Selain itu angiotensin II juga merangsang kelenjar adrenal (dua kelenjar kecil diatas ginjal) untuk menghasilkan hormon aldosteron. Aldosteron membuat ginjal menahan natrium sehingga air akan tertarik melalui proses osmosis dan menyebabkan tekanan darah meningkat. Melihat peran penting sistem renin-angiotensin dalam mengontrol tekanan darah, banyak obat yang dikembangkan, misalnya inhibitor ACE yang bekerja langsung dengan menghentikan kerja ACE dalam mengubah angiotensin I menjadi angiotensin II (Williams dan Palmer, 2007).
commit to user d. Efek Samping
Penderita maag atau lambung harus berhati-hati dalam mengonsumsi Rosella, karena kadar keasaman yang cukup tinggi yaitu 3,14 yang akan membuat maag menjadi kambuh (Apriyanti, 2013). Masalah lain yang mungkin timbul adalah pencernaan seperti diare, ada pula yang mengalami keringat dingin, pusing, mual, dan jantung berdebar. Hal ini sebetulnya adalah efek pembersihan atau detoksifikasi dari senyawa Rosella itu sendiri. Reaksi ini disebut dengan direction of cure (DOC) yang akan berbeda pada setiap orangnya (Herbie, 2015).
Namun banyak penelitian yang menunjukkan bahwa teh Rosella ini aman dikonsumsi untuk manusia, salah satunya adalah Journal of Elsevier yang telah meneliti teh Rosella pada hewan coba tikus putih dengan hasil ekstrak kelopak Rosella memiliki efek antihipertensi.
Journal of Hipertension juga menyebutkan bahwa teh Rosella memiliki efek positif pada pasien diabetes tipe II dengan hipertensi sedang.
2. Tekanan Darah Tinggi a. Pengertian
Tekanan Darah Tinggi atau Hipertensi adalah tekanan darah sekurang-kurangnya 140 mmHg sistolik atau 90 mmHg diastolik (Kementrian Kesehatan RI, 2013). Hipertensi sebenarnya adalah suatu gangguan pada pembuluh darah yang mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi yang dibawa oleh darah terhambat sampai ke jaringan tubuh yang membutuhkannya sehingga jantung akan bekerja lebih keras untuk
commit to user
memenuhi kebutuhan. Bila kondisi tersebut berlangsung lama dan menetap timbullah gejala yang disebut penyakit tekanan darah tinggi.
Hipertensi seringkali disebut silent killer atau pembunuh gelap karena termasuk penyakit yang mematikan tanpa disertai gejala lebih dahulu sebagai peringatan bagi korban. Kalaupun muncul seringkali hanya dianggap sebagai gangguan biasa sehingga korban terlambat menyadarinya (Sustrani, 2006).
Terdapat dua tipe tekanan darah tinggi, yaitu hipertensi primer dan hipertensi sekunder. Hipertensi primer terjadi pada 95% kasus tekanan darah tinggi. Penyebabnya tidak diketahui, walaupun dikaitkan dengan kombinasi faktor gaya hidup seperti kurang bergerak dan pola makan.
Hipertensi sekunder terjadi pada 5% dari kasus tekanan darah tinggi.
Tipe ini disebabkan oleh kondisi medis lain atau reaksi terhadap obat- obatan tertentu (misalnya pil KB) (Williams dan Palmer, 2007).
Terdapat 4 kategori tekanan darah yang digambarkan dalam tabel di bawah ini :
Tabel 2.1 Kategori Tekanan Darah
Grade Tekanan Darah
Normal Sistolik : <120 mmHg Diastolik : <80 mmHg Prehipertensi Sistolik : 120-139 mmHg
Diastolik : 80-89 mmHg Hipertensi grade 1 Sistolik : 140-159 mmHg
Diastolik : 90-99 mmHg Hipertensi grade
II
Sistolik : ≥ 160 mmHg Diastolik :≥ 100 mmHg Sumber : (JNC 7, 2008)
commit to user b. Faktor Risiko
1) Usia
Tekanan darah cenderung meningkat seiring bertambahnya usia.
