• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II METODE PENGAMBILAN DATA. Nama Perusahaan: PT. Coca-cola Amatil Indonesia Central Java Semarang. : Jl Raya Soekarno Hatta Km 30 Ungaran

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II METODE PENGAMBILAN DATA. Nama Perusahaan: PT. Coca-cola Amatil Indonesia Central Java Semarang. : Jl Raya Soekarno Hatta Km 30 Ungaran"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

6 BAB II

METODE PENGAMBILAN DATA

A. Lokasi

Lokasi yang digunakan oleh penulis dalam magang untuk pengambilan data ini adalah :

Nama Perusahaan: PT. Coca-cola Amatil Indonesia Central Java Semarang Alamat : Jl Raya Soekarno Hatta Km 30 Ungaran

Jenis Perusahaan : Minuman ringan

B. Pelaksanaan

Pelaksanaan magang dilakukan mulai tanggal 3 Februari 2014 sampai 31 Maret 2014 dengan waktu antara pukul 08.00-16.30 WIB, dengan kegiatan sebagai berikut :

1. Observasi

Observasi yang dilakukan meliputi : a. Observasi proses produksi

b. Observasi, pengkajian, dan penilaian potensi bahaya c. Observasi, pengkajian, dan penilaian faktor bahaya d. Observasi dan pengkajian pelayanan kesehatan e. Observasi dan pengkajian gizi kerja

f. Observasi dan pengkajian ergonomi

(2)

g. Observasi dan pengkajian Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3)

h. Observasi dan pengkajian P2K3

i. Observasi dan pengkajian Emergency Planning j. Observasi dan pengkajian data kecelakaan kerja k. Observasi dan pengkajian Pest Control

2. Wawancara

Melakukan tanya jawab dengan karyawan, pengawas, dan pembimbing untuk memperoleh informasi tentang penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di perusahaan.

C. Sumber Data

1. Sumber Data Primer

Sumber data ini diperoleh dari wawancara langsung, observasi langsung dan pengukuran langsung di PT Coca-Cola Amatil Indonesia Central Java.

2. Sumber Data Sekunder

Sumber data ini diperoleh dari data departemen OHS, buku literatur dari perusahaan dan standar peraturan-peraturan yang digunakan berkaitan dengan kegiatan magang.

(3)

D. Analisis Data

Data yang diperoleh akan dibahas secara deskriptif yaitu implementasi hiperkes dan keselamatan kerja serta lingkungan yang mana setiap penerapannya telah dijabarkan faktor bahaya, identifikasi sumber, kegiatan pemantauan, penilaian, dan tindakan pengendalian. Analisis data diperoleh dengan membandingkan dengan Peraturan Perundangan sebagai berikut :

1. Undang-undang Uap Tahun 1930

2. Undang-undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja 3. Undang-undang No. 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian

4. Undang-undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan 5. Undang-undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan

6. Peraturan Uap Tahun 1930

7. Peraturan Pemerintah RI No. 7 Tahun 1973 tentang Pengawasan atas Peredaran, Penyimpanan, dan Penggunaan Pestisida

8. Peraturan Pemerintah No. 20 Tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air

9. Peraturan Pemerintah No. 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3)

10. Peraturan Menteri Perburuhan No. 7 Tahun 1964 tentang Syarat-syarat Kesehatan, Kebersihan serta Penerangan di Tempat Kerja

11. Peraturan Menteri Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Koperasi No.

Per.01/MEN/1976 tentang Kewajiban Latihan Higiene Perusahaan Kesehatan Bagi Dokter Perusahaan

(4)

12. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No.