Prevalensi tekanan darah tinggi pada usia pertengahan sekitar 20 % dan meningkat lebih dari 50% pada usia di atas 60 tahun. Hal ini disebabkan karena semakin bertambahnya usia, organ tubuh akan mengalami penurunan fungsi sehingga memicu tekanan darah tinggi.
Tekanan darah tinggi dapat terjadi di usia muda namun prevalensinya rendah sekitar 20%. Klasifikasi usia menurut Depkes RI (2009) lansia awal-akhir yaitu pada usia 46-65 tahun.
2) Riwayat tekanan darah tinggi dalam keluarga
Penelitian menunjukan bahwa tekanan seorang anak akan lebih mendekati tekanan darah orang tuanya apabila mereka memiliki hubungan darah dibanding dengan anak adopsi. Hal ini menunjukan bahwa gen yang diturunkan (bukan hanya faktor lingkungan), berperan dalam menentukan tekanan darah (Williams dan Palmer, 2007).
3) Gaya hidup modern
Dalam gaya hidup modern yang mengejar sukses sehingga terlalu kerja keras dalam situasi penuh tekanan dan stres yang berkepanjangan adalah hal yang paling umum terjadi. Stres bisa memicu sakit kepala, sulit tidur, tukak lambung, hipertensi, penyakit jantung, dan stroke. Di samping itu gaya hidup modern membuat
commit to user
orang kurang berolahraga dan berusaha mengatasi stres dengan merokok, minum alkohol atau kopi, padahal semuanya termasuk dalam faktor risiko hipertensi.
4) Pola makan yang salah
Makanan yang diawetkan dan garam dapur serta bumbu penyedap jumlah tinggi dapat menaikkan tekanan darah karena mengandung natrium dalam jumlah berlebih. Natrium yang berlebih dapat menyebabkan retensi urin sehingga meningkatkan jumlah volume darah, akibatnya jantung harus kerja keras memompa darah dan tekanan darah menjadi naik. Selain itu, yang berlebih akan menggumpal di dinding pembuluh darah dan mengikisnya sehingga terkelupas. Kotoran tersebut akan menyumbat pembuluh darah.
Makanan cepat saji merupakan salah satu penyebab obesitas.
Dilaporkan bahwa 60 % penderita hipertensi mempunyai berat badan berlebih.
5) Berat badan berlebih
Berat badan berlebih membuat susah bergerak. Hal tersebut membuat jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah agar bisa menggerakkan beban berlebihan dari tubuh, karena itu obesitas sebagai salah satu faktor risiko hipertensi (Sustrani, 2006).
Obesitas merupakan body mass index (BMI) yang lebih dari 30 kg/m2. Cara menghitung BMI dengan membagi berat badan (kilogram) dengan tinggi badan dikuadratkan (meter) (Sari, 2013).
commit to user
Tabel 2.2 Klasifikasi Body Mass Index
Klasifikasi BMI
Berat badan kurang < 18, 5 Berat badan ideal 18,5 -24,9 Berat badan berlebih 25- 29,9
Obesitas 30-39,9
Sangat obesitas >40 Sumber : (Williams dan Palmer, 2007)
c. Kiat Menurunkan Tekanan Darah 1) Turunkan berat badan
2) Olahraga rutin
Olahraga bermanfaat bagi kesehatan jantung. Penelitian mengungkapkan bahwa banyak arteri kecil yang mulai mengerut karena kurang kegiatan fisik. Hormon pengatur tekanan darah juga tidak terkontrol kerjanya.
3) Kontrol stres
Penelitian menunjukan bahwa orang yang bertahun-tahun stres ditempat kerja meningkatkan risiko terkena hipertensi sebanyak tiga kali lebih besar dibandingkan yang berpikir positif dan optimis.
4) Diet rendah garam
Menurut penelitian mengurangi pemakaian garam dapur menjadi sekitar 3 gram (tidak sampai satu sendok teh) sehari, dapat mencegah terjadinya stroke 26% dan serangan jantung 15% akibat tersumbatnya pembuluh darah. Garam dapur mengandung 40% natrium.
commit to user 5) Memperbanyak serat
Mengonsumsi lebih banyak sayur yang mengandung banyak serat akan memperlancar buang air besar dan menahan asupan natrium.
Penelitian menunjukkan bahwa mengonsumsi tujuh gram serat per hari dapat membantu menurunkah tekanan darah sistolik sebanyak lima poin (Sustrani, 2006).
6) Menggunakan obat farmakologi
a) Diuretik misalnya chlortalidone (Hygroton), bendroflumethiazide (Aprinox)
Menurunkan tekanan darah dengan bekerja pada ginjal.
Diuretik menyebabkan ginjal mengeluarkan kelebihan garam dalam darah melalui urin. Hal ini mengurangi volume cairan dalam sirkulasi dan kemudian menurunkan tekanan darah.
b) Alfa – bloker misalnya doxazosin (Cardura), terazozine (Hytrin) Menurunkan tekanan darah dengan memblokade reseptor pada otot yang melapisi pembuluh darah. Jika reseptor tersebut diblokade, pembuluh darah akan melebar (berdilatasi) sehingga darah mengalir dengan lebih lancar dan tekanan darah menurun.
c) Beta – bloker misalnya atenolol (Tenormin), bisoprolol (Concor, Emcor)
Menurunkan tekanan darah dengan memperlambat denyut dan mengurangi kekuatan kontraksi jantung. Dengan demikian, tekanan yang disebabkan oleh pompa jantung juga berkurang. Beta – bloker
commit to user
memperlebar pembuluh darah dengan mempengaruhi produksi hormon renin yang mengurangi resitensi sistemik, sehingga jantung dapat bekerja lebih ringan.
d) Bloker kanal kalsium misalnya amlodipine (Tensivask, Istin), felodipine (Plendil)
Menurunkan tekanan darah dengan memblokade masuknya kalsium ke dalam sel. Jika kalsium memasuki sel otot, maka otot akan berkontraksi. Dengan menghambat kontraksi otot yang melingkari pembuluh darah pembuluh darah akan melebar sehingga darah mengalir dengan lancar dan tekanan darah menurun.
e) Inhibitor ACE (angiotensin converting enzyme) misalnya captopril (Capoten), ramipril (Triatec), perindopril (Coversyl)
Menurunkan tekanan darah dengan memblokade produksi hormon angiotensin II yang menyebabkan konstruksi pembuluh darah. Dengan demikian, obat ini dapat memperlebar pembuluh darah dan mengurangi tekanan darah.
f) Bloker reseptor angiotensin (angiotensin reseptor blocker, ARB) misalnya losartan (Cozaar), irbesarkan (Aprovel).
Bekerja dengan cara yang sama seperti inhibitor ACE yaitu dengan memblokade efek konstriksi dari angiotensin II . Berbeda dengan inhibitor ACE yang memblokade produksi angiotensin II, ARB bekerja dengan memblokade pengikatan angiotensin ke
commit to user
reseptor spesifiknya bukannya mengurangi produksi angiotensin.
Oleh karena angiotensin tidak dapat mengkontriksi pembuluh darah, maka pembuluh akan melebar dan tekanan dalam sitem sirkulasi berkurang (Williams dan Palmer, 2007).