Per.01/MEN/1979 tentang Kewajiban Latihan Higiene Perusahaan, Kesehatan dan Keselamatan Kerja Bagi Tenaga Paramedis Perusahaan 13. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. Per.02/MEN/1980

tentang Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja dalam Penyelenggaraan Keselamatan Kerja

14. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. Per.04/MEN/1980 tentang Syarat-syarat pemasangan dan pemeliharaan Alat Pemadam Api Ringan

15. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. Per.01/MEN/1981 tentang Kewajiban Melapor Penyakit Akibat Kerja

16. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. Per.03/MEN/1982 tentang Pelayanan Kesehatan Tenaga Kerja

17. Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Per.04/MEN/1985 tentang Pesawat Tenaga dan Produksi

18. Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Per.05/MEN/1985 tentang Pesawat Angkat dan Angkut

19. Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Per.04/MEN/1987 tentang Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja serta Tata Cara Penunjukan Ahli Keselamatan Kerja

20. Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. Per.02/MEN/1992 tentang Tata Cara Penunjukan Kewajiban dan Wewenang Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja

(5)

21. Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Per.03/MEN/1998 tentang Tata Cara Pelaporan dan Pemeriksaan Kecelakaan

22. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No.

15/MEN//VIII/2008 tentang Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan di Tempat Kerja

23. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No.

Per.08/MEN/VII/2010 tentang Alat Pelindung Diri

24. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No.

Per.09/MEN/VII/2010 tentang Operator dan Petugas Pesawat Angkat dan Angkut

25. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No.

Per.13/MEN/X/2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat Kerja

26. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup RI No. 6 Tahun 2013 tentang Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup

27. Peraturan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan No. 1 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Jaminan Kesehatan

28. Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI No. Kep.186/MEN/1999 tentang Unit Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja

29. Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI No. Kep.187/MEN/1999 tentang Pengendalian Bahan Kimia Berbahaya di Tempat Kerja

(6)

30. Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No.Kep.75/MEN/2002 tentang Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) No. SNI-04-0225-2000 mengenai Persyaratan Umum Instalasi Listrik 2000 (PUIL 2000) di Tempat Kerja

31. Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No.

Kep.68/MEN/IV/2004 tentang Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS di Tempat Kerja

32. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1405/MENKES/XI/2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan Industri

33. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 715/MENKES/SK/V/2003 tentang Persyaratan Higiene Sanitasi Jasa Boga

34. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1758/MENKES/SK/XII/2003 tentang Standar Pelayanan Kesehatan Kerja Dasar

35. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 03/MENLH/1998 tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kawasan Industri

36. Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. SE 01/MEN/1979 tentang Pengadaan Kantin dan Ruang Tempat Makan 37. Surat Edaran Direktur Jenderal Bina Hubungan Ketenagakerjaan

Pengawasan Norma Kerja No. SE.86/BW/1989 tentang Perusahaan Catering yang Mengelola Makanan bagi Tenaga Kerja

38. Instruksi Menteri Tenaga Kerja No. Ins.11/M/BW/1997 tentang Pengawasan Khusus K3 Penanggulangan Kebakaran

(7)

39. Standar Nasional Indonesia (SNI) Nomor 04-0225-2000 mengenai Persyaratan Umum Instalasi Listrik 2000 (PUIL 2000) di Tempat Kerja 40. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah No. 10 Tahun 2004 tentang

Baku Mutu Limbah Cair bagi Kegiatan Industri dan Usaha

Referensi

Dokumen terkait

Bentuk regulasi pemerintah Republik Indonesia, dalam Susanto (2007) adalah dibuatnya payung hukum CSR dalam Undang-Undang Perseroan Terbatas/ UU PT No. 40 Tahun 2007 yang

Sebagai sebuah perusahaan yang telah berusia lebih dari 25 tahun, Coca-Cola Botling Indonesia Jawa Tengah telah menunjukkan eksistensinya yaitu dengan berbagai penghargaan

" Program ini merupakan program rutin yang dilakukan oleh CCBI sebagai bentuk kegiatan ' Community Relations ' dalam bidang pendidikan yang bertujuan untuk menjaga hubungan

hak tenaga kerja untuk memakai alat pelindung diri yang diwajibkan. 2) Potensi bahaya yang memiliki nilai risiko sedang (bernilai 10-50). adalah pada