3. Pengaruh Teh Rosella dalam Menurunkan Tekanan Darah
Bunga Rosella memiliki banyak manfaat, di antaranya adalah dapat menurunkan tekanan darah. Hal itu dikarenakan bunga Rosella memiliki berbagai kandungan yang mempunyai mekanisme tersendiri dalam menurunkan tekanan darah. Leucin dan niacin dapat mengurangi kolesterol total dalam darah sehingga mencegah oksidasi low dencity lipoproteins (LDL) yang dapat menekan lemak dalam darah termasuk trigliserida dan kolesterol. Kemudian lumen tunika intima melebar, menyebabkan aliran darah lancar dan tekanan darah turun.
Threoine, valin, leucin, glicyn, alanin, niasin dan thiamin berfungsi mengatur metabolisme gula darah yang menyebabkan viskositas darah menurun sehingga tekanan yang dibutuhkan dalam mengalirkan darah pun lebih kecil. Sedangkan asam askorbat bersama dengan asam glycotik dapat meningkatkan produksi urin yang mengakibatkan eksresi cairan meningkat pula sehingga volume darah berkurang dan tekanan yang dibutuhkan dalam mengalirkan ikut berkurang (Triyanto, 2014).
Mekanisme lainnya yaitu kandungan anthocyanin, gossipetin, glucoside hibicin dan flavonoid mengandung antioksidan yang tinggi. Hal tersebut dapat menghambat pelepasan membran mitokondria dan sitokrom dari
commit to user
mitokondria ke sitosol. Jika molekul yang mengandung elektron seperti guanine DNA terserang, kesalahan replikasi DNA mudah terjadi. Kerusakan DNA memicu oksidasi LDL, kolesterol, dan lemak yang dapat menaikkan tekanan darah dan berujung pada penyakit kanker dan jantung (Ismawan, 2012).
Tekanan darah juga dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu tingkat stres, berat badan, penyakit lain yang diderita (jantung, diabetes mellitus, ginjal), obat-obat kimia maupun herbal yang dikonsumsi, merokok, alkohol, dan konsumsi garam. Stres memiliki tingkat dan sebab yang berbeda pada setiap orang. Berat badan biasanya dikaitkan dengan indeks masa tubuh (IMT).
Konsumsi garam dapat dibatasi dengan menghindari atau mengurangi pemakaian garam dapur, vetsin, bahan pengawet, soda kue, makanan kemasan, dan sebagainya (Sustrani, 2006).
commit to user B. Kerangka Pemikiran
Gambar 2.6 Kerangka Pemikiran (Williams dan Palmer, 2007), (Ismawan, 2012), (Apriyanti, 2013)
Keterangan :
: Variabel yang diteliti : Variabel yang tidak diteliti : Variabel luar
Mengurangi kolesterol total
dalam darah Mengatur
metabolisme gula darah
Meningkatkan produksi urin
Antioksidan tinggi Mencegah
oksidasi dari low dencity lipoproteins
(LDL)
Ekskresi cairan meningkat Menurunkan
viskositas darah
Volume darah berkurang
Menghambat pelepasan membran mitokondria dan sitokrom
dari mitokondria
ke sitosol Variabel Dependent :
Penurunan tekanan darah
Variabel luar: Stres, IMT, obat- obatan herbal, konsumsi garam, penyakit kronik, merokok, dan alkohol.
Menekan lemak dalam darah
termasuk trigliderida dan
kolesterol
Lumen tunika intima melebar
Mencegah kesalahan replikasi
DNA
Mencegah oksidasi
LDL, kolesterol, dan lemak Leucyn dan
Niasin
Variabel Independent : Konsumsi teh Rosella pada
Lansia (45-65 th) dengan Hipertensi
anthocyanin, gossipetin,
glucoside hibicin, flavonoid Threoine, Valine,
Leucin, Glycin, Alanin, Niasin
dan Thiamin
Asam askorbat dan Asam
Glycotik
commit to user C. Hipotesis
Ada pengaruh mengonsumsi teh Rosella dalam menurunkan tekanan darah tinggi di Posyandu Lansia Kelurahan Jebres.